Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH HIPOSPADIA

Dosen Pengampu Boediarsih,S.kp.

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Sistem Perkemihan

Tahun Pelajaran 2015/2016

Disusun Oleh:

1. Mega Nanda E.A (1303035)


2. Nur Afifatur Rohmah (1303041)
3. Shobrina Widya A (1303047)
4. Sriyatun (1303051)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN A


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas “Makalah
Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan” Makalah ini diajukan
guna memenuhi tugas Sistem Perkemihan.

Kami menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini adanya bantuan berbagai pihak,
untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada
kami
2. Ns., Fery Agusman MM, SKM., M.Kep., Sp.Kom. Ketua STIKES Karya Husada
Semarang
3. Dosen pembimbing Sistem Perkemihan Ns. Boediarsih S.Kep.,
4. Semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini.

Sejalan dengan materi yang sedang kami pelajari dan diketahui sebelumnya, semoga dengan
adanya makalah ini setidaknya dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan yang
berhubungan dengan Sistem Perkemihan.

Kami meyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala
kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki sehinggga dapat selesai dengan
baik. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
penyempurnaan makalah ini.

Semarang, 24 Mei 2015

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1

C. Tujuan .................................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Pria ................................................... 3

B. Pengertian Hipospadia ......................................................................................... 5

C. Klasifikasi Hipospadia ......................................................................................... 5

D. Etiologi Hipospadia ............................................................................................. 6

E. Manisfestasi Hipospadia ...................................................................................... 6

F. Patofisiologi dan Pathway Hipospadia ................................................................ 7

G. Penatalaksanaan Hipospadia ................................................................................ 9

H. Pemeriksaan Penunjang ....................................................................................... 10

I. Komplikasi Hipospadia ........................................................................................ 10

BAB III Asuhan Keperawatan pada Hipospadia ...................................................... 12

BAB IV PENUIUP

A. Kesimpulan .......................................................................................................... 17

B. Saran .................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 18


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang berarti “di bawah” dan
“spadon“ yang berarti keratan yang panjang.
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah,
bukan di ujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan sejak lahir.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi
baru lahir. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat
ujung penis, yaitu pada glans penis.
Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah
batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di
bawah skrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan
fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.

B. Rumusan Masalah
a. Apa saja anatomi fisiologi dari hipospadia ?
b. Apa yang dimaksud dengan hipospadia ?
c. Apa saja etiologi dari hipospadia ?
d. Apa saja jenis-jenis dari hipospadia ?
e. Apa saja tanda dan gejala dari hipospadia ?
f. Bagaimana cara penatalaksanaan dari hipospadia ?
g. Apa saja komplikasi dari hipospadia ?
h. Bagaimana asuhan keperawatan dari hipospadia ?

C. Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui dan memahami tentang anatomi fisiologi reproduksi pria
b. Untuk mengetahui dan memahami tentang penegrtian hipospadia
c. Untuk mengetahui penyebab dari hipospadia
d. Utuk mengetahui jenis-jenis dari hipospadia
e. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari hipospadia
f. Untuk mengetahui cara penatalaksanaan dari hipospadia
g. Untuk mengetahui komplikasi dari hipospadia
h. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari hipospadia
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Pria

Gambar 1.1 reproduksi pria

Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam:


1. Organ reproduksi luar terdiri dari :
a. Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan betina
untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis diselimuti oleh
selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat dikhitan/sunat.
Penis terdiri dari:
a) Akar (menempel pada dinding perut)
b) Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
c) Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
d) Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung
glans penis.
e) Terdapat 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak
bersebelahan. Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi
uretra.Jika terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami
ereksi).
f) Scrotum merupakan selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis
serta mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa.

