Anda di halaman 1dari 53

Jabaran Skenario

Pasien perempuan berusia 25 tahun datang ke RSGM UI untuk dilakukan perawatan GTJ tipe
rigid pada gigi 35, 36, dan 37, desain dan bahan fully veneer metal porcelain dengan pontik
modifikasi ridge lap untuk menggantikan gigi 36 yang hilang. Pada pemeriksaan intra oral dan
radiografis terlihat semua gigi molar tiga tidak ada.

Tahap perawatan yang sedang dijalani adalah tahap percobaan coping logam. Evaluasi
coping logam GTJ yang diterima dari laboratorium dental dinilai baik, batas tepi restorasi
sesuai batas restorasi pada model kerja dan oklusi sesuai model di artikulator.

Saat dicobakan ke pasien, coping logam GTJ duduk stabil pada gigi penyangganya, namun
batas tepi servikal logam di sepanjang sisi bukal hingga distal gigi 35 terlihat terbuka 0,5 1
mm dan gingiva di sekeliling gigi 37 terlihat pucat. Selain itu pada oklusi terjadi peninggian
gigit.

Untuk menghindari kegagalan di atas, hal apa yang perlu diperhatiakn pada setiap tahap
yang harus dilakukan setelah preparasi gigi penyangga hingga percobaan coping logam.

1
Sasaran Belajar
1. Macam-macam teknik persiapan jaringan lunak (tissue management) sebelum pencetakan rahang
2. Bahan, alat, tahapan kerja, dan evaluasi pencetakan rahang untuk model kerja
3. Bahan, alat, dan tahapan kerja pengecoran model kerja
4. Tahapan kerja, bahan, dan alat penentuan catatan gigit
5. Tahapan kerja penanaman model kerja pada artikulator rata-rata
6. Komunikasi dalam pengiriman model kerja ke laboratorium gigi

2
1. MACAM-MACAM TEKNIK PERSIAPAN JARINGAN LUNAK (TISSUE
MANAGEMENT) SEBELUM PENCETAKAN RAHANG

Dibuat oleh Hernandia Astika K

Referensi : Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics, 4th Ed. Elsevier, St.
Louis. 2006.

Sebelum pembuatan gigi tiruan, salah satu hal yang harus dilakukan adalah mencetak gigi geligi
dan jaringan sekitarnya dari mulut pasien. Hasil cetak yang baik harus meliputi daerah servikal
dimana nantinya akan menjadi daerah bertemunya permukaan gigi dengan restorasi, selain itu
gigi geligi lain serta jaringan lunak disekitar gigi yang akan dilakukan tindakan, hal ini karena
akan mempengaruhi keakuratan artikulasi dan kesejajaran gigi geligi.

Material cetak harus mencakup hingga bagian yang sulit dijangkau seperti subgingiva jika
diperlukan, oleh karena itu dibutuhkan tissue management yang berupa tissue displacement untuk
mendapatkan akses dan ruang untuk mencetak bagian tersebut. Hal ini dapat dilakukan secara
mekanik, kimia, maupun surgical. Namun harus diperhatikan berbagai aspek karena tissue
displacement yang buruk dapat mengakibatkan kerusakan permanen.

3
Tissue Health (Kesehatan Jaringan Lunak)
Setelah gigi dipreparasi dan restorasi sementara telah dibuat,
kesehatan jaringan lunak sekitar harus dievaluasi kembali. Preparasi
yang mencapai subgingiva memiliki potensi trauma pada jaringan
lunak yang lebih besar, bahkan tidak dapat dihindari. Selain itu, jika
restorasi sementara memiliki kontur yang tidak baik, tidak dipoles
dengan baik, atau memiliki margin yang tidak baik maka akan
terjadi retensi makanan. Retensi makanan ini nantinya akan
berakibat pada respon inflamasi lokal.
Kombinasi dari beberapa trauma, termasuk jika pasien tersebut
sudah menderita penyakit periodontal sebelumnya, akan
mengakibatkan kerusakan yang lebih parah. Trauma-trauma dan
penyakit periodontal ini harus segera dirawat dan dihilangkan
sebelum pemasangan gigi tiruan cekat permanen

Saliva Control (Kontrol Saliva)


Saliva control diperlukan untuk mendapatkan daerah kering dalam mencetak gigi dan jaringan
sekitarnya. Biasanya saliva control dilakukan dengan penggunaan rubber dam, selain itu dapat
juga digunakan cotton roll.
Apabila bersamaan dengan tindakan tissue displacement yang menyebabkan rasa nyeri/sakit,
maka tindakan ini dapat dilakukan bersama dengan pain control berupa anastesi. Anastesi akan
memblok impuls syaraf yang mengatur aliran saliva sehingga produksi saliva akan berkurang.
Ketika saliva control sulit dilakukan, maka dapat digunakan cara medikasi dengan antisialagogic
dimana mulut kering adalah efek samping dari obat ini karena mereduksi produksi saliva.
Penggunaan obat ini harus dihindari pada pasien lansia, penyakit jantung, dan penderita glaucoma
(gangguan pada saraf mata) karena pada penderita glaucoma dapat menyebabkan kebutaan
permanen. Beberapa dokter menganjurkan agar semua pasien dievaluasi secara langsung sebelum
antisialagogic digunakan. Clonidine, obat anti-hipertensi, telah berhasil mengurangi produksi saliva.
Ini dianggap lebih aman dari pada antikolinergik dan tidak memiliki kontraindikasi yang
ditentukan. Namun, harus digunakan hati-hati pada orang yang hipertensi.

4
5
Displacement of Gingival Tissue (Pemindahan/Retraksi Jaringan Gingiva)
Pemindahan jaringan gingiva dilakukan untuk mendapatkan akses preparasi yang adekuat,
pemindahan jaringan gingiva ini dapat dilakukan secara mekanik, kimia, maupun bedah.
Pemindahan jaringan gingiva dapat dilakukan dengan :

1. Mekanis - Displacement Cord


Pembesaran sulkus gingiva dapat dilakukan dengan menempatkan non-impregnated cord (tali
yang tidak dicelupkan ke dalam agen kimia) dan dibiarkan selama beberapa waktu. Tali akan
didorong kedalam sulkus secara mekanis akan melebarkan permukaan sekeliling serat
periodontal. Beberapa jenis tali yang mudah ditempatkan dalam sulkus berbentuk kepangan
(braided cord seperti merek GingiBraid) ataupun berbentuk rajutan (knitted cord seperti merek
Ultrapak). Meskipun begitu, ukuran braided cord yang lebih besar memiliki kecenderungan
menjadi tali yang terlalu tebal dan dapat menjadikan sulkus trauma permanen. Di daerah
dimana sulkus yang sempit, diperlukan penempatan ukuran braided/twisted cord yang lebih
kecil, ataupun tali seperti benang wol yang diratakan untuk retraksi jaringan awal.
Pembesaran sulkus dapat lebih baik dicapai dengan menggunakan tali yang sudah dicelupkan
pada agen kimia (chemically impregnated cord) ataupun mencelupkan tali pada astringent
seperti Hemodent. Material-material yang mengandung bahan seperti garam aluminium atau
garam besi dapat menyebabkan jaringan mengalami iskemia sementara, sehingga
menyusutkan jaringan gingiva.
Meskipun begitu, sulkus gingiva setelah diretraksi menutup secara cepat setelah tali dilepaskan
dari gingiva kurang dari 30 detik. Oleh karena itu, pencetakan harus segera dilakukan. Selain
itu, beberapa medikamen dapat membantu mengkontrol sekresi cairan pada gingiva seperti
aluminium klorida ataupun ferrum sulfat direkomendasikan memberikan efek kerusakan
jaringan yang minimal.

6
Alternatif medikamen lain dapat digunakan cairan sympathomimetic amine-containing eyewash
ataupun dekongestan nasal. Material-material medikamen yang digunakan sebagai agen
hemostatis biasanya stabil pada rentang level pH rendah. Rendahnya pH dikhawatirkan
memiliki efek asam pada struktur gigi dan lebih penting lagi kaitannya dengan smear layer
pada gigi. Sebagai alternatif, dapat dipilih agen hemostatis yang non-acid pada
displacement cord.

Beberapa tali retraksi gingiva yang sudah mengandung epinephrine telah banyak dijual.
Namun, epinephrine harus digunakan secara hati hati, sebab dapat menyebabkan tachycardia
(denyut jantung yang melebihi normal), terlebih bila ditempatkan pada jaringan yang
luka/robek.

Prosedur Retraksi
1. Isolasi gigi yang telah dipreparasi dengan cotton roll, tempatkan saliva evacuator jika
diperlukan dan keringkan permukaan dengan udara
2. Potong tali secukupnya untuk dapat mengelilingi gigi. Jangan secara berlebihan
mengeringkan permukaan gigi, karena dapat menyebabkan sensitivitas paskaoperasi.
3. Celupkan tali pada larutan astringent dan peras kelebihan cairan
dengan gauze square.

