Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PAKTIKUM

BUDIDAYA TANPA TANAH


Tomat Cherry

Oleh:
1. Riyadi Akbar Febrianto 145040201111020
2. Annisa Fitri Febrianti 145040207111039
3. Mia Maysitha 145040207111045
4. Syifa Medina 145040201111172
5. Elfandi Putra Pradiga 145040207111066

Asisten Kelompok:
Mahardian Anggarini Pribady

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkah dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum
Budidaya Tanpa Tanah Tomat Cherry. Dalam penulisan laporan ini, penulis
mengucapkan terima kasih kepada: Tim Dosen dan Asisten praktikum Budidaya
Tanpa Tanah yang sudah mendampingi kami dalam kegiatan praktikum di
lapangan. Kepada teman-teman yang selalu memberikan dukungan baik moril
maupun materil. Serta semua pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan
penulisan laporan akhir praktikum ini.
Penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir dari praktikum
mata kuliah Budidaya Tanpa Tanah. Dalam penulisan makalah ini, penulis
menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan baik secara teknis
penulisan maupun materi sehingga kritik dan saran dari semua pihak sangat
diharapkan demi penyempurnaan pembuatan laporan akhir ini.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini dapat memberi
kebermanfaatan bagi semua pihak yang membacanya. Sekian dan terimakasih.
Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah
memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai salah
satu ibadah.

Malang, 2 Juni 2017

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... v
1. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan ......................................................................................................... 1
2. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 2
2.1 Tomat Cherry ............................................................................................ 2
2.2 Pola Pertumbuhan Tomat Cherry .......................................................... 3
2.3 Macam-macam Media Hidroponik ......................................................... 3
2.4 Larutan Nutrisi Hidroponik ....................................................................... 5
2.5 Budidaya Secara Hidroponik (Kultur Substrat) .................................... 6
2.6 Pengaruh Media Tanam terhadap Pertumbuhan Tanaman .............. 8
3. BAHAN DAN METODE .................................................................................. 9
3.1 Waktu dan Tempat ................................................................................... 9
3.2 Alat dan Bahan.......................................................................................... 9
3.3 Metode Pelaksanaan ............................................................................... 9
3.4 Parameter Pengamatan ........................................................................ 11
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 13
4.1 Hasil ........................................................................................................... 13
4.2 Pembahasan ............................................................................................ 18
5. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 22
5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 22
5.2 Saran ......................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 23
LAMPIRAN .......................................................................................................... 26

ii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tinggi Tanaman pada Berbagai Media Tanam.............................. 13
Tabel 2. Jumlah Daun pada Berbagai Media Tanam ................................... 14
Tabel 3. Waktu Muncul Bunga pada Berbagai Media Tanam .................... 15
Tabel 4. Jumlah Bunga pada Berbagai Media Tanam ................................. 16
Tabel 5. Jumlah Buah pada Berbagai Media Tanam ................................... 17

iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tomat Cherry .................................................................................... 2
Gambar 2. Tinggi Tanaman pada Berbagai Media Tanam ......................... 13
Gambar 3. Jumlah Daun pada Berbagai Media Tanam .............................. 14
Gambar 4. Waktu Muncul Bunga pada Berbagai Media Tanam ................ 15
Gambar 5. Jumlah Bunga pada Berbagai Media Tanam ............................ 16
Gambar 6. Jumlah Buah pada Berbagai Media Tanam ............................... 17

iv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Waktu Tumbuh Bunga ................................................................. 26
Lampiran 2. Jumlah Bunga pada Berbagai Media Tanam .......................... 27
Lampiran 3. Jumlah Buah pada Berbagai Media Tanam ............................ 30
Lampiran 4. Dokumentasi Persiapan Media .................................................. 33
Lampiran 5. Dokumentasi Transplanting ........................................................ 33
Lampiran 6. Pengamatan 7 HST ..................................................................... 33
Lampiran 7. Pemasangan Ajir dan Pengamatan 14 HST ............................ 34
Lampiran 8. Pengamatan 21 HST ................................................................... 34
Lampiran 9. Pengamatan 28 HST ................................................................... 34
Lampiran 10. Pengamatan 35 HST ................................................................. 35

v
1

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tomat (Lycopersium esculentum Mill.) merupakan salah satu tanaman
hortikultura golongan sayur-sayuran yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi,
seperti vitamin C, vitamin A dan mineral. Tomat memiliki berbagai jenis dan
varietas yang berbeda, salah satu jenisnya yang sedang banyak dibudidayakan
ialah tomat ceri (Lycopersium esculentum L. var cerasiforme).
Menurut data BPS tahun 2013, budidaya segala jenis dan varietas tomat
merupakan salah satu komoditas yang produktivitasnya cukup tinggi yaitu
mencapai 15,52 ton/ha pada tahun 2014 dan meningkat menjadi 16,09 ton/ha
pada tahun 2015. Volume impor tomat di dunia pada tahun 1980-2011 juga
cenderung meningkat. Volume impor tomat dunia pada tahun 1980 sebesar 1,80
juta ton dan naik menjadi 6,83 juta ton pada tahun 2011. Hal ini menunjukkan
bahwa adanya kesempatan yang baik bagi suatu negara yang telah mampu
mengekspor tomat ke pasar dunia, karena harga untuk impornya selalu
mengalami peningkatan. Akan tetapi, kesempatan baik tersebut tidak dapat
dimanfaatkan oleh Indonesia, karena untuk memenuhi kebutuhan tomat dalam
negeri saja masih belum terpenuhi. Volume ekspor tomat di Indonesia hanya
menyumbah 0,01% (917 ton) terhadap total volume ekspor tomat dunia
(Kementrian Pertanian RI, 2013).
Budidaya tomat didalam greenhouse biasanya dilakukan dengan sistem
hidroponik. Teknologi hidroponik yaitu teknik budidaya tanaman dalam media
inert dengan penambahan larutan hara. Teknologi hidroponik saat ini banyak
digunakan untuk produksi sayuran. Keuntungan penggunaan teknologi
hidroponik antara lain dapat meningkatkan kualitas dan hasil, menurunkan
kehilangan hara, efisien dalam penggunaan pupuk dan air serta penanganannya
yang mudah (Resh, 1998). Selain itu, sistem ini bekerja dengan tidak
memerlukan lahan yang luas dan dapat diterapkan pada lahan sempit untuk
menghasilkan suatu tanaman budidaya sehingga tidak ada lagi permasalahan
akan menurunnya lahan pertanian untuk membudidayakan tomat.
1.2 Tujuan
Praktikum ini dilakukan ntuk mengetahui pengaruh media tanam yang
digunakan terhadap pertumbuhan tanaman tomat ceri secara hidroponik serta
untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang digunakan dalam budidaya tomat
ceri secara hidroponik.
2

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tomat Cherry


Tomat cherry merupakan tanaman perdu semusim dari famili solanaceae.
Tanaman tomat cherry diklasifikasikan sebagai berikut yaitu Kingdom Plantae,
Divisi Spermatophyta, Subdivisi Angiospermae, Kelas Dicotyledoneae, Ordo
Solanales, Famili Solanaceae, Genus Lycopersicon (Lycopersicum) dan Spesies
Lycopersicum cerasiformae Mill.(Agromedia, 2007).

Gambar 1. Tomat Cherry (Google Image, 2017)


