Anda di halaman 1dari 77

Teori dan Petunjuk Praktis

“Cost Estimating”

PT. Badak NGL


Bontang
2017
Daftar Isi

Daftar Isi............................................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................. iii
Bab 1 Esensi Cost Estimating ................................................................... 1
1.1 Apa itu Cost Estimating? .......................................................... 1
1.2 Siapa yang Melakukan Estimasi? .......................................... 3
1.3 Apa Saja yang dilakukan Cost Estimator?.......................... 4
1.4 Profesi Cost Estimator .............................................................. 4
Bab 2 Proses Cost Estimating .................................................................. 7
2.1 Proses Estimasi Secara Umum ............................................... 7
2.2 Tahapan Pekerjaan Estimator di PT. Badak NGL ......... 13
Bab 3 Beberapa Metode Cost Estimating .......................................... 15
3.1 Metode Expert Opinion ........................................................... 15
3.2 Metode Analogi .......................................................................... 16
3.3 Metode Parametrik................................................................... 18
3.4 Metode Engineering ................................................................. 19
Bab 4 Contoh Cost Estimating di PT. Badak NGL ........................... 21
4.1 Sistem Pembayaran.................................................................. 21
4.2 Tipe Pengadaan ......................................................................... 22
4.3 Komponen Biaya ....................................................................... 23
4.4 Contoh Perhitungan ................................................................. 25
Bab 5 Beberapa Tips dalam Cost Estimating ................................... 65

i
Bab 6 Catatan Penutup ............................................................................ 69
Referensi ....................................................................................................... 71

ii
Kata Pengantar
Salah satu aktivitas terpenting dalam rangkaian proses pengadaan
barang dan jasa adalah penentuan Owner Estimate (OE) atau Harga
Perkiraan Sendiri (HPS) yakni estimasi terhadap harga barang atau
jasa yang akan dibeli oleh perusahaan. Angka ini akan digunakan
baik untuk keperluan penganggaran maupun keperluan negosiasi.
Bila angka ini tidak bisa diperoleh dengan baik maka proses
pengadaan bisa mengalami hambatan sehingga akan mengganggu
kepentingan pihak yang membutuhkan barang atau jasa tersebut.
Pekerjaan estimasi adalah pekerjaan yang umumnya
dikerjakan oleh profesi tertentu yang disebut sebagai estimator.
Mereka yang bekerja sebagai cost estimator perlu memiliki
pengetahuan yang memadai mengenai teknik-teknik dalam
melakukan estimasi serta perlu memiliki kemampuan komunikasi
dengan pihak-pihak yang terkait, terutama pihak user. Buku Teori
dan Petunjuk Praktis Cost Estimating ini disusun untuk membantu
para estimator baru di PT. Badak NGL untuk lebih cepat memahami
hakekat dari cost estimating serta teknik-teknik yang bisa
digunakan.
Buku ini disusun berdasarkan referensi ke beberapa literatur
mapun sumbangsih pemikiran sejumlah estimator senior di PT.
Badak NGL, terutama adalah Bapak Choirul Anam dan Bapak
Syamsul. Oleh karena itu PT. Badak NGL mengucapkan terima kasih
kepada kedua narasumber maupun pihak-pihak lain yang telah
membentu dalam proses pembuatan/penerbitan buku ini. Semoga
buku ini bisa bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan
estimator terhadap cost estimating yang pada akhirnya bisa
meningkatkan kualitas estimasi.
Bontang, April 2017

iii
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

iv
Bab 1
Esensi Cost Estimating
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai tahapan dan teknik, perlu
adanya penjelasan terlebih dahulu esensi dari cost estimating secara
umum. Pada bagian ini akan dibahas esensi cost estimating yang
meliputi apa, siapa, apa saja yang dilakukan, dan profesi dari cost
estimator.

1.1 Apa itu Cost Estimating?


Estimasi biaya dilakukan oleh perusahaan untuk berbagai keperluan,
antara lain untuk memperkiraan biaya suatu proyek. Proyek yang
dimaksud bisa berupa proyek konstruksi suatu bangunan, proyek
pengadaan jasa perawatan pabrik, proyek kegiatan ulang tahun
perusahaan, dan sebagainya. Estimasi dibutuhkan untuk keperluan
penganggaran atau untuk melakukan evaluasi layak tidaknya proyek
tersebut dilaksanakan. Di banyak perusahaan, estimasi biaya dilakukan
sebagai dasar untuk menentukan Owner Estimate (OE) atau Harga
Perkiraan Sendiri (HPS) dari barang atau jasa yang akan dibeli oleh
perusahaan. Akurat tidaknya hasil estimasi ini akan mempengaruhi
kelancaran dari proses pengadaan barang atau jasa tersebut.

Di sisi lain, estimasi biaya juga harus dilakukan oleh mereka yang
akan mengajukan penawaran sebagai calon rekanan. Calon rekanan
yang tidak mampu memperkirakan biaya suatu proyek atau pekerjaan
akan sering kalah dalam proses tender (terutama bila harga yang
ditawarkan terlalu tinggi dibanding dengan calon rekanan lainnya).
Sebaliknya bila estimasinya terlalu rendah mungkin saja bisa menang

1
namun ada risiko mengalami kerugian karena biaya yang dikeluarkan
bisa jauh lebih tinggi dari yang tadinya diperkirakan.

Estimasi secara umum bisa didefinisikan sebagai suatu seni


memperkiraan biaya yang mungkin terjadi untuk suatu proyek tertentu
berdasarkan informasi yang tersedia pada saat estimasi ini dilakukan.
Ada yang mendefinisikan cost estimating sebagai:

Cost estimators collect and analyze data in order to estimate the time,
money, materials, and labor required to manufacture a product,
construct a building, or provide a service. They generally specialize in a
particular product or industry (United States Department of Labor,
2015).

Artinya, pekerjaan estimasi biaya ini:

 Adalah suatu seni yang artinya metodenya tidak selalu eksak


namun ada ruang kreativitas yang bisa menjadi bagian di
dalamnya.
 Sangat tergantung pada kelengkapan dan akurasi informasi yang
tersedia pada saat estimasi dilakukan.
 Metode estimasi berbeda-beda untuk tiap produk atau tiap
industri sehingga seseorang cost estimator mungkin mahir
melakukan estimasi pada industri tertentu namun tidak pada
industri yang lain. Dengan demikian bila rentang pekerjaan
estimasi cukup lebar, akan diperlukan sejumlah cost estimator
yang spesialis pada bidang-bidang tertentu.

Jadi, akurasi dari estimasi akan tergantung baik pada metode


maupun pada input yang digunakan. Input data yang digunakan pada
pekerjaan estimasi bisa berasal dari data internal perusahaan maupun
dari data yang diperoleh dari luar perusahaan. Tantangannya adalah
memperoleh data yang tepat dan akurat untuk dijadikan input dari
2
proses estimasi ini. Namun perlu diketahui bahwa walaupun
menggunakan data dan metode yang sama, akurasi dari estimasi bisa
jadi tidak selalu sama bila digunakan untuk pekerjaan estimasi pada
waktu atau pada situasi yang berbeda.

1.2 Siapa yang Melakukan Estimasi?


Pekerjaan estimasi umumnya dilakukan oleh cost estimator. Cost
estimator adalah profesi yang membutuhkan keahlian tertentu. Keahlian
ini dibentuk baik oleh pengetahuan maupun pengalaman. cost estimator
yang handal adalah mereka yang memiliki beberapa kualifikasi, seperti:

 Memiliki kemampuan komunikasi dan analitik yang bagus.


Maksudnya di sini, seorang estimator harus memiliki kemampuan
berkomunikasi dengan user yang membuat spesifikasi,
berkomunikasi dengan mereka yang menjadi penyedia
informasi/data, berkomunikasi pada panitia pengadaan, maupun
dengan rekanan yang menjadi peserta pengadaan.

 Memiliki kemampuan untuk membaca rencana dan spesifikasi.


Memang dalam kenyataannya seorang cost estimator akan
menerjemahkan spesifikasi dan rencana proyek ke dalam Work
Breakdown Structure (WBS) dan akhirnya ke dalam biaya proyek.

 Terampil dalam mengoperasikan alat bantu terutama Spreadsheet.


Salah satu aplikasi yang sangat banyak digunakan dalam pekerjaan
estimasi adalah spreadsheet. Seorang cost estimator harus mampu
secara cukup lihai dalam mengoperasikan spreadsheet.

3
1.3 Apa Saja yang dilakukan Cost Estimator?
Seorang cost estimator akan melakukan berbagai kegiatan antara lain:

 Menyiapkan berbagai data atau informasi yang akan dijadikan


input pada saat proses estimasi. Data atau informasi ini bisa
berasal dari pekerjaan sejenis yang pernah dikerjakan
sebelumnya. Mencakup antara lain quantity take-offs (jumlah
barang atau orang atau alat yang dibutuhkan untuk
melaksanakan suatu kegiatan), material price list, upah tenaga
kerja per satuan waktu tertentu, biaya sewa peralatan, dan data
lainnya.
 Mendefinisikan scope of work (SOW) serta menyiapkan estimasi
biaya baik pada tingkatan yang masih lebih umum (fase konsep),
fase untuk penganggaran, maupun fase untuk eksekusi proyek.
 Mereview data historis dan mengkompilasi laporan terkait hasil
estimasi untuk bisa dijadikan dasar bagi kegiatan estimasi
berikutnya.
 Di beberapa perusahaan, termasuk di PT. Badak NGL seorang
cost estimator juga terlibat dalam proses klarifikasi dan
negosiasi. Klarifikasi yang dimaksud adalah klarifikasi kepada
calon rekanan apabila ada perhitungan biaya penawaran yang
perlu memperoleh penjelasan.

1.4 Profesi Cost Estimator


Cost estimator adalah profesi yang dibutuhkan di hampir setiap
organisasi. Kalau kita melihat iklan lowongan kerja, sangat banyak yang
bisa kita jumpai kebutuhan suatu organisasi untuk merekrut cost
estimator. Jadi profesi cost estimator adalah profesi yang cukup diakui di
berbagai organisasi.

4
Pengakuan akan profesi cost estimator juga ditunjukkan oleh
adanya berbagai asosiasi profesi yang terkait dengan profesi ini.
Berbagai orgaisasi profesi ini biasanya mengembangkan standar,
melakukan kegiatan pengembangan profesi melalui pelatihan dan
sertifikasi, serta mengembangkan kode etik profesi. Beberapa asosiasi
profesi terkait dengan cost estimator adalah:

1. American Society of Professional Estimators


2. AACE International
3. International Cost Estimating and Analysis Association.

5
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

6
Bab 2
Proses Cost Estimating
Terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan estimasi
harga. Pada bab ini akan dibahas mengenai proses untuk melakukan
estimasi secara umum dan proses estimasi yang dilakukan oleh PT.
Badak NGL.

