Anda di halaman 1dari 24

PEREKONOMIAN INDONESIA

KELOMPOK : 1
Ruang EII1

NAMA : NIM
1. Kadek Saswata Abhimana Negara 1607532008
2. Gede Eka Yasa 1607532016
3. Dwiki Vernanda Krisnayana Putra 1607532022
4. Gede Wahya Dhiyatmika 1607532025
5. Made Bayu Suartama 1607532032

JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI NON REGULAR
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR BALI
2018
Nama : Kadek Saswata Abhimana Negara
Nim : 1607532008

I. TUJUAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

Menurut Ketut Nehen dalam bukunya halaman 60 (2016)

Pertumbuhan Ekonomi
Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat tetangga adalah keluarga kaya raya; mereka
mempunyai dua mobil, tiga sepeda motor, dan rumah, peralatan rumah serta gaya hidupnya
mewah. Sedangkan di lain pihak kita juga mempunyai tetangga yang miskin, hidup pas-pasan.
Apalagi mobil, sepeda gayung pun mereka tidak punya. Kita sering mendengar pernyataan
bahwa keluarga yang disebut pertama adalah keluarga makmur dan yang disebut kemudian
adalah keluarga yang kurang makmur. Kalau demikian halnya, mungkin dapat dibenarkan
kalau kita mengatakan bahwa ukuran untuk kemakmuran adalah tingkat pendapatan keluarga
tersebut, atau dengan kata lain, tingkat pendapatan nasional perkapita.

Namun salah satu tujuan pembangunan ekonomi pada umunya adalah agar
pendapatan nasional (total maupun per kapita) tumbuh untuk memperoleh tingkat
kemakmuran (pendapatan nasional) yang lebih tinggi. Kalau demikian halnya, ukuran
mengenai kemakmuran dapat dikatakan sebagai tingkat pertumbuhan ekonomi (tingkat
pertumbuhan pendapatan nasional).

Menurut Ketut Nehen dalam bukunya halaman 61 (2016)

Elemen Pertumbuhan Ekonomi


Ada tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap
bangsa. Ketiga faktor tersebut adalah :

1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk investasi baru yang ditambahkan
pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.
2. Pertumbuhan penduduk, yang pada akhirnya akan memperbanyak jumlah angkatan
kerja.
3. Kemajuan teknologi
Menurut Ketut Nehen dalam bukunya halaman 65 (2016)

Pertumbuhan Ekonomi (Kurva Kemungkinan Produksi)


Dengan bekal pemahan awal perihal dua komponen pertama dan utama dari
pertumbuhan ekonomi itu, maka kita dapat mempelajari interaksi yang berlangsung antara
kedua komponen utama tersebut melalui kurva kemungkinan produksi (productionpossibility
curve) guna memahami peningkatan potensi total output dari satu perekonomian. Pada
tingkat penguasaan teknologi tertentu pula, kurva kemungkinan produksi memperlihatkan
jumlah output maksimum yang bisa dicapai berupa kombinasi dua jenis komoditi, misalkan
saja beras (padat karya) dan radio (padat modal atau teknologi), seandainya segenap sumber
daya yang tersedia dalam perekonomian yang bersangkutan benar-benar digunakan secara
penuh dan efesien. Peraga satu berikut memperlihatkan kurva-kurva kemungkinan produksi
beras dan radio.
Jika kita andaikan teknologi produksi sama sekali tidak mengalami perubahan, kuantitas
sumber daya manusia dan fisik akan meningkat dua kali lipat sebagai hasil dari investasi pada
pengadaan sumber daya yang baru, seperti menambah luas tanah, modal, dan juga jumlah
tenaga kerja. Pada peraga 1 terlihat bahwa peningkatan kualitas sumber daya sampai dua
kali lipat akan menggeser kurva kemungkinan produksi keluar secara sejajar, dari P-P ke P’-
P’. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perekonomian atau negara yang bersangkutan sedang
dapat memproduksi lebih banyak radio dan beras.

Karena sejak semula telah diasumsikan bahwa perekonomian tersebut hanya


memproduksi dua jenis barang saja, maka jelas peningkatan produksi beras dan radio
langsung menambah total PNB (yakni jumlah seluruh nilai barang dan jasa yang di produksi).
Berkat kenaikan produksi itu, PNB negara tersebut meningkat lebih tinggi dari pada
sebelumnya. Dengan kata lain, negara atau perekonomian tadi tengah mengalami proses
pertumbuhan ekonomi.
Perhatikan bahwa walaupun negara tersebut beroperasi di bawah kapasitas sumber
daya yang ada pada titik X pada peraga di atas, kenaikan sumber daya produktif tetap dapat
meningkatkan output pada titik X’, meskipun disitu terdapat pengangguran dan penggunaan
tanah dan modal di bawah kapasitas maksimal. Penambahan sumber daya juga belum tentu
akan meningkatkan output (menciptakan pertumbuhan ekonomi). Hal ini bukan merupakan
satu kepastian yang baku sehingga menjadi satu hukum ekonomi, seperti telah dibuktikan
oleh negara-negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya relative rendah. Selain itu,
pertumbuhan sumber daya ternyata tidak selalu merupakan syarat mutlak bagi adanya
pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, mengingat pemanfaatan sumber daya yang
tersedia secara lebih baik ternyata juga dapat meningkatkan output, seperti terlihat dari
pergeseran titik X ke X’ pada peraga di atas. Meskipun demikian, dalam jangka panjang
peningkatan kualitas sumber daya yang ada serta investasi baru yang memperbanyak
kuantitas sumber daya (menciptakan sumber-sumber daya yang baru) jelas merupakan
syarat mutlak untuk mempercepat pertumbuhan output nasional.

