TELAAH KASUS
MODUL PROSTHODONTI
GIGI TIRUAN PENUH
Oleh :
Hilmiy Mefida Darfi
1210341009
Pembimbing :
drg. Hidayati, MKM
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
Biodata Pasien :
1. Nama : Dahniar
2. Tempat/tanggal lahir : Pesisir Selatan/ 1949
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Alamat : Rangkai permata 2 No 17 Kec. Koto Baru Padang
6. No.RM : 009693
Anamnesis
CC : Pasien datang dengan keluhan gigi tiruan lama sudah tidak enak dipakai karena
terasa longgar dan gigi sudah terkikis dan ingin dibuatkan gigi tiruan
PI : Pasien merasa tidak nyaman dengan gigi tiruan lama sejak 6 bulan yang lalu karena
saat mengunyah makanan tidak terlalu lunak saat dikunyah, pasien menggunakan gigi tiruan
sejak 21 tahun yang lalu. Pasien menggunakan gigi tiruan karena gigi dicabut karena gigi
berlobang atau keropos.
PDH : Pasien pernah berkunjung ke dokter gigi untuk melakukan pencabutan gigi dan
dibuatkan gigi palsu
PMH : Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik dan memiliki alergi obat setelah
operasi
FH : Ayah dan ibu tidak memliki penyakit sistemik.
SH : Pasien seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama seorang anak dan 2 orang
cucu.
a) tampak depan b)tampak samping
Pemeriksaan klinis pasien :
Ekstra Oral
• Muka : lonjong dan asimetris
• Profil : cembung
• Pupil : sama tinggi
• Tragus : sama tinggi
• Hidung : simetris dan pernafasan melalui hidung lancar
• Rima oris : normal
• Bibir atas : normal
• Bibir bawah : normal
• Kelenjar getah bening :
Submandibularis kanan : tidak sakit dan tidak teraba
Submandibularis kiri : tidak sakit dan tidak teraba
Sublingualis : tidak sakit dan tidak teraba
• Sendi rahang
Kiri : tidak ada kelainan
Kanan : tidak ada kelainan
• Buka mulut : normal
• Kelainan lain : tidak ada kelainan lain
INTRA ORAL
a. Saliva : kuantitas (normal), kualitas (normal)
b. Lidah : Ukuran (sedang)
c. Reflex muntah : tinggi
d. Oklusi :-
e. Relasi rahang : klas 1
f. Relasi sentrik :
g. Artikulasi :-
h. Gaya kunyah :-
i. Kebiasaan buruk :-
j. Sebab kehilangan gigi : gigi keropos dan gigi goyang
k. Pencabutan terakhir : kurang lebih 21 tahun yang lalu
l. Pencabutan terakhir pada : gigi rahang atas
m. Pemakaian gigi tiruan : pernah
n. Tujuan pembuatan gigi tiruan : estetik, pengunyahan, bicara
PEMERIKSAAN GIGI-GELIGI
a. Bentuk gigi :-
b. Besar gigi :-
c. Fraktur gigi :-
d. Perbandingan mahkota akar : -
a) rahang atas b)rahang bawah
PEMERIKSAAN LAIN
Vestibulum
Posterior kiri Posterior kanan Anterior
Rahang atas dangkal dangkal dangkal
Rahang bawah dangkal dangkal dangka
Procesus alveolaris
Posterior kiri Posterior kanan Anterior
Rahang atas
Bentuk oval oval oval
Ketinggian rendah rendah rendah
Tahanan jaringan rendah rendah rendah
Rahang bawah
Bentuk oval oval oval
Ketinggian rendah rendah rendah
Tahanan jaringan rendah rendah rendah
Frenulum
Labialis superior : rendah
Labialis inferior : rendah
Bukalis RA kiri : rendah
Bukalis RA kanan : rendah
Bukalis RB kiri : rendah
Bukalis RB kanan : rendah
Lingualis : rendah
Palatum
• Bentuk : oval
• Kedalaman : sedang
• Torus palatinus : tidak ada
Undercut : RA RB
• Kiri : Tidak ada tidak ada
• Kanan : tidak ada tidak ada
Ruang Retromilohioid
• Kiri : dangkal
• Kanan : dangkal
Bentuk lengkung
RA : oval
RB : oval
Dasar mulut : dangkal
Lain- Lain :
Eksostosis : tidak ada
Torus mandibula : tidak ada
Diagnosa
• RA : Full edentulous
• RB : Full edentulous
Rencana Perawatan : pembuatan gigi tiruan penuh pada rahang atas dan bawah
Sikap Mental Pasien : Filosofi
Berdasarkan hasil dari anamnesis dan pemeriksaan klinis ditegakkan diagnosa dari pasien
adalah : full edentulous (kehilanggan seluruh gigi-geliginya), maka akan dilakukan
pembuatan gigi tiruan penuh (complete denture)
.