Pada tali yang sudah mengandung cairan (impregnated cord) dapat ditempatkan pada
gingiva secara kering, namun tetap harus dilembapkan secara in-situ untuk mencegah epitel
sulkus tipis menempel pada tali dan merobek jaringan ketika dilepaskan.
4. Pada tali non braided atau tanpa kepang, tali harus diputar kencang untuk pemasangan
yang lebih mudah
5. Tempatkan tali mengelilingi gigi dan secara pelan dorong tali masuk kedalam sulkus
dengan instrument yang sesuai

7
Note :
Proses pemasukan tali kedalam sulkus sebaiknya dimulai dari area interproksimal, sebab tali
dapat dengan mudah ditempatkan daripada sisi fasial atau lingual. Jaringan harus diretraksi
secara perlahan namun tetap pada tegangan yang cukup, untuk dapat menempatkan tali tepat
di apikal margin. Apabila tali terlalu ditekan (overpacking), hal ini dapat menyebabkan
robeknya pelekatan gingiva, yang bisa berakhir pada resesi yang permanen. Penggunaan
displacement cord pada sulkus secara berulang juga harus dihindari, karena dapat
menyebabkan resesi gingiva.
Pemasangan cord yang baik ditunjukkan dengan terlihatnya cord yang mengelilingi gigi yang
telah dipreparasi secara jelas dan tidak ada lagi
jaringan gingiva yang menutupi cord jika dilihat dari
sisi oklusal. Namun, untuk beberapa kasus di mana tepi
servikal preparasi mahkota tiruan mencapai
kedalaman subgingival yang cukup dalam,
pemasangan satu cord saja (single cord) tidak dapat
membuka sulkus gingiva seluruhnya karena jaringan
gingiva yang terdapat pada margin masih menutupi
cord yang sudah dipasang di bawahnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan teknik double cord
8
untuk memastikan sulkus gingiva berhasil diperlebar dari dasar sulkus hingga margin gingiva.
Teknik double cord ini dilakukan dengan mengelilingi gigi dengan cord berdiameter kecil
terlebih dahulu, kemudian ditimpa dengan cord yang diameternya lebih besar. Akan tetapi,
teknik double cord ini kadang lebih membahayakan jaringan pasien karena pemasangannya
memberikan tekanan yang lebih besar terhadap dasar sulkus gingiva, yang kemudian
berpotensi mengiritasi jaringan tersebut.
Untuk beberapa waktu, lebih baik menunda pembuatan cetakan rahang dan lebih fokus pada
meningkatkan kesehatan jaringan seperti terus menilai kualitas restorasi sementara dan
meningkatkan kesehatan oral dibandingkan mendahulukan pembuatan cetakan rahang pada
kondisi mulut yang kurang baik. Pendarahan minor dapat dikontrol dengan penggunaan
astringent atau anestesi lokal langsung pada papilla gingiva

Gambar di bawah menjelaskan perbedaan teknik double cord dengan single cord, serta
kelebihannya :

9
Hemorrhage Control with an Infusor Syringe
1. Isi syringe dengan cairan ferric sulfat, pasangkan ujung infusor dengan syringe. Bagian ujung
infusor mengandung filamen kapas yang dapat mengontrol laju medikamen.
2. Gosokkan bagian ujung infusor secara maju mundur selama 30 detik bersamaan dengan
injeksi cairan terus menerus tepat diarea perdarahan
3. Irigasi area dengan air-water syringe dan keringkan dengan udara secara perlahan.
4. Ulangi kontrol perdarahan hingga perdarahan berhenti dan cord bisa diletakkan dalam
sulkus
5. Ketika ingin melepaskan cord, basahkan sedikit bagian cord dengan air untuk
meminimalisasi resiko gumpalan darah terbuka dan terjadi perdarahan kembali. Keringkan
dengan tisu lalu dapat dilakukan pencetakan.

10
2. Kimia - Displacement Paste
Produk terdiri dari pasta yang mengandung aluminium klorida yang disuntikkan ke dalam sulkus
kering dengan alat pengantar khusus. Keuntungan dari sistem ini meliputi hemostasis yang baik.
Namun, dengan menggunakan pasta, retraksi jaringan yang didapat tidak sebaik ketika
menggunakan cord. Retraksi akan lebih baik dilakukan jika pasta diinsersikan kedalam sulkus
langsung dengan menggunakan cotton roll.

3. Bedah Electrosurgery

Electrosurgery dilakukan untuk membuang sebagian kecil jaringan yang terinflamasi akibat
pembesaran sulkus gingiva. Jaringan yang dibuang adalah lapisan inner epithelium dari sulkus
gingiva. Tujuannya adalah untuk memperbaiki akses pada margin subgingival mahkota dan
mengontrol pendarahan post-surgical sehingga mendapatkan cetakan yang baik. Namun
kekurangannya yaitu dapat terjadi resesi gingiva. Alat electrosurgery bekerja dengan
frekuensi tinggi yaiu 1-4juta Hz. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam tindakan
electrosurgery :

11
- Kontraindikasi pada atau di dekat pasien dengan alat medis elektronik seperti alat pacu
jantung, TENS unit (transcutaneous electrical nerve stimulation), pompa insulin, ataupun pada
pasien yang memiliki kemampuan penyembuhan tertunda akibat terapi radiasi.
- Tidak sesuai pada gingiva tipis (mis. : jaringan labial gigi caninus rahang atas).
- Tidak baik digunakan bersamaan dengan instrumen logam lainnya, karena kontak bisa
menyebabkan sengatan listrik. Sebagai alternatif, instrumen yang dapat digunakan seperti
kaca mulut plastik, selang saliva ejector plastic.
- Wajib dilakukan anestesi sebelum tindakan
- Elektroda kawat tipis paling baik untuk pembesaran sulcular. Kontur gingival biasanya
dilakukan dengan electrode loop.
- Instrumen harus diatur ke mode arus bolak-balik yang tidak dimodulasi. Untuk menghindari
kerusakan jaringan yang lebih dalam
- Elektroda harus melalui jaringan dengan terus bergerak setiap saat.
- Jika ujung elektroda menyeret jaringan sehingga menyebabkan fragmen jaringan
menempel pada elektroda akibat berada pada pengaturan yang terlalu rendah maka
perlu ditingkatkan
- Jika percikan terlihat di jaringan, instrumen berada pada pengaturan yang terlalu tinggi,
dan arus harus dikurangi.
- Pemotongan tidak boleh diulang dalam waktu 5 detik.
- Elektroda harus tetap bebas dari fragmen jaringan.
- Elektroda tidak boleh menyentuh restorasi logam. Kontak yang berlangsung hanya 0,4 detik
telah terbukti menyebabkan kerusakan pulpa ireversibel pada anjing.
- Sulkus harus diirigasi dengan hidrogen peroksida sebelum displacement cord ditempatkan

12
Tahapan electrosurgery :
1. Anestesi jaringan yang akan dilakukan electrosurgery
2. Teteskan minyak aromatik (contoh: peppermint) pada
bibir bagian atas untuk menetralisir bau tidak sedap
yang dihasilkan dari tindakan electrosurgery
3. Pastikan alat sudah terpasang dengan benar pada
handpiece.
4. Elektroda diaplikasikan pada jaringan dengan
tekanan yang sangat ringan, sama, dan cepat.

5. Untuk menghindari penetrasi panas ke jaringan di sekitarnya sehingga dapat


menyebabkan injuri, elektroda harus digerakkan dengan kecepatan tidak boleh kurang
dari 7mm/detik.
6. Atur elektroda pada level yang direkomendasikan oleh produsen.
7. Selama tindakan, letakkan ujung vakum dekat dengan ujung elektroda.

13
8. Selama tindakan, jika ada fragmen jaringan yang menempel pada ujung elektroda maka
bersihkan ujung elektroda tersebut dengan kassa yang telah diberi alkohol.

2. BAHAN, ALAT, TAHAPAN KERJA, DAN EVALUASI PENCETAKAN


RAHANG UNTUK MODEL KERJA
Dibuat oleh Hasti Raissa
Sumber :
- Anusavice. Phillips Science & Dental Materials, 12th ed. Elsevier Science, 2013
- Powers JM, Sakaguchi RL. Craigs Restorative Dental materials, 13th ed. Mosby Elsevier,
2011
- Hendry. Akurasi Dimensi Hasil Cetakan Polyvinyl Siloxane Dengan Teknik Modifikasi
Putty/Wash 2 Tahap. 2012. Online : http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20315505-
T%2031595-Akurasi%20dimensi-full%20text.pdf
- Makalah PBL 7 dan PBL 2

- Shillingburg HT et al. Fundamentals of fixed prosthodontics 3rd


Ed.Quintessence Publishing Co. Carol Stream. 1997

- Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary fixed prosthodontics 4thEd. Mosby.
St. Louis. 2006
- Miller MB, Castellanos IR. The techniques Vol 1. Reality Publishing Co. Houston. 2003

14
Menurut Philip (2013) terdapat 6 tahapan dalam pencetakan model kerja :
1. Menyiapkan sendok cetak
2. Tissue management
3. Menyiapkan material cetak (elastomer untuk regio gigi yang telah dipreparasi dan alginat
untuk rahang antagonis)
4. Membuat cetakan negatif dengan cara mencetak dalam rongga mulut
5. Melepas cetakan dari rongga mulut
6. Menyiapkan stone cast dan die

Hidrokolid Reversible (agar hidrokoloid)


- Material ini terbuat dari rumput laut dan bisa langsung dicor,
akan menghasilkan cetakan dengan akurasi dimensi yang
baik serta detail permukaan yang cukup baik.

