Anda di halaman 1dari 16

TAPIS/FILTER LOLOS RENDAH DAN

TAPIS/FILTER LOLOS TINGGI

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Secara umum ilmu fisika tidak terlepas dari berbagai komponen

elektronika, masing-masing komponen memiliki fungsi maupun kegunaan

yang berbeda-beda dalam suatu rangkaian. Terdapat rangkaian yang

memiliki fungsi sebagai pembagi tegangan, penyearah tegangan, dan lain

sebagainya bahkan terdapat suatu rangkaian yang digunakan untuk

membuang tegangan output pada frekuensi tertentu yaitu rangkaian filter.

Rangkaian filter dibagi atas dua bagian besar yaitu rangkaian filter lolos

tendah dan rangkaian filter lolos tinggi pada rangkaian Op-Amp.

Fungsi rangkaian filter untuk menyaring, menahan atau

melewatkan frekuensi tertentu. Rangkaian filter dapat dibuat dari

komponen pasif maupun aktif. Tapis lolos rendah atau low pass filter akan

melewatkan frekuensi rendah atau dengan kata lain low pass filter akan

memberikan tegangan keluaran yang konstan dari DC hingga frekuensi

cutoff. Filter lolos tinggi atau High Pass Filter adalah rangkaian filter

yang berfungsi untuk melewatkan frekuensi tinggi. Kebalikan dari LPF,

yaitu melewatkan frekuensi diatas frekuensi cutoff (Ahmad, 2010).

Berdasarkan uraian dan pemikiran diatas kita telah memahami apa

filter itu dan jenis-jenis filter yaitu filter lolos rendah dan filter lolos tinggi.

Akan tetapi kita belum mengetahui bagaimana menyusun rangkaian Op-

94
amp sebagai rangkaian filter lolos rendah dan filter lolos tinggi, serta

hubungan amplitude dan fase antara isyarat masukan dan isyarat keluaran

sebagai fungsi frekuensi. Sehingga praktikum ini perlu untuk dilakukan

agar kita dapat mengetahui dan memahami hal tersebur serta dapat di

aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tujuan

Tujuan yang akan dicapai pada percobaan tapis/filter lolos rendah

dan tinggi adalah sebagai berikut.

a. Untuk menyusun rangkaian Op-Amp sebagai rangkaian filter lolos

rendah dan filter lolos tinggi.

b. Untuk mempelajari hubungan amplitude dan fase antara isyarat

masukan dan isyarat keluaran sebagai fungsi frekuensi.

95
B. KAJIAN TEORI

Rangkaian Filter RC lolos rendah merupakan rangkaian elekronika

yang dapat meloloskan frekuensi sampai batas tertentu dan mengeblok

frekuensi di atasnya. Rangkaian Filter RC lolos rendah terdiri dari R dan C

yang terusun seri dan dihubungkan dengan sumber tegangan AC berbentuk

kotak. Rangkaian ini akan menjadi rangkaian tapis lolos rendah (LPF, low

pass Filter) jika dioperasikan pada kawasan frekuensi yang bertujuan untuk

meloloskan sinyal tegangan V pada frekuensi rendah. Gambar 9.1

menunjukkan rangkaian Filter RC lolos rendah ini.

Gambar 9.1. Rangkaian Filter RC Lolos


Rendah

Mengingat besarnya reaktansi kapasitif pada kapasitor adalah :

1
XC  ........................................................................................ (9.1)
C

maka pada frekuensi  sangat rendah, reaktansi kapasitif dari kapasitor

sangat tinggi, atau dengan kata lain kapasitor bersifat terbuka sehingga Vi

dapat lolos dengan leluasa. Penguatan yang dialami oleh V dikenal dengan

gain atau fungsi alih G(  ) yang didefinisikan dengan (Toifur, 2005).

V0
G ( )  ........................................................................................ (9.2)
Vi

96
Filter adalah suatu rangkaian yang dipergunakan untuk membuang

tegangan output pada frekuensi tertentu. Untuk merancang Filter dapat

digunakan komponen pasif (R,L,C) dan komponen aktif (Op-amp,transistor).

