Anda di halaman 1dari 18

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Untuk memenuhi tugas matakuliah


Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Bapak Didin

Oleh
Asmaul Khusnah
150312604907

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN MATEMATIKA
November 2015

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu pondasi utama pembangun
suatu bangsa. Pendidikan merupakan sarana pembentuk karakter
bangsa. Pendidikan juga berfungsi sebagai media mencerdaskan
kehidupan suatu bangsa dan membawa ke era pencerahan. Pendidikan
bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan nilai-nilai
kepintaran, kepekaan, dan kepedulian terhadap bangsa dan negara.
Pendidikan merupakan langkah awal menyelesaikan masalah-masalah
mendasar yang dihadapi bangsa seperti kemiskinan, kebodohan, dan
lain sebagainya.
Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan kegiatan
terencana yang dalam penyusunannya tidak lepas dari faktor
pembiayaan. Hal ini karena dalam pelaksanaanya, ada banyak hal
yang harus disiapkan, dilakukan, serta dilaksanakan agar proses
pembelajaran berjalan dengan lancar. Banyak hal yang harus
disiapkan oleh semua pihak, terutama dalam pemenuhan sarana dan
prasarana pendidikan dan pembelajaran sehingga dibutuhkan dana
yang cukup besar. Pada akhirnya, hanya orang yang berkantong tebal
saja yang bisa menikmati dunia pendidikan. Sementara, kelompok
masyarakat menengah ke bawah yang hidup di garis kemiskinan
dengan sendirinya perlahan menjauh atau bahkan tidak bisa
mengenyam bangku sekolah.
Permasalahan pendidikan tidak hanya sampai situ saja. Salah
satu persoalan yang belum ada titik temunya adalah otonomi
kurikulum pendidikan. Jika kurikulum sudah diotonomi maka
pemerintah pusat harus memberikan kebebasan pada pemerintah
daerah dan sekolah untuk menentukan kurikulum yang akan
dijalankan di daerah masing-masing. Namun, intervensi (campur
tangan) pemerintah yang disebut desentralisasi masih sangat kental.
Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah.
Salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia
adalah lemahnya keterampilan para guru untuk mengembangkan
potensi anak. Tenaga pendidik di Indonesia cenderung memaksakan

kehendak mereka tanpa memperhatikan masalah dan kebutuhan para


peserta didik. Padahal, proses pembelajaran yang baik adalah dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan bakat
minat mereka. Banyak permasalahan pendidikan di Indonesia yang
belum terselesaikan. Penulis ingin membahas lebih dalam tentang
pendidikan di Indonesia, problematika dan beberapa agenda
kebijaksaan pendidikan masa depan yang secara tidak langsung dapat
meningkatkan efisiensi internal dan eksternal pendidikan di
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah pendidikan di Indonesia?
Bagaimana sistem pendidikan yang dianut Indonesia?
Apa saja masalah pendidikan di Indonesia?
Bagaimana pemecahan masalah pendidikan di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Untuk mengetahui sejarah pendidikan di Indonesia.
Untuk mengetahui sistem pendidikan yang dianut bangsa

Indonesia.
Untuk mengetahui masalah pendidikan di Indonesia.
Untuk mendapatkan pemecahan masalah pendidikan di

Indonesia.
2. Pembahasan
2.1 Sejarah Pendidikan Indonesia
Pada masa penjajahan Belanda, VOC mendirikan sekolah
bertujuan untuk menyebarkan agama. Namun, penyebaran agama
yang dilakukan terbatas hanya pada wilayah yang sudah menerima
ajaran Katolik. Ternyata, kepentingan ekonomi dan politik lebih
diutamakan daripada misi menyebarkan agama tersebut. Pada
akhirnya, semangat menyebarkan agama Katolik lenyap, sehingga
pendidikan pada saat itu mengalami kemerosotan total pada waktu
VOC dibubarkan tahun 1799.
Pendidikan yang bertujuan sekuler muncul pada pertengahan
abad ke-19 dengan alasan dan tujuan praktis untuk mendukung
kepentingan komersial mereka. Sebenarnya, di kalangan orang
Belanda masih ada yang memandang jika pendidikan mempunyai
fungsi sebagai alat untuk memajukan kesejahteraan spiritual-material

