Anda di halaman 1dari 20

IDENTIFIKASI PERBEDAAN JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT PADA HEWAN

POIKILOTERMIK DAN HOMOIKILOTERMIK

Whenni Milasari, 150210103066, Fisiologi Hewan B


Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Jember
Jln. Kalimantan 37 Kampus Tegalboto, Sumbersari, Jember, Jember 68121
E-mail: whenni97@gmail.com

Abstrak

Darah merupakan jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler adalah jaringan cairan yang
disebut dengan plasma dan didalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah. Sel darah dibagi menjadi 3 yaitu
sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Eritrosit atau sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang merah.
Untuk mengetahui jumlah eritrosit dan leukosit pada hewan poikilotermik dan homoitermik menggunakan
hemositometer. Hewan yang digunakan dalam percobaan ini adalah hewan poikilotermik kadal (Mabuya
multifasciata) dan homoikilotermik yaitu mencit (Mus musculus). Cara penggunaan untuk eritrosit menggunakan
larutan hayem sedangkan untuk leukosit menggunakan larutan tursk. Dari percobaan yang telah dilakukan pada
darah kadal dan mencit diperoleh hasil bahwa jumlah leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit
dengan rasio 1 : 700. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi stres, umur, aktifitas fisiologis
dan lainnya. Jadi jumlah eritrosit lebih banyak dibandingkan jumlah leukosit baik pada hewan poikilotermik maupun
homoikilotermik.
Kata kunci : eritrosit, leukosit, jenis hewan

