Anda di halaman 1dari 30

PEMBIBITAN BATANG BAWAH DAN BATANG ATAS TANAMAN

KARET
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS BUDIDAYA TANAMAN PERKRBUNAN

Dosen Pengampu:
Ir. Sarman S.M.P

DISUSUN OLEH:
ALBERT P.S
JEKI OKTAR PUTRA (D1A014078)
FITRIA (D1A0141085)
ANANDA PUTRI (D1A014114)

AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan YME, karena dengan karunia-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah budidaya tanaman perkebunan berjudul
PEMBIBITAN BATANG BAWAH DAN BATANG ATAS TANAMAN
KARET. Meskipun banyak hambatan yang kami alami dalam proses
pengerjaannya, tetapi kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.
Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada dosen pembimbing yang
telah membantu dan membimbing kami dalam mengerjakan makalah ini. Kami
juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah
memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Jambi, Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................1
DAFTAR ISI...........................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................3
1.1 latar belakang....................................................................................4
1.2 rumusan masalah...............................................................................4
1.3 tujuan................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pembibitan entres/batang atas tanaman karet............................5


2.1.1

Lokasi kebun entres.........................................................7

2.1.2

Pengolahan lahan.............................................................8

2.1.3

Penanaman.......................................................................8

2.1.4

Pemeliharaan...................................................................10

2.1.5

Pengendalian gulma.........................................................10

2.1.6

Pengemasan entres..........................................................10

2.2 Pembibitan batang bawah karet.................................................13


2.2.1 Persiapan bibit batang bawah karet.................................13
2.2.2 Pengecambahan bibit batang bawah karet.......................15

2.2.3

Persiapan tanam bibit batang bawah tanaman karet.......19

2.2.3.1

Penanaman bibit di lahan..........................................19

2.2.3.2

Penanaman bibit di polybag......................................22

2.3 penyiapan bahan tanam...............................................................23


BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

25

3.2 Saran

25

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................26

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tanaman karet yang memiliki nama latin Hevea braziliensis ini
mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat
Indonesia, yaitu sebagai salah satu komoditas penghasil devisa negara serta
penyedia lapangan kerja bagi penduduk di wilayah pengembangannya. Sampai
saat ini, permintaan karet alam dan karet sintetik masih cukup signifikan karena
didorong oleh pertumbuhan industri otomotif yang tentunya memerlukan ban
yang berbahan baku karet sintetik dan karet alami. Memperhatikan adanya
peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet dimasa yang akan datang,
maka upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui peremajaan,
perluasan dan intensifikasi tanaman karet merupakan langkah yang efektif untuk
dilaksanakan.
Sebagian besar petani karet masih menggunakan benih tidak unggul. Disisi
lain, kondisi pertanaman juga dalam keadaan tua atau rusak sehingga tingkat
produktivitasnya rendah. Produktivitas tanaman karet dalam satuan kg karet
kering per hektar per tahun sangat ditentukan oleh mutu benih atau bahan tanam
yang digunakan. Untuk memperoleh tanaman karet yang berproduksi tinggi, maka
harus menggunakan benih klon unggul bersertifikat yang direkomendasi oleh
Pusat Penelitian atau Balai Penelitian Karet.
penggunaan benih unggul bermutu yang baru mencapai 35% dari 18 juta
ha areal perkebunan, sehingga target sasaran 3% dari areal setiap tahun harus
diganti dengan benih unggul bermutu (Ditjenbun, tanpa tahun). Maka jumlah
benih unggul bermutu yang dibutuhkan sangat besar
Penggunaan bibit karet bermutu merupakan salah satu kunci sukses menuju
agribisnis karet yang menguntungkan secara berkesinambungan. Di lapangan bibit
karet dikategorikan bermutu apabila secara fisik memenuhi ukuran per tumbuhan
yang normal, secara fisiologis memiliki daya hidup yang baik dan secara genetis
terdiri dari klon anjuran yang asli dan murni. Bibit yang memenuhi syarat

fisiologis dan agronomis dapat diperoleh melalui pemilihan bahan tanam yang
memenuhi standar dan pemeliharaan yang baik.
Guna memperoleh benih karet unggul bermutu bersertifikat harus melalui
perbanyakan secara vegetatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan
okulasi, yang komponennya terdiri dari batang atas berupa mata tunas (entres) dan
batang bawah yang merupakan semaian dari biji.
1.2 Rumusan masalah
-

Bagaimana cara Pembibitan entres/batang atas tanaman karet?

Perlakuan apa saja yang harus di lakukan untuk batang atas ttanaman
karet?

Bagaimana cara pembibitan batang bawah tanaman karet?

Perlakuan apa saja yang harus di lakukan untuk batang bawah ttanaman
karet?

Apa saja penyiapan bahan tanam karet?

1.3 tujuans
-

Untuk mengetahui cara Pembibitan entres/batang atas tanaman karet.

Untuk mengetahui Perlakuan apa saja yang harus di lakukan untuk batang
atas tanaman karet.

Untuk mengetahui Bagaimana cara pembibitan batang bawah tanaman


karet.

