Anda di halaman 1dari 11

PAPER

KEBIJAKAN KEHUTANAN INDONESIA


KEBIJAKAN MENGENAI ILLEGAL LOGGING

Disusun Oleh :

JAMALUDDIN
G1011131124

FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara agraris, yang mana terdiri dari daratan dan perairan yang
luas. Indonesia memiliki banyak sekali pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Indonesia dari
dulu terkenal merupakan daerah yang subur (daratan). Banyak sekali daerah daratan dari pada
negara kita ini yang dimanfaatkan sebagai daerah pertanian dan juga perkebunan, hal ini karena
daratan indonesia terkenal subur sehingga baik untuk dikembangkannya sektor tersebut. Namun
semakin hari keadaan negeri kita semakin banyak mengalami perubahan. Seiring dengan
perkembangan teknologi industri, banyak lahan-lahan pertanian dan perkebuanan yang subur
dibangun diatasnya pabrik-pabrik industri dan juga perkotaan.
Tak dapat dipungkiri, eksistensi hutan sangatlah essensial dan memiliki bebagai manfaat
baik secara langsung (tangible) ataupun secara tidak langsung (intangible). Secara langsung,
hutan memainkan perannya sebagai tempat penyedian kayu, habitat bagi berbagai flora dan
fauna, dan sebagai lokasi beberapa hasil tambang. Disamping itu, secara tidak langsung, hutan
dapat dijadikan lokasi rekreasi, perlindungan dan perkembangan biodiversitas, pengaturan tata
air, dan pencegahan erosi.
Salah satu masalah yang menjadi dilema dari periode ke periode yang menyangkut hutan
di Indonesia ialah pembalakan liar (illegal logging). Stephan Devenish, ketua Misi Forest law
Enforecment Governance and Trade dari Uni Eropa mengatakan bahwa illegal logging adalah
penyebab utama kerusakan hutan di Indonesia. Nampaknya, illegal logging merupakan masalah
krusial yang sangat sulit untuk diatasi bahkan diminimalisir oleh negara kita.
Dengan semakin maraknya praktek pembalakan liar, kawasan hutan di Indonesia telah
memasuki fase kritis. Seluruh jenis hutan di Indonesia mengalami pembalakan liar sekitar 7,2
hektar hutan per menitnya, atau 3,8 juta hektar per tahun. Tentunya, ini akan mengancam
keanekaragaman hayati bahkan dapat menurunkan level kekayaan biodiversitas di Indonesia
serta secara langsung dapat mengganggu keseimbangan alam yang telah tercipta. Menurut
estimasi pemerintah, praktek illegal logging per tahunnya telah membuat negara mengalami
defisit sebesar Rp 30 triliun atau Rp 2,5 triliun per bulannya. Tentunya, angka ini sangatlah

fantastis, ditambah lagi kerugian ini empat kali dari APBN yang telah dianggarkan pemerintah
untuk sektor kehutanan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan paper ini adalah :
-

Mengetahui pengertian dari kegiatan Illegal logging


Mengetahui faktor faktor penyebab terjadi Illegal logging
Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kegiatan illegal logging

