0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan9 halaman

Karya-Karya Georg Simmel

1. Georg Simmel lahir di Berlin pada 1858 dan mengajar di Universitas Berlin sampai 1914, terkenal dengan karya The Metropolis and Mental Life dan The Philosophy of Money. 2. Simmel memusatkan perhatian pada interaksi sosial dan membedakan tiga level realitas sosial, serta menganalisis bentuk hubungan antarpribadi seperti superordinasi dan subordinasi. 3. Salah satu fokus Simmel adalah kebudayaan obyektif yang tumbuh melampaui kendali individu, sepert

Diunggah oleh

AdamRitaBitor
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan9 halaman

Karya-Karya Georg Simmel

1. Georg Simmel lahir di Berlin pada 1858 dan mengajar di Universitas Berlin sampai 1914, terkenal dengan karya The Metropolis and Mental Life dan The Philosophy of Money. 2. Simmel memusatkan perhatian pada interaksi sosial dan membedakan tiga level realitas sosial, serta menganalisis bentuk hubungan antarpribadi seperti superordinasi dan subordinasi. 3. Salah satu fokus Simmel adalah kebudayaan obyektif yang tumbuh melampaui kendali individu, sepert

Diunggah oleh

AdamRitaBitor
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA-KARYA GEORG SIMMEL

Georg Simmel lahir di pusat kota Berlin pada tanggal 1 Maret 1858. Ia
memperoleh gelar doctor dibidang filsafat pada 1881, dan mengajar di Universitas
Berlin sampai tahun 1914. Simmel pernah bekerja sebagai dosen yang tidak digaji
dan hidupnya tergantung pada bayaran mahasiswa.
Karya Simmel dalam bentuk artikel adalah The Metropolis and Mental
Life, dan bukunya The Philosophy of Money. Simmel terkenal dikalangan
akademisi Jerman dan memiliki banyak pengikut. Pada 1900 akhirnya, Simmel
memperoleh pengakuan penuh, gelar terhormat dari Universitas Berlin yang tidak
memberikan status penuh. Ia mencoba meraih posisi akademis tapi gagal karena
tidak memperoleh dukungan dari ilmuwan seperti Weber. Pada 1914 Simmel
bekerja di Universitas Stasbourg. Tidak lama setelah Simmel kerja di Stasbourg
perang dunia 1 meletus. Universitas tersebut dijadikan rumah sakit, mahasiswanya
ikut berperang dan Simmel tetap menjadi sosok marginal dikalangan akademisi
sampai ia wafat pada tahun 1918.
Simmel tidak pernah menjalani proses akademik namun ia mampu
menarik banyak pengikut akademisi masa ini karena ketenarannya sebagai
ilmuwan berkembang pesat setelah tahun berselang.
Perhatian Simmel terhadap teori konflik makro membuatnya dikenal
sebagai sosiolog mikro. Simmel memiliki teori realitas sosial yang terbagi dalam
tiga level. Pertama asumsi mikro tentang komponen-komponen psikologi
kehidupan sosial. Kedua, pada skala yang lebih luas, minatnya pada komponenkomponen dalam hubungan antarpribadi. Ketiga yang paling makro, karyanya
tentang struktur dan perubahan dalam semangat sosial pada zamannya.

Tidak hanya berbicara tentang tiga level realitas sosial saja namun Simmel
juga membicarakan tentang teori kemunculan dimana ide yang lebih tinggi
muncul dari ide yang lebih rendah. Simmel juga menulis mengenai tipe-tipe dan
bentuk interaksi yang meliputi subordinasi, superordinasi pertukaran, konflik dan
sosiabiliti.
Pemikiran Dialektis
Pemikiran dialektis Simmel dari kesalingketerkaitan tiga level realitas
sosial mengingatkan kita pada sosiolog Marx yang juga membahas dialektika.
Dialektika itu sendiri merupakan pemahaman suatu bentuk logika bahwa benda,
masyarakat, dll tidak diam, memiliki sebab dan arah, menyatukan fakta dan nilai,
dll.
Adanya kemiripan diantara Simmel dan Marx namun bukan berarti tidak
ada perbedaannya. Perbedaan yang terpenting adalah fakta bahwa masing-masing
memfokuskan perhatiannya pada aspek dunia sosial yang sangat berbeda dan
menawarkan gambaran berbeda tentang masa depan dunia. Simmel memiliki
gambaran berbeda tentang masa depan yang lebih dekat dengan gambaran Weber
tentang kerangkeng besi yang tidak menyediakan celah untuk meloloskan diri
darinya (Ritzer, 175:2010).
Simmel memusatkan pemikirannya tentang relasi, khususnya interaksi. Ia
tidak pernah sepakat dengan dualisme, konflik dan kontradiksi di dunia sosial.
Salah satu bentuk interaksi yang dibicarakan Simmel adalah gaya
(fashion). Gaya adalah bentuk relasi sosial yang menginginkan orang
menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya bersifat dialektis yang
berarti keberhasilan dan persebaran gaya akan berujung pada kegagalan.
Kebudayaan subyektif dan obyektif. Orang dipengaruhi oleh struktur
sosial dan kebudayaan, simmel membedakan kebudayaan menjadi dua, pertama
kebudayaan obyektif merupakan hal yang dihasilkan orang seperti seni, ilmu,
filsafat

