Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio

Alexsandro

LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta

I. IDENTITAS
Nama : Tn. DA
Umur : 21 tahun
Tempat/Tanggal Lahir : Palu, 3November 1996
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Manado (Kos)
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Palu
Pendidikan Terakhir : Kuliah
Status Pernikahan : Belum Menikah
Pekerjaan : Mahasiswa
Tanggal Berobat ke Poli Kulit RS Husada : 3 April 2017
(pukul 11:00 WIB)

II. RIWAYAT MEDIS


Autoanamnesa: Senin, 3 April 2017 (pukul 11:00 WIB) di Poli Kulit RS
Husada
Alloanamnesa (data rekam medis pasien): Senin, 3 April 2017 (pukul
11:00 WIB) di Poli Kulit RS Husada

1. Keluhan Utama
Luka koreng pada telinga dan pipi kanan, tangan, perut, bokong, kaki.

2. Keluhan Tambahan
Sangat gatal
Bercak kemerahan pada telinga dan pipi kanan
Bercak kehitaman pada selangkangan dan bokong
Bercak putih pada telinga
Perih
Demam

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RS Husada dengan
keluhan luka yang muncul pada telinga dan pipi kanan sejak 2
minggu yang lalu. Luka tersebut dimulai dari bagian telinga dan
pipi kanan kemudian muncul pada kaki, tangan kanan-kiri, perut,
dan bokong Sebelum menjadi luka, sekitar satu bulan yang lalu
pasien merasa adanya timbul bintik-bintik kemerahan pada muka
dan telinga yang akhirnya timbul bercak kemerahan yang semakin
lama semakin melebar. Bercak tersebut diikuti dengan kulit yang
mengelupas pada bercak tersebut. Bercak merah tidak diperparah
maupun membaik dengan kondisi tertentu. Namun pada saat
bercak terlihat meluas bercak menjadi memutih pada bagian
tengahnya.
Bercak pada telinga dan pipi kanan juga dirasakan gatal dan
progresif. Gatal terasa diperberat saat sedang kepanasan dan
berkeringat, serta membaik dengan kondisi ruangan yang dingin.
Gatal dirasakan sangat berat sehingga pasien tidak tahan untuk
menahan garukan yang.yang kadang sampai menimbulkan gejala
perih.
Dua minggu kemudian barulah timbul bisul pada bercak
merahnya, Bisul tersebut semakin lama semakin membesar dan
berisi cairan kental yang berwarna kekuningan. Bisul tidak
diperparah atau diperingan dengan kondisi apapun. Kemudian
bisul tersebut pecah dan menjadi luka yang akhirnya
meninggalkan bekas kemerahan pada daerah tersebut dan lama
kelamaan menjadi hitam. Lima hari kemudian, keluhan serupa
muncul juga di tangan. kaki, dan bokong yang didahului demam.
Demam timbul terus menerus sepanjang hari dengan pola hilang
timbul dalam 2 minggu. Demam tidak diukur dan tidak diperberat
maupun diperingan dengan keadaan apapun. Keluhan lain saat
demam disangkal seperti pencernaan, dan batuk pilek. Setiap kali
demam pasien mengkonsumsi paracetamol, lalu demam akan
turun sejenak dan akan kembali timbul. Demam tidak sampai

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

menggigil. Pasien juga mengeluh perih pada semua luka yang ada.
Namun, perih semakin membaik jika luka telah menjadi koreng.
Pasien juga mengadukan adanya bercak kehitaman pada daerah
selangkangan dan bokong sejak 1 tahun yang lalu. Bercak
awalnya berwarna merah dan terus membesar, semakin lama
daerah tersebut menjadi hitam dan ada kulit yang terkelupas.
Bercak hitam tidak diperberat maupun diperingan dengan kondisi
apapun. Bercak tersebut dimulai dari selangkangan lalu menyebar
ke bagian bokong.
Bercak kehitaman tersebut terasa gatal. Gatal hilang timbul. Gatal
diperberat terutama saat kondisi berkeringat dan membaik jika
kondisi dingin. Untuk keluhan daerah selangkangan, pasien sudah
memberikan bedak fungiderm dan tidak ada perbaikan.
Pasien juga mengeluhkan adanya bercak keputihan pada daerah
telinganya yang sempat merah juga. Bercak putih tidak meluas.
Tidak disertai rasa gatal maupun perih. Ini adalah pertama kalinya,
dan keluarga besar tidak punya keturunan bercak putih.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Keluhan serupa : (-)
Hipertensi : (-)
Diabetes mellitus : Disangkal
Penyakit hepatobiliar : Disangkal
Penyakit ginjal dan saluran kemih : Disangkal
Penyakit hematologik : Disangkal
Penyakit jantung dan pembuluh darah: Disangkal
Riwayat operasi : Disangkal
Lainnya :-

5. Riwayat Keluarga
Keluhan serupa : Disangkal
Alergi : Disangkal
Hipertensi : Disangkal
Diabetes mellitus : Disangkal
Penyakit ginjal dan saluran kemih: Disangkal
Penyakit jantung dan pembuluh darah: Disangkal
Keganasan dan lainnya : Disangkal

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

6. Riwayat Pengobatan
Dengan keluhannya, pasien belum berobat ke dokter. Pasien menggunakan
obat di apotek yaitu fungiderm dan paracetamol oral. Selain itu, pasien
tidak ada mengonsumsi obat rutin apapun.

7. Riwayat Alergi Obat dan Makanan


Riwayat alergi disangkal

8. Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan


Pasien mengaku tinggal di kos-kosan dan jarang
dibersihkan. Sprei dan sarung bantal sangat jarang dicuci.
Pasien mandi 1-2 kali sehari dengan air ledeng (air tanah).
Baju dicuci 2 hari sekali
Celana dicuci 3 hari sekali
Pasien mandi dengan sabun biore, dan sampo zinc
Pasien biasa naik motor, dan helm sering lembab dan
jarang dicuci-jemur
Tidak ada orang sekitar yang mengalami keluhan yang
serupa dengan yang dialami pasien.