Untuk mengetahui Perlakuan apa saja yang harus di lakukan untuk batang
bawah ttanaman karet.

Untuk mengetahui apa saja penyiapan bahan tanam karet.

BAB II PEMBAHASAN
Pembibitan merupakan salah satu faktor terpenting yang menunjang
keberhasilan budidaya tanaman karet dan tanaman tahunan pada umumnya.
Kesalahan dalam pembibitan berakibat pada kerugian jangka panjang baik dari
segi tenaga, biaya, dan waktu. Pembibitan pada tanaman karet harus benar-benar
diperhatikan agar tanaman berproduksi baik dan berkelanjutan.
Tanaman karet umumnya diperbanyak secara vegetative dengan metode
okulasi. Pemilihan batang atas dan batang bawah harus diperhatikan kompabilitas
nya sehingga okuasi dapat berhasil. Selain itu, pemilihan batang atas dan batang
bawah akan berpengaruh terhadap ketahanan tanaman terhadap cekaman
lingkungan, serangan hama dan patogen, serta untuk memperoleh hasil yang
optimal.

2.1 Pembibitan entres/batang atas tanaman karet


Batang atas yang biasanya disebut entres (scion), adalah calon bagian atas
atau tajuk tanaman yang di kemudian hari akan menghasilkan tanaman berkualitas
unggul. Batang atas ini dapat berupa mata tunas tunggal yang digunakan dalam
teknik okulasi ataupun berupa ranting dengan lebih dari satu mata tunas atau
ranting dengan tunas pucuk yang digunakan dalam sambungan (grafting). Entres
inilah yang disambungkan pada batang bawah untuk menggabungkan sifat-sifat
yang unggul dalam satu bibit tanaman. Karena itu entres sebagai batang atas harus
diambil dari pohon induk yang sudah diketahui betul sifat unggulnya.
Pohon

induk

mempunyai

bagian

yang

berbeda-beda

fase

perkembangannya. Bagian pangkal pohon merupakan bagian yang tertua menurut


umurnya, tetapi karena terbentuk pada masa awal pertumbuhan pohon tersebut
maka sel-selnya besifat sederhana, muda (juvenile) dan sangat vegetatif. Semakin
ke arah ujung ranting, semakin muda menurut umurnya, tetapi sel-sel yang

terbentuk paling akhir ini justru bersifat lebih kompleks, dewasa (mature) dan siap
untuk memasuki masa berbunga dan berbuah (generatif).
Pengambilan entres dari pucuk tajuk pohon akan tetap membawa sifat
dewasa atau generatif. Penyambungan entres dengan batang bawah akan
menghasilkan bibit yang sudah membawa sifat dewasa tersebut. Hal ini
menyebabkan bibit hasil penyambungan atau okulasi lebih cepat berbuah daripada
tanaman yang berasal dari biji.
Kriteria tanaman yang dapat dijadikan sebagai batang atas adalah sebagai berikut.

Mampu beradaptasi atau tumbuh kompak dengan batang bawahnya,


sehingga batang atas mampu menyatu dan dapat berproduksi dengan
optimal.

Cabang dari pohon yang sehat, pertumbuhannya normal dan bebas dari
serangan hama dan penyakit

Cabang berasal dari pohon induk yang sifatnya benar-benar seperti


dikehendaki, misalnya berbuah lebat dan berkualitas tinggi.
Salah satu sifat unggul pada tanaman, adalah kualitas nya. Semakin

banyak sifat yang disukai konsumen dalam satu tanaman, maka semakin tinggi
pula nilai ekonomi (harga) tanaman tersebut. Tanaman tersebut dapat digolongkan
sebagai tanaman unggul.
jenis klon untuk batang atas yang telah direkomendasikan adalah klon
penghasil lateks yaitu IRR 104, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 340 , RRIC 100,
BPM 1, BPM 1.

2.1.1 Lokasi kebun entres


Lokasi untuk kebun entres mempunyai persyaratan sebagai berikut (Subendi
dan Raharjo, 2010):

Kepemilikan lahan harus jelas, khususnya untuk kebun entres yang di


kelola secara berkelompok

Lahan tidak tergenang air.

Lahan kebun entres diusahakan pada tempat yang datar (kemiringan 010%), buatkan tersa gulud anar rorak-rorakuntuk memperkecil bahaya
erosi

Tanahnya subur, bahan organik tinggi, bebas dari hama dan sumber
penyakit.

Dekat dengan sumber mata air untuk memudahkan penyiraman, jika tidak
ada hujan.