sedangkan

kebudayaan

subyektif

merupakan

pemeran

untuk

menghasilkan, menyerap, dan mengendalikan elemen-elemen dari kebudayaan


obyektif.
Daya cipta kehidupan (More life) dan hasil kreasi kehidupan (More
than life) merupakan konsep yang digunakan oleh Simmel. Terjadinya kontradiksi

inheren dan tidak terbantahkan antara more life dan more than life. Kehidupan
sosial menghasilkan dan melepaskan sesuatu yang bukan merupakan kehidupan
namun memiliki penjelasan tersendiri dan mengikuti hukumnya sendiri.
Kehidupan terletak dalam kesatuan dan konflik antar keduanya. Kehidupan
memiliki dasar lalu prosesnya adalah more life dan more than life.
Kesadaran Individu
Simmel memusatkan perhatiannya pada bentuk interaksi sosial dan tidak
terlalu memerhatikan masalah individu. Simmel berpikiran bahwa setiap orang
harus memiliki kesadaran kreatif. Baginya basis kehidupan sosial adalah individu
dan kelompok yang sadar dan berinteraksi satu sama lain untuk berbagai tujuan,
motif dan kepentingan.
Kesadaran memiliki peran lain dalam karya Simmel. Sebagai contoh,
meskipun Simmel percaya bahwa struktur sosial dan budaya memiliki hidupnya
sendiri. Ia sadar setiap orang harus mengkonsepkan atau merefleksikan strukturstruktur tersebut agar bisa memiliki pengaruh pada dirinya.
Interaksi Sosial
Salah satu minat Utama Simmel adalah interaksi antar pemeran sadar dan
tujuannya adalah melihat besarnya cakupan interaksi yang mungkin sepele namun
pada saat lain sangat penting. Menurut Simmel interaksi timbul karena
kepentingan-kepentingan dan dorongan tertentu (Soerjono Soekanto, 405:2003)

Interaksi: Bentuk Tipe


Bentuk berbeda dengan isi. Seperti perhatian Simmel yang membicarakan
mengenai bentuk-bentuk interaksi bukan isi interaksi. Dunia nyata tersusun dari
peristiwa, tindakan, interaksi untuk mengungkap realitas atau isi lalu orang
menetapkan sejumlah pola/bentuk-bentuk. Seperti pandangan Simmel tentang
tugas sosiolog yaitu, menerapkan bentuk yang jumlahnya terbatas pada realitas
sosial agar interaksi dapat dianalisa dengan baik.
Minat Simmel pada bentuk interaksi menuai banyak kritikan. Ia dituduh
memaksa suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan menghasilkan studi yang

tidak saling terkait yang akhirnya sama sekali tidak menerapkan tatanan yang
lebih baik pada realitas sosial.