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUTAN


STATUS GENERALIS
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis, GCS = 15 (E = 4, M = 6, V = 5)
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 90 x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat
Suhu : 36,8oC
Pernapasan : 18 x/menit, reguler, thoracoabdominal
Keadaan gizi : baik
BB : 85 kg
Tinggi badan : 170 cm
IMT : 2,901
Status Gizi : gizi baik

PEMERIKSAAN FISIK

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Kepala : dalam batas normal


Mata :Pupil bulat, isokor, konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/
(-)
Telinga :Kulit (lihat status dermatologikus). Bentuk normal, liang telinga
lapang, sekret (-)/(-), fistel preaurikuler (-)/(-)
Hidung :Bentuk normal, tidak ada deviasi septum, sekret (-)
Mulut :Mukosa merah muda, sianosis (-), lidah normal, faring tidak
hiperemis, gigi-geligi lengkap, tidak ada karies
Leher :Trakea di tengah, pembesaran kelenjar tiroid (-), bruit (-)

Thorax:
Paru-paru:
o Inspeksi: bentuk normal, simetris dalam keadaan statis maupun
dinamis, retraksi sela iga (-)
o Palpasi: tidak teraba massa, nyeri tekan (-), stem fremitus sama kuat
kiri dan kanan
o Perkusi: sonor di seluruh lapang paru
o Auskultasi: vesikuler di seluruh lapang paru, ronkhi (-)/(-), wheezing
(-)/(-)
Jantung:
o Inspeksi: pulsasi ictus cordis tidak tampak
o Palpasi: pulsasi ictus cordis teraba di ICS V MCL sinistra
o Perkusi:
Batas atas: ICS II PCL sinistra
Batas kanan: ICS IV sternal line dextra
Batas kiri: ICS V MCL sinistra
o Auskultasi: bunyi jantung I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)

Abdomen:
Inspeksi: tampak datar, simetris, striae (-), sikatriks (-), massa (-), pelebaran
vena (-), kulit (lihat status dermatologikus)
Asukultasi: bising usus (+) normal, bruit (-)
Perkusi: timpani di seluruh abdomen, nyeri ketok CVA (-)/(-)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Palpasi: supel, hepar dan lien tidak teraba, massa (-), ballotement (-)/(-),
defans muskular (-)
Ekstremitas: kulit (lihat status dermatologikus), akral hangat, edema (-), CRT <2s

Kruris: (lihat status dermatologikus)

Kulit: (lihat status dermatologikus)

KGB: tidak teraba pembesaran

Status neurologis: tidak tampak kelainan

STATUS DERMATOLOGIKUS
I

Distribusi : Lokalisata

Regio : Daun telinga kanan, pipi kanan, lipat paha, bokong

Efloresensi : Makula, krusta, ekskoriasi dengan tepi berskuama


halus, likenifikasi

Warna : Eritematosa, Hiperpigmentasi

Ukuran : Milier Lentikuler - Plakat

Jumlah : Multipel

Bentuk : Polimorfik

Batas : Tegas meninggi

II

Distribusi : Lokalisata

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Regio : Lengan bawah kanan, lengan kiri bawah luar ,


perut, kaki

Efloresensi : Papul, Ulkus (dangkal + isi nekrotik dan


granulasi), Krusta

Warna : Eritematosa

Ukuran : Lentikuler

Jumlah : Multipel

Bentuk : Tidak teratur

Batas : Tegas

III

Distribusi : Lokalisata

Regio : Telinga kanan

Efloresensi : Makula

Warna : Hipopigmentasi

Ukuran : Lentikuler-Numuler

Jumlah : Multipel

Bentuk : Tidak teratur

Batas : Tidak tegas

Palpasi : Turgor kulit baik, kulit kering (+), suhu kulit normal

Perkusi: Tidak dilakukan pemeriksaan.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Auskultasi: Tidak dilakukan pemeriksaan.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Darah lengkap
- Pemeriksaan mikroskopik preparat kerokan kulit dengan KOH
10%
- Biakan dalam media agar Sabouraud
- Kultur dan Tes Resistensi

IV. RESUME

Seorang laki-laki berusia 21 tahun datang ke RS HUSADA dengan keluhan


utama luka koreng pada telinga, pipi kanan, tangan, perut, bokong, kaki sejak
2 minggu yang lalu yang diawali dengan bercak kemerahan pada pipi dan
telinga yang meluas dan semakin gatal saat berkeringat. Bercak digaruk dan
timbul bisul berisi nanah yang dapat pecah. Setelah pecah, keluar cairan
kekuningan dan nyeri. Pasien sempat demam sebelum bisul muncul ditempat
lain.

Keluhan serupa seperti bercak merah pada pipi dan telinga pernah dialami
pada lipat paha dan bokong pasien 1 tahun yang lalu. Sekarang bercak
kemerahan pada telinga berubah menjadi agak putih, sedangkan pada lipat
paha dan bokong sudah berubah menjadi kehitaman. Pasien sudah
menggunakan fungiderm namun belum ada perbaikan.

Pasien mengaku tinggal di kos-kosan dan jarang dibersihkan. Sprei dan sarung
bantal sangat jarang dicuci. Riwayat higienitasi pasien kurang baik, pasien
kadang-kadang tidak mandi , baju dicuci 2 hari sekali, celana dicuci 3 hari
sekali. Helm motor pasien juga sering lembab dan jarang dicuci maupun
dijemur.

Status dermatologikus: Regio daun telinga kanan, pipi kanan,lipat paha,


bokong, dengan efloresensi makula, krusta, ekskoriasi dengan tepi berskuama
halus, likenifikasi yang berwarna eritematosa serta hiperpigmentasi dengan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

ukuran miliar- lentikuler- plakat dengan jumlah multiple; batas tegas


meninggi, bentuk polimorfik. Pada regio lengan bawah kanan, lengan kiri
bawah luar , perut, kaki, dengan efloresensi papul, ulkus (dangkal+isi
nekrotik dan granulasi), krusta. Warna eritem, ukuran lentikuler, jumlah
multipel. Pada regio telinga kanan, dengan makula hipopigmentasi, ukuran
numuler, jumlah multiple, bentuk tak teratur, batas tidak tegas.

