Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

TUGAS IV

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN POLIFENOL DAN TANIN


(Ekstrak Psidium guajava)

Disusun Oleh:
Nama : Arina Rahayu
NIM : 201410410311234
Kelompok : VII (Tujuh)
Kelas : Farmasi A

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2017

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan
kemampuan, kekuatan, serta keberkahan baik waktu, tenaga, maupun pikiran kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul Identifikasi
Senyawa Golongan Polifenol dan Tanin (Ekstrak Psidium guajava) tepat pada
waktunya.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan laporan ini.
Maka dari itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca.
Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Malang, 21 Maret 2017

Penulis

DAFTAR ISI

2
KATA PENGANTAR...................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................. iii
I. TUJUAN................................................................................................................ 1
II. PRINSIP TEORI.................................................................................................. 1
1. Tanaman Jambu (Psidium guajava).............................................................................1
2. Sistematika Tumbuhan Jambu Biji.............................................................................. 1
3. Morfologi Tumbuhan Jambu Biji................................................................................ 2
4. Manfaat Tumbuhan Jambu Biji.................................................................................. 2
5. Polifenol.............................................................................................................. 3
6. Klasifikasi Polifenol................................................................................................ 3
7. Manfaat & Khasiat Polypenol.................................................................................... 5
8. Tanin................................................................................................................... 6
9. Klasifikasi Tanin.................................................................................................... 7
10. Manfaat Tanin....................................................................................................... 8
11. Cara Identifikasi Senyawa........................................................................................ 9
12. Tinjauan eluen dan tinjauan polaritas........................................................................11
III. ALAT DAN BAHAN........................................................................................... 15
IV. SKEMA KERJA................................................................................................. 16
V. HASIL............................................................................................................. 19
VI. PEMBAHASAN................................................................................................. 19
VII. KESIMPULAN.................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 20

3
IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN POLIFENOL DAN TANIN
(Ekstrak Psidium guajava)

I. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan polifenol dan tannin
dalam tanaman

II. PRINSIP TEORI


1. Tanaman Jambu (Psidium guajava)
Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang gembur
maupun liat, pada tempat terbuka dan mengandung air cukup banyak. Pohon ini
banyak ditanam sebagai pohon buah-buahan. Namun, sering tumbuh liar dan
dapat ditemukan pada ketinggian 1-1.200 m dpl. Jambu biji berbunga sepanjang
tahun (Hapsoh, 2011).

2. Sistematika Tumbuhan Jambu Biji


Secara botanis tanaman jambu biji diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava L.
Nama Lokal : Jambu Biji

1
3. Morfologi Tumbuhan Jambu Biji
Jambu biji perdu atau pohon kecil, tinggi 2-10 m, percabangan banyak.
Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna cokelat
kehijauan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun muda
berambut halus, permukaan atas daun tua licin. Helaian daun berbentuk bulat telur
agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak melekuk ke atas,
pertulangan menyirip, panjang 6-14 cm, lebar 3-6 cm, berwarna hijau. Bunga
tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun, berkumpul 1-3 bunga, berwarna
putih. Buahnya buah buni, berbentuk bulat sampai bulat telur, berwarna hijau
sampai hijau kekuningan. Daging buah tebal, buah yang masak bertekstur lunak,
berwarna putih kekuningan atau merah jambu. Biji buah banyak mengumpul di
tengah, kecil-kecil. Keras, berwarna kuning kecoklatan (Hapsoh, 2011).

