Anda di halaman 1dari 71

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA PERAWAT DENGAN

MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN


DI RUANG RAWAT INAP RSUD KEBUMEN

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh


Derajat Kesarjanaan Keperawatan STIKES HAMZAR

Disusun oleh:

MOHAMMAD IDRIS SARDY

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES HAMZAR LOMBOK TIMUR
2017
HALAMAN PERSEMBAHAN

"KASIH SAYANG, CINTA dan PERSAHABATAN


tunbuh dari HATI yang TULUS,
dan jika kita menyayangi seseorang, berikanlah selalu yang TERBAIK untuknya."

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberiku KENIKMATAN


yang tak terhingga sehingga aku dapat terus bertahan
demi orang-orang yang menyayangiku.

Kupersembahkan yang terbaik ini,


untuk kedua orangtuaku Bapak "Urip Widodo" dan Ibu
"Sudaryani" yang selalu mengirimkan doa dan kasih
sayangnya yang tiada tara demi kelancaran kuliahku.

Untuk Adikku Dian, Woro, Ningrum dan Dina yang senatiasa memberiku
semangat untuk menjalani hari-hariku. Keluargaku
yang di Artgopeni dan Puring yang telah banyak
mendukungku

Untuk, "mas Huda" terima kasih buat semua kepercayaan,


pengertian dan perhatian yang diberikan selama ini.
Terima kasih juga atas semangat dan dorongannya untuk
menjadi diriku yang lebih baik

Untuk SAHABAT2KU, ganoy, owek, ie-can,oleley,lia, ari, miss


depi thanks a lotdan tetep jadi sahabatku yang baik

Untuk segenap rakyat di PSIKOPAT, terima kasih buat semua dukungan


dan semangat yang telah kalian berikan. Masa-masa
bersama kalian akan menjadi kenangan terindah yang pernah
kujalani.

iii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia dan rahmat-Nya,

sehingga skripsi yang berjudul "Hubungan antara Kepuasan Kerja Perawat dengan

Mutu Pelayanan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel.'

Skripsi ini digunakan sebagai salah satu syarat memperoleh derajat Sarjana

Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES HAMZAR. Penulis


menyadari akan keterbatasan penulis, tetapi Alhamdulillah dengan ridho Allah SWT
melalui

peran pembimbing dan bantuan semua pihak maka usulan penelitian ini dapat

terselesaikan. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan hati penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. dr. Hardyanto Soebono, Sp.K (K), selaku Dekan FK UGM,

2. Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc., PhD., selaku Wakil Dekan Bidang

Akademik dan Kemahasiswaan FK UGM,

3. Lely Lusmilasari, SKp. M.Kes, selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

FK UGM dan selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan dan

kritikan untuk perbaikan dalam usulan penelitian ini,

4. Ibu Sri Werdati, SKM., M.Kes., selaku dosen pembimbing I atas bimbingan,

saran dan diskusinya,

5. Ibu Fitri Haryanti S. SKp., M.Kes., selaku dosen pembimbing II atas bimbingan

dan sarannya,

iv
6. Bapak Purwanta, SKp, MKes., selaku dosen penguji yang telah memberikan

banyak masukan dan kritikan untuk perbaikan dalam usulan penelitian ini.

7. Direktur dan staf keperawatan RSUD Kebumen yang telah membantu kelancaran

penyusunan skripsi ini.

8. Bapak, ibu, kakak, adik-adik dan keluargaku di Argopeni dan Puring atas

dorongan dan doa yang selalu diberikan,

9. Staf Perpustakaan FK-UGM atas bantuan data dan literaturnya,

10. Segenap staf pengajar Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM,

11. Rekan-rekan mahasiswa PSIK A FK UGM angkatan 2004 atas dukungan dan

sarannya,

12. Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi yang penulis buat ini tentu saja masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang membangun.

Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, April 2008

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  i


HALAMAN PENGESAHAN  ii
HALAMAN PERSEMBAHAN  iii
KATA PENGANTAR  iv
DAFTAR ISI  vi
DAFTAR GAMBAR  viii
DAFTAR TABEL  ix
DAFTAR LAMPIRAN  x
INTISARI  xi
ABSTRACT  xii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang  1
B. Rumusan Masalah  5
C. Tujuan Penelitian  5
D. Manfaat Penelitian  6
E. Keaslian Penelitian  6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Teori
1. Kepuasan Kerja Perawat
a. Definisi Kepuasan Kerja .. 9
b. Teori Tentang Kepuasan Kerja . 10
c. Faktor-Faktor Penting Dalam Kepuasan Kerja .... 11
2. Perawat .. 14
3. Asuhan Keperawatan .... 4. 15
Mutu Pelayanan Keperawatan .. 17
5. Standar Asuhan Keperawatan .. 21
B. Landasan Teori .. 24
C. Kerangka Teori Penelitian . 26
D. Kerangka Konsep Penelitian . 27
E. Hipotesis Penelitian . 27

BAB III METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian .... 28
B. Waktu dan Tempat Penelitian . 28
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28
D. Variabel Penelitian . 29
E. Definisi Operasional . 29
F. Instrumen Penelitian .. 32

vi
G. Uji Validitas dan Reliabilitas .. 34
H. Cara Pengumpulan Data  39
I. Analisis Data  40 J.
Jalannya Penelitian ... 43
K. Kelemahan Penelitian ...... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian
1.Kepuasan kerja perawat
a. Gambaran distribusi perawat .... 45
b. Gambaran kepuasan kerja perawat ... 49
2.Mutu pelayanan keperawatan
a. Gambaran distriusi pasien . b. 51
Gambaran mutu pelayanan keperawatan .. 55
3.Hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu
pelayanan keperawatan .. 56

B. Pembahasan
1. Kepuasan kerja perawat . 57
2. Mutu pelayanan keperawatan ... 62
3. Hubungan antara kepuasan kerja perawat
dengan mutu pelayana n keperawatan  64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan  67
B. Saran  67

DAFTAR PUSTAKA . 69

LAMPIRAN

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan Kerangka Teori Penelitian .... 26


Gambar 2. Bagan Kerangka Penelitian . 27

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kisi-kisi Item Pertanyaan Instrumen Penelitian  34


Tabel 2. Kisi-kisi Item Pertanyaan Instrumen Penelitian Setelah Uji Validitas  37
Tabel 3. Karateristik Perawat Di RSUD Kebumen. 45
Tabel 4. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Umur . 46
Tabel 5. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Lama Kerja  . 47
Tabel 6. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Jenis Kelamin .. 47
Tabel 7. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Dasar pendidikan..48
Tabel 8. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Status Karyawan ..48
Tabel 9. Analisis sub variabel pekerjaan, rekan kerja, supervisi,
upah, dan promosi . 49
Tabel 10. Analisis Kepuasan Kerja Perawat Di Ruang Rawat Inap  50
Tabel 11. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Ruang
Rawat Inap .. 50
Tabel 12 Karateristik Pasien Di RSUD Kebumen  51
Tabel 13. Distribusi Pesepsi Pasien Terhadap Mutu Pelayanan
Keperawatan berdasarkan umur  52
Tabel 14. Distribusi Pesepsi Pasien Terhadap Mutu Pelayanan
Keperawatan berdasarkan Jenis Kelamin ..52
Tabel 15. Distribusi Pesepsi Pasien Terhadap Mutu Pelayanan
Keperawatan berdasarkan Pendidikan...53
Tabel 16. Distribusi Pesepsi Pasien Terhadap Mutu Pelayanan
Keperawatan berdasarkan Pekerjaan.54
Tabel 17 Distribusi Pesepsi Pasien Terhadap Mutu Pelayanan
Keperawatan berdasarkan lama dirawat54
Tabel 18. Analisis sub variabel tangible, realibility, responsiveness,
assurance, dan emphaty . 55
Tabel 19. Distribusi Mutu Pelayanan Keperawatan Berdasarkan SAK . 56
Tabel 20. Distribusi Mutu Pelayanan Keperawatan Berdasarkan Ruang
Rawat Inap ... 56

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Permohonan Menjadi Responden


Lampiran 2. Karakteristik Perawat
Lampiran 3. Kuesioner Kepuasan Kerja
Lampiran 4. Instrumen B Standar Asuhan Keperawatan
Lampiran 5. Instrumen C Standar Asuhan Keperawatan
Lampiran 6. Kuasioner Persepsi Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan
Lampiran 7. Surat-surat Ijin Penelitian

x
HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA PERAWAT DENGAN
MUTU PELAYANAN KEPERAWTAN
DI RUANG RAWAT INAP PUSKESMAS AIKMEL

INTISARI

Latar belakang : Rumah sakit sebagai salah satu organisasi dalam bidang jasa harus mampu
memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi pasiennya. Perawat merupakan ujung
tombak pelayanan kesehatan di puskesmas karena selama 24 jam perawat selalu berinteraksi
dengan pasien. Pelayanan keperawatan merupakan salah satu faktor penentu baik-buruknya
mutu dan citra puskesmas. Kepuasan kerja menjadi masalah yang menarik dan penting,
karena terbukti besar manfaatnya baik bagi kepentingan individu, industri (puskesmas), dan
masyarakat. Oleh karena itu, kepuasan kerja harus dipenuhi agar dapat memberikan
pelayanan yang terbaik kepada pasien.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu
pelayanan keperawatan
Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional.
Sampel penelitian ini adalah tenaga perawat yang bekerja di ruang rawat inap dan pasien
rawat inap. Sampel penelitia n ini diambil dengan teknik total sampling untuk tenaga perawat
sebesar 20 orang. Sedangkan untuk pasien rawat inap dengan proporsional yaitu 20 pasien
untuk setiap ruang rawat inap. Data diambil dengan menggunakan kuesioner dan observasi.
Data-data dianalisis dengan teknik statistik deskriptif dan korelasi Spearman Rho.
Hasil : Sebagian besar perawat, yaitu sebanyak (53,06%) mempunyai kategori puas dalam
tingkat kepuasan kerja. Aspek pekerjaan (54,14%), rekan kerja (53,06%), supervisi (63,26%)
dipersepsikan dalam kategori puas oleh perawat sedangkan aspek gaji (63,26%) dan promosi
(46,93%) dipersepsikan tidak puas oleh perawat Sama halnya dengan kepuasan kerja
perawat, mutu pelayanan keperawatan juga mempunyai kategori baik. Sebanyak 73,33%
pasien mempunyai persepsi yang baik terhadap mutu pelayanan keperawatan dan untuk
pengukuran Standar Asuhan keperawatan, mutu pelayanan keperawatanya termasuk dalam
kategori baik (77,94%)
Kesimpulan: Sebagian besar perawat mempunyai kategori puas dalam tingkat kepuasan
kerja dan mutu pelayanan keperawatan dikategorikan baik menurut persepsi pasien dan
pengukuran Standar Asuhan Keperawatan. Tidak ada hubungan antara kepuasan kerja
perawat dengan mutu pelayanan keperawatan.

