Anda di halaman 1dari 11

Bentuk-bentuk modernisasi Islam di Indonesia

Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban yang ditujukan
terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya.kemunduran kerajaan Utsmani yang
merupakan pemangku khalifah Islam setelah abad ke-17 M telah melahirkan kebangkitan Islam
dikalangan warga Arab dipinggiran imperium Utsmani. Gerakan pembaharuan ini akhirnya
menyebar luas ke berbagai belahan dunia muslim, termasuk salah satunya ke Indonesia.

Adapun bentuk-bentuk pembaharuan di Indonesia yaitu:

1. Gerakan Puritanisme

Gerakan ini pertama kali diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejd. Gerakan
puritanisme ini masuk ke Indonesia melalui tiga orang yang baru pulang dari haji ditanah suci,
yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka melakukan penentangan terhadap
praktek kehidupan beragama masyarakat Minangkabau yang telah banyak terpengaruh oleh unsur-
unsur takhayul, khurafat dan bid’ah.

Karena aktifitas mereka di anggap cukup membahayakan keberadaan kaum tua atau kaum
adat, maka kaum tua meminta bantuan Belanda. Pada tahun 1821-1837 M terjadilah Perang Paderi.

Dalam pertempuran yang tak seimbang itu kaum ulama mengalami kekalahan. Kekalahan
ulama dalam Perang Paderi dalam menghadapi Belanda tidaklah membuat patah semangat para
tokoh pejuang pembaharu itu, tetapi gerakannya semakin hebat. Gerakan pembaharuan itu tidak
lagi bersifat politik agama, tetapi di alihkan ke dalam gerakan pembaharuan pendidikan.

2. Gerakan Reformisme

Gerakan reformis adalah suatu gerakan pembaharuan yang dilakukan untuk kembali kepada
dasar Islam yang asli. Kelompok ini berusaha menerapkan sistem ajaran Islam seperti yang ada
pada zaman Nabi SAW.

3. Gerakan Radikalisme

Gerakan ini merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para pembaharu Islam untuk
membangkitkan kembali semangat masyarakat Islam, sehingga mereka akan menjadi masyarakat
yang maju. Namun sebelum itu, unsur-unsur yang terdapat dalam ajaran Islam yang tercemar oleh
takhayul, bid’ah dan khurafat harus dibersihkan terlebih dahulu.

Dalam tatanan pelaksanaan pembaharuan seperti ini, biasanya cara yang ditempuh melalui
bentuk-bentuk radikal yang tak jarang dengan menggunakan kekerasan. Pada umumnya, gerakan
ini menentang kekuasaan Barat yang kafir.

4. Gerakan Neo-sufisme

Gerakan ini merupakan kelanjutan dari gerakan yang dilakukan para pembaharu dari
kelompok tarekat atau tasawuf dengan mengambil bentuk baru. Bentuk baru itu adalah aktifisme.

Bentuk aktifisme dalam gerakan ini membuat masyarakat menjadi dinamis. Bahkan dengan
gerakan ini masyarakat dapat mengembangkan diri tanpa banyak bergantung kepada uluran
kelompok atau bangsa lain.

Di antara unsur aktifisme adalah jihad. Melalui kata kunci inilah umat Islam melakukan
pembaharuan, terutama menentang segala bentuk penjajahan dan keterbelakangan. Gerakan ini
banyak mewarnai berbagai pemberontakan Islam di tanah air dalam masa-masa penjajahan,
misalnya pemberontakan petani Banten pada tahun 1888 M.1

Pengaruh Modernisasi Islam Terhadap Indonesia

Gerakan pembaharuan yang berkembang di berbagai tempat khususnya dikawasan Timur


Tengah telah memberikan pengaruh besar kepada gerakan kebangkitan Islam di Indonesia. Ide
gerakan pembaharuan tersebut masuk ke Indonesia melalui berbagai saluran, antaranya lewat
kontak para intelektual muslim Indonesia dengan intelektual muslim Timur Tengah, dan kontak
jemaah haji Indonesia dengan jemaah luar.2

Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau, yang disusul
oleh pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia yang ditandai
dengan berdirinya organisasi Jami’atul Khair (1905), organisasi ini pada dasarnya terbuka untuk
semua golongan muslim, namun mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab.3