Bebas dari sumber penyakit

Bebas dari gangguan alam seperti banjir atau tanah longsor

Dekat jalan dan emplasmen untuk memudahkan


pengontrolan/pengangkutan.
Lokasi kebun entres di indonesia umumnya berada di wilayah sentra-

sentra bibit, seperti lubuk linggau, banyuasin, prabumulih (untuk wilayah


sumatera selatan). Luas minimal untuk kebun entres tergantung dengan rencana
jumlah bibit yang akan di hasilkan. Sebagai panduannya, setiap 0,1 hektare kebun
entres, Pada tahun pertama dapat memenuhi kebutuhan bibit untuk 10 hektare
kebun produksi ( populasi 500 pohon/hektere). Setelah itu, pada kebun kedua
dapat menghasilkan kebutuhan bibit untuk 20 hektare

Mutu fisik batang atas juga menyangkut kesegaran kayu okulasi. Kayu
okulasi sebagai sumber mata okulasi sebaiknya segera dipakai setelah
pemotongan dari tanaman induknya. Mata tunas yang baik adalah yang berasal
dari kebun entres yang sehat, umurnya hampir sama dengan umur bibit batang
bawah dan jenis mata untuk okulasi coklat (umur batang bawah 7 bulan dan
berwarna coklat) adalah mata ketiak daun. Standar mutu mata okulasi atau entres
ialah (Siagian, 2010):

Berasal dari kebun entres yang terawat baik sesuai anjuran

Umur kayu okulasi setelah penyerongan kurang dari 3 hari dan jaringan
masih segar

Berasal dari klon anjuran komersial dengan kemurnian 100%

Mata tunas yang berasal dari ketiak daun digunakan untuk okulasi coklat
(umur batang bawah 7 bulan dan berwarna coklat) dan mata sisik yang
berasal dari daun yang rudimenter digunakan untuk okulasi tanaman muda
(3-4 bulan).

2.1.2 pengolahan lahan


Pengolahan tanah untuk membangu kebun entres harus dilakukan secara
sempurna adanya pengolahan tanah dapat menurunkan tingkat serangan penyakit
jamur akar putih. Pasalnya, kondisi kebun entres yang menggunakan jarak tanam
1x1meter dapat mempercepat terjadinya pertautan akar antar tanaman,sehingga
terdapat risiko serangan penyakit jamur akar putih.
Pengolahan tanah meliputi pemberantasan gulma, pencegahan erosi, dan
pembuatan jalan kontrol. Pemberantasan gulma dilakukan dengan cara
mencangkul tanah sedalam 50 cm, lalu gunakan garpu untuk meratakan tanah.
Setelah lahan siap lakukan pemasangan ajir dan penggalian untuk lubang tanam.
Ajir dapat menggunakan kayu atau bamb yang dipasang dengan jarak 1x1 meter.

Sementara itu untuk penggalian lubang tanam minimumberukuran 40cm x 40cm x


40cm.
2.1.3 penanaman
sebagai sumber mata , kemurnian klon yang ditanam di kebun entres
harus terjamin. Karena itu, pilih bahan tanam yang telah mendapat rekomendasi
dari pusat penelitian karet dan unit-unit kerjanya. Bahan tanam yang biasa
digunakan untuk penanaman dikebun entres berupa bibit okulasi dalam bentuk
polibag berpayung dua. Artinya, pilihlah bibit yang mata okulasinya sudah
tumbuh hingga memiliki 2 tingkat daun.
2.1.4 pemeliharaan
a. pemupukan
untuk memperoleh pertumbuhan dan mutu entres yang baik, lakukan
pemupukan secara teratur. Pemupukan dilakukan dengan cara menabur pupuk
diantara barisan tanaman secara merata. Pada saat pemupukan, usahakan keadaan
tanah lembab dan bebas gulma. Jenis pupuk, dosis, dan frekuensi pemupukan
disajikan di tabel 2.

Rekomendasi umum pemupukan di kebun entres.

Jenis pupuk
Umur
tanaman(tahun
)

Urea

Sp 36

KCL

Kleserite

(g/pohon

(g/pohon

(g/pohon

(g/pohon

tahun)

tahun)

tahun)

tahun)

Frekuensi
pemupuka
n

30

30

25

10

2kali/tahun

30

40

30

10

2kali/tahun

10

60

40

40

15

2kali/tahun

Diatas 3

60

40

40

15

2kali/tahun

Sumber : Balai Penelitiansembawa, Saptabina Usaha Karet Rakyat


Catatan : Pemupukan terakhir dilakukan 2-3 bulan menjelang pelaksanaan okulasi

11

2.1.5 Pengendalian gulma


Pengendalian gulma secara menual dapat dilakukan hingga tanaman
berumur 6 bulan setelah tanam. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara
manual menggunakan cangkul dengan rotasi 2-3 bulan sekali. Atau tergantung
pada kondisi gulma.
Setelah tanaman berumur lebih dari 6 bulan atau batang sudah berwarna
cokelat, pengendalian dapat dilakukan secara kimia menggunakan herbisida.
Pengguanaan herbisida harus dilakukan secara hati-hati.
2.1.6 Pengemasan entres
Tujuan pengemasan adalah menjaga kesegaran bahan batang atas selama
mungkin, hingga dapat segera disambungkan di kebun pembibitan. Metode
pengemasan calon entres adalah sebagai berikut. Cabang atau ranting pohon induk
dipilih sesuai dengan kriteria dan idealnya berdiameter 2-4 cm (tergantung jenis
dan kualitas pohon induknya). Seluruh daunnya segera dirontokkan, untuk
mengurangi kehilangan air dari permukaan daun yang dapat mengakibatkan entres
menjadi keriput. Pohon induk yang dipilih untuk sumber entres dapat diproses
sebagai berikut:

Dari satu ranting dapat dihasilkan 3-5 mata entres yang baik/ produktif.

