Anda di halaman 1dari 28

EFEKTIVITAS PELET NPK ORGANIK BERBAHAN AMPAS

TAHU, TEPUNG DARAH SAPI DAN ARANG SABUT KELAPA


DALAM BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)
DI TANAH REGOSOL

MAKALAH SEMINAR PROPOSAL

Disusun oleh :
Wisnu Kuntoro Aji
20120210098

Program Studi Agroteknologi

Kepada
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman pangan terpenting nomor tiga di
dunia setelah gandum dan padi. Biji Jagung menjadi makanan pokok sebagian
penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Selain dijadikan makanan
pokok, Jagung juga digunakan sebagai pakan ternak, sumber minyak pangan, dan
bahan dasar pembuatan tepung maizena. Berbagai produk turunan hasil Jagung
telah menjadi bahan baku produk industri. Beberapa diantaranya adalah
Bioenergi, Industri Kimia, Kosmetika, dan Farmasi (Academia, 2015).
Menurut Septian (2014) produksi Jagung Indonesia dari tahun 2010 hingga
tahun 2013 terus mengalami fluktuasi. Pada tahun 2010 produksi Jagung
Indonesia adalah 18.327.636 ton. Tahun 2011 produksi Jagung menurun menjadi
17.643.250 ton. Tahun 2012 produksi Jagung meningkat hingga mencapai angka
produksi 19.387.022 ton. Pada tahun 2013 Indonesia mengalami
penurunan produksi Jagung hingga menjadi 18.510.435 ton. Menurut Badan
Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) (2014), rata-rata
kenaikan konsumsi Jagung nasional adalah 8 % per tahun, sementara angka
peningkatan produksi Jagung hanya 6 % per tahun.
Banyak petani Indonesia yang melakukan budidaya Jagung di tanah
Regosol. Luas lahan Regosol di Indonesia adalah 3,3 jujta hektar. Tanah Regosol
tersebar di Pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara (Puji, 2014). Tanah Regosol
umumnya memiliki kandungan bahan organik yang rendah karena tanah ini belum
mengalami perkembangan yang sempurna. Umur tanah yang masih muda,
sehingga belum banyak bahan organik yang terkandung di dalamnya. Tekstur
tanah Regosol didominasi oleh fraksi pasir sehingga daya ikat airnya rendah.
Untuk memperbaiki daya ikat tanah Regosol terhadap air, dapat dilakukan
penambahan bahan organik untuk memperbaiki sifat fisika, kimai serta biologi
tanah.

1
Selain kualitas lahan yang rendah, pengembangan usaha tani Jagung juga
terhalang oleh kelangkaan dan harga pupuk anorganik yang semakin tinggi.
Dampak lingkungan akibat aplikasi pupuk anorganik secara terus-menerus juga
menjadi penyebab penurunan kualitas lahan yang berdampak pada penurunan
produktivitas Jagung. Kasus yang sering terjadi adalah pencemaran air dan
kemampatan tanah akibat penggunaan pupuk anorganik N dan P yang berlebihan.
Menanggapi hal tersebut, penggunaan pupuk organik untuk budidaya tanaman
Jagung merupakan solusi yang dapat dilakukan guna menunjang peningkatan
produktivitas dan konservasi lingkungan.
Pupuk organik dapat dibuat dalam berbagai formulasi, misalnya cair
(POC), granule maupun dalam formulasi pelet. Dari berbagai formulasi pupuk
organik yang dapat dibuat, pelet adalah formulasi paling sesuai bagi tanaman
Jagung. Pupuk pelet mudah dibuat dan diaplikasikan, sifat pelet yang slow release
(melepas unsur hara secara lambat) sangat cocok bagi tanah yang digunakan
dalam budidaya tanaman Jagung misalnya jenis tanah Regosol yang bertekstur
remah dan tidak dapat menyimpan unsur hara dari pupuk untuk waktu lama.
Penggunaan perekat pelet dari lempung Grumusol juga mampu mengikat lebih
banyak air karena sebagian besar tanah Grumusol terdiri dari fraksi lempung.
Pupuk pelet organik untuk tanaman Jagung harus mengandung unsur Nitrogen,
Phospor dan Kalium (NPK) karena selama siklus hidupnya, tanaman Jagung
membutuhkan unsur hara makro NPK. Banyak bahan organik di sekitar kita yang
mengandung Nitrogen, Phospor dan Kalium namun selama ini belum optimal
pemanfaatannya. Pemanfaatan limbah untuk memproduksi pupuk organik adalah
alternatif yang paling tepat dilakukan. Di Indonesia limbah dihasilkan dari
berbagai sumber, mulai dari industri hingga dari rumah potong hewan (RPH).
Beberapa limbah yang dapat dijadikan bahan pupuk pelet NPK organik antara lain
ampas tahu, darah sapi dan arang sabut kelapa, dimana ketiga limbah tersebut
memiliki kandungan N, P, dan K yang cukup tinggi (Soeminaboedhy dan
Tedjowulan, 2004).
Ampas tahu mengandung sisa protein dari kedelai yang tidak tergumpal.
Menurut Asmoro dkk., (2008) ampas tahu mengandung N sebesar 1,24 % dan

2
K2O sebesar 1,34 %. Ampas tahu akan berbau menyengat setelah 12 jam,
sehingga perlu diolah menjadi produk yang bermanfaat seperti pupuk organik.
Selain ampas tahu, darah sapi adalah limbah yang mencemari lingkungan di
sekitar rumah potong hewan. Menurut Kompas (2013) setiap hari lebih dari 1000
ekor sapi disembelih di Indonesia untuk dikonsusi dagingnya. Berat total darah
sapi adalah 7,7% dari berat tubuh sapi. Limbah darah sapi dapat diolah menjadi
pupuk organik dalam bentuk tepung darah. Menurut Sri Wahyuni (2014) tepung
darah sapi mengandung N 13,25 %, P 1,00 % dan K 0,60 %. Limbah lain yang
dapat diolah menjadi pupuk organik adalah sabut kelapa. Dalam penelitian
Waryanti, dkk (2014) menyatakan bahwa sabut kelapa mengandung K2O sebesar
10,25 %.
Pemberian pelet NPK organik berbahan ampas tahu, tepung darah sapi dan
arang sabut kelapa diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanah yang
selanjutnya berdampak pada peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman Jagung.
Penggunaan pelet NPK organik pada budidaya tanaman Jagung juga diharapkan
mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik serta pencemaran lingkungan
akibat limbah.

