Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Ekstasi
Ekstasi adalah nama umum bagi salah satu jenis psikotropika dengan nama

kimia 3,4-methylenedioxy-methamphetamine (MDMA). Ekstasi pertama kali


ditemukan oleh perusahan farmasi Merck pada tahun 1912 dengan tujuan awal
sebagai zat yang dapat digunakan untuk menghentikan pendarahan. Ekstasi
dipatenkan pada tahunn 1914 dengan tujuan utama sebagai penekan nafsu makan,
namun pengunaanya secara luas terbatas mengingat banyaknya efek samping yang
dilaporkan. Tahun 1980 penyalahgunaan ekstasi meningkat. Tahun 1985 di
Amerika Serikat penggunaan ekstasi di ilegalkan, hal ini dikarenakan adanya
kemiripan struktur dengan amfetamin yang merupakan halusionogen yang
dilarang peredaran dan pengunaanya. Di negara Indonesia ekstasi termasuk dalam
Psikotropika golongan I.1
Ekstasi merupakan analogis dari amfetamin sehingga tidak saja bersifat
stimulantia tapi memiliki juga sifat halusinogen, yaitu menimbulkan khayalan khayalan yang menyenangkan.2
2.2

Farmakokinetik dan Farmakodinamik Ekstasi

2.2.1. Farmakokinetik Ekstasi


Ekstasi berbentuk tablet atau kapsul, penggunaannya melalui oral dan
tempat absorbsi utamanya di traktus gastrointestinal. Penggunaan untuk efek
rekreasi biasanya 100mg, mulai kerja obat dalam 30 menit setelah pemakaian
dan puncak konsentrasi dalam serum terjadi setelah satu sampai tiga jam. Waktu
paruh ekstasi kira-kira 16 jam hingga 31 jam. 3
Ekstasi mengalami metabolisme di hepar dibantu oleh sitokrom P450
dengan dua jalur, yaitu jalur

N-demethylation dan O-demethylation. Pada

metabolisme ekstasi melalui jalur minor N-demethylation, akan menghasilkan 3,4


methylenedioxyamphetamine (MDA), menurut hasil penelitian MDA memiliki
farmakodinamik dan toksikasi yang sama seperti MDMA, bahkan lebih kuat
efeknya

terhadap

sistem

kardiovaskular
4

dan

menyebabkan

hipertermia.

Metabolisme MDMA melalui jalur mayor O-demethylation menghasilkan 3,4


dihydroxymethamphetamin

(HHMA).

Hasil

metabolit

MDMA

akan

dikonjugasikan lalu diekskresi melalui urin. 3

Gambar 1. Proses Metabolisme MDMA. 5

2.2.2.

Farmakodinamik Ekstasi
MDMA memiliki kemiripan bentuk dengan tiga neurotransmitter di otak,

yaitu serotonin, dopamin dan norepinefrin. Kemiripan bentuk ini merupakan dasar
mekanisme kerja MDMA Tempat kerja utama MDMA adalah transporter
monoamin

untuk

transporter/NET,

norepinefrin,
serotonin

serotonin

dan

transporter/SERT,

dopamin

dopamin

(Norepinephrin
transporter/DAT).

Transporter monoamin terletak di membran presinaps, berfungsi untuk


menghentikan kerja neurotransmiter yang berlebihan dengan cara re-uptake
neurotrasnmiter. MDMA merupakan inhibitor kuat terhadap re-uptake serotonin,
dopamin dan norepinefrin, selain itu, MDMA dapat memicu pelepasan ketiga
neurotransmiter ke celah sinaps. MDMA menyebabkan peningkatan konsentrasi

serotonin, dopamin dan norpeinefrin di celah sinap dan meningkatkan aktivasi


reseptor post-sinaps. 3
Secara keseluruhan, efek MDMA adalah meningkatkan stimulasi
aderenergik-noradrenergik, serotonergik dan dopaminergik di sistem saraf pusat.
MDMA memiliki afinitas 4 kali lebih kuat terhadap NET dibandingkan dengan
SERT dan DAT. Sehingga, efek MDMA lebih mempengaruhi sistem adrenergiknoradrenergik dibandingkan dopaminergik (Upreti, 2007). Aktivitas susunan saraf
pusat terjadi melalui kedua jaras adrenergik dan dopaminergik dalam otak dan
masing-masing menimbulkan aktivitas lokomotor serta kepribadian stereotopik.
Stimulasi pada pusat motorik di daerah media otak depan (medial forebrain)
menyebabkan peningkatan dari kadar norepinefrin dalam sinaps dan menimbulkan
euforia serta meningkatkan libido. Stimulasi pada ascending reticular activating
system (ARAS) menimbulkan peningkatan aktivitas motorik dan menurunkan
rasa lelah. 3

Gambar 2. Struktur Kimia MDMA, NE, Dopamin, dan Serotonin. 5

Pengguna MDMA menggunakan MDMA untuk rekreasi dengan dosis


tipikal rata-rata 75-100mg. pada penggunaan MDMA secara oral dengan dosis
rekreasi, terdapat dua efek farmakodinamik akut, yaitu efek fisiologi akut dan efek
subjektif akut. Efek subjektif akut yang sering dirasakan oleh pengguna MDMA
adalah emosi berupa euforia, supel, ramah terhadap orang lain dan energik.

keadaan menyenangkan yang terjadi pada efek subjektif akut tersebut dinamakan
entactogen. Perasaan menyenangkan inilah yang menjadi alasan pengguna
untuk menggunakan MDMA. Efek fisiologis utama yang terjadi pada penggunaan
MDMA adalah peningkatan heart rate, peningkatan tekanan darah, midriasis dan
peningkatan suhu tubuh. 3
2.3

Tujuan penggunaan dan cara kerja ekstasi


Ekstasi merupakan derivat amfetamin yang dikenal sebagai 3,4-

methylenedioxymethamphetamine (MDA). Seperti amfetamin yang lain, ekstasi


merangsang pelepasan katekolamin dari presinaps. Ekstasi bersifat selektif
terhadap neuron serotonin yang menyebabkan pelepasan serotonin yang banyak
dan menghambat reuptake serotonin pada presinaps dengan reversal dari fungsi
serotonin transporter (SERT). Maka, lebih banyak serotonin yang berkumpul di
ruang sinaps.4
Peningkatan level serotonin menyebabkan peningkatan rasa senang seperti
empati, euforia, disinhibisi, dan peningkatan perasaan ingin disentuh dan
bersosial.2
Ekstasi mulai menunjukkan reaksinya dalam waktu 20 menit setelah
dikonsumsi, yang menghasilkan rasa gembira secara tiba tiba dan mencapai
puncaknya setelah kurang lebih 1 jam. Hal ini dapat berlangsung hingga 8 jam,
diikuti oleh penurunan yang dapat disertai rasa lelah dan iritasi. 4
2.4