Dengan demikian Filter dapat dikelompokkan menjadi Filter pasif dan Filter

aktif. Pada dasarnya Filter dapat dikelompokkan berdasarkan response

(tanggapan) frekuensinya menjadi 4 jenis, yaitu :

1. Filter lolos rendah atau Low Pass Filter (LPF)

2. Filter lolos tinggi atau Hing Pass Filter (HPF)

3. Filter lolos rentang atau Band Pass Filter (BPF)

4. Filter henti rentang atau Band Stop Filter / Norch Filter.

Untuk membuat filter sering kali dihindari penggunaan indicator, terutama

karena ukurannya yang besar. Sehingga umumnya filter pasif hanya

memanfaatkan komponen R dan C saja (Kusuma, 2003).

Op-amp bisa juga digunakan untuk membuat rangkaian-rangkaian

dengan respons frekuensi, misalnya rangkaian penapis (filter). Salah satu

contohnya adalah rangkaian Integrator seperti yang ditunjukkan pada gambar

di bawah ini. Rangkaian dasar sebuah tapis adalah rangkaian op-amp

inverting, hanya saja rangkaian umpan baliknya (feedback) bukan resistor

melainkan menggunakan capasitor C.

Gambar 9.2. Rangkaian Dasar Integrator

97
Kalau komponen C pada rangkaian penguat inverting di tempatkan didepan,

aka akan diperoleh rangkaian differensiator seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 9.3. Rangkaian Differensiator

Differensiator dapat juga dilihat sebagai tapis pelewat-rendah dan dapat

digunakan sebagai tapis aktif (Ridwan, 2014).

C. METODE PRAKTIKUM

1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan tapis/filter lolos

rendah dan tapis/filter lolos tinggi dapat dilihat pada tabel 9.1 berikut.

Tabel 9.1. Alat dan Bahan Percobaan Tapis/Filter Lolos Rendah dan
Tapis/Filter Lolos Tinggi
No Alat dan Bahan Fungsi
1 Resistor Sebagai hambatan arus pada rangkaian
2 Kapasitor Sebagai penyimpan muatan listrik
3 IC Op-Amp Sebagaia penguat tegangan
Untuk menampilkan jenis gelombang
4 Osiloskop
masukan dan gelombang keluaran
Pembangkit Isyarat AC
5 Sebagai pembangkit isyarat gelombang
(Function Generator-FG)
6 Catu Daya ± 15 V DC Sebagai pengatur tegangan
7 Papan Rangkaian Untuk menyusun suatu rangkaian
Untuk menghubungkan catu daya dengan
8 Kabel Penghubung
rangkaian
Untuk menghubungkan rangkaian dengan
9 Probe
osiloskop dan Function Generator

98
2. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan tapis/filter lolos

rendah dan tapis/filter lolos tinggi adalah sebagai berikut.

a. Menyusun rangkaian Op-Amp filter lolos rendah seperti yang terlihat

pada Gambar 9.4 berikut.

Gambar 9.4. Rangkaian Op-Amp Sebagai Filter Lolos Rendah

b. Menghubungkan masukan (Vin) pada Function Generator dengan

amplitudo 2 V dan menghubungkan Ch1 pada osiloskop untuk

menampilkan gelombang sinyal masukannya.

c. Menghubungkan keluaran (Vout) dengan Ch2 pada osiloskop untuk

melihat gelombang sinyal keluarannya.

d. Menghubungkan sumber +Vcc catu daya pada kaki 7 dan –Vcc pada

kaki 4.

e. Masukkan frekuensi 100 Hz pada Function Generator dan mengamati

Hasilnya.

f. Mengulagi langkah (e) untuk frekuensi 200 Hz, 300 Hz dan 400 Hz.

99
g. Meyusun rangakaian Op-Amp filter lolos tinggi seperti yang terlihat

pada Gambar 9.5 berikut.