B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh pemberian pelet NPK organik berbahan ampas tahu,
tepung darah sapi dan arang sabut kelapa terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman Jagung di tanah Regosol?
2. Berapakah dosis pupuk pelet NPK organik berbahan ampas tahu, tepung
darah sapi dan arang sabut kelapa yang paling efektif bagi tanaman
Jagung?

C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh pemberian pelet NPK organik berbahan ampas tahu,
tepung darah sapi dan arang sabut kelapa terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman Jagung di tanah Regosol.

3
2. Menetapkan dosis pupuk pelet NPK organik berbahan ampas tahu, tepung
darah sapi dan arang sabut kelapa yang paling efektif bagi tanaman
Jagung?

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Jagung
Jagung (Zea mays L.) termasuk dalam keluarga rumput-rumputan. Dalam
sistematika (Taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman Jagung diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Graminae
Famili : Graminaeae
Genus : Zea
Spesies : Zea Mays L.
Tanaman Jagung dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada kondisi
tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis Jagung lokal, hibrida maupun
kompsit. Berbagai jenis Jagung tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan serta
syarat tumbuhnya masing-masing. Umumnyan petani di Indonesia
membudidaykan tanaman Jagung yang berumur genjah (80-90 hari). Varietas
Jagung berumur genjah umumnya cukup tenggang terhadap kekeringan. Jagung
umur genjah juga dapat diintegrasikan dengan sistem Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT) untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) Jagung dari 1-2 kali
setahun menjadi 3-4 kali dengan sistem tanam sisip. Jagung berumur genjah yang
memiliki potensi hasil paling tinggi adalah Jagung Hibrida, yakni dengan umur
panen 89 hari setelah tanam (HST) dengan hasil mencapai 12 ton/hektar
(Dalmadi, 2015).

4
Untuk mencapai umur panen yang genjah serta hasil yang maksimal, tanaman
Jagung memerlukan pemupukan yang sesuai dengan kebutuhannya, yaitu pupuk
yang mengandung unsur Nitrogen, Phospor dan Kalium. Adapun rekomendasi
dosis pemupukan tanaman Jagung adalah: Urea 350 kg/hektar, SP-36 100150
kg/hektar dan KCI 100 kg/hektar (Fachrista dan Isuukindarsyah, 2012). Adapun
manfaat pemupukan bagi tanaman Jagung adalah:
1. Menjadikan daun tanaman lebih hijau, segar dan banyak mengandung butir
hijau daun yang penting bagi proses fotosintesis.
2. Mempercepat pertumbuhan tanaman, jumlah anakan maksimum.
3. Memacu pertumbuhan akar.
4. Menjadikan batang lebih tegak, kuat dan mengurangi resiko rebah.
5. Meningkatkan daya tahan terhadap serangan hama penyakit tanaman dan
kekeringan.
6. Memacu pembentukan bunga, mempercepat pemasakan biji sehingga panen
lebih cepat.
7. Menambah kandungan protein.
8. Memperlancar proses pembentukan gula dan pati.
9. Memperbesar jumlah buah/biji tiap tangkai.
10. Memperbesar ukuran buah.
Namun penggunaan pupuk anorganik yang terus-menerus pada budidaya
tanaman Jaung akan memberi dampak buruk bagi lingkungan dan tanaman,
misalnya pencemaran air tanah karena penggunaan pupuk anorganik dengan
kandungan N dan kemampatan tanah oleh pupuk anorganik dengan
kandungan P yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas Jagung.
Penggunaan pupuk organik dalam usaha tani Jagung sangat direkomendasikan
dan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas Jagung dan juga
memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah yang digunakan untuk
budidaya tanaman Jagung.

5
B. Tanah Regosol
Tanah merupakan media tanam utama yang digunakan untuk budidaya
tanaman. Selain paling banyak keberadaannya, bercocok tanam dengan tanah
merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak waktu lama. Tanah digunakan
sebagai media tanam utama karena di dalam tanah terkandung banyak unsur hara
dan bahan organik yang diperlukan oleh tanaman. Di Indonesia terdapat beberapa
jenis tanah yang digunakan untuk budidaya tanaman, diantaranya adalah tanah
latosol, Grumusol, dan regsol. Ketiga jenis tanah tersebut dapat dibedakan
berdasarkan warna, tekstur, serta kandungan unsur hara di dalamnya.
Tanah Regosol merupakan hasil erupsi gunung berapi yang berbutir kasar,
dan merupakan salah satu tanah marjinal di daerah beriklim tropika basah yang
mempunyai produktivitas rendah (Munir, 1996). Di Yogyakarta, jenis tanah ini
mendominasi karena tanah Regosol di Yogyakarta terbentuk dari sisa abu
vulkanik Gunung Merapi yang mengalami pelapukan.
Tanah Regosol kurang subur bagi tanaman karena memiliki kandungan
hara yang rendah. Tekstur tanah yang didominasi oleh fraksi pasir menyebabkan
daya ikat tanah Regosol akan air menjadi rendah. Menurut Hardjowigeno (2007)
tanah Regosol memiliki tekstur kasar dengan kadar pasir lebih dari 60%, pH
sekitar 6-7. Butiran kasar pada tanah Regosol biasanya berasal dari pasir sisa
letusan gunung berapi.
Perbaikan Regosol perlu dilakukan untuk memperkecil faktor pembatas
yang ada pada tanah tersebut sehingga mempunyai tingkat kesesuaian yang lebih
baik bila digunakan sebagai lahan pertanian. Untuk menghindari kerusakan lebih
lanjut dan meluas diperlukan usaha konservasi tanah. Salah satu upaya
pengeloaan untuk meningkatkan produktivitas sumberdaya lahan, perlu diberikan
bahan-bahan organik kepada lahan. Aplikasi pupuk organik pada tanah Regosol
merupakan salah satu cara untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah
Regosol, sehingga tanah Regosol menjadi lebih subur dan dapat memacu
peningkatan produktivitas tanaman yang ditanam di tanah Regosol.

