Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM ENERGI DAN ELEKTRIFIKASI PERTANIAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Energi dan Elektrifikasi Pertanian

Oleh:

Nama : Mohamad Ihya Ulum Muddin


NIM : 151710201004
Kelas : TEP A
Acara : Energi Fosil

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi fosil atau sering disebut bahan bakar minyak sering digunakan dalam
transportasi maupun industri yang melibatkan pembakaran disetiap perubahan
atau dikonversi menjadi suatu zat yang menhasilkan panas. Energi fosil adalah
bahan bakar minyak yang terbuat dari sisa-sisa mahluk hidup berjuta-juta tahun
yang lalu yang sifatnya tidak dapat diperbaharui.
Kelangkaan bahan bakar minyak yang terjadi belakangan ini telah
memberikan dampak yang sangat luas di berbagai sektor kehidupan. Sektor yang
paling cepat terkena dampaknya adalah sektor transportasi. Beberapa sektor selain
sektor transportasi yang terkena dampak bahan bakar minyak adalah sektor
industri dan rumah tangga. Ketidakpastian suplai dan harga minyak bumi adalah
bukti bahwa cadangan minyak bumi semakin menipis. Karena minyak bumi
adalah bahan bakar yang tidak bisa diperbarui maka kita harus mulai memikirkan
bahan penggantinya.
Menghadapi tantangan cadangan sumber daya fosil yang semakin menipis,
menghemat energi merupakan langkah cerdas. Perhitungan matematis untuk
menghitung efisiensi bahan bakar yang digunakan dan efisiensi thermal sangat
diperlukan agar penggunaan bahan bakar fosil lebih efisien.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilaksanakan praktikum Energi Fosil adalah sebagai berikut.

1. Mahasiswa memahami adanya konversi energi minyak menjadi energi


panas.
2. Mahasiswa mampu merancang suatu sistem yang membutuhkan energi
panas berasal dari energi minyak.
2

1.3 Manfaat
Adapun manfaat dilaksanakan praktikum Energi Fosil adalah sebagai berikut.
1. Agar mahasiswa memahami konsep konversi energi minyak menjadi
energi panas.
2. Agar mahasiswa mampu menghitung dan menaikkan efisiensi thermal
pada kompor bahan bakar minyak.
3. Agar mahasiswa memahami prinsip kerja lampu petromaks.
4. Agar mahasiswa mampu merancang sebuah sistem biogas yang dapat
dimanfaatkan sebagai energi alternatif.
3

BAB 2. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat


Tanggal : Minggu, 16 April 2017
Waktu : 07.30 s/d selesai
Tempat :Laboratorium Instrumentasi Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember.

2.2 Alat dan Bahan

2.2.1 Alat yang digunakan dalam praktikum energi fosil sebagai berikut.
1. Buah kompor masak
2. Tangki bahan bakar
3. Penggaris
4. Panci untuk menjerang air
5. Termometer
6. Selang
7. Pengukur waktu (stopwatch)
2.2.2 Bahan yang digunakan dalam praktikum energi fosil sebagai berikut.
1. Air
2. Bahan bakar minyak (minyak tanah)
4

2.3 Prosedur kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum Energi Air dapat dilihat pada
gambar 2.1

Mulai

Air dan minyak tanah

Menyusun alat penyaluran bahan bakar dari tangki


bahan bakar ke kompor pada ketinggian tertentu

Menempatkan panci di atas kompor dan mengisi


panci dengan air dengan volume 1 L

Menyalakan kompor minyak tanah dengan letak


tangki bahan bakar pada ketinggian tertentu

Mengukur temperatur air dalam panci menggunakan


Termometer pada interval waktu 0, 5, 10, 15, 20, 25
menit

Mengukur perubahan volume minyak dalam tangki


dan volume minyak yang terbakar tiap interval
waktu 0, 5, 10, 15, 20, 25 menit

Mengulangi poin 1 4 di atas dengan ketinggian


minyak dalam tangki bahan bakar yang lebih rendah

Laporan Praktikum

Selesai

Gambar 2.1 Diagram Alir Praktikum Energi Fosil (Minyak)


