Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat pesisir adalah sekelompok warga yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup
bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya di wilayah pesisir. Masyarakat
yang hidup di kota-kota atau permukiman pesisir memiliki karakteristik secara sosial
ekonomis sangat terkait dengan sumber perekonomian dari wilayah laut (Prianto, 2005).
Sumberdaya pantai dan laut dikenal sebagai sumberdaya multi fungsi. Wilayah perairan
pantai yang kaya akan sumberdaya alam telah dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia sebagai
salah satu sumber bahan makanan, utamanya protein, sejak berabad-abad lamanya. Selain itu,
pemanfaatan sumber energi, seperti hidrokarbon dan miniral khususnya di wilayah pesisir
dan laut, telah dilakukan untuk menunjang pembangaunan pada sektor ekonomi. Fungsi lain
yang dimiliki oleh wilayah pesisir dan lautan digunakan untuk berbagai kegiatan seperti
transfortasi, pelabuhan, industri, agrobisnis dan agroindustri, rekreasi dan pariwisata, serta
kawasan pemukiman, dan tempat pembuangan limbah. Berdasarkan sumber daya yang begitu
melimpah di daerah pesisir, jenis mata pencaharian masyarakat pesisir memanfaatkan sumber
daya alam atau jasa-jasa lingkungan yang ada di wilayah pesisir seperti nelayan, petani ikan,
dan pemilik atau pekerja industri maritim. Masyarakat pesisir yang di dominasi oleh usaha
perikanan pada umumnya masih berada pada garis kemiskinan, mereka tidak mempunyai
pilihan mata pencaharian, memiliki tingkat pendidikan yang rendah, tidak mengetahui dan
menyadari kelestarian sumber daya alam dan lingkungan (Lewaherilla, 2002).
Kota Kendari merupakan salah satu wilayah di Sulawesi Tenggara dengan potensi
sumberdaya alam dan keanegaraman hayati (biodiversity), sebagian penduduknya dengan
matapencaharian di bidang kelautan dan perikanan. Karena masalah ekonomi dan rendahnya
tingkat pendidikan, dalam penyediaan air bersih bagi sebagian masyarakat pesisir belum
terpenuhi, seperti fasilitas air bersih dari PDAM. Sebagian masyarakat menggunakan sumur
gali, sumur pompa dangkal dan sedang, sebagian lagi dengan membeli menggunakan jerigen
untuk kebutuhan memasak, sedangkan untuk mandi masyarakat menggunakan air sumur
dangkal atau pompa dangkal yang disediakan pada sebagian MCK masyarakat yang masih
berfungsi. Untuk saluran drainase dijadikan tempat membuang sampah dan sebagai tempat
pembuangan limbah secara langsung, sehingga air sulit mengalir dan tersumbat oleh sampah,
pada musim hujan air mudah meluap dan terkadang menyebabkan terjadinya genangan air.
Kurangnya kesadaran masyarakat akibat pengetahuan masyarakat pesisir yag masih rendah,
membuat mereka belum menyadari betapa pentingnya menjaga kebersihan sanitasi
lingkungan. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, empat
persoalan utama yang dihadapi masyarakat pesisir adalah tingkat kemiskinan, kerusakan
sumber daya pesisir, rendahnya kemandirian organisasi sosial desa, serta minimnya
infrastruktur dan kesehatan lingkungan di pemukiman desa. Keempat persoalan pokok di atas
memberikan andil atas tingginya kerentanan desa menghadapi bencana alam dan perubahan
iklim.
Akibat dari hal tersebut, kondisi kesehatan masyarakat terganggu karena pengaruh dari
adanya pelanggaran terhadap baku mutu/pencemaran lingkungan, dimana munculnya
beberapa penyakit yang dominan, salah satunya adalah demam thypoid. Di Indonesia,
diperkirakan insiden demam enterik adalah 300 810 kasus per 100.000 penduduk per tahun.
Menurut hasil SKRT tahun 1986 bahwa 3 % dari seluruh kematian (50.000 kematian)
disebabkan oleh demam enterik. Penyakit ini meskipun sudah dinyatakan sembuh, namun
penderita belum dikatakan sembuh total karena mereka masih dapat menularkan penyakitnya
kepada orang lain (bersifat carrier). Pada perempuan kemungkinan untuk menjadi carrier 3
kali lebih besar dibandingkan pada laki-laki. Sumber penularan utama ialah penderita demam
enterik itu sendiri dan carrier, yang mana mereka dapat mengeluarkan berjuta-juta kuman
Salmonella typhi dalam tinja dan tinja inilah yang merupakan sumber pencemaran.
