Anda di halaman 1dari 35

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN KASUS
MEI 2015

TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF LESI LUAS


KASUS BARU FASE INTENSIF

OLEH :
RUSHDA BINTI MAT MUHAMMAD
C111 11 861

PEMBIMBING:
dr. HUSAIN

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama
: Rushda binti Mat Muhammad
Nim
: C111 11 861
Judul Kasus : Tuberkulosis paru BTA positif lesi luas kasus baru fase intensif
Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian ilmu penyakit
dalam Universitas Hasanuddin.
Makassar,

Pembimbing,

Mei 2015

Disusun oleh,

(dr. Husain)

(Rushda binti Mat Muhammmad)

Residen pembacaan,

(dr. Agussalim)

DAFTAR ISI
1

HALAMAN PENGESAHAN .. 1
DAFTAR ISI. 2
BAB 1: LAPORAN KASUS........................................................................................... 3-15
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA
I.
DEFINISI ................ 16
II.
ETIOLOGI.... 16
III.
EPIDEMIOLOGI......... 17
IV.
PATOGENESIS...... 17-20
V.
KLASIFIKASI .... 21-23
VI.
DIAGNOSIS....................... 24-28
VII.
PENGOBATAN.. 29-34
VIII. KOMPLIKASI....... 35
DAFTAR PUSTAKA... 36

BAB 1: LAPORAN KASUS


I. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. R
Umur
: 22 tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Pekerjaan
: Mahasiswa
Alamat
: Jl. Tamalanrea Raya Poros BTP No. 26
2

Agama
No. RM

: Islam
: 711133

ANAMNESIS
Autoanamnesis dan alloanamnesis
Keluhan Utama

: Batuk

Anamnesis Terpimpin:
Dialami sejak dua bulan terakhir sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya batuk
kering kemudian batuk kadang-kadang ada lendir, warna putih. Riwayat batuk darah ada,
dua kali, 3 hari sebelum masuk rumah sakit, warna merah segar, tidak bercampur
makanan. Demam ada, tidak terus menerus, turun dengan Paracetamol, riwayat menggigil
dan berkeringat malam ada. Nafsu makan menurun 1 bulan terakhir, berat badan menurun
lebih kurang 5kg. Mual dan muntah tidak ada. Sesak napas tidak ada, nyeri ulu hati tidak
ada. Buang air besar biasa, buang air kecil lancar, warna kuning.
Riwayat penyakit sebelumnya :
-

Riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal


Riwayat berobat 6 bulan sebelumnya tidak ada
Riwayat tekanan darah tinggi disangkal

Riwayat pribadi dan keluarga :


-

Riwayat merokok tidak ada


Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga tidak ada
Riwayat minum alkohol tidak ada

II. STATUS PRESENT


Sakit Sedang / Gizi cukup / Composmentis
BB = 50 kg
TB = 165 cm
IMT = 18,37 kg/m2 (Kurang)
Tanda vital :
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 100 x/menit, regular, kuat angkat

Pernapasan

: 22 x/menit

Suhu

: 37,8 oC

III.PEMERIKSAAN FISIS
Kepala
3

Ekspresi

: biasa

Simetris muka

: simetris kiri dengan kanan

Deformitas

: tidak ada

Rambut

: hitam lurus, sukar dicabut

Mata
Eksoptalmus/Enoptalmus
Gerakan

: tidak ada
: bisa ke segala arah

Kelopak Mata

: edema tidak ada

Konjungtiva

: anemis tidak ada

Sklera

: ikterus tidak ada

Kornea

: jernih

Pupil

: bulat, isokor 2,5/2,5 mm

Telinga
Pendengaran
Tophi
Nyeri tekan di prosesus mastoideus
Hidung
Perdarahan
Sekret
Mulut
Bibir
Lidah
Tonsil
Faring
Gigi geligi
Gusi
Leher
Kelenjar getah bening
Kelenjar gondok
DVS
Pembuluh darah
Kaku kuduk
Tumor
Dada
Inspeksi
:
Bentuk
Pembuluh darah
Buah dada
Sela iga
Lain lain

