Anda di halaman 1dari 26

Referat

RHINOSINUSITIS

Oleh:

Rokhis Amalia
11101-061

Pembimbing:
dr. H. Irwan, Sp.THT KL

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT THT KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABDURRAB
RSUD TENGKU RAFIAN
SIAK
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul
“Rhinosinusitis”. Referat ini diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti KKS
pada ilmu kesehaan THT-KL di RSUD Siak.
Selain itu saya juga mengucapkan Terima kasih kepada dr. H. Irwan, Sp.
THT-KL dan segenap staff bagian THT-KL RSUD Siak atas bimbingan dan
pertolongannya selama menjalani kepanitraan klinik bagian THT-KL dan dapat
menyelesaikan penulisan dan pembahasan referat ini.
Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari
kesempurnaan, penulis mohon maaf atas segala kesalahan, sehingga kritik dan
saran dari pembaca yang bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk
kesempurnaan penulisan referat berikutnya.

Siak, 25 Agustus 2016

Penulis

Rokhis Amalia

2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 5

2.1 ANATOMI SINUS ........................................................................................ 5

2.2 DEFINISI RHINOSINUSITIS..................................................................... 8

2.3 ETIOLOGI RHINOSINUSITIS .................................................................. 9

2.4 KLASIFIKASI RHINOSINUSITIS ............................................................ 11

2.5 PATOGENESIS RHINOSINUSITIS .......................................................... 12

2.6 GEJALA KLINIS RHINOSINUSITIS ....................................................... 15

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG RHINOSINUSITIS ............................... 16

2.8 PENATALAKSANAAN RHINOSINUSITIS............................................. 19

2.9 KOMPLIKASI RHINOSINUSITIS ............................................................ 22

2.10 PROGNOSIS RHINOSINUSITIS ............................................................. 24

BAB III KESIMPULAN ..................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 26

3
BAB I
PENDAHULUAN

Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan, dengan


dampak signifikan pada kualitas hidup dan pengeluaran biaya kesehatan, dan
dampak ekonomi pada mereka yang produktivitas kerjanya menurun.
Diperkirakan setiap tahun 6 miliar dolar dihabiskan di Amerika Serikat untuk
pengobatan rhinosinusitis. Pada tahun 2007 di Amerika Serikat, dilaporkan
bahwa angka kejadian rhinosinusitis mencapai 26 juta individu. Di Indonesia
sendiri, data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit
hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat
utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.1,2
Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maxilla dan sinusitis
ethmoid. Sinusitis pada anak lebih banyak ditemukan karena anak-anak
mengalami infeksi saluran nafas atas 6–8 kali per tahun dan diperkirakan
5%–10% infeksi saluran nafas atas akan menimbulkan sinusitis.2
Kejadian rhinosinusitis mungkin akan terus meningkat prevalensinya.
Rhinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat,
sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk
memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala, metode diagnosis
dan penatalaksanaan dari penyakit ini.2

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI SINUS


Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
didekripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada 4 pasang
sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu, sinus maksila, sinus frontal, sinus
etmoid dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil
pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga didalam tulang.
Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Secara
embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannnya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sphenoid dan
sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada sejak bayi lahir, sedangkan
sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia
kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sphenoid dimulai pada usia 8-10 tahun
dan berasal dari bagian posterior superior rongga hidung. Sinus- sinus ini
umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. 1

Gambar 1. Anatomi sinus9

5
Gambar 2. Anatomi sinus dan bagian-bagiannya10
2.1.1 Sinus maksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Sinus maksila
berbentuk pyramid. Dinding anterior sinus adalah permukaan fasial os maksila
yang disebut fossa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-
temporal maksila, dinding medialnya adalah dinding lateral rongga dan dinding
superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferiornya adalah prosesus
alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior
didnidng medial sinusd an bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum etmoid. Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi
sinus maksila adalah : 1). Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar
gigi rahang atas, yaitu P1,P2,M1,M2 dan M3. 2). Sinusitis maksila dapat
menimbulkan komplikasi orbita. 3). Ostium maksila terletak lebih tinggi dari
dasar sinus, sehingga drainase hanya tergantung dari gerak silia, laipula
drainase juga di harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum afdalah
bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi
pada daerah ini dapat menghalangi drenase sinus maksila dan selanjtunya
menyebabkan sinusitis.4
2.1.2 Sinus Frontalis
Sinus frontalis terletak yang terletak di Os frontal mulai terbentuk sejak
bulan ke 4 fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel
infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia
8-10 tahun dana akan mencapai ukuran maksima sebelum usia 20 tahun.
Ukuran sinus frontal adal 2,8 cm, tingginya, lebar 2,4 cm dan dalamnya 2 cm.

