Anda di halaman 1dari 19

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN HUMANISME DAN

RASIONALISME
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat
Pendidikan Islam yang diampu oleh:
Dr. Halfian Lubis, SH., M.Ag.

oleh:

Asma Karimatunnisa 1117011000054

Muhammad Kodri Kostolani 11170110000059

Ramadanti Aulia Putri 11170110000092

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“Aliran Filsafat Pendidikan Humanisme dan Rasionalisme” dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga ini dapat dipergunakan sebgai
salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah


pengetahuan dan pengalaman bagi kami khususnya dan para pembaca pada
umumnya, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik lagi.

Dalam pembuatan makalah ini kami akui masih banyak kekurangan


karena pengalaman yang kami miliki masih sangat kurang. Oleh karena itu, kami
harapkan pada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Ciputat, 15 Oktober2019

Kelompok 5

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. …..1

DAFTAR ISI ................................................................................................ …..2

BAB I: PENDAHULUAN…………………. ............................................. …..3


A. Latar Belakang .................................................................................. …..3
B. Rumusan Masalah ............................................................................. …..4
C. Tujuan ............................................................................................... …..4

BAB II: PEMBAHASAN............................................................................ …..5

A. Pengertian& latar belakang aliran Filsafat Pendidikan Humanisme..........8


B. Tokoh-tokoh aliran Filsafat Pendidikan Humanisme........................ …….9
C. Konsep aliran Filsafat pendidikan Humanisme pendidikan.... .......... …….9
D. Pengertian& latar belakang aliran Filsafat Pendidikan Rasionalisme........13
E. Tokoh-tokoh aliran Filsafat Pendidikan Rasionalisme................................13
F. Konsep aliran Filsafat Pendidikan Rasionalisme dalam bidang pendidikan...14

PENUTUP .................................................................................................... ……16

A. Kesimpulan ....................................................................................... ……16


B. Saran .................................................................................................. …...17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. …...18

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Bila mana pendidikan dipandang sebagai sub sistem kehidupan masyarakat,


makakehadirannya sejalan dengan proses perkembangan masyarakat yang
bersangkutan.Apalagi bila diingat bahwa pendidikan yang disistematisasi kedalam bentuk
kelembagaan seperti sekolah, ia merupakan agence of social change (lembaga
yangbertugas mengubah masyarakat), sekaligus merupakan sarana yang melakukan tugas
dan fungsi kultural dalam masyarakat dalam rangka merealisasi cita-cita.
Sebagai agence of social change, lembaga pendidikan melaksanakan misi
yangditugaskan oleh masyarakat. Misi tersebut berupa aspirasi atau ide yang
dipandangdapat memajukan masyarakat. Aspirasi atau ide-ide tersebut
dioperasionalisasikandalam bentuk program pendidikan yang dikelola secara konsisten
melalui proses yangmenuju kearah tujuan yang ideal yang ditetapkan.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta
didik,baik potensi fisik, potensi cipta, rasa maupun karsanya agar dasar kependidikan
adalahcita-cita kemanusiaan universal. Karenanya pendidikan bertujuan menyiapkan
pribadidalam keseimbangan, kesatuan, organis, dinamis, guna mencapai tujuan
hidupkemanusiaan, melalui filsafat kependidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang
digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat
pendidikanmerupakan aplikasi dalam pendidikan. Ditinjau dari substansi atau isinya,
ilmupendidikan merupakan suatu sistem pengetahuan tentang pendidikan yang
diperolehmelalui riset dan disajikan dalam bentuk konsep-konsep pendidikan.
Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak
hanyamenyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah
yanglebih luas, dalam, serta kompleks, yang tidak dapat dibatasi pengalaman dan
faktapendidikan, dan tidak memungkinkan dijangkau oleh sains pendidikan. Filsafat
pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik untuk mewarnai
sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar.

