Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN STERIL


PENCUCIAN DAN STERILISASI ALAT
(Alat, Karet, Vial, dan Botol Infus)

Oleh :
Nama : Rosavina Mawaddah
NIM : 14670007

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU- ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2017
I. TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan sterilisasi alat dan bahan dengan pemanasan
kering (menggunakan oven) dan pemanasan basah (menggunakan
autoclave)

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Dasar Teori
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba
hidup, baik yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen/ non
patogen (tidak menimbulkan penyakit). Sediaan steril adalah bentuk sediaan
obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup.
Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan parental
preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan
parenteral merupakan jenis sediaan yan g unik diantara bentuk sediaan obat
terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membrane
mukosa ke bagian tubuh yang paling efisien, yaitu membrane kulit dan
mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari
bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang
tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini
harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi,
apakah kontaminasi fisik, kimia, atau mikrobiologis (Priyambodo, B.,
2007).
Sterilisasi adalah cara untuk mendapatkan suatu kondisi bebas
mikroba atau setiap proses yang dilakukan baik secara fisika, kimia, dan
mekanik untuk membunuh semua bentuk kehidupan terutama
mikroorganisme. Sterilisasi yang sering dilakukan untuk alat-alat praktikum
terbagi menjadi sterilisasi kering dan sterilisasi basah (Hadioetomo,1993).
A. Panas kering
Cara ini untuk membunuh mikroba hanya memakai udara panas
kering yang tinggi. Sterilisasi panas kering dibedakan atas :
1. Panas membara
Dengan jalan menaruh benda yang akan di sterilkan dalam nyala api
bunsen sampai merah membara. Alat yang disterilkan yaitu sengkelit,
jarum, ujung pinset dan ujung gunting.
2. Melidah apikan
Dengan melewatkan benda dalam api bunsen, namun tidak sampai
menyala terbakar. Alat yang disterilkan yaitu scalpel, kaca benda, mulut
tabung dan mulut botol.
3. Udara kering
Oven merupakan ciri umum yang dimaksud. Alat ini terbuat dari
kotak logam, udara yang terddapat di dalamnya mendapat udara panas
melalui panas dari nyala listrik. Alat yang disterilkan yaitu tabung reaksi,
cawan petri, pipet, scalpel dari logam, gunting dan botol. Pemanasan satu
jam dengann temperatur 160 oC dianggap cukup.

Gambar 1. Oven
B. Panas Basah
Panas basah adalah pemansan menggunakan air atau uap air. Uap air
adalah media penyalur panas yang terbaik dan terkuat daya penetrasinya.
Panas basah mematikan mikroba. Oleh karena koagulasi dan denaturasi
enzim dan protein protoplasma mikroba. Untuk mematikan spora
diperlukan panas basah selama 15 menit pada suhu 121 oC. Sterilisasi panas
basah dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu:
1. Panas basah <100 oC (Pasteurisasi)
Pasteurisasi yaitu pemanasan pada suhu 60oC selama 30 menit.
Pasteurisasi tidak dapat membunuh spora atau dipanaskan pada suhu
71,6-80 oC selama 15-30 detik kemudian cepat-cepat didinginkan.
2. Panas basah pada suhu 100 oC
Di sini menggunakan air mendidih (suhu 100oC) selama 10 menit.
Untuk mematikan bentuk spora dilakukan pemansan 3 hari berturut-turut
selama 15-45 menit sehingga spora yang tidak mati pada pemanasan
pertama akan beruah menjadi bentuk vegetatif pada hari kedua steleh
inkubasi pada shu 37 oC begituu pula spora yang tidak mati pada hari
kedua, akan berubah menjadi bentuk vegetatif pada hari ketiga.
3. Panas basah >100 oC
Sterilisasi dengan cara ini hasilnya mutlak steril, sehingga biasa
dipergunakan di rumah sakit dan laboratorium besar. Cara ini
menggunakan tangki yang diisi dengan uap air yang disebut autoclave.
Alat yang disterilkan adalah alat dari kaca, kain kasa, media pembenihan,
cairan injeksi, dan bahan makanan.

