Anda di halaman 1dari 9

ETIKA ADMINISTRASI PUBLIK

ETIKA KEBAJIKAN
( Tanggung Jawab PT. LAPINDO BRANTAS INC.BRANTAS INC. terhadap Lumpur
Lapindo Sidoarjo )

KELOMPOK 5
Anggota Kelompok :
1. Muhammand Rosyidi Trianto ( 155030107111035 )
2. Surya Putra Bhirawa

( 155030101111058 )

3. Septian Helmi M

( 155030101111052 )

4. Bako Hartanto Pradana

( 155030100111042 )

5. Soni Rio Pratama

( 155030101111048 )

6. Sri Manggala Wijaya

( 155030100111007 )

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI


ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016
1

I. ETIKA KEBAJIKAN
Etika kebajikan Menurut kamus kebajikan atau virtue adalah kualitas moral yang baik
kebenaran dan tanggung jawab. Apa kaitan kebajikan dengan sifat buruk? Kebajikan adalah
dua hal ekstrem yakni Sikap mulia dan tercela seorang bijak akan mampu memilih diantara
dua hal ini saat situasi apapun. Pentingannya kebajikan: - Menjaga moralitas dari sebuah
kebijakan - belajar dari pengalaman dan interaksi dari orang lain dengan memberi
kesempatan kepada hati nurani kita untuk mempelajari mengenai kebajikan diluar
kemungkinan sikap-sikap tercelanya.
Teori Etika Kebajikan harus memiliki beberapa komponen. Pertama, harus ada
penjelasan tentang apa itu kebajikan (virtue). Kedua, harus ada senarai yang menunjukkan
mana saja ciri-ciri pembawaan (character traits) yang merupakan kebajikan. Ketiga, harus
ada penjelasan tentang kebajikan2 tersebut. Keempat, harus ada penjelasan mengapa sifatsifat ini baik untuk dimiliki oleh seseorang. Terakhir, kelima, teori itu sebaiknya
menjelaskan apakah kebajikan2 ini sama untuk semua orang ataukah berbeda-beda pada
masing-masing orang dan budaya.
II. STUDY KASUS
Semburan lumpur panas itu muncul pertama kalinya pada 29 Mei sekitar pukul
05.00. Semburan ini terjadinya di areal persawahan Desa Siring, Kecamatan Porong,
Kabupaten Sidoarjo sekitar 150 meter barat daya sumur Banjar Panji 1 yang dikerjakan oleh
Lapindo Brantas Inc.
Selama tiga bulan Lapindo Brantas Inc, melakukan pengeboran vertikal untuk
mencapai formasi geologi yang disebut Kujung pada kedalaman 10.300 kaki. Sampai
semburan lumpur pertama itu, yang dalam dunia perminyakan dan gas disebut blow out,
telah dicapai kedalaman 9.297 kaki (sekitar 3,5 kilometer).
Kedalaman ini dicapai pukul 13.00 dua hari sebelum blow out. Pada pengeboran di
kedalaman

tersebut,

lumpur

berat

masuk

pada

lapisan,

disebut

loss,

yang

memungkinkan terjadinya tekanan tinggi dari dalam sumur ke atas atau kick, antisipasinya
adalah menarik pipa untuk memasukkan casing yang merupakan pengaman sumur.
Ketika penarikan pipa hingga 4.241 kaki, pada 28 Mei, terjadi kick. Penanggulangan ini
adalah dengan penyuntikan lumpur ke dalam sumur. Ternyata bor macet pada 3.580 kaki,
dan upaya pengamanan lain dengan disuntikan semen. Bahkan pada hari itu dilakukan
fish, yakni pemutusan mata bor dari pipa dengan diledakan. Namun kemudian yang terjadi
adalah munculnya semburan gas dan lumpur pada subuh esok harinya.
2