3
Kemajuan teknologi yang tinggi dan perubahan sosial masyarakat yang
sangatberagam terasa terhadap pendidikan diberbagai negara. Persaingan ekonomi dan
sosialdi berbagai negara menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang harus
diperbaikisebagai suatu kebutuhan masyarakat mencapai cita-cita suatu negara. Dengan
adanyaperkembangan dan pola hidup manusia yang dinamis, maka setiap negara
menganutaliran filsafat pendidikan sebagai arah dalam menentukan sistem pendidikan,
tujuanpendidikan, kurikulum yang dipakai dan proses kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas aliran
filsafat pendidikan Humanisme dan aliran filsafat Rasionalisme serta beserta tokoh-tokoh
dua aliran filsafat tersebut dan konsep pendidikannya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut:

1. Pengertian& latar belakangaliran Filsafat pendidikan Humanisme?


2. Tokoh-tokoh aliran filsafat pendidikan Humanisme?
3. Konsep aliran filsafat pendidikan Humanisme dalam bidang pendidikan?
4. Pengertian& latar belakang aliran Filsafat pendidikan Rasionalisme?
5. Tokoh-tokoh aliran filsafat pendidikan Rasionalisme?
6. Konsep aliran filsafat pendidikan rasionalisme dalam bidang pendidikan?

C. Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Mengetahui pengertian& latar belakang aliran filsafat pendidikan Humanisme


2. MengetahuiTokoh-tokoh aliran filsafat pendidikan Humanisme
3. Mengetahui konsep aliran filsafat pendidikan Humanisme dalam bidang pendidikan
4. Mengetahui pengertian& latar belakang aliran Filsafat pendidikan Rasionalisme
5. Mengetahui tokoh-tokoh aliran filsafat pendidikan Rasionalisme
6. Mengetahui konsep aliran filsafat pendidikan rasionalisme dalam bidang pendidikan

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian & latar belakang aliran Filsafat Pendidikan Humanisme


Istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks.
Humanisme, sebagai sebuah term mulai dikenal dalam diskursus wacana filsafat sekitar
awal abad ke 19. Istilah humanisme baru digunakan pertama kali dalam literatur di
Jerman sekitar tahun 1806 dan di Inggris sekitar tahun 1860.Istilah humanisme diawali
dari term humanis atau humanum (yang manusiawi) yang jauh lebih dulu dikenal, yaitu
mulai sekitar masa akhir zaman skolastik di Italia pada abad ke 14 hingga tersebar ke
hampir seluruh Eropa di abad ke 16.1Term humanis (humanum) tersebut dimaksudkan
untuk menggebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kreatifitas, dan nalar
manusia yang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan Romawi dan Yunani. Gerakan
humanis berkembang dan menjadi cikal bakal lahirnya renaisance di Eropa.2
Dalam perkembangannya, humanisme di Eropa menampilkan penentangan yang
cukup gigih terhadap agama (dalam hal ini Kristen) dan mencapai puncaknya, ketika
Auguste Comte mendeklarasikan “agama humanitarian” dan menggantikan agama yang
dianggap tidak humanis.Pertentangan ini terus berlangsung hingga di pertengahan abad
ke 20 para pemuka-pemuka Kristen mulai memberi ruang apresiasi bagi humanisme dan
pada konsili Vatikan II (1962-1965) pihak Katolik memberi respon positif terhadap
humanisme. Namun lucunya, ketika kalangan agama mulai mengapresiasi humanisme,
diskursus filsafat justru mempropagandakan antihumanisme, khususnya dengan wacana
“kematian manusia” Michel Fouchault” dan “absurditas manusia” Albert Camus.3
Humanisme (kemanusiaan), dalam kamus umum diartikan sebagai “sebuah sistem
pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang
dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural manapun”. Definisi
paling jelas tentang Humanisme ini dikemukakan oleh Corliss Lamont yang menyatakan

1
Muhammad Kristiawan, Filsafat Pendidikan, The Choice Is Yours, (Jogjakarta: Valia Pustaka, 2016),
hlm. 253.
2
Ibid. Hlm. 254.
3
Ibid. Hlm. 254.