Menurut Ketut Nehen dalam bukunya halaman 67 (2016)

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Sejalan dengan pendapat kebanyakan ekonom bahwa kemajuan teknologi merupakan
sumber pertumbuhan yang paling penting, Presiden Sukarno pada sekitar tahun 1960
menyarankan agar bangsa Indonesia loncat jauh (frog jump) dalam pemilihan teknologi.
Artinya adalah bahwa kita sebaiknya memakai teknologi yang paling mutakhir, tidak perlu lagi
memakai teknologi yang sudah usang di Negara maju, maka jumlah produksi nasional akan
meloncat jauh dan mungkin akan mampu mendekati produksi nasional Negara-negara maju.
Sehubungan dengan anjuran ini, Indonesia tidak memperkenankan impor barang modal
bekas. Yang diimpor mestinya hanya mesin-mesin terbaru dan paling canggih untuk memacu
pertumbuhan ekonomi. Kemudian sekitar 1970an telah diperkenankan teknologi menumbuk
beras, ani-ani diganti dengan sabit, bajak dengan traktor dan banyak lagi kemajuan teknologi
yang diterapkan di sector pertanian. Demikain juga halnya di sector lain, penerapan teknologi
baru di sector industry dengan memakai mesin pemintalan otomatis sebagai pengganti ATBM,
pemakain computer dan sebagainya. Namun, barangkali dewasa ini, pintu impor barang
bekas sudah dibuka lagi, seperti misalnya impor pesawat terbang bekas dan barang modal
lainnya.
Menurut Ketut Nehen dalam bukunya halaman 69 (2016)

Tujuan Masyarakat Adil

a. Distribusi Pendapatan

Kalau satu keluarga di antara tetangga kita adalah seorang kepala rumah tangga
dengan lima anak dan semua anaknya (laki/perempuan) disekolahkan dan kesemuanya
diberikan warisan tanah yang kurang lebih sama, mungkin kuta mengatakan bahwa kepala
rumah tangga tersebut adit kepada semua anaknya. Tetapi di lain pihak, satu keluarga juga
mempunyai lima anak, hanya menyekolahkan anak yang laki-laki sedang anak
perempuannya tidak sekolah. Pembagian warisannya juga diutamakan anak laki-lakinya.
Tentu kita dapat mengatakan bahwa keluarga ini kurang adil dibandingkan dengan keluarga
yang disebut pertama. Kalau demikian halnya, maka kita dapat mengatakan bahwa
keasdilan diukur melalui bagaimana kekayaan (pendapatan) didistribusikan di antara yang
berhak. Makin merata pembagiannya makin adil dan sebaliknya makin timpang
pembagiannya makin kurang adil.

b. Mengukur Masyarakat Adil

Para ekonom berusaha mengukur tingkat keadilan pembagian pendapatan nasional


satu negara dengan menghitung Rasio Gini dan Rasio Kuznets. Cara lain untuk mengukur
ketimpangan pembagian penghasilan masyarakat adalah dengan memakai Kurva Lorenz,
memakai kurva distribusi penghasilan fungsional dan memakai koefisien variasi distribusi
pendapatan perorangan (rumah tangga).

Rasio Gini merupakan perangkat yang paling sering digunakan untuk mengukur derajat
keadilan/ketimpangan pendapatan relative di satu negara. Rasio ini dapat dihitung dengan
memakai rums yang sangat rumit (kompleks) dan oleh karenanya rumus tersebut tidak
disajikan kali ini. Rasio ini juga dikenal dengan nama konsentrasi Gini atau koefisien Gini yang
angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna).
Pada prakteknya koefisien Gini untuk negara-negara yang derajat ketimpangannya tinggi
berkisar 0,50 - 0,70, sedangkan untuk negara-negara dengan distribusi pendapatan relative
merata, angkanya berkisar antara 0,20 hingga 0,35. Rasio Gini antara 0,36 hingga 0,49
menunjukkan pembagian pendapatan dengan keadilan yang sedang.

Rasio Kuznets adalah perbandingan antara jumlah pendapatan dari 40 persen individu
(rumah tangga) termiskin dengan jumlah pendapatan dari 20 persen individu (rumah tangga)
terkaya. Rasio ini diberi nama sesuai dengan nama penganjurnya, yakni nama pemenang
hadiah Nobel Simon Kuznets.

c. Pencapaian Masyarakat Adil di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah berusaha memperbaiki keadilan pembagian pendapatan


nasionalnya dengan menjalankan berbagai kebijaksanaan ekonomi. Sesungguhnya setiap
kebijaksanaan ekonomi pemerintah bersifat memperparah ketimpangan (kalau kebijaksanaan
tersebut bersifat lebih menguntungkan kaum kaya dibandingkan dengan kaum miskin), atau
bersifat mengurangi ketimpangan (kalau kebijaksanaan tersebut bersifat lebih memihak kaum
miskin). Di bawah ini disajikan beberapa kebijakan pemerintah yang bersifat memperbaiki dan
memperburuk kesenjangan distribusi pendapatan nasional.

1. Undang-undang pokok Agraria tahun 1960.


2. Pajak penghasilan untuk perorangan dan untuk badan (dari laba).
3. Berbagai kebijaksanaan kredit perbankan yang bersifat memihak kepada rakyat kecil
(kaum yang lebih rendah tingkat pengahasilannya).
4. Berbagai program pengeluaran pemerintah yang lebih memihak kepada mereka
yang berpenghasilan rendah.
5. Berbagai kebijaksanaan jarring pengaman social yang dilaksanakan baru-baru ini
yang bersifat khusus untuk memerangi kemiskinan.

Kesemua kebijaksanaan ini dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan


pembagianpendapatan nasional, atau dengan kata lain untuk mencapai pembagian
pendapatan yang lebih adil di antara masyarakat Indonesia. Namun sayang pemerintah
yang tujuannya untuk orang miskin sebagian, dan malah sebagian besar dinikmati oleh
golongan yang lebih kaya yang tidak dimaksudkan oleh program tersebut.

Di samping kebijaksanaan tersebut di atas yang dimaksudkan untuk mengurangi


ketimpangan pembagian pendapatan nasional, ternyata pemerintah juga melaksanakan
kebijaksanaan yang mengutamakan orang kaya, atau membuat modal menjadi lebih murah
dari semestinya dan membuat tenaga kerja relative mahal, sehingga kaum pengusaha dan
investor lebih memilih teknologi yang padat modal, memerlukan lebih sedikit tenaga kerja
yang muaranya memperburuk distribusi pendapatan nasional. Di antara kebijaksanaan yang
ternyata lebih memihak kaum kaya dan/ atau menyebabkan harga modal relatif murah,
antara lain, adalah:
1. Undang-undang Penanaman Modal Asing, yang memberi fasilitas kepada investor
asing (investor besar) untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.
2. Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri, yang menyediakan fasilitas kredit
kepada investor besar dalam negeri untuk lebih aktif dalam pembangunan ekonomi.
3. Kredit dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, yang memberikan fasilitas kredit
dengan Bungan yang relative rendah atau malah tanpa bunga kepada bank nasional
yang mengalami kesulitan likuiditas.
4. Tingkat bunga kredit yang relative lebih rendah untuk investasi jangka panjang
dibandingkan dengan tingkat bunga untuk kredit konsumtif.
5. Pembebasan bea masuk bagi investor yang memasukkan barang modal dari luar
negeri
6. Nilai rupiah yang dibuat terlalu mahal (over valued currency) oleh pemerintah
terhadap mata uang asing (terutama US$) sehingga pemerintah berkali-kali
melaksanakan kebijaksanaan devaluasi nilai rupiah.

