Anda di halaman 1dari 32

Skenario 2

KUNJUNGAN RUMAH PASIEN


Seorang dokter berkunjung ke rumah pasien laki-laki, umur 50 tahun yang
sebelumnya suda berulang kali berkunjung ke klinik dengan keluhan batuk berulang. Pasien
mengeluh penyakitnya ini mengganggu pekerjaannya sebagai guru honorer yang
menyebabkan ia tidak bisa mengajar. Keluhan seperti ini timbul terutama saat malam hari dan
musim hujan atau cuaca dingin, dokter mendiagnosis pasien dengan asma bronkial, karena
sering berulang dan timbul hampir setiap hari dokter ingin mengunjungi rumah pasien untuk
mengetahui lebih jauh tentang kondisi pasien dan keluarganya.
Pasien mempunyai kebiasaan merokok 1 bungkus per hari, menggunakan motor
sebagai sarana transportasi untuk menuju ketempat kerja yang jaraknya sekitar 25 km dari
rumah.
Pasien tinggal disebuah rumah di kawasan padat penduduk dengan ukuran 6 x 10 m
bersama keluarganya. Keluarga ini terdiri dari orangtua pasien, pasien, istri dan dua orang
anak, yang pertama berumur 17 tahun dan yang kedua berumur 13 tahun. Anak kedua
menderita asma sama seperti ibu pasien atau neneknya. Kondisi dalam rumah kurang
pencahayaan dan ventilasi.
Sebagai dokter keluarga bagaimana pandangan saudara terhadap keluarga ini,
dan bagaimana kaitannya dengan penyakit yang diderita anggota keluarga tersebut?
Sebagai dokter muslim, bagaimana pandangan saudara terhadap keluarga ini
dan bagaimana hak dan kewajiban pasien baik sebagai individu maupun sebagai
anggota keluarga?

1
Kata sulit
1. Keluarga: kumpulan 2 orang atau lebih yang hidup bersama dengan ikatan aturan dan
emosional.
Pertanyaan
1. Penyuluhan apa yang harus diberikan dokter pada kasus tersebut?
2. Intervensi apa yang diberikan dokter selain pengobatan dan penyuluhan?
3. Bagaimana peran keluarga dalam masalah kesehatan?
4. Apa saja kriteria rumah ideal?
5. Bagaimana kriteria keluarga yang baik menurut umum dan islam?
6. Keluraga ini termasuk keluarga dalam bentuk apa?
7. Apa saja hak dan kewajiban keluarga?
8. Faktor apa saja yang dapat menganggu kesehatan keluarga?
9. Sebagai dokter keluarga, apakah bisa bekerja sama dengan lintas sektoral untuk
merubah lingkungan?
Jawaban
1. - Penyuluhan edukasi tentang penyakit serta faktor risikonya.
- Penyuluhan edukasi tentang lingkungan rumah yang ideal
2. Pencegahan, rehabilitasi, perawatan secara berkesinambungan.
3. Memberi dukungan, memberikan pendidikan kesehatan, fasilitas kesehatan terpenuhi,
memberi contoh PHBS.
4. Ventilasi yang cukup, pencahayaan yang cukup, bersih, tidak becek, ada jamban,
jarak minimal rumah dengan 7 m dengan jamban, ada jarak antar satu rumah dengan
rumah lainnya.
5. Dalam islam: keluarga yang samawa, sedangkan secara umum: saling menyayangi,
mengasihi, dan saling menghormati.
6. Keluarga extendeed family (tradisional).
7. Hak: mendapatkan kasih sayang, mendapatkan pendidikan untuk anak
Kewajiban: menciptakan suasana yang harmonis, menasehati, apabila terdapat
kesalahan, dan membimbing.
8. Faktor internal ( genetik, life style), faktor eksternal (lingkungan, pendidikan,
ekonomi, pekerjaan), faktor psikososial (dukungan keluarga).
9. Bisa, karen acakupan dokter keluarga menyeluruh sesuai dengan prinsip dokter
keluarga (koordinasi dan kolaborasi).

2
Hipotesis
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan ikatan aturan
dan emosional. Fungsi kelurga yaitu sebagai pemberi dukungan, pendidikan kesehatan,untuk
dapat menghindari masalah kesehatan keluarga yang disebabkan oleh faktor internal, faktor
eksternal, dan faktor psikososial serta menciptakan keluarga yang samawa.

3
Sasaran belajar
LO.1 Memahami dan Menjelaskan Keluarga
1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Keluarga
1.2 Memahami dan Menjelaskan fungsi keluarga
1.3 Memahami dan Menjelaskan Bentuk-Bentuk Keluarga
1.4 Memahami dan Menjelaskan Siklus Kehidupan Keluarga
1.5 Memahami dan Menjelaskan Dinamika Keluarga
LO.2 Memahami dan Menjelaskan Lima Aspek Diagnosis Holistik
LO.3 Memahami dan Menjelaskan Analisis Penerapan Diagnosis Holistik Berdasarkan
Kasus.
LO.4 Memahami dan Menjelaskan Konsep dan Fungsi Keluarga dalam Islam
LO.5 Memahami dan Menjelaskan Hak dan Kewajiban Keluarga dalam Merawat yang
Sakit.

