Anda di halaman 1dari 13

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Prinsip dasar kultur jaringan tanaman adalah bahwa setiap sel dalam tubuh
organisme merupakan suatu unit otonom yang totipotensi, yaitu kemampuan tiap
sel yang berasal dari semua bagian tanaman untuk tumbuh menjadi tanaman
sempurna jika di letakkan pada media dan lingkungan yang sesuai.
Keberhasilan kultur jaringan ditentukan oleh media tanam dan jenis tanaman.
Campuran media yang satu mungkin cocok dengan jenis tanaman tertentu, namun
tidak cocok untuk jenis tanaman yang lain. Hal ini disebabkan karena setiap
spesies tanaman dan bagian dari tanaman mempunyai kemampuan yang tidak
sama dalam mensintesa atau merombak zat- zat yang menyusun media. Oleh
karena itu tidak ada formulasi yang sesuai untuk semua jenis tanaman yang
menyebabkan diciptakannya berbagai macam media yang disesuaikan dengan
jenis tanaman yang akan dikulturkan (Hendaryono, 1994).
Penimbangan larutan stok dan dan penimbangan unsur hara dalam media
dianggap penting untuk diketahui sebagai sarana penunjang kebutuhan informasi
akan kultur jaringan.

B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk memahami tatacara dan terampil melakukan penimbangan unsur hara
makro, mikro, vitamin, dan zat pengatur tumbuh untuk persiapan pembuatan
larutan stok.

2. Untuk memahami tatacara dan dapat melakukan pembuatan larutan stok hara
makro dan hara mikro.
3. Untuk memahami tatacara dan dapat melakukan pembuatan larutan stok
vitamin dan zat pengatur tumbuh.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam media kultur berisi hara makro dan mikro yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman, demikian pula sumber karbohidrat, vitamin, agar dan ZPT
atau ekstrak tanaman yang diperlukan. Media kultur yang paling banyak
digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS), yang pada awalnya

dikembangkan untuk kultur tembakau tetapi ternyata cocok untuk berbagai jenis
tanaman. Beberapa prosedur yang penting dalam pembuatan media adalah
pembuatan larutan stok dan sterilisasi media (Rahardja, 1995).
Larutan stok merupakan larutan yang berisi satu atau lebih komponen media yang
konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi kompenen tersebut dalam
formulasi media yang akan dibuat. Larutan stok biasanya dibuat dengan
konsentrasi 10, 100 atau 1000 kali lebih pekat. Jika larutan stok dibuat, pembuatan
media dapat dilakukan dengan cara mengambil sejumlah larutan stik sehingga
konsentrasinya menjadi sesuai dengan yang terdapat pada formulasi media yang
dikehendaki (Yusnita, 2003).
Dalam pembuatan larutan stok, yang perlu diperhatikan adalah penyatuan
beberapa komponen media sekaligus dalam suatu larutan stok dan harus
mempertimbangkan kecocokan dan kestabilan dari sifat kimianya. Dalam larutan
stok yang berisi beberapa komponen media jangan sampai ada endapan. Hal ini
erat kaitannya dengan ketersediaan hara dalam media eksplan atau tanaman yang
dikulturkan. Setelah larutan stok dibuat, pengambilanya untuk media dapat
dilakukan dengan cara memipet atau menakarnya dengan gelas ukur (Yusnita,
2003).
Vitamin yang paling sering digunakan dalam media kultur jaringan tanaman,
adalah thiamine (vitamin B1), nicotinic acid (niacin) dan pyridoxine (vitamin B6).
Thiamine merupakan vitamin yang esensial dalam kultur jaringan tanaman.
Nicotinic acid, penting keberadaannya di dalam media kultur akar tomat, ercis
dan lobak (Bonner dan Devirian, 1939), begitu juga pyroxidin diperlukan dalam
kultur akar tomat (Robbins dan Schmidt, 1939).
Myo-inositol atau meso-inositol atau i-inositol digunakan dalam media untuk
memperbaiki pertumbuhan dan morfogenesis, sehingga myo-inositol dianggap
sebagai golongan vitamin untuk tanaman. Myo-inositol berperan dalam
keikutsertaan dalam lintasan biosintesa asam-D-galakturonat yang menghasilkan
vitamin C dan pectin serta kemungkinan inkorporasinya dalam fosfoinositida dan
fosfatidil inositol yang berperanan dalam pembelahan sel. Penambahan myo-