Sedangkan di Kota Kendari, pada tahun 2010, Golongan Umur yang memiliki jumlah
kasus tertinggi yaitu umur 1-9 tahun dan 10-19 tahun dengan jumlah kasus 601 dan 726.
Sedangkan jumlah kasus rendah umur >60 tahun dengan jumlah kasus 21. Pada tahun 2011
jumlah kasus yang tertinggi pada tahun 2010 menurun dari 601 kasus menjadi 463 kasus dan
726 kasus menjadi 388 kasus. Tapi pada golongan umur >60 tahun mengalami meningkatan
yaitu dari 21 kasus menjadi 33 kasus. Hal ini terjadi karena daya tahan tubuh seseorang
berkurang, ditunjang faktor risiko yang dijumpai akan meningkatkan kerentanan terhadap
penyakit tipus, disamping faktor risiko lain seperti makanan yang tercemar akibat sanitasi
lingkungan masyarakat pesisir yang rendah juga memegang peranan penting dalam kejadian
penyakit tipus. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pola persebaran penyakit
demam thypoid di masyarakat pesisir.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik masyarakat pesisir?
2. Apa yang dimaksud dengan demam thypoid?
3. Bagaimana Pola Persebaran demam thypoid di masyarakat pesisir?

C. Tujuan dan Manfaat


1. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat pesisir.
2. Untuk mengetahui definisi demam thypoid.
3. Untuk mengetahui Pola Persebaran demam thypoid di masyarakat pesisir.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir adalah sekelompok warga yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup
bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya di wilayah pesisir. Masyarakat
yang hidup di kota-kota atau permukiman pesisir memiliki karakteristik secara sosial
ekonomis sangat terkait dengan sumber perekonomian dari wilayah laut (Prianto, 2005).
Demikian pula jenis mata pencaharian yang memanfaatkan sumber daya alam atau jasa-jasa
lingkungan yang ada di wilayah pesisir seperti nelayan, petani ikan, dan pemilik atau pekerja
industri maritim. Masyarakat pesisir yang di dominasi oleh usaha perikanan pada umumnya
masih berada pada garis kemiskinan, mereka tidak mempunyai pilihan mata pencaharian,
memiliki tingkat pendidikan yang rendah, tidak mengetahui dan menyadari kelestarian
sumber daya alam dan lingkungan (Lewaherilla, 2002). Selanjutnya dari status legalitas
lahan, karakteristik beberapa kawasan permukiman di wilayah pesisir umumnya tidak
memiliki status hukum (legalitas), terutama area yang direklamasi secara swadaya oleh
masyarakat (Suprijanto, 2006).
Keadaan lingkungan pemukiman masyarakat di daerah tertinggal dan kawasan daerah
pesisir memiliki masalah kesehatan dan lingkungan yang komplik, hal ini sehubungan
dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah, akses transportasi serta komunikasi informasi
yang sangat sulit, tingkat ekonomi yang juga sangat rendah, yang menyebabkan tingkat
kesadaran akan sehatan rendah. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan
menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan yang merupakan salah satu permasalahan
pembangunan kesehatan di Indonesia secara umum, kecamatan pulau pulau Batu secara
khusus.
Kondisi lingkungan yang tercermin antara lain dari akses masyarakat terhadap air bersih
dan sanitasi dasar. Di Indonesia pada tahun 2002, persentase rumah tangga yang mempunyai
akses terhadap air yang layak untuk dikonsumsi baru mencapai 50% dan akses rumah tangga
terhadap sanitasi dasar baru mencapai 63,5%. Kesehatan lingkungan yang merupakan
kegiatan lintas sektoral belum dikelola dalam suatu sistem kesehatan kewilayahan. Dalam
Indonesia Sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya
keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi
lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat. (Soenarto, 1992).
Sanitasi merupakan hal yang penting dalam kesehatan lingkungan, mengingat sanitasi
sebagai upaya untuk mengurangi resiko penularan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.
