Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN STERIL

PEMBUATAN STERIL HYDROCORTISONE ACETATE


SUSPENSION 2.5%

Oleh :

Nama : Rosavina Mawaddah

NIM : 14670007

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU- ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2017
I. TUJUAN
- Memahami dan mampu melakukan pembuatan sediaan steril dengan teknik
aseptis
- Memahami dan mampu membuat sediaan injeksi suspensi hidrokortison
asetat

II. TINJAUAN PUSTAKA


Suspensi farmasi adalah disperse kasar, dimana partikel padat yang tak
larut terdispersi dalam medium cair. Partikelnya mempunyai diameter yang
sebagian besar lebih dari 0,1 mikron. Beberapa partikel terlihat dibawah
mikroskop menunjukan geraka brown bila dispersinya mempunyai viskositas
yang rendah. Suspensi dalam farmasi digunakan dalam berbagai cara :
1. Injeksi intramuscular ( Suspense Penicilin G )
2. Tetes mata ( Suspense Hidrokortison Asetat )
3. Melalui mulut ( Suspense Sulfat/Kemicetin )
4. Memalui rectum ( Suspense Paranitro Sulfathiazole )
Dalam pembuatan suspensi dikenal 2 macam system, yaitu system
flokulasi dan system deflokulasi. Dalam system flokulasi, partikel terflokulasi
adalah terikat lemah, cepat mengendap dan mudah tersuspensi kembali dan
tidak membentuk cake. Sedangkan pada system deflokulasi, partikel
terdeflokulasi mengenap perlahan-lahan dan akhirnya membentuk sedimen
dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar tersuspensi
kembali.
Pada system flokulasi biasanya mencegah pemisahan yang sungguh-
sungguh tergantung pada kadar partikel padat dan derajat flokulasinya dan
pada suatu waktu flokulasi kelihatan kasarr akibat terjadi flokul. Dalam system
deflokulasi, partikel tersdispersi baik dan mengenap sendirian, tapi lebih
lambat daripada system flokulasi, tapi partikel deflokulasi berkehandak
membentuk sedimen atau cake yang terdispersi kembali ( Anief, 200 ).
a. Teknologi Pembuatan
Pembuatan sediaan obat suspensi dibedakan menjadi empat fase, yaitu :
1. Pendistribusian atau penghalusan fase terdispersi
2. Pencampuran dan pendispersian fase terdispersi di dalam bahn
pendispersi
3. Stabilisasi untuk mencegah atau mengurangi pemisahna fase
4. Homogenisasi, yang diartikan sebagai perataan fase terdispersi dalam
bahan pendispersi.
Setelah penghalusan sampai ukuran partikel yang dikehendaki, bahan
padat mula-mula digerus homogen dengan sejumlah kecil bahan pendispersi,
kemudian sisa cairan dimasukkan sebagian demi sebagian. Jika pembawa
terdiri dari beberapa cairanmaka untuk menggerus digunakan cairan dengan
viskositas yang tertinggi atau yang memiliki daya pembasahan paling baik
terhadap partikel terdispersi.
b. Pengujian Ukuran Partikel, Dispersitas dan Pengujian Lainnya
Penetuan ukuran partikel body padat tersuspensi dilakukan melalui
pengukuran secara mikroskopik. Pengerjaan dipermudah dengan
menggunakan mikroskop proyeksi (Lanameter), dimana objek mengalami
perbesaran yang sangat kuat yang ditampilkan pada sebuah layar berskala.
Penentuan orientasi partikel dapat dilakukan dengan Grendometer. Tingkat
dispersitas jika diperlakukan dapat diterapkan dengan mikroskopik, atau
dengan pipet Andreas atau yang lebih mudah lagi dengan penghitungan
paretikel elektrolit(Coulter atau Granuloter). Beberapa cara untuk memetukan
ukuran partikel telah diuraikan dalam bagian 2.1.5. Disamping itu, informasi
yang sangat diperlukan adalah hasil pengukuran Rheologis.
Untuk lotion misalnya dilakukan pengujian terhadap daya ikat lapisan
yang telah mengering saeta evaluasi daya pekatnya untuk mendukung
kandungan bahan aktif didalam suspensi sebagai tolak ukur evaluasi
kualitasnya yang dapat dilakukan langsung setelah pengocokan suspensi (
Voight, 1971)
c. Pengemasan dan Penyimpanan
Semua suspensi harus dikemas dalam wadah mulut lebar yang