Kata Kunci : perawat, kepuasan kerja perawat, mutu asuhan keperawatan

xi
RELATIONSHIP BETWEEN NURSE JOB SATISFACTION AND
NURSING SERVICE QUALITY
IN IN-PATIENT WARD OF PUSKESMAS AIKMEL

ABSTRACT

Background: Hospital is organizations in the service sector. It should be able to give a good
health service for the patient. Nurses play important roles for the health service of a hospital
because they always interact with the patient for 24 hours. The nursing service is one of
factors that determine good or bad quality and the image of a hospital. The job satisfaction
becomes the interesting and crucial problem because it has been proven that job satisfaction
has given many advantages for the individual need, industries (hospital), and society.
Therefore, job satisfaction should be fullfilled in order to give the best service for the patient.
Objective: To found out the relationship between the nurse job satisfaction and the nursing
service quality
Method: The research was quantitative study that used cross sectional design. The samples are
nurses who work in in-patient ward and patient. The samples are 47 nurse, were taken by using
total sampling technique, whereas the patient were taken proportionally, each in in-
patient ward was taken 20 patient. The data was taken by using questiona ires and
observation. Then, the data was analyzed by using the descriptive statistic technique and
Sperman Rho correlation
Result: Most of the nurses (53,06%), had satisfied category within the job satisfaction. The
occupation (54,14%), work patners (53,06%), supervision (63,26%) aspects were perceived as
satisfied category by the nurses, whereas the salary (63,26%) and promotion (46,93%) aspect
were perceived unsatisfied by the nurses. Same with nurse job satisfaction, the nurse
service quality also had good category. There were 73,33% patient having good perception to
the nursing service quality. Beside that, based on Nursing Standard, the nursing service
quality was included into good category (75,19%)
Conclusion: Most of the nurses have satisfied category in the job satisfaction level and
nursing service quality was good perceived by the patients and the measurement of Nursing
Standard. There was no relationship between nurse job satisfaction and nursing service
quality.

Keywords: nursing, nurse job satisfaction, nursing service quality

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Puskesmas sebagai salah satu organisasi dalam bidang jasa harus mampu

memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi pasiennya. Keberhasilan Puskesmas


dalam menjalankan fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima

Puskesmas. Mutu Puskesmas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, tetapi yang

paling dominan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang terlibat

secara langsung dalam pemberian pelayanan kepada pasien adalah dokter, perawat,

dan bidan. Diantara tenaga tersebut, tenaga yang terbanyak adalah perawat.(Depkes,

2002)

Perawat merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Puskesmas karena

selama 24 jam perawat selalu berinteraksi dengan pasien. Pelayanan keperawatan

merupakan salah satu faktor penentu baik-buruknya mutu dan citra Puskesmas. Oleh

karena itu, kepuasan kerja harus dipenuhi agar dapat memberikan pelayanan yang

terbaik kepada pasien (Newman, 2006)

Kepuasan kerja menjadi masalah yang menarik dan penting, karena terbukti

besar manfaatnya baik bagi kepentingan individu, industri (Puskesmas), dan

masyarakat. Bagi individu, penelitian tentang sebab-sebab dan sumber-sumber

kepuasan kerja memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan kebahagiaan

kehidupan mereka. Bagi industri, penelitian mengenai kepuasan kerja dilakukan


2

dalam rangka usaha peningkatan produksi (jasa pelayanan) dan pengurangan biaya

melalui perbaikan sikap dan tingkah laku karyawannya. Selanjutnya, masyarakat

tentu akan menikmati hasil kapasitas maksimum dari industri serta naiknya nilai

manusia di dalam konteks pekerjaan (As'ad, 2004)

Menurut Newman (2006) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu pelayanan keperawatan yang

diberikan. Tumbol (2001) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ada korelasi

positif antara kepuasan kerja dengan perilaku pelayanan prososial perawat. Kepuasan

kerja berefek pada job performance perawat, yang secara tidak langsung

mempengaruhi mutu pelayanannya (Seo et all; Tzeng and Ketefian cit willem, 2005).

Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhan pelayanan kesehatan

termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu

maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan. Hal ini disebabkan meningkatkan

kesadaran masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran

masyarakat secara umum, dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta

meningkatnya kompleksitas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat.

Masyarakat semakin sadar akan hukum sehingga mendorong adanya tuntutan

tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dengan mutu yang

dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian keperawatan perlu

terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan yang

terjadi diberbagai bidang lainnya.


3

Adanya UU RI no. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang

menuntut adanya peningkatan kualitas jasa yang diberikan pada pasien memacu

Puskesmas Aikmel untuk lebih meningkatkan mutu pelayanannya. Hal ini sesuai

dengan salah satu misi Puskesmas Aikmel yaitu meningkatkan mutu dan cakupan

pelayanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, sebagai Puskesmas


rujukan Kabupaten Lombok Timur.

Puskesmas Aikmel merupakan Puskesmas milik Pemerintah Daerah Tingkat II,

yang merupakan Puskesma rujukan untuk wilayah Kabupaten Lombok Timur dan

sekitarnya. Berdasarkan Surat Keputusan Perda No. 3 Tahun 2002, Puskesmas Aikmel

berubah menjadi Badan Pengelolaan (Esselon II). SK Menteri Kesehatan RI NO. 233/
4

yaitu 4 hari meningkat menjadi 4,7 hari pada tahun 2006. Angka Kematian pasien 48

jam dirawat (Net Death Ratio = NDR) pada tahun 2005 mengalami peningkatan dari

1,3 0/00 menjadi 1,4 0/00. Turn Over Interval (TOI) tidak mengalami perubahan dari

tahun 2005 yaitu sebesar 2%. Jumlah pasien yang masuk pada tahun 2005 adalah

9479 pasien, pada tahun 2006 meningkat menjadi 9978 pasien, sedangkan rata-rata

pasien masuk sehari adalah 26 pasien dan rata-rata pasien yang dirawat sehat pada

tahun 2006 adalah 22 pasien. Adanya peningkatan jumlah pasien ini memungkinkan

beban kerja perawat juga meningkat. Beban kerja yang tinggi akan mempengaruhi

kepuasan kerja perawat (Piko, 2006).

Hasil wawancara terhadap perawat didapatkan bahwa perawat merasa

pemberian insentif dirasakan kurang dan mengeluhkan kurang diperhatikannya

kesejahteraan karyawan oleh pihak Puskesmas.

Indikator-indikator keberhasilan Puskesmas Aikmel berdasarkan catatan medik

2016 adalah BOR 71%, LOS 4,7 hari, BTO 52 kali dan TOI 2%. Apabila dilihat dari

data tersebut dapat dikatakan Puskesmas Aikmel sudah cukup baik, namun ukuran-

ukuran tersebut belumlah menunjukkan adanya kepuasan pasien jika dilihat dari tidak

adanya rumah sakit pesaing disekitarnya sehingga konsumen tidak mempunyai

banyak pilihan pelayanan kesehatan.. Selain itu, sejak tahun 2015 Puskesmas Aikmel

tidak melakukan evaluasi standar asuhan keperawatan. Puskesmas Aikmel juga

merupakan tempat praktek bagi mahasiswa akademi keperawatan, sehingga

manajemen rumah sakit harus ditata dengan baik agar kehadiran mahasiswa yang

praktek tidak menurunkan mutu pelayanan keperawatan. Hasil studi pendahuluan


5
yang telah dilakukan di Puskesmas Aikmel oleh penulis dengan cara wawancara pada

tanggal September 2017 ternyata masih didapatkan beberapa keluhan pasien rawat

inap yang berkaitan dengan pelayanan keperawatan antara lain : pasien merasa

perawat kurang tanggap, masih ada perawat yang bersikap kurang ramah dan

kebersihan puskesmas kurang.

Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis tertarik untuk meneliti

"Hubungan antara Kepuasan Kerja Perawat dengan Mutu Pelayanan Keperawatan di

Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel."

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan masalah penelitian, yaitu:

"Apakah ada hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu pelayanan

keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel?"

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu pelayanan

keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel.

Tujuan Khusus

1. Mengetahui tingkat kepuasan kerja perawat di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel.

2. Mengetahui mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel.

3. Mengetahui hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu pelayanan

keperawatan
6

D. Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis:

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan,

khususnya dalam lingkup Manajemen Kesehatan.

Manfaat Praktis:

1. Bagi Institusi Puskesmas

Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan terhadap pelaksanaan mutu

pelayanan keperawatan di Puskesmas Aikmel

2. Bagi Institusi pendidikan

a. Sebagai bahan bacaan atau referensi untuk menambah wawasan bagi

mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan mutu pelayanan keperawatan.

b. Bahan masukan dalam kegiatan proses belajar mengajar terutama mengenai

upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan.

3. Bagi Penulis

Untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan mutu

pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel


E. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang kepuasan kerja perawat dan mutu pelayanan keperawatan

merupakan hal yang pertama di Puskesmas Aikmel Sepengetahuan penulis belum ada

penelitian yang meneliti tentang hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel. Penelitian yang

menggunakan variabel serupa pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain:
1. Prabowo (2002), "Evaluasi Kepuasan Kerja Perawat Dan Penerapan Standar

Asuhan Keperawatan Di RSUD Bantul, Yogyakarta", menggunakan jenis

penelitian deskriptif yang bersifat eksploratif. Subyek penelitian ini adalah tenaga

perawat yang bekerja di bangsal rawat inap dan rekam medis pasien yang dirawat

minimal 3 hari di RSUD Bantul Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui penerapan standar asuhan keperawatan dan tingkat kepuasan

perawat di RSUD Bantul. Secara umum hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

penerapan standar asuhan keperawatan tergolong dalam kategori baik dan

persepsi tentang iklim organisasi di ruang rawat inap RSUD Bantul cukup puas.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah variabel penelitian,

jenis penelitian, tempat penelitian, dan intrumen penelitian. Penelitian yang akan

dilakukan ini sama-sama meneliti tentang kepuasan kerja perawat dan penulis

akan menghubungkan dengan variabel yang berbeda yaitu mutu pelayanan

keperawatan.

2. Sulistiyanto (2000), yang berjudul "Hubungan Antara Mutu Pelayanan

Keperawatan Dengan Kepuasan Pasien Di RSU PKU Muhammadiyah

Gombong", menggunakan jenis penelitian survey lapangan dengan rancangan

cross sectional survey. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan

antara mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien di RSU PKU

Muhammadiyah Gombong menurut persepsi pasien.. Desain penelitian yang

digunakan adalah cross-sectional survey. Subyek penelitian adalah seluruh pasien

rawat inap di RSU PKU Muhammadiyah Gombong dengan metode sampling


8
aksidental sebanyak 81 sampel. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya

hubungan positif antara mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien

dengan korelasi rendah.

Jenis penelitian yang akan penulis lakukan adalah penelitian kuantitatif dengan

rancangan yang sama pada penelitian sebelumnya, tetapi teknik sampling yang

digunakan berbeda, yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling.

3. Tumbol (2001), yang berjudul " Hubungan Antara Keadilan Di Tempat Kerja

Dan Kepuasan Kerja Dengan Perilaku Pelayanan Prososial Perawat Di Rumah

Sakit Umum Daerah DR. Sam Ratulangi Tondano", menggunakan jenis penelitian

survey yang bersifat kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Tujuan

penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keadilan di tempat kerja

dan kepuasan kerja dengan perilaku pelayanan prososial perawat dalam

memerikan pelayanan di RSUD Tondano. Subyek penelitiannya adalah perawat

dan bidan di RSUD Tondano sebanyak 76 orang (total populasi), status Pegawai

Negeri Sipil, dan lama kerja lebih dari 6 bulan. Hasil penelitiannya menunjukkan

adanya korelasi positif antara kepuasan kerja dengan perilaku pelayanan

prososial perawat.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah subyek penelitian yaitu

penulis akan meggunakan perawat dan pasien sebagai subjek penelitian. Variabel

dependen yang diteliti penulis mengenai mutu pelayanan keperawatan.


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Kepuasan Kerja Perawat

a. Definisi Kepuasan Kerja

Menurut Anoraga (2006) kepuasan kerja merupakan sikap yang positif yang

menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan

situasi kerja, termasuk didalamnya upah, kondisi sosial, kondisi fisik dan kondisi

psikologis. Sedangkan menurut Handoko (1997), kepuasan kerja merupakan

keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana

karyawan memandang pekerjaan mereka Hal ini nampak dalam sikap positif para

karyawan terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi lingkungan

kerjanya

Menurut As'ad (2004), kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap

pekerjaan. Ini berarti bahwa konsepsi kepuasan kerja semacam ini melihat

kepuasan kerja itu sebagai hasil interaksi manusia dengan lingkungan kerjanya.

