Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

PARASETAMOL
BIOLOGI DASAR
Dosen Pembimbing :

Disusun Oleh :

Aldea Putri Cahyani H. 155070507111014


Alif Kurniawan 1550705071110
Fadhyla Widya P. 155070507111020
Fatchur Rohmi Latifatus S. 155070507111012
Kukuh Prasetyo Aldi 155070507111018
Mazaya Alma G. 155070507111022
Nisa Rahma Deasury 155070507111010
Mel Sandi 155070507111002
Riri Mbae 1550705071110

KELAS FARMASI B
FAKULTAS KEDOKTERAN JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TA 2015/2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 DASAR TEORI

NCBI adalah server yang memuat data base tentang informasi kesehatan dan
bioteknologi. NCBI (National Center for Biotechnology Information (NCBI) adalah
suatu komponen pada National Library of Medicine, yang merupakan bagian dari
National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat. Database terus menerus di update
sesuai dengan penemuan-penemuan terkini yang menyangkut DNA, Protein, Senyawa
aktif dan taksonomi. Disamping data base, ncbi juga menyediakan berbagai macam
software untuk analisis DNA, protein 3D, pencarian primer, pencarian conserve
doamain dan lain sebagainya. NCBI merupakan salah satu bank data gen, protein dan
literature khususnya dibidang kesehatan yang terlengkap dan di acu oleh para peneliti
didunia. NCBI memiliki database dan software (analysis tools) yang sering digunakan
untuk analisis, yang pertama adalah DNA-RNA TOOLS yang meliputi GenBank,
BioSystems, Database of Expressed Sequence Tags (dbEST), Database of Genome
Survey Sequences (dbGSS), BLAST (Basic Local Alignment Search Tool). Kemudian
Squence Analysis yang meliputi Primer-BLAST dan Open Reading Frame Finder (ORF
Finder). Selain itu adalah Struktur Protein dan PubChem Overview (Widodo, 2010).

PubChem adalah database molekul kimia dan aktivitasnya terhadap penelitian


biologi. PubChem dapat diakses secara gratis melalui suatu web user interface. Jutaan
struktur senyawa dan dataset pemeriannya dapat didownload secara gratis
melalui FTP. PubChem memuat pemerian bahan-bahan dan molekul kecil yang
terbentuk kurang dari 1000 atom dan 1000 ikatan. Lebih dari 80 vendor database
berkontribusi pada database PubChem yang terus bertumbuh (Devi, 1989).

PubChem terdiri dari tiga database utama yang bertumbuh secara dinamis.
Sampai 29 September 2014, meliputi senyawa, 54 juta entri (meningkat dari 31 juta
entri pada Jan 2011), memuat senyawa kimia murni dan terkarakterisasi. Bahan, 163,5
juta entri (meningkat dari 75 juta entri pada Jan 2011), juga memuat
campuran, ekstrak, kompleks dan bahan-bahan belum terkarakterisasi. BioAssay,
hasil-hasil bioaktivitas dari 6059 program high-throughput screening dengan
beberapa juta nilai (meningkat dari 1644 pada Jan 2011) (Alberts et al., 1994).
PubChem menyediakan informasi mengenai property dan aktivitas biologis
dari satu molekul. Program ini merupakan bagian dari NIH's Molecular Libraries
Roadmap Initiative. Informasiinfor,asi yang dapt diakses melalui PubChem meliputi
substansi suatu molekul, struktur penyusun, dan data Bioactivity, semua itu secara
berturut-turut ada pada 3 database primer yaitu Pcsubstance, Pccompound, dan
PCBioAssay. PubChem Substance Database berisi informasi umum mengenai struktur
kimia, sinonim, nomor registrasi, deskripsi, website dan referensi terkait yang
terhubung dengan PubMed, struktur 3D protein, dan hasil screening biologis. PubChem
Compound Database berisi gambaran informasi tervalidasi yang disediakan untuk
mendeskripsikan dengan lebih lengkap suatu substansi pada PubChem Substance,
sehingga diketahui property dari suatu substansi atau molekul. Berbagai macam
struktur senyawa yang tersimpan di dalam PubChem Compound Database telah
terlebih dahulu dikelompokkan dan direferensi dengan mengidentifikasi berdasarkan
kelompok yang memiliki kesamaan. Pada PubChem Compound juga disediakan
informasi mengenai property dan deskripsi untuk mencari dan memilih suatu struktur
kimia atau senyawa. PubChem BioAssay Database berisi informasi mengenai Bio
Aktivitas suatu senyawa yang telah dideskripsikan pada PubChem Substance.
PubChem BioAssay juga menyediakan informasi dari masing-masing hasil uji biologis
(Deroo dan Korach, 2006).

PubChem Structure Search PubChem Structure Search menyediakan


bermacam-macam tipe dan pilihan untuk mencari informasi mengenai suatu bahan
kimia. Pada halaman pencarian di bagian atas terdapat beberapa tabs, masing-masing
tabs tersebut dibedakan menurut kategori pencariannya. Pengguna dapat mencari
informasi suatu molekul dengan memasukkan nama molekul, rumus molekul, CID
(PubChem Compuond Identifier), ataupun struktur molekul dengan format tertentu.
Beberapa pilihan pencarian struktur suatu molekul yaitu Name/Text Search, dentity
and Similarity Search, Substructure and Superstructure Search, Molecular Formula
Search (Widodo, 2010).