6
C. Pupuk Pelet
Pupuk pelet merupakan pupuk dengan formulasi padat yang berbentuk
butiran-butiran dan sedikit memanjang. Menurut Isori (2009) pembuatan pupuk
dalam bentuk pelet bertujuan untuk memudahkan aplikasinya. Pupuk pelet
memiliki sifat slow release atau memiliki waktu terlarut yang relatif lama. Pupuk
pelet dapat terbuat dari campuran beberapa bahan yang memiliki kandungan
tertentu, dan perekat untuk menyatukan bahan-bahan yang dicampurkan. Perekat
yang biasa digunakan pada pupuk pelet organik adalah dari lempung Grumusol.
Jenis perekat ditentukan berdasarkan beberapa aspek, yaitu 1) aspek
ekonomi bahwa lempung tanah Grumusol lebih murah daripada perekat lainnya
misalnya putih telur dan tepung tapioka, 2) aspek fisika, bahwa lempung tanah
Grumusol mampu mengikat air karena sebagian tanah Grumusol tersusun akan
fraksi lempung, 3) aspek kimia, bahwa lempung tanah Grumusol mempunyai
kadar bahan organik yang tinggi dan sebagian besar terdiri atas kadar anion (ion-)
sehingga memiliki kapasitas pertukaran kation (KPK) tinggi.
Pupuk NPK organik berbahan ampas tahu, tepung darah sapi, dan arang
sabut kelapa dibuat dalam formulasi pelet dengan filler dari lempung Grumusol.
Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan unsur N, P dan K dari tanaman Jagung
guna menggantikan penggunaan pupuk Urea, SP-36 dan KCl. Hal tersebut dapat
dilakukan karena ampas tahu mengandung 1,24 % N dan 1,34 % K2O (Asmoro,
dkk., 2008). Tepung darah sapi yang mengandung 13,25 % N, 1% P dan 0,60 %
K2O (Wahyuni, 2014). Serta sabut kelapa yang mengandung K2O sebesar 10,25 %
(Waryanti, dkk., 2014). Ketiga bahan tersebut dicampur lalu diberi filler dari
lempung Grumusol selanjutnya dibuat dalam formulasi pelet.
Sifat pelet yang slow release diharapkan mampu melepas unsur N, P dan
K secara perlahan ketika diaplikasikan pada tanaman Jagung yang ditanam di
tanah Regosol. Pelepasan unsur hara dari pelet secara slow release sangat
bermanfaat bagi tanaman Jagung karena unsur Nitrogen, Phospor dan Kalium dari
bahan penyusun pelet dapat diserap secara perlahan dalam waktu lama dan
dimanfaatkan dengan maksimal oleh tanaman Jagung.

7
D. Ampas Tahu
Industri tahu merupakan salah satu industri pengolah berbahan baku
kedelai yang penting di Indonesia. Keberadaan industri tahu hampir tidak dapat
dipisahkan dengan adanya suatu pemukiman (Pusteklin, 2002). Disamping
keberadaannya yang sangat penting, industri tahu juga mempunyai dampak yang
cukup penting terhadap lingkungan terutama masalah limbahnya (Suprapti, 2005).
Industri tahu menghasilkan limbah berupa ampas yang masih mengandung
gizi. Dalam keadaan baru ampas tahu ini tidak berbau, namun setelah kurang lebih
12 jam akan timbul bau busuk secara berangsur-angsur yang sangat mengganggu
lingkungan. Bau busuk dari degradasi sisa-sisa protein menjadi amoniak, dapat
menyebar ke seluruh penjuru hingga mencapai radius beberapa kilometer
(Pramudyanto dan Nurhasan, 1991; Purnama, 2007).
Pada umumnya, ampas tahu digunakan sebagai pakan ternak, namun
setelah 12 jam ampas tahu akan berbau menyengat sehingga tidak dapat
digunakan sebagai pakan ternak. Dalam hal ini ampas tahu perlu dimanfaatkan
menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat serta dapat mengurangi pencemaran
lingkungan. Salah satu rekomendasi pemanfaatan ampas tahu adalah sebagai
pupuk organik pada tanaman budidaya.
Berdasarkan penelitian Asmoro dkk., (2008) ampas tahu mengandung N
sebesar 1,24 % serta K2O sebesar 1,34 %. Selain mengandung Nitrogen dan
Kalium, ampas tahu juga mengandung unsur besi (Fe) dan Kalsium (Ca).
Berasarkan kandungan unsur dari ampas tahu, maka ampas tahu dapat dijadikan
sebagai pupuk organik yang dapat menggantikan kebutuhan unsur N dan K dari
pupuk anorganik yang biasa digunakan oleh petani.
Untuk mengurangi bau menyengat yang disebabkan oleh degradasi sisa-
sisa protein menjadi amoniak dari ampas tahu, maka ampas tahu perlu dikering
anginkan. Pengeringan ampas tahu dilakukan dengan cara menjemurnya di bawah
sinar matahari selama 1-2 hari. Setelah ampas tahu kering, dilakukan pengukuran
kadar air dengan mengoven ampas tahu hingga bobotnya konstan. Setelah kadar
air ampas tahu diketahi, maka dapat ditentukan jumlah ampas tahu yang dihitung

8
dalam berat kering mutlak yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman takaran
pembuatan pelet NPK organik.