Geometri Sosial
Simmel berupaya mengembangkan geometri realitas sosial pada
sosiologi formalnya. Ada dua yang terkandung dalam geometri yang menarik
perhatiannya yaitu, jumlah dan jarak
Jumlah di sini awalnya dari minat Simmel terhadap kualitas interaksi.
Dalam bahasannya kita akan mengenal istilah dyad dan triad yang memiliki
perbedaan. Dyad merupakan kelompok yang terdiri dari dua orang sedangkan
triad merupakan kelompok yang terdiri dari tiga orang. Adanya penambahan
orang ketiga pada kelompok ini menyebabkan perubahan radikal dan fundamental
dan anggota keempat dan seterusnya akan membawa dampak yang sama dari
masuknya orang ketiga.
Dengan masuknya orang ketiga dalam kelompok, peran sosial menjadi
mungkin ada. Misalnya, pihak ketiga menjadi mediator lalu selanjutnya pihak
ketiga dapat memanfaatkan perselisihan yang terjadi antara pihak pertama dan
pihak kedua demi keuntungan sendiri. Anggota ketiga dapat dengan sengaja
mendorong terjadinya konflik untuk menguasai. Oleh karena itu, adanya orang
ketiga ini menyebabkan adanya perubahan yang radikal. Gerakan dyad menuju
triad adalah sesuatu yang esensial bagi berkembangnya struktur sosial yang dapat
dipisahkan dari, dan dominan terhadap imdividu (Ritzer, 181:2010)
Perhatian terhadap jarak muncul diberbagai tempat dalam karya Simmel.
Misalnya dalam The Philosophy of Money yang mana nilai sesuatu ditentukan
oleh jaraknya dari pemeran tersebut. Sebuah barang tidak akan ada nilainya jika
terlalu mudah untuk diraih namun juga sebaliknya. Obyek yang dapat diraih
dengan sungguh-sungguh itulah yang menjadi paling berharga.

Superordinasi dan Subordinasi


Superordinasi dan subordinasi memiliki hubungan timbal balik. Pemimpin
tidak ingin sepenuhnya menginginkan dan mengarahkan tindakan orang lain.
Justru pemimpin member kesempatan kepada yang tersubordinasi agar dapat
berprilaku positif atau negatif. Superordinat sering memperhitungkan kebutuhan
dan keinginan subordinat dengan tujuan untuk mengontrolnya. Simmel

menganggap subordinasi dibawah prinsip obyektif sebagai sesuatu yang paling


menyakitkan, mungkin karena hubungan antarmanusia dan interaksi sosial
tereliminasi.
Struktur Sosial
Simmel tidak banyak membahas tentang struktur masyarakat pada skala
besar karena fokusnya adalah pada pola interaksi. Simmel tidak melihat
masyarakat sebagai suatu benda atau organisme. Ia berpendapat masyarakat
hanyalah nama bagi sejumlah individu yang dihubungkan oleh interaksi
Simmel cenderung menganut pandangan interaksionis tentang masyarakat
yang mana ia melihat masyarakat sebagai struktur yang independen dan memaksa.
Dalam sosiologinya ia memandang masyarakat sebagai bagian dari proses
perkembangan budaya obyektif yang lebih luas yang begitu mengkhawatirkannya.
Kebudayaan Objektif
Salah satu fokus perhatian Simmel adalah sisi kebudayaan realitas sosial
atau yang disebutnya kebudayaan obyektif. Dalam pandangan Simmel, orang
menghasilkan kebudayaan, namun oleh kemampuannya untuk membendakan
realitas sosial, dunia kebudayaan dan realitas sosial kemudian mampu menghidupi
dirinya sendiri. Kebudayaan obyektif tumbuh dan meluas melalui berbagai cara,
antara lain dalam buku (Ritzer, 186:2010) :
a. Ukuran mutlaknya berkembang seiring dengan meningkatnya modernisasi.
b. Jumlah komponen ranah budaya yang berlainan pun tumbuh.
c. Beragam elemen dunia budaya menjadi semakin berkelindan dalam dunia
mandiri yang semakin kuat dan semakin berada diluar kendali aktor.
Buku The Philosophy of Money
Buku The Philosophy of Money merupakan karya terkenal Simmel. Buku
ini menunjukkan bahwa setidaknya Simmel layak mendapatkan pengakuan atas
teori atau karya-karyanya tentang sosiologi mikro. Judul buku yang kelihatannya
memusatkan perhatiannya terhadap uang namun minatnya pada fenomena ini
melekat pada serangkaian teoriitis dan filosofis yang lebih luas. Kita ketahui
Simmel tidak tertarik hanya pada uang semata namun Simmel tertarik pada

dampak yang ditimbulkannya pada fenomena tersebut. Ia juga melihat uang lebih
spesifik lagi kegunaannya. Tidak hanya untuk jual beli saja namun bisa
mengandung makna pertukaran, kepemilikan, pemborosan, keserakahan, sinisme,
kebebasan individu, life style, kebudayaan, nilai kepribadian, dsb. Simmel melihat
uang sebagai komponen kehidupan spesifik yang dapat membantu kita memahami
totalitas hidup.
Meskipun buku Philosophy Of Money memiliki kemiripan subtansif
dengan teori Marxian, pemikiran Simmel jauh lebih dekat dengan pemikiran
Weber dan gagasannya tentang kerangkeng besi sebagai gambaran dunia

modern dan dunia masa depan.