Titik berat Pembangunan Nasional diletakkan pada bidang ekonomi, yang merupakan
penggerak utama pembangunan, seiring dengan kualitas sumber daya manusia dan didorong
secara saling memperkuat, saling terkait dan terpadu dengan pembangunan bidang-bidang
lainnya yang dilaksanakan seirama, selaras, dan serasi dengan keberhasilan pembangunan
bidang ekonomi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional.
Arah Pembangunan bidang ekonomi di antaranya ada secara langsung atau tidak
langsung berkaitan dengan bidang ekonomi. Arah yang dimaksud secara ringkas dapat
dirumuskan sebagai berikut.
1. Meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang cinta tanah air.
2. Menjadikan potensi sumber daya nasional sebagai kekuatan ipoleksosbudhankam
yang nyata, didukung oleh sumber daya manusia berkualitas.
3. Mewujudkan perekonomian nasional yang mandiri dan andal.
4. Menjadikan pembangunan industri sebagai penggerak utama ekonomi yang efisien
dan berdaya saing tinggi.
5. Arah pembangunan di 3 (tiga) bidang:
A. Perdagangan: dapat menunjang peningkatan produksi,
mendukungpemerataan memperlancar distribusi, memperkuat daya saing;
B. Perhubungan: makin memperlancar area lalu lintas orang, barang, dan jasa;
menunjang pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, pemerataan dan
penyebaran, meningkatkan kepariwisataan;
C. Pariwisata: meningkatkan devisa dan pendapatan daerah dan masyarakat,
menciptakan lapangan kerja, mendorong kegiatan ekonomi yang terkait
dengan budaya bangsa.
6. Sumber daya alam didayagunakan secara terencana dan sertanggung jawab:
lingkungan hidup didayagunakan bagi pembangunan yang berkelanjutan; tata ruang
nasional berwawasan nusantara.
7. Kekayaan bumi seperti hutan dan tambang harus dikelola selain untuk memberikan
manfaat masa kini, namun juga menjamin kehidupan masa depan.
8. Biaya pernbangunan/keuangan digali dari sumber kemampuan sendiri; dana luar
negeri sebagai pelengkap dengan prinsip kemandirian; tabungan nasional
ditingkatkan; kebijaksanaan fiskal dengan prinsip anggaran berimbang dan dinamis;
kestabilan nilai masa uang dijaga; pengembangan lembaga keuangan dan perbankan
yang efisien dan makin meluas jangkauannya.
9. Pembangunan daerah yang bertujuan untuk memacu pemerataan pembangunan
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan peran serta rakyat,
meningkatkan potensi daerah; pembangunan daerah dan kawasan kurang
berkembang (kawasan timur Indonesia, daerah terpcncil, daerah perbatasan) perlu
ditingkatkan.

Tujuan Inti Pembangunan


Kalau dilihat dari pengertian pembangunan sendiri secara luas adalah membangun
manusia (masyarakat) Indonesia seutuhnya ini berarti sebagai suatu proses yang
berkesinambungan atas suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih
baik atau lebih manusiawi. Tapi pada dasarnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi
tersebut masih menjadi pertanyaan. Menurut para ahli (Profesor Gaulet dan Tokoh yang
lainnya) paling tidak ada tiga komponen dasar atau yang menjadi inti yang harus dijadikan
kerangka konseptual yang dijadikan acuan dalam memahami kehidupan yang lebih baik atau
lebih manusiawi tersebut hal tersebut adalah kecukupan, harga diri, dan kebebasan yang
tentunya ketiga hal tersebut harus dapat dicapai melalui pembangunan ini.
Kecukupan dalam hal ini adalah semua hal yang mewakili segala kebutuhan dasar
manusia yang harus dipenuhi yang tentunya apabila kebutuhan ini tidak dipenuhi tentunya
akan berdampak signifikan bagi kehidupan manusia. Fungsi dasar dari kegiatan ekonomi
adalah untuk menyediakan sebanyak mungkin masyarakat yang siap dalam menghadapi
berbagai gejolak perekonomian diantaranya kerurangan pangan, sandang, papan, dan juga
kebutuhan lainnya yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Atas dasar itulah kita dapat
mengukur tingkat keberhasilan pembangunan yang dilakukan. Tanpa adanya kemajuan
ekonomi secara berkesinambungan maka realisasi potensi manusia, baik ditingkat individu
ataupun masyarakat tidak dapat terealisasi. Selain itu kecukupan sendiri juga harus
terlaksana dalam kehidupan manusia dengan adanya, kenaikan pendapatan perkapita,
pengentasan kemiskinan absolut, perluasan lapangan kerja dan lain sebagainya yang
tentunya dapat menunjang darti tingkat kecukupan dari hidup manusia itu sendiri.

Komponen yang selanjutnya adalah harga diri dimana harga diri ini adalah adanya
dorongan dari dalam diri sendiri untuk lebih baik lagi, untuk menghargai diri sendiri, untuk
merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu dan sebagainya. Dalam suatu
tatanan masyarakat sifat harga diri itu sendiri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya
hal ini terjadi dikarenakan adanya pengeruh dari perkembangan jaman yang sangat modern
ini. Dengan pengaruh perkembangan jaman modern juga banyak yang mengadopsi budaya
barat yang pada dasarnya sangat berbeda dengan budya yang sudah ada sehingga
menimbulkan pro dan kontra dibanyak negara. Derasnya pengaruh barat tentunya telah
mengikis jati diri masyarakadi beberapa negra berkembang. Dengan adanyapengaruh barat
yang merubah jati diri tersebut banyak negara berkembng merasa dirinya kecil dan tidak
berarti hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki perkembangan ekonomi secepat negara
maju serta teknoligi yang sangant mutahir. Hal inilah yang selanjutnya dikejar oleh masyarahat
dengan berkaca dari negara maju sehinga tak ayal mereka sampai melupakan ajati dirinya
sendiri.