Efek Samping Ekstasi 3


Efek yang dilaporkan pada pengguna ekstasi bervariasi berdasarkan dosis,

frekuensi dan durasi penggunaan. Umumnya, efek yang diinginkan dari


kebanyakan pengguna adalah yang di produksi oleh dosis rendah pada satu waktu.
Hal ini, oleh karena itu baik sekali untuk membagi penggambaran efek yang
terjadi menjadi efek akut dan efek kronik (jangka panjang), dan pada setiap
kategori dijelaskan terpisah antara efek mental dan fisik. Efek kategori ketiga,
terdiri dari toksisitas serius atau fatal yang terlihat dengan penggunaan dalam
dosis tinggi atau pada individu yang sensitif dan akan dijelaskan terpisah.3
1. Efek akut

a. Efek yang dinginkan


Efek yang diinginkan dari penggunaan ekstasi mirip dengan obat lain
yang populer dari kelompok amfetamin. Secara fisik, obat ini dapat
membuat peningkatan bermakna dari kewaspadaan (selalu terjaga),
daya tahan tubuh dan perasaan energi, keinginan seksual, dan
menunda kelelahan dan mengantuk. Efek fisiologi yang menyertai
dijelaskan sebagai perasaan euforia, merasa selalu sejahtera,
ketajaman persepsi sensorik, sosiabilitas yang lebih besar, ekstraversi,
dan peningkatan perasaan dekat kepada orang lain dan toleransi yang
lebih besar pada pandangan dan perasaan mereka.
Efek selanjutnya adalah memberikan peningkatan yang
menyebutkan MDMA mewakili dari kelas-kelas nyata dari ekstasi ini
yaitu empathogen dan enctactogen yang mungkin bisa digunakan
untuk tujuan psikoterapi. Sesuai dengan pengakuan yang dibuat
sebelumnya untuk MDA, LSD, dan halusinogen lain tetapi walaupun
diakui sukses pada percobaan non-controlled trial dengan MDA, tidak
ada keuntungan yang bertahan lama penggunaan yang ditemukan
setelah 10 tahun follow-up pada pasien yang diterapi dengan LSD.
Tidak ada studi pembanding pada pasien yang diterapi dengan ekstasi
dan pada literatur klinis terbaru menunjukkan tidak ada referensi yang
menunjukkan bahwa ekstasi ini bisa digunakan dalam psikoterapi.
b. Efek yang tidak diinginkan
Seperti amfetamin, ekstasi juga mempunyai efek samping pada
banyak fungsi fisik bahkan dengan pemakaian dalam dosis menengah
dan hanya bertujuan untuk rekreasional seperti yang dijelaskan
sebelumnya. Akibat aksi dasar dari amfetamin mencakup peningkatan
keinginan dan kewaspadaan, hal ini juga berhubungan dengan
peningkatan tensi darah, yang bermanifestasi tension otot, rahang
kaku, gigi terkatup rapat, dan gerakan spontan dari kaki. Peningkatan
dari aktivitas motorik, bersama dengan aksi langsung dari obat pada
sistem termoregulasi pada otak, meningkatan temperatur tubuh.
Kekakuan dan nyeri pada punggung bawah dan otot dari anggota

gerak merupakan keluhan yang paling sering selama 2-3 hari pertama
setelah penggunaan ekstasi. Sakit kepala, mual, hilangnya nafsu
makan, penglihatan kabur, mulut kering dan insomnia merupakan
gejala fisik yang dilaporkan selama penggunaan ekstasi dan tidak
lama setelah digunakan. Frekuensi jantung dan tekanan darah juga
selalu meningkat selama penggunaan obat kemudian akan selalu
meningkat lebih dari normal selama beberapa hari.
Efek akut psikologis yang tidak diinginkan biasanya
dilaporkan selama penggunaan obat mirip dengan adanya penggunaan
berlebihan dari obat tersebut. Adanya peningkatan gairah, jika sudah
berlebihan hal ini berubah menjadi hiperaktivitas, ide yang meloncatloncat sehingga menyebabkan ketidakfokusan dari perhatian, dan
insomnia. Keluhan lain yang sering dikeluhkan adalah halusinasi
ringan, depersonalisasi, ansietas, agitasi dan perilaku yang tidak biasa
atau sembrono. Biasanya gejala ini menuju kearah serangan panik,
delirium, atau bahkan episode gejala psikotik yang biasanya tetapi
tidak selalu dapat hilang secara cepat jika penggunaan obat
diberhentikan. Sehari atau dua hari setelah penggunaan obat, keluhan
mental dan mood yang paling sering dikeluhkan adalah susahnya
berkonsentrasi, depresi, ansietas dan kelelahan. Gejala ini sangat
menyerupai dalam miniatur reaksi putus obat setelah mengalami
euforia jangka lama atau gejala manik jangka panjang yang
disebabkan oleh penggunaan ekstasi, kokain, dan obat stimulan
susunan saraf yang lain dalam jumlah besar.
2. Efek kronik atau efek residual
a. Neurotoksisitas serotonin
Sebagian dari beberapa kecil suatu kelompok yang dilaporkan
peningkatan atau resolusi dari emosional masalah sesorang setelah
penggunaan ekstasi pada psikoterapi. Efek jangka panjang hampir
semuanya merupakan efek samping dari penggunaan ekstasi. Efek ini
berasal dari aksi neurotoksik oleh derivat metilendioksi dari
amfetamin.