V. DIAGNOSIS KERJA
Ektima + Tinea facialis impetigenisata + Tinea Cruris + Hipopigmentasi
pasca inflamasi

VI. DIAGNOSIS BANDING


Ektima : Impetigo Krustosa
Tinea facialis impetigenisata : Psoriasis Vulgaris, Pitiriasis Rosea,
Dermatitis Seboroik + Infeksi sekunder bakterial
Tinea Cruris : Candida, Psoriasis
Hipopigmentasi pasca inflamasi: Vitiligo, Pitiriasis Versicolor, Albino

VII. RENCANA TATALAKSANA


Umum:

1. Menjelaskan kepada pasien mengenai kemungkinan korengnya


disebabkan oleh infeksi bakteri, sedangkan bercak merah dan
kehitamannya kemungkinan oleh jamur
2. Menasehati pasien untuk tidak menggaruk lesi karena akan
menyebabkan lesi semakin luas.
3. Menyarankan kepada pasien untuk mengkonsumsi obat secara teratur
dan tidak menghentikan pengobatan tanpa seizin dokter.
4. Menjelaskan kepada pasien cara menggunakan obat dan menjelaskan
pengobatannya membutuhkan waktu yang cukup lama.
5. Menyarankan kepada pasien untuk tidak menggunakan pakaian yang
ketat atau pakaian yang tidak menyerap keringat saat aktifitas serta
langsung mengganti pakaian pasien setelah aktifitas agar tidak lembab.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

6. Menyarankan kepada pasien untuk sering mengganti seprei dan sarung


bantal
7. Menyarankan kepada pasien untuk menggunting kuku secara rutin
8. Menyarankan kepada pasien jika ada reaksi yang berat setelah diberikan
pengobatan

Khusus:

Topikal:

Miconazole cream 2% , 15 mg, tube No.I. Dioleskan 2 kali pada bercak


merah selama 2 minggu, setelah mandi.

Khusus Hipopigmentasi: Betametason Cream 0.1%, 2 kali perhari

Sistemik:

Co-Amoxiclav 625mg, XII, 3 kali sehari

Loratadine, tablet 5 mg, No.XV, 2 kali sehari

Fungistop 500mg, XIV, 1 kali sehari

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

LAMPIRAN
Gambar 1. Regio telinga dan pipi kanan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar 2. Regio lengan bawah kanan dan kiri

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar 3. Regio lipat paha

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar 4. Regio bokong

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar 5. Abdomen

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar 6. Regio kaki

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. EKTIMA

1. 1 Definisi

Ektima adalah pioderma yang menyerang epidermis dan dermis, membentuk


ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat di tungkai bawah. 1

Gambar : lapisan kulit yang terkena ektima

1.2 Etiologi

Ektima umumnya disebabkan oleh Streptococcus -hemolyticus Grup A.


Penyebab lainnya bisa Staphylococcus aureus atau kombinasi dari keduanya. Status
bakteriologi dari ektima pada dasarnya mirip dengan Impetigo. Keduanya dianggap
sebagai infeksi Streptococcus, karena pada banyak kasus didapatkan kultur murni
Streptococcus pyogenes. Ini didasarkan pada isolasi Streptococcus dan Staphylococcus
dan dari beberapa Staphylococcus saja.1,2

Streptococcus -hemolyticus grup A dapat menyebabkan lesi atau menginfeksi


secara sekunder lesi yang sudah ada sebelumnya. Adanya kerusakan jaringan (seperti
ekskoriasi, gigitan serangga, dermatitis) dan keadaan imunokompromis (seperti diabetes
dan neutropenia) merupakan predisposisi pada pasien untuk timbulnya ektima.
Penyebaran infeksi Streptococcus pada kulit diperbesar oleh kondisi lingkungan yang
padat dan hygiene yang buruk.1,2

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Infeksi diawali pada lesi yang disebabkan karena trauma pada kulit, misalnya,
ekskoriasi, varicella atau gigitan serangga. 1,2

1.3 Epidemiologi

Ektima dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti 1,2,3,4 :

Umur : frekuensi pada anak-anak lebih tinggi daripada dewasa, biasanya pada
usia 6 bulan 18 tahun
Jenis kelamin : pria dan wanita sama
Ras : tidak ada perbedaan ras
Daerah : tropis
Musim / iklim : panas dan lembab
Kebersihan / hiegiene : kebersihan yang kurang dan hiegene yang buruk, serta
malnutrisi. Tingkat kebersihan dari pasien dan kondisi kehidupan sehari-harinya
merupakan penyebab yang paling terpenting untuk perbedaan angka serangan,
beratnya lesi, dan dampak sistemik yang didapatkan pada pasien ektima
Lingkungan : kotor
Menurunnya daya tahan tubuh
Jika telah ada penyakit lain di kulit

I.4 Patofisiologi

Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama dari infeksi kulit dan


sistemik. Seperti halnya Staphylococcus aureus, Streptococcus sp. Juga terkenal sebagai
bakteri patogen untuk kulit. Streptococcus Grup A, B, C, D, dan G merupakan bakteri
patogen yang paling sering ditemukan pada manusia. Kandungan M-protein pada bakteri
ini menyebabkan bakteri ini resisten terhadap fagositosis. 1,2,4

Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes menghasilkan beberapa


toksin yang dapat menyebabkan kerusakan lokal atau gejala sistemik. Gejala sistemik
dan lokal dimediasi oleh superantigens (SA). Antigen ini bekerja dengan cara berikatan
langsung pada molekul HLA-DR (Mayor Histocompability Complex II (MHC II)) pada
antigen-presenting cell tanpa adanya proses antigen. Walaupun biasanya antigen
konvensional memerlukan interaksi dengan kelima elemen dari kompleks reseptor sel T,
superantigen hanya memerlukan interaksi dengan variabel dari pita B. Aktivasi non

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

spesifik dari sel T menyebabkan pelepasan masif Tumor Necrosis Factor- (TNF-),
Interleukin-1 (IL-1), dan Interleukin-6 (IL-6) dari makrofag. Sitokin ini menyebabkan
gejala klinis berupa demam, ruam erythematous, hipotensi, dan cedera jaringan. 1,2,4