1
Murodi, M.A, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: Karya Toha Putra, tt), hlm. 196-198
2
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: Karya Toha Putra, tt), hlm 195
3
Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, cet-2 (Bandung: Pustaka, 2001), hlm 117
Kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi-organisasi sosial keagamaan,
seperti Sarekat Dagang Islam (SDI)di Bogor (1909) dan Solo (1911), Persyarikatan Ulama di
Majalengka, Jawa Barat (1911), Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Persatuan Islam (Persis)
di Bandung (1920-an), Nahdatul Ulama (NU) di Surabaya (1926), dan Persatuan Tarbiyah
Islamiah (Perti) di Candung, Bukittinggi (1930), dan Partai-partai Politik, seperti Sarekat Islam
(SI) yang merupakan kelanjutan dari SDI, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) di Padang
Panjang (1932) yang merupakan kelanjutan dan perluasan dari organisasi pendidikan Thawalib
dan Partai Islam Indonesia (PII) pada tahun 1938.4

Organisasi-organisasi sosial keagamaan Islam dan organisasi-organisasi yang didirikan kaum


terpelajar menandakan tumbuhnya benih-benih nasionalisme dalam pengertian modern, yang
dikemudian hari berperan aktif dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia.

Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia di tinjau dari lembaga sosial keagamaan

A. Sarikat Islam (SI)


Sarikat Islam (SI) pada mulanya bernama Serikat Dagang Islam (SDI) yang merupakan
sebuah organisasi dagang yang didirikan pada tahun 1911 oleh seorang pengusaha batik
di Solo yaitu Samanhudi. Kemudian pada perkembangan selanjutnya berubah menjadi
Sarikat Islam. SDI muncul untuk menghadapi persaingan dagang dengan orang cina yang
memonopoli bahan-bahan batik dan sikap superioritas mereka terhadap orang Indonesia
yang didukung oleh pemerintah Belanda. Selain itu tujuannya adalah untuk mengatasi
tekanan dari kalangan bangsawan, dan membuat front perlawanan menghadapi semua
penghinaan terhadap rakyat Bumiputera, serta sebagai media perlawana terhadap
kecurangan dan penindasan yang dilakukan pihak pegwai Bumiputera dan Eropa terhadap
Rakyat.5
Pada tahun 1913, SI mengadakan kongres pertama di Surabaya, dan berhasil membagi
wilayah organisasi menjadi tiga, yaitu Jawa Barat (termasuk Kalimantan), dan Jawa Timur
(termasuk Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, dan pulau Indonesia Timur Lainnnya).6

4
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Grafindo Persada, 2008), hlm 258.
5
Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), cet. 1., h. 33
6
Ibid., h 36.
Dibawah kepemimpinan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto pada tahun 1915, SI
memiliki pengurus pusat dan berkembang menjadi sebuah organisasi besar dan
berpengaruh, gerakannya tidak hanya sebatas pada bidang perdagangan dan
perekonomian, melainkan juga diperluas dalam bidang keagamaan.7
Pada tanggal 18 februari 1914 diadakan pertemuan di Yogyakarta yang menghasilkan
terbentuknya pengurus pusat SI yang terdiri dari H. Samanhudi sebagai Ketua Kehormatan,
Cokroaminoto sebagai ketua dan Gunawan sebagai Wakil ketua. Pengurus pusat ini diakui
pemerintah pada tanggal 18 maret 1916. Kemudian berbenah dengan memberikan
perhatian pada berbagai persoalan baik politik maupun agama. Sikap politik keagamaan
yang dirumuskan pada kongres nasional ke- 2 tahun 1917 berbunyi “Bahwa agama Islam
itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat kemanusiaan sambil menjunjung
tinggi kepada kuasa negeri dan Islam sebaik-baik agama buat mendidik budi pekerti
rakyat.8”
Perkembangan berikutnya SI mengalami perubahan, terutama karena SI disusupi oleh
orang-orang komunis yang tergabung dalam organisasi Indische Social Democratische
Vereniging (ISDV) pimpinan Sneeveliet seorang kader komunis dari Belanda, akhirnya SI
tak dapat mengelakkan diri dari perpecahan dan jadilah SI menjadi dua bagian yaitu SI
Putih dan SI Merah yang beraliran Komunis.
Berdasarkan putusan kongres SI tahun 1921 di Yogyakarta, maka anggota SI merah
dikeluarkan dari Serikat Islam. Tahun 1923 SI berganti nama menjadi Partai Sarikat Islam
(PSI), dan pada tahun 1930 berganti lagi menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII),
tokoh-tokoh yang terkenal adalah Abdul Muis, Wignyodisastro, Suwardi Suryanigrat (KI
Hajar Dewantara), H. Agus Salim, dan Abikusno Cokrosuyoso.9
Gerakan pembaharuan SI dari perjalanan sejarahnya banyak melakukan pembaharaun
dalam bidang politik keagamaan, hal ini sesungguhnya berdasarkan keadaan dimana SI
berhadapan di antara perjuangan Rakyat dalam menghadapi Belanda, dan hegemoni
Ekonomi yang dilakukan oleh Cina.10
B. Muhammadiyah