Gambar 2. Autoclave
Pengembangan produk steril ditujukan dengan persyaratan khusus
dengan tujuan mengurangi resiko kontaminasi mikrobiologi, dan partikulat
dan kontaminasi pirogen. Banyaknya kontaminasi tergantung pada skill,
pelatihan, dan sikap personel yang melakukan. Quality Assurance juga
memiliki peran penting, dan jenis pengembang ini harus mengikuti metode
preparasi dan prosedur yang tervalidasi dan ketat (European Commission,
2008).
Wadah berhubungan erat dengan produk. Tidak ada wadah yang
tersedia sekarang ini yang benar-benar tidak reaktif, terutama dengan
larutan air. Sifat fisika dan kimia mempengaruhi kestabilan produk tersebut,
tetapi sifat fisika diberikan pertimbangan utama dalam pemilihan wadah
pelindung adalah polipropilen dan kopolimer polietilen polietilen. Wadah
terbuat dari berbagai macam bahan, wadah plastik, wadah gelas, dan wadah
dari karet. Wadah Gelas masih tetap merupakan bahan pilihan untuk wadah
produk yang dapat disuntikkan. Gelas pada dasarnya tersusun dari silkon
dioksida tetrahedron, dimodifikasi secara fisika dan kimia dengan oksida
oksida seperti oksida natrium, kalium, kalsium, magnesium, alumunium,
boron, dan besi. Gelas yang paling tahan secara kimia hampir seluruhnya
tersusun dari silikon dioksida, tetapi gelas tersebut relatif rapuh dan hanya
dapat dilelehkan dan dicetak pada temperatur tinggi (Lachman, 1994).
Produk yang harus steril harus disterilisasi akhir dengan panas,
ketika sesuai, daalam kemasan akhiryna. Ketika tidak mungkin untuk
melakukan sterilisasi akhir terkait instabilitas formulasi, produk dapat
disterilisasi dengan metode sterilisasi akhir alternatf seperti filtrasi dan/atau
proses aseptik (World Health Organization, 2002).
Sterilisasi dapat dilakukan dengan penggunaan panas basah atau
kering, irradiasi dengan radiasi ion (tetapi tidak dengan radiasi ultraviolet
kecuali prosesnya sudah divalidasi), etilen oksida (atau agen pensteril gas
lainnya), dan dengan filtrasi menggunakan proses pengisian ke wadah akhir
yang aseptic. Setiap metode memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-
masing (World Health Organization, 2002).
Untuk mencapai sterilisasi yang efektif, keseluruhan bahan harus
diproses melalui perlakuan yang berlaku dan prosesnya harus didesign
untuk memastikan bahwa tujuannya tercapai (World Health Organization,
2002).
2.2 Monografi Bahan:
a. Alkohol
Etanol mengandung tidak
kurang dari 92,3% b/b dan tidak lebih dari
93,8% b/b setara dengan tidak kurang dari
94,9% v/v dan tidak lebih dari 96,0% v/v
C2H5OH pada suhu 15,56o. Pemerian
cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna. Bau Khas dan
menyebabkan rasa terbakar pada lidah. Mudah menguap walaupun pada
suhu rendah dan mendidih pada suhu 78o. Mudah terbakar. Kelarutan
bercampur dengan air dan praktis tidak bercampur dengan semua pelarut
organik (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995).
b. Aquades
Air murni adalah air yang dimurnikanyang
diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakn
penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang
sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan
air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain. Pemerian cairan jernih,
tidak berwarna, tidak berbau (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
1995).
III. ALAT DAN BAHAN
Alat
- Kaca arloji - Beaker glass -Alumunium foil
- Erlenmeyer - Pengaduk
- Pinset - Spatel
- Pipet tetes - Corong
- Gelas Ukur - Kertas perkamen
Bahan
- HCl encer - HCl 2% - Etanol 70%
- Tepol 1% - Na2CO3 0,5%
- Na2CO3 5% - Aquadest
IV. PROSEDUR KERJA
4.1. Pencucian
a. Pencucian Alat Gelas

Alat-alat dicuci dengan air dan HCl encer (saat praktikum tidak dilakukan,
dianggap telah dilakukan sebelumnya)

Kemudian direndam dalam larutan tepol 1% dan Na2CO3 0,5% (aa) dan
dididihkan selama 1 hari (saat praktikum tidak dilakukan, dianggap telah
dilakukan sebelumnya)

Prosedur diatas diulangi 2 kali ad larutan tetap jernih (maksimal 3 kali) (saat
praktikum tidak dilakukan, dianggap telah dilakukan sebelumnya)

