Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR KIMIA MEDISINAL

SEMESTER GANJIL 2015 - 2016

SINTESIS DAN IDENTIFIKASI ASAM SALISILAT

Hari / Jam Praktikum : Rabu / 13.00-16.00 WIB


Tanggal Praktikum : 7 Oktober dan 16 Oktober 2015
Kelompok : 2
Asisten : 1. Annisa Claudia
2. Yockie D.

Yunistya Dwi Cahyani


260110150111

LABORATORIUM KIMIA MEDISINAL


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015
SINTESIS DAN IDENTIFIKASI ASAM SALISILAT

I. Tujuan
1. Mengenal reaksi esterifikasi dengan hasil padatan
2. Memahami cara pelaksanaan rekristalisasi dengan pelarut campuran
3. Menganalisa asetosal dengan menggunakan kromatografi lapis tipis dan
titik leleh.

II. Prinsip
1. Reaksi Esterifikasi
Esterifikasi atau pembentukan ester terjadi jika asam karboksilat
dipanaskan bersama alkhohol primer atau sekunder dengan sedikit asam
mineral sebagai katalis. Produksi ester secara industry dilakukan dengan
mereaksikan anhidrida asam dengan alkhohol. Ester yang dibuat dengan
cara ini adalah asam asetil salisilat atau yang lebih dikenal dengan aspirin
(Wilbraham, 1992).
2. Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah pemisahan bahan padat berbentuk kristalin.
Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil suatu sintesis kimia memiliki
kemurnian yang tidak terlalu tinggi.untuk memurnikan senyawa tersebut
perlu dilakukan rekristalisasi (Wiwin, 2008).
3. Reaksi asetilasi
Asetilasi merupakan proses masuknya radikal asetil dalam molekul
senyawa organik yang mengandung gugus OH atau reaksi penggantian
atom H dan gugus hidroksil dengangugus asetil (CH3COO)
menghasilkan ester yang spesifik (Wilbraham, 1992)
4. Kepolaran
Kepolaran dalam ikatan kimia adalah suatu keadaan dimana distribusi
penyebaran elektron tidak merata atau elektron lebih cenderung terikat
pada salah satu atom. Kepolaran erat kaitannya dengan keelektronegatifan
dan bentuk molekul. Kepolaran suatu senyawa tergantung dari harga
momen dipolnya (Wiwin, 2008).
5. Titik Leleh
Pelelehan adalah konversi dari keadaan padat ke cair. Titik leleh normal
suatu padatan ialah suhu pada saat padatan dan cairan berada dalam
kesetimbangan di bawah tekanan 1 atm (Oxtoby et al, 1999).
6. Hukum Lambert Beer
Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah radiasi cahaya Tampak, Ultra-
violet dan cahaya-cahaya lain yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu
larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal
larutan (Triyati, 1985). Hukum ini secara sederhana dapat dinyatakan
dalam rumus berikut:
-log T = abc A = abc,
dimana A adalah absorbansi, T adalah transmisi, a adalah absorptivitas, b
adalah tebal media (kuvet), dan c adalah konsentrasi larutan (Permanasari,
2011).
7. Kromofor
Bagian molekul yang bertanggung jawab terhadap penyerapan cahaya
disebut kromofor, dan terdiri atas ikatan rangkap dua atau rangkap tiga,
terutama jika ikatan rangkap tersebut terkonjugasi (ikatan rangkap dan
ikatan tunggal pada strukturnya berselang-seling). Semakin panjang ikatan
rangkap dua atau rangkap tiga terkonjugasi dalam molekulnya, maka
molekul tersebut akan semakin mudah menyerap cahaya (Cairns, 2004).
8. Intensitas cahaya
Intensitas cahaya dalam spektrofotometri dikenal sebagai absorbansi,
yang dapat diukur dengan spektrofotometer (Cairns, 2004).
III. Reaksi
1. Reaksi esterifikasi

(Fessenden dan Fessenden, 1982).


2. Reaksi pembuatan asetosal
(Fessenden dan Fessenden, 1982).

IV.

Teori Dasar
Asam salisilat (o-hidroksi asam benzoat) merupakan senyawa
bifungsional, yaitu memiliki gugus fungsi hidroksil dan gugus fungsi
karboksil. Asam salisilat berfungsi sebagai fenol (hidroksi benzene) dan juga
berfungsi sebagai asam benzoat. Baik sebagai asam maupun sebagai fenol,
asam salisilat dapat mengalami reaksi esterifikasi. Bila direaksikan dengan
anhidrida asam akan mengalami reaksi esterifikasi menghasilkan asam asetil
salisilat (Horizon, 2011).

Reaksi asetilasi adalah reaksi memasukkan gugus asetil dalam molekul


organic. Reagen yang digunakan adalah anhidrat asetat. Reaksi asetilasi
merupakan reaksi kesetimbangan; dengan mengambil satu arah reaksi yang
menuju pada sisi ester dapat diperoleh hasil yang besar dan konversi yang
tinggi adalah dengan menghilangkan air yang terbentuk (Groggin, 1985).

Ester merupakan turunan asam karboksilat yang gugus OH dari


karboksilnya diganti dengan gugus OR dari alkhohol. Ester dapat dibuat dari
asam dengan alkhohol (Wilbraham, 2011). Reaksi esterifikasi adalah reaksi
antara asam karboksilat dengan senyawa yang mengandung gugus COOR dan
R dapat berupa alkil ataupun aril. Esterifikasi dapat dilangsungkan dengan
katalis asam dan bersifat reversible (Fessenden dan Fessenden, 1982).