5
bahwa humanisme meyakini bahwa alam merupakan jumlah total dari realitas, bahwa
materi-energi dan bukan pikiran yang merupakan bahan pembentuk alam semesta, dan
bahwa entitas supernatural sama sekali tidak ada. Dari definisi humanisme di atas,
nampak sekali para humanis menganggap bahwa manusia adalah segala pusat aktifitas
dengan meninggalkan peran Tuhan dalam kehidupannya 4. Dalam Islam, yang dimaksud
dengan humanisme adalah memanusiakan manusia sesuai dengan tugas sebagai khalifah
Allah di atas bumi.5
Menurut Ali syari’ati dalam bukunya menjelaskan bahwa humanisme ialah aliran
filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk
keselamatan dan kesempurnaan manusia. Ia memandang manusia sebagai makhluk
mulia, dan prinsip-prinsip yang disarankannya didasarkan atas pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan pokok yang bisa membentuk species manusia.6
Pendidikan humanistik sebagai sebuah nama pemikiran/teori pendidikan dimaksudkan
sebagai pendidikan yang menjadikan humanisme sebagai pendekatan. Dalam
istilah/nama pendidikan humanistik, kata “humanistik” pada hakikatnya adalah kata sifat
yang merupakan sebuah pendekatan dalam pendidikan.7
Lebih lanjut, Teori pendidikan humanistik yang muncul pada awal abad ke 19
bertolak dari tiga teori filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensisalisme.
Ide utama pragmatisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan
pengetahuan dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan. Pendidikan
(sekolah) merupakan kehidupan dan lingkungan belajar yang demokratis yang
menjadikan semua orang berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas
masyarakat.8
Pragmatisme memandang pendidikan (sekolah) seharusnya merupakan kehidupan
dan lingkungan belajar yang demokratis yang menjadikan semua orang berpartisipasi
dalam proses pembuatan keputusan sesuai realitas masyarakat. Pengaruh pemikiran ini

4
Arbayah, Model Pembelajaran Humanistik, Jurnal Dinamika Ilmu Vol 13. No. 2, Desember 2013.
Hlm. 214.
5
Ibid. Hlm. 214.
6
Ali syariati, Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat terj. Afif Muhammad, (Bandung: Pustaka
Hidayah, 1996), Hlm. 39.
7
Abd. Qodir. Teori Belajar Humanistik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, Jurnal
Pedagogik vol. 04 No. 02, Juli-Desember, 2017. Hlm. 191.
8
Arbayah, Op. Cit. Hlm . 208.

6
sangat dirasakan dalam, bahkan menjadi faktor utama munculnya, teori/pemikiran
humanisme dan progresivisme. Adapun ide progresivisme yang sangat dipengaruhi oleh
pragmatisme itu sangat menekankan adanya kebebasan aktualisasi diri bagi peserta didik
supaya kreatif. Faham ini menekankan terpenuhi kebutuhan dan kepentingan anak. Anak
harus aktif membangun pengalaman kehidupan. Belajar tidak hanya dari buku dan guru,
tetapi juga dari pengalaman kehidupan. Dasar orientasi teori progresivisme adalah
perhatiannya terhadap anak sebagai peserta didik dalam pendidikan.9
Progresivisme pendidikan ini menjadi teori dominan dalam pendidikan Amerika
dari dekade 1920-an hingga 1950-an. Karena kekuatan pengaruhnya, Knight mencatat, di
antara alasan hilangnya eksistensi teori ini adalah karena ide atau gagasan dan program
pendidikan progresif telah diadopsi oleh teori lain yang mengembangkannya.Ide
progresivisme tersebut selanjutnya diperbarui dalam pendidikan humanistik.10
Pengaruh terakhir munculnya pendidikan humanistik adalah eksistensialisme
yang pilar utamanya adalah invidualisme. Teori eksistensialisme lebih menekankan
keunikan anak secara individual daripada progresivisme yang cenderung memahami anak
dalam unit sosial. Anak sebagai individu yang unik. Pandangan tentang keunikan
individu ini mengantarkan kalangan humanis untuk menekankan pendidikan sebagai
upaya pencarian makna personal dalam eksistensi manusia. Pendidikan berfungsi untuk
membantu kemandirian individu supaya menjadi manusia bebas dan bertanggung jawab
dalam memilih. Kebebasan manusia merupakan tekanan para eksistensialis.Dengan
kebebasan tersebut peserta didik akan dapat mengaktualisasikan potensinya secara
maksimal.11
Pemikiran pendidikan ini mengantarkan pandangan bahwa anak adalah individu
yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga muncul keinginan belajar. Apabila
lingkungan baik (kondusif untuk belajar), maka anak akan terdorong untuk belajar
sendiri. Karena itu, pendidikan harus menciptakan iklim atau kondisi yang kondusif
untuk belajar. Ketidakmauan anak untuk belajar disebabkan oleh kesalahan lingkungan
yang kurang mendukung untuk dapat berperan aktif. Konsep menjadi penopang
terbentuknya pemikiran pendidikan humanistik. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa

9
Arbayah, Op. Cit, hlm. 208.
10
Ibid. Hlm. 209.
11
Ibid. Hlm. 209.

7
eksistensialisme adalah suatu humanisme. sehingga konsep ini menjadi penopang
terbentuknya pemikiran pendidikan humanistik.12
Berdasarkan pemaparan diatas dapat kami simpulkan bahwa aliran filsafat
pendidikan humanisme adalah aliran filsafat yang berpusat pada kodrat kehidupan
manusia yang tujuan pokoknya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia
dan memandang manusia sebagai makhluk mulia, serta prinsip-prinsip yang didasarkan
atas pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bisa membentuk kehidupan manusia.
(manusiawi).
B. Tokoh-Tokoh Aliran Filsafat Pendidikan Humanisme
1. Jean Jacques Roussea
Lahir 28 Juni 1712, wafat 2 Juli 1778 adalah seorang filsuf dan
komposer Prancis Era Pencerahan di mana ide-ide politiknya dipengaruhi
oleh Revolusi Prancis, perkembangan teori-teori liberal dan sosialis, dan tumbuh
berkembangnya nasionalisme. Melalui pengakuan dirinya sendiri dan tulisan-
tulisannya, ia praktis menciptakan otobiografi modern dan mendorong perhatian yang
baru terhadap pembangunan subjektivitas sebuah dasar bagi karya-karya bermacam-
macam pemikir hebat nantinya seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan Sigmund
Freud. Novelnya "Julie, ou la nouvelle Héloïse" adalah salah satu karya fiksi yang
sangat banyak terjual pada abad ke-18 dan menjadi acuan penting dalam
perkembangan karya-karya romantisme. Ia juga memberikan kontribusi penting pada
musik, baik sebagai seorang pengembang teori musik maupun sebagai seorang
composer.
2. Abraham Maslow
Adalah tokoh yang menonjol dalam psikologi humanistic. Karyanya di bidang
pemenuhan kebutuhan berpengaruh sekali terhadap upaya memahami motivasi
manusia. Sebagian dari teorinya yang penting didasarkan atas asumsi bahwa dalam
diri manusia terdapat dorongan positif untuk tumbuh dari kekuatan-kekuatanyang
melawan atau menghalangi pertumbuhan.
Teori maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang

12
Ibid. Hlm. 210.

8
2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut
untuk berusahaatau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki da sebagainya, tapi di sisi lain sebagian
orang juga memiliki dorongan untuk lebih maju kea rah keutuhan, keunikan diri, kea
rah berfungsinya semua kemampuan, kepercayaan diri, menghadapi dunia luar dan
pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri
3. Carl Roger
Seorang ahli psikoterapi. Ia mempunyai pandang bahwa siswa yang belajar
hendaknya tidak dipaksa, melainkan dibiarkan belajar bebas. Tidak itu saja siswa juga
diharapkan dapat membebaskan dirinya hingga ia dapat mengambil keputusan sendiri
dan berani bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang ia ambil atau pilih.
Dalam belajar demikian, anak tidak di cetak menjadi orang lain melainkan
dibiarkan dan dipupuk untuk menjadi dirinya sendiri. Ia tidak direkayasa agar terkait
kepada orang lain. Ia dibiarkan agar tetap bisa menjadi arsitek untuk dirinya sendiri.
Satu strategi yang disarankan rogers adalah member kemungkinan siswa belajar
dengan berbagai macam sumber yang dapat mendukung dan membimbing
pengalaman belajar mereka.
C. Konsep aliran Filsafat Pendidikan Humanisme dalam bidang pendidikan