7
Ibid.
8
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: Oxford University Press, 1980)., h. 126
9
Ibid.
10
Ibid.
Muhammadiyah secara etimologis berasal dari kata “Muhammad” yaitu Nabi dan
Rasul Allah yang terakhir, kemudian ditambah dengan “ya” nisbah, yang berarti pengikut
Muhammad. Sedangkan secara terminologis Muhammadiyah adalah gerakan Islam,
dakwah amar makruf nahi munkar, berasaskan Islam dan bersumber pada al-Quran dan
Sunnah. Muhammadiyah di dirikan oleh KH. A. Dahlan pada tanggal 8 Zulhijjah 1330 H
atau tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta.11
Organisasi ini didirikan mempunyai maksud untuk mencontoh dan meneladani jejak
perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi
agama Islam semata-mata demi terwujudnya Izzatul Islam wa al-Muslim.
Faktor yang mendorong KH. A. Dahlan adalah karena:
1. Ketidakbersihan dan campur aduknya kehidupan agama Islam di Indonesia
2. Ketidakefesiennya lembaga-lembaga pendidikan agama dalam melakukan
pendidikannya.
3. Aktifitas misi-misi agama lailn (Katholik dan Protestan) semakin meningkat.
4. Sikap acuh tak acuh, malah terkadang merendahkan dari golongan intelegensia
terhadap Islam.12

Sebagai organisasi Islam yang tertua di Indonesia sejak awal berdirinya


mengkonsentrasikan gerakannya secar substansial adalah gerakan Islam dan Dakwah
dalam arti luas, yakni mengajak manusia untuk beragama Islam, meluruskan keIslaman
kaum muslimin serta meningkatkan kualitas kehidupan mereka baik secara intelektual,
social, ekonomi maupun politik.13

Guna pencapaian dari tujuannya, persyarikatan Muhammadiyah membentuk lembaga-


lembaga seperti; Majlis Tarjih, Majlis Hikmah, Aisyiah, Hizbul Wathan, Majlis Wakaf,
Majlis Pengajaran, Majlis Tabligh, Majlis Ekonomi, Majlis Dakwah, PKO (Penolong
Kesengsaraan Oemoem) bidang kesehatan dan panti asuhan, kemudian muncul IPPM,

11
Mustafa Kalam Pasha dan Ahmad Adaby Darabar, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam, (Yogyakarta: LPPI,
2000), cet-1., h. 707
12
Ali Mukti, Interpretasi Amalan Muhammadiyah, (Yogyakarta: Harapan Melati, 1985., h. 23
13
Abuddin Nata, et.al, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia,
(Jakarta: Grasindo, 2001)., h. 252
IRM (ikatan Remaja Muhammadiyah), Pemuda Muhammadiyah, IMM dan lembaga-
lembaga lainnya yang bertujuan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.14

Muhammadiyah sebagai organisasi yang berusaha untuk memurnikan pengamalan


ajaran Islam (purifikasi) sekaligus mengangkat kehidupan umat.15 lebih berani
menerapkan sistem modern, meskipun dalam hal ini Muhammadiyah tidak jarang hanya
melakukan adopsi saja atau lebih mendasar pada nilai pragmatis, dari sinilah para
cendikiawan menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi yang moderen.