2.1 Proses Estimasi Secara Umum

Gambar 2.1 Tahapan Proses Estimasi

Secara umum proses estimasi bermula dari adanya kebutuhan dan akan
berakhir dengan dokumentasi dan penyampaian hasil kepada pihak
yang berkepentingan. Gambar 2.1 menunjukkan langkah-langkah
7
proses estimasi yang didefinisikan oleh NASA. Disana ada 3 tahapan
utama yang secara detilnya bisa dibagi ke dalam 12 aktivitas. Berikut
adalah penjelasan masing-masing tahapan tersebut.

Tahap 1: Definisi Proyek


Sebagaimana disampaikan di atas, estimasi dilakukan untuk
memperkirakan biaya suatu proyek. Proyek di sini didefinisikan secara
luas, bisa proyek konstruksi, perawatan, penyediaan tenaga kerja, dll.
Intinya pada tahap ini proyek harus jelas ruang lingkupnya sehingga
estimator bisa menterjemahkannya ke dalam kebutuhan biaya.
Estimator bisa melakukan klarifikasi ke user, menanyakan
ekspektasinya, serta mencoba memahami proyek dengan lebih baik.
Tahap 1 ini terdiri dari tiga aktivitas yaitu:

1.1 Receive Customer Request and Understand the Project. Aktivitas ini
adalah bagian awal dari proses dimana ada permintaan dari user
untuk melakukan estimasi. Pada fase ini kemungkinan masih
banyak ketidakjelasan mengenai proyek yang akan diestimasi
biayanya. Oleh karena itu diperlukan komunikasi yang baik
dengan user agar estimator bisa memahami proyek dengan baik.
User biasanya akan menyiapkan spesifikasi dari proyek, yang bisa
jadi diwujudkan dalam bentuk gambar teknik atau bentuk lainnya.
Pertanyaan dan klarifikasi akan dibutuhkan terutama bila proyek
yang dimaksud cukup kompleks dan/atau belum pernah
dilakukan sebelumnya.

1.2 Build or Obtain a Work Breakdown Structure (WBS). Pada fase ini
estimator akan menerjemahkan spesifikasi ke dalam apa yang
disebut sebagai Work Breakdown Structure (WBS). Tujuan dari
WBS adalah untuk membagi proyek menjadi elemen-elemen yang
lebih kecil sehingga lebih mudah untuk memperkirakan
komponen biaya yang termasuk di dalamnya. Semua bagian atau

8
elemen proyek harus tercakup ke dalam WBS. Di samping untuk
tujuan estimasi biaya, WBS juga akan diperlukan untuk
perencanaan dan pengendalian waktu proyek dan konten teknis
dari proyek. WBS harus diwujudkan dalam bentuk yang mudah
dikomunikasikan ke tim proyek atau stakeholder lain.

Gambar 2.2 Contoh Work Breakdown Structure (WBS) untuk Suatu Proyek Space
Flight

1.3 Define or Obtain the Project Technical Description. Pada fase ini
harus ada dokumen yang menjelaskan deskripsi yang lebih detil
mengenai proyek yang akan dijadikan dasar bagi estimator untuk
mengestimasi biaya nantinya. Deskripsinya bisa kuantitatif
maupun kualitatif. Termasuk di dalamnya yang harus jelas adalah
deskripsi teknis dari proyek (konfigurasi sistem, faktor kualitas,
keamanan, risiko, dll.).

Tahap 2: Metodologi Estimasi


Tahap 2 ini terdiri dari empat tahapan aktivitas. Secara umum yang
dilakukan adalah penentuan asumsi dan metode yang akan digunakan
dalam melakukan estimasi biaya proyek. Penjelasan masing-masing
tahapan akan diberikan di bawah ini.

9
2.1 Develop ground rules and assumptions. Di sini ditentukan apa yang
masuk dan tidak masuk dalam perhitungan biaya proyek. Di
samping itu berbagai asumsi harus ditentukan di sini. Contoh
asumsi yang diperlukan adalah nilai konversi mata uang, besaran
eskalasi untuk proyek yang durasinya panjang (multi tahun),
pedoman rate gaji karyawan yang digunakan.

2.2 Select cost estimating methodology. Pada fase ini ditentukan


metodologi cost estimating yang akan digunakan. Ada beberapa
metodologi yang umum digunakan untuk estimasi biaya, antara
lain metode analogi, metode parametrik, atau metode engineering.
Perbedaan metodologi ini akan disajikan di bab 3.

2.3 Select/build cost model/tool. Ada kemungkinan perusahaan


memiliki beberapa alternatif cara atau pendekatan dalam
perhitungan biaya, baik yang dikembangkan sendiri di internal
perusahaan maupun yang menggunakan aplikasi yang bisa dibeli
di pasar. Sebagai contoh, pada saat melakukan analisis risiko,
perusahaan bisa menggunakan beberapa software standar seperti
@RISK, Polaris, atau yang lainnya. Kalau memang ada sejumlah
alternatif yang tersedia maka pada fase ini estimator harus
menentukan mana yang akan dipakai.

2.4 Gather/normalize data. Ini adalah fase yang sangat penting dimana
estimator harus mengumpulkan data yang cukup bisa digunakan
untuk proses estimasi. Data bisa berasal dari wawancara,
dokumen perusahaan, survey lapangan, atau hasil Focus Group
Discussion (FGD), regulasi, hasil dari RFI ke calon rekanan, maupun
sumber lainnya. Sebagai contoh, kebutuhan bahan atau alat untuk
melaksanakan suatu pekerjaan bisa diperoleh dari pengalaman
proyek masa lalu atau dari unit terkait yang memiliki data
tersebut. Rate gaji pekerja proyek, besaran biaya Jaminan Sosial
Tenaga Kerja (Jamsostek), besaran pajak bisa diperoleh dari
10
peraturan pemerintah baik pusat maupun daerah. Harga material
atau barang yang dibutuhkan dalam suatu proyek bisa diperoleh
melalui survey pasar. Jadi, estimator harus cukup lihai dalam
mendokumentasikan, memperbaharui, dan mencari data. Ada
kalanya bila data yang tersedia mengandung kemungkinan bias
atau data outlier maka estimator harus bisa melakukan
pemberihan terhadap data tersebut. Di samping itu, estimator
harus mampu menentukan angka dasar (baseline) serta
penyesuaiannya. Bila misalnya data terakhir yang tersedia adalah
data 2 tahun yang lalu, maka diperlukan penyesuaian dari sisi
inflasi, perubahan nilai tukar, dan lain sebagainya dan untuk itu
estimator harus menentukan angka dan waktu dasar serta rate
penyesuaiannya.

Tahap 3: Melakukan Estimasi


Setelah data disiapkan dan model estimasi ditentukan maka saatnya
pada tahap 3 ini estimator melakukan estimasi, melakukan analisis
risiko terhadap estimasi yang telah dibuat, serta mendokumentasikan,
mengkomunikasikan, dan memperbaharui hasil estimasi sesuai
keperluan.

3.1 Develop the cost estimate. Estimasi dilakukan dengan model atau
metode yang telah dipilih. Di sini biasanya model dijalankan pada
awalnya untuk memperoleh satu angka estimasi untuk biaya
proyek yang dimaksud. Apabila dimungkinkan dan dipandang
perlu, estimator juga bisa melakukan apa yang disebut sebagai
probabilistic estimate, yakni memperkirakan berapa besar
kemungkinan bila proyek tersebut dijalankan, biaya yang
dikeluarkan akan melebihi angka yang diperkirakan. Untuk
melakukan probabilistic cost estimate ini dibutuhkan informasi

11
ketidakpastian pada elemen-elemen proyek baik dari sisi waktu
penyelesaian maupun biaya yang dibutuhkan. Jadi, kalau ada satu
elemen proyek yang kebutuhan biayanya diperkirakan antara 1
milyar – 1.5 milyar, maka rentang tersebut harus dimasukkan bila
akan menggunakan probabilistic cost estimate. Bila hanya
menggunakan satu angka estimasi (one point estimate) maka
biasanya yang diambil hanya satu angka, yaitu angka tengahnya
yang dalam hal ini adalah 1.25 milyar. Dengan menggunakan
probabilistic estimate, estimator dan stakeholder lainnya bisa
memiliki pengetahuan seberapa besar kemungkinan terjadinya
cost overrun (proyek menghabiskan biaya yang lebih besar
dibandingkan yang diperkirakan). Hal yang sama bisa dilakukan
dari sisi waktu penyelesaian proyek. Estimator bisa
memperkirakan schedule overrun, yakni berapa besar
kemungkinannya sebuah proyek akan membutuhkan waktu
penyelesaian lebih lama dibandingkan waktu yang disepakati.

3.2 Develop and Incorporate the Cost Risk Assessment. Langkah 3.1
sangat erat kaitannya dengan langkah 3.2 ini dimana analisis risiko
pada hakekatnya adalah mendapatkan distribusi biaya proyek,
menentukan cost driver yang tinggi ketidakpastiannya, atau
asumsi mana yang menciptakan sensitivitas tinggi terhadap
estimasi biaya proyek. Untuk itu, salah satu aktivitas yang perlu
dilakukan di sini adalah analisis sensitivitas.

3.3 Document the Cost Estimate. Dokumentasi yang dimaksud di sini


bukan hanya hasil akhir, namun juga input yang digunakan,
asumsinya, metodenya, atau berbagai justifikasi yang dibuat pada
saat melakukan estimasi. Dengan demikian maka orang lain yang
tidak terlibat dalam proses estimasi tersebut akan bisa memahami
bagaimana prosesnya serta bisa mereplikasi cara yang sama untuk
melakukan estimasi pada proyek yang lain. Beberapa hal yang

12
perlu diperhatikan terkait dengan dokumentasi ini adalah.
Pertama, dokumentasi hendaknya dilakukan sejak fase awal
proses estimasi. Hindari baru mulai mendokumentasikan ketika
proses estimasi sudah selesai dilakukan. Kedua, biasakan
mencantumkan sumber bila ada judgement atau informasi yang
diperoleh dari sumber atau dokumen lain. Ketiga, analisis risiko
dan analisis sensitivitas hendaknya menjadi bagian yang
dimasukkan pada dokumentasi.

3.4 Present the Cost Estimate Results. Presentasi ini akan dilakukan
terhadap stakeholder internal maupun eksternal pada saat
diperlukan.

