Anda di halaman 1dari 8

BAB 1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Tabel Hasil Pengamatan

Dari hasil praktikum pengukuran kadar air dari kentang diperoleh tabel
sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Pengukuran Berat dan Kadar Air Kentang


Berat
Berat
cawan +
cawan +
Berat sempel Berat Kadar Total
Sempel setelah Kadar air
Cawan sebelum sempel air solid
pengeri- (%bb)
(gram) dikering- (gram) (%bk) (%bb)
ngan
kan
(gram)
(gram)
((b-a)-(c-a)/ (m/100- (1-KA).
Kentang (a) (b) (c) (b)-(a)
(b-a)).100% m).100% 100%
K1 3.91 13.90 5.86 9.99 80.48 412.29 19.52
K2 3.93 13.93 5.86 10 80.6 415.46 19.4
K3 3.94 13.94 5.74 10 82 455.56 18
K4 3.96 13.95 5.74 9.99 81.18 431.34 18.82
Rerata 3.93 13.93 5.8 9.99 81.065 428.66 18.93

1.2 Hasil dan Pembahasan


Pengukuran kadar air pada kentang dilakukan dengan metode oven
pengering dengan suhu 105oC selama 6 jam. Hasil dari pengukuran kadar air
kentang diperoleh beberapa data yang nampak pada tabel 1 di atas. Pengukuran
persentase kadar air pada 4 sempel kentang dapat dilihat pada diagram batang
dibawah ini.

Diagram 1. Persentase Kadar Air Basis Basah pada Kentang

Diagram 2. Persentase Kadar Air Basis Kering pada Kentang

1
Diagram di atas menggambarkan nilai persentase kadar air kentang terbesar yaitu
pada sempel K3 dengan nilai 82% basis basah dan 455.56% basis kering.
Sedangkan, persentase kadar air terkecil yaitu pada sempel K1 dengan nilai
80.48% basis basah dan 412.29% basis kering. Kadar air pada kentang tergolong
tinggi karena dari hasil praktikum diperoleh rata-rata 81% basis basah.
Kadar air merupakan salah satu sifat fisik bahan yang menunjukan
banyaknya kandungan air di bahan tersebut (Hani, 2012). Kadar air dapat
dinyatakan menjadi 2 dalam persen berat basah/wet basis (bb) dan persen berat
kering/dry basis (bk). Kadar air berat basah memiliki nilai maksimum yaitu
100%, sedangkan kadar air berat kering dapat dapat lebih dari 100% (Obin, 2001).
Kadar air yang sering dipakai untuk menentukan kandungan air dalam suatu
bahan menggunakan berat basah, sedangkan kadar air berat kering kabanyakan
hanya digunakan untuk penelitian.
Kadar air berat basah (bb) merupakan perbandingan berat air yang ada
dalam bahan dengan berat total bahan, sedangkan kadar air basis kering (bk)
merupakan perbandingan antara berat air dalam bahan dengan berat padatan/solid
yang ada dalam bahan. Kadar air berat basah dan berat kering dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:.
Dimana: m = kadar air basis basah (%bb)

M = kadar air basis kering (%bk)

Wm = berat air dalam bahan (g)

Wd = berat solid dalam bahan (g)

2
Kadar air basis basah dapat dikonversi menjadi kadar air basis kering yaitu
dengan rumus:

Sedangkan, untuk mengkonversi kadar air basis kering ke basis basah


menggunakan rumus:

Dari rumus di atas nilai pembagi dari kadar air basis basah lebih besar dari
basis kering. Jadi secara teoritis nilai kadar air basis basah lebih kecil dari pada
basis basah dan sangat memungkinkan apabila kadar air basis kering dapat
melebihi nilai 100% seperti yang ditunjukan grafik 1 di bawah ini.
Grafik 1. Perbandingan Kadar Air BB% dengan BK%

Dari grafik 1 di atas menunjukan persentase kadar air basis kering lebih besar dari
pada basis basah pada saat jumlah air yang terkandung dalam bahan sama. Faktor
pembagi kadar air basis basah yaitu jumlah air+solid pada bahan sedangkan pada
kadar air basis kering faktor pembaginya hanya jumlah solid.
Pada proses pengukuran kadar air dengan mengunakan metode oven
pengering setelah proses pengeringan bahan perlu dimasukan ke eksikator. Fungsi
eksikator sendiri yaitu untuk mendinginkan bahan. Selain untuk mengeringkan
bahan fungsi dari eksikator lainnya yaitu untuk menjaga bahan supaya tetap
kering, oleh karena itu untuk pendinginan pada pengukuran kadar air
menggunakan eksikator bukan dengan cara dikipasi atau dengan cara yang
lainnya.

3
BAB 2. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum di atas dapat disimpulkan bahwa penentuan kadar air
dengan metode oven pengering di maksudkan untuk mengetahui kandungan air
dan solid pada bahan. Nilai kadar air yang ada pada kentang yaitu sekitar 81% bb
sehingga tergolong bahan hasil pertanian yang mengandung air cukup tinggi.

4
DAFTAR PUSTAKA

Hani, Agus. M. 2012. “Pengeringan Lapisan Tipis Kentang (Solanum tuberosum


L.) Varietas Granola”. Tidak diterbitkan. Skripsi. Diambil dari
http://pepitaharyanti.files.wordpress.com/2010/11/skripsi-neni.pdf [9 Mei
2014].

Obin, Rahmawan. 2001. Pengeringan, Pendinginan dan Pengemasan Komoditas


Pertanian. Direktorat Pendidikan Kejuaraan. Jakarta.

5
LAMPIRAN

Gambar 1. Bahan yang digunakan

Gambar 2. Proses Pengecilan Bahan (diparut) sebelum di Oven

Gambar 3. Kentang sebelum di Oven Pengering

6
Gambar 4. Proses Penimbangan Wadah

Gambar 5. Proses Penimbangan Bahan

Gambar 6. Proses Pegeringan bahan dengan Oven Pengering

7
Gambar 7. Proses Mendinginkan Bahan dengan Eksikator

Gambar 8. Kentang Setelah di Oven