Anda di halaman 1dari 7

Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu – B

UJI KERENTANAN NYAMUK


(Susceptibility Test)

Disusun oleh:

Kelompok 3

Tingkat 2 DIV

1. Fakhry Muhammad 5. Larasati Wijayanti

2. Fathul Fitriyah Rosdiyani 6. Latri Hidayah

3. Erni Tri Wulandari 7. Wahyu Widi Santoso

4. Indah Nur Abidah 8. Widhy Reza Putra

KESEHATAN LINGKUNGAN

POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II

2014
I. PENDAHULUAN
Pengendalian vektor dengan cara kimiawi, khususnya pengendalian dengan
menggunakan pestisida baik digunakan untuk pengendalian nyamuk dewasa maupun
jentik akan merangsang terjadinya seleksi pada populasi nyamuk yang menjadi
sasaran. Nyamuk atau jentik yang rentan terhadap pestisida bersangkutan akan
mati sedangkan yang kebal tetap hidup.
Jumlah yang hidup lama kelamaan bertambah banyak sehingga terjadilah
perkembangan kekebalan nyamuk atau jentik terhadap insektisida bersangkutan.
Peristiwa kekebalan ini merupakan salah satu penghambat utama pengendalian
vektor dengan pestisida.. Hambatan ini dirasakan sangat mengganggu keberhasilan
usaha yang dilakukan, sehingga perlu dilakukan suatu uji untuk mengetahui ada
tidaknya kekebalan vektor terhadap pestisida tertentu yang digunakan untuk
pengendalian Uji kerentanan ini dapat dilakukan terhadap stadium dewasa maupun
terhadap jentik.

II. TUJUAN
1. Untuk mengetahui tingkat keterpaparan insekta terhadap insektisida pada
periode waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui daya toksiditas insektisida terhadap kuantitas insekta dalam
periode waktu tertentu.
3. Untuk menentukan kuantitas sinergisme insektisida yang efektif terhadap
insekta.

III. Tinjauan Teori


Penyakit yang ditimbulkan oleh vektor nyamuk merupakan penyakit yang hingga saat
ini menjadi masalah kesehatan dan merupakan penyakit akut menular dengan angka
kesakitan dan angka kematian tertinggi di Indonesia. Salah satu mengendalikan populasi
nyamuk dewasa dan jentik nyamuk adalah dengan menggunakan pestisida.
Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk membunuh
serangga. Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku,
perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis
lainnya hingga berujung pada kematian serangga pengganggu tanaman. Insektisida adalah
termasuk salah satu jenis pestisida.
Namun penggunaan insektisida (untuk memberantas nyamu) yang kurang terkendali
akan berakibat terjadinya resistensi pada nyamuk. Secara prinsip mekanisme resistensi ini
akan mencegah insektisida berikatan dengan titik targetnya atau tubuh serangga menjadi
mampu untuk mengurai bahan aktif insektisida sebelum sampai pada titik sasaran.
Sedangkan jenis atau tingkatan resistensi itu sendiri meliputi tahap rentan, toleran baru
kemudian tahap resisten.
Resistensi insektisida merupakan suatu kenaikan proporsi individu dalam populasi
yang secara genetik memiliki kemampuan untuk tetap hidup meski terpapar satu atau
lebih senyawa insektisida. Peningkatan individu ini terutama oleh karena matinya
individu-individu yang sensitif insektisida sehingga memberikan peluang bagi individu
yang resisten untuk terus berkembangbiak dan meneruskan gen resistensi pada
keturunannya.
Untuk menilai dan mengukur tingkat resistensi vektor nyamuk ini dapat dilakukan
dengan melakukan uji susceptibility. Pengujian ini digunakan untuk menguji resistensi
nyamuk terhadap insektisida. Nyamuk dinyatakan mati bila sudah tidak mampu bergerak
lagi, nyamuk yang masih bergerak dan tidak dapat terbang dinyatakan sebagai nyamuk
yang lumpuh atau pingsan. Secara garis besar metode penilaian uji, dilakukan dengan
menghitung jumlah nyamuk yang mati setelah terpapar insektisida.