4
LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Keluarga
1.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Keluarga
Definisi keluarga dikemukakan oleh beberapa ahli:
1) Reisner (1980)
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing
mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek, dan
nenek.
2) Logans (1979)
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan sebuah kumpulan beberapa komponen yang saling
berinteraksi satu sama lain.
3) Gillis (1983)
Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang kompleks dengan atribut yang dimiliki
tetapi terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai arti sebagaimana unit
individu.
4) Duvall
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi,
kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.
5) Bailon dan Maglaya
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan
darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama
lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.
6) Johnsons (1992)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama
atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam satu atap,
yang mempunyai ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan
orang yang lainnya.
7) Lancester dan Stanhope (1992)
Dua atau lebih individu yang berasal dari kelompok keluarga yang sama atau yang berbeda
dan saling menikutsertakan dalam kehidupan yang terus menerus, biasanya bertempat tinggal
dalam satu rumah, mempunyai ikatan emosional dan adanya pembagian tugas antara satu
dengan yang lainnya.
8) Jonasik and Green (1992)

5
Keluarga adalah sebuah sistem yang saling tergantung, yang mempunyai dua sifat
(keanggotaan dalam keluarga dan berinteraksi dengan anggota yang lainnya).
9) Bentler et. Al (1989)
Keluarga adalah sebuah kelompok sosial yang unik yang mempunyai kebersamaan seperti
pertalian darah/ikatan keluarga, emosional, memberikan perhatian/asuhan, tujuan orientasi
kepentingan, dan memberikan asuhan untuk berkembang.
10) National Center for Statistic (1990)
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berhubungan
dengan kelahiran, perkawinan, atau adopsi dan tinggal bersama dalam satu rumah.
11) Spradley dan Allender (1996)
Satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan
mengembangkan dalam interelasi sosial, peran, dan tugas.
12) BKKBN (1992)
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri
dan anaknya, atau ayah dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya.
13) Depkes (1998)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan
14) WHO (1996)
Anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adaptasi, atau
perkawinan.
15) Helvie (1981)
Keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam suatu rumah tangga dalam
kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat.
Jadi keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang
merupakan bagian dari keluarga (Friedman,1998).
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan
anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Suprajitno,2004).

6
1.2.Memahami dan Menjelaskan Fungsi Keluarga
Menurut WHO (1978)
Fungsi biologis
Meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak; memenuhi kebutuhan gizi
keluarga; memelihara dan merawat anggota keluarga
Fungsi psikologis
Memberikan kasih sayang dan rasa aman; memberikan perhatian di antara anggota keluarga;
membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga; memberikan identitas keluarga.
Fungsi sosialisasi
Membina sosialisasi pada anak; membina norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkah
perkembangan anak; meneruskan nilai-nilai keluarga.
Fungsi ekonomi
Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga; pengaturan dan
penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga; menabung untuk
memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang akan datang (misalnya pendidikan anak,
jaminan hari tua)
Fungsi pendidikan
Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan membentuk
perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki; mempersiapkan anak untuk
kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa;
mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

Menurut Friedman (1998)


Fungsi affective
Menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan sehat secara mental, saling mengasuh,
menghargai, terikat, dan berhubungan; mengenal identitas individu; rasa aman.
Fungsi sosialisasi peran
Proses perubahan dan perkembangan individu untuk menghasilkan interaksi sosial dan
belajar berperan; fungsi dan peran di masyarakat; sasaran untuk kontak sosial di dalam atau
di luar rumah.
Fungsi reproduksi
Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat.
Fungsi ekonomi

7
Memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga; menambah penghasilan keluarga sampai dengan
pengalokasian dana.
Fungsi perawatan kesehatan
Konsep sehat-sakit keluarga; pengetahuan dan keyakinan tentang sakit sebagai tujuan
kesehatan keluarga untuk membentuk keluarga yang mandiri.

Menurut Undang-Undang (1992) membagi fungsi keluarga sebagai berikut


1. Fungsi keagamaan
Membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga,
Menerjemahkan ajaran dan norma agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari bagi
seluruh anggota keluarga,
Memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengalaman ajaran agama,
Melengkapi dan menambah proses belajar anak tentang keagamaan yang tidak/kurang
diperoleh disekolah atau masyarakat,
Membina rasa, sikap ,dan praktik kehidupan beragama.
2. Fungsi Budaya
Membina tugas keluarga sebagai sarana untuk meneruskan norma budaya masyarakat dan
bangsa yang ingin dipertahankan,
Membina tugas keluarga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai,
Membina tugas keluarga sebagai saran anggota nya untuk mencari pemecahan masalah
dari berbagai pengaruh negatif globalisasi dunia,
Membina tugas keluarga sebagai sarana bagi anggotanya untuk mengadakan
kompromi/adaptasi dan praktik (positif) serta globalisasi dunia,
Membina budaya keluarga yang sesuai ,selaras , dan seimbang dengan budaya masyarakat
/bangsa untuk menunjang terwujudnnya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
3. Fungsi Cinta kasih
Menumbuh kembangkan potensi simbol cinta kasih sayang yang telah ada diantara
anggota keluarga dalam simbol yang nyata, seperti ucapan dan tingkah laku secara optimal
dan terus menerus,
Membina tingkah laku ,saling menyayangi diantara anggota keluarga maupun antara
keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif,
Membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan uhkrawi dalam keluarga
secara serasi, selaras, dan seimbang,