Faktor host seperti immunosuppresi, terapi glukokortikoid, dan atopic memainkan


peranan penting dalam pathogenesis dari infeksi Staphylococcus. Adanya trauma ataupun
inflamasi dari jaringan (luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing) juga
menjadi faktor yang berpengaruh pada pathogenesis dari penyakit yang disebabkan oleh
bakteri ini.1,2,4

1.5 Manifestasi Klinis1,2,3,5,6

Gatal
Lesi awal berupa vesikel atau vesikopustula di atas kulit yang eritematosa,
membesar dan pecah (diameter 0,5 3 cm), beberapa hari kemudian terbentuk
krusta tebal dan kering berwarna kuning yang sukar dilepas dari dasarnya.
Biasanya terdapat kurang lebih 10 lesi yang muncul. Jika krusta dilepas, terdapat
ulkus dangkal dengan gambaran punched out appearance atau berbentuk cawan
dengan dasar merah dan tepi meninggi. Lesi cenderung menjadi sembuh setelah
beberapa minggu dan meninggalkan sikatriks. Biasanya berlokasi di tungkai
bawah, yaitu tempat yang relatif banyak mendapat trauma.
Jika keadaan umum baik, akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 3 minggu,
meninggalkan jaringan parut yang tidak berarti. Jika keadaan umum buruk dapat
menjadi ganggren.

Gambar : Lesi tipikal ektima pada ektremitas bawah

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar : Tahapan ektima. Lesi dimulai sebagai sebuah pustule yang kemudian
pecah membentuk ulkus.

Gambar : Ektima. Ulkus dengan krusta tebal pada tungkai pasien yang menderita
diabetes dan gagal ginjal

Gambar : Ektima pada aksila

1.6 Pemeriksaan Kulit3

Lokalisasi : ekstremitas bawah, wajah, dan ketiak


Efloresensi : makula eritematosa lentikular hingga numular, vesikel dan pustula
miliar hingga numular, difus, simetris, serta krusta kehijauan yang sukar dilepas.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

1.7 Diagnosis

Anamnesis

Pasien biasanya datang dengan keluhan luka pada anggota gerak bawah. Pasien
biasanya menderita diabetes dan orang tua yang tidak peduli dengan kebersihan dirinya. 1,2

Anamnesis ektima, antara lain1,2 :

1. Keluhan utama. Pasien datang dengan keluhan berupa luka.


2. Durasi. Ektima terjadi dalam waktu yang lama akibat trauma berulang, seperti
gigitan serangga.
3. Lokasi. Ektima terjadi pada lokasi yang relatif sering trauma berulang, seperti
tungkai bawah.
4. Perkembangan lesi. Awalnya lesi berupa pustul kemudian pecah membentuk
ulkus yang tertutupi krusta
5. Riwayat penyakit sebelumnya. Misalnya, Diabetes melitus dapat menyebabkan
penyembuhan luka yang lama.

Pemeriksaan Fisik

Effloresensi ektima berupa awalnya berupa pustul kemudian pecah membentuk


ulkus yang tertutupi krusta.1,2

Gambar : Krusta coklat berlapis lapis pada ektima

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar : Pada Lesi ektima yang diangkat krustanya akan terlihat ulkus yang dangkal

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaaan penunjang yang dapat dilakukan. yaitu biopsi kulit dengan jaringan
dalam untuk pewarnaan Gram dan kultur. Selain itu, juga dapat dilakukan pemeriksaan
histopatologi.1,2,3

Gambaran histopatologi didapatkan peradangan dalam yang diinfeksi kokus,


dengan infiltrasi PMN dan pembentukan abses mulai dari folikel pilosebasea. Pada
dermis, ujung pembuluh darah melebar dan terdapat sebukan sel PMN. Infiltrasi
granulomatous perivaskuler yang dalam dan superficial terjadi dengan edema endotel.
Krusta yang berat menutupi permukaan dari ulkus pada ektima. 3

Gambar : Pioderma

Neutrofil tersebar pada dasar ulserasi

1.8 Diagnosis Diferensial1,2,3,5

Impetigo krustosa : didiagnosa banding dengan ektima karena memberikan


gambaran Effloresensi yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta. Krusta
pada impetigo mudah diangkat, warna krusta kekuningan. Persamaannya,

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

keduanya krusta berwarna kuning. Perbedaannya, impetigo krustosa terdapat


pada anak, berlokasi di muka, dan dasarnya ialah erosi. Sedangkan pada ektima,
bisa terdapat pada anak maupun dewasa, tempat predileksi di tungkai bawah, dan
dasarnya adalah ulkus.

Gambar : Impetigo. Eritema dan krusta pada seluruh daerah centrofacial

Gambar : Impetigo. Terlihat erosi, krusta, dan blister ruptur

Folikulitis : biasanya berbatas tegas, berupa papula miliar sampai lentikular.


Didiagnosis banding dengan ektima sebab predileksi biasanya di tungkai bawah
dengan kelainan berupa papul atau pustul yang eritematosa. Perbedaannya, pada
folikulitis, di tengah papul atau pustul terdapat rambut dan biasanya multipel.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar : Folikulitis superfisialis. Pustul multiple terlihat pada daerah jenggot.

1.9 Komplikasi

Komplikasi ektima, antara lain selulitis, erisipelas, gangren, limfangitis,


limfadenitis supuratif, dan bakteremia.1,2

1.10 Penatalaksanaan1,2,3,5,6

Non-Farmakologi : memperbaiki hiegiene dan kebersihan, memperbaiki


makanan, mandi menggunakan sabun antibakteri dan sering mengganti seprei,
handuk, dan pakaian.

Farmakologi
Pengobatan farmakologi bertujuan mengurangi morbiditas dan mencegah
komplikasi

a. Sistemik
Pengobatan sistemik digunakan jika infeksinya luas. Pengobatan sistemik
dibagi menjadi pengoatan lini pertama dan pengobatan lini kedua.