E. Tepung Darah Sapi


Darah sapi banyak dijumpai di rumah potong hewan (RPH). Menurut
Kompas (2013) setiap hari lebih dari 1000 ekor sapi disembelih di Indonesia
untuk dikonsusi dagingnya dan sekitar 10.000.000 ekor sapi disembelih di
Indonesia saat Hari Raya Idul Adha. Menurut Sri Wahyini (2014) Berat total
darah sapi adalah 7,7% dari berat tubuh sapi. Biasanya darah sapi di RPH
ditampung dalam ember dan digumpalkan menjadi didih untuk dijual dan
dikonsumsi oleh sebagian orang. Konsumen darah sapi relatif sedikit karena darah
sapi (didih) merupakan makanan yang haram dalam ajaran Islam. Menurut Agus
(2012) Kehalalan produk (baik dipakai atau dimakan) yang diedarkan dan
dipasarkan di Indonesia merupakan masalah serius yang perlu mendapatkan
perhatian dari berbagai pihak. Sehingga tak heran apabila biasanya darah sapi dari
RPH hanya dialirkan ke parit dan menjadi limbah yang mencemari lingkungan.
Limbah darah sapi dapat diolah menjadi tepung darah dan dijadikan
sebagai pupuk organik. Metode pengolahan tepung darah sapi ada 2, yaitu metode
cooked dried blood meal (perebusan dan pengeringan) dan metode fermented
dried blood meal (fermentasi dan pengeringan), namun metode yang sering
dipakai dalam pembuatan tepung darah sapi adalah cooked dried blood meal
karena prosesnya lebih mudah dan dapat dikerjakan dalam waktu yang relatif lebi
singkat.
Cara membuat tepung darah dengan metode cooked dried blood meal
mula-mula darah segar dimasak selama 2 jam dengan suhu 800C, selanjutnya
dikeringkan dengan sinar matahari selama 2-3 hari, setelah kering lalu darah
digiling hingga menjadi tepung darah. Pembuatan tepung darah dengan metode
fermented dried blood meal mula-mula darah segar + 20% molasses, disimpan 14
hari, dikeringkan sinar matahari selama 3-5 hari, digiling hingga menjadi tepung
darah. Tepung darah sapi mengandung N 13,25 %, P 1,00 % dan K 0,60 %.
Protein yang terkandung pada tepung darah sapi akan cepat diuraikan oleh

9
mikroorganisme dalam tanah, sehingga tepung darah sapi sangat baik apabila
dijadikan pupuk organik (Sri Wahyuni, 2014).

F. Arang Sabut Kelapa


Belakangan ini sabut kelapa menjadi limbah yang sangat umum bagi
masyarakat Indonesia. Bagian dari buah kelapa yang diambil untuk dimanfaatkan
sebagai bahan masakan adalah daging buah dan air kelapanya, sehingga sabut
kelapa dibuang begitu saja dan kurang dimanfaatkan. Oleh karena itu, studi
pemanfaatan sabut kelapa perlu dilakukan agar lebih memiliki nilai guna,
sehingga dapat mereduksi jumlah sabut kelapa dalam timbunan sampah.
Pemanfaatan sabut kelapa yang paling mudah, namun belum banyak
dilakukan oleh masyarakat di Indonesia khususnya petani adalah pembuatan
pupuk organik dari sabut kelapa. Tanaman membutuhkan berbagai macam unsur
hara untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Salah satu unsur hara
yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah besar (unsur hara makro) adalah
Kalium (K). Dalam penelitian Waryanti dkk., (2014) menyatakan bahwa sabut
kelapa mengandung unsur karbon (C) sehingga dapat dijadikan bahan karbon
aktif. Selain mengandung karbon, sabut kelapa juga mengandung K2O sebesar
10,25%.
Kandungan K2O dalam sabut kelapa dapat digunakan sebagai pupuk organik
untuk memenuhi kebutuan unsur hara makro Kalium dalam budidaya tanaman
Jagung. Untuk mempermudah proses pencampuran dengan bahan organik lain
dalam pembuatan pupuk organik, maka sabut kelapa diajdikan arang. Pembuatan
arang sabut kelapa dilakukan dengan metode pengarangan terkontrol (pirolisis).
Adapun langkah kerjanya adalah memotong sabut kelapa menjadi bagian-bagian
kecil lalu dimasukkan ke dalam tong. Bakar potongan sabutu kelapa hingga
menjadi bara. Setelah semua bagian menjadi bara, maka tutup rapat tong yang
digunakan sebagai tempat pembakaran sabut kelapa. Setelah sabut kelapa menjadi
arang, haluskan hingga menjadi serbuk arang sabut kelapa. Pembuatan arang
sabut kelapa juga akan menambah unsur Karbon (C) yang baik untuk tanaman
budidaya khusunya tanaman Jagung. Selain untuk budidaya Jagung, arang sabut

10
kelapa juga baik digunakan untuk media tanam sayuran dan tanaman hias
(Waryanti, dkk., 2014).

G. Hipotesis
Perlakuan C (Pelet 70 gram/tanaman) diduga paling optimal untuk
menunjang pertumbuhan dan hasil tanaman Jagung.

III. TATA CARA PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium
Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2016.

B. Bahan dan Alat Penelitian


Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ampas tahu,
tepung darah sapi, arang sabut kelapa, pupuk kandang, tanah Regosol, benih
Jagung Hibrida, lempung Grumusol, pupuk Urea, pupuk SP-36, pupuk KCl dan
air.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari timbangan
analitik, penggaris, Leaf Area Meter (LAM), mesin peletizer, tong, oven, cupu,
sekop, gembor, kertas label, pensil, polybag ukuran 35 35 cm dan sungkup.

C. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, terdiri dari 1 faktor
yaitu dosis pupuk pelet NPK organik pada tanaman Jagung yang disusun dalam
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diujikan adalah dosis pelet
NPK organik yang terbuat dari ampas tahu, tepung darah sapi, arang sabut kelapa
dan filler dari lempung Grumusol dengan perbandingan komposisi 2 : 1 : 1 : 1.
Adapun macam perlakuannya terdiri dari:
A: Pelet 50 gram/tanaman.
B: Pelet 60 gram/tanaman.

11
C: Pelet 70 gram/tanaman.
D: Urea 5,25 gram + SP-36 1,5 gram + KCl 1,5 gram/tanaman.

Terdapat 4 perlakuan, setiap perlakuan diulang 3 kali sehingga terdapat 12


unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri dari 5 polybag tanaman Jagung, yaitu
3 tanaman sampel dan 2 tanaman korban. Jadi dari 12 unit percobaan terdapat 60
polybag tanaman Jagung.