TINJAUAN PUSTAKA

Berdasarkan Undang-undang kehutanan No. 41 tahun 1999 yang dimaksud dengan hutan
adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hambaran lahan berisi sumber daya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak
dapat dipisahkan.
Dari pengertian tersebut daerah yang disebut hutan akan memberikan manfaat langsung
dan tidak langsung kepada masyarakat terutama yang berada di sekitar hutan. Dengan
didominasi pepohonan maka akan memberikan manfaat perlindungan tata air, keindahan, udara
segar dan manfaat-manfaat lain. Untuk menjaga daerah yang disebut hutan tersebut pemerintah
telah menetapkan aturan main pengelolaannya dan pemanfaatannya baik secara langsung
maupun tidak.
Illegal Logging menurut UU No 41/1999 tentang Kehutanan adalah perbuatan
melanggar hukum yang dilakukan oleh setiap orang/kelompok orang atau badan
hukum dalam bidang kehutanan dan perdagangan hasil hutan berupa,menebang
atau memungut hasil hutan kayu (HHK) dari kawasan hutan tanpa izin, menerima
atau membeli HHK yang diduga dipungut secara tidak sah, serta mengangkut atau
memiliki HHK yang tidak dilengkapi Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH).
Selama sepuluh tahun terakhir, laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai
dua juta hektar per tahun. Penebangan liar (illegal loging) adalah penyebab
terbesar kerusakan hutan itu. Menurut data Departemen Kehutanan tahun 2006,
luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta
hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi
dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun. Bila keadaan
seperti ini dipertahankan, dimana Sumatera dan Kalimantan sudah kehilangan
hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama.
Menurut analisis World Bank, hutan di Sulawesi diperkirakan akan hilang tahun
2010.

Adapun faktor penyebab illegal logging adalah pembalakan untuk mendapatkan kayu
dan alih fungsi lahan untuk kegunaan lain, seperti perkebunan,

pertanian dan pemukiman.

Seiring berjalannya waktu pertambahan penduduk dari hari ke hari semakin pesat sehingga
menyebabkan tekanan kebutuhan akan tempat tinggal, pohon-pohon ditebang untuk dijadikan
tempat tinggal ataupun dijadikan lahan pertanian. Faktor lainnya yaitu faktor kemiskinan dan

faktor lapangan kerja. Umumnya hal ini terjadi kepada masyarakat yang berdomisili dekat
ataupun di dalam hutan. Ditengah sulitnya persaingan di dunia kerja dan himpitan akan ekonomi,
masyarakat mau tidak mau berprofesi sebagai pembalak liar dan dari sini masyarakat dapat
menopang kehidupannya. Hal inilah yang terkadang suka dimanfaatkan oleh cukong-cukong
untuk mengeksploitasi hasil hutan tanpa ada perizinan dari pihak yang berwenang. Padahal
apabila dilihat upah tersebut sangatlah tidak seberapa dibandingkan dengan akibat yang akan
dirasakan nantinya.
Kebijakan adalah arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang
aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu perubahan (kamus hukum,
2008).
Definisi kebijakan menurut Friedrich (1969) dalam Agustino (2008:7) sebagai berikut:
Kebijakan publik adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang,
kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan
(kesulitan - kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana
kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang
dimaksud.
Dibutuhkan Pengendalian terhadap illegal logging dan pengendalian yang dimaksud
dituang dalam Pasal 13 ayat (1),(2) dan (3) sebagai berikut UU No 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengendalian yang dimaksud:
(1) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan hidup.
(2) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
a. pencegahan;
b. penanggulangan; dan
c. pemulihan.
(3) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-masing.