Tomat cherry memiliki sistem perakaran tunggang denganakar-akar
cabang yang menyebar ke segala arah pada kedalaman 60-70 cm. Perakaran
tomat cherry cukup kuat dan berwarna kecokelatan (Rukmana, 2003). Tomat
cherry memiliki batang bulat dan pada bagian bukubukunya membengkak.
Bagian yang masih mudamudah patah dan dapat naik bersandar pada turus atau
merambat pada tali. Ada bagian batang yang dibiarkan melata menutupi tanah
dengan rimbun. Ada juga yang bagian yang bercabang banyak sehingga secara
keseluruhan berbentuk perdu (Decoteau, 2000). Daun tomat cherry umumnya
lebar, bersirip dan berbulu, panjangnya antara 2-3 cm atau lebih. Tangkai daun
bulat panjang sekitar 7-10 cm dan tebalnya antara 0,3-0,5 cm. Daun tomat
berjumlah antara 5-7 helai. Umumnya diantara pasangan daun besar terdapat 1-
2 daun kecil(Trisnawati dan Setiawan, 2001).
Tomat cherry biasanya memiliki bunga berwarna kuning dan tersusun
dalam dompolan dengan jumlah 5-10 bunga. Kuntum bunga terdiri dari lima helai
daun kelopak dan lima helai daun mahkota. Serbuk sari bunga memiliki kantong,
letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung mengelilingi tangkai kepala
putik. Bunga tomat cherry dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe
bunganya berumah satu (Wiryanta, 2004). Buah tomat cherry berbentuk bulat
dengan diameter1,5-3 cm. Bobot buah sekitar 25-30 gram, serta memiliki kulit
buah yang tipis. Kulit buah ada yang berwarna merah muda, merah, oranye atau
kuning (Opena dan Vossen, 1994). Biji tomat cherry umumnya berukuran kecil
3

dan berbentuk pipih, berbulu serta diselimuti daging buah.Warna bijinya ada
yang putih, putih kekuningan, serta kecoklatan.Biji ini umumnya digunakan untuk
perbanyakan tanaman (Pracaya, 1998)
2.2 Pola Pertumbuhan Tomat Cherry
Pada umumnya, pertumbuhan tanaman dapat diartikan dengan
pertambahan ukuran. Hal ini dikarenakan organisme multisel tumbuh dari zigot,
pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tetapi juga dalam bobot, jumlah sel,
banyaknya protoplasma dan tingkat kerumitan (Elviana, 2008). Pertumbuhan
tanaman dipengaruhi oleh enam faktor lingkungan diantaranya: (1) cahaya, (2)
bantuan mekanik, (3) suhu, (4) udara, (5) air dan (6) unsur hara. Tanaman tomat
ceri diperbanyak dengan biji. Salah satu pendukung keberhasilan produksi tomat
ceri ialah awal dari pertumbuhannya, yaitu biji atau benihnya. Budidaya tomat
ceri dapat dilakukan melalui beberapa tahap yaitu: (1) fase persemaian (0-30 hari
setelah semai), (2) fase tanam (0-15 hst), (3) fase vegetatif (15-30 hst), (4) fase
generatif (30-80 hst), (5) fase panen dan pasca panen (80-130 hst). Tanaman
tomat ceri sangat membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang hari untuk
produksi yang menguntungkan, akan tetapi sinar matahari yang terik tidak
disukainya. Daerah dengan kondisi demikian memungkinkan tanaman mudah
terserang penyakit cendawan busuk daun Phytophtora infestans dan sebagainya.
Angin kering dan udara panas kurang baik bagi pertumbuhannya karena sering
menyebabkan kerontokan bunga. Suhu yang paling ideal untuk perkecambahan
benih tomat ceri ialah 25-30C. Sementara itu, suhu ideal untuk pertumbuhan
tanaman tomat ceri ialah 24-28C. Apabila suhunya rendah maka
pertumbuhannya akan terhambat. Demikian juga pertumbuhan dan
perkembangan bunga serta buahnya yang kurang sempurna (Tugiyono, 2005).
2.3 Macam-macam Media Hidroponik
Menurut Purnomo (2013) menyatakan bahwa media dalam hidroponik
berfungsi sebagai penopang tanaman dan memiliki syarat seperti struktur yang
stabil selama pertumbuhan tanaman , bebas dari zat berbahaya bagi tanaman,
bersifat inert, memiliki daya pegang air yang baik, drainase dan aerase yang
baik. Media (substrat) ada dua macam, yaitu substrat organik dan substrat
anorganik. Substrat organik berupa pakis, sekam bakar, debog pisang, cocopeat
dan sebagainya. Sedangkan yang bersifat anorganik meliputi pecahan batu bata,
kerikil, gabus dan sebagainya. Media/substrat yang biasa digunakan adalah
sekam bakar, rockwool-grodan atau cocopeat.
4

a. Rockwool
Rockwool dibuat dengan melelehkan kombinasi batu dan pasir dan kemudian
campuran diputar untuk membuat serat yang dibentuk menjadi berbagai bentuk
dan ukuran. Proses ini sangat mirip dengan membuat permen kapas. Bentuk
bervariasi dari 1"x1"x1" dimulai dengan bentuk kubus hingga 3"x12"x36"
lempengan, dengan berbagai ukuran lainnya. Rockwool media semai dan media
tanam yang paling baik dan cocok untuk sayuran. Rockwool dapat
menghindarkan dari kegagalan semai akibat bakteri dan cendawan penyebab
layu fusarium. Media rockwool merupakan media hidroponik yang paling baik
karena memiliki porositas yang baik sehingga media dapat mengatur air dan
udara yang diserap oleh tumbuhan Bussell, Mckennie (2004).
b. Cocopeat
Cocopeat atau serbuk kelapa merupakan media tanam organic yang
diperoleh dari hasil pengolahan limbah sabut kelapa. Cocopeat cukup stabil dan
memiliki pH antara 5.0 6.8 dan daya serap air tinggi. Cocopeat adalah media
tanam ramah lingkungan karena berasal dari bahan organik yang aman. Dalam
aplikasinya sebagai media tanam hidroponik, cocopeat biasanya dicampur
dengan arang sekam. Pencampuran perlu dilakukan untuk meningkatkan aerasi
dan pasokan oksigen pada akar tanaman tercukupi. Cocopeat memiliki daya
serap air yang sangat tinggi sehingga tingkat aerasi kecil. Semakin tinggi tingkat
aerasi maka semakin baik pula pasokan oksigen pada akar tanaman (Hasriani
dan Sukendro. A 2013). Menurut Ihsan (2013) menyatakan bahwa kandungan
hara yang terkandung dalam cocopeat yaitu unsur hara makro dan mikro yang
dibutuhkan tanaman diantaranya adalah kalium, fosfor, kalsium, magnesium dan
natrium. Media serbuk sabut kelapa memiliki daya simpan air yang tinggi
dibandingkan media tanah dan media campuran serbuk sabut kelapa + tanah.
Serbuk sabut kelapa memiliki kadar air dan daya simpan air masing-masing
119% dan 695,4% (Hasriani, Sukendro. A, 2013)
c. Arang Sekam
Arang sekam atau sekam bakar merupakan limbah dari proses penggilingan
padi. Arang sekam banyak digunakan sebagai media tanam hidroponik. Arang
sekam diperoleh dari pembakaran limbah yang berupa kulit padi yang dilakukan
dengan teknik pembakaran tidak sempurna. Arang sekam sangat baik digunakan
sebagai media tanam hidroponik karena lebih steril dari bakteri cendawan.
Sekam bakar dapat digunakan sebagai media semai maupun media tanam
5

sistem hidroponik. Arang sekam memiliki daya tahan cukup lama, tidak mudah
terurai dan bisa digunakan berulang-ulang. Arang sekam memiliki sifat kasar
sehingga sirkulasi udara tinggi, ringan dengan berat jenis sekitar 0,2 gr/cm 3,
kapasitas menahan air tinggi dan dapat menghilangkan pengaruh penyakit
karena telah melalui tahap sterilisasi, sehingga relatif bersih dari hama, bakteri
dan gulma (Murniati, 2003).
d. Hydroton
Hydroton merupakan media tanam hidroponik yang terbuat dari bahan dasar
lempung yang dipanaskan, berbentuk bulatan-bulatan dengan ukuran bervariasi
antara 1 cm-2,5 cm. Dalam bulatan-bulatan ini terdapat pori-pori yang dapat
menyerap air (nutrisi) sehingga dapat menjaga ketersediaan nutrisi untuk
Hydroton memiliki pH netral dan stabil. Dengan bentuk yang bulat (tidak
bersudut), maka dapat mengurangi resiko merusak akar, dan ruang antar
bulatan-bulatan ini bagus untuk ketersediaan oksigen bagi akar (Istiqomah,
2006).
e. Serbuk Gergaji
Kayu atau serbuk gergajian yang paling baik digunakan sebagai media tanam
adalah kayu harus steril, yakni tidak mengandung pestisida atau bahan beracun
lainnya. Menurut Bambang B. Santoso (2010) Serbuk gergaji sangat baik untuk
media tanam khususnya sayur-sayuran karena memiliki daya tahan memegang
air yang tinggi. Sehingga tanaman akan tercukupi suplai airnya.
Keunggulan menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam yaitu Banyak
tersedia, karena serbuk gergaji merupakan produk sampingan dari industri
pengolahan kayu non kertas, ringan, mudah dibentuk, hanya dengan
menambahkan sedikit air maka media serbuk gergaji mampu menyimpan air
dalam jumlah banyak, dapat menyimpan zat hara seperti halnya tanah, memiliki
porositas yang cukup tinggi namun bisa diatur kepadatannya hingga mencapai
tingkat porositas dengan mengatur rasio pemberian air.
2.4 Larutan Nutrisi Hidroponik
Pada budidaya tanaman dengan sistem hidroponik pemberian air dan
pupuk memungkinkan dilaksanakan secara bersamaan. Dalam sistem
hidroponik, pengelolaan air dan hara difokuskan terhadap cara pemberian yang
optimal sesuai dengan umur tanaman dan kondisi lingkungan sehingga tercapai
hasil yang maximum (Susila, 2006).
6