6
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Sinus
frontal dipisahkan oleh tulang yang tipis dari orbita dan fosa srebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal
berdrenase melalui ostiumnha yang terletak di resesu frontal, yang berhubungan
dengan infundibulum etmoid. 1
2.1.3 Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan
akhir-akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi
bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti
pyramid dengan dasarnya dibagian posterior. Ukurannya dari anterior ke
posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm, dan lebarnya 0,5 cm dibagian anterior dan 1,5
cm dibagian posterior. 4
2.1.4 Sinus Sfenoid
Sinus sfemoid terletak dlam os sphenoid dibelakang sinus etmoid
posterior. Sinus sphenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum
intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm, dan lebarnya
1, 7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. Saat sinus ini berkembang,
pembuluh darah dan nervus dibagian lateral os sphenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding
sinus sphenoid. 4
2.1.5 Komplek Osteo-Meatal
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada
muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior.
Daerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan kompleks osteo-meatal (KOM),
terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat dibelakang prosesus unsinatus,
resesus frontalis, bula etmioid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya
dan ostium sinus maksila.1
2.1.6 Sistem Mukosiliar
Seperti pada mukosa hidung, didalam sinus juga terdapat mukosa bersilia
dan palut lendir diatasnya. Didalam sinus silia bergerak secara teratur untuk
mengalirkan lender menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang
sudah tertentu polanya. Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport

7
mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang
bergabung diinfundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring didepan muara tuba
Eustacius, lender yang berasal dari kelompok sinu posterior bergabung
diresesus sfenoetmoidalis dialairkan ke nasfaring dipostero-superior muara tba.
Inilah sebabnya pada sinusitis didapati secret pasca-natal (post nasal drip),
tetapi belum tentu ada secret dirongga hidung. 1
2.1.7 Fungsi Sinus Paranasal
Beberapa teori dikemukaakan sebagain fungsi sinus paranasal adalah :
a. Sebagai pengatur kondisi udara
b. Sebagai penahan suhu
c. Membantu keseimbangan kepala
d. Membantu resonansi udara
e. Sebagai peredam perunahan tekanan udara
f. Membantu produksi mucus

2.2 DEFINISI RHINOSINUSITIS


Rinosinusitis adalah suatu kondisi yang merupakan manifestasi dari respon
peradangan membran mukosa sinus paranasalis, yang biasanya dihubungkan
dengan infeksi yang dapat menyebabkan penebalan mukosa dan akumulasi sekret
mukus dalam rongga sinus paranasalis. Sehingga besar infeksi sinus paranasalis
bersifat rinogen dan rinitis sering diiringi oleh perubahan pada sinus, istilah
rinosinusitis saat ini merupakan istilah yang lebih disukai untuk sinusitis,
khususnya pada anak-anak dimana penyakit ini terlihat sebagai satu kesatuan
penyakit yang sama.1,2
Dari 5 guidelines yakni European Position Paper on Rhinosinusitis and
Nasal Polyps 2007 (EP3OS), British Society for Allergy and Clinical Immunology
(BSACI) Rhinosinusitis Initiative (RI), Joint Task Force on Practice Parameters
(JTFPP), dan Clinical Practice Guidelines: Adult Sinusitis (CPG:AS), 4
diantaranya sepakat untuk mengadopsi istilah rinosinusitis sebagai pengganti
sinusitis, sementara 1 pedoman yakni JTFFP, memilih untuk tidak menggunakan
istilah tersebut. Istilah rinosinusitis dipertimbangkan lebih tepat untuk digunakan
mengingat konka nasalis media terletak meluas secara langsung hingga ke dalam

8
sinus ethmoid, dan efek dari konka nasalis media dapat terlihat pula pada sinus
ethmmoid anterior. Secara klinis, inflamasi sinus (yakni, sinusitis) jarang terjadi
tanpa diiringi inflamasi dari mukosa nasal di dekatnya. Namun, para ahli yang
mengadopsi istilah rinosinusitis tetap mengakui bahwa istilah rinosinusitis maupun
sinusitis sebaiknya digunakan secara bergantian, mengingat istilah rinosinusitis
baru saja digunakan secara umum dalam beberapa dekade terakhir.3