Uang dan Nilai
Menurut Simmel semakin besar kesulitan untuk mendapatkan suatu objek,
semakin besar pula nilainya. Prinsip umumnya adalah bahwa nilai benda berasal
dari kemampuan seseorang untuk menjarakkan dirinya secara tepat terhadap
objek. Kesulitan kita untuk mendapatkannya membuat uang bernilai bagi kita.
Pada saat yang sama, saat kita mendapatkan banyak uang kita dapat mengatasi
jarak antar diri kita dengan objek. Dengan demikian uang memiliki fungsi yang
unik, menciptakan jarak antara orang dengan objek, kemudian menjadi sarana

untuk mengatasi jarak tersebut.


Uang, Reifikasi, dan Rasionalisasi
Uang menyediakan sarana yang dapat digunakan untuk mendapatkan
kehidupan untuk dirinya sendiri yang bersifat eksternal dan memiliki daya paksa
terhadap seorang pemeran. Hal ini bertentangan dengan masyarakat-masyarakat
sebelumnya yang mana barter dan perdagangan tidak mengarah pada dunia yang
tereifikasi yang merupakan produk khas ekonomi uang. Misalnya, uang memiliki
kegunaan atau manfaat jangka panjang, dengan usaha berskala besar dan kredit
jangka panjang. Bagi Simmel reifikasi di sini hanya bagian dari proses yang lebih

umum, yaitu simbolisasi pikiran dalam objek.


Efek Negatif
Uang yang dijadikan tujuan akhir bagi masyarakat menghasilkan sejumlah
efek negatif pada individu. Misalnya, sinisme dan sikap acuh. Meningkatnya
semua hal yang menjadi alat tukar umum mengarah pada sikap sinis bahwa semua
hal memiliki harga. Bahwa apapun dapat dijual dan dibeli. Sedangkan sikap acuh

yang terjadi pada orang sesungguhnya orang tersebut kehilangan kemampuan


untuk membedakan nilai diantara objek yang diberi.
Pandangan Simmel yang paling menarik terletak pada pemikirannya
tentang dampak uang pada gaya hidup orang. Misalnya, masyarakat yang
didominasi oleh ekonomi uang cenderung menjadikan semua hal menjadi tali
penghubung yang dapat dipahami secara intelektual bukan emosional.

Tragedi Kebudayaan
Meningkatnya spesialisasi kebudayaan mengarah kepada perbaikan
kemampuan untuk menciptakan beragam budaya namun, pada saat yang sama,
individu yang berspesialisasi tersebut kehilangan budaya total dan kehilangan cara
untuk mengendalikannya. Ketika kebudayaan objektif muncul dan berkembang,
kebudayaan individu sirna. Misalnya, ketika bahasa menjadi suatu kebudayaan
yang berkembang pesat secara totalitas namun kemampuan linguistik individu
justru merosot. Selain itu dengan semakin berkembangnya dunia teknologi dan
permesinan, kemampuan dan keterampilan individu sebagai pekerja merosot
dengan dramatis. Meskipun adanya upaya peningkatan dalam dunia intelektual,
nyatanya semakin sedikit individu yang mendapatkan label intelektual.
Tingginya peningkatan budaya modern menjadi salah satu contoh dari
besarnya upaya peningkatan kebudayaan obyektif yang membawa efek dramatis
bagi kehidupan. Bentuk intelektual yang dulu terbatas hanya pada percakapan
tertentu saja atau pada buku-buku yang langka sekarang sepanjang waktu tersedia
buku dan majalah.
Di sini juga terdapat elemen positif. Misalnya, orang jadi mendapatkan
kebebasan karena tidak lagi dibatasi oleh hidup yang alami. Dan pada akhirnya,
uang menjadi symbol dan factor utama dalam perkembangan mode eksisitensi
relativistic. Dengan kata lain, uang memungkinkan kita merelatifkan segalanya.
Kerahasiaan: Studi kasus sosiologi Simmel
Pada bagian penutup ini kembali lagi pada tipe keilmuan Simmelian yang
menjadi cirri khasnya. Karyanya yang membahas interaksi (kerahasiaan).
Kerahasiaan di sini merupakan kondisi ketika orang menyembunyikan sesuatu
dan orang lain berusaha mengungkap apa yang disembunyikan orang tersebut.
Simmel yang berangkat dari fakta dasar bahwa orang pasti mengetahui
beberapa hal tentang orang lain agar bisa berinteraksi dengannya. Misalnya, kita

