Anda di halaman 1dari 8

LTM Pemicu 4 Modul Saraf Jiwa 2011

AGITASI DAN ANSIETAS


Wynne Oktaviane Lionika, 0906640015
1. AGITASI
1.1 Definisi
Agitasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas motorik yang berlebihan karena adanya perasaan
tegang dari dalam diri. Agitasi ini merupakan suatu gejala yang sering kali dikeluhkan oleh pasien dengan
penderita psikosis, gangguan bipolar dan demensia. Agitasi dikarakteristikkan dengan gambaran perilaku
berupa perilaku mengancam dan disforik yang dapat dihubungkan dengan penyebab dasar yang
bervariasi. Secara umum, komponen perilaku dari agitasi dapat dikenal sebagai agresif secara fisik atau
verbal dan juga nonagresif. Agitasi psikomotor merupakan tipikal symptom yang dapat dijumpai pada
kelainan depresi mayor.
Agitasi biasanya dihubungkan dengan munculnya kelainan kognitif atau akibat pemakaian obatobatan tertentu (misal opioid, alcohol, sedatif hipnotik). Kebanyakan agitasi merupakan tanda dari
disfungsi otak atau insufisiensi serebral akut, banyak dijumpai pada kasus gawat darurat, biasanya pada
orang dewasa dan disebabkan oleh berbagai faktor.
1.2 Etiologi

Kelebihan alcohol

Kafein

Kokain, obat halusinasi, ephedrine

Hipertiroidisme

Nikotin withdrawal

Opiate withdrawal

1.3 Gejala Penyerta Agitasi Akut


Sampai sekarang belum diketahui bagaiman pola variasi disfungsi otak dapat menimbulkan perbedaan
gangguan mental antara satu pasien dengan pasien lainnya. Beberapa pasien hanya menunjukkan
agitasi, sedangkan yang lain bisa disertai dengan dua gejala penyertanya yaitu ansietas dan delirium.
Agiatasi bisa darang secara tiba-tiba atau pada waktu tertentu. Gejala ini bisa berakhir dalam beberapa
menit, beberapa minggu, bahkan berbulan-bulan.
Agitasi biasanya berkaitan dengan timbulnya gejala berikut:

Bipolar disorder
Gangguan ini biasa terjadi pada usia 15-25 tahun dan ditandai dengan mood yang bergairah
tiba-tiba bisa menjadi depresi. Perubahan mood ini berlangsung sangat cepat dalam satu
pembicaraan. Penyebab utamanya adalah gangguan pada bagian otak yang mengatur mood.

Dementia

Penyakit ini biasanya mengenai umur 60 tahun danpenyebabnya ada gangguan pada memori,
berpikir dan tingkah laku.

Depresi
Gangguan ini ditandai dengan perasaan sedih, tidak senang, merasa bersalah, dan menyendiri.
Gejala in biasanya timbul dalam waktu relatif singkat dan biasanya merupakan salah satu
sindrom dari gejala depresi yang biasanya disebabkan oleh stress dan lingkungan yang tidak
menyenangkan.

Ansietas
Ansietas merupakan suatu sensasi takut yang difus yang tidak berkaitan dengan bahaya yang
sebenarnya. Sensasi ini sering timbul pada pasien akibat situasi stress seperi nyeri, ribut, dan
kehilangan kontrol tubuh. Ansietas dapat dianggap sebagai suatu fenomena yang normal tapi
dapat dianggap patologis apabila kejadian ansietas yang terlihat tidak proporsional dengan
penyebabnya.

Delirium
Delirium adalah suatu perubahan akut pada status mental atau fluktuasi mood yang
dihubungkan dengan pemikiran yang tidak terorganisir, bingung dan perubahan level dari
kesadaran.