IV. ALAT DAN BAHAN


1. Tabung Percobaan
o Tabung Uji
o Tabung Kontrol
2. Becker Glass
3. Kertas saring
4. Kain kassa
5. Masker
6. Insekta ( nyamuk dewasa )
7. Insektisida (Mustang 25 EC)
8. Pipet
9. stopwatch
10. Aspirator
11. Hygrometer
12. Kotak penyimpan nyamuk
13. Penjepit
14. Air gula dan kapas

V. CARA KERJA
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Masukan nyamuk 15 ekor insekta ke dalam tabung kontrol selama 15 menit
3. Lakukan pengamatan pada tabung kontrol analisa kuantitas insekta pada
tabung tersersebut / jika lebih dari satu serangga percobaan dianggap tidak
layak .
4. Kemudian masukkan insekta ke dalam tabung uji selama 20 menit.
5. Siapkan kertas saring dan lakukan pemulasan / filtrasi menggunakan
mustang 25 EC beri 4 tetes pada tabung uji .
6. Lakukan pengamatan pada tabung uji selama 20 menit analisa insekta
yang terpapar dan mati.
7. Pindahkan kembali ketabung kontrol / sebelum dipindahkan kertas saring
sudah dilepas selama 15 menit.
8. Lakukan pengamatan pada tabung kontrol ke dua kembali selama 15 menit
analisa insekta yang terpapar dan mati.

VI. INTERPRETASI DATA


Apabila persentasi kematian pada kelompok pembanding (kontrol) 5 – 10 %, maka fakta
koreksi harus digunakan Rumus Abbot.
Rumus Abbot :

% ∑ 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑢𝑗𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑢𝑗𝑖 − % ∑ 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎
𝑥100%
100 − % ∑ 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎
Tetapi apa bila kematian pada kelompok kontrol ( pembanding ) lebih besar dari
20% maka uji tersebut diyatakan gagal ( harus diulang ) apabila kematian nyamuk
Derap Tingkat Keterpaparan Abbot Formula ( RA ).
1. Tingkat Keterpaparan Rendah 30%
2. Tingkat Keterpaparan Sedang 30 - 60 %
3. Tingkat Keterpaparan Tinggi 60 - 80%
4. Tingkat Keterpaparan Sangat Tinggi 80%

VII. HASIL PENGAMATAN


Tabung Kontrol 1 Tabung Uji Tabung Kontrol 2
Jenis (15 Menit) (20 Menit) (15 Menit)
No Insekta Insekta Hidup Mati Pingsan Hidup Mati Pingsan Hidup Mati Pingsan
Mustang Nyamuk
1 25 EC Culex 15 - - - 15 - - - -

Analisa Hasil
 Insektisida : Mustang 25 EC
 Insekta : Nyamuk Culex (15 ekor)

Tabung Kontrol 1 = 15” = 0/15 x 100% =0%


Tabung Uji = 20” = 15/15 x 100% = 100 %
Tabung Kontrol 2 = 15” = 0/15 x 100% = 0%
RA1 (Rumus Abbot) =

% ∑ 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑢𝑗𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑢𝑗𝑖 − % ∑ 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎
𝑥100%
100 − % ∑ 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎

100 %−0 %
RA 1 = 𝑥 100 % = 100 %
100−0
 Rumus Abbot Total = RA 1 = 100% = 100% ( x )
1 1
RA1 = 100% - 100% = 0%

RA Total = RA 1 = 0 = 0 % ( y ) Hasil rata – rata populasi


1 1

 Kesalahan Presentasi (KP)


y 0%
KP = x 100% = x 100% = 0%
x 100%

 Kesalahan Relatif (KR)

KR1 = x + y= 100% + 0 % = 100%

KR2 = x – y = 100% - 0% = 100%


VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan pada tabung
kontrol I ( 15 Menit ) tabung uji ( 20 Menit ) dan tabung kontrol II ( 15 Menit )
didapat Rumus Abbot Total adalah 100% jika dilihat dari derap tingkat
keterpaparan Abbot Formula maka tingkat keterpaparan nyamuk dewasa dengan
menggunakan insektisida (Mustang 250EC) sangat tinggi.

B. Saran
1. Karena tingkat keterpaparan sangat tinggi, maka konsentrasi penggunaan
insektisida terhadap insekta (nyamuk dewasa) harus di kurangi. Tujuan nya
adalah untuk mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan
2. Perlu ada nya penelitian untuk memastikan dosis yang tepat dalam penggunaan
insektisida (Mustang 250 EC) agar hasil yang di dapat lebih efektif dan efisien.
3. Pada saat pemberian insektisida juga seharusnya di sesuaikan dengan luas
ruangan dan perkiraan jumlah insekta (nyamuk)