- Dimensinya yang tidak stabil sehingga bentuknya mudah


berubah.

- Apabila temperatur meningkat (sampai 99C), maka bentuk


hidrokoloid akan berubah dari gel menjadi sol, dan akan
tetap berbentuk sol meskipun temperaturnya menurun sampai minimal 50C.

- Apabila temperatur menurun, maka sol akan berubah menjadi gel (jika suhunya masih di atas
suhu tubuh).

- Material ini memiliki sifat imbibisi (proses penyerapan air) dan sineresis (proses penguapan air)
yang memperburuk stabilitas dimensinya.

- Bahan ini juga bersifat hidrofilik sehingga memungkinkan untuk melakukan pencetakan
pada keadaan yang lembab dan mempunyai resistensi terhadap daya robek yang cukup
baik

- Kekurangan : kadang-kadang juga terdapat keluhan dari pasien karena perubahan suhu
pada gigi yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. Situasi ini dapat timbul
karena panas dari bahan cetak ketika dimasukkan ke dalam mulut atau temperatur rendah
yang terjadi selama proses pendinginan untuk memperoleh bentuk gel

15
Hidrokolid Irreversible (Alginate)
- Irreversible hydrocolloid atau alginat yang berubah dari fase sol menjadi fase gel karena
adanya reaksi kimia

- Kelebihan :
o Alginat sangat hidrofilik sehingga memungkinkan untuk mendapatkan cetakan yang
akurat walaupun area kerja basah oleh saliva ataupun darah
o Bahan ini mempunyai sifat wettability yang baik
o Harganya paling murah jika dibandingkan dengan bahan cetak lainnya
o Mempunyai rasa yang menyenangkan bagi pasien

- Kekurangan :
o Material ini menghasilkan reproduksi detail permukaan yang kurang baik
o Bahan ini tidak cukup akurat untuk restorasi gigi tiruan cekat, tetapi dapat digunakan
untuk pencetakan model studi dan model kerja untuk gigi tiruan sebagian lepas.
o Bahan ini mempunyai stabilitas dimensi yang buruk oleh karena proses penyerapan
atau penguapan air. Oleh karena itu, cetakan harus dicor dalam waktu 10-12 menit
setelah dikeluarkan dari mulut dan hanya dapat digunakan untuk 1 kali pengecoran per
cetakan
o Resistensi terhadap daya robek dari bahan ini rendah sehingga cetakan margin
subgingival akan robek sewaktu melepas cetakan dari dalam mulut.
o Masalah yang juga sering terjadi yaitu adanya kecenderungan alginat untuk melekat
pada gigi, yang terjadi jika radikal alginat membentuk ikatan kimia dengan kristal
hidroksiapatit, sehingga alginat akan robek sewaktu dilepas dari cetakan

Polysulfide (Rubber Bases)


- Polysulfide merupakan bahan cetak elastomer yang
juga dikenal dengan nama mercaptan, thiokot atau
rubber base.

- Pasta dasar polysulfide : campuran polisulfida, bahan


pengisi berupa TiO2 (11%-54%). Pasta katalis
polysulfide: timbal oksida (PbO2), sulfur, dan minyak
berupa senyawa ester atau paraffin terklorinasi

16
- Kelebihan :
o Polysulfide mempunyai stabilitas dimensi yang lebih baik dari bahan hydrocolloid.
o Polysulfide mempunyai resistensi terhadap daya robek yang tinggi sehingga ideal
untuk merekam margin subgingival tanpa mengalami robek saat sendok cetak dilepas
dari mulut
o Polysulfide merupakan bahan cetak elastomer yang paling murah

- Kekurangan :
o Cetakan harus dicor secepat mungkin dan tidak boleh melewati 30 menit setelah
pengeluaran cetakan dari mulut agar mendapatkan akurasi yang maksimal.
Penundaan pengecoran cetakan lebih dari 1 jam akan mengakibatkan perubahan
dimensional yang signifikan.
o Polysulfide mempunyai bau yang tidak menyenangkan, rasa yang agak sedikit pahit
dan lamanya waktu pengerasan bahan di dalam mulut (lebih dari 10 menit).
o Bahan ini juga sulit manipulasinya karena lengket dan dapat menyebabkan noda
permanen pada pakaian

- Alat dan bahan :


o 2 pasta (base dan accelerator)
o Mixing pad
o Spatula
o Tray
o Sanitary liquid

- Langkah kerja :

1. Keluarkan masing-masing pasta dengan panjang yang sam a


2. Aduk hingga homogen
3. Letakan pada tray yang telah dilapisi cairan sanitary

17
Polieter
- Pasta dasar : polieter dengan gugus imina, plasticier
(glikoeter atau phthalate), dan colloidal silica sebagai
filler inert

- Pasta katalis : sulphonate ester, plasticiser, dan inert filler.

- Ekspansi suhunya lebih besar dibandingkan dengan


polisulfida

- Kelebihan :
o Mempunyai mekanisme polimerisasi yang tidak menghasilkan produk sampingan
o Memiliki stabilitas dimensi yang baik karena tidak ada bahan sisa yang mudah menguap
o Kemampuan bahan ini dalam mereproduksi detail sangat baik dan tidak mudah robek,
sehingga dokter gigi dapat merekam detail margin subgingival tanpa terjadinya robek
sewaktu dilepas dari cetakan
o Setting time yang cepat yaitu sekitar 5 menit dan reaksi pengerasannya tidak
terpengaruh oleh kontaminasi sarung tangan berbahan lateks
o Working time yang cepat membatasi jumlah gigi yang dapat dicetak dengan single
impression
o Pencetakan dengan bahan ini memungkinkan dilakukannya pengecoran berulang untuk
mendapatkan lebih dari satu model selama 1 2 minggu setelah pencetakan dilakukan

- Kekurangan :
o Bahan ini dapat mengalami distorsi karena menyerap air bila disimpan di tempat
dengan kelembaban tinggi. Bahan ini hanya stabil apabila disimpan pada tempat yang
kering
o Bahan ini mempunyai modulus elastisitas yang tinggi dan relatif kaku sewaktu
mengeras, sehingga melepas cetakan dari dalam mulut dan model kerja dari cetakan
lebih sulit apalagi jika terdapat undercut.
o Bahan ini mempunyai rasa sedikit pahit, sehingga agak kurang menyenangkan bagi
pasien

18
Silikon Kondensasi
- Pasta dasar : polimer silikon dengan terminal gugus
hidroksil dan bahan pengisi (silika)

- Pasta katalis : cross-linking agent (alkoksi ortosilikat,


organo hydrogen siloksan) dan activator (dibutyl-tin
dilaurate)

- Kelebihan :
o Setting time yang singkat yaitu sekitar 6-8 menit serta tidak terlalu terpengaruh oleh
kelembapan dan suhu ruangan
o Material ini tidak berbau dan dapat dipigmentasi menjadi beberapa shade warna
o Bahan ini juga mempunyai elastic recovery yang lebih baik dibandingkan polysulfide.
Tapi mempunyai resistensi terhadap daya robek yang buruk, sehingga pencetakan
margin subgingival sering robek
o Perubahan dimensi silikon kondensasi sedikit lebih besar daripada polysulfide, tetapi
perubahan dimensi pada kedua material ini lebih kecil dibandingkan perubahan yang
terjadi pada bahan alginat

- Kekurangan :
o Wetting yang kurang baik karena memiliki sifat hidrofobik serta memiliki stabilitas dimensi
yang lebih rendah dari bahan polisulfida (tetapi lebih baik daripada hidrokoloid)
o Pengecoran tanpa gelembung udara lebih sulit dilakukan dan diperlukan surfaktan
o Bahan ini memproduksi ethyl alcohol sebagai produk sampingan pada waktu reaksi
pengerasan. Oleh karena itu, cetakan harus dicor secepat mungkin/setidaknya dalam
6 jam setelah dikeluarkan dari mulut untuk mendapatkan model yang akurat.

- Alat dan bahan :


o Heavy body (putty)
o Pasta
o Tray
o Cellophan
o Syringe

19
- Cara kerja :
1. Ambil bahan heavy body
2. Kemudian, letakan pasta activator diatas bahan heavy body, gabungkan kedua bahan
tersebut dengan tangan atau tangan memakai vinyl gloves
3. Letakan pada tray, sebelumnya lapisi gigi dengan cellophan
4. Cetakan ke gigi
5. Lepas cellophan spacer dari tray, cuci dan keringkan heavy body
6. Letakan 2 pasta dan campurkan, taruh di dalam syringe
7. Letakan campuran pasta tersebut ke gigi dan tray
8. Cetak kembali ke gigi

20
Polyvinyl Siloxane (Addition Silicone)
- Pasta dasar polysulfide : polyvinyl siloxane, silanol,
dan filler.

- Pasta katalis polysulfide : platinum katalis, polyvinyl


siloxane, dan filler.