Tanaman membutuhkan 16 unsur hara/nutrisi untuk pertumbuhan yang


berasal dari udara, air dan pupuk. Unsur-unsur tersebut adalah karbon (C),
hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S), kalsium
(Ca), besi (Fe), magnesium (Mg), boron (B), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng
(Zn), molibdenum (Mo) dan khlorin (Cl). Unsur-unsur C, H dan O biasanya
disuplai dari udara dan air dalam jumlah yang cukup. Unsur hara lainnya
didapatkan melalui pemupukan atau larutan nutrisi (Rosliani dan Sumarni, 2005).
Larutan hara untuk pemupukan tanaman hidroponik diformulasikan sesuai
dengan kebutuhan tanaman menggunakan kombinasi garam-garam pupuk.
Jumlah yang diberikan disesuaiakan dengan kebutuhan optimal tanaman.
Program pemupukan tanaman melaui hidroponik walaupun kelihatannya sama
untuk berbagai jenis tanaman sayuran, akan tetapi terdapat perbedaan
kebutuhan setiap tanaman terhadap hara. Pupuk yang dapat digunakan dalam
sistem hidroponik harus mempunyai tingkat kelarutan yang tinggi (Susila, 2006).
Pada sistem budidaya hidroponik larutan hara merupakan hal yang sangat
penting.
Kunci utama dalam pemberian larutan nutrisi atau pupuk pada system
hidroponik adalah pengontrolan konduktivitas elektrik (electro conductivity = EC)
atau aliran listrik di dalam air dengan menggunakan alat EC meter. Electrical
Conductivity merupakan suatu kemampuan air sebagai penghantar listrik yang
dipengaruhi oleh jumlah ion atau garam yang terlarut di dalam air (Susila, 2006).
Efisiensi penggunaan larutan nutrisi berhubungan dengan kelarutan hara dan
kebutuhan hara oleh tanaman. Bila EC tinggi maka larutan nutrisi semakin pekat,
sehingga ketersediaan unsur hara semakin bertambah. Begitu juga sebaliknya,
jika EC rendah maka konsentrasi larutan nutrisi rendah sehingga ketersediaan
unsur hara lebih sedikit (Supardi 2005).
EC ideal untuk larutan hidroponik berkisar antara 1,5 sampai 2,5 mS/cm
(Sutiyoso, 2003). Selain EC, pH juga merupakan faktor yang penting untuk
dikontrol. Formula nutrisi yang berbeda mempunyai pH yang berbeda, karena
garam-garam pupuk mempunyai tingkat kemasaman yang berbeda jika
dilarutkan dalam air. pH optimum untuk larutan nutrisi hidroponik berkisar antara
5,8 hingga 6,5.
2.5 Budidaya Secara Hidroponik (Kultur Substrat)
Hidroponik substrat merupakan salah satu dari sistem hidroponik, dimana
pada sistem ini menggunakan substrat selain air. Media yang digunakan dapat
7

menyerap atau menyediakan nutrisi, air, dan oksigen serta mampu mendukung
akar tanaman seperti halnya fungsi tanah (Lingga, 2002). Sistem hidroponik
substrat merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh
pada media porus selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga
memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup.
Kelebihan hidroponik jenis ini adalah dapat menyerap dan menghantarkan air,
tidak mempengaruhi pH air, tidak berubah warna, dan tidak mudah lapuk
(Ricardo, 2009).
Hidroponik substrat memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan
sistem hidroponik yang lain. Kelebihan hidroponik substrat yaitu tanaman dapat
berdiri lebih tegak, kebutuhan nutrisi mudah untuk dipantau, biaya operasional
tidak terlalu besar, tidak mempengaruhi pH air, tidak berubah warna dan tidak
mudah lapuk. Selain memiliki beberapa keunggulan, sistem hidroponik substrat
juga memiliki beberapa kekurangan yaitu populasi tanaman tidak terlalu banyak,
terlalu banyak menggunakan wadah, mudah ditumbuhi lumut (Masud, 2009).
Hidroponik substrat pada umumnya menggunakan substrat alami maupun
buatan atau campuran antara keduanya. Beberapa bahan alami yang dapat
digunakan sebagai substrat adalah pasir, kerikil, dan serbuk gergaji, sedangkan
substrat dari bahan buatan seperti vermikulit, rockwool, dan polystyrene
(Swiader dan George, 2002).
Substrat yang sering atau biasa digunakan dalam sistem hidroponik ini
adalah arang sekam. Menurut Wuryaningsih (1996) arang sekam merupakan
hasil pembakaran sekam padi yang berwarna hitam, arang sekam memiliki pH
netral yaitu 6.8. Karakteristik lain dari arang sekam adalah ringan (berat jenis 0.2
kg/liter), sirkulasi udara tinggi, kapasitas menahan air tinggi, berwarna kehitaman
sehingga dapat mengadsorbsi sinar matahari dengan efektif untuk membantu
pertumbuhan tanaman.
Pemberian larutan nutrisi pada hidroponik substrat dapat dilakukan
secara siraman, sirkulasi, dan tetesan. Hidroponik substrat dengan
menggunakan irigasi tetes atau drip irrigation merupakan sistem irigasi yang
lebih efisien penggunaan nutrisi dan airnya dibanding dengan sistem saluran
terbuka, lebih ekonomis dalam operasionalnya dan perawatan alatnya terutama
bila air dan pupuk menjadi barang yang mahal. Sistem irigasi tetes cukup baik
digunakan pada usaha agroindustri tanaman hortikultura (Meijer, 1989).
8

Hidroponik substrat sistem irigasi tetes banyak digunakan karena


dianggap lebih efektif dalam menghemat air dan nutrisi, karena pada sistem ini
nutrisi diberikan tetes demi tetes sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga
kecil sekali kemungkinan nutrisi terbuang. Oleh karena itu diperlukan beberapa
persyaratan media tanam hidroponik yang steril, porous, ringan, dan mudah di
dapat supaya dapat menahan nutrisi lebih lama (Harthus, 2001).
2.6 Pengaruh Media Tanam terhadap Pertumbuhan Tanaman
Media tumbuh yang baik untuk budidaya tanaman adalah media yang
mampu menunjang pertumbuhan dan perkembangan akar serta mencukupi
kebutuhan tanaman akan air dan unsur hara. Manipulasi media tumbuh yang
tepat adalah dengan membuat komposisi media yang dapat mempertahankan
kelembaban tanah dalam waktu relatif lebih lama dan mampu menyediakan
unsur hara bagi tanaman (Muliawati, 2001)
Media yang dapat digunakan seperti apung, pasir, serbuk gergaji, atau
gambut. Media tersebut berfungsi seperti tanah. Kemampuan mengikat
kelembaban suatu media tergantung dari ukuran partikel, semakin kecil ukuran
partikel maka semakin besar luas permukaan pori,sehingga semakin besar pula
kemampuan menahan air. Bentuk partikel media yang tidak beraturan lebih
banyak menyerap air dibanding yang berbentuk bulat rata. Media yang berpori
juga memiliki kemampuan lebih besar untuk menahan air.
Menurut Purnomo (2013) menyatakan bahwa media dalam hidroponik
berfungsi sebagai penopang tanaman dan memiliki syarat seperti struktur yang
stabil selama pertumbuhan tanaman , bebas dari zat berbahaya bagi tanaman,
bersifat inert, memiliki daya pegang air yang baik, drainase dan aerase yang
baik. Dalam sistem hidroponik, walaupun media tanam hanya berfungsi sebagai
penopang tanaman dan meneruskan larutan atau air yang berlebihan namun
harus disesuaikan dengan jenis akar tanaman yang akan di tanam (Lingga,
1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
dapat dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman berasal
dari genetik dan hormonal, sedangkan faktor ekternal yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman berasal faktor lingkungan yaitu
makanan dan nutrisi, suhu, cahaya, air, dan kelembaban dan tanah (Waris dan
Sugen, 2008).
9

3. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum budidaya tanpa tanah dilaksanakan mulai bulan Maret hingga
bulan Juni 2017 setiap hari Sabtu pagi. Pelaksanaan dilakukan di glasshouse
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Pembuatan media jamur dilakukan
pada tanggal 18 Maret 2017. Selanjutnya dilakukan sterilisasi, inokulasi,
inkubasi, pemeliharaan sampai panen.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Polybag berfungsi sebagai wadah untuk menaruh media tumbuh tanaman
tomat.
2. Sekop atau cetok berfungsi untuk memindahkan media tanam dari tempat
awal ke polybag.
3. Alat penyiram berfungsi untuk menyiram tanaman tomat.
4. Ajir sebagai penyangga batang tanaman
3.2.2 Bahan
1. Bibit tomat berfungsi sebagai tanaman yang akan ditanam dalam media
tanam.
2. Media Padat (Pupuk kandang kambing, sekam, arang sekam, cocopeat)
sebagai media tanam.
3.3 Metode Pelaksanaan
1. Penyiapan Media
Media yang digunakan dalam praktikum tomat cherry ini berbeda-beda tiap
kelompok.Untuk kelompok kami menggunakan komposisi tanah dan
kompos.Komposisi dalam satu polybag adalah 50% tanah dan 50%
kompos.Tanah dan kompos dicampur aduk terlebih dahulu sebelum dimasukkan
kedalam polybag.Setelah dicampur aduk,media tanam tanah dan kompos tadi
dimasukkan kedalam polybag.
2. Transplanting
Setelah benih tanaman dalam penyemaian tumbuh cukup besar saatnya
untuk memindahkannya ke dalam media tanam yang lebih besar. Hal pertama
yang harus Anda lakukan sebelum memindahkan bibit tomat adalah menyiapkan
media tanam dan pot atau polybag. Pertama memindahkan bibit tomat dengan
cara dicabut. Caranya, terlebih dahulu siram media penyemaian dengan air agar
10

tanahnya menjadi lunak. Setelah itu cabut bibit dengan hati-hati jangan sampai
akar bibit putus atau rusak. Kemudian masukan bibit tadi ke dalam media tanam
secara tegak lurus pada lubang tanam pada pot atau polybag.
Perhatikan posisi akar, atur agar posisi akar saat dimasukan ke dalam media
tanam tegak lurus jangan sampai terlipat atau bengkok. Sesuaikan kedalaman
lubang tanam dengan panjang akar. Cara yang kedua denga cara diputar.
Caranya dengan mengangkat bibit tomat dengan media di sekitarnya
3. Persiapan Nutrisi
Penyiapan nutrisi dilakukan setelah proses transplanting.Nutrisi yang
diberikan kepada tanaman tomat yang ditanam dalam polybag hampir sama
dengan nutrisi yang diberikan pada tanaman tomat yang ditanam secara
hidroponik.Nutrisi yang diberikan berupa nutrisi AB mix pada masa vegetatif
digunakan AB mix untuk sayuran dan pada masa generatif digunakan AB mix
untuk buah-buahan.
Penyiraman tanaman tomat harus sering dilakukan agar media tanaman
tomat tidak kering.Biasanya tanaman tomat disiram 1 kali sehari untuk
memberikan nutrisi yang cukup bagi tanaman tomat tersebut.
4. Perawatan
Pemeliharaan tanaman tomat dalam polybag atau pot relatif mudah.
Kesehatan tanaman lebih lebih terkontrol karena terhindar dari penularan
penyakit lewat akar. Jaga agar media tanam tidak terlalu kering. Menyiangi
gulma yang terdapat dalam polybag secara teratur. Apabila ada tanaman yang
layu atau mati, cabut segera dan buang media tanamnya agar tidak menulari
tanaman lain. Perawatan lain yang diperlukan adalah pemangkasan tunas dan
pemberian ajir sebagai penopang tanaman.
Pupuk tanaman setelah satu minggu dengan kompos sebanyak satu
genggam untuk setiap polybag. Lakukan penambahan pupuk kompos setiap
bulan, atau bila terlihat tanaman kurang subur. Bila tanaman akan berbuah bisa
ditambahkan pupuk buah atau pupuk organik cair.
Hama dan peyakit tanaman tomat lumayan banyak. Bila terlihat ada
serangan hama, ambil hama tersebut secara manual. Buang daun atau batang
yang rusak terkena hama. Penyemprotan hendaknya dilakukan apabila benar-
benar diperlukan. Agar lebih aman untuk kesehatan dan lingkungan gunakan
pestisida organik yang lebih alami.
11

5. Pengajiran
Pemasangan ajir bertujuan sebagai tempat mengikatkan tanaman agar tidak
roboh. Ajir dibuat dari bambu sepanjang 1,5-2 meter. Ajir ditancapkan pada jarak
sekitar 10-20 cm dari tanaman. Ajir bisa dibiarkan tegak mandiri atau ujungnya
diikatkan dengan Ajir lain yang berdekatan. Pengikatan ujung berguna untuk
memperkokoh posisi lenjeran.
Pemasangan ajir hendaknya sedini mungkin untuk mencegah luka pada akar
tanaman akibat penancapan. Tanaman yang masih kecil akarnya belum
menyebar kemana-mana sehingga kemungkinan tertancap kecil. Luka pada akar
yang diakibatkan tusukan. Ajir bisa menghambat pertumbuhan dan mengundang
penyakit.
Pemasangan Ajir dilakukan setelah tinggi tanaman berkisar 10-15 cm.
Ikatkan tanaman tomat dengan tali plastik pada Ajir. Model ikatan sebaiknya
berbentuk angka 8 agar batang tomat tidak terluka karena bergesekan dengan
tiang lenjeran. Ikatan hendaknya jangan terlalu kuat agar tidak menghambat
pembesaran batang. Setelah itu, setiap tanaman bertambah tinggi 20 cm ikatkan
batang tanaman dengan tali plastik pada Ajir.
3.4 Parameter Pengamatan
Pengamatan tomat terdiri dari pengamatan tinggi tanaman,jumlah
daun,jumlah bunga dan jumlah buah.
1. Tinggi Tanaman
Pengukuran tinggi tanaman tomat dimulai sejak 1 minggu setelah
tanaman dipindahkan di polybag. Tinggi tanaman diketahui dengan cara
mengukur tinggi tanaman sampel dari pangkal batang sampai titik tumbuh batang
utama. Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali saat tanaman berumur 14
hari setelah tanam (HST) sampai awal pembentukan bunga pada tanaman.
2. Jumlah Daun
Pengamatan jumlah daun tanaman tomat dilakukan pada umur 1 sampai
dengan 7 MST. Perhitungan jumlah daun tanaman tomat dilakukan bersamaan
dengan pengukuran tinggi, yaitu dimulai sejak 1 minggu setelah tanaman
dipindahkan di polybag.Karena tanaman tomat termasuk kedalam daun majemuk
maka tangkainya bercabang, helaian daun terdapat pada cabang tangkai,
sehingga 1 tangkai terdapat lebih dari 1 helaian daun.
12

3. Jumlah Bunga
Pengamatan jumlah bunga tanaman tomat dilakukan ketika tanaman
mulai mengeluarkan bunga.
4. Jumlah Buah
Pengamatan jumlah buah tanaman tomat dilakukan ketika tanaman mulai
mengeluarkan bunga.
13

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Tinggi Tanaman
Tabel 1. Tinggi Tanaman pada Berbagai Media Tanam
Pengamatan Ke- (HST)
Media Tanam
7 14 21 28 35 42 49
Pupuk Kandang
100% 11,92 20,22 38,01 63,17 78,51 94,87 121,96
Aram Sekam 100% 12,58 19,13 37,79 57,50 87,33 110,50 126,42
Cocopeat 100% 10,18 18,04 33,33 56,09 78,42 99,67 115,25
P.Kandang : A.
Sekam 10,53 23,02 43,16 71,33 93,83 123,23 136,50
P.Kandang :
Cocopeat 11,91 23,24 49,51 68,17 91,76 111,58 123,00
A. Sekam :
Cocopeat 12,04 24,75 46,96 64,91 88,92 107,67 120,59
P. Kandang :
Sekam 12,14 23,34 32,96 48,21 62,83 82,79 98,00
Cocopeat : Sekam 9,75 17,69 31,6 48,66 69,38 92,15 106,25
Kompos 100% 9,76 14,01 21,63 31,75 38,00 61,54 68,57

160

140 Pupuk Kandang 100%

120 Aram Sekam 100%


Cocopeat 100%
100
P.Kandang : A. Sekam
80
P.Kandang : Cocopeat
60 A. Sekam : Cocopeat
40 P. Kandang : Sekam
Cocopeat : Sekam
20
Kompos 100%
0
7 14 21 28 35 42 49