Lahirnya pemikiran Moderen di awal abad ke-20 melalui organisasi Muhammadiyah


ini tidak dapat dilepaskan dengan situasi dan kondisi social poltiik yang dihadapi umat
Islam saat itu. Dimana ummat Islam berada dalam cengkraman kolonial Belanda
merupakan faktor eksternal munculnya organsiasi ini.16

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah sudah mengambil peran dan posisi strategis
yaitu Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hal itu membuktikan bahwa Muhammadiyah murni
memperjuangkan kebenaran dan memberantas kemungkaran. Setidaknya berupaya
melindungi masyarakat muslim dari pengaruh ajaran non Islam yang dapat membawa
umat menyimpang dari ketentuan ajaran yang digarskan oleh Islam dlam segala hal yang
menyangkut kehidupan umat Islam.

Perjuangan dan pergerakan Muahmmadiyah secara aplikatif telah dirintis melalui


berbagai terobosan dan gerakan seperti :

1. Membersihkan sikap dan prilaku kehidupan umat yang berbau syirik, khurafat dan
Tahayul kemudian mengembalikan aqidahnya kepada ajaran Islam yang murni
berdasarkan alQuran dan as-Sunnah.
2. Menggembirakan suasana kehidupan yang Islami dengan menumbuh kembagnkan
semangat ukhuwah Islamiyah, saling membantu dan menolong terutama terhadap
kaum dhu’afa di lapisan bawah.

14
Ibid.
15
Lihat, Muqaddimah AD-ART Muhammadiyah, (Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 1990)., h. 7
16
Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh: Suatu Studi Perbandingan, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1987)., h. 13
3. Menggerakkan dan menggembirakan perbaikan potensi ekonomi ummat sehingga
hartawan muslim (shahibul maal) bergairah megneluarkan zakat, infak, dan sadaqah
unutk membangun tempat-tempat ibadah, panti asuhan, rumah sakit, pusat-pusat
pendidikan dan fasilitas umum lainnya.
4. Mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dari berbagai tingkat dan disiplin Ilmu
untuk menciptakan kader-kader ulama, kaderkader umat, kader-kader bangsa dan
kader-kader persyarikatan yang cerdas dan berkualitas.
5. Menumbuh kembangkan perkumpulan-perkumpulan kaum wanita, remaja pemuda,
pandu, sebagai wadah pembinaan sikap mental dan keterampilan yang kreatif untuk
memperdalam penghayatan ajaran Islam yang komprehensip dan universal.
6. Menggelorakan semangat jihad dalam merebut kemerdekaan dengan
mendirikanwadah persatuan umat Islam sebagi mayoritas penduduk bangsa
7. Konsisten dan Istiqamah dalam pendirian untuk memperjuangkan tegaknya ajaran
Islam melalui dakwah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.17
C. Nahdhatul Ulama
Nahdhatul Ulama didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, salah seorang
ulama yang turut membangun perkumpulan Nahdhatul Ulama ialah KH. Hasyim Asyari
(18751947). Menurut Hanun Asrohah, Nahdhatul Ulama didirikan di Surabaya tahun 1926
sebagai perluasan dari Komite Hijaz, yang dibangun untuk dua maksud; pertama, untuk
mengimbangi komite khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ke tangan golongan
pembaharu; kedua untuk berseru Ibnu saud, penguasa baru di tanah arab, agar kebiasaan
beragama secara tradisi dapat diteruskan.18
Lebih lanjut Badri yatim mengemukakan, Nahdhatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah
didirikan pada tahun 1926 di Surabaya. Faktor yang mendukung didirikannya organisasi
ini adalah adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya yaitu Nahdhatul
Ulama merupakan reaksi dari gerakan modernis saat itu, pertama reaksi terhadap politisi
agama yang dilakukan oleh Syarikat Islam dan kedua merupakan reraksi terhadap gerakan