- Mirip dengan silicon kondensasi tetapi stabilitas


dimensinya setara dengan polieter dan working time-
nya lebih dipengaruhi oleh temperatur

- Kelebihan :
o Bahan ini memiliki stabilitas dimensi yang baik oleh karena tidak adanya produk
sampingan waktu reaksi polimerisasi
o Cetakan yang dihasilkan dapat disimpan selama beberapa hari sebelum dicor karena
bahan ini tetap stabil dimensinya hingga 1-2 minggu.
o Hasil terbaik didapatkan setelah 24 jam menunggu sebelum dicor.
o Model kerja yang diperoleh dengan pencetakan menggunakan polyvinyl siloxane lebih
akurat dan lebih konsisten dibandingkan polyether maupun bahan cetak lainnya.
o Bahan polyvinyl siloxane adalah bahan paling minimal terjadinya gelembung udara
dan robeknya cetakan dibandingkan bahan polyether dan silikon kondensasi.
o Cetakan lebih mudah dicor dengan stone dan terjadinya gelembung udara pada model
kerja lebih sedikit
o Pengecoran dapat langsung dilakukan tanpa memerlukan bahan tambahan
o Bahan ini tidak berbau dan tidak ada rasa sehingga dapat memberikan kenyamanan
bagi pasien

- Kekurangan :
o Polyvinyl siloxane memiliki sifat hidrofobik sehingga diperlukan daerah kerja yang
kering untuk mendapatkan pencetakan yang akurat
o Ketika berkontak dengan lingkungan yang lembap, akan mengalami ekspansi
o Polivinyl siloxane dapat berinteraksi dengan latex. Bahan putty tidak boleh dicampurkan
saat menggunakan latex gloves karena setting material akan terhambat dan terjadi
imbibisi. Masalah ini dapat diatasi dengan penggunaan vinyl gloves.

21
- Teknik pencetakan :

One stage technique


Intinya : bahan heavy body (putty) dan light body bersama-sama dicetakkan ke dalam mulut
pasien.

Tahapan pencetakan :
1. Bersihkan dan keringkan jaringan yang ingin dicetak
2. Aduk bahan heavy body (putty) yang terdiri dari 2 komponen (polimer dan katalisnya).
Gunakan tangan untuk mencampur dengan cara melipat-lipat sampai kedua warnanya
tercampur sempurna. Perbandingannya adalah 1:1
3. Sendok cetak diisi dengan bahan putty (heavy body)
4. Light body dimasukkan kedalam syringe lalu diinjeksikan di sekitar gigi yang telah
dipreparasi dan gigi tetangganya (Gambar 2.2).

Gambar 2.2. Material light body rubber base diinjeksikan di sekitar gigi yang telah
dipreparasi

5. Light body rubber base kemudian ditempatkan di atas sendok cetak yang telah diisi dengan
bahan putty, dan setelah itu pencetakan dapat dilakukan (Gambar 2.3)

Gambar 2.3. Light body rubber base ditempatkan di atas sendok cetak yang telah diisi
dengan bahan putty, dan kemudian dilakukan pencetakan.

22
Kekurangan : pada one stage technique terdapat kecenderungan terjadinya pembentukan
gelembung-gelembung udara pada cetakan jika dibandingkan dengan two stage
technique.

Two stage technique


Intinya : bahan heavy body (putty) dicetakkan ke gigi yang dipreparasi dan jaringan sekitarnya
terlebih dahulu. Setelah mengeras, bahan light body diletakkan diatas bahan putty dan dicetak
kembali ke dalam mulut pasien.

Tahapan pencetakan :
1. Masukan spacer berupa cellophane (agar terdapat sedikit ruangan pada cetakan)
2. Sendok cetak diisi dengan bahan putty rubber base kemudian lakukan pencetakan ke
dalam mulut pasien

Gambar 2.6. Pencetakan dilakukan dengan material putty

3. Setelah putty mengeras lepaskan dari mulut pasien, dan dilanjutkan dengan injeksi
light rubber base di atas putty rubber base

Gambar 2.7. Cetakan putty dikeluarkan dari mulut dan material light rubber base
kemudian diinjeksikan pada cetakan putty tersebut.

23
4. Kemudian masukan kembali kedalam mulut pasien

Gambar 2.8. Sendok cetak ditempatkan kembali pada rongga mulut dan kemudian
hasil cetakan diperiksa.

Evaluasi Hasil Pencetakan Anatomis


- Hasil cetakan tidak boleh porus, robek atau terlipat
- Tepi sendok cetak tidak boleh terlihat
- Semua bagian ridge dan daerah jaringan lunak sampai batas mukosa bergerak dan tidak
bergerak tercetak dengan baik
- Adanya coretan/streaks material dasar atau katalis menandakan pencampuran yang kurang
baik dan dapat membuat cetakan kurang berguna.

Tanda Anatomis Rahang yang Harus Tercetak

Rahang Atas Supporting Structures


Palatum (9)
Limiting Structures
Tuberositas maxilla (6)
Frenulum labialis (1)
Rugae palatina (10)
Vestibulum labialis (2)
Frenulum buccalis (3)
Relief Areas
Vestibulum buccalis (5)
Papilla incisivum (11)
Hamular notch (7)
Fovea palatina (8)
Posterior palatal seal
area (postdam)
Keterangan yang lain
Mucobuccal fold
Gigi geligi (4)

24
Supporting Structures
Rahang Bawah Buccal shelf area
Limiting Structures Residual alveolar ridge
Frenulum labialis (1)
Vestibulum labialis (2) Relief Areas
Vestibulum buccalis (4) Foramen mentale
Frenulum buccalis (8) Genial tubercles
Frenulum lingualis (6) Torus mandibulari
Alveololingual sulcus
Retnomolar pads (5) Keterangan yang lain
Pterygomandibular raphe Gigi geligi (3)
Retromylohyoid (7)
Mucobuccal fold (9)

Genial tubercles

25
Catatan Klarifikasi
- Pencetakan rahang untuk oklusi cukup dilakukan sampai gigi yang membuat oklusi stabil.
Contohnya, oklusi sudah stabil di gigi 6, maka tidak harus melakukan pencetakan sampai gigi
7.
- Kesalahan yg sering terjadi saat sudah melalukan pencetakan adalah : sendok cetak tidak di
ganjal/tahan dibagian posterior dengan spattle, sehingga hasil cetakan berlebih pada area
retromolar akan berkontak dengan meja yang menyebabkan bahan cetak dapat terangkat
dan menyebabkan perubahan bentuk.

3. BAHAN, ALAT, DAN TAHAPAN KERJA YANG DIGUNAKAN DALAM


PENGECORAN MODEL KERJA
Dibuat oleh Gyachienta Nuriftitie P
Sumber :
- Contemporary fixed prosthodontics. Rosenstiel. Page 431-456.
- Buku pedoman skills lab gigi tiruan cekat 2017.
- Anusavice - Phillips Science of Dental Materials 12th ed. p. 190-192

Pembuatan restorasi ekstrakorona biasanya dilakukan di luar mulut karena lebih nyaman, mudah
dan membutuhkan waktu yang lama. Working cast adalah replika gigi yang telah dipreparasi. Die
adalah cetakan positif dari gigi yang telah dipreparasi dengan material keras sehingga
memberikan akurasi yang baik.

Bahan

26
A. Gipsum
Terdapat 5 tipe gipsum. Gipsum-gipsum ini memiliki kimiawi yang identikal. Reaksi setting-nya
merupakan hasil hidrasi kalsium sulfat hemihidrat. Perbedaan pada tipe gipsum terjadi pada
kalsinasinya. Peningkatan kekuatan fisik gipsum merupakan hasil dari sejumlah air yang
diperlukan untuk membuat campuran. Produk gipsum dapat dengan mudah dimanipulasi
menggunakan tangan tetapi hasil terbaik didapatkan apabila dimanipulasi dengan mesin
dengan keadaan vakum. Setelah cast dibuat, diamkan gypsum paling tidak 30 menit untuk hasil
yang baik. Hasil cetak permukaan yang baik didapatkan dengan menggunakan gipsum tipe
IV atau V. Kekurangan dari gipsum adalah kurangnya resistensi terhadap abrasi.

Gypsum yang digunakan dalam kedokteran gigi terdiri dari calsium sulphate hemihydrate
(CaSO42)2. H2O. Menurut ANSI/ADA No.25 gipsum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Type I : Impression Plaster


- Sering disebut soluble plaster atau plaster of paris.
- Digunakan untuk mencetak daerah edentulous, perbaikan gigi tiruan, dan pencatatan
oklusal.
- Daat digunakan untuk menempelkan model di artikulator.

2. Type II : Dental Plaster (Model Plaster)


- Sering digunakan untuk pembuatan model studi
- Bisa juga digunakan untuk mengisi kuvet selama pembuatan gigi tiruan lengkap
- Menyatukan model kerja dengan artikulator.
- Berwarna putih dan memerlukan banyak air.
- Menghasilkan model yang tahan lama tetapi relatif lemah jika dibandingkan dengan
stone.