1. Pengobatan lini pertama (golongan Penisilin)


a. Dewasa: Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari.
Anak : 5 - 15 mg/kgBB/dosis, 3 - 4 kali/hari.

b. Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25 mg/kgBB


c. Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari
2. Pengobatan lini kedua (golongan Makrolid)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

a. Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari


b. Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari
c. Dewasa: Eritomisin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari.
Anak : 12,5 - 50 mg/kgBB/dosis, 4 kali/hari.

b. Topikal

Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika luas


maka digunakan pengobatan sistemik. Neomisin, Asam fusidat 2%,
Mupirosin, dan Basitrasin merupakan antibiotik yang dapat digunakan
secara topikal.

Neomisin merupakan obat topikal yang stabil dan efektif yang tidak
digunakan secara sistemik, yang menyebabkan reaksi kulit minimal, dan
memiliki angka resistensi bakteri yang rendah sehingga menjadi terapi
antibiotik lokal yang valid. Neomisin dapat larut dalam air dan memiliki
kestabilan terhadap perubahan suhu. Neomisin memiliki efek bakterisidal
secara in vitro yang bekerja spektrum luas gram negatif dan gram positif.
Efek samping neomisin berupa kerusakan ginjal dan ketulian timbul pada
pemberian secara parenteral sehingga saat ini penggunaannya secara
topical dan oral.

Edukasi : Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga


kebersihan badan dan lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan
penyakit kulit.
Pemantauan :
o Dianjurkan kontrol 1 minggu kemudian, bila tidak ada lesi baru obat
topikal dapat dianjurkan, bila masih ada lesi baru dipertimbangkan
pengganti antibiotik sistemik.
o Bila di lingkungan anak ada yang menderita kelainan kulit serupa segera
diobati mengingat kumannya sangat infeksius dan dapat menjadi sumber
penularan.

1.11 Prognosis

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Ektima sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut


(skar).1

1.12 Pencegahan1,5


Pada daerah tropis, perhatikan kebersihan dan gunakan lotion antiserangga untuk
mencegah gigitan serangga.

Menghilangkan faktor predisposisi, antara lain penyuluhan mengenai hiegene
perorangan dan lingkungan

Bila ada penyakit kulit yang lain segera diobati (misalnya gigitan serangga,
dermatitis).

II. TINEA

Definisi

Tinea kruris (eczema marginatum, dhobie itch, jockey itch, ringworm of the
groin) adalah infeksi jamur dermatofita pada daerah kruris dan sekitarnya; yaitu lipatan
paha, daerah perineum dan sekitar anus

Etiologi

Dermatofitosis disebabkan oleh golongan jamur dermatofita yang merupakan


jamur berfilamen dan bersifat mencernakan keratin. Dermatofita terbagi dalam 3 genus,
yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Dari 41 spesies dermafitosis
yang sudah dikenal hanya 23 spesies yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia
dan binatang yang terdiri dari 15 spesies Trikofiton, 7 spesies Mikrosporon dan 1 spesies
Epidermafiton. Tinea kruris sering disebabkan oleh T. Rubrum, T. Mentagrophytes, atau
E. Floccsum.

Klasifikasi

Secara etiologis dermatofitosis disebabkan oleh tiga genus dan penyakit yang
ditimbulkan sesuai dengan penyebabnya. Diagnosis etiologi ini sangat sukar oleh karena
harus menunggu hasil biakan jamur dan ini memerlukan waktu yang agaklama dan tidak

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

praktis. Disamping itu sering satu gambaran klinik dapat disebabkan oleh beberapa jenis
spesies jamur, dan kadang-kadang satu gambaran klinis dapat disebabkan oleh beberapa
spesies dematofita sesuai dengan lokalisasi tubuh yang diserang.

Istilah tinea dipakai untuk semua infeksi oleh dermatofita dengan dibubuhi
tempat bagian tubuh yang terkena infeksi, sehingga diperoleh pembagian dermatofitosis
sebagai berikut:

- Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala


- Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot
- Tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong
dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah
- Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan
- Tinea unguium, dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki
- Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5
tinea di atas.

Gejala Klinis

Tinea kruris merupakan salah satu bentuk klinis yang sering ditemukan di
Indonesia.

Tinea kruris dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit
yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural saja,
atau meluas ke daerah sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke
suprapubis dan abdomen bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain.

Keluhan utama yang dirasakan penderita biasanya adalah sebagai berikut:

- rasa gatal hebat, dan bertambah bila berkeringat.


- kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi yang
berbatas tegas. Peradangan pada tepi lesi lebih nyata daripada daerah
tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang
primer dan sekunder (polimorfi).
- Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam
disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat
garukan, semakin hebat jika banyak berkeringat.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Pembantu Diagnosis
Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas
pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan.

Pengambilan spesimen

Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis,


yang dapat berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku. Bahan untuk pemeriksaan mikologik
diambil dan dikumpulkan, terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan spiritus
70%, kemudian untuk kulit tidak berambut dari bagian tepi kelainan sampai dengan
bagian diluar kelainan sisi kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul steril.

Pemeriksaan langsung sediaan basah

Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-mula


dengan pembesaran 10 X 10, kemudian dengan pembesaran 10 X 45. Sediaan basah
dibuat dengan meletakkan bahan diatas gelas alas, kemudian ditambah 1-2 tetes larutan
KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan kulit adalah 20%. Setelah sediaan
dicampur dengan larutan KOH, ditunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan. Untuk
mempercepat proses pelarutan dapat dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api kecil.

Pada sediaan kulit yang terlihat adalah elemen jamur dalam bentuk hifa panjang,
sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat dan bercabang, maupun spora berderet
(artospora).