4. Manfaat Tumbuhan Jambu Biji


Tanaman jambu biji atau Psidium guajava L. Termasuk familia Myrtaceae,
banyak tumbuh di daerah-daerah di tanah air kita. Penduduk terlalu
mementingkan buahnya, sedangkan daun-daunnya hanya sebagian kecil saja yang
memperhatikannya, padahal mempunyai nilai obat yang baik, terutama untuk
menyembuhkan sakit: diare dan astringensia (Kartasapoetra, 1992).
Jambu biji memiliki beberapa kelebihan, antara lain buahnya dapat
dimakan sebagai buah segar, dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan dan
minuman. Selain itu, buah jambu biji bermanfaat untuk pengobatan (terapi)
bermacam-macam penyakit, seperti memperlancar pencernaan, menurunkan
kolesterol, antioksidan, menghilangkan rasa lelah dan lesu, demam berdarah, dan
sariawan. Selain buahnya, bagian tanaman lainnya, seperti daun, kulit akar
maupun akarnya, dan buahnya yang masih muda juga berkhasiat obat untuk
menyembuhkan penyakit disentri, keputihan, sariawan, kurap, diare, pingsan,
radang lambung, gusi bengkak, dan peradangan mulut, serta kulit terbakar sinar
matahari (Cahyono B, 2010)
5. Polifenol
Tumbuhan yang hidup disekitar kita memiliki kandngan kimia yang unk.
Kimia bahan alam yang merupakan hasil dari metabolisme sekunder. Bahan kimia

2
yang dimaksud biasanya di gunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya
dalam bidang farmasi. Salah satu kelompok senyawa yang banyak memberikan
manfaat bagi manusia adalah polifenol. Senyawa yng termasuk kedalam polifenol
ini adalah semua senyawa yang memiliki struktur dasar berupa fenol. Polifenol
adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini memiliki
tanda khas yakni memilikibanyak gugus fenol dalam molekulnya. Fenol sendiri
merupkan struktur yang terbentuk dari benzena tersubtitusi dengan gugus OH.
Gugus OH yang terkandung merupakan aktivator yang kuat dalam reaksi
subtitusi aromatik elektrofilik (Fessenden,1982). Fenol Polifenol dapat
diklasifikasikan menjadi beberpa jenis berdasarkan unit basanya antara lain Asam
Galia, Asam Sinamat, dan Flavon. Selain itu senyawa-senyawa polifenol jika
berdasarkan komponen penyusun fenolnya dapaat dibagi menjadi Fenol,
pyrocatechol, pirogallol,resorsinol, floroglucinol, dan hidroquinon. Jenis-jenis
diatas akan dibahas dalam makalah ini. Selain itu juga makalah ini juga akan
membahassalah satu contoh senyawa polifenol yang ada didalam the yang sering
kita konsumsi.Senyawa yang dimaksud antara lain epicatechin dan
epigallocatechin. Senyawa ini akan dibahas tentang reaksi oksidasi dan biosintesis
dari turunan epigallocatechin yang berupa senyawa Epigallocatechin gallate
(EGCG).Kerena polifenol banyak dimanfaatkan oleh manusia dan sebagian telah
diproduksi dengan cara disintesis secara industri sebagai obat. Itulah sebabnya
kita akan membahas tentang beberapa contoh dan fungsi-fungsi senyawa
polifenol.

6. Klasifikasi Polifenol
Polifenol jika diklasifikasikan berdasarkan unit basanya di
bagimenjadikelompok 3 kelompok besar yaitu asam galic, polivenol, Flavon,
asam sinamat.

a. Asam Galic

Senyawa ini memiliki struktur benzen yang tersubtitusi dengan 3 gugus


OH dan satu gugus Karboksilat. Contohnya seperti jenis hydrolyzabletannins
yang merupakan jenis tanin yangdapat larut di dalam air membentuk asam gallic

3
dan asam protocatechuic dan gula. Contoh jenis ini adalah gallotanin (Anonim,
2009).

b. Asam galat
Senyawa ini tidak terlalu berperan didalam tumbuhan tetapi cukup
memberikan sumbangan manfaat bagi manusia khususnya dalam bidang
kesehatan. Senyawa jenis ini telah diteliti dapat menghamba tumor, anti-virus, anti
oksidasi, anti diabetes (Hayashi et.al. 2002) dan anti cacing(Moriet.al, 2000).
c. Flavon.
Jenis polifenol ini yang paling banyak terdapat di alam. Senyawa ini juga
termasuk flavonoid. Contoh senyawa ini adalah epicatechin dan epigalocatechin,
senyawa ini terkandung di dalam teh yang memiliki fungsi sebagai
antioksidan.epicatechin epigalocatechin
d. Asam sinamat
Senyawa jenis ini memliki struktur umum asam sinamat. Salah satu contoh
jenis ini adalah lignin. Lignin banyak terdapat pada tumbuhan sebagai penyusun
dinding sel. Senyawa ini berupa polimer yang memiliki struktur kompleks dan
beratmolekul lebih dari 10.000 monomer pada lignin disebut monolignols.