Pendahuluan

Darah merupakan jaringan cair yang terdiri terhadap suatu penyakit, ada pada konsentrasi kira-
atas dua bagian. Bahan interseluler adalah jaringan kira 5000-10.000 per mm3 darah.
cairan yang disebut dengan plasma dan didalamnya Sel darah merah atau eritrosit ini berupa cakram kecil
terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah. Volume bikonkaf dengan diameter sekitar 8,6m, cekung
darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping
per dua belas berat badan atau kira-kira 5 liter. nampak seperti dua buah bulan sabit yang saling
Sekitar 55 persennya adalah cairan, sedangkan 45 bertolak belakang. Bikonkavotas memungkinkan
persen sisanya terdiri atas sel darah. Angka ini gerakan oksigen masuk dan keluar sel dengan cepat,
dinyatakan dalam nilai hematocrit atau volume sel dengan adanya jarak yang pendek antara membran
darah yang didapatkan yang berkisar antar 40 sampai dan isi sel. Eritrosit memiliki beberapa bentuk, ada
47. Ketika dalam keadaan sehat volume darah adalah yang berbenstuk elongata atau memanjang dan ada
konstan dan sampai batas tertentu yang diatur oleh yang berbentuk bulat (circular). (Das,2012). Eritrosit
tekanan osmotik dalam pembuluh darah dan dalam terdiri dari membran luar, hemoglobin, (protein yang
jaringan. Susunan darah, serum darah atau plasma mengandung zat besi), dan karbonik anhydrase,
darah terdiri atas air 91 %, protein 8 % dan mineral (enzim yang terlibat dalam transport karbondioksida).
0,9 %. Sisanya diisi oleh sejumlah bahan organic, Kisaran jumlah normal eritrosit adalah laki-laki 4,5
yaitu glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, 6,5 x 1012/l sedangkan pada wanita yaitu 3,9 5,8 x
kolesterol dan asam amino. Plasma darah juga berisi 10 12/l ( Gibson, 2009 : 154). Dalam setiap millimeter
gas oksigen dan karbondioksida, hormon-hormon, kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah merah.
enzim dan antigen. Sel darah terdiri atas tiga jenis Kalau dilihat per satu warnanya kuning tua pucat,
yang meliputi sel darah merah atau eritrosit, sel darah tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan
putih atau leukosit dan trombosit (Pearce, 2010 : memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas
133). Pada sel darah merah atau leukosit penuh pembungkus luar atau stroma yang berisi massa
dengan hemoglobin yang berkombinasi secara hemoglobin. Hemoglobin (Hb) adalah protein utama
reversible dengan oksigen dan mentransportnya ke yang terlibat dalam pengangkutan oksigen (O2). Sel
jaringan, ada pada kira-kira 5 juta per mm3 darah, sel- darah merah (sel darah merah) mengandung jumlah
sel merah tidak mempunyai inti. Sedangkan pada sel maksimum Hb
darah putih yaitu penting dalam memastikan tubuh
dan karena struktur unik dan plastisitasnya, mereka memindahkan kotoran tubuh dengan memfagositosis
mengangkut O2 ke berbagai jaringan tubuh pada serpihan sel-sel yang mati atau rusak. Beberapa
konsentrasi yang optimal (Saha, dkk, 2014). hewan invertebrate memiliki leukosit yang berfungi
Sel darah merah memerlukan protein karena sebagai ekskretoris. Untuk mengemban fungsinya,
strukturnya terbentuk dari asam amino. Mereka juga leukosit melakukan strategi yaitu pergi ke tempat
memerlukan zat besi, sehingga untuk penggantinya invasi atau jaringan yang rusak. Sel darah putih
diperlukan diit seimbang yang berisi zat besi. Wanita berada dalam darah sehingga mereka dapat diangkut
memerlukan lebih banyak zat besi karena beberapa dari tempatnya atau tempat penyimpanan kemana
diantaranya dibuang ketika menstruasi. Ketika hamil diperlukan.
diperlukan zat besi lebih banyak lagi untuk Berbeda dengan sel darah merah, sel darah
perkembangan janin dan pembuatan susu. Sel darah putih ini tidak memiliki hemoglobin, / tidak berwarna
