Anda di halaman 1dari 6

A.

Farmakokinetik
1. Pola ADME
Loperamid merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara memperlambat
motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat
diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya
diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Sekitar 40% dosis
Loperamide diabsorpsi dari saluran cerna. Konsentrasi plasma puncak dicapai sekitar
2,5atau 4-5 jam setelah pemberian per oral. Mengalami metabolism lintas pertama di
hati. Diekskresi melalui feses lewat empedu sebagai konjugat inaktif. Loperamid
sedikit diekskresikan melalui urine.
2. Waktu paruh
Waktu paruh eliminasi 10 jam dengan rentang antara 9,1-14,4 jam. Waktu puncak
tercapai sekitar 5 jam setelah pemberian dalam bentuk tablet dan 2,5 jam untuk cairan
dengan kadar puncak yang serupa. 25% obat diekskresikan dalam bentuk senyawa
induknya dalam feses, 1,3% diekskresikan melalui urin dalam bentuk utuh dan
terkonjugasi.
3. Ikatan protein
Kadar plasma obat tidak berubah tetap di bawah 2 nanogram per mL setelah asupan
dari 2mg Loperamide kapsul hidroklorida. Masa laten yang lama ini disebabkan oleh
penghambatan motilitas saluran cerna dan karena obat mengalami sirkulasi
enterohepatik.

B. Toksisitas
1. Efek samping dan oksisitas
Efek samping akibat penggunaan obat tersebut adalah kram pada daerah perut,
konstipasi, pusing, merasalelah, mengantuk dan mulut terasa kering. Loperamid
dikontra indikasikan untuk pasien yang hipersensitif pada loperamid, anakdiusia 2
tahun, diare dengan tinja berdarah, diare dengan suhu tubuh diatas 38oC, diare yang
disebabkan oleh bakteri. Toksisitas SSP (Sistem Saraf Pusat) pada pasien dengan
gangguan hati.
2. Monitoring interaksi obat
Perbaikan dalam konsistensi feses dan frekuensi defekasi. Pada terapi jangka panjang,
perlu ditentukan status cairan dan elektrolitsecara periodik. Nyeri abdomen, mual,
konstipasi. Loperamid meningkatkan absorpsi gastrointestinal desmopressin.
Interaksimajor :Saquinavir (probable). Interaksi moderate :Gemfibrozil (established),
Itraconazole (established).
BAB III
PEMBAHASAN

A. Penyelidikan/penelitian yang telah dilakukan orang lain

1. Berdasarkan penelitian dengan judul Loperamide Terapi untuk Diare akut pada
Anak oleh Su-Ting T. Li, David C. Grossman, Peter Cummingstahun 2007 dengan
kesimpulan Pada anak-anak yang kurang dari 3 tahun, kekurangan gizi, sedang atau berat
dehidrasi, sakitsistemik, ataudiareberdarah, efek samping lebih besar dari pada
manfaatnya bahkan pada dosis 0,25 mg / kg / hari. Pada anak yang lebihdari 3 tahun tanpa
dehidrasi / minimal, loperamide tambahan yang berguna untuk rehidrasi oral dan
refeeding awal. Pada diare cair yang ringan-sedang dapat diberikan golongan opiat ringan
seperti diphenoksilat atau loperamide. Agen anti motilitas dihindarkan pada IBD untuk
mencegah terjadinya megakolon toksik.

2. Berdasarkan penelitian Profil Penggalian Infornasi dan Rekomendasi Pelayanan


Swamedikasi oleh Staf Apotek Terhadap Kasus Diare Anak Di Apotek Wilayah Surabaya
oleh Faridiatul, Hanni P, Puspitasari, Anila, 2013. Dengan kesimpulan kombinasi obat
golongan antibiotik ( kotrimoksazole) dan antimotilitas ( loperamid ) kombinasi ini
sebaiknya jangan diberikan karena mekanisme kerja antibiotik yang membunuh kuman
penyebab diare dan mekanisme kerja antimotilitas yang akan memperlambat gerak usus
menyebabkan pengeluaran bakteri penyebab diare menjadi terhambat dan menjadi semakin
lama bertahan di saluran cerna. Pemberian loperamid hanya boleh diberikan pada anak
diatas 4 tahun. Loperamid efektif digunakan untuk diare akut yang tidak disebabkan oleh
infeksi, meskipun demekian perlu diperhatikan bagaimana efeknya jika digunakan untuk
anak-anak.