2.3 ETIOLOGI RHINOSINUSITIS


Infeksi sinusitis akut dapat disebabkan berbagai organisme, termasuk
virus, bakteri, dan jamur. Virus yang sering ditemukan adalah
rhinovirus, virus parainfluenza, dan virus influenza. Bakteri yang sering
menyebabkan sinusitis adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae, dan Moraxella catarralis. Bakteri anaerob juga terkadang ditemukan
sebagai penyebab sinusitis maksilaris, terkait dengan infeksi pada gigi premolar.
Sedangkan jamur juga ditemukan sebagai penyebab sinusitis pada pasien dengan
gangguan sistem imun, yang menunjukkan infeksi invasif yang mengancam jiwa.
Jamur yang menyebabkan infeksi antara lain adalah dari spesies Rhizopus,
Rhizomucor, Mucor, Absidia, Cunninghamella, Aspergillus, dan Fusarium1,4
Tabel 1. Penyebab Rhinosinusitis
Faktor Lingkungan Infeksi Microbial pathogen
Alergi/atopi/asma
Polusi udara
Faktor Anatomi Konka bullosa
Deviasi septum
Gangguan Mukosiliar
Penyakit Sistemik Ganngguan genetic
Immunodefisiensi
Gangguan metabolic
Refluks laringofaringeal.
Resistensi Obat-obatan
Cemas dan Depresi

Telah diketahui bahwa berbagai faktor fisik, kimia, saraf, hormonal, dan
emosiaonal dapat mempengaruhi mukosa hidung, demikian juga mukosa sinus
dalam derajat yang lebih rendah. Secara umum sinusitis kronik lebih lazim pada
iklim yang dingin dan basah. Defisiensi gizi, kelemahan, tubuh yang tidak bugar,

9
dan penyakit sistemik perlu dipertimbangkna dalam etiologi sinusitis. Perubahan
dalam factor-faktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembaba, dan
keekeringan, demikaina pula polutan atmosfer termasuk asap tembakau, dapat
merupakan predisposisi infeksi.1,4
 Rhinogenik
Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat
menyebabkan sinusitis. Contohnya rinitis akut, rinitis alergi, polip,
deviasi septum dan lain-lain. Alergi juga merupakan predisposisi
infeksi sinus karena terjadi edema mukosa dan hipersekresi. Mukosa sinus
yang membengkak menyebabkan infeksi lebih lanjut, yang
selanjutnya menghancurkan epitel permukaan, dan siklus seterusnya
berulang.4
 Sinusitis Dentogen
Merupakan penyebab paling sering terjadinya sinusitis kronik.
Dasar sinus maksila adala prosessus alveolaris tempat akar gigi,
bahkan kadang-kadang tulang tanpa pembatas. Infeksi gigi rahang atas
seperti infeksi gigi apikal akar gigi, atau inflamasi jaringan
periondontal mudah menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui
pembuluh darah dan limfe.4
Harus dicurigai adanya sinusitis dentogen pada sinusitis
maksila kronik yang mengenai satu sisi dengan ingus yang purulen
dan napas berbau busuk. Bakteri penyebabnya adalah Streptococcus
pneumoniae, Hemophilus influenza, Streptococcus viridans,
Staphylococcus aureus, Branchamella catarhalis dan lain-lain.2
 Sinusitis Jamur
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu
keadaan yang jarang ditemukan.Angka kejadian meningkat dengan
meningkatnya pemakaian antibiotik, kortikosteroid, obat-obat
imunosupresan dan radioterapi. Kondisi yang merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis jamur antara lain diabetes mellitus,
neutopenia, penyakit AIDS dan perawatan yang lama di rumah sakit.

10
Jenis jamur yang sering menyebabkan infeksi sinus paranasal ialah
spesies Aspergillus dan Candida.1

2.4 KLASIFIKASI RHINOSINUSITIS


Rinosinusitis diklasifikasikan menjadi :
 Akut : infeksi yang berlangsung dengan batas sampai 4 minggu, dan
dibagi menjadi gejala yang berat dan non berat.
 Akut berulang : berlangsung 4 atau lebih episode dalam 1 tahun.
 Subakut : berlangsung antara 4 sampai 12 minggu, dan meupakan transisi
antara infeksi akut dan kronis.
 Kronik : Jika lebih dari 12 minggu.
Menurut beberapa penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis
akut adalah Streptococcus pneumonia (30-50%), H.influenzae (20-40%), dan
Moraxella catarrhalis (4%). Pada anak , M,catarrhais lebih banyak ditemukan
(20%). Pada sinusitis kronik , factor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya
bakteri yang ada lebih condong kea rah bakteri negarif gram dan anaerob.2
Sinusitis akut biasanya dipicu oleh infeksi saluran pernafasan atas
sebelumnya, umumnya berasal dari virus. Jika infeksi ber dariasal bakteri, yang
paling umum tiga agen penyebabnya adalah Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis dan. Sampai saat ini, Haemophilus
influenzae adalah agen bakteri yang paling umum menyebabkan infeksi sinus.
Namun, pengenalan H. influenza tipe B (Hib) vaksin telah menurun secara drastis
H. influenza infeksi tipe B dan sekarang non-typable H. influenza (NTHI)
didominasi terlihat di klinik. Penyebab lain sinusitis bakteri patogen termasuk
Staphylococcus aureus dan spesies streptokokus lainnya, bakteri anaerob dan,
kurang umum, bakteri gram negatif. Sinusitis virus biasanya berlangsung selama 7
sampai 10 hari, sedangkan sinusitis bakteri lebih lama. Sekitar 0,5% sampai 2%
dari hasil sinusitis virus pada sinusitis bakteri berikutnya. Diperkirakan bahwa
iritasi hidung yang berasal dari hidung mengarah ke infeksi bakteri sekunder.3
Sinusitis kronis, menurut definisi, berlangsung lebih dari tiga bulan dan
dapat disebabkan oleh berbagai penyakit peradangan kronis dari sinus sebagai
gejala yang umum. Gejala sinusitis kronis dapat mencakup kombinasi dari