merah dibentuk dalam sumsum tulang belakang, kecuali diberi warna khusus untuk keperluan
terutama dari tulang pendek, pipih, dan tak beraturan, pengamatan dibawah mikroskop. Tidak seperti
dari jaringan kanselus pada ujung tulang pipa dan eritrosit yang memiliki struktur dan fungsi yang sama
dari sumsum dalam batang iga-iga dan dari sternum. dengan jumlah yang konstan. Leukosit ini bervariasi
Perkembangan sel darah merah dalam dalam struktur, fungsi dan jumlahnya. Terdapat lima
sumsum tulang belakang melalui berbagai tahap, jenis leukosit yang bersirkulasi dalam darah meliputi
mula-mula besar dan berisi nucleus tetapi tidak ada neutrophil, eusinofil, basophil, monosit dan limfosit
hemoglbinnya. Kemudian dimuati hemoglobin dan yang masing-masing memiliki struktur dan fungsi
akhirnya kehilangan nukleusnya dan baru bisa sendiri-sendiri. Monosit menyusun hanya sekitar 5 %
diedarkan kedalam sirkulasi darah. Rata-rata panjang dari keseluruhan leukosit sedangkan eosinophil
hidup sel darah merah adalah sekitar 115 hari. Sel menyusun sekitar 1,5 % (Campbell, 2004 : 55).
menjadi using dan dihancurkan dalam sistema Limfosit ini dibentuk di dalam kelenjar limfe dan
retikulo-endotelial, terutama dalam limpa dan hati. juga dalam sumsum tulangg. Sel ini non granuler dan
Globin dari hemoglobin dipecah menjadi bilirubin tidak memiliki kemampuan untuk bergerak seperti
(pigmen kuning) dan biliverdin yaituu yang berwarna amoba. Sel ini dibagi lagi menjadi limfosit besar dan
kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada perubahan limfosit kecil. Selain itu ada sejumlah kecil sel-sel
warna hemoglobin yang rusak pada luka memar. Bila yang berukuran lebih besar (kira-kira sebanyak 5
terjadi perdarahan maka sel darah merah dengan persen) yang disebut juga dengan monosit. Sel ini
hemoglobinnya sebagai pembawa oksigen hilang. mampu mengadakan gerakan amuboid dan
Pada perdarahan sedang, sel-sel itu diganti dalam mempunyai sifat fagosit (pemakan). Semua leukosit
waktu beberapa minggu berikutnya. Tetapi bila kadar berukuran lebih besar daripada eritrosit, dengan
hemogobinnya turun sampai 40 % atau dibawahnya, diameter berkisar antara 9-15 m. Kelima macam
maka diperlukan tranfusi darah. leukosit dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan
Sel darah merah memainkan peran penting bentuk intinya dan ada atau tidaknya granula dalam
dalam fungsi utama mereka, pengangkutan gas (O2) sitoplasmanya bila dilihat dibawah mikroskop.
sirkulasi darah. Sebuah penurunan dalam RBC Neutrophil, eosinophil, dan basophil dikelompokkan
deformabilitas menyebabkan peningkatan yang sebagai granulosit polimorfonuklear. Nukleinya
signifikan dalam mikrovaskuler aliran darah bersegmen-segmen menjadi beberapa lobus dengan
viskositas. Jika sel darah merah dideformasi diganti ukuran bervariasi, dan sitoplasmanya mengandung
dengan 6- partikel m, maka pada volume 50% banyak granula yang dibungkus oleh membran. Tiga
concentrationmay meningkat 10 kali lipat dan dengan macam granulosit tersebut dibedakan berdasarkan
demikian mencegah aliran dalam jaringan pembuluh kemampuan granulanya menyerap zat warna
darah. Dengan mengurangi RBC deformabilitas eosinophil memiliki afinitas terhadap warna merah
sering dilaporkan pada penyakit mikrovaskuler eosin, basophil suka menyerap warna biru dan
seperti komplikasi diabetes (Kim,2015). neutrophil adalah netral, tidak menyerap zat warna.
Leukosit atau sel darah putih merupakan Monosit dan limfosit dikenal sebagai agranulosit
unit sistem pertahanan tubuh yang bergerak. Fungsi mononuclear. Keduanya memiliki satu inti besar,
pertahanan terhadap invasi benda asing (seperti tidak bersegmen dan sitoplasmanya sedikit dan tidak
