Anda di halaman 1dari 35

Kiprah KH Fakhruddin,

Putra Lurah Keraton,


Membesarkan
Muhammadiyah Reporter: Agung DH | 22 November, 2017 | tirto.id
Kebijakan eksternal Muhammadiyah dipengaruhi peran Fakhruddin sebagai wakil ketua pasca-
Ahmad Dahlan
Fakhruddin, yang pernah dekat dengan orang-orang komunis, adalah simpul
penting KH Ahmad Dahlan dalam organisasi Muhammadiyah pada awal abad 20

tirto.id - Lebih dari seabad silam ketika Ahmad Dahlan pulang dari Mekkah, Haji
Hasyim menjadi lurah Keraton. Mereka sama-sama tinggal di kampung Kauman,
sebelah barat Keraton Yogyakarta. Di kampung ini gagasan “Islam berkemajuan”
bersemi dan berkembang pada awal abad 20.
Sedari awal Hasyim adalah seorang pendukung gagasan Ahmad Dahlan. Kepada
Dahlan, Hasyim menyerahkan kelima anaknya untuk belajar mengaji: Bagus
Hadikusumo, Fakhruddin, Jasimah, Syuja’, dan Muhammad Zain.
Setelah dewasa, kelima anak Hasyim menjadi sosok penting dalam
pengembangan Muhammadiyahpada era pergerakan di tanah Hindia. Jasimah
merintis 'Aisyiyah—organisasi perempuan di bawah naungan Muhammadiyah;
Syuja’ menjadi salah satu pendiri Penolong Kesengsaraan Umum (PKU)
Muhammadiyah; Fakhruddin mengembangkan jejaring dakwah dan politik; dan
Bagus Hadikusumo adalah salah satu anggota BPUPKI yang mendukung Piagam
Jakarta.
Pada masa awal pendirian Muhammadiyah, Ahmad Dahlan bersama Fakhrudin,
Syuja’, Tamim, Jisyam, Syarkawi, dan Abdul Gani masuk sebagai
anggota Boedi Oetomo—salah satu organisasi modern paling awal di Hindia
Belanda.
Ahmad Faizin Karimi dalam Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad
Dahlan (2011: 150) menduga, masuknya ketujuh orang itu merupakan salah satu
syarat yang diajukan Boedi Oetomo guna membantu mengurus perizinan badan
hukum Muhammadiyah kepada pemerintah kolonial Belanda.
Namun, Muhammadiyah baru mendapatkan status badan hukum dari Gubernur
Jenderal Belanda melalui surat ketetapan Gouvernement Blesuit No. 81 tertanggal
22 Agustus 1914, atau 21 bulan setelah organisasi ini berdiri.
Fakhruddin belakangan tidak aktif lagi di Boedi Oetomo. Sekitar 1914, ia justru
bergabung dengan Inlandsche Journalisten Bond (IJB), organisasi jurnalis
bumiputera, bersama Mas Marco Kartodikromo. Marco adalah salah satu anak
didik Tirto Adhi Soerjo, pendiri Medan Prijaji, serta salah satu pengurus Sarekat
Islam (SI) Surakarta bersama Samanhudi dan Sosrokurnio.
IJB yang digerakkan oleh pengurus SI Surakarta menerbitkan Doenia
Bergerak. Koran mingguan ini dimodali para pedagang batik di Laweyan dan
Kauman Surakarta.

Pasang Surut Hubungan Misbach-Muhammadiyah

Di perkumpulan wartawan bumiputera itulah Fakhruddin muda belajar jurnalistik


sekaligus bersentuhan dengan pengurus SI dan tokoh-tokoh radikal, salah satunya
Haji Misbach, seorang tokoh Islam di Surakarta yang mengadopsi metode sosialis-
komunis dalam gerakan politiknya. Misbach tertarik pada jurnalistik untuk
mempropagandakan pemikiran Islam-komunis.
Dari sanalah, saat Misbach meminta bantuan Marco menerbitkan Medan
Moeslimin pada 15 Januari 1915, Fakhruddin terlibat sebagai salah satu agen koran
itu di Kauman, Yogyakarta. Miscbah juga mendirikan hotel Islam, toko buku, dan
sekolah agama modern, dan mengadakan pertemuan tablig.
Berbarengan penerbitan Medan Moeslimin, Ahmad Dahlah menerbitkan Soewara
Moehammadijah. Pada masa awal majalah Muhammadiyah ini dibentuk,
Fakhruddin masih belajar bersama Marco dan Misbach. Ia menjadi penghubung
antara pemikiran orang-orang Kauman Surakarta dan Yogyakarta
“Dari segi perhatian dan kegiatannya, Misbach banyak memiliki persamaan
dengan Kiai Haji Dahlan, yang bersama muridnya, Haji Fakhruddin, memang
dikenalnya baik,” tulis Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak (1997: 175).
Belakangan, ketika SI Surakarta mulai surut dan Marco dipenjara karena delik
pers, Fakhruddin semakin dekat dengan Misbach dan kelompok SI Surabaya di
bawah pengaruh Tjokroaminoto. Terlebih ketika koran Djawi Hiswara yang
dikelola Martodarsono menerbitkan artikel kontroversial, “Nabi Muhammad
Minum Ciu”, pada edisi Januari 1918.
Perkara ini berujung pada pembentukan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad
(TKNM) oleh Tjokroaminoto, yang didukung Misbach dan Muhammadiyah. Pada
saat bersamaan, Fakhruddin dan Ahmad Dahlan merintis berdirinya Hisbull
Wathan (HW), organisasi kepanduan Muhammadiyah.
“HW berdiri tahun 1918, terinspirasi dari Netherland Padvinder di Pura
Mangkunegaran Solo,” kata Mu’arif, redaktur eksekutif Suara Muhammadiyah,
kepada Tirto
Amelia Fauzia dalam Faith and the State: A History of Islamic Philanthropy in
Indonesia (2013: 148) menulis bahwa laporan donasi keuangan untuk TKNM
dirilis oleh Soewara Moehammadijah dan Oetoesan Hindia, koran milik SI
Surabaya. Klaim Tjokro, TKNM mampu menghimpun dukungan 35 ribu anggota
dan 300 gulden dari umat muslim di Hindia Belanda.
Dukungan yang besar ini membuat Misbach membayangkan TKNM menjadi salah
satu kekuatan mumpuni umat Islam untuk melakukan perlawanan konkret terhadap
pemerintah kolonial. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: TKNM menjadi alat
“tawaran politik” Tjokroaminoto kepada Belanda supaya ia bisa masuk
keanggotaan Volksraad alias Dewan Rakyat.
Muhammadiyah yang tak terlibat politik praktis mendapatkan keuntungan dari
langkah politik Tjokroaminoto. Setidaknya, setelah kongres Central Sarekat Islam
(CSI) di Surabaya pada 1919, Fakhruddin—yang mendapat kepercayaan dari
Ahmad Dahlan untuk memimpin majelis tablig Muhammadiyah—ditunjuk sebagai
Komisaris CSI.
Keterlibatan Fakhruddin dalam SI semakin kuat saat CSI di ambang perpecahan
akibat perbedaan ideologis antara kelompok komunis dan Islam pada 1920.
Konflik ini merembet pada isu disiplin partai—yakni upaya pengurus CSI untuk
membersihkan tubuh SI dari pengaruh orang-orang SI Semarang, Semaoen, dan
kawan-kawan. Hal ini membuat orang-orang SI Semarang meradang. Mereka
menuding balik Tjokroaminoto menggelapkan dana SI.
Kisruh SI mendorong Agus Salim dan Soerjopranoto memindahkan pusat CSI dari
Surabaya ke Yogyakarta dengan Fakhruddin ditunjuk sebagai bendaharanya. Pada
saat itulah terjadi persekutuan aneh di antara Soerjopranoto, aktivis buruh
sekaligus anggora SI, Agus Salim (SI), Fakhruddin (Muhammadiyah-SI), dan
Marco Kartodikromo (sosialis-SI) yang sama-sama melawan SI Semarang yang
pro-komunis.
Pada saat bersamaan, Fakhruddin menjadi hoofdredacteur Medan Moeslimin dan
redaktur Islam Bergerak, karena Misbach masuk bui. Lantaran itulah ia
memanfaatkan koran tersebut untuk menyerang balik SI Semarang.
“Fakhruddin juga menyerang komunisme sebagai gagasan yang bertentangan
dengan Islam dengan mengaitkan serangan Darsono kepada Tjokroaminoto dengan
tesis Lenin tentang gerakan Pan-Islamisme dan Pan-Asia yang terbit pada 20
November di Het Vrije Woord, organ PKI berbahasa Belanda,” tulis Shiraishi.
Masalah makin ruwet ketika Soerjopranoto, yang menjadi pemimpin Persatuan
Pegawai Pegadaian Bumiputera (PPPB), gagal melakukan mogok massal buruh di
Hindia Belanda. Gerakan yang awalnya didukung SI, Muhammadiyah, PKI komite
Revolutionaire Vakcentrale pimpinan Tan Malaka dan Bergsma, Boedi Oetomo,
dan serikat buruh lain itu melempem ketika pemerintah kolonial menciduk Abdoel
Muis, pemimpin PPPB, dan membuang Tan Malaka dari Hindia Belanda.
“Tindakan represif pemerintah kolonial ini membuat sebagian pendukung aksi
mogok memilih bermain aman. Bersama Muhammadiyah sebagai satu-satunya
basis organisasi, hoofdbestuur CSI di bawah Salim dan Fakhruddin memilih
mundur. Diam-diam mereka meninggalkan serikat buruh,” terang Shiraishi.
Masalah bertambah runyam saat Misbach keluar penjara pada Agustus 1922.
Hubungan antara Misbach dan Muhammadiyah retak. Sebabnya, sebagian jemaah
yang ia beri nama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah—alias SATV—mulai beralih
ke Muhammadiyah. Apalagi, menurut Shiraishi, “jurnal-jurnal yang ia
bentuk, Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, terang-terangan berpihak kepada
CSI dan Muhammadiyah.”
Persoalan itu makin meruncing ketika para pendukung Misbach dan
Muhammadiyah berpolemik soal dugaan penggelapan dana. Perkara ini yang
membuat Fakhruddin meninggalkan keredaksian Islam Bergerak pada 10 Mei
1922.
“Perdebatan itu berakhir dengan pilihan bahwa masing-masing akan menempuh
prinsip dan jalan hidup sendiri-sendiri. Sampai tahun 1922, jajaran redaksi Medan-
Moeslimin dan Islam Bergerak telah didominasi oleh orang-orang yang sehaluan
dengan politik Misbach. Orang-orang Muhammadiyah dan simpatisannya
tersingkir dari kedua majalah ini,” tulis Mu'arif dalam “Haji Merah dan
Muhammadiyah.”
Fakhruddin dan Pilihan Sikap Muhammadiyah