D. Cara Penelitian
1. Persiapan Bahan Pupuk NPK Organik
a. Pengeringan Ampas Tahu
Ampas tahu dikering anginkan dengan cara dijemur di bawah sinar
matahari selama 1-2 hari. Setelah kering angin, dilakukan pengukuran
kadar lengas ampas tahu dengan cara :
i. Menimbang cupu kosong dan tutupnya (a gram).
ii. Mengambil sampel ampas tahu kering angin sebanyak setengah
volume cupu lalu ditimbang (b gram).
iii. Cupu berisi ampas tahu dimasukkan ke dalam oven pada suhu 1100
C selama 4 jam, setelah itu didinginkan dalam desikator lalu
ditimbang lagi (c gram). Kemudian dihitung kadar lengasnya
dengan rumus :
%.

b. Pembuatan Tepung Darah Sapi dengan Metode Cooked Dried Blood Meal
(Perebusan dan Pengeringan)
Cara membuat tepung darah dengan metode cooked dried blood meal
mula-mula darah segar dimasak selama 2 jam dengan suhu 800C,
selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari selama 2-3 hari, setelah
kering lalu darah digiling hingga menjadi tepung darah. Selanjutnya
tepung darah sapi diukur kadar lengasnya. Cara pengukuran kadar lengas
tepung darah sama dengan pengukuran kadar lengas pada ampas tahu.

c. Pembuatan Serbuk Arang Sabut Kelapa

12
Pembuatan arang sabut kelapa dilakukan dengan metode pirolisis
(pengarangan terkontrol). Mula-mula sabut kelapa dipotong menjadi
bagian-bagian kecil, dimasukkan ke dalam tong lalu dibakar hingga
menjadi bara. Ketika semua bagian sabut kelapa telah menjadi bara, tong
ditutup rapat dan ditunggu selama 60 menit hingga bara sabut kelapa
menjadi arang sabut kelapa. Selanjutnya arang sabut kelapa dihaluskan
hingga menjadi serbuk.

2. Pembuatan Pelet NPK Organik

a. Komposisi Pelet NPK Organik


Pelet NPK organik dibuat dengan bahan ampas tahu, tepung darah
sapi, arang sabut kelapa dan filler dari lempung Grumusol dengan
perbandingan berturut-turut 2:1:1:1.

b. Cara Pembuatan Pelet NPK Organik


Ampas tahu, tepung darah sapi, arang sabut kelapa dan filler dari
lempung Grumusol dimasukkan ke dalam nampan dan dicampur hingga
homogen. Bahan yang sudah tercampur kemudian digiling dengan mesin
peletizer. Pupuk pelet yang sudah jadi diletakkan dalam wadah secara
terurai kemudian dikering anginkan dalam suhu ruangan.

c. Pengukuran Kadar C-organik Pelet NPK Organik


Pengamatan C-organik pelet dilakukan dengan cara mengambil
sampel pelet NPK organik yang telah dibuat dan dilakukan pengukuran
kadar C-organik menggunakan metode Walkey and Black.
d. Pengukuran Kadar N-total Pelet NPK Organik
Pengamatan kadar N-total dilakukan dengan cara mengambil sampel
pelet NPK organik yang telah dibuat, selanjutnya dilakukan pengukuran
kadar N total dengan metode Kjehdahl.

13
Hasil pengukuran kadar C-organik dan N-total digunakan untuk
menghitung C/N rasio dari pelet NPK organik yang telah dibuat, dengan
rumus sebagai berikut :


3. Persiapan Media Tanam
Tanah dibersihkan dari kotoran dan dikering anginkan selama 2 hari.
Kemudian tanah diayak dengan mata saring 2 mm agar kerikil dan kotoran
lain terpisah dari tanah. Selanjutmya campur tanah Regosol dengan pupuk
kandang dengan perbandingan 3 : 1. Setelah tercampur rata, media tanam
ditimbang seberat 5 kg dan dimasukkan dalam polybag ukuran 3535 cm.

4. Penanaman
Benih yang digunakan adalah benih Jagung Hibrida. Penanaman
dilakukan dengan cara membuat lubang pada tanah dalam polybag sedalam 5
cm, lalu masukkan 2 benih Jagung ke dalam lubang tanam pada tanah dalam
polybag.

5. Pemeliharaan
a. Penjarangan
Penjarangan dilakukan pada 7 hari setelah tanam dengan
mempertahankan 1 tanaman Jagung per polybag yang pertumbuhannya
sehat/normal. Penjarangan dilakukan dengan cara mencabut salah satu
tanaman jagug pada polyag yang pertumbuhannya kurang sehat/normal.
Pencabutan dilakukan secara perlahan agar tidak merusak perakaran
tanaman Jagung yang dipertahankan sebagai tanaman perlakuan.

b. Penyiraman
Peyiraman dilakukan setiap sore hari, jumlah air yang disiramkan
disesuaikan dengan melihat kondisi tanah dan hasil dari pengukuran kadar
lengas tanah media tanam agar jumlah air yang disiramkan menjadi
efektif. Penyiraman dilakukan menggunakan gembor.

c. Aplikasi Pelet NPK Organik

14
Pemberian pupuk pelet NPK organik dilakukan pada saat tanaman
Jagung berumur 7 hari. Pupuk pelet NPK organik diberikan dengan cara
ditugal sedalam 5 cm dengan jarak 5 cm dari batang tanaman Jagung dan
ditutup kembali dengan tanah. Dosis pelet NPK organik pada tanaman
Jagung diberikan sesuai dengan masing-masing perlakuan, yaitu:
A: Pelet 50 gram/tanaman.
B: Pelet 60 gram/tanaman.
C: Pelet 70 gram/tanaman.
D: Urea 5,25 gram + SP-36 1,5 gram + KCl 1,5 gram/tanaman.
Kebutuhan pupuk tanaman Jagung adalah :
Tabel 1. Kebutuhan Pupuk Tanman Jagung
Jenis Pupuk Per Hektar (kg) Per tanaman (gram)
Urea 350 kg 5,25
SP-36 100 kg 1,5
KCl 100 kg 1,5
Sumber : Fachrista dan Isuukindarsyah (2012). (Lampiran 3).
Kebutuhan unsur NPK tanaman Jagung adalah :
Tabel 2. Kebutuhan Unsur NPK Tanaman Jagung
Jenis Unsur Per Hektar (kg) Per Tanaman (gram)
N 161 2,41
P 36 0,54
K 60 0,9
Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 3.
Kandungan unsur pada pelet NPK organik yang dibuat adalah :
Tabel 3. Kandungan Unsur pada Pelet NPK Organik yang Dibuat
NO Jenis Unsur Persentase di dalam pelet
1 N 3,15 %
2 P 0,20 %
3 K 2,71 %
Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 4.