5

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Ketinggian permukaan minyak dari kompor = 142,9 cm


Volume air = 1000 ml
Sisa air setelah proses = 850 ml
Tabel 3.1 Hasil pengamatan dengan ketinggian tangki 142,9 cm
Temperatur Volume minyak Volume minyak yang
Waktu air dalam tangki terbakar
Pengamatan
(luas wadah minyak x
menit C tinggi) cm
1 0 32 866.7 0
2 5 67 826.2 40.5
3 10 93 793.8 32.4
4 15 100 777.6 16.2
5 20 100 761.4 16.2

Ketinggian permukaan minyak dari kompor = 89,3 cm


Volume air = 1000 ml
Sisa air setelah proses = 860 ml
Tabel 3.2 Hasil pengamatan dengan ketinggian tangki 89,3 cm
Temperatur Volume minyak Volume minyak yang
Waktu air dalam tangki terbakar
Pengamatan
(luas wadah minyak x
menit C tinggi) cm
1 0 28 923.4 0
2 5 62 915.3 8.1
3 10 85 907.2 8.1
4 15 98 899.1 8.1
5 20 100 891 8.1

3.2 Pembahasan

Hasil praktikum enegi fosil menggunakan bakan bakar minyak tanah dengan
pembahasan sebagai berikut.
6

3.2.1 Gambar Konstruksi Kompor, Penjelasan Mengenai Perjalanan dan


Perubahan Wujud Bahan Bakar serta Gas Sisa dari Proses Pembakaran

Pengertian pembakaran secara umum yaitu terjadinya oksidasi cepat dari


bahan bakar disertai dengan produksi panas dan cahaya. Menurut Mahandri
(2010) pembakaran adalah proses oksidasi yang sangat cepat antara bahan bakar
dan oksidator dengan menimbulkan nyala dan panas. Bahan bakar merupakan
substansi yang melepaskan panas ketika dioksidasi dan secara umum mengandung
karbon, hidrogen, oksigen dan sulfur. Sementara oksidator adalah segala substansi
yang mengandung oksigen yang akan yang bereaksi dengan bahan bakar
(Mahandri, 2010).
Praktikum energi fosil menggunakan kompor atau tungku yang dinyalakan
menggunakan bahan bakar minyak tanah. Sebelum melakukan proses
pembakaran, bahan bakar dalam sebuah botol ukuran 1500 ml yang akan
digunakan disambungkan dengan suatu selang menuju kompor dan diletakkan
dengan posisi lebih tinggi dari posisi kompor dengan tujuan bahan bakar tersebut
dapat mengalir ke kompor. Bahan bakar akan keluar melalui lubang nosel yang
berada pada kompor sehingga terjadi reaksi percampuran oksigen di udara dan
pembakaran dipicu oleh korek api. Karena temperatur yang terjadi lebih besar dari
titik nyala bahan bakar tersebut maka terjadinya proses pembakaran yaitu bahan
bakar tersebut terbakar dan menjadi api. Reaksi kimia dari pembakaran tersebut
adalah sebagai berikut:
CxHyOz + O2 CO2 + H2O

Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa senyawa hidrokarbon


(bahan bakar minyak) yang bereaksi cepat dengan gas oksigen yaitu terjadi proses
oksidasi dan pelepasan sejumlah energi tertentu. Adanya reaksi ini akan
dihasilkan gas karbondioksida dan uap air dengan jumlah. Berikut ini merupakan
gambar konstruksi alat praktikum yang digunakan.
7