Pemeriksaan dengan biakan

Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan


langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan
dengan menanamkan bahan klinis pada media agar Sabouroud dekstrosa pertumbuhan;
untuk mencegah pertumbuhan bakteri dapat ditambahkan antibiotika (misalnya
khloramfenikol) ke dalam media tersebut. Perbenihan dieramkan pada suhu 24-30 oC.
Pembacaan dilakukan dalam waktu 1-3 minggu. Koloni yang tumbuh diperhatikan
mengenai warna, bentuk, permukaan dan ada atau tidaknya hifa.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Diagnosa Banding
Psoriasis intertriginosa (pada sela paha) dapat menyerupai tinea kruris. Lesi-lesi
pada psoriasi biasanya lebih merah, skuama lebih tebal dan berlapis-lapis. Adanya lesi
psoriasis pada tempat lain dapat membantu menentukan diagnosis. Kandidosis pada lipat
paha mempunyai konfigurasi hen dan chicken. Kelainan ini biasanya lebih basah,berbatas
jelas dan berkrusta disertai lesi-lesi satelit. Pada wanita ada tidaknya fluor albus dapat
membantu pengarahan diagnosis. Eritrasma merupakan penyakit tersering berlokalisasi di
sela paha. Efloresensi yang sama, yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan
tanda-tanda khas penyakit ini. Selain itu batas lesi tegas, jarang disertai infeksi.
Pemeriksaan dengan lampu wood dapat menolong dengan adanya fluoresensi merah
(coral red).

Pengobatan

Pengobatan terhadap dermatofitosis dapat dilakukan dengan cara topikal dan


sistemik. Keberhasilan suatu pengobatan tergantung dari faktor predisposisi, faktor
penderita dan faktor obat; perlu diketahui penyakit infeksi jamur sering kambuh.

Terdapat 3 jenis pengobatan terhadap dermatofitosis, yaitu:

A. Pengobatan Pencegahan :

1. Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika
faktor-faktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan
lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi harus
dikeringkan betul dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur.
2. Alas kaki harus pas betul dan tidak terlalu ketat.
3. Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai kaos dari bahan katun
yang menyerap keringat, jangan memakai bahan yang terbuat dari wool atau
bahan sintetis.
4. Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air
panas.

B. Terapi lokal :
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Infeksi pada badan dan lipat paha dan lesi-lesi superfisialis, di daerah jenggot,
telapak tangan dan kaki, biasanya dapat diobati dengan pengobatan topikal saja.

1. Lesi-lesi yang meradang akut yang ada vesikula dan ada eksudat harus dirawat
dengan kompres basah secara terbuka, dengan berselang-selang atau terus
menerus. Vesikel harus dikempeskan tetapi kulitnya harus tetap utuh.
2. Toksilat, haloprogin, tolnaftate dan derivat imidazol seperti mikonasol, ekonasol,
bifonasol, kotrimasol dalam bentuk larutan atau krem dengan konsentrasi 1-2%
dioleskan 2 x sehari akan menghasilkan penyembuhan dalam waktu 1-3 minggu.
3. Lesi hiperkeratosis yang tebal memerlukan terapi lokal dengan obat-obatan yang
mengandung bahan keratolitik seperti asam salisilat 3-6%. Obat ini akan
menyebabkan kulit menjadi lunak dan mengelupas. Obat-obat keratolotik dapat
mengadakan sensitasi kulit sehingga perlu hati-hati kalau menggunakannya.

Obat Topikal

Suatu obat topikal harus memenuhi kriteria :

1) Bersifat antifungal aktif

2) Dapat berpenetrasi ke dalam kulit

3) Bekerja aktif di dalam dan di luar sel

4) Mempunyai daya tahan terhadap hasil-hasil metabolisme

5) Tidal( menimbulkan sensibilisasi)

Obat topikal ini terdiri dari :

1) Golongan Antifungal Konvensional

Obat yang termasuk ini antara lain :

-- Salep Whitfield

-- Castelani's paint

-- Asam Undesilinat

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Kerja obat-obat ini sebagai keratolitik, antifungal dan anti-bakteri. Obat-obat ini
mempunyai spektum sempit, dan penggunaannya terbatas hanya untuk infeksi di kulit.

2) Golongan Antifungal Terbaru; antara lain :

-- Tolnaftate 2%

-- Tolsildat

-- Haloprogin

-- Cyclopirox olamine 1%

-- Naftifine 1%

--Imidazole (miconazole, ketokonazole, clortrimazole, econazole).

Obat-obat baru ini mempunyai spektrum luas dan kerjanya fungisidal.


Miconazole bersifat toksik selektif karena sterol utama pada manusia adalah kolesterol
bukan ergosterol. Miconazole bekerja merusak membran dinding sel jamur dengan
menghambat biosintesis ergosterol. Permeabilitas membran meningkat, menyebabkan
kebocoran nutrisi yang berakhir dengan kematian sel jamur.

Clotrimazole sebagai first line drug dalam pengobatan tinea kruris, merupakan
anti jamur spektrum luas yang bekerja menghambat pertumbuhan dengan mengubah
permeabilitas membran sehingga menyebabkan kematian sel- sel jamur.

Cara pemakaian obat-obat topikal ini dilakukan dengan mengoleskan obat


tersebut 1 - 2 kali sehari minimal selama 3 minggu.

C. Terapi sistemik

1) Golongan Antifungal Konvensional

Griseofulvin

Telah dipakai untuk mengatasi dermatofitosis sejak 30 tahun. Obat ini berasal
dari sejenis penicillium. Kerja obat ini bersifat fungistatik, dengan menghambat mitosis
jamur dengan mengikat protein mikrotubuler dalam sel.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Pemberian pada anak-anak 10 - 20 mg/kg bb sehari, pada orang dewasa 500 -


1000 mg sehari atau 330 mg griseofulvin ultra micronized sekali sehari. Lama
pengobatan tergantung pada lokasi penyakit, penyebab penyakit dan keadaan imunitas
penderita. Setelah sembuh klinis dilanjutkan agar tidak residif, dosis harian obat dapat
dibagi menjadi 4x sehari. Namun dengan pemberian dosis tunggal harian juga dapat
memberikan hasil yang cukup baik pada sebagian besar penderita. Obat ini diberikan
pada waktu makan dengan diet tinggi lemak untuk mempertinggi absorbsi.

Efek samping yang berat jarang timbul akibat pemakaian griseofulvin. Sakit
kepala merupakan keluhan utama, terjadi pada kira-kira 15% penderita, yang biasanya
hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan.