2. Organ reproduksi dalam terdiri dari :


a. Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan
sel-sel sperma serta hormone testosterone. Dalam testis banyak terdapat saluran halus
yang disebut tubulus seminiferus. Testis terletak di dalam skrotum.Testis memiliki 2
fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang
utama).
b. Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar dari testis.
Berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan mematangkan sperma.
c. Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah ke atas dan
berujung di kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula
seminalis. Saluran ejakulasi merupakan saluran yang pendek dan menghubungkan
vesikula seminalis dengan urethra.
d. Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma sehingga disebut
dengan kantung semen, berjumlah sepasang. Menghasilkan getah berwarna
kekuningan yang kaya akan nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali. Berfungsi untuk
menetralkan suasana asam dalam saluran reproduksi wanita.
e. Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan terdapat di
penis. Uretra punya 2 fungsi yaitu Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air
kemih dari kandung kemih. Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

3. Kelenjar pada organ reproduksi pria


a. Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan menghasilkan sperma yang
bersifat asam.
b. Kelenjar Cowper’s/Cowpery/Bulbourethra merupakan kelenjar yang menghasilkan
sperma berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam
dalam saluran urethra.
B. Pengert ian Hipospadia
Hipospadia berasal dari kata hypo yang berarti di bawah spadon yang berarti keratan
panjang. Hipospadia adalah kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak dibagian
bawah dekat pangkal penis. Apabila lubang kecil saja tidak memerluhkan adanya tindakan
karena akan dapat menutup sendiri. Tetapi jika lubang besar maka perlu adanya tindakan
bedah dan menungggu anak usia remaja.
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu
tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257).

C. Klasifikasi Hipospadia

Gambar 1.2 klasifikasi hipospadia

Klasifikasi Hipospadia menurut letak muara uretranya antara lain :


1. Hipospadia yang lubang uretranya didepan (anterior) yaitu meatus terletak pada pangkal
glads penis. Bersifat asimtomatik dan tidak memerluhkan tindakan, apabila meatus agak
sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi
a Hipospadia Grandular
b Hipospadia Subcoronal
2. Hipospadia yang lubang uretranya di tengah yaitu meatus terletak pada glans penis dan
skortum. Disertai kelainan penyerta, seperti tidak adanya kulit prepusium bagian ventral,
sehingga penis terlihat melengkung kebawah, atau glands penis menjadi pipih. Pada
kelainan tipe ini dilakukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit
dibagian ventral tidak ada. Pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit dapat
dilakukan bedah selanjutnya.
a Hipospadia Mediopenean
b Hipospadia Peneescrotal
3. Hipospadia yang lubang uretranya dibelakang (posterior) yaitu penis akan tergaganggu,
disertai skortum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.
a Hipospadia Perineal

D. Etiologi Hipospadia
Penyebab terjadinya hipospladia antara lain :
1. Ganggguan dan ketidakseimbangan hormone (endocrine)
Hormon yang dimaksud yaitu hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin
(pria). Atau bisa juga karena reseptornya hormone androgen sendiri didalam tubuh yang
tidak ada. Sehingga walaupun hormone adrogennya sendiri telah terbentuk cukup akan
tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan member efek yang semestinya.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen
yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga reaksi dari gen tersebut tidak terjadi
3. Lingkungan
Penyebab lingkungan yaitu polutan dan zat bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan
mutasi.

E. Manisfestasi Klinis
Manisfestasi klinis terjadinya hipospadia yaitu :
1. Glan penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal dibagian bawah penis
yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Prepitium (kulup) tidak ada dibagian bawa penis, melainkan menumpuk pada punggu
penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga
ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis
5. Tunika dartos, fasia busch dan korpus spongosium tidak ada
6. Dapat timbul pada chordee bila letak meatus pada dasar dari glans penis
7. Sering disertai undesscended testis ( testis tidak turun ke kantong skortum)
8. Gangguan congenital pada ginjal
9. Lubang penis tidak terdapat diujung penis tetapi berada dibawah
10. Penis melengkung kebawah
11. Penis tampak berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis
12. Jika berkemih anak harus duduk
13. Keluarnya air seni yang abnormal.
14. Tidak semua hipospadia memiliki chordee.