Minyak Tanah

142,9 cm
89,3 cm
Kompor/Tungku

Gambar 3.1 Konstruksi kompor minyak tanah

3.2.2 Panas yang Dihasilkan Oleh Pembakaran Minyak


Kalor yang diterima sebanding dengan kenaikan suhu benda, banyaknya
massa air dan kalor jenis benda. Kalor yang diterima oleh benda bila dipanaskan
atau diberi kalor :
1) Sebanding dengan massa benda
2) Sebanding dengan kalor jenis benda
3) Sebanding dengan kenaikan suhu benda

= . .
Keterangan :
Q = kalor yang diterima benda (Joule)
m = massa benda (Kg)
c = kalor jenis benda (J/kgoC)
t = kenaikan suhu (oC)
8

Sedangkan untuk menghitung besarnya massa minyak digunakan rumus


yang sesuai dengan pernyataan hukum Archimedes. Hukum tersebut menyatakan
bahwa suatu benda yang dicelupkan seluruhnya atau sebagian ke dalam fluida
akan mengalami gaya ke atas yang sama dengan berat fluida yang
dipindahkannya. Massa suatu benda adalah ukuran banyak zat yang terkandung
dalam suatu benda. Sedangkan massa jenis adalah besaran yang menunjukkan
perbandingan antara massa dengan volume suatu benda, sebagaimana yang
dikemukakan bahwa massa jenis suatu benda adalah massa benda itu dibagi
dengan volumenya. Dapat ditulis dengan persamaan :

=

Keterangan:
= massa jenis zat (kg/ m3)
m = massa benda (kg)
v = volume benda (m3)

Dari rumus tersebut didapatkan persamaan sebagai berikut.

= .V

Jadi, untuk mengetahui besarnya panas/kalor yang dihasilkan dari


pembakaran minyak di antara pengamatan kedua sampai pengamatan ketiga pada
kondisi letak tangki minyak berada di ketinggian 142,9 cm di atas kompor adalah
sebagai berikut.
Keterangan :
(massa jenis) minyak = 0,8 g/cm3
c (kalor jenis) minyak = 220 J/kgoC

1) Massa minyak = x Vminyak terbakar 1-2


= 0,8 g/cm3 x 40,5 cm3
= 32,4 gram
9

Qminyak = m. c. T2-1
= 0,0324 kg . 220 J/kgoC . (67-32)oC
= 0,0324 kg . 220 J/kgoC . 35 oC
= 248,48 Joule
2) Massa minyak = x Vminyak terbakar 2-3
= 0,8 g/cm3 x 32,4 cm3
= 25,92 gram
Qminyak = m. c. T3-2
= 0,02592 kg . 220 J/kgoC . (93-67)oC
= 0,02592 kg . 220 J/kgoC . 26 oC
= 148,26 Joule
Jadi besarnya panas yang dihasilkan oleh pembakaran minyak pada pengamatan
kedua dan ketiga adalah sebesar 248,48 ; 148,26 Joule
Sedangkan untuk percobaan yang kedua letak tangki minyak diletakkan lebih
rendah dengan jarak 89,3 cm di atas kompor, maka untuk mengetahui panas yang
dihasilkan adalah sebagai berikut.
1) Massa minyak = x Vminyak terbakar 1-2
= 0,8 g/cm3 x 8,1 cm3
= 6,48 gram
Qminyak = m. c. T2-1
= 0,00648 kg . 220 J/kgoC . (62-28)oC
= 0,00648 kg . 220 J/kgoC . 34 oC
= 48,47 Joule
2) Massa minyak = x Vminyak terbakar 2-3
= 0,8 g/cm3 x 8,1 cm3
= 6,48 gram
Qminyak = m. c. T3-2
= 0,00648 kg . 220 J/kgoC . (85-62)oC
= 0,00648 kg . 220 J/kgoC . 23 oC
= 32,78 Joule
10

Jadi besarnya panas yang dihasilkan oleh pembakaran minyak pada pengamatan
pertama dan kedua adalah sebesar 48.47 ; 32,78 Joule.

