Anda di halaman 1dari 18

Tugas Praktikum TF Solid

Kelompok 1:
1. Mega Hijriawati
2. Kurnia Megawati
3. Imas Laili Lestari
4. Nadhira Mahda D
5. Nadya Nur Kusumo
6. Arni Praditasari
7. Muhammad Ismail
8. Yonahar Masula
9. Annisa Rosdiana

260110130121
260110130122
260110130123
260110130124
260110130126
260110130127
260110130132
260110130134
260110130001

Alat-Alat Dalam Praktikum TF Solid


1. Corong Alir

5. Hardness Tester
2. Disolusi

3. Tap Density Meter

6. Alat Uji Friabilitas dan


Abrasi

4. Moisture Analyzer

7. Disintegrator

11. Mesin Cetak Tablet

8. Jangka Sorong

9. Shieve Tester
12. Mesin Penyalut Tablet

10. Neraca Analitis

13. Oven

Penjelasan Alat-Alat Dalam Praktikum TF Solid


1. Corong alir
A. Fungsi

Corong alir berfungsi untuk evaluasi granul berupa menghitung


Fluiditas / sifat alir serbuk. Fluiditas / sifat alir serbuk merupakan
faktor kritik dalam produksi obat sediaan padat. Hal ini karena sifat
alir serbuk berpengaruh pada peningkatan reprodusibilitas pengisian
ruang kompresi pada pembuatan tablet dan kapsul , sehingga
menyebabkan keseragaman bobot sediaan lebih baik, demikian pula
efek farmakologinya. Waktu alir adalah waktu yang diperlukan untuk
mengalir dari sejumlah granul melalui lubang corong yang diukur
adalah sejumlah zat yang mengalir dalam suatu waktu tertentu
(Lachman dkk, 2008).
B. Cara Kerja
1. Timbang seksama 25 gram granul tempatkan pada corong alat
2. Uji waktu alir dalam keadaan tertutup
3. Buka penutupnya biarkan granul mengalir
4. Catat waktu (gunakan stopwatch)
5. lakukan sebanyak 3 kali
6. Kemudian untuk mengukur sudut isirahat dengan menghitung jarijari dan tinggi dari tumpukan granul setelah metode corong
7. Kemudian masukan dalam rumus, dan didapat yang menentukan
kecepatan alir dari suatu granul tersebut (Lachman dkk, 2008).
C. Kriteria atau parameter pengukuran
Syarat: 100 gram granul waktu alirnya tidak lebih dari 10 detik (>
10 gram/detik. Metode sudut istrahat ini mempunyai nilai < arc tag
h/r, dimana:
25-35o = sangat mudah mengalir
30-38 = mudah mengalir
> 38 = kurang mengalir (Lachman dkk, 2008).
2. Disolusi
A. Fungsi
Untuk melepaskan dan melarutkan zat aktif dari sediaannya. Pada
dasarnya alat ini berfungsi mengekstraksi zat aktif dari sediaannya
dalam satuan waktu di bawah antar permukaan cairan solid, suhu, dan
komposisi media yang dibakukan (Maharani, 2007).

B. Cara kerja
Pada tiap pengujian, dimasukkan sejumlah volume media disolusi
(seperti yang tertera dalam masing-masing monografi) ke dalam
wadah, pasang alat dan dibiarkan media disolusi mencapai temperatur
37oC. Satu tablet dicelupkan dalam keranjang atau dibiarkan