STUDI KASUS
Kasus Illegal Logging di Aceh Pada Tahun 2015
Kejahatan illegal logging terus terjadi di Aceh. Bahkan, kegiatan yang merusak
lingkungan tersebut, tidak hanya melibatkan masyarakat, tapi juga oknum pemerintah yang
seharusnya menangkap pelaku. Sejak Januari hingga Oktober 2015, telah terpantau aktivitas
ilegal di 19 kabupaten/kota.Dalam pemantauan tersebut, telah di temukan 345 kegiatan illegal
logging seperti penebangan kayu, pembukaan lahan dalam kawasan hutan, pengangkutan kayu
dari hutan ke industri pengolahan tanpa dokumen yang sah.
Dari 345 kasus tersebut, 245 pembalakan liar terjadi di areal penggunaan lain (APL) dan
95 titik berada di hutan lindung dan hutan produksi. Kayu yang diambil jenis meranti, damar,
dan merbau yang diangkut dalam bentuk gelondongan dan olahan ke sejumlah industri
pengolahan kayu. Dari hutan kayu diangkut dengan kendaraan roda dua, kerbau, dan mobil
khusus. Dari pinggir hutan ke industri pengolahan, kayu diangkut dengan truk dan becak mesin.
Para pelaku ada yang perorangan, kelompok, atau badan usaha tertentu. Dalam beberapa kasus,
ada keterlibatan pemuka masyarakat dan oknum pemerintah. KPHA meminta aparat penegak
hukum dan Dinas Kehutanan Aceh untuk melakukan tindakan. Pendataan alat penebang kayu,
review perizinan, penertiban kendaraan pengangkut, penyusunan regulasi, dan edukasi kepada
masyarakat harus dilakukan.
Kondisi hutan di Aceh saat ini kritis. Luasannya terus berkurang karena pembukaan
untuk perkebunan, pertambangan, pembukaan jalan, terlebih pembalakan liar. Berkaca pada
investigasi KPHA 2014, ada 287 titik pembukaan hutan, 69 pembalakan liar, 47 kasus kebakaran
hutan yang mengakibatkan terjadinya 23 titik bencana. Ini belum termasuk 62 kasus
perdagangan dan penguasaan satwa dilindungi. Kayu hasil kegiatan illegal logging tak jarang
diangkut dengan becak mesin untuk dibawa ke industri pengolahan kayu.
Kayu gelondong

Sebelumnya, pada 30 Oktober 2015, tim gabungan dari Polres dan Dinas Kehutanan
Kabupaten Aceh Timur menyita 133 kayu gelondongan yang di curi dari hutan lindung di
Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, tim
gabungan telah sepekan mengintai kegiatan tersebut. Namun, saat penangkapan, tim tidak
menemukan pemiliknya. Jumlah kayu yang disita adalah 133 kayu gelondongan. Kayu hasil
pembalakan ini, akan dibawa ke Aceh Timur melalui sungai Aceh Tamiang.
Dari 133 batang kayu berbagai jenis tanpa pemilik itu, ditemukan di beberapa lokasi di
hutan pedalaman Aceh Timur. Antara lain di Gampong Alur Semerut, Gampong Batu Sumbang,
dan Gampong Bedari, Kecamatan Simpang Jernih. Bila dibelah jumlahnya bisa puluhan kubik.
Kecamatan Simpang Jernih merupakan salah satu kecamatan di Aceh Timur yang paling banyak
terjadi illegal logging. Selain karena letaknya yang berbatasan langsung dengan hutan lindung,
juga karena kayu bisa dihanyutkan melalui sungai yang langsung masuk ke Kabupaten Aceh
Tamiang. Sebagian besar pelaku merupakan warga Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka masuk
lewat jalur sungai. Luasan hutan di Aceh sekitar 3.562 juta hektar atau 62,75 persen dari luasan
Aceh. Rinciannya, hutan konservasi 1.057.942 hektar, hutan lindung seluas 1.790.256 hektar, dan
hutan produksi 714.083 hektar.
Dari jumlah tersebut, hasil hitungan Walhi Aceh menunjukkan, masyarakat Aceh
membutuhkan 1,3 juta meter kubik kayu per tahun. Namun, dari kebutuhan tersebut hanya
sebagian kecil yang diperoleh secara sah. Sebagian besar kayu yang beredar di pasaran
merupakan kayu hasil pembalakan. Kayu-kayu tersebut dijual bebas di sejumlah panglong kayu
di Aceh, tanpa ada pemeriksaan dari aparat penegak hukum atau dari Dinas Kehutanan.

