Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alginat

Alginat adalah polisakarida alam yang umumnya terdapat pada dinding sel

dari semua spesies algae coklat (phaeophyceac). Asam alginat ditemukan,

diekstraksi pertama sekali dan dipatenkan oleh seorang ahli kimia dari Inggris

Stanford tahun 1880 dengan mengekstraksi Laminaria stenophylla (Anonim I,

2005).

Asam alginat dalam algae coklat umumnya terdapat sebagai garam-garam

kalsium, magnesium dan natrium. Tahap pertama pembuatan alginat adalah

mengubah kalsium dan magnesium alginat yang tidat larut menjadi natrium

alginat yang larut dalam air dengan pertukaran ion di bawah kondisi alkalin

(Zhanjiang, 1990).

2.1.1 Struktur

Molekul asam alginat berbentuk polimer linier tak bercabang dan disusun

oleh kurang lebih 700-1000 residu asam -D- manuronat (M) dan -L- guluronat
4
(G). Asam D-manuronat memiliki ikatan diekuatorial C1 sedangkan asam

guluronat memiliki ikatan diaksial 1C4 (Wandrey, 2005).

Rantai yang terdiri atas 3 segmen polimer yang berbeda terlihat pada

gambar 1 berikut ini :

Universitas Sumatera Utara


(a) -G-G- (b) -G-M- (c) -M-M-
Gambar 2.1 Struktur Alginat
2.1.2 Sifat

Kelarutan alginat dan kemampuannya mengikat air bergantung pada

jumlah ion karboksilat, berat molekul dan pH. Kemampuan mengikat air

meningkat jika jumlah ion karboksilat semakin banyak dan jumlah residu kalsium

alginat kurang dari 500, sedangkan pada pH di bawah 3 terjadi pengendapan

(McHugh, 2003).

Alginat memiliki sifat-sifat utama :

1. Kemampuan untuk larut dalam air serta meningkatkan viskositas larutan

2. Kemampuan untuk membentuk gel

3. Kemampuan membentuk film (natrium atau kalsium alginat) dan serat

(kalsium alginat) (Wandrey, 2005).

2.1.3 Pembentukan Gel Kalsium Alginat

Gel terbentuk melalui reaksi kimia dimana kalsium menggantikan natrium

dalam alginat, mengikat molekul-molekul alginat yang panjang sehingga

membentuk gel.

Ketika 2 blok G tersusun paralel, terbentuk pola rantai seperti lubang yang

sangat ideal untuk pengikatan kalsium. Bentuk ini menyerupai telur dalam

kotaknya (egg in an egg box), seperti pada gambar 2.

Universitas Sumatera Utara


Larutan

+ Ca2+

Gel

Daerah blok-G
= Ca2+

Gambar 2.2 Egg box dalam gel alginat

Kekuatan dari gel yang dibentuk dengan penambahan garam Ca bervariasi

dari satu alginat dengan alginat lainnya. Alginat dengan kandungan G yang tinggi

akan lebih kuat dibandingkan dengan alginat dengan kandungan M yang tinggi.

Seperti Macrocystis memberikan alginat dengan viskositas yang sedang,

Sargassum memberikan hasil viskositas yang rendah, Laminaria digitata

menghasilkan kekuatan gel lembut sampai sedang sementara Laminaria

hyperborea dan Durvillaea menghasilkan gel yang kuat (McHugh, 2003).

Alginat dapat membentuk gel dengan adanya kation-kation divalent seperti

Ca2+, Mn2+, Cu2+ dan Zn2+, dimana ikatan silang terjadi karena adanya kompleks

khelat antara ion-ion divalent dengan anion karboksilat dari blok G-G (Inukai,

1999).

Universitas Sumatera Utara


2.1.4 Kegunaan

Alginat dapat digunakan dalam berbagai bidang antara lain industri

makanan, tekstil, farmasi, dan kosmetik, tetapi yang paling banyak digunakan

dalam bidang tekstil (50%) dan makanan (30%) (McCormick, 2001).

Dalam industri tekstil, alginat digunakan sebagai pengental untuk pasta

yang mengandung zat pewarna. Bahan pengental lain seperti pati sering

digunakan tetapi bereaksi dengan bahan aktif pewarna, sehingga menghasilkan

warna yang lebih rendah dan kadang-kadang limbahnya sulit untuk dicuci. Alginat

tidak bereaksi dengan zat pewarna dan dengan mudah dicuci dari tekstil sehingga

alginat menjadi pengental yang terbaik untuk zat pewarna (McHugh, 2003).