3.5 Update the Cost Estimate as Required. Pembaharuan diperlukan


bila ada perkembangan informasi. Perkembangan yang dimaksud
bisa berupa perubahan pada skop pekerjaan atau ada informasi
yang tadinya kurang jelas menjadi lebih jelas sehingga
berimplikasi pada perubahan nilai parameter yang digunakan
pada proses estimasi. Pembaharuan estimasi bisa dilakukan di
berbagai tahapan pada siklus proyek.

2.2 Tahapan Pekerjaan Estimator di PT. Badak NGL


Tahapan pekerjaan estimasi di PT. Badak NGL bisa dilihat pada Gambar
2.4. Tahapan tersebut sedikit berbeda dengan yang sudah diuraikan di
atas, namun secara esensi tidak ada perbedaan yang mendasar. Seperti
yang terlihat pada gambar tersebut, estimator di PT. Badak NGL juga
terlibat dalam sebagian proses pengadaan, antara lain ikut pre-bid
meeting, melakukan klarifikasi dan negosiasi, serta melakukan evaluasi
penawaran untuk menghasilkan rekomendasi terhadap rekanan.

13
Gambar 2.3 Tahapan Kegiatan Estimasi di PT. Badak NGL.

Tahapan pertama adalah menerima scope of work (SOW) dari


user. Apabila ada yang kurang jelas dari SOW tersebut maka estimator
seharusnya melakukan klarifikasi ke user. Bila SOW sudah dianggap
jelas dan cukup valid maka kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan
work breakdown staructure (WBS). WBS ini akan menjadi dasar dalam
melakukan estimasi mengingat hamper semua pekerjaan yang
ditawarkan oleh PT. Badak NGL ke rekanan proses estimasinya akan
menggunakan model estimasi Engineering yang sifatnya bottom-up.

Begitu WBS selesai dibuat maka proses estimasi biaya proyek


atau pekerjaan akan mulai. Hasil estimasinya ini secara total menjadi
perkiraan biaya proyek atau biaya pekerjaan yang biasanya disebut
sebagai Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Nilai HPS ini akan menjadi dasar
dalam melakukan evaluasi penawaran yang diajukan oleh rekanan
nantinya. Namun sebelum itu tentu saja pihak PT. Badak NGL akan
mengundang rekanan terlebih dahulu dan bila diperlukan akan
dilakukan pre-bid meeting dengan calon-calon rekanan. Estimator akan
ikut dalam pre-bid meeting ini. Selanjutnya nantinya bila sudah ada
penawaran dari rekanan pihak PT. Badak NGL akan melakukan
klarifikasi dan negosiasi di mana estimator juga terlibat di dalamnya.
Tahap paling akhir adalah evaluasi penawaran yang berujung pada
rekomendasi pemenang.
14
Bab 3
Beberapa Metode Cost Estimating
Pada bab ini kita akan mendiskusikan beberapa metode yang bisa
digunakan untuk melakukan estimasi biaya. Masing-masing metode
tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan serta tingkat
kecocokannya berbeda menurut persoalan estimasi biaya yang
dihadapi. Artinya, suatu metode cocok digunakan pada suatu kondisi
tertentu, namun bisa jadi tidak cocok pada kondisi yang lainnya. Ada
empat metode yang akan kita bahas pada bab ini yaitu:

1. Expert Opinion
2. Analogi
3. Parametrik
4. Engineering

3.1 Metode Expert Opinion


Metode ini pada hakekatnya adalah menggunakan pendapat orang yang
dianggap ahli, yakni yang memiliki pengetahuan yang memadai
mengenai pekerjaan atau proyek yang akan diestimasi. Metode ini cocok
digunakan bila tidak tersedia cukup data, antara lain karena proyek
yang sedang diestimasi adalah proyek baru yang belum pernah
dilakukan sebelumnya. Dengan demikian maka akan sepenuhnya
mengandalkan pendapat para ahli tersebut. Dalam prosesnya kalau
dimungkinkan bisa menggunakan lebih dari satu orang expert. Masing-
masing expert ini bisa melakukan estimasi awal secara terpisah tanpa
berkomunikasi satu dengan lainnya. Bila ada selisih estimasi yang cukup
jauh antar expert maka pemimpin atau moderator bisa melakukan
iterasi berikutnya dengan meminta masing-masing expert untuk
15
meninjau lagi atau merevisi nilai estimasinya. Proses ini bisa diulang
beberapa kali sampai diperoleh angka yang relative dekat antara expert
yang satu dengan yang lainnya.

Gambar 3.1 Ringkasan Metode Expert Opinion

3.2 Metode Analogi


Metode analogi dilakukan pada saat estimator hendak mengestimasi
suatu proyek yang bisa dianalogikan dengan proyek lain yang pernah
dilakukan sebelumnya. Namun demikian diperlukan berbagai
penyesuaian karena perbedaan ukuran dan kompleksitas dari proyek
yang sedang diestimasi dengan proyek acuan yang dijadikan analogi.
Walaupun metode analogi ini menggunakan data dari proyek masa lalu,
namun peran dari expert untuk memberikan pendapat mengenai
penyesuaian sangat diperlukan.

16
Gambar 3.2 Situasi-situasi yang Cocok Untuk Penggunaan Metode Analogi

Ilustrasi 1
Sebuah proyek konstruksi dilakukan baru-baru ini dengan luas
bangunan 200 meter persegi. Biaya yang dihabiskan adalah Rp. 500 juta.
Saat ini perusahaan sedang merencanakan proyek sejenis, namun
dengan luas 350 meter persegi. Kualitas dan spesifikasi bangunan
diperkirakan sama. Satu-satunya faktor yang dianggap berpengaruh
adalah luas. Pada kasus ini kita menggunakan pendekatan analogi,
dimana proyek yang sekarang bisa diestimasi akan membutuhkan biaya
350/200 x Rp. 500 juta = Rp 875 juta.

Gambar 3.3 Metode analogi dengan penyesuaian pada skala / ukuran proyek

17
3.3 Metode Parametrik
Pada metode ini kita mencari hubungan statistikal antara besaran biaya
proyek dengan nilai-nilai variabel yang mempengaruhi. Hubungan ini
biasanya disebut sebagai Cost Estimating Relationships (CER).
Pendekatan ini pada dasarnya juga bersifat top-down dimana kita
mengestimasi besaran biaya proyek tanpa harus mencari detil elemen-
elemen aktivitas suatu proyek. Sebagai contoh bila kita membuat
bangunan sering kali kita hanya memperkirakan biaya dari beberapa
faktor utama yaitu luas bangunan, tingkat kualitas, serta daerah di mana
bangunan akan didirikan. Tiga faktor ini biasanya kita sebut sebagai
variabel independen, sedangkan biaya proyek adalah variabel
dependen. Jadi:

Biaya proyek = fungsi dari (luas bangunan, tingkat kualitas, lokasi


proyek)

Hubungan CER pada metode estimasi bisa sangat sederhana yang


hanya menggunakan satu variable independen atau hubungan yang
sangat kompleks yang melibatkan banyak variabel independen dengan
fungsi yang kompleks juga. Salah satu metode klasif yang bisa digunakan
untuk mendapatkan hubungan CER ini adalah metode regresi. Ada
beberapa pendekatan lain yang lebih kompleks dari regresi namun tidak
akan dibahas pada buku ini.

Langkah-langkah untuk menggunakan metode parametric ini


adalah sebagai berikut:

1. Definisikan Y sebagai biaya proyek (yaitu variabel dependen)


2. Definisikan variabel independen yang mempengaruhi biaya
proyek. Misalnya luas bangunan (X1), kualitas bangunan (X2),
lokasi proyek (X3)
3. Kumpulkan data X1, X2, X3 dari proyek konstruksi bangunan di
masa lalu
18
4. Gunakan metode regresi untuk mendapatkan hubungan
matematis antara Y dengan X1, X2, dan X3.

3.4 Metode Engineering


Metode ini sifatnya bottom up, yakni menguraikan proyek menjadi
elemen-elemen yang lebih kecil sampai pada level di mana tiap aktivitas
atau elemen dari proyek bisa diestimasi biayanya. Biaya masing-masing
elemen ini dijumlahkan sedemikian rupa sehingga pada tingkatan paling
atas akan diperoleh estimasi biaya proyek secara keseluruhan. Oleh
karena itu, pada metode ini setiap proyek harus dibuat WBS (Work
Breakdown Structure) nya. WBS yang jelas dan akurat akan sangat
memudahkan proses estimasi dengan metode engineering ini. Dari
informasi yang didapat, PT. Badak NGL hampir selalu menggunakan
metode estimasi engineering ini dalam melakukan estimasi.

19
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

20
Bab 4
Contoh Cost Estimating di PT.
Badak NGL
Secara umum proses estimasi di PT. Badak NGL diklasifikasikan dari sisi
sistem pembayaran dan tipe pengadaan. Sistem pembayaran dibagi
menjadi tiga yaitu lumpsum, harga satuan, dan gabungan. Sedangkan
tipe pengadaan dibagi menjadi dua tipe yaitu tenaga kerja dan borongan.
Pada bab ini akan dibahas masing-masing tipe tersebut disertai dengan
contoh dan komponen-komponen yang harus diestimasi.

4.1 Sistem Pembayaran


Sistem pembayaran adalah cara atau aturan yang digunakan oleh PT
Badak NGL untuk melakukan pembayaran terhadap jasa rekanan dan
penentuan harga suatu pekerjaan.

1. Lumpsum
Sistem pembayaran menggunakan lumpsum yaitu besaran nilai
pekerjaan yang sudah ditentukan di awal dan tidak akan berubah.
Pengurangan maupun penambahan biaya pada saat realisasi
proyek tidak bisa merubah jumlah yang sudah ditetapkan dalam
kontrak lumpsum. Contohnya adalah:
 Biaya upah, tunjangan, dan perlengkapan pada tipe
kontrak tenaga kerja.
 Biaya pekerjaan konstruksi yang mencakup sektor civil,
mechanical, electrical, dan instrument pada tipe borongan.

21
2. Harga Satuan
Harga satuan merupakan biaya yang belum dapat ditentukan di
awal, belum pasti kuantitasnya, serta dibayarkan berdasarkan
hasil kerja. Contohnya adalah:
 Biaya lembur dan santunan akhir kontrak pada biaya
tenaga kerja.
 Biaya mitigasi untuk resiko pembangunan proyek pada
tipe borongan.
3. Gabungan
Sistem gabungan adalah kombinasi dari kedua sistem sebelumnya.
Di dalam sistem ini sebagian elemen pekerjaan dibayar dengan
metode lumpsum dan sebagian yang lainnya dibayar dengan
metode harga satuan.