Kaitannya dengan pendidikan, Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah


untuk memanusiakan manusia. proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,
bukan dari sudut pandang pengamatnya.13

Prinsip-prinsip pendidik humanistik:


1. Siswa harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari. Guru
humanistik percaya bahwa siswa akan termotivasi untuk mengkaji materi
bahan ajar jika terkait dengan kebutuhan dan keinginannya.

13
Abd. Qodir, Op. Cit, hlm. 193.

9
2. Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan
mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus termotivasi dan
merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri.
3. Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relevan dan hanya evaluasi
belajar diri yang bermakna.
4. Pendidik humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun pengetahuan,
sangat penting dalam sebuah proses belajar dan tidak memisahkan domain
kognitif dan afektif.
5. Pendidik humanistik menekankan pentingnya siswa terhindar dari tekanan
lingkungan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Dengan
merasa aman, akan lebih mudah dan bermakna proses belajar yang
dilalui.14

Beberapa model pembelajaran humanistik:

1) Humanizing of the classroom, model ini bertumpu pada tiga hal, yakni
menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan yang sedang dan akan terus
berubah, mengenali konsep dan identitas diri, dan menyatupadukan kesadaran
hati dan pikiran.
2) Active learning, merupakan strategi pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan
pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas,
sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat
meningkatkan kompetensinya. Selain itu, belajar aktif juga memungkinkan
peserta didik dapat mengembangkan kemampuan analisis dan sintesis serta
mampu merumuskan nilai-nilai baru yang diambil dari hasil analisis mereka
sendiri.
3) Quantum learning, merupakan cara pengubahan bermacam-macam interaksi,
hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.
Dalam prakteknya, quantum learning mengasumsikan bahwa jika siswa
mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secarabaik, maka mereka

14
Ibid. Hlm. 192.

10
akan mampu membuat loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya
dengan hasil mendapatkan prestasi bagus.
4) The accelerated learning, merupakan pembelajaran yang berlangsung secara
cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Dalam model ini, guru diharapkan
mampu mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory,
Visual, dan Intellectual (SAVI).15

Pembelajaran humanistik memandang siswa sebagai subjek yang bebas


untuk menentukan arah hidupnya. Siswa diarahkan untuk dapat
bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain.
Beberapa pendekatan yang layak digunakan dalam metode ini adalah pendekatan
dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan dialogis mengajak siswa untuk
berpikir bersama secara kritis dan kreatif. Guru tidak bertindak sebagai guru yang
hanya memberikan asupan materi yang dibutuhkan siswa secara keseluruhan,
namun guru hanya berperan sebagai fasilitator dan partner dialog.16
Aplikasi dari teori humanistik, belajar adalah menekankan pentingnya isi
dari proses belajar bersifat eklektik, tujuannya adalah memanusiakan manusia
atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanistik dalam pembelajaran,
guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan
pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses
belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi
secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatny masing-
masing di depan kelas.17

15
Ibid. Hlm. 194.
16
Ibid. Hlm. 193.
17
Arbayah, Model Pembelajaran Humanistik, Jurnal Dinamika Ilmu Vol 13. No. 2, Desember 2013.
Hlm. 210.