10

Kemampuan ekstasi untuk meningkatkan konsentrasi dari


seroronin pada sinaps mungkin mendasari produksi dari peningkatan
mood dan gangguan dari fungsi sensoris. Akan tetapi, pada dosis yang
lebih tinggi dari pelepasan serotonin pada sinaps tidak hanya
memberikan gejala psikotik akut tetapi dapat juga menyebabkan
kerusakan sel yang melepas serotonin tersebut.
Kerusakan ini bisa dengan jelas digambarkan pada eksperimen
penggunaan ekstasi dan obat yang berhubungan pada hewan coba.
Penelitian kimiawi dan mikroskopik menunjukkan penurunan jumlah
serotonin pada otak, penurunan ini bisa diidentifikasi dengan neuron
yang mengandung serotonin dan molekul pentransport serotonin, dan
jumlah degenerasi akson serotonergik dan ujung akson pada otak
hewan coba yang diterapi dengan ekstasi. Meskipun ada teori yang
berlawanan pada teori neurotoksisitas dari ekstasi. Hal ini sangat jelas
ditunjukkan berhubungan dengan peningkatan secara masif dari
aktivitas metabolik dan pelepasan neurotransmiter serotonergik dan
kemungkinan juga neuron dopaminergik.
Pada manusia, hanya ada satu penelitian mengenai perubahan
postmortem pada level serotonin dan metabolit utamanya pada otak
pada pengguna ekstasi jangka panjang. Level dari serotonin berkurang
hingga 50-80% pada beberapa regio berbeda di otak, dibandingkan
dengan otak kontrol pada yang bukan pengguna ekstasi, di mana level
dopaminnya tidak terganggu. Akan tetapi, beberapa tipe penelitian
eksperimental pada manusia hidup menunjukkan bukti tidak langsung
adanya neurotoksisitas serotonin seperti pada beberapa penelitian
yang menggunakan seperti tersebut dibawah ini:
Level metabolit serotonin pada cairan

serebrospinal

menunjukkan jumlah pelepasan selama aktivitas neuronal pada

otak
MRI dan proton magnetic resonance spectroscopy dapat
mendukung mengestimasi dari jumlah neuron yang utuh pada
beberapa bagian otak yang berbeda.

11

Senyawa pelabel dengan afinitas yang tinggi dan selektif


terhadap neuron serotonin, menunjukkan reuptake transporter
atau untuk reseptor serotonin postsinaps yang diberikan kepada
seorang objek tertentu. Kemudian digunakan PET dan SPECT
untuk memantau lokasi dan jumlah senyawa pelabel tersebut di

otak.
Obat yang diketahui menstimulasi alur serotonergik pada otak
diberikan dan respon endokrin yang melepaskan serotonin
(perubahan level prolaktin dan kortisol) diukur.

Penelitian tersebut diatas digunakan untuk mengestimasi atau


mengukur dari jumlah sel pelepas serotonin yang masih utuh
berfungsi atau sel yang responsif terhadap serotonin pada subjek
hidup. Dari penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan pada bahwa
adanya penurunan kadar serotonin secara tidak langsung yang
ditunjukkan secara tidak langsung dari indikator tersebut diatas pada
penggunaan ekstasi jangka panjang.
b. Masalah psikiatri jangka panjang
Hal ini menujukkan adanya efek neurotoksik dari ekstasi pada sistem
serotonin yang kemungkinan dapat menyebabkan berbagai macam
masalah mental dan perilaku pada penggunaan obat selama beberapa
bulan atau tahun. Masalah ini bervariasi pada setiap individu tetapi
semua masalah ini mencakup fungsi dari serotonin yang diketahui
memegang peranan penting dalam masalah gangguan mental dan
perilaku. Seperti masalah berikut ini yang dijelaskan pada beberapa
literatur yaitu:
Gangguan memori, gangguan verbal dan visual, dengan derajat
gangguan sesuai dengan intensitas penggunaan ekstasi dan
tidak ditemukan pada penggunaan obat lain yang tidak
menggunakan ekstasi. Defisit memori ini berhubungan dengan
pengukuran SPECT dari fungsi serotonin. Pada suatu kasus
ditunjukkan bahwa adanya defisit memori jangka panjang yang

12

dihubungkan dengan perubahan otak bilateral pada gambaran

MRI yang didahului dengan penggunaan dari ekstasi.


Gangguan penarikan keputusan (fungsi eksekutif), memproses
memori, logika dan pemecahan masalah yang sederhana pada

pengguna ekstasi.
Impulsivitas yang semakin besar dan berkurangnya kontrol

diri.
Serangan panik yang berulang ketika seseorang tidak dalam
pengaruh dari obat tersebut bahkan sampai beberapa bulan

puasa tidak menggunakan obat tersebut


Paranoid yang rekuren, halusinasi, deprsonalisasi, dan bahkan
episode psikotik yang timbul beberapa waktu pada seseorang

yang menghentikan penggunaan ekstasi


Depresi berat, yang beberapa waktu akan resisten pada
beberapa pengobatan selain SSRI dan biasanya berhubungan

dengan keinginan untuk bunuh diri.


c. Masalah fisik residual
Seperti pada masalah di psikiatrik, ada beberapa masalah fisik yang
timbul setelah penggunaan obat selesai atau dimulai selama periode
penggunaan obat tetapi menetap walaupun obat dihentikan.
Beberapa hal tersebut meliputi:
Kerusakan gigi (bruksism) dan kekakuan rahang digambarkan
sebelumnya sebagai efek akut dari penggunaan ekstasi yang
akan menetap pada periode tidak menggunakan ekstasi dan

hasilnya signifikan pada gigi belakang.


Nyeri dan pegal pada otot, sama mekanismenya yaitu adanya
peningkatan tegangan otot dan spasme yang bertanggung
jawab juga pada kekakuan rahang dan juga terlihat terutama

pada otot lain seperti pda otot pinggang bawah dan leher
Sistem sirkulasi, efek akut dari ekstasi pada sistem sirkulasi
yang dijelaskan sebelumnya termasuk peningkatan dari
tekanan darah tetapi pada efek residual jangka panjang
menunjukkan hasil penurunan tekanan darah dan kontrol yang
tidak baik dari frekuensi jantung dan tekanan darah oleh

13

gangguan saraf otonomik. Perubahan pola regional dari aliran

darah pada otak dilaporkan pada pengguna ekstasi.


Lesi neurologis, neurotoksisitas yang digambarkan sebelumnya
bertanggung jawab pada 2 masalah jangka panjang dari sistem
saraf, yang pertama adalah parkinson dan yang kedua adalah
paralisis nervus abdusens baik salah satu atau bilateral yang
disebabkan adanya kerusakan pada neuron dopaminergik.