3. Type III : Dental Stone


- Biasanya digunakan untuk pembuatan model kerja baik partial maupun full
- Memiliki kekuatan dan kekerasan yang cukup baik.
- Memerlukan sedikit air
- Kurang lebih 2,5 kali lebih kuat dan tahan terhadap abrasi dibandingkan dengan
gipsum tipe II (model plaster)

27
4. Type IV : Dental Stone, High Strength/Low Expansion
- Banyak digunakan sebagai die stone
- Surface hardness baik dan tahan abrasi.
- Digunakan untuk mengukir malam dengan instrumen yang tajam untuk pembuatan crown

5. Type V: Dental Stone High Strength/High Expansion


- Compressive strength lebih baik daripada type IV
- Memiliki ekspansi yang lebih besar

B. Resin
Resin digunakan untuk membuat die dengan pertimbangan bahwa resin lebih resisten terhadap
abrasi dibandingkan dengan die stone. Material resin yang digunakan sebagai die adalah
epoxy resin. Kekurangannya adalah resin lebih mahal daripada gipsum. Pengerjaannya dapat
dilakukan pada suhu ruang tanpa perlengkapan yang mahal dan rumit. Resin cocok digunakan
untuk mencetak dari cetakan negatif PVS. Material yang kurang kompatibel dengan resin
adalah polysulfide dan hydrocolloid. Sedangkan material yang cocok adalah polyether dan
silicone.

C. Electroplated dies
Selain resin, electroplating dapat dilakukan untuk mencegah sifat abrasi dari gipsum. Teknik ini
mencakup deposisi lapisan silver atau copper pada impression. Kekurangannya adalah dapat
terjadi distorsi dan tekniknya lambat. Polieter kurang kompatibel dengan silver tetapi
polisulfida kompatibel.

28
Menurut hubungannya dengan model kerja, die dibagi menjadi 2, yakni : solitaire die dan
removable die. Solitaire die adalah die yang berdiri sendiri, sedangkan removable die adalah
die yang bisa dilepas tetapi menjadi satu kesatuan dengan model kerja. Die digunakan untuk
pembuatan pola malam dan mencoba hasil logam tuang terutama detil bagian marginal
daerah proksimal.

Armamentarium
- Impression
- Stone tipe IV atau V
- Air
- Surfaktan
- Pin dowel
- Alat retensi
- Bowl dan spatula
- Vibrator
- Petrolatum
- Pensil

Proses Manipulasi Produk Gipsum


1. Tentukan rasio w/p yang sesuai (biasanya tergantung merek)
*semakin tinggi perbandingan w/p, semakin lama waktu pengerasan dan semakin lemah
produk gipsum.
2. Masukkan air ke dalam bowl lalu masukkan bubuk ke dalam bowl yang telah terisi air.
Biarkan bubuk terendam seluruhnya selama 30 detik dihitung sejak dimasukkannya bubuk ke
dalam air.
3. Campur bubuk dan air di dalam mangkuk karet lalu aduk selama 1 menit (120 putaran)
hingga adonan terlihat homogen, dapat dibantu dengan meletakkan mangkuk karet yang
berisi adonan pada vibrator sehingga gelembung-gelembung udara yang terperangkap
dalam adonan dapat dieliminasi.
4. Getarkan adonan di atas vibrator untuk mengeluarkan gelembung udara.

29
5. Letakkan hasil cetakan di atas vibrator lalu isi hasil cetakan dengan adonan gips supaya
gelembung udara yang terperangkap dapat hilang sehingga hasil pengisian gips tidak porus.
Apabila mengisi hasil cetakan RA, maka aplikasi adonan dimulai dari bagian palatal
(posterior) hasil cetakan, sedangkan untuk mengisi hasil cetakan RB dimulai dari bagian
oklusal gigi posterior menuju ke anterior.
6. Tunggu hingga produk gipsum mengeras.

Teknik (menurut Rosenstiel)


1. Setelah impression telah dikeluarkan dari mulut pasien, cuci dibawah air mengalir, keringkan,
evaluasi dan disinfeksi.
2. Impression di-spray dengan surfaktan
3. Jika menggunakan dowel, posisikan sesuai gigi yang telah dipreparasi. Lokasi dan orientasi
dari dowel harus tepat.

4. Hitung proporsi stone dan air. Untuk mengurangi bubble pada campuran, air harus diletakkan
di bowl terlebih dahulu lalu gipsum ditambahkan ke dalam air dengan spatula.
5. Aduk campuran gipsum hingga campuran homogen dan konsistensinya baik.
6. Buang sisa surfaktan yang masih tersisa di impression.
7. Ambil sedikit gipsum dengan instrumen kecil (periodontal probe) dan letakkan pada area yang
kritis seperti permukaan oklusal dan sulcus. Gelembung udara akan terbentuk jika menuang
gipsum terlalu banyak atau ketika dua masa gipsum bertemu. Maka dari itu gipsum dituang
secara inkremental sedikit-sedikit dari satu area.

30
8. Ketika sedang menuang, pastikan tray berada diatas vibrator. Untuk memudahkan
pembersihan, vibrator dilapisi dengan plastik.
9. Dengan perlahan arahkan gipsum ke dinding akial dengan memiringkan impression dan
mengarahkan gipsum dengan instrumen. Pastikan tidak ada gelembung udara yang terjebak.
10. Tuang kembali gipsum hingga impression tercetak penuh. Pada area yang menggunakan
dowel, kepala dowel harus tertutup dengan gipsum.
11. Letakkan alat retentif pada area yang tidak terdapat dowel sehingga gipsum akan tetap
berada dit empatnya dan tidak menyebar.
12. Biarkan gipsum setting kurang lebih 30 menit.
13. Trim bagian sulkus lingual dan bukal dan ratakan dasar die.

Menurut buku pedoman skills lab

Pembuatan solitaire die:


1. Untuk pembuatan solitaire die, pertama kali dilakukan pencetakan dengan menggunakan
sendok cetak sebagian pada regio gigi yang dipreparasi dan gigi-gigi tetangganya. Bila hasil
cetakan baik, sebelumnya beri pembatas dulu dengan malam merah setinggi 2,5 kali panjang
mahkota atau dengan bekas film gigi, kemudian segera dicor stone gips. Gelembung-
gelembung kecil yang terjadi di hasil cor dibuang dengan hati-hati. Batas preparasi servikal
dipertegas dengan pinsil merah yang tajam.

2. Buat garis pedoman vertikal sesuai dengan sumbu panjang gigi dan dibuat sedikit konvergen.
Garis dibuat pada permukaan proksimal.

3. Dengan mesin trimmer, dilakukan pembentukan sesuai pedoman, diusahakan tidak membulat
tetapi berbidang supaya tidak mudah lepas waktu memegangnya.

4. Terakhir dilakukan penyelesaian daerah servikal, yaitu mempertegas batas hasil preparasi
dengan cara membuat groove. Disini dengan acrylic trimmer atau bur bentuk round, dibentuk
groove di bawah garis merah yang telah dibuat, sehingga batas servikal merupakan batas
yang paling menonjol.

Pembuatan removable die :


Persiapan dilakukan sebelum hasil cetakan akhir gigi-gigi penyangga gigi tiruan jembatan dan
gigi-geligi lainnya dicor.

31
1. Pertama-tama adalah menempatkan dan memfiksasi dowel pin yang sudah tersedia di daerah
gigi geligi penyangga. Penempatan kepala dowel pin harus berada ditengah-tengah ruang
gigi penyangga dan tidak boleh menyentuh bidang oklusal dengan arah sejajar sumbu gigi.
2. Kemudian fiksasi kedudukan dowel pin dengan bantuan penjepit rambut atau jarum pentul,
dimana kedudukan penjepit rambut dan bahan cetak serta kedudukan dowel pin dengan
penjepit rambut direkatkan memakai sticky wax. Bila menggunakan jarum pentul, difiksasi
dengan cara memasukkan ke bahan cetaknya, tetapi antara jarum pentul dengan dowel pin
tetap menggunakan sticky wax.
3. Kemudian lakukan pengecoran pertama dengan bantuan vibrator. Batas ketinggian
pengecoran kira-kira 2-3mm di atas garis servikal. Mendekati keras, pada bagian
bukal/lingual dowel pin diberi lubang sedalam dan sebesar 1mm.
4. Setelah stone gips mengeras, penjepit rambut/sticky wax dilepas. Lalu oles bahan separator
dengan kuas hanya pada daerah gigi penyangga dan lubang yang telah dibuat.
5. Kemudian lakukan pengecoran kedua dengan warna gipsum yang berbeda dengan bantuan
vibrator hingga batas ujung dowel pin lalu tunggu gipsum mengeras.
6. Lepaskan die dari cetakan.
7. Gergaji daerah gigi yang dipreparasi dipotong dari gigi tetangga sampai batas stone gips
coran kedua. Malam dilepas dan ujung dowel pin, diketuk perlahan, dan didorong keluar dari
model kerja.
8. Tahapan akhir yaitu menyempurnakan batas tepi preparasi servikal dengan membuat groove
kemudian melapisi permukaan die dengan die spacer

Kegunaan die spacer :


- Menutup pori stone gips, sehingga pola wax dapat dilepaskan dengan mudah
- Memperkeras permukaan die sehingga tahan abrasi.

4. TAHAPAN KERJA, BAHAN, DAN ALAT PENENTUAN CATATAN GIGIT


Dibuat oleh Ismiratul Maulida

Sumber :

- Shilingburg HTJ, Hobo S, Whitsett LD, Jacobi R, Brackett SE. Fundamental of fixed
prosthodontics. 3rd ed. Chicago: Quintessence; 1997.
- Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary fixed prosthodontics. 3rd ed. St. Louis:
Mosby Inc; 2001.

