Anda di halaman 1dari 6

1.

1 MINYAK KELAPA SAWIT


Tanaman kelapa sawit menghasilkan buah yang disebut tandan buah
segar (TBS), setelah diolah tandan buah segar akan menghasilkan minyak
yang terdiri atas 2 macam; minyak berasal dari daging buah (messocarp) yang
dihasilkan melalui perebusan dan pemerasan (press), minyak jenis ini dikenal
sebagai minyak sawit kasar atau crude palm oil (CPO); minyak berasal dari
inti sawit, dikenal sebagai minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO). CPO
dan PKO dapat dibuat menjadi berbagai produk, pabrik CPO dan PKO disebut
refineri dan ekstraksi yang menghasilkan beberapa jenis minyak siap pakai
seperti minyak goreng dan berbagai jenis minyak yang harus diproses lebih
lanjut untuk menghasilkan produk lain.

Hasil akhir minyak kelapa sawit diolah menjadi produk konsumsi


ataupun kimia dasar dengan nilai tambah produk yang tinggi. Dari industri
hilir minyak kelapa sawit dapat menghasilkan lebih dari 100 jenis produk
turunan namun di Indonesia baru 23 jenis produk hilir yang sudah diproduksi
secara komersial. (Kemenperin, 2009).
Selain sebagai sumber minyak goreng kelapa sawit, produk turunan
kelapa sawit ternyata masih banyak manfaatnya dan sangat prospektif untuk
dapat lebih dikembangkan, antara lain:
1. Produk Turunan CPO
Produk turunan CPO selain minyak goreng kelapa sawit, dapat
dihasilkan margarine, shortening, Vanaspati (Vegetable ghee), Ice creams,
Bakery Fats, Instans Noodle, Sabun dan Detergent, Cocoa Butter
Extender, Chocolate dan Coatings, Specialty Fats, Dry Soap Mixes, Sugar
Confectionary, Biskuit Cream Fats, Filled Milk, Lubrication, Textiles Oils
dan Bio Diesel. Khusus untuk biodiesel, permintaan akan produk ini pada
beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan
diterapkannya kebijaksanaan di beberapa negara Eropa dan Jepang untuk
menggunakan renewable energy.
2. Produk Turunan Minyak Inti Sawit
Dari produk turunan minyak inti sawit dapat dihasilkan
Shortening, Cocoa Butter Substitute, Specialty Fats, Ice Cream, Coffee
Whitener/Cream, Sugar Confectionary, Biscuit Cream Fats, Filled Mild,
Imitation Cream, Sabun, Detergent, Shampoo dan Kosmetik.
3. Produk Turunan Oleochemicals Kelapa Sawit
Dari produk turunan minyak kelapa sawit dalam bentuk
oleochemical dapat dihasilkan Methyl Esters, Plastic, TextileProcessing,
Metal Processing,Lubricants, Emulsifiers, Detergent, Glicerine, Cosmetic,
Explosives, Pharmaceutical Products dan Food Protective Coatings

1.2 PRODUK TURUNAN MINYAK KELAPA SAWIT


a. Margarine

Margarine merupakan produk turunan dari minyak kelapa sawit


dan mengandung lemak tak jenuh yang aman bagi kesehatan. Agar dapat
diolah menjadi margarin, minyak nabati berbentuk cair tersebut
dikristalisasi terlebih dahulu menjadi lemak padat melalui proses
hidrogenasi (penjenuhan asam lemak). Komponen lain yang sering
ditambahkan adalah air, garam flavor mentega, zat pengemulsi (berbentuk
lesitin, gliserin, atau kuning telur), zat pewarna (minyak sawit merah atau
betakaroten sintetik), bahan pengawet (sodium benzoat, asam benzoat atau
potassium sorbat), serta vitamin A dan D. Ciri-ciri margarin yang
menonjol adalah bersifat plastis, padat pada suhu ruang, agak keras pada
suhu rendah, teksturnya mudah dioleskan, serta segera dapat mencair di
dalam mulut (Gsianturi, 2004)

b. Shortening (Mentega Putih)

Mentega putih banyak dikembangkan dari minyak kelapa sawit. Caranya


adalah memisahkan stearin (bagian minyak kelapa sawit yang berbentuk padat
dengan olein (bagian minyak kelapa sawit yang berbentuk cair). Olein
selanjutnya diolah menjadi minyak goreng, sedangkan strearin ini diolah lebih
lanjut menjadi shorthening atau margarin. Namun demikian, karena tekstur
stearin masih lembek dan mudah meleleh pada suhu kamar, maka sering
dilakukan reaksi hidrogenasi untuk membuat lemak tersebut lebih padat lagi.
Mentega putih biasanya digunakan untuk membuat buttercream atau bakpao.