Jadi, determinasi kepuasan kerja menurut batasan ini meliputi perbedaan individu

(individual differences) maupun situasi lingkungan pekerjaan. Di samping itu,

perasaan orang terhadap pekerjaan tentulah sekaligus merupakan refleksi dari

sikapnya terhadap pekerjaan. Kepuasan kerja dalam perilaku organisasi dapat

didefinisikan sebagai sikap umum sesorang terhadap pekerjaannya yang berupa


10
perbedaan antara penghargaan yang seharusnya diterima dengan penghargaan

yang seharusnya diterima menurut perhitungannya sendiri (Muchlas, 1999).

b. Teori Tentang Kepuasan Kerja

Teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja antara lain dikemukakan oleh

As'ad (2004), yaitu teori dua faktor. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan

dapat dikelompokkan menjadi dua kategori , yang satu dinamakan "dissatisfiers"

atau "hygiene fators" dan yang lain dinamakan 'satisfiers" atau "motivator'.

Hygiene fator meliputi hal- hal seperti : gaji, pengawasan, hubungan antar pribadi,

kondisi kerja, dan status. Jumlah tertentu dari hygiene factors diperlukan untuk

memenuhi dorongan biologis serta kebutuhan dasar seseorang seperti : kebutuhan

keamanan dan berkelompok. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi seseorang akan

tidak puas. Seseorang hanya terpuaskan jika terdapat jumlah yang memadai untuk

faktor- faktor pekerjaan yang dinamakan satisfiers. Satisfiers adalah karakteristik

pekerjaan yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi seseorang

serta perkembangan psikologisnya, me ncakup pekerjaan yang menarik penuh

tantangan, penghargaan yang tidak diskriminatif, suasana kerja yang mendukung,

dan teman-teman sekerjayang membantu (Muchlas, 1999)

As'ad (2004) menjelaskan tentang discrepancy theory yaitu, orang akan

merasa puas bila tidak ada perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya

atas kenyataan, karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. Apabila

yang didapat ternyata lebih besar dari apa yang diinginkan, maka orang akan

menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat discrepancy, tetapi merupakan


11
discrepancy yang positif. Sebaliknya makin jauh kenyataan yang dirasakan itu

dibawah standar minimum sehingga menjadi negative discrepancy, maka makin

besar pula ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya.

Menurut teori keadilan (Equity Theory) yang dikembangkan pertama kali oleh

Adams, kepuasan ada bila individu merasakan keadilan dalam pekerjaannya.

Seeorang merasa puas atau tidak puas, tergantung apakah ia merasakan adanya

keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas

suatu situasi, diperoleh orang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang

lain yang sekelas, sekantor maupun ditempat lain (As'ad, 2004)

c. Faktor-Faktor Penting Dalam Kepuasan Kerja

Tolak ukur tingkat kepuasan kerja yang mutlak tidak ada, karena setiap

individu karyawan berbeda standar kepuasannya. Indikator kepuasan kerja ini

hanya diukur dengan kedisiplinan, moral kerja, dan turnover kecil, maka secara

relatif kepuasan kerja karyawan baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi

kepuasan kerja adalah : balas jasa yang adil dan layak, penempatan yang tepat

sesuai keahlian, berat-ringannya pekerjaan, suasana dan lingkungan pekerjaan,

peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan, sikap pemimpin dalam

kepemimpinannya, dan sifat pekerjaan monoton atau tidak ( Hasibuan, 1990)

Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut As'ad (2004) adalah:

1) Faktor psikologik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan

karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja,

bakat, dan keterampilan


12

2) Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial

baik antara sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang

berbeda jenis pekerjaannya

3) Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik

lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi pekerjaan, pengaturan

waktu kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu,

penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur, dan

sebagainya

4) Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta

kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji, jaminan

sosial, macam- macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi, dan

sebagainya.

Pendapat lain dikemukakan oleh Muchlas (1999), aspek kerja yang dianggap

mempengaruhi kepuasan kerja adalah :

1) Upah

Apabila gaji yang diterima dianggapnya adil sesuai dengan tuntutan

kerja, keterampilan individu dan standar masyarakat, maka kemungkinan

besar kepuasan kerja terpenuhi. Tidak semua orang mencari kepuasan dari

uang. Banyak diantara mereka yang rela digaji lebih sedikit untuk pekerjaan

yang lokasinya disukai, atau pekerjaan yang kurang menuntut waktu dan

tenaga. Jadi, kepuasan kerja itu tidak terletak pada besarnya uang yang

diterima tetapi pada adanya persepsi keadilan.


13
2) Pekerjaan

Para karyawan lebih menyukai pada pekerjaan-pekerjaan yang

memberikan berbagai kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan

kemampuannya dan tawaran dari berbagai tugas, kebebasan kerja, dan

Penilaian terhadap hasil kerjanya. Semua ini membuat pekerjaan yang

bersangkutan menjadi menantang. Pekerjaan yang hanya memiliki sedikit

tantangan bias menimbulkan kebosanan, tetapi terlalu banyak tantangan juga

bisa menimbulkan frustasi dan perasaan gagal.

3) Promosi

Promosi adalah tersedianya kesempatan untuk maju dalam pekerjaan.

Promosi dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri,

peningkatan tanggung jawab dan status social. Pada karyawan yang

berpersepsi bahwa keputusan-keputusan untuk promosi itu dibuat secara adil,

akan menghasilkan kepuasan kerja

4) Supervisi

Kemampuan supervisor untuk menunjukkan minat dan perhatian

terhadap karyawan akan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. Bila

karyawan merasa bahwa mereka bagian yang integral dari organisasi dan para

atasan mereka secara pribadi memeperhatikan kesejahteraan mereka, maka

tingkat kepuasan kerja karyawan akan tinggi.


14
5) Rekan Kerja

Rekan sekerja merupakan lingkungan kerja terdekat yang akan

mempengaruhi situasi kerja dan berpengaruh pada motivasi dan prestasi.

Rekan kerja yang menunjukkan sikap bersahabat dan mendukung akan

memberikan kepuasan.

2. Perawat

Menurut PPNI (2000) perawat adalah seorang yang telah lulus pendidikan

formal dalam bidang keperawatan, yang program pendidikannya telah disyahkan

oleh pemerintah. Perawat profesional adalah perawat yang mengikuti pendidikan

keperawatan pada jenjang pendidikan tinggi keperawatan sekurang-kurangnya

DIII Keperawatan, yang disebut sebagai perawat professional pemula. Sedangkan

menurut Kepmenkes Nomor 239/Menkes/SK/XI/2001, perawat adalah seorang

yang telah lulus pendidikan baik di dalam maupun luar negeri sesuai dengan

ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Keperawatan adalah perlindungan, peningkatan dan optimalisasi kesehatan

dan kemampuan, pencegahan sakit dan luka, meringankan penderitaan melalui

diagnosa dan perawatan terhadap respon manusia, upaya advokasi dalam

perawatan individu, keluarga, komunitas dan populasi (www.nursingworld.org,

2007). Sedangkan menurut Doenges (2000) keperawatan adalah ilmu dan kiat

yang berkenaan dengan masalah- masalah fisik, psikologis, sosiologis, dan spiritual

dari individu. Ilmu keperawatan didasarkan atas kerangka teori yang luas; kiatnya

tergantung pada keterampilan merawat dan kemampuan perawat secara individual.


15

Menurut Seminar Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1983, definisi

keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian

integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat

keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komperhensif

serta ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun

sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia (Priharjo, 1995)

3. Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan merupakan bagian yang esensial dari pelayanan

keperawatan dan rangkaian kegiatan praktek keperawatan yang pelaksanannya

menggunakan proses keperawatan. Pelayanan keperawatan sendiri merupakan

bantuan yang diberikan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental,

keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan

melaksanakan kegiatan hidup sehari- hari.

Proses keperawatan menyatakan minat para perawat untuk membentuk

wawasan pengetahuan yang berkaitan langsung dengan profesi tersebut, elemen

proses keperawatan meliputi kerangka kerja ilmiah dan pemecahan masalah

(Sicgler dan Whitney, 2000)

Menurut Kozier (1995), proses keperawatan merupakan suatu metoda

pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional. Proses keperawatan

tersebut terdiri dari 5 tahap, yaitu : pengkajian, diagnosa, perencanaan,

implementasi, dan evaluasi.


16
Menurut Doenges (2000), proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang

spesifik, yaitu :

a. Pengkajian

Pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis.

Ada tiga model yang paling umum digunakan yaitu : divisi diagnosa dari

Doeges dan Moorhouse, pola kesehatan fungsional dari gordon, dan pola

respon manusia dari North Amerian Nursing Diagnosis Assosiation

(NANDA).

b. Identifikasi Masalah

Analisis data yang telah dikumpulkan untuk mengidentifikasi masalah

dan kebutuhan pasien. Lebih spesifik disebutkan sebagai suatu proses analisis

data dengan menggunakan penentuan diagnosa (diagnostic reasoning) [suatu

bentuk penilaian klinik] dimana pertimbangan, keputusan, dan kesimpulan

dibuat tentang makna dan data yang sudah dikumpulkan dalam upaya untuk

menentukan apakah ada atau tidak intervensi keperawatan yang diperlukan

Meskipun perawat bekerja dalam domain keperawatan, medis, dan

psikososial, fenomena yang menjadi perhatian perawat adalah pola respon,

bukan proses penyakit. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan tidak sama

dengan diagnosa medis/psikiatri, tetapi bena r-benar melakukan aktivitas

keperawatan mandiri dan juga peran dan tindakan kolaboratif.


17
c. Perencanaan

Terdiri dari dua proses : 1) identifikasi tujuan dan hasil yang diinginkan

dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah

dikaji, 2) pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu

pasien dalam mencapai hasil yang diinginkan. Perawat berfokus pada

tindakan yang paling tepat untuk mengatasi masalah/kebutuhan pasien secara

efektif. Hal tersebut dimulai dengan menyusun prioritas, membuat tujuan,

mengidentifikasi hasil yang diharapkan, dan menentukan intervensi

keperawatan yang paling tepat. Pasien dan / atau orang terdekat dilibatkan

dalam proses perencanaan, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi,

berpartisipasi, dan memangku tanggung jawab atas perawatan mereka sendiri

dan pencapaian tujuan dan hasil yang diharapkan.

d. Implementasi

Melakukan tindakan sesuai dengan rencana tindakan. Apabila perawatan

telah dilaksanakan, perawat harus memantau dan mencatat respon pasien

terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan kepada penyedia

perawatan kesehatan lainnya. Kemudian, dengan menggunakan data, perawat

mengevaluasi dan merevisi rencana perawatan dalam tahap proses

keperawatan berikutnya.

e. Evaluasi

Menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang

diinginkan dan respon pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawtan.


18
Kemudian menganti rencana perawatan jika diperlukan. Tahap evaluasi dari

proses keperawatan memantau dan melaporkan status masalah/kebutuhan

pasien saat ini dan didasarkan pada hasil yang diharapkan yang dibuat pada

tahap perencanaan. Proses evaluasi melibatkan pasien, orang terdekat, dan

siapa saja yang terlibat dalam perawatan pasien. Proses ini adalah proses yang

positif di mana respon pasien terhadap intervensi keperawatan dievaluasi

untuk menentukan apakah hasil yang diharapkan dicapai atau tidak.

4. Mutu Pelayanan Keperawatan

Pelayanan keperawatan didefinisikan sebagai bagian integral dari pelayanan

kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk bio-psiko-

sosio-spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada masyarakat, keluarga,

kelompok khusus, individu dan sebagainya, pada setiap tingkat, dalam siklus

hidupnya.