3. Berdasarkan penelitian Diare Akut Disebabkan Bakteri oleh Umar Zein, Khalid
Huda Sagala, Josia Ginting 2014. Kesimpulan loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat
dan atropin sulfat (lomotil). Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 2 4
mg/ 3 4x sehari dan lomotil 5mg 3 4 x sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi
penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki
konsistensi feses dan mengurangi frekwensi diare. Bila diberikan dengan cara yang benar
obat ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Loperamide
merupakan derivat difenoksilat (dan haloperidol, suatu anti psikotikum) dengan khasiat
obstipasi yang 2-3 kali lebih kuat tetapi tanpa efek terhadap sistem saraf pusat (SSP)
karena tidak bisa menyeberangi sawar-darah otak oleh karena itu kurang menyebabkan
efek sedasi dan efek ketergantungan dibanding golongan opiat lainnya seperti difenoksilat
dan kodein HCl. Loperamide mampu menormalkan keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-
sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan
resorpsi normal kembali. Mulai kerja loperamide lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Obat ini tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun, karena fungsi hatinya
belum berkembang dengan sempurna untuk dapat menguraikan obat ini, begitu pula untuk
pasien dengan penyakit hati hati disarankan tidak menggunakan obat ini.

4. Berdasarkan Penelitian Kerasionalan Penggunaan Obat Diare yang Disimpan di


Rumah Tangga di Indonesia oleh Rainni M, 2015. Dengan kesimpulan Penggunaan obat
diare rasional yang disimpan di rumah tangga adalah penggunaan obat yang memenuhi
persyaratan tertentu seperti kesesuaian obat, indikasi, dosis, lama pemberian. Obat diare di
rumah tangga di kelompokkan berdasarkan jenisnya terdiri dari obat pengganti cairan
tubuh, suplemen seng/zinc, absorbans, loperamid, anti biotika, spasmolitik, obat tradisional
dan lain-lain.

Terapi diare akut digunakann untuk mengurangi gejala-gejala. Obat anti diare yang
paling efektif yaitu devirat opioid misal loperamide, definoksilat-atropin dan tinktur
opium. Bismuth subsalisilat merupakan obat lain yang dapat digunakan tetapi
kontraindikasi pada pasien HIV karena dapat menimbulkan enselofati bismuth.
5. Berdasarkan penelitian Diare Akut oleh Eppy, 2009. Dengan kesimpulan Obat-
obat antimotilitas, seperti loperamide atau diphenoxylate dapat digunakan sebagai terapi
simtomatik pada diare akut dengan atau tanpa demam serta fesesnya tidak
berdarah/mukoid. Loperamide merupakan obat terpilih untuk orang dewasa. Obat ini
paling baik digunakan pada travelers diarrhea ringan/sedang, serta tanpa tanda klinik
diare invasif. Loperamide menghambat peristaltik usus dan mempunyai efek antisekresi
yang ringan. Sebaiknya dihindari penggunaannya pada bloody/mucoid diarrhea atau
suspek inflamasi (dengan demam). Nyeri abdomen hebatyang mengarahkan suatu diare
inflamatif termasuk kontraindikasi untuk pemberian loperamide.2 Pemberian loperamide
mula-mula 2 tablet (4 mg), kemudian 2 mg setiap keluar feses yang tak berbentuk, tidak
lebih dari 16 mg/hari selama 2 hari.21 Difenoksilat mempunyai efek opiat sentral dan
dapat menimbulkan efek samping kolinergik. Dosis difenoksilat adalah 2 tablet (4 mg) 4
kali/hari selama 2 hari. Kedua obat tersebut dapat memfasilitasi timbulnya HUS pada
pasien yang terinfeksi oleh EHEC. Pasien perlu berhati-hati bila mendapat obat ini karena
dapat menutupi jumlah kehilangan cairan akibat pengumpulan cairan dalam usus. Jadi,
pada pasien yang mendapat obat antimotilitas sebaiknya diberikan cairan yang lebih
agresif.
DAFTAR PUSTAKA

Su-Ting T. Li, David C. Grossman, Peter Cummings, Loperamide Terapi untuk Diare Akut
pada Anak: Departemen Ilmu Kesehatan Anak, University of California Davis
Amerika Serikat, 2007.

Anonim, 2006, MIMS, edisibahasa Indonesia volume 7, PT Info Master, Jakarta, 28-30.

Dipiro, Josep T, 2005, Pharmacotherapy Pathophysiologic Approach, sixth edition, The


McGraw-Hill Companies Inc., 677-683

Eppy , 2009, Diare Akut, SMF Penyakit Dalam RSUP Persahabatan, Jakarta.

Faridiatul, Hanni P, Puspitasari, Anila, 2013, Profil Penggalian Infornasi dan Rekomendasi
Pelayanan Swamedikasi oleh Staf Apotek Terhadap Kasus Diare Anak Di Apotek
Wilayah Surabaya, Universitas Indonesia. Jakarta

Katzung, Bertram G, 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi pertama, Salemba Medika,
Jakarta, 553.

Mansjoer,Arif dkk.,2001, KapitaSelektaKedokteran, edisiketigajilid I, Media Aesculapius


FakultasKedokteran UI, Jakarta, 500-507.

Tjay, H. T., danRahardja, K., 2002, Obat-obatPenting: Khasiat, PenggunaandanEfek-


efekSampingnya, Edisi V, Cetakanpertama, 781, Gramedia, Jakarta, 271-279.