bakteri dan virus) dilakukan dalam dua cara yaitu bergranula. Monosit berinti lebih besar dan berbentuk
dnegan (1) menelan dan mencerna benda asing oval atau berbentuk ginjal. Limfosit merupakan
melalui fagositosis dan (2) melalui respon imun leukosit yang paling kecil dengan inti berbentuk bulat
(kebal) seperti produksi antibody (Soewolo, 2010). yang menempati hampir seluruh sel.
Tugas pertahanan leukosit juga termasuk sel-sel Sel-sel darah putih atau leukosit jumlahnya
kanker yang muncul dalam tubuh. Beberapa leukosit lebih sedikit dalam darah daripada eritrosit. Sel ini
juga berfungsi sebagai pasukan pembersih yang dapat bermigrasi dengan bebas dari darah kedalam
jaringan dan kembali dengan gerakan amuboid. Sel sebagai sifat pengenalan protein asing dan
ini dibentuk dalam sumsum tulang, kelenjar limfa peyerangan secara langsung dalam respons imun
dan limfa serta sel-sel reticulum. Jumlah total seluler. Lama hisup netrofil dalam darah kira-kira 30
eritrosit dalam sirkulasi berfluktuasi antara 5000 jam, limfosit kira-kira 2-3 hari dan monosit kira-kira
10.000 / mm3 darah. Eksudat dan fraksi protein dari 13-20 hari,
kerusakan dan infeksi jaringan dapat menyebabkan
peningkatan kecepatan produksi leukosit. Limfosit Metode penelitian
kecil terutama aktif dalam merusak sel-sel asing
Praktikum ini membahas tentang menghitung jumlah sedangkan untuk leukosit menggunakan larutan tursk
eritrosit dan leukosit pada hewan poikilotermik dan (cara kerja sama dengan larutan hayem pada eritrosit,
homoikilotermik. Hewan homoiotherm (memiliki namun ketika menghisap larutan tursk sampai larutan
suhu tubuh konstan) yang memiliki toleransi yang dalam pipet mencapai angka 11), lalu mengocok
sempit kapasitas pada suhu sekitar (Wijayanti dan pipet selama kira-kira 3 menit, kemudian membuang
Maryanto, 2017). Hewan poikilotermik adalah hewan beberapa tetes larutan dari pipet dengan
yang dapat hidup tergantungn pada suhu menempelkan ujungnya pada kertas hisap dan
lingkungannya (Hayward, 2014). menyentuhkan ujung pipet pada ruangan udara
Pada praktikum ini mengamati 2 hewan hemositometer dengan gelass penutupnya
yang berbeda yaitu mencit dan kadal. Langka awal (hemositometer sudah di siapkan dibawah mikroskop
yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan setelah selesai kemudia mencatat hasil pengamatan
bahan yang akan digunakan. Hewan yang digunakan dan menghitung jumlah sel darah merah dalam petak
sebagai percobaan dimasukkan kedalam sungkup perhitungan sel darah merah (ambil empat petak
kaca, lalu memasukkan ether atau kloroform yang perhitungan yang berada di pojok-pojok). Jika
disiapkan pada kapas dan dimasukkan pada sungkup menghitung jumlah leukosit dalam petak perhitungan
kaca tersebut. Hewan yang digunakan dalam hal ini sel darah putih (1 kotak besar yang berada di tengah.
adalah kadal. Sedangkan pada mencit caranya yaitu Didalam nya terdapat kotak-kotak kecil).
dengan dislokasi leher. Kemudian setelah kedua
hewan. Setelah kedua hewan tersebut pingsan Hasil dan Pembahasan
kemudian membedah bagian dada hewan tersebut
sehingga nampak jantung dan pembuluh darah besar Praktikum in membahas tentang menghitung
disekitar jantung, lalu menusuklah salah satu jumlah eritrosit dan leukosit pada hewan
pembuluh darah sehingga darah keluar. Kemudian poikilotermik dan homoikilotermik yang bertujuan
menghisap darah yang keluar dengan pipet darah untuk menghitung eritrosit dan leukosit pada hewan
merah jika mengamati sel darah merah sampai tanda yang tergolong poikilotermik dan homoikilotermik.
0,5 setelah itu segera memasukkan pipet tersebut Adapun data hasil pengamatan yang telah dilakukan
kedaam larutan hayem, menghisap larutan hayem dibawah ini
sampai larutan dalam pipet mencapai angka 101, .
untuk eritrosit menggunakan larutan hayem