1.4 Gejala Klinis


Biasanya pasien akan merasakan kebingungan dan kebanyakan bersifat temporer. Biasa pada usia
menengah sampai tua akan menunjukkan agresivitas. Selain itu, pasien ini akan menunjukkan
hiperaktivitas dimana akan ada gerakan berulang-ulang dan terjadi peningkatan gerakan motorik yang
sangat berlebihan. Selain itu, pasien juga akan merasa orang lain bertindak jahat pada pasien dan selalu
berpikir negatif terhadap seseorang.
1.5 Tatalaksana
Tatalaksana yang dapat dilakukan di rumah dapat berupa memberikan lingkungan yang tenang, cukup
penerangan, tidur yang berkualitas, dan membantu dalam pengurangan stress sehingga akan
mengurangi gejala agitasinya. Kita sebaiknya tidak menahan kemauan pasien agitasi secara berlebihan
karena hal itu dapat memperburuk keadaannya.
2. ANSIETAS
Kelainan ansietas merupakan kelainan mental yang paling banyak terdapat pada populasi secara
umum. Gejala ansientas seringkali berbarengan dengan depresi. Makhluk hidup mempunyai naluri biologis
untuk mengatasi rasa cemas pada beberapa stimulus, misalnya adalah takut ketinggian. Ansietas
merupakan suatu respon emosional yang normal untuk menerima tantangan maupun suatu kejadian yang
penuh tekanan, biasanya terjadi secara singkat dan masih dapat dikontrol. Ansietas biasanya dicetuskan
oleh adanya situasi atau objek yang jelas sebenarnya tidak membahayakan kondisinya.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR), kelainan ansietas
dapat dibagi menjadi 7, yaitu panic disorder dengan atau tanpa agorafobia; agrophobia dengan atau tanpa
panic disorder; phobia spesifik; phobia sosial; obsessive compulsive disorder (OCD); posttraumatic stress
disorder (PTSD); acute stress disorder; dan generalized anxiety disorder.
Setiap orang pasti pernah mengalami ansietas dan biasanya dikarakteristik oleh perasaan tidak
nyaman, muncul symptom otonom seperti sakit kepala, palpitasi, rasa sesak pada dada, perut yang tidak
nyaman, kurang istirahat dan tidak bisa duduk atau berdiri terlalu lama.
Kita harus membedakan rasa takut dengan ansietas. Ansietas merupakan suatu sinyal yang
membuat kita menjadi waspada, biasanya merupakan suatu respon terhadap tantangan yang belum
diketahui, sifatnya internal, dan konfliktual. Sedangkan kalau rasa takut juga merupakan sinyal yang
membuat waspada tetapi tantangan yang dihadapinya sudah diketahui, bersifat eksternal dan
nonkonfliktual.
Ansietas dilihat sebagai salah satu hasil konflik psikis antara keinginan seksual atau agresif yang tidak
disadari dengan respon terhadap tantangan yang berasal dari seuperego atau realitas eksternal. Tujuan
dari terapi tidak hanya menghilangkan semua penyebab ansietas namun juga meningkatkan toleransi
ansietas.
2.1 Panic disorder dan Agorafobia
2.1.1

Panic attacks
Panic attack merupakan suatu episode diskrit yang parah dari kecemasan paroksimal dan
apabila dia terjadi secara teratur dan tidak ada penyebab atau diagnostik psikiatrik yang jelas maka
kita dapat mendiagnosisnya sebagai panic disorder. Panic attack ditandai oleh simptom otonom
(seperti napas pendek, palpitasi, keringat berlebihan), pusing, pingsan, dan sakit dada. Biasa panic
attack berlangsung singkat, biasanya sekitar beberapa menit saja.
Tabel 1. Kriteria DSM-IV-TR untuk Panic attack

2.1.2 Panic disorder


Panic disorder dapat muncul atau tidak dengan agorafobia. Untuk dapat didiagnosis bahwa
seseorang mengalami panic disorder adalah individu tersebut mengalami panic attack yang rekuren
dan tidak berhubungan dengan suatu situasi yang spesifik.
Panic disorder biasanya muncul pada masa remaja akhir atau awal dewasa muda. Pasien
cenderung menutupi panic attack yang mereka alami sehingga membuat keluarga dan temantemannya merasa adanya perubahan dalam sikap yang tidak dapat dijelaskan. Panic attack dapat
berlangsung selama beberapa kali dalam sehari atau sekurang-kurangnya satu kali dalam waktu
satu bulan.
Tabel 2. Tema Psikodinamik pada Panic disorder

Tabel 3. Kriteria Diagostik DSM-IV-TR untuk Panic disorder tanpa Agorafobia

Tabel 4. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR untuk Panic disorder tanpa Agorafobia

2.1.3 Agorafobia
Agorafobia dapat menjadi salah satu phobia yang membuat seseorang menjadi tidak aktif karena
secara signifikan dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam lingkungan kerja maupun sosial di
luar rumah. Agorahobia merupakan suatu kondisi dimana takut untuk mengalami serangan panik atau
gejala panik dalamsituasi yang dirasakan sulit untuk melarikan diri.
Berikut adalah kriteria DSM-IV-TR untuk Agorafobia:

Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer
dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran
obsesif

Ansietas yang timbul harus terbatas pada setidaknya dua dari situasi berikut: banyak orang
/ keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah dan bepergian sendiri

Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol.

Tabel 5. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR untuk Agorafobia tanpa Riwayat Panic disorder

2.1.4 Tatalaksana
Dua tatalaksana yang cukup efektif untuk mengurangi gejala panic disorder dan agorafobia
adalah farmakoterapi dan terapi cognitive-behavioral. Grup terapi dan keluarga dapat turut
membantu dalam menangani penyakit pasien. Alprazolam dan paroxetine adalah dua jenis obat
yang sudah disetujui oleh FDA (US Food and Drug Administration) untuk tatalaksana panic disorder.
Umumnya obat yang dipakai berasal dari golongan SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors),
tricyclic antidepressants, benzodiazepines, MAOIs (monoamine oxidase inhibitors), RIMAs
(reversible inhibitors of monoamine oxidase type-A), dan Atypical Antidepressants.
2.2 Phobia Spesifik dan Sosial
2.2.1Definisi
Kata phobia biasanya menunjukkan ketakutan yang berlebihan pada suatu objek atau situasi.
Seseorang dengan phobia yang spesifik akan mengantisipasi sesuatu yang membahayakan, misalnya
panik saat akan digigit oleh anjing. Seseorang dengan phobia sosial biasanya akan mempunyai rasa
takut yang berlebihan pada berbagai kondisi sosial seperti saat akan berbicara di depan umum.
Phobia spesifik lebih umum jika dibandingkan dengan phobia sosial dan biasanya lebih banyak
terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria.
2.2.2 Diagnosis
Berikut adalah pedoman diagnostik untuk fobia sosial:

Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang tumbul harus merupakan manifestasi primer
dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran
obsesif

Ansietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu (yang ada di luar
lingkaran keluarga)

Menghindari suatu fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol

Berikut adalah pedoman diagnostik untuk fobia spesifik:

Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang tumbul harus merupakan manifestasi primer
dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran
obsesif

Ansietas harus terbatas pada adanya objek atau situasi fobik tertentu

Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.

Pada fobia spesifik ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik lain, tidak seperi halnya agorafobia dan
fobia sosial.
2.2.3 Tatalaksana
Berdasarkan studi yang dilakukan, ditemukan bahwa efek terapi yang paling efektif untuk fobia
adalah terapi perilaku. Aspek yang membuat terapi ini sukses adalah komitmen pasien pada terapi,

masalahnya telah diidentifikasi dengan jelas dan tersedianya strategi alternatif. Psikoterapi yang
dilakukan juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan terjadinya desensitisasi. Beberapa
farmakoterapi yang dapat diberikan berupa SSRIs, Benzodiazipines, Veniafaxine, dan Buspirone.

2.3 Obsessive-Compulsive Disorder


Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu bentuk gangguan kecemasan (ansietas)
dimana seseorang memiliki pikiran, perasaan, gagasan, sensasi yang tidak diinginkan dan berulang
(obsesi) atau perilaku yang membuat mereka terdorong untuk melakukan seseuatu (kompulsi). Unutk
menegakkan diagnosis pasti, gejala ini harus ada hampir setiap hari sedikitnya dua minggu berturut-turut
dan hal ini merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita.
Untuk tatalaksana biasanya dapa digunakan SSRI atau clomipramine bila SSRI tidak efektif. Selain itu,
penderita OCD juga dapat dilakukan terapi perilaku.
2.4 Posttraumatic Stress Disorder dan Acute Stress Disorder
Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang ditandai perkembangan gejala
setelah mengalami suatu peristiwa yang traumatik. Orang ini akan bereaksi dengan cara menunjukkan
rasa ketakutan, mencoba untuk tidak mengingat hal yang sudah terjadi tersebut. Untuk menegakkan
diagnosis, pasien harus menunjukkan gejala lebih dari enam bulan setelah kejadian tersebut dan harus
mempengaruhi sekitarnya, misalnya keluarga dan pekerjaan. Sebagai bukti tambahan selain trauma,
harus didapatkan juga bayang-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara
berulang-ulang.
Stressor dianggap sebagai salah satu penyebab utama terjadinya PTSD dan stress akut disorder.
Untuk menegakkan diagnosis reaksi stress akut harus ada kaitan waktu kejadian yang jelas antara
terjadinya pengalaman stressor luar biasa dengan onset dari gejala, biasanya beberapa menit atau
segera setelah kejadian. Kerentanan individual dan kemampuan menyesesuaikan diri memegang
peranan dalam terjadinya atau beratnya suatu reaksi stress akut.
Tatalaksana yang dapat dilakukan adalah memberikan farmakoterapi berupa SSRIs dan MAOIs,
psikoterapi dan dukungan dari keluarganya.
2.5 Generalized Anxiety Disorder
Generalized Anxiety Disoder (GAD) ditandai dengan adanya ansietas yang berlebihan atau tidak
realistic dan mengkhawatirkan sejumlah aktivitas yang sifatnya menetap (lebih dari 6 bulan) dan tidak
dibatasi oleh sejumlah keadaan. OCD berbeda dengan obsessive-compulsive personality disorder dimana
seseorang menjadi lebih perfeksionis yang tidak ditemukan pada penderita OCD.
Tatalaksana yang paling efektif untuk GAD ini adalah kombinasi dari psikoterapi, farmakoterapi
(benzodiazepin, SSRIs, busporine, veniafaxine) dan pendekatan dalam memberikan dukungan.

Daftar Pustaka
1. Chevroled, Jean Cloud, Joliet, Phillip. 2007. Clinical review :Agitation and delirium in the criticallySignificance and Management. Journal of Critical Care, 11:214.
2. PubMed Health. Obsessive-Compulsive Disorder. Diakses pada tanggal 30 Desember 2011, pukul 22.11.
Diunduh dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001926/.
3. Sadock BJ dan Sadock VA. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry. 10 th edition. Lippincott Williams &
Wilkins; 2007.
4. Tasman A dan Kay J. Essentials of Psychiatry. John Wiley & Sons; 2006.
5. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Rungkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
FK-Unika Atmajaya; 2001.