11
berikut: hidung tersumbat, nyeri wajah, sakit kepala, batuk malam hari,
peningkatan gejala asma sebelumnya kecil atau dikendalikan, malaise
umum,ingus hijau atau kuning kental, perasaan wajah 'kepenuhan' atau 'sesak'
yang mungkin memperburuk ketika membungkuk, pusing, sakit gigi, dan / atau
halitosis Rinosinusitis kronis merupakan gangguan peradangan multifaktorial,
bukan hanya infeksi bakteri persisten Manajemen medis rinosinusitis kronis kini
berfokus pada mengendalikan peradangan yang merupakan predisposisi pasien
untuk obstruksi, dan mengurangi kejadian infeksi.4
Berdasarkan beratnya penyakit, rinosinusitis dapat dibagi menjadi ringan,
sedang dan berat berdasarkan total skor visual analogue scale (VAS) (0-10) :
- Ringan = VAS 0-3
- Sedang = VAS >3-7
- Berat = VAS >7-10
Untuk menilai beratnya penyakit, pasien diminta untuk menentukan
dalam VAS jawaban dari pertanyaan: Berapa besar gangguan dari gejala
rinosinusitis saudara?

2.5 PATOGENESIS RHINOSINUSITIS


Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks osteo-meatal.
Sinus dilapisi oleh sel epitel respiratorius. Lapisan mukosa yang melapisi sinus
dapat dibagi menjadi dua yaitu lapisan viscous superficial dan lapisan serous
profunda. Cairan mukus dilepaskan oleh sel epitel untuk membunuh bakteri maka
bersifat sebagai antimikroba serta mengandungi zat-zat yang berfungsi sebagai
mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara
pernafasan. Cairan mukus secara alami menuju ke ostium untuk dikeluarkan jika
jumlahnya berlebihan.2
Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis terjadinya
sinusitis yaitu apakah terjadi obstruksi dari ostium. Jika terjadi obstruksi ostium
sinus akan menyebabkan terjadinya hipooksigenasi, yang menyebabkan fungsi
silia berkurang dan epitel sel mensekresikan cairan mukus dengan kualitas yang
kurang baik. Disfungsi silia ini akan menyebabkan retensi mukus yang kurang

12
baik pada sinus. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila
terjadi edema, mukosa yang berhadapan, akan saling bertemu sehingga silia tidak
dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam
rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi
ini boleh dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam
waktu beberapa hari tanpa pengobatan.4
Bila kondisi ini menetap, sekret yang dikumpul dalam sinus merupakan
media baik untuk pertumbuhan dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen.
Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis aku bakterial dan memerlukan terapi
antibiotik.3
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan
dengan tiga faktor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan kualitas sekresi hidung.
Perubahan salah satu dari faktor ini akan merubah sistem fisiologis dan
menyebabkan sinusitis.1
Peneliti mengatakan, infeksi saluran napas atas akut yang disertai
komplikasi rinosinusitis akut bakterial tidak lebih dari 13%. Bakteri yang paling
sering dijumpai pada rinosinusitis akut dewasa adalah Streptococcus pneumoniae
dan Haemaphilus influenzae, sedangkan pada anak Branhamella (Moraxella)
catarrhalis. Bakteri ini kebanyakan ditemukan di saluran napas atas, dan umumnya
tidak menjadi patogen kecuali bila lingkungan disekitarnya menjadi kondusif
untuk pertumbuhannya. Pada saat respons inflamasi terus berlanjutdan respons
bakteri mengambil alih, lingkungan sinus berubah ke keadaan yang lebih
anaerobik. Flora bakteri menjadi semakin banyak (polimikrobial) dengan
masuknya kuman anaerob, Streptococcus pyogenes (microaero-philic
streptococci), dan Staphylococcus aureus. Perubahan lingkungan bakteri ini dapat
menyebabkan peningkatan organisme yang resisten dan menurunkan efektivitas
antibiotik akibat ketidakmampuan antibiotik mencapai sinus. Infeksi menyebabkan
30% mukosa kolumnar bersilia mengalami perubahan metaplastik menjadi mucus
secreting goblet cells, sehingga efusi sinus makin meningkat.2