mempunyai ruang udara yang memadai di atas cairan sehingga dapat dikocok
dan mudah dituang. Kebanyakan suspensi harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat dan terlindung dari pembekuan, panas yang berlebihan, dan
cahaya. Suspensi perlu dikocok tiap kali sebelum digunakan. Untuk menjamin
distribusi zat padat yang merata dalam pembawa sehingga dosis yang diberikan
setiap kali tepat dan seragam.
d. Sifat-Sifat Yang Diinginkan Dalam Suatu Suspensi Farmasi
Terdapat banyak pertimbangan dalam pengembangan dan pembuatan
suatu suspense farmasi yang baik. Disamping khasiat terapeutik, stabilitas
kimia dari komponen-komponen forrmulasi, kelenggangan sediaan dan bentuk
estetika dari sediaan sifat-sifat yang diinginkan dalam semua sediaan farmasi
dan sifat-sifat lain yang spesifik untuk suspense farmasi (Ansel, 1989):
1. Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat dan cepat mengendap
secara lambat dan harus rata lagi bila dikocok.
2. Karakteristik suspensi harus sedemikan rupa sehingga ukuran partikel dari
suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan.
3. Suspense harus bias dituang dari wadah dengan cepat dan homogen
Hidrokortison asetat digunakan pada heumatoid arthritis sebagai
antiinflamasi dan immunosuppresif. Hidrokortison asetat bekerja dengan
mengganggu antigen T limfosit, menginhibisi prostaglandin dan sintesis
leukotrin, menghibisi neutrofil dan turunan monosit superoksidaradikal.
Hidrokortison asetat juga mengganggu migrasi seldan menyebabkan
redistribusi monosit, limfosit, dan neutrofil, sehingga mengumpulkan respon
inflamasi dan autoimun. Suspensi hidrokortison asetat steril digunakan untuk
mengobati rheumatoid pada sendi dan penggunaannya disuntikkan di
intraartikular. Inflamasi kronik jaringan sinovial yang melapisi kapsul sendi
dihasilkan dalam proliferasi jaringan ini. Karakteristik sinovium yang
mengalami proliferasi dari rheumatoid diseut pannus. Pannus ini menyerang
kartilago dan akhirnya permukaan tulang, memproduksi erosi tulang dan
kartilago dan menyebabkan kerusakan sendi (Dipiro, 2008).
Sendi sinovial adalah sendi yang paling umum dari kerangka apendikular
manusia. Meskipun sendi ini dianggap bergerak bebas, tingkat kemungkinan
gerak bervariasi sesuai dengan desain struktural individu dan fungsi utama
(gerakan stabilitas). Komponen dari sendi sinovial yang khas mencakup unsur-
unsur tulang, tulang subkondral, Kartilago artikular, membran sinovial, kapsul
sendi fibroligamentous, dan reseptor sendi artikular. Cairan sinovial digunakan
sebagai pelumas sendi atau setidaknya untuk berinteraksi dengan tulang rawan
artikular untuk mengurangi gesekan antara permukaan sendi. (Tortora G. J.,
Derrickson B, 2009).
Fungsi cairan sinovial meliputi mengurangi gesekan dimana cairan
sinovial akan melumasi sendi, shock absorption yaitu sebagai cairan dilatant,
cairan sinovial ditandai dengan menjadi lebih kental di bawah tekanan, cairan
sinovial dalam sendi diarthrotic menjadi tebal saat diterapkan untuk
melindungi sendi dan selanjutnya menipis keviskositas normal untuk
melanjutkan fungsi pelumas. Selain itu digunakan pula untuk transportasi
nutrisi dan limbah dimana cairan mensuplai oksigen dan nutrisi dan
menghilangkan karbon dioksida dan limbah metabolik dari kondrosit dalam
kartilago. Jaringan sinovial terdiri dari jaringan ikat vascularized yang tidak
memiliki membran basement. Dua jenis sel (tipe A dan tipe B) yang hadir: Tipe
A berasal dari monosit darah. Tipe B menghasilkan cairan sinovial. Cairan
sinovial terbuat dari asam hialuronat dan lubricin, proteinase, dan kolagenase.
Cairan sinovial menunjukkan karakteristik aliran non-Newtonian; koefisien
viskositas tidak konstan dan cairan tidak linear kental. Cairan sinovial memiliki
karakteristik tiksotropi; viskositas menurun dan menipis cairan selama stres
berlanjut.