8
Membina rasa ,sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima
kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
4. Fungsi perlindungan
Memenuhi kebutuhan akan rasa aman diantara anggota keluarga.Bebas dari rasa tidak
aman yang tumbuh dari dalam maupun dari luar keluarga,
Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan
tantangan yang datang dari luar maupun dalam,
Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
5. Fungsi reproduksi
Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi
anggota keluarga maupun keluarga sekitarnya.
Memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembetukan keluarga dalam hal usia ,
kedewasaan fisik dan mental,
Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan dengan jangka waktu
melahirkan, jarak antara kelahiran dua anak, dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam
keluarga,
Mengembang kan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
6. Fungsi sosialisasi
Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana
pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama,
Menyadari ,merencanakan, dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat tempat
anak dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai konflik dan permasalahan yang
dijumpainya baik lingkungan masyarakat maupun sekolahnya. Membina proses pendidikan
dan sosialisasi anak tentang hal yang perlu dilakukannya untuk meningkatkan kemantangan
dan kedewasaan baik fisik maupun mental, yang tidak/kurang diberikan lingkungan sekolah
maupun masyarakat.
Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak
saja bermamfaat positif bagi anak, tetapi juga orang tua untuk perkembangan dan
kematangan hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
7. Fungsi Ekonomi
Adalah melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam kehidupan keluarga dalam
rangka menopang perkembangan hidup keluarga, mengelola ekonomi keluarga sehingga
9
terjadi keserasian, keselamatan dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran
keluarga, mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan perhatiaanya
terhadap anggota rumah tangga bejalan serasi, selaras, dan seimbang, membina kegiatan dan
hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan
sejahtera.
8. Fungsi Pelestarian Lingkungan
Adalah membina kesadaran dan praktik kelestarian lingkungan internal keluarga, membina
kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkunga hidup yang serasi, selaras, dan seimbang
antara lingkungan keluarga dan lingkungan hidup sekitarnya.

Untuk mengukur fungsi keluarga dikembangkan instrumen penilaian yang disebut


APGAR Keluarga (Family APGAR). Instrumen ini menilai lima fungsi pokok keluarga
(Balgis, 2009):
1. Adaptasi (Adaptation)
Tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang diperlukannya dari
anggota keluarga lainnya
2. Kemitraan (Partnership)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap berkomunikasi, musyawarah dalam mengambil
suatu keputusan dan atau menyelesaikan suatu masalang sedang dihadapi dengan anggota
keluarga lainnya
3. Pertumbuhan (Growth)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang diberikan keluarga dalam
mematangkan pertumbuhan dan atau kedewasaan setiap anggota keluarga.
4. Kasih Sayang (Affection)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang serta interaksi emosional yang
berlangsung dalam keluarga.
5. Kebersamaan (Resolve)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan dalam membagi waktu, kekayaan
dan ruang antar anggota keluarga

10
1.3. Memahami dan Menjelaskan Bentuk-bentuk Keluarga
TRADISIONAL
1) Nuclear Family atau Keluarga Inti
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
2) The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu
rumah.
3) Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri.
4) The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat
waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
5) The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear
family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll).
6) The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya
melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
7) Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat
tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada
saat akhir pekan (week-end).
8) Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu
rumah.
9) Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling
menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi,
televisi, telpon, dll).
10) Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak
dari perkawinan sebelumnya.
11) The single adult living alone/single-adult family

11
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau
perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati.

NON TRADISIONAL

1) The unmarried teenage mother


Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2) The stepparent family
Keluarga dengan orangtua tiri.
3) Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup
bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama,
sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.
4) The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
5) Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri
(marital partners).
6) Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
7) Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa
telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan
membesarkan anaknya.
8) Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan
saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung
jawab membesarkan anaknya.
9) Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara,
pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya.
10) Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis
personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.

12
11) Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan
emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan
kriminal dalam kehidupannya
1.4. Memahami dan Menjelaskan Siklus Kehidupan Keluarga
Duvall (1067) mengklasifikasikan siklus kehidupan keluarga menjadi 8 tahap yaitu :
1) Tahap awal perkawinan (newly married), suatu pasangan yang baru saja kawin dan belum
mempunyai anak.
2) Tahap keluarga dengan bayi (birth of the first child), keluarga tersebut telah mempunyai
bayi, dapat satu atau dua orang.
3) Tahap keluarga dengan anak usia prasekolah (family with preschool children), keluarga
tersebut telah mempunyai anak dengan usia prasekolah (30 bulan sampai 6 tahun).
4) Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (family with children in school), keluarga
tersebut telah mempunyai anak dengan usia sekolah (6-13 tahun).
5) Tahap keluarga dengan anak usia remaja (family with teenager), keluarga tersebut telah
mempunyai anak dengan usia remaja (13-20 tahun).
6) Tahap keluarga dengan anak-anak yang meninggalkan keluarga (family as launching
centre), satu persatu anak meninggalkan keluarga, dimulai oleh anak tertua dan diakhiri oleh
anak terkecil.
7) Tahap orang tua usia menengah (parent alone in middle years), semua anak telah
meninggalkan keluarga, tinggal suami istri usia menengah.
8) Tahap keluarga usia jompo (aging family members), suami istri telah berusia lanjut sampai
dengan meninggal dunia.

1.5. Memahami dan Menjelaskan Dinamika keluarga


Adanya interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga tersebut
dapat diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupun kelompok
sosial yang sama.
Dinamika keluarga adalah interaksi atau hubungan pasien dengan anggota
keluarganya dan juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya.
Keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien. Ada
empat aspek yang selalu muncul dalam dinamika keluarga:
Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiri yang biasa
dikenal dengan harga diri atau self-esteem.
13
Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan pikiran
mereka yang dikenal dengan komunikasi.
Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana mereka
seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai sistemnilai keluarga.
Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar dan
institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.

GENOGRAM

Genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah
keluarga pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan
informasi tentang nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga.
Genogram adalah biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan
keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota keluarga. Di dalam
genogram berisi : nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak, keluarga satu
rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan. Juga terdapat informasi
tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota keluarga, hubungan penting
dengan profesional yang lain serta informasi-informasi lain yang relevan. Dengan genogram
dapat digunakan juga untuk menyaring kemungkinan adanya kekerasan (abuse) di dalam
keluarga.

14
Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan
selaludilengkapi (update) setiap ada informasi baru tentang anggota keluarga pada
kunjungan-kunjungan selanjutnya. Dalam teori sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga
sebagai sistem yang saling berinteraksi dalam suatu unit emosional. Setiap kejadian
emosional keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya 3 generasi keluarga.
Sehingga idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3 generasi.

Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk :


a. Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara kesehatan fisik
dan mental di dalam keluarga
b. Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi

LO.2. Memahami dan Menjelaskan Lima Aspek Diagnosis Holistic


(1) Aspek Personal: alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran dan persepsi pasien
(2) Aspek Klinis: Masalah medis, diagnosis kerja berdasarkan gejala dan tanda
(3) Aspek risiko internal : seperti pengaruh genetik, gaya hidup, kepribadian, usia, gender
(4) Aspek risiko eksternal dan psikososial: berasal dari lingkungan (keluarga, tempat kerja,
tetangga, budaya)
(5) Derajat Fungsional: Kualitas Hidup Pasien . Penilaian dengan skor 1 5, berdasarkan
disabiltas dari pasien

15
Aktivitas menjalankan score Keterangan
fungsi sosial dalam
kehidupan

Mampu melakukan 1 Mandiri dalam perawatan


pekerjaan seperti sebelum diri, bekerja di dalam dan
sakit luar rumah

Mampu melakukan 2 Mulai mengurangi aktivitas kerja kantor


pekerjaan ringan sehari-hari
di dalam dan luar rumah

Mampu melakukan 3 Mandiri dalam perawatan diri, tidak mampu


perawatan diri, tapi tidak bekerja ringan
mampu melakukan pekerjaan
ringan.

Dalam keadaan tertentu 4 Tidak melakukan aktivitas kerja, tergantung


masih mampu merawat diri, pada keluarga
tapi sebagian besar aktivitas
hanya duduk dan berbaring

Perawatan diri oleh orang 5 Tergantung pada pelaku rawat


lain, hanya berbaring pasif

LO.3. Memahami dan Menjelaskan Analisis Penerapan Diagnosis Holistik Berdasarkan


Kasus
a. Aspek personal: batuk berulang, keluhan timbull terutama saat malam hari dan musim
hujan.
b. Aspek klinis: asma bronkial.
c. Aspek resiko internal:merokok 1 bungkus per hari, riwayat keluarga.
d. Aspek resiko eksternal dan psikososial: menggunakan motor sebagai sarana trasportasi
(polusi), tinggal di kawasan padat penduduk, kondisi rumah kurang pencahayaan dan
ventilasi.
e. Derajat fungsional: skala 2

16
LO.4. Memahami dan Menjelaskan Konsep dan Fungsi Keluarga dalam Islam
Keluarga muslim adalah keluarga yang meletakkan segala aktivitas pembentukan
keluarganya sesuai dengan syariat Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah.
Keluarga tersebut dibangun di atas aqidah yang benar dan semangat untuk beribadah kepada
Allah serta semangat untuk menghidupkan syiar dan adab-adab Islam Islam sebagaimana
telah dicontohkan Rasulullah SAW. Menurut HammudahAbdul Al-Ati dalam bukunya The
Family Structure in Islam definisi keluarga dilihat secara operasional adalah: Suatu
struktur yang bersifat khusus yang satu sama lain mempunyai ikatan khusus, baik lewat
hubungan darah atau pernikahan. Perikatan itu membawa pengaruh pada adanya rasa saling
berharap (mutual expectation) yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan
kekuatan hukum serta secara individual saling mempunyai ikatan batin.
Bentuk keluarga yang paling sederhana adalah keluarga inti yang terdiri atas suami
istri dan anak-anak yang biasanya hidup bersama dalam suatu tempat tinggal. Namun
demikian menurut Abdul Al Ati pengertian keluarga tidaklah dibatasi oleh kerangka tempat
tinggal. Sebab anggota sebuah keluarga tidaklah selalu menempati tempat tinggal yang sama.
Adanya rasa saling harap sebagai unsur dalam perikatan keluarga itu lebih penting dari unsur
tempat tinggal.
Pentingnya keharmonisan keluarga yang paling berpengaruh buat pribadi dan
masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan
hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal
dengan tentram di dalamnya. FirmanNya:

"Dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya
diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Ruum [30]: 21)

Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu
lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia

17
akan buntu. Terlalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan
membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita
dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok
dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan
mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu
nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim). Seorang suami seyogyanya tidak terus-
menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa
sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali. Dalam hal
ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya
maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada.
Allah berfirman;

"Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka
maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh
menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa' [4]: 19)

Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri
mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin,
pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan
harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan
diri dan rumahnya. Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di
rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui
kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan
kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan
jangan mengkhianati ketika ia pergi. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan
suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

18
Ada juga yang mengungkapkan beberapa karakteristik yang harus terwujud dalam
sebuah keluarga yang menjadikannya layak disebut sebagai model keluarga muslim.
Karakteristik tersebut adalah:
Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Islam.
Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah, dalam
bentuk dan skala apapun.
Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah tangga.
Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak).
Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).

Hak dan Kewajiban Anak

Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua


Pada dasarnya, kewajiban seorang anak merupakan hak bagi orang tua begitu pula
sebaliknya hak anak adalah merupakan kewajiban dari orang tua sendiri. Diantara kewajiban
anak untuk berbakti pada orang tuanya dibagi menjadi dua yaitu ketika mereka masih hidup
dan sesudah mereka wafat.
Saat Orang Tua Masih Hidup
1) Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah.
Taat, patuh dan hormat pada kedua orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak
Adam(manusia). Sedangkan mendurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan,
kecuali jika mereka menyuruh untuk berbuat syirik atau bermaksiat kepada Allah. Allah
berfirman, artinya, Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, .
Rasulullah SAW. bersabda, Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah.
Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan. Adapun contoh bentuk
ketaatan pada orang tua diantaranya:
a) Apabila orang tua meminta makan maka anak wajib memberikan
b) Memberikan sesuatu yang diinginkan orang tua baik yang diminta atupun tidak