Mekanisme reaksi esterifikasi dapat dijelaskan melalui tahap-tahap


berikut.
a) Pembentukan senyawa proton pada asam karboksilat. Pada proses ini
terjadi perpindahan proton dari katalis asam atom oksigen pada gugus
karbonil.

b) Alkhohol nukleofilik menyerang karbon positif, di mana atom karbonil


kemudian diserang oleh atom oksigen dan alkhohol yang bersifat
nukleofilik sehingga terbentuk ion oksonium. Pada proses ini terjadi
pelepasan proton atau deprotonisasi dari gugus hidroksil milik alkhohol
dan menghasilkan senyawa kompleks teraktivasi.

c) Protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil yang diikuti pelpasan


molekul air untuk menghasilkan ester

(Horizon, 2011).

Kromatografi lapis tipis adalah salah satu contoh kromatografi planar.


KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya
hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan
dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen
untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi
kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni
skala kecil. Pelarut yang dipilih untuk pengembang disesuaikan dengan sifat
kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapisan tipis seperti silika gel adalah
senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi pereaksi yang lebih reaktif
seperti asam sulfat (Haqiqi, 2008).

Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk
identifikasi senyawa. Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan
dengan nilai Rf dari senyawa standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai
jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang
ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh karena itu bilangan Rf selalu lebih
kecil dari 1,0 (Arista, 2010).

Perhitungan nilai Rf Jumlah perbedaan warna yang telah terbentuk


dari campuran, pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan
identifikasi senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran ini berdasarkan pada
jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang tempuh oleh bercak warna
masing-masing. Ketika pelarut mendekati bagian atas lempengan, lempengan
dipindahkan dari gelas kimia dan posisi pelarut ditandai dengan sebuah garis,
sebelum mengalami proses penguapan. Pengukuran berlangsung sebagai
berikut: Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:

jarak yang ditempuholeh komponen


Rf =
jarak yang ditempuh oleh pelarut

(Haqiqi, 2008).

Pada permukaan gel silika yang merupakan fase diam, atom silikon
berlekatan pada gugus -OH. Jadi, pada permukaan gel silika terdapat ikatan
Si-O-H selain Si-O-Si. Permukaan gel silika sangat polar dan karenanya
gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang
sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-
dipol (Arista, 2010).

Jika kromatografi lapis tipis yang akan dideteksi pada substansi tidak
berwarna dilakukan dengan cara pendaflour dan bercak secara kimia. fase
diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang
ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika
diberikan sinar ultraviolet (UV). Untuk membuat bercak-bercak menjadi
tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga
menghasilkan produk yang berwarna. Dengan begitu kita dapat melihat
bercak-bercak warna pada masing-masing cuplikan untuk membandingkan
harga Rfnya dan mengetahui senyawa apa yang terdapat didalam cuplikan
(Arista, 2010).

Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang


gelombang tertentu yang digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika
energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi
dari panjang gelombang (Khopkar, 2003). Prinsip kerja spektrofotometer
berdasarkan hukum Lambert Beer, yaitu bila cahaya monokromatik (Io)
melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia),
sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Cara kerja alat
spektrofotometer UV yaitu sinar dari sumber radiasi diteruskan menuju
monokromator. Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui sampel
dengan sebuah cermin berotasi. Detektor menerima cahaya dari sampel secara
bergantian secara berulang-ulang, Sinyal listrik dari detektor diproses, diubah
ke digital dan dilihat hasilnya, selanjutnya perhitungan dilakukan dengan
komputer yang sudah terprogram (Gandjar dan Rohman, 2007).

Penentuan kadar aspirin biasa dilakukan pada panjang gelombang 190


380 nm. Hal ini dikarenakan aspirin memiliki gugus kromofor dan panjang
gelombang penyerapan cahayanya berada pada daerah visible yaitu 190
380 nm. Selain itu, aspirin memiliki titik leleh antara 133-135o C (Irwandi,
2014).

V. Alat dan Bahan

V.1 Alat 5.2 Bahan

1. Corong Buchner 1. Asetosal

Air
Anhidrida asetat
Asam asetat
2. Gelas kimia 2. Aquades

3. Gelas ukur 3. Etanol

4. Heater mantle 4. Metanol

5. Kaca arloji 5. Silika gel

6. Kertas saring 6. Asam salisilat

7. Labu Erlenmeyer 7. H2SO4 pekat

8. Labu didih bulat 8. Batu porselin

9. Labu ukur 250 mL 9. Kertas perkamen

10. Melting point apparatus

11. Neraca analitik digital

12. Oven

13. Plat tetes

14. Pipa kapiler

15. Pipet tetes

16. Spektrofotometer UV

17. Thermometer

V.3 Gambar Alat

(terlampir)
VI. Prosedur Kerja

Alat dan bahan telah disiapkan. Sebanyak 5 gram asam salisilat dan 7
mL anhidrida asetat dimasukkan dalam labu didih, larutan digoyangkan
beberapa menit agar seluruhnya tercampur. Setelah itu, sebanyak 3 tetes
H2SO4 diteteskan dalam larutan pereaksi. Larutan pereaksi dalam labu didih
dipanaskan pada heater mantle selama 10-15 menit dengan temperatur 60o C,
sambil terus diaduk dengan thermometer secara konstan. Setelah dilakukan
pemanasan, larutan aspirin dipipet dalam plat tetes dan kemudian ditetesi
dengan FeCl3. Langkah pemanasan dan penambahan FeCl3 dapat diulangi
kembali hingga larutan aspirin yang ditetesi FeCl3 tidak berubah warna (tetap
bening). Lalu, larutan aspirin didinginkan hingga warna larutan berubah
menjadi kental berwarna keabu-abuan.