Dalam bidang makanan, sifat kekentalan alginat dapat digunakan dalam

pembuatan saus serta sirup, sebagai penstabil dalam pembuatan es krim (McHugh,

2003). Membran Ca-alginat juga digunakan sebagai pembungkus ikan, buah,

daging dan makanan lain untuk mengawetkannya (McComick, 2001), merupakan

pembungkus alternatif karena dapat dimakan dan mudah terurai oleh

mikroorganisme sehingga bersifat ramah lingkungan (Stading, 2003).

Pelapis dan membran kalsium alginat dapat digunakan untuk membantu

mengawetkan ikan beku. Minyak yang terdapat dalam ikan seperti ikan Herring

dan mackerel dapat menjadi tengik melalui oksidasi oleh udara walaupun cepat

dibekukan dan disimpan pada suhu rendah. Jika ikan dibekukan dalam jelli

kalsium alginat, ikan terlindungi dari oksidasi dan ketengikan dihambat. Jika jelli

mencair bersama ikan, dengan demikian ikan mudah dipisahkan. Juice daging

yang dibungkus dengan membran kalsium alginat sebelum dibekukan,

Universitas Sumatera Utara


pembungkusan dapat melindungi daging dari kontaminasi bakteri (McHugh,

2003).

Dalam bidang farmasi, alginat dapat digunakan sebagai pembalut luka

yang dapat menyembuhkan luka karena dapat mengabsorbsi cairan dari luka,

dimana kalsium dalam serat diganti menjadi natrium dalam cairan tubuh sehingga

menjadi natrium alginat yang larut ( McHugh, 2003).

2.2 Kitosan

Kitosan merupakan polisakarida yang terdapat dalam jumlah melimpah di

alam. Kitosan adalah poli [ -(1,4)-2 amino-2deoxy-D-glukopiranosa] dan

merupakan produk deasetilasi kitin. Deasetilasi dengan larutan alkali (biasanya

NaOH) merupakan salah satu reaksi penting terhadap kitin untuk menghasilkan

kitosan. Deasetilasi dengan NaOH pada suhu 100oC selama 1 jam menghasilkan

produk terdeasetilasi 82% sementara bila waktu reaksi ditambah hingga 48 jam

menghasilkan produk terdeasetilasi hampir 100%. Namun perpanjangan waktu ini

menurunkan viskositas larutan, yang berarti telah terjadi degradasi rantai, untuk

menghindarinya dilakukan dengan mengurangi jumlah alkali yang digunakan

(Roberts, 1992).

2.2.1 Struktur

CH2OH H2N CH2OH


HO

HO HO
H2N CH2OH H2N

Gambar 2.3 Struktur Kitosan

(Roberts, 1992)

Universitas Sumatera Utara


2.2.2 Sifat

Kebanyakan polisakarida alami seperti selulosa, protein, asam alginat, agar

dan agarose bersifat netral atau asam sedangkan kitin dan kitosan merupakan

polisakarida yang bersifat basa. Sifatnya yang basa ini menjadikan kitosan:

1. Dapat larut dalam media asam encer membentuk larutan yang kental

sehingga dapat digunakan untuk pembuatan gel dalam beberapa variasi

konfigurasi seperti butiran, membran, pelapis, kapsul, serat dan spon.

2. Membentuk kompleks yang tidak larut air dengan polielektrolit anionik

yang juga dapat digunakan untuk pembuatan butiran, gel, kapsul, dan

membran.

3. Dapat digunakan sebagai pengkhelat ion logam berat dimana gelnya

menyediakan sistem proteksi terhadap efek dekstruksi dari ion (Krajewska,

2001).

Kitosan tidak larut dalam air namun larut dalam asam dengan pH dibawah

6,0, yang umum digunakan adalah asam asetat 1 % dengan pH sekitar 4,0. Pada

pH tinggi, cenderung terjadi pengendapan (Kumar, 2000).

2.2.3 Kegunaan

Kitosan dan turunannya dapat digunakan sebagai bahan kosmetik, krim

badan dan tangan serta produk perawatan rambut, seperti shampo dan hairspray.

Kitosan juga telah diteliti sebagai bahan formulasi kosmetik khususnya untuk

kulit yang sensitif misalnya sebagai tabir surya. Kapasitas pembentukan film dan

sifat antiseptik kitosan melindungi kulit dari kemungkinan infeksi mikroba.