Hewan Poikilotermik Hewan Homoikilotermik


Kel
Eritrosit Leukosit Eritrosit Leukosit
1.780.000 Sel/Mm
1 Darah

2 13.680.000 Sel/Mm Darah

3 13.000 Sel/Mm Darah

4 3100 Sel/Mm Darah


1.500.000 Sel/Mm
5 Darah

6 5.100.000 Sel/Mm Darah


106.000 Sel/Mm
7 Darah
Darah merupakan jaringan cair yang terdiri Berdasarkan hasil pengamatan yang
atas dua bagian. Bahan interseluler adalah cairan dilakukan pada kelompok 1 menggunakan jenis
yang disebut plasma dan didalamnya terdapat unsur- hewan yaitu kadal dan diperoleh hasil untuk eritrosit
unsur padat yaitu sel darah. Sel darah ini terdiri atas 3 sebanyak 1.780.000 sel/mm darah, kemudian pada
jenis yang meliputi sel darah merah (eritrosit), sel kelompok 2 menggunakan hewan mencit, jumlah
darah putih (leukosit) dan butir pembeku (trombosit) eritrosit pada hewan kadal yaitu sebesar 13.680.000
(Pearce, 2010). Sel darah merah merupakan sel darah sel/mm darah. Pada kelompok 3 dengan
yang paling banyak jumlahnya. Setiap millimeter menggunakan hewan kadal dengan menghitung
kubik darah manusia mengandung 5 sampai 6 juta sel jumlah leukositnya adalah 13.000 sel/mm darah.
darah merah dan terdapat sekitar 25 triliun jenis sel Pada kelompok 4 dengan menggunakan hewan
dalam keseluruhan 5 L darah dalam tubuh. Struktur mencit, juga sama mengamati jumlah leukositnya
dari eritrosit itu sendiri yaitu berbentuk cakram yaitu sebesar 3.100 sel/mm darah. Sedangkan pada
bikonkaf, bagian tengahnya lebih tipis dibandingkan kelompok 5 yang menggunakan hewan kadal dan
dengan bagian tepinya. Eritrosit pada hewan mamalia menghitung jumlah eritrositnya ditemukan sebanyak
tidak mengandung nucleus. Semua sel darah merah 1.500.000 sel/mm darah. Pada kelompok 6 dengan
tidak memiliki mitokondria dan menghasilkan ATP- menghitung jumlah eritrositnya juga dengan
nya secara metabolism anaerobit. Fungsi dari eritrosit menggunakan hewan mencit ditemukan sebanyak
itu sendiri untuk membawa oksigen dan mengikat 5.100.000 sel/mm darah. Pada kelompok 7 dengan
oksigen. Sedangkan pada sel darah putih atau menggunakan hewan kadal dan menghitung jumlah
leukosit jumlahnya itu lebih sedikit dibandingkan leukositnya ditemukan sebanyak 106.000 sel/mm
dengan sel darah merah. Sel darah putih adalah unit darah.
sistem pertahanan tubuh yang bergerak. Fungsi Berdasarkan hasil pengamatan yang
pertahanan terhadap benda asing dilakukan dengan diperoleh terlihat bahwa jumlah eritrosit dan leukosit
dua cara : 1) dengan menelan dan mencerna benda setiap pengamatan hasil nya berbeda, hasil ini sudah
asing dengan fagositosis, dan 2) melalui respon imun sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa jumlah
(kebal) seperti produksi antibodi. Tugas pertahanan eritrosit lebih banyak daripada jumlah leukosit.
leukosit juga termasuk merusak sel-sel kanker yang Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu
muncul dalam tubuh. Beberapa leukosit juga yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit dipe-
berfungsi sebagau pasukan pembersih yang ngaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh,
memindahkan kotoran tubuh dengan memfagosit variasi harian, dan keadaan stress. Banyaknya jumlah
serpihan sel-sel yang mati atau rusak. Beberapa eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu
invertebrata memiliki leukosit yang berfungsi sendiri. Hewan yang memiliki sel darah kecil,
eksretoris (Soewolo, 2000). jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih
Pada praktikum ini menggunakan darah besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit.
hewan kadal dan mencit. Alat yang digunakan yaitu Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menun-
hemometer, pipet, batang pengaduk, mikroskop. jukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu yang aktif bergerak / beraktivitas akan memiliki
larutan hayem, aquades dan larutan tursk. Larutan eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena
hayem yang digunakan untuk menguji eritrosit dan hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak
larutan tursk yang digunakan untuk menguji leukosit. oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi
Larutan hayem yang berfungsi sebagai pengencer sebagai transport oksigen dalam darah.
pada eritrosit dan untuk memecah leukosit dan Jumlah leukosit dalam darah jumlahnya
trombosit tetapi tidak memecah eritrosit. Jadi untuk lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1 : 700.
mengencerkan eritrosit menggunakan larutan hayem. Jumlah leukosit tergantung jenis hewannya. Fluktuasi
Sedangkan larutan tursk berfungsi untuk pengencer jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada
leukosit dan memberi warna pada inti dari granula kondisi tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis
leukosit dimana larutan ini memecah eritrosit dan dan lainnya. Leukosit berperan penting dalam
trombosit tetapi tidak memecah leukosit maupun pertahanan selule dan humoral organisme terhadap
eritrosit berinti. Pada saat melakukan praktikum benda-benda asing. Jumlah leukosit lebih banyak
larutan hayem disedot terakhir agar yang masuk diproduksi jika kondisi tubuh sedang sakit apabila
kedalam hemositometer itu adalah eritrositnya bukan dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih
larutan hayem tersebut. Selain itu pada saat setelah sedikit dibanding dengan eritrositnya.
menyedot larutan hayem maupun larutan tursk, Berdasarkan literatur jenis hewan
kemudian dikocok selama 3 menit hal tersebut poikilotermik dan homoikilotermik, jumlah eritrosit