: dalam batas normal


: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: pucat tidak ada, kering tidak ada
: kotor tidak ada, tremor tidak ada
: T1 T1, hiperemis tidak ada
: hiperemis tidak ada
: karies tidak ada
: perdarahan tidak ada
: tidak ada pembesaran
: tidak ada pembesaran
: R+0 cm H2O
: tidak ada kelainan
: tidak ada
: tidak ada
: normochest, simetris kiri dengan kanan
: tidak ada kelainan
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: tidak ada
4

Paru
Palpasi

:
Fremitus raba
Nyeri tekan
Perkusi
:
Paru kiri
Paru kanan
Batas paru-hepar
Batas paru belakang kanan
Batas paru belakang kiri
Auskultasi
:
Bunyi pernapasan
Bunyi tambahan

: dalam batas normal, simetris kiri dengan kanan


: tidak ada
: sonor
: sonor
: ICS VI dekstra anterior
: setinggi columna vertebra thorakal IX
: setinggi columna vertebra thorakal X

: bronkhovesikuler
: Rh - - Wh -/++

Jantung
Inspeksi
Palpasi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis tidak teraba

Perkusi

:pekak, batas jantung dalam batas normal (batas jantung kanan di linea
parasternalis dextra, batas jantung kiri di linea midclavicularis sinistrra
ICS V, batas jantung atas ICS II)

Auskultasi
Perut
Inspeksi

: bunyi jantung I/II murni reguler, bunyi tambahan tidak ada

Auskultasi

: Peristaltik ada, kesan normal

Palpasi

: Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak ada


Hepar tidak teraba
Limpa tidak teraba.

Perkusi

: timpani

: datar, ikut gerak napas

Alat Kelamin
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus dan Rektum
Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
Edema tidak ada

Laboratorium

Jenis Pemerikaan
WBC
RBC
HGB
DARAH
HCT

Hasil
8,42x103/uL
4,91x106/uL
12,1 g/dL
36,4%

Nilai Rujukan
4 - 10 x 103/uL
46 x 106/uL
12 - 16 g/dL
37 48 %

RUTIN
(07/05/2015)

75,2 fl
24,6 pg
32,8 g/dl
318 x103/uL
75,5 %
13,2 %
8,6 %
2,6 %
0,1 %

76 - 92 pl
22 - 31 pg
32 - 36 g/dl
150 - 400 x 103/uL
52.0 - 75,0
20,0 40,0
2,00 8,00
1,00 3,00
0,00 0,10

MCV
MCH
MCHC
PLT
NEUT
LYMPH
MONO
EOS
BASO

Jenis Pemeriksaan
GDS
Ureum
KIMIA
Kreatinin
DARAH
SGOT
(07/05/2015)
SGPT
Albumin
Asam urat
HEMATOLOGI PT
INR
(07/05/2015)
APTT
HbsAg (ICT)
Anti HCV (ICT)
DHF IgG/IgM (ICT)
IgM Salmonella
URINE RUTIN
(07/05/2015)

(TF semikuantitatif)
Warna
Ph
Bj
Protein
Glukosa
Bilirubine
Urobilinogen
Keton
Nitrit
Blood

Hasil
139 mg/dl
19 mg/dL
0,90 mg/dL
24 U/L
23 U/L
3,1 gr/dl
5,1 mg/dl
12,2 detik
1,17
26,3 detik
Non Reactive
Non Reactive
Negatif

Nilai Rujukan
140 mg/dl
10 50 mg/dL
< 1,1 mg/dL
< 38 U/L
< 41 U/L
3,5-5,0 gr/dL
3,4-7,0 mg/dl
10-14 detik
22,0-30,0 detik
Non Reactive
Non Reactive
Negatif

Negatif

Negatif

Kuning
6,0
1.010
Negatif
Negatif
Negatif
Normal
Negatif
Negatif
+-/10

Kuning muda
4.5-8.0
1.005-1.035
Negatif
Negatif
Negatif
Normal
Negatif
Negatif
Negatif
6

Lekosit
Vit. C
Sedimen Lekosit
Sedimen Eritrosit
Sedimen Torak
Sedimen Kristal
Sedimen Epitel Sel
Sedimen Lain-lain