F. Pathway dan patofisiologi Hipospadia


a. Patofisiologi
Hipospadia merupakan suatu cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada masa
embrio selama perkembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu. Perkembangan
terjadinya fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap sehingga terjadi meatus
uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan meatus ini, dari
yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian di sepanjang batang penis
hingga akhirnya di perineum.
Peripusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal
dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral
menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.
Chordee atau lengkungan dari penis, sering dikaitkan dengan hipospadia, terutama
bentuk-bentuk yang lebih berat. Hal ini diduga akibat perbedaan pertumbuhan antara
punggung jaringan normal tubuh kopral dan uretra ventral dilemahkan dan jaringan
terkait. Pada kondisi yang lebih jarang, kegagalan jaringan spongiosum damn pembetukan
fasia pada bagian distal meatus uretra dapat membentuk balutan berserat yang menarik
meatus uretra sehingga memberikan kontribusi untuk terbentuknya suatu korda.
b. Pathway
Genetika, lingkungan,
gangguan dan
ketidakseimbangan
hormone (endokrin )

Hipospadia

H.Mediopenean H.Grandular H.Subcorona H.Peneescrotal H.Perineal

Pengelolaan

Pembedahan Kombinasi
chordee dan pembedahan radio
uretroplasty diagnostik

Pemasangan
Proses kateter
pembedahan unhewlling

kecemasan Nyeri Entry Gangguan Gangguan


aktivitas eliminasi

Gangguan Resiko tinggi infeksi


rasa
nyaman
H. Penatalaksaaan Hipospadia
Banyak tekhnik pembedahan operasi hipospadia, dilakukan beberapa tahap :
1. Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan eksisi chordee dari muara
uretra sampai glans penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi
metus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes
ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikan NaCl 0.9% kedalam korpus kavernosum.
2. Operasi uretroplasty
Biasanya dilakukan enam bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis
bagian ventral yang diinsisi secara longtidunal pararel di kedua sisi. Tujuan pembedahan
yaitu :
a Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi social
b Perbaikan untuk kosmetik pada penis.
Ada beberapa tekhnik diantaranya :
1.) Tekhnik tunneling sidiq-chaula dilakukan operasi 2 tahap :
a.) Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dbuatkan trowongan yang
berepitel pada glans penis dilakuakan pada usia 1,5-2 tahun. Penis diharapka lurus
tetapi meatus masih pada tempat abnormal penutupan luka operasi meggunakan
preputium bagian dorsal dan kulit penis.
b.) Dilakukan uretroplasty, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat insisi
paralelpada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glasn, lalu dibuat pipa dari
kulit bagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit
prepitium dibagian sisi yang ditarik kebawah dan dipertemukan pada garis tengah
2.) Teknik Horton dan Devine
Dilakukan padak anak yang sudah besar dan penis besar, pada anak kelainan hipospadi
distal (letaknya lebih ujung ke penis). Uretra dibuat dari flup mukosa dan kulit bagian
punggung dari ujung penis dengan pekidel (kaki) kemudian dipindah kebawah.
Tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan bersamaan operasi hipospadia.
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostic pada penderita hipospadia antara lain :
1. Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan
tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan
ginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal.
2. Rontgen
3. USG sistem kemih kelamin.
4. BNO-IVP
5. Pemeriksaan laboratorium (Darah lengkap, urine lengkap)
6. Uretroskopi

J. Komplikasi Hipospadia
Komplikasi yang sering terjadi antara lain striktur uretra (terutama pada sambungan meatus
uretra yang sebenarnya dengan uretra yang baru dibuat)atau fistula.
1. Infertility
2. Resiko Hernia Inguinalis
3. Gangguan psikososial seperti anak merasa malu
4. Komplikasi Pasca Pembedahan : Perdarahan, Infeksi, Jahitan yang terlepas, nekrosi flap
dan edema
5. Komplikasi Lanjut antara lain :
a. Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama
b. Fistula Uretrocutaneus
c. Adanya rambut dalam uretra
d. Striktur Uretra adalah suatu kondisi penyempitan lumen uretra. Striktur Uretra
menyebabkan gangguan berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai
sama sekali tidak dapat mengalirkan urine keluar dari tubuh.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
HIPOSPADIA
A. Pengkajian
a. Pengakjian Fisik
1. Pemeriksaan Genetalia
2. Palpasi Abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal
3. Kaji fungsi perkemihan
4. Adanya lekukan pada ujung penis
5. Melengkungnya penis kebawah dengan atau tapa ereksi
6. Terbukanya uretra pada vental
7. Pengkajian setelah pembedahan : pembekakan penis, perdarahan
b. Pengkajian Mental
1. Sikap pasien sewaktu diperiksa
2. Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan
3. Tingkat kecemasan
4. Tingkat pengetahuan keluarga dengan pasien

B. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan Eliminasi Urine b.d Retensi Urine, obstruksi Mekanik
2. Nyeri b.d Kerusakan jaringan pascabedah
3. Resiko tinggi Infeksi b.d port de entrée luka pasca bedah, insersi kateter
4. Kecemasaan b.d akan dilaksanakan operasi

C. Intervensi Keperawatan
No Dx Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1 Gangguan Eliminasi Urine Setelah dilakukan tindakan Urinary retention care:
Definisi : selama…x 24 jam gangguan - Lakukan penilian kemih
Disfungsi pada eliminasi urine eliminasi urine dapat teratasi yang komprehensif
Batasan Karakteristik : dengan criteria hasil: berfokus pada inkontinensia
 Disuria  Urinary elimination (ex: output urin, pola
 Sering berkemih  Urinary continuence berkemih, fungsi kognitif
 Inkontenensia Kriteria Hasil: dan masalah kencing
 Nokturia  Kandung kemih kosong praeksisten)
 Retensi secra penuh - Memantau penggunaan obat
 Dorongan  Tidak ada residu urin dengan sifat anti
Faktor yang berhubungan : >100-200cc kolingergik atau property
 Obstruksi anatomic  Intake cairan dalam alfa agnosis
 Penyebab Multiple rentang normal - Memonitor obat-obat yang
 Gangguan sensoris motorik  Bebas dari ISK diresepkan
 Infeksi Saluran Kemih  Tidak ada spasme bladder - Gunakan kekuatan sugesti
 Balance cairan seimbang dengan menjalankan air
atau disiram toilet
- Merangsang reflek kandung
kemih dg menerapkan
dingin untuk perut
- Sediakan waktu yang cukup
untuk pengosongan
kandung kemih(10 menit)
- Menyediakan maneuver
crede yang diperlukan
- Masukkan kateter kemih
- Anjurkan pasien/ keluarga
pasien untuk merekam
output urine
- Memantau asupan dan
keluaran
- Memantau tingakat distensi
kandung kemih dengan
palpasi dan perkusi
2 Cemas b/d akan dilakukan NOC : NIC :
tindakan operasi  Anxiety control Anxiety Reduction (penurunan
Definisi :  Coping kecemasan)
Perasaan gelisah yang tak jelas  Impulse control - Gunakan pendekatan yang
dari ketidaknyamanan atau Kriteria Hasil : menenangkan
ketakutan yang disertai respon  Klien mampu - Nyatakan dengan jelas
harapan terhadap pelaku
autonom (sumner tidak mengidentifikasi dan
pasien
spesifik atau tidak diketahui mengungkapkan gejala - Jelaskan semua prosedur
oleh individu); perasaan cemas dan apa yang dirasakan
keprihatinan disebabkan dari  Mengidentifikasi, selama prosedur
antisipasi terhadap bahaya. mengungkapkan dan - Pahami prespektif pasien
Sinyal ini merupakan menunjukkan tehnik untuk terhdap situasi stres
peringatan adanya ancaman mengontol cemas - Temani pasien untuk
memberikan keamanan dan
yang akan datang dan  Vital sign dalam batas
mengurangi takut
memungkinkan individu untuk normal - Berikan informasi faktual
mengambil langkah untuk  Postur tubuh, ekspresi mengenai diagnosis,
menyetujui terhadap tindakan wajah, bahasa tubuh dan tindakan prognosis