Parasetamol merupakan turunan senyawa sintesis dari p-aminofenol yang


memberikan efek analgesia dan antipiretika. Senyawa ini dikenal dengan nama lain
asetaminofen, merupakan senyawa metabolit aktif fenasetin, namun tidak
memiliki sifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Senyawa ini memilik nama kimia
N-asetil-p-aminofenol atau p-asetamidofenol atau 4-hidroksiasetanilida (Depkes RI,
1979).
Parasetamol di kenal dengan nama lain asetaminofen merupakan
turunan para aminofenol yang memiliki efek analgesik serupa dengan salisilat yaitu
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol
menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek
sentral seperti salisilat. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis
prostaglandin yang lemah. Penggunaan parasetamol mempunyai beberapa
keuntungan dibandingkan dengan derivat asam salisilat yaitu tidak ada efekiritasi
lambung, gangguan pernafasan, gangguan keseimbangan asam basa. Di Indonesia
penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan
penggunaan asam salisilat (Gunawan et al, 2007). Namun penggunaan dosis tinggi
dalam waktu lama dapat menimbulkan efek samping methemoglobin dan
hepatotoksik (Siswandono & Soekardjo, 1995).
Parasetamol merupakan zat aktif pada obat yang banyak digunakan dan
dimanfaatkan sebagai analgesik dan antipiretik. Parasetamol dimetabolisir oleh hati
dan dikeluarkan melalui ginjal. Parasetamol tidak merangsang selaput lendir lambung
atau menimbulkan pendarahan pada saluran cerna. Diduga mekanisme kerjanya
adalah menghambat pembentukan prostaglandin. Obat ini digunakan untuk
melenyapkan atau meredakan rasa nyeri dan menurunkan panas tubuh. Analisis
parasetamol dilakukan untuk memastikan bahwa tablet parasetamol sesuai dengan
kriteria yang tertera pada Farmakope Indonesia dan memastikan bahwa parasetamol
dapat memberikan efek farmakologi yang diharapkan pada pasien (Ansel, 1989).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa itu Paracetamol?
2. Bagaimana Protein target pada Paracetamol?
3. Bagaimana mekanisme seluler yang dipengaruhi?
4. Bagaimana biological test yang dilakukan pada Paracetamol?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi Paracetamol
2. Untuk mengetahui protein target pada Paracetamol
3. Untuk mengetahui mekanisme seluler yang dipengaruhi
4. Untuk mengetahui biological test yang dilakukan pada Paracetamol
BAB II

PEMBAHASAN

1 Acetaminophen (USAN) atau Paracetamol (INN) adalah analgesik yang


digunakan secara luas dan obat antipiretik yang digunakan untuk menghilangkan
demam, sakit kepala, dan sakit ringan lainnya dan nyeri. Paracetamol adalah bahan
utama dalam berbagai obat dingin dan flu dan banyak analgesik resep. Hal ini sangat
aman dalam dosis standar, tetapi karena ketersediaan luas, overdosis yang disengaja
atau tidak disengaja yang tidak biasa. Acetaminophen, tidak seperti analgesik umum
lainnya seperti aspirin dan ibuprofen, tidak memiliki sifat anti-inflamasi atau efek pada
fungsi trombosit, dan itu bukan anggota dari kelas obat yang dikenal sebagai obat anti-
inflamasi non-steroid atau NSAID. Pada dosis terapi acetaminophen tidak mengiritasi
lapisan lambung atau mempengaruhi pembekuan darah, fungsi ginjal, atau ductus
arteriosus janin (NSAIDs bisa). Seperti NSAID dan tidak seperti analgesik opioid,
acetaminophen tidak menyebabkan euforia atau mengubah suasana hati dengan cara
apapun. Acetaminophen dan NSAID memiliki manfaat yang benar-benar bebas dari
masalah dengan kecanduan, ketergantungan, toleransi dan penarikan. Acetaminophen
digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan pseudoefedrin, dekstrometorfan,
klorfeniramin, diphenhydramine, doxylamine, codeine, hydrocodone, atau oxycodone
(Bingham et al., 2001).

Acetaminophen digunakan untuk memberikan analgesia sementara dalam


pengobatan ringan sampai nyeri sedang. Acetaminophen juga digunakan dalam
kombinasi tetap dengan agen lainnya (misalnya klorfeniramin, dekstrometorfan,
difenhidramin, doxylamine, guaifenesin, fenilefrin, pseudoefedrin) untuk bantuan
jangka pendek dari sakit ringan dan nyeri, sakit kepala, dan / atau gejala lain (misalnya,
rhinorrhea, bersin, lakrimasi, gatal mata, gatal oronasopharyngeal, hidung tersumbat,
batuk) terkait dengan rhinitis alergi musiman (misalnya demam), alergi pernapasan
atas lainnya, atau pilek biasa (Bethesda, M.D., 2013).