Negatif
Negatif
< 5 lpb
< 5 lpb
-

+-/15
5
5
2
-

Pemeriksaan Penunjang Lainnya:


1. Foto Thorax PA (07/05/2015):
- Bercak-cak berawan pada lapangan atas kedua paru
- Cor: Cardio Thoracic Index dalam batas normal
- Kedua sinus dan diafragma baik
- Tulang-tulang intak
Kesan: TB Paru duplex lama aktif

IV. DIAGNOSIS AWAL :


Tuberkulosis paru kasus baru DD/ Community Acquired Pneumonia
V. PENATALAKSANAAN AWAL

Infus NaCl 0,9% 20 tpm

Paracetamol 1gr/8jam/IV

Ambroxol 30mg/8jam/oral

Rencana Pemeriksaan

Periksa BTA 3x, gram, jamur kultur dan sensitivitas sputum

FOLLOW UP
TANGGAL
08/05/2015

PERJALANAN PENYAKIT
S : Batuk ada lebih kurang sebulan sebelum

INSTRUKSI DOKTER
P:

masuk rumah sakit, kadang ada lendir, warna

Infus NaCl 0,9% 20 tpm

putih, riwayat batuk darah ada, demam ada,

Paracetamol

keringat malam kadang-kadang, mual dan


muntah tidak ada, nafsu makan menurun, berat

500mg/8jam/oral

Ambroxol
7

badan menurun lebih kurang 5kg

30mg/8jam/oral

O:

09/05/2015

SS / GK / CM
TD: 120/80 mmHg
N: 88 x/i
P: 22 x/i
S: 37,9 C
Anemis -/-, ikterus -/-,
BP : bronkovesikuler,
BT : Rh - |- , wh -/+ +
BJ : I/II regular, BT (-)
Peristaltik (+) kesan normal
Ext : Edema -/Foto thorax: TB Paru duplex lama aktif

A : Suspek Tuberkulosis paru


S : Batuk ada lebih kurang sebulan sebelum

Rencana Pemeriksaan

Periksa BTA 3x, gram, jamur


kultur dan sensitivitas sputum

P:

masuk rumah sakit, kadang ada lendir, warna

Infus NaCl 0,9% 20 tpm

putih, riwayat batuk darah ada, demam ada,

Paracetamol

keringat malam kadang-kadang, mual dan

500mg/8jam/oral

muntah tidak ada, nafsu makan menurun, berat

badan menurun lebih kurang 5kg

Ambroxol
30mg/8jam/oral

O:

10/05/2015

SS / GK / CM
TD: 120/80 mmHg
N: 88 x/i
P: 22 x/i
S: 37,6 C
Anemis -/-, ikterus -/-,
BP : bronkovesikuler
BT : Rh - |- , wh -/++
BJ : I/II regular, BT (-)
Peristaltik (+) kesan normal
Ext : Edema -/Foto thorax: TB Paru duplex lama aktif

A : Suspek Tuberkulosis paru


S : Batuk ada lebih kurang sebulan sebelum

Monitoring :
-

Tunggu hasil BTA 3x, gram,


jamur kultur dan sensitivitas
sputum

P:

masuk rumah sakit, kadang ada lendir, warna

Infus NaCl 0,9% 16 tpm

putih, riwayat batuk darah ada, demam ada,

Paracetamol

keringat malam kadang-kadang, mual dan

500mg/8jam/oral

muntah tidak ada, nafsu makan menurun, berat

badan menurun lebih kurang 5kg


O:

Ambroxol
30mg/8jam/oral

Monitoring :
SS / GK / CM
TD: 120/80 mmHg
N: 89 x/i
P: 23 x/i
S: 37,9 C
Anemis -/-, ikterus -/-,
BP : bronkovesikuler
BT : Rh -|- , wh -/++
BJ : I/II regular, BT (-)
Peristaltik (+) kesan normal
Ext : Edema -/Foto thorax: TB Paru duplex lama aktif