15
Sedangkan kandungan unsur dari masing-masing perlakuan adalah :
Tabel 4. Kandungan Unsur NPK dari Masing-Masing Perlakuan
Kandungan
Perlakuan Unsur (gram)
No
(gram/tanaman)
N P K
1 A: Pelet 50. 1,58 0,10 1,35
2 B: Pelet 60. 1,90 0,12 1,63
3 C: Pelet 70. 2,20 0,14 1,90
4 D: Urea 5,25 + SP-36 1,5 + KCl 1,5 2,41 0,54 0,90
Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 6.
d. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Pengendalian terhadap hama dilakukan secara teknis dan juga
secara kimiawi tergantung pada jenis hama dan tingkat kerusakannya.
Pengendalian gulma dilakukan secara teknis dengan mencabut gulma.
Pengendalian terhadap penyakit dilakukan secara kimiawi yang
menyesuaikan pada penyakit yang menyerang.

e. Panen
Jagung dipanen dengan cara dipetik menggunakan tangan. Panen
dilakukan ketika tanaman Jagung berumur 85-90 hari, ditandai dengan
tongkol yang sudah terisi penuh, daun tanaman Jagung telah berwarna
kuning serta rambut Jagung telah berubah warna menjadi cokelat dan
kering.

E. Parameter yang Diamati


1. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur setiap 5 hari sekali selama 60 hari dengan
menggunakan penggaris. Tingi tanaman Jagung diukur dari pangkal batang
hingga ke ujung tanaman, namun daun Jagung tidak ditelangkupkan ke atas.

2. Jumlah Daun (helai)


Jumlah daun dihitung setiap 5 hari sekali selama 60 hari. Cara perhitungan
jumlah daun yaitu dengan menghitung semua daun yang pernah tumbuh pada
tanaman Jagung, termasuk daun yang sudah layu dan kering.

16
3. Berat Segar Tajuk (gram)
Berat segar tajuk diukur sebanyak 2 kali yaitu pada saat tanaman Jagung
berumur 30 hari dan 60 hari. Berat segar tajuk yang ditimbang adalah tajuk
tanaman korban yang dicabut pada saat umur 30 hari dan 60 hari. Pengamatan
ini dilakukan dengan menimbang bagian tajuk (batang+daun) Jagung ketika
baru dicabut, namun sudah dibersihkan dari kotoran yang menempel seperti
tanah, pasir, dll.
4. Berat Segar Akar (gram)
Berat segar akar dilakukan dengan cara mencabut secara perlahan tanaman
Jagung, lalu akarnya dicuci dan dibersihkan dari tanah atau kotoran yang
masih menempel. Selanjutnya akar Jagung dipisahkan dari tanaman Jagung
dengan cara dipotong, selanjutnya ditimbang. Penimbangan berat segar akar
dilakukan sebanyak 2 kali yaitu ketika tanaman Jagung berumur 30 hari dan
60 hari.

5. Berat Kering Tajuk (gram)


Penimbangan berat kering tajuk dilakukan dengan cara membungkus
tajuk Jagung dengan kertas, lalu mengeringkan tajuk (batang+daun) Jagung
dengan oven pada suhu 700 C hingga beratnya konstan, selanjutnya tajuk
Jagung ditimbang dengan timbangan analitik. Penimbangan berat kering tajuk
dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu saat tanaman Jagung berumur 30 dan 60 hari.

6. Berat Kering Akar (gram)


Pengukuran berat kering akar dilakukan dengan cara mencuci akar Jagung,
membungkusnya dengan kertas, selanjutnya akar Jagung dioven pada suhu
700 C hingga beratnya konstan. Penimbangan berat kering, baik tajuk maupun
akar bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak akumulasi bahan kering
hasil dari proses fotosintesis tanaman Jagung, karena ketika masih segar,
akumulasi bahan hasil fotosintesis masih bercampur dengan air yang
terkanung dalam tubuh tanaman.

17
7. Berat Segar Tongkol (gram)
Pengamatan berat segar tongkol dilakukan setelah penen dengan cara
menimbang tongkol Jagung tanpa kelobot.

8. Panjang Tongkol (cm)


Pengamatan panjang tongkol dilakukan setelah panen dengan cara mengukur
panjang tongkol tanpa kelobot dengan menggunakan penggaris.
9. Diameter Tongkol (cm)
Pengukuran diameter tongkol dilakukan dengan cara membuang
kelobot Jagung, selanjutnya bagian tongkol Jagung yang paling menggembung
(diasumsikan yang diameternya paling besar) dipotong dan diameter tongkol
diukur menggunakan penggaris.

10. Jumlah Biji


Biji Jagung dipisahkan dari tongkolnya (dipipil), lalu dihitung jumlah biji
dari masing-masing tongkol.

11. Berat Biji per Tongkol


Biji Jagung dirontokkan dari tongkolnya, selanjutnya biji Jagung dari
masing-masing tongkol ditimbang beratnya.

F. Analisis Data
Data hasil pengamatan selanjutnya dianalisis sidik ragam pada taraf
kesalahan 5% untuk mengetahui pengaruh dari setiap perlakuan yang diberikan.
Jaika ada pengaruh nyata antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan
menggunakan uji jarak berganda Duncan (Duncans Multiple Range Test) pada
taraf kesalahan 5% untuk mengetahui beda nyata dari pengaruh antar perlakuan.

18
G. Jadual Penelitian

Bulan
No Tahapan Penelitian Februari Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
1 Persiapan alat dan
bahan
2 Persiapan bahan
pelet NPK organik
A Pengeringan
ampas tahu
B Pembuatan
tepung darah
sapi
C Pembuatan
arang sabut
kelapa
3 A Pembuatan pelet
NPK organik
B Pengukuran
kadar C, N dan
C/N rasio
4 Persiapan media
tanam
A Pengayakan
tanah
b Pengisian tanah
ke polybag
5 Penanaman
6 Pemeliharaan
a Penjarangan
b Penyiraman
c Aplikasi pelet
NPK organik
d Pengendalian
OPT
7 Pengamatan
8 Panen
Analisis data dan
9 penyusunan laporan

19
DAFTAR PUSTAKA

Academia. 2015. Produksi Jagung Indonesia.


http://www.academia.edu/9756070/Pertumbuhan_Produksi_Ekspor_Im
por_Konsumsi_dan_Cadangan_Jagung_Indonesia., diakses 5 April
2015.