Saat ini Polyphenol merupakan salah satu produk anti oksidan yang sangat
kuat dan ampuh dalam menangkal radikal bebas. Senyawa ini juga memiliki
kemampuan sebagai anti Aging (Anti Penuaan Dini). Berbagai studi dan
penelitian membuktikan bahwa radikal bebas adalah penyebab utama dari
penyakit-penakit degeneratif seperti : Kanker, Kolesterol, Diabetes,Jantung
maupun Stroke.Dengan demikian, Polyphenol begitu diperlukan dalam mencegah

4
ataupun menanggulangi penyakit-penyakit tersebut diatas. Journal of Cellular
Biochemistry mempublikasikan bahwa polyphenol tergolong dalam antioksidant
jenis bioflavonold yang memiliki kekuatan 100 kali lebih efektif dari vitamin C
dan 25 kali lebih efektif dari vitamin E. Senyawa ini mampu menetralisir radikal
bebas yang menjadi penyebab kanker payudara, menurunkan resiko kanker
lambung, paru-paru, usus besar, hati danpancreas serta membantu menurunk
tingkat kadar gula dalam darah. Polyphenol efektif mengurangi penumpukan
kolesterol jahat (LDL) di dalam darah, karena anti oksidan mampu mencegah
oksidasi kolesterol dalam pembuluh arteri yang menyebabkan pembekuan
trombosit abnormal penyebab terjadinya serangan jantung dan stroke.Sebuah
study oleh para peneliti Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam American
Journal of Epidemiologi menyatakan bahwa mereka yang minum sedikitnya dua
cangkir teh yang mengandung polyphenol setiap hari, ternyata 68% lebih rendah
kemungkinan terkena kanker usus.

7. Manfaat & Khasiat Polypenol :


- sebagai anti oksidant yang yang sangat kuat dalam menangkal radikal bebas.
- Mampu meredam perkembangan aktifasi sel kanker hingga 50%.
- Untuk mengobati asam urat, eksim, migraine, demam, asthma, dll.
- Mencegah penakit degenaratif seperti : kanker, klesterol, jantung maupun
stroke..
- Memiliki kemampuan anti aging (anti penuaan dini)

Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat
ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya.
Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan seperti warna
daun saat musim gugur.

Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki


peran sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan. Antioksidan polifenol dapat
mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dan kanker. Terdapat

5
penelitian yang menyimpulkan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit
Alzheimer

Polifenol dapat ditemukan pada kacang-kacangan, teh hijau, teh


putih, anggur merah, anggur putih, minyak zaitun dan turunannya, cokelat hitam,
dan delima. Kadar polifenol yang lebih tinggi dapat ditemukan pada
kulit buah seperti pada anggur, apel, dan jeruk.

8. Tanin
Tanin merupakan salah satu contoh senyawa polifenol. Tannin terdapat
luas dalam tumbuhan berpembuluh dan terdapat khsus dalam jaringan kayu pada
angiospermae. Secara kimia terdapat dua jenis tannin, yaitu tannin-terkondensasi
atau flavolan dan tannin terhidrolisiskan.

Struktur Proanthocyanidin (golongan tannin)

Tannin-terkondensasi terdapat dalam paku-pakuan, gymnospermae, dan


angiospermae. Sedangkan tannin terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada
tumbuhan berkeping dua (Harborne, 1987). Tannin seringkali dilaporkan sebagai
mikromolekul yang mengganggu bioassay dan seringkali berikatan tidak spesifik
pada berbagai protein termasuk beragai jenis reseptor sehingga menjadi sukar
larut air. Namun, beberapa aktivitas cukup penting juga dilaporkan pada tannin,
yaitu dapat menghambat, menghentikan pedarahan dan mengobatai luka bakar.