Setelah konflik dengan Misbach, Fakhruddin total mengembangkan


Muhammadiyah. Ia makin menunjukkan kematangan berpolitik tatkala
Muhammadiyah dipimpin K.H. Ibrahim (1923-1932)—adik ipar Ahmad Dahlan.
Karel A. Steenbrink dalam Dutch Colonialism and Indonesian Islam: Contacts and
Conflicts, 1596-1950 menulis bahwa semasa kepemimpinan Ibrahim, kebijakam
eksternal Muhammadiyah dipengaruhi oleh sekretaris muda H. Fakhruddin, yang
makin kentara pada 1924.
Hal itu dipengaruhi situasi internasional. Kekhalifahan Ottoman hancur dan
Mustafa Kemal Attaturk menjadi presiden pemerintahan sekuler Turki. Pada saat
nyaris bersamaan, keluarga Saud menguasai Arab Saudi.
Situasi di tanah Arab, bagaimanapun, telah memengaruhi organisasi-organisasi
Islam di Hindia Belanda. Pada akhir Desember 1924, Partai Sarekat Islam, yang
didukung oleh Muhammadiyah, menyelenggarakan Kongres Al-Islam luar biasa di
Surabaya.
Kongres ini membicarakan utusan yang akan dikirim ke Muktamar Khalifah di
Kairo, Mesir, pada Maret 1925. Kongres memutuskan memberangkatkan tiga
utusan, yakni Fakhruddin, Soerjopranoto dari Komisaris PSI, dan Wahab
Chasboellah dari Organisasi Ulama Surabaya. Tapi kongres akhirnya diundur.
“Karena ada krisis internal, kongres Kairo ditunda pelaksanaannya menjadi bulan
Mei 1926, dan ketika kongres diadakan, tak ada delegasi “resmi” Indonesia yang
menghadirinya,” tulis Yudi Latief dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa (2006:
284).
Sementara di Hindia Belanda, Muhammadiyah terang-terangan berkonfrontasi
dengan pemerintah kolonial.
Menurut Steenbrink, Fakhruddin adalah orang yang dikenal sebagai penganjur
Pan-Islamis tegas, yang menolak “Kristenisasi” di Jawa yang disponsori oleh
pemerintah kolonial. Pada 1925, ia untuk pertama kali memprotes kebijakan Sultan
Hamengkubuwono VIII dan Residen Yogyakarta, Louis Frederik Dingemans, yang
diduga pro penyebaran Kristen.
“Dingemans, seorang pendukung penyebaran Protestan, memengaruhi Sultan
untuk memotong subsidi ke panti asuhan milik Muhammadiyah di bawah naungan
panti asuhan Sultan,” terang Steenbrink.
Iskandar Zulkarnain berpandangan lain soal sikap keagamaan Fakhruddin.
Dalam Gerakan Ahmadiyah di Indonesia (2005: 186-187), Iskandar
menyampaikan bahwa secara kelembagaan, Fakhruddin—termasuk Agus Salim
dan Tjokroaminoto—memang tidak melakukan kerja sama dengan Ahmadiyah
Lahore. Tetapi secara individu “menaruh simpati terhadap apa yang mereka
pandang sebagai penyajian Islam secara modern.”
“Begitu juga tokoh Muhammadiyah, KH Fakhruddin. Ia sering menerbitkan artikel
tentang Ahmadiyah dalam jurnal Bintang Islam,” tulis Iskandar.
Namun, sejak 1926, “Muhammadiyah mulai menjaga jarak dari Ahmadiyah”,
lantaran Muhammadiyah menilai ajaran Ahamdiyah menyimpang dari sunah. Hal
ini terutama setelah kedatangan ulama dari India, Abdul Alim Siddiq al-Qadiri,
pada akhir tahun 1927, yang mengampanyekan bahwa Ahmadiyah “menyimpang
dari Islam” kepada kalangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
Siar anti-Ahmadiyah itu memicu perdebatan panas hingga mendorong satu
keputusan dalam Kongres Muhammadiyah pada 1928 di Yogyakarta: menawarkan
kadernya memilih Muhammadiyah atau Ahmadiyah.
Sebagian pengurus Muhammadiyah hengkang dan kemudian mendirikan Gerakan
Ahmadiyah Indonesia pada 1928. Sebagian besar lain, termasuk Fakhruddin yang
notabene pengurus teras era kepemimpinan Muhammadiyah pasca-Ahmad Dahlan,
“menjaga jarak” dari pengaruh ajaran Ahmadiyah
Seiring itu Fakhruddin makin memantapkan diri “memurnikan Islam” bersama
Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Sumber : https://tirto.id/kiprah-kh-fakhruddin-putra-lurah-keraton-membesarkan-
muhammadiyah-cArp
18 November 1912

Kiai Dahlan &


Muhammadiyah: Usaha
Melumat Kejumudan Umat
Reporter: Iswara N Raditya | 18 November,, 2017 | tirto.id
A. Dahlan: "Fanatik itu ciri orang bodoh. Sebagai orang Islam kita harus tunjukkan bisa bekerjasama
dengan siapapun.”
Lorong-lorong gang.
Matahari menyembul
di sisi kraton.

tirto.id - Suatu kali di depan murid-muridnya, K.H. Ahmad Dahlan berucap tegas
dengan nada sedikit kesal. “Kalian sudah hafal surat Al Ma’un, tapi bukan itu yang
saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerjakan! Rupanya,
saudara-saudara belum mengamalkannya,” lantang sang kiai seperti diungkap
Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan, Amal dan Perjuangannya (2009).
“Mulai hari ini,” lanjutnya, “Saudara-saudara pergi berkeliling mencari orang
miskin. Kalau sudah dapat, bawalah pulang. Berilah mereka mandi dengan sabun
yang baik, berilah pakaian yang bersih, berilah makan dan minum, serta tempat
tidur di rumahmu” (hlm. 149).
Betapa pun bagusnya rencana atau rancangan, mustahil mencapai tujuan jika tidak
diterapkan. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan tidak terlalu banyak mengelaborasi
ayat-ayat al-Qur'an. Kiai ini, menurut Herry Mohammad dalam Tokoh-tokoh Islam
yang Berpengaruh Abad 20 (2006), lebih cenderung mengaplikasikannya langsung
dalam kehidupan melalui amal nyata (hlm. 10).
Itulah yang nantinya dilakukan ulama yang dijuluki "sang pencerah" ini dalam
merintis dan membesarkan Persjarikatan Moehammadijah sejak 18 November
1912. Meski tidak semua orang sepakat dengan gaya perjuangannya yang memang
tidak biasa itu.

Transformasi Putra Kauman

G.F. Pijper, seperti dikutip Weinata Sairin dalam Gerakan Pembaruan


Muhammadiyah (1995), pernah menggambarkan suasana kampung kelahiran
Dahlan. “Kampung Kauman seperti dalam lukisan Sultan Yogyakarta, terdiri dari
jalan-jalan sempit dan tembok-tembok putih. Suasananya sunyi dan tenteram.
Orang akan menyangka bahwa kesibukan penduduknya berada di dalam kamar
yang setengah gelap” (hlm. 36).
Begitulah kesan awal penasihat pemerintah kolonial yang bertugas mempelajari
agama Islam itu, setelah melihat sendiri suasana Kauman pada 1930-an. Namun,
Pijper lebih takjub lagi manakala di malam harinya terdengar suara orang ramai
mengaji dari dalam rumah-rumah yang semula dikiranya senyap.
Di tengah kampung kecil yang berada tak jauh dari Keraton Yogyakarta itulah
Ahmad Dahlan dilahirkan pada 1 Agustus 1868.
Nama lahir Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy (Darwis). Ayahnya, Kyai
Haji Abu Bakar bin Sulaiman, bekerja sebagai pejabat khatib di Masjid Besar
Kesultanan Yogyakarta. Sementara sang ibunda, Siti Aminah, adalah putri Haji
Ibrahim bin Hasan yang merupakan pejabat penghulu kraton.
Menurut M. Nasruddin Anshoriy Ch dalam Matahari Pembaruan: Rekam Jejak
K.H. Ahmad Dahlan (2010), Muhammad Darwisy disebut-sebut masih bertalian
darah dengan Maulana Malik Ibrahim (hlm. 37). Ia dipercaya termasuk keturunan
ke-12 dari salah seorang anggota Walisanga yang melegenda sebagai perintis
penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa itu.
Ketika berusia 15 tahun, Darwisy berhaji dan menetap di Mekah. Ia ingin belajar
agama lebih mendalam lagi. Di sana, Darwisy berguru kepada para ulama
pembaharu Islam, seperti Sayyid Bakri Syatha, Syaikh Ahmad Khatib, Muhammad
Abduh, Rasyid Ridha, Ibnu Taimiyah, Al-Afghani, Syaikh Abdul Hadi, dan tokoh-
tokoh lainnya. Darwisy juga pernah belajar di bawah bimbingan guru yang sama
dengan Hasyim Asy'ari yang kelak mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam Kiai Haji Ahmad Dahlan (2009), Adi Nugraha mencatat bahwa sebelum
pulang ke tanah air pada 1888, Darwisy diberi nama baru oleh
Sayyid Bakri Syatha (hlm. 24). Nama baru pemberian gurunya itu lah yang
kemudian disandangnya sampai akhir hayat: Ahmad Dahlan. Kelak, pada 1903, ia
kembali lagi ke Tanah Suci membawa serta putranya, Muhammad Siraj, yang
masih berumur 6 tahun.

Ulama Pelintas Batas

Sebelum mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912, Ahmad Dahlan


memang telah memilih jalur yang tidak biasa dan berisiko menuai kontroversi.
Pendidikan dan pelayanan sosial dijadikan ujung tombak utama untuk
memperkenalkan serta menjalankan organisasinya itu.
Berkat pergaulannya yang luas dan menerima banyak pembelajaran dari para
ulama Islam pembaharu, Ahmad Dahlan tidak alergi terhadap apa dan siapapun. Ia
menyambangi pihak-pihak yang barangkali oleh umat Islam pada saat itu dianggap
sebagai kubu yang berseberangan dan dihindari sebisa mungkin.
Diungkapkan oleh Alfian dalam Politik Kaum Modernis; Perlawanan
Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda (2010), pada 1908, saat Boedi
Oetomo (BO) dibentuk di Batavia, Ahmad Dahlan ikut bergabung, bahkan menjadi
komisioner (hlm. 174). Padahal, BO dimotori kaum priyayi yang tidak selalu
sepaham dengan Islam dalam kepercayaan maupun pola gerakannya.
Ahmad Dahlan tidak membatasi geraknya hanya pada satu golongan. Ketika
Jami’at Khair didirikan pada 1910, ia juga ambil bagian. Begitu pula saat Sarekat
Islam (SI) mulai menggeliat, Ahmad Dahlan tidak ketinggalan membawa gerbong
Muhammadiyah untuk merapat.
Tak hanya itu, Ahmad Dahlan tidak segan-segan bergaul dengan orang-orang
Belanda atau Eropa, juga dengan kalangan dari agama lain. Ia bahkan menjalin
hubungan dengan golongan yang biasanya mendapatkan pandangan buruk dari
umat Islam kebanyakan.

