Anda di halaman 1dari 5

Nama : Era Okta Risa

NIM : 05101381621042
Prodi : Ilmu Tanah

SEJARAH PERKEMBANGAN KESUBURAN TANAH

A. Sejarah Perkembangan Penelitian Kesuburan tanah


Pada zaman dahulu kala kesuburan tanah diawali dengan pengenalan
mengenai tanah subur, pengenalan cara bercocok tanam dan penemuan bahan-bahan
penyubur tanah. Salah satu daerah di permukaan bumi yang memperlihatkan
permukaan perkembangan civiliasi ialah Mesopotamia, terletak di antara sungai-
sungai Tigris dan Euphrat yang sekarang kita kenal dengan nama Irak. Dicatat kira-
kira 2500 tahun sebelum masehi daerah ini sangat makmur penduduknya, tanah cukup
subur dan dilaporkan setiap satu biji tanaman yang ditanamkan pada tanah ini
memberikan hasil panen antara 86 hingga 300 biji. Tahun 300 sebelum Masehi
Theoprastus menulis tentang daerah ini dan melaporkan kesuburan tanah aluvial
sungai Tigris dibentuk dari endapan debu yang berasal dari genangan sungai yang
kadang-kadang cukup lama.
Pada suatu saat manusia itu mempelajari suatu kenyataan di lapangan, bahwa
suatu tanah Yang ditanami terus-menerus suatu saat akan menghasilkan produksi
yang tidak lagi memuaskan. Usaha penambahan pupuk kandang ataupun pupuk hijau
ke tanah ini untuk perbaikan kesuburan tanahnya, sebenarnya berkembang sebagai
akibat hal tersebut di atas tadi,
Xenophon yang hidup antara tahun 434-355 SM melaporkan, bahwa suatu
usaha perkebunan akan mengalami kegagalan kalau dalam usaha pertaniannya itu
pupuk kandang sama sekali tidak dilibatkan. Xenophon menganggap tidak ada
sesuatunya sebaik pupuk kandang. Theophrastus (372-287 SM) merekomendasikan
pemakaian bahan kompos sebanyak-banyaknya untuk memupuk tanah yang tidak
subur. Sebaliknya ia menganjurkan agar hati-hati dalam penggunaan kompos terhadap
tanah yang subur.

B. Kesuburan Tanah Menjelang Abad Ke-19


Kebanyakan tulisan-tulisan yang disiarkan pada abad ke XVII dan XVIII
merefleksikan gagasan, bahwa tetumbuhan itu dibangun oleh satu zat (substance) saja.
Pada umumnya selama periode ini penelitipeneliti itu menitik beratkan risetnya
terhadap apa sebenarnya yang menyusun tanaman dan dari mana asalnya. Barulah
menjelang penutupan abad ke XVIII, Francis Home mengemukakan, bahwa bukan
satu seperti air tanah, zat berasal dari udara, garam-garam dan minyak. Home merasa,
masalah pertanian adalah masalah hara yang esensial untuk pertumbuhan tanam-
tanaman. Beliau juga melakukan percobaan-percobaan pot dalam usaha mengukur
pengaruh penggunaan zat-zat yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman dan
melakukan analisa kimia bahan tanaman. Hasil penelitiannya dianggap sebagai batu
loncatan menuju ke pertanian ilmiah.