19
c) Segera mendatangi panggilan orang tua
d) Melaksanakan semua perintah orang tua asalkan buka perintah maksiat
e) Tidak membentak, menghardik, memukul bahkan membunuh orang tua meskipun
orang tua salah.
Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagia bentuk. Di
antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat
menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ah, tidak mengeraskan
suara melebihi suara mereka, mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi.
2) Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagai
bentuk. Diantara wujud lain dari pada bakti pada orang tua diantaranya:
a) Tidak berkata ah dan tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua
b) Tidak mendahului jalan orang tua
c) Mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi
d) Tidak berkata kasar
3) Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya.
Amat penting kedudukan izin kepada orang tua dalam masalahjihad. Seorang laki-laki
datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, Wahai Rasulullah
apakah aku boleh ikut berjihad? Beliau balik bertanya, Apakah kamu masih mempunyai
kedua orangtua? Laki-laki tersebut menjawab, Masih. Beliau bersabda, Berjihadlah
(dengan cara berbakti) kepada keduanya.
4) Memberikan nafkah kepada orang tua
Beberapa ayat dalam Al Quran yang membahas tentang hal ini adalah Al Baqarah
ayat 15 dan Ar-Rum ayat 38. Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada seorang laki-laki
ketika ia berkata, Ayahku ingin mengambil hartaku. Nabi SAW. bersabda, Kamu dan
hartamu adalah milik ayahmu.
Oleh sebab itu, hendaknya seorang anak tidak bersikap bakhil (kikir) terhadap orang
yang menyebabkan keberadaan dirinyaatas izin Allah, memeliharanya ketika kecil, serta telah
berbuat baik kepadanya.
5) Memenuhi sumpah/nadzar kedua orang tua
Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak
terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah
keduanya karena hal itu termasuk hak mereka.
6) Mendahulukan berbakti kepada ibu dari pada ayah.

20
:
: : .) (: :
: .) ( : : .) ( : : .) ( :
. :

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Siapa
yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? beliau menjawab, Ibumu. Lelaki
itu bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau kembali menjawab, Ibumu. Lelaki itu
kembali bertanya, Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, Ibumu. Lalu siapa lagi?
Tanyanya. Ayahmu, jawab beliau.
Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu dari pada ayah. Sebab, menaati ayah
lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang
dibolehkan syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya.
7) Mendahulukan berbakti pada orang tua dari pada berbuat baik pada istri
Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak
di dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik
mereka, di antara amal mereka, ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang
tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan. Begitupula dengan kisah Alqomah
8) Mendoakan kedua orang tua.
Merupakan perihal yang sangat urgen sebab doa juga merupakan wujud ungkapan
terimakasih anak terhadap orang tua. Ayat Al-Quran yang membahas tentang kewajiban
mendoakan keduanya salah satunya adalah firman Allah SWT :

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil".
9) Memelihara orang tua
Ayat yang membahas tentang hal ini adalah surat Al-Isra ayat 23 dan Al-Ahqaf ayat
15
Ketika Orang Tua Telah Meninggal
Ada beberapa kewajiban yang dilakukan anak terhadap orang tuanya ketika mereka sudah
tiada diantaranya:

21
1) Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan untuknya, karena ini merupaka bukti
kebaktian anak terhadap orang tuanya sebelum dikebumikan.
2) Memohonkan ampun untuk keduanya. Karena doa yang yang masih bisa menjadi amal
jariyah adalah doa anak sholeh terhadap orang tuanya. Namun anak yang dimaksud anak di
sini tidak hanya anak kandung saja tapi anak tiri, ataupun anak angkatpun bisa. Karena dalam
doa kita juga dianjurkan untuk mendoakan semua orang muslim.
3) Melanjutkan amalan baik yang belum sempat dilakukan mereka semasa hidup karena
demikian itu akan menjadi amalan jariyah bagi orang tua meskipun telah memenuhi
panggilanya.
4) Menunaikan janji, hutang dan wasiat orang tua yang belum terlaksana.
5) Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua
Rasulullah SAW pernah bersabda, Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang
anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya
meninggal.
6) Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat ibu dan ayah
Rasulullah SAW. bersabda, Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya
yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya
setelah ia meninggal.

Hak-hak yang harus diperoleh anak


1) Hak Mendapatkan Rasa Kasih Sayang
Banyak hal yang bisa menjadi ungkapan kasih sayang, hal yang demikian tak
ditinggalkan oleh syariat, hingga didapati banyak contoh dari Rasulullah SAW, bagaimana
beliau mengungkapkan kasih sayang kepada anak-anak.

Satu contoh yang beliau berikan adalah mencium anak-anak. Bahkan beliau mencela
orang yang tidak pernah mencium anak-anaknya. Kisah-kisah tentang ini bukan hanya satu
dua. Di antaranya dituturkan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

:



:

.
.

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mencium Al-Hasan bin 'Ali, sementara Al-
Aqra' bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra' berkata, "Aku
memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium." Kemudian

22
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memandangnya, lalu bersabda, "Siapa yang tidak
menyayangi, maka dia tidak akan disayangi."

Kalaulah dibuka perjalanan para pendahulu yang shalih dari kalangan


shahabat radhiallahu 'anhum, hal ini pun ditemukan di kalangan mereka. Bahkan dilakukan
oleh shahabat yang paling mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiqradhiallahu 'anhu. Ketika Abu
Bakr radhiallahu 'anhu tiba di Madinah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
dalam hijrah, dia mendapati putrinya, 'Aisyah radhiallahu 'anha sakit panas. Al-Barra' bin
'Azibradhiallahu 'anhu yang menyertai Abu Bakr saat menemui putrinya mengatakan:

"Kemudian aku masuk bersama Abu Bakr menemui keluarganya. Ternyata 'Aisyah putrinya
sedang berbaring, terserang penyakit panas. Maka aku melihat ayah 'Aisyah mencium pipinya
dan berkata, 'Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?'."