Gambar 2. Tinggi Tanaman pada Berbagai Media Tanam

Interpretasi :
Parameter tinggi tanaman dapat dilihat melalui Tabel 1. dengan
menggunakan sembilan macam media tanam dengan perlakuan yang berbeda.
Berdasarkan grafik (Grafik 1) dapat dilihat bahwa media tanam yang memiliki
parameter tinggi tanaman paling baik ialah media tanam pupuk kandang : arang
sekam (1:1) dengan hasil 136,50 cm, kemudian urutan media tanam selanjutnya
14

ialah arang sekam 100% dengan 126,42 cm, pupuk kandang : cocopeat (1:1)
dengan 123 cm, pupuk kandang 100% 121,96 cm, arang sekam : cocopeat (1:1)
dengan 120,59 cm, cocopeat 100% 115,25 cm, cocopeat : sekam (1:1) dengan
106,26 cm, dan kompos 100% dengan 68,57 cm.
4.1.2 Jumlah Daun
Tabel 2. Jumlah Daun pada Berbagai Media Tanam
Pengamatan Ke- (HST)
Media Tanam
7 14 21 28 35 42 49
Pupuk Kandang
4 6 11 16 21 22 32
100%
Aram Sekam 100% 4 6 8 11 16 24 26
Cocopeat 100% 4 6 10 13 16 21 22
P.Kandang : A.
4 7 9 13 21 27 31
Sekam
P.Kandang :
5 8 13 19 24 21 21
Cocopeat
A. Sekam :
5 9 13 17 18 21 20
Cocopeat
P. Kandang :
5 7 10 13 15 17 23
Sekam
Cocopeat : Sekam 5 7 11 14 20 25 28
Kompos 100% 5 7 11 14 23 25 28

35

30 Pupuk Kandang 100%


Aram Sekam 100%
25
Cocopeat 100%
20 P.Kandang : A. Sekam
P.Kandang : Cocopeat
15
A. Sekam : Cocopeat
10 P. Kandang : Sekam
Cocopeat : Sekam
5
Kompos 100%
0
7 14 21 28 35 42 49

Gambar 3. Jumlah Daun pada Berbagai Media Tanam


Interpretasi :
Pengamatan berdasarkan parameter jumlah daun dengan data pada
Tabel 2. dan grafik (Grafik 2) diatas dapat diketahui bahwa pertumbuhan jumlah
15

daun tertinggi terdapat pada media tanam pupuk kandang 100% dengan jumlah
daun akhir ialah 32 helai, kemudian urutan selanjutnya ialah pupuk kandang :
aram sekam (1:1) dengan jumlah daun 31 helai, kompos 100% dengan jumlah
daun 28 helai, cocopeat : sekam (1:1) dengan jumlah daun 28 helai, aram sekam
100% dengan jumlah daun 26 helai, pupuk kandang : sekam (1:1) dengan jumlah
daun 23 helai, cocopeat 100% dengan jumlah daun 22 helai, pupuk kandang :
cocopeat (1:1) dengan jumlah daun 21 helai, dan aram sekam : cocopeat (1:1)
dengan jumlah daun 20 helai.
4.1.3 Waktu Muncul Bunga
Tabel 3. Waktu Muncul Bunga pada Berbagai Media Tanam

Perlakuan Waktu Muncul Bunga

a. Pupuk Kandang 100% 35


b. Arang Sekam 100% 28
c. Cocopeat 100% 37
d. Pupuk Kandang : Arang Sekam (1:1) 28
e. Pupuk Kandang : Cocopeat (1:1) 30
f. Arang Sekam : Cocopeat (1:1) 26
g. Pupuk Kandang : Sekam (1:1) 28
h. Cocopeat : Sekam (1:1) 32
i. Kompos 100% 35

40
35 Pupuk Kandang
100%
30
Arang Sekam
25 100%
20 Cocopeat 100%
15
10 Pupuk Kandang
: Arang Sekam
5
Pupuk Kandang
0 : Cocopeat
Waktu Muncul Bunga

Gambar 4. Waktu Muncul Bunga pada Berbagai Media Tanam


Intepretasi :
Pengamatan parameter waktu muncul bunga pada sembilan media tanam
dengan perlakuan yang berbeda-beda dapat diketahui bahwa media tanam
pupuk kandang rata-rata muncul bunga pada 35 HST. Media tanam arang sekam
diketahui bahwa rata-rata waktu muncul bunga pada 28 HST, kemudian untuk
16

cocopeat 100% ialah 37 HST. Media tanam pupuk kandang : aram sekam (1:1)
rata-rata muncul bunga pada saat 28 HST. Media tanam pupuk kandang :
cocopeat (1:1) rata-rata muncul bunga pada 30 HST. Pada media tanam arang
sekam : cocopeat (1:1) diketahui rata-rata bunga muncul pada saat 26 HST.
Kemudian pada media tanam pupuk kandang : sekam (1:1), kemunculan bunga
rata-rata diketahui muncul pada 28 HST. Media tanam cocopeat : sekam (1:1)
diketahui rata-rata memunculkan bunga pada 32 HST. Dan media tanam kompos
diketahui rata-rata waktu muncul bunga ialah pada 35 HST.
4.1.4 Jumlah Bunga
Tabel 4. Jumlah Bunga pada Berbagai Media Tanam
Pengamatan Ke- (HST)
Media Tanam
7 14 21 28 35 42 49
Pupuk Kandang 100% 0 0 0 0 4 5 7
Aram Sekam 100% 0 0 0 3 9 14 14
Cocopeat 100% 0 0 0 3 4 6 7
P.Kandang : A. Sekam 0 0 0 4 5 9 10
P.Kandang : Cocopeat 0 0 0 4 7 9 8
A. Sekam : Cocopeat 0 0 1 3 6 6 7
P. Kandang : Sekam 0 0 0 2 4 6 5
Cocopeat : Sekam 0 0 0 1 4 5 8
Kompos 100% 0 0 0 1 6 5 8

16

14 Pupuk Kandang 100%


Aram Sekam 100%
12
Cocopeat 100%
10
P.Kandang : A. Sekam
8
P.Kandang : Cocopeat
6 A. Sekam : Cocopeat
4 P. Kandang : Sekam
2 Cocopeat : Sekam

0 Kompos 100%
7 14 21 28 35 42 49

Gambar 5. Jumlah Bunga pada Berbagai Media Tanam


Interpretasi :
Pengamatan parameter jumlah bunga pada masing-masing perlakuan
media tanam yang berbeda (Tabel 4) diketahui hasil berdasarkan grafik (Grafik 4)
diatas. Bunga rata-rata tumbuh pada saat memasuki 21 HST, namun ada
17

beberapa media tanam yang belum dapat menumbuhkan bunga pada tanaman
tomat cherry. Kemudian, jumlah bunga terus meningkat dengan urutan jumlah
bunga tertinggi antara lain aram sekam 100% dengan jumlah 14 bunga; pupuk
kandang : aram sekam (1:1) dengan jumlah 10 bunga; pupuk kandang : cocopeat
(1:1) dengan jumlah 8 bunga; pupuk kandang : cocopeat (1:1) dengan jumlah 8
bunga; cocopeat : sekam (1:1) dengan 8 bunga; cocopeat 100% dengan jumlah
7 bunga; arang sekam : cocopeat (1:1) dengan jumlah 7 bunga; pupuk kandang
100% dengan jumlah 7 bunga; dan pupuk kandang : sekam (1:1) dengan jumlah
5 bunga.
4.1.5 Jumlah Buah
Tabel 5. Jumlah Buah pada Berbagai Media Tanam
Pengamatan Ke- (HST)
Media Tanam
7 14 21 28 35 42 49
Pupuk Kandang 100% 0 0 0 0 1 2 9
Aram Sekam 100% 0 0 0 0 2 5 13
Cocopeat 100% 0 0 0 0 1 3 8
P.Kandang : A. Sekam 0 0 0 0 2 5 10
P.Kandang : Cocopeat 0 0 0 1 4 8 12
A. Sekam : Cocopeat 0 0 1 2 4 7 10
P. Kandang : Sekam 0 0 0 0 1 5 8
Cocopeat : Sekam 0 0 0 0 1 3 5
Kompos 100% 0 0 0 0 0 4 6

14
Pupuk Kandang 100%
12
Aram Sekam 100%
10
Cocopeat 100%
8
P.Kandang : A. Sekam
6
P.Kandang : Cocopeat
4 A. Sekam : Cocopeat
2 P. Kandang : Sekam
0 Cocopeat : Sekam
7 14 21 28 35 42 49