pasti tahu dengan siapa kita berhubungan, mungkin kita banyak mengetahui
tentang orang lain namun kita tidak pernah mengenal mereka seutuhnya jadi kita
tidak tahu apa yang dipikirkan dan bagaimana situasi orang tersebut.
Di seluruh aspek kehidupan kita tidak hanya memperoleh kebenaran, namun
juga kebodohan dan kekeliruan. Namun, didalam interaksi dengan orang lain
inilah kebodohan dan kekeliruan memperoleh karakter khasnya. Menurut Simmel
kerahasiaan adalah bagian integral dari semua relasi sosial, meskipun suatu
hubungan dapat rusak jika rahasia diketahui oleh irang-orang yang tidak
diberitahu tentang rahasia tersebut. Namun, sebagaimana terjadi pada kasus
individu, rahasia dalam masyarakat tidak bisa disembunyikan selamanya.

Kerahasiaan dan Relasi Sosial


Simmel menelaah berbagai bentuk relasi sosial dari sudut pandang
pengetahuan timbal balik dan kerahasiaan. Meningkatnya objektivitas kebudayaan
membawa serta kelompok kepentingan yang semakin terbatas dan jenis hubungan
yang terkait dengannya. Bentuk relasi sosial misalnya, perkenalan. Kita memiliki
kenalan dan mengenal kenalan kita tersebut namun kita tidak mempunyai
pengetahuan yang cukup intim tentang mereka. Biasanya orang hanya mengenal
orang lain dari tampilan luarnya dan berdasarkan apa yang ditunjukkan kepada
kita. Jadi kerahasiaan lebih banyak terjadi antarkenalan daripada antar teman
akrab.

Pemikiran lain tentang kerahasiaan


Rahasia memiliki fungsi menciptakan perasaan satu atau perasaan yang
sama yang begitu kuat antarmereka yang mengetahui rahasia tersebut apalagi jika
dimiliki oleh sejumlah orang. Interaksi manusia secara umum dibangun oleh
kerahasiaan dan logika lawannya, yaitu pengkhianatan (Ritzer, 199:2010).
Pengkhianatan bisa berasal dari dua sumber, secara eksternal (orang lain dapat
menemukan rahasia kita) dan secara internal (kemungkinan kita mengungkapkan
rahasia kepada orang lain).
Simmel melihat bahwa di dunia oder, urusan-urusan public, seperti yang
terkait dalam politik, cenderung kehilangan kerahasiannya dan inaksesbilitasnya.
Sebaliknya urusan-urusan pribadi jauh lebih rahasia dibandingkan dengan
masyarakat pramodern. Jadi, karya Simmel tentang kerahasiaan menunjukkan
bahwa ia memiliki orientasi teoritis yang jauh lebih elegan dan maju daripada

yang biasanya dipersangkakan padanya oleh mereka yang hanya terbiasa dengan
satu pemikiran tentang fenomena level mikro.
Kritik
Telah saya bahas diawal tentang kritik terhadap gagasan Simmel yakni,
bahwa ia memaksa suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan menghasilkan
studi yang tidak saling terkait yang akhirnya sama sekali tidak menerapkan
tatanan yang lebih baik pada realitas sosial. Dan sepertinya ia terlihat agak
bingung ketika melihat struktur sosial, yang di satu sisi hanya sebagai bentuk
interaksi namun di sisi lain, sebagai sesuatu yang memaksa dan terlepas dari
interaksi.
Kritikan yang banyak dikutip tentang Simmel yaitu, karakter karyakaryanya yang terpisah-pisah. Memang benar, kita dapat lihat fokusan perhatian
Simmel hanya pada bentuk dan tipe interaksi.

DAFTAR PUSTAKA
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi. Kreasi Wacana Offset.
Bantul
Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Cetakan ke-36. PT RajaGrafindo
Persada. Jakarta.

Common questions

Didukung oleh AI

Simmel uses secrecy to explain the complexity and richness of social relationships. Secrecy serves as a foundational element that allows individuals to maintain privacy and personal boundaries while engaging in social interactions. It generates allure and interest, encouraging interactions driven by the desire to unveil the unknown. Yet, it also creates and reinforces social connections through shared confidences or collective exclusion of outsiders. Secrecy represents a dual force in social life, fostering intimate bonds among those privy to particular knowledge while also amplifying power dynamics through selective disclosure .