3.2.3 Panas yang Diserap Air pada Pengamatan Pertama sampai Pengamatan
Kedua

Untuk mengetahui besarnya panas/kalor yang diserap air sama dengan


konsep yang sudah dijelaskan pada Bab 3.2.2 yaitu menggunakan rumus :
= . .
Besarnya panas pada saat pengamatan pertama dan kedua pada kondisi letak
tangki minyak berada 142,9 cm di atas kompor adalah sebagai berikut.
(massa jenis) air = 1 g/cm3
c (kalor jenis) air = 4.200 J/kgoC

1) Massa air = x V
= 1 g/cm3 x 1000 cm3
= 1000 gram
Qair = m. c. T2-1
= 1 kg . 4200 J/kgC . (67-32)oC
= 1 kg . 4200 J/kgC . 35 C
= 147.000 Joule

2) Massa air = x V
= 1 g/cm3 x 1000 cm3
= 1000 gram
Qair = m. c. T3-2
= 1 kg . 4200 J/kgC . (93-67)oC
= 1 kg . 4200 J/kgC . 26C
= 109.200 Joule
Jadi besarnya panas yang diserap oleh air pada pengamatan pertama dan kedua ini
adalah sebesar 147.000 ; 109.200 Joule.
11

Sedangkan untuk percobaan yang kedua letak tangki minyak diletakkan lebih
tinggi dengan jarak 89,3 cm di atas kompor, maka untuk mengetahui panas yang
diserap air adalah sebagai berikut.
1) Massa air = x V
= 1 g/cm3 x 1000 cm3
= 1000 gram
Qair = m. c. T2-1
= 1 kg . 4200 J/kgC . (62-28)C
= 1 kg . 4200 J/kgC . 34 C
= 142.800 Joule

2) Massa air = x V
= 1 g/cm3 x 1000 cm3
= 1000 gram
Qair = m. c. T
= 1 kg . 4200 J/kgC . (85-62)oC
= 1 kg . 4200 J/kgC . 23C
= 96.600 Joule
Jadi besarnya panas yang diserap oleh air pada pengamatan pertama dan
kedua ini adalah sebesar 142.800 ; 96.600 Joule.

3.2.4 Efisiensi Thermal Tungku

Dalam termodinamika, efisiensi termal adalah ukuran tanpa dimensi yang


menunjukkan performa peralatan termal seperti mesin pembakaran dalam dan
sebagainya. Panas yang masuk adalah energi yang didapatkan dari sumber energi
dalam praktikum ini minyak tanah sebagai sumber energi. Output yang diinginkan
berupa panas atau cahaya, atau mungkin keduanya. Jadi, termal efisiensi dapat
dirumuskan dengan :
Efisiensi termal tungku = Qtotal air / Qtotal minyak
12

3.2.4.1 Percobaan Pertama

Perhitungan efisiensi termal tungku pada saat tangki minyak setinggi 142,9 cm di
atas kompor sebagai berikut.
Diketahui tinggi minyak pada saat awal sebelum dilakukan pembakaran
adalah 10,7 cm kemudian diakhir pembakaran tinggi minyak menjadi 7,1 cm,
sehingga dapat diketahui total minyak yang terbakar setinggi 3,6 cm. Kemudian
pada awal pembakaran suhu airnya 32C dan diakhir pengamatan suhunya 100C
sehingga diketahui perubahan suhunya sebesar 68C.