Unsur yang relevan disini adalah keterblakangan tersebut merupakan nasib buruk bagi
sebagian besar penduduk dunia. Maka dari itu pembangunan itu harus diabsahkan sebagai
suatu tujuan karena itu merupakan kunci untuk meraih sesuatu yang sangat penting, dan itu
bukanlah kekayaan melainkan penghargaan. Selanjutnya komponen yang ketiga menurut
para ahli tersebut adalah kebebasan ( Freedom ) dimana kebebasan tersebut dapat diartikan
sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek –
aspek materiil dalam kehidupan ini. Sekali kita menjadi budak materi, maka sederet
kecenderungan negatif mulai dari sikap acuh tak acuh, sikap mementingkan diri sendiri, dan
sebagainya akan meracuni diri kita. Kebebasan disini juga dapat diartikan sebagai kebebasan
terhadap ajaran dogmatis. Jika kita memiliki kebebasan tersebut maka selamanya kita tidak
dapat berfikir jernih dan menilai hal dari dalam diri sendiri. Konsep kebebasan manusia juga
melingkupi segala komponen yang ada meliputi; politik, keamanan diri sendiri, kepastian
hukum, kebebasan berekspresi, partisipasi politik dan pemetaan kesempatan dan lain
sebagainya.
Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
Terdapat tiga nilai menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi, yakni
kecukupan, harga diri, dan kebebasan yang merupakan tujuan pokok dan harus digapai oleh
setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Program Pembangunan PBB (UNDP)
telah berusaha menyusun alat pengukuran holistis atas tingkat kehidupan manusia yang
disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini dapat dipergunakan untuk
menganalisis status pembangunan sosial ekonomi secara sistematis dan komprehensif baik
untuk negara maju maupun negara berkembang. IPM mencoba memeringkat semua negara
berdasarkan tiga tujuan atau produk akhir dari pembangunan yakni masa hidup (longevity),
yang diukur dengan usia harapan hidup, pengetahuan, yang diukur dengan kemampuan baca
tulis orang dewasa secara tertimbang, serta standar kehidupan yang diukur dengan
pendapatan riil per kapita, disesuaikan dengan paritas harga beli dari mata uang setiap negara
untuk mencerminkan biaya hidup dan untuk memenuhi asumsi utilitas marjinal yang semakin
menurun dari pendapatan.

Tabel 1. Data Indeks Pembangunan Manusia tiap Provinsi di Indonesia periode 2010-
2015.

Sumber : Badan Pusat Statistik

[Metode Baru] Indeks Pembangunan


Kabupaten Manusia
2010 2011 2012 2013 2014 2015
ACEH 67.09 67.45 67.81 68.30 68.81 69.45
SUMATERA UTARA 67.09 67.34 67.74 68.36 68.87 69.51
SUMATERA BARAT 67.25 67.81 68.36 68.91 69.36 69.98
RIAU 68.65 68.90 69.15 69.91 70.33 70.84
JAMBI 65.39 66.14 66.94 67.76 68.24 68.89
SUMATERA
64.44 65.12 65.79 66.16 66.75 67.46
SELATAN
BENGKULU 65.35 65.96 66.61 67.50 68.06 68.59
LAMPUNG 63.71 64.20 64.87 65.73 66.42 66.95
KEP. BANGKA
66.02 66.59 67.21 67.92 68.27 69.05
BELITUNG
KEP. RIAU 71.13 71.61 72.36 73.02 73.40 73.75
DKI JAKARTA 76.31 76.98 77.53 78.08 78.39 78.99
JAWA BARAT 66.15 66.67 67.32 68.25 68.80 69.50
JAWA TENGAH 66.08 66.64 67.21 68.02 68.78 69.49
DI YOGYAKARTA 75.37 75.93 76.15 76.44 76.81 77.59
JAWA TIMUR 65.36 66.06 66.74 67.55 68.14 68.95
BANTEN 67.54 68.22 68.92 69.47 69.89 70.27
BALI 70.10 70.87 71.62 72.09 72.48 73.27
NUSA TENGGARA
61.16 62.14 62.98 63.76 64.31 65.19
BARAT
NUSA TENGGARA
59.21 60.24 60.81 61.68 62.26 62.67
TIMUR
KALIMANTAN
61.97 62.35 63.41 64.30 64.89 65.59
BARAT
KALIMANTAN
65.96 66.38 66.66 67.41 67.77 68.53
TENGAH
KALIMANTAN
65.20 65.89 66.68 67.17 67.63 68.38
SELATAN
KALIMANTAN
71.31 72.02 72.62 73.21 73.82 74.17
TIMUR
KALIMANTAN
- - - 67.99 68.64 68.76
UTARA
SULAWESI UTARA 67.83 68.31 69.04 69.49 69.96 70.39
SULAWESI
63.29 64.27 65 65.79 66.43 66.76
TENGAH
SULAWESI
66 66.65 67.26 67.92 68.49 69.15
SELATAN
SULAWESI
65.99 66.52 67.07 67.55 68.07 68.75
TENGGARA
GORONTALO 62.65 63.48 64.16 64.70 65.17 65.86
SULAWESI BARAT 59.74 60.63 61.01 61.53 62.24 62.96
MALUKU 64.27 64.75 65.43 66.09 66.74 67.05
MALUKU UTARA 62.79 63.19 63.93 64.78 65.18 65.91
PAPUA BARAT 59.60 59.90 60.30 60.91 61.28 61.73
PAPUA 54.45 55.01 55.55 56.25 56.75 57.25
INDONESIA 66.53 67.09 67.70 68.31 68.90 69.55