Agus. 2012. Membangun Kesadaran Konsumsi Makanan Halal.


http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=11491., diakses 6
April 2015.

Asmoro Y., Suranto, dan Sutoyo D., 2008. Pemanfaatan Limbah Tahu untuk
Peningkatan Hasil Tanaman Petsai (Brassica chinesis). Jurnal
Bioteknologi 5 (2): 51-55, November 2008, ISSN: 0216-6887.

BAPPEBTI. 2014. Gudang SRG Solusi Jagung Impor.


http://www.bappebti.go.id/id/edu/articles/detail/2989.html., diakses 6
April 2015.

B. Septian. 2014. Pertumbuhan Produksi Ekspor Impor Konsumsi dan Cadangan


Jagung Indonesia. http://www.academia.edu/9756070/Pertumbuhan
Produksi Ekspor_Impor_Konsumsi_dan_Cadangan_Jagung_Indonesia.,
diakses 6 April 2015.

Dalmadi. 2015. Penggunaan Benih Jagung Umur Genjah merupakan Upaya


Meminimalkan Kegagalan Panen. http://cybex.pertanian.go.id
/materipenyuluhan /detail/10038/penggunaan-benih-Jagung-umur-
genjah-merupakan-upaya-untuk-meminimalkan-kegagalan-panen,
diakses 15 Desember 2015.
Fachrista dan Isuukindarsyah . 2012. Jagung.
http://babel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content
&view=article&id=163:Jagung., diakses 6 April 2015.

Farida Ali, Muhammad Edwar dan Aga Karisma, 2014. Pembuatan Kompos dari
Ampas Tahu dengan Aktivator Stardec. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas
Teknik Universitas Sriwijaya. Palembang.

Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademia Pressindo. Jakarta

Hermana. 1985. Pengolahan Kedelai Menjadi Berbagai Bahan Makanan. Pusat


Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Isori, 2009. Pupuk Organik Pelet (POP). http://www.isori.com/2009/07/19/pupuk-


organik-pelet-pop., diakses 6 April 2015.

20
Kompas. 2013. Sapi, Kambing, dan Babi.
http://hiburan.kompasiana.com/humor/2013/10/15/sapi-kambing-dan-
babi-600707.html., diakses 6 April 2015.

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama di Indonesia. P.T. Pustaka Jaya. Jakarta.

Puji, D. 2014. Jenis Tanah yang Ada di Indonesia.


http://www.dontfauji.blogspot.com/2014/08/jenis-tanah-yang-ada-di-
indonesia.html., diakses 6 April 2015.

Pramudyanto dan Nurhasan. 1991. Penanganan Limbah Pada


Pabrik Tahu. Semarang: Yayasan Bina Karya Lestari.

Pusteklin. 2002. Penelitian Dasar Teknologi Tepat Guna


Pengolahan Limbah Cair. Yogyakarta: Pusteklin.

Soeminaboedhy dan Tedjowulan. 2004. Pemanfaatan Berbagai Macam Arang


sebagai Sumber Unsur Hara P dan K serta sebagai Pembenah Tanah.
Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram.

Sri Wahyuni. 2014. Pembuatan Tepung Darah. Program Studi Pendidikan


Kependudukan dan Lingkungan Hidup Sekolah Pascasarjana
Universitas Pakuan Bogor. http://www.pasca.unpak.ac.id., diakses 28
April 2015.

Suprapti, L. 2005. Pembuatan Tahu. Yogyakarta: Kanisius.

Sutejo, M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Triawati, A. 2010. Kualitas Ligkungan Sekitar Pabrik Tahu dan Pemanfaatan


Limbah Tahu Sebagai Pupuk Cair Organik dengan Penambahan EM4
(Effective Microoganism). Surabaya. Tugas Akhir, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, UNAIR. Surabaya.

Waryanti A., Sudarno, dan Sutrisno E. 2014. Studi Pengaruh Penambahan Sabut
Kelapa pada Pembuatan Pupuk Cair dari Limbah Air Cucian Ikan
terhadap Kualitas Unsur Hara Makro (CNK). Program Studi Teknik
Lingkungan. Fakultas Teknik. UNDIP. Semarang.

21
LAMPIRAN

1. Skema Penelitian
Tahap 1. Persiapan alat dan bahan

Pengeringan ampas tahu, ukur KL Tahap 2. Pembuatan Pelet

Pembuatan tepung darah sapi, ukur KL


Pelet
NPK
Pembuatan arang sabut kelapa
Organik
Pembuatan filler lempung Grumusol

Tahap 3. Budidaya Jagung Uji kadar C-organik


Uji kadar N-total
Persiapam media tanam Pengkuran C/N rasio
Penanaman
Perlakuan
Pemeliharaan :
A: Pelet 50 gram/tanaman.
A. Penyulaman
B. Penyiraman B: Pelet 60 gram/tanaman.
C. Aplikasi Pelet C: Pelet 70 gram/tanaman.
NPK organik perlakuan
D: Urea 5,25 gram + SP-36
D. Pengendalian
OPT 1,5 gram + KCl 1,5
gram/tanaman.
Panen

Tahap 4. Pengamatan

A. Pertumbuhan
i. Harian : Tinggi tanaman & Jumlah daun.
ii. Tan. Korban : - Berat segar tajuk, akar
iii. - Berat kering tajuk, akar.
B. Hasil
i. Tongkol : berat segar, panjang, diameter.
ii. Biji : jumlah biji per tongkol & berat biji per tongkol.

22
2. Layout Penelitian

B1 A4 A2

A3 C2 B3

B2 A1 C4

C3 B4 C1

- Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan.