tenggelam ke bagian dasar wadah, kemudian pengaduk diputar dengan


kecepatan seperti yang ditetapkan dalam monografi. Pada interval
waktu yang ditetapkan dari media diambil cuplikan pada daerah
pertengahan antara permukaan media disolusi dan bagian atas dari
keranjang berputar atau daun dari alat dayung tidak kurang 1 cm dari
dinding wadah untuk analisis penetapan kadar dari bagian obat yang
terlarut. Tablet harus memenuhi syarat seperti yang terdapat dalam
monografi untuk kecepatan disolusi (Maharani, 2007).
C. Kriteria atau Parameter Pengukuran
Menurut Farmakope Indonesia Ed. IV (FI. Ed. IV), suatu sediaan
tablet diuji disolusinya jika dinyatakan dalam monografinya. Hal ini
berarti prosedur dan persyaratan uji disolusi hanya berlaku untuk
sediaan tablet yang tertera dalam monografi tersebut. Sediaan tablet
yang tidak tertera dalam FI. Ed. IV tentu saja dapat diuji disolusinya
dengan prosedur dan persyaratan yang ditetapkan sendiri oleh
pabriknya atau laboratorium pengendalian mutu pabrik tersebut. Tablet
kunyah tidak diuji disolusinya sebab harus dikunyah sebelum ditelan.
Untuk tablet salut enterik, digunakan cara pengujian untuk sediaan
lepas lambat, kecuali dinyatakan lain (Maharani, 2007).
3. Tap Density Meter
A. Fungsi
Alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan bubuk dengan
cara diketuk, berupa material digranulasi atau diserbukkan dengan
prosedur standar dan berulang (Djaali,2007).
B. Cara Kerja
1. Serbuk dengan masa tertentu dimasukkan ke dalam gelas ukur
untuk mengetahui velumenya, didapatkan kerapatan serbuk nyata.
2. Taruh gelas ukur diatas alat Tap Density Meter.
3. Tap density meter akan melakukan gerakan pengetukkan secara
berulang dan konstan, sehingga serbuk akan semakin rapat.
4. Dari volume sediaan yang dimampatkan dapat diketahui kerapatan
serbuk mampat (Djaali,2007).
C. Kriteria atau Parameter Pengukuran
Penentuan kompresibilitas digunakan untuk menghasilkan tablet
yang baik. Kompresibilitas dapat dilihat dari harga indeks Carr yang
sangat bergantung pada kerapatan nyata maupun kerapatan mampat
dari serbuk yaitu dengan cara kerapatan mampat dikurangi kerapatan
nyata, lalu dibagi dengan kerapatan mampat (Djaali,2007).
Hubungan antara indeks Carr dengan jenis aliran serbuk.

Kompresibilitas (%)
5 12
12 18
18 23
23 33
33 38
> 38

Sifat Aliran
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
Sangat buruk
(Djaali,2007).

4. Moisture Analyzer
A. Fungsi
Alat ini mengukur kandungan lembab yang terkandung dalam zat
uji yang kemudian menguap akibat panas yang dikeluarkan oleh alat
ini. Kandungan lembab bisa meliputi air atau pelarut organik yang
digunakan. Kalau memang pembasah yang digunakan adalah pelarut
organik, maka yang perlu diukur/ terukur adalah kadar pelarut organik
(Ansel, 1999).
B. Cara Kerja
Alat ini bekerja secara thermogravitmetri, dilakukan tara (tare)
pada permukaan aluminium pan, kemudian meletakkan sampel pada
permukaan aluminium pan lalu menekan tombol Start yang tertera
pada instrumen ini, kemudian proses pengukuran akan berlangsung
secara otomatis. Untuk mendapatkan hasil analisa lebih cepat lagi,
terdapat fitur pilihan Fast drying yang dapat dioperasikan hanya
dengan menekan satu tombol saja (Ansel, 1999).
C. Kriteria atau Parameter Pengukuran
Parameter alat ini menggunakan metode LOD (Loss on Drying)
yaitu suatu pernyataan kadar kelembaban berdasarkan bobot basah.
Timbangan ini akan mengeluarkan panas yang membuat air dari
sampel keluar sehingga kadar airnya dapat dihitung (Lachman dkk,
2008).
5. Hardness Tester
A. Fungsi
Untuk menentukan kekerasan tablet (Susiawanti, 2013).
B. Cara Kerja
Dengan meletakkan vertikal sebuah tablet diantara ujung dari
penekanan, alat ditekan (dengan cara diputar) sehingga tablet tertekan
dan pecah. Skala kekerasan mula-mula pada angka nol akan berubah
dan kekerasan tablet dibaca pada skala tersebut dengan satuan kg
(Maharani, 2007).