Tabel 2. Data Angka Harapan Hidup Penduduk Beberapa Negara Tahun 1995-2015

Sumber : Badan Pusat Statistik

1995- 2000- 2005- 2010-


Negara
2000 2005 2010 20151
Amerika Serikat 76,4 77,1 r 78,1 r 78,9
Arab Saudi 71,6 r 73,1 r 74,3 r 75,4
Australia 78,9 r 80,4 r 81,7 r 82,4
Bangladesh 64,1 r 66,4 r 68,4 r 70,5
Belanda 77,8 r 78,7 80,2 80,9
Belgia 77,3 r 78,3 r 79,5 r 80,4
Brazil 69,4 r 71,0 r 72,4 r 73,8
Cina 70,9 r 73,4 r 74,4 r 75,2
Denmark 76,0 77,3 r 78,6 r 79,3
Federasi Rusia 65,7 65,0 r 67,2 r 67,9
Filipina 66,4 67,1 67,8 68,6
Finlandia 77,0 78,3 79,5 r 80,5
Hongkong SAR 79,4 81,3 r 82,4 r 83,3
India 61,2 r 63,1 r 64,9 r 66,3
Indonesia 2 66,0 67,8 69,1 70,1
Inggris 77,1 78,4 79,6 80,4
Italia 78,7 80,2 81,5 r 82,3
Jepang 80,5 81,8 82,7 83,5
Jerman 77,2 r 78,6 r 79,8 80,7
Kamboja 59,8 r 64,5 r 69,5 r 71,6
Kanada 78,5 79,7 80,5 81,4
Kazakhstan 63,0 64,6 65,7 r 66,4
Korea Selatan 74,9 77,4 80,0 81,4
Kuwait 72,9 r 73,4 r 73,8 r 74,2
Malaysia 72,3 r 73,3 r 74,0 r 74,9
Meksiko 68,0 r 69,0 r 69,9 r 71,1
Mesir 73,7 r 75,0 r 76,3 r 77,4
Myanmar 61,3 r 62,8 r 64,2 r 65,1
Nigeria 46,3 r 47,3 r 50,2 r 52,3
Norwegia 78,2 79,2 80,6 r 81,4
Pakistan 63,1 r 64,5 r 65,7 r 66,5
Perancis 78,3 r 79,5 r 80,9 r 81,7
Singapura 77,7 r 79,2 r 81,2 r 82,2
Sri Lanka 69,1 r 73,2 73,4 74,2
Swedia 79,2 80,1 r 81,1 r 81,7
Thailand 70,6 r 71,5 r 73,3 r 74,3
Venezuela 72,1 72,8 r 73,7 74,5
Vietnam 73,0 r 74,4 r 75,1 r 75,9
Catatan: r) Angka diperbaiki
1) Data estimasi dengan ragam fertilitas medium
2) Data bersumber dari BPS
Sumber: United Nations: “World Population Prospect: The 2010
Revision Population Database”

Nama : Gede Eka Yasa


NIM : 1607532016

II. STRATEGI PEMBANGUNAN

Strategi pembangunan ekonomi diberi batasan sebagai suatu tindakan pemilihan atas faktor
– faktor (variabel) yang akan dijadikan faktor / variabel utama yang menjadi penentu jalannya
proses pertumbuhan (Suroso, 1993). Babarapa strategi pembangunan ekonomi yang dapat
disampaikan adalah :

1) Strategi Pertumbuhan
Di dalam pemikiran ini pertumbuhan ekonomi menjadi kriteria utama bagi pengukuran
keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan pembangunan ekonomi akan dinikmati pula oleh
si miskin melalui proses merambat ke bawah (trickle down effect) atau melalui tindakan
koreksi pemerintah mendistribusikan hasil pembangunan. Ketimpangan atau
ketidakmerataan adalah merupakan semacam prasyarat atau kondisi yang harus terjadi guna
memungkinkan terciptanya pertumbuhan, yaitu melalui proses akumulasi modal oleh lapisan
kaya. Strategi ini disebut strategi pertumbuhan.
Inti dari konsep strategi ini adalah :
Strategi pembangunan ekonomi suatu Negara akan terpusat pada upaya pembentukan modal,
serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah, dan memusatkan,
sehingga dapat menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya bahwa pertumbuhan
ekonomi akan dinikmati oleh golongan lemah melalui proses merambat ke bawah (trickle-
down-effect), pendistribusian kembali. Jika terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan, hal
tersebut merupakan persyaratan terciptanya pertumbuhan ekonomi. Kritik paling keras dari
strategi yang pertama ini adalah bahwa pada kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan
yang semakin tajam.

2) Strategi Pembangunan dengan Pemerataan

Keadaan sosial antara si kaya dan si miskin mendorong para ilmuwan untuk mencari
alternatif. Alternatif baru yang muncul adalah strategi pembangunan pemerataan. Strategi ini
dikemukakan oleh Ilma Aldeman dan Morris. Yang menonjol pada pertumbuhan
pemerataan ini adalah ditekannya peningkatan pembangunan melalui teknik social
engineering, seperti melalui penyusunan rencana induk, paket program terpadu. Dengan
kata lain, pembangunan masih diselenggarakan atas dasar persepsi, instrumen yang
ditentukan dari dan oleh mereka yang berada “diatas” (Ismid Hadad, 1980).

3) Strategi Ketergantungan

Teori ketergantungan muncul dari pertemuan ahli-ahli ekonomi Amerika Latin pada tahun
1965 di Mexico City. Menjelaskan dasar-dasar kemiskinan yang diderita oleh negara-negara
sedang berkembang, khususnya negara-negra Amerika Latin. Yang menarik dari teori
ketergantungan adalah munculnya istilah dualisme utara-selatan, desa-
kota, corepriphery yang pada dirinya mencerminkan adanya pemikiran pembangunan yang
berwawasan ruang. Pada tahun 1965 muncul strategi pembangunan dengan nama strategi
ketergantungan. Konsep ini timbul dikarenakan tidak sempurnanya strategi pertumbuhan dan
strategi pembangunan dengan pemerataan.
Inti dari konsep strategi ketergantungan adalah :
Kemiskinan di negara–negara berkembang lebih disebabkan karena adanya ketergantungan
negara tersebut dari pihak/negara lainnya. Oleh karena itu jika suatu negara ingin terbebas
dari kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi, negara tersebut harus mengarahkan upaya
pembangunan ekonominya pada usaha melepaskan diri dari ketergantungandari pihak lain.
Langkah yang dapat ditempuh diantaranya adalah meningkatkan produksi nasional yang
disertai dengan peningkatan kemampuan dalam bidang produksi, lebih mencintai produk
nasional. Teori ketergantungan ini kemudian dikritik oleh Kothari dengan mengatakan
“. . . . .teori ketergantungan tersebut memang cukup relevan, namun sayangnya telah menjadi
semacam dalih terhadap kenyataan dari kurangnya usaha untuk membangun masyarakat
sendiri (selfdevelopment). Sebab selalu akan gampang sekali bagi kita untuk menumpahkan
semua kesalahan pada pihak luar yang memeras, sementara pemerasan yang terjadi di
dalam lingkungan masyarakat kita sendiri dibiarkan saja . . . . . “ ( Kothari dalam Ismid Hadad,
1980 ).

4) Strategi yang Berwawasan Ruang

Strategi ini dikemukakan oleh Myrdall dan Hirschman, yang mengemukakan sebab –
sebab kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah yang lebih kaya / maju.