c. Emulsifier

Emulsifier merupakan bahan yang bersifat dapat menyatukan


komponen yang bersifat polar dengan non polar. Emulsifier sudah banyak
digunakan dalam industri seperti industri pangan, kosmetik, farmasi,
konstruksi bangunan, dan lain-lain. Pada umumnya surfaktan/emulsifier
yang digunakan adalah surfaktan berbasis minyak bumi yang bersifat non-
renewable dan non-biodegradable serta tidak ramah lingkungan. Namun
saat ini sudah banyak emulsifier yang dibuat dengan bahan dasar minyak
nabati. Surfaktan yang berasal dari minyak sawit ini dibutuhkan di
kalangan industri, seperti industri plastik, minyak, konstruksi, kosmetik
(bahan bedak), kulit, dan agrochemical.
d. Sabun
Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya
kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun
yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit
berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku
pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan
lainnya.
e. Coconut Butter
Coconut butter dibuat dari daging kelapa parut kering yang
dihaluskan sampai keluar minyaknya. Kemudian, baik minyak dan
cacahan daging tersebut dicampur sampai merata hingga membentuk
konsistensi seperti pasta. Cara yang sama juga dipakai untuk membuat
peanut butter atau almond butter. Coconut butter biasanya berwarna putih
dengan tekstur yang lembut dan creamy. Rasa dari coconut butter ini pun
manis alami, dengan lemak nabati yang sehat.
Di dalam coconut butter ini, terkandung lemak dan serat yang
banyak. Di dalamnya juga ada potasium, magnesium, dan mengandung
kalori yang menyumbangkan energi.
f. Es Krim

Minyak sawit merah merupakan salah satu alternatif jenis lemak


nabati yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti lemak susu dalam
pembuatan es krim serta dapat meningkatkan kandungan gizi karena kadar
karotenoid dan vitamin E minyak sawit merah yang tinggi (Ketaren,1986).

Keunggulan minyak sawit merah dibandingkan dengan susu sapi


yaitu tidak mengandung laktosa, bebas kolesterol, bergizi tinggi, teknologi
pembuatannya relatif mudah, dan biaya produksinya murah (Astawan,
2004). Minyak sawit merah tidak mengandung kolesterol karena
merupakan produk nabati. Namun es krim yang berasal dari lemak nabati
memiliki kekurangan yaitu lebih mudah meleleh, kurangnya stabilitas
emulsi, dan mempengaruhi tekstur es krim yang dihasilkan dimana
kehalusan tekstur es krim ditentukan oleh kandungan lemak susu (Aime et
al., 2001).

g. Vanaspati (Vegetable Ghee)


Vegetable ghee adalah minyak atau lemak makan dengan tekstur
semi solid dan berupa suspensi yang terbuat dan minyak nabati yang telah
mengalami proses refining, bleaching, deodorisasi dan hidrogenasi,
kecuali apabila bahan bakunya berasal dari minyak sawit dapat pula tidak
melalui proses hidrogenasi, mempunyai titik leleh yang ideal pada suhu di
atas suhu ruang dan bercita rasa lemak hewan melalui penambahan
flavoring agent (SNI, 1999).
h. Mie Instan
Bahan utama mie instan adalah mie kering yang terbuat dari tepung
terigu, minyak sawit serta garam. Minyak goreng yang umum digunakan
untuk membuat mie adalah minyak kelapa sawit. Minyak goreng berfungsi
untuk memberi rasa gurih pada adonan, penghantar panas, dan menambah
kalori dalam mie.
i. Cocoa Butter Substitutes
Minyak sawit dan minyak inti sawit merupakan bahan baku yang
penting dalam pengembangan hard-butters seperti produk pengganti cocoa
butter (Cocoa Butter Substitutes/CBS) dan produk sejenis cocoa butter
(Cocoa Butter Equivalent/CBE, Cocoa Butter Replacer/CBR). Hal ini
dikarenakan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO) memiliki
rantai karbon yang mirip dengan CNO. Keduanya memiliki karakteristik
fisik yang juga serupa satu dengan yang lain, sehingga PKO dapat juga
digunakan dalam pembuatan CBS. Cocoa Butter Substitutes (CBS)
diproduksi melalui proses fraksinasi dan hidrogenasi. Proses produksi
CBS terdiri dari beberapa tahap reaksi yaitu degumming, bleaching,
hidrolisa, fraksinasi (destilasi) bertahap, dan hidrogenasi.
DAFTAR PUSTAKA