bangsa. Namun kenyataannya, pendidikan selama masa kolonial


hanya dijadikan sebagai alat untuk menjaga kondisi aman dan damai,
yang serasi bagi pertumbuhan perusahaan-perusahaan Belanda.
Pendidikan yang selama ini diberikan pihak Belanda justru
menimbulkan banyak perlawanan. Perlawanan tersebut sering
berbentuk organisasi Barat, yang dipimpin orang berpendidikan Barat.
Akibat lain yang tidak terduga adalah timbulnya kesadaran
masyarakat bangsa Indonesia untuk bersekolah yang menjelma dalam
bentuk sekolah partikelir, sekolah swasta yang dianggap sebagai
wilde schole (sekolah liar) oleh bangsa Belanda, diantaranya adalah
Taman Siswa yang mempunyai landasan-landasan nasional dan
Muhammdiah.
2.2 Sistem Pendidikan Indonesia
Menurut Undang-Undang

No.20

tahun

2003,

sistem

pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang


terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional merupakan alat dan tujuan untuk
mencapai cita-cita kemerdekaan dan tujuan bangsa Indonesia.
Selain menurut Undang-Undang No.20 tahun 2003, Suryadi
(2002:152) juga menjelaskan sistem pendidikan sebagai berikut.
Sistem pendidikan nasional harus dapat memberikan
pendidikan bagi setiap warga negara Republik Indonesia
agar masing-masing memperoleh sekurang-kurangnya
pengetahuan dan kemampuan dasar. Yang meliputi
kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta
menggunakan bahasa Indonesia, yang diperlukan setiap
warga negara untuk dapat berperan serta dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Undang-Undang No.20 tahun 2003 mengatur ketentuanketentuan sistem pendidikan di Indonesia sebagai berikut.
a. Jalur Pendidikan

Jalur pendidikan di Indonesia dibedakan menjadi tiga


antara lain: pendidikan formal, informal, dan nonformal yang
a.

dapat diselenggarakan melalui tatap muka atau jarak jauh.


Jenjang Pendidikan
Pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar
adalah pendidikan yang dilaksanakan sebelum pendidikan
menengah yang dapat berbentuk Sekolah Dasar (SD),
Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan menengah dilaksanakan setelah pendidikan dasar.
Pendidikan menengah terdiri dari pendidikan menengah umum
yang berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah
Aliyah (MA), atau bentuk lain yang sederajat, dan pendidikan
menengah kejuruan yang dapat berbentuk Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau
bentuk lain yang sederajat. Sedangkan pendidikan tinggi dapat
berbentuk universitas, sekolah tinggi, politeknik, institut, atau
akademi.

Perguruan

tinggi

mempunyai

kewajiban

menyelenggarakan 3P (pendidikan, penelitian, dan pengabdian


pada masyarakat). Perguruan tinggi dapat menjalankan
program akademik, profesi, atau vokasi.
b. Jenis Pendidikan
Jenis pendidikan memuat pendidikan umum, kejuruan,
profesi, akademik, vokasi, keagamaan, dan khusus.
c. Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal dilaksanakan dalam rangka
memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan layanan
pendidikan. Pendidikan ini mempunyai fungsi pengembangan
potensi peserta didik dengan melakukan penekanan pada
penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta
pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan
ini terdiri atas pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak
usia dini, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan
kepemudaan, pendidikan keaksaraan, serta pendidikan lain
5

yang berfungsi mengembangkan kemampuan peserta didik.