C. Kemajuan Penelitian Kesuburan Tanah Selama Abad Ke-19


 Awal pengetahuan tentang respirasi dan fotosintesis
Theodore de Saussure seorang ilmuan mendemonstrasikan bahwa tanaman
mengabsorpsi oksigen dan membebaskan CO2 tema sentral respirasi. Sebagai
tambahan beliau mengemukakan pula, bahwa tanaman dapat mengabsorpsi CO2 dan
membebaskan O2 jika ruangan diberi cahaya. Jika tanaman ditempatkan di dalam
ruangan tanpa CO2, maka tanaman itu akan mati.
• Pengenalan sumber unsur hara dalam tanah
Jeam Baptise Boussingault (1802 – 1882), seorang ahli peneliti dari Perancis.
menerapkan teknik percobaan yang hati-hati sekali seperti yang dilakukan dee
Saussure dalam hal penimbangan, analisis bahan pupuk kandang yang ditambahkan
ke petak percobaan serta dengan cermat memanen tanamannya. Beliau mencatat
keseimbangan hara yang memperlihatkan berapa banyak macam unsur hara tanaman
yang berasal dari air hujan, tanah dan udara, kemudian menganalisiskan komposisi
tanamannya pada tingkat pertumbuhan tertentu.
• Awal percobaan lapangan
Dari pertengahan abad ke XIX hingga ke awal abad ke XX, dianggap
merupakan periode waktu dimana dirasakan kemajuan yang lebih pesat tentang
nutrisi tanaman dan pemupukan. Diantara orang yang bekerja di periode waktu ini
perlu dicatat Jeam Baptise Boussingault (1802 – 1882), seorang ahli peneliti dari
Perancis. Ia mendirikan sebuah kebun percobaan di Alsace, Perancis. Di kebun ini
beliau banyak melakukan percobaan lapangan dengan plot (petak) percobaan seperti
yang lazim kita lakukan di zaman sekarang. Beliau menerapkan teknik percobaan
yang hati-hati sekali seperti yang dilakukan dee Saussure dalam hal penimbangan,
analisis bahan pupuk kandang yang ditambahkan ke petak percobaan serta dengan
cermat memanen tanamannya. Beliau mencatat keseimbangan hara yang
memperlihatkan berapa banyak macam unsur hara tanaman yang berasal dari air
hujan, tanah dan udara, kemudian menganalisiskan komposisi tanamannya pada
tingkat pertumbuhan tertentu. Boussingault disebut oleh banyak orang sebagai
“Bapak Percobaan Lapangan”.
• Hukum minimum Liebig
Hukum Minimum (The Law of the Minimum), yang mengemukakan, bahwa
pertumbuhan tanaman dibatasi oleh unsur hara tanaman yang terdapat dalam jumlah
yang sangat rendah, sedangkan faktor lainnya berada dalam keadaan cukup. Konsep
ini mendominir jalan pikiran peneliti-peneliti pertanian selama waktu yang lama dan
hingga kini. Beliau dianggap merupakan Bapak Kimia Pertanian. Berbarengan
dengan penemuan Liebig itu, di Inggris oleh J.B. Lawes dan J.H. Gilbert dibangun
pula pada tahun 1843 Stasiun Percobaan di Rothamsted.

D. Perkembangan Penelitian Kesuburan Tanah di Amerika Serikat


Antara tahun 1825 – 1945, Edmond Luffin yang dipercayai merupakan orang
yang pertama sekali menggunakan bahan kapur secara rasional pada tanahtanah di
daerah basah (humid region) di Amerika Serikat dengan maksud menggantikan unsur-
unsur kesuburan tanah yang hilang oleh panen atau tercuci.Kemudian gagasan
mengekstraksi contoh tanah dengan menggunakan asam-asam untuk menetapkan
status kesuburan suatu tanah telah dirintis oleh E.W. Hilgard (1833-1916).Peneliti
lainnya di Amerika Serikat dapat disebutkan Milton Whitney dan C.G. Hopkins yang
penelitian mereka itu bertalian dengan status unsur hara dalam tanah.
Setelah memasuki abad yang ke XX, di Amerika Serikat banyak didirikan
pusat penelitian pertanian dengan melakukan berbagai percobaan. Hasil percobaan
umumnya menyimpulkan besarnya keuntungan yang dicapai jika pemupukan tanaman
dilakukan. Unsur hara essensial yang sering kekurangan dan diperlukan dalam jumlah
relatif banyak adalah N, P dan K, serta unsur lainnya. Penggunaan data uji tanah
dalam merekomendasi pemupukan kian lama kian bertambah populer. Kemajuan
petani itu amat ditentukan sampai sejauhmana riset yang baik mutunya
dikembangkan. Setiap problem yang baru dipecahkan oleh suatu penelitian,
adakalanya akan menimbulkan kasus lain untuk dipelajari.