13
Gambar 3. Inflamasi sinus kiri6

Pada pasien rinitis alergi, alergen menyebabkan respons inflamasi dengan


memicu rangkaian peristiwa yang berefek pelepasan mediator kimia dan
mengaktifkan sel inflamasi. Limfosit T-helper 2 (Th-2) menjadi aktif dan
melepaskan sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel mastosit, sel B dan
eosinofil. Berbagai sel ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan
melepaskan lebih banyak mediator kimia yang menyebabkan udem mukosa dan
obstruksi ostium sinus. Rangkaian reaksi alergi ini akhirnya membentuk
lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri sekunder seperti halnya
pada infeksi virus.1
Klirens dan ventilasi sinus yang normal memerlukan mukosa yang sehat.
Inflamasi yang berlangsung iama (kronik) sering berakibat penebalan mukosa
disertai kerusakan silia sehinggastium sinus makin buntu. Mukosa yang tidak
dapat kembali normal setelah inflamasi akut dapat menyebabkan gejala persisten
dan-mengarah pada rinosinusitis kronik. Bakteri yang sering dijumpai pada
rinosinusitis kronik adalah Staphylococcus coagulase negative (51%),
Staphylococcus aureus (20%), anaerob (3%), Streptococcus pneumoniae, dan
bakteri yang sering dijumpai pada rinosinusitis akut bakterial.4

14
2.6 GEJALA KLINIS RHINOSINUSITIS
Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai dengan
nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke
tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai dengan gejala sistemik seperti demam
dan lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan
ciri khas sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain
(referred pain). Pada sinusitis maksila kadang-kadang terdapat nyeri alih ke gigi
dan telinga. Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post-
nasal drip yang dapat menyebabkan batuk dan sesak pada anak.1
American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery (AAO-
HNS) membuat bagan diagnosis yang disebut Task Force on Rhinosinusitis pada
tahun 1996. Bagan ini didasarkan atas gejala klinis yang dibagi atas kategori gejala
mayor dan minor untuk diagnosis rhinosinusitis.5,6
Tabel 1. Gejala Klinis Rhinosinusitis Menurut AAO-HNS5
Major Symptoms Minor Symptoms
Facial pain/pressure Headache
Facial congestion/fullness Fever (non acute)
Nasal obstruction/blockage Halitosis
Nasal discharge/purulence/discolored Fatique
posterior drainage
Hyposmia/anosmia Dental pain
Purulence on nasal exam Cough
Fever (acute rhinosinusitis only) Ear pain/pressure/fullness
a. Facial pain/pressure alone does not constitute a suggestive history for
diagnosis in the absence of another symptom or sign.
b. Fever in acute sinusitis alone does not constitute a seggustive history
for diangosis in the absence of another symptom or sign.

Riwayat yang konsisten dengan rinosinusitis memerlukan 2 faktor mayor


atau 1 mayor dan 2 faktor minor pada pasien dengan gejala lbih dari 7 hari. Ketika
adanya 1 faktor mayor atau 2 atau lebih faktor minor yang ada, ini menunjukkan
kemungkinan di mana rinosinusitis perlu di masukkan ke dalam diagnosa
banding.5,6

15
2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG RHINOSINUSITIS
2.7.1 Rhinoskopi Anterior
Pada rhinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan
edema, pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid
anterior tampak nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis
ethmoid posterior dan sinusitis sphenoid nanah tampak keluar dari meatus
superior. (Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip, tumor maupun
komplikasi sinusitis. Jika ditemukan maka kita harus melakukan
penatalaksanaan yang sesuai).5
2.7.2 Rhinoskopi Posterior
Pada rinoskopi posterior tampak pus di nasofaring (post nasal drip).
Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang
lebih 5 menit, dan provokasi test, yakni suction dimasukkan pada hidung,
pemeriksa memencet hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan
ludah dan menutup mulut dengan rapat. Jika positif sinusitis maksilaris,
maka akan keluar pus dari hidung.6
2.7.3 Foto Rontgen
Foto polos posisi Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu
menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal.
Kelainan akan terlihat perselubungan, air-fluid level , atau penebalan
mukosa. Rontgen sinus dapat menunjukkan kepadatan parsial pada sinus
yang terlibat akibat pembengkakan mukosa atau dapat juga menunjukkan
cairan apabila sinus mengandung pus. Pilihan lain dari rontgen adalah
ultrasonografi terutama pada ibu hamil untuk menghindari paparan radiasi.5