III. FORMULASI
Permasalahan
a. Kortison asetat tidak larut dalam air
b. Sediaan harus larut dapat melalui syringe injeksi 18-21 gauge
Formulasi yang harus dibuat
R/ Hidrokortison Asetat 25 mg
NaCl 9 mg
Polisorbat 80 4 mg
HPMC 5 mg
Benzyl Alkohol 0,9 %
Aqua pro injeksi ad 1 cc
Cara sterilisasi
- NaCl disterilisasi panas kering (oven) pada suhu 1600C selama 1 jam
- Hidrokortison asetat dan polisorbat 80 disterilisasi panas kering (oven) pada
suhu 1600C selama 1 jam
- HPMC disterilisasi panas basah (autoklaf) pada suhu 1150C selama 30
menit

IV. METODOLOGI
4.1 Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini, sebagai berikut:
Alat yang digunakan Jumlah Bahan yang digunakan Jumlah
Kaca Arloji 1 buah Hidrokortison Asetat 0,3 g
Beaker Glass 1 buah NaCl 0,108 g
Erlenmeyer 1 buah Polisorbat 80 0,036 ml
Batang Pengaduk 1 buah HPMC 0,06 g
Pinset 1 buah Aqua Panas untuk HPMC secukupnya
Sendok Porselen 1 buah Benzyl Alkohol 10,38 ml
Botol Infus 100ml 1 buah Aqua pro injeksi secukupnya
Pipet Tetes 1 buah
Corong 1 buah
Kertas Saring 1 buah
Sumbat Karet 1 buah
Gelas Ukur 1 buah
Tali 1 buah
Hot Plate 1 buah
4.2 Prosedur Kerja Sterilisasi alat yang digunakan

Ditimbang HPMC,
Ditimbang hidrokortison asetat dikembangkan dalam Aqua Ditimbang benzoil
625 mg, dimasukkan mortar dan alcohol 225 mg
pro injeksi (API)
digerus ad halus dan
dimasukkan beker glas (a)
Dilarutkan dengan API
HPMC diaduk dan digerus
Ditimbang polisorbat 80 sampai terbentuk mucilago (b)
sebanyak 100 mg,
dimasukkan (a)

(b) disterilkan dengan


Ditimbang NaCl 225 mg autoklaf 1150C 30 menit

(a) Dan NaCl disterilkan


dengan oven 1600C 1 jam

(a) Dilarutkan dengan sedikit API lalu dicampur


dengan (b) campuran (c)