2.5

Intoksikasi Ekstasi 3
Ada 4 tipe toksisitas yang sangat serius mengancam kehidupan yaitu:

hepatik, kardiovaskuler, serebral dan hiperpireksia. Setiap bagian akan dijelaskan


terpisah dibawah ini tetapi pola toksisitas ini bisa terjadi lebih dari satu pada
setiap individu yang menggunakan ekstasi.
1. Toksisitas hepatik
Proporsi tinggi dari laporan kasus toksisitas tinggi dari ekstasi
termasuk observasi pasien dengan jaundice. Beberapa penjelasan
ditawarkan untuk hal ini termasuk kemungkinan dari reaksi alergi obat,
kontaminan toksis dari individu tersebut terhadap obat tersebut, atau
efek sekunder dari hiperpireksia, yang akan dijelaskan selanjutnya.
Akan tetapi penjelasan yang paling mungkin adalah berhubungan
dengan jalur metabolisme dari obat tersebut. Seperti yang dijelaskan
sebelumnya ekstasi dan obat yang berhubungan dengan ekstasi
dimetabolisme di hati dengan menggunakan enzim CYP p450 beragam
sehingga membentuk CYP2D6. Produk yang langsung jadi dari reaksi
ini akan diproses lebih jauh oleh enzim menjadi prosuk sekunder,
beberapa metabolit sekunder ini sangat reaktif dengan glutation.
Penurunan bermakna level dari glutation bebas menunjukkan adanya
proses perubahan kimiawi (influks kalsium secara masif, perubahan
oksidatif dalam membran lipid sel, dan selanjutnya) dan kemudian
kearah kematian sel.
Gambaran klinis dari beberapa kasus bervariasi. Secara umum hal
ini relatif ringan seperti pada hepatitis viral dengan jaundice,

14

pembesaran hati, kecenderungan untuk peningkatan perdarahan,


peningkatan enzim hati di darah, dan gambaran biopsinya tidak
menunjukkan pastinya diagnosis dari toksisitas ekstasi. Kesembuhan
spontan biasanya terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan
tetapi pada pengguna jangka panjang serangan akan berulang dari
hepatitis. Beberapa penulis menyimpulan pada kasus hepatitis berulang
pada dewasa muda, penggunaan ekstasi bisa dicurigai sebagai
penyebab. Andreu dkk. menemukan di rumah sakitnya ekstasi
merupakan penyebab paling sering kedua untuk cedera hati pada
pasien dibawah 25 tahun. Gambaran ini bisa menjadi lebih parah, akan
tetapi progres penyakit ini bisa terjadi secara cepat untuk menghindari
gagal hati dan akan menyebabkan fatal kecuali penderita ini
mendapatkan transplantasi hati.
2. Toksisitas kardiovaskuler
Seperti yang diceritakan sebelumnya, ekstasi dan obat lain yang
berhubungan meningkatkan pelepasan tidak hanya serotonin, tetapi
juga noradrenalin dan dopamin. Hal ini khusunya noradrenalin yang
bertanggungjawab

dari

efek

samping

serius

pada

sistem

kardiovaskuler. Efek ini terdiri dari 2 tipe dasar yaitu: hipertensi


dengan konsekuensi ruptur pembuluh darah, perdarahan internal dan
takikardi dengan konsekuensi peningkatan beban kerja jantung dan
hasilnya risiko terjadi heart failure.
Perdarahan intrakranial mayor dilaporkan, yang kemungkinan
penyebab dari rupturnya pembuluh darah yang sudah di lemahkan
dengan anomali kongenital atau penyakit yang mendasari dan
ketika ditambahkan dari hipertensi yang terinduksi obat

memberatkan hal ini.


Perdarahan ptekie diobservasi di otak dan beberapa macam organ
lain dari penelitian observasional pada otopsi pada beberapa
banyak dari kasus fatal yang dijelaskan sebelumnya. Tipe
hemoragik ini mempengaruhi pembuluh darah kecil dan secara
instan lebih lemah dari pembuluh darah yang besar dan tidak

15

membutuhkan kerusakan preeksisting padadinding pembuluh

darah.
Perdarahan retina sudah di jelaskan dapat dilihat di autopsi.
Kerusakan dinding pembuluh darah dan akan menyebabkan

trombosis intravena.
Gangguan serius pada irama jantung diobservasi diobservasi pada

pengguna ekstasi.
3. Toksisitas serebral
Salah satu konsekuensi dari penggunaan ekstasi adalah berkeringat
sangat banyak sebagai hasil kombinasi dari aktivitas fisik yang
bersemangat dan aksi farmakologi pada darah dengan mekanisme
termoregulasi. Jika sodium dalam jumlah besar bisa hilang dari
keringat, maka seorang penari akan meminum air untuk menghindari
kepanasan,

hasilnya

adalah

hemodilusi

dan

menyebabkan

hiponatremia. Dan dengan mekanisme tambahan yang dapat


berkontribusi dengan hasil yang sama adalah ketidak sesuaian sekresi
dari kelenjar hipofisis hormon antidiuretik sehingga menyebabkan
retensi air pada ginjal, tetapi pada banyak kasus kemungkinan
penyebabnya adalah pemasukan air yang sebelumnya diikuti oleh
berkeringat. Hal ini mengarahkan jalan lintasan air dari darah menuju
jaringan termasuk otak. Terdapat 2 hal yang serius ketika hal tersebut
terjadi yaitu inisiasi dari kejang seperti epilepsi, kompresi dari batang
otak dan serebelum turun pada foramen magnum. Yang menunjukan
disrupsi fatal dari respirasi atau kardiovaskuler.
4. Toksisitas dengan pola hiperpireksia
Pola ini merupakan toksisitas yang diinduksi ekstasi yang paling
berbahaya dari toksisitas lain. Dari catatan sebelumnya kombinasi
reaksi obat, aktivitas fisik dan lingkungan yang panas. Contoh pola
hiperpireksia yaitu rhabdomyolisis, myoglobinuria dan gagal ginjal,
kerusakan hati.
5. Toksisitas lainnya
Ada laporan jenis toksisitas selain yang dijelaskan sebelumnya terkait
dengan penggunaan ekstasi. Sebagai contoh, pemberian dosis kecil
tunggal MDMA, baik sendiri maupun kombinasi dengan alkohol,

16

dilaporkan menghasilkan penurunan sementara fungsi kekebalan


limfosit. Namun, terlalu sedikit bukti yang menyimpulkan tentang
kemungkinan efek tersebut.
2.6