Usaha Membuat Terobosan untuk Umat

Ahmad Dahlan dengan segenap kesadaran mengambil apa-apa yang dianggapnya


baik dan bermanfaat, tanpa terlalu mempersoalkan asal-usul atau latar
belakangnya. Salah satu contoh adalah didirikannya sekolah dengan konsep
pendidikan kolonial atau gaya Barat, bukan laiknya pondok pesantren kebanyakan
yang berformat tradisional.
Kendati tetap berangkat dari konsep agama/Islam, sekolah yang dirintisnya di
Kauman itu menerapkan metode Barat, bahkan hingga hal-hal teknis. Sekolah
tersebut dikelola dengan sistem yang terorganisir, juga peralatan serta perabotan
layaknya sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial.
Sekolah ini bisa disebut sekolah modern karena memakai bangku, meja, papan
tulis, mempelajari bahasa Melayu, berhitung, ilmu bumi, ilmu hayat, baca-tulis
latin, selain tentu saja tetap mempelajari agama. Demikian pula dengan pakaian
yang dikenakan oleh para guru dan siswanya. Berdasarkan keterangan Abdul
Munir Mulkhan dalam Kiai Ahmad Dahlan, Jejak Pembaruan Sosial dan
Kemanusiaan: Kado Satu Abad Muhammadiyah (2010), mereka memakai celana,
terkadang berdasi, seperti pakaian orang-orang kolonial Belanda yang memeluk
agama Kristen (hlm. 21).
Masih menurut Mulkhan, kontroversi tak pelak terjadi. Bahkan sekolah itu sempat
kena boikot dari orang Islam sendiri. Ini terjadi lantaran masih kuatnya anggapan
hanya sekolah-sekolah kolonial dan Kristiani yang mempelajari pengetahuan
umum. Tidak heran jika sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan di bawah payung
Muhammadiyah seringkali dicap sebagai sekolah Kristen yang oleh pemeluk Islam
dipandang haram (hlm. 22).
Sebaliknya, menurut Karel A. Steenbrink dalam Pesantren, Madrasah, Sekolah:
Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (1986), Ahmad Dahlan dan
Muhammadiyah juga pernah merintis madrasah dengan memakai bahasa Arab
sebagai bahasa pengantarnya. Namun, madrasah tersebut didirikan di dalam
lingkungan Keraton Yogyakarta yang lekat dengan tradisi Jawa/kejawen.
Ahmad Dahlan menempatkan beberapa guru lokal di madrasah ini. Namun, selain
ilmu agama, pelajaran umum juga diberikan, termasuk mengadopsi sistem
pendidikan kolonial. Jadi, Ahmad Dahlan memadukan gaya pendidikan Eropa dan
Islam di tengah pusaran tradisi Jawa.
Terobosan serupa juga diterapkan Ahmad Dahlan di sektor-sektor layanan
Muhammadiyah lainnya. Termasuk, menurut keterangan Mulkhan, membangun
perpustakaan, lembaga penerbitan buku dan majalah, rumah sakit, panti jompo,
tempat penampungan korban perang, bahkan rumah-rumah pondokan untuk anak-
anak dari luar yang menempuh pendidikan di Yogyakarta (hlm. 22).

Logika Sang Pencerah

Timbul kegelisahan dalam diri Ahmad Dahlan saat kembali dari tanah suci.
Abuddin Nata, dalam Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia (2001),
menyatakan bahwa masyarakat muslim di Kauman cenderung bersifat Islam
tradisionalis yang belum bisa memisahkan antara ajaran dan yang bukan. Berbagai
praktik adat atau tradisi kejawen sangat berdampak pada penerapan agama Islam
(hlm. 146).
Sejak kecil, Ahmad Dahlan memang sudah terbiasa dengan lingkungan religius-
kejawen karena Kauman berada di dekat keraton. Banyak praktik tradisi dalam
kategori bid’ah yang sering diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Sebut saja
selamatan, ziarah kubur, bahkan perayaan Sekaten, dan seringkali disertai ritual-
ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Meski pun dalam berbagai praktik tradisi Jawa itu diselipkan misi Islam
sebagaimana yang pernah diterapkan Walisanga di masa lalu, Ahmad Dahlan tetap
saja resah. Dari situlah muncul keinginan untuk berusaha memurnikan Islam,
setidaknya di lingkup tempatnya tinggal.
Ahmad Dahlan sadar, ia tidak bisa langsung menentang tradisi Jawa. Ia juga
mengakui bahwa unsur kejawen telah menjadi bagian dari identitasnya. Kendati
begitu, hal-hal yang menjurus kepada perbuatan musyrik harus diluruskan.
Demi menghindari potensi konflik yang lebih besar, Ahmad Dahlan memakai nalar
untuk menjelaskan kepada orang-orang di lingkungannya. Ia memberi pemahaman
baru tentang beberapa perbuatan yang selama ini dilakukan atas nama tradisi.
Dalam tradisi selamatan (syukuran), misalnya, disarankan kepada masyarakat
untuk tetap melakukannya tanpa harus membebani secara finansial maupun tenaga.
Warga masih bisa menggelar selamatan namun cukup hanya dengan berdoa
bersama saja, tidak perlu memakai sesaji, ubo rampe, dan sejenisnya.
Ahmad Dahlan, seperti diungkap M. Sanusi dalam Kebiasaan-kebiasaan Inspiratif
K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asyari: Teladan-teladan Kemuliaan
Hidup (2013), berusaha menyederhanakan praktik-praktik sosial yang dianggap
rumit dan menjadi beban agar bisa tetap dilakukan tanpa mengeluarkan biaya yang
sebenarnya tidak perlu (hlm. 91). Selain itu, tentu untuk menghindari perbuatan
yang diyakininya tidak diajarkan dalam Islam.
Bagi sejarawan Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk
Aksi (2008), pendekatan logika yang diterapkan Ahmad Dahlan cukup berhasil.
Gagasan pembaharuan ini pada dasarnya merupakan rasionalisasi perubahan sosial
dari masyarakat agraris ke masyarakat industrial, atau dari masyarakat tradisional
ke masyarakat modern (hlm. 450).
Melalui Muhammadiyah, Ahmad Dahlan telah menawarkan jembatan untuk
memperlancar transformasi sosial menuju masyarakat kota yang lebih modern.
Ahmad Dahlan tampaknya memang menggagas Muhammadiyah untuk mencapai
cita-cita semacam itu.
Biar sejarah yang membuktikan apakah Muhammadiyah, pengurus dan umatnya
mampu terus merawat dan melanjutkan cita-cita dan kehendak Ahmad Dahlan,
Sang Pencerah yang mulia itu.
Sumber : https://tirto.id/kiai-dahlan-amp-muhammadiyah-usaha-melumat-
kejumudan-umat-cAcw

Kisah Elite Muhammadiyah


yang Menyeberang ke
Ahmadiyah Lahore
Reporter: Addi M Idhom | 22 November, 2017 | tirto.id
Djojosugito, generasi awal pendidik Muhammadiyah, menjadi ketua pertama organisasi Ahmadiyah
Lahore di Hindia Belanda
Sebagian kader Muhammadiyah yang berselisih paham akhirnya mendirikan
Gerakan Ahmadiyah Indonesia pada 1928.