Aktitifitas antimikroba dari kitosan terhadap beberapa penyakit dan

mikroorganisma perusak makanan, telah diteliti penggunaannya pada pengolahan

Universitas Sumatera Utara


dan pengawetan makanan. Pemberian kitosan yang disemprotkan pada buah apel

dan jeruk melindungi dari kerusakan jaringan dan pembusukan. Aplikasi lain

adalah pembuatan bungkus makanan, buah dan sayuran dari kitosan yang secara

nyata menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Beaulieu, 2005).

Kitosan mampu menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri yang bersifat

patogen dan menyebabkan resistensi tumbuhan terhadap infeksi jamur dan virus

pada tanaman. Efek penghambatan meningkat segera setelah daun diberi kitosan

(Synowiecki dan Al-Khateeb, 2003).

2.2.4 Penggolongan Membran

Berdasarkan material yang digunakan dalam pembuatan membran, bahan

pembuat membran dikelompokkkan menjadi membran polimer alam, liquid,

padatan (keramik) dan penukar ion. Membran polimer alam, terbagi menjadi

membran biologis dan membran sintetik. Membran sel termasuk membran

biologis, sedangkan membran sintetik terdiri atas membran organik dan

anorganik. Membran organik antara lain disusun oleh polisakarida-polisakarida

yang karena pengaruh gugus fungsi yang dimilikinya bersifat polikationik

maupun polielektrolit (Zhao, at al., 2002).

2.2.4.1 Membran Polikationik

Membran kitosan adalah contoh membran polikationik. Membran kitosan

pertama kali dibuat dan dikarakterisasi oleh Muzzarelli dan teman-temannya pada

tahun 1974 (Zhao, et al., 2002).

2.2.4.2 Membran polielektrolit

Kompleks polielektrolit dibentuk melalui reaksi suatu polielektrolit

dengan polielektrolit lain yang berbeda muatannya dalam suatu larutan.

Universitas Sumatera Utara


Dikarenakan keragaman struktur dan sifatnya, kompleks ini memberikan aplikasi

yang cukup luas sebagai membran, pelapis antistatic dll. Contoh membran

polielektrolit adalah membran alginat-kitosan.

Banyak kegunaan kitosan didasarkan pada sifat kationik alaminya yang

membuatnya dapat berinteraksi dengan biomolekul bermuatan negatif seperti

protein, polisakarida anionik dan asam nukleat. Karenanya pada kondisi tertentu

alginat dan kitosan yang berbeda muatan akan saling berinteraksi seperti terlihat

pada gambar 2.4.

Interaksi Ionik

Rantai Kitosan -OOC


NH3+

AcHN COOH
+ -
NH3 Cl
OOC

COO- Na+

Rantai Alginat NH2

Gambar 2.4. Interaksi ionik antara narium alginat/asam alginat dengan


kitosan

Hanya sedikit penelitian yang dilaporkan sehubungan dengan

pembentukan kompleks polielektrolit alginat dengan kitosan dalam suasana asam.

Hal ini disebabkan terbatasnya daerah pH yang berhubungan dengan kelarutan

kitosan. Jika pH lebih besar dari 6, terjadi netralisasi muatan positif kitosan

sehingga kitosan dapat mengendap (Berger, et al., 2004).

Sebaliknya pH yang lebih kecil dari 3, bisa menurunkan kompatible sistem

dan juga bisa menyebabkan pengendapan alginat. Pada pH mendekati 5, gugus

Universitas Sumatera Utara


karboksilat bebas dari rantai asam kebanyakan terdapat dalam bentuk karboksilat

dan gugus amino dari kitosan terprotonasi.

Cardenass dkk, berhasil membuat membran kompleks polielektrolit

alginat-kitosan dengan cara mencampur larutan kitosan asetat dengan natrium

alginat. Sebelum diperoleh kompleks elektrolit pada pH 5,28 melalui penambahan

larutan NaOH, campuran ditambahkan HCl 32% terlebih dahulu.

Interaksi kitosan dengan natrium alginat dalam membentuk kompleks

polielektrolit berjalan sesuai dengan reaksi berikut ini:

COO-Na+ + Cl-NH3 COO-NH3 + Na+ + Cl-

Gambar 2.5. Mekanisme interaksi natrium alginat dengan kitosan

Sebagai hasil pencampuran dua polielektrolit ini dihasilkan kompleks

membran tidak larut yang mampu melewatkan zat dengan berat molekul tertentu

dan mengalami pengembangan dalam air (Cardenass,et al., 2003).