Gambar 4. Gambaran air fluid level pada foto polos sinus

16
2.7.4 CT-Scan
CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena
mampu menilai secara anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam
hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. CT scan mampu
memberikan gambaranyang bagus terhadap penebalan mukosa, air-fluid
level, struktur tulang, dan kompleks osteomeatal. Namun karena mahal
hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronis yang tidak
membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan operator
saat melakukan operasi sinus.
2.7.5 MRI
MRI sinus lebih jarang dilakukan dibandingkan CT scan karena
pemeriksaan ini tidak memberikan gambaran terhadap tulang dengan baik.
Namun, MRI dapat membedakan sisa mukus dengan massa jaringan lunak
dimana nampak identik pada CT scan. Oleh karena itu, MRI akan sangat
membantu untuk membedakan sinus yang terisi tumor dengan yang diisi oleh
sekret.6
2.7.6 Transluminasi
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram
atau gelap. Hal ini lebih mudah diamati bila sinusitis terjadi pada satu sisi
wajah,karena akan nampak perbedaan antara sinus yang sehat dengan sinus
yang sakit. Pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan karena sangat terbatas
kegunaannya. Endoskopi nasal kaku atau fleksibel dapat digunakan untuk
pemeriksaan sinusitis. Endoskopi ini berguna untuk melihat kondisi sinus
ethmoid yang sebenarnya, mengkonfirmasi diagnosis, mendapatkan kultur dari
meatus media dan selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. Ketika
dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi dari hidung, kultur
meatus media sesuai dengan aspirasi sinus yang mana merupakan baku emas.
Karena pengobatan harus dilakukan dengan mengarah kepada organisme
penyebab, maka kultur dianjurkan.6

17
Gambar 5. Transluminasi6

2.8 PENATALAKSANAAN RHINOSINUSITIS


Pengobatan tergantung pada etiologi dari gejala rhinosinusitis. Tujuan terapi
sinusitis adalah:
a) Mempercepat penyembuhan,
b) Mencegah komplikasi
c) Mencegah perubahan menjadi kronik
Sinusitis akut dapat diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan
pembedahan (operasi). Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien sinusitis
akut, yaitu:
2.8.1 Antibiotik
Antibiotik merupakan kunci dalam penatalaksanaan sinusitis supuratif
akut. Amoksisilin merupakan pilihan tepat untuk kuman gram positif dan
negatif. Vankomisin untuk kuman S. pneumoniae yang resisten terhadap
amoksisilin. Pilihan terapi lini pertama yang lain adalah kombinasi
eritromisin dan dulfonamide atau cephalexin dan sulfonamide.6
Terapi antibiotik harus diteruskan minimum 1 minggu setelah gejala
terkontrol. Karena banyaknya distribusi ke sinus-sinus yang terlibat, perlu
mempertahankan kadar antibiotika yang adekuat bila tidak, mungkin terjadi
sinusitis supuratif kronik.7
Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki
drainase dan pembersihan sekret dari sinus. Untuk sinusitis maxilaris
dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan untuk sinusitis ethmoidalis

18
frontalis dan sinusitis sfenoidalis dilakukan tindakan pencucian Proetz. Irigasi
dan pencucian dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5 atau 6
kali tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, maka
perlu dilakukan bedah radikal.8
Antibiotik parenteral diberikan pada sinusitis yang telah mengalami
komplikasi seperti komplikasi orbita dan komplikasi intrakranial, karena
dapat menembus sawar darah otak. Ceftriakson merupakan pilihan yang
baik karena selain dapat membasmi semua bakteri terkait penyebab
sinusitis, kemampuan menembus sawar darah otaknya juga baik.6
Pada sinusitis yang disebabkan oleh bakteri anaerob dapat digunakan
metronidazole atau klindamisin. Klindamisin dapat menembus cairan
serebrospinal. Antihistamin hanya diberikan pada sinusitis dengan
predisposisi alergi. Analgetik dapat diberikan. Kompres hangat dapat juga
dilakukan untuk mengurangi nyeri.7
Untuk pasien yang menderita alergi, pengobatan alergi yang dijalani
bermanfaat. Pengontrolan lingkungan, steroid topikal, dan imunoterapi
dapat mencegah eksesarbasi rhinitis sehingga mencegah perkembangannya
menjadi sinusitis.6
2.8.2 Dekongestan
Dekongestan Oral (Lebih aman untuk penggunaan jangka panjang)
berupa Phenylproponolamine dan pseudoephedrine, yang merupakan agonis
alfa adrenergik. Obat ini bekerja pada osteomeatal komplek .Dekongestan
topikal yaitu Phenylephrine Hcl 0,5% dan oxymetazoline Hcl 0,5 % bersifat
vasokonstriktor lokal. Obat ini bekerja melegakan pernapasan dengan
mengurangi oedema mukosa.7
2.8.3 Antihistamin
Antihistamin golongan II yaitu Loratadine. Anti histamin golongan II
mempunyai keunggulan, yaitu lebih memiliki efek untuk mengurangi rhinore,
dan menghilangkan obstruksi, serta tidak memiliki efek samping menembus
sawar darah otak.6