Menurut mereka kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah maju
dikarenakan kemampuan / pengaruh menyetor dari kaya ke miskin (Spread Effects) lebih kecil
daripada terjadnya aliran sumber daya dari daerah miskin ke daerah kaya (Back-wash-effects).
Perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut adalah, bahwa Myrdall tidak percaya bahwa
keseimbangan daerah kaya dan miskin akan tercapai, sedangkan Hirschman percaya,
sekalipun baru akan tercapai dalam jangka panjang

5) Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok

Sasaran strategi ini adalah menaggulangi kemiskinan secara masal. Strategi ini
selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO) pada tahun 1975,
dengan dikeluarkannya dokumen: Employment, Growth, and Basic Needs : A One World
Problem. ILO dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak mungkin dapat
dipengaruhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan yang bersumber pada
pengangguran. Oleh karena itu sebaiknya usaha-usaha diarahkan pada penciptaan lapangan
kerja, peningkatan pemenuhan kebutuhan pokok dan sejenisnya
Nama : Dwiki Vernanda Krisnayana Putra
NIM : 1607532022

III. SISTEM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dimasukan dalam mekanisme proyek-


proyek pembangunan. Proyek-proyek pembangunan memuat jelas tentang tujuannya,
sasaran yang akan dicapai, cara mengukur keberhasilannya, jangka waktu pelaksanaan,
tempat pelaksanaan, cara melaksanakan, kebijaksanaan untuk menjamin proyek itu dapat
dilaksanakan, biaya serta tenaga yang diperlukan, dan badan yang akan melaksanakannya.
Dalam pelaksanaan pembangunan, proyek dapat dikerjakan sendiri oleh badan pemerintah
pusat maupun badan pemerintah daerah, baik dalam arti desentralisasi dan otonom.

Proyek dapat pula dilaksanakan oleh badan lain di luar pemerintah, biasanya
perusahaan swasta, baik asing maupun dalam negeri atau campuran. Badan tersebut bisa
dipilih langsung atau melalui pelelangan. Pelelangan biasanya merupakan cara terbaik,
karena dalam pelelangan ada persaingan yang sehat yang menguntungkan baik secara teknis
maupun dari segi biaya. Adanya pertumbuhan ekonomi menandakan keberhasilan dalam
pelaksanaan pembangunan.

Menurut Ketut Nehen dalam bukunya halaman 61 (2016) “Terdapat komponen-


komponen penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa:

1) Akumulasi Modal
Akumulasi modal terjadi apabila sebagian dari pendapatan di tabung dan
diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di
kemudian hari. Meliputi semua bentuk investasi baru yang ditambahkan pada
tanah, peralatan fisik, modal, dan sumber daya manusia. Investasi produktif
yang bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi
penunjang yang disebut investasi “infrastruktur” ekonomi dan sosial. Contoh
pembangunan jalan raya, penyediaan listrik, persediaan air bersih dan
perbaikan sanitasi, pembangunan fasilitas komunikasi yang semuanya mutlak
dibutuhkan untuk menunjang dan mengintegrasikan segenao aktivitas
ekonomi produktif. Hal yang penting untuk mencapai maksud investasi
tersebut selalu dituntut adanya pertukaran antara konsumsi sekarang dan
konsumsi mendatang seperti contoh jika saat ini kita mengorbankan
pendapatan yang mungkin diperoleh dengan menempuh pendidikan lanjutan,

2) Pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja


Bertambahnya jumlah tenaga kerja akan menambah jumlah tenaga produktif,
sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti meningkatkan
ukuran pasar domestiknya. Meskipun sering dipertanyakan apakah cepatnya
pertumbuhan penawaran angkatan kerja sehingga terjadi kelebihan tenaga
kerja benar-benar akan memberikan dampak positif atau negatif terhadap
pembangunan ekonomi,

3) Kemajuan Teknologi
Ada tiga jenis kemajuan teknologi, yaitu kemajuan teknologi yang bersifat
netral, kemajuan teknologi yang hemat tenaga, kemajuan teknologi yang
hemat modal.
Kemajuan teknologi yang bersifat netral apabila teknologi tersebut
memungkinkan kita mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi dengan
menggunakan jumlah dan kombinasi faktor input yang sama.
Kemajuan teknologi yang hemat tenaga apabila kita memperoleh output yang
lebih banyak dari jumlah input tenaga kerja atau modal yang sama.
Kemajuan teknologi yang hemat modal apabila jika kita dapat menghasilkan
metode produksi padat karya yang lebih efisien (yang memerlukan biaya
rendah) seperti contoh mesin pemotong rumput berputar.
Kemajuan teknologi yang meningkatkan pekerja terjadi apabila penerapan
teknologi tersebut dapat meningkatkan kinerja mutu dan ketrampilan pekerja.
Contoh pada saat proses pembelajaran berlangsung dikelas menggunakan
media elektronik maka tingkat penyerapan bahan pelajaran menjadi lebih baik”.
NAMA : Gede Wahya Dhiyatmika
NIM : 1607532025

IV. SISTEM EKONOMI

a) Sistem Ekonomi Dualisme

Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak selain


China oleh karena itu di Indonesia taraf ekonomi setiap masyarakat sangat berbeda. Hal
tersebut sudah terlihat jelas sejak jaman penjajahan sampai sekarang yang menunjukan
perekonomian indonesia masih juga menunjukkan ciri-ciri adanya dualisme.

Sistem ekonomi dualisme adalah sistem ekonomi yang menunjukan adanya


perbedaan taraf ekonomi pada suatu bangsa yang mempengaruhi kesejahteraan masyarakat
dan kesenjangan sosial. Pendapat ini juga diperkuat oleh, (Ketut Nethen, Perekonomian
Indonesia, 2016:120); “Dualisme adalah konsep yang menunjukan adanya jurang
pemisah yang kian lama terus melebar antara negara-negara kaya dan miskin, serta diantara
orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara”.

Menurut penulis ciri-ciri sistem ekonomi dualisme tercermin dari rakyat pada suatu
bangsa yang dimana, rakyat pada suatu bangsa tidak merasakan kesejahteraan ekonomi
karena adanya kesenjangan dari segi teknologi,budaya,sosial, dan kurangnya gerakan dari
pemerintah untuk pemerataan ekonomi. Pendapat ini juga diperkuat berdasarkan sumber dari
pendapat ahli ekonomi mengenai 4 ciri-ciri sistem ekonomi dualisme, sebagaimana
dikemukakan oleh, (Lincolin, arsyad, 2010, ekonomi pembangunan : edisi 5, yogyajarta, UUP
ATIM YKPN ), yaitu :

“1)Dua keadaan yang berbeda dimana sebagian bersifat superior dan lainya bersifat
inferior yang bisa hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama, 2)Keadaan hidup
berdampingan itu bersifat kronis dan bukan transisional, 3)Derajat superioritas atau
inferioritas itu tidak menunjukan kecenderungan yang menurun,bahkan terus meningkat.
4)Keterkaitan antara unsur superior dan unsur inferior tersebut menunjukan bahwa
keberadaan unsur superior tersebut hanya berpengaruh kecil sekali atau bahkan tidak
berpengaruh dalam mengangkat derajat unsur inferior”.
Contoh penerapan yang terjadi pada sistem ekonomi dualisme:

1. Dualisme ekonomi dapat dilihat dari kesenjangan ekonomi dan sosial yang terjadi
antar daerah yaitu, pada daerah perkotaan dan perdesaan di Indonesia: Hal ini
menunjukan adanya dualisme yang merupakan akibat dari investasi yang tidak
seimbang antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ketidakseimbangan ini akhirnya
menyebabkan kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan semakin besar. Maka
dari itu penting bagi pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan desa
agar tercapainya pemerataan ekonomi pada daerah-daerah yang membutuhkan, baik
dari segi, pendidikan, investasi, dan teknologi.