32
- Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 4th ed. Louis Mosby
Inc. 2006.

Centric Relation

Alat dan Bahan :


- Cotton roll
- Pink baseplate wax
- Green stick compound

- Hollenback carver

- Gunting
- Aluwax

- Bite registration paste

- Spatula semen

33
- Mixing pad
- Pisau lab dengan blade no 2
- Green wax 28-gauge

- No. 10 red inked silk ribbon

Teknik dan Tahapan Kerja :

1. Posisikan kursi pasien 45 terhadap lantai. Posisi kepala mendongak sehingaa posisi wajah
sejajar dengan lantai untuk menghindari pasien melakukan protrusi mandibula.

2. Dokter gigi berada di belakang kepala pasien untuk menciptakan stabilisasi, dimana kepala
berada diantara tulang rusuk dan lengan atas.
3. Saat manipulasi mandibular, kepala pasien tidak boleh bergerak

4. Letakkan keempat jari pada setiap tangan pada batas


tepi bawah mandibular dan ibu jari pada simfisis
mandibula

34
5. Pasien diminta membuka mulut sebesar 35 mm dan
instruksikan pasien untuk merelaksasikan rahangnya saat
dokter gigi akan melakukan manipulasi mandibular
(memosisikan mandibula posterior hingga mencapai
terminal hinge relationship) dengan gerakan lembut. (fig.
4.2) dengan tekanan kuat, posisikan kondyl bergerak ke
anterosuperior pada glenoid fosa (oklusi sentrik) dengan
ibu jari)

6. Dengan 8 jari tangan, mengangkat mandibular dan dengan ibu jari


membuka mandibular. Lakukan buka dan tutup mulut dengan
kenaikan 2-5 mm dengan keadaan mandibula tidak deviasi selama
gerakan menutup dan keadaan oklusi harus sentrik.

7. Potong baseplate wax membentuk rahang, rendam pada air


hangat agar menjadi lunak

8. Tekan perlahan agar cusp tips membuat bekas pada wax


tersebut

9. Potong baseplate wax dengan hollenbak carver pada bagian distal insisif lateral dan mesial
kaninus, kemudian buat lipatan ke bagian fasial untuk titik acuan ketika menempatkan
baseplate wax tersebut kembali

35
10. Potong wax pada bagian anterior untuk menghilangkan
ganjalan dan potong kelebihan wax pada bagian posterior
yang tidak terdapat jejak cusp tips.

11. Letakkan anterior programming device atau jig pada anterior.


Lunakkan 2,5 cm dari green stick compound dan bentuk menjadi
huruf J. Dengan ibu jari, adaptasikan permukaan fasial dari
compound ke labial embrasure, sembari ditipiskan sampai 2 mm.
Letakkan kedua ibu jari pada permukaan fasial dan kedua jari
telunjuk pada permukaan lingual. Tekan dengan erat untuk
membentuk compound pada permukaan lingual. Gigi mandibula (Insisivus) harus membuat
kontak hanya dengan compound programming device dan berjarak maskimal 1 mm pada gigi
yang lain.

12. Letakkan kembali baseplate wax dengan acuan


canine flaps, pastikan dimensi vertikal yang
terbentuk telah sesuai. Apabila sudah sesuai,
aduk ZOE bite registration paste pada mixing
slab kecil, letakkan dalam bentuk lengkung
rahang.

13. Letakkan wax kembali kedalam mulut dan tutup kembali mulut
pasien sampai Insisivus mandibula berkontak kuat dengan anterior
programming device. Minta pasien untuk menahan posisi tersebut
dengan tekanan sedang sampai registration paste setting sempurna.

14. Setelah setting, keluarkan complete interocclusal record dan


rapikan pasta yang meluas dengan pisau lab tajam.

36
Maximum Intercuspation

Alat dan Bahan :


- Plastic registration frame

- Gunting
- Polyvinyl siloxane registration material
- Impression material dispenser
- Pisau lab dengan blade no. 25
- Arbor band

Teknik dan Tahapan Kerja :

1. Gunakan plastic registration frame untuk membawa registration material.


2. Cobakan pada mulut pada sisi gigi yang telah dipreparasi.

3. Gunting semua lapisan yang melapisi gigi yang tidak dipreparasi.

4. Masukkan bite registration material ke dispenser. Campurkan material dengan cara menekan
trigger pada dispenser.

37
5. Isi frame dengan bite registration material dan letakkan pada
gigi yang telah dipreparasi. Registration paste disuntikkan
pada frame di bagian atas dan bawah.

6. Masukkan frame yang telah terisi ke dalam mulut, frame yang


terisi penuh berada di tengah di bagian gigi yang telah di
preparasi.

7. Minta pasien menutup mulut hingga bagian posterior berkontak dengan normal. Pisahkan bibir
dan pastikan pasien tidak menutup dengan prostrusif atau working relationship. Tinggalkan
record selama 3 menit.

8. Keluarkan tray dari mulut, cuci di bawah air mengalir, keringkan


dengan air syringe. Pastikan semua gigi yang dibutuhkan telah
tercatat pada record.

9. Potong kelebihan pada frame dengan laboratory knife dengan blade


no. 25. Potong semua material yang berlebihan hingga gigi yang
bersebelahan dengan gigi yang dipreparasi.

10. Buang kelebihan ketebalan dari permukaan atas dan bawah record
dengan arbor band.

11. Hanya boleh ada imprint cusp tip pada record yang telah di-trim. Material yang membentuk
edentulous ridge, gingival crevice, central fossa, atau permukaan oklusal kemungkinan akan
membentuk dudukan yang tidak sempurna sehingga akan
menyebabkan ketidaksempurnaan pada bagian tersebut.
Ketebalan keseluruhan dari record harus kurang lebih 4 mm.

38
12. Potong ketebalan sepanjang cusp bukal sampai
posterior frame dan buang segmen fasial dari record.

13. Pasang record pada cast mandibula dan pastikan sudah muat secara
sempurna.

14. Letakkan cast gigi maksila pada indeks sambil artikulasikan gigi
pada sisi lengkung antagonisnya.

15. Pasang cast pada artikulator dengan record diantara kedua cast.

Lateral Occlusal Record


Alat dan Bahan :
- Laboratory knife dengan blade no. 25
- Horseshoe wax wafer

- Bowl

39
Teknik dan Tahapan Kerja :

1. Pandu pasien untuk melakukan CRCP (Centric Relation Contact Position) closure dan lihat posisi
relasi lower midline terhadap gigi maksila. Ukur dan tandai dengan pensil, titik pada gigi
maksila yang akan menjadi antagonis lower midline apabila pasien menggerakkan mandibula
8 mm pada ekskursi lateral ke kanan dan kiri.

2. Letakkan tangan pada dagu pasien dan minta pasien untuk membuka sedikit. Pandu mandibula
kurang lebih 8 mm ke kanan dan tutup hingga gigi bersentuhan ringan. Jelaskan pada pasien
bahwa prosedur ini akan diulang kembali dengan beberapa wax diantara gigi geliginya dan
pasien akan diminta untuk menggigit dengan hati-hati hingga diminta untuk berhenti.

3. Letakkan wax hangat terhadap gigi maksila kira-kira 4 mm dari tengah ke kanan. Dukung wax
dengan tangan dan pandu mandibula ke kanan. Ulangi penutupan hingga terbentuk lekukan
dengan kedalaman kurang lebih 1 mm.

4. Dinginkan wax dengan compressed air dan lepaskan dari mulut. Letakkan pada air dingin.
Ulangi langkah dengan wax kedua pada sisi kiri.

40
Note : posisi ketika gigi pertama kali berkontak dengan mandibula dalam keadaan optimum
adalah Centric Relation Contact Position (CRCP)

Catatan Gigi pada Kasus Pasien Partially Edentulous

Saat gigi yang tersedia tidak cukup untuk mendapatkan stabilitas bilateral, mendapatkan cacatan
gigit seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mungkin tidak bisa. Oleh karena itu, basis catatan
resin akrilik harus dibuat. Untuk menghindari kesalahan diakibatkan oleh soft tissue displacement,
yang dapat mengurangi keakuratan, basis ini harus dibuat pada model gigi yang akan
diartikulasikan. Setelah basis catatan resin akrilik telah dibuat, dapat dilakukan pembuatan
catatan gigit menggunakan cara pengaplikasian zinc oxide eugenol occlusal registration paste
dengan langkah-langkah sesuai dengan teknik maximum intercuspation tanpa plastic registration
frame.

Pembuatan catatan gigit pada kondisi oklusi tidak stabil dapat terjadi pada kondisi :
- Oklusi model kerja akan kehilangan kestabilannya bila salah satu gigi yang menjaga
kestabilan oklusi dipreparasi, misalnya ada kasus gigi paling posterior sebagai gigi
penyangga. Pencatatan gigit dilakukan hanya pada regio yang dipreparasi
- Oklusi awal sudah tidak stabil, misalnya di regio lain kehilangan banyak gigi.