inositol dengan konsentrasi antara 20-100 mg/l pertama kali ditunjukkan oleh
Jacquiot dalam kultur kambium tanaman elm (George dan Sherringtone, 1984).
Myo-inositol berpengaruh dalam morfogenesis kultur, misalnya dalam
kultur Haworthia sp. Pembentukan pucuk dalam Haworthia sp. tergantung dari
keberadaannya myo-inositol (Kaul dan Sabharwal, 1972, 1975). Di alam Myoinositol ditemukan dalam air kelapa, dan dalam jumlah kecil
didalamagar dipasaran. Myo-inositol juga digunakan dalam pembuatan media
Wood & Braun dan Murashige & Skoog (George dan Sherringtone, 1984).
Penggunaan larutan stok dalam pembuatan media akan mengurangi jumlah
perkejaan yang sifatnya berulang-ulang, sehingga kesalahan manusia atau
percobaan (human atau experimental error) dapat dikurangi. Selain itu,
penimbangan secara langsung dari bahan-bahan pembuat media, seperti hara
mikro dan ZPT, yang membutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit (miligram
atau mikrogram) pada formulasi akhir tidak akan diperoleh secara akurat. Oleh
karena itu sudah menjadi prosedur baku untuk komponen-komponen tersebut
dibuat dalam larutan stok (Sriyanti, 2002).
Untuk membuat larutan stok, senyawa-senyawa yang dibutuhkan ditimbang dan
diletakkan pada gelas ukur bersih. Kepekatan larutan stok umumnya dibuat antara
10-1000 kali, tergantung pada daya larut dari senyawa-senyawa yang akan
dilarutkan. Sebelum ditambahkan dengan air destilasi, beberapa bahan kimia ada
yang harus dilarutkan dahulu dengan pelarut etil alkohol, 1 N NaOH atau 1 N HCl
dalam jumlah yang kecil atau beberapa tetes. Selanjutnya air detilasi ditambahkan
secara perlahan sampai volume yang diinginkan. Jangan lupa pada wadah/botol
larutan diberi label berisi nama larutan, tanggal pembuatan dan kadaluarsa, dan
nama orang yang membuatnya. Untuk beberapa bahan tertentu, misalnya IAA,
stok larutannya harus disimpan dalam botol gelap untuk mencegah dekomposisi
oleh cahaya (Nanang, 2009).

III. METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah NH4NO3, KNO3,
CaCl2.2H2O, KH2PO4 dan akuades. Sedangkan alat yang digunaka adalah labu
ukur, botol kultur, alumunium foil, pipet tetes, corong, gelas arloji, dan timbangan
digital.
B. Cara Kerja
1. Penimbangan Unsur Hara

1.1 Dilakukan kalibrasi terhadap timbangan digital yang akan digunakan.


1.2 Diletakkan gelas arloji di atas timbangan. Setelah itu, timbangan di
kembalikan ke posisi nol kembali.
1.3 Diambil unsur hara yang akan ditimbang sebanyak jumlah yang
diinginkan.
2. Pembuatan Larutan Stok
2.1 Disiapkan CaCl2.2H2O sebanyak 1,1 gram
2.2 Dimasukkan CaCl2.2H2O tersebut kedalam labu ukur, kemudian
ditambahkan akuades sampai volumenya 250ml, dikocok hingga
homogen
2.3 Larutan no.2 dipindahkan kedalam botol reagen dan diberi label
CaCl2.2H2O.

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Berikut ini merupakan hasil pengamatan dari percobaan yang telah dilakukan,
dilampirkan pada tabel 1 :
Tabel 1.
Nama Unsur Hara
Hara Makro
NH4NO3
KNO3
Ca.Cl2.2H2O
MgSO4.7H2O
KH2PO4
FeSO4.7H2O

g
1,65
1,9
0,44
0,37
0,17
0,0278

Nama Unsur Hara


Hara Mikro
MnSO4.4H2O
ZnSO4.7H2O
H3BO3
KI
CuSO4.5H2O
NaMoO4.2H2O

g
0,0223
0,0086
0,0062
0,00083
0,000025
0,00025

NaEDTA
Vitamin
Thiamine-HCl
Nicotinic acid (Niacin)
Pyridoxine-HCl

0,0373
0,01
0,05
0,05

CoCl2.6H2O
Zat Pengatur Tumbuh
Sukrosa
Agar

0,000025
0,1
30
7-8

B. Pembahasan
Perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan dapat menghasilkan benih dalam
jumlah banyak dalam waktu singkat, seragam, dan bebas penyakit. Keberhasilan
teknik kultur jaringan dipengaruhi antara lain oleh jenis eksplan, yaitu bagian
tanaman yang digunakan sebagai bahan untuk inisiasisuatu kultur, dan komposisi
media yang digunakan. Pada dasarnya, semua tanaman dapat diregenerasikan
menjadi tanaman sempurna bila ditumbuhkan pada media yang sesuai. Salah satu
komponen media yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah jenis dan
konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan (Marlina dan Rohayati, 2009).
Dalam kultur jaringan, dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting
adalah sitokinin dan auksin. Sitokinin (BAP) berfungsi sebagai perangsang
pertumbuhan tunas, berpengaruh terhadap metabolisme sel, pembelahan sel,
merangsang sel, mendorong pembentukan buah dan biji,mengurangi dormansi
apikal, serta mendorong inisiasi tunas lateral (Triningsih,dkk., 2013)
Dengan berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industri
kimia maka ditemukan banyak senyawa-senyawa yang mempunyai pengaruh
fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Senyawa-senyawa sintetik ini
pada umumnya dikenal dengan nama zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT = Plant
Growth Regulator). Peranan ZPT pada pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan :
Tempat dihasilkandan
ZPT
Auksin

