Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN NEONATUS, BAYI, BALITA DAN ANAK PRA SEKOLAH

HAND OUT

AKADEMI KEBIDANAN AL-ISHLAH CILEGON

FIKY ROFIQOH E. F., SKM


2015 2016
HAND OUT

Topik : Pemantauan Tumbuh Kembang Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah
Sub Pokok : Menguasai dan melakukan pemantauan tumbuh kembang neonatus, bayi, balita
dan anak pra sekolah
Objektif : Setelah Mengikuti pelajaran ini mahasiswa diharapkan dapat :
Perilaku 1. Menjelaskan, memahami dan melakukan pemantauan tumbuh kembang
Mahasiswa neonatus, bayi, balita dan anak pra sekolah dilihat dari pertumbuhan Berat
Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB)
Referensi : 1. Mary Hamilton. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC
2. Manuaba, I. G. Bagus. 1998. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana. Jakarta : EGC
3. Doenges dan Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal Bayi. Jakarta :
EGC
4. Depkes RI. 2010. Asuhan Persalinan Normal
5. Kemenkes RI. 2010. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial,
Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta : Depkes RI
6. Prof. Achmad Surjono, PhD, SpAK. 1998. Penatalaksanaan Neonatus Risiko
Tinggi. Jakarta : EGC.
7. Saifuddin, Abdul. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: JNP KKR-POG I-Yayasan Bina Pustaka
Sarwono
8. Prawirohardjo, Sarwono. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
9. Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
10. Saadah, Nurlailis. 2015. Modul Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan
Anak Pra Sekolah Semester 4 Kegiatan Belajar 2. Jakarta :Pusdiklat Nakes
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia.
11. Johnson R. Taylor W. (2000). Skill For Midwifery Practice
12. Varney. (1997). Varneys Midwifery
13. Carcio H.A. (1999)., Advanced Health Assesment Of Woman
14. Bobak, K. Jensen. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
15. Johnson, Ruth dan Wendy Taylor. 2004. Praktek Kebidanan . Jakarta : EGC.
16. Buku IDAI Neonatologi. 2012
17. Depkes RI. 1992. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga. Jakarta :
Depkes RI.
18. Markum. A.H. dkk. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
19. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
20. Behrman. Kliegman. Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak ( Nelson Textbook of
Pediatrics ). Jakarta : EGC.
21. Dhamayanti. Meita. 2005. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Untuk
Meningkatkan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Bandung : FK Unpad
Subbagian Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Perjan RSHS Bandung.
22. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta; Salemba Mesika.
23. Rukiyah, Ai Yeyeh.2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Jakarta;
Trans Info Media.
A. Pertumbuhan dan perkembangan
1. Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambah jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh
yang secara kuantitatif dapat diukur (Whalley dan Wong, 2000).
Pertumbuhan adalah adanya perubahan dalam jumlah akibat pertambahan sel dan
pembentukan protein baru sehingga meningkatkan jumlah dan ukuran sel
diseluruh bagian tubuh (Sutjiningsih, 1998).
Pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel seluruh bagian tubuh
yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur; sedangkan perkembangan adalah
bertambah sempurnanya fungsi dari alat tubuh (Depkes RI).
b. Perkembangan
Perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat
dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Whalley dan Wong, 2000).
Perkembangan adalah pertumbuhan dan perluasan secara peningkatan sederhana
menjadi komplek dan meluasnya kemampuan individu untuk berfungsi dengan
baik (Sutjiningsih, 1998).
Perkembangan adalah perubahan strukitur maupun fungsi berupa perkembangan
fisik maupun psikis (Bjorklund dan Bjorkund, 1992 dalam Abin Syamsudin
Makmun, 1996).
c. Pola pertumbuhan dan perkembangan
Yaitu peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada
anak.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan
merupakan perubahan individu baik fisik maupun psikis yang berlangsung sepanjang
daur kehidupan dan terjadi secara teratur dan terpola. Sedangkan pertumbuhan
merupakan perubahan yang terbatas pada pola fisik yang dialami oleh individu.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubhan ukuran, besar, jumlah
atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun idividu. Pertumbuhan bersifat
kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram / kilogram), satuan
panjang (cm, m), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan
nitrogen dalam tubuh). Sedangkan perkembnagan (development) adalah pertambahan
kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks.
Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu perubahan ukuran, proporsi,
hilnagnya ciri-ciri lama serta munculnya ciri-ciri baru. Keunikan pertumbuhan adalah
mempunyai kecepatan yang berbeda-beda di setiap kelompok umur dan masing-
masing organ juga mempuyai pola pertumbuhan yang berbeda.
Proses perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan, sehingga setiap
pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan merupakan hasil
interaksi kematangan susunan syaraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya.
Perkembangan merupakan fase awal meliputi beberapa aspek kemampuan
fungsional, yaitu kognitif, motorik, emosi, sosial dan bahasa.
2. Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Pola perkembangan fisik yang terarah
Terdiri dari dua prinsip yaitu cephalocaudal dan proximal distal (Wong, 1995) :
1) Cephalocaudal
Adalah pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari kepala yang
ditandai dengan perubahanukuran kepala yang lebih besar, kemudian
berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan
menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan,
tangan dan kaki
2) Proximaldistal
Yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan
menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat / sumbu tengah,
seperti menggerakkan bahu dahulu baru kemudian jari-jari.
b. Pola perkembangan dari umum ke khusus
Yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan
daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih
kompleks. Misalnya melambaikan tangan kemudian memainkan jari.
c. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan yang
dapat digunakan untuk mendeteksi dini perkembangan selanjutnya. Pada masa ini
dibagi menjadi lima tahap yaitu :
1) Masa pra lahir
Terjadi pertumbuhan yang sangat cepat padaalatdan jaringan tubuh
2) Masa neonatus
Terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan hampir
sedikit aspek pertumbuhan fisik dalam perubahan
3) Masa bayi
Terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya dan
mempunyai kemampuan untuk melindungi dan menghindari dari hal yang
mengancam dirinya
4) Masa anak
Terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, minat dan cara
penyesuaian dengan lingkungan
5) Masa remaja
Terjadi perubahan kearah dewasa sehingga kematangan pada tanda-tanda
pubertas
d. Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan / belajar
Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses
kematangan dan kematangan yang dicapainya dapat disempurnakan melalui
rangsangan yang tepat. Masa ini merupakan masa kritis yangharus dirangsang
agar mencapai perkembangan selanjutnya melalui proses belajar (Gunarsa dalam
Hidayat, 2005)
3. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Faktor herediter
Merupakan faktor pertumbuhan yang dapat diturunkan yaitu suku, ras, dan jenis
kelamin (Marlow, 1988 dalam Supartini, 2004). Jenis kelamin ditentukan sejak
dalam kandungan. Anak laki-laki setelah lahir cenderung lebih besar dan tinggi
dari pada anak perempuan, hal ini akan nampak saat anak sudah mengalami masa
pra-pubertas. Ras dan suku bangsa juga mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan. Misalnya suku bangsa Asia memiliki tubuh yang lebih pendek
dari pada orang Eropa atau suku Asmat dari Irian berkulit hitam.
