Anda di halaman 1dari 11

AUDIT FORENSIK PADA KASUS PERTAMINA ENERGY TRADING

LTD (PETRAL) TAHUN 2015

Oleh
Raudhatul Medina 120620160002
Siti Sadiyyah 120620160021

Paper

Untuk mata kuliah Audit Khusus


Dosen :

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJADAJARAN
BANDUNG
Tahun 2017

AUDIT FORENSIK PADA KASUS PERTAMINA ENERGY TRADING


LTD (PETRAL) TAHUN 2015
A. Audit Forensik
Audit forensik terdiri dari dua kata, yang bila dijabarkan adalah audit yang
berarti tindakan membandingkan kesesuaian antara kondisi dan kriteria, dan juga
forensik yang mempunyai makna segala hal yang bisa diperdebatkan di muka
hukum/ pengadilan. Menurut D. Larry Crumbley, editor-in-chief dari Journal of
Forensic Accounting (JFA) Akuntansi forensik adalah akuntansi yang akurat
(cocok) untuk tujuan hukum. Artinya, akuntansi yang dapat bertahan dalam kancah
perseteruan selama proses pengadilan, atau dalam proses peninjauan judicial atau
administratif.
Dari penjelasan diatas Audit Forensik dapat didefinisikan sebagai suatu
tindakan menganalisa dan membandingkan antara kondisi di lapangan dengan
kriteria, untuk menghasilkan informasi atau bukti kuantitatif yang bisa digunakan
di muka pengadilan. Karena sifat dasar dari audit forensik yang berfungsi untuk
memberikan bukti di muka pengadilan, maka fungsi utama dari audit forensik
adalah untuk melakukan audit investigasi terhadap tindak kriminal dan untuk
memberikan keterangan saksi ahli (litigation support) di pengadilan dan mendeteksi
atau mencegah berbagai jenis kecurangan (fraud).
Audit Forensik dapat bersifat proaktif maupun reaktif. Proaktif artinya audit
forensik digunakan untuk mendeteksi kemungkinan-kemungkinan risiko terjadinya
fraud atau kecurangan. Sementara itu, reaktif artinya audit akan dilakukan ketika
ada indikasi (bukti) awal terjadinya fraud. Ketika audit menghasilkan red flag
atau sinyal atas ketidakberesan, audit forensik yang lebih mendalam dan
investigatif akan dilakukan, seperti ilustrasi pada gambar dibawah ini:

2
sumber: Golden et al (2011:81)

Akuntansi forensik secara proaktif mengintegrasikan akuntansi,


kriminologi, forensik komputer (investigasi), layanan litigasi, dan layanan
investigasi audit ke dalam penyelidikan berbagai masalah bisnis yang berorientasi
ke masa depan seperti yang ditunjukkan pada Gambar dibawah ini:

sumber: Smith dan Crumbley (2014)

3
Audit forensik tentunya berbeda dengan general audit yang dilakukan secara
rutin oleh perusahaan. Menurut Golden et al (2011:37) hal yang menjadi fokus
general auditor adalah memastikan bahwa laporan keuangan entitas wajar dalam
semua hal yang bersifat material. General auditor ditugaskan untuk mendeteksi
salah saji material dalam laporan keuangan dan kesalahan manajemen dalam
mengoreksi salah saji material atau adanya pernyataan yang salah dalam laporan
keuangan sebelum laporan keuangan dipublikasikan kepada pihak eksternal.
Sedangkan pada audit forensik, tugas yang harus dilakukan jauh lebih rinci
dan rumit dibandingkan general audit. Fokus forensic audit bukan untuk
menghasilkan opini mengenai kewajaran laporan keuangan melainkan untuk
mengembangkan fakta-fakta yang terdiri dari bukti doukmentasi dan bukti dari
kesaksian-kesaksian yang diperoleh melalui wawancara tentang kecurigaan: siapa
(who), dimana (when), mengapa (why) dan bagaimana (how). Tidak ada sampling
seperti yang dilakukan pada general audit, melainkan seluruh bukti yang relevan
akan dicari dan diperiksa dalam forensic audit. Pada akhirnya, berdasarkan temuan
investigasi, penyidik audit forensik menilai dan mengukur kerugian atau bentuk
kerusakan lainnya pada organisasi dan merekomendasikan perubahan dalam proses
kebijakan akuntansi perusahaan atau tindakan lain yang dianggap perlu.
Temuan dari audit forensik dapat dijadikan bukti atau saksi dalam
persidangan hukum atas tindakan kriminal yang dilakukan pelaku kecurangan.
Dengan demikian, ruang lingkup penyelidikan dan bukti yang dikumpulkan dan
didokumentasikan harus mampu menahan dari tantangan yang mungkin dilakukan
oleh pihak-pihak yang akan dirugikan.
Teknik-teknik yang digunakan dalam audit forensik sudah menjurus secara
spesifik untuk menemukan adanya fraud. Teknik-teknik tersebut banyak yang
bersifat mendeteksi fraud secara lebih mendalam dan bahkan hingga ke level
mencari tahu siapa pelaku fraud. Oleh karena itu jangan heran bila teknik audit
forensik mirip teknik yang digunakan detektif untuk menemukan pelaku tindak
kriminal. Teknik-teknik yang digunakan antara lain adalah metode kekayaan
bersih, penelusuran jejak uang / aset, deteksi pencucian uang, analisa tanda tangan,
analisa kamera tersembunyi (surveillance), wawancara mendalam, digital forensic,
dan sebagainya.