Inilah kasih sayang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seorang ayah yang paling
mulia di antara seluruh manusia. Tak segan-segan beliau mendekap dan mencium putra-putri
dan cucu-cucunya. Begitu pun yang beliau ajarkan kepada seluruh manusia.

2) Hak untuk memperoleh kehidupan


Problematika perekonomian seakan menjadi momok yang menakutkan bagi calon
orang tua bahkan orang tua sekalipun. Banyak sekali orang tua yang mnelantarkan anak yang
telah dilahirkan sendiri dari rahimnya. Bahkan tak sedikit pula yang membiarkan anaknya
merasakan kehidupan dunia ini.

Allah berfirman:

Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi
kepadamu dan kepada mereka.

3) Hak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI)


Wajib bagi seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman
Allah yang artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

Sebuah riwayat disampaikan oleh 'Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu:

23







: :


.
: . .

"Datang para tawanan di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ternyata di antara
para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati
anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kalian menganggap wanita ini akan
melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami pun menjawab, "Tidak. Bahkan dia tak akan
kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sungguh Allah lebih penyayang daripada wanita ini terhadap anaknya."

4) Hak untuk mendapat nama yang baik dari orang tua


Pemberian nama yang baik bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan
terhadap anak anak. Ada yang mengatakan; apa arti sebuah nama. Ungkapan ini tidak
selamanya benar. Islam mengajarkan bahwa nama bagi seorang anak adalah sebuah
doa. Dengan memberi nama yang baik, diharapkan anak mampu berperilaku baik sesuai
dengan namanya. Adapun setelah kita berusaha memberi nama yang baik, dan telah
mendidiknya dengan baik pula, namun anak kita tetap tidak sesuai dengan yang kita
inginkan, maka kita kembalikan kepada Allah SWT. Nama yang baik dengan akhlak yang
baik, itulah yang diharapkan oleh setiap orang tua.

5) Hak mendapat aqiqohan dari orang tua.


Aqiqah hukumnya sunnah muakkadh (sangat dianjurkan) bagi yang mampu
melakukannya, berdasarkan sabda Nabi SAW

." :
"

Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih paa hari ketujuh (sejak kelahiran
anaknya), lalu dinamai dan dicukur rambutnya.

6) Hak mendapat pendidikan


Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Bahkan
ibu merupakan madrasah awal bagi putra putrinya. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya
dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia.

24
Mendidik anak bukanlah sekedar kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan
tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.
Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya,
seperti mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak
itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan
menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini
dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Bak dan tidaknya seorang anak
juga ada pengaruhnya terhadap peran orang tua. Karena pada dasarnya anak itu terlahir dalam
keadaan fitrah, jadi yang menjadikan anak tersebut islam ataupun kafir adalah orang tuanya.

Hak dan Kewajiban Orang Tua

Kewajiban Orang tua kepada Anak

1) Berdoa sebelum bercampur dengan istri, sehingga jika Allah takdirkan dari
pencampuran tadi, si istri hamil, maka anaknya menjadi anak yang soleh.
2) Mengikuti rosulullah dalam menyambut kelahiran anak.
3) tinggal di lingkungan yang islami
4) Memberi nama yang baik
5) Ibu hendaknya Menyusui anaknya
6) Mengasuh dan membimbing anak (bukan diasuh oleh pembantu).
7) Mengkhitan si anak
8) Mengajari alquran, sholat,puasa, adab dan etika
9) Mengajari anak naik kuda, berenang dan memanah.
10) Memberi nafkah dari rezeki yang halal sampai si anak mandiri atau menikah.
11) Memilihkan teman yang baik.
12) berbuat adil kepada semua anak anaknya.
13) Menjadi contoh yang baik bagi anaknya.
14) Mencarikan pendamping hidup yang sholeh bagi anaknya.

25
Hak-hak Orang Tua
Yang dimaksud dengan hak-hak orang tua di sini adalah kewajiban-kewajiban yang
harus ditunaikan seorang anak terhadap orang tuanya. Ada banyak hak orang tua atas anak,
yang paling penting di antaranya adalah :
1) Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Hal itu ditunjukkan melalui
perkataan, perbuatan, harta, dan badan.
2) Menaati perintah keduanya kecuali dalam hal-hal yang sifatnya maksiat.
3) Berbicara kepada mereka berdua dengan penuh kelembutan dan sopan santun.
4) Tawadhu (rendah diri) dan tidka boleh bersikap sombong di hadapan keduanya.
5) Banyak berdoa dan memohon ampun untuk mereka berdua, terlebih di saat keduanya
telah meninggal dunia.
6) Memelihara nama baik, kehormatan, dan harta mereka berdua.
7) Melakukan perbuatan yang membuat mereka senang tanpa harus ada perintah terlebih
dahulu.
8) Menghormati teman-teman mereka berdua semasa mereka masih hidup, dan begitu juga
setelah matinya.
9) Segera memenuhi panggilan mereka berdua

Hak dan Kewajiban Antar Keluarga

Hak Kerabat dan Sanak Keluarga


1) Dikunjungi/silaturahim
Dalil hadits: Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya maka
hendaklah dia takut kepada Allah dan bersilaturahim kepada kerabat. (HR. Ahmad dan Al
Hakim)
2) Selamat dari tangan dan lisannya. Maksudnya adalah tidak digunjingkan dan dianiaya.
3) Bersedekah/memberi hadiah
Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memutuskan kekerabatan. (HR.
Ahmad, Thabrani dan Baihaqi)

