Anda di halaman 1dari 8

BANK SPERMA

Makalah dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Keperawatan Khusus yang diasuh oleh Ns. Murbiah, S.Kep.

Joko Tri Wahyudi


Sulardi
Mirza Antoni
Anita
Diana
Fadilah Astriyani
Nurleni Rahmawati
Rully Sasmita Primanata

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG
OKTOBER 2010
BANK SPERMA

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehadiran bank sperma di Indonesia memang masih belum
memungkinkan. Tetapi kalau pun bank sperma dibangun,
tujuannya hanyalah untuk mempertahankan garis keturunan dari
suatu keluarga. Dijelaskan Prof Does, "Pembanguan bank sperma
bisa dilakukan misalkan ada keluarga yang sudah menjadi
dinasti, agar keturuan keluarga itu tidak lenyap ingin mereka
menggunakan bank sperma tapi tujuannya untuk keluarga. Itu
bisa dilakukan." Bank sperma diperbolehkan hanya untuk
menyimpan sperma dari suaminya yang sah. "Hal tersebut bisa
dilakukan untuk bersiap-siap apabila sang suami akan
meninggal. Sperma yang ada bisa digunakan untuk
menggantikan anak yang meninggal," kata Ketua Kolegium
Keilmuan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indoensia (IAKMI) itu.
Namun penyimpanan sperma di bank juga seharusnya
diatur batas waktu atau masa kedaluwarsanya. "Batasnya,
sperma suami hanya bisa disimpan sampai istri berumur 45
tahun. Karena di atas umur 45 tahun istri sudah tidak bisa
melahirkan, maka sperma itu harus dimusnahkan," kata Prof
Does. Bank sperma komersil Selain bank sperma suami, lanjut
Prof Does, ada juga bank sperma komersial. "Mereka
menyelenggarakan bank sperma komersial untuk yang ingin
punya anak tapi tidak bisa punya anak, atau tidak punya suami
tapi ingin punya anak. Melalui bank sperma, mereka akan
menentukan ingin punya anak warna kulitnya apa,warna
matanya apa, itu semua bisa dipilih," kata Prof Does. ( Tribun
Timur, http://www.tribun-timur.com/read/artikel/120915/Bank-
Sperma-Hanya-untuk-Pasangan-Sah, diakses pada 18 Oktober
2010)

I.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami para penulis merumuskan
masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : mengetahui bagaimana
sebenarnya proses dan tekhnik dari bank sperma serta bagaimana pendapat-
pendapat pihak lain sehubungan dengan bank sperma ini.

I.3. Tujuan
Mengetahui proses dari bank sperma dan pendapat dari pihak-pihak terkait
dengan adanya bank sperma.

II. PEMBAHASAN
2.1. Proses Bank Sperma
Cryiobanking adalah suatu teknik penyimpanan sel
cryopreserved untuk digunakan di kemudian hari. Saat ini,
Cryobanking terhadap sperma manusia telah terbukti berhasil
untuk berbagai indikasi dalam mencapai kehamilan dengan
menggunakan sperma dari donor atau suami pasien.
Pada dasarnya, semua sel dalam tubuh manusia dapat
disimpan dengan menggunakan teknik dan alat tertentu
sehingga dapat bertahan hidup untuk jangka waktu tertentu. Hal
ini dapat dilakukan pada suhu yang relatif rendah. Teknik yang
paling sering digunakan dan terbukti berhasil saat ini adalah
metode Controlled Rate Freezing, dengan menggunakan gliserol
dan egg yolk sebagai cryoprotectant untuk mempertahankan
integritas membran sel selama proses pendinginan dan
pencairan.
Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai prinsip dan
teknik cryobanking secara terinci, melainkan lebih ditekankan
mengenai aplikasi dari teknik ini. Teknik cryobanking telah
memungkinkan adanya keberadaan donor semen, terutama
untuk pasangan-pasangan infertil. Tentu saja, semen-semen
yang akan didonorkan perlu menjalani serangkaian pemeriksaan,
baik dari segi kualitas sperma maupun dari segi pendonor
seperti adanya kelainan-kelainan genetik. Dengan adanya
cryobanking ini, semen dapat disimpan dalam jangka waktu
lama, bahkan lebih dari 6 bulan (dengan tes berkala terhadap
HIV dan penyakit menular seksual lainnya selama penyimpanan).
Kualitas sperma yang telah disimpan dalam bank sperma
juga sama dengan sperma yang baru, sehingga memungkinkan
untuk proses ovulasi. Selain digunakan untuk sperma-sperma
yang berasal dari donor, bank sperma juga dapat dipergunakan
oleh para suami yang produksi spermanya sedikit atau bahkan
akan terganggu. Hal ini dimungkinkan karena derajat
cryosurvival dari sperma yang disimpan tidak ditentukan oleh
kualitas sperma melainkan lebih pada proses
penyimpanannya. Telah disebutkan diatas, bank sperma dapat
dipergunakan oleh mereka yang produksi spermanya akan
terganggu. Maksudnya adalah pada mereka yang akan
menjalani vasektomi atau tindakan medis lain yang dapat
menurunkan fungsi reproduksi seseorang. Dengan bank sperma,
semen dapat dibekukan dan disimpan sebelum vasektomi untuk
mempertahankan fertilitas sperma.
Banyak pria yang tidak memanfaatkan fasilitas bank
sperma (di luar negeri), karena mereka tidak mengetahui
tentang keberadaan teknik ini serta manfaatnya, atau dapat
pula disebabkan karena di daerah dimana mereka tinggal tidak
terdapat fasilitas ini. Penyebab lainnya adalah proses
pengambilan sperma yang sama sekali tidak menyenangkan bagi
donor. Saat ini, penggunaan bank sperma sebagai suatu terapi
tampaknya perlu lebih digalakkan. Pada penderita-penderita
kanker yang harus menjalani terapi radiasi dan kemoterapi,
fungsi reproduksinya akan sangat terganggu bahkan hilang.
Selain itu, ada juga keadaan dimana sel-sel kanker itu sendiri
yang merusak sperma. Dengan menggunakan bank sperma,
sperma penderita dapat terlebih dahulu `diselamatkan' sehingga
infertilitas dapat dihindari. Cryopreservation juga dapat
dipergunakan oleh pria yang mengalami defek motilitas sperma
dan pria yang menderita oligospermik (tidak ada sperma yang
dihasilkan). (Yundini. http://www.mail-archive.com/satuxsatu@
yahoogroups. com/msg00076.html. diakses pada 18 Oktober
2010)