Entres harus disortir atau dipisahkan berdasarkan keberadaan mata tunas.

Entres harus tidak bercabang, tetapi berupa cabang tunggal sepanjang


kurang lebih 20-30 cm.

Sekumpulan cabang tunggal kemudian diikat dengan karet gelang


sebanyak 10-30 entres setiap ikat, tergantung dari besar-kecilnya diameter
entres.

12

Bahan pembungkus yang digunakan harus bisa meredam panas dan


sekaligus menjaga tingkat kelembaban entres. Bahan yang biasa dipakai
dan mudah didapat adalah kertas koran, kertas tisu, kantong plastik, daun
dan pelepah pisang.

Setiap ikatan entres yang telah dipilih kemudian dibungkus dengan


beberapa lapis kertas tisu atau kertas koran. Bungkus pertama ini perlu
diperciki dengan air agar agak lembab, tetapi jangan terlalu basah. Setelah
itu dibungkus lagi dengan kantong plastik. Dengan cara ini, kesegaran
entres dapat bertahan 2 hari. Dan lebih baik lagi kalau bungkus paling luar
adalah pelepah pisang. Bahan ini merupakan peredam panas yang ideal,
karena jaringan batang pisang segar banyak mengandung air dan sekaligus
rongga-rongga udara. Kotak kardus atau karton dapat juga dipakai sebagai
alternatif.

Pada waktu diangkut entres yang sudah dibungkus tidak boleh terkena
sinar matahari langsung dan ditaruh di dekat mesin, karena entres akan
mengalami kekeringan.

Entres harus diletakkan mendatar agar cairan dalam entres tidak bergerak
turun akibat gaya gravitasi, sehingga kulit batang entres tidak akan
mengerut dan sulit untuk dikelupaskan dari kayunya.

Entres jangan dicuci dengan air, karena akan mengundang datangnya


bakteri patogen dan cendawan masuk ke jaringan entres dan kambiumnya
cepat tertarik keluar sehingga sering keluar cairan kental dari luka.
Akibatnya pada saat akan diokulasikan atau disambungkan pada batang
bawah, entres sudah membusuk.

Jangan melakukan pengambilan cabang entres setelah turun hujan. Bila ini
terpaksa dilakukan, maka setelah cabang entres dipotong dari pohon
induknya, segera dikeringanginkan, baru kemudian dibungkus.

13

Batang tanaman sebagai bibit. Batang bawah


(kiri) dan Batang atas (kanan)

Menyimpan entres di dalam refrigerator (kulkas), perlu memperhatikan


suhu dan kelembaban yang rendah. Kondisi demikian dapat menarik air
keluar dari entres sehingga entres menjadi keriput dan kehilangan
kesegarannya.

14

2.2 pembibitan batang bawah karet

2.2.1 Persiapan bibit batang bawah karet


Penyediaan batang bawah untuk okulasi tanaman karet dilakukan melalui
perbanyakan generatif dengan menanam biji karet (klatak, balam .red) di lahan
terbuka atau di dalam polibag. Biji karet yang digunakan sebagai bahan tanam
dalam penyediaan batang bawah harus berasal dari klon yang memiliki sistem
perakaran yang kuat seperti GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037 dan LCB 1320.
Biji karet sebaiknya diambil dari tanaman yang sudah berumur >10 tahun agar
daya tumbuhnya (viabilitas) tinggi.
Biji-biji karet yang akan digunakan sebagai bahan tanam harus terlebih
dahulu diuji daya lenting, kesegaran, mozaik, dan kecerahan cangkangnya
sebelum mulai dikecambahkan.

a. Pengujian Daya Lenting


Pengujian daya lenting dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
viabilitas dari biji karet yang akan digunakan. Pengujian daya lenting dilakukan
dengan melentingkan atau menjatuhkan biji karet dari ketinggian 1 meter dari
lantai semen. Biji karet yang memantul hingga ketinggian > 40 cm dikategorikan
sebagai biji karet yang layak dikecambahkan, sedangkan biji karet yang memantul
hingga ketinggian > 40 cm sebaiknya tidak usah dikecambahkan karena biasanya
daya kecambahnya rendah. Pengujian daya lenting dapat pula dilakukan
menggunakan kotak kayu dengan tinggi 40 cm, dimana apabila biji karet setelah
dipantulkan keluar dari kotak, secara otomatis dapat langsung terpisahkan.
b. Pengujian Tingkat Kesegaran
Selain daya lenting, biji yang akan dikecambahkan juga harus diuji tingkat
kesegarannya dengan cara mengambil biji secara acak dari kumpulan biji untuk
kemudian dipecahkan. Jika kebanyakan biji yang dipecah memiliki endosperm
15

(daging biji) berwarna putih sampai kekuningan berarti kumpulan biji itu layak
untuk dikecambahkan, sedangkan jika endosperm kebanyakan biji yang dipecah
tersebut sudah berwarna hitam berarti kumpulan biji tersebut sudah tidak layak
dikecambahkan

karena

dipastikan

daya

tumbuhnya

rendah.