Ditandai dengan tingkat aktivitas - Dorong keluarga untuk
 Gelisah menunjukkan menemani anak
- Lakukan back / neck rub
 Insomnia berkurangnya kecemasan - Dengarkan dengan penuh
 Resah perhatian
- Identifikasi tingkat
 Ketakutan
kecemasan
 Sedih - Bantu pasien mengenal
 Fokus pada diri situasi yang menimbulkan
 Kekhawatiran kecemasan
 Cemas - Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
- Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan
3 Resiko Infeksi b/d tindakan NOC : NIC :
invasive kateter  Immune Status Infection Control (Kontrol
Definisi :  Knowledge : Infection infeksi)
Peningkatan resiko masuknya control - Bersihkan lingkungan
organisme patogen  Risk control setelah dipakai pasien lain
Faktor-faktor resiko : Kriteria Hasil : - Pertahankan teknik isolasi
- Batasi pengunjung bila
 Prosedur Infasif  Klien bebas dari tanda dan
perlu
 Ketidakcukupan gejala infeksi - Instruksikan pada
pengetahuan untuk  Mendeskripsikan proses pengunjung untuk mencuci
menghindari paparan penularan penyakit, factor tangan saat berkunjung dan
patogen yang mempengaruhi setelah berkunjung
 Trauma penularan serta meninggalkan pasien
- Gunakan sabun
 Kerusakan jaringan dan penatalaksanaannya,
antimikrobia untuk cuci
peningkatan paparan  Menunjukkan kemampuan
tangan
lingkungan untuk mencegah timbulnya - Cuci tangan setiap sebelum
 Ruptur membran amnion infeksi dan sesudah tindakan
 Agen farmasi  Jumlah leukosit dalam kperawtan
batas normal - Gunakan baju, sarung
(imunosupresan)
 Menunjukkan perilaku tangan sebagai alat
 Malnutrisi pelindung
hidup sehat
 Peningkatan paparan - Pertahankan lingkungan
lingkungan patogen aseptik selama pemasangan
 Imonusupresi alat
- Ganti letak IV perifer dan
 Ketidakadekuatan imum
line central dan dressing
buatan sesuai dengan petunjuk
 Tidak adekuat pertahanan umum
sekunder (penurunan Hb, - Gunakan kateter intermiten
Leukopenia, penekanan untuk menurunkan infeksi
respon inflamasi) kandung kencing
- Tingktkan intake nutrisi
 Tidak adekuat pertahanan
- Berikan terapi antibiotik
tubuh primer (kulit tidak bila perlu
utuh, trauma jaringan,
penurunan kerja silia, cairan
tubuh statis, perubahan Infection Protection (proteksi
sekresi pH, perubahan terhadap infeksi)
peristaltik) - Monitor tanda dan gejala
 Penyakit kronik infeksi sistemik dan lokal
- Monitor hitung granulosit,
WBC
- Monitor kerentanan
terhadap infeksi
- Batasi pengunjung
- Saring pengunjung
terhadap penyakit menular
- Pertahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
- Pertahankan teknik isolasi
k/p
- Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
- Inspeksi kulit dan
membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
- Ispeksi kondisi luka/ insisi
bedah
- Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
- Ajarkan cara menghindari
infeksi
- Laporkan kecurigaan
infeksi
- Laporkan kultur positif