Tunggu hasil BTA 3x, gram, jamur


kultur dan sensitivitas sputum

A : Suspek Tuberkulosis paru


11/05/2015

S: Demam tidak ada, batuk tidak ada, BAK P :


dan BAB normal

Infus NaCl 0,9% 16 tpm

O:

Paracetamol

SS / GK/ CM
TD: 120/80 mmHg
N: 85 x/i
P: 24x/i
S: 36,5 C
Anemis -/-, ikterus -/-,
BP : bronkovesikuler
BT : Rh -|- , wh -/++
BJ : I/II regular, BT (-)
Peristaltik (+) kesan normal
Ext : Edema -/Foto thorax: TB Paru duplex lama aktif
BTA 2+

500mg/8jam/oral

(bila

demam)

Ambroxol
30mg/8jam/oral

OAT

FDC

tab/24jam/oral

Neurodex

tab/24jam/oral

A : Tuberkulosis paru BTA positif lesi luas


9

kasus baru fase intensif


Hasil pemeriksaan:
Mikrobiologi
Kuantitas
Afinitas gram
Bentuk
Konfigurasi
Lokalisasi
Sel lain
Jamur
Jamur
Jenis spesimen

Hasil

Nilai rujukan

Positif (2+)
Gram positif
Basil
Tunggal
Ekstraselular
PMN: 6/LPB; Epitel sel: 2/LPB
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan

Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan

Sputum

Sputum
Positif (3+)
Negatif
Positif (1+)

Negatif
Negatif
Negatif

Jenis spesimen
Pewarnaan BTA 1
Pewarnaan BTA 2
Pewarnaan BTA 3
12/05/2015

S: Demam tidak ada, batuk tidak ada, mual

ada, BAK dan BAB normal


O:

FDC

tab/24jam/oral

SS / GK / CM
TD: 120/80 mmHg
N: 82 x/i
P: 22x/i
S: 36,5 C
Anemis -/-, ikterus -/-,
BP : bronkovesikuler,
BT : Rh -|- , wh -/++
BJ : I/II regular, BT (-)
Peristaltik (+) kesan normal
Ext : Edema -/Foto thorax: TB Paru duplex lama aktif
BTA 2+

OAT

Neurodex

tab/24jam/oral

A : Tuberkulosis paru BTA positif lesi luas


kasus baru fase intensif

RESUME
10

Laki-laki, 22 tahun, masuk ke rumah sakit dengan keluhan batuk yang dialami sejak dua bulan
terakhir sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya batuk kering kemudian batuk kadang-kadang
ada lendir, warna putih. Riwayat batuk darah ada, dua kali, 3 hari sebelum masuk rumah sakit,
warna merah segar, tidak bercampur makanan. Demam ada, tidak terus menerus, turun dengan
Paracetamol, riwayat menggigil dan berkeringat malam ada. Nafsu makan menurun 1 bulan
terakhir, berat badan menurun lebih kurang 5kg. Mual dan muntah tidak ada. Sesak napas tidak
ada, nyeri ulu hati tidak ada. Buang air besar biasa, buang air kecil lancar, warna kuning.
Riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal, riwayat berobat 6 bulan sebelumnya
tidak ada, riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada. Dari pemeriksaan fisis
didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, normokardi, febris. Pemeriksaan fisis thoraks, pada
auskultasi didapatkan bunyi tambahan ronkhi di basal kiri dan kanan paru. Pemeriksaan fisis
jantung dan abdomen dalam batas normal. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan
limfositopenia. Foto thorax PA didapatkan kesan Tuberkulosis paru duplex lama aktif.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka pasien ini
didiagnosis sebagai Tuberkulosis paru kasus paru DD/ Community acquired pneumonia.
DISKUSI
Diagnosis tuberkulosis didapatkan dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pada anamnesis didapatkan penderita mengalami demam sudah satu bulan yang
sering hilang timbul. Demam pada pasien tuberkulosis biasanya subfebril menyerupai demam
influenza. Tetapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-41C. Serangan demam
pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya
hilang timbul demam influenza ini, sehingga pasien merasa tidak pernah bebas dari serangan
demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat
ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.
Pasien juga mengeluh batuk dialami sudah dua bulan dan ada riwayat batuk berdarah.
Gejala ini banyak ditemukan pada tuberkulosis. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus.
Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Karena terlibatnya bronkus
pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang
dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula.
11

Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan
menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah
karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi
pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
Pasien kadang-kadang berkeringat malam, nafsu makan berkurang sehingga berat badan
turun 5kg. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan
berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (berat badan turun) dan keringat
malam. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
Pemeriksaan fisis thoraks, pada auskultasi didapatkan bunyi pernapasan bronkovesikuler
dan bunyi tambahan ronkhi di basal kiri dan kanan paru. Bronkovesikuler merupakan bunyi yang
terdengar antara vesikuler dan bronkial, di mana ekspirasi menjadi lebih keras, lebih tinggi
nadanya dan lebih memanjang hingga hampir menyerupai inspirasi. Bunyi ini dapat didengar
pada tempat-tempat yang ada bronkiolus besar yang ditutupi satu lapisan tipis alveolus.
Tuberkulosis paru bisa menyebabkan kerna adanya infiltrat. Pemeriksaan fisis jantung dan
abdomen dalam batas normal.
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak
menyingkirkan tuberkulosis. Limfosit juga kurang spesifik. Limfositopenia bisa disebabkan oleh
berbagai macam penyakit infeksi seperti tuberkulosis, infeksi virus hepatitis dan demam tifoid.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan limfositopenia. Pada penderita ini, gambaran foto
thorax PA didapatkan bercak-cak berawan pada lapangan atas kedua paru, kesan Tuberkulosis
paru duplex lama aktif.
Dari gejala klinis, pemeriksaan fisis, laboratorium dan foto thoraks pasien didiagnosis
awal sebagai

Tuberkulosis paru kasus baru DD/ Community acquired pnemonia.

Penatalaksanaan awal pada pasien adalah simptomatik untuk keluhan demam dan batuknya yaitu
Paracetamol dan Ambroxol dan di rencanakan pemeriksaan BTA 3x, gram, jamur kultur dan
sensitivitas sputum untuk menegakkan diagnosis.
Setelah hasil pemeriksaan mikroskopis sputum BTA pada pasien ditemukan 1-10 BTA
dalam 1 lapang pandang, yaitu ++ (2+), maka berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang pasien ini didiagnosis sebagai Tuberkulosis paru BTA positif lesi luas
12

kasus baru fase intensif. Berdasarkan Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di


Indonesia, paduan obat anti-tuberkulosis yang digunakan adalah kategori 1. Paduan obat antituberkulosis ini diberikan untuk pasien baru TB paru BTA positif, pasien TB paru BTA negatif
foto thoraks positif dan pasien TB ekstra paru. Paduan obat yang disediakan dalam bentuk paket
berupa obat kombinasi dosis tetap (KDT). Berdasarkan berat badan pasien, 50kg, obat anti
tuberkulosis yang diberikan pada tahap intensif adalah 3 tablet 4KDT tiap hari selama 56 hari. 4
KDT terdiri dari Isoniazid (150mg), Rifampisin (75mg), Pirazinamid (400mg) dan Etambutol
(275mg).
Isoniazid (INH) tuberkulostatis paling kuat terhadap Mycobacterium tuberculosis (dalam
fase istirahat) dan bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat. Aktif terhadap
kuman yang berada intraseluler dalam makrofag maupun di luar sel (ekstraseluler). Mekanisme
kerjanya berdasarkan terganggunya sintesa mycolic acid yang diperlukan untuk membangun
dinding bakteri. Etambutol spesifik terhadap Mycobacterium tuberculosis tetapi tidak terhadap
bakteri lain. Kerja bakteriostatisnya sama kuatnya dengan isoniazid. Mekanisme kerjanya
berdasarkan penghambatan sintesa RNA pada kuman yang sedang membelah, juga
menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel. Pirazinamid, mekanisme kerjanya
berdasarkan pengubahannya menjadi asam pirazinat oleh enzim pyrazinamidase yang berasal dari
basil tuberkulosis. Begitu pH dalam makrofrag diturunkan, maka kuman yang berada di sarang
infeksi yang menjadi asam akan mati. Rimfampisin mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan
spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu.