Pengujian tingkat kesegaran biji karet juga dapat dilakukan dengan cara
perendaman. Biji-biji yang 2/3 bagiannya masuk ke dalam air layak
dikecambahkan, sedangkan biji yang mengambang sebaikgnya dipisahkan dan
dibuang.
c. Mozaik dan Kecerahan Cangkang
Biji karet yang layak dikecambahkan umumnya memiliki mozaik (alur
warna) yang terlihat jelas dan kilauan yang cerah pada cangkangnya. Biji yang
demikian biasanya memiliki tingkat kesegaran yang masih normal dan daya
tumbuh yang tinggi. Untuk menguji mozaik dan kecerahan cangkang dapat
dilakukan dengan sistem sampel dari kumpulan biji karet untuk kemudian diamati
dengan mata telanjang. Jika persentase biji yang memiliki mozaik dan kecerahan
cangkang yang jelas mencapai minimal 80%, berarti kumpulan biji tersebut sudah
siap

untuk

dikecambahkan.

,
Dari beberapa pengujian di atas, saat ini tentu kita sudah memperoleh biji
karet yang siap untuk dikecambahkan. Biji-biji tersebut tidak boleh dibiarkan
terlalu lama. Minimal 2 hari biji-biji tersebut harus sudah diletakan di bedengan
persemaian untuk dikecambahkan.
Setelah biji karet yang memenuhi standar untuk dikecambahkan diperoleh,
langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam penyiapan batang bawah okulasi
karet adalah mengecambahkan biji-biji tersebut sebelum dipindahkan ke lahan
pembibitan utama. Pengecambahan umumnya dilakukan di bedengan persemaian
yang letaknya tidak jauh dari tempat penanaman kecambah.

16

jenis klon untuk batang bawah yang telah direkomendasikan sebagai


berikut : AVROS 2037, GT 1, PB 260, RRIC 100, PB 330, PB 340 dan BPM 24,
PR 300, PR 228, LCB 1320

2.2.2 Pengecambahan bibit batang bawah karet


Pengecambahan umumnya dilakukan di dalam bedengan persemaian yang
dilengkapi dengan naungan. Sama seperti bedengan pada pembibitan tanaman
perkebunan lainnya, bedengan persemaian (pengecambahan biji karet) dibuat
dengan ukuran sebagai berikut:

Ilustrasi - Bedengan persemaian biji karet (doc. Teguh Yuono)

a. Media Persemaian
Media yang digunakan untuk mengecambahkan biji karet dibedengan
berupa tanah topsoil yang di lapisan atasnya dilapisi pasir setebal 1 cm. Media ini
harus bebas dari jamur sehingga sebelum digunakan harus terlebih dahulu
disemprot menggunakan fungisida Dithane M-45 0.2%. Media dapat digunakan
berulang-ulang maksimal hingga 3 kali proses pengecambahan.

17

b. Teknik Pengecambahan
Setelah biiji yang memenuhi syarat, bedengan, dan media pengecambahan
siap, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menanam biji karet hingga
menjadi kecambah. Mengecambahkan biji karet dilakukan dengan membenamkan
2/3 bagian biji ke dalam media pasir. Pembenaman biji dilakukan dengan bagian
muka biji yang memiliki garis pusar (perut biji) menghadap ke bawah dan
punggung biji menghadap ke atas.

Ilustrasi Pengecambahan biji dilakukan pada bedengan persemaian oleh para


pekerja (doc. Teguh Yuono)
Biji dibenamkan masing-masing dengan jarak tanam 1 cm x 1 cm
sehingga dalam 1 m2, terdapat 1.000 biji yang sudah terbenam dalam media pasir.
Biji-biji yang sudah di tanam ini harus terus disiram dengan rotasi minimal 2 x
sehari. Pada hari ke lima, biji-biji tersebut akan mulai berkecambah dan
selanjutnya tumbuh melalui berbagai stadia yaitu stadia bintang, standia jarum,
dan stadia pancing.
1. Stadia bintang diperoleh bila flumula sudah mulai mentis biasanya pada
usia 5-7 hari setelah proses pengecambahan.
2. Stadia pancing diperoleh bila flumula sudah mulai tumbuh memanjang
membentuk pancing biasanya tercapai pada usia 7-14 hari setelah proses

18

pengecambahan. Pada stadia ini, pemindahan kecambah ke lahan


pembibitan main nursery sangat dianjurkan.
3. Stadia jarum diperoleh bila flumula sudah mulai tumbuh memanjang
membentuk jarum biasanya tercapai pada usia 14-21 hari setelah proses
pengecambahan.