1)
V total minyak terbakar = V0 V1
= 866,7 cm3 761,4 cm3
= 105,3 cm3
T = T1 T0
= 100C 32C = 68C
Massa minyak total = x Vtotal minyak terbakar
= 0,8 g/cm3 x 105,3 cm3
= 84,24 gram
= 0,08424 kg
Q minyak total = m. c. T
= 0,08424 kg . 220 J/kgC . 68C
= 1260,23 Joule
Volume air pada saat awal pembakaran volumenya 1 L = 1000 cm3 dan setelah
terjadi pembakaran volumenya turun menjadi 0,85 L = 850 cm3. Jadi untuk kalor
total yang diserap air berdasarkan jumlah air yang teruapkan adalah sebagai
berikut.
1)
V total air teruapkan = V0-V1
= 1000 cm3- 850 cm3
= 150 cm3
13

T = T1-T0
= 100C 32C
= 68C
Massa air teruapkan =xV
= 1 g/cm3 x 150 cm3
= 150 gram
= 0,15 kg

Qtotal air teruapkan = m. c. T


= 0,15 kg . 4200 J/kgC . 68C
= 42840 Joule
Jadi, efisiensi termal tungku (%) = Q total air / Q total minyak
= 42840 Joule / 1260,23 Joule
= 33,99 %
Jadi efisiensi termal yang dihasilkan dari percobaan 1 sebesar 33,99 %

3.2.4.2 Percobaan Kedua


Perhitungan efisiensi termal tungku pada saat tangki minyak setinggi 89,3 cm di
atas kompor sebagai berikut.
Diketahui tinggi minyak pada saat awal sebelum dilakukan pembakaran
adalah 11,4 cm kemudian diakhir pembakaran tinggi minyak menjadi 11 cm,
sehingga dapat diketahui total minyak yang terbakar setinggi 0,4 cm. Kemudian
pada awal pembakaran suhu airnya 28C dan diakhir pengamatan suhunya 100C
sehingga diketahui perubahan suhunya sebesar 72C.

1)
V total minyak terbakar = V0 V1
= 923,4 cm3 891 cm3
= 32,4 cm3
T = T1 T0
= 100C 28C = 72C
14

Massa minyak total = x Vtotal minyak terbakar


= 0,8 g/cm3 x 32,4 cm3
= 25,92 gram
= 0,02592 kg
Q minyak total = m. c. T
= 0,02592 kg . 220 J/kgC . 72C
= 410,57 Joule
Volume air pada saat awal pembakaran volumenya 1 L = 1000 cm3 dan setelah
terjadi pembakaran volumenya turun menjadi 0,86 L = 860 cm3. . Jadi untuk kalor
total yang diserap air berdasarkan jumlah air yang teruapkan adalah sebagai
berikut.
1)
V total air teruapkan = V0-V1
= 1000 cm3- 860 cm3
= 140 cm3

T = T1-T0
= 100C 28C
= 72C
Massa air teruapkan =xV
= 1 g/cm3 x 140 cm3
= 140 gram
= 0,14 kg

Qtotal air teruapkan = m. c. T


= 0,14 kg . 4200 J/kgC . 72C
= 42336 Joule
Jadi, efisiensi termal tungku (%) = Q total air / Q total minyak
= 42336 Joule / 410,57 Joule
= 103,11 %
Jadi efisiensi termal yang dihasilkan dari percobaan 1 sebesar 103,11 %
15

3.2.5 Cara Menaikkan Efisiensi Tungku

Untuk menaikkan efisiensi dari sebuah tungku yaitu dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai cara yaitu dengan memperhitungkan bahan konstruksi
tungku, bahan bakar (biomassa), rasio pencampuran bahan bakar dengan udara,
luas permukaan penghantar panas (konduktor) dan perawatan. Bahan konstruksi
tungku yang terbuat bahan-bahan konduktor atau penghantar panas yang mampu
menghantarkan panas dengan baik dan dapat menghasilkan rendemen panas yang
tinggi seperti contohnya alumunium, besi, dan logam lainnya. Bahan biomassa
juga berpengaruh terhadap efisiensi tungku. Misalnya dengan menggunakan
biomassa atau bahan bakar yang memiliki kandungan gas metan tinggi maka
menghasilkan suhu yang tinggi serta dapat menghemat pennggunaan bahan bakar
karena terjadi pembakaran sempurna. Pengaturan nosel juga berpengaruh pada
pembakaran yaitu pencampuran atau rasio antara udara (oksigen) dan bahan bakar
harus tepat guna sehingga bahan bakar yang dikeluarkan terbilang irit. Selain itu,
dapat juga dilakukan dengan membuat luas permukaan yang lebih besar karena
semakin besar luas permukaan maka perambatan panas menjadi lebih besar pula.
Daya hantar panas akan lebih cepat apabila terdapat konduktor yang besar. Hal
yang harus diperhatikan lainnya yaitu perawatan tungku. Jika perawatannya baik
dan teratur maka umur tungku akan lebih lama dan tingkat efisiensinya akan
meningkat karena bagian-bagian tungku bekerja dengan optimal.