b. Faktor lingkungan
1) Lingkungan pra natal
Kondisi lingkungan yang mempengaruhi fetus dalam uterus yang dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin antara lain gangguan
nutrisi karena ibu kurang mendapat asupan gizi yang baik, gangguan endokrin
pada ibu (diabetes mellitus), ibu yang mendapatkan terapi sitostatika atau
mengalami infeksi rubela, toxoplasmosis, sifilis dan herpes. Faktor
lingkungan yang lain adalah radiasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada
organ otak janin.
2) Lingkungan post natal
Lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
setelah bayi lahir adalah :
a) Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang
keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat
kebutuhan zat gizi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak,
mineral, vitamin dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak atau kurang
terpenuhi maka dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Asupan nutrisi yang berlebihan juga berdampak buruk bagi kesehatan
anak, yaitu terjadi penumpukan kadar lemak yang berlebihan dalam
sel/jaringan bahkan pada pembuluh darah. Penyebab status nutrisi kurang
pada anak :
- Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif
- Hiperaktivitas fisik / istirahat yang kurang
- Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi
- Stres emosi yang dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau
absorbsi makanan tidak adekuat
b) Budaya lingkungan
Budaya keluarga atau masyarakat akan mempengaruhi bagaimana mereka
dalam mempersepsikan dan memahami kesehatan dan perilaku hidup
sehat. Pola perilaku ibu hamil dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya,
misalnya larangan untuk makan makanan tertentu padahal zat gizi
tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.
Keyakinan untuk melahirkan d dukun beranak dari pada di tenaga
kesehatan. Setelah anak lahir dibesarkan di lingkungan atau berdasarkan
lingkungan budaya masyarakat setempat.
c) Status sosial dan ekonomi keluarga
Anak yang dibesarkan di keluarga yang berekonomi tinggi untuk
pemenuhan kebutuhan gizi akan tercukupi dengan baik dibandingkan
dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang berekonomi sedang atau
kurang. Demikian juga dengan status pendidikan orang tua, keluarga
dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima arahan terutama
tentang peningkatan pertumbuhan dan perkembangan anak, penggunaan
fasilitas kesehatan, dll dibandingkan dengan keluarga dengan latar
belakang pendidikan rendah.
d) Iklim/cuaca
Iklim tertentu akan mempengaruhi status kesehatan anak misalnya musim
penghujan akan dapat menimbulkan banjir sehingga menyebabkan
sulitnya transportasi untuk mendapatkan bahan makanan, timbul penyakit
menular, dan penyakit kulit yang dapat menyerang bayi dan anak-anak.
Anak yang tinggal di daerah endemik misalnya endemik demam berdarah,
jika terjadi perubahan cuaca wabah demam berdarah akan meningkat.
e) Olahraga/latihan fisik
Manfaat olah raga atau latihan fisikyang teratur akan meningkatkan
sirkulasi darah sehingga meningkatkan suplai oksigen ke seluruh tubuh,
meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot dan
jaringan sel
f) Posisi anak dalam keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah atau anak
bungsu akan mempengaruhi poa perkembangan anak tersebut diasuh dan
dididik dalam keluarga.
g) Status kesehatan
Status kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian pertumbuhan
dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak dalm kondisi sehat
dan sejahtera maka percepatan pertumbuhan dan perkembangan akan
lebih mudah dibandingkan dengan anak dalam kondisi sakit.
c. Faktor hormonal
Faktor hormonal yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
adalah somatotropon yang berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi
badan, hormon tiroid dengan mestimulasi metabolisme tubuh, glukokortiroid
yang berfungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk
memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi estrogen selanjutnya
hormon tersebut akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki
maupun perempuan sesuai dengan peran hormonnya.
4. Tahapan / Periode Pertumbuhan dan Perkembangan
Perkembangan anak secara umum terdiri atas tahapan prenatal, neonatus, periode
bayi, pra sekolah, pra remaja dan remaja.
a. Masa pranatal
Masa pranatal terdiri dari masa embrio dan fetus. Pada fase embrio pertumbuhan
dimulai 8 minggu pertama dengan terjadi defensiasi yang cepat dari ovum
menjadi suatu organisme dan terbentuknya manusia. Pada minggu kedua terjadi
pembelahan sel dan terjadi pemisahan jaringan antara entoderm dan ekstoderm,
pada minggu ketiga terbentuk lapisan mesoderm. Pada masa ini sampai umur
tujuh minggu belum tampak terjadi gerakan yang menonjol hanya denyut jantung
janin sudah mulai dapat berdenyut sejak 4 minggu. Masa fetus terjadi antara
minggu ke-12 sampai 40 terjadi peningkatan fungsi organ yaitu bertambah
panjang dan berat badan terutama pertumbuhan dan penambahan jaringan
subcutan dan jaringan otot.
b. Masa neonatus (0 28 hari)
Pada masa neonatus (0 28 hari) adalah awal dari pertumbuhan dan
perkembangan setelah lahir, masa ini merupakan masa terjadi kehidupan yang
baru dalam ekstra uteri dengan terjadi proses adaptasi semua sistem organ tubuh.
Proses adaptasi dari organ tersebut dimulai dari akrivitas pernapasan yang disertai
pertukaran gas dengan frekuensi pernapasan antara 35-50 x/menit, penyesuaian
denyut jantung antara 120-160x/menit dengan ukuran jantung lebih besar apabila
dibandingkan dengan rongga dada, terjadi aktivitas bayi yang mulai meningkat.
Selanjutnya diikuti perkembangan fungsi organ-organ tubuh lainnya.
c. Masa Bayi (28 hari 1 tahun)
d. Masa anak (1 3 tahun)
e. Masa pra sekolah (3 5 tahun)
f. Masa sekolah (5 12 tahun)
g. Masa remaja ( 12 18 / 20 tahun)
5. Ciri-ciri Pertumbuhan dan Perkembangan
Tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu
mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu :
a. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai
maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
b. Terdapat masa percepatan dan masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang
yang berlainan organ-organ.
c. Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak,tetapi kecepatannya
berbeda antara anak satu dengan lainnya.
d. Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem susunan saraf.
e. Aktifitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas.
f. Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.
g. Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum
gerakan volunter tercapai.
6. Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
Secara umum pertumbuhan dan perkembangan memiliki beberapa prinsip dalam
prosesnya. Prinsip tersebut dapat menentukan ciri atau pola dari pertumbuhan dan
perkembangan setiap anak. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah sebagai
berikut :
a. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung pada aspek
kematangan susunan syaraf pada manusia, di mana semakin sempurna atau
kompleks kematangan saraf maka semakin sempurna pula proses pertumbuhan
dan perkembangan yang terjadi dari proses konsepsi sampai dengan dewasa.
b. Proses perkembangan dan pertumbuhan setiap individu adalah sama, yaitu
mencapai proses kematangan, meskipun dalam proses pencapaian tersebut tidak
memiliki kecepatan yang sama antara individu yang satu dengan yang lain.
c. Proses pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola khas yang dapat terjadi
mulai dari kepala hingga ke seluruh bagian tubuh atau juga mulai dari
kemampuan yang sederhana hingga mencapai kemampuan yang lebih kompleks
sampai mencapai kesempurnaan dari tahap pertumbuhan dan perkembangan
(Narendra, 2002).
7. Indikator Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Pertumbuhan
1) Berat badan
Pada masa pertumbuhan berat badan bayi dibagi menjdai dua yaitu usia 0 6
bulan dan usia 6 12 bulan. Untuk usia 0 6 bulan berat badan akan
mengalami penambahan setiap seminggu sekitar 140 200 gram dan berat
badannya akan menjadi dua kali berat badan lahir pada akhir bulan ke 6.
Sedangkan pada usia 6 12 bulan terjadi penambahan setiap seminggu
sekitar 40 gram dan pada akhir bulan ke 12 akan menjadi penambahan 3 kali
lipat berat badan lahir.
Pada masa bermain, terjadi penambahan berat badan sekitar 4 kali lipat dari
berat badan lahir pada usia kurang lebih 2,5 tahun serta penambahan berat
badan setiap tahunnya adalah 2-3 kilogram. Pada masa pra sekolah dan
sekolah akan terjadi penambahan berat badan setiap tahunya kurang lebih 2-3
kilogram.
2) Tinggi badan
Pada usia 0 6 bulan bayi akan mengalami penambahan tinggi badan sekitar
2,5 cm setiap bulannya. Pada usia 6 12 bulan akan mengalami penambahan
tinggi badan hanya sekitar 1,25 cm setiap bulannya. Pada akhir tahun pertama
akan meningkat kira-kira 50% dari tinggi badan waktu lahir. Pada masa
bermain penambahan selama tahun ke 2 kurang lebih 12 cm sedangkan
penambahan tahun ketiga rata-rata 4 6 cm. Pada masa pra sekolah,
khususnya diakhir usia 4 tahun, terjadi penambahan rata-rata 2 kali lipat dari
tinggi badan waktu lahir dan mengalami penambahan setiap tahunya kurang
lebih 6-8 cm. Pada masa sekolah akan mengalami penambahan setiap
tahunnya.setelah usia 6 tahun tinggi badan bertambah rata-rata 5 cm,
kemudian pada usia 13 tahun bertambah lagi menjadi rata-rata 3 kali lipat dari
tinggi badan waktu lahir.
3) Lingkar kepala
Pertumbuhan pada lingkar kepala ini terjadi dengan sangat cepat sekitar 6
bulan pertama, yaitu dari 35 43 cm. Pada usia-usai selanjutnya pertumbuhan
lingkar kepala mengalami perlambatan. Pada usia 1 tahun hanya mengalami
pertumbuhan kurang lebih 46,5 cm. Pada usia 2 tahun mengalami
pertumbuhan kurang lebih 49 cm, kemudian akan bertambah 1 cm sampai
dengan usia tahun ke tiga bertambah lagi kurang lebih 5 cm sampai dengan
usia remaja.
4) Gigi
Pertumbuhan gigi pada masa tumbuh kembang banyak mengalami perubahan
mulai dari pertumbuhan sampai penanggalan. Pertumbuhan gigi menjadi 2
bagian yaitu bagaian rahang atas dan bagian rahang bawah.
a) Pertumbuhan gigi bagian rahang atas
- Gigi insisi sentral pada usia 8 12 bulan
- Gigi insisi lateral pada usia 9 13 bulan
- Gigi taring atau kakinus pada usia 16 22 bulan
- Molar pertama anak laki-laki pada usia 13 19 bulan
- Molar pertama anak perempuan pada usia 14 18 bulan, sedangkan
molar kedua pada usia 25 33 bulan
b) Pertumbuhan gigi bagian rahang bawah
- Gigi insisi sentral pada usia 6 10 bulan
- Gigi insisi lateral pada usia 10 16 bulan
- Gigi taring atau kakinus pada usia 17 23 bulan
- Molar pertama anak laki-laki pada usia 14 18 bulan
- Molar pertama anak perempuan pada usia 23 30 bulan, sedangkan
molar kedua 29 31 bulan
5) Organ penglihatan
Perkembangan organ penglihatan dapat dimuali pada saat lahir. Pada usia 1
bulan bayi memiliki perkembangan, yaitu adanya kemampuan melihat untuk
mengikuti gerakan dalam rentang 90 derajat, dapat melihat orang secara terus
menerus, dan kelenjar air mata sudah mulai berfungsi. Pada usia 2 3 bulan
memiliki penglihatan perifer hingga 180 derajat. Pada usia 4 5 bulan
kemampuan bayi untuk memfiksasi sudah mulai pada hambatan 1,25 cm,
dapat mengenali botol susu, melihat tangan saat duduk atau berbaring,
melihat bayangan di cermin, dan mampu mengakomodasi objek. Usia 5 7
bulan dapat menyesuaikan postur untuk melihat objek, mampu
mengembangkan warna kesukaan kuning dan merah, menyukai rangsangan
visual kompleks, serta mengembangkan koordinasi mata dan tangan. Pada
usia 7 11 bulan mampu memfiksasi objek yang sangat kecil. Pada usia 11
12 bulan ketajaman penglihatan mendekati 20/20, dapat mengikuti objek yang
dapat bergerak. Pada usia 12 14 bulan mampu mengidentifikasi bentuk
geometrik. Pada usia 18 24 bulan mampu berakamodasi dengan baik.
6) Organ pendengaran
Setelah lahir, bayi sudah dapat berespons terhadap bunyi yang keras dan
refleks. Pada usia 2 3 bulan mampu memalingkan kepala ke samping bila
bunyi setinggi telinga. Pada usia 3 4 bulan anak memiliki kemampuan
dalam melokalisasi bunyi dengan makin kuat dan mulai mampu membuat
bunyi tiruan. Pada usia 6 8 bulan mampu berespons pada nama sendiri.