Ilustrasi Stadia pertumbuhan biji karet setelah dikecambahkan (doc. Teguh


Yuono)
c. Pemupukan
Pemupukan pendahuluan dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah
terakhir, yaitu pupuk Rock Phosfat 750 kg/ha ditabur merata. Dosis pemupukan
pada batang bawah karet:

Umur Bibit
(Bulan)

Dosis (gr/pohon)
Urea

SP-36

KCl

Kieserite

12

12

19

Jika menggunakan pupuk majemuk NPKMg 15-15-6-4, dosis yang dipakai


ialah 5, 10, 15 dan 15 gr/pohon untuk masing-masing umur 1,3,5 dan 7 bulan.

d. Seleksi
Pada umur 2 bulan dan 4 bulan dilakukan seleksi terhadap bibit. Bibit-bibit
yang tumbuh tidak normal dibuang antara lain batang bengkok, kerdil, tumbuh
terbalik, tumbuh dua tunas, berindikasi akar bengkok dan daun menguning terus.
Indikasi akar bengkok adalah pertumbuhan melengkung pada permukaan tanah
dan internode tumbuh lebih pendek.
e. pengokulasian
Bibit batang bawah dapat diokulasi pada umur 6 12 bulan. Jika semua
norma-norma kerja dari sejak pengadaan biji, pengecambahan, pengolahan lahan
pembibitan, pemeliharaan pembibitan batang bawah, dan seleksi bibit dilakukan
dengan baik maka diharapkan persentase bibit yang dapat diokulasi akan tinggi (>
90 %).
f.

Pembongkaran Stump Okulasi


Stump dicabut dengan alat dongkrak stum. 7 10 hari sebelum

pencabutan, batang bawah dipotong pada ketinggian sekitar 75 cm atau pada


pertautan batang yang berwarna coklat dengan berwarna hijau. Tujuan
pemotongan ini untuk mematahkan sifat dominansi apikal sehingga tunas okulasi
lebih cepat tumbuh. Batang ini masih diperlukan sebagai bagian yang dijepit alat
pada saat pembongkaran.
Setelah

stum

dibongkar

dilakukan

perempelan

terhadap

akar

tunggang,akar lateral dan penyerongan batang 10 cm di atas mata okulasi. Harus


diperhatikan sudut penyerongan harus berlawanan dengan bidang okulasi. Kriteria
SOMT yang memenuhi syarat adalah : akar tunggang lurus, normal dan
panjangnya 25-35 cm. Akar lateral panjangnya 5-10 cm. Akar tunggang tidak

20

bercabang, tidak berbentuk garpu dan tidak berbonggol. Batang kemudian


dicelupkan pada lilin cair agar menghindari penguapan air dari batang. SOMT
kemudian sudah dapat dikirim dengan cara mengikat setiap 100 batang atau
menggunakan kotak. Dan siap untuk

g. Pemindahan ke Lahan Penanaman


Biji karet yang sudah berkecambah (usia 5-15 hari setelah penanaman)
harus segera dipindah ke lahan penanaman. Pemindahan dilakukan dengan
mencabut kecambah dari bedengan dengan hati-hati kemudian menanamnya di
lahan penanaman atau polybag.

2.2.3

Persiapan tanam bibit batang bawah tanaman karet

2.2.3.1 penanaman bibit di lahan


a. persiapan lahan
Setelah lahan pembibitan batang bawah dan kecambah biji karet sudah
siap, langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam penyediaan batang bawah
untuk okulasi tanaman karet adalah menanam kecambah tersebut di lahan
pembibitan batang bawah. Penanaman kecambah biji karet dilakukan dengan
jarak tanam dengan sistem double row 25 cm x 25 cm x 50 cm. Penggunaan jarak
tanam sistem double row dimaksudkan untuk mempermudah proses perawatan
dan okulasi tanaman yang akan dilakukan di kemudian hari. Langkah-langkah
yang harus dilakukan dalam penyediaan batang bawah okulasi karet antara lain
pengajiran, penanaman, pemupukan, dan pemeliharaan.

21

Ilustrasi Pengajiran pada lahan pembibitan batang bawah tanaman karet sebelum
dilakukannya penanaman (doc. Teguh Yuono)

Pengajiran
Pengajiran dilakukan dengan membuat mal dari bambu yang ditandai pada pada
jarak yang sesuai dengan jarak tanam yang digunakan. Pada jarak sesuai dengan
tanda di mal, ajir bambu kecil ditancapkan sebagai tanda bahwa disitulah letak
sebaiknya tanah ditugal dan kecambah ditanam.
Penanaman
Pada ajir yang sudah ditancapkan, tanah ditugal sedalam maksimal 10 cm
sebagai lubang tanam untuk menanam kecambah biji karet. Kecambah yang sudah
ditanam kemudian ditutup dengan sekam padi untuk meminimalkan penguapan
air di sekitar kecambah.
Penyiraman

22

Kecambah yang ditanam setiap pagi dan sore harus disiram secara rutin
terutama apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau. Di skala perusahaan
besar biasanya penyiraman dilakukan dengan teknologi sprinkler sehingga
kebutuhan air bibit dapat terpenuhi secara otomatis.
Pemeliharaan
Pemeliharaan bibt batang bawah sebetulnya tidak terlalu rumit.
Pemeliharaan yang hanya meliputi pengendalian gulma, hama, dan penyakit
dilakukan secara tentatif. Bila ada serangan, tindakan pemeliharaan baru
dilakukan. Pemeliharaan yang paling penting pada bibit batang bawah karet
adalah mengendalikan serangan jamur Colletotrichum sp dan serangan jamur akar
putih. Kedua jamur ini sering kali menyerang pada bibit tanaman yang ditanam
pada bekas lahan produksi. Pengendalian kedua jamur ini dapat dilakukan dengan
pemusnahan tanaman yang terserang dan aplikasi fungisida Dithane M-45.