Pendidikan nonformal terdiri atas pusat kegiatan belajar
masyarakat, lembaga kursus, kelompok belajar, lembaga
pelatihan, majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis.
d. Pendidikan Informal
Proses pendidikan informal dilakukan oleh keluarga
dan lingkungan yang proses pembelajarannya dilakukan secara
mandiri. Lulusan pendidikan informal akan diakui sama dengan
pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus
ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
e. Pendidikan Usia Dini
Pendidikan anak usia dini dilaksanakan sebelum
pendidikan dasar. Pendidikan ini dapat diselenggarakan melalui
jalur pendidikan formal, nonformal, atau informal. Pada jalur
pendidikan formal dapat Raudatul Athfal (RA), Taman KanakKanak (TK), dan bentuk lain yang sederajat. Sedangkan
pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal
berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak
(TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Selain itu, pendidikan
anak usia dini yang berbentuk informal meliputi pendidikan
keluarga

atau

pendidikan

yang

diselenggarakan

oleh

lingkungan.
f. Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi
yang

diselenggarakan

oleh

departemen

atau

lembaga

pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan berfungsi


mengembangkan

kemampuan

dan

keterampilan

dalam

melaksanakan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai


negeri departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
Pendidikan

kedinasan

dapat

diselenggarakan

pendidikan formal maupun nonformal.


g. Pendidikan Keagamaan
Pendidikan
keagamaan
diselenggarakan

melalui

oleh

Pemerintah maupun kelompok masyarakat pemeluk agama


sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berfungsi

untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota sebuah


masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai
agamanya dan bisa menjadi ahli agama. Pendidikan keagamaan
dapat

diselenggarakan

pada

jalur

pendidikan

formal,

nonformal, maupun informal.


h. Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada
semua jenjang, jalur , dan jenis pendidikan. Pendidikan ini
bertujuan memberikan layanan agar masyarakat yang tidak bisa
mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler tetap bisa
melaksanakan peoses pendidikan. Pendidikan jarak jauh dapat
diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan
yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem
penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar
nasional lulusan pendidikan.
i. Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layana Khusus
Pendidikan khusus adalah pendidikan untuk peserta
didik yang mempuyai kesulitan belajar karena kelainan fisik,
mental, emosi, sosial, bahkan mempunyai kecerdasan dan bakat
yang

istimewa.

Sedangkan

pendidikan

layanan

khusus

merupakan pendidikan bagi peserta didik yang berada di daerah


terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil,
maupun masyarakat yang daerahnya terkena bencana alam,
bencana sosial, dan tidak mampu dalam segi ekonomi.
2.3 Masalah Pendidikan di Indonesi
Syarief (2002:52) menyebutkan bahwa fungsi pendidikan yang
nantinya akan berdampak pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara adalah sebagai berikut:
a. Pendidikan adalah investasi manusia yang akan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi.
b. Pendidikan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Pendidikan dapat menghasilkan manusia cerdas dan kreatif yang
dapat membangun bangsanya menjadi lebih bermartabat.
d. Pendidikan dapat mencetak masyarakat yang lebih mampu
menguasai perkembangan ilmu pengetahuan, wawasan yang luas,

dan mempunyai sebuah visi untuk menjangkau masa depan, yang


nantinya akan terwujud bangsa yang lebih maju dan modern.
e. Pendidikan akan memperkuat lembaga sosial dan dapat memberi
sumbangan yang akan membantu pembentukan masyarakat
madani.
Selain

mempunyai

banyak

fungsi,

pendidikan

juga

mempunyai berbagai masalah rumit yang belum terselesaikan hingga


saat ini. Dalam surat kabar elektronik Kompas.com, Anies Baswedan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan kondisi pendidikan
Indonesia saat ini sedang dalam keadaan gawat darurat. Dari data
yang dimiliki Kemendikbud, pendidikan di Indonesia dalam keadaan
yang sangat buruk dan fakta ini adalah sebuah kegentingan yang
harus segera diubah.
Berdasarkan Kompas.com, data mengenai hasil buruk yang
dicapai pendidikan dalam beberapa tahun terakhir sebagai berikut.