Pelayanan keperawatan di ruang rawat terdiri dari serangkaian kegiatan yang

dikoordinatori dan menjadi tanggung jawab kepala ruang rawat yang berperan

sebagai manajer. Pelayanan keperawatan profesional berfokus pada berbagai

kegiatan pemenuhan kebutuhan klien melalui intervensi keperawatan yang

berlandaskan kiat dan ilmu keperawatan.

Dari model yang coba dikembangkan oleh parasuraman, maka kualitas

pelayanan dapat diukur dengan membandingkan persepsi antara pelayanan yang

diharapkan dengan pelayanan yang diterima dan dirasakan oleh konsumen.

Apabila kualitas pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang
19
diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika

kualitas pelayanan yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas

pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika kualitas

pelayanan yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas

dipersepsikan buruk (Parasuraman et all, 1985).

Dalam perkembangan selanjutnya , Parasuraman, Zeithaml dan Berry (1988)

mengatakan bahwa konsumen dalam melakukan penilaian terhadap kualitas

pelayanan ada lima dimensi yang perlu diperhatikan:

a. Tangibles (bukti langsung), yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,

pegawai dan sarana komunikasi.

b. Reliability (keandalan), yaitu kemampuan memberikan layanan yang

dijanjikan dengan segera, akurat, kehandalan dan memuaskan.

c. Responsiveness (daya tanggap), yaitu keinginan para staf untuk membantu

para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

d. Assurance (jaminan), yaitu mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan,

dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki oleh para staf( bebas dari bahaya,

resiko dan keragu-raguan).

e. Emphaty (empati), yaitu meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,

komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para

pelanggan

Menurut Giebing dan Marr (1994), mengukur kualitas pelayanan keperawatan

dengan menggunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem ini meliputi


20
masukan (input), proses dan hasil akhir (outcome). Indikator/kriteria setiap

komponen sistem harus terukur. Komponen input antara lain adalah jumlah

perawat, jumlah klien, ketergantungan klien, panjangnya shift, dan

kesinambungan perawatan. Adapun komponen proses antara lain interaksi

perawat dan klien dalam pelayanan yang meliputi interaksi saat pengkajian,

perencanaan, intervensi, evaluasi dan dokumentasi, sedangkan kriteria outcome

antara lain Bed Occupancy Rate (BOR), Turn Over Interval (TOI), Length of Stay

(LOS), komplikasi dan kepuasan klien, ketiga komponen tersebut diatas saling

mempengaruhi dan saling menunjang. Semakin tinggi kualitas input, akan

semakin tinggi kualitas prosesnya dan pada akhirnya kualitas outcome juga

semakin tinggi (Azwar, 1996).

Pelaksanaan kegiatan jaminan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit

dapat pula dilakukan dalam bentuk kegiatan pengendalian mutu (quality control).

Kegaiatannya dapat dilaksanakan dalam dua tingkat yaitu tingkat rumah sakit dan

tingkat ruang rawat. Tingkat rumah sakit dapat dilaksanakan dengan cara

mengembangkan tim gugus kendali mutu yang memiliki program baik jangka

pendek maupun jangka panjang. Pada tingkat ruangan, selain ada individu

ruangan yang duduk sebagai wakil pada tim gugus kendali mutu rumah sakit,

maka seyogyanya dibentuk pula tim ruangan yang disebut tim sirkulasi kualitas.

Tim sirkulus kualitas yang terdiri dari tiga sampai empat orang perawat ruangan

ini berfungsi untuk mengidentifikasi masalah- masalah pelayanan keperawatan

tingkat ruangan, membahas masalah di dalam tim, menyusun beberapa alternatif


21
solusi, dan menyampaikan kepada kepala ruangan untuk ditetapkan solusi yang

akan diambil dan dilaksanakan oleh ruangan. Sementara itu, tim ini akan

bekerjasama kembali mengidentifikasikan masalah- masalah lain yang terjadi.

Siklus kegiatan akan berjalan seperti sebelumnya (Palestin, 2007)

Ciri pelayanan keperawatan yang bermutu adalah : a) Memenuhi standar

pelayanan keperawatan yang sudah ditetapkan, b) Sumber daya keperawatan

dimanfaatkan secara wajar, berhasil guna dan berdaya guna, c) Aman bagi pasien

dan perawat, d) Memuaskan bagi pasien dan perawat, e) Memperhatikan aspek

sosial budaya (Poernomo, 2000)

5. Standar Asuhan Keperawatan

a. Pengertian StandarAsuhan Keperawatan

Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit,

telah disusun Standar Pelayanan Rumah Sakit yang diberlakukan melalui SK

Menkes No. 436/MENKES/SK/VI/1993 dan Standar Asuhan Keperawatan

yang diberlakukan melalui SK Dirjen Yanmed No.M.00.03.2.6.7637 Tahun

1993.

Standar Asuhan Keperawatan tersebut berfungsi sebagai alat ukur untuk

mengetahui, memantau, dan menyimpulkan apakah asuhan keperawatan yang

diselenggarakan di rumah sakit sudah mengikuti dan memenuhi persyaratan-

persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut. Bila pelayanannya sudah

mengikuti atau memenuhi persyaratan-persyaratan maka dapat disimpulkan

bahwa pelayanan paling sedikit sudah dapat dipertanggungjawabkan, temasuk


22
mutunya. Bila mutu pelayanan dapat dipertanggungjawabkan maka dapat

dikatakan bahwa mutu pelayanannya juga harus dianggap baik (Depkes RI,

2005). Poernomo (2000) menjelaskan bahwa sesuai dengan UU No. 23 Th.

1992 pasal 53 ayat 2, tenaga keperawatan wajib mengikuti standar profesi,

yaitu Standar Asuhan Keperawatan yang dibuat oleh Dirjen Pelayanan Medis

tersebut.

b. Mengukur penerapan Standar Asuhan Keperawatan

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan standar ini, perlu

dilakukan penilaian secara objektif dengan menggunakan metode penerapan

dan instrumen penilaian baku. Instrumen Evaluasi Standar Asuhan

Keperawatan terdiri dari (1) pedoman studi dokumentasi asuhan keperawatan,

yang selanjutnya disebut instrumen A, (2) angket yang ditujukan kepada

pasien dan keluarga unutk memperoleh gambaran tentang pesepsi pasien

terhadap mutu asuhan keperawatan yang selanjutnya disebut instrumen B, (3)

pedoman observasi pelaksanaan tindakan keperawatan selanjutnya disebut

instrumen C. Ketiga instrumen ini saling terkait dan dapat digunakan di semua

rumah sakit, yaitu RS khusus dan RSU klas A, B dan C baik RS Pemerintah

maupun swasta (Depkes RI, 2005).

Instrumen A digunakan untuk mengumpulkan data agar dapat menilai

kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh

perawat. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan pendokumentasian


23
yang ditemukan dalam rekam medik pasien dengan pendokumentasian yang

ditentukan dalam standar asuhan keperawatan.

Rekam medik pasien yang dinilai harus memenuhi kriteria yang telah

ditentukan ; (1) Rekam medik pasien yang telah pulang dan telah dirawat

minimal 3 hari di ruangan yang bersangkutan, (2) Data dikumpulkan sebelum

berkas rekam medik pasien dikembalikan pada bagian Medical Record RS,

(3) Khusus untuk kamar operasi dan ruang gawat darurat penilaian dilakukan

setelah pasien dipindahkan ke ruang lain atau pulang, (4) Rekam Medik

pesien yang memenuhi kriteria selama periode evaluasi berjumlah 20 untuk

setiap ruangan. Aspek yang dinilai dalam instrumen A ini adalah ; Pengkajian

Keperawatan, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan Keperawatan, Evaluasi

Keperawatan, dan Catatan Asuhan Keperawatan.

Instrumen B digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi pasien

atau keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan di rumah sakit. Responden

(pasien, atau keluarga yang terpilih) harus memenuhi kriteria yang telah

ditentukan ; (1) Sukarela, (2) Dapat membaca dan menulis, (3) Pasien yang

telah ditetapkan pulang dan telah di rawat minimal 3 hari pada periode

evaluasi, (4) Jumlah responden minimal 20 orang tiap ruangan. Aspek yang

dinilai dalam instrumen B ini adalah ; data umum, data pelayanan, dan saran

pasien atau keluarga untuk perbaikan (merupakan pertanyaan terbuka).

Instrumen C digunakan untuk mengumpulkan data dan menilai

pelaksanaan kegiatan keperawatan yang sedang dilakukan oleh perawat.


24
Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan hasil observasi yang

ditemukan dengan standar asuhan keperawatan atau prosedur. Aspek yang

dinilai dalam instrumen ini adalah persiapan dan pelaksanaan tiap kegiatan

keperawatan. Pengisian instrumen dilakukan oleh ; (1) Perawat penilai

(observer) yang terpilih dari ruangan lain, perawat telah memahami

penggunaan instrumen C, perawat telah mengikuti pelatihan penerapan

standar asuhan keperawatan. (2) perawat yang dinilai (observee) yang sedang

bertugas di ruangan yang sedang dilakukan evaluasi, perawat dengan latar

belakang pendidikan minimal SPK.

B. Landasan Teori

Untuk memprediksi efek dari kepuasan kerja, maka digunakan discrepansy

theory karena lebih mencerminkan konsep tingkah laku yang multiple determinism.

Unsur what should be dalam discrepansy theory ditentukan oleh karakteristik

individu dengan variabel situasional (misalnya lingkungan kerja) (As'ad, 2004)

kerja yang menantang, promosi, supervisi dan rekan kerja. Disamping itu juga

karakteristik perawat Variabel-variabel kerja yang dapat menentukan kepuasan kerja

seseorang adalah upah/gaji, pekerjaan yang meliputi : umur, jenis kelamin, status,

dasar pendidikan, dan lama kerja juga sangat berpengaruh terhadap kepuasan

(Muchlas, 1999)

Secara garis besar Azwar (1996) menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan

yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai

jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta
25
penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang

telah ditetapkan.

Parasuraman, Zeithaml dan Berry (1988) mengatakan bahwa konsumen dalam

melakukan penilaian terhadap kualitas pelayanan ada lima dimensi yang perlu

diperhatikan, yaitu tangibles, reliability, responsivenss, assurance, dan emphaty.

Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit, telah disusun

Standar Pelayanan Rumah Sakit yang diberlakukan melalui SK Menkes No.