tirto.id - Polemik keras pernah menerpa internal Muhammadiyah pada kurun


1924-1929, atau tak lama usai K.H. Ahmad Dahlan wafat. Muhammadiyah saat itu
diketuai K.H. Ibrahim, saudara ipar Ahmad Dahlan, yang didampingi Haji
Fakhruddin, seorang organisator energik, sebagai wakil ketua.
Debat keras di internal Muhammadiyah dipicu oleh minat sejumlah kadernya, dan
sebagian pengurus inti organisasi ini, ke dalam gagasan Ahmadiyah Lahore.
Hubungan pengurus pusat Muhammadiyah dan dai dari aliran yang berakar di
Punjab, India, itu semula hangat. Tapi, kedekatan ini tak lama dan berakhir dengan
“eksodus” sekelompok aktivis Muhammadiyah.
“Alasan dai Ahmadiyah Lahore disambut antusias saat tiba di Yogyakarta karena
Muhammadiyah menilai aliran itu punya visi sama dengan organisasi ini, yakni
memurnikan iman dan memodernisasi Islam,” tulis Herman L. Beck dalam artikel
"The Rupture Between the Muhammadiyah and the Ahmadiyya” (Jurnal Bijdragen
tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) 161-2/3, 2005: 240).
Ahmadiyah Lahore adalah hasil split dari gerakan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.
Aliran besutan Maulana Muhammad Ali itu bersikap berbeda dari induknya,
Ahmadiyah Qadian. Sebagai murid Ghulam Ahmad, Muhammad Ali dan
kelompoknya hanya meyakini gurunya sebagai mujaddid, pembaharu agama.
Meski mengakui tokoh ini sebagai al-Masih yang dijanjikan bergelar Mahdi,
Ahmadiyah Lahore menolak sikap Ahmadiyah Qadian yang percaya Ghulam
Ahmad menerima wahyu kenabian.
Aliran ini mulai dikenal di Jawa sekitar 1918 lewat majalah Islamic Review edisi
bahasa Melayu terbitan Singapura. Pada 23 Oktober 1920, dai Ahmadiyah Lahore,
Khwadja Kamaluddin, redaktur Islamic Review dan penyebar aliran ini di Inggris,
datang ke Surabaya untuk berobat. Sebulan kemudian, Perhimpunan Tashwirul
Afkar mengundang Khwadja berceramah pada acara Maulid Nabi di Masjid
Ampel. Ia berbicara di depan ribuan orang dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan
oleh Hasan Ali Soerati, aktivis Sarekat Islam (SI), kolega dekat Haji Oemar Said
(HOS) Tjokroaminoto.
“Pada 1921, Khwadja juga memberi ceramah di Gambir Park, Batavia,” tulis
Iskandar Zukarnain dalam Gerakan Ahmadiyah di Indonesia (2005: 172).
Sekitar Maret 1924, datanglah dua dai Ahmadiyah Lahore dari India ke
Yogyakarta, Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig, yang semula berniat
ke Manila untuk menuju Cina. Terkendala bekal biaya yang cekak, berlabuhlah
keduanya di Jawa. Tak jelas musabab mereka memilih Yogyakarta selain karena
menganggap di Jawa Tengah gerakan misi Kristen sedang gencar.
Mereka disambut hangat pengurus Muhammadiyah dan ditampung di rumah Haji
Hilal, menantu Kiai Ahmad Dahlan, di Kauman, Yogyakarta. Kecemasan sebagian
aktivis Muhammadiyah terhadap gencarnya pengaruh misi Kristen, menurut Beck,
memudahkan mereka bersimpati ke mubalig Ahmadiyah yang memang jago dalam
urusan debat dengan misionaris. Kecemasan itu tampak jelas saat Kongres
Muhammadiyah 1925.
Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig tercatat pula sempat berpidato,
dalam bahasa Inggris dan Arab, saat Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta, 28
Maret-1 April 1924. Sekretaris I Muhammadiyah saat itu, Djojosugito,
memperkenalkan keduanya dalam kongres sebagai wakil dari organisasi Islam
yang aktif berdakwah di Eropa. Ia merekomendasikan agar organisasinya
bekerjasama dengan Ahmadiyah.
“Hubungan akrab ini (Ahmadiyah Lahore dan Muhammadiyah) dapat dilihat lebih
jauh dalam Almanak Muhammadiyah ke-2 tahun 1344 h/1925,” catat Iskandar
dalam Gerakan Ahmadiyah.
Sekalipun Maulana Ahmad kembali ke India, sekitar Juni 1924, Ahmad Baig tetap
mampu menarik perhatian para aktivis muslim di Yogyakarta. Banyak aktivis
Muhammadiyah dan SI, termasuk Tjrokroaminoto, rajin mendatangi kediaman
Ahmad Baig, baik untuk berdiskusi soal agama maupun sekadar belajar bahasa
Inggris.
“Salah satu tokoh Muhammadiyah yang populer dan sempat belajar bahasa Inggris
ke Ahmad Baig ialah Bagus Hadikusumo (di kemudian hari jadi pengkritik keras
Ahmadiyah),” tulis Beck.
Selain Djojosugito, Sekretaris II Muhammadiyah Muhammad Husni juga
mendekat ke Ahmad Baig. Guru-guru HIS Muhammadiyah dan beberapa murid
Kweekschool Muhammadiyah (sekolah calon guru) mengikuti jejak keduanya.
Mereka adalah Soedewo, M. Kusban, Sunarto, Usman, Muhammad Irsyad, dan
Mufti Syarief. Lingkaran ini di kemudian hari menjadi generasi awal pendiri
organisasi Ahmadiyah Lahore di Indonesia.
“Haji Fakhruddin, Agus Salim, dan Tjokro (tokoh SI), secara individu bersimpati
pada apa yang mereka pandang sebagai penyajian Islam secara modern (dari
Ahmadiyah Lahore),” tulis Iskandar dalam Gerakan Ahmadiyah. Fakhruddin
malah pernah rajin mendorong penerbitan artikel soal Ahmadiyah dalam
jurnal Bintang Islam.
Almanak Muhammadiyah edisi 1926 juga tercatat memuat lagi artikel bertema
mirip. Ulasan Ismatu Ropi menukil contoh muatan Almanak Muhammadiyah
terbitan 1926 itu: “Kalau kiranya Hazrat Mirza bukannya Mujaddid bagi abad yang
ke-14, siapakah lagi orang yang harus melakukan jabatan ini? Apakah kamu
mengira bahwa janjinya Nabi yang Suci yang sungguh benar itu bakal tidak
kepenuhan selama-lamanya?” (Government Regulation and the Ahmadiyah
Controversies in Indonesia, Jurnal Al-Jami‘ah, Volume 48, No. 2, 2010: 289).
Muhammadiyah bahkan pernah mengirim sejumlah kader belia ke lembaga
pendidikan Ahmadiyah Lahore di India untuk belajar agama. Mereka berangkat
sekitar Juni 1924. Ada empat pelajar yang dikirim: Djoendab, Mohammad
Sabitoen, Djoemhan, dan Maksoem. Djoemhan adalah putera Kiai Ahmad Dahlan,
yang di kemudian hari tak kembali ke Yogyakarta tapi menetap di Thailand usai
berganti nama menjadi Irfan Dahlan.
Surat kabar Javabode edisi 9 Januari 1925 malah berspekulasi Muhammadiyah
akan gabung dengan Ahmadiyah Lahore. Ulasan itu menarik perhatian Residen
Yogyakarta, Louis Frederik Dingemans, yang khawatir atas gejala anti-Kristen di
Muhammadiyah. Ia memanggil pimpinan Muhammadiyah untuk mengklarifikasi
isu ini. Haji Muchtar, Wakil II Ketua Muhammadiyah, membantah isu itu saat
bertemu Dingemans.

Keretakan Hubungan Muhammadiyah dan Ahmadiyah Lahore

Keakraban Muhammadiyah dan Ahmadiyah Lahore cuma awet dalam waktu


singkat. Kedatangan Haji Abdul Karim Amrullah, atau karib dipanggil Haji Rasul,
ke Yogyakarta pada 1925 menjadi awal polemik.
Kader Muhammadiyah yang bergabung pada era 1920-an itu terkenal sebagai
ulama Minangkabau yang gigih menentang pengaruh Ahmadiyah Qadian yang
masuk ke Hindia Belanda melalui Aceh dan Padang. Ia tercatat menuliskan
kecamannya ke kelompok ini dalam buku khusus, Al-Qaul ash-Shahih (Iskandar
Zulkarnain, 2005: 179).
Saat berada di Yogyakarta, sekitar 1925, Haji Rasul berdebat dengan Ahmad Baig
di hadapan Haji Fakhruddin pada 1925. Perdebatan itu lekas diketahui banyak
pengurus Muhammadiyah sehingga mereka menjaga jarak dari Ahmad Baig dan
lingkaran orang dekatnya, setidaknya sejak 1926.
“Sekalipun aliran ini (Lahore) tak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi
seperti Ahmadiyah Qadian, sejumlah penafsirannya terkait ayat suci dianggap
'terlalu jauh',” tulis Iskandar.
Menurut Beck, pengaruh Haji Rasul memicu pengucilan elite Muhammadiyah
yang terkenal dekat dengan Ahmad Baig, yakni Djojosugito dan Muhammad
Husni. Apalagi, sekitar 1926, Djojosugito beralih posisi menjadi Ketua Cabang
Muhammadiyah Purwokerto dengan alasan harus bertugas mengajar di kota itu.
Posisi Husni sebagai Sekretaris II juga tak bertahan lama usai tahun itu.
“Ada catatan pada 1926, Djojosugito usul ke Ahmad Baig untuk membentuk
organisasi lokal cabang Ahmadiyah Lahore, tapi ditolak. Ahmad Baig beralasan
misinya hanya untuk melindungi umat Islam dari pengaruh buruk ideologi
materialisme dan misi Kristen,” tulis Beck. Meski begitu, Ahmad Baig
memutuskan pindah dari Yogya ke Purwokerto pada 1926.
Ketegangan internal Muhammadiyah itu digarami dengan kehadiran ulama asal
India, Abdul Alim Siddiq al-Qadiri, sekitar Oktober-November 1927. Di Jawa, ia
berceramah di kalangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk
mengampanyekan bahwa Ahmadiyah “menyimpang dari Islam.”
Pengaruh Abdul Alim tercermin pada sikap organisasi dalam Berita Tahunan
Muhammadiyah Hindia Timur edisi 1927 dan Almanak Muhammadiyah ke-5
tahun 1928. Iskandar dalam bukunya mengutip penggalan isinya: “Ahmadiyah
terkupas kulitnya oleh keterangan Abdul Alim sehingga nyatalah bahwa iktikad
dan paham Ahmadiyah berbeda dengan iktikad dan paham ulama Islam terdahulu.”
“Tujuh bulan usai pertemuan dengan Abdul Alim, pada 5 Juli 1928,
Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran yang melarang semua cabangnya
mengajarkan dan mempublikasikan paham Ahmadiyah di lingkaran organisasi itu,”
tulis Ismatu Ropi (Jurnal Al-Jami‘ah, 2010: 290). Surat edaran itu sekaligus
meminta kader Muhammadiyah memilih meninggalkan ajaran Ahmadiyah atau
keluar dari organisasi.
Perintah itu berakar pada proses pembahasan saat Kongres Muhammadiyah ke-17
pada 12-20 Februari 1928 di Yogyakarta. Sebagian elite organisasi ini menolak
terjemahan Alquran dalam bahasa melayu karya Tjokroaminoto. Sebab karya itu
mengalihbahasakan terjemahan Alquran berbahasa Inggris, buah pena Maulana
Muhammad Ali, pendiri Ahmadiyah Lahore, The Holy Qur'an.
Penolakan terjemahan Tjokroaminoto itu merembet pada perdebatan sengit soal
Ahmadiyah. Pimpinan Muhammadiyah, termasuk ketuanya K.H. Ibrahim, saat itu
menolak baik Ahmadiyah Lahore maupun Ahmadiyah Qadian. Di tengah debat
panas itu, sambil menangis, seorang tokoh Muhammadiyah, Kiai Ahmad Siradj,
meredakan situasi. Ia meminta sidang memberi kesempatan bagi kader
organisasinya untuk memilih: Muhammadiyah atau Ahmadiyah.
Djojosugito, Muhammad Husni, Soedewo, dan kawan-kawannya akhirnya memilih
keluar dari Muhammadiyah. Mereka lalu membentuk Indonesische Ahmadiyah
Beweging atau Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) pada 10 Desember 1928.
Organisasi Ahmadiyah Lahore di Indonesia ini resmi mendaftarkan badan
hukumnya ke administrasi Hindia Belanda pada 28 September 1929 dan menerima
persetujuan dari pemerintah kolonial pada 4 April 1930 (Ismatu Ropi, Jurnal Al-
Jami'ah, 2010: 290).
Kepengurusan GAI peridoe 1928-1932 diisi oleh Djososugito sebagai ketua
pertama organisasi ini. KH. Sa'rani jadi wakil ketua, Muhammad Husni selaku
sekretaris, dan Soedewo sebagai wakil sekretaris. Djojosugito, Husni, dan
Soedewo kemudian tercatat aktif menerjemahkan buku-buku Ahmadiyah Lahore,
termasuk The Holy Qur'an, ke dalam bahasa Melayu, Jawa, dan Belanda.
Menariknya, Husni dan Djojosugito pernah membangun perkumpulan lain
bernama Muslim Broederschap di Yogyakarta pada 1926 sebagai upaya kritik pada
Jong Islamieten Bond (JIB). Mereka menerbitkan majalah Correspondentie
Blad yang berbahasa Belanda.
“S. Ali Yasir (Ketua GAI 1995-2000) menilai isi majalah itu seratus persen
memuat artikel yang bersumber dari ajaran Ahmadiyah Lahore,” tulis Iskandar.
Adapun sikap paling keras dari Muhammadiyah, yang terindikasi terkait
Ahmadiyah, muncul pada kongres ke-18 di Solo pada 1929. Saat itu Majelis Tarjih
mengeluarkan fatwa bahwa semua yang meyakini ada nabi setelah Muhammad
SAW adalah “kafir.” Sekalipun tak menyebut nama, fatwa ini mengarahkan
telunjuk pada Ahmadiyah.