4.2 Tipe Pengadaan


Tipe pengadaan dibagi menjadi dua yaitu untuk tenaga kerja dan
borongan.

1. Tenaga Kerja
Pada tipe ini PT. Badak NGL melakukan pengadaan terhadap
tenaga kerja yang dibutuhkan. Secara umum tenaga kerja dibagi
menjadi dua jenis yaitu organik dan non-organik. Jasa tenaga kerja
organik adalah pegawai yang pengangkatan dan
pemberhentiannya ditetapkan oleh direksi. Tenaga kerja non-
organik dapat disebut juga tenaga kerja honorer atau pegawai
kontrak. Kedua jenis tersebut memiliki komponen biaya yang
sama seperti yang akan dijelaskan di bagian berikutnya dari bab
ini.
2. Borongan
Tipe ini adalah untuk pengadaan jasa pelaksanaan suatu pekerjaan
dimana rekanan akan menggarap pekerjaan dengan sistem

22
borongan yang artinya harga yang ditawarkan sudah mencakup
biaya tenaga kerja, biaya material, peralatan, dan biaya-biaya
lainnya. Penetapan harga bisa dilakukan secara lumpsum
bergantung pada kebutuhan proyek yang akan dilaksanakan.
Terdapat empat klasifikasi kategori pekerjaan yang biasa
dilakukan oleh PT Badak NGL yaitu Civil, Mechanical, Electrical,
dan Instrument.

4.3 Komponen Biaya


Pemahaman terhadap struktur biaya sangat penting dalam pekerjaan
estimasi. Struktur biaya yang dimaksud adalah biaya apa saja yang
menjadi bagian-bagian dari suatu biaya proyek atau pekerjaan. Pada
kebanyakan pekerjaan, biaya yang akan diusulkan oleh rekanan akan
mencakup biaya tenaga kerja, biaya bahan dan biaya peralatan. Di luar
itu masih akan ada biaya overhead serta profit yang harus dimasukkan.
Namun struktur biaya ini bisa berubah bila yang diadakan adalah tenaga
kerja. Di samping itu, metode pembayaran (lump sum atau harga
satuan) juga akan mempengaruhi struktur biaya dari suatu pengadaan.
Berikut adalah komponen-komponen biaya yang umumnya dimasukkan
dalam biaya proyek atau jasa.

23
Tenaga Kerja Borongan
LUMPSUM
Biaya Tenaga Kerja Biaya Tenaga Kerja
Biaya Perlengkapan Kerja Biaya Peralatan
Pekerjaan Harga Satuan Biaya Material
HARGA SATUAN
Biaya lembur Asuransi CAR
Santunan Akhir Kontrak (SAK) Eskalasi
Eskalasi
Biaya tak terduga
OVERHEAD
PROFIT

Gambar 4.1 Komponen Biaya

Penentuan Profit
Profit adalah keuntungan yang akan diambil oleh perusahaan rekanan
dari pelaksanaan pekerjaan atau pemasokan tenaga kerja. Keuntungan
ini besarnya ditambahkan di atas semua biaya-biaya yang diperkirakan
akan keluar. Besarnya ditentukan sendiri oleh perusahaan rekanan,
namun ada batasan yang dianggap sebagai keuntungan yang wajar,
yaitu:

 20% untuk OE/HPS s/d 10 Jt


 15% untuk OE/HPS lebih dari 10 JT s/d 100 jt
 10 % untuk OE/HPS lebih dari 100 jt s/d 600 jt
 Untuk nilai pengadaan lebih dari Rp 600.jt ditentukan oleh
mekanisme estimator

24
Eskalasi
Harga suatu barang ataupun upah tenaga kerja biasanya meningkat dari
tahun ke tahun. Untuk proyek yang pelaksanaannya lama (misalnya
lebih dari satu tahun), diperlukan penyesuaian harga-harga tersebut. Di
PT. Badak NGL, kenaikan komponen-komponen biaya ini sudah
diperhitungkan untuk proyek yang waktunya lama. Peningkatan ini
dinamakan dengan eskalasi. Nilai eskalasi ditentukan oleh rekanan dan
biasanya nilainya minimum sebesar 6%.

4.4 Contoh Perhitungan


Pada bagian ini akan ditampilkan beberapa contoh perhitungan dalam
estimasi biaya proyek atau pekerjaan di PT Badak NGL. Contoh-contoh
ini mengikuti template yang sudah ada dan selama ini sudah digunakan
dalam melakukan estimasi di PT. Badak NGL.

4.4.1 Kontrak Jasa Tenaga Kerja dengan Sistem Lumpsum dan


Harga Satuan
Secara garis besar, penghitungan nilai kontrak untuk pengadaan jasa
tenaga kerja sistem lumpsum hampir sama dengan sistem harga satuan.
Yang menjadi pembeda adalah pada sistem lumpsum, biaya yang
dibayar/ditawarkan tidak akan berubah, akan tetapi perlakuan
pembayarannya sama dengan sistem harga satuan. Untuk sistem harga
satuan, akan selalu ada review untuk setiap pekerjaannya yang
memungkinkan harga bisa mengalami perubahan atau penyesuaian.
Seperti yang disebutkan di atas, pembayaran selama ini mengacu pada
2 sistem yaitu lumpsum dan harga satuan. Untuk sistem lumpsum
murni, komponen biaya lembur dan Santunan Akhir Kontrak (SAK)

25
tidak dihitung. Sistem lumpsum murni biasanya digunakan untuk
pekerja dengan skill tertentu seperti inspektur proyek.Pada dasarnya,
sistem pembayaran selama ini mengacu pada 2 sistem, yaitu lumpsum
dan harga satuan. Untuk sistem lumpsum murni, lembur dan Santunan
Akhir Kontrak (SAK) tidak dihitung. Sistem lumpsum murni biasanya
digunakan untuk pekerja dengan skill tertentu, seperti inspektur
proyek.

Berikut adalah form-form yang digunakan PT Badak NGL sebagai


dasar penghitungan nilai kontrak jasa tenaga kerja dengan sistem
lumpsum dan harga satuan (dalam hal ini akan diambil contoh proyek
INSPEKTUR LTI & ESTITRAIN B 2013):

a. Form 1
Form 1 adalah Rekapitulasi Biaya Proyek yang merupakan
ringkasan dari perhitungan keseluruhan biaya proyek dan
sebagian detilnya ada di form yang lain. Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan saat mengisi form 1, antara lain:
1. Kolom biaya tenaga kerja, perlengkapan kerja, dan pekerjaan
harga satuan akan secara langsung terhubung dengan Form
4, sehingga estimator tidak perlu mengisi secara manual.
2. Kolom persentase overhead juga secara langsung akan
terhubung dengan Form 7.
3. Untuk presentase profit dan CAR, estimator mengisi
berdasar besar profit yang diinginkan sesuai dengan aturan
yang dijelaskan di awal Bab 4 buku ini.

26
OWNER ESTIMATE
( REKAPITULASI BIAYA PROYEK )

PROYEK : INSPEKTUR LTI & ESTI TRAIN B 2013

NO.KONTRAK : CB-13015
PT BADAK NGL SISTEM KONTRAK : LUMPSUM (L/S)
SCHEDULE : 3.25 bulan

FORM - 01
NO URAIAN TOTAL BIAYA KETERANGAN

I. PEKERJAAN HARGA SATUAN


1 BIAYA TENAGA KERJA Rp. 441,742,493.57 DARI FORM 4

2 BIAYA PERLENGKAPAN KERJA Rp. 51,232,530.00 DARI FORM 4

3 PEKERJAAN HARGA SATUAN Rp. 39,827,311.66 DARI FORM 4

SUBTOTAL-1 = [1 s/d 3] Rp. 532,802,335.22


4 OVER HEAD 6.56% x Subtotal-1 Rp. 34,930,751.97 DARI FORM 7

5 PROFIT 5.50% x {Subtotal-1 + (4)} Rp. 31,225,319.80


SUBTOTAL-2 = [Subtotal-1]+[4]+[5] Rp. 598,958,406.99
6 CAR 0.18% x {Subtotal-1 + (4) + (5)} Rp. 1,078,125.13

7 PPN 10% 10.00% Rp. 59,895,840.70

8 TOTAL BIAYA NTE Rp. 659,932,372.82

9 PEMBULATAN Rp. 660,000,000.00

Gambar 4.2 Form 1 Rekapitulasi Biaya Proyek Kontrak Jasa Tenaga Kerja

b. Form 4
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengisi form 4 antara lain:
1. Untuk kolom UPAH ALL IN SEBULAN, estimator harus
mengacu pada lembar upah, BTT, dan BTL yang telah
disesuaikan tiap tahunnya.
2. Untuk harga satuan akomodasi, perlengkapan dan
keselamatan kerja (transportasi), perlengkapan dan
keselamatan kerja, harga ditentukan oleh PT Badak NGL.
Dengan demikian estimator hanya perlu memperhatikan di
jumlah/QTY dan satuan.
3. Biaya pekerjaan lembur hanya diisi apabila pekerja
melakukan kerja lembur. Penghitungannya tetap mengacu
pada lembar upah, BTT, dan BTL. Rate lembur diperoleh
dengan cara membagi upah pokok dengan 173 jam.

27
Gambar 4.3 Form 4 Kontrak Jasa Tenaga Kerja Lumpsum

28
Gambar 4.4 Form 4 Kontrak Jasa Tenaga Kerja Harga Satuan

29
c. Form 7
Form ini bertujuan untuk menghitung persentase biaya overhead
yang dikeluarkan. Form ini berisi uraian biaya langsung dan biaya
tidak langsung dari proyek yang ada. Detail dari biaya overhead
atau biaya tidak langsung yang dikeluarkan diuraikan berdasarkan
kebutuhan. Uraian tersebut dilengkapi dengan kuantitas yang
dibutuhkan dan harga per bulan yang akan dikeluarkan.
Persentase biaya overhead didapatkan dari membagi biaya tidak
langsung dengan total biaya langsung. Persentase tersebut
merupakan input dari Form 1.

Gambar 4.5 Form 7 Analisa Prosentase Overhead

30
d. Form 8
Form ini merupakan penjabaran dari perhitungan jumlah jam yang
dibutuhkan untuk setiap tenaga kerja. Hasil dari perhitungan
digunakan sebagai input dari Form 4. Dalam form ini, estimator
perlu mengisikan perkiraan persentase kerja tiap tenaga kerja
sehingga di dapatkan jumlah jam totalnya.

