Anda di halaman 1dari 10

Makalah

KORUPSI E-ktp
D
I
S
U
S
U
N

Oleh
KELOMPOK 1

Indi rafida

SMA NEGERI 2 MAJENE


TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT Tuhan seru sekalian alam
atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “korupsi”.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari


berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Guru selaku guru
pembimbing Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini, dan rekan-Siswa MTSn yang selalu berdoa
dan memberikan motivasi kepada penyusun.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh


karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah
ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penyusun berharap makalah ini dapat memberikan
wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca pada umumnya dan pada penyusun
pada khusunya

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................................... i

Kata pengantar .................................................................................................... ii

Daftar isi.............................................................................................................. iii

Bab I Pendahuluan .............................................................................................. 1

A. Latar belakang ......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................... 1

C. Tujuan ..................................................................................................... 2

Bab II Pembahasan ............................................................................................ 3

Bab III Penutup ................................................................................................... 7

A. Kesimpulan ............................................................................................. 7

B. Saran ...................................................................................................... 7

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 8


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Program e-KTP dilatarbelakangi oleh system pembuatan KTP
konvensional/nasional di Indonesia yang memungkinkan seseorang dapat memiliki lebih
dari satu KTP. Hal ini disebabkan karena belum adanya basis data terpadu yang
menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Fakta tersebut memberi peluang
penduduk yang ingin berbuat curang dalam hal-hal tertentu dengan menggandakan
KTP-nya. Misalnya dapat digunakan untuk:
1. Menghindari pajak
2. Memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat diseluruh kota
3. Mengamankan korupsi
4. Menyembunyikan identitas (seperti teroris)

Oleh karena itu, didorong oleh pelaksanaan pemerintah elektronik (e-Government) serta
untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kementrian Dalam
Negeri Republik Indonesia menerapkan suatu sistem informasi kependudukan yang
berbasiskan teknologi yaitu Kartu Tanda Penduduk elektronik atau e-KTP.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa hukuman yang tercantum dalam UUD 1945 bagi para pelaku korupsi e-KTP?
2. Bagamaina pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan e-KTP saat ini
2. Untuk memahami hukum seperti apa yang akan diterima bagi para pelaku korupsi
3. Untuk mengetahui bagaimana dampak terhadap aspek ekonomi
BAB II

PEMBAHASAN

Penjabaran Singkat Kasus Mega Korupsi E-KTP :


Kasus KTP elektronik alias e-KTP sudah lama bergulir.
Kasus ini diduga merugikan negara lebih dari Rp2 triliun.
Bahkan, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menilai, kasus
korupsi ini adalah kasus paling serius. Dua tersangka dari
Kementerian Dalam Negeri sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Konsorsium PT PNRI memenangkan tender dengan penawaran
harga Rp5,8 triliun. Padahal, para pesaingnya mengajukan
penawaran lebih rendah, antara Rp4,7 triliun - Rp4,9 triliun. KPK
juga memeriksa banyak pihak. Termasuk para anggota Komisi II
DPR, periode 2009 - 2014.

Bagaimana kronologinya kasus korupsi E-KTP?


Sejak Undang-undang nomor 23 tahun 2006 tentang
Administrasi Penduduk disahkan, data penduduk harusnya sudah
dibangun. Kementerian Dalam Negeri bertanggung jawab atas
administrasi kependudukan ini. Lelang e-KTP ini dimulai pada
2011. Terpidana korupsi M Nazaruddin bahkan membeberkan,
pengaturan lelang ini sudah berlangsung sejak Juli
2010. Akhirnya, pada Juni 2011, Kementerian Dalam Negeri
mengumumkan Konsorsium PT. PNRI sebagai pemenang dengan
harga Rp5,9 triliun. Konsorsium ini terdiri dari Perum PNRI, PT.
Sucofindo (Persero), PT. Sandhipala Arthapura, PT. Len Industri
(Persero), PT. Quadra Solution. Mereka menang setelah
mengalahkan PT. Astra Graphia yang menawarkan harga Rp6
triliun. Tapi banyak pihak menilai janggal munculnya pemenang.
Dalam proses lelang, menurut ICW (Indonesian Corruption
Watch) ada kejanggalan. Tiga hal yang janggal menurut ICW
adalah post bidding, penandatanganan kontrak pada masa
sanggah banding dan persaingan usaha tidak sehat. Post
bidding adalah mengubah dokumen dokumen penawaran setelah
batas akhir pemasukan penawaran. Selain itu, LKPP (Lembaga
Kebijakan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah) menilai, kontrak
itu ditandatangani saat proses lelang tengah disanggah, oleh dua
peserta lelang, Konsorsium Telkom dan Konsorsium Lintas Bumi
Lestari.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan


ada persekongkolan dalam tender penerapan KTP Berbasis NIK
Nasional (e-KTP) Tahun 2011-2012. Pelakunya, menurut KPPU
adalah Panitia Tender, Percetakan Negara Republik Indonesia
(PNRI), dan PT Astra Graphia Tbk. Dalam putusan tersebut,
majelis KPPU membeberkan bentuk-bentuk
persekongkolan yang dilakukan antara PNRI dan Astra Graphia.
Persengkokolan juga dijalin dengan panitia lelang.
KPK mulai menelusuri dugaan korupsi pada 22 April 2014.
Komisi menetapkan “S”, mantan Direktur Pengelola Informasi
Administrasi Kependudukan Ditjen Dukcapil Kemendagri
sebagai tersangka. Enam bulan selepas KPK masuk, MA dalam
putusannya menolak kasasi KPPU tersebut.
Dua setengah tahun jadi tersangka, “S” baru ditahan
pertengahan Oktober lalu. Belakangan, KPK menetapkan
“IR” yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal
Kependudukan dan Catatan Sipil sebagai tersangka. Wakil Ketua
KPK, Basaria Panjaitan meyakini, kasus dugaan korupsi e-KTP
tidak hanya dilakukan oleh dua tersangka itu. Untuk mengusut
kasus ini, tim penyidik KPK telah memeriksa 110 orang yang
dianggap mengetahui proses proyek e-KTP. Banyak tokoh sudah
diperiksa. Di antaranya mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan
Fauzi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Bahkan, Ketua DPR Setya Novanto juga bakal diperiksa.Wakil
Ketua KPK lainnya, Laode M Syarief menyatakan, kasus e-KTP
merupakan salah satu kasus yang menjadi fokus KPK saat ini.

Analisis Aspek Hukum :


 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi secara jelas menyebut unsur pidana wajib dilaporkan ke pihak berwajib. Selain itu,
BPK juga bisa memanfaatkan konsep whistleblower untuk melaporkan adanya dugaan tindak
pidana korupsi yang dilakukan oleh oknum kasus e-KTP ini.
 Berdasarkan UU No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
seorang whistleblower bisa melaporkan indikasi tindak pidana korupsi yang terjadi di dalam
organisasi tempat dia bekerja dan memiliki akses informasi yang memadai atas terjadinya
indikasi tindak pidana korupsi tersebut.
 Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2001 juncto UU No. 31 Tahun 1999, perbuatan korupsi
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat
tahun dan paling lama duapuluh tahun dan denda paling sedikit Rp. 200 juta dan paling
banyak Rp. 1 milyar. Mengenai penerapan pidana mati terhadap terdakwa korupsi dilakukan
dalam keadaan tertentu.
 Berdasarkan penjatuhan pidana bagi perkara korupsi yang diakomodir dalam RKUHP dalam
BAB XXXI menganai tindak pidana jabatan (Pasal 661 – Pasal 687 ) dengan ancaman
pidana paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling banyak kategori V(
Pasal 80 ayat 3 huruf e ,dengan denda sebesar Rp. 1.200.000.000,00).
 Berdasarkan pada BAB XXXII mengenai tindak pidana korupsi ( Pasal 668 – Pasal 701 )
cukup bervariatif mulai dari pidana penjara paling singkat satu tahun, lima tahun, tujuh
tahun, sembilan tahun, dan paling lam 15 tahun serta pemberatan pidana satu per tiga masa
tahanan apabila merugikan keuangan dan perekonomian negara ( Pasal 702 ). Dan denda
paling sedikit kategori I (Pasal 80 ayat 3 huruf a dengan denda sebesar Rp.6.000.000 ) paling
banyak kategori VI (Pasal 80 ayat 3 huruf f dengan denda sebesar Rp. 12.000.000.00).