6
Tannin mampu membuat lapisan pelindung luka dan ginjal. Kemampuan
mengikat ion besi dengan menghasilkan warna larutan biru kehitaman atau hijau
kehitaman menjadi dasar analisis kualitatif tannin terhidrolisis atau tannin galat
(Saifudin dkk., 2011). Tannin dapat pula dideteksi dengan sinar UV pendek
berupa bercak lembayung yang bereaksi positif dengan setiap pereaksi fenol baku
(Harborne, 1987).

9. Klasifikasi Tanin
Senyawa tanin termasuk kedalam senyawa poli fenol yang
artinya senyawa yang memiliki bagian berupa fenolik. Senyawa
tanin dibagi menjadi dua yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin
yang terkondensasi (Sirait M, 2007):

a. Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins)

Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan


membentuk jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat
dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida.
Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang
merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam
galat. Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan
membentuk tanin terhidrolisis yang bisa disebut Ellagitanins.
Berat molekul galitanin 1000-1500,sedangkan Berat molekul
Ellaggitanin 1000-3000. Ellagitanin sederhana disebut juga ester
asam hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah
menjadi asam galic jika dilarutkan dalam air. Asam elagat
merupakan hasil sekunder yang terbentuk pada hidrolisis
beberapa tanin yang sesungguhnya merupakan ester asam
heksaoksidifenat.

b. Tanin Terkondensasi (condensed tannins).


Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat
terkondensasi meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini

7
kebanyakan terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan
senyawa fenol. Oleh karena adanya gugus fenol, maka tannin
akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin
terkondensasi sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu
membentuk produk kondensasi Tanin terkondensasi merupakan
senyawa tidak berwarna yang terdapat pada seluruh dunia
tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin
terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku-
pakuan. Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin.
Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang
dihubungan dengan melalui C8 dengan C4. Salah satu contohnya
adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer
yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.
10. Manfaat Tanin

Tanin diketahui dapat digunakan sebagai antivirus, anti


bakteri, dan antitumor. Tanin tertentu dapat menghambat
selektivitas replikasi HIVdan juga digunakan sebagai
diuretik .Tanaman yang mengandung tanintelah diakui memiliki
efek farmakologi dan dikenal agar membuat pohon-pohon dan
semak-semak sulit untuk dihinggapi / dimakan oleh banyak ulat
(Robinson, 1995)
Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan
enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan
memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini
menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan
hewan. Pada kenyataanya, sebagian besar tumbuhan yang
banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan
karena rasanya yang sepat. Kita menganggap salah satu fungsi
utama tanin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan
pemakan tumbuhan. Fungsi tanin pada tanaman biasanya

8
sebagai senjata pertahanan untuk menghindari terjadinya over
grazing oleh hewan ruminansia dan menghindari diri dari
serangga, sebagai penyamak kulit,bahan untuk pembuatan tinta
(+ garam besi(III) senyawa berwarna tua),sebagai reagen
untuk deteksi gelatin, protein, alkaloid (karena sifat mengendap),
sebagaiantidotum keracunan alkaloid (membentuk tannat yang
mengendap), sebagaiantiinflamasi saluran pencernaan bagian
atas,obat diare karena inflamasi saluran gastro intestinal, dan
sebagai obattopikal (lesi terbuka, luka, hemoroid)
(Sastrohamidjojo H. 1996).
Tanin yang terkandung dalam minuman seperti teh, kopi, anggur, dan bir
memberikan aroma dan rasa sedap yang khas. Bahan kunyahan seperti gambir
(salah satu campuran makan sirih) memanfaatkan tanin yang terkandung di
dalamnya untuk memberikan rasa kelat ketika makan sirih. Sifat pengelat atau
pengerut (astringensia) itu sendiri menjadikan banyak tumbuhan yang
mengandung tanin dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Tanin yang terkandung
dalam teh memiliki korelasi yang positif antara kadar tanin pada teh dengan
aktivitas antibakterinya terhadap penyakit diare yang disebabkan oleh
Enteropathogenic Esclierichia coli (EPEC) pada bayi. Hasil penelitian Yulia
(2006) menunjukkan bahwa daun teh segar yang belum mengalami pengolahan
lebih berpotensi sebagai senyawa antibakteri, karena seiring dengan pengolahan
menjadi teh hitam, aktivitas senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri
pada daun teh menjadi berkurang (Sirait M, 2007)
Senyawa tanin juga bersifat sebagai astringent, yaitu melapisi mukosa
usus, khususnya usus besar dan menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam
samak. Serta sebagai penyerap racun (antidotum) dan dapat menggumpalkan
protein. Oleh karena itu, senyawa tanin dapat digunakan sebagai obat diare (John,
2008)