Simmel's exploration reflects broader sociological concerns by illustrating how modernity, through processes like urbanization and monetization, impacts individual identity by prioritizing intellectual over emotional connections. Modern life, with its impersonal and calculative interactions, leads to fragmentation and anonymity, heightening the struggle for maintaining personal identity amid overwhelming social forces. This reflects a broader sociological concern about the alienation and loss of individuality in an increasingly rationalized and mechanized society, where traditional bonds are replaced by superficial engagements .

Simmel's examination reveals power dynamics as fluid and reciprocal, where superordination and subordination exist in interdependent relationships. Leaders (superordinate) exercise control, yet they are influenced by the needs and reactions of their subordinates. This dynamic allows for nuanced power exchanges, where subordinates have agency to impact leadership actions. Simmel's insights emphasize that societal power is not linear, but is a reciprocal negotiation between multiple actors, each with varying capacities to influence and transform the relational context .

Simmel's concepts of dyad and triad highlight the transformation and complexity in social structures. A dyad, comprising only two individuals, is fundamentally unstable and very personalized, whereas the introduction of a third party creates a triad, which radically alters the social dynamics by introducing a range of relational possibilities, such as mediation or conflict, and shifting interpersonal power dynamics. This transition marks the genesis of complex social systems by creating structures that are more permanent and less reliant on direct individual interactions, highlighting the emerging dominance of social structures over individuals .

Simmel challenges the traditional view by conceptualizing society not as a fixed entity or organism but as a series of ongoing interactions among individuals. By focusing on the forms rather than the content of social interactions, Simmel suggests that social structures are not static but are continuously formed and reformed through human relationships. This perspective diminishes the idea of society as a monolithic structure, highlighting its dynamic and fluid nature, and emphasizing how social order emerges from micro-level interactions rather than imposing itself as an existing framework .

Simmel perceives money as both a medium for independence and a factor in creating social distance. It offers individual freedom by overcoming personal constraints, enabling choices and facilitating interactions beyond localized social ties. However, it simultaneously objectifies relationships, creating an impersonal web of economic transactions that might alienate individuals from authentic social experiences. In modern society, the reliance on money enhances individual freedom by dissolving traditional social bonds and hierarchies, allowing for a relative approach to existence where individuals navigate through various lifestyles intellectually rather than emotionally .

Simmel's dialectical thinking, which involves understanding social entities as interconnected and in constant flux, is significant for analyzing social change, as it considers the dynamic interactions between opposing forces. By recognizing contradictions as integral to progress, Simmel explains how stability and conflict coexist within social structures, facilitating evolution and adaptation. This perspective advances the understanding that change is not linear but results from resolving tensions and contradictions inherent within the social fabric, thus providing a framework for comprehending complex social phenomena .

Simmel's concepts of "more life" and "more than life" illustrate the inherent contradictions by depicting the tension between the vitality of life processes (more life) and the cultural artifacts or results of life (more than life). The contradiction arises because while life is a continuous process of creativity and development, the cultural products it generates tend to become autonomous, imposing constraints on life itself. This duality showcases how life generates something beyond itself that follows its own logic, resulting in conflicts and resolutions that are central to the dynamism of social life .

Simmel distinguishes subjective culture as the individual's capacity to produce, assimilate, and control cultural elements, while objective culture comprises the tangible products of human activity like art, science, and philosophy. The growth of objective culture, driven by modernity, often surpasses subjective culture, leading to a scenario where cultural structures gain autonomy and become overpowering, limiting individual creativity and autonomy. As objective culture expands, individuals face challenges in keeping pace with cultural advancements, resulting in a 'tragedy of culture' where personal development is overshadowed by the overwhelming growth of cultural objects .

Simmel’s work on money illustrates the transformation of societal values by demonstrating how money, as a universal metric, alters perceptions, prioritizing quantifiable economic gains over qualitative life experiences. In a capitalist economy, money’s omnipresence facilitates a reification of relationships and cultural pursuits, where intrinsic values yield to market-driven pragmatism. This shift fosters a commodification of social interactions, breeding cynicism. Values of community and reciprocity are overshadowed by transactional attitudes, highlighting how economic rationalization dictates social organization and moral framework .

Anda mungkin juga menyukai