13

BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA


I.

II.

DEFINISI
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium Tuberculosis. Sebagian besar kuman Mycobacterium Tuberculosis
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. (1)
ETIOLOGI
Kuman tuberkulosis berbentuk batang dengan ukuran 2-4 x 0,2-0,5m, dengan
bentuk uniform, tidak berspora dan tidak bersimpai. Dinding sel mengandung lipid
sehingga memerlukan pewarnaan khusus agar dapat terjadi penetrasi zat warna. Yang
lazim digunakan adalah pengecatan Ziehl-Nielsen. Kandungan lipid pada dinding sel
menyebabkan kuman TB sangat tahan terhadap asam basa dan tahan terhadap kerja
bakterisidal antibiotika. M.Tuberculosis mengandung beberapa antigen dan determinan
antigenik yang dimiliki mikobakterium lain sehingga dapat menimbulkan reaksi silang.
Sebagian besar antigen kuman terdapat pada dinding sel yang dapat menimbulkan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat. Kuman TB tumbuh secara obligat aerob. Energi diperoleh
14

dari oksidasi senyawa karbon yang sederhana. CO2 dapat merangsang pertumbuhan.
Dapat tumbuh dengan suhu 30-400C dan suhu optimum 37-380C. Kuman akan mati pada
suhu 600C selama 15-20 menit. Pengurangan oksigen dapat menurunkan metabolisme
kuman. (1-3)
III.

EPIDEMIOLOGI
WHO menyatakan bahwa dari sekitar 1,9 milyar manusia, sepertiga penduduk
dunia ini telah terinfeksi oleh kuman tuberkulosis. Pada tahun 1993 WHO juga
menyatakan bahwa TB sebagai reemerging disease. Angka penderita TB paru di negara
berkembang cukup tinggi, di Asia jumlah penderita TB paru berkisar 110 orang penderita
baru per 100.000 penduduk. Hasil survei prevalensi TB di Indonesia tahun 2004
menunjukkan bahwa angka prevalensi TB BTA positif secara nasional 110 per 100.000
penduduk. Secara regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam
3 wilayah, yaitu: 1. Wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000
penduduk, 2. Wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000
penduduk, 3. Wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000
penduduk. Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per
100.000 penduduk. Berdasar pada hasil survei prevalensi tahun 2004, diperkirakan
penurunan insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya. (4)

IV.

PATOGENESIS
A. TUBERKULOSIS PRIMER
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan
paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut sarang primer atau
afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda
dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah
bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran
kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan
limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan
mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
a. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum) .

15

b. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis fibrotik,
sarang perkapuran di hilus)
c. Menyebar dengan cara :
i.
Perkontinuitatum, menyebar

ke

sekitarnya.

Salah

satu

contoh

adalah

epituberkulosis, yaitu suatu kejadian penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus


medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada
saluran napas bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan
menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan
menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal
ii.

sebagai epituberkulosis.
Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru

iii.

sebelahnya atau tertelan.


Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan dengan
daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat
sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat,
penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis
milier dan meningitis tuberkulosis. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan
tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia
dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin berakhir dengan :
- Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan
terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma )
-

atau
Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer. (1,
2)

16

Gambar 1: TB Primer

B. TUBERKULOSIS POSTPRIMER
Tuberkulosis postprimer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah
tuberkulosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis postprimer
mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa, localized
tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang
terutama menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan.
Tuberkulosis postprimer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen
apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu

17

sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai
berikut :
1. Diresopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan
sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif kembali
dengan membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju
dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti
akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya
berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik).
Kaviti tersebut akan menjadi:
- meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang
pneumoni ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan di
-

atas
memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut tuberkuloma.
Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif

kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi


bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti
menyembuh

dengan

membungkus

diri

dan

akhirnya

mengecil.

Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan menciut


sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped). (1, 2, 5)

18

Gambar 2: TB Postprimer

V.

KLASIFIKASI

a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:


1. Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru. Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan BTA sputum
1. Tuberkulosis paru BTA ( + ) adalah :
i.