C. Kriteria atau Parameter Pengukuran


Pada umumnya tablet harus cukup keras untuk tahan pecah pada
waktu pengemasan dan distribusi, serta tablet akan cukup lunak untuk
melarut atau menghancur sempurna begitu digunakan atau dapat
dipatahkan diantara jari-jari supaya mudah dibagi untuk pemakaiannya
(Susiawanti, 2013). Tablet yang cukup ideal mempunyai kekerasan
normal yang berkisar antara : 4 sampai 8 kg (Parrott, 1971).
6. Alat Uji Friabilitas dan Abrasi
A. Fungsi
Untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan
atau bantingan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman
(Susiawanti, 2013).
B. Cara Kerja
1. Ambil 20 tablet
2. Bersihkan dari serbuk halus lalu timbang
3. Masukkan ke dalam alat uji friabilator
4. Atur alat pada 25 putaran/menit selama 4 menit (100 putaran)
5. Keluarkan tablet lalu bersihkan dari serbuk yang terlepas
6. Timbang kembali tablet
7. Hitung % friabilitas (Susiawanti, 2013).
Jika ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet tersebut tidak
dimasukkan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan
(bobot yang hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang
sebanyak dua kali (Susiawanti, 2013).

C. Kriteria atau Parameter Pengukuran


Perhitungan:
Dimana:

F
W0

= Persen firabilitas
= Bobot awal

W1

= Bobot setelah pengujian

Nilai F dinyatakan baik jika < 1%. Jika F > 1% maka tablet dapat
diperbaiki dengan cara meningkatkan/menbambahkan kekerasan
tablet (Susiawanti, 2013).
7. Disentegrator

A. Fungsi
Untuk mengatur waktu hancur tablet (Putri, 2012).
B. Cara Kerja
Air dipanaskan di dalam beaker lebih kurang 1000 ml sehingga
mencapai suhu 37 derajat celcius. Sebanyak 6 tablet dimasukkan pada
masing-masing tabung dari keranjang, masukkan cakram dari tiap
tabung dan alat dijalankan, kemudian air digunakan sebagai medium
dengan suhu 37 derajat celcius 2 derajat celcius. Saat alat dijalankan,
perhitungan stopwatch dimulai. Stopwatch dihentikan setelah semua
tablet hancur (Putri, 2012).
C. Kriteria dan Parameter Pengukuran
Uji waktu hancur menggunakan alat disintegrator tester
menggunakan 6 tablet. Persyaratan dalam Farmakope Indonesia jilid 3,
hal 7 : kecuali dinyatakan lain semua tablet harus hancur tidak lebih
dari 15 menit (untuk tablet tidak bersalut) dan tidak lebih dari dari 60
menit untuk tablet salut gula atau tablet salut selaput (Putri, 2012).
8. Jangka Sorong
A. Fungsi
Jangka sorong adalah instrumen presisi yang dapat digunakan
untuk mengukur dimensi benda bagian dalam dan luar. Ditinjau dari
cara pembacaannya, jangka sorong dapat dibagi dua yaitu jangka
sorong manual dan digital. Fungsi jangka sorong adalah untuk
mengukur diameter luar, diameter dalam, kedalaman lubang benda,
dan panjang benda sampai nilai 10 cm. Dengan ketelitian yang dimiliki
(0,005 cm), dalam pembutan tablet jangka sorong sering difungsikan
dalam pengukuran tebal tablet juga berfungsi untuk mengukur
diameter dalam dan diameter luar tablet (Koesdijanto,2012).
Jangka sorong terdiri dari dua bagian kaki pengukur, yaitu bagian
yang cembung untuk mengukur panjang benda dan bagian yang
cekung ke dalam untuk mengukur diameter dalam sebuah benda,
misalnya diameter cincin. Bagian-bagian ini sering juga disebut
sebagai bagian rahang jangka sorong (rahang tetap dan rahang sorong).
Rahang tetap memiliki skala yang disebut skala utama. Satu bagian
skala utama, besar panjangnya 1 mm. Sedangkan, bagian rahang
sorong memiliki 10 bagian skala yang disebut dengan skala nonius
(Koesdijanto,2012).
B. Cara Kerja
Mengukur diameter dalam :
Geser rahang jangka sorong sedikit kekanan.