Pemeriksaan Toksikologi

2.6.1

Pemeriksaan Fisik pada Pasien Hidup


Pemeriksaan yang cepat harus dilakukan dengan penekanan pada daerah

yang mungkin memberikan petunjuk ke arah diagnosis toksikologi, termasuk


tanda-tanda vital, mata, mulut, kulit, abdomen, dan sistem saraf. 5
1. Tanda-tanda vital
Evaluasi dengan teliti tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi,
pernapasan, dan suhu tubuh) merupakan hal yang esensial dalam
kedaruratan toksikologi. Hipertensi dan takikardia adalah khas pada obatobatan amfetamin dan antimuskarinik. Sementara pernapasan yang cepat,
hipertermia khas pada amfetamin dan simpatomimetik lainnya.
2. Mata
Dilatasi pupil (midriasis) umumnya terdapat pada turunan amfetamin,
kokain, LSD, atropin, dan obat antimuskarinik lain.
3. Sistem saraf
Pemeriksaan neurologik yang teliti adalah esensial. Kekakuan dan
hiperaktivitas otot umum ditemukan pada metakualon, haloperidol, PCP,
dan obat simpatomimetik lainnya.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, MDMA mempunyai efek mulut
kering, kejang, jantung berdenyut lebih cepat, dan keringat keluar lebih banyak,
kemudian efek selanjutnya mata kabur, hipertermia, paranoid, sulit konsentrasi,
dan nyeri seluruh otot.
2.6.2

Pemeriksaan Dalam pada Pasien Mati


Jika obat dihisap atau dikonsumsi secara oral seperti MDMA, mungkin

tidak ada manifestasi eksternal yang ditemukan. Disamping informasi lain,


terdapat tanda terbakar pada jari telunjuk bagian palmar yang digunakan untuk
memegang pipa panas pada penggunaan oral.6

17

Ahli toksikologi perlu mendapatkan riwayat paling lengkap dan berbagai


macam barang bukti untuk dilakukan pemeriksaan. Sampel otopsi harus
menyertakan darah perifer, urin, jaringan pada hepar, jaringan pada otak, jaringan
pada jantung, jaringan pada paru-paru, isi lambung dan rambut. Urin, cairan
spinal dan jaringan dapat positif untuk beberapa hari setelah penggunaan
pertama, dan positif untuk waktu yang lebih lama pada penggunaan kronis.
Rambut juga dapat dianalisis untuk melihat positif tidaknya penggunaan
MDMA.12 Cairan empedu dan urine secara khusus sangat penting pada kasuskasus kematian akibat pemakaian opiat. Usapan mukosa hidung kadang-kadang
dapat menunjukkan bekas hisapan pada pemakaian kokain maupun heroin.6
Penemuan Pada Otak
Studi post mortem memperlihatkan perubahan level serotonin dan metabolit
utamanya pada otak pada pengguna jangka panjang. Level serotonin
berkurang 50%80% pada regio yang berbeda pada otak, pada perbandingan
dengan yang tidak menggunakan. Dapat memperlihatkan gambaran
disseminated intravascular coagulation (DIC), edema dan degenerasi neuron
nampak pada lokus ceruleus. Dalam sebuah studi postmortem dapat
ditemukan adanya nekrosis glandula hipofisis, hal ini kemungkinan karena
kurangnya suplai darah.6
Penemuan Pada Jantung
Jantung adalah target organ, terkadang terjadi penambahan berat, terutama
pada hipertrofi ventrikel kiri dan pembesaran jantung bagian kanan. Pada
pemeriksaan mikroskopik ditemukan kongesti dari organ dengan edema.
Juga dapat ditemukan peningkatan sejumlah partikel karbon. Bisa juga
terlihat nekrosis myofibril. Sejak diketahui bahwa obat ini merupakan
stimulator katekolamin, dan menyebabkan terjadinya peningkatan katekol
dalam darah, jantung sering terdapat area iskemi dan mionekrosis yang
dikelilingi oleh neutrofil dan makrofag.6
Penemuan pada Hepar
Dapat terdapat pembesaran hepatosit dan pada sitoplasma bisa mengandung
banyak vakuola. Kasus intoksikasi yang menyebabkan hipertermia dengan

18

kegagalan fungsi hati sering terdapat nekrosis hepatis masif, perlemakan,


dilatasi sinusoidal dan inflamasi juga ditemukan.6
Penemuan pada Ginjal
Pada ginjal mengakibatkan myoglobinuric tubular necrosis, sedangkan
metamfetamine dapat menyebabkan glomerulonefritis peroliferatif akibat
dari suatu systemic necrotizing vasculitis. Biasanya akan terjadi bila
digunakan secara intravena, Merupakan keadaan yang jarang terjadi, dan
timbul bila terjadi overdosis.
Pemeriksaan Darah
Waktu paruh yang cukup lama menyebabkan obat dapat dideteksi pada darah
dalam waktu beberapa jam, bergantung dari dosisnya. 12 Kebanyakan tes
skrining darah adalah menggunakan teknik imunoassay. Dapat juga dengan
menggunakan gas kromatografi dan analisis spektroskopi. Identifikasi
dengan menggunakan saliva telah ada dan dapat digunakan untuk tes simpel
yang non-invasif.
Tes Urin
Pengguna MDMA akan memperlihatkan hasil positif pada amfetamin
(metode umum) dan metamfetamin (metode tes yang baru dan lebih jarang
digunakan). Periode deteksi amfetamin pada urin adalah 24-96 jam setelah
penggunaan (rata-rata 72 jam). Periode deteksi amfetamin dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti pH dan status hidrasi. 6
Tes Rambut
Analisis rambut juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan
derivatnya, namun penggunaannya tidak direkomendasikan. Tes rambut
secara umum memerlukan sekitar 1.5 inci dari rambut. Ini menyediakan
periode dekteksi sekitar 90 hari. Jika rambut seseorang kurang dari 1,5 inci,
periode deteksinya akan lebih pendek. 6
2.6.3

Pemeriksaan Penunjang

1. Mass Spectrometry (MS)


Mass Spectrometry (MS) adalah teknik yang sekarang digunakan
dalam banyak aspek ilmu forensik, tapi alat yang di gunakan masih terus
berkembang untuk menyediakan peningkatan pada metode yang sekarang

