Anda di halaman 1dari 3

Panduan Praktik Klinis

SMF : NEUROLOGI
RSUD GENTENG, BANYUWANGI
2015 - 2017

SINDROMA GUILLAIN BARRE


1. Pengertian (Definisi)

Sindroma Guillain Barre (SGB) adalah suatu kelainan sistem


saraf tepi subakut dan difus yang disebabkan oleh faktor
autoimun yang ditandai oleh kelemahan asenden dan simetris,
mengenai nervi radiks spinalis, namun terkadang mengenai
saraf kranialis umumnya timbul setelah suatu infeksi.

2. Anamnesis

Anamnesis harus diidentifikasi onset kelemahan, tipe


asenderen, simetris, ada tidaknya pencetus dan pola perjalanan
penyakit SGB yang khas keterlibatan sistem sensoris ( pola
glove dan stocking )
Umumnya didapatkan :
Kelemahan progresif asenden, baik lengan maupun
tungkai-tungkai
Keterlibatan saraf kranial
Arefleks/hiporefleksi
Keterlibatan modalitas sensoris (glove dan stocking)
Acute Motor and Sensory Axonal Neuropathy (AMSAN)
Karakteristik : akut quadriparesis, areflexia, hipestesi
distal, gangguan pernafasan
Acute Motor Axonal Neuropathy (AMAN)
Karakteristik : kelemahan tungkai bawah simetris
akut/subakut, arefleksia difus, kelemahan otot wajah
dan orofaringeal, gangguan pernafasan
Berhubungan dengan enteritis karena C. Jejuni dengan
peningkatan anti-GM1 dan anti-GD1 antibodies C.jejuni
Acute inflammatory demyelinating polyneuropathy (AIDP)
Karakteristik : kelemahan progresif mulai dari tungkai
bawah, areflexia, gangguan sensoris ringan
Pada kelemahan tungkai atas bagian proksimal dapat
lebih berat dari distal.
Chronic inflammatory demyelinating polyradiculoneuropathy
(CIDP)
Berkembang secara diam-diam dan perlahan-lahan,
periode perburukan dan perbaikan biasanya bermingguminggu atau berbulan-bulan. Kebanyakan ahli
menganggap durasi yang diperlukan lebih dari 8 minggu
untuk diagnosis CIDP
Gejala awal : kelemahan tungkai, proksimal dan distal
Gejala sensorik yang umum seperti kesemutan dan mati
rasa pada tangan dan kaki, tetapi biasanya gejala
motorik mendominasi
Disfungsi sistem otonom : pusing ortostatik, gangguan
usus dan fungsi kandung kemih dan masalah jantung.

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis

Gambaran yang harus ada untuk menegakkan diagnosis


Kelemahan progresif asenden, baik lengan maupun
tungkai
Arefleks/hiporefleks
Gambaran yang sangat mendukung diagnosis
Perkembangan gejala lebih dari 4 hari

5. Diagnosis
6. Diagnosis Banding

7. Pemeriksaan Penunjang
8. Terapi

Gejala relatif simetris


Gejala atau tanda sensorik yang ringan
Keterlibatan saraf kranial terutama diplegia wajah
Kesembuhan dimulai 2 sampai 4 minggu setelah akhir
perkembangan gejala
Disfungsi otonom

Sindroma Guillain Barre


Botulisme, neuropati akibat keracunan logam berat, paralisis
periodik, polimiosistis akut, tic paralisis, miastenia gravis,
infeksi HIV, porfiria intermiten akut
Laboratorium : pemeriksaan darah rutin, gula darah, ureum,
creatinin, elektrolit
EKG
1. Waspadai memburuknya perjalanan klinis dan gangguan
pernafasan (gagal nafas)
2. Bila ada ancaman gagal nafas rawat di ICU
3. Kortikosteroid masih kontroversial, bila terjadi paralisis
otot berat maka perlu kortikosteroid dosis tinggi
4. Roboransia saraf parenteral
5. NGT bila kesulitan menelan
6. Plasmapheresis
7. Imunoglobulin intravena (expert consensus)
Dosis 0,4 gr/kbBB/hari untuk 5 hari berturut-turut

Edukasi

10 Prognosis

11 Tingkat Evidens

12 Tingkat Rekomendasi
13 Penelaah Kritis

Mengenai penyebab penyakit , perjalanan klinis, pemeriksaan


penunjang dan terapi
Ad vitam : tergantung beratnya penyakit (resiko kematian 415%)
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia risiko disabilitas 20%, resiko kelemahan
menetap 67%
Plasma exchange di rekomendasikan untuk pasien ambulasi
dengan onset neuropati 2 minggu (level B,limited class II). Bila
PE di mulai 2 minggu dari onset ada kemiripan efek PE dan
IVIG pada pasien yang memerlukan alat bantu berjalan (level B
class I). IVIG direkomendasikan pada pasien non ambulasi
mulai 4 minggu dari onset neuropati.(level B class II), jika
dimulai 2 minggu dari onset IVIG efikasinya hampir sama
dengan pasien yang dilakukan PE yang dimulai 2 minggu
setelah onset (level B, Class I). IVIG merupakan terapi pilihan
pada anak dengan SGB yang parah (level B diturunkan dari
Class II evidence pada dewasa)
Kortikosteroid tidak direkomendasika untuk terapi SGB (level
A, class I)

14 Indikator Medis

15 Kepustakaan

Kekuatan otot pulih


Usaha nafas adekuat
Tidak ada penyulit : gagal nafas
Tidak didapati infeksi sekunder : pneumonia
1. Victor Maurice, Ropper Allan H.Adams dan Victors
Principles of neurology. 9th edition. USA: the McGrawHill Companies :2009. P.1380-87
2. Sindroma Guillain Barre. Standar Pelayanan Medik
Neurologi. PERDOSSI.2006
3. Doorn P, Ruts L, Jacobs B.Clinical features,
pathogenesis and treatment of Guillain Barre Syndrome.
Lancet Neurol 2008; 7 : 939-50
4. American Academy of Neurology (AAN). AAN
Guidline Summary for Clinicians: Immunotherapy for
Guillain Barre Syndrome. 2010

Banyuwangi, 1 Maret 2016


Ketua Komite Medik

Ketua SMF Neurologi

dr. Heru Purnomo S, Sp.OG ( K )

dr. Ariek Lestariningtyas, M.Si.Med, Sp.S

NIP. 19630508 198902 1 002

NIP.

Direktur RSUD Genteng

dr. Hj. INDAH SRI LESTARI, MMRS


NIP. 19630703 198903 2 016