19
2.8.4 Kortikosteroid
Kortikosteroid bisa diberi oral ataupun topikal, namun pilihan disini
adalah kortikosteroid oral yaitu metil prednisolon, efek samping berupa retensi
air sangat minimal, begitupula dengan efek terhadap lambung juga minimal.6

Skema 1 : Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Untuk Pelayanan


Kesehatan Primer7

Skema 2 : Pedoman rujukan pasien rhinosinusitis7

20
Skema 3 : Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Tanpa Polip Hidung Pada
Dewasa Untuk Dokter Spesialis THT7

2.8.6 Tindakan Operatif


Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF / FESS) merupakan operasi
terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah
menggantikan hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan
hasil yang lebih memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tidak radikal.
Indikasinya berupa : sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi
adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelaianan yang irreversible, polip
ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.8
Selain penatalaksanaan medikamentosa dan tindakan operatif, pasien perlu
diedukasikan untuk melakukan pencegahan terhadap kejadian atau kekambuhan
rhinosinusitis yaitu:
1. Menghindari penularan infeksi saluran pernapasan atas dengan menjaga
kebiasaan cuci tangan yang ketat dan menghindari orang-orang yang
menderita pilek atau flu .
2. Disarankan mendapatkan vaksinasi influenza tahunan untuk membantu
mencegah flu dan infeksi berikutnya dari saluran pernapasan bagian atas .

21
3. Obat antivirus untuk mengobati flu, seperti zanamivir (Relenza),
oseltamivir (Tamiflu), rimantadine (Flumadine) dan amantadine
(Symmetrel), jika diambil pada awal gejala, dapat membantu mencegah
infeksi .
4. Dalam beberapa penelitian, lozenges seng karbonat telah terbukti
mengurangi durasi gejala pilek.
5. Pengurangan stres dan diet yang kaya antioksidan terutama buah-buahan
segar dan sayuran berwarna gelap, dapat membantu memperkuat sistem
kekebalan tubuh .
6. Rencana serangan alergi musiman .
a. Jika infeksi sinus disebabkan oleh alergi musiman atau lingkungan,
menghindari alergen sangat penting. Jika tidak dapat menghindari
alergen, obat bebas atau obat resep dapat membantu. OTC antihistamin
atau semprot dekongestan hidung dapat digunakan untuk serangan
akut.
b. Orang-orang yang memiliki alergi musiman dapat mengambil obat
antihistamin yang tidak sedasi(non sedative) selama bulan musim-
alergi.
c. Hindari menghabiskan waktu yang lama di luar ruangan selama musim
alergi. Menutup jendela rumah dan bila mungkin, pendingin udara
dapat digunakan untuk menyaring alergen serta penggunaan humidifier
juga dapat membantu.
d. Suntikan alergi, juga disebut "imunoterapi", mungkin efektif dalam
mengurangi atau menghilangkan sinusitis karena alergi. Suntikan
dikelola oleh ahli alergi secara teratur selama 3 sampai 5 tahun, tetapi
sering terjadi pengurangan remisi penuh gejala alergi selama bertahun-
tahun.
7. Menjaga supaya tetap terhidrasi dengan:
a. Menjaga kebersihan sinus yang baik dengan minum banyak cairan
supaya sekresi hidung tipis.
b. Semprotan hidung saline (tersedia di toko obat) dapat membantu
menjaga saluran hidung agar lembab, membantu menghilangkan agen

22
infeksius. Menghirup uap dari semangkuk air mendidih atau mandian
panas beruap juga dapat membantu.
c. Hindari perjalanan udara. Jika perjalanan udara diperlukan, gunakan
semprotan dekongestan nasal sebelum keberangkatan untuk menjaga
bagian sinus agar terbuka dan sering menggunakan saline nasal spray
selama penerbangan.
8. Hindari alergen di lingkungan: Orang yang menderita sinusitis kronis harus
menghindari daerah dan kegiatan yang dapat memperburuk kondisi seperti
asap rokok dan menyelam di kolam diklorinasi.