LO.5. Memahami dan Menjelaskan Hak dan Kewajiban Keluarga dalam Merawat
yang Sakit.
Ada dua hak orang sakit yang harus dipenuhi oleh anggota masyarakat atau
keluarganya. Hak orang sakit yang pertama dan utama adalah bebas dari segala tanggung

26
jawab social yang normal. Artinya orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak
melakukan pekerjaan sehari-hari yang biasa dia lakukan. Hal ini boleh dituntut, namun
tidaklah selalu mutlak, tergantung tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari penyakit
tersebut. Apabila tingkat keparahan sakitnya rendah maka orang tersebut mungkin saja tidak
perlu menuntut haknya. Dan seandainya menuntut haknya harus tidak secara penuh.
Maksudnya, ia tetap dalam posisinya tetapi perannya dikurangi, dalam arti volume dan
frekuensi kerjanya dikurangi.
Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya, misalnya
menderita penyakit menular. Hak tersebut haruslah dituntut karena bila tidak akan dapat
menimbulkan konsekuensi ganda, yaitu disamping produktivitas kerja menurun atau bahkan
dapat menambah beratnya penyakit.
Hak yang kedua adalah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan kepada orang lain.
Didalam masyarakat yang sedang sakit berada dalam posisi yang lemah, lebih-lebih bila
sakitnya berada dalam derajat keparahan yang tinggi. Anggota keluarga dan anggota
masyarakat berkewajiban untuk membantu dan merawatnya. Oleh karena tugas penyembuhan
dan perawatan memerlukan keahlian tertentu, maka tugas ini didelegasikan kelpada lembaga-
lembaga masyarakat atau individu tertentui seperti dokter, perawat, bidan dan petugas
lainnya.

Kewajiban keluarga merawat orang sakit :


1. Mengenal gangguan kesehatan setiap anggotanya. Keluarga mempunyai peranan yang
amat penting dalam mengembangkan, mengenal, dan menemukan masalah kesehatan dalam
keluarga sebagai antisipasi menjaga kesehatan dalam keluarganya
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. Keluarga merupakan
pusat pengambilan keputusan terpenting, termasuk membuat keputusan tentang masalah
kesehatan keluarga. Keluarga dalam tugasnya mengambil keputusan bagi anggota keluarga
disebut sebagai pelayanan rujukan kesehatan primer
3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda
4. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan
kepribadian anggota keluarga
5. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan, yang
menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada

27
Kewajiban-Kewajiban Orang yang Sakit dalam Islam:
1) Orang yang sakit memiliki kewajiban untuk senantiasa ridha terhadap qadha Allah
Subhanahu wa Taala, bersabar atas taqdir-Nya serta berbaik sangka kepada Rabbnya. Itu
yang lebih baik baginya.
2) Seyogyanya orang yang sedang sakit memiliki perasaan antara rasa takut dan harap,
yaitu takut akan siksa Allah Azza wa Jalla atas dosa-dosanya dan berharap akan rahmat
Allah Azza wa Jalla kepadanya. Sikap ini didasarkan pada hadits dari Anas bin Malik
Radhiyallahuanhu yang mengatakan:

3) Seberat apapun sakit yang diderita, tidak boleh baginya untuk berangan-angan ingin
mati. Hal ini karena ada hadits Ummul Fadhl Radhiyallahuanha, bahwa Rasulullah
Shallallahualaihi wa Sallam pernah datang kepada mereka tatkala Abbas Radhiyallahuanhu
(paman Rasulullah) menderita sakit, hingga Abbas berangan-angan ingin mati.
4) Jika ia masih memiliki tanggungan atas hak-hak orang lain, hendaklah ia tunaikan
kepada yang berhak apabila hal itu mudah baginya. Jika tidak mudah, hendaklah ia berwasiat
(kepada keluarganya). Sesungguhnya Nabi Shallallahualaihi wa Sallam berkata:

Barang siapa pernah mendhalimi hak saudaranya dalam hal harga diri atau hartanya,
hendaklah ia selesaikan sebelum datang hari kiamat, hari yang tidak diterima dinar tidak pula
dirham. Jika ia punya amalan shalih maka diambil darinya lalu diberikan kepada orang yang
punya hak. Jika ia tidak punya amalan shalih, maka diambil dosa-dosa orang yang
bersangkutan lalu dibebankan kepadanya.
5) Orang yang sakit hendaknya bersegera untuk menyiapkan wasiat karena ada sabda
RasulullahShallallahualaihi wa Sallam:

28




Tidak benar bagi seorang muslim yang bermalam dua malam sedangkan ia punya sesuatu
yang ingin diwasiatkannya kecuali semestinya wasiat itu telah ditulis di sisinya.
Ibnu Umar Radhiyallahuanhuma berkata: Tidaklah berlalu satu malam sejak aku
mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mengatakan itu kecuali sudah kutulis
wasiatku. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga Ashabus Sunan maupun
yang lain.
6) Wajib baginya untuk memberikan wasiat kepada sanak kerabatnya yang tidak
menerima warisan darinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya
secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah: 180)
7) Boleh baginya untuk berwasiat dengan sepertiga hartanya, tidak boleh lebih.
8) Hendaklah dalam berwasiat ini disaksikan oleh dua orang yang jujur yang muslim. Jika
tidak ada maka bisa dengan dua orang (yang jujur) non muslim dengan diminta agar
keduanya bersumpah untuk bisa dipercaya apabila ragu akan persaksiannya.
9) Adapun berwasiat agar hartanya diberikan kepada kedua orang tua dan sanak kerabat
yang berhak menerima warisan dari orang yang meninggalkan warisan itu, maka ini tidak
boleh dilakukan. Karena hal ini sudah dimansukh dengan ayat tentang warisan. Dan telah
dijelaskan pula oleh RasulullahShallallahualaihi wa Sallam dengan penjelasan yang paling
sempurna, ketika beliau berkhutbah pada haji Wada. Kata beliau:

Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang punya hak, dan tidak ada
wasiat bagi ahli waris.