17
Ibid.
18
Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992).,
h. 16
pembaharuan Muhammadiyah. Sedang faktor eksternalnya adalah perluasan dari Komite
Hijaz serta seruan kepada Ibnu Sa’ud, agar kebiasaan beragama secara tradisi diteruskan.19
Jadi terdapat dua alasan pokok yang melatar belakangi berdirinya Nahdhatul Ulama, yaitu
timbulnya keperluan mendesak bagi kaum penganut mazhab untuk melakukan persatuan
diantara mereka guna menghadapi pesatnya perkembangan gerakan pembaruan Islam di
Indonesia. Timbulnya keperluan guna Nahdhatul Ulama menyampaikan resolusi dari
golongan tradisi di Indoneesia kepada Dinasti Sandi dari kaum Wahabi. Resolusi itu
meminta agar pemerintah baru tersebut tidak menghapuskan tradisi-tradisi yang mereka
pandang sebagai ibadah.
S. Sinansari menyebutkan, bahwa selama ini para penganut lebih terkonsentrasi pada
aspek organisasi (politis) dalam memahami Nahdhatul Ulama. Padahal, ada aspek lain
yang lebih penting, aspek sosio-kultural. Secara organisatoris-politis, Nahdhatul Ulama
baru muncul tahun 1926, ketika para ulama mendirikannya. Tetapi secara sosio-kulutral,
eksistensi Nahdhatul Ulama sebenarnya sudah lama ada, yakni ketika pemikiran-
pemikiran Sunni (Ahlussunah Waljamaah) memperoleh tempat dikalangan umat.
Sedangkan munculnya organsiasi Nahdhatul Ulama pada tahun 1926 boleh dikata hanya
pelembagaan dari pada penganut Aswaja. Tentu saja tak sekedar melembagakan aswaja
yang merangsang berdirinya Nahdhatul Ulama. Ada proses-proses lain yang
menyertainya.20
Usaha-usaha yang dilakukan dalam membangun pemahaman keagamaan Nahdhatul
Ulama adalah melalui pendirian lembaga pendidikan seperti pesantren-pesantren dan
madrasahmadrasah serta mengadakan tabligh-tabligh serta pengajianpengajian disamping
usaha-usaha lainnya.21
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Mahmud Yunus, ia mengemukakan bahwa
Nahdhatul Ulama memberikan perhatian yang besar bagi pendidikan, khususnya
pendidikan tradisional yang harus dipertahankan keberadaannya. Pada awal berdiriya
Nahdhatul Ulama tidak membicarakan secara tegas tentang pembaharuan pendidikan,
namun begitu Nahdhatul Ulama juga terjun dalam kegiatan pembaharuan pendidikan,

19
Badri Yatim, ., h. 178
20
S. Sinansari Ecip, NU: Khittah dan Godaan Politik, (Bandung: Mizan, 1994)., h. 17
21
Abu Ahmadi, Pendidikan Dari Masa ke Masa, (Bandung : Amrico, 1987)., h. 63
meski terbatas pada lingkungan perkotaan, Nahdhatul Ulama mendirikan madrasah-
madrasah dengan model barat. Sampai akhir tahun 1956 Komisi perguruan tinggi
Nahdhatul Ulama mengeluarkan reglement tentang susunan madrasah Nahdhatul Ulama,
yang terdiri dari; madrasah aliyah lama belajar 2 tahun dan madrasah ibdtidaiyah lama
belajar 3 tahun, Madrasah Tsanawiyyah, lama belajar 3 tahun, Madrsah Mu’allimiin
Wusta, lama belajar 2 tahun, dan Madrasah Mu’allimin ‘Ulya, lama belajar 3 tahun.22
Berbeda dengan syarikat Islam dan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama sebenarnya
bertujuan untuk melestarikan lembaga-lembaga dan tradisi Islam agraris dengan
solidaritas mekanis komunalnya. Nampaknya konsen terbesar Nahdhatul Ulama adalah
pada upaya-upaya yang lebih utilitarian dalam pengertian peribadatan semata.23
Pada periode 1926-1952, Nahdhatul Ulama lebih menekankan pada aspke keyakinan.
Concern Nahdhatul Ulama pertama pada masalah agama yaitu mengembangkan ajaran
agama yang dapat mempertahankan otoritas ulama, dan kedua concern pada masalah
politik, artinya pluralitas partai politik. Nahdhatul Ulama terjun ke dunia politik pada
masa revolusi kemerdekaan yang bergabung dalam partai masyumi. Pada partai ini pula
Nahdhatul Ulama mengalami kekecewaan, karena Majlis Syuro tempat ulama-ulama
Nahdhatul Ulama diubah statusnya dari badan legislatif menjadi hanya sebagai badan
penasehat saja. Oleh karena pada tahun 1952 Nahdhatul Ulama sah menjadi partai politik
sendiri dan memenangkan pemilu pada awal orde baru.
Setelah memenangkan Pemilu, Nahdhatul Ulama menambah agenda program, pada
awalnya concern pada pluralitas politik bergeser menjad potensi otentik bagi
pembangunan dan melakukan sentralisasi pada kegiatan kemahasiswaan.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Nahdhatul Ulama sebagai organisasi
massa Islam yang besar juga mengkonsentrasikan dirinya pada aspek pendidikan.
Berbicara tentang pendidikan maka terlihat bahwa Nahdhatul Ulama ternyata mengalami
kesulitan untuk memprakarsai pembaharuan pendidikan di lingkungan pesantren di
pedesaan. Dalam hal ini menurut Stenbrink, Nahdhatul Ulama tidak pernah mengambil
keputusan revolusioner. Semua ini dikhawatirkan akan menimbulkan reaksi keras dari
kiyai dan masyarakat muslim. Namun, Malik Fadjar menjelaskan pemahaman sosok