Catatan gigit dievaluasi dengan membandingkan kesesuaian kondisi yang diinginkan operator,
antara oklusi model yang terpasang catatan gigit dengan oklusi di mulut pasien.

41
5. TAHAPAN KERJA PENANAMAN MODEL KERJA PADA ARTIKULATOR
RATA-RATA
Dibuat oleh Gery Gilbert

1. Memasang model kerja di artikulator dengan membuka lengan artikulator, kemudian model
kerja diletakkan pada lengan bawah artikulator, setelah itu lengan atas ditutup. Kemudian
karet gelang dipasang melingkar dari bagian anterior (pin insisal) ke bagian lateral kanan
dan kiri (pada pertengahan dari ruas vertikal artikulator) untuk menentukan tinggi bidang
oklusal model pada artikulator.

Model pada artikulator harus memenuhi syarat-syarat :

- Garis tengah model berhimpit dengan garis tengah artikulator


- Bidang oklusal model sejajar dan setinggi
karet gelang bantu (sama dengan bidang
oklusal artikulator)
- Pin insisal sejajar garis median
- Pin vertikal menyentuh piringan dasar
artikulator
- Untuk mengatur tinggi bidang, bagian dasar
model dapat diganjal dengan malam
merah/wax dan diatur sampai model stabil
dalam kedudukannya.

2. Tanam model atas dan bawah pada basis karet model dengan gips putih. Setelah mengeras,
model dibuka dari cetakan basis karet, kemudian buat garis tengah
model.

Cara membuat midline :


i. Buat titik pada papilla insisivum (tonjolan antara kedua I1)
ii. Buat titik antara rugae-rugae
iii. Sambungkan titik-titik tersebut
iv. Oklusikan kedua model, lanjutkan garis tengah dari RA ke RB

42
v. Bila artikulator tidak mempunyai plat plastik khusus pemegang model (yang berguna
untuk remounting atau mendayagunakan artikulator untuk model kerja lainnya), maka
dapat dibuat irisan atau lekukan pada ketiga sisi basis model.

3. Kasarkan permukaan bawah basis

4. Rendam model pada air selama beberapa saat

5. Lakukan fiksasi kedudukan rahang atas dengan bawah melalui catatan gigit yang telah dibuat
menggunakan karet gelang atau batang korek api, kemudian rekatkan dengan malam perekat
(sticky wax).

6. Siapkan artikulator rata-rata dan letakkan model atas bawah yang terfiksasi dengan bantuan
plastisin atau malam mainan sehingga bidang oklusal model sejajar dengan garis sejajar
lengan artikulator yang ditarik dari tengah lengan vertikal (sebagai tanda) sisi kiri dan kanan.
7. Indikator insisal (incisal pin) berjarak 1-2 mm dari permukaan insisal diantara gigi insisivus satu
atas

8. Fiksasi model terhadap lengan atas artikulator dengan


gips putih. Setelah gips keras artikulator dibalik dan
plastisin dibuang, lalu dengan gips putih, model
difiksasi terhadap lengan bawah artikulator.

9. Rapikan permukaan gips bila sudah mengeras,


kemudian semua fiksasi karet dan malam perekat
dibuang sehingga model kerja dan die siap untuk
prosedur pembuatan pola malam mahkota tiruan atau
gigi tiruan jembatan.

Evaluasi Pemasangan Model di Artikulator

Pemasangan model kerja pada artikulator harus memenuhi syarat-syarat :


- Garis median/tengah model berimpit dengan garis tengah artikulator
- Bidang oklusal model sejajar dan setinggi karet gelang bantu (sama dengan bidang oklusal
articulator)

43
- Pin insisal sejajar garis median dan berada pada pertemuan garis tengah model rahang atas
dan rahang bawah
- Pin vertikal menyentuh piringan dasar artikulator

Untuk mengecek akurasi dari artikulasi sebelum memasuki tahap pengiriman ke laboratorium,
sebaiknya membandingkan kontak oklusal dari pasien dengan model. Dapat pula dilakukan
perekaman catatan gigit kedua bila diperlukan untuk membandingan dengan hasil yang pertama.

6. KOMUNIKASI DALAM PENGIRIMAN MODEL KERJA KE


LABORATORIUM GIGI

Dibuat oleh I Dewa Gde Budhi A.

Pedoman Bagi Dokter Gigi

1. Menyediakan instruksi tertulis untuk teknisi dental atau laboratorium. Instruksi tertulis harus
mendetil pekerjaan yang akan dilakukan, mendeskripsikan material yang digunakan, dan
dituliskan dengan cara yang jelas dan bisa dimengerti. Salinan duplikat dari instruksi tertulis
harus disimpan selama waktu tertentu.

2. Memberikan hasil cetakan, model, dan catatan gigit yang akurat.

3. Memberikan informasi material yang dipakai beserta warnanya (bisa dengan fotograf, shade
button, deskripsi tertulis)

4. Mengidentifikasi margin crown, post palatal seal, border, daerah yang perlu dibebaskan, dan
desain GTL pada seluruh kasus

5. Menyediakan tempat/kontainer yang sesuai, dan dikemas dengan baik untuk mencegah
kerusakan dan menjaga keakuratan.

6. Menyediakan persetujuan tertulis sebelum melakukan prosedur atau bila terdapat modifikasi
dalam protesa yang akan dibuat

44
7. Membersihkan dan disinfeksi semua item yang akan dikirim ke tekniker sesuai standar kontrol
infeksi serta harus dipersiapkan untuk transportasi, disimpan pada tempat penyimpanan yang
baik, dan dikemas secara baik untuk mencegah kerusakan dan mempertahankan keakuratan.

8. Bila protesa tidak fit atau warna tidak sesuai, maka perlu mengembalikan seluruh cetakan,
catatan gigit, dan protesa ke laboratorium

9. Memiliki tanggungjawab secara keseluruhan terhadap perawatan. Tanggungjawab pokok


dokter gigi diantaranya adalah :

- Kontrol infeksi

- Preparasi gigi

- Preparasi margin

- Artikulasi

Pedoman Bagi Tekniker Laboratorium

1. Membuat protesa sesuai instruksi dokter gigi dengan cetakan, casting, dan catatan gigit yang
diberikan
2. Bila instruksi kurang jelas, maka perlu klarifikasi dengan dokter gigi
3. Mencocokkan shade button sesuai instruksi
4. Informasikan ke dokter gigi dalam kurun waktu 2 hari kerja setelah menerima instruksi bila ada
yang tidak dapat diproses
5. Mengerjakan protesa tepat waktu setelah mendapatkan instruksi tertulis dari dokter gigi.
Apabila instruksi tersebut tidak diterima, tekniker perlu mengembalikan tepat waktu dan alasan
dari penolakan tersebut.
6. Mengikuti standar kontrol infeksi terbaru terhadap perlindungan diri sendiri dan disinfeksi
protesa dan material. Serta seluruh material harus dicek bila terdapat kerusakan dan bila
ditemukan segera dilaporkan.
7. Menginformasikan kepada dokter gigi tentang material yang tersedia sesuai kasus dan
menyarankan metode bagaimana menyesuaikan material tersebut dengan benar
8. Tekniker harus melakukan sterilisasi dan disinfeksi barang yang dikirim dari dokter gigi

45
9. Menginformasikan kepada dokter gigi apabila tidak terdapat tekniker yang sesuai dengan
kasus yang diminta
10. Tekniker tidak bisa meminta bayaran secara langsung dari pasien tanpa izin dari hukum yang
berlaku.

46
Pembahasan kasus
Dibuat oleh Rivandy Holil
Sumber :
1. Shilingburg HTJ, Hobo S, Whitsett LD, Jacobi R, Bracker SE. Fundamental of Fixed
Prosthodontics 3rd ed. Chicago : Quintessence Publishing Co. Inc. 1997.
2. Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics, 4th ed. Louis : Mosby
Inc. 2006.
3. Smith BGN. Planning and Making Crown and Bridges. Mosby. St Louis, 4th., 2007.

Berdasarkan kasus pada skenario, pasien perempuan berusia 25 tahun datang ke RSGM UI untuk
dilakukan perawatan GTJ. Berikut merupakan rincian rencana perawatan yang dilakukan
terhadap pasien.

1. Perawatan gigi 35, 36, dan 37 sebelum pencobaan coping logam


Kondisi umum gigi :
- Gigi 35 dan 37 dalam kondisi yang baik dan vital
- Gigi 36 hilang
- Pada hasil interpretasi radiografis dan pemeriksaan intraoral, terlihat semua gigi molar 3
di seluruh regio tidak ada

Pilihan GTJ : GTJ tipe rigid dengan bahan fully veneered metal porcelain dan pontik dengan
modifikasi ridge lap

Alasan pemilihan GTJ tersebut :

Pemilihan bridge karena terdapat 1 gigi posterior yang hilang namun gigi antagonisnya masih
ada dan gigi sebelahnya dalam kondisi baik yang memungkinkan untuk dijadikan abutment.

Gaya oklusi yang diaplikasikan ke jaringan periodontal dan tulang alveolar menyerupai gaya
oklusi normal sehingga pasien akan merasa nyaman menggunakan GTJ.