Alat-alat kemudian dibilas dengan aquadest (3 kali)


b. Pencucian aluminium

Alat-alat dididihkan dalam larutan tepol 1% selama 10 menit

Kemudian direndam dalam larutan Na2CO3 5% selama 5 menit

Kemudian dibilas dengan air panas mengalir (saat praktikum tidak dilakukan)

Kemudian dididihkan dengan air selama 15 menit, kemudian dibilas (saat


praktikum tidak dilakukan)

Kemudian dididihkan dengan aquadest 15 menit, kemudian dibilas dengan


aquadest (3 kali)

c. Pencucian karet

Alat-alat direndam dalam HCl 2% selama 2 hari (saat praktikum tidak


dilakukan, dianggap telah dilakukan sebelumnya)

Kemudian direndam dalam tepol 1% dan larutan Na2CO3 0,5% (aa) selama 1
hari (saat praktikum tidak dilakukan, dianggap telah dilakukan sebelumnya)

Prosedur diatas diulangi 2 kali ad larutan tetap jernih (maksimal 3 kali) (saat
paktikum tidak dilakukan, dianggap telah dilakukan sebelumnya)

Kemudian direndam dengan aquadest dan dididihkan selama 30 menit (saat


praktikum tidak dilakukan, dianggap telah dilakukan sebelumnya)

Kemudian direndam dengan etanol 70% dan air (aa), kemudian dibilas dan
diulangi ad larutan jernih

4.2. Pengeringan Alat


Semua alat dikeringkan menggunakan oven suhu 100C selama 10 menit
(dalam posisi terbalik)

Selama pengeringan berlangsung, oven ditutup rapat

Semua alat yang telah kering segera dibungkus


4.3. Pembungkusan Alat
a. Sterilisasi Kering
Batang pengaduk, pinset, spatula, gelas arloji dibungkus menggunakan
alumunium foil membentuk kotak (ada rongga udara)

Pembungkusan dilakukan dua lapis

b. Sterilisasi Basah
Beaker glass, gelas ukur, erlenmeyer, karet pipet dibungkus menggunakan
kertas perkamen membentuk kotak (ada rongga udara)

Pembungkusan dilakukan dua lapis

4.4. Sterilisasi Alat


a. Sterilisasi kering
Batang pengaduk, pinset, spatula, gelas arloji yang sudah dibungkus,
disusun didalam oven dengan rapi

suhu oven diset hingga suhu 180C

suhu oven ditunggu hingga mencapai suhu 180C (waktu 33 menit)

setelah mencapai suhu 180C proses sterilisasi dimulai (waktu 30 menit)

setelah waktu 30 menit selesai, suhu oven diturunkan dan ditunggu hingga
24 menit

keluarkan semua alat dari oven dan masukkan dalam kantong

diberi label nama kelompok dan 'steril'


b. Sterilisasi Basah
Beaker glass, gelas ukur, erlenmeyer, karet pipet yang sudah dibungkus,
disusun didalam autoklaf dengan rapi

autoklaf ditutup rapat dan mulai dipanaskan (11 menit)

udara dalam autoklaf dikeluarkan (12 menit)

suhu autoklaf ditunggu hingga mencapai suhu 121C (15 menit)

setelah mencapai suhu 121C dihitung waktu kesetimbangan 0 menit

kemudian proses sterilisasi dimulai (waktu pembinasaan 15 menit)

setelah waktu 15 menit selesai, dilanjutkan dengan waktu tambahan


jaminan sterilisasi hingga 0 menit

suhu autoklaf diturunkan (8 menit)

autoklaf didinginkan (7 menit)

keluarkan semua alat dari autoklaf

masukkan dalam kantong (jika basah harus dikeringkan terlebih dahulu)

diberi label nama kelompok dan 'steril'


V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Pengamatan
Jumlah alat gelas yang disterilkan : 9 buah
Jumlah alat gelas yang disterilkan dengan metode sterilisasi basah : 4 buah
Jumlah alat gelas yang disterilkan dengan metode sterilisasi kering : 5 buah
Hsil sterilisasi terakhir : bersih dan kering tidak terdapat noda air.