Lalu, sebanyak 75 mL air hangat ditambahkan dalam labu didih dan


dilakukan pengadukan larutan kembali di atas heater mantle. Larutan yang
sudah tercampur sempurna didiamkan sejenak hingga terdapat kristal-kristal
dan disaring endapannya menggunakan kertas saring dan corong Buchner.
Kemudian, endapan aspirin dilarutkan dengan campuran air-etanol panas
hingga seluruhnya larut. Terakhir, larutan aspirin dipindahkan dari labu didih
ke labu Erlenmeyer dan didiamkan selama 24 jam hingga kristal-kristal
aspirin terbentuk sempurna.

Setelah didiamkan selam 24 jam, larutan aspirin disaring kembali


menggunakan kertas saring dan corong kaca untuk mendapatkan kristal
aspirin. Kemudian, kristal aspirin ditimbang beratnya, dicatat, dan diletakkan
pada kaca arloji. Kristal aspirin pada kaca arloji dimasukkan dalam oven
dengan temperature 100o C selama dua jam dan ditimbang berat setelahnya.
Langkah tersebut dapat diulang hingga berat kristal aspirin yang didapatkan
sudah tidak berubah-ubah lagi (tetap).
Langkah selanjutnya adalah larutan asetosal sampel, larutan asam
salisilat, dan larutan asetosal baku dibuat dengan ketentuan setiap zat dari
ketiga zat tersebut digunakan sebanyak 10 mg dan ditambahkan etanol
sebanyak 20 mL lalu dilarutkan hingga tecapai volume larutan 250 mL
sehingga terdapat larutan asetosal baku, larutan asam salisilat, dan larutan
asetosal sampel. Ketiga larutan dapat digunakan untuk analisa asetosal
melalui metode titik leleh, kromatografi lapis tipis, dan spektrofotometri UV.

Analisa asetosal dengan metode titik leleh dilakukan dengan cara


masing-masing larutan asetosal baku, asam salisilat, dan asetosal sampel
dimasukkan dalam pipa kapiler, kemudian pipa kapiler dimasukkan dalam
melting point apparatus. Pipa kapiler yang telah dimasukkan harus terus
dipantau dari temperatur 120-150o C untuk dapat diketahui titik leleh setiap
zat (asetosal baku, asam salisilat, dan asetosal sampel) dan dicatat
temperaturnya ketika mulai melebur hingga seluruhnya telah melebur.

Analisa asetosal dengan metode kromatografi lapis tipis dilakukan


dengan cara larutan asetosal sampel, larutan asam salisilat, dan larutan
asetosal baku diambil menggunakan masing-masing pipa kapiler dan
ditotolkan pada silika gel yang telah diberi garis atas dan garis bawah. Silika
gel yang digunakan berukuran panjang 8 cm x lebar 3 cm, di mana garis atas
dan garis bawah dibuat sejajar dengan lebar silika gel, dengan jarak 0,5 cm
dari pinggir.

1
2
3

0,5 cm 0,5 cm
Gambar Silika Gel
Pada gambar silika gel, terdapat nomor 1 yang merupakan titik
ditotolkannya asetosal baku, nomor 2 merupakan titik ditotolkannya asam
salisilat, dan nomor 3 merupakan titik tempat ditotolkannya asetosal sampel.
Setelah itu silika gel yang telah ditotolkan dengan masing-masing pereaksi
dimasukkan dalam larutan fase gerak yang berupa campuran larutan metanol
dan air dengan perbandingaan 1:1. Kemudian, silika gel ditunggu beberapa
menit hingga larutan fase geraknya sampai ke garis atas, lalu didiamkan
sejenak dan dilihat perpindahan titiknya dalam spektrofotometri UV 254 nm.

Analisa asetosal dengan metode spektrometri UV dilakukan dengan cara


larutan aquades dimasukkan dalam kuvet dan diuji dengan spektrometer UV
dan dilihat grafiknya pada komputer. Lalu, larutan asetosal sampel dan larutan
asetosal baku masing-masing dimasukkan dalam kuvet yang berbeda hingga
mencapai volume total kuvet. Kemudian diuji dengan spektrometer UV,
dilihat grafik absorpsinya pada komputer, dan dicatat.

VII. Data Pengamatan

Pembuatan Kristal Asetosal

No
Perlakuan Hasil
.
1 Memasukkan 5 gram asam salisilat didapatkan asam salisilat
dalam labu didih, kemudian larut
memasukkan 7 mL anhidrat asetat
dan menambahkan 3 tetes H2SO4
2 Memanaskan labu didih dalam suhu didapatkan larutan warna
60o C selama 15 menit dalam heater hitam kebiruan
mantle sambil memasukkan
beberapa batu porselin kecil dalam
labu didih dan mengaduknya
dengan thermometer
3 Memipet larutan aspirin dalam plat warna larutan tetap hitam
tetes dan menambahkan FeCl3 kebiruan
4 Memanaskan kembali larutan didapatkan warna larutan
aspirin selama 5 menit lalu memipet hitam kebiruan, setelah itu
larutan aspirin ke plat tetes dan warna larutan menjadi
menambahkan FeCl3 kembali. putih keruh dan kental
Ulangi kembali langkah ini hingga
larutan aspirin yang ditetesi FeCl3
tidak berubah warna (tetap bening)
5 Menambahkan 75 mL air pada larutan yang telah ditetesi
larutan aspirin berwarna ungu dan terdapat
endapan
6 Mengaduk larutan dalam labu didih didapatkan larutan berwarna
dan mendiamkannya sejenak putih keruh dan endapan
putih
7 Menyaring larutan aspirin dengan larutan dan endapan terpisah
corong Buchner
8 Melarutkan endapan aspirin dalam endapan larut
campuran air-etanol sambil
memanaskan dalam heater mantle
9 Memindahkan larutan aspirin yang larutan aspirin dalam labu
telah dipanaskan dalam labu erlenmeyer
erlenmeyer untuk kemudian
mendiamkannya selama 24 jam
Analisa Asetosal melalui Pengujian Titik Leleh