Bencana lumpur lapindo telah memberi banyak dampak pada masyarakat sekitar dan
aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Dampak dampak yang didapat bukan hanya
dampak negatif, namun juga ada dampak positif yang didapatkan dari terjadinya bencana
ini. Adapun dampak negatif yang didapat yaitu :
a. Bencana lumpur lapindo yang tadinya hanya menggenangi 4 desa sekarang telah
meluas menjadi 16 desa, hal ini berarti lebih dari 728 hektar telah tergenangi. Dalam
area yang tergenangi ini tidak hanya terdapat rumah penduduk saja, namun ada sarana
pendidikan, pabrik, dan kantor pemerintahan yang juga ikut tergenang. Dengan
keadaan ini secara otomatis akan banyak penduduk yang bukan hanya kehilangan
tempat tinggalnya namun juga kehilangan mata pencahariannya dan akan ada
banyak anak yang kehilangan tempat mereka untuk menuntut ilmu.
b. Bencana lumpur lapindo juga telah mencemari lingkungi sekitar dari wilayah yang
digenangi, seperti areal persawahan dan ladang milik warga. Banyak ternak milik
warga yang ikut mati dalam bencana ini. Menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi),
secara umum pada area luberan lumpur dan sungai Porong telah tercemar oleh logam
kadmium (Cd) dan timbal (Pb) yang cukup berbahaya bagi manusia apalagi dengan
kadar yang jauh di atas ambang batas. Lumpur lapindo juga memiliki kadar PAH
(Chrysene dan Benz(a)anthracene) dalam lumpur Lapindo yang mencapai 2000 kali
di atas ambang batas bahkan ada yang lebih dari itu. Kandungan PAH sangat berbahaya
bagi manusia dan lingkungan. Berikut akibat yang dapat diakibatkan oleh zat PAH
bagi manusia da lingkungan, yaitu:
1. Biokumulasi dalam jaringan lemak manusia dan hewan
2. Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit, jika terjadi kontak langsung
dengan zat PAH
3. Terjadi permasalahan reproduksi
4. Memperbesar kemungkinan terkena kanker
Dampak PAH yang ada dalam lumpur lapindo terhadap masyarakat dan
lingkungan sekitar mungkin tidak akan dirasakan sekarang,

namun akan dapat

dirasakan pada jangka waktu lima sampai sepuluh tahun mendatang. Selain itu
perlu juga diwaspadai bahwa ternyata lumpur Lapindo dan sedimen Sungai
Porong kadar timbal-nya sangat besar yaitu mencapai 146 kali dari ambang batas
yang telah ditentukan.
c. Terjadinya bencana lumpur lapindo ini juga telah menggangu aktivitas perekonomian di
Jawa Timur. Hal ini dikarenakan ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga
waktu yang tidak ditentukan. Seperti yang kita tahu, kota Surabaya merupakan ibukota
dari Jawa Timur, sehingga banyak sekali aktivitas perekonomian yang berjalan disana.
3

Dengan ditutupnya jalan tol Surabaya-Gempol,

secara

otomatis

mengakibatkan

banyak kemacetan yang terjadi, terutama di jalan alternatif menuju Surabaya.


Penutupan jalan tol ini juga berdampak pada aktivitas produksi di kawasan Mojokerto
dan Pasuruan yang merupakan salah satu kawasan industri utama yang ada di Jawa
Timur.

Bencana lumpur lapindo ini juga telah membuat

tanah di wilayah yang

tergenangi menjadi ambles dan merusak beberapa pipa air milik PDAM. Sebuah sutet
milik PLN juga ikut terendam dalam bencana ini. Hal ini mengakibatkan warga di
sekitar jalan raya porong kesulitan dalam mendapatkan air bersih, listrik, dan jaringan
telepon.
III. TINDAKAN PT. LAPINDO BRANTAS Inc.
Menurut laporan yang diluncurkan oleh pihak Lapindo Brantas Inc. Saat itu, Lapindo
Brantas mengambil alih tanggung jawab untuk hal-hal berikut:
a. Pembelian tanah dan bangunan dari masyarakat yang terkena dampak bencana
Penyediaan bantuan dana bagi petani yang lahannya terkena lumpur panas.
b. Pendanaan bagi pekerja yang diberhentikan oleh pabrik yang terkena dampak
c.
d.
e.
f.
g.
h.