PENAWARAN
Nama Rekanan (PERHITUNGAN KOMPOSISI KEBUTUHAN TENAGA KERJA)
PROYEK : JASA PENYEDIA TENAGA KERJA
PEMBERSIHAN DAN PERAWATAN KOLAM
RENANG DI PT BADAK NGL BONTANG
NO. KONTRAK : CB-16028
SISTEM KONTRAK : LUMP SUM (L/S)
SCHEDULE : 11 BULAN
FORM - 08
TOTAL KOMPOSISI TENAGA KERJA PER GROUP
KLASIFIKASI MANPOWER
KETERANGAN
CL-1
TOTAL MANHOURS 39,963.00
BOBOT PEKERJAAN (%) 100.00%
BOBOT TOTAL MHRS
1 Controler II (Foreman) 1.00 9.09% 3,633.00
2 Life Guard 10.00 90.91% 36,330.00

TOTAL MAN POWER 11.00


TOTAL PER CREW LEVEL 100.00% 39,963.00
L/S

Gambar 4.6 Form 8 Perhitungan Komposisi Kebutuhan Kerja

e. Form Upah, BTT, dan BTL


Form ini menjelaskan tentang skema upah, BTT (Bantuan
Tunjangan Tunai), dan BTL (Bantuan Tunjungan Lain). Untuk
upah, BTT, dan BTL sendiri, nominalnya akan meningkat tiap
tahunnya, tergantung aturan yang ada. Yang perlu diperhatikan
adalah kenaikan upah minimum per tahun adalah 6%, apabila
kurang dari ketentuan akan dinyatakan gugur.

31
Sebelum mengisi upah, BTT, dan BTL, estimator harus mengetahui
jenis klasifikasi dan jabatan pekerjaan. Secara total, ada 17
klasifikasi pekerjaan beserta jabatan pekerjaan yang sesuai
dengan klasifikasi tersebut. Selain itu, estimator juga harus
mengelompokkan pekerjaan berdasar tenaga inti dan
pendukungnya. Berikut adalah tabel klasifikasi dan jenis
pekerjaan dan juga tampilan form upah, BTT, dan BTL. Angka-
angka yang digunakan tentunya adalah angka yang sesuai dengan
tahun yang sesuai. Besaran angka-angka tersebut perlu
diperbaharui tiap tahun.

Gambar 4.7 Klasifikasi Jabatan

32
Gambar 4.8 Perhitungan Minimal Upah, BTT, dan BTL

f. Form Sewa Peralatan serta MOB/DEMOB


Form ini menjelaskan tentang detail penghitungan biaya sewa
peralatan dan juga biaya MOB/DEMOB. Untuk komponen biaya
sewa peralatan, ada beberapa elemen yang harus diperhatikan,
antara lain:
1. Harga Perolehan (P)
2. Usia Pakai yang sudah ditentukan (U)
3. Salvage Value (S)
4. Depresiasi per tahun (D), yang didapat dari rumus = (100% -
S) / U
5. Bunga Bank per tahun (RATE)
6. Lama Sewa Lahan dalam satuan bulan (NPER)
7. Nilai sisa setelah 12 bulan (L) = (100% - D x NPER / 12) x P

33
Sedangkan biaya MOB/DEMOB adalah biaya
mobilisasi/demobilisasi apabila melakukan suatu perjalanan dari
dan ke PT Badak NGL. Berikut adalah tampilan form sewa
peralatan dan MOB/DEMOB.

Gambar 4.9 Perhitungan Sewa Peralatan dan MOB/DEMOB

34
4.4.2 Kontrak Borongan Pekerjaan dengan Sistem Lumpsum
Penetapan harga borongan lumpsum sesuai dengan kebutuhan proyek
yang akan dilaksanakan. Dalam borongan ini ada empat sub bidang yaitu
Civil, Mechanical, Electrical dan Instrument. Terdapat 8 form yang perlu
dilengkapi untuk mengestimasi nilai kontrak borongan lumpsum.

a. Form 1
Form ini merupakan form rekapitulasi estimasi biaya yang
ditunjukkan pada gambar berikut. Pada kolom total biaya,
estimator tidak perlu mengisi karena akan terisi secara otomatis
jika form lain sudah dilengkapi. Isi pada form 1 hampir sama
dengan sistem pengadaan tenaga kerja yang sudah dijelaskan di
atas, namun pada contoh ini pembayaran yang digunakan adalah
dengan sistem lumpsum saja, sehingga rekapitulasi tidak memiliki
harga satuan. Dalam HPS, besaran persentase overhead, profit,
asuransi, dan PPN akan ditentukan oleh estimator. Perhitungan
besaran asuransi CAR pada contoh ini sebesar 0.11%, tidak
termasuk PPN 10%.

35
Gambar 4.10 Rekapitulasi Biaya Proyek dengan Sistem Lumpsum

b. Form 2
Berisi Perencanaan biaya unit pekerjaan. Langkah pertama yang
dilakukan adalah menerjemahkan gambar menjadi aktivitas-
aktivitas kerja dan menganalisa kebutuhan tenaga kerja,
peralatan, dan material. Pada proyek contoh ini terdapat beberapa
klasifikasi pekerjaan pengadaan dan konstruksinya. Diantaranya
adalah preparation, mechanical and civil works untuk setiap HOP
dan painting. Berikut adalah breakdown dari pekerjaan sipil pada
salah satu HOP.

36
Gambar 4.11 Contoh Breakdown dari Pekerjaan Sipil

Pada setiap elemen pekerjaan, QTY mengacu pada kuantitas dari


elemen pekerjaan tersebut dalam satuan yang didefinisikan di sebelah
kanannya. Pada tabel terlihat satuan dari tiap elemen pekerjaan bisa
berbeda-beda, antara lain meter kubik, meter persegi, unit, dan
sebagainya. Total manhours untuk setiap unit elemen pekerjaan
tersebut juga diperkirakan, demikian juga level pekerja yang diperlukan
(Crew level). Dengan demikian setiap elemen pekerjaan tersebut bisa
diperkirakan biayanya. Sebagai contoh, elemen pekerjaan perbaikan
lantai keramik (no. 10) luasnya diperkirakan 23.40 meter persegi
dengan kebutuhan 1.2 manhour pekerja CL-1 per meter persegi. Dengan
demikian perkiraan manhours yang dibutuhkan adalah 28.08 yang
merupakan perkalian dari 23.4 dengan 1.2. Estimasi biaya peralatan dan
biaya material juga dilakukan untuk tiap elemen biaya.
Note: Pastikan tidak ada bagian yang terlewat atau terhitung lebih
dari satu kali. Berikan tanda pada gambar yang sudah di-breakdown.

37
Gambar 4.12 Form 2 Kontrak Borongan Pekerjaan

38
c. Form 3
Form 3 berisi perhitungan satuan jam orang per crew, merupakan
rekapitulasi yang dapat terisi secara otomatis jika form 4 sudah
terisi. Pada form ini semua kategori tenaga kerja akan ditampilkan
lengkap dengan uraian biaya tenaga kerja beserta biaya peralatan
yang dibutuhkan pada satuan rupiah tiap jam. Pada contoh ini
kategori yang ditampilkan adalah CL-1 dan CL-2. Sebagai contoh,
pada form ini besaran upah per manhour untuk CL-1 adalah Rp.
22,790.48 sedangkan biaya peralatan yang digunakan adalah Rp.
6,168.62. Kedua angka ini kemudian menjadi input pada form 2
seperti yang terlihat di atas. Berikut tampilan dari form 3.

Gambar 4.13 Form 3 Harga Satuan Jam Orang per Crew

39
d. Form 4
Form 4 berisi perhitungan biaya pada setiap level tenaga kerja
yang hasilnya masuk pada form 3. Jadi, form ini merupakan detail
dari Form 3. Sebagai contoh, CL-1 yang dimaksud di atas terdiri
dari 4 kelas tenaga kerja mulai dari foremen sampai labour.
Perhitungan upah di sesuaikan dengan klasifikasi tenaga kerja dan
perhitungan minimal upah yang berlaku di lapangan saat ini.
Sedangkan total orang atau tenaga kerja yang dibutuhkan dirinci
pada Form 8. Berikut ini tampilan dari Form 4.

Gambar 4.14 Form 4 Perhitungan Analisa Biaya

e. Form 7
Form ini berfungsi untuk menghitung persentase biaya overhead
yang dikeluarkan. Form ini berisi uraian biaya langsung dan biaya
tidak langsung dari proyek yang ada. Detail dari biaya overhead

40
atau biaya tidak langsung yang dikeluarkan diuraikan berdasarkan
kebutuhan. Uraian tersebut dilengkapi dengan kuantitas yang
dibutuhkan dan harga perbulan yang akan dikeluarkan.
Persentase biaya overhead didapatkan dari membagi biaya tidak
langsung dengan total biaya langsung. Persentase tersebut akan
menjadi input dari Form 1.

Gambar 4.15 Form 7 Perhitungan Persentase Biaya Overhead

f. Form 8
Form ini merupakan penjabaran dari perhitungan jumlah jam yang
dibutuhkan untuk setiap tenaga kerja. Hasil dari perhitungan
digunakan sebagai input dari Form 4. Pada form ini, Estimator
perlu mengisikan perkiraan persentase kerja tiap tenaga kerja
sehingga didapatkan jumlah jam totalnya.

41
Gambar 4.16 Form 8 Rincian Perhitungan Jumlah Jam Tenaga Kerja

4.4.3 Kontrak Borongan Pekerjaan dengan Sistem Harga Satuan


Pada bagian ini akan ditunjukkan contoh perhitungan nilai proyek
dengan sistem borongan pekerjaan yang menggunakan harga satuan.
Model ini digunakan bila baik PT. Badak NGL maupun calon rekanan
ingin agar kontrak tidak diikat secara lumpsum karena adanya
kemungkinan yang cukup tinggi terjadi perubahan pada volume
pekerjaan. Pada model ini, yang disepakai adalah harga satuan,
sedangkan pembayaran akan disesuaikan dengan volume pekerjaan riil
yang terjadi. Di PT. Badak NGL, berbagai form untuk keperluan estimasi
nilai proyek sudah tersedia. Di sini akan dijelaskan sebagian dari hal-hal
yang harus dilakukan estimator dalam mengestimasi biaya proyek

42
dengan model harga satuan ini. Formulir telah ditetapkan terlebih
dahulu oleh estimator, namun apabila ada kekurangan dan kelebihan
dapat disesuaikan oleh pihak rekanan.