NaCl yang sudag disterilkan dan benzyl alcohol dicampur dengan


campuran (c), diaduk ad homogen

Difiltrasi menggunakan syringe injeksi 18-21 gauge ke dalam wadah


sediaan
V. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini kami membuat sediaan suspensi hidrokortison asetat
2,5% dengan teknik aseptik. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fasa cair. Jenis produk ini
umumnya campuran serbuk yang mengandung obat dan bahan pensuspensi
dengan melarutkan dan pengocokan dalam sejumlah cairan pembawa.
Suspensi hidrokortison asetat steril digunakan untuk mengobati
rheumatoid arthritis pada sendi dan penggunaannya disuntikkan di intraartikular.
Hidrokortison asetat digunakan pada rheumatoid arthritis sebagai antiinflamasi
dan immunosuppresif. Hidrokortison asetat mengganggu antigen T limfosit,
menginhibisi prostaglandin dan sintesis leukotrin, menghibisi neutrofil dan
turunan monosit superoksidaradikal. Hidrokortison asetat juga mengganggu
migrasi seldan menyebabkan redistribusi monosit, limfosit, dan neutrofil,
sehingga menumpulkan respon inflamasi dan autoimun.
Inflamasi kronik jaringan sinovial yang melapisi kapsul sendi dihasilkan
dalam proliferasi jaringan ini. Dimana, dalam membran synovial terdapat sel
CD4 + T berlimpah dan berkomunikasi dengan makrofag, osteoklas, fibroblas
dan kondrosit, baik melalui interaksi sel-sel langsung menggunakan reseptor
permukaan sel atau melalui sitokin proinflamasi seperti TNF-, IL-1, dan IL-6.
Sel-sel ini menghasilkan metaloproteinase dan zat sitotoksik lainnya, yang
menyebabkan erosi tulang dan tulang rawan Karakteristik sinovium yang
mengalami proliferasi dari rheumatoid diseut pannus. Pannus ini menyerang
kartilago dan akhirnya permukaan tulang, memproduksi erosi tulang dan
kartilago dan menyebabkan kerusakan sendi. (Dipiro, 2008)
Pada praktikum kali ini menggunakan bahan utama yakni hidrokortison
asetat yang biasanya digunakan untuk injeksi secara lokal dimana
penggunaannya secara intraartikular pada sendi, serta bahan tambahan seperti
NaCl, HPMC, polisorbat 80, benzil alkohol serta pelarut Aquadest Pro Injection
(API). Dipilih pembawa API karena kompatibilitas air tersebut dengan jaringan
tubuh, serta mempunyau konstanta dielektrik yang tinggi sehingga mudah
melarutkan elektrolit yang terionisasi.Air untukinjeksiatau Aqua pro Injectione
dibuat dengan menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau
wadahlogam yang cocok yang diperlengkapi dengan labu percik. Hasil sulingan
pertama dibuang, sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok, dan
segera digunakan. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan Air
untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah
hubungan dengan udara sesempurna mungkin, didinginkan, dan segera
digunakan.
Pada formula ini digunakan NaCl sebagai agen pengisotonis, dipilihnya
NaCl karena merupakan agen mengisotonis yang membuat sediaan dapat masuk
dan diterima tubuh saat penyuntikan. Dimana, NaCl ini berfungsi untuk
mencegah peradangan akibat tekanan osmotis sediaan tidak sama dengan
tekanan tonisitas cairan tubuh pada daerah sendi. NaCl juga tahan panas
sehingga dapat disterilisasikan dengan pemanasan, beda halnya dengan gliserin
yang dapat pula bertindak sebagai agen pengisotonis namun gliserin akan
gliserin terdekomposisi dengan pemanasan dan berubah menjadi acrolein toksik.
Bahan tambahan keduayaitu HPMC yang bertindak sebagai suspending
agent dalam formula ini yang berfungsi sebagai pendispersi partikel yang tidak
larut dan peningkat viskositas. Digunakannya HPMC pada formula ini karena
dapat diaplikasikan pada sediaan injeksi daripada menggunakan bahan
suspending agent yang lain seperti HPMC dan karbopol yang ternyata tidak
digunakan dalam sediaan injeksi; Metylselulosa dalam keamanannya tidak boleh
digunakan dalam sediaan parenteral (HPE, hal.464). HPMC merupakan
suspending agent yang tidak OTT
Benzil alkohol, dalam formula ini bertindak sebagai agen pengawet yang
mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang dapat mempergaruhi stabilitas
sediaan dan juga digunakan untuk melarutkan bahan aktif. Dipilih pengawet
benzil alkohol karena biasa digunakan untuk sediaan injeksi, merupakan agen
bakteriostatik spektrum luas yang digunakan pada produk injeksi multi dosis.
Bahan tambahan terakhir adalah polisorbat 80 (Span) yang berfungsi
sebagai wetting agent yang dapat menurunkan sudut kontak antara permukaan
zat padat dan larutan pembawa sehingga dapat mudah larut. Pada praktikum kali
ini digunakan Polisorbat 80 karena span larut dalam minyak dan pelarut organik,
sehingga cocok dengan sediaan yang diinginkan adalah sediaan injeksi yang
bersifat hidrofilik.
Adapun perhitungan pengambilan bahan, adalah sebagai berikut:
1. Hidrokortison Asetat
= 25 mg x 10 + 20%
= 250 mg + (20/100 x 250)
= 250 + 50
= 300 = 0,3 gram
2. NaCl
= 9 mg x 10 + 20%
= 90 mg + (20/100 x 90)
= 108 mg = 0,108 gram
3. Polisorbat
P = m/v
1,310 = 4.10-3/v
V = 4.10-3/1,310 = 0,003 ml x 10 + (20/100 x 0,03) = 0,036 ml
4. Benzyl Alkohol
P = m/v
1,04 = 0,9/v
V = 0,9/1,04 = 0,865 ml x 10 + (20/100 x 8,65) = 10,38 ml
5. HPMC
= 5 mg x 10 + 20%
= 5 mg + (20/100 x 50)
= 60 mg = 0,06 gram
Awal proses pembuatan, semua alat yang akan digunakan disterilkan
terlebih dahulu dicuci dengan menggunakan aquades. Selanjutnya serbuk NaCl;
hidrokortison; HPMC di timbang masing-masing dengan berat 0,108 gram;0,3
gram; 0,06 gram. Kemudian dilakukan pemanasan mortar yang bertujuan agar
mucilago yang dihasilkan bisa maksimal. Bersamaan dengan dilakukannya
pemanasan mortas juga dipanaskan air mendidih untuk proses pembuatan
mucilago dengan perbandingan HPMC dan air 1:20, yaitu 0,06 gram:1,2 ml.
Setelah itu, HPMC yang sudah ditimbang ditaburkan diatas mortar yang beirisi
air panas dan ditunggu selama beberapa menit lalu diaduk hingga mengembang
(campuran B). Ketika menunggu proses tersebarnya HPMC dengan air,
dilakukan pencampuran benzil alkohol dah hidrokortison dalam beaker glass ad
homogen. Selanjutnya ditambahkan NaCl sedikit demi sedikit dan aduk hingga
homogen. Setelah homogen ditambahkan 3 tetes polisorbat (tween 80) dan aduk
hingga homogen (campuran A). Setelah homogen campuran A dicampurkan
dengan campuran B kemudian di saring menggunakan kertas saring. Setelah itu
larutan ditambahakan sedikit demi sedikit aqua pro injection (API) sampai tanda
batas volume yang diinginkan (10 ml) sambil diaduk untuk menghomogenkan
suspensi. Suspensi hidrokortison dimasukkan kedalam vial 10 ml. Ditutup dan
diberi etiket serta kemasan.
Hasil akhir dari formulasi suspensi hidrokortison 2,5 % adalah berupa
larutanberwarna putih dan tidak homogen setelah ditambahkan aqua pro
injection (API). Hal dikarenakan pada saat membuat mucilago tidak maksimal
sehingga pada saat pecampuran antara campuran A dan campuran B terjadi
penggumpalan pada campuran tersebut. Kemungkinan penyebab terjadinya
gumpalan tersebut karena praktikan tidak sabar menunggu HPMC agar meresap
ssecara keseluruhan pada pelarutnya sehingga hasil yang di dapatkan tidak
maksimal. Selain itu pemansan mortar dan air mendidih juga kurang maksimal
dikarenakan keterbatasan alat yang tersedia di laboratorium.