No
Perlakuan Hasil
.
1 Memasukkan asetosal sampel yang didapatkan asetosal sampel,
telah dibuat, asam salisilat, dan asam salisilat, dan asetosal
asetosal baku 98% dalam pipa baku dalam masing-masing
kapiler pipa kapiler sebanyak 1 cm
2 Memasukkan pipa kapiler yang Titik leleh asetosal sampel
berisi asetosal sampel, asam TL1 = 125,4o C
TL2 = 139,7o C
salisilat, dan asetosal baku 98%
Titik leleh asam salisilat
dalam melting point apparatus dan TL1 = 136,3o C
memantaunya dari suhu 120-150o C TL2 = 150,1o C
Titik leleh asetosal baku
TL1 = 135,1o C
TL2 = 143,2o C

Analisa Asetosal melalui Pengujian Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

No. Perlakuan Hasil


1 Mengambil larutan asetosal sampel, seluruh larutan telah
asam salisilat, dan asetosal baku ditotolkan pada silika gel
dengan pipa kapiler dan kemudian
menotolkan ketiga larutan pada titik 1,
2, 3 pada silika gel
2 Mengeringkan silika gel silika gel kering
3 Mencelupkan dan merendamkan silika fase gerak naik
gel pada 20 ml fase gerak (larutan
metanol dan air 1:1)
4 Mengamati kenaikan fase gerak fase gerak mencapai garis
hingga sampai pada garis yang telah atas
ditentukan pada silika gel
5 Mengeringkan silika gel yang telah hasil totolan terletak pada
direndam dan memasukkannya dalam garis batas atas dan
spektrofotometri UV 254 nm tergabung menjadi satu

Analisa Asetosal melalui Pengujian Spektrofotometri UV

No
Perlakuan Hasil
.
1 Memasukkan aquades dalam kuvet, larutan bening dan kuvet
lalu menguji dengan bersih
spektrofotometer
2 Memasukkan asetosal sampel dalam absorban tertinggi pada 228
kuvet hingga setinggi 3/4 kuvet nm

3 Memasukkan asetosal baku dalam absorban tertinggi pada 229


kuvet hingga setinggi 3/4 kuvet nm

VIII. Perhitungan

Diketahui:
massa asetosal (C7H6O3) = 5 gram
massa anhidrida asetat (C4H6O3) = 7,5 gram
Mr C7H6O3 = 138,12
Mr C4H6O3 = 102,09
Ditanyakan:
Berapa C4H6O3 yang dibutuhkan?
Jawab:
Mol (n) asam salisilat C7H6O3
Gram 5
n= = =0,036 mol
Mr 138,12

Mol (n) anhidrida asetat C4H6O3


Gram 7,5
n= = =0,073 mol
Mr 102,09

Asam Salisilat + Anhidrida Asetat Aspirin + Asam Asetat

M 0,036 0,073

B 0,036 0,036 0,036 0,036

S 0,037 0,036 0,036

Massa aspirin:

Gram
n=
Mr
Gram=n Mr =0,036 176=6,336 gram

massa asetosal yang diperoleh


rende men= 100
Massa perhitungan

1,9
100
6,336

29,987

IX. Pembahasan
Aspirin adalah senyawa turunan asam salisilat yang dapat disintesis
melalui reaksi esterifikasi. Asam salisilat dilarutkan pada anhidrida asetat
sehingga terjadi substitusi gugus hidroksi (OH) pada asam salisilat dengan
gugus asetil (OCOCH3) pada anhidrida asetat.

Dalam praktikum kali ini, digunakan senyawa pereaksi utama yaitu


asam salisilat dan anhidrida asetat. Asam salisilat adalah asam bifungsional
yang mengandung dua gugus OH dan COOH. Oleh karena itu, asam
salisilat ini dapat mengalami dua jenis reaksi yang berbeda yaitu reaksi asam
dan basa. Reaksi dengan anhidrida asetat dalam suasana asam akan
menghasilkan aspirin melalui reaksi esterifikasi. Anhidrida asetat digunakan
karena hasil esterifikasi fenol ini akan mendapatkan hasil yang lebih baik
apabila digunakan derivat asam karboksilat yang lebih reaktif. Anhidrida asam
asetat merupakan derivat yang lebih reaktif yang dapat menghasilkan ester
asetat. Sedangkan, reaksi asam salisilat dalam suasana basa yang dilakukan
dengan metanol ekses akan menghasilkan metil salisilat.

Berdasarkan reaksi asetilasi antara asam salisilat dan anhidrida asetat,


digunakan senyawa anhidrida asetat untuk direaksikan dengan asam salisilat.
Penggunaan anhidrat asetat karena untuk mencegah adanya air, sebab bila
terdapat air maka kristal aspirin akan terurai kembali menjadi asam salisilat.
Selain itu, anhidrida asetat lebih baik daripada asam asetat karena anhidrida
asetat memiliki gugus asetil yang merupakan leaving group yang lebih baik
bila dibandingkan dengan gugus hidroksi pada asam asetat, anhidrida asetat
akan menyerang nukleofil yang ada pada asam salisilat. Gugus hidroksi
merupakan leaving group yang kurang baik karena pelepasan gugus tersebut
tidak dapat terjadi secara langsung pada pusat reaksi (atom C yang mengikat
gugus hidroksi).
Pada percobaan yang dilakukan, digunakan 5 gram asam salisilat dan 7
ml anhidrida asetat sebagai pereaksi. Sesuai dengan reaksi asetilasi, asam
salisilat akan menjadi pereaksi pembatas. Artinya secara teoritis, jumlah
aspirin yang dihasilkan adalah setara dengan jumlah asam salisilat yang
direaksikan. Anhidrat asetat ditambahkan berlebih agar asam salisilat habis
bereaksi. Dengan adanya bergesernya kesetimbangan ke arah produk, aspirin
yang dihasilkan akan semakin banyak.