2.2. Bank Sperma Di Pandang dari Sisi Kesehatan


Dipandang dari sisi kesehatan, adanya bank sperma dapat
membantu sebagian orang. Tetapi implementasinya harus
disesuaikan dengan norma, nilai-nilai agama dan budaya di
negeri itu. Di Indonesia, bank sperma untuk tujuan komersil
bertentangan dengan undang-undang. Pemerintah telah
mengaturnya dalam pasal 16 UU No.23/1992 tentang kesehatan
dan Peraturan menteri Kesehatan No.73 tahun 1992. Peraturan
itu menetapkan bahwa inseminasi buatan hanya diperbolehkan
pada suami istri yang sah secara hukum. Sel sperma dan sel
telur dari pasangan itulah yang kemudian ditanam dalam rahim
istri. ( Tribun Timur, http://www.tribun-
timur.com/read/artikel/120915/Bank-Sperma-Hanya-untuk-
Pasangan-Sah, diakses pada 18 Oktober 2010)

2.3. Bank Sperma Menurut MUI


Majelis Ulama Indonesia adalah wadah atau majelis yang menghimpun
para ulama,zuama dan cendekiawan muslim Indonesia untuk menyatukan gerak
dan langkah-langkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama.
Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 H, bertepatan dengan
tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah
para ulama, cendekiawan dan zu'ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air.
Antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Propinsi di
Indonesia, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat
pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math'laul
Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani
Islam, AD, AU, AL dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang
merupakan tokoh perorangan.

Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah kesepakatan untuk


membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan
cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah "PIAGAM BERDIRINYA
MUI", yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian
disebut Musyawarah Nasional Ulama I. (Profil MUI.
http://www.mui.or.id/index.php? Option
=com_content&view=article&id=49&Itemid=53. Diakses pada 19 Oktober 2010.)
MUI memfatwa haram donor sperma dan bank sperma.
Sementara, bank air susu ibu (ASI) diperbolehkan. "Mendonorkan
dan atau memperjualbelikan sperma hukumnya haram. Karena
bertentangan dengan hukum Islam dan akan menimbulkan
kekacauan asal usul dan identitas anak," kata Wakil Sekretaris
Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Saleh saat jumpa pers di Hotel
Twin Plaza, Jl S Parman, Jakarta Barat, Selasa (27/7/2010).
"Mendirikan bank sperma juga haram," tambah Niam. Sementara
untuk bank ASI, Niam mengatakan, hukumnya boleh dengan
syarat lebih dulu dilakukan musyawarah antara orang tua bayi
dan pemilik ASI. "Sehingga disepakati tata cara dan biayanya.
Bagi ibu yang mendonorkan ASI harus dalam keadaan sehat,
tidak sedang hamil dan bank tersebut ada ketentuan untuk
menegakkan syariat Islam," kata dia. (Syafirdi, Didi.
http://www.detiknews.com/read/2010/07/27/203949/1408075/10/
mui-bank-sperma-haram-bank-asi-boleh. diakses pada 18
Oktober 2010.

III. KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan
Berdasarkan isi maklah tersebut, kami kelompok III menyimpulkan bahwa
sebenarnya pengadaan bank sperma di Indonesia sangatlah belum dibutuhkan,
selain itu kami sebagai mahasiswa beragama muslim juga sangat menentang
dengan adanya bank sperma, karna itu akan mengacaukan silsilah keluarga,
kecuali bank sperma khusus untuk keluarga tertentu.

3.2. Saran
Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca
agar dapat menelaah dan memahami serta menanggapi apa yang telah penulis
susun untuk kemajuan penulisan makalah selanjutnya dan umumnya untuk lebih
melaksanakan etika keperawatan dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan
agama dan praktek keperawatan professional.

DAFTAR PUSTAKA
Tribun Timur. http://www.tribun-
timur.com/read/artikel/120915/Bank-Sperma-Hanya-
untuk-Pasangan-Sah, diakses pada 18 Oktober 2010.

Yundini. http://www. mail-archive. com/ satuxsatu@


yahoogroups. Com /msg00076.html. diakses pada 18
Oktober 2010.

Profil MUI. http:// www. mui.or.id/index.php? Option =com _content&view


=article &id=49&Itemid=53. Diakses pada 19 Oktober 2010.

Syafirdi, Didi. http:// www.detiknews.com /read/2010/07/27/


203949/1408075/10/ mui-bank-sperma-haram-bank-asi-
boleh. diakses pada 18 Oktober 2010.