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif

ii.

Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan hasil BTA positif dan
kelainan radiologi menunjukkan ganbaran tuberculosis aktif

19

iii.

Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif

2. Tuberkulosis paru BTA (-)


i.

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis dan
radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif

ii.

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan


Myccobacterium tuberculosis positif

c.

Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya


Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe
pasien, yaitu:
1. Kasus baru:
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT
kurang dari satu bulan (4 minggu).
2. Kasus kambuh (Relaps):
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis
dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap didiagnosis kembali dengan BTA
positif (apusan atau kultur).
3. Kasus setelah putus berobat (Default ):
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan minimal 1 bulan dan putus berobat 2
bulan atau lebih dengan BTA positif atau BTA negatif.
4. Kasus setelah gagal (Failure):
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif
pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5. Kasus Pindahan (Transfer In):
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.

6. Kasus lain:

20

Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini
termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah
selesai pengobatan ulangan.
TB paru juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. TB Paru BTA (+) yaitu:

Dengan atau tanpa gejala.

Gambaran radiologi sesuai dengan TB paru.

2. TB paru BTA (-)

Gejala klinik dan gambaran radiologi sesuai dengan TB paru.

BTA (-).

3. Bekas TB paru

BTA (-).

Gejala klinik tidak ada, ada gejala sisa akibat kelainan paru yang di tinggalkan.

Radiolgi menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, terlebih gambaran serial


menunjukan foto yang sama

Riwayat pengobatan TB (+)

Sedangkan WHO membagi penderita TB atas 4 kategori:


1. Kategori I:

kasus baru dengan dahak (+) dan penderita dengan keadaan

berat seperti meningitis, TB milier, perikarditis, peritonitis, spondilitis


dengan gangguan neurologik dan lain-lain.
2. Kategori II:

kasus kambuh atau gagal dengan dahak yang tetap (+).

21

3. Kategori III:

kasus dengan dahak (-), tetapi kelainan paru tidak luas dan

kasus TB diluar paru selain kategori I.


4. Kategori IV:

VI.

tuberkulosis kronik. (1, 2)

DIAGNOSIS

Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis,


pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Gejala-gejala Klinik
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala sistemik,
bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratorik (gejala lokal
sesuai organ yang terlibat).
1. Gejala respiratorik
-

Batuk/batuk darah. Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi
pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar.
Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada
setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan
yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi
pada ulkus dinding bronkus.

Sesak napas. Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah
meliputi setengah bagian paru-paru.

22

Nyeri dada. Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura
sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya. (1, 2)

2. Gejala sistemik
-

Demam. Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang


panas badan dapat mencapai 40-41C. Serangan demam pertama dapat sembuh
sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya hilang timbul
demam influenza ini, sehingga pasien merasa tidak pernah bebas dari serangan
demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan

berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.


Malaise. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (berat badan
turun), sakit kepala, nyeri otot dan keringat malam. Gejala malaise ini makin lama
makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. (1, 2)

3. Gejala tuberkulosis ekstraparu


Gejala tuberkulosis ekstraparu tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis
tuberkulosis akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening,
pada meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosis
terdapat gejala sesak napas dan kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat
cairan. (1, 2)
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva mata atau
kulit yang pucat karena anemia, subfebris, badan kurus atau berat badan menurun.

Pemeriksaan Bakteriologik

a. Bahan pemeriksasan

23

Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat
penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat
berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan biopsi
(termasuk biopsi jarum halus/BJH).
b. Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):
1. Sewaktu (dahak sewaktu saat kunjungan)
2. Pagi (keesokan harinya)
3. Sewaktu(pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturut-turut.
c. Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain.
Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan pleura, liquor
cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar /BAL, urin, faeces
dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat dilakukan dengan cara:

Pemeriksaan mikroskopik: pewarnaan Ziehl-Nielsen dan pewarnaan auraminrhodamin (khususnya untuk screening)

Biakan

lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah :

3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif: BTA positif

1 kali positif, 2 kali negatif ulang BTA 3 kali, kemudian


-

bila 1 kali positif, 2 kali negatif: BTA positif

bila 3 kali negatif: BTA negatif


24

Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi WHO).

Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) :

- --

Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif


Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang

ditemukan
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+)
Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)

Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral, toplordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran
bermacam-macam bentuk (multiform).
Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :

Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen

superior lobus bawah


Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif:

Fibrotik

Kalsifikasi

Schwarte atau penebalan pleura

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan
sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) :
25

Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas
tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal
junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau
korpus vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai kaviti

Lesi luas: Bila proses lebih luas dari lesi minimal.


Pemeriksaan Penunjang lain
1.

Analisis Cairan Pleura


Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada
pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis
yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan
eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa
rendah.

2.

Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai
indikator penyembuhan pasien. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju
endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfosit pun kurang
spesifik.

3.

Uji tuberkulin
Uji tuberkulin yang positif menunjukkan ada infeksi tuberkulosis. Di Indonesia dengan
prevalens tuberkulosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik penyakit
kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan
konversi, bula atau apabila kepositivan dari uji yang didapat besar sekali. Pada
malnutrisi dan infeksi HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif. (1-3)

26

Gambar 3: Alur mendiagnosis TB


VII.

PENGOBATAN

Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah
kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap
OAT.
Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup
dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal

27

(monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan

dan sangat dianjurkan.


Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT

= Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).


Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Tahap awal (intensif)

Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara

langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.


Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular

menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.


Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

Tahap Lanjutan

Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu

yang lebih lama.


Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia:

Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
Kategori Anak: 2HRZ/4HR
- Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat
kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini disediakan
-

dalam bentuk OAT kombipak.


Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya
disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu
pasien.

Paket Kombipak
- Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan
Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk
digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
28

Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk
memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai
selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan
mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat
ganda dan mengurangi kesalahan penulisan.
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana
dan meningkatkan kepatuhan pasien
Paduan OAT dan peruntukannya.
a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru

Tabel 1: Dosis untuk paduan OAT KDT untuk kategori 1

Tabel 2: Dosis paduan OAT-Kombipak untuk kategori 1

b. Kategori 2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


29

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
Pasien kambuh
Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

Tabel 3: Dosis untuk paduan OAT KDT kategori 2

Tabel 4: Dosis paduan OAT Kombipak untuk kategori 2

c. OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang
diberikan selama sebulan (28 hari).

Tabel 5: Dosis KDT untuk sisipan


30

Tabel 6: Dosis OAT Kombipak untuk sisipan


Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan
golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien, baru tanpa indikasi yang jelas
karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Disamping itu dapat
juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. (1-3, 6)
Pemantauan Hasil Kemajuan Pengobatan TB
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan
pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik
dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Laju
Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak
spesifik untuk TB.
Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua
kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut
negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil pemeriksaan ulang dahak
tersebut dinyatakan positif.

31

Tabel
7:
Tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak
Hasil Pengobatan Pasien TB BTA positif

Sembuh

Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak
(follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya

Pengobatan Lengkap

Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi
persyaratan sembuh atau gagal.

Meninggal

Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.

32

Pindah

Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil
pengobatannya tidak diketahui.

Default (Putus berobat)

Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya
selesai.

Gagal

Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan
kelima atau lebih selama pengobatan. (1)

VIII.

KOMPLIKASI

Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis
paru stadium lanjut yaitu :
1.

Hemoptoe berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat


mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.

2.

Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari


lobus akibat retraksi bronchial.

3.

Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis


(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru

4.

Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan


ginjal. (4)

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Chris Tanto FL, Sonia Hanifati. Kapita Selekta Kedokteran. IV ed: Media Aesculapius;
2014.
2. Zulkifli Amin AB. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Internal Publishing; 2014.
3. Crofton J HN, Miller F. Clinical Tuberculosis. III ed. Oxford: Macmillan Publishers;
2009.
4. Dr.Asik Surya DCb, Prof. Dr.Sudijanto Kamso. Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011.
5. Rab T. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Trans Info Media; 2010.
6. Tan Hoan Tjay KR. Obat-obat penting: khasiat, penggunaan dan efek-efek sampingnya.
Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo; 2007.

34