E. Perkembangan Kesuburan Tanah di Indonesia


1. Kegiatan Pertanian Indonesia Tergantung terhadap alam
a) Menggunakan alat pertanian dari batu dan bercocok tanam beberapa jenis
tanaman
b) Berkembangnya masyarakat pra- pertanian (menetap, bercocok tanam dan
beternak) penggunaan lahan lebih intensif (2 kali rotasi tanaman), (i) pemicu
revolusi pertanian: perubahan cara hidup dari berburu makanan menjadi
bercocok tanam secara menetap, (ii) ekstersifikasi pertanian, (iii) tenaga kerja
berharga. shifting cultivation hutan ditebang kemudian dibakar, setelah itu
dibiarkan untuk waktu beberapa lama

2. Revolusi Hijau
Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk
menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya
pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara
berkembang, terutama di Asia (Norman Borlaug). Revolusi hijau mendasarkan diri
pada empat pilar penting: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk
kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan
organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam
berkualitas.
Dampak + revolusi hijau:
1. meningkatkan produktifitas tanaman pangan
2. peningkatan produksi pangan menyebabkan kebutuhan primer masyarakat
industri menjadi terpenuhi
3. indonesia berhasil mencapai swasembada beras
4. kualitas tanaman pangan semakin meningkat
Dampak – revolusi hijau:
1. Penurunan keanekaragaman hayati.
2. Penggunaan pupuk terus menerus menyebabkan ketergantungan tanaman pada
pupuk.
3. Penggunaan pestisida menyebabkan munculnya hama strain baru yang
resisten.
4. Berbagai organisme penyubur tanah musnah
5. Kesuburan tanah merosot atau tandus
6. Tanah mengandung residu (endapan) pestisida
7. Hasil pertanian mengandung residu pestisida
3. Pertanian Berkelanjutan
Yaitu pertanian yang dapat mengarahkan pemamfaatan oleh manusia lebih
besar, efisiensi penggunaan sumberdaya lahan lebih tinggi besar dan seimbang
dengan lingkungan, baik manusia maupun dengan hewan. Sedangkan multidisplin
ilmu tanah berkelanjutan atau Sustainable Soil Management (SSM). Menurut
Steiner (1996) dalam Winarso (2005) ada tiga aspek sistem pengolahan tanah
berkelanjutan yaitu:
1. Aspek bio fisik yaitu pengolahan tanah berkelanjutan harus memelihara da
meningkatkan kondisi fisik dan biologi tanah untuk produksi tanaman dan
keragaman hayati (biodiversity).
2. Aspek sosial budaya yaitu pengolahan tanah berkelanjutan harus cocok atau
sesuai dengan kebutuhan manusia baik secara sosial dan budaya pada tingkatan
nasional dan regional.
3. Aspek ekonomi yaitu pengolahan tanah berkelanjutan harus mencakup semua
penggunaan lahan.
Pertanian berkelanjutan Salah satu aspek teknis yang terpenting pada pertanian
berkelanjutan baik di negara maju maupun berkembang adalah peningkatan
efisiensi pupuk. Peningkatan efisiensi pupuk akan dapat mengurangi pemakaian
pupuk dan biaya produksi, serta akan menurunkan resiko permasalahan
lingkungan. Mengenai permasalahan lingkungan ini dapat di contohkan pada
degradasi dan polusi tanah. Tanah yang digunakan untuk pertanian mengalami
penurunan kesuburannya karena berbagai faktor antara lain erosi, terpolusi, tidak
seimbang unsur hara dalam tanah, adanya ketergantungan tanah terhadap masukan
aspek pupuk, pestisida dan produksi tanaman lebih rendah.