4
B. Latar Belakang Kasus
PT Petral Group berdiri pada tahun 1969 oleh dua pemegang saham dari
Petra Oil Marketing Corporation Limited yang terdaftar di Bahama dan kantor di
Hong Kong, serta Petral Oil Marketing Corporation yang terdaftar di Kalifornia,
AS. Kedua perusahaan pemegang saham kemudian merger di tahun 1978 menjadi
Petra Oil Marketing Limited yang terdaftar di Hong Kong.
Antara tahun 1979-1992 Petra Oil Marketing Limited dimiliki perusahaan
Zambesi Invesments Limited (Hong Kong) dan Pertamina Energy Services Pte
Limited (Singapura) dan diakusisi di tahun 1998 oleh PT Pertamina (Persero) dan
pada 2001 mengubah namanya menjadi PT Pertamina Energy Trading Ltd
(Petral) sesuai dengan persetujuan pemegang saham.
Aktivitas utama Petral adalah melakukan jual-beli minyak, dengan fokus
pembelian minyak untuk dijual ke Pertamina. Semua aktivitas itu dilakukan di
Singapura. Pada tahun 2012 pendapatan usaha perusahaan ini mencapai US$ 33,292
miliar, dan membukukan laba bersih US$ 46 juta. Petral memiliki 55 perusahaan
yang terdaftar sebagai mitra usaha terseleksi. Pengadaan minyak untuk Petral
memang diselenggarakan secara tender terbuka, namun Petral juga melakukan
pengadaan minyak dengan pembelian langsung. Alasannya, ada jenis minyak
tertentu yang tidak dijual bebas atau pembelian minyak secara langsung dapat lebih
murah dibandingkan dengan mekanisme tender terbuka
Kasus Patral bermula ketika anak perusahaan pertamina ini mendapatkan
opini wajar tanpa pengecualian dari kantor akuntan public PWC Singapura yang
telah selesai diaudit oleh PwC pada 16 Januari 2015. Anggota Tim Reformasi Tata
Kelola Minyak dan Gas, Agung Wicaksono, mengatakan dalam pertemuannya
dengan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) pada Rabu, 17 Desember 2014
terungkap persoalan dalam bisnis Petral yang belum selesai. Menurut Agung, Petral
tidak mengetahui identitas pemilik perusahaan pemenang lelang pengadaan
minyak yang selama ini bekerja sama dengan mereka. Petral selama ini menjadi
trading arm atau entitas yang bertugas menangani jual-beli produk minyak
pertamina. Petral menjadi sorotan karena dituding sebaga sarang mafia yang
memburu rantai dari impor minyak. Petral dituding tidak transparan dalam