Sebanyak 75% sekolah di Indonesia belum memenuhi

standar layanan pendidikan.


Nilai rata-rata kompetensi tenaga pendidik hanya 44,5.
Padahal nilai standar kompetensi tenaga pendidik

adalah 75.
Menurut lembaga The Learning Curve, Indonesia
menempati peringkat ke-40 dari 40 negara, pada

pemetaan kualitas pendidikan.


Indonesia menempati peringkat ke- 49 dari 50 negara,

dalam pemetaan pendidikan tinggi.


Menurut Progamme for Internasional
Assessment

(PISA),

pendidikan

di

Study

Indonesia

menempati peringkat ke-64 dari 65 negara.


Indonesia menempati peringkat ke 103 tingkat dunia
dalam kasus suap menyuap dan pungutan liar di dunia

pendidikan.
Kekerasan yang melibatkan siswa dan luar sekolah
semakin marak terjadi.
8

Data tersebut merupakan cerminan kinerja buruk pemerintah


yang harus ditangani secara serius. Selain itu, proses pendidikan sama
sekali tidak memberikan hasil sebagaimana yang direncanakan. Proses
pembelajaran yang dilakukan selama setahun ternyata membuktikan
kondisi anak didik yang tidak memiliki perubahan, bahkan semakin
buruk. Hal inilah yang semestinya menjadi pekerjaan rumah bagi para
tenaga pendidik di Indonesia. Semua pegiat pendidikan harus saling
bekerjasama untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia.
Masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia
antara lain:
1. Kurikulum Pendidikan
Salah satu persoalan yang sampai saat ini belum
menemukan pemecahan masalah adalah otonomi kurikulum
pendidikan. Kurikulum pendidikan yang sudah di otonomi
seharusnya memberi ruang lebar pihak sekolah dan pemerintah
daerah untuk menentukan dan menyelenggarakan kurikulum di
daerahnya masing-masing. Sayangnya, pemerintah masih turut ikut
campur (interverensi) dalam penentuan kurikulum pendidikan di
suatu daerah, hal ini biasa disebut desentralisasi.
2. Pemerataan Tenaga Kependidikan
Guru sebagai tenaga pendidik merupakan pemimpin
pendidikan. Kinerja guru merupakan faktor yang sangat penting
untuk menentukan mutu pembelajaran dan pendidikan, karena guru
merupakan pihak yang paling banyak menangani siswa dalam
proses pembelajaran. Sayangnya, pemerataan tenaga pendidik
masih sangat kurang di daerah Indonesia. Hal ini dapat dilihat di
daerah-daerah terpencil di Indonesia. Kemarin, 24 Oktober 2015
pada saat saya mengikuti seminar nasional matematika yang
diadakan di Universitas Negeri Malang, ada salah satu tenaga
pendidik berasal dari daerah Kalimantan yang mengatakan jika di
daerahnya masih kekurangan tenaga pendidik. Beliau adalah salah
satu tim pembimbing olimpiade SD, SMP, dan SMA. Dalam tanya
jawab beliau berkata Jujur, saya merasa kewalahan merangkap

menjadi pembimbing olimpiade SD, SMP, SMA padahal saya


sendiri masih merasa kurang mampu. Kami sudah berusaha
mencari tenaga pendidik dari luar. Tapi kenyatannya, tetap saja
kami tidak bisa menemukan tenaga pendidik yang memadai.
Masalah tersebut perlu diselesaikan jika bangsa Indonesia ingin
menemukan perubahan kualitas pendidikan di Indonesia.
3. Managemen Pendidikan
Syarief (2002:55) megatakan bahwa,
berkaitan dengan managemen yang baik pada tataran
mikro maupun makro, rendahnya efisiensi internal
dan efisiensi eksternal masih merupakan masalah
yang dihadapi. Rendahnya efisiensi internal antara
lain ditunjukkan dengan banyaknya peserta didik
yang putus sekolah, mengulang kelas, dan lamanya
masa studi yang melampaui masa standar yang
ditetapkan. Makin rendah efisiensi internal, makin
besar sumber daya (resources) yang dikeluarkan
untuk