2. Dualisme ekonomi juga bisa dilihat dari Teknologi, dimana adanya teknologi yang
digunakan lebih maju untuk produksi barang yang menyebabkan adanya kesenjangan
bagi produsen: Hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan pendapatan bagi
produsen yang menggunakan teknologi moderen, dan teknologi tradisional untuk
menghasilkan barang. Maka perlu tindakan juga dari pemerintah untuk sosialisasi
mengenai cara membuat produk yang lebih efisien dan bantuan dana agar tercapainya
keseimbangan dan kesejahteraan ekonomi.

b) Sistem Ekonomi Sosialis ala Indonesia

Sistem ekonomi sosialis ala Indonesia disebut juga sistem ekonomi terpusat.
Mengapa disebut terpusat?, Karena segala sesuatunya harus diatur oleh negara, dan
dikomandokan dari pusat. Pemerintahlah yang menguasai seluruh kegiatan ekonomi. Hal ini
terlihat dari awal mula munculnya sistem ekonomi sosialis ala Indonesia dimana, sistem
ekonomi ini muncul saat periode akhir dari Presiden Soekarno dan kemudian sistem ini
dikatakian mirip dengan sistem yang berlaku di negara-negara Eropa Timur. Pendapat ini juga
diperkuat oleh, (Ketut Nethen, Perekonomian Indonesia, 2016:120);

“Sistem ekonomi yang berlaku di Indonesia setelah 1960 sampai akhir pemerintahan
Orde Lama (1965) hampir sepenuhnya sama dengan sistem perekonomian sosialis yang
berlaku di negara-negara Eropa Timur sehingga Indonesia dikatakan menganut sistem
perekonomian sosialis”.

Ciri-ciri sistem perekonomian sosialis ala Indonesia tercermin dari pengendalian


ekonomi yang terpusat atau pengendalian ekonomi negara dipegang penuh oleh pemerintah.
Pendapat ini juga diperkuat menurut sumber oleh, (Si Manis, Pengertian Sistem Ekonomi
Sosialis, 27/04/2017, pada situs: www.pelajaran.co.id/2017/27/pengertian-sistem-ekonomi-
sosialis-ciri-ciri-dan-kelebihan-dan-kekurangan-sistem-ekonomi-sosialis.html),
“1)Hak miliki individu tidak diakui dan lebih mengutamakan kebersamaan, 2)Seluruh
sumberdaya dikuasai oleh negara, 3)Kegiatan perekonomian sepenuhnya tanggung jawab
pemerintah, 4)Produksi dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, 5)Kebijakan
ekonomi disusun dan dilaksanakan oleh pemerintah, 6)Pihak swasta tidak ada yang bisa
melakukan kegiatan ekonomi dengan bebas dan mandiri”.

Contoh penerapan yang terjadi pada sistem ekonomi sosialis ala Indonesia:

1. Penerapan Sosialis Ala Indonesia dapat dilihat dari menurunnya pendapatan negara
seperti saat PT freeport : Freeport, adalah sebuah perusahaan yang dikuasai investor
asing yang berada di Papua Indonesia. Akibat eksploitasi tersebut hanya
menguntungkan pihak investor saja. Sedangkan mereka tidak memperdulikan
Indonesia sebagai pemilik bahan baku dasarnya. Hal ini disebabkan karena semua
kendali dipegang penuh oleh pemerintah pada masa itu. Untuk meminimalisir hal
tersebut Pemerintah sekarang mulai membuat program yang mengutamakan UKM
untuk lebih maju dengan (brand) atau nama produk dari Indonesia agar saham
Indonesia bisa lebih meningkat dan nilai tukar rupiah lebih baik.

2. Penerapan Sosialis Ala Indonesia saat mengubah nama Stadion Gelora Bung Karno
Menjadi Stadion utama Senayan: Hal ini terjadi saat Presiden Soeharto mengubah
nama dari GBK dimana dalam hal ini keputusan Presiden bersifat mutlak dan tidak
dapat diganggu gugat. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa pada masa itu, namun pada
masa pemerintaahan Gus Dur, Nama stadion GBK kembali di pakai sampai saat ini.

Nama : Made Bayu Suartama


Nim : 1607532032

c) Sistem ekonomi pancasila

Sistem ekonomi ini muncul pada masa pemerintahan orde baru setelah pelita 2 tahun
1974-1979. Sistem ekonomi pancasila pada saat itu ditandai dengan hal hal sebagai berikut :

1. Perencanaan ekonomi. Karena pada saat itu indonesia masih berada pada tahap
pembangunan ekonomi lima tahunan dan prioritas utamanya adalah di sektor
pertanian menuju swa sembada pangan.
2. Peranan perusahaan asing. Dengan diundangnya para pemodal asing pada
tahun1967 modal asing banyak yg masuk baik yg bersifat investasi maupun fortofolio
serta merambat kesegala sektor yg dulunya hanya diperolehkan joinan dan untuk
usaha usaha tertentu sekarang berkembang menjadi usaha besar.
3. Peranan perusahaan domestik. Semenjak di undangkan UUPMDN( undang undang
penanaman modal dalam negeri) kredit diberikan kepada perusahaan perusahaan
domestik dengan jumlah besar dan bank yang mengalami likuidasi diberibantuan oleh
bank indonesia dan banyak yg diselewengkan sehingga terjadi konglomerisasi baik
dari hulu kehilir dikuasai oleh satu perusahaan.contoh pt indofood
4. Peranan IGGI dan IMF serta hutang luar negeri. IGGI dibntuk pada awal kekuasaan
orde baru yang berfungsi untuk memberikan nasihat dalam APBN dan IMF lah yang
memberikan bantuan untuk memndapatkan dana untuk APBN.
5. Sistem devisa. Setelah orde baru naik liberasi perdagangan internasionalpun
dilakukan begutu pula dengan sistem devisanya dari yang dulu sepenuhnya di atur
oleh negara menjadi ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Dalam
perekonomian yang menggunakan emas dan perak menggunakan sifat kusr devisa
yang tetap. Dan yang menggunakan kertas seperti sekarang menggukanan kurs yang
bergerak atau cenderung berfluktuasi.