5
menyelenggarakan impor. Hal ini menyebabkan kerugian Negara dari kacaunya
tata kelola impor migas.
Kecurangan Petral merupakan persoalan yang skalanya luar biasa besar, dan
teknik nya sangat canggih dan rumit sehingga mampu berjalan selama puluhan
tahun tanpa terdeteksi oleh auditor. Karena rantai perdagangan yang besar dalam
skala internasional, rasanya tidak cukup jika hanya dilakukan audit investigative.
Bahkan dikatakan bahwa ketika ada diskon minyak bumi sebesar USD 1,3 per
barrel, namun yang kemudian dilaporkan ke negara hanya sebesar USD 0,3 per
barel. Jika dikalikan dengan jumlah barel yang diimpor, tentu kerugiannya sangat
besar untuk negara.
Kemudian ada skandal Petral lain yaitu ketika melakukan impor zatapi.
Disebutkan bahwa tender zatapi lebih mahal USD 12,3 per barrel dibandingkan
harga yang seharusnya. Total impor zatapi saat itu 600.000 barel.
Setelah berbagai pemberitaan media, Pertamina menunjuk kantor akuntan
publik KordaMentha untuk melakukan audit forensik atas anak perusahaannya
yaitu Petral. Audit Forensik dilaksanakan pada 1 Juli hingga 30 Oktober 2015 untuk
periode Januari 2012 hingga Mei 2015.

C. Latar Belakang Dilakukannya Audit Forensik pada Kasus Petral


Menurut Golden et al (2011:78) dalam bukunya A Guide to Forensic
Accounting Investigation, tidak ada kriteria tertentu kapan harus melakukan audit
forensik. Yang dibutuhkan hanyalah pertimbangan apakah memang situasi yang
terjadi mengharuskan untuk mendatangkan auditor forensik.
Auditor forensik memiliki skill yang berbeda dibandingkan auditor umum.
Sehingga ketika ditemukan adanya fraud, dan dinilai bahwa perlu dipanggil auditor
forensik, hal tersebut sah-sah saja untuk dilakukan. Dalam kasus Petral ini, alasan
digunakannya jasa audit forensik dikarenakan urgent nya pengungkapan fraud yang
harus segera dilakukan karena diketauhui bahwa fraud di dalam badan Petral sudah
terjadi selama puluhan tahun. Jadi, Pertamina sebagai induk Petral memutuskan
untuk menunjuk KordaMentha sebagai auditor independen untuk melakukan audit
forensik. Bahkan pemerintahan Indonesia sendiri mendesak Pertamina agar audit
forensik dilakukan karena rumitnya masalah didalam badan Petral.

6
Penunjukkan KordaMentha (KAP asal Australia) dilakukan melalu proses
tender yang dilakukan Pertamina. Selain itu, kaudit yang dilakukan adalah audit
forensik sehingga tidak memungkinkan untuk mengandalkan BPK. Audit yang
dilakukan BPK hanya audit operasional, keuangan dan transaksional sehingga
temuan yang dihasilkan pun berbeda dengan KordaMentha.
Sebelumnya Petral memang sudah diaudit oleh BPK, namun hasilnya
menunjukkan bahwa proses tender yang dilakukan Petral wajar. Hasil yang berbeda
ditunjukkan ketika dilakukan audit independen oleh KordaMenta, yang malah
menyatakan ada beberapa temuan yang menunjukkan proses tender yang selama ini
dilaksanakan mengandung kecurangan dan menguntungkan pihak-pihak tertentu.

D. Prosedur Audit Forensik pada Kasus Petral


Tidak ada sumber yang menjelaskan secara pasti bagaimana prosedur audit
forensik yang dilakukan untuk menggali kasus petral. Informasi yang kami
dapatkan hanyalah Kordamentha melakukan interview kepada karyawan-karyawan
yang diduga terlibat atau mengetahui kecurangan pengadaan minyak bumi. Namun
secara garis besar berikut prosedur yang dilakukan dalam melakukan audit forensik:
1. Identifikasi masalah
Dalam tahap ini, auditor melakukan pemahaman awal terhadap kasus yang
hendak diungkap. Pemahaman awal ini berguna untuk mempertajam analisa dan
spesifikasi ruang lingkup sehingga audit bisa dilakukan secara tepat sasaran.
2. Pembicaraan dengan klien
Dalam tahap ini, auditor akan melakukan pembahasan bersama klien terkait
lingkup, kriteria, metodologi audit, limitasi, jangka waktu, dan sebagainya. Hal ini
dilakukan untuk membangun kesepahaman antara auditor dan klien terhadap
penugasan audit.
3. Pemeriksaan pendahuluan
Dalam tahap ini, auditor melakukan pengumpulan data awal dan
menganalisanya. Hasil pemeriksaan pendahuluan bisa dituangkan menggunakan
matriks 5W + 2H (who, what, where, when, why, how, and how much). Investigasi
dilakukan apabila sudah terpenuhi minimal 4W + 1H (who, what, where, when, and

