Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN BALLOTEMENT

Palpasi Ginjal Kiri

Berpindahlah ke sisi kiri pasien. Gunakan jari-jari tangan kiri dan mulailah di
kuadran kiri bawah dan palpasi setiap bagian secara sistematis. Untuk mendeteksi
pembesaran ginjal derajat ringan, Tempatkan tangan kanan pemeriksa dibelakang
tubuh pasien (posisi berbaring) dibawah iga ke-12 dan sejajar dengan tulang iga
ini sampai ujung jari-jari tangan kanan pemeriksa menjangkau angulus
kostovertebralis. Angkat tubuh pasien untuk mencoba mendorong ginjalnya ke
arah anterior. Tempatkan tangan kiri pemeriksa secara hati-hati, mantap dan
lembut pada kuadran kiri atas, disebelah lateral muskulus rectus dan sejajar
dengan otot ini. Minta pasien untuk menarik nafas dalam. Pada puncak insipirasi,
tekankan tangan kiri pemeriksa dengan kuat dan dalam pada kuadran kiri atas
tepat di bawah margo kostalis, dan coba untuk menangkap ginjal diantara kedua
tangan pemeriksa. Minta pasien menghembuskan nafasnya dan kemudian berhenti
nafas sejenak. Dengan perlahan lepaskan tekanan yang dihasilkan oleh tangan kiri
pemeriksa, dan pada saat yang sama, rasakan gerakan ginjal yang menggelincir
kembali ke posisi pada saat ekspirasi. Jika ginjlanya dapat diraba, uraikan
ukurannya, kontur dan setiap gejala nyeri tekan yang terdapat.

Sebagai alternatif lain dengan berada di sisi sebelah kiri tubuh pasien, raba ginjal
kiri dengan tangan kiri pemeriksa, jangkau serta lingkari tubuh pasien untuk
mengangkat daerah lipat paha kirinya dan dengan tangan kanan, lakukan palpasi
sampai dalam pada kuadran kiri atas. Minta pasien untuk menarik nafas dalam,
dan coba raba suatu massa. Ginjal kiri yang normal jarang dapat diraba.1,2

Palpasi Ginjal Kanan

Untuk menangkap ginjal kanan, kembalilah ke sisi sebelah kanan tubuh pasien.
Gunakan tangan kiri untuk mengangkat tubuhnya dari belakang, dan kemudian
dengan tangan kanan, lakukan palpasi sampai dalam pada kuadran kiri atas.
Lanjutkan pemeriksaan seperti yang dilakukan sebelumnya. Ginjal kanan yang

1
normal dapat diraba khususnya pada wanita yang kurus dan berada dalam keadaan
benar-benar rileks. Mungkin perabaan ginjal menimbulkan sedikit nyeri tekan
atau tanpa disertai nyeri tekan. Biasanya pasien merasakan ketika ginjalnya
ditangkap atau dilepas. Terkadang ginjal kanan terletak lebih anterior daripada
ginjal keadaan biasa dan karena itu harus dibedakan dengan hati. Bagian tepi hati,
jika dapat diraba, cenderung lebih tajam dan membentang lebih jauh ke medial
dan lateral. Bagian ini tidak dapat ditangkap. Polus inferior ginjal berbentuk
bulat.1,2

LARUTAN KRISTALOID

Ringer Laktat (RL)

RL merupakan cairan yang paling fisiologis yang dapat diberikan pada kebutuhan
volume dalam jumlah besar. RL banyak digunakan sebagai replacement therapy,
antara lain untuk syok hipovolemik, diare, trauma, dan luka bakar. Laktat yang
terdapat di dalam larutan RL akan dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat
yang berguna untuk memperbaiki keadaan seperti asidosis metabolik. Larutan
Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk
resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai
cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan
mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat.

Kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel maka kristaloid


sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel. Pada suatu
penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit larutan
kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru
serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka, apabila
seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0,9Selain itu, pemberian cairan kristaloid
berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra
kranial.

2
Kalium yang terdapat di dalam RL tidak cukup untuk pemeliharaan sehari-hari,
apalagi untuk kasus defisit kalium. Larutan RL tidak mengandung glukosa,
sehingga bila akan dipakai sebagai cairan rumatan, dapat ditambahkan glukosa
yang berguna untuk mencegah terjadinya ketosis. Kemasan larutan kristaloid RL
yang beredar di pasaran memiliki komposisi elektrolit Na+ (130 mEq/L), Cl (109
mEq/L), Ca+ (3 mEq/L), dan laktat (28 mEq/L). Osmolaritasnya sebesar 273
mOsm/L. Sediaannya adalah 500 ml dan 1.000 ml.

Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF). Cairan
kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata
sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume
intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30
menit.

Asering

Indikasi penggunaan asering adalah pada kasus Dehidrasi (syok hipovolemik dan
asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka
bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma. Beberapa keunggulan yang
terdapat pada asering adalah: Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat
ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati, pada pemberian sebelum
operasi sesar dapat mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada
neonatus, pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral
pada anestesi dengan isofluran, mempunyai efek vasodilator, pada kasus stroke
akut penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat
meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk
edema serebral. Komposisi:

Setiap liter asering mengandung:

Na 130 mEq

K 4 mEq

3
Cl 109 mEq

Ca 3 mEq

Asetat (garam) 28 mEq

Natrium Chlorida (NaCl) 0,9%

NaCl 0,9% telah dipakai untuk terapi syok hipovolemik, untuk resusitasi pasien
dengan luka bakar, trauma kepala dalam upaya mengurangi bertambahnya edema,
luka bakar, dan edema otak. Efek larutan garam hipertonik lain adalah
meningkatkan curah jantung bukan hanya karena perbaikan preload, tetapi
peningkatan curah jantung tersebut mungkin sekunder karena efek inotropik
positif pada miokard dan penurunan afterload sekunder akibat efek vasodilatasi
kapiler viseral. Kedua keadaan ini dapat memperbaiki aliran darah ke organ-organ
vital. NaCl 0,9% (normal saline) dapat dipakai sebagai cairan resusitasi
(replacement therapy), terutama pada kasus seperti kadar Na+ yang rendah,
dimana RL tidak cocok untuk digunakan (seperti pada alkalosis, retensi kalium).

NaCl 0,9% merupakan cairan pilihan untuk kasus trauma kepala, sebagai
pengencer sel darah merah sebelum transfusi. Cairan ini memiliki beberapa
kekurangan, yaitu tidak mengandung HCO3, tidak mengandung K+, dapat
menimbulkan asidosis hiperkloremik, asidosis dilusional, hipernatremi dan
hiperkloremia. Kemasan larutan kristaloid NaCl 0,9% yang beredar di pasaran
memiliki komposisi elektrolit Na+ (154 mEq/L) dan Cl (154 mEq/L), dengan
osmolaritas sebesar 300 mOsm/L. Sediaannya adalah 500 ml dan 1.000 ml. NaCl
0,9%, bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik
(delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma
akibat peningkatan klorida. Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.

Indikasi :

a. Resusitasi

4
Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh darah bocor, diikuti oleh
keluarnya molekul protein besar ke kompartemen interstisial, diikuti air dan
elektrolit yang bergerak ke intertisial karena gradien osmosis. Plasma expander
berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada intravaskuler.

b. Diare

Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak, cairan NaCl
digunakan untuk mengganti cairan yang hilang tersebut.

c. Luka Bakar

Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik, dimana terjadi kehilangan


protein plasma atau cairan ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh
yang terbakar. Untuk mempertahankan cairan dan elektrolit dapat digunakan
cairan NaCl, ringer laktat, atau dekstrosa.

d. Gagal Ginjal Akut

Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga


homeostasis tubuh. Keadaan ini juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu
ureum dan kreatinin serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan ekstra seluler dan elektrolit.

Kontraindikasi : hipertonik uterus, hiponatremia, retensi cairan. Digunakan


dengan pengawasan ketat pada CHF, insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer
dan edema paru.

Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya


paru-paru), penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium.

GOLONGAN ANTIBIOTIK

Ada beberapa golongan golongan besar antibiotik, yaitu:

5
1. Golongan Penisilin

Penisilin diklasifikasikan sebagai obat -laktam karena cincin laktam mereka


yang unik. Mereka memiliki ciri-ciri kimiawi, mekanisme kerja, farmakologi,
efek klinis, dan karakteristik imunologi yang mirip dengan sefalosporin,
monobactam, carbapenem, dan -laktamase inhibitor, yang juga merupakan
senyawa -laktam.