Ilustrasi - Bibit batang bawah yang sudah tumbuh usia 6 bulan (doc. Teguh
Yuono)
Pemupukan

23

Pemupukan pada bibit batang bawah karet dilakukan menggunakan pupuk


majemuk NPKMg 15:15:6:4, sesuai dosis dan waktu seperti yang ditampilkan
pada
tabel di bawah ini:
Tabel Dosis Pemupukan Bibit Batang Bawah Tanaman Karet
Waktu Pemupukan

Rotasi (kali/bulan)

Dosis (gr/tanaman)

0,5

2-5

5-10

10

(BST)

Setelah bibit batang bawah tumbuh, pada usia 3 bulan bibit tersebut siap
untuk diokulasi hijau, sedangkan apabila akan menggunakan okulasi coklat bibit
tersebut harus dibiarkan hingga usia minimal 10 bulan. Untuk melakukan okulasi,
selain alat berupa pisau okulasi dan plastik pembalut, Anda juga harus
menyiapkan entres (batang atas) yang diperoleh dari tanaman unggul.
2.2.3.2. persiapan penanaman bibit di polybag
Bibit SOMT ditanam di polybag hingga tumbuh daun payung dua.
Polybag yang digunakan berukuran 20 x 40 cm. Kantong polybag yang telah
berisi tanah disusun secara barisan masing-masing 3 baris dengan jarak antar baris
70 cm. Penyiraman dilakukan setiap hari selama 3 bulan kecuali jika terjadi hujan.
Penyiangan gulma dalam polybag dilakukan secara manual dengan rotasi 1 bulan
sekali. Sedangkan di luar polybag dapat dilakukan dengan manual atau kimiawi.
Penunasan (pewiwilan) harus dilakukan terhadap tunas-tunas yang keluar bukan
dari mata okulasi dengan rotasi 2 minggu sekali menggunakan pisau tunas.
Pemupukan dilakukan dengan pupuk majemuk NPKMg 15-15-6-4. Pada
bulan pertama 5 g/polybag dan bulan-bulan berikutnya 7,5 g/polybag. Pemupukan
dapat juga dilakukan dengan pupuk tunggal :

24

Umur Bibit
(bulan)

Dosis Pupuk (g/pohon)


Urea

SP-36

KCl

Kieserit

keuntungan bibit dalam polybag persentase kematian yang rendah,


pertumbuhan yang seragam, penularan penyakit dari pembibitan dapat terhindari.
kelemahan terletak pada proses penyiapan yang lebih lama, proses pengangkutan
yang lebih rumit, dan harganya relatif lebih mahal.
2.3. Penyiapan Bahan Tanaman
a. Stum okulasi mata tidur
Stum mata tidur adalah bibit ukulasi masih belum tumbuh .stum mata tidur
yang baik adalah yang menmpunyai akar tunggal dengan panjang 35 cm-40
cm.untuk menghasilkan bibit dengan kondisi yang demikian diperlukan persiapan
batang bawah dengan tehnik pencabutan bibit yang baik . pencabutan hasil okulasi
untuk di jadikan stum mata tidurdapat dilakukan dengan dua cara.
1 dengan cara cangkul
2 dengan menggunakan alat dongrak(pulling jack)
Yang harus di perhatikan di dalam penanaman bibit okulasi stum mata tidur :

Penanaman stum mata tidur yang paling baik adalah menanam semua bibit
dalam polybag yang diatur di tempat pembibitan kecil dan disiram setiap

hari
Pertumbuhan tunas harus diawasi untuk menghindari pertumbuhan tunas

liar yang tumbuh dari batang bawah.


Penanaman bibit karet bisa dilaksanakan setelah bibit karet sudah

mendapat 2 payung dengan daun yang sudah matang.


penanaman dapat dilakukan pada umumnya di awal musim hujan (yaitu
pada Oktober), stump sudah harus dipindahkan ke polybag pada awal
bulan Juli.

25

b. stum mini
stum mini adalah bibit stum mata tidur yang di tumbuhkan dipembibitan
selama 6-8 bulan sebelum pembongkaran sehingga bibit ini memiliki mata lebih
banyak dari bibit stum mata tidur
c. bibit dalam polibeg
Bibit dalam polibeg adalah bibit okulasi yang ditumbuhkan dalam polibeg
mempunyai dua atau tiga payung daun bibit dalam polibeg dapat dibuat dari stum
mata tidur atau batang bawah yg di okulasi dalam polibeg.