Gambar 6. Jumlah Buah pada Berbagai Media Tanam


Interpretasi :
Pengamatan parameter jumlah bunga berdasarkan data (Tabel 5) dengan
hasil akhir melalui grafik (Grafik 5) diatas dapat diketahui bahwa kemunculan
buah pertama kali terjadi pada 21 HST dengan perlakuan media tanam arang
18

sekam : cocopeat (1:1). Dan melalui peningkatan jumlah buah pada masing-
masing perlakuan media tanam yang berbeda-beda dapat diketahui bahwa
urutan peningkatan produksi jumlah buah antara lain aram sekam 100% dengan
jumlah 13 buah; pupuk kandang : cocopeat (1:1) dengan jumlah 12 buah; aram
sekam : cocopeat (1:1) dengan jumlah 10 buah; pupuk kandang : aram sekam
(1:1) dengan 10 buah; pupuk kandang 100% dengan jumlah 9 buah; cocopeat
100% dengan jumlah 8 buah; pupuk kandang : sekam (1:1) dengan jumlah 8
buah; kompos 100% dengan jumlah 6 buah; dan cocopeat : sekam (1:1) dengan
jumlah 5 buah.
4.2 Pembahasan
Penanaman tanaman tomat cherry dengan menggunakan perlakuan
media tanam yang berbeda-beda akan menghasilkan hasil yang berbeda pula.
Hal ini dikarenakan masing-masing media tanam memiliki kemampuan dan
kandungan unsur hara yang berbeda-beda dalam membantu pertumbuhan
tanaman tomat cherry serta dapat diakibatkan karena faktor genetik dan
lingkungan sekitarnya. Perbedaan pertumbuhan dapat diketahui melalui
pengamatan parameter berupa tinggi tanaman, jumlah daun, waktu bunga
tumbuh, jumlah bunga, dan jumlah buah.
Parameter tinggi tanaman merupakan salah satu indikator untuk
mengetahui pertumbuhan tanaman tomat cherry pada media tanam yang
berbeda. Tomat cherry menghasilkan hasil pertumbuhan yang berbeda pada
masing-masing perlakuan media tanam. Parameter tinggi tanaman paling tinggi
hasilnya ialah media tanam pupuk kandang : arang sekam (1:1) dan hasil
terendah pada media tanam kompos 100%. Pertumbuhan tanaman dapat
dipengaruhi oleh faktor genetik, pemeliharaan dan juga pengaruh media tanam.
Media tanam terbaik pada parameter tinggi tanaman ialah pupuk kandang :
arang sekam (1:1).
Pupuk kandang memiliki kandungan unsur hara yang lebih tinggi
dibandingkan media tanam yang lainnya sehingga lebih membantu dalam
pertumbuhan tanaman. Pupuk kandang memiliki kandungan unsur hara nitrogen
(N) yang lebih tinggi dibandingkan media tanam lainnya. Buckman dan Brady
(1982) menyatakan bahwa senyawa nitrogen akan merangsang pertumbuhan
vegetatif tanaman yaitu menambah pertumbuhan tanaman. Penggunaan pupuk
kandang baik untuk pertumbuhan tanaman (Ghaffoor, Jilani, Khaligand, dan
Waseem 2005). Arang sekam pada media tanam memiliki pengaruh terhadap
19

pertumbuhan tanaman salah satunya dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi


tanaman karena salah satu karakteristik media arang sekam ialah sifat lebih
remah dibandingkan media tanam lainnya (Agustine, Riniarti dan Duryat 2014).
Menurut Kusmarwiyah dan Erni (2011) media tanam yang ditambah arang sekam
dapat memperbaiki porositas media sehingga baik untuk respirasi akar, dapat
mempertahankan kelembaban tanah, arang sekam akan mengikat air, kemudian
dilepaskan ke pori mikro untuk diserap oleh tanaman dan mendorong
pertumbuhan mikroorganisme yang berguna bagi media dan tanaman. Oleh
karena itu, penggabungan antara pupuk kandang dengan arang sekam
menghasilkan pengaruh positif dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman
tomat.
Perbandingan dengan media tanam kelompok kami yaitu arang sekam :
cocopeat. Penambahan cocopeat memiliki pori mikro yang mampu menghambat
pergerakan air lebih besar sehingga menyebabkan ketersediaan air lebih tinggi.
Namun, pada saat kondisi tertentu, kondisi tersebut menyebabkan pertukaran
gas pada media mengalami hambatan karena media mulai jenuh oleh air. Hal ini
terjadi karena ruang pori makro yang seharusnya terisi oleh udara ikut terisi oleh
air sehingga akar mengalami hambatan dalam pernapasan. Oleh karena itu,
udara dalam media akan semakin berkurang sehingga dapat menghambat
pertumbuhan tanaman (Istomo dan Valentino, 2012). Selain itu, Utami et al.
(2016) juga menyatakan bahwa cocopeat dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman dikarenakan sifatnya yang dapat menjadikan media lebih masam.
Jumlah daun akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman tomat cherry
selanjutnya, maka parameter kedua pada pertumbuhan tanaman tomat cherry
ialah jumlah daun. Pengamatan berdasarkan parameter jumlah daun dapat
diketahui bahwa pertumbuhan jumlah daun tertinggi terdapat pada media tanam
pupuk kandang 100% dan hasil jumlah daun terendah ialah pada media tanam
aram sekam : cocopeat (1:1). Media tanam terbaik pada parameter jumlah daun
berdasarkan hasil pengamatan terdapat pada media tanamn pupuk kandang
100%, hal ini dikarenakan pupuk kandang 100% memiliki kandungan unsur hara
N yang lebih banyak dibandingkan media tanam lainnya. Lakitan (2007),
mengemukakan bahwa unsur hara yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangan daun adalah Nitrogen (N). Pupuk kandang memiliki
kandungan unsur hara nitrogen (N) yang lebih tinggi dibandingkan media tanam
lainnya.
20

Buckman dan Brady (1982) menyatakan, senyawa nitrogen akan


merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu menambah pertumbuhan
tanaman. Menurut Ghaffoor et al. (2005) menyatakan, penggunaan pupuk
kandang baik untuk pertumbuhan tanaman. Jumlah daun suatu tanaman
umumnya adalah berbanding lurus dengan jumlah cabang, sehingga cabang
yang banyak akan menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak (Januwati dkk,
1994). Unsur hara nitrogen merupakan unsur hara yang utama bagi
pertumbuhan tanaman, sebab merupakan penyusun di semua protein dan asam
nukleat serta merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan. Dengan
demikian apabila unsur nitrogen yang tersedia lebih banyak dari unsur lainnya
akan dapat menghasilkan protein yang lebih banyak dan jumlah daun dapat
tumbuh panjang serta lebar, hal ini terjadi karena fotosintesis berjalan optimal
(Syarief, 1985).
Perbandingan dengan media tanam kelompok kami yaitu arang sekam :
cocopeat. Arang sekam memiliki pori-pori makro yang besar, maka waktu bagi
keadaan air tersedia menjadi pendek sehingga memperkecil jumlah air yang
dapat diserap oleh akar. Penyerapan air yang terbatas pada media arang sekam
disebabkan air yang diserap oleh akar sedikit sekali karena sebagian besar air
hilang akibat evapotranspirasi dan drainase ke bawah karena besarnya pori
makro yang dimiliki oleh media arang sekam. Kecilnya penyerapan air
mempengaruhi hasil fotosintesis yang selanjutnya berpengaruh terhadap jumlah
daun (Syachrozi, 1996). Utami et al. (2016) juga menyatakan bahwa cocopeat
dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dikarenakan sifatnya yang dapat
menjadikan media lebih masam.
Pertumbuhan tanaman yang semakin besar akan memasuki fase
generatif, fase generatif dapat dilihat melalui tanda perkembangan bunga. Pada
pengamatan jumlah bunga dilihat berdasarkan bunga yang sudah mekar penuh.
Pengamatan parameter waktu muncul bunga pada sembilan media tanam
dengan perlakuan yang berbeda-beda dapat diketahui bahwa media tanam mulai
memunculkan bunga tercepat mulai pada 26 HST paling lambat sampai 37 HST.
Menurut Apriyanti (2015) menjelaskan tanaman tomat cherry dapat tumbuh
bunga pada saat memasuki 4 minggu setelah tanam.
Pertumbuhan bunga akan memulai terbentuknya buah tanaman tomat
cherry melalui proses penyerbukan, semakin banyak jumlah bunga yang
dihasilkan akan mempengaruhi jumlah buah tomat cherry yang terbentuk.
21