19

ada atau bahkan dalam aplikasi yang baru. MS dalam ilmu forensik
menyediakan metode dalam banyak aplikasi untuk mengidentifikasi
sebuah senyawa atau komponen dari sebuah senyawa campuran, yang
terdiri dari formula molekul dengan struktur kimianya. Pengguanan MS
secara luas dan juga kebutuhannya untuk dapat bekerja lebih cepat, efisien
dan pengukuran yang lebih sensitif, mendorong dalam perkembangan
yang lebih serba guna dan lebih efisien. Format MS yang baru terbukti
dalam penggunaanya untuk aplikasi forensiknya, bukan hanya itu format
baru ini juga dapat di gunakan secara luas dalam penggunaannya dalam
bidang kimia, biokimia, biologi, dan farmakologi, dan di antara bidang
yang lainnya, MS juga menjadi alat yang penting dalam identifikasi bahan
kimia, profil komposisi dan analisis struktur. Idealnya, teknik deteksi dan
analisis haruslah kuat, sensitif, informatif, luas dalam segi aplikasinya dan
spesifik dalam segi diskriminasi.7
Banyak teknik analisis tersedia untuk analisis forensik, tapi MS
mendominasi

dalam

beberapa

aplikasi.

Meskipun

teknik

Gas

Chromatography Mass Spectrometry (GC MS) tradisional digunakan


sebagai alat instrument yang penting dalam analisis forensik, teknologi
MS yang baru dikembangkan memberikan pengingkatan dalam banyak
hal. Peningkatan dalam hal proses ionisasi mungkin menjadi salah satu
perkembangan yang paling penting, yang termasuk diantaranya teknik
ESI, MALDI dan ambient atau atmospheric pressure ionization.8
Aplikasi yang saat ini paling mutakhir adalah dengan metode
ambient ionization, khususnya pada direct analysis in realtime (DART).
Perbedaan dari ambient ionization dengan MS yang konventional adalah
pada manipulasi kimia dari sampel pada instrument. Senyawa yang
diperiksa diionisasi dalam udara terbuka langsung di depan tabung terbuka
tempat masuk senyawa dari mass spectrometer sehingga hasilnya akan
langsung terdeteksi. Perlu diingat bahwa metode ambient ionization dapat
digunakan tanpa pemisahan secara kromatografik. Keuntungan utama dari
ambient ionization adalah kegunaannya yang luas dalam ionisasi sampel

20

dalam bentuk aslinya, tanpa perlu diekstraksi, derivatisasi atau proses


sampel yang lain sebelum dilakukan analisis. Perkembangan dalam mass
analyzers sangat berguna menyediakan manfaat yang langsung sehingga
mass analyzers memiliki resolusi yang lebih tinggi dan dapat
mengidentifikasi dengan lebih baik. 7
2. Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS)
Dalam GCMS sampel yang digunakan harus dalam bentuk larutan
yang akan di injeksikan kedalam alat yang digunakan dan akan di
ekstraksi. Setelah pemisahan secara kromatografi, akan terjadi ionisasi
melalui electron impact ionization, dimana 10 elektron volt menyebabkan
electron dikeluarkan dari dalam sel, menyebabkan molekul ion kation
radikal dengan berat dari senyawa yang ditemukan.7
3. Mass Analyzers
Banyak jenis dari mass analyzers digunakan dalam MS, termasuk
quadrupole, TOF, orbitrap dan instrument gabungan. Mass analyzers GC
MS yang ada pada umumnya digunakan pada laboratorium forensik
menggunakan linear quadrupole, karena mudah digunakan dan relatif
murah, efisien dalam segi transmisi ion ke detector dan dalam segi
kegunaan dasarnya, yaitu menjadi filter massa dalam analisis kimia.
Akurasi yang tinggi dalam pengukuran massa menjadi kuncinya, sehingga
dapat mengidentifikasi tanpa perlu melakukan pemisahan secara
kromatografi. 9
4. Liquid Chromatography Mass Spectrometry (LCMS)
Ketika GCMS digunakan secara luas dalam bidang forensik,
metode LCMS ada dengan metode yang dianggap lebih baik. LCMS
menggunakan ESI untuk menghasilkan fase ion gas, sehingga lebih
berguna bila digunakan untuk analisa bahan dalam jumlah yang besar,
bahan yang tidak dapat menguap, seperti material biologik.9
5. Ambient ionization

21

Dalam dekade terakhir ini merupakan masa peralihan dalam


pengembangan metode metode ionisasi. Metode yang sederhana dan
tepat menjadi faktor penting dalam pengambilan sampel dari senyawa di
keadaan aslinya. Perkembangan ini memudahkan analisis dari senyawa
yang sulit di proses bila menggunakan metode konvensional, termasuk
senyawa yang tidak dapat menguap dan materi yang padat, juga sampel
jaringan atau jaringan dengan susunan yang kompleks.9
6. Direct analysis in real time ionization
DART ionization mengandalkan mekanisme ionisasi fase gas, dan
membutuhkan sampel yang sedikit untuk dapat diperiksa.DART
menggabungkan desorpsi termal, transfer, dan penning ionization. DART
dapat langsung digunakan pada sampel di TKP tanpa harus di ekstraksi
terlebih dahulu.9
2.7

Penatalaksanaan Pengobatan dan Antidotum Ekstasi


Prinsip pengobatan pada toksisitas ekstasi adalah farmakoterapi intervensif

sebagai berikut:
1. Dekontaminasi dengan arang aktif/sorbitol
2. Sedasi dengan benzodiazepin pada pasien gelisah dan cemas
3. Pengobatan hipertermia dengan cepat pendinginan konveksi,
penyemprotan air ke tubuh dan menggunakan kipas angin listrik untuk
mengalirkan air, mencoba untuk mendinginkan suhu inti untuk 101 F
dalam waktu 30-45 menit
4. Bantuan dari kejang otot dan/atau kram dengan benzodiazepin
5. Pencegahan rhabdomyolysis dengan cairan IV (manfaat furosemide
atau natrium bikarbonat masih kontroversial)
6. Kontrol kejang dengan benzodiazepin
7. Stabilisasi hemodinamik dan / atau gangguan kardiovaskular dengan
nitroprusside atau nitrogliserin. 11
Kematian telah dilaporkan karena hipertermia berat (yaitu, stroke panas)
disertai dengan disseminated intravascular coagulation, rhabdomyolysis, dan
gagal ginjal akut. Kematian dari edema serebral dan kejang sekunder untuk
hiponatremia dan syndrome of inappropriate antidiuretic hormone secretion