menyelenggarakan

pendidikan

sehingga

terjadi kemubadziran dan pemborosan sumber daya


baik dana maupun tenaga.
Rendahnya
efisiensi

eksternal

sistem

pendidikan atau yang sering kita sebut dengan


relevansi pendidikan ditunjukkan dengan kurangnya
keterkaitan antara dunia pendidikan dengan dunia
usaha atau kehidupan nyata di lapangan. Rendahnya
efisiensi eksternal ini sering kali dipersalahkan
sebagai penyebab terjadinya pengangguran tenaga
terdidik yang dewasa ini cenderung meningkat
jumlahnya dalam kondisi kritis yang berlarut-larut
dan

memporakporandakan

kehidupan

ekonomi

maupun sosial Indonesia.


4. Biaya Pendidikan

10

Proses kegiatan belajar mengajar dalam dunia pendidikan


tidak lepas dari faktor pembiayaan. Hal ini karena di dalam
pelaksanaannya, ada banyak hal uyang harus dilakukan, disiapkan,
dan selanjutnya diadakan agar proses berjalan dengan lancar.
Berbagai hal harus disiapkan semua pihak, khususnya dalam
pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran
sehingga dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Akhirnya, hanya anak
orang-orang berkantong tebal saja yang bisa menikmati dunia
pendidikan. Sementara, kelompok masyarakat kelas menengah ke
bawah yang hidup di garis kemiskinan dengan sendirinya akan
terjauhkan dari rasanya mengenyam bangku pendidikan. Kondisi
ini mengisyarakatkan bahwa orang-orang dari kelompok ekonomi
rendah tidak diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di
bangku sekolah.
Banyak orangtua tidak dapat menyekolahkan anaknya
dikarenakan kondisi ekonomi mereka di bawah garis kemisikinan.
Banyak anak bangsa yang tidak bisa merasakan pendidikan.
Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Namun, nyatanya
banyak masyarakat yang haknya masih belum bisa terpenuhi.
Sampai saat ini, peluang terbesar seseorang dapat mengenyam
bangku pendidikan jika mereka kaya atau pintar. Sedangkan, anakanak terlantar yang

sangat menginginkan pendidikan terlihat

sangat mustahil dapat mengakses pendidikan.


Cukup banyak anak-anak dari keluarga miskin yang
terpaksa harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya.
Jangankan untuk sekolah, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja
mereka kesulitan. Oleh sebab itu, mereka sangat mengharapkap
kebijakan pemerintah dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mereka
menggantungkan harapan yang besar agar pemerintah dapat
memberikan pembiayaan bagi proses pendidikan yang ditempuh
oleh anak bangsa.
2.4 Pemecahan Masalah

11

Setelah kita membahas berbagai macam permasalahan


pendidikan di Indonesia. Selanjutnya, kita akan membahas tentang
pemecahan masalah pendiddikan di Indonesia.
1. Kurikulum Pendidikan yang Mencerdaskan
Agar peserta didik dapat merasakan kenyamanan,
kebebasan, dan tidak dibatasi oleh sebuah dominasi pendidikan
yang sentralis, maka kurikulum yang harus dilaksanakan adalah
kurikulum yang memberikan kebebasan kepada anak didik
untuk mengaktualisasi potensi dan bakat yang dimiliki.
Menurut Yamin (2009:244) kurikulum yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku
seragam menuju kurikulum yang filosofis yang
lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap
jenjang penddidikan dan unit penidikan. Artinya,
penekanan