Pada usia 10 12 bulan mampu mengenal beberapa kata dan artinya. Pada
usia 18 bulan mulai dapat membedakan bunyi. Pada usia 36 bulan mampu
membedakan bunyi yang halus dalam bicara. Pada usia 48 bulan mulai
membedakan bunyi yang serupa dan mampu mendengarkan yang lebih halus.
7) Organ seksual
Pertumbuhan organ seksual laki-laki antara lain terjadinya pertumbuhan yang
cepat pada penis pada usia 12 15 tahun, testis pada usia 11 15 tahun,
kemudian rambut pubis pada usia 12 15 tahun. Perkembangan pubertas
diawali dengan beberapa tahap sebagai berikut (Soetjiningsih, 1998) :
a) Tahap I (pra pubetas)
Pada dasarnya sama dengan masa anak-anak, tidak terdapat rambut pubis.
b) Tahap II (pubertas)
c) Tahap III
Terjadi pembesaran penis awal terutama dalam panjang, testis dan
skrotum terus membesar, serta rambut lebih lebat, kasar, keriting, dan
merata pada seluruh pubis.
d) Tahap IV
Terjadi peningkatan ukuran penis dengan pertumbuhan diameter, glans
lebih besar dan lebih lebar, serta skrotum lebih gelap.
Pertumbuhan organ seksual perempuan antara lain terjadinya pertumbuhan
payudara antara usia 10 15 tahun dan rambut pubis antara usia 11 14
tahun. Perkembangan payudara memiliki tahap-tahap sebagai berikut :
a) Tahap I
Tumbuhnya puting susu dengan area kecil, penonjolan disekitarpapila,
dan terjadinya pembesaran diameter areola
b) Tahap II
Pembesaran lanjut dari payudara dan areola tanpa pemisahan konturnya
c) Tahap III
Terjadi proyeksi areola dan papila
d) Tahap IV
Tahap konfigurasi dewasa pryoksi papila yang hanya disebabkan oleh
resesi areola ke dalam kontur umum.
Pertumbuhan rambut pubis memililiki tahap-tahap sebagai berikut
(Wong,1996) :
a) Tahap I
Tidak terdapat rambut pubis
b) Tahap II
Terjadi pertumbuhan rambut pubis yang jarang.
c) Tahap III
Rambut pubis lebih hitam, kasar, keriting dan merata pada seluruh pubis.
d) Tahap IV
Rambut pubis lebih lebat dan keriting
e) Tahap V
Rambut pubis orang dewasa dalam penyebaran, baik kuantitas, jenis,
maupun pola penyebaran kebagian dalam paha.
b. Perkembangan
1) Perkembangan motorik halus
a) Masa neonatus (0 28 hari)
Perkembangan motorik halus pada masa ini dimulai dengan adanya
kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons
terhadap gerakan jari atau tangan.
b) Masa bayi (28 hari 1 tahun)
- Usia 1 4 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah dapat melakukan
hal-hal seperti memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi ke
sisi, menvoba memegang dan memasukan benda kedalam mulut,
memegang benda tapi terlepas, memerhatikan tangan dan kaki,
memegang benda dengan kedua tangan, serta menahan benda di
tangan walaupun hanya sebentar.
- Usia 4 8 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah sudah mulai
mengamati benda, menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk
memegang, mengekplorasi benda yang sedang dipegang, mengambil
objek dengan tangan tertangkup, mampu menahan kedua benda di
kedua tangan secara simultan, menggunakan bahu dan tangan sebagai
satu kesatuan, serta memindahkan objek dari satu tangan ketangan
yang lain.
- Usia 8 12 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah mencari atau
merainh benda kecil; bila diberi kubus mampu memindahkan,
mengambil, memegang dengan telunjuk dan ibu jari,
membenturkannya, serta meletakkan benda atau kubus ke tempatnya.
c) Masa anak (1 2 tahun)
Perkembangan motorik halus pada usia ini dapat ditunjukan dengan
adanya kemampuan dalam mencoba, menyusun, atau membuat menara
pada kubus.
d) Masa pra sekolah
Perkembangan motorik halus dapat dilihat pada anak, yaitu mulai
memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua
atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang dan menggambar
orang, melepas objek dengan jari lurus, mampu menjepit benda,
melambaikan tangan, menggunakan tanggannya untuk bermain,
menempatkan objek ke dalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir
dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan
jari, serta membuat coretan diatas kertas (Wong, 2000).
2) Perkembangan motorik kasar
a) Masa neonatus
Perkembangan motorik kasar yang dapat dicapai pada usia ini diawali
dengan tanda gerakan seimbang pada tubuh dan mulai mengangkat
kepala.
b) Masa bayi
- Usia 1 4 bulan
Perkembangan motorik kasar pada usia ini dimulai dengan
kemampuan mengangkat kepala saat tegkurap, mencoba duduk
sebentar dengan ditopang, mampu duduk dengan kepala tegak, jatuh
terduduk dipangkuan ketika disokong pada posisi berdiri, kontrol
kepala sempurna, mengangkat kepala sambil berbaring terlentang,
berguling dari terlentang ke miring, kesisi lengan dan tungkai kurang
fleksi, dan berusaha untuk merangkak.
- Usia 4 8 bulan
Usia perkembangan motorik kasar awal bulan ini dapat dilihat pada
pertumbuhan dalam aktivitas, seperti posisi telungkup pada alas dan
sudah mulai mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan
kedua tangannya. Pada bulan ke empat sudah mampu memalingkan
kepala ke kanan dan kiri, duduk dengan kepala tegak, membalikan
badan, bangkit dengan kepala tegak, menumpu beban pada kaki
dengan lengan berayun kedepan dan kebelakang, berguling dari
terlentang dan tengkurap, serta duduk dengan bantuan dalam waktu
yang singkat.
- Usia 8 12 bulan
Perkembangan motorik kasar dapat diawali dengan duduk tanpa
pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit lalu berdiri, berdiri 2
detik dan berdiri sendiri.
c) Masa anak (1 2 tahun)
Dalam perkembangan masa anak terjadi perkembangan motorik kasar
secara signifikan. Pada masa ini anak sudah mampu melangkah dan
berjalan dengan tegak. Sekitar usia 18 bulan anak mampu menaiki tangga
dengan cara 1 tangan dipegang. Pada akhir tahun kedua sudah mampu
berlari-lari kecil, menendang bola, dan mulai mencoba melompat.
d) Masa pra sekolah
Perkembangan motorik kasar masa prasekolah ini dapat diawali dengan
kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama satu sampai lima detik,
melompat dengan satu kaki, berjalan dengan tumit ke jari kaki,
menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan bantuan
(Wong, 2000).