Rencana perawatan :
Tahap pembuatan Gigi tiruan penuh:
Penentuan Desain Gigi Tiruan Penuh
1. Penetuan support :support adalah kemampuan gigi tiruan bertahan terhadap gaya vertikal
yang mengarah ke linggir. Jenis support pada kasus ini adalah mucosa support, pada
rahang bawah support didapat dari retro molar pad dan buccal shelve sebagai support
utama, sedangkan support tambahan puncak linggir dan genial tubercle. Pada rahang atas
support utamanya adalah bagian horizontal pada maksila dari palatum durum sampai
midline rhapae, posterolateral alveolar ridge sebagai support tambahan. Pada kasus ini
pada rahang bawah terdapat kekurangan support yaitu kurangnya support utama bucal
shelve pada posterior kiri dan kanan dan retromolar pad, dikarenakan linggirnya yang
kecil.
2. Penentuan retensi : retensi yaitu suatu gaya yang menahan lepasnya gigi tiruan kearah
vertical. Retensi pada rahang atas didapatkan dari undercut yang ada pada linggir
alveolar anterior dan posterior kanan dan kiri. Sedangkan pada rahang bawah didapatkan
dari sulkus mylohioid. Retensi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : faktor anatomis,
faktor fisiologis, faktor muscular, faktor mekanis, faktor fisik. Pada kasus ini retensi
didapat dari factor anatomis (luas denture bearing area, bentuk denture bearing area,
kualitas denture bearing area), factor fisiologis ( kualitas saliva, dan laju aliran saliva
[ dari anamnesis pasien tidak xeortomia dan tidak hipersalivasi, pasien juga tidak
menderita penyakit yang mempengaruhi salivanya]), faktor muscular ( perluasan basis
gigi tiruan menutup seluruh permukaan denture bearing area tanpa menimbulkan
ganguan dan kesehatan pada jaringan sekitar GT, gigi artificial GT disusun di daerah
netral zone, oklusal plane membagi dua ruang antar rahang atas dan bawah secara
seimbang, permukaan poles gigi tiruan dibentuk dengan benar, otot-otot bersandar pada
GT dan memperkuat penutupan tepinya). Faktor fisik (tekanan atmosferik, daya tarik
menarik kapiler/ kapilaritas, tegangan permukaan, kohesi, adhesi).
3. Penentuan stabilisasi : kemampuan/ kualitas GT berada ditempat ketika diberi gaya
horizontal. Stabilisasi ini diperoleh dari : perluasan landasan, menghindari ungkitan,
bertahan terhadap ungkitan, menghindari pergeseran horizontal / intercuspal locking.
4. Penentuan arah pemasangan : arah pemasangan diperlukan jika terdapat undercut, untuk
menetukannya dilakukan surveying
5. Penentuan estetik : lebar gigi anterior depan sebagai patokan ukuran anasir didapat dari
C line. Pembuatan bite rime yang benar sehingga dapat membentuk profil wajah kembali
( sulkus naso labialis, philtrum)
Komponen desain gigi tiruan
Rahang Atas Rahang bawah
Tahapan Pekerjaan
Kunjungan 1:
1. Pencetakan model study untuk diskusi kasus, dan model kerja untuk pembuatan sendok
cetak fisiologis (sendok cetak perorangan). Pencetakan dilakukan dengan menggunakan
alginate dan di cor dengan gips biru (tipe 3). Pembuatan sendok cetak fisiologis dengan
menggunakan akrilik self cure.