bencana.
Pendanaan bagi usaha kecil.
Bantuan relokasi bagi pabrik-pabrik agar dapat melanjutkan kegiatan mereka.
Pendanaan bagi rumah-rumah yang terkena dampak bencana.
Penyediaan sarana dan prasarana umum di tempat penampungan.
Layanan dan fasilitas kesehatan bagi penduduk yang direlokasi.
Pembayaran asuransi jiwa dan bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak

bencana.
i. Pengawasan gas berbahaya (H2S dan hidrokarbon).
Pada laporan tersebut dijelaskan bahwa orang yang menerima bantuan untuk
pertama kalinya adalah 42 warga desa Besuki yang secara bersama - sama setuju untuk
menerima paket keuangan sebesar Rp. 252.097.920 untuk biaya sewa rumah selama 2
tahun. Disebutkan juga bahwa Lapindo membayar Rp. 13.893.153.115 kepada 1.866
petani sebagai ganti lahan mereka yang digunakan untuk menampung lumpur panas.
1.879 pekerja pabrik dari 15 perusahaan diberikan gaji bulanan sebagai ganti dari
pendapatan mereka yang hilang. 12.000 penduduk juga menerima layanan kesehatan
untuk gangguan pernapasan di puskesmas yang didanai oleh Lapindo Brantas Inc.
Pada bulan Agustus 2006, seiring dengan meluasnya bencana lumpur,

11.000

penduduk telah direlokasi dan 9 pabrik juga telah dipindahkan dengan total biaya sebesar
Rp. 310.000.000. Wilayah yang mendapatakan bantuan adala desa Siring, Renokenongo,
Kedung Bendo, dan Jatirejo. Sedangkan 2 desa lainnya yaitu Desa Mindi dan
Pejakaran tidak disebutkan dalam laporan tersebut. Paket keuangan yang diberikan
4

berupa uang pengganti, Rp 1 juta/meter persegi untuk tanah, Rp 1.5 juta/meter persegi
untuk bangunan, Rp 120ribu/meter persegi untuk sawah. Penggantian ini dibagi menjadi 2,
yaitu DP sebesar 20% dan sisanya 80% akan dicicil selama 2 tahun.
IV. PEMBAHASAN
Lapindo yang menjadi sebuah fenomena pada 2006 telah merugikan banyak kerugian
baik Negara, sector privat hingga masyarakat. Berawal dari pengeboran oleh PT. LAPINDO
BRANTAS Inc. yang kemudian terjadi bencana yang tak diduga luapan lumpur yang
meluas hingga memberi dampak pada lingkungan sekitar hingga merugikan tidak hanya
ratusan tapi juga miliaran rupiah. Banyak polemic atas kejadian tersebut apakah PT.
LAPINDO BRANTAS Inc. yang harus bertanggung jawab atau salah seorang tokoh
Aburizal Bakrie. Tetapi dalam studi kasus di atas kami menyajikan data atas tanggung
jawab PT. LAPINDO BRANTAS Inc. karena sebagai pengelola pengeboran tersebut.
Tentunya tanggung jawab yang berusaha diupayakan oleh PT. LAPINDO BRANTAS Inc.
mencoba memenuhi ratusan tuntutan baik dari warga sekitar maupun pemerintah sendiri
tentunya.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa pemenuhan kepuasan dalam pencapaian
kebahagiaan menjadi pokok pembahasan dalam etika kebajikan. Dilihat dari dampak yang
telah terurai di atas pemenuhan kepuasan yang dilakukan oleh PT. LAPINDO BRANTAS
Inc. harus mampu mengembalikan kebahagiaan para korban dari lumpur lapindo. Dilihat
dari Etika Kebajikan yang mempunyai dasar bahwa kebahagiaan merupakan kebutuhan
paling tinggi. Penulis mencoba menganalisis satu per satu tindakan dari PT. LAPINDO
BRANTAS Inc., apakah tindakan itu memenuhi kebahagiaan korban yang dirugikan ?
apakah mampu mencapai standar nilai yang ada pada korban ?, sebagai berikut :
a) Pembelian tanah dan bangunan dari masyarakat yang terkena dampak bencana
Penyediaan bantuan dana bagi petani yang lahannya terkena lumpur panas.
Etika Kebajikan : Kebutuhan masyarakat terhadap lahan merupakan hal mendasar,
karena sebagian pekerjaan warga sekitar dilakukan dengan memanfaatkan lahan
tersebut. Bantuan dana bagi petani tentunya dapat menimbulkan kepuasan karena
lahan sebagai mata pencaharian mereka terkena lumpur dengan bantuan dana dapat
memulihkan perekonomian warga meskipun tidak terpenuhi sepenuhnya.
b) Pendanaan bagi pekerja yang diberhentikan oleh pabrik yang terkena dampak
bencana.
Etika Kebajikan : Pekerja juga merupakan korban paling membutuhkan kepuasan
tanggung jawab karena pekerjaan utama mereka terhenti akibat adanya kejadian
5