- Setiap perlakuan diulang 3 kali.
- Sehingga diperoleh 12 unit percobaan.
- Setiap unit percobaan terdiri dari 7 polybag (3 tanaman sampel dan 2 tanaman
korban dan 2 tanaman cadangan), masing-masing polybag berisi 1 tanaman
Jagung.
- Total : 84 polybag tanaman Jagung (60 tanaman perlakuan dan 24 tanaman
cadangan).

23
3. Kebutuhan Pupuk Urea, SP-36 dan KCl serta Kebutuhan Unsur N, P
dan K Tanaman Jagung Manis

A. Kebutuhan Pupuk Urea, SP-36 dan KCl Tanaman Jagung Manis menurut
Fachrista dan Isuukindarsyah (2012)
- Urea 350 kg/hektar.
- SP-36 100 kg/hektar.
- KCI 100 kg/hektar.
Jarak tanam pada budidaya tanaman Jagung Manis adalah 75 20 cm.
Dalam 1 hektar lahan terdapat 66666 tanaman Jagung Manis.
Kebutuhan pupuk per tanaman Jagung :

- Urea = 5,25 gram.

- SP-36 = 1,5 gram.

- KCl = 1,5 gram.

B. Kebutuhan Unsur N, P dan K Tanaman Jagung Manis


- Kebutuhan unsur N :
Pupuk Urea menandung 46 % N.

350 kg = 161 kg N/hektar,

Jadi kebutuan N per tanaman Jagung Manis = = 2,41 gram.

- Kebutuhan unsur P :
Pupuk SP-36 mengandung 36 % P, maka :

100 kg = 36 kg P/hektar,

Jadi kebutuan P per tanaman Jagung Manis = = 0,54 gram.

- Kebutuhan unsur K :
Pupuk KCl mengandung 60 % K, maka :

100 kg = 60 kg K/hektar,

Jadi kebutuan K per tanaman Jagung = = 0,90 gram.

24
4. Kandungan N, P, dan K (%) dari Pelet NPK Organik yang Dibuat

Pelet NPK organik dibuat dari ampas tahu, tepung darah sapi, arang sabut
kelapa dan perekat dari lempung Grumusol dengan perbandingan komposisi :
Ampas tahu : 2 Arang sabut kelapa :1
Tepung darah sapi : 1 Perekat dari lempung Grumusol : 1
A. Kandungan N :
i. Kandungan N ampas tahu adalah 1,24 % (Asmoro, dkk., 2008).

1,24 % = 0,5 %.

ii. Kandunan N tepung darah sapi adalah 13,25 % (Sri Wahyuni, 2014).

13,25 % = 2,65 %.

Maka kandungan N pelet NPK organik = 0,5 % + 2,65 % = 3,15 % N.


B. Kandungan P :
i. Ampas tahu mengandung unsur P sebesar 5,54 ppm (Asmoro, dkk.,
2008).

5,54 ppm = 0,0000055 = 0,0000022 %.

ii. Tepung darah sapi mengandung unsur P sebesar 1 % (Sri Wahyuni,


2014).

1 % = 0,2 %.

Maka kandungan P pelet NPK organik = 0,0000022 % + 0,2 % = 0,2 % P.


C. Kandungan K :
i. Ampas tahu mengandung K 1,34 % (Asmoro dkk., 2008)

1,34 % = 0,54 %.

ii. Kandungan K tepung darah sapi adalah 0,60 % (Sri Wahuni, 2014)

0,60 % = 0,12 %.

iii. Unsur K pada arang sabut kelapa 10,25 % (Waryanti dkk., 2014).

10,25 % = 2,05 %.

Maka kandungan K pelet NPK organik = 0,54 % + 0,12 % + 2,05 %.


= 2,71 % K.

25
5. Jumlah Pelet NPK Organik yang Dibutuhkan Tanaman Jagung
Manis

Tanaman Jagung Manis membutuhkan 161 kg N/hektar atau 2,41 gram


N/tanaman, 36 kg P/hektar atau 0,54 gram P/tanaman dan 60 kg K/hektar atau
0,90 gram K/tanaman (Lampiran 2).

Pelet NPK organik yang dibuat mengandung 3,15 % N, 0,2 % P dan 2,71
% K (Lampiran 4).

Dengan jarak tanam 75 20 cm, dalam 1 hektar terdapat 66666 tanaman


Jagung Manis.

Maka kebutuhan unsur hara bagi tanaman Jagung Mnais dapat terpenuhi
dengan pemberian pelet sebanyak :

x 161 kg = 5111,11 kg pelet NPK organik/hektar.

Maka kebutuhan pelet NPK organik/tanaman adalah:

= 76,6 gram pelet NPK organik/tanaman.

Dari 4420,65 kg pelet NPK organik, mengandung unsur N, P dan K


sebesar:

- N : x 5111,11 = 161 kg N/hektar, atau = 2,41 gram


N/tanaman (sesuai dengan dosis anjuran N tanaman Jagung Manis
yaitu sebesar 2,41 gram N/tanaman).

- P: x 5111,11 = 10,22 kg P/hektar, atau = 0,15 gram


P/tanaman (tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan P tanaman
Jagung Manis yaitu sebesar 0,54 gram P/tanaman).

- K : x 5111,11 = 138,51 kg K/hektar, atau = 2,08 gram

K/tanaman (cukup untuk memenuhi kebutuhan K tanaman Jagung


Manis yaitu sebesar 0,90 gram K/tanaman).

26
6. Kandungan Unsur NPK dari Masing-Masing Perlakuan

Berdasarkan perhitungan di atas, maka kandungan unsur N, P dan K dari


masing-masing perlakuan adalah:
A. Perlakuan (A) : 50 gram pelet NPK organik/tanaman.
.

B. Perlakuan (B) : 60 gram pelet NPK organik/tanaman.


.

C. Perlakuan (C) : 70 gram pelet NPK organik/tanaman.


.

D. Perlakuan (D) : 5,25 gram Urea + 1,50 gram SP-36 + 1,50 gram
KCl/tanaman = mengandung 2,41 gram N, 0,54 gram P, dan 0,90 gram K,
merupakan jumlah unsur N, P dan K yang dibutuhkan oleh tanaman
Jagung Manis (Lampiran 3).

27

Anda mungkin juga menyukai