7
how much). Intinya, dalam proses ini auditor akan menentukan apakah investigasi
lebih lanjut diperlukan atau tidak.
4. Pengembangan rencana pemeriksaan
Dalam tahap ini, auditor akan menyusun dokumentasi kasus yang dihadapi,
tujuan audit, prosedur pelaksanaan audit, serta tugas setiap individu dalam tim.
Setelah diadministrasikan, maka akan dihasilkan konsep temuan. Konsep temuan
ini kemudian akan dikomunikasikan bersama tim audit serta klien.
5. Pemeriksaan lanjutan
Dalam tahap ini, auditor akan melakukan pengumpulan bukti serta
melakukan analisa atasnya. Dalam tahap ini lah audit sebenarnya dijalankan.
Auditor akan menjalankan teknik-teknik auditnya guna mengidentifikasi secara
meyakinkan adanya fraud dan pelaku fraud tersebut.
6. Penyusunan Laporan
Pada tahap akhir ini, auditor melakukan penyusunan laporan hasil audit
forensik. Dalam laporan ini setidaknya ada 3 poin yang harus diungkapkan. Poin-
poin tersebut antara lain adalah:
Kondisi, yaitu kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.
Kriteria, yaitu standar yang menjadi patokan dalam pelaksanaan kegiatan.
Oleh karena itu, jika kondisi tidak sesuai dengan kriteria maka hal tersebut
disebut sebagai temuan.
Simpulan, yaitu berisi kesimpulan atas audit yang telah dilakukan. Biasanya
mencakup sebab fraud, kondisi fraud, serta penjelasan detail mengenai
fraud tersebut.

7. Temuan Auditor Forensik dalam Kasus Petral


Menurut Smith dan Crumbley (2014), output dari audit forensik adalah
laporan audit forensik. Ringkasan laporan audit forensik yang selesai sebanyak 63
halaman dan disertai lampiran setebal 2.700 halaman.
Dalam laporan audit forensik yang dilakukan oleh auditor independen
KondaMentha, ditemukan hal sebagai berikut:
1. Terbukti tercatat dalam berbagai dokumentasi Petral bahwa ada pihak
ketiga yang ikut campur pada proses pengadaan dan jual beli minyak

8
mentah dan produksi BBM di Pertamina Energy Service Pte Ltd yang
merupakan anak usaha Petral yang bertugas melakukan pengadaan impor
minyak dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
2. Pihak ketiga berhasil mempengaruhi personal-personal di PES untuk
memuluskan mengatur tender dan harga.
3. Akibat dari ikut campurnya pihak ketiga, Petral dan Pertamina tidak
memperoleh harga terbaik ketika melakukan pengadan minyak maupun jual
beli produk BBM.

Dalam prosesnya, auditor independen Kordha Mentha mengakui ada


beberapa pegawai yang tidak kooperatif dalam memberikan informasi kepada
auditor. Hasil dari audit forensik mengindikasikan bahwa memang ada pertukaran
informasi via e-mail dari para pegawai kepada vendor. Audit forensik terhadap
Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) menyebutkan terjadi anomali dalam
pengadaan minyak pada 2012-2014. Berdasarkan temuan lembaga auditor
KordaMentha, jaringan mafia minyak dan gas (migas) menguasai kontrak suplai
minyak senilai US$ 18 miliar atau sekitar Rp 250 triliun selama tiga tahun.