Gambar 9.5. Rangkaian Op-Amp Sebagai Filter Lolos Tinggi

h. Mengulangi langkah (b) sampai (e) dengan frekuensi 100 Hz, 300 Hz,

700 Hz dan 1000 Hz.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

a. Data Pengamatan

1) Filter Lolos Rendah

Data pengamatan pada percobaan filter lolos rendah dapat

dilihat pada Tabel 9.2 berikut.

Tabel 9.2 Data Pengamatan pada Filter Lolos Rendah


No Frekuensi (Hz) Vin (volt) Vout (volt)
1 100 60 0,6
2 200 58 5,8
3 300 58 0,6
4 400 62 0,6

100
Hasil pengamatan yang ditampilkan berupa bentuk

gelombang pada layar osiloskop dimana harga frekuensinya

divariasikan dapat dilihat pada gambar berikut.

a) Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

100 Hz

Vin = 60
V
Vout = 0,6 V

Gambar 9.6 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 100 Hz

2. Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

200 Hz

Vin = 58 V

Vout = 5,8 V

Gambar 9.7 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 200 Hz

101
3. Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

300 Hz

Vin = 60 V

Vout = 0,6 V

Gambar 9.8 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 300 Hz

4. Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

300 Hz

Vin = 60 V

Vout = 0,6 V

Gambar 9.9 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 400 Hz

102
2) Filter Lolos Tinggi

Data pengamatan pada percobaan filter lolos tinggi dapat

dilihat pada Tabel 9.3 berikut.

Tabel 9.3 Data Pengamatan pada Filter Lolos Tinggi


No Frekuensi (Hz) Vin (volt) Vout (volt)
1 100 60 0,6
2 300 58 5,8
3 700 58 5,8
4 1000 58 0,6

Hasil pengamatan yang ditampilkan berupa bentuk

gelombang pada layar osiloskop dimana harga frekuensinya

divariasikan dapat dilihat pada gambar berikut.

a) Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

100 Hz

Vin = 60 V

Vout = 0,6 V

Gambar 9.10 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 100 Hz

103
b) Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

300 Hz

Vin = 60 V

Vout = 0,6 V

Gambar 9.11 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 300 Hz

c) Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

700 Hz

Vin = 60 V

Vout = 0,6 V

Gambar 9.12 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 700 Hz

104
d) Gelombang Masukan dan Keluaran pada Frekuensi Masukan

1000 Hz

Vin = 60 V

Vout = 0,6 V

Gambar 9.13 Gelombang Masukan dan Keluaran


pada Frekuensi Masukan 1000 Hz

b. Analisis Data

1) Menentukan Besar Penguatan

a) Secara teori untuk tapis lolos rendah dan tinggi

Diketahui : R1 = 12 kΩ
R2 = 6,8 KΩ
Ditanyakan : ∆V = .....?

Penyelesaian :
R2
V  1
R1
6,8
V  1
12
V  0,567  1
V  1,567 kali

105
b) Secara praktek untuk tapis lolos rendah

Vout
V 
Vin
0,6
V 
60
V  0,1 kali

Dengan cara yang sama untuk data selanjutnya dapat dilihat

pada Tabel 9.4 berikut.

Tabel 9.4 Analisis Data pada Percobaan Filter Lolos Rendah


No Frekuensi (Hz) Vin (volt) Vout (volt) ∆V (kali)
1 100 60 0,6 0,1
2 200 58 5,8 0,1
3 300 58 0,6 0,103
4 400 62 0,6 0,096

c) Secara praktek untuk tapis lolos rendah

Vout
V 
Vin
0,6
V 
60
V  0,1 kali

Dengan cara yang sama untuk data selanjutnya dapat dilihat

pada Tabel 9.5 berikut.

Tabel 9.5 Analisis Data pada Percobaan Filter Lolos Tinggi


No Frekuensi (Hz) Vin (volt) Vout (volt) ∆V (kali)
1 100 60 0,6 0,1
2 200 58 5,8 0,1
3 300 58 5,8 0,1
4 400 62 5,8 0,093

106
2. Pembahasan

Filter adalah suatu rangkaian yang dipergunakan untuk membuang

tegangan output pada frekuensi tertentu. Untuk merancang Filter dapat

digunakan komponen pasif (R,L,C) dan komponen aktif (Op-Amp,

transistor). Filter lolos rendah merupakan rangkaian elekronika yang

dapat meloloskan frekuensi sampai batas tertentu dan mengeblok frekuensi

di atasnya. Filter lolos tinggi adalah rangkaian filter yang berfungsi untuk

melewatkan frekuensi tinggi.