3) Perkembangan bahasa
a) Masa neonatus (0 28 hari)
Perkembangan bahasa masa neonatus ini dapat ditunjukan dengan adanya
kemampuan bersuara (menangis) dan bereaksi terhadap suara atau bel.
b) Masa bayi (28 hari 1 tahun)
- Usia 1 4 bulan
Perkembangan bahasa pada usia ini ditandai dengan adanya
kemampuan bersuara dan tersenyum, mengucapkan huruf hidup,
berceloteh, mengucapkan kata oh/ah, tertawa dan berteriak,
mengoceh spontan, serta bereaksi dengan mengoceh.
- Usia 4 8 bulan
Perkembangan bahasa pada usia ini adalah dapat menirukan bunyi
atau kata-kata, menoleh ke arah suara atau sumber bunyi, tertawa,
menjerit, menggunakan vokalisasi semakin banyak, serta
menggunakan kata yang terdiri atas dua suku kata dan dapat membuat
dua bunyi vokal yang bersamaan seperi ba-ba.
- Usia 8 12 bulan
Perkembangan bahasa pada usia ini adalah mampu mengucapkan kata
papa dan mama yang belom spesifik, mengoceh hingga
mengatakannya secara spesifik, serta dapat mengucapkan satu
samapai dua kata.
c) Masa anak (1 2 tahun)
Perkembangan bahasa masa anak ini adalah dicapainya kemampuan
bahasa pada anak yang mulai ditandai dengan anak mampu memiliki
sepuluh perbendaharaan kata; tingginyakemampuan meniru, mengenal,
dan responsip terhadap orang lain; mampu menujukan dua gambar;
mampu mengkombinasikan kata-kata; seta mulai mampu menunjukan
lambaian anggota badan.
d) Masa pra sekolah
Perkembangan bahasa diawali dengan adanya kemampuan menyebutkan
hingga empat gambar; menyebutkan satu hingga dua warna; menyebutkan
kegunaan benda; mengitung; mengartikan dua kata; mengerti empat kata
depan; mengerti beberapa kata sifat dan jenis kata lainnya; menggunakan
bunyi untuk mengidentifikasi objek, orang, dan aktivitas; menirukan
berbagai bunyi kata; memahami arti larangan; serta merespons panggilan
orang dan anggota keluarga dekat.
4) Perkembangan perilaku atau adaptasi sosial
a) Masa neonatus (0 28 hari)
b) Masa bayi (28 hari 1 tahun)
- Usia 1 4 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini dapat diawali dengan
kemampuan mengamati tangannya: tersenyum spontan dan membalas
senyum bila di ajak tersenyum; mengenali ibunya dengan penglihatan,
penciuman, pendengaran, dan kontak; tersenyum pda wajah manusia;
waktu tidur dalam sehari lebih sedikit dari pada waktu terjaga;
membentuk siklus tidur bangun; menangis bila terjadi sesuatu yang
aneh; membedakan wajah-wajah yang dikenal dan tidak dikenal;
senang menatap wajah-wajah yang dikenalnya; serta terdiam bila ada
orang yang tak dikenal (asing).
- Usia 4 8 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini antara lain anak merasa
takut dan terganggu dengan keberadaan orang asing, mulai bermain
dengan mainan, mudah frustasi, serta memukul-mukul lengan dan
kaki jika sedang kesal.
- Usia 8 12 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini dimulai dengan
kemampuan bertepuk tangan, menyatakan keinginan, sudah mulai
minum dengan cangkir, menirukan kegiatan orang, bermain bola atau
lainnya dengan orang lain.
c) Masa anak (1 2 tahun)
Perkembangan adaptasi sosial masa anak dapat ditunjukan dengan adanya
kemampuan membantu kegiatan dirumah, menyuapi boneka, mulai
menggosok gigi serta mencoba mengenakan baju sendiri.
d) Masa pra sekolah
Perkembangan adaptasi sosial pada masa prasekolah adalah adanya
kemampuan bermain dengan permainan sederhana, menangis jika
dimarahi, membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh,
menunjukan peningkatan kecemasan terhadap perpisahan, serta mengenali
anggota keluarga (Wong, 2000).
8. Tahap-Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Masa pra natal
Masa prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus. Pada fase
embrio, pertumbuhan dapat diawali mulai dari konsepsi hingga 8 minggu pertama
yang dapat terjadi pertumbuhan yang cepat dari ovum menjadi suatu organisme
dan terbentuknya manusia. Pada minggu ke-2, terjadi pembelahan sel dan
pemisahan jaringan antara endoterm dan ektodrm. Pada minggu ke-3 terbentuk
lapisan mesoderm. Pada masa ini sampai usia 7 minggu belum tampak adanya
gerakan yang berarti melainkan hanya terdapat denyut jantung janin, yaitu sudah
mulai dapat berdenyut sejak 4 minggu. Pada fase fetus terjadi sejak usia 9 minggu
hingga kelahiran, sedangkan minggu ke-12 sampai ke-40 terjadi peningkatan
fungsi organ, yaitu bertambahnya ukuran panjang dan berat badan terutama
pertumbuhan serta penambahan jaringan subkutan dan jaringan otot.
b. Masa post natal
1) Masa neonatus (0 28 hari)
Masa ini merupakan masa terjadinya kehidupan yang baru dalam
ekstrauteri, yaitu adanya proses adaptasi semua sistem organ tubuh. Proses
adaptasi dari organ tersebut dimulai dari aktifitas pernapasan yang disertai
pertukaran gas dengan frekuensi pernapasan antara 35-50 kali permenit,
penyesuaian denyut jantung antara 120-160 kali per menit dengan ukuran
jantung lebih besar apabila dibandingkan dengan rongga dada. Perubahan
selanjutnya sudah dimulai proses pengeluaran tinja yang terjadi dalam waktu
24 jam yang didalamnya terdapat mekonium. Hal tersebut akan dilanjutkan
dengan proses defekasi, seperti pada proses ekskresi dari apa yang dimakan
(ASI). Frekuensi defekasi tersebut dapat berkisar antara 3-5 kali seminggu
(bergantung pada kondisi bayi dan susu yang dikonsumsi, apakah ASI
ataukah susu formula).