Ada 5 ciri ciri dari sistem ekonomi pancasila yang harus diperhatikan yaitu :

1. Adanya peran dominan koperasi dalam kehidupan ekonomi dan pada sistem ekonomi
pancasila berdasarkan pada asas kekeluargaan bukan pda asas kepentingan pribadi.
2. Diterapkan rangsangan rangsangan yang bersifat ekonomis maupun moral untuk
menggerakkan roda perekonomian. Karena manusia tidak spenuhnya seorang
manusia ekonomi melainkan juga manusia sosial yang juga tidak seslalu bisa
dimotivasi karena kepentingan pribadi melainkan bisa termotivasi oleh motif
motifsolidaritas, kecintaan kepada sesama dan senang melihat keadilan dan
kebenaran.
3. Adanya kecenderungan dan kehendak sosial yang kuat kearah egalitarianisme atau
pemerataan sosial. Cita cita ekonomi pancasila hampir sama seperti doktrin yang
sudah menjadi dasar dari smua agama beasar yang ada di indonesia.
4. Diberikan prioritas utama pada pada terciptanya perekonomian nasional yang tangguh.
5. Pengandalan sistem desentralisasi dalam pelaksanaan kegiatan kegiatan ekonomi
diimbangi dengan pernecanaan yang kuat sebagai pemberi arah bagi perkembangan
ekonomi.
Dalam periode dari tahun 1965-1978 kisaran kurs mata uang indonesia terhadap
dolar cenderung dan relatif tetap sehingga para ahli mengatakan bahwa pelaku ekonomi
di indonesia berbeda dengan pelaku ekonomi negara negara barat, pelaku ekonomi di
indonesia memiliki pandangan dan mempercayai ketuhanan yang meha esa dan keadilan
sosial dan tidak semata mata hanya untuk kepentingan maksimum namun juga
mementingkan keadilan sosial. ( perekonomian indonesia/ketut nehen)

Landasan pokok perekonomian Indonesia adalah Pasal 33 ayat 1, 2, 3, dan 4 UUD 1945 hasil
amandemen dengan bunyi sebagai berikut

Ayat 1: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Ayat 2: Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara.

Ayat 3: Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Ayat 4: Perekonomian nasional diselenggarakan berasaskan atas demokrasi ekonomi


dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional.( http://sosiologis.com/sistem-ekonomi-pancasila)

d) Sistem ekonomi kerakyatan

Sistem ini dimulai ketika masyarakat menuntut soeharto yang di karenakan soeharto
terlalu memihak terhadap perusahaan perusahaan besar hal tersebut terbukti bahwa pada
saat krisis 1997 hanya usaha besarlah yang mengalami kehancuran sedangkan usaha kecil
dan menengah tetap bertahan. Kemudian rakyat mengatakan bahwa ketergantungan kita
kepada IMF dan bank dunia terlalu berlebihan sehingga rakyat ingin perekonomian berada di
atas kaki sendiri. Oleh karena itu utang kepada IMF harus di bayar lunas, ironisnya lunas
hutang luar negeri malahan hutang dalam negeri yang melonjak. Sehingga pemerintah
mengeluarkan kebijakan dalam sistem ekonomi kerakyatan :
1. Peranan IGGI dikurangi dan di ganti dengan CGI sehingga hanya bersifat konsultasi
dalam menyusun kebijakan ekonomi.
2. Invetsasi asing dan investasi dalam negeri tidak menjadi sorotan lagi , tidak
dihapuskan dan tetap berjalan seperti semulasehingga jika benar ekonomi kerakyatan
maka usaha kecil dan menengalah yg berkembang dan yang besar akan berkurang
sacara drastis.
3. Tampak adanya isu swastanisasi yang juga merupakan isu internasional namun bukan
disebabkan oleh ekonomi kerakyatan.
4. Sistem devisa masih saya sesuai dengan permintaan dan penawaran dan cadangan
devisa besar untuk menjaga kestabilan kurs.
5. Dalam segi pegamatan sistem ekonomi kerakyatan masih sangatmirip dengan
ekonomi pasar hanya saja sistem ekonomi kerakyatan dalam lingkup yang lebih kecil
dalam sistem ekonomi kerakyatan dia memaksimalkan penerimaan total bukan
memaksimalkan laba. ( perekonomian indonesia/ketut nehen)

Jika merujuk pada pasal –pasal yang ada dalam UUD 1945, berikut adalah beberapa peran
Negara dalam kegiatan ekonomi kerakyatan :

1. Menyusun perekonomian sebagai perwujudan dari usaha bersama berdasar atas azas
kekeluargaan; serta mengembangkan koperasi (Pasal 33 ayat 1).
2. Menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, dan menguasai hajat
hidup orang banyak; serta mengembangkan BUMN (Pasal 33 ayat 2).
3. Menguasai dan memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang
terkandung di dalamnya bagi kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya (Pasal 33
ayat 3).
4. Mengelola anggaran negara sebaik mungkin demi kesejahteraan rakyat;
memberlakukan pajak progresif dan memberikan subsidi.
5. Menjaga stabilitas moneter.
6. Memastikan setiap warga negaranya dapat memperoleh haknya untuk mendapatkan
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 ayat 2).
Memelihara fakir miskin dan anak terlantar (Pasal 34). (Revrisond Baswir.
2009.Ekonomi Kerakyatan vs. Neoliberalisme. Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi
Kerakyatan UGM.)
Referensi

Nehen, Ketut. 2016. PEREKONOMIAN INDONESIA. Denpasar: Udayana University Press.

http://sosiologis.com/sistem-ekonomi-pancasila (diakses pada tanggal 31 Agustus)

Elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/bab2-
perkembangan_strategi_dan_perencanaan_pembangunan_ekonomi_indonesia (diakses
pada tanggal 31 Agustus)

www.pelajaran.co.id/2017/27/pengertian-sistem-ekonomi-sosialis-ciri-ciri-dan-kelebihan-dan-
kekurangan-sistem-ekonomi-sosialis.html (diakses pada tanggal 31 Agustus)