26

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Tanaman karet yang memiliki nama latin Hevea braziliensis ini
mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia,
yaitu sebagai salah satu komoditas penghasil devisa serta penyedia lapangan kerja
bagi penduduk di wilayah pengembangannya Penggunaan bibit karet bermutu
merupakan salah satu kunci sukses menuju agribisnis karet yang menguntungkan
secara berkesinambungan. Di lapangan bibit karet dikategorikan bermutu apabila
secara fisik memenuhi ukuran per tumbuhan yang normal, secara fisiologis
memiliki daya hidup yang baik dan secara genetis terdiri dari klon anjuran yang
asli dan murni. Bibit yang memenuhi syarat fisiologis dan agronomis dapat
diperoleh melalui pemilihan bahan tanam yang memenuhi standar dan
pemeliharaan yang baik.
Guna memperoleh benih karet unggul bermutu bersertifikat harus melalui
perbanyakan secara Kegetative. Perbanyakan secara Kegetative dilakukan dengan
okulasi, yang komponennya terdiri dari batang atas berupa mata tunas (entres) dan
batang bawah yang merupakan semaian dari biji.

3.2 Saran
Bibit batang atas atau entres harus mempunyai keunggulan dalah bidang
penghasil lateks yang baik sebaiknya bibit batang atas atau entres di ambil dari
kebun pembibitan entres sehingga entres yang di dapat adalah entres dengan bibit
yang sudah jelas diketahui keunggulannya dan di ambil dari kebun entres bukan
dari kebun produksi, karena dikhawatirkan penggambilan entres dari kebun
produksi akan merusak kebun produksi tersebut.
Bibit batang bawah sebaiknya di ambil dari biji yang baik yang telah
memenuhi kriteria dan dari indukan yang jelas pula. Sehingga batang bawah
tanaman karet yang akan di okulasi memiliki keunggulan sebagai batang bawah
yang baik.

27

DAFTAR PUSTAKA
Arislaporan praktikum ilmu tanaman perkebunan (agh 341) penanaman batang
bawah
dan
pohon
entres
karet.
29
januari
2016.
http://pradana15.blogspot.co.id/2014/07/laporan-praktikum-ilmutanaman.html
Bibit Karet Okulasi Unggul .PEMBIBITAN KARET.30 januari 2016.
https://www.facebook.com/notes/bibit-karet-okulasi-unggul/pembibitankaret/101775466642131/
Budiyanto.14 februari 2016 . Makna/Pengertian Bibit Stum Mata tidur pada
Tanaman
Karet
http://kebunkaret.blogspot.co.id/2013/02/maknapengertian-bibit-stum-mata-tidur.html
Ernaningtyas,yeti. STANDAR MUTU BAHAN TANAM KARET (Hevea
brasiliensis) UNTUK BATANG ATAS DAN BATANG
BAWAH.30januari2016.https://www.facebook.com/permalink.php?story
_fbid=222529854538031&id=177228485734835
Fithriyyah,Dina. KRITERIA BENIH KARET YANG BAIK DAN
BERMUTU.30 januar2016.http://ditjenbun.pertanian.go.id/tanhun/berita253-kriteria-benih-karet-yang-baik-dan-bermutu.html
Gtune,andy.
PEMBIBITAN
KARET.29
januari
2016._https://gtuneland.wordpress.com/2011/03/13/pembibitan-karet/
Joewono,Teguh. Penyediaan Batang Bawah untuk Okulasi Tanaman Karet.29
januari
2016.http://elearningatp.blogspot.co.id/2014/08/setelah-lahan
pembibitan-batang-bawah.html
Joewono,Teguh.Persiapan Lahan untuk Pembibitan Batang Bawah Tanaman
Karet.29
januari2016.http://elearningatp.blogspot.co.id/2014/08/persiapan
lahanpembibitan-batang-bawah.html
Joewono,Teguh. Seleksi Biji untuk Persiapan Batang Bawah Okulasi Bibit
Tanaman
Karet
.29
januari
2016.http://elearningatp.blogspot.co.id/2014/08/biji-batang-bawahuntuk-okulasi.html
Maju,tresno.bibit karet unggul pb260 berlabel/bersertifikat .14 februari
2016.http://stummatatidur.blogspot.co.id/.

28

Meftah Hidayat,Arif .Asal Batang Bawah Tanaman Karet .29 januari


2016.http://www.anakagronomy.com/2015/01/asal-batang-bawahtanaman-karet.html
Meftah Hidayat,Arif . Pemilihan Batang Atas dan Batang Bawah Tanaman
Karet
.29
januari
2016.http://www.anakagronomy.com/2015/01/pemilihan-batang-atasdan- batang-bawah.html.
Mutiarabonggol pembibitan karet . BAHAN TANAMAN .14 februari
2016.http://mutiara-bonggol.blogspot.co.id/2008/10/penyiapan-bahantanaman.html.
Syahputra , Fadly . Pembibitan Ground Nursery "Core Stump"Tanaman Karet
(Havea Brasiliensis ) PENDAHULUAN.29 januari 2016.
http://www.academia.edu/9397938/Pembibitan_Ground_Nursery_Core_Stump_T
anaman_Karet_Havea_Brasiliensis_PENDAHULUAN

29