2.9 KOMPLIKASI RHINOSINUSITIS


Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya
antibiotic. Komplikasi berat biasanya terjadii pada sinusitis akut atau pada sinusitis
kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial.1
 Komplikasi Orbital
Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita).
Yang paling sering adalah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan
maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan
perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul adalah edema palpebra, selulitis
orbita,abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis
sinus kavernosus.6
 Komplikasi Intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural , abses otak, dan
thrombosis sinus kavernosus. Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis
kronis berupa : Osteomielitis dan abses subperisotal.6
 Kelainan Paru
Seperti bronchitis kronik dan bronkhiektasis. Adanya kelaian sinus
paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sebagai sino-bronkhitis.
Selain itu juga dapat menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar
dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan.1

23
2.10 PROGNOSIS RHINOSINUSITIS
Sinusitis tidak menyebabkan kematian yang signifikan dengan sendirinya.
Namun, sinusitis yang berkomplikasi dapat menyebabkan morbiditas dan dalam
kasus yang jarang dapat menyebabkan kematian. Sekitar 40 % kasus sinusitis akut
membaik secara spontan tanpa antibiotik.Perbaikan spontan pada sinusitis virus
adalah 98 %.Pasien dengan sinusitis akut, jika diobati dengan antibiotik yang
tepat, biasanya menunjukkan perbaikan yang cepat.Tingkat kekambuhan setelah
pengobatan yang sukses adalah kurang dari 5 %. Jika tidak adanya respon dalam
waktu 48 jam atau memburuknya gejala, pasien dievaluasi kembali. Rinosinusitis
yang tidak diobati atau diobati dengan tidak adekuat dapat menyebabkan
komplikasi seperti meningitis, tromboflebitis sinus cavernous, selulitis orbita atau
abses, dan abses otak.6
Pada pasien dengan rhinitis alergi , pengobatan agresif gejala hidung dan
tanda-tanda edema mukosa yang dapat menyebabkan obstruksi saluran keluar
sinus, dapat mengurangkan sinusitis sekunder. Jika kelenjar gondok secara kronis
terinfeksi, pengangkatan mereka dapat menghilangkan nidus infeksi dan dapat
mengurangi infeksi sinus.6

24
BAB III
KESIMPULAN

Rhinosinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena


alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Terdapat 4 sinus disekitar hidung
yaitu sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis dan sinus
sphenoidalis.Penyebab utama sinusitis adalah infeksi virus, diikuti oleh infeksi
bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid
dan maksilaris. Gejala umum rhinosinusitis yaitu hidung tersumbat diserai
dengan nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulent, yang seringkali
turun ke tenggorol (post nasal drip).
Klasifikasi dari sinusitis berdasarkan klinis yaitu sinusitis akut,
subakut dan kronik, sedangkan klasifikasi menurut penyebabnya adalah
sinusitis rhinogenik dan dentogenik. Bahaya dari sinusitis adalah
komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Tatalaksana berupa terapi antibiotik
diberikan pada awalnya dan jika telah terjadi hipertrofi, mukosa polipoid dan
atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi.
Tatalaksana yang adekuat dan pengetahuan dini mengenai sinusitis dapat
memberikan prognosis yang baik.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Buku ajar ilmu kesehatan telinga,


hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi ketujuh. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2012

2. Arivalagan, Privina. The Picture Of Chronic Rhinosinusitis in RSUP Haji


Adam Malik in Year 2011. E – Jurnal FK-USU Volume 1 No. 1 Tahun 2013

3. Meltzer EO, Hamilos DL. Rhinosinusitis diagnosis and management for the
clinician: a synopsis of recent consensus guidelines. Mayo Clin Proc. 2011

4. Adams GL, Boies LR, Higler PH. 1994. Hidung dan sinus paranasalis. Buku
ajar penyakit tht. Edisi keenam. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

5. Mark A. Zacharek, Preeti N. Malani, Michael S. Benninger. An approach to


the diagnosis and management of acute bacterial rhinosinusitis. 2005.
Diunduh dari informahealthcare.com/doi/pdf/10.1586/14787210.3.2.21 . 24
April 2014

6. Brook I, Benson BE, Riauba L, Cunha BA. Acute sinusitis. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview. 23 April 2014

7. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis.


Rhinology,2007; www.rhinologyjournal.com

8. Arivalagan, Privina. The Picture Of Chronic Rhinosinusitis in RSUP Haji


Adam Malik in Year 2011. E – Jurnal FK-USU Volume 1 No. 1 Tahun 2013

9. https://de.wikipedia.org/wiki/Sinusitis Diakses tanggal 21 April 2014

10. http://atlas.mudr.org/ Diakses pada tanggal 20 oktober 2015

26