mempunyai tujuan agar antara larutan dengan sel pada hewan poikilotermik lebih sedikit di ban-
darah dapat bercampur secara homogen. dingkan dengan hewan homoikilotermik. Sedangkan
untuk konsentrasi leukosit, hewan kadal lebih banyak tidak bisa beredar ke semua bagian tubuh dengan
kandungan leukositnya dari pada hewan mencit. Hal baik. Dengan terjadinya pengentalan pada darah ini
ini terlihat dengan hasil pengamatan jumlah eritrosit akan menyebabkan Hb menjadi rendah, tekanan
sebesar 1.780.000 sel/mm darah dan 1.500.000 darah tinggi, dan kolestrol tinggi. Sedangkan apabila
sel/mm darah pada hewan kadal. Sedangkan pada jumlah eritrosit rendah maka akan menyebabkan
hewan mencit jumlah eritrositnya lebih banyak yaitu terjadinya suatu penyakit yang disebut dengan
13.680.000 sel/mm darah dan 5.100.000 sel.mm anemia, anemia ini merupakan suatu kondisi eritrosit
darah. Jika pada leukosit jumlah nya lebih banyak berada dibawah batas normal. Anemia ini akan
pada hewan poikilotermik, hal ini bisa ditunjukkan mengakibatkan transportasi sel darah merah akan
dengan jumlah leukosit pada hewan kadal yaitu terganggu dan jaringan tubuh si penderita akan
13.000 sel/mm darah dan 106.000 sel/mm darah mengalami kekurangan oksigen, sehingga juga akan
sedangkan ada hewan mencit yaitu 3100 sel/mm berpengaruh terhadap proses metabolisme tubuh.
darah. Dari perbedaan tersebut juga akan Apabila jumlah leukosit didalam tubuh itu
menimbulkan perbedaan dalam hal jumlah konsumsi diatas normal maka akan menyebabkan penyakit
oksigen pada tiap-tiap hewan tersebut. Hal ini di leukimia (kanker darah) karena produksi sel darah
karenakan darah sebagai pengangkut oksigen harus putih secara terus-menerus, sehingga ketika jumlah
mampu mengikat dan melepaskan oksigen dalam sel darah putih lebih tinggi daripada jumlah sel darah
jumlah yang cukup dengan mudah. Tugas mengikat merah maka akan menyebabkan sel darah putih
oksigen ini dilakukan oleh pigmen darah yang memakan sel darah merah, dan hal tersebut sangat
disebut juga pigmen pernafasan. Hemoglobin merugikan bagi tubuh. Sedangkan apabila jumlah
mempunyai kemampuan untuk berkombinasi dengan leukosit didalam tubuh rendah, maka akan
oksigen secara reversibel dengan mudah artinya menyebabkan terjadinya leukopenia, yaitu tubuh
hemoglobin mudah mengikat dan juga mudah sangat rentan terhadap berbagai macam infeksi, hal
melepaskan oksigen. Kemampuan hemoglobin ini sesuai dengan peran leukosit yaitu sebagai
berkombinasi dengan oksigen ini disebut dengan pertahanan tubuh terhadap benda-benda asing (seperti
oksigenini dikenal dikenal sebagai afinitas oksigen bakteri dan virus).
hemoglobin. Kalau setiap eritrosit mengandung Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah
pigmen darah yang sama maka dapat dipahami eritrosit dan leukosit yaitu tergantung pada spesies
semakin banyak tambahan eritrosit maka semakin dan kondisi pakannya, selain itu juga bahan organik
tinggi pula oksigennya, yaitu kemampuan darah yang terkandung seperti glukosa, lemak, urea, asam
mengikat oksigen bila darah dijenuhkan dnegan urat, dan lainnya. Umur, kondisi lingkungan dan
oksigen. Jadi dapat diketahui bahwa semakin tinggi musim juga sangat mempengaruhi jumlah eritrosit
eritrositnya maka semakin tinggi pula kebutuhan dan leukosit. Umur mempengaruhi jumlah eritrosit
serta pengikatan terhadap oksigen karena disesuaikan karena terdapat perbedaan jumlah eritrosit pada usia
dengan jumlah kebu-tuhan dari dalam tubuh tersebut. muda dan tua. Jenis kelamin berpengaruh karena
Berdasarkan literatur, mencit termasuk pada wanita jumlahnya lebih sedikit yaitu sekitar 4,5
dalam mammalia, berarti kadar Oksigen dalam 100 juta/mm3, sedangkan pada laki-laki sekitar 5
ml darahnya yaitu 25. Kadal termasuk dalam reptil, juta/mm3, hal ini disebabkan karena lelaki melakukan
berarti kadar oksigen dalam darahnya yaitu 9. Dari sistem metabolisme tubuhnya lebih besar daripada
sini dapat diketahui bahwa kadar eritrosit pada hewan wanita. Aktivitas tubuh berpengaruh karena semakin
kadal lebih sedikit dibandingkan dengan mencit dan aktif tubuh bergerak maka energi yang dibutuhkan
ini berpengaruh terhadap kebutuhan akan konsumsi semakin banyak sehingga oksigen yang diperlukan
oksigen. Setiap individu atau spesies memiliki jumlah juga semakin banyak untuk proses metabolisme yang
eritrosit tersendiri. Semakin banyak jumlah eritrosit mengakibatkan meningkatnya jumlah eritrosit dan
dalam tubuhnya maka semakin banyak pula pigmen leukosit dan kadar hemoglobin. Ketinggian
darah (hemoglobin) dalam tubuhnya sehingga tempat/daerah yang ditempatinya dapat berpengaruh
semakin banyak jumlah oksigen yang dibutuhkan karena pada umumnya hewan atau manusia yang
atau konsumsi oksigen juga semakin banyak. Hal ini beradaptasi dengan lingkungan oksigen rendah
sudah sesuai dengan data hasil pengamatan. (misalnya hidup di daerah dataran tinggi) maka
Apabila jumlah eritosit terlalu tinggi maka jumlah eritrosit dan leukositnya lebih banyak
akan berpengaruh terhadap jantung dan metabolisme daripada yang beradaptasi dengan lingkungan
tubuh. Contoh terjadinya kelebihan eritrosit ini yaitu oksigen tinggi, karena setiap eritrosit mengandung
terjadinya polisitemia. Polisitimea ini merupakan pigmen darah yang berfungsi untuk mengikat
sebuah kondisi yang terjadi karena kandungan oksigen. Sebaliknya jika berada pada lingkungan
eritrosit terlalu tinggi dalam tubuh yang ditandai dataran rendah maka jumlah eritrosit dan leukositnya
dengan kondisi darah akan menjadi sangat kental dan lebih tinggi.
Kesimpulan