2 Acetaminophen menghasilkan analgesik dan antipiretik dengan mekanisme


mirip dengan salisilat. Tidak seperti salisilat, bagaimanapun, acetaminophen tidak
memiliki aktivitas uricosuric. Ada beberapa bukti bahwa acetaminophen memiliki
aktivitas lemah anti-inflamasi dalam beberapa kondisi non rematik (misalnya pada
pasien yang telah menjalani operasi oral). Acetaminophen menurunkan suhu tubuh
pada pasien dengan demam tetapi jarang menurunkan suhu tubuh normal. Tindakan
obat pada hipotalamus untuk menghasilkan antipyresis; disipasi panas meningkat
sebagai akibat dari vasodilatasi dan peningkatan aliran darah perifer (Bethesda, M.D.,
2013).

3 Acetaminophen (USAN) atau Paracetamol (INN) adalah analgesik yang


digunakan secara luas dan obat antipiretik yang digunakan untuk menghilangkan
demam, sakit kepala, dan sakit ringan lainnya dan nyeri. Paracetamol adalah bahan
utama dalam berbagai jenis obat sepert, dingin dan flu serta analgesik resep lainnya.
Hal ini sangat aman dalam dosis standar, tetapi karena ketersediaan luas, overdosis
yang disengaja atau tidak disengaja sering terjadi. Paracetamol sendiri tidak seperti
analgesik umum lainnya, seperti aspirin dan ibuprofen yang tidak memiliki sifat anti-
inflamasi atau efek pada fungsi trombosit, serta bukan anggota dari kelas obat yang
dikenal sebagai obat anti-inflamasi non-steroid atau NSAID. Pada dosis terapi
paracetamol tidak mengiritasi lapisan lambung atau mempengaruhi pembekuan
darah, fungsi ginjal, atau ductus arteriosus janin (NSAIDs bisa). Paracetamol dan NSAID
memiliki manfaat yang sangat baik dimana ketika mengkonsumsinya, kita merasa
ringan, benar-benar bebas dari masalah dengan kecanduan, ketergantungan, toleransi
dan penarikan. Acetaminophen atau Paracetamol digunakan sendiri atau dalam
kombinasi dengan pseudoefedrin, dekstrometorfan, klorfeniramin, diphenhydramine,
doxylamine, codeine, hydrocodone, atau oxycodone (DrugBank, 2015).
Paracetamol atau Acetaminophen adalah p-aminofenol derivatif dengan
analgesik dan antipiretik kegiatan. Mekanisme yang tepat di mana paracetamol atau
acetaminophen mengerahkan efeknya belum ditentukan sepenuhnya, namun
acetaminophen atau paracetamol dapat menghambat oksida nitrat (NO). Jalur
dimediasi dibantu oleh berbagai reseptor neurotransmitter juga N-methyl-D-aspartat
(NMDA) dan substansi P, sehingga mampu meredahkan ketinggian ambang nyeri.
Aktivitas antipiretik merupakan akibat dari penghambatan sintesis prostaglandin dan
rilis pada sistem saraf pusat (SSP) dan efek prostaglandin-dimediasi pada panas-
mengatur pusat di hipotalamus anterior (NCIt, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Alberts, B., Johnson, A., Lewis, J., Raff, M., Roberts, K. and Walter, P. 1994. Molecular
Biology of the cell. Garland publishing: New York, 186-188.

Ansel, Howard .C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi 4. Penerjemah: Farida
Ibrahim. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Bethesda, M.D. 2013. American Society of Health-System Pharmacists 2013. Drug


Information 2013: American

Bingham, E., Cohrssen, B., Powell, C.H. 2001. Pattys Toxicology Volumes 1-9 5th ed. John
Wiley & Sons: New York, N.Y.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia: Jakarta.

Deroo, B., dan Korach, K. 2006. Estrogen Receptors and Human Disease, JCL,166 (3)

Devi, U. 1989. Basics of Carcinogenesis, Health Administrator, 17 (1), 16 24

DrugBank. 2015. Acetaminophen. http://www.drugbank.ca/drugs/DB00316. Diakses


pada tanggal 22 Desember, pukul 16.00 WIB

Gunawan, G.S., Nafrialdi, R.S., Elysabeth. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 4. Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta

NCIt. 2015.
Acetaminophen. http://ncit.nci.nih.gov/ncitbrowser/ConceptReport.jsp?dictionary
=NCI_Thesaurus&ns=NCI_Thesaurus&code=C198. Diakses pada tanggal 22
Desember, pukul 16.00 WIB

Siswandono dan Soekardjo, B. 1995. Kimia Medisial. Airlangga University Press:


Surabaya

Widodo. 2010. PENGENALAN NCBI UNTUK ANALISIS DNA, PROTEIN DAN SENYAWA
KIMIA. http://science.lecture.ub.ac.id/files/2012/04/mengenal-NCBI.pdf. Di akses
pada tanggal 21 Desember 2015, pukul 16.00 WIB.