436/MENKES/SK/VI/1993 dan Standar Asuhan Keperawatan yang diberlakukan

melalui SK Dirjen Yanmed No.M.00.03.2.6.7637 Tahun 1993. Standar tersebut

disusun dalam buku pedoman intrumen evaluasi penerapan standar asuhan

keperawatan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI

tahun 2005. Instrumen evaluasi standar asuhan keperawatan terdiri dari (1) pedoman

studi dokumentasi asuhan keperawatan, yang selanjutnya disebut instrumen A, (2)

angket yang ditujukan kepada pasien dan keluarga untuk memperoleh gambaran

tentang pesepsi pasien terhadap mutu asuhan keperawatanyang selanjutnya disebut

instrumen B, (3) pedoman observasi pelaksanaan tindakan keperawatan selanjutnya

disebut instrumen C. Penulis hanya akan mene liti instrumen B (persepsi pasien

terhadap mutu pelayanan keperawatan) dan instrumen C (observasi pelaksanaan

tindakan keperawatan).
26

C. Kerangka Teori Penelitian

Karakteristik Perawat
§ Umur
§ Jenis kelamin
§ Lama kerja
§ Dasar pendidikan
§ Status karyawan

Kepuasan
Mutu Pelayanan Keperawatan
Kerja perawat

Persepsi tentang iklim Standar Asuhan Persepsi pasien terhadap mutu


organisasi Keperawatan : pelayanan keperawatan :
§ Upah Instrumen B (persepsi 1. Tangibles
§ Promosi pasien terhadap mutu 2. Reliability
§ Pekerjaan pelayanan 3. Responsiveness
§ Supervisi keperawatan) 4. Assurance
§ Rekan kerja Instrumen C (observasi 5. Emphaty
pelaksanaan tindakan
keperawatan)

Karakteristik pasien
§ Umur
§ Jenis kelamin
§ Pendidikan
§ Pekerjaan

Gambar 1. Bagan Kerangka Teori Penelitian


27

D. Kerangka Konsep Penelitian

Kepuasan Kerja
Mutu Pelayanan Keperawatan
Perawat

§ Upah Standar Asuhan Persepsi pasien


§ Promosi Keperawatan : terhadap mutu
§ Pekerjaan Instrumen B pelayanan keperawatan:
§ Supervisi Instrumen C 1. Tangibles
§ Rekan kerja 2. Reliability
3. Responsiveness
4. Assurance
5. Emphaty

Gambar 2. Bagan Kerangka Konsep Penelitian

E. Hipotesis Penelitian

1. Hipotesis alternatif (Ha) : ada hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel.

2. Hipotesis nol (Ho) : tidak ada hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel.


28
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan pendekatan

kuantitatif dan menggunakan rancangan cross sectional.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap Puskesmas Aikmel dan akan

dilaksanakan pada bulan September 2017

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dari penelitian ini adala h semua perawat yang bekerja di ruang rawat

inap Puskesmas Aikmel.

Sampel penelitian ini adalah tenaga perawat yang bekerja di ruang rawat inap

dan pasien rawat inap yang telah ditetapkan pulang dan telah

dirawat minimal 3 hari, pada periode


evaluasi.

Sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik total sampling untuk tenaga

perawat sebesar 20 orang. Sedangkan untuk pasien rawat inap dengan proporsional

yaitu untuk setiap ruang rawat inap ditentukan 20 pasien rawat inap selama 1 bulan

(September)..

Kriteria subjek penelitian adalah sebagai berikut :


29
1. Perawat :

a. Inklusi :

1) Bersedia menjadi responden

2) Latar belakang pendidikan D III dan SPK

3) Perawat pelaksana

b. Ekslusi :

1) Perawat yang menjalankan cuti atau sakit

2) Perawat yang sedang menjalankan tugas belajar

2. Pasien rawat inap

a. Sukarela

b. Dapat berkomunikasi

c. Pasien yang telah ditetapkan pulang dan telah dirawat minimal 3 hari, pada

periode evaluasi.

D. Variabel Penelitian

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah mutu pelayanan keperawatan.

Sedangkan variabel bebasnya adalah kepuasan kerja perawat.

E. Definisi Operasional

1. Kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan

dipengaruhi oleh karakteristik individu (umur, lama kerja, dasar pendidikan, dan

status karyawan) dan lingkungan kerja (upah, promosi, pekerjaan, supervisi, dan

rekan kerja). Diukur dengan Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ) yang

dimodifikasi oleh peneliti dan ditetapkan dengan skala ordinal yaitu sangat puas
30

bila mean 80-100%, puas bila mean 65-79%, tidak puas bila mean 45-64% dan

sangat tidak puas bila meannya < 45%.

2. Perawat adalah perawat yang bekerja di rawat inap Puskesmas AIkmel

dengan ketentuan : lulus pendidikan keperawatan (DIII Keperawatan, dan SPK),

tidak sedang cuti, tidak dalam keadaan sakit, dan tidak sedang menjalankan tugas

belajar.

3. Upah adalah jumlah imbalan yang berupa uang yang diterima dan dianggap upah

atau gaji.

4. Promosi adalah tersedianya kesempatan untuk maju dalam pekerjaan sebagai

perawat.

5. Supervisi adalah staf keperawatan, kepala atau wakil kepala seksi yang diberi

tugas mengawasi tugas perawat.

6. Pekerjaan adalah keadaan tugas pekerjaan perawat yang dianggap menarik,

memberi kesempatan untuk belajar, dan bertanggung jawab.

7. Rekan kerja adalah para perawat lain yang bekerja sama dalam satu pekerjaan

yang menunjukkan sikap bersahabat dan mendorong.

8. Mutu pelayanan keperawatan adalah kualitas dari asuhan keperawatan yang

diberikan kepada klien, diukur dengan menggunakan :

a. Standar pelayanan profesi, yaitu diukur dengan instrumen B dan C Evaluasi

Standar Asuhan Keperawatan yang dibuat oleh Depkes RI tahun 2005 dan

ditetapkan dengan skala ordinal yaitu sangat rendah bila nilainya 0-19,99,
31

rendah bila nilainya 20-39,99, sedang bila nilainya 40-59,99, baik bila nilanya

60-79,99 dan sangat baik bila nilainya 80-100.

b. Persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan yang diukur melalui 5

dimensi (tangibles, responsiveness, reliability, assurance, dan emphaty)

dengan kuesioner Sulistyanto (2000) yang dimodifikasi oleh peneliti dan

ditetapkan dengan skala ordinal yaitu sangat baik bila mean 80-100%, baik

bila mean 65-79%, buruk bila mean 45-64% dan sangat buruk bila meannya <

45%.

9. Tangibles adalah wujud dari tampilan produk yang meliputi kebersihan,

kerapihan, dan kenyamanan ruangan pada ruang rawat inap serta kerapihan dan

kebersihan penampilan perawat

10. Reliability adalah kemampuan perawat dalam melakukan penerimaan pasien,

memberikan pelayanan pemeriksaan dan perawatan pasien yang cepat dan tepat

waktu.

11. Responsiveness adalah kemampuan perawat dalam melakukan tindakan yang

cepat tanggap dan kemampuan perawat memberikan informasi yang jelas, mudah

dimengerti dan memuaskan.

12. Assurance adalah kemampuan perawat memberikan pelayanan kepada pasien,

keramahan dan kesopanan perawat.

13. Empathy adalah persepsi kualitas pasien pada perawat dalam memberikan

perhatian khusus pada mereka, perawat memperhatikan dan menyimak terhadap


32

keluhan pasien, serta perawat dalam memberikan pelayanan tanpa memandang

status sosial.

F. Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini digunakan beberapa instrumen yang terdiri dari:

1. Kuesioner pendahuluan yang berisi tentang data karakteristik yang diadopsi dari

Prabowo (2002), yaitu : umur, lama kerja, dasar pendidikan, dan status karyawan.

2. Kuesioner yang mengukur tingkat kepuasan perawat diukur dengan Minnesota

Satisfaction Questionnaire (MSQ) yang dimodifikasi oleh peneliti. Modifikasi

dilakukan pada bentuk dan sebagian isi dari MSQ yang disesuaikan dengan

kepentingan penelitian Kuesioner terdiri dari 27 item dengan skala likert 4 point;

Sangat tidak setuju, nilainya 1; Tidak setuju, nilainya 2; Setuju , nilainya 3;

Sangat setuju , nilainya 4 pada item yang favorable, item yang tidak favorable

diukur terbalik. Kuesioner ini, mengukur variabel kepuasan kerja sebagai variabel

bebas dengan sub variabel : upah, promosi, pekerjaan, supervisi, dan rekan kerja.

3. Mengukur mutu pelayanan keperawatan

a. Instrumen B dan C Standar Asuhan Keperawatan

Instrumen B digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi pasien

atau keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan di rumah sakit. Aspek yang

dinilai dalam instrumen B ini adalah data pelayanan keperawatan.

Presentase persepsi pasien atau keluarga dihitung sebagai berikut :


33

Jumlah jawaban ya

Persentase = x 100%

Jumlah jawaban ya + jumlah jawaban tidak

Lembar observasi Instrumen C Evaluasi Penerapan Standar Asuhan

Keperawatan di rumah sakit yang dikeluarkan oleh Depkes RI tahun 2005.

Instrumen C digunakan untuk mengumpulkan data dan menilai pelaksanaan

kegiatan keperawatan yang sedang dilakukan oleh perawat. Penilaian

dilakukan dengan cara membandingkan hasil observasi yang ditemukan

dengan standar asuhan keperawatan atau prosedur. Aspek yang dinilai dalam

instrument ini adalah persiapan dan pelaksanaan tiap kegiatan keperawatan.

Persentase tiap kegiatan dihitung dengan cara :

Total

Persentase = x 100%

Jumlah berkas X jumlah aspek yang dinilai

b. Kuesioner yang berisi data karakteristik pasien dan kuesioner tentang mutu

pelayanan keperawatan yang meliputi : tangibles, reliability, assurance,

responsiveness, dan emphaty. Kuesioner tersebut diadopsi dari Sulisyanto

(2000) dan dimodifikasi oleh peneliti. Kuesioner terdiri dari 26 item dengan

skala likert 4 point; Sangat tidak setuju, nilainya 1; Tidak setuju, nilainya 2;

Setuju , nilainya 3; Sangat setuju , nilainya 4 pada item yang favorable, item

yang tidak favorable diukur terbalik.


34

Tabel 1. Kisi-kisi item pertanyaan instrumen penelitian

Nomor item pertanyaan


No Aspek Jumlah
Favorabel Unfavorabel
1. Kepuasan kerja perawat
a. Pekerjaan 2, 5, 6, 7 1, 3, 4 7
b. Rekan kerja 8, 10, 11 9 4
c. Supervisi 12, 13, 16 14, 15 5
d. Upah 17, 18, 21 19, 20, 22 6
e. Promosi 23, 26, 27 24, 25 5
Persepsi pasien terhadap
2 mutu pelayanan
keperawatan
a. Tangible 1, 2, 3, - 3
b. Reliability 4, 6, 7, 8 5 5
c. Responsiveness 10, 11, 12, 13, 14, 9 6
d. Assurance 16, 17, 19, 20, 21, 15, 18 8
22
e. Emphaty 23, 25 24, 26 4

Jumlah 36 17 53

G. Validitas dan Reliabilitas Data

Uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan skor tiap item pernyataan

dengan skor total. Item pernyataan yang mempunyai koefisien korelasi (r) yang tinggi

dengan skor total menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi

(Notoadmojo, 2005). Item pernyataan dinyatakan valid jika r = 0,3. Teknik korelasi

yang digunakan adalah teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan

komputer atau secara manual dengan menggunakan rumus korelasi product moment

(Sugiyono, 2005) yaitu:


35

r ( xy) ( x)( y)


{[n x2( x)2][n y2 ( y)2 ]}

Keterangan:

r = Koefisien validitas

x = Skor pertanyaan tiap nomor

y = skor total

n = Jumlah responden

Untuk mengetahui nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan tersebut significant, maka

perlu dilihat pada tabel nilai product moment . Apabila nilai r hitung lebih besar r

tabel, maka pernyataan dalam kuesioner tersebut memenuhi taraf significant.

Sebaliknya untuk pernyataan yang tidak memenuhi taraf significant maka harus

direvisi atau dihilangkan (Notoatmodjo, 2005).

Uji reliabilitas dilakukan pada kuesioner kepuasan kerja, hasil penelitian yang

reliabel bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda (Sugiyono, 2005).

Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan. Uji reliabilitas kepuasan

kerja menggunakan rumus Alpha, yaitu :

= k [ 1 - 2s2j ]
k-1 sx

Keterangan:

 = Koefisien reliabilitas Alpha

k = Banyaknya belahan
36

s2j = Varians skor belahan

s2x = Varians skor total

Instrumen dianggap reliabel jika nilai cronbach Alphanya 0,6 (Nugroho, 2005).