tersebut. Sama pendanaan petani, pendanaan pekerja pabrik setidaknya memberi


kepuasan bagi keberlangsungan hidup mereka dan keluarga.
c) Pendanaan bagi usaha kecil.
Etika Kebajikan : Sebuah pabrik besar tentu saja memancing para pengusaha kecil
untuk membuka usahanya di dekat pabrik dalam pemanfaatan eksternal pabrik.
Sebagai salah satu korban PT. LAPINDO BRANTAS. Inc. juga mematikan usaha
usaha kecil yang ada di dekat pabrik. Dengan pendanaan yang memadai diharapkan
kepuasan didapat untuk pengembalian modal usaha.
d) Bantuan relokasi bagi pabrik-pabrik agar dapat melanjutkan kegiatan mereka.
Etika Kebajikan : Luas dari dampak luapan lumpur lapindo tak hanya disekitar PT.
LAPINDO BRANTAS Inc. sendiri tapi juga mencakup hingga kawasan pabrik
pabrik lain. Kepuasan yang harus dipenuhi oleh PT. LAPINDO BRANTAS Inc.
sangat krusial karena dapat kita pahami pabrik pabrik yang mati tentunya seluruh
elemen pabrik juga mati.
e) Pendanaan bagi rumah - rumah yang terkena dampak bencana.
Etika Kebajikan : Penyegeraan dana bagi warga sekitar terhadapat ganti rugi rumah
mereka sangat berdampak bagi kepuasan, karena tempat tinggal sangat dibutuhkan
oleh warga, relokasi pun belum memenuhi kepuasan bahagia warga. Karena rumah
yang dimiliki sendiri memiliki kepuasan sendiri bagi masyarakat.
f) Penyediaan sarana dan prasarana umum di tempat penampungan.
Etika Kebajikan : Relokasi yang diupayakan dibarengi dengan penampungan warga.
Di tempat penampungan kepuasan yang harus dipenuhi agar mencapai standar bagi
warga yang layak sebagai tempat tinggal sementara.
g) Layanan dan fasilitas kesehatan bagi penduduk yang direlokasi.
Etika Kebajikan : Luapan lumpur yang dikeluarkan mengandung banyak zat kimia
yang tentunya berbahaya bagi tubuh. Apalagi banyak warga yang pada saat kejadian
terkena dampak langsung, baik warga dan pekerja. Dengan pemenuhan kebutuhan
kesehatan yang intens dapat memenuhi kepuasan terhadap penanganan kesehatan
korban.
h) Pembayaran asuransi jiwa dan bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak
bencana.
Etika Kebajikan : Ini merupakan salah satu dampak paling merugikan, karena dampak
luapan lumpur lapindo menelan banyak korban jiwa. Asuransi diberikan bagi pihak
keluarga atas pemenuhan kebutuhan dari orang yang meninggal. Merupakan suatu
tindakan yang beretika walaupun tidak mampu mengembalikan jiwa korban
setidaknya ada kompensasi jiwa terhadap keluarga korban. Karena bias saja korban
merupakan tulang punggung keluarga.
i) Pengawasan gas berbahaya (H2S dan hidrokarbon).
6