2) Golongan Antifungal Terbaru

Ketoconazole

Merupakan antifungal oral pertama yang berspektrum luas untuk mengatasi


dermatofitosis. Kerja obat ini bersifat fungistatik. Penyerapan melalui saluran cerna akan
berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi, pada pemberian bersama
antagonis H2 atau bersama antasida. Efek samping ketokonazol yang paling sering
dijumpai adalah mual dan pruritus, keadaan ini akan lebih ringan bila ditelan bersamaan
dengan makanan, sebelum tidur atau dibagi dalam beberapa dosis. Jika setelah 14 hari
tidak memberi respon yang memadai, lanjutkan setidaknya 1 minggu setelah gejala hilang
dan kultur menjadi negatif.

Pemberian 200 mg sehari pada waktu makan. Lama pemberian tergantung kepada
lokalisasi dermatofitosis tersebut. Dosis anak di atas usia 2 tahun 3,3- 6,6mg/kg BB
sehari. Merupakan kontraindikasi untuk wanita hamil, kelainan fungsi hati dan
hipersensitivitas terhadap ketoconazole.

Golongan Triazole

* Itraconazole

Obat ini mempunyai daya kerja spektrum luas. Pemberian 100 mg sehari selama
15 hari, efektif untuk tinea corporis dan tinea cruris. Sedang untuk infeksi palmoplantar
diberikan 100 mg sehari selama 30 hari.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

* Fluconazole

Efektif untuk pengobatan terhadap dermatofitosis di kulit.

Terbinafine

Obat ini analog dengan naftifine, bersifat fungisidal dengan cara menghambat squalene
epoxidase, enzim yang berperan dalam sintesis ergosterol, sehinga terjadi penurunan
sintesis ergosterol, mengakibatkan kematian sel- sel jamur. Efek samping yang
ditimbulkan umumnya berupa gangguan gastrointestinal. Efek samping minimal
dibandingkan griseofulvin. Diberikan dalam dosis 2 x 250 mg per hari 2-4 minggu untuk
tinea kruris.

III. TINEA FASIALIS

Tinea fasialis (tinea faciei) adalah suatu dermatofitosis superfisial yang terbatas
pada kulit yang tidak berambut, yang terjadi pada wajah, memiliki karakteristik sebagai
plak eritema yang melingkar dengan batas yang jelas. Pada pasien anak-anak dan wanita,
infeksi dapat terlihat pada setiap permukaan wajah, termasuk pada bibir bagian atas dan
dagu. Pada pria, kondisi ini disebut juga tinea barbae karena infeksi dermatofit terjadi
pada daerah yang berjanggut.

Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa wanita mungkin lebih sering terinfeksi


daripada pria . Pada wanita, infeksi dermatofit pada wajah dapat didiagnosis sebagai tinea
fasialis, sedangkan infeksi-infeksi lain yang terjadi pada pria di daerah yang sama
didiagnosis sebagai tinea barbae. Data menunjukkan perbandingan penderita wanita dan
pria adalah 1,06:1. Pada kasus ini Pasien perempuan usia 38 tahun yang datang dan
berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan lingkungan rumah yang menurut pasien
cukup bersih dan pasien juga kadang-kadang pergi untuk bercocok tanam yang secara
tidak langsung kontan dengan hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang banyak jamur-
jamur yang dapat berpindah ke manusia.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar 1. Bagian A adalah patogenesis dari epidermomycosis, tampak dermatofit


(bintik dan garis merah) di antara stratum korneum, mengakibatkan terjadinya respon
inflamasi (bintik-bintik hitam menggambarkan sel-sel inflamasi), yang dapat
bermanifestasi sebagai eritema, papul, atau bahkan vesikel. Bagian B adalah patogenesis
dari trichomycosis yang terjadi pada rambut, mengakibatkan destruksi dan patahnya akar
rambut. Infeksi dermatofit yang terjadi jauh ke dalam folikel rambut, yang akan
mengakibatkan respon inflamasi yang lebih dalam (bintik-bintik hitam) dan akan
bermanifestasi sebagai nodul inflamasi yang dalam, pustular folikularis, dan
pembentukan abses (dikutip dari kepustakaan 1)

Penderita tinea fasialis biasanya datang dengan keluhan rasa gatal dan terbakar,
dan memburuk setelah paparan sinar matahari (fotosensitivitas). Namun, kadang-kadang,
penderita tinea fasialis dapat memberikan gejala yang asimptomatis. Ini sesuai dengan
keluhan penderita yang mengeluh rasa gatal seperti terbakar sejak 2 minggu yang lalu
didaerah wajah pasien.

Tanda klinis yang dapat ditemukan pada tinea fasialis, antara lain: bercak,
makula sampai dengan plak, sirkular, batas yang meninggi, dan regresi sentral memberi
bentuk seperti ring-like appearance. Kemerahan dan skuama tipis dapat ditemukan. Pada
pasien awalnya timbul bintik-bintik kemerahan pada muka yang dirasakan gatal, digaruk
oleh pasien dan akhirnya timbul bercak kemerahan dan kulit yang mengelupas pada muka
pasien.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

gambar 1. Gambaran eritema dan skuama tipis pada pasien gambar 2.Lesi
asimetris, berbatas
tegas, plak eritema,
dengan skuama dan
krusta

Gambar 3. Plak eritema dengan skuama


minimal, tetapi cukup untuk melakukan pemeriksaan
KOH
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

DIAGNOSIS BANDING : Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik adalah dermatosis kronik yang tersering, yang memiliki


gambaran kemerahan dan skuama yang terjadi pada daerah-daerah yang memiliki
kelenjar keringat yang aktif, seperti wajah dan kulit kepala, juga di daerah dada.
Gejala yang timbul berupa gatal, sangat bervariasi, biasanya gatal semakin
memburuk dengan meningkatnya perspirasi. Pada pemeriksaan fisis ditemukan,
makula atau papul berwarna kemerahan atau keabu-abuan dengan skuama kering
berwarna putih. Ukurannya bervariasi, antara 5-20 mm. Berbatas tegas, sering
terdapat krusta dan celah pada telinga luar bagian belakang. Skuama yang terdapat
pada kulit kepala inilah yang sering disebut sebagai ketombe.