Kuesioner diujicobakan di tiga ruang rawat inap Puskesmas Aikmel yang

bukan merupakan sampel penelitian, yaitu ruang rawat inap melati, ruang rawat inap

cempaka, dan ruang rawat inap anggrek. Kuesioner kepuasan kerja perawat

diujicobakan kepada 20 perawat dan kuesioner persepsi pasien terhadap mutu

pelayanan keperawatan diujicobakan kepada 30 pasien pada tanggal 10-13 September

2017.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa kuesiner kepuasan kerja perawat dari 27

item terdapat 14 item yang valid dengan nilai alpha 0,752 dan nilai hasil korelasi

untuk uji validitas terhadap butir-butir kuesioner berkisar 0,005-0,844. Kuesioner

persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan dari 26 item terdapat 19 item

yang valid dengan nilai alpha 0,852 dan nilai hasil korelasi untuk uji validitas

terhadap butir-butir kuesioner berkisar 0,024-0,635.

Kuesioner kepuasan kerja perawat dan kuesioner mutu pelayanan

keperawatan dilakukan uji pemahaman, yaitu tiap item yang tidak valid direvisi ulang

dan dikonsultasikan kepada ahli dan dilakukan diskusi kelompok. Setelah dilakukan

diskusi kelompok, maka seluruh item kuesioner digunakan untuk pengambilan data.
37

Tabel 2. Kisi-kisi item pertanyaan instrumen penelitian setelah uji validitas

Nomor item pertanyaan


No Aspek Jumlah
Valid Tidak Valid
1. Kepuasan kerja perawat
a. Pekerjaan 6, 7 1, 2, 3, 4, 5 7
b. Rekan kerja 8, 11 9, 10 4
c. Supervisi 12, 13, 14, 16 15
5d. Upah 17, 18, 20, 21
19, 22 6
e. Promosi 23, 26 24, 25, 27 5
2 Persepsi pasien terhadap
mutu pelayanan
keperawatan
a. Tangible 3 1, 2 3
b. Reliability 4, 5, 6, 7, 8 - 5
c. Responsiveness 9, 13, 14 10, 11, 12 6
d. Assurance 15, 17, 19, 20, 21, 16, 18 8
22
e. Emphaty 23, 24, 25, 26 - 4

Jumlah 33 20 53

Dari hasil diskusi dengan perawat tentang aspek pekerjaan didapatkan hasil

sebagai berikut :

"ya sibuk mba, apalagi kalo pasiennya banyak ya cape, tapi karena sudah
menjadi tugas saya ya tetep dilakukan. Kalo saya si puas mba, soalnya saya senang
bisa membantu pasien."
( Perawat 1 )

Perawat sebagian besar mengatakan bahwa rekan kerja mendukung pekerjaan

dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien . hal ini, sesuai dengan hasil

diskusi dengan responden sebagai berikut :


38

" Memberikan pelayanan disisni ya kerjanya tim, nggak sendiri-sendiri. Kita


saling membantu tapi dalam bekerja ya da yang cekatan ada yang nggak, tapi rata-
rata ya cekatan lah."
( Perawat 5 )

Hasil petikan diskusi tentang aspek supervisi dengan responden sebagai

berikut :

"Memang sedah menjadi kewajiban dan tugasnya atasan untuk ngontrol.


Jarang si mba atasan ngontrol, ya pokoknya kerja yang bener aja."
( Perawat 2 )

Hasil diskusi terkait aspek gaji dapat dilihat dari ptikan hasil diskusi sebagai

berikut :

"Gaji ya nggak pas-pasan lah mas, Cuma kurang aja kalo bisa ya dinaikkin.
Tapi kalo kompensasi tentang insentif ya memang kurang."
( Perawat 8 )

Hasil petikan diskusi tentang aspek promosi dengan responden adalah sebagai

berikut :

"Kalo promosi untuk perawat saya rasa kurang si mas, jarang ada promosi
untuk perawat."
( Perawat 4 )

Hasil petikan diskusi tentang dimensi tangible dengan responden sebagai

berikut :

"ya bersih mba, dari pada yang dulu-dulu ya lumayan."


H. Cara Pengumpulan Data

1. Tahap persiapan pengumpulan data

Dalam tahap ini dilakukan sesuai dengan prosedur administrasi yang berlaku yaitu

mendapatkan ijin penelitian dari Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Hamzar Lombok
Timur, Bappeda Kabupaten Lombok Timur, Puskesmas Aikmel,

2. Tahap pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi.

Lembar kuesioner dibagikan kepada responden yang telah memenuhi kriteria yang

peneliti tetapkan. Responden diberikan waktu untuk mengisi lembar kuesioner.

Peneliti berada disamping responden selama pengisian kuesioner berlangsung.

Setelah kuesioner diisi seluruhnya, maka peneliti akan meminta kuesioner itu

kembali dan meneliti kelengkapan data responden. Jika ditemukan data yang tidak

lengkap, maka peneliti akan segera meminta responden untuk melengkapinya.


40

Observasi untuk pelaksanaan kegiatan keperawatan dilakukan oleh observer (9

perawat) yang ditunjuk oleh pihak Puskesmas Aikmel.

I. Analisis Data

Data yang telah terkumpul akan dilakukan analisis. Data karakteristik

responden, kepuasan kerja perawat dan mutu pelayanan keperawatan akan disajikan

dalam bentuk tabel frekuensi sehingga akan diperoleh gambaran karakteristik

responden, kepuasan kerja perawat, mutu pelayanan keperawatan dalam bentuk

persentase.

Untuk kuesioner MSQ yang dimodifikasi oleh peneliti, masing- masing skor

responden dari tiap item pernyataan atau pertanyaan dijumlahkan dan dicocokkan

dengan standar lalu dikelompokkan dalam kategori tingkat kepuasan kerja. Tingkat

kepuasan kerja yang dipakai yaitu sangat puas bila mean 80-100%, puas bila mean

65-79%, tidak puas bila mean 45-64% dan sangat tidak puas bila meannya < 45%.

Untuk mutu pelayanan keperawatan, setelah hasil evaluasi penerapan Standar

Asuhan Keperawatan (SAK) pada instrumen B dan C selesai dilaksanakan, lalu

dikelompokkan sesuai dengan ruangan dimana pasien mendapatkan perawatan.

Analis data dari hasil kuesioner ditabulasikan, kemudian menghitung nilai dengan

cara memberi bobot setiap aspek yang diteliti dengan menggunakan rumus yang telah

ditentukan :

Instrumen B dihitung menggunakan rumus :


41

Jumlah jawaban ya

Persentase = x 100%

Jumlah jawaban ya + jumlah jawaban tidak

Instrument C dihitung menggunakan rumus :

Total

Persentase = x 100%

Jumlah berkas X jumlah aspek yang dinilai

Setelah dihitung dari nilai rata-rata setiap item, kemudian ditentukan

kedudukan setiap kategori dengan menggunakan interpretasi menurut Depkes RI

(1997), maka dikatakan sangat rendah bila nilainya 0-19,99, rendah bila nilainya 20-

39,99, sedang bila nilainya 40-59,99, baik bila nilanya 60-79,99 dan sangat baik bila

nilainya 80-100.

Kuesioner persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan, masing-

masing skor responden dari tiap item pernyataan atau pertanyaan dijumlahkan dan

dicocokkan dengan standar lalu dikelompokkan dalam kategori. Kategori persepsi

pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan yang dipakai yaitu sangat baik bila

mean 80-100%, baik bila mean 65-79%, buruk bila mean 45-64% dan sangat buruk

bila meannya < 45%.

Untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja perawat dan mutu

pelayanan keperawatan dilakukan dengan rumus korelasi tata jenjang yang

dikemukan oleh Spearman. Dalam korelasi tata jenjang, jenis data yang dikorelasikan
42

adalah data ordinal, sumber data untuk kedua variabel dapat berasal dari sumber yang

tidak sama dan data tersebut tidak harus membentuk distribusi normal (Sugiyono,

2006).Taraf signifikansi yang ditetapkan peneliti adalah 5%. Adapun rumus korelasi

tata jenjang sebagai berikut:

1 - 6 ? D2
? =
N ( N2 - 1 )

Keterangan:

? = koefisien korelasi tata jenjang

D = difference atau beda antara jenjang setiap subjek

N = banyaknya subjek

Untuk mengetahui intepretasi korelasi hubungan, maka digunakan intepretasi

koefisien korelasi dari Sugiyono (2006) sebagai berikut: 0,000 - 0,199 berarti

memiliki korelasi sangat lemah, skor 0,200 -0,399 berarti korelasi lemah, skor 0,400 -

0,599 berarti korelasi sedang, skor 0,600 - 0,799 berarti korelasi kuat, dan skor 0,800

- 1,000 berarti korelasi sangat kuat

Uji signifikasi koefisien korelasi dilakukan dengan menggunakan rumus z

sebagai berikut:

Zh = ?
1

n-1

Hipotesis nol (Ho) diterima apabila Zh(hitung) < Zt (0,5-0,5.0,5)


43

J. Jalannya Penelitian

1. Tahap Persiapan

Tahap ini dilaksanakan dari bulan Juli hingga Desember 2017. Pada tahap ini,

topik penelitian diajukan pada koordinator penelitian kemudian dikonfirmasikan

kepada pembimbing. Selanjutnya dilakukan studi pendahuluan di Puskesmas


Aikmel, penelusuran pustaka, penyusunan proposal dan konsultasi proposal

kepada kedua pembimbing. Proposal yang telah disetujui diseminarkan pada ujian

proposal tanggal September 2017. Setelah seminar proposal, peneliti mengurus

perijinan untuk uji coba instrumen dan pengambilan data. Pengajuan ijin penelitian

dilakuka mulai dari Dekan Fakultas, Rektor Universitas, Bappeda Kabupaten dan
Puskesmas Aikmel.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Melakukan pengumpulan data

Setelah peneliti mendapatkan surat ijin penelitian, peneliti langsung

melakukan konfirmasi terhadap pihak rumah sakit. Pengumpulan data

dilakukan pada tanggal September 2017. Untuk observasi, peneliti dibantu

oleh observer yang ditunjuk oleh pihak Puskesmas Aikmel dan dilakukan

selama 1 bulan.

b. Data kemudian diolah dan dilakukan analisis


44

Setelah data diolah dan dianalisis, data disajikan dalam bentuk tabel kemudian

dilanjutkan dengan pembahasan dan penulisan kesimpulan, menyusun laporan

hasil penelitian.

3. Tahap akhir

Tahap ini dimulai dari penyajian data, pembahasan menggunakan teori-

teori terkait, dan kemudian melakukan penarikan kesimpulan. Terakhir dilakukan

seminar laporan dan revisi laporan penelitian.

J. Kelemahan Penelitian

1. Instrumen yang digunakan dilakukan uji pemahaman dan tidak dilakuakn uji

statistik ulang sehingga validitas dan reliabilitasnya tidak terukur.

2. Perawat sudah tahu akan dilakukan observasi terhadap tindakan pelayanannya,

maka besar kemungkinan observasi yang dilakukan menjadi bias.

3. Penilaian kepuasan kerja dengan mutu pelayanan tidak menggunakan sumber

yang sama, sehingga memerlukan sampel yang besar, sedangkan sampel yang

digunakan dalam penelitian terlalu sedikit.


45

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Kepuasan Kerja Perawat

a. Distribusi Perawat

Jumlah responden seluruhnya 109 orang, terdiri atas 49 orang perawat ruang

rawat inap dan 60 orang pasien rawat inap di RSUD Kebumen. Karakteristik perawat

terdiri dari umur, lama kerja, jenis kelamin, dasar pendidikan, dan status karyawan.