11. Cara Identifikasi Senyawa


1. Polifenol

9
a) Larutan ekstrak/Larutan uji ditambahkan dengan FeCl3 terjadi perubahan warna
menjadi hijau biru hingga hitam.
b) Uji kromatografi lapis tipis dengan menggunakan pereaksi FeCl3. Jika timbul
warna warna hitam maka menunjukkan bahwa sampel positif mengandung
polifenol.
2. Tanin
a) Larutan uji ditambahkan dengan sedikit larutan gelatin dan larutan NaCl. Jika
terjadi endapan putih sampel positif mengandung tanin.
b) Larutan ekstrak/Larutan uji ditambahkan dengan FeCl3 terjadi perubahan warna
menjadi hijau kehitaman.
3. Kromatografi lapis tipis
Kromatografi adalah cara pemisahan zat berkhasiat dan zat lain yang ada
dalam sediaan, dengan jalan penyarian berfraksi, atau penyerapan , atau
penukaran ion pada zat padat berpori, menggunakan cairan atau gas yang
mengalir. Zat yang diperoleh dapat digunakan untuk percobaan identifikasi atau
penetapan kadar (Materia Medika Jilid V-VI : 523)
Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya komponen
dalam campuran, identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi,
menentukan efektivitas pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk
kromatografi kolom, serta memantau kromatografi kolom, melakukan screening
sampel untuk obat. Analisa kualitatif dengan KLT dapat dilakukan untuk uji
identifikasi senyawa baku. Parameter pada KLT yang digunakan untuk
identifikasi adalah nilai Rf. Analisis kuantitatif dilakukan dengan 2 cara, yaitu
mengukur bercak langsung pada lengpeng dengan menggunakan ukuran luas atau
dengan teknik densitometry dan cara berikutnya dalaha dengan mengerok bercak
lalu menetapkan kadar senyawa yang terdapat dalam bercak dengan metode
analisis yang lain, misalnya dengan metode spektrofotometri. Dan untuk analisis
preparatif, sampel yang ditotolkan dalam lempeng dengan lapisan yang besar lalu
dikembangkan dan dideteksi dengan cara yang non- dekstruktif. Bercak yang
mengandung analit yang dituju selanjutnya dikerok dan dilakukan analisis
lanjutan (Gholib Gandjar, 2007).
Kromatografi Lapisan tipis digunakan pada pemisahan zat secara cepat,
dengan menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata
pada lempeng kaca. Lempeng yang dilapis, dapat dianggap sebagai kolom

10
kromatografi terbuka dan pemisahan didasarkan pada penyerapan, pembagian
atau gabungannya, tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan
zat penyerap dan jenis pelarut. Harga Rf yang diperoleh pada kromatografi lapis
tipis tidak tetap jika dibandingkan dengan kromatografi kertas. Karena itu pada
lempeng yang disamping kromatogram dari zat yang diperiksa perlu dibuat
kromatogram dari zat pembanding kimia, lenih baik dengan kadar yang berbeda-
beda.perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan 2 bercak dengan harga
Rf dan ukuran yang lebih kurang sama. Ukuran dan intensitas bercak dapat
digunakan untuk memperkirakan kadar (Materia Medika Jilid V-VI : 528)
Fakor yang mempengaruhi harga Rf :
1. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan
2. Sifat dan penyerap, derajat aktifitasnya
3. Tebal dan kerataannya dari lapisan penyerap
4. Pelarut fase gerak
5. Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan
6. Teknik percobaan
7. Jumlah campuran yang digunakan
8. Suhu
9. Kesetimbangan