Perubahan pada fungsi organ yang lainnya adalah ginjal yang belum
sempurna, urine masih mengandung sedikit protein dan pada minggu pertama
akan dijumpai urine berwarna merah muda karena banyak mengandung
senyawa urat. Keadaan fungsi hati pun masih relatif imatur dalam
memproduksi faktor pembekuan, sebab belum terbentuknya usus yang akan
berperan dalam absorpsi vitamin K dan imunologi untuk kekebalan bayi.
2) Masa bayi
Masa bayi ini dibagi menjadi dua tahap perkembangan. Tahap pertama
(antara usia 1-12 bulan) yaitu pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini
dapat berlangsung secara terus menerus, khususnya dalam peningkatan
susunan saraf. Tahap kedua (usia 1-2 tahun) yaitu kecepatan pertumbuhan
pada masa ini mulai menurun dan terdapat percepatan pada perkembangan
motorik
3) Masa pra sekolah
Perkembangan pada masa ini dapat berlangsung stabil dan masih terjadi
peningkatan pertumbuhan serta perkembangan, khususnya pada aktifitas fisik
dan kemampuan kognitif.
4) Masa sekolah
Perkembangan masa sekolah ini lebih cepat dalam kemampuan fisik dan
kognitif dibandingkan dengan masa prasekolah.
5) Masa remaja
Pada tahap perkembangan remaja terjadi perbedaan pada perempuan dan
laki-laki. Pada umumnya wanita 2 tahun lebih cepat untuk masuk ke dalam
tahap remaja atau masa pubertas bila dibandingkan dengan anak laki-laki dan
perkembangan ini ditunjukan pada perkembangan pubertas.
9. Deteksi Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Pertumbuhan
1) Pengukuran antropometri
Pengukuran antropometrik meliputi :
a) Berat badan
Untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada
pada tubuh (tulang, otot, lemak, cairan tubuh) sehingga akan diketahui
status gizi anak atau tumbuh kembang anak. Berat Badan (BB) dapat juga
dipakai dalam perhitungan dosis obat. Penilaian berat badan berdasarkan
umur menurut World Health Organitation (WHO) dengan baku National
Centers For Health Statistics (NCHS) yaitu menggunakan persentil
sebagai berikut : persentil ke SD 3 dikatakan normal, sedangkan
persentil 3 termasuk kategori malnutrisi. Penilaian berat badan
berdasarkan tinggi badan menurut WHO yaitu menggunakan persentase
dari median sebagai berikut : 80 100% dikatakan normal, sedangkan <
80% dikatakan malnutrisi akut (tresting). Penilaian berat badan
berdasarkan tinggi badan menurut NCHS yaitu menggunakan persentil
sebagai berikut : persentil ke 75 25 dikatakan normal, persentil 10 - 5
malnutrisi sedang dan persentil < 5 dikatakan malnutrisi berat. Selain
pengguanaan standar baku NCHS juga dapat digunakan Kartu Menuju
Sehat (KMS).
Tabel 1.
Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart
Baku Antropometeri WHO-NCHS
No Indeks yang dipakai Batas Pengelompokan Sebutan Status Gizi
1 BB/U < -3 SD Gizi buruk
- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang
- 2 s/d +2 SD Gizi baik
> +2 SD Gizi lebih
2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek
- 3 s/d <-2 SD Pendek
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi
3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus
- 3 s/d <-2 SD Kurus
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Gemuk
Tabel 2.
Berat Badan Rata-rata Umur 0-5 Tahun :
Berat (Gram)
Umur
Standar 80% Standar
Lahir 3.400 2.700
0 1 Bulan 4.300 3.400
2 Bulan 5.000 4.000
3 Bulan 5.700 4.500
4 Bulan 6.300 5.000
5 Bulan 6.900 5.500
6 Bulan 7.400 5.900
7 Bulan 8.000 6.300
8 Bulan 8.400 6.000
9 Bulan 8.900 7.100
10 Bulan 9.300 7.400
11 Bulan 9.600 7.700
12 Bulan 9.900 7.900
1 tahun 3 Bulan 10.600 8.500
6 Bulan 11.300 9.000
9 Bulan 11.900 9.600
2 tahun 0 Bulan 12.400 9.900
3 Bulan 12.900 10.500
6 Bulan 13.500 10.800
9 Bulan 14.000 11.200
3 tahun 0 Bulan 14.500 11.600
3 Bulan 15.000 12.000
6 Bulan 13.500 12.400
9 Bulan 16.000 12.900
4 tahun 0 Bulan 16.500 13.200
3 Bulan 17.000 13.600
6 Bulan 17.400 14.000
9 Bulan 17.900 14.400
5 tahun 0 Bulan 18.400 14.700
Sumber : Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI

Kenaikan berat badan pada bayi cukup bulan kembali pada hari ke-10.
Umur 10 hari : BBL
Umur 5 balan : 2 x BBL
Umur 1 tahun : 3 x BBL
Umur 2 tahun : 4 x BBL
Pra sekolah : meningkat 2 kg/tahun
Adolecent : meningkat 3-3,5 kg/tahun
Kenaikan BB pada tahun pertama kehidupan
Trimester I : 700-1000 gram/bulan
Trimester II : 500-600 gram/bulan
Trimester III : 350-450 gram/bulan
Trimester IV : 250-350 gram/bulan
Perkiraan BB dalam kilogram
umur (bulan) + 9
Usia 3 - 12 bulan :
2
Usia 1 - 6 tahun : umur (tahun) x 2 + 8
umur (tahun) + 7- 5
Usia 6 - 12 tahun :
2
b) Tinggi Badan
Pengukuran tinggi badan untuk menilai status perbaikan gizi disamping
faktor genetik. Penilaian TB dapat dilakukan dengan sangat mudah dalam
menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penilaian TB
berdasarkan umur menurut WHO dengan baku NCHS yaitu dengan cara
presentase dari median dengan penilaian ; 90% dikatakan normal, <
90% dikatakan malnutrisi kronis (abnormal). TB meningkat sampai tinggi
maksimal dicapai, meningkat pesat pada usia bayi dan adolecent dan
berhenti pada usia 18 20 tahun.
TB dapat diperkirakan sebagai berikut :
Umur 1 tahun = 1,5 x TB lahir
Umur 4 tahn = 2 x TB lahir
Umur 6 tahun = 1,5 x TB setahun
Umur 13 tahun = 3 x TB lahir
Dewasa = 3,5 x TB lahir atau (2 x TB umur 2 tahun)
Atau dengan rumus Behrman,
Lahir = 50 cm
Umur 1 tahun = 75 cm
Umur 2 12 tahun = umur (tahun) x 6 + 77
Atau berdasarkan potensi genetik TB akhir :
(TB ayah 13 cm)+ (TB Ibu)
Wanita= 8,5 cm
2
(TB ibu + 13 cm) + (TB Ayah)
Pria= 8,5 cm
2
Tabel 3.