pada

kemampuan

kemanusiaan

sebagai

individu

upaya
maupun

pengembangan
anak-anak
sebagai

didik
anggota

masyarakat, bangsa, dan dunia harus diutamakan


implementasinya.
2. Teori kurikulum tentang konten (isi) harus
ddigeser dari teori yang dimaknai sebagai aspek
substansif yang mengandung fakta, teori, dan
generalisasi

menuju

pada

pengertian

yang

mencakup nilai, moral, prosedur, proses, dan


keterampilan yang harus dimiliki anak didik.
3. Teori belajar yang digunakan dalam lingkungan
masa depan yang memerhatikan keragaman
sosial, budaya, ekonomi, dan politik tidak lagi
hanya mendasarkan diri pada teori psikologi
belajar

yang

bersifat

individdualistik

dan

menempatkan anak didik dalam suatu kondisi


value free (bebas nilai), tetapi harus pula
didasarkan pada teori belajar yang menempatkan

12

anak didik sebagai makhluk sosial, budaya,


politik

dan

hidup

sebagai

anggota

aktif

masyarakat, bangsa, dan dunia,


4. Proses belajar yang dikembangkan untuk anak
didik juga harus berdasarkan pada proses yang
mempunyai tingkat isomorfisme tinggi dengan
kenyataan sosial. Dengan kata lain, belajar
kelompok secara kompetitif dalam suasana positif
harus dihidupkan.
5. Evaluasi yang digunakan

harus

mencakup

keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian


anak didik dan sesuai dengan tujuan dan konten
yang

dikembangkan.

Alat

evaluasi

yang

digunakan harus beragam dan sebangun dengan


sifat

tujuan

dikumpulkan

dan
dengan

informasi

yang

menerapkan

ingin

penilaian

berbasis kelas (PBK) dengan berbagaai ragam


cara,

seperti

wawancara,

portofolio,
performance,

catatan,

observasi,

test, proyek,

dan

produk.
2. Peningkatan Kemampuan Ekonomi Masyarakat
Salah satu cara untuk dapat merasakan proses penddidikan
adalah dengan meningkatkan ekonomi masyarakat. Karena, untuk
mengikuti proses pembelajaran diperlukan dana yang tidak sedikit.
Oleh karena itu, jika tingkat perekonomian masyarakat masih rendah
mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk mengikuti proses
pendidikan. Untuk dapat meningkatkan perekonomian masyarakaat
kelas menengah ke bawah, perlu diadakan program-program efektif
yang memberikan kegiatan produktif.

Program-program ini

diharapkan dapat memberikan pendapatan yang cukup untuk


kebutuhan sehari-hari termasuk kebutuhan pendidikan.
Selain

itu,

menurut

Suryanto

(2002:119)

dapat

direkomendasikan beberapa kebijakan agar format pendidikan

13

nasional dapat berfungsi dengan baik untuk memperbaiki kualitas


sumber daya manusia bangsa Indonesia. Rekomendasi itu antara lain
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pendidikan nasional harus memiliki visi yang berorientasi
pada demokratisasi bangsa.
2. Pendidikan nasional harusnya mempunyai misi untuk
menciptakan partisipasi masyarakat secara menyeluruh.
3. Proses pendidikan harusnya memberikan kesempatan pada
peserta didik untuk melakukan pengembanhan potensi dan
kreativitasnya.
4. Pendidikan nasional pada jenjang pendidikan menengah dan
pendiddikan

tinggi

hendaknya

membuka

kemungkinan

terjadinya pengembangan individu secara vertikal yang


mengacu struktur keilmuan dan horizontal yang mengacu
keterkaitan dan relevansi bidang keilmuan.
5. Pendidikan tinggi hendaknya tidak hanya menyiapkan hal-hal
yang berhubungan dengan tenaga kerja, tetapi juga harus
mengembangkan