Masalah sanitasi sering muncul di kawasan permukiman pesisir dan pemukiman pedesaan,
terutama di daerah daerah tertinggal. Sanitasi yang buruk akan berdampak pada gangguan
kesehatan masyarakat, terutama pada anak balita yang rentang terhadap perubahan
lingkungan. Masyarakat, terutama di perdesaan, kurang memahami pentingnya sanitasi bagi
kesehatan mereka, yang salah satunya disebabkan rendahnya pengetahuan mereka. Kondisi
ini menyebabkan banyak masyarakat yang tidak memiliki jamban. Pada umunya masyarakat
memanfaatkan hutan / kebun, daerah tepi pantai, sungai sebagai tempat BAB. Sebagian yang
memiliki jamban tapi tidak memenuhi standar kesehatan dan tidak digunakan sebagaimana
mestinya. Ketersediaan fasilitas jamban belum memadai. (Ricky M.Mulia, 2007).
Adapun masalah yang dihadapi oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di
daerah pulau-pulau terpencil di pesisir pantai ini adalah kelangkaan sarana jambanisasi yang
saniter, menyebabkan sanitasi lingkungan sangat rendah karena pembuangan limbah cair dan
tinja sehari hari masyarakat pada umunya menuju lingkungan tempat tinggal penduduk,
pinggiran laut tempat anak anak sering bermain atau ke kebun yang tidak jauh dari rumah.
Sulitnya memperoleh air bersih, sehingga air bersih sehari hari diproleh melalui air tanah
(sumur gali), dimana jarak sumur tidak lebih dari 3 meter dari jamban bahkan sumur berada
disekitar genangan pembuangan limbah cair dan tinja. Rendahnya kesadaran masyarakat
akan hygiene dan sanitasi lingkungan yang menyebabkan sulitnya pencegahan pencegahan
kejadian penyakit akibat lingkungan yang tidak sehatn di daerah tersebut. Minimnya bahan
makanan yang bergizi terutama sumber makanan yang mengandung vitamin (sayur dan
buah). Pada umumnya jenis makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat
adalah hanya ikan, jenis kerang - kerangan, daging babi, daging ayam, telor. Hal ini terjadi
karena tidak ada kebun sayur di desa mereka dan juga jarak pusat pasar ke pulau pulau
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tinggi. (Ricky M.Mulia, 2007).
Pada umumnya penghasilan masyarakat adalah dari nelayan, dimana mereka sehari-
harinya pergi kelaut atau mengambil kerang-kerang kecil di tepi pantai dan juga sebagian
kecil berkebun kelapa. Jadi secara ekonomi masyarakat disini berpenghasilan rendah. Secara
pendidikan juga berpendidikan rendah. Prilaku masyarakat terhadap hidup sehat bersih dan
sehat juga masih sangat memprihatinkan. .Keeratan hubungan inilah yang menciptakan
ketergantungan nelayan dan petani pada lingkungan alam, yaitu laut dan pantai sebagai
pencaharian para nelayan-nelayan dan kebun kelapa yang akan diolah menjadi kopra sebagai
sumber yang dapat memberikan pendapatan kepada mereka. Hubungan ini bersifat timbal
balik ,lingkungan alam yang rusak atau tidak bersih dapat mempengaruhi nelayan, begitu
pula sebaliknya nelayan dapat mempengaruhi lingkungan alam melalui perilakunya. Ketidak
pedulian masyarakat akan sarana jamban yang saniter ini menyebabkan kawasan
pemukiman mereka dan daerah daerah tepi pantai serta kebun kebun di sekitar pemukiman
penduduk menjadi tempat tempat pembuangan air buangan sehari hari baik buangan
cucian, mandi bahkan tempat BAB ditambah lagi dengan buangan ternak ternak seperti
babi, ayam, kambing yang masih berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk, sehingga
sangat mempengaruhi tingkat kesehatan. masyarakat secara umum dan anak anak usia
sekolah dasar secara khusus, karena anak anak usia ini yang selalu berada disekitar
dilingkungan ini. Dimana lingkungan disekitar pemukiman ini, baik didekat pantai maupun
didekat kebun adalah merupakan tempat mereka bermain dan juga lokasi sekolah mereka
(MAP International report,2008)
B. Definisi Demam Thypoid
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. Masa inkubasi dapat berlangsung 7-
21 hari, walaupun pada umumnya adalah 10-12 hari ( Bruner and Sudart, 1994 ), sedangkan
yang dalam buku yang lain mengatakan Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus
yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi. Nama lain dari penyakit ini adalah typhoid
dan paratyphoid fever, enterik fever, tifus, dan paratifus abdominalis, ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang
disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal,
oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999). Demam
typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang memasuki tubuh
penderita melalui saluran pencernaan. Sumber utama yang terinfeksi adalah manusia yang
selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit,baik ketika ia sedang sakit atau
sedang dalam masa penyembuhan.Pada masa penyembuhan, penderita pada masih
mengandung Salmonella spp didalam kandung empedu atau didalam ginjal. Sebanyak 5%
penderita demam tifoid kelak akan menjadi karier sementara,sedang 2 % yang lain akan
menjadi karier yang menahun.Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal
(intestinal type) sedang yang lain termasuk urinarytype. Kekambuhan yang yang ringan pada
karier demam tifoid,terutama pada karier jenisintestinal,sukar diketahui karena gejala dan
keluhannya tidak jelas. Di Indonesia, diperkirakan insiden demam enterik adalah 300 810
kasus per 100.000 penduduk per tahun. Menurut hasil SKRT tahun 1986 bahwa 3 % dari
seluruh kematian (50.000 kematian) disebabkan oleh demam enterik. Penyakit ini meskipun
sudah dinyatakan sembuh, namun penderita belum dikatakan sembuh total karena mereka
masih dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain (bersifat carrier). Pada perempuan
kemungkinan untuk menjadi carrier 3 kali lebih besar dibandingkan pada laki-laki. Sumber
penularan utama ialah penderita demam enterik itu sendiri dan carrier, yang mana mereka
dapat mengeluarkan berjuta-juta kuman Salmonella typhi dalam tinja dan tinja inilah yang
merupakan sumber pencemaran.
Sedangkan di Kota Kendari, pada tahun 2010, Golongan Umur yang memiliki jumlah
kasus tertinggi yaitu umur 1-9 tahun dan 10-19 tahun dengan jumlah kasus 601 dan 726.
Sedangkan jumlah kasus rendah umur >60 tahun dengan jumlah kasus 21. Pada tahun 2011
jumlah kasus yang tertinggi pada tahun 2010 menurun dari 601 kasus menjadi 463 kasus dan
726 kasus menjadi 388 kasus. Tapi pada golongan umur >60 tahun mengalami meningkatan
yaitu dari 21 kasus menjadi 33 kasus. Hal ini terjadi karena daya tahan tubuh seseorang
berkurang, ditunjang faktor risiko yang dijumpai akan meningkatkan kerentanan terhadap
penyakit tipus, disamping faktor risiko lain seperti makanan yang tercemar akibat sanitasi
lingkungan masyarakat pesisir yang rendah juga memegang peranan penting dalam kejadian
penyakit tipus.
C. Pola Persearan Demam Thypoid di Masyarakat Pesisir
Salah satu ruang lingkup kesehatan masyarakat adalah kesehatan lingkungan. Kesehatan
lingkungan merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang member perhatian pada
penilaian, pemahaman, dan pengendalian dampak manusia pada lingkungan dan dampak
lingkungan pada manusia (in it broadsense, environmental health is the segment of public
health that is concerned (Kusnoputranto, 2003).
Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau keadaan
lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujutnya status
kesehatan pula. Undang undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan menyebutkan bahwa
kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat, limbah
cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian faktor penyakit, dan penyehatan atau,
pembuangan kotoran (jamban) pengamanan lainnya.(Notostmodjo,1996) .
Demam thypoid merupakan salah satu penyakit yang terjadi akibat buruknya sanitasi
lingkungan pemukiman masyarakat di daerah pesisir pulau-pulau batu terutama yang yang
berhubungan dengan jamban atau tempat buang air besar manusia yang menghasilkan
limbah padat tinja. Pada umumnya masyarakat pulau-pulau batu memproleh air bersih
sebagai air minum dan air masak dari air tanah, yaitu sumur gali dangkal. Demam thypoid
terjadi karena daya tahan tubuh seseorang berkurang, ditunjang faktor risiko yang dijumpai
akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit tipus, disamping itu terdapat faktor risiko
lain seperti makanan dan minuman yang tercemar akibat sanitasi lingkungan masyarakat
pesisir yang rendah juga memegang peranan penting dalam kejadian penyakit tipus.
organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella dengan masa inkubasi dapat
berlangsung 7-21 hari, walaupun pada umumnya adalah 10-12 hari ( Bruner and Sudart,
1994).