ANALISA
Berdasarkan dari kasus diatas, kegiatan illegal logging tidak hanya masyarakat yang
melakukannya tetapi juga beberapa oknum pemerintah yang seharusnya mengawasi hutan
malahan terlibat dalam kegiatan yang merusak lingkungan tersebut. Hal ini mungkin saja terjadi
dikarenakan besarnya keuntungan yang diperoleh dari kegiatan tersebut sehingga banyak pihak
yang ingin meraup keuntungan dari kegiatan Illegal logging tersebut.
Areal penggunaan lain menjadi areal yang sangat disukai oleh para pelaku Illegal logging
untuk melangsung aksinya dibandingkan dengan beberapa areal lainnya, hal ini dapat disebabkan
karena kurangnya pengawasan di areal tersebut sehingga para pelaku illegal logging dapat
melakukan aksinya dengan sangat leluasa.
Besar nya kebutuhan manusia akan lahan menyebabkan banyak kegiatan kegiatan
pembukaan lahan yang di lakukan oleh berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhannya meskipun
dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan sehingga berakibat
pada banyaknya kerusakan yang terjadi pada lahan hutan di daerah Aceh.
Besarnya angka kebutuhan akan kayu di Aceh hingga mencapai 1,3 juta meter kubik kayu
pertahun, sehingga salah satu cara yang ditempuh dalam memenuhi akan kebutuhan kayu
tersebut adalah dengan melakukan illegal loging di berbagai kawasan hutan yang ada di aceh ,
sehingga ada 113 batang kayu tanpa pemilik yang didapat akibat dari kegiatan Illegal logging
tersebut.
Kebijakan yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan illegal logging tersebut antara
lain :
-

Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai
pengelolaan hutan. Misalkan dengan upaya pengawasan dan penindakan yang dilakukan
di TKP (tempat kejadian perkara), yaitu di lokasi kawasan hutan dimana tempat

dilakukannya penembangan kayu secara illegal. Mengingat kawasan hutan yang ada
cukup luas dan tidak sebanding dengan jumlah aparat yang ada, sehingga upaya ini sulit
dapat diandalkan, kecuali menjalin kerjasama dengan masyarakat setempat. Ini pun akan
mendapat kesulitan jika anggota masyarakat itu justru mendapatkan keuntungan materiil
dari tindakan illegal logging. Penerapan sanksi menurut undang-undang yaitu bedasarkan
Pasal 18 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1985 dan Pasal 78 Undangundang No. 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan, yakni Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, huruf c, diancam dengan
pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00
(lima milyar rupiah). Dengan kata lain, barang siapa dengan sengaja memanen,
menebang pohon, memungut, menerima, membeli, menjual, menerima tukar, menerima
titipan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan
hutan, diancam dengan hukuman penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling
-

banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah)


Karena luasnya kawasan hutan yang ada di Indonesia tidak diimbangi dengan banyak
pihak pengamanan yang tersedia, maka diperlukan penambahan jumlah tenaga pengaman

agar kegiatan illegal logging tersebut dapat diminimalisir kerusakannya.


Karena besarnya kebutuhan akan penggunaan lahan, maka perlu dikeluarkan kebijakan
terkait perizinan terhadap penggunaan lahan hutan, karena banyak sekali terdapat
kecurangan kecurangan yang dilakukan oleh beberapa oknum yang mengancam
besarnya kegiatan illegal logging .

KESIMPULAN
Illegal logging merupakan salah satu kasus di sektor kehutanan Indonesia yang tidak
bisa diremehkan, mengingat dampak negatif yang ditimbulkannya baik secara langsung maupun
tidak langsung cukup bersifat signifikan di kehidupan masyarakat sehari-hari. Penebangan kayu
secara liar (illegal logging) merupakan gejala yang muncul akibat berbagai permasalahan yang
sangat kompleks melibatkan banyak pihak dari berbagai lapisan. Ditambah lagi, bila praktek ini
tetap dilakukan dengan itensitas yang tinggi, akan mengancam kehidupan di masa mendatang.
Oleh karena itu, perlu adanya perhatian yang intensif dan kooperasi yang solid antar pihak.

DAFTAR PUSTAKA
http://yudanunindra.blogspot.co.id/2013/04/makalah-ilegal-loging.html
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/04/23/problematika-penanganan-illegallogging-di-indonesia/
http://www.isai.or.id/?q=bagian+pertama-pembabat+hutan+bernama+illegal+logging+
http://id.wikipedia.org/wiki/Illegal_logging