5.2 Pembahasan
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat melakukan sterilisasi alat
dan bahan dengan pemanasan kering (menggunakan oven) dan pemanasan basah
(menggunakan autoclave). Dalam percobaan yang telah dilakukan alat-alat yang
disterilkan meliputi: beaker glass, Erlenmeyer, karet pipet, gelas ukur (sterilisasi
basah); kaca arloji, pengaduk, pinset, spatel, pipet tetes (sterilisasi kering).
Pencucian dan sterilisasi sangat penting dilakukan karena merupakan salah satu
elemen penting dalam suatu rangkaian proses pembuatan sediaan steril.
Sterilisasi merupakan eliminasi menyeluruh terhadap viabilitas mikrbial,
termasuk bentuk vegetatif bakteri dan spora. Sediaan dan barang dinyatakan
steril jika semuanya bebas dari bentuk hidup mikroorganisme, yang dapat
dibuktikan melalui persyaratan pada pengujian terhadap sterilitas. Terdapat
beberapa macam metode sterilisasi, yaitu :
1. Sterilisasi kimia, misalnya menggunakan antibiotik, fenol-fenol, alkohol,
gasetilen oksida, dan formaldehid.
2. Sterilisasi Radiasi, misalnya menggunakan sinar UV, sinar laser, sinar
gamma.
3. Seterilisasi panas, yaitu dibagi menjadi sterilisasi panas basah dan
sterilisasi panas kering.
4. Sterilisasi filtrasi, yaitu menggunakan suatu filter untuk
menyaringmikroorganisme baik virus maupun bakteri.
Sediaan farmasi steril adalah sediaan farmasi yang memenuhi syarat bebas
dari mikroorganisme disamping syarat fisika dan kimia. Pencucian bertujuan
untuk membersihkan alat-alat dari lemak, partikel, bakteri, dan pirogen.
Bahanyang dapat digunakan dalam pencucian antara lain alkali, detergen,
purified water (PW),aqua demineralisasi (DI) yang disaring, non-pyrogen water,
dan air untuk injeksi (WFI).
Sterilisasi adalah suatu proses untuk menghilangkan, mematikan, atau
menghancurkan semua bentuk mikroorganisme hidup baik yang pathogen
maupun tidak, bahkan dalam bentuk vegetative (spora) dari suatu objek atau
bahan. Dengan sterilisasi akan diperoleh objek atau bahan yang steril. Pada
umumnya suatu proses yang dapat menghancurkan zat hidup juga mampu
menyebabkan beberapa kerusakan pada objek yang disterilkan.
Dalam percobaan ini metode sterilisasi apa yang akan digunakan tergantung
apakah objek tahan panas atau tidak.
Metode sterilisasi yang dipilih untuk beaker glass, Erlenmeyer, corong,
gelas ukur adalah sterilisasi menggunakan autoclave. Sterilisasi uap merupakan
proses sterilisasi termal menggunakanuap jenuh di bawah tekanan berlangsung
di suatu bejana yang disebut autoklaf. Metode ini paling banyak digunakan.
Suatu siklus autoklaf yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau
pereaksi adalah selama 15 menit pada suhu 121C kecuali dinyatakan lain.
Autoklaf dapat mempertahankan suhu 121 C 2,0 C dilengkapi dengan
thermometer, pengukur tekanan, lubang ventilasi, rak yang cukup untuk
menampung wadah uji diatas permukaan air dan sistem pendingin air yang akan
mendinginkan wadah uji sampaisuhu lebih kurang 20C tetapi tidak di bawah
suhu 20C segera setelah siklus pemanasan. Prinsip dasar dari autoklaf adalah
udara di dalam bejana sterilisasi diganti dengan uap jenuh dan hal ini dicapai
dengan menggunakan alat pembuka atau penutup khusus.
Metode sterilisasi basah sangat efektif meskipun pada suhu yang tidak
begitu tinggi, karena uap air berkondensasi pada bahan-bahan yang disterilkan,
dilepaskan panas sebanyak 686 kalori per gram uap air pada suhu 121C. Panas
ini mendenaturasikan atau mengkoagulasikan protein pada organisme hidup dan
dengan demikian mematikannya. Maka sterilisasi basah dapat digunakan untuk
mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air (minyak misalnya,
tidak dapat ditembus uap air) dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang
berkisar antara 110C dan 121C (Hadioetomo, R. S., 1985).
Pada umumnya metode sterilisasi ini digunakan untuk sediaan farmasi dan
bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperatur yang dipergunakan dan
penembusan uap air, tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap
air tersebut. Metode ini juga dipergunakan untuk larutan dalam jumlah besar,
alat alat gelas. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak, minyak
lemak, dan sediaan-sediaan lain yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau
pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap air jenuh (Ansel, 1989).
Adapun langkah kerja untuk sterilisasi alat gelas menggunakan autoclave
adalah sebagai berikut:
Pertama kali alat-alat dicuci dengan air dan HCl encer dengan tujuan untuk
menetralkan kondisi alkalis dari alat gelas. Kemudian direndam dalam larutan
tepol 1% dan Na Carbonat 0,5%). HCl encer untuk menetralkan sifat alkalis dari
gelas akibat proses leburannya. Struktur gelas terdiri dari ikatan silika tetrahedral
yang bersifat basa. Pada temperatur kamar, ion soda silikat dapat berpindah
sehingga bercampur dengan larutan setelah kontak dalam waktu yang lama. Hal
ini dapat terjadi karena soda silikat gelas akan mengalami hidrolisis oleh adanya
air dan akan terbentuk alkali hidroksida yang dapat bereaksi dengan obat-obat
yang dikemas didalamnya dan pada akhirnya dapat terjadi degradasi obat.
Namun, sedikit banyaknya pembebasan alkali ini sangat tergantung pada
kualitas bahan gelas. Tepol berfungsi sebagai surfaktan, bisa juga digunakan
untuk mengurangi lemak.
Keuntungan tepol adalah tidak menimbulkan noda putih. Hal ini karena
tepol tidak mengandung asam stearat. Kedua langkah ini dilakukan untuk karet
berkualitas jelek. Bila digunakan karet kualitas baik maka langkah-langkah
tersebut tidak harus dilakukan. Selanjutnya direndam dalam tepol 1% dan Na
bicarbonate 0,5% (aa) dan didihkan selama 1 hari. Tepol 1% berfungsi sebagai
surfaktan yang akan mengikat lemak pada gelas yang akan terikat pada gugus
lipofil dari surfaktan. Selain itu juga untuk membebaskan pirogen (depirogenasi)
dan disinfektan. Sementara Na Carbonat 0,5% berfungsi untuk menetralkan sisa
asam akibat HCl encer. Prosedur tersebut diulangi 2 kali ad larutan tetap jernih
(maksimal 3 kali). Alat-alat kemudian dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali.
Semua alat dikeringkan menggunakan oven suhu 100C selama 10 menit (dalam
posisi terbalik). Selama pengeringan berlangsung oven ditutup rapat. Semua alat
yang telah dikeringkan segera dibungkus.