Fungsi Utama

lokasinya pada

Mempengaruhi pertambahan panjang

tumbuhan
Meristem apikal tunas

batang, pertumbuhan, diferensiasi dan

ujung, daun muda,

percabangan akar; perkembangan

embrio dalam biji.

buah; dominansi apikal; fototropisme


Sitokinin

dan geotropisme.
Mempengaruhi pertumbuhan dan

Pada akar, embrio dan

diferensiasi akar; mendorong

buah, berpindah dari

pembelahan sel dan pertumbuhan

akar ke organ lain..

secara umum, mendorong


perkecambahan; dan menunda
Giberelin

penuaan
Mendorong perkembangan biji,

Meristem apikal tunas

perkembangan kuncup, pemanjangan

ujung dan akar; daun

batang dan pertumbuhan daun;

muda; embrio.

mendorong pembungaan dan


perkembangan buah; mempengaruhi
pertumbuhan dan diferensiasi akar.
Asam Absisat Menghambat pertumbuhan;

Daun; batang, akar,

(ABA)

buah berwarna hijau.

merangsang penutupan stomata pada


waktu kekurangan air, memper-

Etilen

tahankan dormansi.
Mendorong pematangan; memberikan

Buah yang matang,

pengaruh yang berlawanan dengan

buku pada batang,

beberapa pengaruh auksin; mendorong

daun yang sudah

atau menghambat pertumbuhan dan?

menua.

perkembangan akar, daun, batang dan


bunga.
Dalam pembuatan media kultur, maka harus ada komposisi vitamin didalamnya.
Vitamin adalah suatu senyawa organik yang terdapat di dalam makanan dalam
jumlah sedikit dan dibutuhkan jumlah yang besar untuk fungsi metabolisme yang
normal (Dorland, 2006). Vitamin yang paling sering digunakan dalam media
kultur jaringan tanaman adalah thiamine (vitamin B1), nicotinic acid (niacin),
pyridoxine (vitamin B6). Thiamine merupakan vitamin yang esensial dalam kultur
jaringan tanaman karena thiamine mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan sel. Vitamin C, seperti asam sitrat dan asam askorbat, kadang-

kadang digunakan sebagai antioksidan untuk mencegah atau mengurangi


pencoklatan atau penghitaman eksplan.
Mio-Inositol atau meso-insitol merupakan heksitol (gula alkohol berkarbon 6)
sering digunakan sebagai salah satu komponen media yang penting, karena
terbukti merangsang pertumbuhan jaringan yang dikulturkan (Yusnita, 2003).
Kebutuhan nutrisi mineral untuk tanaman yang dikulturkan secara in-vitro pada
dasarnya sama dengan kebutuhan hara tanaman yang ditumbuhakn di tanah.
Unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman di lapangan merupakan kebutuhan
pokok yang harus tersedia dalam media kultur jaringan. Antara lain adalah unsur
hara makro dan unsur hara mikro. Unsur-unsue hara tersebut diberikan dalam
bentuk garam-garam mineral. Komposisi media dan perkembangannya didasarkan
pada pendekatan masing-masing peneliti (Gunawan, 1992; 44).
Unsur hara makro adalah hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang
banyak. Hara makro tersebut meliputi, Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K),
Kalsium (Ca), Sulfur (S), Magnesium (Mg), dan Besi (Fe).
No
1

Sumber Garam
NH4NO3
NH2PO4
NH2SO4

KH2PO

CaCl2.2H2

Unsur
Nitrogen
(N)

Fungsi
Membentuk protein, lemak, dan berbagai
senyawa organik lain, morfogenesis
(pertumbuhan
akar
dan
tunas),
pertumbuhan dan pembentukan embrio,
pembentukan embrio zigotik dan
pertumbuhan vegetatif.
Fosfor (P)
Untuk metabolisme energi, sebagai
stabilitor membran sel, pengaturan
metabolisme
tanaman,
pengaturan
produksi pati/ amilum, pembentukan
karbohidrat, sangat penting dalam
transfer energi, protein, dan sintesis asam
amino serta konstribusi terhadap struktur
dan asam nukleat.
Kalium (K) Untuk pemanjangan sel tanaman,
memperkuat
tubuh
tanaman,
memperlancar
metabolisme
dan
penyerapan makanan, ion kalsium