Djojosugito, Kader Muhammadiyah dan Pendiri Gerakan Ahmadiyah


Indonesia

Sosok Djojosugito merupakan kasus unik dalam sejarah Muhammadiyah era


kolonial. Ia salah satu “sang pemula” dalam persyarikatan. Susunan redaksi Suara
Muhammadiyah pada awal penerbitannya tahun 1915 memuat namanya.
Pimpinan pertama majalah, yang semula terbit berbahasa dan huruf Jawa, adalah
Haji Fakhruddin. Nama Djojosugito masuk dalam susunan anggota redaksi
majalah pada edisi awal, bersama pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan
(Muhammadiyah, 100 Tahun Menyinari Negeri, 2013: 5).
Djojosugito bareng Sosrosugondo juga terlibat membidani Kweekschool (sekolah
calon guru) Muhammadiyah, khususnya untuk pengajaran pelajaran umum,
menurut Ahmad Najib Burhani dalam "Neglected Missions: Some Comments on
the Javanese Elements of Muhammadiyah Reformism" (Jurnal Studia Islamika,
Vol. 12, No. 1, 2005: 108). Catatan Najib lain, surat resmi pemerintah kolonial
pada 1920 dan 1921 sudah menyebut Djojosugito sebagai sekretaris
Muhammadiyah.
“Djojosugito ahli pendidikan di Muhammadiyah … Ia pernah memimpin Majelis
Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah yang dibentuk pada 14 Juli 1923,” tulis
Beck (Jurnal BKI, 2005: 231).
Najib mengategorikan Djojosugito sebagai kader awal Muhmmadiyah dari salah
satu tiga kelompok utama pembangun persyarikatan ini. Ketiganya adalah priayi-
santri dari Kauman, priayi tradisional dan priayi berpendidikan barat, serta para
pedagang atau pengusaha. Djojosugito termasuk kelompok kedua
Tapi catatan lain menyebut tokoh bernama lengkap Raden Ngabehi
Minhadjurrahman Djojosugito itu berasal dari keluarga santri. Pria yang lahir pada
16 April 1889 dan wafat 21 Juni 1966 ini adalah putra keluarga penghulu naib di
Sawit, Boyolali, Jawa Tengah. Djojosugito masih memiliki hubungan kekerabatan
dengan istri KH. Hasyim Asy'ari (pendiri NU), sebagaimana dicatat H. Aboebakar
dalam Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar (1957: 127)
Orangtuanya memiliki kakek yang sama dengan istri Hasyim Asy'ari, Nafiqah, ibu
kandung KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama RI. Aboebakar menulis
pohon keluarga bertemu di Kiai Ropingi, seorang penghulu di Magetan. Buku
Aboebakar juga mengutip pengakuan Djojosugito yang sedari kecil sampai dewasa
belajar agama pada sejumlah kiai, termasuk Ahmad Dahlan.
Polemik Terjemahan Alquran yang Menyeret HOS Tjokroaminoto

Ada dua hal setidaknya yang memicu kerenggangan hubungan Sarekat Islam dan
Muhammadiyah. Keduanya semula juga “mesra” tapi berpisah jalan pada sekitar
tahun 1927.
Cekcok SI dan Muhammadiyah pertama dipicu terkait subsidi pemerintah Hindia
Belanda. Muhammadiyah menerima subsidi itu dengan alasan demi organisasi
sosial. Sebaliknya, SI menuding penerimaan subsidi itu sebagai "sikap kooperatif"
ke kolonial.
Dua organisasi ini bersitegang lagi karena Muhammadiyah menolak keras
terjemahan Alquran karya Tjokroaminoto, yang mengalihbahasakan The Holy
Qur'an karya pendiri Ahmadiyah Lahore, Muhammad Ali, ke dalam bahasa
Melayu. Klimaksnya, pada 1929, SI melakukan disiplin organisasi dengan
meminta anggotanya memilih: Muhammadiyah atau tetap jadi anggota partai itu.
Tjokroaminoto pernah berdalih menerjemahkan The Holy Qur'an sejak 1925 atas
persetujuan dan sepengetahuan pimpinan Muhammadiyah, Fakhruddin dan K.H.
Mas Mansur. Alasan lain Tjokro, karya itu cocok bagi kalangan terpelajar yang
belum banyak tahu soal ajaran Islam.
Ia menggarap terjemahan itu saat berlayar ke Mekkah bareng Mas Mansur untuk
hadir dalam Kongres Islam Dunia pada 1926. Salah satu bagian terjemahan itu
sempat terbit dalam surat kabar Fadjar Asia dan sama sekali tak menuai kritik
hingga digelar Kongres Al-Islam di Yogyakarta pada 1928.
“Selama kongres Al-Islam, 26-29 Januari 1928, karya itu menerima serangan
sengit dari delegasi Muhammadiyah,” catat Ahmad Najib Burhani dalam artikel
“Sectarian Translation of The Quran in Indonesia, The Case of the
Ahmadiyya” (Jurnal al-Jami'ah Vol. 53, Non. 2, 2015: 260).
Najib menjelaskan delegasi Muhammadiyah menuding pemahaman Muhammad
Ali pada ayat suci dalam The Holy Qur'an memuat metode penafsiran alegoris dan
metaforis yang ditolak mayoritas ulama. Tjokroaminoto juga dikritik “tak memiliki
pengetahuan agama memadai” untuk menerjemahkan Alquran. Sebaliknya, Tjokro
dibela kameradnya di SI, terutama Haji Agus Salim, yang menilai The Holy
Qur'an mendamaikan agama dan sains tanpa terjebak pada materialisme,
rasionalisme, dan mistisisme (Najib Burhani, Jurnal al-Jami'ah, 2015: 261).
Kontroversi “terjemahan atas terjemahan” Alquran ini bahkan melebar ke Mesir.
Mufti kesultanan Sambas, Kalimantan Barat, Syekh Muhammad Basyuni Imran,
sampai meminta fatwa ke bekas gurunya, Rashid Ridha, ulama reformis Mesir,
soal keabsahan The Holy Qur'an.
Moch. Nur Ichwan dalam artikel "Differing Responses to an Ahmadi Translation
and Exegesis The Holy Qur'ân in Egypt and Indonesia" (Jurnal Archipel, volume
62, 2001: 149), mengemukakan bahwa jawaban Rashid Ridha atas pertanyaan
Basyuni dimuat dalam Jurnal al-Manar volume 29 tahun 1928.
Kesimpulan jawaban Rashid Ridha, The Holy Qur`an tak layak beredar di
kalangan muslim, seperti pendapat mayoritas ulama di Mesir dan Suriah.
Alasannya, isinya mengarah ke pembenaran bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah
mesias atau al-masih yang diramalkan. Ia menilai karya itu hanya layak untuk
nonmuslim yang ingin mengetahui soal Islam (Nur Ichwan, Jurnal Archipel, 2001:
150).
Adapun Sarekat Islama membentuk forum ulama yang membahas khusus soal
karya terjemahan Tjokroaminoto tersebut. Hasil rapat mereka di Kediri, sekitar
September 1928, mengizinkan Tjokroaminoto melanjutkan penerjemahannya
dengan pengawasan forum ulama. Namun, hingga Tjokro wafat pada 1934, ia
hanya menuntaskan terjemahannya dalam tiga bagian pertama The Holy Qur'an.
Sumber : https://tirto.id/kisah-elite-muhammadiyah-yang-menyeberang-ke-ahmadiyah-
lahore-cArv