Gambar 3. Alat-alat setelah dicuci


Untuk pencucian karet, karet direndam dalam HCl 2% selama 2 hari
dengan tujuan untuk menetralkan kondisi alkalis dari tutup karet. Selanjutnya
rendam tutup karet dengan larutan (tepol 1% dan Na Carbonat 0,5%) selama 1
hari dengan tujuan supaya penyerapan tepol dan Na Carbonat lebih efektif.
Prosedur di atas diulangi sebanyak 2 kali ad larutan tetap jernih. Kemudian
direndam dengan aquadest dan didihkan selama 30 menit. Direndam dengan
etanol 70% dan air (aa).
Prosedur selanjutnya adalah pembungkusan alat. Beaker glass, gelas ukur,
Erlenmeyer, karet pipet dibungkus menggunakan aluminium foil (tidak ada
rongga udara) agar uap air tidak masuk pada alat gelas. Alat-alat gelas yang
sudah terbungkus rapi dimasukkan kedalam autoklaf, disusun dengan rapi.
Autoklaf ditutup rapat dan mulai dipanaskan (11 menit), udara di dalam autoklaf
dikeluarkan (12 menit). Suhu autoklaf ditunggu hingga mencapai suhu 121C
(15 menit). Setelah mencapai suhu 121C dihitung waktu kesetimbangan 0
menit. Kemudiaan proses sterilisasi dimulai (waktu pembinasaan 15 manit).
Waktu tersebut merupakan waktu untuk proses sterilisasi. Setelah waktu 15
menit selesai, dilanjutkan waktu tambahan jaminan sterilitas hingga 0 menit.
Waktu ini digunakan untuk menjamin bahwa bakteri spora Stearothermophillus
telah benar-benar mati. Suhu autoklaf diturunkan (8 menit), autoklaf didinginkan
(7 menit). Semua alat dikeluarkan dari autoklaf. Dimasukkan kedalam kantong
yang kering.