Etika Kebajikan : Warga sekitar tentunya masih mengalami traumatis terhadap lumpur
lapindo menjadi was was karena lumpur dapat keluar dari dalam tanah hingga di
sekitar rumah rumah warga. Pengawasan dari pihak PT. LAPINDO BRANTAS Inc.
dapat memberi pemenuhan kepuasan dan mengurangi rasa cemas warga.
Tetapi hingga kini masih banyak tanggung jawab dari PT. LAPINDO BRANTAS Inc.
yang belum dipenuhi. Pada bulan Juni 2016 masih terdapat 84 berkas penalangan dana oleh
PT. LAPINDO BRANTAS Inc. bahkan ada kabar tersiar bahwa PT. LAPINDO BRANTAS
Inc. menggunakan dana APBN seharusnya ini merupakan tanggung jawab PT. LAPINDO
BRANTAS Inc. sendiri.
Etika dalam kajian fenomena luapan lumpur PT. LAPINDO BRANTAS Inc. :
a. HAM Lingkungan berkualitas bukan hanya menjadi harapan namun harus
direalisasikan karena menjadi hak tiap manusia. Manusia mempunyai hak moral atas
segala sesuatu yang perlu untuk hidup pantas sebagai manusia, artinya hal ini
memungkinkan manusia memenuhi kesanggupannya sebagai makhluk yang rasional
dan bebas. Dalam konteks ekonomi pasar bebas, setiap orang berhak memakai
miliknya guna menghasilkan keuntungan. Tapi hak atas lingkungan berkualitas dapat
mengalahkan hak seseorang untuk memakai miliknya dengan bebas.
b. Keadilan Keadilan dipahami sebagai keadilan distributif, artinya keadilan yang
mewajibkan kita membagi dengan adil. Prinsip etika bisnis mengenai keadilan
distributif juga dilanggar oleh PT. LAPINDO BRANTAS Inc., karena perusahaan
tidak bertindak adil dalam hal persamaan, prinsip penghematan adil, dan keadilan
sosial. PT. LAPINDO BRANTAS Inc. pun dinilai tidak memiliki kepedulian terhadap
sesama manusia atau lingkungan, karena menganggap peristiwa tersebut merupakan
bencana alam yang kemudian dijadikan alasan perusahaan untuk lepas tanggung
jawab. Dengan segala tindakan yang dilakukan oleh PT. LAPINDO BRANTAS Inc.
secara otomatis juga berarti telah melanggar etika kebajikan.Hal ini membuktikan
bahwa etika berbisnis yang dipegang oleh suatu perusahaan akan sangat
mempengaruhi kelangsungan suatu perusahaan. Dan segala macam bentuk
pengabaian etika dalam berbisnis akan mengancam keamanan dan kelangsungan
perusahaan itu sendiri, lingkungan sekitar, alam, dan sosial.
c. Etika Kepedulian Kepedulian terhadap sesama manusia ataupun lingkungan harus
diterapkan di mana saja kita tinggal. Etika kepedulian di sini kurang diperhitungkan
dan diterapkan guna kepentingan bersama. Dalam kasus ini, menjadi tidak etis karena

telah mencemari lingkungan dan tidak bertanggungjawab secara sosial atas dampak
yang telah dihasilkan.
d. Etika Kebajikan Nilai kebajikan perlu dipahami demi kenyamanan satu sama lain.
Menjadi tidak etis apabila perusahaan tidak bisa memberikan nilai atau value yang
positif untuk lingkungan sekitar. Nilai atau value yang dimiliki hanya untuk
kepentingan perusahaan dan kepentingan pihak atas tanpa memperdulikan masyarakat
sekitar terutama masyarakat miskin dan tertindas.
V. KESIMPULAN
Dari Uraian kasus diatas diketahui bahwa kelalaian yang dilakukan PT. LAPINDO
BRANTAS Inc. merupakan penyabab utama meluapnya lumpur panas di Sidoarjo, akan
tetapi pihak Lapindo malah berdalih dan enggan untuk bertanggung jawab. Jika dilihat dari
sisi etika bisnis, apa yang dilakukan oleh PT. LAPINDO BRANTAS Inc. jelas telah
melanggar etika dalam berbisnis. Dimana PT. LAPINDO BRANTAS Inc. telah melakukan
eksploitasi yang berlebihan dan melakukan kelalaian hingga menyebabkan terjadinya
bencana besar yang mengakibatkan kerusakan parah pada lingkungan dan sosial.Eksploitasi
besar-besaran yang dilakukan PT. LAPINDO BRANTAS Inc. membuktikan bahwa PT.
LAPINDO BRANTAS Inc. rela menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan.
Dan keengganan PT. LAPINDO Inc. untuk bertanggung jawab membuktikan bahwa PT.
LAPINDO BRANTAS Inc.lebih memilih untuk melindungi aset-aset mereka daripada
melakukan penyelamat dan perbaikan atas kerusakan lingkungan dan sosial yang mereka
timbulkan. Hal yang dilakukan oleh PT. LAPINDO BRANTAS Inc.telah melanggar prinsip
prinsip etika yang ada, baik dari prinsip hak dan deontologi, utilitarisme, prinsip keadilan
distributif, dan prinsip kepedulian dan kebajikan.

DAFTAR PUSTAKA
1. https://musakazhim.wordpress.com/2007/08/01/etika-kebajikan/
2. http://slideplayer.info/slide/3101255/
3. https://jarangjarang.wordpress.com/2013/09/01/sudut-pandang-etika-dalam-studikasus-lumpur-lapindo-brantas/
4. http://nellyrosneli