2.3 Anatomi Fisiologi Kulit Dan Penyembuhan Luka

2.3.1 Anatomi kulit

Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,

merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar

16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5

1,9 meter persegi.Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda,

lapisan luar adalah epidermis yang berasal dari ectoderm merupakan lapisan

epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk, lapisan tanduk dikenal sebagai

keratinosit yang membedakan kulit tebal dan tipis. Kulit tebal terdapat pada

Universitas Sumatera Utara


telapak tangan dan kaki, dan kulit tipis (berambut) terdapat pada bagian tubuh

lainnya sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau

korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat (Anonim II, 2008).

Gambar 2.6. jaringan kulit

(Anonim III, 2008)

Universitas Sumatera Utara


Keterangan Gambar 2.6.

1. Lapisan korneum
2. Lapisan spinosum
3. Papila-papila kulit (dermal)
4. Dermis yaitu lapisan reticular
5. Folikel-folikel rambut
6. Kelenjar sebasea
7. Otot-otot erektor (penegang)
8. Folikel rambut
9. Saluran keluar kelenjar keringat
10. Bulbus rambut
11. Papila folikel rambut
12. Bagian sekretoris dari kelenjar keringat
13. Otot skelet
14. Epidermis dilalui oleh saluran keluar dari kelenjar keringat
15. Kelenjar sebasea
16. Saluran keluar kelenjar keringat
17. Rambut (korteks)
18. Sarung akar dalam dari folikel rambut
19. Sarung jaringan penyambung dari folikel rambut
20. Sarung akar dari folikel rambut
21. Medula dan matriks rambut
22. Badan-badan lamelar
23. Jaringan lemak didalam lapisan subkutan
24. Vena
25. Arteriola

Universitas Sumatera Utara


2.3.1.1 Epidermis

Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari

epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan

merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal

pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh

ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Fungsi epidermis adalah

proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan

mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans).

Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang

terdalam) :

1. Stratum Korneum. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan

berganti.

2. Stratum Lusidum. Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit

tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.

3. Stratum Granulosum. Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang

intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang

dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan

histidin. Terdapat sel Langerhans.

4. Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan

tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting

untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi.

Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan

mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum

Universitas Sumatera Utara


basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel

Langerhans.

5. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang

hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara

konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke

permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu

lapis sel yang mengandung melanosit.

2.3.1.2 Dermis

Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap

sebagai True Skin. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan

menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling

tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm.

Dermis terdiri dari dua lapisan :

Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.

Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat

Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga

mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea

dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis

di dalam dermis.Fungsi dermis adalah struktur penunjang, suplai nutrisi dan

respon inflamasi.

Universitas Sumatera Utara


2.3.1.3 Subkutis

Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari

lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit

secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda

menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang

suplai darah ke dermis untuk regenerasi. Fungsi Subkutis / hipodermis adalah

melekat ke struktur dasar, isolasi panas dan cadangan kalori.

2.3.2 Fisiologi Kulit

Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh

diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan,

sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan

metabolisme. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari

elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi

mikroorganisme patogen. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan

cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. Temperatur kulit

dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur

meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi

temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia

yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun,

pembuluh darah kulit akan vasokonstriksi yang kemudian akan mempertahankan

panas.

Universitas Sumatera Utara


2.3.3 Klasifikasi Luka

Luka dapat terjadi pada trauma, pembedahan, neuropatik, vaskuler, dan

penekanan. Luka diklasifikasikan dalam 2 bagian :

1) Luka akut : merupakan luka trauma yang biasanya segera mendapat

penanganan dan biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi

komplikasi. Kriteria luka akut adalah luka baru, mendadak dan

penyembuhannya sesuai dengan waktu yang diperkirakan Contoh :

Luka sayat, luka bakar, luka tusuk, Luka operasi dapat dianggap sebagai

luka akut yang dibuat oleh ahli bedah. Contoh : luka jahit.

2) Luka kronik : luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali

(rekuren) dimana terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang

biasanya disebabkan oleh masalah multifaktor dari penderita. Pada luka

kronik luka gagal sembuh pada waktu yang diperkirakan, tidak

berespon baik terhadap terapi dan punya tendensi untuk timbul kembali.

Contoh : Ulkus dekubitus, ulkus diabetik, ulkus venous, dll (Anonim II,

2008).

2.3.4 Penyembuhan Luka

2.3.4.1 Penyembuhan dengan penyambungan primer (penyembuhan primer)

Pada hari pertama pascabedah (sesudah menjalani operasi) setelah luka

disambung dan dijahit, garis insisi segera terisi bekuan darah. Permukaan bekuan

darah ini mengering menimbulkan kerak yang menimbulkan luka. Reaksi radang

akut yang biasa, terlihat pada tepi luka.