Gambar 4. Alat-alat dibungkus dengan kertas putih


Sterilisasi panas kering dilakukan untuk alat-alat yang tahan pemanasan
tinggi tetapi tidak dapat ditembus oleh uap air dengan mudah. Pada sterilisasi
panas kering, pemusnahan mikroba berdasarkan proses oksidasi dan dehidrasi
terhadap sel mikroba. Dalam sterilisasi ini perlu diperhatikan penyusunan alat
gelas dalam oven. sebaiknya alat gelas disusun agak renggang sehingga aliran
udara dapat menembus dan terdispersi keseluruh permukaan gelas. Keuntungan
menggunakan metode sterilisasi panas kering adalah alat-alat yang disterilkan
akan tetap kering.
Dibandingkan dengan panas lembab, panas kering kurang efisien dan
membutuhkan suhu lebih tinggi serta waktu yang lebih lama untuk sterilisasi.
Hal ini disebabkan karena tanpa kelembaban tidak ada panas laten. Hubungan
antara suhu dan lamanya pemanasan yang umum digunakan dalam sterilisasi
dengan panas kering adapat dilihat pada tabel. Pemanasan seperti ini menjamin
bahwa suhu pada benda-benda yang diapanskan dalam oven akan mencapai 160-
175C selama sekurang-kurangnya 10 menit (Hadioetomo, R. S., 1985).
Secara keseluruhan, metode panas basah lebih efektif dibandingkan panas
kering. Kelebihan panas basah :
1. Uap air mempunyai daya bakterisida yang lebih besar daripada panas kering
sehingga sterilisasi dapat dilakukan pada suhu yang lebih rendah dan waktu
yang lebih singkat.
2. Kapasitas kalor uap air lebih besar dibandingkan kapasitas kalor udara kering,
sehingga pemindahan kalor dapat terjadi dengan lebih cepat.
3. Uap air dapat menempati seluruh ruangan dengan merata.
Langkah kerja untuk sterilisasi panas kering adalah sebagai berikut:
Alat-alat gelas (batang pengaduk, pinset, spatula, gelas arloji) yang sudah
dicuci, dikeringkan dan dibungkus dengan aluminium foil (ada rongga udara)
disusun dalam oven dengan rapi. Suhu oven diset hingga suhu 160C dan
ditunggu hingga mencapai suhu 160C (waktu 33 menit). Setelah mencapai suhu
160C proses sterilisasi dimulai (waktu 30 menit). Setelah waktu 30 menit
selesai, suhu oven diturunkan dan ditunggu hingga 24 menit. Dikeluarkan semua
alat dari oven dan dimasukkan dalam kantong yang kering. Selanjutnya semua
alat-alat yang sudah dilakukan proses sterilisasi baik basah maupun kering
disimpan di tempat yang steril.

Gambar 5. Alat-alat dimasukkan dalam oven


Hasil percobaan ini didapatkan alat gelas serta karet penutup yang kering,
bersih dan bebas dari partikel asing.
VI. KESIMPULAN
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan produk steril harus
diperhatikan kontrol kualitas dan sterilitasnya sebagai pendukung pembuatan
sediaan steril.Bahan yang tidak tahan panas disterilisasi dengan sterilisasi
basah menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 45 menit. Pada metode
ini uap air akan menembus dinding sel mikroba dan mengakibatkan koagulasi
protein sehingga spora bakteri akan mati dan tercapai keadaan steril. Bahan
yang tahan panas glassware disterilisasi dengan sterilisasi kering
menggunakan oven pada suhu 160oC selama 1 jam. Pada sterilisasi panas
kering, pemusnahan mikroba berdasarkan proses oksidasi dan dehidrasi
terhadap sel mikroba.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia: Jakarta.


Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed ke 4, Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta.
Hadioetomo, R. S. 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, PT. Gramedia,
Jakarta.
Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama,
Yogyakarta.
European Commission. 2008. The Rules Governing Medicinal Products in the
European Union. Brussels: European Commission.
Lachman, L., Lieberman H. A., Kanig, J. L., 1994., Teori dan Praktek Farmasi
Industri, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, edisi III, Universitas Indonesia,
Jakarta,760-779.
WHO. 2002. Pemastian Mutu Obat : Kompedium Pedoman dan Bahan-
bahan Terkait, diterjemahkan oleh Mimi, V.S., EGC, Jakarta, 44-47.