Praktkum tentang tapis lolos rendah dan tapis lolos tinggi

dilakukan pengukuran besar gelombang masukan dan glombang keluaran

dengan besar hambatan resistor R1 adalah 12 kΩ dan resistor R2 adalah 6,8

kΩ pada rangakaian tapis lolos rndahh dan tinggi. Pengukuran pada

rangkaian tapis lolos rendah dilakukan dengan frekuensi yang berbeda

yaitu pada frekuensi 100 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang masukan

Vin sebesar 60 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 0,6

volt, pada frekuensi 200 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang masukan

Vin sebesar 58 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 5,8

volt, pada frekuensi 300 Hz iperoleh nilai tegangan gelombang masukan

Vin sebesar 58 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 0,6

volt, dan pada frekuensi 400 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang

masukan Vin sebesar 62 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout

sebesar 0,6 volt.

107
Untuk rangkaian tapis lolos tinggi dilakukan pengukuran dengan

frekuensi 100 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang masukan Vin sebesar

60 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 0,6 volt, pada

frekuensi 300 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang masukan Vin sebesar

58 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 5,8 volt, pada

frekuensi 700 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang masukan Vin sebesar

58 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 5,8 volt, serta

pada frekuensi 1000 Hz diperoleh nilai tegangan gelombang masukan Vin

sebesar 58 volt dan nilai tegangan gelombang keluaran Vout sebesar 0,6

volt.

Hasil yang diperoleh pada data pengamatan menunjukkan bahwa

tegangan keluaran jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai tegangan

masukan baik pada tapis lolos rendah maupun pada tapis lolos tinggi.

Hasil yang diperoleh juga tidak teratur dan pada gambar juga

menunjukkan perubahan gelombang yang sangat tipis.

Hasil analisis data pada penentuan besar penguatan secara teori

untuk tapis lolos tinggi dan rendah dengan cara membagi hambatan R2

dengan R1 lalu menambahkan dengan satu. Sehingga diperoleh besar

penguatan 1,567 kali. Sedangkan secara praktek untuk tapis lolos rendah

besar penguatan diperoleh dengan cara membagi tegangan keluaran

dengan tegangan masukan dan hasilnya untuk frekuansi masukan 100 Hz,

200 Hz bernilai sama yaitu 0,1 kali, untuk frekuensi 300 Hz yaitu 0,103

kali dan untuk frekunsi 1000 Hz yaitu 0,096 kali. Secara praktek untuk

108
tapis lolos tinggi dengan cara yang sama dengan tapis lolos rendah

diperoleh besar penguatan untuk frekuensi masukan 100 Hz, 300 Hz, 700

Hz memiliki nilai yang sama yaitu 0,1 kali dan untuk frekuensi 1000 Hz

yaitu 0,093 kali. Jika dibandingkan dengan teori besar penguatan yang

diperolrh untuk tapis lolos rendah maupun tinggi tidak begitu jauh. Akan

tetapi belum dapat dikatakan berhasil.

Besar pengukuran untuk tapis lolos rendah nilainya tidak beraturan

untuk semua frekuensi masukan begitupula pada pengukuran tapis lolos

tinggi. Hal ini tidak sesua dengan teori yang mengatakan bahwa tapis lolos

tinggi akan melewatkan sinyal frekuensi tinggi dan meredam sinyal

frekuensi rendah. Begitu pula pada tapis lolos rendah akan melewatkan

sinyal frekuensi rendah dan meredam sinyal frekuensi tinggi. Hai ini

kemungkinan disebabkan oleh kesalahan penggunaan alat atau kerusakan

pada alat itu sendiri.

109