3.2.6 Perubahan Energi Minyak Menjadi Energi Cahaya Pada Lampu Petromaks

Lampu petromaks merupakan jenis alat penerangan (lampu) yang


berbahan bakar minyak tanah (paraffin/kerosin) bertekanan, diubah menjadi uap
untuk memanaskan kaus lampu hingga berpijar. Lampu ini ditemukan pertama
kali oleh Max Graetzn (Burhanuddin, Tanpa Tahun : 2)
Cahaya terang dari lampu petromaks berasal dari pijaran benda yang mirip
kaos. Kaos ini berupa kain katun yang ditenun jarang/longgar. Kemudian kaos ini
dicelup dalam larutan oksida logam, yaitu larutan campuran thorium oksida,
magnesium oksida, dan cerium oksida. Bahan logam apabila di bakar akan
16

menyala. Untuk menghasilkan nyala yang besar maka dibutuhkan luas permukaan
yang besar pula. Agar energi pembakaran kecil, maka massa benda yang
dibakarpun harus kecil. Mengingat prinsip inilah maka kaos lampu petromax
dibuat seperti Gambar 3 dibawah. Setelah terbakar, maka kain katun akan habis
dan tinggalah oksida logam yang rapuh. Sehingga setelah sekali dibakar, kaos
lampu petromax ini harus dilindungi dari tiupan angin dan atau goncangan agar
tidak hancur (Burhanuddin, Tanpa Tahun : 2).
Prinsip kerja dari lampu petromaks yaitu yaitu tangki bahan bakar
bertekanan untuk sekitar 2 atmosfer (2 bar, atau 30 psi) dengan udara yang dibuat
dengan pompa tangan. Tekanan ini digunakan untuk memaksa cairan minyak
tanah menjadi uap. Awalnya, alat penguap harus dipanaskan terlebih dahulu
sehingga merubah minyak tanah menjadi gas sebelum menyalakan bahan/kaos
petromak. Preheating ini dapat dicapai dengan membakar alkohol yang
dituangkan dalam suatu cangkir preheating yang terletak di dasar alat penguap
atau dibawah kaus. Setelah beroperasi, panas dari pijaran api biru (terbungkus
dalam kaus) digunakan untuk mengubah minyak tanah cair menjadi gas/uap yang
naik melalui alat penguap. Minyak tanah cair menjadi uap pada suhu sekitar
250C, sekitar setengah jalan ke puncak alat penguap. Uap Minyak tanah
melanjutkan perjalanan melalui alat penguap yang melingkar, dan mengalami
peningkatan suhu, sampai keluar dari lubang kecil di ujung alat penguap
mendekati kecepatan suara (1000 ft/sec).
Setelah keluar uap, minyak tanah mulai menyebar dan bercampur dengan
udara di ruang persegi kecil di sisi lampu petromak. Bercampurnya uap minyak
tanah dengan udara yang mengakibatkan bunyi mendesis lampu Petromaks pada
saat digunakan. Uap minyak tanah dan udara bergerak ke dalam tabung di mana
keduanya bercampur dalam satu aliran yang berputar (turbulen). Hal ini menjamin
pembakaran yang sempurna dan keluar dari nosel keramik, menghasilkan panas
dan nyala api warna biru yang bersih dan membakar kaos petromaks.
17