Perlu diketahui bahwa anhidrat asetat terlebih dahulu harus


dicampurkan dengan air. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gugus asam
karboksilat; molekul anhidrat asetat akan mengalami perubahan struktur kimia
jika direaksikan dengan air menjadi asam asetat. Oleh karena itu, hasil reaksi
sampingan dari reaksi pembuatan aspirin adalah asam asetat.

Dalam reaksi ini juga dilakukan penambahan asam sulfat pekat


sebanyak 2 tetes. Fungsi dari H2SO4 pekat yang ditambahkan yakni sebagai
pemberi suasana asam karena reaksi berlangsung pada suasana asam.
Penggunaan katalis asam kuat dalam reaksi ini dapat diganti dengan jenis
asam kuat pekat lainnya, seperti asam fosfat. Asam sulfat tersebut berperan
sebagai katalis asam, di mana dapat membuat interaksi energi ikatan
antarmolekul asam salisilat dengan anhidrida asetat menjadi teraktivasi.
Berikut merupakan mekanisme reaksinya.
Selain itu, penambahan asam sulfat pekat juga berfungsi sebagai zat
penghidrasi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hasil samping dari
reaksi asam salisilat dan anhidrida asam asetat adalah asam asetat. Hasil
samping ini akan terhidrasi membentuk anhidrida asam asetat. Anhidrida
asam asetat akan kembali bereaksi dengan asam salisilat membentuk aspirin
dan tentu saja dengan hasil samping berupa asam asetat lagi. Jadi, dapat
dikatakan reaksi akan berhenti setelah asam salisilat habis karena adanya
asam sulfat pekat ini.
Setelah larutan tercampur, kemudian larutan dipanaskan dalam melting
point apparatus sambil diaduk dengan suhu di antara 50-60oC selama 15
menit. Reaksi ini dapat berlangsung dengan optimal pada suhu tersebut.
Reaksi ini dilakukan pada suhu tinggi agar mempercepat tercapainya energi
aktivasi sehingga asam salisilat dapat larut dengan sempurna. Jika larutan
dipanaskan dengan suhu lebih dari 60 oC, larutan akan menguap dan jika
dipanaskan dengan suhu 50oC atau bahkan kurang dari suhu tersebut, maka
reaksi tidak akan berjalan optimal.

Ketika larutan aspirin dipanaskan, labu didih diberi tutup dan setiap
dua menit tutupnya dibuka. Hal ini disebabkan oleh adanya gas yang
dihasilkan dari tumbukan partikel ketika terjadi pengadukan di heater mantle.
Tumbukan partikel membuat molekul-molekul yang berada dalam larutan
aspirin menimbulkan uap gas yang terperangkap dalam labu didih. Sifat gas
yang berada dalam suatu wadah akan menekan ke segala arah dengan besar
gaya yang jauh lebih besar dari gaya awal gas tersebut ketika dilepaskan. Oleh
karena itu, jika tutup labu didih tidak dibuka setiap dua menit, maka akan
terjadi penumpukan gas di dalamnya dan pada akhirnya membuat tutup labu
didih sangat sulit untuk dibuka. Hal ini dapat menggangu jalannya reaksi di
dalam labu didih. Setiap tutup labu didih dibuka, juga dilakuan pengecekan
temperatur dengan thermometer yang bertujuan agar mempertahankan suhu
konstan 60oC dalam reaksi tersebut.

Pada uji kemurnian aspirin, larutan aspirin diambil beberapa mL


menggunakan pipet tetes dan diletakkan pada plat tetes untuk ditetesi dengan
FeCl3 1%. Setelah ditetesi larutan besi (III) klorida, warna larutan menjadi
ungu. Warna reagen yang ungu tersebut menujukkan aspirin mengandung
gugus fenol. Uji ini positif karena terbentuk kompleks ungu. Reaksi ini
merupakan reaksi spesifik untuk fenol. Warna ungu yang terus muncul ketika
larutan pereaksi ditetesi FeCl3 menunjukkan bahwa kristal aspirin yang ada
dalam larutan masih belum benar-benar murni. Hal ini dapat diatasi dengan
terus mengaduk kristal aspirin dalam larutan pereaksi dan dipanaskan melalui
melting point apparatus, kemudian dipipet pada plat tetes dan ditetesi FeCl 3
lagi hingga warna larutan ketika ditetesi FeCl3 tetap bening (hasil uji negatif).

Labu didih yang berisi zat pereaksi diberikan beberapa batu porselin
kecil yang memiliki pori-pori untuk memperbesar luas permukaan tumbukan
molekul dari zat pereaksi di dalamnya sehingga juga dapat mempercepat
tercapainya energi aktivasi. Labu didih bulat dan batu porselin kecil
membantu meratakan panas yang diperoleh dari melting point apparatus.
Setelah pemanasan, dilakukan penambahan air hangat pada larutan secara
perlahan, dengan tujuan untuk mengikat kelebihan anhidrida asetat sehingga
tidak mengganggu jalannya reaksi selanjutnya.

Selanjutnya, dilakukan penambahan air dingin sebanyak 75 ml dan


segera disaring menggunakan corong Buchner untuk memisahkan aspirin dari
pengotornya. Harus dilakukan segera penyaringan karena reaksi pembentukan
aspirin bersifat reversible dimana bila terdapat air maka dapat menyebabkan
aspirin kembali menjadi komponen-komponen penyusunnya yakni asam
salisilat dan anhidrida asetat. Akan tetapi, air yg ditambahkan tidak boleh
terlalu banyak karena aspirin sedikit larut dalam air. Digunakan air dingin,
karena dengan berkurangnya suhu, kelarutan aspirin dalam air akan
berkurang. Tetapi tentu saja dengan penyaringan ini aspirin yang dihasilkan
belum benar-benar murni.