Pengamatan parameter jumlah bunga pada masing-masing perlakuan media


tanam yang berbeda diketahui bahwa jumlah bunga terus meningkat dengan
urutan jumlah bunga tertinggi antara lain aram sekam 100% dan pertumbuhan
jumlah bunga paling rendah ialah media tanam pupuk kandang : sekam (1:1).
Pembentukan buah akan terjadi setelah bunga mengalami penyerbukan,
jumlah bunga akan mempengaruhi pembentukan buah. Pengamatan parameter
jumlah bunga dapat diketahui bahwa jumlah buah tertinggi ialah media tanam
aram sekam 100% kemudian pupuk kandang : cocopeat (1:1), aram sekam :
cocopeat (1:1), pupuk kandang : aram sekam (1:1), pupuk kandang 100%,
cocopeat 100% , pupuk kandang : sekam (1:1), kompos 100%, dan jumlah buah
terendah terdapat pada media tanam cocopeat : sekam (1:1).
Agustine et al. (2014) mengemukakan unsur Phospor (P) memiliki fungsi
untuk pertumbuhan akar, proses pembungaan dan pemasakan buah dan biji
serta penyusun inti sel, lemak dan protein. Menurut Supriyanto (2010) arang
sekam mempunyai kandung Silika (Si) yang cukup tinggi yakni sebesar 16,98%
yang diketahui dapat memperbaiki sifat fisik tanaman dan berpengaruh terhadap
kelarutan P dalam tanah dalam membantu pertumbuhan bunga. Arang sekam
mampu mempengaruhi ketersediaan phospor (Martaguri, 2009). Selain itu,
kemampuan tomat cherry untuk dapat menghasilkan bunga dan buah dengan
baik sangat bergantung pada interaksi antara sifat genetik dan lingkungan
tumbuhnya.
Perbandingan dengan media tanam kelompok kami yaitu arang sekam :
cocopeat dapat diketahui bahwa media tanam cocopeat memiliki permasalahn
dalam menyebabkan kondisi media lebih masam yang berdampak pada
pertumbuhan tanaman (fase vegetatif), hal tersebut akan menghambat fase
generatif. Riskiyah (2014) menjelaskan bahwa apabila suplai air pada saat
pertumbuhan vegetatif tidak optimal, maka pertumbuhan dan perkembangan sel
terhambat, daun menjadi kecil sehingga hanya sedikit fotosintat yang dapat
ditranslokasikan ke buah.
22

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pada praktikum Budidaya Tanpa Tanah kali ini dilakukan penanaman
tanaman tomat cherry dengan 9 media substrat organik diantaranya yaitu, pupuk
kandang, arang sekam, cocopeat, kompos 100% serta pupuk kandang : arang
sekam, pupuk kandang : cocopeat, arang sekam : cocopeat, pupuk kandang :
sekam, cocopeat : sekam dengan perbandingan semua media 1:1. Pada praktikum
kali ini dilakukan pengamatan dengan parameter yaitu tinggi tanaman, jumlah
daun, waktu muncul bunga, jumlah bunga dan jumlah buah.
Untuk parameter tinggi tanaman media tanam pupuk kandang : arang
sekam (1:1) memiliki hasil tinggi tanaman paling baik yaitu 136,50 cm. Untuk
parameter jumlah daun pada media tanam pupuk kandang 100% memiliki hasil
jumlah daun terbanyak yaitu 32 helai. Untuk parameter waktu bunga muncul,
media pupuk kandang : sekam (1:1) di dapatkan hasil paling cepat dalam
munculnya bunga yaitu pada 26 HST. Untuk parameter jumlah bunga pada media
arang sekam 100% memiliki hasil jumlah bunga terbanyak yaitu 14 bunga. Dan
terakhir untuk parameter jumlah buah pada media tanam arang sekam 100% di
dapatkan hasil jumlah buah terbanyak yaitu 12 buah. Dari hasil pengamatan tiap
parameter dapat dilihat bahwa Penanaman tanaman tomat cherry dengan
menggunakan perlakuan media tanam yang berbeda-beda akan menghasilkan
hasil yang berbeda pula. Hal ini dikarenakan masing-masing media tanam
memiliki kemampuan dan kandungan unsur hara yang berbeda-beda dalam
membantu pertumbuhan tanaman tomat cherry serta dapat diakibatkan karena
faktor genetik dan lingkungan sekitarnya.
5.2 Saran
Semoga praktikum selanjutnya dapat berjalan lebih baik dengan
peralatan praktikum yang lebih mendukung serta penambahan greenhouse agar
praktikum berjalan lebih kondusif.
23

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia, redaksi. 2007. Buku Pintar Tanaman Hias. Jakarta: PT. Agromedia
Pustaka.
Agustine, D.A., Riniarti M., Duryat. 2014. Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji
dan Arang Sekam sebagai Media Sapih untuk Cempaka Kuning
(Michelia champaca). Jurnal Sylva Lestari 2 (3): 49 58.
Apriyanti, Rosy Nur. 2015. Hidroponik Perkotaan. Trubus Swadaya. Jakarta. 180
hlm.
Bambang Budi Santoso. 2010. Media Tanam. Manajemen media dan
nutrisi pada produksi bbit atau tanaman dalam pot.
Buckman, H.O dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah (Terjemahan Soengiman).
Bharatara Jaya Aksara, Jakarta. 788 hlm.
Bussell W. T., Mckennie S. 2004. Rockwool in horticulture, and its importance
and sustainable use in New Zealand. New Zealand Journal of Crop
and Horticultural Science. vol. 32. iss. 1, p. 2937.
Decoteau, D.R., 2000. Vegetable Crops Prentice Hall Upper Saddille River N3
07458.
Dwi, Alin Ananty. 2008. Uji Efektivitas Pupuk Organik Hayati (Bio-Organic
Fertilizer) Dalam Mensubtitusi Kebutuhan Pupuk Pada Tanaman
Caisin.
Elviana, 2008. Pengaruh Pendinginan Siang/Malam Larutan Nutrisi terhadap
Pertumbuhan Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) pada
Budidaya Scara Nutrient Film Technique (NFT).
Ghaffoor, A., M.S. Jilani., G. Khaligand., and K. Waseem. 2003. Effect of
different NPK levels on the growth and yield of three onion (Allium
cepa L.) varities. Asian Journal of Plant Science. (157):227 234.
Hasriani dan Sukendro. A. 2013. Kajian Serbuk Sabut Kelapa (Cocopeat) Sebagai
Media Tanam. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Ihsan, M. 2013. Manfaat Serbuk Cocopeat / Serbuk Sabut Kelapa.
Istiqomah, Siti. 2006. Menanam Hidroponik. Jakarta : Azka press.
Istomo, Valentino N. 2012. Pengaruh Perlakuan Kombinasi Media terhadap
Pertumbuhan Anakan Tumih Tumih (Combretocarpus rotundatus
(Miq) Danser). Jurnal Silvikultur Tropika 3 (2): 81 84.
Januwati, M.J., Pitono, dan Ngadimin. 1994. Pengaruh Pemangkasan terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Terna Tanaman Sambiloto. Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Volume 3 No. 1 : 20 21.
Kusmarwiyah, R., Erni S. 2011. Pengaruh Media Tumbuh dan Pupuk Organik
Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Seledri (Apium
graveolens L.). Crop Agro 4 (2): 7 12.
Lakitan, B. 2007. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Lingga, P. 2002. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Lingga. 1994. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.
Marsoem, S. 2002. Tantangan dan prospek pengembangan usaha hidroponik.
Dalam: Pelatihan aplikasi teknologi hidroponik untuk
pengembangan agribisnis perkotaan. Bogor: Creata-IPB.
24