Gambar 3.2 Konstruksi Lampu Petromaks

3.2.7 Penyediaan Energi di Pedesaan dengan Biogas

Penyediaan energi di pedeasaan dengan biogas tentunya mempunyai


jumlah yang cukup tersedia karena sebagian besar mayoritas pedesaan
mempunyai hasil limbah pertanian, seperti dari kotoran hewan maupun manusia,
selain itu juga sampah organic yang melimpah. Dari bahan-bahan tersebut bisa
dimanfaatkan untuk membuat energi biogas yang bisa digunakan dalam
kehidupan sehari-hari.
Biogas merupakan bahan bakar gas yang dihasilkan oleh aktivitas
anaerobik atau fermentasi. Bahan yang dapat digunakan sebagai bahan baku
pembuatan biogas yaitu bahan biodegradable seperti biomassa (bahan organik
bukan fosil), kotoran, sampah padat hasil aktivitas perkotaan dan lain-lain.
Kandungan utama biogas adalah gas metana (CH4) dengan konsentrasi sebesar 50
80 % vol. Gas dalam biogas yang dapat berperan sebagai bahan bakar yaitu gas
metana (CH4), gas hidrogen (H2) dan gas karbon monoksida (CO).
Proses pembuatan biogas dilakukan secara fermentasi yaitu proses
terbentuknya gas metana dalam kondisi anaerob dengan bantuan bakteri anaerob
di dalam suatu digester sehingga akan dihasilkan gas metana (CH4) dan gas
18

karbon dioksida (CO2) yang volumenya lebih besar dari gas hidrogen (H2), gas
nitrogen (N2) dan asam sulfida (H2S). Proses fermentasi memerlukan waktu 7
sampai 10 hari untuk menghasilkan biogas dengan suhu optimum 35C dan pH
optimum pada range 6,4 7,9. Bakteri pembentuk biogas yang digunakan yaitu
bakteri anaerob seperti, Methanobacterium, Methanobacillus, Methanococcus dan
Methanosarcina. Secara umum, reaksi pembentukan CH4 yaitu :

CxHyOz + (x y z)H2O ( x 1/8y + z) CO2 + (x 1/8y + z) CH4

Sebagai contoh, pada pembuatan biogas dari bahan baku kotoran sapi atau
kerbau yang banyak mengandung selulosa. Bahan baku dalam bentuk selulosa
akan lebih mudah dicerna oleh bakteri anaerob. Reaksi pembentukan CH4 adalah:
(C6H10O5)n + n H2O 3n CO2 + 3n CH4

Reaksi kimia pembuatan biogas (gas metana) ada 3 tahap, yaitu :

1. Reaksi Hidrolisa / Tahap pelarutan

Pada tahap hidrolisis terjadi pemecahan enzimatis dari bahan yang


tidak mudah larut seperti lemak, polisakarida, protein, asam nukleat dan
lain- lain menjadi bahan yang mudah larut. Pada tahap ini bahan yang
tidak mudah larut seperti selulosa, polisakarida dan lemak diubah menjadi
bahan yang larut dalam air seperti karbohidrat dan asam lemak. Tahap
pelarutan berlangsung pada suhu 25C di digester (Price dan
Cheremisinoff, 1981). Reaksi:

(C6H10O5)n (s) + n H2O(l) n C6H12O6

Selulosa Air Glukosa

(C6H10O6)x + xH2O (C6H12O6)

Karbohidrat Air Glukosa


19

2. Reaksi Asidogenik / Tahap pengasaman Pada tahap ini Bakteri


menghasilkan asam merupakan bakteri anaerobik yang dapat tumbuh dan
berkembang pada keadaan asam. Pembentukan asam dalam kondisi
anaerob sangat penting untuk membentuk gas metan oleh mikroorganisme
pada proses selanjutnya. Pada suasana anaerobik produk yang dihasilkan
ini akan menjadi substrat pada pembentukan gas metan oleh bakteri
metanogenik. Tahap ini berlangsung pada suhu 25C hingga 30C di
digester (Price dan Cheremisinoff, 1981).

