Anda di halaman 1dari 2

Patofisiologi

Salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu
Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses
(Zulkoni, 2011). Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses mulai dari:

- Penempelan bakteri ke lumen usus


- Bakteri bermultiplikasi di makrofag Peyer’s patch
- Bakteri bertahan hidup di aliran darah
- Bakteri menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke
lumen intestinal

Bakteri Salmonella typhi bersama makanan atau minuman masuk ke dalam tubuh melalui
mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam banyak bakteri yang mati. Bakteri
yang masih hidup akan mencapai usus halus kemudian melekat pada sel mukosa lalu
menginvasi dan menembus dinding usus tepatnya pada ileum dan yeyunum. Sel M yang
merupakan sel epitel yang melapisi Peyer’s patch (tempat bertahan hidup dan multiplikasi
Salmonella typhi) (Merdjani dkk, 2008).

Bakteri mencapai folikel limfe usus halus menimbulkan tukak pada mukosa usus.
Kemudian mengikuti aliran ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati
sirkulasi sistemik sampai ke jaringan Reticulo Endothelial System (RES) di organ hati dan
limpa. Setelah periode inkubasi, Salmonella typhi keluar dari habitatnya melalui duktus
torasikus masuk ke sirkulasi sistemik mencapai hati, limpa, sumsum tulang, kandung empedu
dan Peyer’s patch dari ileum terminal. Ekskresi bakteri di empedu dapat menginvasi ulang
dinding usus atau dikeluarkan melalui feses. Endotoksin merangsang makrofag di hati, limpa,
kelenjar limfoid intestinal dan mesenterika untuk melepaskan produknya yang secara lokal
menyebabkan nekrosis intestinal ataupun sel hati dan secara sistemik menyebabkan gejala
klinis pada demam tifoid (Merdjani dkk, 2008).

Kelainan utama biasa terjadi di ileum terminal dan plaque peyer yang hiperplasia
(minggu pertama), nekrosis (minggu kedua), dan ulserasi (minggu ketiga) serta bila sembuh
tanpa adanya pembentukan jaringan parut. Sifat ulkus berbentuk bulat lonjong sejajar dengan
sumbu panjang usus dan ulkus ini dapat menyebabkan perdarahan bahkan perforasi
(Rampengan, 2008).

Penyebaran demam tifoid terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada iklim, tetapi
lebih banyak dijumpai di negara-negara sedang berkembang di daerah tropis. Hal ini
disebabkan karena penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan individu yang
masih kurang baik oleh karena itu pencegahan penyakit demam tifoid mencakup sanitasi
dasar dan kebersihan pribadi, yang meliputi pengolahan air bersih, penyaluran air dan
pengendalian limbah, penyediaan fasilitas cuci tangan, pembangunan dan pemakaian WC,
merebus air untuk keperluan minum dan pengawasan terhadap penyedia makanan (Cita,
2011).
Daftar Pustaka

Cita, Yatnita Parama. 2011. Bakteri Salmonella typhi dan Demam Tifoid. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. Vol (6): 1.

Merdjani A, Syoeib A, dkk. 2008. Buku ajar infeksi dan pediatri tropis. Edisi kedua. Jakarta :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.

Rampengan. 2008. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Zulkoni, A. 2010. Parasitologi. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Nuha Medika.