Note: Kuantitas dan harga satuan dari uraian pekerjaan merupakan


hal yang akan dievaluasi pada sistem harga satuan. Tidak selalu harga
yang lebih rendah yang menjadi pemenang.

a. Form 1
Form 1 berisi rekapitulasi biaya proyek dimana inputnya berasal
dari form-form yang lain. Beberapa hal yang dapat diperhatikan
saat mengisi form ini adalah:
1. Upah tenaga kerja, alat, dan material merupakan hasil total
dari Form 2.
2. Terdapat komponen eskalasi apabila pekerjaan dijadwalkan
lebih dari 12 bulan atau melewati tahun yang berbeda. Pada
contoh ini terdapat eskalasi harga sebanyak 3 kali karena
proyek di lakukan dalam 3 tahun yang berbeda.
3. Pembulatan dari total penawaran dilakukan di akhir setelah
semua komponen telah dihitung.

43
PENAWARAN REKANAN
( REKAPITULASI BIAYA PROYEK )
PREVENTIVE MAINTENANCE DAN PERBAIKAN KETEL UAP
PROYEK :
MODUL I & II TAHUN 2014 - 2017 DI PT BADAK NGL
NO. KONTRAK : CA-14055
SISTEM KONTRAK : HARGA SATUAN (H/S)
KONTRAKTOR SCHEDULE : 30 BULAN KALENDER
FORM - 01
NO URAIAN PEKERJAAN TOTAL PENAWARAN KETERANGAN

REKAPITULASI :

1 BIAYA UPAH TENAGA KERJA - Dari Form-02

2 BIAYA ALAT DAN MATERIAL - Dari Form-02

3 NILAI ESKALASI TAHUN 2015 (7,326,849,790.21) Dari Form Eskalasi

4 NILAI ESKALASI TAHUN 2016 - Dari Form Eskalasi

5 NILAI ESKALASI TAHUN 2017 - Dari Form Eskalasi

6 SUB TOTAL I = [ 1 + 2 + 3 + 4 + 5 ] (7,326,849,790.21)

7 ASURANSI ALL RISK (CAR) 0.20% (14,653,699.58)

8 TOTAL BIAYA TIDAK MELEBIHI ( NTE ) = [ 6 + 7 ] (7,341,503,489.79)

PEMBULATAN (7,341,503,000.00)

Gambar 4.17 Form 1 Rekapitulasi Biaya Proyek

Berikut adalah contoh tampilan dari Form 2.

44
PENAWARAN REKANAN
( HARGA SATUAN PER ITEM PEKERJAAN )
PROYEK : PREVENTIVE MAINTENANCE DAN PERBAIKAN KETEL UAP MODUL I & II TAHUN 2014 - 2017 DI PT BADAK NGL
NO. KONTRAK : CA-14055
SISTEM KONTRAK : HARGA SATUAN (H/S)
SCHEDULE : 30 BULAN KALENDER
FORM - 02
GROUP TAG NO/ MANHOURS CREW RATE MHRS SUB TOTAL
NO URAIAN PEKERJAAN QTY UNIT TOTAL HARGA SATUAN
CODE SIZE LEVEL
UNIT TOTAL UPAH ALAT & MAT'L UPAH ALAT & MAT'L
Petunjuk Perhitungan [1] [2] [3] [4] = [1]x [3] [5] [6] [7] [8] = [4] x [6] [9] = [4] x [7] [10] = [8] + [9] [11] = [10] : [1]
I BOILER 31-F-1 S/D 31-F-30
A AIR INTAKE SYSTEM
1 F1A01 Pembersihan & greasing F/D fan damper (mekanis) 0,5" - 2" 45 set 8.00 360.00 CL-4 136.72 47.02 49,217.90 16,926.72 66,144.61 1,469.88
2 F1A02 Pembersihan & greasing F/D fan (mekanis) 0,5" - 2" 45 set 8.00 360.00 CL-4
3 F1A03 Pembersihan Air Intake Duct & screen - manual 3" - 8" 22 unit 16.00 352.00 CL-4
4 F1A04 Perbaiki/Ganti Expanded metal pada silencer 3" - 8" 105 m2 24.00 2,520.00 CL-4
5 F1A05 Perbaiki/Ganti Expanded metal filter udara 3" - 8" 105 m2 6.00 630.00 CL-4
6 F1A06 Pemasangan silencer (Glass Wool) 10" to Up 154 m2 8.00 1,232.00 CL-4
7 F1A07 Open & Install Manway Air Intake 10" to Up 154 ea 4.00 616.00 CL-4
SUBTOTAL A 6,070.00
Note:
1. Pembersihan mekanis adalah dengan menggunakan hand tool
2. Pemasangan manway air-intake termasuk pemasangan gasket

III MANHOUR BASIC


1 SEB201401 JUNIOR SUPERVISOR N/A 206 Mhrs 1.00 206.00 CC-1
1 SEB201402 MECHANIC IV N/A 242 Mhrs 1.00 242.00 CC-2
2 SEB201403 MECHANIC III N/A 264 Mhrs 1.00 264.00 CC-3
3 SEB201404 MECHANIC II N/A 264 Mhrs 1.00 264.00 CC-4
4 SEB201405 MECHANIC I N/A 292 Mhrs 1.00 292.00 CC-5
4 SEB201406 HELPER III N/A 2,574 Mhrs 1.00 2,574.00 CC-6
5 SEB201407 WELDER DEPNAKER N/A 618 Mhrs 1.00 618.00 CC-7
5 SEB201408 OPERATOR-II (Crane Jembatan) N/A 110 Mhrs 1.00 110.00 CC-8
SUB TOTAL - III 4,570.00
Note:
MANHOUR BASIC digunakan apabila pekerjaan tidak ada dalam harga satuan dan jam yang diperhitungkan sesuai jam aktual.

Gambar 4.18 Form 2 Uraian Pekerjaan

45
b. Form 2
Form ini berisi uraian pekerjaan dari proyek yang dikerjakan.
Masing-masing pekerjaan dipecah menjadi detail pekerjaan.
Masing-masing detail pekerjaan dilengkapi dengan harga upah,
alat, dan materialnya. Yang perlu diperhatikan adalah:
1. Penentuan kuantitas dan harga satuan dari masing-masing
pekerjaan menjadi fokus dalam pengisian form. Harga yang
kurang wajar atau lebih mahal dapat berpengaruh pada hasil.
2. Kelengkapan uraian pekerjaan juga hal yang penting,
diusahakan agar tidak ada pekerjaan yang terlewatkan.
3. Persentase overhead didapatkan dari Form 7.
4. Persentase dari profit dapat ditentukan oleh rekanan
berdasar ketentuan rentang profit yang sudah ditetapkan.
5. Grand total dari Form 2 ini menjadi input pada Form 1.

c. Form 4
Analisis atau rincian biaya dari tenaga kerja ditampilkan pada
form ini. Setiap crew level didefinisikan dengan jelas biaya untuk
upah, tunjangan, lembur, peralatan yang dibutuhkan, kendaraan,
juga tenaga kerja pendukungnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam form ini adalah:
1. Jumlah kebutuhan orang diprediksi dan diuraikan dalam
Form 8.
2. Persentase untuk lembur dapat diprediksi oleh estimator.
3. Persentase detail tunjangan disesuaikan dengan ketentuan
yang sedang berlaku di perusahaan.

Berikut merupakan gambar dari Form 4.

46
PENAWARAN REKANAN
ANALISIS RINCIAN BIAYA PER MANHOUR
PREVENTIVE MAINTENANCE DAN PERBAIKAN KETEL UAP MODUL I & II TAHUN
PROYEK :
2014 - 2017 DI PT BADAK NGL
NO. KONTRAK : CA-14055
SISTEM KONTRAK : HARGA SATUAN (H/S)
SCHEDULE : 30 BULAN
FORM - 04

1 COMPOSITE CREW CL-1 15.75%


1.1 UPAH BULANAN TERMASUK NATURA
URAIAN GROUP TOTAL ORANG DURASI UPAH SEBULAN TOTAL UPAH KET
Junior Supervisor KLASIF 10 (G) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-IV KLASIF 9 (F) = 0.57 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-III KLASIF 8 (E) = 0.71 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-II KLASIF 7 (D) = 0.75 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-I KLASIF 6 (C) = 0.94 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Helper-III KLASIF 5 (B) = 1.04 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Welder Depnaker KLASIF 12 (I) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Operator-II (Crane
KLASIF 7 (D) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Jembatan)
SUBTOTAL = 4.71 org 0.00 /Kontrak

1.2 BANTUAN TUNJANGAN TRANSPORT (BTT)


URAIAN GROUP TOTAL ORANG DURASI BTT SEBULAN TOTAL BTT KET
Junior Supervisor KLASIF 10 (G) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-IV KLASIF 9 (F) = 0.57 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-III KLASIF 8 (E) = 0.71 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-II KLASIF 7 (D) = 0.75 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-I KLASIF 6 (C) = 0.94 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Helper-III KLASIF 5 (B) = 1.04 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Welder Depnaker KLASIF 12 (I) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Operator-II (Crane KLASIF 7 (D) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Jembatan)
SUBTOTAL 4.71 org 0.00 /Kontrak

1.3 BANTUAN TUNJANGAN LAIN (BTL)


URAIAN GROUP TOTAL ORANG DURASI BTL SEBULAN TOTAL BTL KET
Junior Supervisor KLASIF 10 (G) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-IV KLASIF 9 (F) = 0.57 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-III KLASIF 8 (E) = 0.71 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-II KLASIF 7 (D) = 0.75 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Mechanic-I KLASIF 6 (C) = 0.94 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Helper-III KLASIF 5 (B) = 1.04 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Welder Depnaker KLASIF 12 (I) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Operator-II (Crane KLASIF 7 (D) = 0.24 org 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Jembatan)
SUBTOTAL 4.71 org 0.00 /Kontrak

1.4 LEMBUR
URAIAN PERKIRAAN TOTAL UPAH
DURASI TOTAL UPAH/BLN KET
LEMBUR (%) LEMBUR
Junior Supervisor = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Mechanic-IV = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Mechanic-III = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Mechanic-II = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Mechanic-I = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Helper-III = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Welder Depnaker = 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Operator-II (Crane
= 44.19% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
Jembatan)
SUBTOTAL 0.00 /Kontrak

Gambar 4.19 Analisis Rincian Biaya per Manhour

47
1.5 TUNJANGAN PEKERJA
URAIAN PERSENTASE TOTAL BIAYA
DURASI TOTAL UPAH/BLN KET
[%] TUNJANGAN
Jamsostek [JKK, JK, JHT] = 4.89% 30 Bulan - 0.00 /Kontrak
JPK Klasifikasi 10 s/d 17 max Rp 4.725.000 = 6.00% 30 Bulan 2,226,485.55 4,007,673.99 /Kontrak
Jamsostek [JPK] = 6.00% 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Pesangon = 10.00% 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Tunjangan Perumahan & Pengobatan x Pesangon = 15.00% 30 Bulan 0.00 /Kontrak
Cuti = UPH + BTT + BTL = 8.33% 30 Bulan 0.00 /Kontrak
THR = UPH + BTT + BTL = 8.33% 30 Bulan 0.00 /Kontrak
SUBTOTAL 4,007,673.99 /Kontrak