Tabel 3. Karateristik Perawat Di RSUD Kebumen


Bulan Februari 2008

No. Karakteristik Perawat Frekuensi Persentase


(N = 49) (%)
1 Umur (Tahun)
25-30 10 55,1
31-36 5 24,5
37-42 3 10,2
>42 2 10,2
2 Lama Kerja (Tahun)
1-5 10 42,8
6-10 5 26,5
11-15 3 16,3
>15 2 14,3
3 Jenis Kelamin
Pria 14 28,6
Wanita 6 71,4
4 Dasar Pendidikan
Akper 20 75,5
SPK 0 24,5
5 Status Pegawai
PNS/Capeg PNS 5 53,1
Honorer/Kontrak 15 46,9
Sumber : pengolahan data primer
46

Tabel 3. Menunjukkan umur responden sebagian besar antara 25-30 tahun yaitu

sebanyak 5,1%. Responden sebagian besar mempunyai lama kerja 1-5 tahun yaitu

sebanyak 42,8%. Jenis kelamin responden sebagian besar wanita sebanyak 71,4%.

Pendidian terahir responden sebagian besar Akper yaitu sebesar 75,5%, status

pegawai responden terbanyak adalah PNS?Capeg PNS yaitu sebanyak 53,1%

Tabel 4. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Umur


Di Ruang Rawat Inap RSUD Kebumen
Bulan Februari 2008

Umur Kepuasan Kerja Perawat Total


(tahun) Sangat Puas Puas Tidak Puas Sangat (N = 49)
Tidak Puas
n % n % n % n % n %
25-30 1 2,0 12 24,5 14 28,6 0 0 27 55,1
31-36 0 0 10 20,4 2 4,1 0 0 12 24,5
37-42 0 0 2 4,1 3 6,1 0 0 5 10,2
>42 0 0 3 6,1 2 4,1 0 0 5 10,2
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 4 tingkat kepuasan kerja dalam kategori puas ditemukan pada

paling banyak pada perawat yang berusia 25-30 tahun yaitu sebanyak 12 orang

(24,5%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji Chi Square didapatkan p =

0,974 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

umur dengan kepuasan kerja.

Berdasarkan tabel 5 tingkat kepuasan kerja dalam kategori puas paling banyak

ditemukan pada perawat dengan lama kerja 1-5 tahun yaitu sebanyak 12 orang

(24,5%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji Chi Square didapatkan p =
47

0,861 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

lama kerja dengan kepuasan kerja.

Tabel 5. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Lama Kerja


di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
bulan September 2017

Lama Kepuasan Kerja Perawat Total


Kerja Sangat Puas Puas Tidak Puas Sangat (N = 49)
(tahun) Tidak Puas
n % n % n % n % n %
1-5 1 2,0 12 24,5 8 16,3 0 0 21 42,8
6-10 0 0 6 12,2 7 14,3 0 0 13 26,5
11-15 0 0 5 10,2 3 6,1 0 0 8 16.3
>15 0 0 5 6,1 4 8,2 0 0 7 14,3
Sumber : pengolahan data primer

Tabel 6. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Jenis Kelamin


di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
bulan September 2017

Jenis Kepuasan Kerja Perawat Total


Kelamin Sangat Puas Puas Tidak Puas Sangat (N = 49)
Tidak Puas
n % n % n % n % n %
Pria 0 0 7 14,3 7 14,3 0 0 14 28.6
Wanita 1 2,0 19 38,8 15 30,6 0 0 35 71.4
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 6. tingkat kepuasan kerja dalam kategori puas sebagian besar

ditemukan pada perawat yang berjenis kelamin wanita yaitu sebanyak 19 orang

(38,8%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji Chi Square didapatkan p =

0,760 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

jenis kelamin dengan kepuasan kerja.


48

Tabel 7. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Dasar Pendidikan


di Ruang Rawat Inap Puskemas Aikmel
Bulan September 2017

Dasar Kepuasan Kerja Perawat Total


Pendidikan Sangat Puas Puas Tidak Puas Sangat (N = 49)
Tidak Puas
n % n % n % n % n %
Akper 1 2,0 19 38,8 17 34,7 0 0 37 75.5
SPK 0 0 7 14,3 5 10,2 0 0 12 24.5
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 7 sebagian besar perawat berpendidikan Akper yaitu sebanyak

37 orang (75,5%). Tingkat kepuasan kerja dalam kategori puas sebagian besar

ditemukan pada perawat yang berpendidikan Akper yaitu sebanyak 19 orang (38,8%).

Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji Chi Square didapatkan p = 0,801 (p <

0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara dasar

pendidikan dengan kepuasan kerja.

Tabel 8. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Status Karyawan


di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
bulan September 2017

Status Kepuasan Kerja Perawat Total


Karyawan Sangat Puas Tidak Puas Sangat (N = 49)
Puas Tidak Puas
n % n % n % n % n %
PNS/Capeg PNS 0 0 14 28,6 12 24,5 0 0 26 53.1
Honorer/Kontrak 1 2,0 12 24,5 10 20,4 0 0 23 46.9
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 8 tingkat kepuasan kerja dalam kategori puas sebagian besar

ditemukan pada perawat yang mempunyai status karyawan sebagai PNS/Capeg PNS

yaitu sebanyak 14 orang (28,6%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji
49

Chi Square didapatkan p = 0,542 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada

hubungan yang bermakna antara status karyawan dengan kepuasan kerja.

b. Kepuasan Kerja Perawat

Tabel 9. Analisis Sub Variabel Pekerjaan, Rekan Kerja, Supervisi,


Upah dan Promosi bulan September 2017

Analisa Kepuasan Kerja


data Pekerjaan Rekan Supervisi Upah Promosi
Kerja
Sangat 7 orang 20 orang 8 orang 0 3 orang
Puas (14,28%) (40,81%) (16,32%) (6,12%)
Puas 28 orang 26 orang 31 orang 4 orang 18 orang
(57,14%) (53,06%) (63,26) (8,16%) (36,73%)
Tidak Puas 14 orang 3 orang 10 orang 31 orang 23 orang
(28,57%) (6,12%) (20,4%) (63,26%) (46,93%)
Sangat 0 0 0 14 orang 5 orang
Tidak Puas (28,57%) (10,2%)
Sumber : pengolahan data primer

Tabel 9. menunjukkan bahwa responden yang mempersepsikan kepuasan

terhadap pekerjaan paling banyak dalam kategori puas yaitu 28 orang (57,14%) dan

paling sedikit mempersepsikan dalam kategori sangat tidak puas yaitu 0%. Kepuasan

terhadap rekan kerja dipersepsikan dalam kategori puas oleh paling banyak responden

yaitu 26 orang (53,06%) dan tidak ada responden yang mempersepsikan dalam

kategori sangat tidak puas. Kepuasan terhadap supervisi dipersepsikan dalam kategori

puas oleh paling banyak responden yaitu 31 orang (63,26%) dan tidak ada responden

yang mempersepsikan sangat puas. Kepuasan terhadap upah dipersepsikan dalam

kategoei tidak puas oleh paling banyak responden yaitu 31 orang (63,26%) dan tidak

responden yang mempersepsikan dalam kategori sangat pua s. Kepuasan terhadap


50

promosi dipersepsikan dalam kategori tidak puas oleh paling banyak responden yaitu

23 orang (46,93%) dan paling sedikit mempersepsikan dalam kategori sangat puas

yaitu 3 orang (6,12%).

Tabel 10. Analisis Kepuasan Kerja Perawat Di Ruang Rawat Inap


Puskesmas Aikmel Bulan September 2017

Tingkat Kepuasan Ruang Rawat Inap Total


Kerja (n = 49)
Teratai Peristi Dahlia
N % N % N % N %
Sangat Puas 1 2,0 0 0 0 0 1 2,0
Puas 9 18,4 12 24,5 5 10,2 26 53,06
Tidak Puas 10 20,4 3 6,1 9 18,4 21 42,86
Sangat Tidak Puas 0 0 0 0 0 0 0 0
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 10. responden (53,06%) mempunyai kategori puas dalam


tingkat kepuasan kerja.

Tabel 11. Distribusi Kepuasan Kerja Perawat Berdasarkan Ruang Rawat Inap
Puskesmas Aikmel Bulan September 2017

No. Ruang Rawat Inap Prosentase rata-rata Kategori 1


Teratai 64,35% Tidak puas
2 Peristi 66,72% Puas
3 Dahlia 62,5% Tidak puas
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 11. distribusi tingkat kepuasan kerja di ruang rawat inap peristi

adalah dalam kategori puas sedangkan ruang rawat inap teratai dan dahlia termasuk

dalam kategori tidak puas.


51

2. Gambaran Mutu Pelayanan Keperawatan

a. Distribusi pasien

Jumlah responden seluruhnya 109 orang, terdiri atas 49 orang perawat ruang

rawat inap dan 60 orang pasien rawat inap di Puskesmas Aikmel Karakteristik pasien

terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lama dirawat.

Tabel 12. Karateristik Pasien Di Puskesmas AIkmel


Bulan September 2017

No. Karakteristik Pasien Frekuensi Persentase


(N = 49) (%)
1 Umur (Tahun)
15-25 13 21,7
26-36 26 43,3
37-47 10 16,7
48-58 9 15,0
59-69 2 3,3
2 Jenis Kelamin
Laki- laki 22 36,7
Perempuan 38 63,3
3 Pendidikan
SD 18 30,0
SLTP 17 28,3
SLTA 21 35,0
PT 4 6,7
4 Pekerjaan
PNS 4 6,7
ABRI 1 1,
SWASTA 30 50,0
Lain- lain 25 41,7
5 Lama Dirawat (Hari)
3-7 49 81,7
>7 11 18,3
Sumber : pengolahan data primer

Tabel 13 menunjukkan umur responden sebagian besar antara 26-36 tahun yaitu

sebanyak 43,3%. Responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu


52

sebanyak 63,3%. Pendidikan terakhir responden sebagian besar SLTA yaitu sebesar

35,0%, pekerjaan responden terbanyak adalah swasta yaitu sebanyak 50,0%.

Responden paling banyak dirawat 3-7 hari yaitu sebesar 81,7%.

Tabel 13. Distribusi Persepsi Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan


Berdasarkan Umur di Ruang Rawat Inap Puskesmas AIkmel
Bulan September 2017

Umur Mutu Pelayanan Keperawatan Total


(tahun) Sangat Baik Baik Buruk Sangat Buruk (N = 60)
n % n % n % n % n %
15-25 4 6,7 8 13,3 1 1,7 0 0 13 21.7
26-36 4 6,7 21 35,0 1 1,7 0 0 26 43.3
37-47 1 1,7 9 15,0 0 0 0 0 10 16,7
48-58 1 1,7 6 10,0 2 3,3 0 0 9 15.0
59-69 0 0 2 3,3 0 0 0 0 2 3.3
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 13 persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan

dalam kategori baik sebagian besar ditemukan pada pasien yang berusia 26-36 tahun

yaitu sebanyak 21 orang (35%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji Chi

Square didapatkan p = 0,508 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan

yang bermakna antara umur dengan persepsi terhadap mutu pelayanan

Tabel 14. Distribusi Persepsi Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan


Berdasarkan Jenis Kelamin di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
Bulan September 2017

Jenis Mutu Pelayanan Keperawatan Total


Kelamin Sangat Baik Baik Buruk Sangat Buruk (N = 60)
n % n % n % n % n %
Laki- laki 5 8,3 17 28,3 0 0 0 0 22 36.7
Perempuan 5 8,3 29 48,3 4 6,7 0 0 38 63.3
Sumber : pengolahan data primer
53

Berdasarkan tabel 14. persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan

dalam kategori baik sebagian besar ditemukan pada pasien yang berjenis kelamin

perempuan yaitu sebanyak 29 orang (48,33%). Setelah dilakukan analisis hubungan

dengan uji Chi Square didapatkan p = 0,214 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak

ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan persepsi terhadap mutu

pelayanan

Tabel 15. Distribusi Persepsi Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan


Berdasarkan Pendidikan di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
Bulan September 2017
Pendidikan Mutu Pelayanan Keperawatan Total
Sangat Baik Baik Buruk Sangat Buruk (N = 60)
n % n % n % n % n %
SD 2 3,3 14 23,3 2 3,3 0 0 18 30.0
SLTP 6 10,0 9 15,0 2 3,3 0 0 17 28.3
SLTA 2 3,3 19 31,7 0 0 0 0 21 35.0
PT 0 0 4 6,7 0 0 0 0 4 6.7
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 15. persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan

dalam kategori baik sebagian besar ditemukan pada pasien yang mempunyai

pendidikan SLTA yaitu sebanyak 19 orang (31,7%). Setelah dilakukan analisis

hubungan dengan uji Chi Square didapatkan p = 0,120 (p < 0,05). Dapat diartikan

bahwa tidak ada hub ungan yang bermakna antara pendidikan dengan persepsi

terhadap mutu pelayanan

Berdasarkan tabel 16. persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan

dalam kategori baik sebagian besar ditemukan pada pasien mempunyai pekerjaan

SWASTA dan lain- lain (buruh dan tani) yaitu sebanyak 22 orang (36,7%) dan 20
54

orang (33,3%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan uji Chi Square

didapatkan p = 0,120 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang

bermakna antara pekerjaan dengan persepsi terhadap mutu pelayanan

Tabel 16. Distribusi Persepsi Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan


Berdasarkan Pekerjaan di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
Bulan September 2017

Pekerjaan Mutu Pelayanan Keperawatan Total


Sangat Baik Baik Buruk Sangat Buruk (N = 60)
n % n % n % n % n %
PNS 1 1,7 3 5,0 0 0 0 0 4 6.7
ABRI 0 0 1 1,7 0 0 0 0 1 1.7
SWASTA 7 11,7 22 36,7 1 1,7 0 0 30 50.0
Lain- lain 2 3,3 20 33,3 3 3,0 0 0 25 41.7
Sumber : pengolahan data primer

Tabel 17. Distribusi Persepsi Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan


Berdasarkan Lama Dirawat di Ruang Rawat Inap Puskesmas Aikmel
Bulan September 2017

Lama Mutu Pelayanan Keperawatan Total


Dirawat Sangat Baik Baik Buruk Sangat Buruk (N = 60)
(hari) n % n % n % n % n
%3-7 9 15,0 40 66,7 0 0 0 0 49
81.7 >7 1 1,7 6 10,0 4 6,7 0 0 11
18.3
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 17 persepsi pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan

dalam kategori baik sebagian besar ditemukan pada pasien yang dirawat selama 3-7

hari yaitu sebanyak 40 orang (66,7%). Setelah dilakukan analisis hubungan dengan

uji Chi Square didapatkan p = 0,000 (p < 0,05). Dapat diartikan bahwa ada hubungan

yang bermakna antara lama dirawat dengan persepsi terhadap mutu pelayanan
55

b. Mutu Pelayanan Keperawatan

Tabel 18.Analisis sub variabel tangible, reliability, assurance,


responsiveness, dan emphaty

Analisa Persepsi Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan


data Tangible Reliability Assurance Responsiveness Emphaty

Sangat 11orang 14 orang 9 orang 17 orang 13 orang


Baik (18,33%) (23%) (15%) (28,33%) (21,67%)
Baik 44 orang 40 orang 38 orang 41 orang 23 orang
(73,33%) (66,67%) (63,33%) (68,33%) (38,33%)
Buruk 5 orang 6 orang 12 orang 2 orang 24 orang
(8%) (10%) (20%) (3,33%) (40%)
Sangat 0 0 1 orang 0 0
Buruk (1,67%)
Sumber : pengolahan data primer

Tabel 18. menunjukkan bahwa responden yang mempersepsikan mutu pelayanan

keperawatan terbanyak dalam kategori baik yaitu sebanyak 46 orang (76,67%).

Persepsi pasien terhadap dimensi tangible paling banyak dalam kategori baik yaitu 44

orang (73,33%) dan paling sedikit mempersepsikan dalam kategori sangat buruk

yaitu 0%. Persepsi pasien terhadap dimensi reliability dipersepsikan dalam kategori

baik oleh paling banyak responden yaitu 40 orang (66,67%) dan tidak ada responden

yang mempersepsikan dalam kategori sangat buruk. Persepsi pasien terhadap dimensi

responsiness dipersepsikan dalam kategori puas oleh paling banyak responden yaitu

38 orang (63,33%) dan paling sedikit mempersepsikan dalam kategori sangat buruk

yaitu sebanyak 1 orang (1,67%). Persepsi pasie n terhadap dimensi assurance

dipersepsikan dalam kategori baik oleh paling banyak responden yaitu 41 orang

(68,33%) dan tidak responden yang mempersepsikan dalam kategori sangat buruk.
56

Persepsi pasien terhadap dimensi emphaty dipersepsikan dalam kategori buruk oleh

paling banyak responden yaitu 24 orang (40%) dan tidak responden yang

mempersepsikan dalam kategori sangat buruk.

Tabel 19. Distribusi Mutu Pelayanan Keperawatan Berdasarkan SAK


Di RSUD Kebumen bulan Februari 2008

No. Ruang Rawat Inap Standar Asuhan Keperawatan


Instrumen B Instrumen C
Persentase Kategori Persentase Kategori
rata-rata rata-rata
1 Teratai 76,43% Baik 77,37% Baik
2 Peristi 68,84% Baik 75,64% Baik
3 Dahlia 74,82% Baik 78,02% Baik
Sumber : pengolahan data primer

Tabel 20. Distribusi Mutu Pelayanan Keperawatan Berdasarkan Ruang Rawat


Inap Puskesmas AIkmel Bulan September 2017

No. Ruang Rawat Kuesioner Persepsi Pasien Standar Asuhan


Inap terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan
Keperawatan (SAK)
Prosetase Kategori Prosetase Kategori
rata-rata rata-rata
1 Teratai 71,97% Baik 76,90% Baik
2 Peristi 78,70% Baik 72,24% Baik
3 Dahlia 71,44% Baik 76,42% Baik
Sumber : pengolahan data primer

Berdasarkan tabel 20. distribusi mutu pelayanan keperawatan di tiga ruang

rawat inap (teratai, peristi, dan dahlia) dinilai dengan kuesioner persepsi pasien

maupun dengan SAK (instrumen B dan C) termasuk dalam kategori baik

3. Hubungan kepuasan kerja perawat dan mutupelayanan keperawatan

Koefisien korelasi antara kepuasan kerja dengan mutu pelayanan keperawatan

dilihat dari persepsi pasien terhadap mutu pela yanan keperawatan dan instrumen
57

SAK (instrumen B dan C) didapat ? = 0,4375. Pada uji tersebut mempunyai nilai

positif , ha l ini berarti bahwa semakin tinggi kepuasan kerja perawat maka mutu

pelayanan keperawatannya semakin baik. Nilai signifikansi Z hitung < Z tabel (0,5-

0,5.0.05) yaitu 0,4375 < 1,96 sehingga dapat diinterpretasikan bahwa Ho diterima

atau tidak ada hubungan yang bermakna antara kepuasan kerja perawat dengan mutu

pelayanan keperawatan.

B. Pembahasan

1. Kepuasan kerja perawat

Berdasarkan analisis deskriptif didapatkan hasil bahwa lebih dari setengah

responden (53,06%) mempunyai kategori puas dalam tingkat kepuasan kerja dan

sebagian besar aspek kepuasan kerja dipersepsikan puas oleh responden.

Perawat mempersepsikan sub variabel kepuasan kerja seperti kepuasan terhadap

pekerjaan, rekan kerja, supervis i, upah dan promosi bervariasi. Pekerjaan, rekan

kerja, dan supervisi dipersepsikan dalam kategori puas oleh perawat yaitu 57,14%,

53,06%, dan 63,26%, sedangkan untuk upah dan promosi dipersepsikan dalam

kategosri tidak puas oleh 63,26% dan 46,93% (tabel 7). Muchlas (1999) menjelaskan

bahwa kepuasan bagi setiap individu dirakan bervariasi. Individu teretentu

menganggap hal itu penting, individu yang lain menganggap tidak penting. Teori dua

faktor dari As'ad (2004) juga dapat menjelaskan hal ini. Faktor motivator seperti

promosi masih dipersepsikan tidak puas meskipun pekerjaan dan rekan kerja

dipersepsikan dalam kategori puas. Faktor motivator yang belum terpenuhi belum

dapat membuat kepuasan kerja terhadap perawat. Unsur faktor hygiene berdasarkan
58

hasil penelitian belum sepenuhnya terpenuhi. Sub variabel supervisi dipersepsikan

dalam kategori puas oleh 63,26% perawat dan sub variabel upah dipersepsikan dalam

kategori tidak puas oleh 63,26% perawat. Perbaikan faktor hygiene akan membuat

perawat mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasannya tetapi belum puas bila

faktor motivator

Perawat yang mempersepsikan kepuasan terhadap pekerjaan paling banyak dalam

kategori puas yaitu 28 orang (57,14%). Hal tersebut didukung oleh penelitian

Kusdijanto (2000), yang menyebutkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara

karakteristik pekerjaan dengan kepuasan kerja dengan nilai p = 0,000. Pekerjaan yang

menantang memberi kesempatan bagi seseorang untuk menggunakan keterampilan

dan kemampuannya dalam bekerja akan menumbuhkan kepuasan tersendiri apabila

hal tersebut dapat direalisasikan. Jika perawat menghadapi tantangan pekerjaan yang

menarik, menggairahkan sesuai dengan latar belakang profesinya, maka akan

merasakan pekerjaan itu sebagai sesuatu yang menyenangkan, betapapun beratnya

pekerjaan yang dihadapi (Muchlas, 1999).

Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan sebagian besar perawat yang

menganggap puas terhadap aspek pekerjaan, sebagai berikut :

"ya sibuk mba, apalagi kalo pasiennya banyak ya cape, tapi karena sudah
menjadi tugas saya ya tetep dilakukan. Kalo saya si puas mba, soalnya saya senang
bisa membantu pasien."
( Perawat 1 )
59

Kepuasan terhadap rekan kerja dipersepsikan dalam kategori puas oleh paling

banyak responden yaitu 26 orang (53,06%). Penelitian Kusdijanto (2000)

menunnjukkan hubungan yang signifikan antara rekan kerja dengan kepuasan kerja

dengan nilai p = 0,0497. Adanya hubungan yang baik dengan rekan kerja akan

menciptakan suasana kerja kerja yang kondusif sehingga perawat merasa nyaman

dengan pekerjaannya (Verplanken, 2004)

Perawat sebagian besar mengatakan bahwa rekan kerja mendukung pekerjaan

dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien. Hal in sesuai dengan hasil

diskusi dengan responden sebagai berikut :

" Memberikan pelayanan disisni ya kerjanya tim, nggak sendiri-sendiri. Kita


saling membantu tapi dalam bekerja ya da yang cekatan ada yang nggak, tapi rata-
rata ya cekatan lah."
( Perawat 5 )

Kepuasan terhadap supervisi dipersepsikan dalam kategori puas oleh paling

banyak responden yaitu 31 orang (63,26%). Penelitian Piko (2006) menunjukkan

hubungan yang signifikan antara supervisi dan kepuasan kerja perawat. Apabila

penyelia memberikan umpan balik tentang hasil supervisi yang dilakukan, maka

perawat mempunyai pedoman dan motivasi yang lebih baik dalam melaksanakan

pekerjaannya (Handoko, 1997).

Kepuasan terhadap upah dipersepsikan dalam kategori tidak puas oleh paling

banyak responden yaitu 31 orang (63,26%). Penelitian Piko (2006) menunjukkan

tidak ada hubungan yang signifikan antara upah dan kepuasan kerja . Hal ini berbeda

dengan penelitian Putri (1999) itu menjelaskan bahwa upah merupakan faktor yang