22

(SIADH) juga telah dilaporkan. Seperti dalam setiap toksisitas amfetamin, bahaya
aritmia jantung dan ketidakstabilan kardiovaskular selalu harus diperhatikan.
Perhatian jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABC) dan tanda-tanda vital
adalah standar penanganan dalam overdosis, dan pemeriksaan neurologis juga
diperlukan. Menyediakan oksigen, memperoleh akses intravena, dan melakukan
monitoring jantung. Penentuan kadar glukosa ditunjukkan kepada pasien dengan
perubahan status mental. Jika seorang pasien hipoglikemik,pemberian tiamin
untuk menjaga konsentrasi glukosa serum dengan pemantauan sering.
Jika toksisitas akut yang disebabkan oleh konsumsi diketahui, melakukan
dekontaminasi gastrointestinal dengan pemberian arang aktif. Lavage Orogastric
biasanya tidak diperlukan kecuali co-ingestant mengancam jiwa terlibat dan
pasien datang dalam waktu 1 jam dari konsumsi. Irigasi seluruh usus dapat
diindikasikan jika tubuh keracunan obat yang dicurigai. Meskipun gangguan
pernapasan jarang, intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik mungkin
diperlukan pada pasien yang tidak dapat melindungi jalan napas mereka atau
memiliki gangguan pernapasan karena kondisi seperti kejang, instabilitas
kardiovaskular, atau trauma.
Pasien

dengan

hipertermia

parah

memerlukan

langkah-langkah

pendinginan agresif dan resusitasi cairan yang memadai. Morbiditas secara


langsung berhubungan dengan tingkat keparahan dan durasi hipertermia.
Pertimbangan manajemen adalah sebagai berikut: Menanggalkan pakaian pasien,
Terapkan pendingin menguapkan air dan kipas angin, Terapkan kompres es di
pangkal paha dan ketiak, Lavage lambung es dapat dianggap, Kendali menggigil
dengan benzodiazepin, jangan menggunakan antipiretik karena tidak ada
manfaatnya.
Mengobati kejang dengan benzodiazepin. Kebanyakan kejang adalah
sembuh dan berespon dengan baik untuk benzodiazepin. Melindungi jalan napas
dan mempertimbangkan fenobarbital atau propofol pada pasien dengan gejala
refrakter. Perlakukan yang mendasari penyebab dan cek elektrolit, terutama
hiponatremia. Mulailah dengan pembatasan cairan, tapi pertimbangkan untuk
menambahkan garam hipertonik dalam kasus refrakter atau berat; dalam kasus ini,

23

menambahkan 3% saline dan furosemide dapat diindikasikan tetapi pada tingkat


tidak lebih besar dari 0,5-1 mEq/L/jam. Selalu melakukan pengujian kehamilan
pada pasien wanita dengan overdosis. MDMA, seperti semua amfetamin, dapat
menjadi racun bagi janin dan dapat menyebabkan keguguran atau persalinan
prematur. 11
2.8

Medikolegal Penggunaan Ekstasi

2.8.1

Undang-undang Narkotika Psikotropika


Menurut Undang-undang Nomor

22 Tahun 1997 tentang Narkotika,

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan

kesadaran,

hilangnya

rasa

nyeri,

dan

dapat

menimbulkan

ketergantungan.12

Narkotika dibedakan dalam 3 golongan sebagai berikut :

Narkotika golongan I: Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan


pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh:

heroin, kokain dan ganja.


Narkotika golongan II: Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan,
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan

serta

mempunyai

potensi

tinggi

mengakibatkan

ketergantungan. Contoh: morfin, petidin, turunan/garam dalam golongan

tersebut.
Narkotika golongan III: Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan

serta

mempunyai

potensi

ringan

mengakibatkan

ketergantungan Contoh: kodein, garam-garam Narkotika dalam golongan


tersebut.

24

Menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika adalah


zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan dalam
4 golongan sebagai berikut12:

Psikotropika golongan I: Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk


tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan

Contoh: MDMA, ecstasy, LSD, ST.


Psikotropika golongan II: Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan
dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Contoh: amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakualon, metilfenidat

(ritalin).
Psikotropika golongan III: Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom

ketergantungan. Contoh: fenobarbital, flunitrazepam.


Psikotropika golongan IV: Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan
dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom
ketergantungan. Contoh: diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam,
khlordiazepoxide, nitrazepam (BK,DUM,MG).
Seperti halnya tentang proses hukum dalam penyalahgunaan Narkotika,

maka dalam Pasal 56 ayat 2 Undang-undang Psikotropika ini menyatakan bahwa


Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang (h) meminta bantuan
tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang
psikotropika.
Dalam beberapa poin dikatakan bahwa penyidik berhak meminta bantuan
tenaga ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tugas penyidikan

25

penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika,


termasuk dalam hal ini seorang dokter yang dianggap sebagai profesi yang
mengerti tentang anatomi dan proses yang terjadi dalam tubuh manusia. Seperti
yang tertulis pada pasal 133 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
dinyatakan dalam ayat (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Sedangkan dalam pasal 1 butir 28 dikatakan bahwa Keterangan ahli adalah
keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang
hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan
pemeriksaan, dan merupakan kewajiban bagi seorang dokter untuk memberikan
keterangan sesuai keilmuannya, seperti tercantum dalam pasal 179 KUHAP:
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli
demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka
yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka
mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang
sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang
keahliannya.
Bantuan dokter sebagai ahli yang dimintai keterangannya, dapat dijadikan
sebagai alat bukti untuk membentuk keyakinan hakim dalam memutuskan suatu
perkara sesuai tercantum pada dalam pasal 183 KUHAP, Hakim tidak boleh
menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya
dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

26

Menurut pasal 184 KUHAP (1) Alat bukti yang sah ialah:4
a. Keterangan saksi; yang dijelaskan dalam pasal 185 (1) bahwa Keterangan
saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan.
b. Keterangan ahli; diatur dalam pasal 186 KUHAP (1) Keterangan ahli ialah apa
yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
c. Surat; sebagaimana diatur dalam pasal 187 KUHAP bahwa surat dibuat atas
sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat
umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat
keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang
dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang

keterangannya itu;
Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau
surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam
tatalaksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi

pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.


Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta

secara resmi dan padanya;


Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari

alat pembuktian yang lain.


d. Petunjuk; dalam pasal 188 (1) Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau
keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain,
maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi
suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. (2) Petunjuk sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari:
Keterangan saksi,
Surat,
Keterangan terdakwa
(3) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap
keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia
mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan
berdasarkan hati nuraninya.

27

e. Keterangan terdakwa; sebagaimana diatur dalam pasal 189 (1) Keterangan


terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang
ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. (2) Keterangan
terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu
menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat
bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya. (3)
Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. (4)
Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah
melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai
dengan alat bukti yang lain.
Sesuai dengan pasal-pasal tersebut diatas, keterangan seorang dokter dapat
menjadi alat bukti berupa keterangan ahli ataupun surat. Keterangan ahli, apabila
diberikan dalam bentuk lisan di persidangan dengan mengucapkan sumpah/janji
sebelum atau jika dianggap perlu juga sesudah memberikan keterangan. Kategori
surat bila diberikan dalam bentuk tertulis dengan mengingat sumpah waktu
menerima jabatan sebagai dokter atau dengan lebih dahulu mengucapkan
sumpah/janji sebagai ahli ketika hendak melakukan pemeriksaan.
Keterangan dokter menjadi disamakan nilainya dengan alat bukti jika
sesuai pasal 162 (1) Jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan
meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau
tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena
sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan Negara, maka keterangan yang
telah diberikannya itu dibacakan. (2) Jika keterangan itu sebelumnya telah
diberikan dibawah sumpah, maka keterangan itu disamakan nilainya dengan
keterangan saksi dibawah sumpah yang di ucapkan di sidang.
Dari berbagai pasal-pasal tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa adalah
kewajiban seorang dokter untuk memberikan bantuan dalam setiap peradilan yang
memintakan bantuan untuk keilmuannya termasuk dalam hal ini adalah
permintaan bantuan dokter dalam menangani kasus penyalahgunaan Narkotika

28

dan Psikotropika.1 Berikut adalah pasal-pasal mengenai narkotika sesuai dengan


UU RI. 13
Pasal 1 Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang
Narkotika
1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang
dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam
Undang-Undang ini.
2. Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang
dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika yang dibedakan dalam tabel
sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.
3. Produksi adalah kegiatan atau proses menyiapkan, mengolah, membuat,
dan menghasilkan Narkotika secara langsung atau tidak langsung melalui
ekstraksi atau non-ekstraksi dari sumber alami atau sintetis kimia atau
gabungannya, termasuk mengemas dan/atau mengubah bentuk Narkotika.
4. Impor adalah kegiatan memasukkan Narkotika dan Prekursor Narkotika ke
dalam Daerah Pabean.
5. Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan Narkotika dan Prekursor Narkotika
dari Daerah Pabean.
6. Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika adalah setiap kegiatan
atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak atau melawan
hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana Narkotika dan Prekursor
Narkotika.
7. Surat Persetujuan Impor adalah surat persetujuan untuk mengimpor
Narkotika dan Prekursor Narkotika.
8. Surat Persetujuan Ekspor adalah surat persetujuan untuk mengekspor
Narkotika dan Prekursor Narkotika.
9. Pengangkutan adalah setiap kegiatan

atau

serangkaian

kegiatan

memindahkan Narkotika dari satu tempat ke tempat lain dengan cara,


moda, atau sarana angkutan apa pun.

29

10. Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang
memiliki izin untuk melakukan kegiatan pengadaan, penyimpanan, dan
penyaluran sediaan farmasi, termasuk Narkotika dan alat kesehatan.
11. Industri Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang
memiliki izin untuk melakukan kegiatan produksi serta penyaluran obat
dan bahan obat, termasuk Narkotika.
12. Transito Narkotika adalah pengangkutan Narkotika dari suatu negara ke
negara lain dengan melalui dan singgah di wilayah Negara Republik
Indonesia yang terdapat kantor pabean dengan atau tanpa berganti sarana
angkutan.
13. Pecandu Narkotika

adalah

orang

yang

menggunakan

atau

menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaanketergantungan pada


Narkotika, baik secara fisik maupun psikis.
14. Ketergantungan Narkotika adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan
untuk menggunakan Narkotika secara terus-menerus dengan takaran yang
meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunaannya
dikurangi dan atau dihentikan secara tiba-tiba, menimbulkan gejala fisik
dan psikis yang khas.
15. Penyalah Guna adalah orang yang menggunakan Narkotika tanpa hak atau
melawan hukum.
16. Rehabilitasi Medis adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu
untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan Narkotika.
17. Rehabilitasi Sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu,
baik fisik, mental maupun sosial, agar bekas pecandu Narkotika dapat
kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat.
Pasal 6 Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang
Narkotika
1. Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 digolongkan ke dalam :
a. Narkotika Golongan I,
b. Narkotika Golongan II, dan
c. Narkotika Golongan III.
2. Penggolongan Narkotika sebagaimana di maksud pada ayat (1) untuk
pertama kali ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran 1 dan
mungkin bagian yang tak terpisahkan dari Undang-Undang ini.

30

3. Ketentuan mengenai perubahan penggolongan Narkotika sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 7 Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang


Narkotika
Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan
dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pasal 8 Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang
Narkotika
1. Narkotika Golongan 1 dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan.
2. Dalam jumlah terbatas, Narkotika Golongan 1 dapat digunakan untuk
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk
reagensia diagnostik, serta reagansia laboratorium setelah mendapatkan
persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala badan Pengawasan Obat dan
Makanan.
Pasal 43 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika
1. Penyerahan Narkotika hanya dapat dilakukan oleh:
a. Apotek;
b. Rumah sakit;
c. Pusat kesehatan masyarakat;
d. Balai pengobatan; dan
e. Dokter
2. Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada:
a. Rumah sakit;
b. Pusat kesehatan masyarakat;
c. Apotek lain;
d. Balai pengobatan;
e. Dokter; dan
f. Pasien.

31

3. Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan


hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada pasien berdasarkan resep
dokter.
4. Penyerahan Narkotika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk:
a. Menjalankan praktik dokter dengan memberikan Narkotika melalui
suntikan;
b. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan
Narkotika melalui suntikan; atau
c. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
5. Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang diserahkan
oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya dapat diperoleh di
apotek.