1.6 PERLENGKAPAN KERJA & KESELAMATAN KERJA


URAIAN TOTAL PERSENTASE
QTY HARGA SATUAN TOTAL BIAYA KET
ORANG [%]
Pakaian khusus welder 0.24 orang x 100% 2 Psg 0.00 /Kontrak
(jaket
Welderlas)
Shield (Topeng las) 0.24 orang x 100% 2 Buah 0.00 /Kontrak
Safety Shoes sesuai 4.71 orang x 100% 5 Psg 0.00 /Kontrak
standard SII/SNI
Safety Helmet yanghijau
warna asli 4.71 orang x 100% 1 Buah 0.00 /Kontrak
standard
Ear plug, MSA
komplit plastik 4.71 orang x 100% 3 Box 0.00 /Kontrak
box,Flexi ada tali
Seragam Kerja berlengan 4.71 orang x 100% 1 Stel 0.00 /Kontrak
panjang,
Coverall bahan 100% 4.71 orang x 100% 5 Stel 0.00 /Kontrak
Jas Hujan (celana + baju) 4.71 orang x 100% 2 Stel 0.00 /Kontrak
SUBTOTAL 0.00 /Kontrak

1.7 TENAGA KERJA PENDUKUNG


URAIAN BOBOT [%] DURASI HARGA SATUAN TOTAL BIAYA KET
Tenaga Kerja Pendukung = 15.75% 30 Bulan Rp 283,500.00 1,339,698.76 /Kontrak
SUBTOTAL 1,339,698.76 /Kontrak

BIAYA TENAGA KERJA SELAMA KONTRAK 5,347,372.75 /Kontrak


TOTAL JAM SELAMA KONTRAK (dari Form - 08) 24,456.00 /Kontrak
BIAYA TENAGA KERJA PER JAM = [SUB TOTAL-1 S/D 7 : TOTAL JAM SELAMA KONTRAK] = 218.65 / Jam

1.8 KENDARAAN OPERASIONAL


URAIAN BOBOT [%] DURASI HARGA SATUAN TOTAL BIAYA KET
Kendaraan dan Peralatan Kantor = 15.75% 30 Bulan Rp 243,333.33 1,149,888.41 /Kontrak
SUBTOTAL 1,149,888.41 /Kontrak

1.9 PERLATAN KERJA DAN MATERIAL HABIS PAKAI


URAIAN BOBOT [%] DURASI HARGA SATUAN TOTAL BIAYA KET
Peralatan kerja dan material habis pakai = 15.75% 30 Bulan Rp - 0.00 / Jam
SUBTOTAL 0.00 / Jam

1.10 BIAYA MAKAN DAN MINUM


URAIAN BOBOT [%] DURASI HARGA SATUAN TOTAL BIAYA KET
Penyediaan Makan dan Minuman = 15.75% 30 Bulan Rp - 0.00 /Kontrak
SUBTOTAL 0.00 /Kontrak

BIAYA ALAT & MATERIAL SELAMA KONTRAK 1,149,888.41 /Kontrak


TOTAL JAM SELAMA KONTRAK (dari Form - 08) 24,456.00 /Kontrak
BIAYA ALAT & MATERIAL PER JAM = [SUB TOTAL-8 S/D 9 : TOTAL JAM SELAMA KONTRAK] = 47.02 / Jam

Gambar 4.20 Analisis Rincian Biaya per Manhour Lanjutan

48
d. Form 5
Form 5 merupakan uraian dari Form 4. Pada Form 4, untuk
composite crew terdiri dari beberapa tenaga kerja yaitu junior
supervisor, mechanic, operator, dan lain-lain. Pada Form 5 ini
biaya untuk tenaga kerja, contohnya junior supervisor, dilengkapi
dengan rincian upah, BTT, BTL, tunjangan pekerja, perlengkapan
dan keselamatan kerja. Hal yang perlu diperhatikan pada bagian
ini adalah:
1. Tunjangan pekerja disesuaikan dengan peraturan yang
sedang berlaku.
2. Perlengkapan kerja tidak perlu disesuaikan dengan jumlah
tenaga kerja, namun di sesuaikan dengan kebutuhan.

Berikut adalah gambar dari Form 5.

49
Gambar 4.21 Form 5 Uraian Biaya Setiap Tenaga Kerja

e. Form 7
Sama dengan Form 7 pada umumnya, pada form ini dihitung biaya
langsung dan biaya tidak langsung. Pada form ini didapatkan
persentase overhead yang dikeluarkan dan dijadikan sebagai
input dalam Form 1. Berikut adalah tampilan dari Form 7 pada
proyek ini.

50
Gambar 4.22 Form 7 Analisa Persentase Overhead

f. Form 8
Perhitungan komposisi kebutuhan tenaga kerja dihitung dalam
form ini. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Bobot dari pekerjaan masing-masing crew level didapatkan
dari biaya yang di keluarkan di Form 2.
2. Bobot masing-masing klasifikasi tenaga kerja diprediksi oleh
estimator kemudian didapatkan total kebutuhan jumlah
tenaga kerja.

51
Gambar 4.23 Komposisi Kebutuhan Tenaga Kerja

g. Form Eskalasi
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, form ini berisi tentang
penyesuaian harga-harga yang berubah setiap tahunnya apabila
durasi pekerjaannya selama lebih dari 1 tahun. Di PT. Badak NGL,
kenaikan komponen-komponen biaya ini sudah diperhitungkan
untuk proyek yang waktunya lama. Peningkatan ini dinamakan
dengan eskalasi. Nilai eskalasi ditentukan oleh rekanan dan
biasanya nilainya minimum sebesar 6%. Yang perlu diperhatikan
adalah saat mengisi tanggal mulai dan selesainya pekerjaan, serta
tanggal terhitung di awal tahun. Estimator juga harus menghitung
biaya eskalasi per tahunnya, apabila pekerjaan berdurasi hingga
lebih dari 2 tahun.

52
Gambar 4.24 Form Perhitungan Nilai Eskalasi

53
h. Form Upah, BTT, dan BTL
Sama seperti form upah, BTT, dan BTL yang sudah dijelaskan
sebelumnya, form ini menjelaskan tentang skema upah, BTT
(Bantuan Tunjangan Tunai), dan BTL (Bantuan Tunjungan Lain).
Untuk upah, BTT, dan BTL sendiri, nominalnya akan meningkat
tiap tahunnya, tergantung aturan yang ada. Yang perlu
diperhatikan adalah kenaikan upah minimum per tahun adalah
6%, apabila kurang dari ketentuan akan dinyatakan gugur.

Sebelum mengisi upah, BTT, dan BTL, estimator harus mengetahui


jenis klasifikasi dan jabatan pekerjaan. Secara total, ada 17
klasifikasi pekerjaan beserta jabatan pekerjaan yang sesuai
dengan klasifikasi tersebut. Selain itu, estimator juga harus
mengelompokkan pekerjaan berdasar tenaga inti dan
pendukungnya. Berikut adalah tabel klasifikasi dan jenis
pekerjaan dan juga tampilan form upah, BTT, dan BTL. Angka-
angka yang digunakan tentunya adalah angka yang sesuai dengan
tahun yang sesuai. Besaran angka-angka tersebut perlu
diperbaharui tiap tahun.

54
Gambar 4.25 Form Perhitungan Upah, BTT, dan BTL

i. Form Analisa Overtime (OT)


Form analisa overtime dilengkapi dengan lokasi dan waktu yang
diprediksikan akan terjadi overtime atau lembur. Lembur terjadi
saat pekerjaan dilakukan diluar jam kerja reguler yaitu 8 jam pada
hari Senin hingga Jumat. Perhitungan biaya untuk pekerjaan
overtime ini berbeda dengan biaya pada waktu kerja reguler.
Perhitungan biaya dikonversikan terhadap kelipatan tertentu dan
dibedakan antara hari biasa dengan hari libur seperti sabtu dan
minggu. Berikut adalah tabel konversi dari biaya overtime
terhadap biaya reguler.

55
Sabtu - Minggu Senin - Jumat
Overtime Overtime
Konversi Konversi
(jam) (jam)
<=7 OT x 2 1 1,5
8 17 >1 1,5 + (OT – 1) x 2
>8 17 + (OT - 8) x 4

Gambar 4.26 Konversi Biaya Overtime

Berikut adalah perhitungan overtime pada kegiatan preventive


maintenance.

Gambar 4.27 Form Analisa Overtime (OT)

56
Pada hari kerja yaitu Senin hingga Jumat, 1 jam pertama bernilai
sebesar 1.5x jam. Lalu untuk jam selanjutnya sebesar 2x jam. Pada
contoh diatas overtime yang terjadi pada Kamis, 1 Januari 2015
adalah 2 jam, sehingga didapatkan konversi sebesar 3.5 jam.
Dengan itu, biaya yang dikeluarkan untuk lembur 2 jam pada hari
kamis sama dengan biaya untuk bekerja regular selama 3.5 jam.

Perhitungan biaya overtime dilakukan selama periode kontrak.


Lalu dilakukan perhitungan lanjutan jumlah overtime maksimum
dan kebutuhan porsi makan.

Gambar 4.28 Perhitungan Overtime Maksimum dan Porsi Makan

57
4.4.4 Kontrak Borongan Pekerjaan dengan Sistem Gabungan
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sistem gabungan adalah
yang menggabungkan antara sistem lumpsum dan harga satuan. Secara
umum, sistem ini menggunakan form-form yang sama dengan sistem-
sistem sebelumnya. Perbedaannya adalah lebih sedikit form yang harus
diisi (3 form) dan juga pada form 2 yang telah dibagi menjadi 2 sistem,
yaitu lumpsum dan harga satuan. Berikut adalah contoh proyek
Community Portable Water Lines Improvement yang menggunakan
sistem gabungan.

a. Form 1
Sama dengan Form 1 pada umumnya. Form 1 berisi tentang
Rekapitulasi Biaya Proyek. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan saat mengisi form 1, antara lain:
1. Kolom biaya tenaga kerja, perlengkapan kerja, dan pekerjaan
harga satuan akan secara langsung terhubung dengan Form
2, sehingga estimator tidak perlu mengisi secara manual.
2. Kolom persentase overhead juga secara langsung akan
terhubung dengan Form 7.
3. Untuk presentase profit dan CAR, estimator mengisi
berdasar besar profit yang diinginkan sesuai dengan aturan
yang dijelaskan di awal Bab 4 buku ini.