Kunjungan 2:
1. Setelah sendok cetak selesai dibuat dilakukan border molding dengan menggunakan lilin
compound. Caranya dengan memanaskan compound dan meletakkanya pada bagian tepi
sendok cetak lalu dimasukkan kedalam mulut kemudian bagian pipi, lidah, dan mukosa
bergerak lainnya digerak-gerakkan.
2. Setelah selesai border molding selanjutnya dilakukan pencetakan dengan menggunakan
bahan elastomer.
3. Setelah selesai pencetakan dengan elastomer, selanjutnya proses lab yaitu pengecoran
hasil cetakan dengan menggunakan gips kuning (tipe 4)
4. Setelah model selesai di cor, dilanjutkan pembuatan model malam untuk basis dan
dilakukan pembuatan basis dari self curing.
Kunjungan 3
1. Pada kunjungan ketiga dilakukan try in basis gigi tiruan, lihat retensi stabilisasinya.
2. Setelah itu dilakukan pemasangan bite rime pada rahang atas, lalu lihat tinggi bite rim
pada bagian anterior harus 1-2 mm dibawah low lip line (rata-rata 12 mm, dengan lebar 4
mm), dan pada bagian posterior (10-11mm, dengan lebar 6-7mm). setelah itu lalu lihat
kesejajaran bite rim, dengan menggunakan benang jagung yang di pasangkan dari kedua
tragus pasien yang melewati ala nasi dan dibantu dengan alat bite fox
3. Setelah bite rim sejajar lihat profil wajah pasien apakah terlalu cembung atau cekung,
apakah filtrum dan sulkus naso labialis sudah terbentuk dengan benar.
4. Setelah itu tentukan garis C line, yang berfungsi untuk penentuan ukuran anasir.
5. Selanjutnya pengukuran dimensi vertical, pertama tentukan dimensi vertical istirahat
tentative, dengan cara menentukan dua titik yaitu pada sub nasal dan gnation. Pasien di
instuksikan untuk mengistirahatkan otot-otot pada wajahnya, pertama pasien disuruh
menggumam (mmmm) berulang – ulang sampai tidak terdapat kontraksi otot bibir,
setelah pas ukur jarak antara kedua titik yang di tentukan tadi maka di dapat dimensi
vertika istirahat tentative. Setelah itu masukkan bite rim rahang bawah, cocokan dengan
dimensi vertical istirahat tadi setelah dikurangi free way space, jika lebih, kurangi bite
rim rahang bawah.Selanjutnya pengukuran relasi sentrik pada pasien diinstruksikan
menengadah, menelan ludah, menginstruksikan kepada pasien untuk meletakkan ujung
lidahnya pada palatum lunak dan kita bantu mendorong mandibula pasien sampai pada
bagian paling belakang.
6. Setelah dimensi vertikal diukur dengan benar fixsasi bite rime rahang atas dan rahang
bawah dan tanam di articulator.
7. Setelah itu lakukan penyusunan anasir dimulai dengan penyusunan anterior atas, anterior
bawah, posterior kanan atas, posterior kanan bawah, posterior kiri atas, dan di akhiri
posterior kiri bawah.
8. Setelah itu lakukan penyusunan anasir dimulai dengan penyusunan anterior atas, anterior
bawah.