Letakkan benda/gelas yang akan diukur sehingga kedua rahang


jangka sorong dapat masuk ke dalam benda/gelas tersebut.
Geser rahang kekanan hingga kedua rahang jangka
sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/gelas yang diukur
(Koesdijanto,2012).

Mengukur diameter luar :


Geser rahang jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur
dapat masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan
rahang tetap).
Taruh benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
Geser rahang kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur
terjepit oleh kedua rahang (Koesdijanto,2012).
Mengukur kedalaman :
Taruh benda yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak. Contoh
gelas.
Putar jangka (posisi tegak) kemudian letakkan ujung jangka
sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya.
Geser rahang jangka kebawah sehingga ujung batang pada jangka
sorong menyentuh dasar gelas.
Catat hasil pengukuran (Djaali,2007).
C. Kriteria dan Parameter Pengukuran
Menurut FI III, Kecuali dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh
lebih dari 3 kali tebal tablet dan tidak boleh kurang dari 1 1/3 tebal
tablet. Minimal dilakukan untuk 20 buah tablet Masing-masing tablet
diukur diameter dan ketebalannya dengan menggunakan jangkasorong
hasil pengukuran dicatat lalu dihitung rata-ratanya untuk keseragaman
ukuran (Depkes RI, 1979).
9. Shieve Tester
A. Fungsi
Fungsi Shieva tester adalah evaluasi granul berupa analisis granulometri,
yaitu analisis ukuran dan repartisi granul (penyebaran ukuran-ukuran granul)
(Ansel, 1999).

B. Cara Kerja
Dalam melakukan analisis granulometri digunakan susunan pengayak
dengan berbagai ukuran. Mesh terbesar diletakkan paling atas dan
dibawahnya disusun pengayak dengan mesh yang makin kecil. Prosedur yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Timbang 100 gram granul
2. Letakkan granul pada pengayak paling atas

3. Getarkan mesin 5-30 menit, tergantung dari ketahanan granul pada


getaran
4. Timbang granul yang tertahan pada tiap-tiap pengayak
5. Hitung presentase granul pada tiap-tiap pengayak (Ansel, 1999).

C. Kriteria dan Parameter Pengukuran


Tujuan granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari ukuran
granul. Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda. Granulometri
berhubungan dengan sifat aliran granul. Jika ukuran granul berdekatan, aliran
akan lebih baik. Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva distribusi normal
(Ansel, 1999).

10. Neraca Analitis


A. Fungsi
Untuk menimbang bahan yang akan digunakan untuk membuat
media untuk bakteri, jamur atau media tanam kultur jaringan dan
mikrobiologi dalam praktikum dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Jumlah media yang tidak tepat akan berpengaruh terhadap konsentrasi
zat dalam media sehingga dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan
dalam hasil praktikum (Hadi, 2014).
B. Cara Kerja
1. Disiapkan timbangan analitik dalam kondisi seimbang atau water
pass (dengan mengatur sekrup pada kaki neracasehingga
gelembung air di water pass tepat berada di tengah).
2. Dibersihkan ruang dalam neraca analitik dengan menggunakan
kuas. Piringan neraca dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat
dibersihkan dengan menggunakan etanol/alkohol.
3. Ditancapkan stop kontak pada stavolt.
4. Ditekan tombol On kemudian tunggu hingga muncul angka 0.
5. Dimasukkan alas bahan (gelas arloji, kertas atau benda tipis)
dengan
membuka
kaca
tidak
begitu
lebar
supaya
tidakmempengaruhi perhitungan karena neraca analitik ini sangat
peka.
6. Ditutup kaca neraca analitik.
7. Ditekan tombol zero supaya perhitungan lebih akurat.
8. Dimasukkan bahan yang akan ditimbang dengan membuka kaca
tidak begitu lebar, begitu pun ketika akan menambahkanatau
mengurangi bahan untuk menyesuaikan massa yang diinginkan.
9. Ditutup kaca.
10. Ditunggu hingga angka di layar monitor neraca analitik tidak
berubah-ubah dan sesuai dengan massa yang diinginkan.
11. Diambil bahan yang telah ditimbang.
12. Ditekan tombol Off hingga tidak ada angka di layar monitor
neraca analitik.
13. Dilepas stop kontak dari stavolt.