8. Pasca Audit Forensik Kasus Petral


Setelah Audit Forensik terhadap Petral telah tuntas dilaksanakan,
selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan upaya perbaikan dalam kegiatan
pengadaan minyak dan produk minyak oleh perusahaan (pertamina.com).
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan sebagai bagian dari
upaya meningkatkan efisiensi dan memperkuat transparansi pengadaan minyak
mentah dan produk minyak yang selalu menjadi pertanyaan publik, dan sekaligus
tahapan penting dari proses likuidasi Petral Group, beberapa tahapan telah dilalui.
Terdapat tiga kegiatan terpenting yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu due
diligent terhadap financial and tax yang dilakukan oleh EY, dan legal oleh HSF,
audit foreksik yang dilakukan oleh auditor independen KordaMentha di bawah
supervisi Satuan Pengawas Internal Pertamina (telah rampung), serta wind-down
process berupa novasi kontrak, settlement utang piutang, dan pemindahan aset
kepada Pertamina. Likuidasi secara formal akan dapat dilaksanakan setelah seluruh

9
proses tersebut tuntas. Untuk Petral dan Zambesi, likuidasi diperkirakan akan tuntas
pada akhir Januari 2016, sedangkan PES akan tuntas pada akhir Maret 2016.
Selanjutnya, Pertamina melakukan berbagai upaya perbaikan, seperti
perbaikan proses bisnis dalam pengadaan minyak dan produk minyak,
meningkatkan aspek keterbukaan dan compliance, dan evaluasi terhadap para mitra
penyedia minyak mentah dan produk minyak. Pertamina, tuturnya, juga telah
melakukan pengawasan lebih baik terhadap operasional ISC, melalui pembentukan
Komite Pengawas dan juga pelaksanaan evaluasi kinerja setiap bulan.
Pertamina juga berkomitmen untuk terus melakukan perkuatan fungsi ISC.
Tahapan penting yang sudah dilakukan untuk perkuatan tersebut adalah menaikkan
kembali level jabatan untuk pimpinan ISC dari Vice President menjadi Senior Vice
President.

9. Kesimpulan
Kasus Petral merupakan kasus yang ramai dibicarakan karena membuktikan
adanya mafia gas yang menguasai tender pengadaan minyak bumi untuk Indonesia.
Audit forensik dilakukan oleh Pertamina dengan menunjukan auditor independen
KordaMentha, KAP asal Australia untuk melakukan audit atas proses pengadaan
minyak bumi yang dilakukan oleh Petral, anak perusahaan Pertamina. Berbeda
dengan audit umum, audit forensik dilakukan dengan tujuan menghasilkan output
berupa laporan audit forensik. Audit dilakukan untuk periode 2012-2015 dan harus
diselesaikan dalam jangka waktu Juli-Oktober 2015. Audit dilakukan dengan cara
melakukan interview dengan karyawan-karyawan Petral, kemudian tracing e-mail
untuk mendapatkan bukti terkait proses pengadaan minyak. Dalam kasus ini, ada
tiga poin yang berhasil ditemukan oleh auditor forensik, yaitu: (1) Terbukti tercatat
dalam berbagai dokumentasi Petral bahwa ada pihak ketiga yang ikut campur pada
proses pengadaan dan jual beli minyak mentah dan produksi BBM di Pertamina
Energy Service Pte Ltd yang merupakan anak usaha Petral yang bertugas
melakukan pengadaan impor minyak dan Bahan Bakar Minyak (BBM); (2) Pihak
ketiga berhasil mempengaruhi personal-personal di PES untuk memuluskan
mengatur tender dan harga dan (3) Akibat dari ikut campurnya pihak ketiga, Petral
dan Pertamina tidak memperoleh harga terbaik ketika melakukan pengadan minyak

10
maupun jual beli produk BBM. Dalam kasus ini, audit forensik tidak diminta untuk
menghitung berapa kerugian negara, meskipun sebenarnya hal itu bisa saja. Dari
audit forensik ini akhirnya diputuskan bahwa Petral akan dilikuidasi dan perannya
digantikan oleh Intregated Supply Chain (ISC).

10. Sumber Referensi


Golden et al. (2011). A Guide to Forensic Accounting Investigation. Wiley

Smith dan Crumbley. (2014). Journal. Defining a Forensic Audit. Journal of


Digital Forensics, Security and Law, Vol. 4(1)

tempo.com
merdeka.com

11