Penisilin dapat terbagi menjadi beberapa golongan :

1. Penisilin natural (misalnya, penisilin G)


Golongan ini sangat poten terhadap organisme gram-positif, coccus gram
negatif, dan bakteri anaerob penghasil non--laktamase. Namun, mereka
memiliki potensi yang rendah terhadap batang gram negatif.
2. Penisilin antistafilokokal (misalnya, nafcillin)
Penisilin jenis ini resisten terhadap stafilokokal -laktamase. Golongan ini
aktif terhadap stafilokokus dan streptokokus tetapi tidak aktif terhadap
enterokokus, bakteri anaerob, dan kokus gram negatif dan batang gram
negatif.
3. Penisilin dengan spektrum yang diperluas (Ampisilin dan Penisilin
antipseudomonas) Obat ini mempertahankan spektrum antibakterial
penisilin dan mengalami peningkatan aktivitas terhadap bakteri gram
negatif

2. Golongan Sefalosporin dan Sefamisin

Sefalosporin mirip dengan penisilin secara kimiawi, cara kerja, dan toksisitas.
Hanya saja sefalosporin lebih stabil terhadap banyak beta-laktamase bakteri
sehingga memiliki spektrum yang lebih lebar. Sefalosporin tidak aktif terhadap
bakteri enterokokus dan L.monocytogenes.

Sefalosporin terbagi dalam beberapa

generasi, yaitu:

a. Sefalosporin generasi pertama

6
Sefalosporin generasi pertama termasuk di dalamnya sefadroxil,
sefazolin, sefalexin, sefalotin, sefafirin, dan sefradin. Obat - obat ini sangat
aktif terhadap kokus gram positif seperti pnumokokus, streptokokus, dan
stafilokokus.

b. Sefalosporin generasi kedua

Anggota dari sefalosporin generasi kedua, antara lain: sefaklor,


sefamandol, sefanisid, sefuroxim, sefprozil, loracarbef, dan seforanid.
Secara umum, obat obat generasi kedua memiliki spektrum antibiotik
yang sama dengan generasi pertama. Hanya saja obat generasi kedua
mempunyai spektrum yang diperluas kepada bakteri gram negatif.

c. Sefalosporin generasi ketiga

Obatobat sefalosporin generasi ketiga adalah sefeperazone,


sefotaxime, seftazidime, seftizoxime, seftriaxone, sefixime, seftibuten,
moxalactam, dll. Obat generasi ketiga memiliki spektrum yang lebih
diperluas kepada bakteri gram negatif dan dapat menembus sawar darah
otak.

d. Sefalosporin generasi keempat

Sefepime merupakan contoh dari sefalosporin generasi keempat


dan memiliki spektrum yang luas. Sefepime sangat aktif terhadap
haemofilus dan neisseria dan dapat dengan mudah menembus CSS
(Katzung, 2007).

3. Golongan Kloramfenikol

Kloramfenikol merupakan inhibitor yang poten terhadap sintesis protein


mikroba. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan memiliki spektrum luas dan
aktif terhadap masing masing bakteri gram positif dan negatif baik yang aerob
maupun anaerob

4. Golongan Tetrasiklin

7
Golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama untuk mengobati
infeksi dari M.pneumonia, klamidia, riketsia, dan beberapa infeksi dari spirokaeta.
Tetrasiklin juga digunakan untuk mengobati ulkus peptikum yang disebabkan oleh
H.pylori. Tetrasiklin menembus plasenta dan juga diekskresi melalui ASI dan
dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan gigi pada anak akibat
ikatan tetrasiklin dengan kalsium. Tetrasiklin diekskresi melalui urin dan cairan
empedu.

5. Golongan Makrolida

Eritromisin merupakan bentuk prototipe dari obat golongan makrolida


yang disintesis dari S.erythreus. Eritromisin efektif terhadap bakteri gram positif
terutama pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan korinebakterium.
Aktifitas antibakterial eritromisin bersifat bakterisidal dan meningkat pada pH
basa.

6. Golongan Aminoglikosida

Yang termasuk golongan aminoglikosida, antara lain: streptomisin,


neomisin, kanamisin, tobramisin, sisomisin, netilmisin, dan lain lain. Golongan
aminoglikosida pada umumnya digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri
gram negatif enterik, terutama pada bakteremia dan sepsis, dalam kombinasi
dengan vankomisin atau penisilin untuk mengobati endokarditis, dan pengobatan
tuberkulosis.

7. Golongan Sulfonamida dan Trimetoprim

Sulfonamida dan trimetoprim merupakan obat yang mekanisme kerjanya


menghambat sintesis asam folat bakteri yang akhirnya berujung kepada tidak
terbentuknya basa purin dan DNA pada bakteri. Kombinasi dari trimetoprim dan
sulfametoxazole merupakan pengobatan yang sangat efektif terhadap pneumonia
akibat P.jiroveci, sigellosis, infeksi salmonela sistemik, infeksi saluran kemih,
prostatitis, dan beberapa infeksi mikobakterium non tuberkulosis.