11
D. Pengertian& latar belakang aliran Filsafat pendidikan Rasionalisme
Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini
berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. A.R. Lacey7 menambahkan
bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang
berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran.18
Rasionalisme adalah faham atau aliran yang berdasar rasio, ide-ide yang masuk akal.
Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman rasionalisme berlangsung dari
pertengahan abad ke-XVII sampai akhir abad ke-XVIII. Pada zaman ini hal yang khas
bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk
menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia,
melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat
dari ilmu-ilmu alam.19
Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikutnya orang-orang yang
terpelajar makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup
dan dunia. Hal ini jadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke-XVII, dan lebih lagi
pada abad ke-XVIII karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac
Newton (1643-1727). Menurut sarjana genial Inggris ini, fisika itu terdiri dari
bagianbagian kecil (atom) yang berhubungan satu sama lain berdasarkan hukum sebab
akibat.
Sebagai aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh
pengetahuan dan kebenaran, rasionalisme selalu berpendapat bahwa akal merupakan
faktor fundamental dalam suatu pengetahuan. Dan menurut rasionalisme, pengalaman
tidak mungkin dapat Sebagai aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk
memperoleh pengetahuan dan kebenaran, rasionalisme selalu berpendapat bahwa akal
merupakan faktor fundamental dalam suatu pengetahuan.

18
Achmadi Asmoro, 2010, Filsafat Ilmu, PT Raja Grafind Persada, Jakarta.

Ahmad Tafsir

19
Louis A. Kattsoff ; Penerjemah Soejono Soemargono, 2004, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana,
Yogyakarta.

12
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah, keinginan untuk membebaskan
diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik; skolastik adalah kata sifat yang
berasal dari kata school yang berarti sekolah. Jadi, skolastik yang berarti aliran yang
berkaitan dengan sekolah, perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat
abad pertengahan), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-
hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran
saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khayalan. Descartes menginginkan cara
yang baru dalam berpikir, maka diperlukan titik tolak pemikiran pasti yang dapat
ditemukan dalam keragu-raguan, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Jelasnya
bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.
E. Tokoh-Tokoh Filsafat Pendidikan Rasionalisme
1. Rene Descartes ( 1596-1650 )
Rene Descartes lahir di La Haye, Prancis, 31 Maret 1596 dan meninggal di
Strockholm, Swedia, 11 Februari 1650. Descartes biasa dikenal sebagai Cartecius.
Karyanya yang terpenting ialah Discours de la Methode ( 1637 ) dan Meditationes de
prima Philosophia ( 1641). Konsep8 dan metode pengetahuannya yang rasional, ia
dijuluki bapak filsafat Modern, ia meyakini bahwa sumber pengetahuan yang benar
adalah rasio, bukan mitos, dan bukan wahyu.
Dalam karya Descartes, ia menjelaskan pencarian kebenaran melalui metode
keragu-raguan. Karyanya berjudul A Discourse on Methode mengemukakan perlunya
memerhatikan empat hal berikut:(1). Kebenaran baru dinyatakan shahih jika telah benar-
benar indrawi dan realitasnya telah jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa
pun yang mampu merobohkannya. (2). Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu
sebanyakbanyaknya, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu
merobohkannya. (3). Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang
sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit
dan kompleks. (4). Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya
harus di buat perhitungan-perhitungan sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang
menyeluruh, sehingga di peroleh keyakinan bahwa tak ada satu pun yang mengabaikan
atau ketinggalan dalam penjelajahah itu.
2. Baruch de Spinoza (1632-1677)

13
Baruch de Spinoza lahir di Amsterdam pada 24 November 1632 . Ia berasal dari
keluarga yang menganut agama Yahudi , yang melarikan diri dari Spanyol ke Amsterdam
(Belanda) akibat konflik keagsmaan . Spinoza banyak dipengauhi rasionalisme Descartes
Dalam pemikiran sosial dan intelektual pada zamannya, seperti Descartes dia juga ingin
menemukan pegangan yang pasti bagi segala bentuk pengetahuan.
3. G.W. Leibniz (1646-1716)
Gottfried W. Leibniz lahir pada tanggal 1 Juli 1646 di Leipzig, Jerman. Putra dari
Friedrich Leibniz, seorang professor filsafat moral di Leipzig, Jerman. Friedrich Leibniz
berkompeten di bidangnya walaupun pendidikannya tidak tinggi, ia mencurahkan waktu
untuk keluarga dan pekerjaannya. Beliau menuliskan karyanya dalam bahasa Latin,
danBahaa Prancis, seorang ensiklopedis (orang yang mengetahui segala lapangan
pengetahuan pada masanya).20
F. Konsep Pendidikan Filsafat Pendidikan Rasionalisme dalam Pembelajaran

Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa
kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan
fakta, bukan melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan
dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan ateisme, dalam hal bahwa mereka
bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar
kepercayaan keagamaan atau takhayul.21

Rasionalisme berpandangan bahwa otoritas rasio (akal) adalah sumber dari segala
pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Jadi strategi
pengembangan ilmu menurut paham rasionalisme adalah mengekplorasi gagasan-gagasan
dengan menggunakan kemampuan intelektual manusia.22
Rasionalisme mempunyai faham atau aliran yang berdasar pada rasio, ide-ide yang
masuk akal. Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman rasionalisme
berlangsung dari pertengahan abad ke-XVII sampai akhir abad ke-XVIII. Pada zaman ini

20
Opcit., Muhammad Bahar Akkase Teng, hlm. 17-20

21
Muhammad Kristiawan, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Valia Pustaka Jogjakarta, 2016),
hlm. 210
22
Ibid., hlm. 15

14
hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi
(ratio) untuk menemukan kebenaran. Sebagai aliran dalam filsafat yang mengutamakan
rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran, rasionalisme selalu berpendapat
bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam suatu pengetahuan. 23

Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalam memperoleh pengetahuan.


Pengalaman indra digunakan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang
menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan
yang tidak didasarkan bahan indra sama sekali. Jadi, akal dapat juga menghasilkan
pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.24

24
Setia Budi Widiarjo, Aliran-Aliran Dalam Filsafat Ilmu Berkait Dengan Ekonomi, hlm. 3-4

15
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks. Humanisme,
sebagai sebuah term mulai dikenal dalam diskursus wacana filsafat sekitar awal abad
ke 19.
2. Istilah humanisme baru digunakan pertama kali dalam literatur di Jerman sekitar
tahun 1806 dan di Inggris sekitar tahun 1860.Istilah humanisme diawali dari term
humanis atau humanum (yang manusiawi) yang jauh lebih dulu dikenal, yaitu mulai
sekitar masa akhir zaman skolastik di Italia pada abad ke 14 hingga tersebar ke
hampir seluruh Eropa di abad ke 16.
3. Tokoh-tokoh humanisme
a) Jean Jacques Roussea
b) Abraham Maslow
c) Carl Roger
4. Prinsip-prinsip pendidik humanistik:
a. Siswa harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari. Guru humanistik
percaya bahwa siswa akan termotivasi untuk mengkaji materi bahan ajar jika
terkait dengan kebutuhan dan keinginannya.
b. Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan
mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus termotivasi dan
merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri.
c. Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relevan dan hanya evaluasi
belajar diri yang bermakna.

16
d. Pendidik humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun pengetahuan,
sangat penting dalam sebuah proses belajar dan tidak memisahkan domain
kognitif dan afektif.
5. Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini
berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. A.R. Lacey7 menambahkan
bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang
berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran.
6. Tokoh-tokoh rasionalisme
a. Rene Descartes

b. Baruch de Spinoza

c. G.W. Leibniz

17
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Kristiawan, Filsafat Pendidikan, The Choice Is Yours, (Jogjakarta: Valia


Pustaka, 2016)

Arbayah, Model Pembelajaran Humanistik, Jurnal Dinamika Ilmu Vol 13. No. 2,
Desember 2013.Ali syariati, Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat terj. Afif
Muhammad, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996),
Abd. Qodir. Teori Belajar Humanistik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa,
Jurnal Pedagogik vol. 04 No. 02, Juli-Desember, 2017.
Achmadi Asmoro, 2010, Filsafat Ilmu, PT Raja Grafind Persada, Jakarta.

Louis A. Kattsoff ; Penerjemah Soejono Soemargono, 2004, Pengantar Filsafat,


Tiara Wacana, Yogyakarta.

Muhammad Kristiawan, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Valia Pustaka


Jogjakarta, 2016),
Setia Budi Widiarjo, Aliran-Aliran Dalam Filsafat Ilmu Berkait Dengan Ekonomi,

18