Kemudian dilanjutkan dengan rekristalisasi, rekristalisasi


(pembentukan kristal kembali) bertujuan untuk mendapat kristal aspirin yang
lebih murni. Proses rekristalisasi menggunakan 2 pelarut yaitu campuran air
hangat dan etanol sebanyak 15 mL. Jika larutan digunakan sendiri-sendiri
kurang memenuhi syarat sebagai pelarut rekristalisasi. Pelarut etanol bersifat
melarutkan, sedangkan pelarut air hangatnya tidak melarutkan, sehingga dapat
terbentuk kristal. Bila hanya menggunakan etanol saja maka jumlah etanol
yang dibutuhkan melebihi jumlah yang diberikan dalam formulasi. Selain itu
etanol yang ditambahkan berlebih akan membuat aspirin yang larut saat panas
akan sulit mengkristal kembali. Etanol dipanaskan dalam labu didih yang
diberi tutup supaya menghindari penguapan etanol. Begitu juga dengan air,
bila menggunakan air saja maka dibutuhkan air dalam jumlah banyak
sehingga tidak efisien. Penambahan air hangat ke dalam labu didih harus
setelah kristal larut dalam etanol. Hal ini agar aspirin yang telah terbentuk
tidak terhidrolisa kembali. Jadi, itulah kegunaan kedua pelarut untuk
mendapatkan kristal yg bagus dan maksimum hasilnya.

Selain itu, campuran air hangat dan etanol sebanyak 15 mL juga


digunakan sebagai pelarut karena dapat melarutkan pengotor-pengotor dalam
kristal. Tetapi harus dilakukan dalam keadaan panas karena kristal tidak dapat
dilarutkan pada suhu rendah. Oleh karena itu, digunakan air hangat dan
larutan dipanaskan kembali. Pengotor-pengotor yang terdapat dalam kristal
berasal dari batu porselin yang berpori-pori. Etanol berfungsi untuk
melarutkan pengotor nonpolar, sedangkan air berfungsi untuk melarutkan
pengotor yang bersifat polar.

Setelah aspirin disaring, kemudian dimasukkan dalam oven dengan


temperatur 100o C. Temperatur ini digunakan dengan tujuan agar kandungan
air yang masih terdapat pada kristal aspirin dapat menguap sehingga
didapatkan kristal aspirin yang murni. Pada saat suhu 100o C molekul-molekul
air mengalami penguapan sehingga nantinya berat yang didapatkan benar-
benar berat aspirin saja.

Lalu, perlu dilakukan pendinginan terhadap larutan. Pendinginan


bertujuan agar proses kristalisasi berlangsung lebih cepat. Dalam praktikum
ini dilakukan pendinginan dengan cara mendiamkan larutan aspirin selama 24
jam. Ketika suhu dingin molekul-molekul aspirin dalam larutan akan bergerak
melambat dan pada akhirnya terkumpul membentuk endapan melalui dua
tahap proses nukleasi (induced nucleation). Tahap pertama adalah nukleasi
primer atau pembentukkan inti, yaitu tahap dimana kristal-kristal mulai
tumbuh namun belum mengendap. Tahap ini membutuhkan keadaan
superjenuh dari zat terlarut. Saat larutan didinginkan, pelarut tidak dapat
menahan semua zat-zat terlarut, akibatnya molekul-molekul yang lepas dari
pelarut saling menempel dan mulai tumbuh menjadi inti kristal. Semakin
banyak inti-inti yang bergabung, maka akan semakin cepat pula pertumbuhan
kristal tersebut. Tahap kedua setelah nukleasi primer adalah nukleasi
sekunder. Pada tahap ini petumbuhan kristal semakin cepat, yang ditandai
dengan saling menempelnya inti-inti menjadi kristal-kristal padat.

Selain itu, aspirin bersifat tidak larut dalam air dingin ataupun air
panas. Hal ini dikarenakan asam salisilat sebagai bahan baku aspirin
merupakan turunan asam bnezoat yang termasuk dalam asam lemah, yang
bersifat sukar larut dalam air. Oleh karena itu, dalam proses pembuatan aspirin
dilakukan penambahan air agar dapat terjadi suatu endapan aspirin.

Analisa asetosal atau aspirin melalui metode uji titik leleh dilakukan
dengan cara memasukkan asetosal dalam pipa kapiler hingga setinggi 1 cm.
Seharusnya sebelum dimasukkan asetosal, salah satu ujung pipa kapiler perlu
dibakar terlebih dahulu agar zat-zat yang ada di dalam pipa kapiler meleleh
lebih dulu ketika proses pelelehan. Hal ini dapat menghilangkan zat yang
menghambat proses pipa kapiler dalam melelehkan asetosal sehingga proses
pelelehan dapat berlangsung dengan lancar. Selain itu, pembakaran ini
dilakukan agar salah satu ujung pipa kapiler tersebut menutup dan dapat
menampung kristal asetosal yang akan dimasukkan. Apabila salah satu ujung
tersebut tidak tertutup, maka asetosal yang dimasukkan akan keluar kembali
dari pipa kapiler. Namun, pada percobaan kali ini pipa kapiler tidak dibakar
terlebih dahulu, melainkan langsung diisi dengan asetosal. Hal ini nantinya
dapat memengaruhi hasil percobaan yang dilakukan.

Titik leleh suatu senyawa murni (baku) biasanya memiliki interval


temperatur yang sempit dan pasti, namun untuk cuplikan senyawa yang sama
dan tidak murni (sampel) akan meleleh pada interval suhu yang lebar. Dalam
beberapa kasus, adanya pengotor dapat menyebabkan perubahan titik leleh
menjadi titik leleh yang lebih rendah atau lebih tinggi dari senyawa utamanya
(senyawa baku).