14. Dibersihkan ruang dalam neraca analitik dengan menggunakan


kuas. Piringan neraca dapat diangkat dan seluruhtimbangan dapat
dibersihkan dengan menggunakan etanol/alcohol (Hadi, 2014).
C. Kriteria dan Parameter Pengukuran
Timbangan dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang
sudah terpasang atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10
gr dan 100 gr. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu kontrol,
dimana pada lembar tersebut tercantum pula berapa kali timbangan
harus dicek. Jika timbangan tidak dapat digunakan sama sekali maka
timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier) (Hadi, 2014).
Kedudukan timbangan harus diatur dengan sekrup dan harus tepat
horizontal dengan Spirit level (waterpass) sewaktu-waktu timbangan
bergerak, oleh karena itu, harus dicek lagi. Jika menggunakan
timbangan elektronik, harus menunggu 30 menit untuk mengatur
temperatur. Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, hanya
dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan (Hadi, 2014).
Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum
menimbang angka nol harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi.
Peraturan umum dalam menggunakan neraca analitik adalah neraca
harus dalam keadaan bersih, bersihkan piringan atau piringan-piringan
dan lantai neraca dari debu dengan menggunakan kuas sebelum
dilakukan penimbangan sampel. Perhatikan kapasitas neraca, jangan
sekali-kali menimbang suatu benda yang lebih berat dari kapasitas
neraca. Benda yang ditimbang harus memiliki suhu yang sama dengan
neraca, sebaiknya jangan memegang benda dengan jari-jari dan bendabenda gelas tidak boleh digosok dengan kain kering sebelum
menimbang. Dan bahan-bahan kimia tidak boleh ditaruh langsung di
atas piringan logam, tapi harus ditimbang dalam botol timbang (Hadi,
2014).
11. Mesin Cetak Tablet
A. Fungsi
Mesin pencetak tablet untuk membantu pembuatan obat yang
berbentuk tablet dengan mekanisme yang mudah dan handal dan
berdaya guna (Ben, 2007).
B. Cara Kerja
Secara umum komponen dasar mesin pencetak tablet adalah sebagai
berikut :
1. Hopper, tempat untuk menyimpan granul dan yang mengalirkan
granul untuk di kempa
2. Die, tempat granul akan di cetak, menentukan ukuran dan bentuk
tablet