Penggunaan tipe rigid untuk meminimalkan terjadinya pergerakan pontik sehingga GTJ akan
tetap dalam kondisi yang stabil dan tidak terjadi suatu ruang bebas gerak untuk GTJ yang

47
dapat memperbesar kemungkinan GTJ rusak/fraktur. Selain itu, gigi yang perlu digantikan
hanya satu dan memiliki dua gigi abutment, sehingga yang diindikasikan adalah konektor rigid.

Pemilihan fully veneered metal porcelain karena penggunaan metal penting agar gigi tiruan
cukup kuat sebab GTJ ini akan digunakan pada gigi posterior yang memiliki beban oklusi yang
cukup besar. Penggunaan porselen pada bagian luar berfungsi untuk meningkatkan estetika
dari GTJ.

Penggunaan pontik modifikasi ridge lap dengan pertimbangan alasan menjaga kualitas oral
hygiene dari pasien itu sendiri tanpa mengabaikan faktor estetik dari pasien. Karena modifikasi
ridge lap ini merupakan modifikasi pontik yang tertutup pada bagian servikal labialnya dan
terbuka pada bagian servikal lingualnya.

Tahap preparasi :
Tahap preparasi dan juga prinsip preparasi untuk kasus gigi ini mengikuti teori prinsip
preparasi GTJ yang baik, serta preparasi gigi abutment untuk GTJ secara teori. Dimana prinsip
paling mendasar dari preparasi GTJ adalah penekanan pada kesejajaran bidang gigi
abutment-nya baik dari segi oklusal, bukal, proksimal, dan lingual.

2. Bahan cetak yang digunakan Polyvinyl Siloxane/Silikon Adisi (Elastomer)


Alasannya :
- Tidak seperti silikon kondensasi yang menghasilkan produk sampingan, silikon adisi tidak
menghasilkan produk sampingan sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya perubahan
dimensi
- Silikon adisi mempunyai stabilitas dimensi yang sangat baik. Bahkan hasil cetakan dapat
bertahan hingga 1 -2 hari. Sehingga pengecoran tidak perlu dilakukan terburu buru
- Hasil cetakan paling akurat dibandingkan bahan lain karena bahan bahan yang
terkandung di dalamnya, terdiri dari 2 pasta, dan konsistensi bahan paling baik
- Tidak mudah robek sehingga mudah dilepas dari sendok cetak
- Tidak berasa dan berbau

Alasanalasan tidak menggunakan bahan cetak lain :


- Hidrokoloid reversible stabilitas dimensinya paling buruk
- Alginat/hidrokoloid irreversible kurang mendetail hasil cetakannya, mudah sineresis,
mudah robek

48
- Polysulfide/rubber base bau dan rasanya tidak enak, lengket serta dapat menghasilkan
noda jika terkena baju, harus dicor dalam waktu+/- 30 menit agar dimensinya tidak
berubah
- Polieter mudah menyerap air jika ditempatkan di tempat yang lembab, sehingga harus
disimpan di tempat kering, rasanya pahit, dan agak sulit dilepasd baik dari mulut pasien
atau dari sendok cetak
- Silikon kondensasi meskipun bahan ini juga lebih baik daripada bahan lainnya, tetapi
bahan ini dapat menghasilakn produk sampingan yaitu etyl alcohol yang dapat
menganggu stabilitas dimensi hasil cetakan

3. Bahan cor yang digunakan : gipsum tipe IV (dental stone high strength low expansion)
Alasannya :
- Tidak mudah berubah dimensinya (kuat) tapi masih mudah untuk diukir-ukir
- Tidak mudah ekspansi karena dia cenderung stabil dimensinya
- Tahan abrasi
- Banyak digunakan sebagai die stone
- Digunakan untuk keperluan gigi tiruan cekat

4. Perawatan gigi 35, 36, dan 37 setelah pencobaan coping logam

Kondisi umum gigi :


- Batas tepi servikal logam di sepanjang sisi bukal hingga distal gigi 35 terlihat terbuka
sebesar 0.5 1 mm
- Gingiva di sekeliling gigi 37 terlihat pucat
- Terjadi peninggian gigit pada saat pasien beroklusi
- Kondisi umum coping logam :
o Coping dinilai baik
o Batas tepi restorasi sesuai dengan batas preparasi pada model kerja
o Oklusi sesuai model di artikulator

Pembahasan kondisi umum gigi dan coping :


- Pada tahap evaluasi coping logam, operator sudah menilai bahwa kondisi coping logam
dalam keadaan yang baik. Dimana evaluasi dilakukan pada batas tepi dan ketinggian
coping yang dievaluasi pada model artikulator. Namun, pada kenyataannya pemasangan
coping pada pasien menunjukkan evaluasi yang berbeda karena terdapat beberapa

49
masalah. Sehingga pada tahapan pencobaan di model artikulator, dapat disimpulkan
bahwa evaluasi pada model kerja di artikulator tidak dapat menjadi kesimpulan akhir
keberhasilan coping logam sebelum sepenuhnya dicobakan pada pasien.
- Evaluasi masalah pertama adalah terbukanya batas tepi servikal logam di sepanjang sisi
bukal distal gigi 35 sebesar 0.5 1 mm. Kemungkinan penyebab ketidakakuratan fit
pada margin dapat dikarenakan oleh distorsi pada saat penghilangan wax dari die, atau
peningkatan ekspansi saat setting yang diikuti dengan ekspansi tidak merata dari mold.
Sehingga menyebabkan terbukanya bagian servikal pada gigi 35 tersebut.
- Evaluasi masalah kedua adalah gingiva di sekeliling gigi 37 terlihat pucat. Kemungkinan
penyebab dari pucatnya sekeliling gingiva gigi 37 tersebut adalah tepi servikal yang
terlalu panjang sehingga akan menekan gusi. Hal ini bisa tidak terlihat pada saat evaluasi
di model kerja karena tidak adanya jaringan lunak yang nyata pada model kerja dan
kemungkinan terjadinya ekspansi pada model kerja yang memperbesar kemungkinan
terjadinya kesalahan perkiraan oleh operator. Kemungkinan lain yang dapat terjadi
adalah tidak dilakukannya prosedur pemindahan jaringan gingiva yang tepat. Seperti
contohnya tahapan penggunaan retraction cord yang salah. Sehingga bagian sulkus gingiva
tidak tercetak dengan baik dan tepat, serta menimbulkan hasil cetak coping logam yang
menekan gusi.
- Evaluasi masalah ketiga dan yang terakhir adalah terjadinya peninggian gigit pada saat
coping dicobakan ke pasien. Kemungkinan hal ini dapat terjadi karena coping logam yang
terlalu tinggi baik di bagian oklusal maupun servikal. Sehingga akan menyebabkan
peninggian gigit. Korelasi dari hal ini dapat dilihat pada pucatnya sekeliling gingiva gigi
37. Dimana hal ini menunjukkan bahwa logam bagian servikal pada gigi 37 berlebihan.
Sehingga menyebabkan tinggi dari coping logam menjadi tidak benar dan akan
menyebabkan peninggian gigit. Peninggian gigit akan menyebabkan beban kunyah/oklusi
berlebih pada bagian gigitan yang menonjol. Hal ini akan membuat penekanan berlebih
pada gigi yang menonjol tersebut. Sehingga menyebabkan iritasi jaringan gingiva gigi 37
dan hasil akhirnya gingiva akan terlihat pucat.

Solusi untuk permasalahan :


- Untuk masalah pertama dimana bagian servikal coping logam gigi 35 terbuka, dapat
dilakukan prosedur perbaikan bentuk dengan menggunakan tang untuk stainless steel crown
(ssc) dengan pilihan ball and socket plier/Johnsons Contouring plier/crown crimping
plier/howe plier. Sehingga adaptasi servikal dapat lebih baik lagi dan coping logam dapat
memiliki kedudukan yang baik pada area edentulous gigi 35.

50
- Untuk masalah kedua dan ketiga, solusi yang mungkin dilakukan adalah reduksi kelebihan
bagian coping logam di area servikal. Coping dapat dikurangi dengan menggunakan stone
yang halus, dengan tekanan ringan dari arah oklusal ke servikal secara diagonal.
Sehingga, tinggi coping diharapkan dapat turun, tidak terjadinya peninggian gigitan, oklusi
pasien akan stabil, serta gingiva akan kembali normal.

5. Untuk kestabilan oklusi, model cetak awal dipastikan akan stabil. Dengan catatan, bahwa
dokter gigi operator melakukan tindakan pencetakan rahang pasien dengan baik dan benar,
serta tekniker menempatkan model kerja dengan benar di artikulator. Namun, kestabilan oklusi
kemudian dapat berubah manakala terjadi kesalahan pada coping logam yang telah jadi. Hal
ini dapat terjadi karena berbagai faktor seperti contohnya coping logam yang terlalu tinggi
bagian servikalnya sehingga menyebabkan peninggian gigitan, penempatan pada artikulator
yang salah sehingga posisi model yang tidak benar dan gigitan oklusi menjadi tidak seimbang,
model kerja yang mengalami penyusutan, dan faktorfaktor lain yang tidak terduga yang
dapat menyebabkan oklusi model kerja menjadi tidak stabil dan akhirnya dapat terjadi
kesalahan pengerjaan pada pasien.

51