Tinggi Badan Rata-rata Umur 0-5 Tahun
Tinggi (Cm)
Umur
Standar 80% Standar
Lahir 50.5 40.5
0 1 Bulan 55.0 43.5
2 Bulan 58.0 46.0
3 Bulan 60.0 48.0
4 Bulan 62.5 49.5
5 Bulan 64.5 51.0
6 Bulan 66.0 52.5
7 Bulan 67.5 54.0
8 Bulan 69.0 55.5
9 Bulan 70.5 56.5
10 Bulan 72.0 57.5
11 Bulan 73.5 58.5
12 Bulan 74.5 60.0
1 tahun 3 Bulan 78.0 62.5
6 Bulan 81.5 65.0
9 Bulan 84.5 67.5
2 tahun 0 Bulan 87.0 69.5
3 Bulan 89.5 71.5
6 Bulan 92.0 73.5
9 Bulan 94.0 75.0
3 tahun 0 Bulan 96.0 77.0
3 Bulan 98.0 78.5
6 Bulan 99.5 79.5
9 Bulan 101.5 81.5
4 tahun 0 Bulan 103.5
3 Bulan 105.0 82.585.5
6 Bulan 107.0 86.5
9 Bulan 108.0
5 tahun 0 Bulan 109.0 87.0
Sumber : Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI
c) Lingkar kepala
Dapat digunakan untuk menilai pertumbuhan otak. Penilaian ini dapat
dilihat apabila pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) maka menunjukkan
adanya retardasi mental, sebaliknya apabila otaknya besar (volume kepala
meningkat) akibat penyumbatan pada aliran cairan cerebrospinalis.
Peningkatan volume
6 9 bulan kehamilan = 3 gram/24 jam
Lahir 6 bulan = 2 gram/24 jam
6 bulan 3 tahun = 0,35 gram/24 jam
3 6 tahun = 0,15 gram/24 jam
d) Pengukuran lingkar lengan atas
Digunakan untuk menilai jaringan lemak dan otot, tetapi penilaian ini
banyak berpengaruh pada keadaan jaringan tubuh apabila dibanding
dengan BB. Penilaian ini juga dapat dipakai untuk menilai status gizi pada
anak usia pra sekolah.
2) Pemeriksaan fisik
Untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan dengan cara melakukan
pemeriksaan fisik, dengan melihat bentuk tubuh, perbandingan bagian tubuh
dan anggota gerak lainnya, menentukan jaringan otot dengan memeriksa
lengan atas, pantat dan paha, menentukan jaringan lemak dilakukan pada
triseps, rambut dan geligi.
3) Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan untuk menilai keadaan pertumbuhan dan perkembangan dengan
status keadaan penyakit, adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan ;
pemeriksaan Hb, serum protein (albumun, globulin), hormonal, dll.
4) Pemeriksaan radiologi
Dilakukan untuk menilai umur pertumbuhan dan perkembangan seperti tulang
(apabila dicurigai adanya gangguan pertumbuhan)
b. Perkembangan
1) Tujuan
a) Mengetahui kelainan perkembangan anak dan hal-hal lain yang
merupakan isiko terjadinya perkembangan tersebut
b) Mengetahui berbagai masalah perkembangan yang memerlukan
pengobatan atau konseling genetik
c) Mengetahui anak perlu dirujuk
2) Cara deteksi perkembangan
a) DDST (Denver Development Screnning Test)
DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan
perkembangan anak, tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST
memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining
yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan
menunjukkkan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang
pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan
antara 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami
keterlambatan perkembangan, dan pada follow up selanjutnya
ternyta 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di
sekolah 5-6 tahun kemudian.
Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak
dapat mengidentifikasikan lebih separoh anak dengan kelainan
bicara. Frankerburg melakukan revisi dan restandarisasi kembali DDST
dan juga tugas perkembangan pada sektor bahassa ditambah, yang
kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.
b) KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan)
KPSP merupakan suatu daftar pertanyaan singkat yang ditujukan pada
orang tua dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan skrining
pendahuluan untuk perkembangan anak usia 3 bulan sampai 6 tahun.
Daftar pertanyaan tersebut berjumlah 10 nomor yang harus dijawab oleh
orang tuaatau pengasuh yang mengetahui keadaan perkembangan anak.
Pertanyaan dalam KPSP dikelompokan sesuai usia anak saat dilakukan
pemeriksaan, mulai kelompok usia 3 bulan, 3 6 bulan, dst sampai
kelompok 5 - 6 tahun. Untuk usia ditetapkan menurut tahun dan bulan
dengan kelebihan 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan.
Pertanyaan dalam KPSP harus dijawab dengan ya atau tidak oleh
orang tua. Setelah semua pertanyaan dijawab, selanjutnya hasil KPSP
dinilai :
- Apabila jawaban ya berjumlah 9 10, berarti anak tersebut normal
(perkembangan baik)
- Apabila jawaban ya kurang dari 9, maka perlu diteliti lebih lanjut
mengenai; Apakah cara menghitung usia dan kelompok
pertanyaannya sudah sesuai.
- Kesesuaian jawaban orang tua dengan maksud pertanyaan. Apabila
ada kesalahan, maka pemeriksaan harus diulang :
- Apabila setelah diteliti jawaban ya berjumlah 7 8, berarti hasilnya
meragukan dan perlu diperiksa ulang1 minggu kemudian
- Apabila jawaban ya berjumlah 6 atau kurang, berarti hasilnya kurang
atau positif untuk perlu dirujuk guna pemeriksaan lebih lanjut
c) KPAP (Kuesioner Perilaku Anak Pra Sekolah)
KPAP adalah sekumpulan perilaku yang digunakan sebagai alat untuk
mendeteksi secara dini kelainan-kelainan perilaku pada anak prasekolah
(usia 3-6) tahun. Kuesioner ini berisi 30 perilaku yang perlu
ditanyakan satu per satu pada orang tua.
Setiap perilaku perlu ditanyakan apakah sering terdapat, kadang-kadang
terdapat, atau tidak terdapat. Apabila jawaban yang diperoleh adalah
sering terdapat, maka jawaban tersebut dinilai 2, kadang-kadang
terdapat diberi nilai 1 dan tidak terdapat diberi nilai 0. Apabila jumlah
nilai keseluruhan kurang dari 11, maka anak perlu di rujuk, sedangkan
jika jumlah nilai 11 atau lebih maka anak tidak perlu dirujuk.
d) Tes Daya Lihat dan tes Kesehataan Mata Anak Pra Sekolah
Tes ini untuk memeriksa ketajaman daya lihat serta kelainan mata pada
anak berusia 3- 6 tahun. Tes ini juga digunakan untuk mendeteksi adanya
kelainan daya lihat pada anak usia prasekolah secara dini, sehingga jika
ada penyimpangan dapat segera ditangani.