Universitas Sumatera Utara


Pada hari kedua, timbul dua aktivitas yang terpisah : reepitelisasi

permukaan dan pembentukan jembatan yang terdiri dari jaringan fibrosa yang

menghubungkan kedua tepi celah subepitel.

Pada hari ketiga pascabedah respon radang akut mulai berkurang dan

neutropil sebagian besar diganti oleh makrofag yang membersihkan tepi luka dari

sel-sel yang rusak dan juga pecahan fibrin.

Pada hari kelima, celah insisi biasanya terdiri dari jaringan granulasi yang

kaya pembuluh darah dan longgar. Dapat dijumpai serabut-serabut kolagen

disana-sini.

Pada akhir minggu pertama, luka telah tertutup oleh epidermis dengan

ketebalan yang lebih kurang normal, dan celah subepitel yang telah terisi jaringan

ikat yang kaya pembuluh darah ini mulai membentuk serabut-serabut kolagen.

Selama minggu kedua, tampak poliferasi fibroblas dan pembuluh darah

secara terus menerus dan timbunan progesif serabut kolagen.

Pada akhir minggu kedua, struktur jaringan dasar parut telah mantap dan

suatu proses yang panjang (menghaslkan warna jaringan parut yang lebih muda

sebagai akibat tekanan pada pembuluh darah, timbunan kolagen dan peningkatan

secara mantap daya rentang luka ) sedang berjalan (Robbins dan Kumar, 1992).

Universitas Sumatera Utara


2.3.5.2 Penyembuhan dengan penyambungan sekunder (Penyembuhan

sekunder)

Jenis penyembuhan ini secara kualitatif identik dengan penyembuhan

primer. Perbedaan hanya terletak pada banyaknya jaringan granulasi yang

terbentuk. Jaringa granulasi tumbuh nyata di bawah keropeng (kerak yang

mengering pada luka) dan terjadi regenerasi epitel yang terjadi di bawah

keropeng. Akhirnya pada keadaan ini keropeng lalu dibuang setelah penyembuhan

sempurna. Penyembuhan sekunder memerlukan waktu yang lebih lama dan

jaringan parut yang dihasilkan lebih besar.

Pada umumnya kerusakan jaringan luas dan mengandung lebih banyak sel

nekrotik serta eksudat yang harus dibersihkan. Pertumbuhan jaringan granulasi

memegang peranan yang lebih besar pada penyembuhan dengan penyambungan

sekunder. Selain itu, jaringan granulasi hampir selalu diliputi oleh neutrofil dan

makrofag yang lebih padat, karena lesi yang lebih luas menimbulkan reaksi

radang yang lebih kuat. Dan akhirnya kontraksi luka hanya akan timbul, bila

didapat lesi luas, karena pada luka dengan penyembuhan dengan penyambungan

primer primer tidak terdapat cukup jaringan yang hilang. Sebagai akibat ini, maka

penyembuhan dengan penyambungan sekunder hampir selalu berakibat

pembentukan jaringan parut dan hilangnya apendiks kulit (rambut, kelenjar

keringat dan lemak) secara menetap (Robbins dan Kumar, 1992).

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.7a. Penyembuhan Primer
Keterangan

Gambar A. Tepi luka ditahan oleh gumpalan darah dan juga bisa dengan jahitan

Gambar B. Pada stadium ini berlangsung regenerasi epidermis

Gambar C. Regenerasi epidermis sempurna dan jaringan parut yang padat (Price,

1988).

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.7b . Penyembuhan sekunder pada luka terbuka

Keterangan:

Gambar A. Menunjukkan keadaan segera setelah terjadi luka

Gambar B. Penyembuhan di bawah keropeng/kerak

Gambar C. Sebuah luka terbuka dengan jaringan granulasi

Gambar D. Sebuah jaringan parut yang besar atau daerah epidermis baru
yang tipis dan tidak memiliki rambut serta apendiks lainnya
(Price, 1988).

Universitas Sumatera Utara


2.3.6 Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka :

2.3.6.1 Faktor lokal

1. Suplai pembuluh darah yang 4. Mechanical stress

kurang 5. Bahan pembalut

2. Infeksi 6. Tehnik bedah

3. Kelainan pasokan darah 7. Tipe jaringan

2.3.6.2 Faktor umum

1. Usia

2. Anemia

3. Anti inflammatory drugs

4. Diabetes mellitus

5. Hormon

6. Infeksi sistemik

7. Malnutrisi

8. Obesitas

9. Temperatur (Anonim III,

2008).

Universitas Sumatera Utara