3. Punch atas, alat untuk mengempa granul yang telah berada di die
4. Punch bawah, alat untuk mengeluarkan tablet yang tlah di cetak
(Ben, 2007).
Tahap-tahap proses pencetakan:
1. Pengisian die dengan granul
Serbuk atau granul2 dialirkan dri hopper masuk kedalam DIE
(aliran sesuai grafitasi). Volume granul ditentukan oleh posisi
punch bawah dan lempeng die.
2. Pencetakan Granul
Pada tahap ini, Hopper akan kembali pada tempatnya dan punch
atas akan turun mengempa granul menjadi tablet. Selama tahapan
ini ada beberapa tahapan yang terjadi sehingga granul menjadi
tablet.
Penyusunan ulang dari struktur granul.
Ketika Punch atas mengempa granul maka distribusi granul
akan tersusun ulang diantara punch atas dan punch bawah.
Perubahan Bentuk granul dan pembentukan ikatan
Pada tahap ini akan terjadi perubahan bentuk granul krena
penekanan, pada awalnya terjadi deformasi elastis kemudian
plastik.
Pembentukan ikatan intergranul.
Hasil dari penekanan, granul termampatkan dan terjadi ikatan
antar granul sehingga menjadi tablet.
3. Pengeluaran Tablet
Setelah Tablet dikempa, punch atas akan kembali ket4 aslinya
kemudian punch bawah akan bergerak keatas membawa tablet
sejajar dengan die. Setelah itu hopper akan bergerak untuk mengisi
granul kedalam die sehingga tablet akan tergeser oleh hopper..
lihat gambar berikut (Ben, 2007).
C. Kriteria dan Parameter Pengukuran
a. Uji Keseragaman
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu
dari beberapa metode, yaitu keseragaman bobot atau keseragaman
kandungan, keseragaman ukuran tablet. Persyaratan ini digunakan
untuk sediaan mengandung satu zat aktif dan sediaan mengandung
dua atau lebih zat aktif (Ben, 2007).
Keseragaman ukuran tablet, syaratnya adalah diameter
tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal
tablet. Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman
bobot yang ditetapkan sebagai berikut: Timbang 20 tablet, hitung
bobot rata rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak
boleh lebih dari 2 tablet yang masing masing bobotnya

menyimpang dari bobot rata ratanya lebih besar dari harga yang
ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata ratanya lebih dari harga yang
ditetapkan kolom B. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat
digunakan 10 tablet; tidak satu tabletpun yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari bobot rata rata yang ditetapkan
kolom A dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang
lebih besar dari bobot rata rata yang ditetapkan kolom B (Ben,
2007).
Penyimpanan bobot rata
Bobot rata rata
rata dalam %
A
B
25 mg
15%
30%
26 mg - 150 mg
10%
20%
151 mg - 300 mg
7,5%
15%
300 mg
5%
10%
b. Waktu Hancur
Suatu sediaan tablet yang diberikan peroral, agar dapat
diabsorbsi maka tablet tersebut harus terlarut (terdisolusi) atau
terdispersi dalam bentuk molekular. Tahap pertama untuk tablet
agar dapat terdisolusi segera adalah tablet harus hancur (Ben,
2007).
Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan sejumlah
tablet untuk hancur menjadi serbuk/partikel penyusunnya yang
mampu melewati ayakan no.10 yang terdapat dibagian bawah alat
uji. Alat yang digunakan adalah disintegration tester, yang
berbentuk keranjang, mempunyai 6 tube plastik yang terbuka
dibagian atas, sementara dibagian bawah dilapisi dengan
ayakan/screen no.10 mesh (Ben, 2007).
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan
dalam tiap tube, ditutup dengan penutup dan dinaik-turunkan
keranjang tersebut dalam medium air dengan suhu 37 C. Waktu
hancur dihitung berdasarkan tablet yang paling terakhir hancur.
Persyaratan waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah
kurang dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik
kurang dari 30 menit, sementara untuk tablet salut enterik tidak
boleh hancur dalam waktu 60 menit dalam medium asam, dan
harus segera hancur dalam medium basa (Ben, 2007).
c. Uji Kerapuhan (Friabilitas) Tablet
Data friabilitas digunakan untuk mengukur ketahanan
permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu

pengemasan dan pengiriman. Prinsipnya adalah menetapkan bobot


yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator
selama waktu tertentu. Pada proses pengukuran kerapuhan, alat
diputar dengan kecepatan 25 putaran per menit dan waktu yang
digunakan adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran. Kerapuhan dapat
dievaluasi dengan menggunakan friabilator (contoh nya Rosche
friabilator) (Ben, 2007).
Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu
dibersihkan dari debunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet
tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar
sebanyak 100 putaran selama 4 menit, jadi kecepatan putarannya
25 putaran per menit. Setelah selesai, keluarkan tablet dari alat,
bersihkan dari debu dan timbang dengan seksama. Kemudian
dihitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah
perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari
1% (Ben, 2007).
d. Uji Kekerasan
Uji kekerasan tablet dapat didefinisikan sebagai uji
kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara
keseluruhan, yang diukur dengan memberi tekanan terhadap
diameter tablet. Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan
tertentu serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik
pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat yang
biasa digunakan adalah hardness tester (Banker and Anderson,
1984). Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan
ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti
goncangan, kikisan dan terjadi keretakan talet selama
pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan ini
dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan (Parrott, 1971).
Alat yang dapat digunakan untuk mengukur kekerasan
tablet diantaranya Monsanto tester, Pfizer tester, dan Strong cobb
hardness tester. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan
tablet adalah tekanan kompresi dan sifat bahan yang dikempa.
Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan.
Semakin besar tekanan yang diberikan saat penabletan akan
meningkatkan kekerasan tablet. Pada umumnya tablet yang keras
memiliki waktu hancur yang lama (lebih sukar hancur) dan
disolusi yang rendah, namun tidak selamanya demikian. Pada
umumnya tablet yang baik dinyatakan mempunyai kekerasan
antara 4-10 kg. Namun hal ini tidak mutlak, artinya kekerasan
tablet dapat lebih kecil dari 4 atau lebih tinggi dari 8 kg.
Kekerasan tablet kurang dari 4 kg masih dapat diterima dengan

syarat kerapuhannya tidak melebihi batas yang diterapkan. Tetapi


biasanya tablet yang tidak keras akan memiliki kerapuhan yang
tinggi dan lebih sulit penanganannya pada saat pengemasan, dan
transportasi (Parrott, 1971).
Kekerasan tablet lebih besar dari 10 kg masih dapat
diterima,
jika
masih
memenuhi
persyaratan
waktu
hancur/disintegrasi dan disolusi yang dipersyaratkan. Uji
kekerasan dilakukan dengan mengambil masing-masing 10 tablet
dari tiap batch, yang kemudian diukur kekerasannya dengan alat
pengukur kekerasan tablet. Persyaratan untuk tablet lepas
terkendali non swellable adalah 10-20 kg/cm2 (Parrott, 1971).

12. Mesin Penyalut Tablet


A. Fungsi
Alat ini bekerja sebagai alat penyalutan tablet (Ben, 2007).
B. Cara Kerja
Tablet dimasukkan ke dalam pan. Kemudian pan berputar perlahan
- lahan dengan aksis yang miring sehingga tablet akan menggelinding
secara teratur diatas tablet yang lain. Cairan penyalut dalam bentuk
spray akan disemprotkan ke tablet tersebut. Pada mesin ini dimasukan
udara panas dan penyedotan di dalam pan agar tablet yang telah
disemprot dengan cairan coating dialiri udara yang telah diatur suhu,
tekanan dan alirannya sehingga tablet yang telah disalut menjadi
kering (Ben, 2007).
C. Kriteria dan Parameter Pengukuran
Harus adanya kesetimbangan dari 4 parameter;
Kecepatan coating pan, Paremeter ini berfungsi untuk
mengatur kecepatan pan/chamber mesin, semakin cepat
berputa maka core tablet akan semakin cepat bersentuhan
dengan larutan coating
Flow rate spray gun/ flow rate dari larutan coating
Airflow (CFM) dari udara input dan output
Suhu inlet-outlet-product. Parameter ini berfungsi untuk
menentukan seberapa cepat larutan coating yang sudah
menempel pada core tablet terkeringkan
Keseimbangan empat parameter tersebut yang akan membuat tablet
tersalut dengan sempurna tanpa bergelombang (Ben, 2007).