Adapun reaksi asidogenik senyawa glukosa adalah sebagai berikut :


n (C6H1 2O6) 2n (C2H5OH) + 2n CO2(g) + kalor

Glukosa Etanol Karbondioksida

2n (C2H5OH)(aq) + n CO2(g) 2n (CH3COOH)(aq) + nCH4(g)

Etanol Karbondioksida Asam asetat Metana

3. Reaksi Metanogenik / Tahap Pembentukan Gas Metana


Pada tahap ini, bakteri metanogenik membentuk gas metana secara
anaerob. Bakteri penghasil asam dan gas metan bekerja secara simbiosis.
Bakteri penghasil asam membentuk keadaan atmosfir yang ideal untuk
bakteri penghasil metan, sedangkan bakteri pembentuk gas metan
menggunakan asam yang dihasilkan bakteri penghasil asam. Proses ini
berlangsung selama 14 hari dengan suhu 25C hingga 35C di dalam
digester. Pada proses ini akan dihasilkan 70% CH4, 30 % CO2, sedikit H2
dan H2S (Price dan Cheremisinoff, 1981). Secara umum akan ditunjukan
pada reaksi berikut :

2n (CH3COOH) 2n CH4(g) + 2n CO2(g)

Asam asetat Gas metana Gas karbondioksida

Agar proses produksi gas methan tersebut dapat maksimal maka kondisi
lingkungan harus dijaga karena bakteri metagonik ini senndiri sangat peka
20

terhadap oksigen, senyawa yang memiliki tingat oksidasi tinggi dan perubahan
pH. Hasil dari tahap inilah merupakan biogas yang dapat digunakan sebagai bahan
bakar pengganti bahan bakar minyak.
21

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai


berikut.
1. Bahan bakar ketika dipanaskan akan mengalami reaksi kimia dengan
pengoksidasi (oksigen) yang terkandung di dalam udara sehingga dapat
melepaskan panas atau energi.
2. Tinggi rendahnya tangki minyak dapat mempengaruhi konsumsi bahan
bakar.
3. Untuk menaikkan efisiensi dari sebuah tungku yaitu dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai cara yaitu dengan memperhitungkan bahan
konstruksi tungku, bahan bakar (biomassa), rasio pencampuran bahan
bakar dengan udara, luas permukaan penghantar panas (konduktor) dan
perawatan.
4. Pemanfaatan gas bio sebagai energi alternatif merupakan salah satu bahan
bakar yang mampu mneghasilkan gas metan dengan jumlah besar sebagai
pengganti bahan bakar fosil untuk kegiatan memasak, penerangan, pompa
dan sebagainya.
22

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, H. Tanpa Tahun. Analisis Prestasi Lampu Petromaks Berbahan


Bakar Gas LPG. [Artikel Online].
https://www.scribd.com/document_downloads/direct/60648841?extension=
doc&ft=1491710659&lt=1491714269&user_id=254290733&uahk=Ty7lWJ
yZyCFmsKs04ulJIWrZ16E. [Diakses pada tanggal 21 April 2017]

Mahandari, C.P. 2010. Fenomena Flame Lift-Up Pada Pembakaran Premixed Gas
Propana. [Artikel Online]. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124886-
R020885-Perbandingan%20temperatur-Literatur.pdf. [Diakses pada tanggal
10 April 2017].

Price, E.C and Cheremisinoff, P.N. 1981. Biogas Production and Utilization. Ann
Arbor Science Publishers, Inc : United States of America