dan

memperkuat

kemampuan

dasar

mahasiswa.
6. Pendidikan tinggi hendaknya menyelenggarakan prinsip-prinsip
managemen yang fleksibel serta dinamik yang memungkinkan
untuk mengembangkan potensinya dan sesuai dengan tuntutan
eksternal yang sedang dihadapi.
7. Pendidikan nasional seharusnya mendapatkan

dana yang

memadai agar dapat menjalankan program-program yang


bertujuan meningkatkan mutu .
8. Pendidikan dasar dan pendidikan

menengah

perlu

mengembangkan pembelajaran yang sama dan demokratis


9.

sehingga tidak menimbulkan pengelompokan.


Sekolah perlu mengembangkan pendidikan

berbasis

masyarakat dengan memperhatikan prularitas budaya.


10. Untuk menjaga relevansi autcome pendidikan,

perlu

diimplementasikan filsafat rekonstruksionisme dalam berbagai


tingkat kebijakan dan praksis pendidikan agar dapat terhindar
dari penyakit sosial, mental, dll.

14

11. School

based

management

perlu

dikembangkan

untuk

desentralisasi atau devolusi pendidikan.


Sedangkan menurut Suryadi dalam bukunya (2002:310) beberapa
usul kebijakan dapat dikemukakan sebagai berikut ini.
1. Perluasan

kesempatan

belajar

jenjang

pendidikan

menengah tetap dipertahankan dengan laju pertumbuhan


yang tetap sesuai dengan keadaan sekarang. ... misalnya
dengan menyebarluaskan pemahaman bahwa lulusan
SMK juga dapat melanjutkan pendidikan.
2. Orientasi pendidikan pada jenjang pendidikan menengah
sebaiknya diarahkan ke peningkatan kemandirian dalam
pekerjaan,

...

berdasarkan

hal

tersebut,

program

pendidikan menengah kejuruan diarahkan ke pendidikan


kejuruan dasar agar siap dikembangkan kembali ke dalam
pekerjaan.
3. Untuk mengurangi
dilakukan

pengaruh

pengaturan

yang

kredesialisme,
menetapkan

perlu
bahwa

kesempatan kerja, khususnya sektor formal, tidak dapat


diperoleh secara langsung hanya dengan memiliki ijazah
sekolah menengah. ... ijazah sekolah menengah sebaiknya
dijadikan

sebagai

persyaratan

minimal

untuk

mendapatkan keahlian khusus melalui penddidikan luar


sekolah agar memperoleh sertifikat bekerja.
4. Perlu dikembangkan jasa masyarakat atau lembaga
swasta untuk menyelenggarakan pusat-pusat pelatihan
dalam rangka memberikan orientasi pekerjaan kepada
lulusan pendidikan menengah atau sarjana. ... .
5. Orientasi pendidikan tinggi yang cenderung mengarah ke
perkembangan pendidikan akademis yang lebih cepat
sebaiknya dicegah. ... . Untuk itu, beberapa usulan
kebijakan berikut ini perlu dipertimbangkan.

15

a. Memberikan keleluasaan kepada swasta dan dunia


usaha untuk menyelenggarakan pendiddikan tinggi
profesional, ... .
b. Perlu disusun program pendidikan tingi profesional
yang berorientasi pada kebutuhan lapangan kerja
daerah akan tenaga kerja profesional yang mampu
menciptakan kesemppatan kerja di daerah, baik pada
lapangan kerja pedesaan maupun perkotaan (sektor
modern).
c. Perlu adanya pengetatan izin operasi pendidikan tingi
swasta yang berorientasi akademis sehingga programprogram pendidikan tinggi akademis lebih banyak
yang dilaksanakan oleh pihak pemerintah.
3.