4 Nyeri akut b/d Kerusakan NOC : Pain Management


jaringan paska bedah  Pain Level, - Lakukan pengkajian nyeri
Definisi :  Pain control, secara komprehensif
Sensori yang tidak  Comfort level termasuk lokasi,
menyenangkan dan Kriteria Hasil : karakteristik, durasi,
pengalaman emosional yang  Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas dan
muncul secara aktual atau (tahu penyebab nyeri, faktor presipitasi
potensial kerusakan jaringan mampu menggunakan - Observasi reaksi nonverbal
atau menggambarkan adanya tehnik nonfarmakologi dari ketidaknyamanan
kerusakan (Asosiasi Studi untuk mengurangi nyeri, - Gunakan teknik
Nyeri Internasional): serangan mencari bantuan) komunikasi terapeutik
mendadak atau pelan  Melaporkan bahwa nyeri untuk mengetahui
intensitasnya dari ringan berkurang dengan pengalaman nyeri pasien
sampai berat yang dapat menggunakan manajemen - Kaji kultur yang
diantisipasi dengan akhir yang nyeri mempengaruhi respon
dapat diprediksi dan dengan  Mampu mengenali nyeri nyeri
durasi kurang dari 6 bulan. (skala, intensitas, frekuensi - Evaluasi pengalaman nyeri
Batasan karakteristik : dan tanda nyeri) masa lampau
 Laporan secara verbal atau  Menyatakan rasa nyaman - Evaluasi bersama pasien
non verbal setelah nyeri berkurang dan tim kesehatan lain
 Fakta dari observasi  Tanda vital dalam rentang tentang ketidakefektifan
 Posisi antalgic untuk normal kontrol nyeri masa lampau
menghindari nyeri - Bantu pasien dan keluarga
 Gerakan melindungi
untuk mencari dan
 Tingkah laku berhati-hati
menemukan dukungan
 Muka topeng
 Gangguan tidur (mata sayu, - Kontrol lingkungan yang
tampak capek, sulit atau dapat mempengaruhi nyeri
gerakan kacau, menyeringai) seperti suhu ruangan,
 Terfokus pada diri sendiri pencahayaan dan
 Fokus menyempit kebisingan
(penurunan persepsi waktu, - Kurangi faktor presipitasi
kerusakan proses berpikir, nyeri
penurunan interaksi dengan
- Pilih dan lakukan
orang dan lingkungan)
 Tingkah laku distraksi, penanganan nyeri
contoh : jalan-jalan, (farmakologi, non
menemui orang lain dan/atau farmakologi dan inter
aktivitas, aktivitas berulang- personal)
ulang) - Kaji tipe dan sumber nyeri
 Respon autonom (seperti untuk menentukan
diaphoresis, perubahan
intervensi
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi - Ajarkan tentang teknik non
pupil) farmakologi
 Perubahan autonomic dalam - Berikan analgetik untuk
tonus otot (mungkin dalam mengurangi nyeri
rentang dari lemah ke kaku) - Evaluasi keefektifan
 Tingkah laku ekspresif kontrol nyeri
(contoh : gelisah, merintih, - Tingkatkan istirahat
menangis, waspada, iritabel,
- Kolaborasikan dengan
nafas panjang/berkeluh
kesah) dokter jika ada keluhan dan
 Perubahan dalam nafsu tindakan nyeri tidak
makan dan minum berhasil
- Monitor penerimaan pasien
Faktor yang berhubungan : tentang manajemen nyeri
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis) Analgesic Administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
- Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis,
dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
- Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
- Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
- Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
- Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
- Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
- Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala
(efek samping)
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipospadia berasal dari kata hypo yang berarti di bawah spadon yang berarti
keratan panjang. Hipospadia adalah kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak
dibagian bawah dekat pangkal penis. Apabila lubang kecil saja tidak memerluhkan
adanya tindakan karena akan dapat menutup sendiri. Tetapi jika lubang besar maka perlu
adanya tindakan bedah dan menungggu anak usia remaja.
Penyebab dari hipospadia antar lain:
a. Genetika
b. ketidak seimbangan hormone
c. lingkungan.
Jenis-jenis dari hipospadia antara lain adalah:
a. Hipospadia Grandular
b. Hipospadia Subcoronal
c. Hipospadia Peneescrotal
d. Hipospadia Mediopenean
e. Hipospadia Prenial

B. Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang pembaca, terutama mahasiswa
keperawatan dan dapat menambah pengetahuan tentang asuhan keperawatan tentang
hipospadia.
DAFTAR PUSTAKA

Amin Huda Nurarif, H. K. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan NANDA NIC NOC . Yogyakarta: Media Action.

Arif Musttaqim, K. S. (2014). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta:


Salemba Medika.

Syaifuddin. (2011). Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2.


Jakarta: Salemba Medika.

Underwood. (1999). General and Systematic Patology Vol.2. In Sarjadi, Patology Umum dan
Sistematik Vol.2 (pp. 389, 402,). Jakarta: EGC.