Anlisis Aspek Ekonomi:


KPK baru mengumumkan total kerugian negara dalam
kasus ini pada 2016, yakni sebesar Rp 2,3 triliun. Dari angka
tersebut, sebanyak Rp 250 miliar dikembalikan kepada negara
oleh 5 korporasi, 1 konsorsium, dan 14 orang. Nilai kerugian
negara dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP). Angkanya pun sangat fantastis yang lebih dari Rp 2
triliun.
Selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), Sugiharto diduga melakukan perbuatan
melawan hukum dan atau penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara
terkait pengadaan proyek tersebut. Nilai proyek tersebut mencapai Rp6 triliun dan saat itu
diperkirakan kerugian negara sebesar Rp1,12 triliun.

Dari segi ekonomi sendiri, korupsi akan berdampak banyak perekonomian negara
kita. Yang paling utama pembangunan terhadap sektor - sektor publik menjadi tersendat.
Dana APBN maupun APBD dari pemerintah yang hampir semua dialokasikan untuk
kepentingan rakyat seperti fasilitas-fasilitas publik hampir tidak terlihat realisasinya,
kalaupun ada realisasinya tentunya tidak sebanding dengan biaya anggaran yang diajukan..
Contoh kecilnya saja, jalan - jalan yang rusak dan tidak pernah diperbaiki akan
mengakibatkan susahnya masyarakat dalam melaksanakan mobilitas mereka termasuk juga
dalam melakukan kegiatan ekonomi mereka. Jadi akibat dari korupsi ini tidak hanya
mengganggu perekonomian dalam skala makro saja, tetapi juga mengganggu secara mikro
dengan terhambatnya suplai barang dan jasa sebagai salah satu contohnya.
Hal ini akan menambah tingkat kemiskinan, pengangguran dan juga kesenjangan
sosial karena dana pemerintah yang harusnya untuk rakyat justru masuk ke kantong para
pejabat dan orang - orang yang tidak bertanggung jawab lainnya. Kebijakan-kebijakan
pemerintah yang tidak optimal ini akan menurunkan kualitas pelayanan pemerintah di
berbagai bidang. Menurunnya kualitas pelayanan pemerintah akan mengurangi kepercayaan
masyarakat terhadap pemerintah. Kepercayaan masyarakat yang semakin berkurang kepada
para pejabat negara.
Korupsi mengurangi pendapatan dari sektor publik dan meningkatkan pembelanjaan
pemerintah untuk sektor publik. Korupsi mengurangi kemampuan pemerintah untuk
melakukan perbaikan dalam bentuk peraturan dan kontrol akibat kegagalan pasar (market
failure). Korupsi juga menghambat pendapatan pajak. Kasus mega korupsi e-KTP,
pembuatan ktp di seluruh Indonesia jadi terhambat bahkan sampe berbulan-bulan e-KTP
belom selesai. Pada tahun 2017 ini yang sedang dilaksanakan pilkada serentak, banyak
warga yang kehilangan hak suara memilih pemimpin daerah karena tidak adanya e-KTP.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
a) KPK sudah mengetahui siapa oknum dalam kemendagri yang telah menyelewengkan
dana e-KTP dan sekarang mereka sedang memproses hukuman apa yang berlaku di negeri
ini untuk para oknum kemendagri tersebut.
b) Dan pemerintah saat ini sedang memperbaiki kondisi keuangan di Indonesia yang sedang
tidak stabil akibat penyelewengan dana e-KTP.
DAFTAR ISI

http://news.liputan6.com/read/2905485/suap-e-ktp-kpk-periksa-mantan-sekjen-
kemendagri-dan-dirut-pnri
http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/3058/1/dugaan.korupsi.proyek.e-ktp
http://news.metrotvnews.com/hukum/ob37EYPb-ketua-konsorsium-proyek-ktp-el-
digarap-kpk