Penutup
3.1 Kesimpulan
Pendidikan merupakan pondasi utama untuk membangun suatu bangsa dan
salah satu wahana pembentuk karakter bangsa. Pendidikan adalah media
mencerdaskan kehidupan bangsa an membawa bangsa Indonesia pada era
pencerahan. Pendidikan bertujuan untuk membangun tatanan bangsa yang
berbalut dengan nilai-nilai kepintaran, kepekaan, dan kepedulian terhadap
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan merupakan langkah awal
mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan masalah lain yang sedang dialami
bangsa Indonesia saat ini.
Banyak masalah pendidikan yang masih belum terselesaikan, diantaranya
masalah kurikulum pendidikan, managemen pendidikan, pemerataan tenaga
kependidikan, dan biaya pendidikan. Tentunya untuk mengatasi masalah tersebut
perlu adanya kerjasama antara pemerintah, tenaga pendidik, masyarakat, serta
para siswa. Jika semua kalangan bekerjasama, maka permasalahan yang sedang
dihadapi dunia pendidikan akan terselesaikan, dan Indonesia akan bisa bersaing
dengan negara lain di dunia, karena suatu negara yang dapat bersaing adalah
negara yang mempunyai kualitas pendidikan yang kuat.
DAFTAR RUJUKAN

16

.
Belarminus, R. 2014. Anies Baswedan Sebut Pendidikan Indonesia Gawat
Darurat, (Online),
(http://edukasi.kompas.com/read/2014/12/01/13455441/anies.baswedan.sebut
.pendidikan.indonesia.gawat.darurat), diakses 15 Oktober 2015.
Feisal, J.A. 2002. Dalam Syarief, Ikhwanudin dan Dodo Murtadlo.
(Ed),Pendidikan untuk Masyarakat Baru: 70 Tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar,
M.Sc.Ed (hlm. 124-133). Jakarta: Gramedia.
Hamijoyo & Santoso. 2002. Dalam Syarief, Ikhwanudin dan Dodo Murtadlo.
(Ed),Pendidikan untuk Masyarakat Baru: 70 Tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar,
M.Sc.Ed (hlm. 295-309). Jakarta: Gramedia.
Nasution. 2001. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Santoso, S.I. 1987. Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa. Jakarta: Gunung
Agung.
Saroni, M. 2010. Orang Miskin Harus Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Soedijarto. 1992. Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu.
Jakarta: Balai Pustaka.
Suharsaputra, U. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: Refika Aditama.
Suryadi, A. 2002. Pendidikan, Investasi SDM, dan Pembangunan: Isu, Teori, dan
Aplikasi. Jakarta: Balai Pustaka.
Suryohadiprojo, S. 2002. Dalam Syarief, Ikhwanudin dan Dodo Murtadlo.
(Ed),Pendidikan untuk Masyarakat Baru: 70 Tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar,
M.Sc.Ed (hlm. 165-184). Jakarta: Gramedia.
Sutjipto. 2002. Suryohadiprojo, Sayidiman. 2002. Dalam Syarief, Ikhwanudin dan
Dodo Murtadlo.(Ed),Pendidikan untuk Masyarakat Baru: 70 Tahun Prof. Dr.
H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed (hlm. 194-212). Jakarta: Gramedia.

17

Syarief,

H.

2002.

Dalam

Syarief,

Ikhwanudin

dan

Dodo

Murtadlo.

(Ed),Pendidikan untuk Masyarakat Baru: 70 Tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar,


M.Sc.Ed (hlm. 46-72). Jakarta: Gramedia.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Badan Pemeriksaan Keuangan
Republik Indonesia. (Online), (http://www.jdih.bpk.go.id), diakses 14
Oktober 2015.
Yamin, M. 2009. Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire
dan Ki Hajar Dewantara. JogJakarta: Ar-Ruzz Media.
Zamroni. 2002. Dalam Syarief, Ikhwanudin dan Dodo Murtadlo.(Ed),Pendidikan
untuk Masyarakat Baru: 70 Tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed (hlm. 3345). Jakarta: Gramedia.

18