13. Oven
A. Fungsi
Untuk memanaskan memanggang dan mengeringkan. Oven dapat
digunakan sebagai pengering apabila dengan kombinasi pemanas
dengan humidity rendah dan sirkulasi udara yang cukup. Kecepatan
pengeringan tergantung dari tebal bahan yang dikeringkan (Rahayu,
2011). Pengeringan granul dalam penelitian menggunakan oven karena
sering digunakan dalam produk komersial dengan waktu proses yang
wajar serta kontrol pengeringan yang baik (Hadi, 2014).
B. Cara Kerja
Granul basah yang didapat dikeringkan dalam oven pada suhu 50
C selama 18 jam (Parrot, 1971). Jika suatu zat padat basah mulamula diletakkan pada oven pengering mulai menyerap panas dan
meningkat temperaturnya. Pada waktu yang sama, lembab mulai
menguap sehingga cenderung mendinginkan zat padat yang
mengering. Sesudah suatu periode penyesuaian awal lain pemanasan
dan pendinginan menjadi sama dan temperature bahan yang mengering
menjadi stabil. Perbedaan perubahan suhu pada proses pengeringan
granul menyebabkan kandungan air dalam granul berbeda pula yang
selanjutnya dapat mempengaruhi sifat fisis tablet (Putri, 2012).
C. Kriteria dan Parameter Pengukuran
Kriteria dan parameter yang dilihat ; Oven juga digunakan untuk
pengeringan perhitungan kadar air tablet. Dikeringkan sampai tercapai
berat konstan. Dapat dihitung dengan cara:

(Putri, 2012).
Dari pengeringan tersebut juga dapat diketahui kadar kelembapan
tablet. Dimana parameter merujuk pada :

(Hadi, 2014).

Daftar Pustaka
Ansel, H.C., et.al. 1999. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery
System. 7th edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Ben, Elfi Sahlan. 2007. Teknologi Farmasi III (Teknologi Tablet/Solid). Padang:
Universitas

Andalas.

Tersedia

online

di

http://foodreview.co.id/preview.php?view2&id=56428#.VtG2f_l97Mw
(27 Februari 2016).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi
III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Djaali & Muljono, P. 2007. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta : PT
Grasindo. Universitas Negeri Malang.
Hadi, M. 2014. Optimasi Suhu dan Waktu Pengeringan Granul Tablet Kunyah Bee
Pollen.

Tersedia

online

di

http://mf.farmasi.ugm.ac.id/files/371.bee_pollen._ARTIKEL.pdf (diakses
27 Februari 2016).
Koesdijanto, D. 2012. Jangka Sorong (Vernier Caliper). Tersedia online di
di:http://yuliarman.polinpdg.ac.id/index.php%3Foption%3Dcom_content
%26view%3Darticle%26id%3D36:menggunakan-jangka-sorong-verniercaliper-%26catid%3D13:alat-ukur%26Itemid
%3D5&cd=1&hl=id&ct=clnk (diakses pada 27 Februari 2016).
Maharani,

A.

2007.

BAB

I.

Tersedia

online

di

http://eprints.ums.ac.id/16851/2/BAB_I.pdf (diakses 27 Februari 2016).


Lachman dkk. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi ke III. Jakarta. UI Press.

Parrott, E.L. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics.


Mineapolis: Burgess Publishing Company. Halaman 64-66, 73-83.
Putri, W. 2012. Perbandingan Variasi Suhu Pengeringan Granul terhadap Kadar
Air

dan

Sifat

Fisis

Tablet

Parasetamol.

Tersedia

online

di

https://dglib.uns.ac.id/dokumen/download/27928/NTkwNTk=/Perbanding

an-Variasi-Suhu-Pengeringan-Granul-terhadap-Kadar-Air-dan-Sifat-FisisTablet-Parasetamol-abstrak.pdf (diakses 27 Februari 2016).


Rahayu,

M.

2011.

BAB

I.

Tersedia

online

di

http://eprints.ums.ac.id/14823/2/BAB_1.pdf (diakses 27 Februari 2016).


Susiawanti.

2013.

BAB

II.

Tersedia

online

http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/550/gdlhub-gdl-s1-2013-susiawanti27492-9.bab-ii--.pdf (diakses 27 Februari 2016).

di