Karena masalah ekonomi dalam penyediaan air bersih, sebagian masyarakat pesisir
belum terpenuhi, seperti fasilitas air bersih dari PDAM. Sebagian masyarakat menggunakan
sumur gali, sumur pompa dangkal dan sedang, sebagian lagi dengan membeli menggunakan
jerigen untuk kebutuhan memasak, sedangkan untuk mandi masyarakat menggunakan air
sumur dangkal atau pompa dangkal yang disediakan pada sebagian MCK masyarakat yang
masih berfungsi. Untuk saluran drainase dijadikan tempat membuang sampah dan sebagai
tempat pembuangan limbah secara langsung, sehingga air sulit mengalir dan tersumbat oleh
sampah, pada musim hujan air mudah meluap dan terkadang menyebabkan terjadinya
genangan air. Hal inilah yang membuat frekuensi kejadian demam thypoid di masyarakat
pesisir semakin meningkat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Masyarakat pesisir adalah sekelompok warga yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup
bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya di wilayah pesisir. Masyarakat
yang hidup di kota-kota atau permukiman pesisir memiliki karakteristik secara sosial
ekonomis sangat terkait dengan sumber perekonomian dari wilayah laut (Prianto, 2005).

Keadaan lingkungan pemukiman masyarakat di daerah tertinggal dan kawasan daerah


pesisir memiliki masalah kesehatan dan lingkungan yang komplik, hal ini sehubungan
dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah, akses transportasi serta komunikasi informasi
yang sangat sulit, tingkat ekonomi yang juga sangat rendah, yang menyebabkan tingkat
kesadaran akan kesehatan rendah. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan
menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan yang merupakan salah satu permasalahan
pembangunan kesehatan di Indonesia secara umum, kecamatan pulau pulau Batu secara
khusus.
Ketidak pedulian masyarakat akan sarana jamban yang saniter ini menyebabkan kawasan
pemukiman mereka dan daerah daerah tepi pantai serta kebun kebun di sekitar pemukiman
penduduk menjadi tempat tempat pembuangan air buangan sehari hari baik buangan
cucian, mandi bahkan tempat BAB ditambah lagi dengan buangan ternak ternak seperti
babi, ayam, kambing yang masih berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk, sehingga
sangat mempengaruhi tingkat kesehatan. masyarakat secara umum dan anak anak usia
sekolah dasar secara khusus, karena anak anak usia ini yang selalu berada disekitar
dilingkungan ini. Dimana lingkungan disekitar pemukiman ini, baik didekat pantai maupun
didekat kebun adalah merupakan tempat mereka bermain dan juga lokasi sekolah mereka.
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. Masa inkubasi dapat berlangsung 7-
21 hari, walaupun pada umumnya adalah 10-12 hari Demam thypoid merupakan salah satu
penyakit yang terjadi akibat buruknya sanitasi lingkungan pemukiman masyarakat di daerah
pesisir pulau-pulau batu terutama yang yang berhubungan dengan jamban atau tempat buang
air besar manusia yang menghasilkan limbah padat tinja. Pada umumnya masyarakat pulau-
pulau batu memproleh air bersih sebagai air minum dan air masak dari air tanah, yaitu sumur
gali dangkal. Demam thypoid terjadi karena daya tahan tubuh seseorang berkurang,
ditunjang faktor risiko yang dijumpai akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit tipus,
disamping itu terdapat faktor risiko lain seperti makanan dan minuman yang tercemar akibat
sanitasi lingkungan masyarakat pesisir yang rendah juga memegang peranan penting dalam
kejadian penyakit tipus.

B. Saran

Diharapkan setelah membaca makalah ini, pemaca mampu mengerti mengenai


epidemiologi Demam Thypoid di Masyarakat Pesisir.

Anda mungkin juga menyukai