Dari percobaan diatas dapat di simpulkan


bahwa jumlah eritrosit pada hewan poikilotermik dan
homoikilotermik lebih banyak dibandingkan jumlah
leukosit hal tersebut dikarenakan fungsi dari eritrosit
sendiri yaitu sebagai pengikat oksigen. Pada hewan
poikilotermik memiliki jumlah eritrosit yang lebih
sedikit dibandingkan dari hewan homoikilotermik.
sedangkan jumlah leukositnya lebih banyak pada
hewan poikilotermiknya dibandingkan dengan
homoikilotermik.

Daftar Pustaka

Cambridge. 2008. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC


Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III.
Jakarta : Erlangga.
Das, Madhusmita, and P. K. Mahapatra. 2012. Blood
Cell Profiles of the Tadpoles of the Duboiss
Tree Frog, Polypedates teraiensis Dubois,
1986 (Anura: Rhacophoridae). The
ScientificWorld Journal. 1(1).
Gibson, John. 2009. Fisiologi dan Anatomi Modern
untuk Perawat. Jakarta : EGC.
Hayward, Scott A. L., Manso, Bruno and Cossins,
Andrew R. 2014. Molecular basis of chill
resistance adaptations in poikilothermic
animals. The Journal of Experimental
Biology.10.
Jeongho Kim, HoYoon Lee and Sehyun Shin. 2015.
Advances in the measurement of red blood
cell deformability: A brief review. Journal
of Cellular Biotechnology 1. 6379.
Pearce, Evelyn. 2010. Anatomi dan Fisiologis Untuk
Paramedis. Jakarta : Gramedia
Saha, Debarchana., Patgaonkar, Mandar., Shroff ,
Ankit., Ayyar, Kanchana., Bashir, Tahir dan
Reddy, K. 2014. Hemoglobin Expression in
Nonerythroid Cells: Novel or Ubiquitous.
International Journal of Inflammation.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Wijayanti, Fahma dan Maryanto, Ibnu. 2017.
Diversity and Pattern of nest Preference of
bat Species at Bat-Dwelling caves in
Gombong Karst, Central Java, Indonesia.
Biodiversitas. 18 (3) : 864-874.
LAMPIRAN

Hewan Poikilotermik Hewan HOMOIKILOTERMIK


Kel
Eritrosit Leukosit Eritrosit Leukosit

6
7

LAMPIRAN REFERENSI