Martaguri, I. 2009. Pemanfaatan Mikroorganisme Tanah Potensial dan Asam


Humat untuk Produktifitas Leguminosa Pakan pada Lahan Pasca
Penambangan Emas PT. Aneka Tambang Pongkor. Institut
Pertanian Bogor. Tesis.
Masud, H. 2009. Sistem Hidroponik dengan Nutrisi dan Media Tanam Berbeda
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada. Media Litbang Sulteng.
2 (2) : 131- 136.
Meijer, T.K.E. 1989. Sprinkler & Trickler Irrigation. Departemen of Irrigation and
civil Engineering, Agriculture University, Wageningen, The
Netherlands.
Muliawati, E. S. 2001. Kajian tingkat serapan hara, pertumbuhan dan produksi
sambiloto (Androgaphis paniculata Ness.) pada beberapa
komposisi media tanam dan tingkat pengairan. Prosiding
Simposium Nasional II Tumbuhan Obat dan Aromatik. APINMAP.
Bogor, 8-10 Agustus 2001.
Murniarti. 2003. Pengaruh Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi
Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) dengan Sistem
Hidroponik. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Opena, R.T and H.A.M van der Vossen. 1994. Lycopersicon esculentum
Miller, p199-205. In Siemonsma, J.S. and K. Piluek (Eds.). Plant
Resources of South-East Asia, Vegetables. PROSEA. Bogor.
412 p
Pracaya.1998. Bertanam Tomat. Yogyakarta: Kanisius
Purnomo, Rudi dkk. 2013. Pengaruh Berbagai Macam Pupuk Organik Dan
Anorganik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Mentimun
(Cucumis sativus L.). Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 1 No. 3. Juli-
2013.
Rahardi, F., Rony Palungkuan dan Asiani Budiarti. 2001. Agribisnis Tanaman
Sayur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Resh, H.M. 1998. Hydroponic Food Production. Woodbridge Press Pbl. Sanra
Barbara. 527p
Ricardo 2009. Hydroponics Substrat.
Riskiyah, J. 2014. Uji Volume Air pada Berbagai Varietas Tanaman Tomat
(Lycopersicum esculentum Mill). Jurnal Unri Vol. 1(1): 1 9.
Rosliani, R dan N. Sumarni. 2005. Budidaya Tanaman Sayuran dengan Teknik
Hidroponik. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. 27 Hal.
Rukmana, R. 2003. Tomat dan Cherry. Yogyakarta: Kanisius.
Supardi. 2005 . Hidroponik Sayuran Semusim Untuk Bisnis dan Hobi. Jakarta :
Penebar Swadaya.
Supriyanto, Fiona F. 2010. Pemanfaatan Arang Sekam untuk Memperbaiki
Pertumbuhan Semai Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq)
pada Media subsoil. Jurnal Silvikultur Tropika 1 (1): 24 28.
25

Susila, A. D. 2006. Fertigasi pada Budidaya Tanaman Sayuran di dalam


Greenhouse. Bagian Produksi Tanaman, Departemen Agronomi
dan Hortikultutra. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Sutiyoso, Y. 2003. Meramu Pupuk Hidroponik. Jakarta: Penebar Swadaya. 122
Hal.
Swiader, John M., dan George W. Ware. 2002. Producing Vegetable Crops.
Interstate Publisher, Inc. Illinois.
Syachrozi. 1996. Penjadwalan Kebutuhan Air Tanaman Tomat pada Media
Tanam Arang Sekam dan Pasir dengan Sistem Irigasi Tetes.
Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Unibraw, Malang.
Syarief. 1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana
Bandung. Bandung.
Trisnawati, Y. dan A.I. Setiawan. 2001. Tomat, Pembudidayaan Secara Komersil.
Jakarta: Penebar Swadaya.127 hal.
Tugiyono. 2005. Tanaman Tomat. Jakarta: Agromedia Pustaka. p.25.
Utami, N.W., Witjaksono, D.S.H. Hoesen. 2006. Perkecambahan Biji dan
Pertumbuhan Semai Ramin (Gonystylus bancanus Miq,) pada
berbagai Media Tumbuh. J Biol Div 7 (3): 264 268.
Waris dan Sagen. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Wiryanta,W.T.B, 2004. Bertanam Tomat. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Wuryaningsih, S. 1996. Pertumbuhan Beberapa Setek Melati pada Tiga Macam
Media. Agrin. Jurnal Penelitian Pertanian. 5 (3) : 18-2.
26

LAMPIRAN
Lampiran 1. Waktu Tumbuh Bunga
Perlakuan Waktu Muncul Bunga (HST)
U1 U2 U3 U4
a. Pupuk Kandang 100% 35 35 28 42
b. Arang Sekam 100% 28 28 28 28
c. Cocopeat 100% 35 28 42 42
d. Pupuk Kandang : Aram Sekam (1:1) 28 28 28 28
e. Pupuk Kandang : Cocopeat (1:1) 28 28 28 35
f. Arang Sekam : Cocopeat (1:1) 28 28 21 28
g. Pupuk Kandang : Sekam (1:1) 28 28 28 28
h. Cocopeat : Sekam (1:1) 35 35 28 28
i. Kompos 100% 35 28 28 49
27

Lampiran 2. Jumlah Bunga pada Berbagai Media Tanam


a. Pupuk Kandang 100%
Pengamatan Ke-
Ulangan
7
ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 1 4 1
U2 0 0 0 0 3 3 8
U3 0 0 0 1 10 6 9
U4 0 0 0 0 3 6 10

b. Arang Sekam 100%


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 7 8 14 16
U2 0 0 0 1 9 6 9
U3 0 0 0 3 6 6 7
U4 0 0 0 1 12 28 23

c. Cocopeat 100%
Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 8 8 8
U2 0 0 0 13 8 9 19
U3 0 0 0 0 0 4 0
U4 0 0 0 0 0 1 0
28

d. Pupuk Kandang : Arang Sekam 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 1 1 4 7
U2 0 0 0 7 5 11 14
U3 0 0 0 2 4 8 6
U4 0 0 0 7 9 11 13

e. Pupuk Kandang : Cocopeat 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 3 5 8 7
U2 0 0 0 7 12 10 10
U3 0 0 0 6 5 9 5
U4 0 0 0 0 7 7 9

f. Arang Sekam : Cocopeat 1:1


Pengamatan ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 3 9 11 12
U2 0 0 0 1 5 4 7
U3 0 0 5 5 0 3 3
U4 0 0 0 3 8 6 7

g. Pupuk Kandang : Sekam 1:1


Pengamatan ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 2 2 5 2
U2 0 0 0 3 4 3 3
U3 0 0 0 2 4 8 6
U4 0 0 0 1 7 7 9
29

h. Cocopeat : Sekam 1:1


Pengamatan ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 6 7 6
U2 0 0 0 0 1 3 5
U3 0 0 0 2 5 7 13
U4 0 0 0 2 4 3 7

i. Kompos 100%
Pengamatan Ke-
Ulangan 7
Ke- HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 12 2 0
U2 0 0 0 1 5 9 11
U3 0 0 0 1 6 9 12
U4 0 0 0 0 0 0 7
30

Lampiran 3. Jumlah Buah pada Berbagai Media Tanam


a. Pupuk Kandang 100%
Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 0 1 3
U2 0 0 0 0 0 0 16
U3 0 0 0 0 3 3 4
U4 0 0 0 0 0 2 11

b. Arang Sekam 100%


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 1 5 9
U2 0 0 0 0 1 1 7
U3 0 0 0 0 3 8 12
U4 0 0 0 0 1 6 22

c. Cocopeat 100%
Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 0 6 7
U2 0 0 0 0 4 7 17
U3 0 0 0 0 0 0 5
U4 0 0 0 0 0 0 2

d. Pupuk Kandang : Arang Sekam 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 0 2 9
U2 0 0 0 0 6 14 15
U3 0 0 0 0 0 2 7
U4 0 0 0 0 1 3 9
31

e. Pupuk Kandang : Cocopeat 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 3 9 15
U2 0 0 0 2 7 12 13
U3 0 0 0 0 5 7 11
U4 0 0 0 0 0 5 7

f. Arang Sekam : Cocopeat 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 3 9 15
U2 0 0 0 0 1 7 8
U3 0 0 5 6 10 6 6
U4 0 0 0 0 2 7 11

g. Pupuk Kandang : Sekam 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 2 5 5
U2 0 0 0 0 2 6 10
U3 0 0 0 0 0 2 7
U4 0 0 0 0 0 6 8

h. Cocopeat : Sekam 1:1


Pengamatan Ke-
Ulangan
7
Ke-
HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 0 4 5
U2 0 0 0 0 0 1 3
U3 0 0 0 0 0 3 5
U4 0 0 0 0 2 5 7
32

i. Kompos 100%
Pengamatan Ke-
Ulangan 7
Ke- HST 14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST
U1 0 0 0 0 1 1 6
U2 0 0 0 0 0 12 12
U3 0 0 0 0 0 1 1
U4 0 0 0 0 0 0 5
33

Lampiran 4. Dokumentasi Persiapan Media

Lampiran 5. Dokumentasi Transplanting

Lampiran 6. Pengamatan 7 HST


34

Lampiran 7. Pemasangan Ajir dan Pengamatan 14 HST

Lampiran 8. Pengamatan 21 HST

Lampiran 9. Pengamatan 28 HST


35

Lampiran 10. Pengamatan 35 HST