58
KONTRAKTOR PENAWARAN REKANAN
REKAPITULASI BIAYA PROYEK
PROYEK : COMMUNITY POTABLE WATER LINES
IMPROVEMENT
NO. KONTRAK : CA-10041
SISTEM KONTRAK : LUMPSUM (L/S) & HARGA SATUAN (H/S)
SCHEDULE : 13 BULAN KALENDER
FORM : 01

TOTAL BIAYA
NO KETERANGAN
[Rp.]
1 BIAYA TENAGA KERJA Rp -

2 BIAYA PERALATAN Rp -

3 BIAYA MATERIAL Rp -

SUBTOTAL - I Rp -

4 OVERHEAD #DIV/0! #DIV/0!

5 PROFIT 0.00% #DIV/0!

SUBTOTAL - II #DIV/0!

6 ASURANSI CAR 0.11% #DIV/0!

SUBTOTAL - III #DIV/0!

7 PPN 10.00% #DIV/0!

8 TOTAL #DIV/0!

ROUNDED #DIV/0!

Gambar 4.29 Form 1 Rekapitulasi Biaya Proyek

INFORMASI :
- Formulir ini digunakan sebagai panduan dalam perhitungan dan untuk keperluan evaluasi komersial.
- Item pekerjaan yang ada pada setiap sub pekerjaan tidak mengikat, sehingga jika terdapat kekurangan atau
b. Form 2 rekanan dapat menyempurnakan/melengkapinya sesuai dengan penjelasan lingkup kerja,
kelebihan maka
persyaratan teknis, gambar dan dokumen lelang.
Form 2 menjelaskan tentang detail pekerjaan sesuai dengan
- Penawaran menggunakan satu jenis mata uang (Rupiah)
sistem pembayarannya. Pada form ini, terdapat 3 komponen biaya
- Perhitungan besaran asuransi car sebesar 0.11% tidak termasuk PPN 10%

yang akan dijadikan acuan untuk menetukan total harga gabungan


seperti pada form-form lainnya. Komponen biaya tersebut antara
lain:
1. Upah
2. Alat
3. Material

59
Untuk menetukan total biaya gabungan, estimator harus
menentukan pekerjaan berdasar sistem pembayarannya. Jika
melihat pada contoh di bawah, terdapat 2 pembagian yaitu:

1. Pekerjaan lumpsum. Pekerjaan ini dibagi lagi menjadi banyak


bagian pekerjaan diantaranya adalah Preparation, Civil and
Mechanical Works, yang terdiri dari WBS tiap sub-pekerjaan
pada setiap Lokasi HOP.
2. Pekerjaan harga satuan. Dalam pembagian ini terdapat
beberapa kebutuhan untuk mendukung pelaksanaan proyek
seperti sebagai mitigasi atas adanya kerusakan saat proyek
sedang berjalan.
Kedua bagian ini dirinci terhadap 3 komponen biaya. Apabila
tidak memerlukan salah satu komponen, maka boleh
dikosongkan. Kemudian baik subtotal lumpsum dan subtotal
harga satuan dijumlahkan sehingga didapatkan total harga
gabungan.

60
Gambar 4.30 Form 2 Perincian Biaya Unit Pekerjaan Lumpsum

61
Gambar 4.31 Form 2 Perincian Biaya Unit Pekerjaan Harga Satuan

62
c. Form 7
Sama dengan Form 7 pada umumnya, dalam form ini dihitung
biaya langsung dan biaya tidak langsung. Dalam form ini
didapatkan persentase overhead yang di keluarkan dan dijadikan
sebagai input dalam Form 1. Berikut adalah tampilan dari Form 7
pada proyek ini.

Gambar 4.32 Form 7 Perhitungan Persentase Overhead

63
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

64
Bab 5
Beberapa Tips dalam Cost
Estimating
Pekerjaan cost estimating tidak hanya membutuhkan metode yang tepat,
tetapi juga berbagai hal lainnya, terutama data input yang harus akurat.
Pada bab ini akan disajikan beberapa tips dalam melakukan cost
estimating.

Pembaharuan data Input


Apapun metode yang digunakan, kegiatan estimasi biaya membutuhkan
berbagai input. Data input ini bisa didapatkan dari berbagai sumber,
antara lain hasil dari survey lapangan, hasil dari pembelian pada proyek
sebelumnya, ekstrapolasi data masa lalu dengan suatu angka eskalasi
tertentu, atau hasil dari pencarian data di catalog atau di internet.
Masing-masing sumber data ini memiliki kesahihan yang berbeda.
Sebagai contoh, survey langsung ke toko kemungkinan besar akan
menghasilkan estimasi biaya yang lebih akurat dibandingkan dengan
menggunakan eskalasi atau dengan mencari informasi lewat internet.
Oleh karena itu, seorang estimator harus faham betul sifat-sifat
informasi yang didapat dan seberapa tinggi tingkat kepercayaan yang
bisa diberikan pada data atau informasi tersebut. Pembaharuan
terhadap data sangat perlu dilakukan secara regular sehingga database
perusahaan akan lengkap dan akurat.

65
Perhatikan Dimensi, Satuan, dan Ukuran yang Digunakan
Dalam mengestimasi, penulisan dimensi, satuan, dan ukuran haruslah
konsisten dan sesuai dengan petunjuk yang ada. Untuk dimensi,
estimator disarankan agar menulis secara konsisten dan bisa digunakan
secara umum, misalnya (panjang x lebar x tinggi), bukan (lebar x tinggi
x panjang). Demikian pula dengan pengukuran dimensi harus dilakukan
dengan teliti dan seakurat mungkin agar meminimalkan kesalahan.

Pada saat membaca data yang mengandung angka dengan satuan


yang bisa beragam, estimator harus berhati-hati dalam
melihat/membaca data tersebut agar tidak salah dalam membaca
satuan. Demikian juga pada saat menyimpan data harus dilengkapi
dengan satuan yang jelas dan konsisten agar apabila dibaca oleh
estimator lain atau akan dipakai di kemudian hari data tersebut
mengandung informasi yang lengkap dan jelas.

Untuk ukuran, estimator disarankan menggunakan ukuran yang


sesuai pada gambar dan mengkonversikan tiap ukuran ke bentuk
desimal. Jika memungkinkan, estimator juga disarankan memberikan
ukuran pada item-item yang diberikan serta menggunakan setiap
ukuran untuk menghitung penggandaan jumlah item.

Menyesuaikan dengan Semua Kebutuhan


Suatu kebutuhan pekerjaan dapat berkaitan dengan kebutuhan
pendukung lain yang wajib disertakan agar pekerjaan dapat terlaksana.
Hal ini sangat diperlukan saat melakukan evaluasi utamanya terhadap
pekerjaan borongan. Contoh sederhananya adalah untuk membuat
saluran yang berbelok maka tidak bisa hanya membutuhkan pipa saja,
namun juga membutuhkan elbow. Ketelitian dalam penerjemahan
gambar proyek sangat dibutuhkan untuk mencegah resiko yang
ditimbulkan, termasuk ketelitian terhadap skala yang digunakan dalam
gambar. Oleh karena itu, perlu diperhatikan untuk melakukan fitting

66
dengan semua kebutuhan baik jenis kebutuhan maupun kuantitas yang
dibutuhkan.

Pembulatan Angka
Pembulatan terhadap angka-angka yang akan dijumlahkan hendaknya
dilakukan terakhir setelah penjumlahan selesai dilakukan. Sebagai
contoh bila ada angka 3.2, 2.4, dan 1.3 hendak dijumlahkan maka harus
dijumlahkan dulu sehingga diperoleh angka 6.9 (dan dibulatkan menjadi
7). Bila masing-masing angka dibulatkan sebelum dijumlahkan maka
hasilnya adalah 3 + 2 + 1 dan jumlahnya menjadi 6 yang artinya hasil
akhirnya kurang akurat.

Berkomunikasi dengan User


Komunikasi adalah bagian dari pekerjaan estimator. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik, estimator harus selalu
berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan terutama
user. Dalam hal misalnya menterjemahkan spesifikasi ke dalam WBS,
seorang estimator harus tahu dengan jelas apa yang dimaksud oleh user.
Bila ada hal-hal yang kurang jelas maka estimator perlu berkomunikasi
dengan user agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami spesifikasi.

67
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

68
Bab 6
Catatan Penutup
Buku ini diberi judul Teori dan Petunjuk Praktis Cost Estimating karena
di dalamnya mencakup teori cost estimating maupun petunjuk praktis
dalam melakukan cost estimating. Buku ini disusun berdasarkan
sumber-sumber di literature maupun dari diskusi dengan estimator
yang berpengalaman di PT. Badak NGL. Estimator adalah profesi yang
membutuhkan akurasi dan ketekunan. Penguasaan terhadap teori atau
metode maupun kemampuan untuk kreatif pada batas-batas tertentu
diperlukan oleh mereka yang mengerjakan pekerjaan estimasi.

Buku ini memberikan gambaran bagaimana cost estimating


dilakukan. Tentunya buku ini tidak lengkap karena banyak hal yang
sifatnya seni bisa berbada antara estimator yang satu dengan yang lain.
Dalam kenyataannya bila seorang estimator bisa menghayati
pekerjaannya dan memiliki pengalaman maka lama kelamaan akan
muncul kemahiran dan kreatifitas yang cukup. Di satu sisi pekerjaan
estimasi akan membutuhkan tahapan-tahapan yang detil, namun di
saat-saat tertentu dibutuhkan juga simplifikasi untuk mempercepat
pekerjaan estimasi tanpa mengorbankan kualitas hasil estimasi.

Semoga buku ini memberikan bisa membantu para estimator,


khususnya bagi yang baru memulai profesinya di bidang ini di PT. Badak
NGL. Ke depan mungkin juga akan diperlukan pengkayaan buku ini
dengan mengakomodasikan lebih banyak masukan-masukan dari
estimator senior.

69
(Halaman ini sengaja dikosongkan)

70
Referensi
American Society of Professional Estimators. (n.d.). Retrieved from
http://www.aspenational.org/

International Cost Estimating and Analysis Association. (n.d.). Retrieved


from http://www.iceaaonline.com/

NASA. (2015). NASA Cost Estimating Handbook Version 4.0.

United States Department of Labor. (2015, December 17). Cost


Estimators. Retrieved from https://www.bls.gov/ooh/business-
and-financial/cost-estimators.htm

71