8. Golongan Fluorokuinolon

8
Golongan fluorokuinolon termasuk di dalamnya asam nalidixat,
siprofloxasin, norfloxasin, ofloxasin, levofloxasin, dan lainlain. Golongan
fluorokuinolon aktif terhadap bakteri gram negatif. Golongan fluorokuinolon
efektif mengobati infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh pseudomonas.
Golongan ini juga aktif mengobati diare yang disebabkan oleh shigella,
salmonella, E.coli, dan Campilobacter

JENIS INFEKSI PENYEBAB PILIHAN ANTIBIOTIK


TERSERING
I. Saluran nafas
- Faringitis
- Virus -
- S. Pyogenes Penisilin V, eritromisin,
penisilin G
-C. Diphteriae Penisilin G, eritromisin
- Otitis
-S. Pneumonia, H. -Amoksisilin/ampisilin,
media dan
Influenza eritromisin
sinusitis
-Amoksisilin-asam klavulanat
-S. Aureus, kuman -
anaerob -amoksisilin/ampisilin,
- Bronkitis
eritromisin
akut
-Virus -eritromisin
-S. Pneumonia, H. -amoksisilin/ampisilin,
Influenza eritromisin,kotrimoksazol,
- Eksaserba
doksisiklin
si akut
-M. pneumonia -amoksisilin-asam klavulanat,
bronkitis
-S. Pneumonia, H. kotrimoksazol, eritromisin
kronik
Influenza, M. -
Pneumonia -Penisilin G prokain, penisilin
V, eritromisin, sefalosporin
-B. Cattharalis (jarang) generasi I
- Influenza
-amoksisilin/ampisilin,
- Pneumoni
kotrimoksazol, ampisilin-

9
a -Virus influenza A atau sulbaktam, kloramfenikol,
Bakterial B fluorokuinolon
- S. Pneumonia -eritromisin, doksisiklin
-Kloksasiklin, sefalosporin
generasi I
-H. Influenza -sefalosporin generasi III
dengan atau tanpa
aminoglikosid
-Isoniazid + rifampisin +
-M. Pneuomonia pirazinamid/etambutol
-S. Aureus

-Kuman enterik untuk


- Tuberkulo Gram-negatif
sis paru
-M. tuberkulosis

II. ISK
- Sistitis
-E.coli, S. -ampisilin, trimetroprim
akut
Saprophyticus, kuman
Gram-negatif lainnya -untuk pasien rawat :
- Pielonefrit
-E. Coli, kuman Gram- Gentamisin (atau
is akut
negatif lainnya, aminoglikosid lainnya),
streptococus kotrimoksazol parenteral,
sefalosporin generasi III,
aztreonam
-untuk pasien rawat jalan:
Kotrimoksazol oral,
fluorokuinolon, amoksisilin-
asam klavulanat
- Prostatitis -kotrimoksazol atau

10
akut fluorokuinolon atau
- E. Coli, kuman Gram- aminoglikoasid + ampisilin
negatif lainnya, E. parenteral
Faecalis
- Prostatitis -kotrimoksazol,
kronis fluorokuinolon atau
trimetroprim
- E. Coli, kuman Gram-
negatif lainnya, E.
faecalis

III. INFEKSI
DITULARK
AN
MELALUI
HUB. -N. Gonorrhoeae -
KELAMIN (bukan penghasil amoksisilin/ampisilin/penisili
- Uretritis
penisilinase) n G + probenesid, seftriakson,
tetrasiklin
-seftriakson, fluorokuinolon
-N. Gonorrhoeae
(penghasil penisilinase) -doksisiklin/tetrasiklin,
-c. Trachomatis eritromisin
-doksisiklin/tetrasiklin
-Ureaplasma -asiklovir
urealitycum
- Herpes
-Virus herpes simplek -penisilin G prokain,
genital
seftriakson, tetrasiklin
- Sifilis
-T. Pallidum -kotrimoksazol, eritromisin,
seftriakson, tetrasiklin
- Ulkus
-H.ducreyl
mole