Untuk melakukan tes daya lihat diperlukan ruangan dengan penyinaran
yang baik dan alat kartu E yang digantungkan setinggi anak duduk.
Kartu E berisi 4 baris. Baris pertama huruf E berukuran paling besar
kemudian berasngsur-angsur mengecil pada baris keempat. Apabila pada
baris ketiga , anak tidak dapat melihat maka perlu di rujuk. Selain tes daya
lihat, anak juga perlu diperiksakan kesehatan matanya. Perlu ditanyakan ;
- Keluhan seperti mata gatal, panas, penglihatan kabur atau pusing
- Perilaku seperti sering menggosok mata, membaca terlalu dekat,
sering mengkedip-kedipkan mata
- Kelainan mata seperti bercak bitot, juling, mata merah dan keluar air
Apabila ditemukan satu kelainan atau lebih pada mata naka, maka anak
tersebut perlu dirujuk
e) Tes Daya Dengar Anak (TDD)
Tes daya dengar berupa pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan denga
usia anak, yaitu kelompok 0 6 bulan, > 16 bulan, > 9 bulan, > 11 bulan,
> 12 bulan, > 24 bulan dan > 36 bulan. Setiap pertanyaan perlu
dijawab ya atau tidak. Apabila jawabannya adalah tidak maka
pendengaran anak tidak normal sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.

B. TEORI-TEORI PERKEMBANGAN
1. Perkembangan kognitif (Piaget)
a. Tahap sensori motor (0 2 tahun)
Anak mempunyai kemampuan dalam mengasimilasi dan mengakomodasi
informasi dengan cara melihat, mendengar, menyentuh dan kativitas motorik.
Semua gerakan akan diarahkan ke mulut dengan merasakan keingintahuan
sesuatu dari apa yang dilihat, didengar, disentuh dll.
b. Tahap praoperasional (2 7 tahun)
Anak belum mampu mengoperasionalkan apa yang dipikirkan melalui tindakan
dalam pikiran anak, perkembangan anak masih bersifat egosentris. Pada masa
ini pikiran bersifat transduktif menganggap semuanya sama. Seperti semua pria
dikeluarga adalah ayah maka semua pria adalah ayah. Selain itu ada pikiran
animisme, yaitu selalu memperhatikan adanya benda mati. Seperti anak jatuh dan
terbentur batu, dia akan menyalahkan batu tersebut dan memukulnya.
c. Tahap kongret (7 11 tahun)
Anak sudah memandang realistis dari dunianya dan mempunyai anggapan yang
sama dengan orang lain, sifat egosentrik sudah hilang, karena anak sudah
mengerti tentang keterbatasan diri sendiri. Anak sudah mengenal konsep tentang
waktu dan mengingat kejadian yang lalu. Pemahaman belum mendalam dan akan
berkembang di akhir usia sekolah (masa remaja).
d. Tahap formal operasional ( > 11 tahun)
Anak remaja dapat berpikir dengan pola yang abstrak menggunakan tanda atau
simbol dan menggambarkan kesimpulan yang logis. Mereka dapat membuat
dugaan dan mengujinya dengan pemikirannya yang abstrak, teoritis dan filosofis.
Pola berfikir logis membuat mereka mampu berpikir tentang apa yang orang lain
juga memikirkannya dan berpikir untuk memecahkan masalah.
2. Perkembangan psikoseksual anak (Freud)
a. Tahap oral (0 1 tahun)
Pada masa ini kepuasan dan kesenangan, kenikmatan dapat melalui dengan cara
menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara, ketergantungan sangat tinggi
dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang
diperoleh pada tahap ini adalah menyapih dan makanan.
b. Tahap anal (1 3 tahun)
Kepuasan pada fase ini adalah pada pengeluaran tinja.Anak akan menunjukkan
keakuannya dan sikapnya sangat narsistik yaitu cinta terhadap dirinya sendiri dan
sangat egosentrik, mulai mempelajari struktur tubuhnya. Masalah pada saat ini
adalah obesitas, introvet, kurang pengendalian diri dan tidak rapi.
c. Tahap oedipal/phalik (3 5 tahun)
Kepuasan pada anak terletak pada rangsangan autoerotik yaitu meraba-raba,
merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya, suka pada lain jenis.
Anak laki-laki cenderung suka pada ibunya dan anak perempuan cenderung suka
pada ayahnya.
d. Tahap laten (5 12 tahun)
Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak masuk dalam fase pubertas dan
berhadapan langsng pada tuntutan sosial seperti suka hubungan dengan
kelompoknya atau sebaya, dorongan libido mulai mereda.
e. Tahap Genital (> 12 tahun)
Kepuasan anak pada fase ini kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta
matang terhadap lawan jenis.
3. Perkembangan psikososial (Erikson)
a. Tahap percaya tidak percaya (0 1 tahun)
Bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua maupun
orang yang mengasuhnya ataupun tenaga kesehatan yang merawatnya. Kegagalan
pada tahap ini apabila terjadi kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka
akan timbul rasa tidak percaya.
b. Tahap kemandirian, rasa malu dan ragu (1 3 tahun)
Anak sudah mulai mencoba dan mandiri dalam tugas tumbuh kembang seperti
kemampuan motorik dan bahasa. Pada tahap ini jika anak tidak diberikan
kebebasan anak akanmerasa malu.
c. Tahap inisiatif, rasa bersalah (4 6 tahun)
Anak akan mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif
dalam aktivitasnya. Apabila pada tahap ini anak dilarang akan timbul rasa
bersalah.
d. Tahap rajin dan rendah diri (6 12 tahun)
Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau prestasinya
sehingga anak pada usia ini adalah rajin dalam melakukan sesuatu. Apabila pada
tahap ini gagal anak akan rendah diri.
e. Tahap identitas dan kebingungan peran pada masa adolesence
Anak mengalami perubahan diri, perubahan hormonal.
f. Tahap keintiman dan pemisahan terjadi pada masa dewasa yaitu anak mencoba
melakukan hubungan dengan teman sebaya ata kelompok masyarakat dalam
kehidupan sosial.
g. Tahap generasi dan penghentian terjadi pada dewasa pertengahan yaitu seseorang
ingin mencoba memperhatikan generasi berikutnya dalam kegiatan aktivitasnya.
h. Tahap integritas dan keutusasaan terjadi pada dewasa lanjut yaitu seseorang
memikirkan tugas-tugas dalam mengakhiri kehidupan.