12. Tinjauan eluen dan tinjauan polaritas


a. Kloroform
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl 3). Kloroform

dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan


digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada
suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap. Pada suhu normal dan
tekanan, kloroform adalah cairan yang sangat mudah menguap, jernih, tidak
berwarna, berat, sangat bias, tidak mudah terbakar
Sifat Kloroform

1. Molekul berat : 113,4


2. Titik didih : 61,15 C - 61,70 C.
3. Melting point : -63,2 sampai -63,5 C pada atm
4. Flash point : tidak ada.
5. Kepadatan relatif uap (udara = 1) : 4,1-4,36 kg / m pada 101 kPa, 0 C.

11
6. Tekanan uap : 21,15 kPa pada 20 C.
7. Kelarutan dalam air
Pada 0 C : 10.62g/kg

Pada 10 C : 95g/kg \

Pada 20 C : 8.22g/kg

8. Specific gravity : 1,483 pada 20 C

b. Asam formiat
Asam format atau asam formiat (nama sistematis: asam metanoat) adalah
asam karboksilat yang paling sederhana. Asam format secara alami antara lain
terdapat pada sengat lebah dan semut, sehingga dikenal pula sebagai asam semut.
Asam format merupakan senyawa antara yang penting dalam banyak sintesis
bahan kimia. Rumus kimia asam format dapat dituliskan sebagai HCOOH atau
CH2O2.

Sifat
Rumus kimia CH2O2
Massa molar 46.03 g mol1
Penampilan Cairan tak berwarna
Densitas 1.22 g/mL
Titik lebur
Titik didih
Kelarutan dalam air Ya
Keasaman (pKa) 3.77
Viskositas 1.57 P at 26 C

c. Etil Asetat
Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3.
Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini

12
berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat
EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat
diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut.
Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap),
tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan penerima ikatan
hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan hidrogen karena tidak adanya
proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang terikat pada atom
elektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat dapat melarutkan
air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar.
Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun, senyawa ini tidak
stabil dalam air yang mengandung basa atau asam. Berikut ini adalah karakteristik
atau sifat fisika dan sifat kimia dari etil asetat :
Sifat fisis
a. Berat molekul : 88,1 kg/kmol
b. Boiling point : 77,1C
c. Flash point : -4C
d. Melting point : - 83,6C
e. Suhu kritis : 250,1C
f. Tekanan kritis : 37,8 atm
g. Kekentalan (25 oC) : 0,4303 cP
h. Specific grafity ( 20C) : 0,883
i. Kelarutan dalam air : 7,7% berat pada 20 oC
j. Entalphy pembentukan (25C) gas : -442,92 kJ/mol
k. Energi Gibbs pembentukan (25C) cair : -327,40 kJ/mol

Sifat Kimia
Etil asetat adalah senyawa yang mudah terbakar dan mempunyai resiko peledakan
(eksplosif).
a. Membentuk acetamide jika diammonolisis

Reaksi:

CH3COOC2H5 + NH3 CH3CONH2 + C2H5OH .(15)

b. Akan membentuk etil benzoil asetat bila bereaksi dengan etil benzoate

Reaksi:

13
C6H6COOC2H5 + CH3COOC2H5 C6H6COCH2COOC2H5+ C2H5OH.. (16)
(Kirk and Othmer, 1982)

Tinjauan Polaritas

14
III. ALAT DAN BAHAN
Alat:
1. Plat KLT
2. Beaker Glass
3. Corong
4. Tabung Reaksi
5. Batang pengaduk
Bahan:
1. Ekstrak Psidium guajava
2. NaCl 10%
3. Larutan gelatin
4. Larutan FeCl3
5. Kloroform
6. Asam formiat
7. Etil asetat
8. Aquadest panas