Meneladani Perjuangan dan


Kesetiaan Nyai Ahmad
Dahlan
Reporter: Dipna Videlia Putsanra | 22 November, 2017 | tirto.id
Aisyiyah yang dipelopori Siti Walidah dibentuk untuk kaum perempuan mengamalkan solidaritas
sosial
Istri pendiri Muhammadiyah ini menolak biaya gratis pengobatan dari rumah
sakit yang notabene badan usaha organisasi yang dibikin suaminya.
tirto.id - Dalam kiprah hidupnya, perjuangan Nyai Ahmad Dahlan adalah
melawan kebodohan dan diskriminasi. Bersama suaminya, K.H. Ahmad Dahlan, ia
mendirikan 'Aisyiyah, organisasi yang memiliki perhatian khusus dalam agama,
pendidikan, layanan kesehatan, dan sosial.
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja),
tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya
tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
Petikan Surat An-Nahl ayat 93 itu menjadi semangat pemikiran Kyai Haji Ahmad
Dahlan dan istrinya dalam mendirikan 'Aisyiyah. Ayat itu mengingatkan bahwa
laki-laki maupun perempuan memiliki tugas yang sama dalam menyebarkan
agama, dan yang terpenting, baik laki-laki maupun perempuan, akan ditanya apa
saja yang telah dilakoninya di dunia.
Kesadaran inilah yang memunculkan pemikiran untuk menghimpun para
perempuan dalam satu wadah organisasi, sehingga mereka bisa melakukan sesuatu
untuk masyarakat. (Widiyastuti, Kenangan Keluarga Terhadap KHA Dahlan dan
Nyai Ahmad Dahlan, 2010: 4).
Perempuan yang lahir dengan nama Siti Walidah ini meresmikan 'Aisyiyah
bersama suaminya pada 19 Mei 1917, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1335
tahun Hijriah.
Nyai Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama
Muhammad Fadhil Kamaludiningrat, kiai penghulu di Keraton Yogyakarta, yang
kemudian menekuni profesi sebagai saudagar batik.
Layaknya perempuan di masa itu, Walidah kecil tak sempat mengenyam
pendidikan formal. Namun, ia tak tinggal diam. Walidah memiliki kemauan besar
untuk belajar dan mengajar yang terjembatani lewat pernikahannya dengan
Muhammad Darwis, nama kecil Ahmad Dahlan, pada 1889.
Meski sebenarnya pernikahan itu adalah pernikahan keluarga—Ahmad Dahlan
adalah saudara sepupu Walidah—pertemuan keduanya bagaikan peribahasa tumbu
oleh tutup, cocok dan saling melengkapi. Pasangan muda ini saling mendukung
untuk mewujudkan mimpi masing-masing.
Siti Walidah mendukung suaminya untuk mendirikan dan mengembangkan
Muhammadiyah. Kepedulian Dahlan terhadap perempuan dan kesetaraan jender
pun mendukung Walidah dalam berkiprah lewat 'Aisyiyah.
Sejak suaminya mendirikan Muhammadiyah pada 1912, Walidah berperan
menggerakkan pengajian, mengorganisasi kaum perempuan di Kauman,
Karangkajen, dan Pakualaman, dari remaja putri, ibu-ibu, hingga para buruh batik.
(Baca artikel dalam Suara Muhammadiyah: "Siti Walidah, Perintis tapi Bukan
Ketua Pertama 'Aisyiyah".)
Dalam sejarah 'Aisyiyah yang dimuat Suara Aisyiyah, Siti Walidah merintis
gerakan ini dengan mengajar kaum perempuan Kauman untuk membaca Alquran,
terutama sekali mengamalkan pesan dalam Surat Al-Ma'un, yang mengajarkan
kepekaan muridnya atas kemiskinan di kalangan umat Islam.
Kelompok pengajian ini terbagi dua: kelompok remaja putri bernama Wal Ashri
atau pengajian setelah Asar, dan kelompok Maghribi School yang digelar selepas
waktu kerja untuk para buruh batik. Pada 1914, perkumpulan ini diberi nama Sopo
Tresno, embrio 'Aisyiyah. Nama Aisyiyah diambil dari nama istri Nabi
Muhammad.
Semakin hari, kiprah 'Aisyiyah berkembang di bawah pembinaan Nyai Ahmad
Dahlan. Meski menjadi orang yang merintis perkumpulan ini, tetapi Walidah tidak
ditetapkan sebagai pemimpin pertama 'Aisyiyah.
Saat rapat Hoofdbestuur atau pimpinan pusat Muhammadiyah pada 1917, Siti
Bariyah yang ditetapkan sebagai pemimpin 'Aisyiyah. Bariyah adalah salah satu
murid K.H. Ahmad Dahlan yang lulus dari Neutraal Meisjes School.
Nyai Ahmad Dahlan, karena tak menempuh pendidikan formal, dianggap kurang
memiliki pemikiran modern dan pengetahuan seputar manajemen organisasi. Saat
itu Walidah baru menguasai bahasa Melayu dan kemampuan menulis huruf latin.
Melalui peristiwa itu, tampaknya K.H. Ahmad Dahlan tak ingin ada nepotisme
dalam struktur kepemimpinan, baik dalam Muhammadiyah maupun 'Aisyiyah. Ia
menghendaki organisasi 'Aisyiyah dibangun dan dikelola secara modern dan
profesional.
Lewat 'Aisyiyah, Nyai Dahlan mendorong perempuan untuk melakukan aktivitas
di luar rumah, sekolah, dan berkegiatan seperti laki-laki, termasuk bekerja.
Siti Ruhaini Dzuhayatin, penulis Rezim Gender Muhammadiyah (2015),
mengungkapkan bahwa Ahmad Dahlan bahkan mengajarkan anak-anak perempuan
memakai sarung dan naik sepeda. Meski hal macam itu terlihat sederhana, tetapi
dalam konteks masa itu, apa yang dilakukan Kyai Dahlan sangatlah progresif demi
mendorong perempuan berkiprah di luar rumah. (Baca artikel dalam Suara
Muhammadiyah: "Kyai Dahlan dan Nyai Walidah Wariskan Konsep Ideal Relasi
Gender Muhammadiyah".)
Di tengah perjuangannya memuliakan perempuan, Nyai Ahmad Dahlan mendapat
ujian kesetiaan. Suaminya melakukan praktik poligami, dengan alasan dakwah.
K.H. Ahmad Dahlan menikahi tiga perempuan: Ray Soetidjah Windyaningrum
atau Nyai Abdullah dari internal Keraton, Nyai Rum (putri tokoh pesantren
Krapyak), dan Nyai Aisyah (putri penghulu bangsawan Cianjur).
K.H. Ahmad Dahlan menikahi mereka dengan alasan tertentu. Nyai Abdullah
adalah janda muda berumur 16 tahun yang diserahkan Keraton Yogyakarta untuk
Dahlan. Sebagai abdi dalem, Dahlan manut atas tawaran itu. Pernikahan dengan
Nyai Rum berlangsung dalam motif "dakwah". Sementara dengan Nyai Aisyah,
yang berusia 15 tahun, sang mertua menginginkan ada "keturunan Dahlan" di
Cianjur. (Baca artikel dalam PWMU: "Mengapa KH Ahmad Dahlan Berpoligami?
Inilah Penjelasan yang Diungkap oleh Keluarga Besarnya".)
Dahlan memahami bahwa praktik poligami yang dilakoninya menyakiti Nyai
Walidah. Untuk menjaga perasaan istrinya, Dahlan tak menempatkan istri-istrinya
dalam satu kampung, apalagi satu rumah. Nyai Abdullah menetap di Namburan,
Nyai Rum tinggal di Krapyak, dan Nyai Aisyah di Cianjur.
Kendati demikian, kebesaran hati Nyai Ahmad Dahlan adalah telaga: ia dengan
tulus dan ikhlas merawat anak tirinya dengan alasan ibu mereka masih dianggap
terlalu muda.
Dari perkawinan poligami, Dahlan dikaruniai dua anak, masing-masing dari Nyai
Abdullah dan Nyai Aisyah. Cicit Ahmad Dahlan, Siti Hadiroh, mengutip dalam
warta PWMU, mengatakan bahwa Nyai Dahlan sangat perhatian kepada anak
tirinya, sampai-sampai anak-anak itu tak tahu kalau Nyai Dahlan bukan ibu
kandung.
Nyai Dahlan dikenal tegas dalam mendidik anak-anaknya, terutama soal beribadah.
Pernah satu kali, salah satu anaknya, R. Dhuri yang memiliki minat di bidang
musik, sedang asyik bermain biola hingga lupa salat. Nyai Dahlan menegur tetapi
tak diindahkan. Tanpa kompromi, Nyai Dahlan mengambil biola dan
membuangnya ke dalam tungku api. (Widiyastuti, Kenangan Keluarga Terhadap
KHA Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, 2010: 14).
Siti Hadiroh, dalam buku yang sama, bercerita bahwa ibunya, Siti Djuwariyah,
pernah menerima pesan langsung dari Nyai Dahlan: “Sesungguhnya ada dua
penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali oleh yang menderita penyakit
sendiri. Kedua penyakit itu adalah kikir dan malas.”
Teladan Nyai Dahlan tak sampai di situ. Ia memahami dan melakoni pesan terakhir
suaminya.
Ahmad Dahlan, sebelum meninggal dunia pada 1923, mengumpulkan istri, anak,
dan cucu-cucunya. Kepada mereka, ia berpesan: “Aku titipkan Muhammadiyah
kepadamu. Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di
Muhammadiyah."
Dalam satu peristiwa, tatkala Nyai Dahlan dirawat di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah, ia menolak tawaran dari pihak rumah sakit yang ingin
menggratiskan biaya pengobatannya. Alasannya, Nyai Dahkan ingat pesan terakhir
suaminya.
Ia lantas pulang untuk mengambil uang dan membayar biaya rumah sakit. Namun,
rupanya, uang yang terkumpul tak mencukupi tagihan rumah sakit. Nyai Dahlan
pun menyuruh salah satu anaknya menjual lemari untuk menutupi kekurangan
biaya pengobatan
Kisah itu dituturkan oleh Chayatul Khuriyah, cucu Ahmad Dahlan.
Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 31 Mei 1946. Dua puluh lima tahun
kemudian pemerintah mengangaktnya sebagai pahlawan nasional.
Kiprah Nyai Dahlan tentu bisa terlihat dari warisan organisasi 'Aisyiyah. Kini
'Aisyiyah menjadi salah satu organisasi perempuan muslim terbesar dengan
mengusung program kerja yang tak pernah lepas dari akarnya: mengangkat derajat
kaum perempuan agar bermanfaat untuk masyarakat umum.
Sumber : https://tirto.id/meneladani-perjuangan-dan-kesetiaan-nyai-ahmad-dahlan-cArA

Abdul Munir Mulkhan:

"Aktivis Muhammadiyah
Kini Tak Menangkap
Ruh Gerakan Sosial
Dahlan"
Reporter: Agung DH & Dipna Videlia Putsanra | 22 November, 2017 | tirto.id
Munir mengingatkan para kader Muhammadiyah agar berpikiran terbuka sebagaimana 'sang
pencerah' Ahmad Dahlan
"Islam itu harus berpikir produktif, harus berkarya bagi kemanusiaan.
Muhammadiyah bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kemanusiaan."
tirto.id - Abdul Munir Mulkhan punya perhatian besar terhadap sejarah awal
Muhammadiyah. Ia seorang guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta yang banyak menulis tentang sepak terjang Ahmad Dahlan dan
Muhammadiyah.
Dari tangan Munir, beberapa karya dilahirkan, di antaranya Pemikiran Kyai Haji
Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam perspektif perubahan
sosial (1990), Islam sejati: Kiai Ahmad Dahlan dan petani
Muhammadiyah (2003), dan Islam kultural Kiai Dahlan: mengembangkan dakwah
dan Muhammadiyah secara cerdas dan maju bersama Kiai Ahmad
Dahlan (2013).
Kami menemui Munir di kediamannya di Perumahan Kementerian Agama
Yogyakarta pada Senin sore, 20 November 2017. Munir berbicara banyak
mengenai spirit Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah.
Menurut Munir, Ahmad Dahlan digerakkan oleh pemikiran dunia Islam saat itu,
kolonialisme, dan kondisi masyarakat Islam di Hindia Belanda. Dari situ Dahlan
bermimpi mewujudkan masyarakat Islam berkemajuan.
Apa yang mendasari Ahmad Dahlan Mendirikan Muhammadiyah?
Untuk memahami itu, kita mesti melihat konteks sosial budaya pada tahun-tahun
awal abad 20, tahun 1900-an. Bukan hanya Indonesia, tapi dunia Islam yang boleh
disebut sebagai puncak-puncak kenadirannya—seluruh dunia dalam penjajahan.
Pikiran Dahlan pada waktu itu bukan hanya Islam (di) Indonesia tapi dunia.
Sementara ia berada dalam situasi kultural Kerajaan Islam, berada dalam
cengkeraman pemerintah kolonial Belanda.
Aspek lain, kalau orang membaca, bacaan Dahlan mendunia, karena ia baru saja
pulang dari Mekkah, tempat pertemuan bangsa-bangsa Muslim dari seluruh dunia.
Pada saat yang sama sedang terjadi kebangkitan Islam. Itu dipelopori oleh
Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Dunia Islam sedang bergerak
walaupun berada pada cengkeraman kolonialisme.
Pada aspek satunya lagi, ketika orang membaca ajaran-ajaran Islam, betapa
indahnya, betapa heroiknya, betapa “provokatifnya” agar orang kreatif, agar orang
sukses, peduli sesama.
Jadi, memang [kita] harus [melihatnya] multiaspek dan memberi makna bagaimana
kelahiran Muhammadiyah.
Di sisi lain lagi soal bagaimana orang Islam pada waktu itu. Justru yang
terjadi sebaliknya: saling tidak peduli, saling menyakiti diri sendiri, seperti lari dari
dunia objektifnya. Enggan menerima kenyataan bahwa mereka sedang berada
dalam puncak ketidakberdayaan, kemudian menikmati “penderitaannya”
Mungkin, kalau sekarang agak sulit bagi anak muda melihat masyarakat Islam
pada saat itu. Lari ke kuburan, lari ke kekuatan-kekuatan magis yang dianggap bisa
mengubah, menciptakan kehidupan sehat, sejahtera. Tapi justru hal itu lari dari
keadaan sebenarnya.
Di saat yang sama Kiai Dahlan berada di pusat kekuasaan Islam dan kekuasaan
Belanda, karena berada di lingkungan Keraton. Jadi ada dua hal yang saling
berhadapan di depan matanya.
Seperti tadi saya katakan, ada provokasi ketika dia membaca ayat-ayat suci
Alquran, membaca surat Nabawi. Lalu dia melihat di pusat peradaban saat
itu, Yogya benar-benar sebuah suatu titik lampu di tengah-tengah hutan belantara,
benar-benar kelihatan betul pusat kehidupan itu ada di Yogya, di Keraton itu.
Lantas, ketika keluar dari Keraton, dia melihat masyarakat yang mestinya punya
agama, yang hebat itu, hidup di dalam puncak-puncak penderitaan, kelaparan,
saling menikam, saling bertengkar.
Dia juga belajar bagaimana orang-orang Belanda, orang-orang Katolik, orang
Kristen, mengelola dirinya. Kalau sakit, mereka tidak pergi ke kuburan, tidak pergi
ke pohon beringin. Tapi konsultasi ke dokter, ke rumah sakit. Mereka mengelola
anak-anak kecil mempersiapkan masa depannya dengan sekolah. Semua ini dia
alami karena berada di Yogya.
Dia berontak kepada dirinya sendiri. Bukan karena ingin bersaing dengan Kristen,
tapi justru bagaimana dia mengubah nasibnya dengan jalan kebudayaan. Karena
itu, pekerjaan pertama kali yang dilakukannya adalah melalui pendidikan, santunan
kepada orang-orang yang menderita. Dahlan bahkan membuat pasukan
penanggulangan bencana, semacam Satgas Kebakaran.
Saya bayangkan situasi saat itu chaostic. Di mana-mana ada orang meninggal,
keleleran di tengah jalan karena memang Yogya itu pusat ekonomi, pusat
peradaban, tempat paling aman, sehingga Yogya menjadi tumpuan, tempat
pelarian. Tapi kemudian orang enggak dapat apa-apa di Yogya.
Kalau saya bayangkan, banyak orang kemudian meninggal di jalan, pengemis yang
kemudian telantar di jalan
Maka, dalam sejarah, meski saya enggak menemukan dokumennya sampai
sekarang, yang sering saya sebut legenda, adalah tentang pengajian Al-
Ma'un. Kasarnya, harusnya orang Islam itu peduli sesama, saling membantu, tapi
mengapa orang Islam salat tetapi enggak peduli terhadap sesama? Kalau begitu
semua orang ini pendusta. Mengabdi kepada Tuhan tapi membiarkan orang lain
sengsara. Itu diulang-ulang dalam pengajian Al-Ma'un.
Waktu itu Kiai Dahlan jadi pusat perhatian karena orang ini aneh, wong ngaji kok
ngurusi orang-orang yang menderita, ngaji kok kemudian bertanya apa yang kamu
lakukan untuk orang yang menderita. Sehingga orang yang datang kepadanya
datang dari mana-mana, karena aneh pemikirannya, tidak sesuai dengan tradisi
zamannya.
Singkat cerita, mulailah dia mendirikan apa yang dikenal dengan sekolahan, tapi
jangan dibayangkan sekolahan itu ada gedungnya. Sekolahan itu di rumahnya.
Dikenallah kemudian, karena banyak orang menderita, muncullah gagasan untuk
mengumpulkan anak-anak yang keleleran itu.
Orang datang dari mana-mana, dari Magelang, Purworejo, Purwokerto, karena apa
yang disampaikan Kiai Dahlan berbeda dengan model-model pengajian di
masyarakat.
Sampailah apa yang diberikan Kiai Dahlan menarik minat kalangan elite, orang-
orang yang berpendidikan, yang kaya. Dia terlibat dalam Sarekat Islam yang lahir
terlebih dahulu. Lalu Boedi Oetomo dan macam-macam—kumpulan orang
pergerakan, orang-orang pribumi yang lebih berorientasi pada politik, sebagian
didasarkan pada rasa kemanusiaan.
Mereka melihat Kiai Dahlan menarik, tidak seperti dulu yang namanya khotbah itu
tidak dimengerti karena pakai bahasa Arab; sementara Kiai Dahlan berbeda.
Di dalam dinamika itulah kemudian ada suatu gagasan untuk disusun dalam
organisasi. Singkat cerita, diberilah nama Muhammadiyah.
Karena sifatnya gerakan kebudayaan, pertama-tama bukan menempatkan diri
sebagai gerakan yang “melawan penjajahan”. Ini karena memang awalnya gerakan
penyadaran—enlightenment.
Dalam kisah-kisah awal itu, sampailah kemudian orang mendengar ada organisasi
yang ketuanya disebut presiden. Ini, kan, menimbulkan pertanyaan.
Maka, diberilah penjelasan-penjelasan. Bahkan penghulu Keraton yang tadinya
kurang mendukung, jadi mengerti maksudnya.
Singkat cerita, Ahmad Dahlan mengajukan izin ke pemerintah Hindia Belanda.
Surat itu diajukan seperti yang diperingati sekarang: 18 November 1912. Tapi
izin itu baru keluar dua tahun kemudian.
Dulu anggotanya ada tiga macam. Pertama, yang disebut anggota biasa—ya
seperti saya, Pak Haedar Nashir (Ketua PP Muhammadiyah 2015-2020), Pak
Yunahar Ilyas (Wakil Ketua Umum MUI Pusat 2015-2020). Itu anggota biasa,
orang-orang Islam yang mempunyai komitmen, setuju terhadap
tujuanMuhammadiyah.
Kedua adalah anggota istimewa: siapa saja, bangsa siapa saja, agama apa saja,
sepanjang orang itu punya jasa besar terhadap Muhammadiyah; mereka diberi
kartu anggota Muhammadiyah. Tetapi orang ini beda, tidak boleh dipilih dan tidak
boleh memilih.
Ketiga disebut anggota donatur: siapa saja, agama apa saja, yang memberi bantuan
donasi pada Muhammadiyah tiap bulan, dia boleh menjadi anggota
Muhammadiyah, tetapi dia tidak boleh memilih dan tidak boleh dipilih.
Kembali ke masa awal pendirian Muhammadiyah, pada waktu itu masih tidak
lazim mendirikan gerombolan-gerombolan, atau kalau sekarang disebut ranting.
Dulu Muhammadiyah hanya di Yogyakarta, kemudian melebar di Hindia Belanda,
di daerah di bawah kekuasaan Belanda.
Yang dikerjakan itu sekolah. Waktu itu aneh. Orang Islam kok sekolah, apalagi
pakai bangku. Itu luar biasa. Bagi masyarakat itu aneh.
“Islam kok koyo ngono, kafir itu, niru orang Belanda.”
Di saat yang sama, Muhammadiyah mendirikan panti asuhan, rumah sakit—waktu
itu namanya poliklinik—didirikan tahun 1923. Saat itu Kiai Dahlan sudah
meninggal.
Kemudian Sukarno tertarik pada pemikiran-pemikiran Kiai Dahlan, atau dalam
bahasa Muhammadiyah sekarang, "Islam yang berkemajuan." Boedi Oetomo juga
tertarik pada Muhammadiyah.
Ini kok Islam tapi ngurusi orang-orang yang menderita, berdasarkan welas asih?
Kalau Anda baca buku saya yang diterbitkan Kompas tahun 2010, Kiai
Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan, yang namanya etika
welas asih itu isi pidato Dr. Sutomo.
Dulu yang namanya mencari ilmu itu ya orang datang ke guru. Kiai Dahlan enggak
begitu. Dia jalan; gurukeliling. Sering saya lukiskan seperti tukang jamu, tukang
obat. Datang ke mana-mana ke banyak orang, lalu disampaikanlah ajaran-ajaran
Islam. Waktu itu juga dikritik habis-habisan karena melecehkan ulama karena
dituduh "ngecer agama."
Terakhir, saya kira, setelah didirikan PKU, akronim dari Penolong Kesengsaraan
Umum, siapa saja kalau memang menderita harus ditolong, maka muncullah yang
namanya asas PKU.
Muhammadiyah itu berjuang, bekerja, menolong, mendidik, mengobati; bukan
dengan maksud mengubah agama yang bukan Islam jadi Islam, yang bukan Islam