Penyusunan gigi anterior RA
- I1 disusun dengan inklinasi mesial distalnya sebesar 85 derajat dan
inklinasi anteroposterior sebesar 2-5 derajat keanterior, insisal
menyetuh bterim RB
- I2 disusun dg inklinasi mesial distal 80 derajat dan inklinasi
anteroposterio 2-5 derajat kelabial dan insisalnya menggantung
dibandingakan i1
- Gigi C insisal menyetuh biterim RB dan inklinasinya hampir tegak
lurus
Penyusunan gigi anteror bawah
- Gigi anterior RB disusun dengan aksisi 0 derajat atau lebih kelingual
dan insisalnya lebih tinggi dari tingg biterim RB sehingga membentuk
overjet dan overbite yang ideal dengan RA
Kunjugan 4
1. Try in anterior
2. Pastikan pemilihan bentuk gigi, warna, dan ukurannya sesuai dengan profil pasien
3. Periksa oklusi, overjet dan overbitenya
4. Perksa garis midlinenya sesuai atau tidak
5. Jika sudah tepat semuanya lanjutkan penyusunan gig posterior
Penyusunan gigi Posterior RA
- Dimulai dari P1 disusun tegak lurus dan cups bukal menyentuk
biterim RB sedangkan cups palatal menggantung
- Disusun tegak lrus dengan cups bukal dan palatal sama sama
mententuh biterim RB
- M1 Disusun dengan cups mesiopalatal menyentuh biterim RB
sedang cups lainyya menggantung
- M2 semua cup tidak menyentuk biterim RB dan inklinasinya
mengikuti dcups distal M1 atas sehingga membentuk kurve ff spee
Penyusunan gigi pos RB
- Dimulai dari M1 cups mesiobukal m1 RA berkontak pada bukal
groove m1 RB
- P1 sebagai salah satu kunci oklusi, lereng mesialnya berkontak
dengan lereng distal bagian dalam gigi C RA
- -P2 Pastikan gigi kontak bidang dengan gigi RA
- M2 kontak bidang dengan m2 RA
Kunjungan 5
1. Try in gigi tiruan ke mulut pasien
Pemeriksaan yang dilakukan :
a. Pemeriksaan di articulator :
– Penampilan GTP
– Permukaan cetakan
– Permukaan poles
– Permukaan oklusal
Pemeriksaan di dalam mulut pasien
• Retensi fisik
• Kestabilan
• Perluasan basis
• Daerah netral ( netral zone)
• Oklusi
• Freeway space
• Penampilan Pasien
Pengiriman ke laboratorium
Flasking
Boiling out
Curing
Finishing dan Polishing
.
Kunjungan 6
1. Setelah gigi tiruan di poles lakukan insersi pada kunjungan selanjutnya. Lihat apakah GT
sudah berada pada final rest position dan nilai aspek retensi, stabilisasi, oklusi, estetik,
artikulasi pada pasien
2. Sebelum diinsersi lihat dulu apakah ada bagian gigi tiruan yang terlalu tajam, adakah
pada bagian anatomis bagian yang menjendol, kalau ada lakukan penghalusan dan
pengurangan. Setelah itu di insersikan kepada pasien, pertama cek adaptasi dari gigi
tiruan terhadap mukosa dengan menggunakan kaca mulut, apakah gigi tiruan sudah
beradaptasi dengan baik terhadap mukosa ( tidak terlalu longgar dan tidak terlalu
menekan). Setelah itu cek retensi gigi tiruan, pasien diinstruksikan menggerakkan otot –
otot bibir, wajah dan lidah, serta diinstruksikan menyebut huruf A, I, U, E, O. Setelah itu
cek oklusi pasien, apakah ada traumatik oklusi dengan menggunakan articulating paper
(semua teraan harus sama rata, jika terdapat traumatik asah bagian lereng atau perdalam
fossa). Pengecekkan stabilisasi dengan menginstruksikan pasien untuk melakukan
gerakan prostusif anteroposterior dan lateral kiri kanan, ( jika terdapat sangkutan asah
anasir sesuai prinsip bull). Setelah itu lakukan pengecekkan fonetik terhadap pasien,
pasien diinstruksikan menyebut huruf S, M, R. Selanjutnya penilaian terhadap estetik
dari gigi tiruan, pertama lihat profil wajah pasien, apakah terlalu cembung atau cekung,
lihat sulkus nasolabialis, philtrum, sulkus mentalis apakah sudah terbentuk, lihat
inklinasi penyusunan anasir antero posterior dan lateral, lihat apakah anasir berada 2mm
dibawah low lip line, lihat senyum pasien apakah servikal anasir tepat berada dibawah
high lip line pasien.
3. Setelah selesai intruksikan kepada pasien tentang : keterbatasan dari gigi tiruan, kesulitan
pemakaian gigi tiruan, cara pemeliharaan gigi tiruan, instuksikan juga kepada pasien
untuk mengunyah dengan menggunakan kedua sisi gigi tiruan. Setelah itu lakukan
kontrol 1x24 jam.