15
IV. SKEMA KERJA

a. Preparasi sampel

16
17
0,3 gram ekstrak ditambah 10 ml Tambahkan 3-4 tetes 10% NaCl,
aquadest panas, diaduk dan diaduk dan disaring
dibiarkan sampai temperature
kamar

Dibagi menjadi 3 bagian


3 ml disebut sebagai
Larutan IV A
Larutan IV B
Larutan IV C
Larutan III D

b. Uji gelatin
IV A

18
Larutan IV A
digunakan sebagai
blanko

IV B

Larutan IVDitambahkan
B 5 Tambahkan
ml dengan
sedikit
larutan NaCl 10%, jika larutan gelatin
terjadi endapan putih
menunjukkan adanya
tannin.

c. Uji Ferri klorida


IV C
Diberi beberapa tetes larutan
FeCl3, kemudian amati
terjadinya perubahan warna

Larutan IV C

Jika terjadi warna hijau


kehitaman menunjukkan
adanya tanin.
Jika pada penambahan gelatin dan
NaCl tidak timbul endapan putih,
teteapi setelah ditambahkan dengan FeCl3 positif, uji gelatin positif :
larutan FeCl3 terjadi perubahan tanin (+)
warna menjadi hijau biru hingga 19
FeCl3 positif, uji gelatin negatif :
hitam, menunjukkan adanya polifenol (+)
senyawa polifenol FeCl3 negatif, polifenol (-), tanin (-)
d. Kromatografi Lapis Tipis
IV C

Larutan IV C Fase diam: Kiesel Gel 254


digunakan untuk Fase gerak : kloroform:etil asetat:asam
pemeriksaan formiat (0,5:9:0,5(1 tetes))
dengan KLT Penampak noda : pereaksi FeCl3

Jika timbul warna hitam


menunjukkan adanya
polifenol dalam sampel

20
V. HASIL
1) Uji warna

No Hasil
Jenis Larutan Pereaksi Warna
2) . P
2 tetes larutan Tanin e
gelatin + 5 ml r
1. uji gelatin Endapan putih
larutan NaCl h
10% i
1 tetes larutan Tanin
2. uji Ferri klorida Hijau kehitaman t
FeCl3
u
ngan Rf

Noda 1 2,1 / 8 = 0,2625


Noda 2 2,9 / 8 = 0,3625
Noda 3 3,3 / 8 = 0,4125

Noda 4 4,6 / 8 = 0,575


Noda 5 5,4 / 8 = 0,675
Noda 6 5,9 / 8 = 0,7375

Hasil pengamatan

21
Ekstrak + 3 tetes Ekstrak dibagi Larutan IV B
NaCl 10% menjadi 3 ditambah 2 tetes
gelatin+ 5 ml tetes
NaCl 10%,
menghasilkan

Larutan IVC Perbandingan dgn Noda dilihat di


ditambahkan dengan larutan blanko lampu UV 254 nm
1 tetes FeCl, sebelum proses
menghasilkan larutan eluasi
yang berwarna hijau