Muhammadiyah jadi Muhammadiyah—bukan begitu. Semua dilakukan
Muhammadiyah semata-mata demi kemanusiaan, berdasarkan ajaran Islam. Itu
yang namanya asas PKU
Ahmad Dahlan juga mendorong perempuan yang dulunya macak, masak,
manak harus keluar rumah, untuk bekerja, mencari ilmu. Itu yang kemudian berdiri
secara resmi 'Aisyiyah pada 1917.
Begitulah kira-kira suasana awal [sejarah] Muhammadiyah.
Tentu yang sebenarnya jauh lebih kaya, lebih detail, lebih rumit dari sekadar cerita
saya. Dan tidak terlalu tepat kalau kelahiran Muhammadiyah itu untuk melawan
Kristenisasi. Tapi justru Kiai Dahlan belajar pada orang-orang Kristen.
Jadi betapa revolusionernya pemikiran-pemikiran Kiai Dahlan karena melawan
arus tradisi yang berkembang di masyarakat.
Jadi kalau bisa disederhanakan, Kiai Dahlan ini punya bayangan sebuah
tatanan baru dalam masyarakat Islam?
Tatanan baru karena memang tidak sesuai dari yang ada di masyarakat. Itu bukan
baru, tapi itulah Islam. Tapi waktu itu sesuatu yang baru. Misalnya, Kiai Dahlan-
lah yang memulai ceramah-ceramah dengan bahasa Jawa.
Membumikan Islam?
Iya. Waktu itu dianggap melecehkan Islam karena Alquran di-bahasa Jawa-kan.
Bagi Dahlan, ini gimana kitab suci yang jadi pedoman, kok, tidak dimengerti
banyak orang? Guru keliling itulah yang menjadi bibit kawit yang tidak ada di
negara-negara Islam lain.
Pada awal berdiri, Kiai Dahlan jadi anggota Boedi Oetomo, apakah ini upaya
Muhammadiyah untuk dibantu mendapatkan izin dari kolonial?
Ini yang secara logis saya tidak punya dokumennya, seolah-olah Boedi Oetomo
tidak penting; bukan begitu. Tapi Kiai Dahlan itu yang ditarik sana-sini dan Kiai
Dahlan juga tertarik. Di tengah pergaulan dengan Boedi Oetomo itulah muncul
gagasan untuk membuat organisasi.
Pengalaman organisasi Boedi Oetomo ini yang menjadi inspirasi untuk gagasan
kebersatuan dalam organisasi. Jadi, bukan sekadar masuk Boedi Oetomo untuk
mempermudah izin.
Kalau gagasan tatanan baru pemikiran-pemikiran organisasi pada abad itu,
apa yang paling membedakan dari Kiai Dahlan?
Pencerahannya, enlightenment. Itu yang tidak ada di Boedi Oetomo dan organisasi
lain. Ini gerakan bawah, mengumpulkan orang-orang yang menderita, lalu
kemudian disadarkan.
Tapi Muhammadiyah sendiri berangkat dari golongan elite?
Iya, tapi kemudian yang digarap adalah orang-orang bawah. Ini yang tidak ada di
Sarekat Islam, tidak ada di Boedi Oetomo. Orang-orang yang kudisan, korengan,
kan, enggak diopeni oleh yang lain, tapi diopeni [ditolong] oleh Kiai Dahlan.
Pendirian Muhammadiyah cenderung didasarkan pada gerakan Wahabi atau
kondisi sosial saat itu?
Waktu itu bukan hanya Wahabi. Saya sering melukiskan Kiai Dahlan itu berbeda
dari Abduh. Abduh tidak punya ratusan rumah sakit. Walaupun memang Abduh
memberikan inspirasi pada kita. Walaupun saya juga mengkritik pada aktivis
Muhammadiyah sekarang karena tidak menangkap ruhnya gerakan sosial Dahlan.
Sehingga yang ditangkap itu mendirikan sekolah, lalu mendirikan rumah sakit—ya
itu bagus. Tapi sekolah itu mendorong perubahan apa? Itu yang tidak ditangkap
pada pengelola-pengelola sekolahan.
Kemudian rumah sakit itu mendorong perubahan apa? Karena ini kepedulian kok
kepada mereka-mereka yang gagal sehat itu. Dulu itu gratis. Tentu saya bukan
menolak rumah sakit berbayar, tapi spiritnya itu, loh.
Kiai Suja’ ya yang mengembangkan?
Iya, yang kemudian mengorganisir adalah Kiai Suja’, tapi idenya, kan, dari Kiai
Dahlan.
Jadi Kiai Dahlan menggarap pendidikan, kesehatan, karena tidak digarap
organisasi lain?
Kalau tidak disentuh organisasi lain, ya memang tidak ada dulu organisasi Islam
selain Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama belum, Persatuan Islam juga belum,
Sarekat Dagang Islam di kalangan elite. Soal pendidikan ini kunci untuk mengubah
cara pandang. Islam itu harus berpikir produktif, harus berkarya bagi kemanusiaan.
Berkali-kali saya mengatakan, Muhammadiyah itu bukan untuk dirinya sendiri,
tapi untuk kemanusiaan.
Maka saya juga mengkritik tujuan pendidikan Muhammadiyah untuk mencetak
kader—itu tidak bisa, itu omong kosong. Wong yang masuk itu orang macam-
macam, kok, lalu masuk lima tahun lalu jadi kader. Enggak. Tujuan yang terutama
itu manusia yang baik, Muslim yang baik, lalu sebagian kecil jadi Muhammadiyah
yang baik. Sebab, kalau [untuk tujuan] kader itu ya gagal semua.
Dulu pernah jadi perdebatan apakah Muhammadiyah itu organisasi kader atau
organisasi massa? Kalau dalam perdebatan itu, ya organisasi Muhammadiyah
adalah organisasi kader: mencetak orang-orang—yang dalam sebuah dokumen itu
disebutkan sebagai anggota Muhammadiyah—di manapun berada harus bisa
mengubah masyarakat tanpa harus menggunakan embel-embel Muhammadiyah.
Nah, kalau begitu, berarti organisasi kader.
Tadi Anda bilang, Muhammadiyah lebih cenderung gerakan kebudayaan,
tapi di awal pendirian, Muhammadiyah tidak bisa lepas dari politik kolonial,
terutama misalnya, Kiai Dahlan juga pernah terlibat di Sarekat Islam?
Memang kita bisa memperdebatkan apa maknanya, mungkin lebih pas kalau
disebut kooperatif, walaupun tidak sesederhana itu. Jadi, kalau kita melawan begitu
besarnya Belanda dan di belakang itu ada kolonialisme, kapitalisme, tidak hanya di
Indonesia tapi dunia, maka jalan yang ditempuh adalah kooperatif.
Menggunakan kekuasaan Belanda untuk mengubah kesadaran baru—yang dalam
kampanye dengan Jokowi dulu saya katakan, "Muhammadiyah itu sebetulnya
menciptkan infrastruktur kebangsaan". Orang lalu sadar berorganisasi, orang lalu
sadar tujuan hidupnya, sadar bagaimana orang harus bersatu, bergotong-royong.
Mengapa begitu? Karena Muhammadiyah lebih dulu ada daripada gerakan-gerakan
yang lain
Pada momentum apa terjadi perubahan gerakan kultural ke arah politik di
Muhammadiyah?
Tentu sekali lagi penjelasan itu harus memilih, karena tidak semuanya dapat
memilih. Itu dimulai ketika dibentuknya Majelis Tarjih yang memulai gerakan
kebudayaan, tapi ditangkap kemudian sebagai gerakan Fikih. Fikih itu hukum,
hukum itu politik. Saya punya dokumennya, yang Anda bisa baca, sesungguhnya
itu didirikan Majelis Tarjih untuk mendamaikan pertengkaran antara orang-orang
Islam yang berkaitan dengan bagaimana laku agama.
Muhammadiyah itu menempatkan diri sebagai saudara tua. Saya curiga, Jepang
baca itu jadi menempatkan diri sebagai saudara tua, begitu dulu. Jadi bukan
gerakan Fikih. Baru tahun 1930-an dan 1935-an itu jadi gerakan Fikih yang
sebetulnya diperbarui oleh Muhammadiyah: Majelis Tarjih diubah lalu dibentuk
delapan divisi.
Bersamaan itu ada gerakan kemerdekaan. Itu ada di disertasi saya yang diterbitkan
Galang Press. (Marhaenis Muhammadiyah, 2010)
Embrio gerakan politik Muhammadiyah paling kentara pada kepemimpinan
Kiai Ibrahim?
Saya tidak terlalu banyak membaca Kiai Ibrahim, tapi kalau kekuasaan itu
menggunakan politik ya sejak Kiai Dahlan. Misalnya, Kiai Dahlan mengusulkan
kepada pemerintah agar di tempat-tempat umum didirikan musala. Dulu mencari
Musala itu susahnya bukan main.
Lalu dia usul pada pemerintah Hindia Belanda, kalau memeriksa orang mati, bila
perempuan, ya harus dokter perempuan. Tapi bagaimana menangkap upaya-upaya
politik ini dilembagakan? Nah, sekali lagi saya tidak terlalu banyak membaca soal
Kiai Ibrahim.
Mungkin saya hanya melihat begini: Bersamaan Indonesia bergerak mencapai
kemerdekaannya, sehingga kesadaran politik jadi kesadaran para aktivis
pergerakan, termasuk Muhammadiyah, kemudian bergabung ke Masyumi; hanya
Muhammadiyah tetap pada gerakannya. Dan itu jauh sebelum kemerdekaan
terjadi.
Lalu ada istilah politik praktis. Itu kemudian dipercayakan kepada Masyumi.
Sehingga Muhammadiyah jadi anggota istimewa Masyumi. Itu yang saya kritik
sekarang. Karena Muhammadiyah jadi tidak jelas sikap politiknya. Karena
bersumber pada dokumen lama yang diterbitkan sebelum Masyumi bubar, itu
menjelang pemilu pertama yang namanya Mukadimah Anggaran Dasar, bersamaan
keterlibatan Ki Bagus Hadikusumo di dalam menyusun UUD 45.
Jadi, gerakan Muhammadiyah ada dua sisi: politik yang diserahkan kepada
Masyumi; dan gerakan dakwah yang sekarang ini. Namun, ini belum diperbarui.
Usul saya: ini harus diredefinisi supaya “kerja politik” Muhammadiyah jadi jelas.
Tidak seperti sekarang. Di satu sisi pengin kekuasaan, di sisi lain anti-kekuasaan—
kan, jadi lucu.
Tapi ya terserah generasi muda Muhammadiyah bagaimana menangkap zaman.
Kan saya sudah tua, saya sudah 72 tahun sekarang.
Ada perubahan enggak dari Muhammadiyah setelah Ahmad
Dahlan meninggal?
Banyak sekali. Tadi pernah saya sampaikan, misalnya bagaimana Muhammadiyah
menghadapi tradisi? Tidak sekasar sekarang. Itu sudah saya tulis di Museum
Kebangkitan Nasional ketika memperingati 20 Mei 2016. Kiai Dahlan dulu
mengubah tradisi gugon tuhon tidak langsung face a face tapi lewat penyadaran,
lewat pendidikan; Muhammadiyah tidak kemudian bertabrakan dengan tradisi
Itu kemudian juga dikritik oleh Kuntowijoyo: “Muhammadiyah itu gerakan
kebudayaan tanpa kebudayaan”.
Muhammadiyah itu, kalau kritik Kuntowijoyo, seolah-olah mematikan tradisi tapi
enggak menciptakan tradisi baru. Jadi, kami memimpin bersama Buya (Syafi'i
Ma'arif) mengembangkan dakwah kultural. Tapi kemudian ditolak, seolah-olah
Muhammadiyah itu mengadopsi tradisi. Tujuan kami bagaimana masyarakat
menyadari dirinya sendiri, membawa dirinya sendiri berpikiran terbuka. Itu yang
berangkali patut dicatat dalam peringatan Milad Muhammadiyah ke-105 tahun ini.
Jadi ini penyadaran. Gerakan kebudayaan itu penyadaran. Tidak struktural.
Sehingga kesannya Muhammadiyah itu anti-seni, anti-tradisi. Dulu pakaian
Muhammadiyah itu Jawa, justru yang di luar Muhammadiyah itu ke-arab-arab-an,
pakai sorban. Muhammadiyah tu justru Jawa, karena memang gerakan kebudayaan
tadi.

Sumber : https://tirto.id/aktivis-muhammadiyah-kini-tak-menangkap-ruh%C2%A0gerakan-
sosial-dahlan-cArH