Di lain sisi, jumlah asetosal yang dimasukkan ke dalam pipa kapiler


memengaruhi suhu dan energi yang dibutuhkan untuk melelehkan asetosal.
Semakin banyak jumlah asetosal yang dimasukkan maka semakin tinggi suhu
yang dibutuhkan untuk melelehkan seluruh asetosal. Oleh karena itu,
sebaiknya jumlah asetosal yang dimasukkan secukupnya saja, seperti dalam
percobaan ini hanya digunakan asetosal hingga 1 cm saja. Penggunaan pipa
kapiler dalam proses mengetahui titik leleh asetosal dengan melting point
apparatus dikarenakan hanya pipa kapilerlah yang cocok digunakan dalam
melting point apparatus.

Penggunaan suhu 120-150o C pada melting point apparatus untuk


memudahkan penentuan suhu saat asetosal meleleh. Suhu tersebut juga
hampir sesuai dengan suhu asetosal pada literatur, yaitu 133-135 o C. Melting
point apparatus yang digunakan untuk melelehkan asetosal dapat menaikkan
suhu asetosal secara perlahan sehingga asetosal dapat meleleh dengan baik.
Selisih antara suhu awal zat saat mulai melebur dan suhu akhir zat saat selesai
meleleh disebut dengan range melting point apparatus. Suhu awal dicatat saat
pertama kali asetosal berubah dari fase padat ke cair, sedangkan suhu akhir
dicatat ketika asetosal melebur secara sempurna.
Pada percobaan ini, melting point yang ditunjukkan oleh asetosal baku

ialah sebesar 135,1 143,2 . Sedangkan melting point yang

ditunjukkan oleh asetosal sampel ialah sebesar 125,4 139,7 .

Dan melting point yang dutunjukka oleh asam salisilat ialah sebesar 136,3

150,1 . Berdasarkan data tersebut, terdapat perbedaan yang

cukup signifikan antara asetosal baku dan asetosal sampel. Hal ini
menunjukkan perbedaan tingkat kemurnian antara asetosal baku dan asetosal
sampel. Faktor yang memengaruhi kemurnian suatu zat ialah adanya zat
pengotor. Zat pengotor tersebut mungkin masih mengendap karena tidak
berhasil dilarutkan oleh etanol dan air panas saat proses sintesis asetosal
sehingga menghambat proses pelelehan asetosal sampel.
Analisa asetosal selanjutnya dengan metode spektrofotometri UV. Zat
yang akan diuji dengan spektrofotometri akan lebih baik jika diuji dalam
bentuk larutan, dikarenakan larutan memiliki ukuran molekul yang kecil
sehingga ketika cahaya UV diteruskan ke dalam sampel, cahaya tidak terlalu
banyak diserap/diabsorbsi oleh komponen sampel. Hal ini dapat menyebabkan
menigkatnya keakuratan pembacaan zat oleh spektrofotometri UV.
Pada percobaan spektrofotometri UV, awalnya terdapat kuvet yang
diisi dengan aquades dan setelahnya diuji dengan spektrofotometer. Aquades
ini digunakan sebagai pembanding nilai panjang gelombang dan
absorbansinya. Absorbansi adalah suatu polarisasi cahaya yang terserap oleh
bahan pada panjang gelombang sehingga akan membentuk warna tertentu.
Selain itu digunakan pula larutan blanko yang digunakan untuk mengetahui
serapan zat yang bukan analit. Masing-masing kuvet berbeda diisi dengan
asetosal baku dan asetosal sampel sebanyak bagian dari kuvet, kemudian
diuji dengan menggunakan spektrofotometer. Tingkat absorbansi dari asetosal
baku dan asetosal sampel berbentuk grafik dan dapat dilihat pada komputer
yang telah tersambung dengan spektrofotometer.
Cara memegang kuvet yang benar ialah dengan memegang di bagian
yang buram, agar cahaya yang masuk tidak akan terhalang. Perlu diketahui
bahwa bagian bening dari kuvet tersebut merupakan tempat masuknya cahaya.
Identifikasi dan karekaterisasi asetosal dapat dilakukan dengan metode
KLT atau Kromatografi Lapis Tipis. Bahan yang digunakan pada metode KLT
ini berupa silika gel. Silika gel umumnya mengandung bahan tambahan
kalsium sulfat yang berfungsi untuk mempertinggi daya lekat. Silika gel
digunakan sebagai absorben bagi senyawa-senyawa netral, asam, dan basa.
Pada percobaan KLT ini, silika gel diukur terlebih dahulu, yaitu dengan
diberi garis sebagai penanda batas bagi fase gerak dan diberi jarak pula bagi
larutan yang akan ditotol yaitu masing-masing larutan sebesar 1 cm. Tujuan
diukurnya silika gel ini ialah agar bercak yang terbentuk pada teratur. Pada
percobaan ini, digunakan pipa kapiler untuk menotolkan larutan asetosal baku,
asetosal sampel, dan asam salisilat 40 ppm ke atas silika gel. Alasan
penggunaan pipa kapiler adalah karena untuk memudahkan saat menotolkan
larutan ke silika gel, supaya bercak/noda yang terbentuk tidak terlalu besar.
Larutan asetosal baku, asetosal sampel, dan asam salisilat ditotol dengan jarak
0,5 dari bawah silika gel.
Silika gel yang telah ditotol tersebut kemudian dikeringkan sebelum
dicelup ke dalam larutan fase gerak. Setelah kering, silika gel dimasukkan ke
dalam gelas beaker yang telah berisi fase gerak yang dibuat dari methanol dan
air dengan perbandingan 1:1. Perbandingan ini dimaksudkan untuk
menyeimbangkan tingkat kepolaran saat proses penotolah. Ketika direndam,
larutan fase gerak akan naik hingga mencapai garis yang ditentukan. Apabila
fase gerak telah mencapai garis, maka silika gel tersebut diambil untuk
kemudian diamati dengan menggunakan UV 254 nm. Dari pengamatan
tersebut didapatkan bercak hasil penotolan ketiga larutan (asetosal baku,
asetosal sampel, dan asam salisilat). Dari bercak tersebut, dapat dihitung nilai
Rf nya. Rf adalah parameter karakteristik kromatografi lapis tipis. Rf dapat
difenisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan
jarak tepi muka pelarut dari titik awal. Harga Rf dipengaruhi oleh pelarut yang
dugunakan, bahan fase gerak, suhu, panjang trayek migrasi, dan
ketidakhomogenan lempeng.
Pada percobaan kali ini nilai Rf tidak dapat dihitung karena ketiga
bercak yang terbentuk terletak pada posisi yang sejajar dan terlihat agak
menyatu. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada praktikum uji kemurnian
dan karakteristik asetosal adalah ketika menotolkan larutan ke atas silika gel,
larutan yang ditotolkan ke atas silika gel harus ditotol secukupnya sehingga
diameter dari larutan yang ditotol tidak terlalu besar. pada percobaan ini,
larutan yang ditotol terlalu banyak, sehingga saat bercak/noda tersebut diamati
dengan UV 254 nm bercak tersebut terlihat menyatu. Selain itu, larutan fase
gerak yang terdiri dari methanol dan air juga memengaruhi pengujian
kemurnian asetosal ini. methanol bukanlah pelarut yang baik. Pada larutan
fase gerak seharusnya digunakan etil asetat, karena etil asetat merupakan
larutan pengembang yang lebih baik dibandingkan methanol.