Noda yang timbul Noda dilihat dilampu Noda dilihat dilampu


setelah proses eluasi UV 254nm setelah UV 360nm setelah
eluasi eluasi

22
Noda yang terlihat
setelah diberi penampak
noda

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan uji identifikasi senyawa golongan polifenol
dan tannin dengan menggunakan ekstrak Psidium guajava. Adapun uji yang
dilakukan adalah dengan uji gelatin, uji Ferri klorida dan juga dengan uji
kromatografi lapis tipis.
Sebelum dilakukan uji sampel dipreparasi terlebih dahulu menggunakan 0,3
gram ektrak Psidium guajava yang selanjutnya di masukan ke dalam tabung reaksi
dan di tambahkan dengan 10 ml aquadest panas ini bertujuan untuk menarik seluruh
tanin yang ada di ekstrak Psidium guajava. Hal ini dikarenakan tanin merupakan
senyawa polifenol yang dalam keadaan alami pada tumbuhan yang berada dalam
bentuk glikosidanya sehingga dapat larut dalam air. Kemudian di tambah dengan
larutan NaCl sebanyak 3-4 tetes 10% kemudian diaduk dan setelah itu disaring.
Penambahan NaCl berguna untuk menghilangkan pengotor serta protein yang dapat
mencegah terjadinya positif palsu. Kemudian filtrat di bagi menjadi 3 bagian kurang
lebih 3 ml setiap tabung.
Pada uji gelatin setelah ditambahkan dengan 2 tetes larutan gelatin dan juga 5
ml larutan NaCl 10% timbul endapan putih. Hal tersebut menujukkan bahwa di dalam
ekstrak Psidium guajava positif terdapat kandungan senyawa tanin. Hal ini terjadi

23
karena adanya reaksi tanin terhadap gelatin dengan membentuk suatu senyawa
kopolimer (endapan) yang tidak larut dalam air.
Selanjutnya dilakukan uji Ferri klorida, pada uji ini ditambahkan dengan 1
tetes larutan FeCl3 dan terjadi perubahan warna menjadi hijau kehitaman yang
menujukkan bahwa ekstrak Psidium guajava positif terdapat kandungan senyawa
tanin. Warna hijau kehitaman yang di hasilkan dari penambahan ferri klorida di
karenakan adanya reaksi kimia antara ferri klorida dan gugus fenol dari tanin.
Identifikasi golongan polifenol dan tanin selanjutnya adalah dengan
kromatografi lapis tipis. Sampel ditotolkan pada fase diam berupa plat KLT Kiesel
Gel 254 dan fase geraknya digunakan metanol:etilasetat:asam formiat
(0,5:9,5:1(tetes)), lalu plat KLT dimasukkan untuk dilakukan eluasi ditunggu eluen
naik sampai garis tanda bagian atas plat KLT. Setelah proses eluasi di semprotkan
dengan penampak noda pereaksi FeCl3. Noda yang tampak pada plat KLT setelah
dieluasi dan disemprot dengan penampak noda adalah warna noda hitam yang
menunjukkan adanya senyawa polifenol pada ekstrak Psidium guajava. Pada
praktikum yang kami lakukan hasil KLT tersebut memperoleh 6 titik noda dengan
nilai Rf masing- masing 0,2625; 0,3625; 0,4125; 0,575; 0,675; 0,7375.
Berdasarkan uji gelatin, uji ferri klorida dan uji kromatografi lapis tipis yang
dilakukan dapat disimpulkan bahwa di dalam ekstrak Psidium guajava terdapat
senyawa golongan tanin dan polifenol. Namun apabila pada uji gelatin menunjukkan
hasil negatif, itu berarti ekstrak mengandung golongan polifenol yang belum tentu
terdapat senyawa tanin didalamnya.

24
VII. KESIMPULAN
1. Pada uji gelatin memperoleh hasil positif yaitu ekstrak mengandung senyawa
tanin karena terjadi endapan putih.
2. Pada uji ferri klorida terjadi perubahan warna hijau kehitaman yang menunjukkan
bahwa di dalam ekstrak terdapat senyawa tanin.
3. Pada Uji KLT menujukkan noda berwarna hitam sehingga membuktikan bahwa
ekstrak Psidium guajava mengandung senyawa polifenol.
4. Hasil ketiga uji menunjukkan bahwa di dalam ekstrak Psidium guajava
mengandung senyawa polifenol dan juga tanin.

25
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2010. Sukses Budi Daya Jambu Biji di Pekarangan dan Perkebunan. Andi,
Yogyakarta
Depkes RI.(1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI . Cetakan Keenam. Jakarta:
Direktorat Jendral Pengawasam Obat dan Makanan
Hapsoh dan Hasanah, Y., 2011. Budidaya Tanaman Obat dan Rempah. USU Press.
Medan.
Kartasapoetra, G. 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Penerbit Rineka
Cipta.
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerjemah K. Padmawinata.
ITB Press, Bandung

26