29
10) Diharamkan membuat wasiat yang mendatangkan mudharat (kerugian) bagi orang lain,
seperti berwasiat agar sebagian ahli waris jangan diberikan hak warisnya atau berwasiat agar
melebihkan sebagian ahli waris atas sebagian yang lain. Hal ini disebabkan adanya firman
Allah Subhanahu wa Taala:






Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi
wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit
atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (An-Nisaa: 7)
11) Wasiat yang lalim (tidak adil) hukumnya batil lagi tertolak, karena adanya sabda
RasulullahShallallahualaihi wa Sallam:

Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada
asal darinya, maka ia tertolak.
12) Ketika banyak terjadi kebidahan pada sebagian besar kaum muslimin di masa ini.
Begitu pula dalam permasalahan yang berkaitan dengan jenazah. Maka termasuk kewajiban
seorang muslim adalah untuk berwasiat agar disiapkan (urusan kematiannya) dan agar
dikuburkan berdasarkan Sunnah (tuntunan Nabi Shallallahualaihi wa Sallam), sebagai
pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wa Taala (At-Tahrim: 6)

Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya


Orang sakit adalah orang yang lemah, yang memerlukan perlindungan dan sandaran.
Perlindungan (pemeliharaan, penjagaan) atau sandaran itu tidak hanya berupa materiil
sebagaimana anggapan banyak orang, melainkan dalam bentuk materiil dan spiritual
sekaligus.
Karena itulah menjenguk orang sakit termasuk dalam bab tersebut. Menjenguk si sakit
ini memberi perasaan kepadanya bahwa orang di sekitarnya (yang menjenguknya)
menaruhperhatian kepadanya, cinta kepadanya, menaruh keinginan kepadanya, dan
mengharapkan agar dia segera sembuh. Faktor-faktor spiritual ini akan memberikan

30
kekuatan dalam jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah. Oleh sebab itu,
menjenguk orang sakit, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya merupakan bagian
dari pengobatan menurut orang-orang yang mengert. Maka pengobatan tidak seluruhnya
bersifat materiil (kebendaan). Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan "menjenguk
orang sakit"
Dari abu musa r.a. berkata, bersabda Rasulullah saw.: jenguklah orang sakit, dan berikanlah
makanan kepada orang yang lapar, dan bebaskanlah tawanan. (H.R. Bukhari)

Hak orang islam terhadap orang islam lainnya ada enam:


1) Apabila engkau berjumpa dengannya berilah salam kepadanya.
2) Apabila ia mengundangmu penuhilah undangnnya itu.
3) Apabila ia meminta nasehat kepadamu, nasehatilah dia.
4) Apabila ia bersin, lalu memuji allah, maka doakanlah ia olehmu.
5) Apabila ia sakit, tengoklah ia, dan apabila ia meninggal dunia, maka iringkanlah dia.
(H.R. Muslim)

Menjenguk orang yang terbaring sakit. Sebagian ulama telah menetapkan menjenguk
orang sakit ini sebagai fardhu kifayah, seperti halnya memberi makan orang yang kelaparan
dan membebaskan tawanan. Jumhur ulama berpendapat bahwa menjenguk ini pada dasarnya
hukumnya sunnah. Namun pada perkembangannya ia menjadi wajib di beberapa kalangan
tertentu.
Perintah menjenguk orang sakit mengandung hikmah, dapat meringankan beban mental
keluarganya, sebagai ungkapan kasih sayang, mengingatkan manusia akan mati, memberikan
dorongan kejiwaan dan menghibur, dan lain-lain.

31
Daftar Pustaka

Friedman, M. Marilyn.( 1998). Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik.Jakarta : EGC.

Goldenberg, I., & Goldenberg, H. (2008). Family therapy: An overview. Belmont, CA: Thomson
Brooks/Cole.

Sudiharto. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan Transkultural.


Jakarta:EGC.

Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.

Sloane, P.D., Slatt, L.M., Ebell, M.H., & Jacques, L.B. (2002). Essential ofFamily Medicine (4th
Ed.). Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins (page 24)

McDaniel, S., Campbell, T.L., Hepworth, J., & Lorenz, A. (2005). Family - Oriented Primary Care
(2nd Ed.). New York: Springer (page 42)

Undang-Undang RI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Available at :


http://www.bkn.go.id/bapek/peraturan/undang-undang-uu/82-uu-no-1-tahun-1974-tentang-
perkawinan.html (Last Update: 2013, December 11)

Hak dan Kewajiban Orang Tua. Available at : http://roudhotulilmi.blogspot.com/2011/11/hak-dan-


kewajiban-orang-tua.html (Last Update 2013, December 12)

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan
Perumahan. Available at : http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-04.pdf (Last Update
2013, December 11)

Kewajiban-Kewajiban Orang Sakit. Available at : http://darussunnah.or.id/artikel-


islam/nasehat/kewajiban-kewajiban-orang-sakit/ (Last Update 2013, December 11)

Kewajiban Orang Tua dan Anak dalam Islam. Available at: http://al-islam-
indonesia.blogspot.com/2012/05/kewajiban-orang-tua-dan-anak-dalam.html (Last Update 2013,
December 12)

http://blog.ilmukeperawatan.com/konsep-keluarga.html

http://ikanpaus09.blogspot.com/2011/03/genogram.html

http://oncomko.multiply.com/journal/item/83/Dinamika_Keluarga..._ilmu_lagie..nie...?&item_id=83
&view:replies=reverse&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

32