10

CaCl2.2H2O

Kalsium
(Ca)

Sulfur (S)

Sulfur (S)

MgSO4.7H2

Fe2(SO4)3
FeSO4.7H2

Magnesiu
m (Mg)
Besi (Fe)

ditransfer secara cepat menyebrangi


membran sel dan mengatur pH dan
tekanan osmotik di antara sel.
Untuk merangsang bulu-bulu akar,
penggandaan atau perbanyakan sel dan
akar, pembentukan tabung polen, dinding
dan membran sel lebih kuat, tahan
terhadap serangan patogen, mengeraskan
batang,
memproduksi
cadangan
makanan.
Berfungsi dalam berbagai reaksi-reaksi
reduksi oksidasi.
Berfungsi
untuk
meningkatkan
kandungan fosfat, pembentukan protein.
Berfungsi untuk membantu asilmilasi
nitrogen.

Unsur hara mikro adalah hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Unsur
hara mikro ini merupakan komponen sel tanaman yang penting dalam proses
metabolisme dan proses fisioligi lainnya (Gunawan, 1992; 46). Unsur hara mikro
tersebut diantaranya adalah :
No
1

Sumber Garam
KI

Unsur
Klor (Cl)

MnSO4.4H2O

Mangan
(Mn)

CuSO4.5H2O

Tembaga
(Cu)

4
5

CoCl2.6H2O
NaMoO4.2H2O

Kobal (CO)
Molibdenu
n (Mo)

Fungsi
Untuk mengambil elemen mineral dan
dalam fotosintesis.
Untuk pembentukan protein dan vitamin
terutama vitamin C, berperan penting
dalam mempertahankan kondisi hijau
daun pada daun yang tua, sebagai enzim
feroksidase dan sebagai aktifator
macam-macam enzim, dan sebagai
komponen penting untuk lancarnya
proses asimilasi
Aktivator dan membawa beberapa
enzim, membantu kelancaran proses
fotosintesis, embentuk klorofil , dan
berperan dalam fungsi reproduksi.
Untuk fiksasi nitrogen
Sebagai pembawa elektron untuk
mengubah nitrat menjadi enzim dan
juga berperan dalam fiksasi nitrogen.

11

ZnSO4.4H2O

Seng (Zn)

H3BO3

Boron (B)

Berperan dalam aktivator enzim ,


pembentukan klorofil dan membantu
proses fotosintesis.
Berfungsi dalam proses pembentukan ,
pembelahan dan diferensiasi , dan
pembagian tugas sel.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah :


1. Komponen dasar dalam membuat media untuk menanam eksplan adalah
unsur hara makro, unsur hara mikro, vitamin, dan ZPT.
2. ZPT adalah senyawa yang mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa
dengan hormon tanaman.
3. Ada 5 macam ZPT yang sering kita jumpai yaitu auksin, sitokinin, giberelin,
asam absisat (ABA), dan etilen.
4. Vitamin adalah suatu senyawa organik yang terdapat di dalam makanan
dalam jumlah sedikit dan dibutuhkan jumlah yang besar untuk fungsi
metabolisme yang normal.
5. Vitamin yang digunakan dalam percobaan ini adalah myo-inositol dan etilen.
6. Unsur hara makro dan mikro merupakan komposisi yang harus ada pula
dalam media tanam.

12

DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A.N., 2002. Dalam: Hartanto, H. et al. Kamus Kedokteran Dorland.


Edisi 29. EGC. Jakarta.
George, E.F and P.D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture,
Handbook and Directory of Comercial Laboratoryes. Easter Press. England.
Gunawan, L.W. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Hendaryono, D.P.S dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius.
Jogyakarta.
Marlina, N., Rohayati, E., (2009), Teknik Perbanyakan Mawar Dengan Kultur
Jaringan, Buletin Teknik Pertanian, 14(2): 65-67, Balai Penelitian Tanaman
Hias Jalan Raya Ciherang, Pacet, Cianjur
Nanang, Sucipto. 2009. Kultur Jaringan Tumbuhan. IT Press. Bandung.

13

Rahardja, P. C., (1995), Kultur jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara


Modern, Penebar Swadaya, Jakarta
Sriyanti, Daisy P. dan Ari Wijayani. 2002. Teknik Kultur Jaringan : Pengenalan
dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif-Modern. Kanisius,
Yogyakarta.
Triningsih, L. A. M. Siregar, L. A. P. Putri. 2013. Pertumbuhan Eksplan
PuarTenangau ( Elettariopsis sp.) Agroekoteknologi, 1(2): 276-285.
Yusnita, 2003. Kultur Jaringan. Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien.
Agromedia Pustaka: Jakarta.