22
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Sumber Widya, 1995)., h. 241
23
Ibid.
Nahdhatul Ulama, terlebih dahulu harus melihat keberadaan dan konteks kehadirannya
ditengah-tengah umat Islam dan bangsa Indonesia, dan posisi social yang diraihnya.
Karena, seperti yang diungkapkan Mannheim bahwa unutk memahami pendidikan, perlu
dipahami pula ‘siapa mendidik siapa, di masyarakat apa, bilamana, serta untuk posisi
social apa peserta didik/subjek didik itu dididik?.24 Agaknya hal inilah yang membuat
Nahdhatul Ulama ‘tidak berani’ mengambil tindakan revolusioner dalam kebijakan
pendidikan seperti yang diharapkan Stenbrink.
Lebih lanjut Malik Fajar menjelaskan, harus diakui bahwa Nahdhatul Ulama
sebenarnya telah terlambat memulai tradisi kualitatif dalam penyelenggaraan
pendidikannya. Ini berbeda dengan sekolah-sekolah Kristen, yang memulai tradisi
kualitatif sejak zaman Kolonial, yang secara politis mereka memang mendapatkan
dukungan penuh dari pemerintah colonial melalui politik diskriminasinya.25
Mengingat begitu umum dan luasnya perumusan tujuan organisasi Islam ini, maka
bisa dibayangkan betapa banyak dimensi yang akan dijangkauya, termasuk sector
pendidikan. Meskipun demikian, harus diakui pula bahwa Nahdhatul Ulama dnegan
kekuatan politis dan pendidikannya telah membawa perubahan yang besar dalam
kehidupan keberagamaan bangsa Indonesia, paling tidak hal ini dibuktikan dengan
menjamurnya lembaga pendidikan yang bernaung di bawahnya dan semakin banyaknya
ulama-ulama yang lahir dari gerakan Ini.

DAFTAR PUSTAKA
A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta: LP3NI, 1998

Abu Ahmadi, Pendidikan Dari Masa ke Masa, Bandung : Amrico, 1987

Abuddin Nata, et.al, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga


Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2001
Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, cet-2 Bandung:
Pustaka, 2001

24
A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, (Jakarta: LP3NI, 1998)., h.16
25
Ibid.
Ali Mukti, Interpretasi Amalan Muhammadiyah, Yogyakarta: Harapan Melati, 1985
Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh: Suatu Studi
Perbandingan, Jakarta: Bulan Bintang, 1987
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Jakarta: Grafindo Persada, 2008
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: Oxford
University Press, 1980
Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Sumber Widya, 1995
Murodi, M.A, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: Karya Toha Putra, tt
Muqaddimah AD-ART Muhammadiyah, Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 1990
Mustafa Kalam Pasha dan Ahmad Adaby Darabar, Muhammadiyah Sebagai Gerakan
Islam, Yogyakarta: LPPI, 2000), cet-1
S. Sinansari Ecip, NU: Khittah dan Godaan Politik, Bandung: Mizan, 1994
Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994, cet. 1.,