X. Kesimpulan
1. Reaksi esterifikasi antara asam salisilat dan anhidrida asetat
menghasilkan asam asetil salisilat sebesar 1,9 gram
2. Dalam proses rekristalisasi digunakan etanol dan air sebagai pelarut
3. Asetosal dapat dianalisis dengan metode titik leleh, spektofotometri UV,
dan KLT. Dengan metode titik leleh didapat titik leleh asetosal sebesar

125,4 139,7 . Sedangkan dengan metode KLT, nilai Rf tidak

dapat dihitung karena posisi bercak 1 dan bercak 2 sejajar dan agak
menyatu
DAFTAR PUSTAKA

Arista, I. 2010. Kromatografi Lapis Tipis. Tersedia online di


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19236/3/Chapter%20II.pdf
[diakses pada 15 Oktober 2015 pukul 02.22 WIB]

Cairns, D. 2004. Intisari Kimia Farmasi, Edisi Kedua. Jakarta: EGC.

Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Gandjar, I. G., dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Groggin, P.H. 1985. Unit Process in Organic Chemistry. New York: Mc Grow Hill
Book

Haqiqi, S.H. 2008. Tersedia online di http://www.siafif.com/kuliah/sukma/semester


%208/SKRIPSI%20KAKAK%20TINGKAT/lumut222/paper-kromatografi-
lapis-tipis.pdf [diakses pada 15 Oktober 2015 pukul 02.32 WIB]

Horizon. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi: Universitas Jambi.

Irwandi, D. 2014. Experients of Organic Chemical. Jakarta: UIN Press

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.

Oxtoby, D.W., H.P. Gillis, dan N.H. Nachtrieb. 1999. Principles of Modern
Chemistry Fourth Edition. US: Harcourt Inc.

Permanasari, A. 2011. Spektrofotometri Serapan UV-Vis. Tersedia online di


http://anna-permanasari.staf.upi.edu/files/2011/03/Spektro-UV-Vis.pdf
[diakses pada 15 Oktober 2015 pukul 01.40 WIB]
Triyati, E. 1985. SPEKTROFOTOMETER ULTRA-VIOLET DAN SINAR
TAMPAK SERTA APLIKASINYA DALAM OSEANOLOGI. Jurnal Oseana,
Volume X Nomor 1. Tersedia online di
http://www.oseanografi.lipi.go.id/publikasi/oseana_x(1)39-47.pdf [diakses
pada 15 Oktober 2015 pukul 01.23 WIB]

Wilbraham, A. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung: ITB.

Wiwin. 2008. Kepolaran Ikatan. Tersedia online di


http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/wiwin
%200606489/index_files/Page2852.htm [diakses pada 15 Oktober 2015 pukul
01.14 WIB]
LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar Alat

5.3. Gambar alat

Corong Corong Erlenmeye Gelas


Buchner r Kimia

Gelas Heater Kaca Kertas


Ukur mantle arloji Saring

Melting point Oven Pipa Pipet Tetes


apparatus Kapiler

Spektofotometri UV Termomete Timbanga


r n
Lampiran 2. Gambar Data Pengamatan

Gambar Keterangan
Larutan asetosal setelah dipanaskan selama 15 menit

pada suhu 5060 dan ditambahkan 75 ml air

Larutan asetosal disaring dengan corong Buchner

Endapan yang telah terpisah dari larutan dimasukkan


ke dalam gelas beaker

Endapan asetosal ditambahkan dengan 15 ml etanol


dan 37,5 ml aquades untuk selanjutnya dipanaskan

Asetosal yang telah larut


Asetosal didinginkan sampai terbentuk kristal jarum

Kristal jarum disaring dengan menggunakan kertas


saring dan corong agar terpisah dari larutan

Kristal jarum telah dipisahkan dari larutan

Asetosal ditimbang sebelum dikeringkan dengan oven

Asetosal setelah dikeringkan dengan oven