Gambar . Dermatitis seboroik pada wajah. Terlihat eritema dan skuama kekuningan pada
dahi, pipi, plica nasolabialis, dan dagu

DIAGNOSIS BANDING : Dermatitis kontak

Ditandai dengan pola reaksi inflamasi polimorfik yang melibatkan epidermis


maupun dermis. Terdapat banyak etiologi serta temuan klinis yang amat luas. Eksema
akut ataupun dermatitis ditandai dengan pruritus, eritema dan vesikulasi. Sedangkan
bentuk kroniknya yaitu pruritus, xerosis, likenifikasi, hiperkeratosis, dan fissuring.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Gambar . Penggunaan salep neomisin untuk gatal


pada palpebra. Terdapat edema masif dan eritema
pada palpebra dan erupsi popular pada dahi dan pipi.
Reaksi juga terdapat di leher yang tidak memiliki

A. PENATALAKSANAAN
1. Sistemik
Untuk pengobatan sistemik dalam mengeradikasi dermatofit, obat-obatan oral
yang digunakan, antara lain:

Flukonazol: orang dewasa 150200 mg/minggu selama 46 minggu,


sedangkan anak-anak 6 mg/kg/minggu selama 46 minggu. Sediaan fluconazole
tablet 100, 150, 200 mg; suspense oral (10 or 40 mg/ml); dan intravena 400 mg.

Griseofulvin: Orang dewasa 5001000 mg/hari (atau lebih) selama 4


minggu, sedangkan anak-anak 1520 mg/kg/hari selama 4 minggu. Micronized:
250 atau 500 mg tablet; 125 mg/sendok teh suspensi. Ultramicronized: 165 atau
330 mg tablet. Aktif hanya melawan dermatofit, kurang efektif daripada
Triazoles. Efek samping yang dapat ditimbulkan, antara lain: nyeri kepala,
mual/muntah, fotosensitivitas. Infeksi T. rubrum dan T. tonsurans dapat kurang
berespon. Sebaiknya diminum dengan makanan berlemak untuk
memaksimalkan penyerapan.

Itrakonazol: untuk dewasa 400 mg/hari selama 1 minggu dan untuk anak-
anak 5 mg/kg/hari selama 1 minggu. Sediaannya 100 mg dalam kapsul; solusio
oral (10 mg/ml) dalam intravena. Untuk Triazole, kerjanya membutuhkan pH
asam pada lambung agar kapsulnya larut. Dapat menimbulkan aritmia
ventrikular bila dikonsumsi bersama terfenadine/astemizole, meskipun jarang.
Golongan azole lainnya, yaitu ketokonazole juga memiliki potensial interaksi
dengan obat lain, seperti agen hipoglikemik oral, kalsium antagonis, fenitoin,
dan lain-lain.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

Terbinafin: dosis untuk dewasa adalah 250 mg/hari selama 2 minggu, dan
dosis anak-anak adalah 62,5 mg/hari (<20 kg), 125 mg/hari (2040 kg) atau 250
mg/hari (>40 kg) selama 2 minggu. Sediaannya 250 mg dalam tablet. Dapat
menyebabkan mual, dispepsia, nyeri perut, kehilangan pengecapan.

Pengobatan topikal dinilai memiliki respon yang baik terhadap infeksi


yang terjadi, apalagi bila tidak terjadi folikulitis.

2. Pengobatan topikal untuk tinea fasialis


Tabel 1. Pengobatan topikal untuk tinea fasialis

Preparat ini efektif untuk dermatofit pada kulit, tetapi tidak


untuk rambut ataupun kuku.

Preparat tersebut diaplikasikan 2 kali sehari pada area yang


Preparat topikal anti
terkena lesi secara optimal selama 4 minggu termasuk 1
jamur
minggu setelah lesi telah bersih.

Diaplikasikan paling kurang 3 cm di sekitar batas area yang


terkena.

Kotrimazol (Lotrimin, Mycelex)

Mikonazol (Micatin)

Ketokonazol (Nizoral)
Imidazoles
Ekonazol (Spectazole)

Oxikonizol (Oxistat)

Sulkonizol (Exelderm)

Naftifin (Naftin)
Allylamines
Terbinafin (Lamisil)

Naphthionates Tolnaftat (Tinactin)

Substituted pyridone Siklopirox olamin (Loprox)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

3. Edukasi
Diperlukan pula perawatan diri di rumah (home care), seperti: menghindari
menggaruk daerah lesi, karena hal tersebut dapat membuat infeksi bertambah
parah. Menjaga kulit tetap kering dan bersih dengan menghindari aktivitas yang
dapat mengeluarkan keringat. Mandi minimal sekali sehari dan ingat untuk
mengeringkan tubuh seluruhnya. Aplikasi krim topikal anti jamur, seperti: krim
Klotrimazol (Lotrimin), Terbinafin (Lamisil), Tolnaftat (Tinactin). Beberapa
agen oral yang dapat digunakan untuk mengobati gatal yang timbul, antara lain:
Difenhidramin (Benadryl), Klorfeniramin, Loratadin (Claritin), dan Setirizin
(Zyrtec), sesuai dengan medikasi yang diberikan. Dan mengingatkan penderita
untuk memperhatikan bila ada efek samping segera kembali berobat.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017
LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN Rio
Alexsandro

DAFTAR PUSTAKA

1. Naya, et al. 2011. Referat Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin : Ektima.
http://referatnaya.blogspot.com/2011/08/v-behaviorurldefaultvml-o.html
2. http://www.scribd.com/doc/92490531/Ektima
3. Siregar, 2005. RS. Penyakit Virus. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi
Ke-2. Jakarta: ECG.
4. http://www.scribd.com/doc/210452078/EKTIMA
5. Djuanda Adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Balai
penerbit FK UI. Jakarta.
6. Pedoman pelayanan Medis (PPM) Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin. Perjan RS. Dr. Cipto Mangunkusumo : Jakarta. 2005

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RS Husada, Jakarta
Periode 20 Maret 2017 22 April 2017