IV. SALURAN

11
CERNA
- Ginggiviti
-Infeksi campuran -penisilin G prokain/penisilin
s dan
kuman aerob + anaerob V
abses gigi
-C. Albicans
- Kandidias
is oral
- Enteritis -Virus -nistatin
infeksiosa -Shigella
-V. Cholerae -
-E. Hystolitica kotrimoksazol/fluorokuinolon
-C. Jenuni /ampisilin
-berbagai kuman -tetrasiklin, kotrimoksazol
enterik Gram-negatif -metronidazol
lainnya -eritromisin/fluorokuinolon,
- Kolesistiti -E. Coli, berbagai tetrasiklin
s akut kuman enterik Gram- -umumnya tidak memerlukan
negatif, B. Fragilis antibiotik
- E. Coli, berbagai
- Peritonitis kuman enterik Gram-
e.c negatif, kuman anaerob -ampisilin+gentamisin,
perforasi ampisilin-
usus sullbaktam,sefazolin

-ampisilin+gentamisin
+metronidazole/klindamisin,
gentamisin+metronidazol/klin
damisin, sefoksitin
V. Kardiovaskul
ar -streptococus -Penisilin G + gentamisin
- Endokardi
-stafilokokus -kloksasilin+ gentamisin
tis
-stafilokokus toleran -vankomisin

12
terhadap metisilin
-kuman Gram-negatif

-sefotaksim+gentamisin
VI. KULIT,
OTOT,
TULANG
- Impetigo,f
kloksasilin/eritromisin,sefalos
urunkel,se
-S. Pyogens, S, aureus porin generasi I
lulitis, dll
- Osteomiel
-kloksasiklin
itis
-S. aureus
VII. SSP
- Meningiti
-S. Pneumonia, -ampisilin+kloramfenikol
s bakterial
sstafilokokus, H. (awal)
Influenza
-meningokokus
- Abses
-Streptokokus, S. -penisilin G, kloramfenikol
otak
Aureus, -penisilin
Enterobacteriae, kuman G+kloramfenikol/metronidaz
anerob ol+sefalosporin generasi III

Memberikan terapi definitif pada GEA


Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut
infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa
pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada: pasien dengan
gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses,
mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan
jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised.
Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:

13
- V. kolera Eltor : Tetrasiklin 4 x 500 mg/hr selama 3 hari atau kortimoksazol
dosis awal 2 x 3 tab, kemudian 2 x 2 tab selama 6 hari atau kloramfenikol 4 x 500
mg/hr selama 7 hari atau golongan Fluoroquinolon.
- ETEC : Trimetoprim-Sulfametoksazole atau Kuinolon selama 3 hari.
- S. Aureus : Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr
- Salmonella Typhi : Obat pilihan Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 2
minggu atau Sefalosporin generasi 3 yang diberikan secara IV selama 7-10 hari,
atau Ciprofloksasin 2 x 500 mg selama 14 hari.
- Salmonella non Typhi: Trimetoprim-Sulfametoksazole atau ciprofloxacin atau
norfloxacin oral 2 kali sehari selama 5 7 hari.
- Shigellosis : Ampisilin 4 x 1 g/hr atau Kloramfenikol 4 x 500 mg/hr selama 5
hari.
- Helicobacter jejuni (C. jejuni): Eritromisin, dewasa: 3 x 500 mg atau 4 x 250
mg, anak: 30-50 mg/kgBB/hr dalam dosis terbagi selama 5-7 hari atau
Ciprofloxacin 2 x 500 mg/hr selama 5-7 hari.
- Amoebiasis : 4 x 500 mg/hr selama 3 hari atau Tinidazol dosis tunggal 2 g/hr
selama 3 hari.
- Giardiasis : Quinacrine 3 x 100 mg/hr selama 1 minggu atau Chloroquin 3 x
100 mg/hr selama 5 hari.
- Balantidiasis : Tetrasiklin 3 x 500 mg/hr selama 10 hari
- Virus: simptomatik dan suportif.

CHLORIDA MEMPENGARUHI DIARE

Diare yang disebabkan oleh yang memproduksi enterotoksin V. cholera


non 01, V. cholera 01 atau 0139, Enterotoksigenik E. coli (ETEC), C. perfringens,
Stap. aureus, B. cereus, Aeromonas spp., V. cholera eltor mengeluarkan toksin
yang terikat pada mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi dan
enterotoksin ini mengakibatkan kegiatan yang berlebihan Nikotinamid Adenin
Dinukleotid pada dinding sel usus, sehingga meningkatkan kadar adenosin 3,5-

14
siklik mono phospat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif
anion klorida kedalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation
natrium dan kalium.
Namun demikian mekanisme absorbsi ion Na melalui mekanisme pompa Na tidak
terganggu, karena itu keluarnya ion Cl- (disertai ion HCO3-, H2O, Na+ dan K+)
dapat dikompensasi oleh meningkatnya absorbsi ion Na (diiringi oleh H2O, K+,
HCO3-, dan Cl-).

15
16