VI. KESIMPULAN
Pembuatan injeksi suspensi hidrokortison asetat 2,5 % digunakan bahan
aktif hidrokortison asetat dengan bahan tambahan NaCl, polisorbat dan benzil
alkohol CMC-Na serta aqua pro injenction (API).
DAFTAR PUSTAKA

Aulton Michael E, Taylor Kevin M.G. 2013. Aulton's Pharmaceutics: The Design
and Manufacture of Medicines. Elsevier Healt Science.
Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh. Farida
Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608,. 700,
Jakarta, UI Press.
Anief, Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Bolet, A. J. 1956. The Intrinsic Viscosity of Synovial Fluid Hyaluronic
Acid.Journal of Laboratory and Clinical Medicne, 48, 721.
Dipiro, J.T., et.Al. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach,
Seventh Edition. Mc-Graw Hill. Hal 268.
Edwards, Jo, ed. 2000. Normal Joint Structure.Notes on Rheumatology. University
College London.Archived.
Hui, Alexander et al. 2012. A Systems Biology Approach to Synovial Joint
Lubrication in Health, Injury, and Disease.Systems Biology and Medicine.
Wiley Interdisciplinary Reviews 4 (1): 157.
Jay et al. 2000. Lubricin is A Product of Megakaryocyte Stimulating Factor Gene
Expression by Human Synovial Fibroblasts.JRheumatol.27 (3): 594600.
Jebens, H. E, dan Jones. 1959. On The Viscosity and pH of Synovial Fluid and The
pH of Blood. Batersea General Hospital and Royal Fre Hospital Schol of
Medicne.388-400
Rowe J, Raymond. Sheskey J, Paul. Quinin E, Marian. 1986. Handbook of
Pharmaceutical Excipients. London
Sundblad, L. 1953. Studies on Hyaluronic Acid in Synovial Fluids. Acta Societais
Medicorum Upsaliensi, 58, 13.
Teller MN, Brown GB. 1977.Carcinogenicity of carboxymethylcellulose in rats.
Proc Am Assoc Cancer Res; 18: 225
Tortora G. J., Derrickson B. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. 12th ed.
John Wiley & Sons.
Voight, R. 1971. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V, 558-564, 570,
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Warman M. 2003. Delineating Biologic Pathways Involved in Skeletal Growth and
Homeostasis Through The Study of Rare Mendelian Diseases that Affect
Bones and Joints. Arthritis Research & Therapy.5 (Suppl 3): S2

LAMPIRAN
Lampiran 1: Kemasan

Lampiran 2: Gambar Pengamatan

Gambar 1. Penimbangan Gambar 2. Sterilisasi Gambar 3. Penimbangan


HPMC HPMC NaCl
Gambar 4. Penimbangan Gambar 5. Penimbangan Gambar 5. Pembuatan
Polisorbat 80 API Hidrokortison Mucilago

Gambar 6. Sterilisasi Gambar 7. Hasil


Dipanaskan Pencampuran