Anda di halaman 1dari 29

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA
2009
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan, Belajar, dan Mengajar

Pendidikan merupakan usaha yang dilaksanakan secara sadar untuk mewujudkan


suasana belajar serta menuntut peserta didik untuk menggali potensi diri serta
berperan aktif dalam prosesnya. Seperti kita ketahui selama ini pendidik dan
pengajar merupakan satu pengertian namun sebenarnya kedua kata itu berbeda arti,
pendidik merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk membentuk
karakter seseorang serta mentransfer nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan,
sedangkan pengajar merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk
mentransfer ilmu yang sudah dipelajarinya.

Belajar merupakan perubahan tingkah laku dan kemampuan manusia dan juga
proses perubahan tingkah laku yang relative permanen akibat dari latihan atau
pengalaman yang dialami oleh seseorang, sedangkan mengajar merupakan
interaksi antara dua orang atau lebih untuk memberikan pengetahuan dan
mengubah atau membentuk perilaku seseorang.

B. Domain Belajar

Domain belajar atau sebutan lainnya, ranah, dapat diartikan sebagai cakupan dalam
proses belajar. Domain belajar terbagi atas 3, antara lain :
1. Kognitif

Kognitif adalah aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia.
Kognitif mencakup semua aspek intelektual yang terdiri dari kemampuan berpikir,
menganalisa, evaluasi, serta pemahaman. Piaget berteori bahwa selama
perkembangannya, manusia mengalami perubahan-perubahan dalam struktur
berfikir, yaitu semakin terorganisasi, dan strukutur berfikir selalu dibangun pada
struktur dari tahap sebelumnya. Perkembangan manusia itu disebabkan oleh 4
faktor, yaitu kematangan fisik, pengalaman dengan objek-objek fisik, pengalaman
sosial dan ekuilibrasi. Terdapat 5 cakupan dalam kognitif, yaitu:
a. Knowledge, dengan pengetahuan maka akan didapatkan sebuah fakta dan
informasi baru. Contohnya klien mengetahui tentang penyakit yang dideritanya
b. Comprehension, pemahaman adalah kemampuan untuk memahami materi yang
dipelajari. Contoh, klien mampu menguraikan secara cpesifik bagaimana obat-obat
yang baru diberikan untuknya akan dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.
c. Application,aplikai atau penerapan mencakup penggunaan informasi yang baru
diketahuinya untuk diterapkan dalam situasi yang tepat. Contoh, klien dapat
mengatur jadwal makannya setelah diberi informasi oleh perawat.
d. Analysis, konsep analisis di sini adalah mengaitkan gagasan yang satu dengan
yang lain dengan cara-cara yang tepat. Contoh, klien mampu memisahkan
informasi penting dan tidak penting pada penggunaan obat terutama menanggapi
mitos yang berkembang di masyarakat.
e. Synthesis, klien mampu menerapkan semua yang dia dapat selama berada di
rumah sakit

f. Evaluation, klien mampu menyadari kebutuhan akan informasi kesehatan.

2. Afektif

Afektif terdiri dari perilaku, sikap, minat, konsep diri, tanggung jawab, serta
pengendalian diri, serta pembentukan karakter seseorang. Menurut Popham (1995),
ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Terdapat 5 cakupan,
yaitu :
a. Receiving

Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan


memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan,
musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik
pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik
mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan
sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan,
yaitu kebiasaan yang positif.

b. Responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari
perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena
khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada
pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam
memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal
yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus.
Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman,
senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
c. Valueing
Valeuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan
derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima
suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada
tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari
seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan
perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan
pembelajaran, penilaian ini.diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
d. Organizing
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai
diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil
pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem
nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
e. Characterizing
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini
peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada
waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini
berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri,
nilai, dan moral.

a. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari
untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep,
atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah
atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan
(Popham, 1999). Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran
termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
b. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus,
aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian.
Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan untuk:
- Mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam
pembelajaran,
- Mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
- Pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
- Menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
- Mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
- Acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih
metode yang tepat dalam penyampaian materi,
- Mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan
pendidik,
- Bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
- Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
c. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap
kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Arah konsep diri bisa positif atau
negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu
mulai dari rendah sampai tinggi. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan
penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut.
• Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
• Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
• Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
• Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
• Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
• Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input
peserta didik.
• Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
• Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
• Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
• Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
• Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
• Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
• Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk
instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
• Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
• Peserta didik mampu menilai dirinya.
• Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
• Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
d. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968), nilai merupakan suatu keyakinan tentang
perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.
Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah
keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada
keyakinan.
e. Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain
atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu
orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun
psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu
keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan
dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

3. Psikomotor
Psikomotor terdiri dari praktik, fisik, keterampilan serta motorik. Pengajaran
psikomotor, keterampilan, penerapan, serta penggabungan aktivitas mental dan
fisik. Terdapat tujuh cakupan, yaitu:
a. Persepsi, berkaitan dengan pemahaman. Keadaan yang menyadari suatu objek
atau kualitas penggunaan seluruh organ indra. Sesorang merasakan adanya
rangangan sebagai tanda untuk melakukan tugas tertentu. Misalnya, setelah
mendengarkan bunyi mobil ambulans, orang tersebut akan menyetir mobilnya ke
tepi untuk menghindari kecelakaan.
b. Set, mengeset kesiapan otak untuk menjalankan tindakan psikomotor, yang diset
adalah mental, fisik, dan emosi. Ada tiga perangkat, mental, fisik, dan emosi.
Sebagai contoh, seseorang menggunakan penilaian untuk menentukan cara terbaik
untuk melakukan tindakan motorik. Sebelum melakukan tindakan, seperti bangun
dari kursi roda, seseorang berada pada bentuk dan posisi tubuh yang sesuai. Klien
mungkin membuat komitmen untuk menjalankan latihan tertentu secara teratur.
c. Respons terbimbing, Akan kinerja suatu tindakan, di abwah bimbingan seorang
instructor. Hal ini merupakan tindakan meniru dari tindakan yang
didemonstrasikan. Sebagai contoh, klien menyiapkan injeksi insulin setelalh
memperhatikan contoh dari perawat dan mencoba untuk menirunya dengan benar.
d. Mekanisme, mekanisme merupakan tingkat perilaku yang lebih tinggi di mana
seseorang telah memiliki kepercayaan diri dan ketrampilan dalam melakukan
perilaku tertentu. Biasanya ketrampilan menjadi lebih kompleks dan mencakup
lebih dari beberapa tahapan daripada ketrampilan terbimbing. Sebagai contoh,
klien mampu mengeluarkan sejumlah insulin dengan jarum suntik dari dosis yang
berbeda.
e. Respons kompleks terbuka, mencakup yang terdiri dari pola gerakan yang
kompleks.. seseorang memperlihatkan ketrampilan secara halus dan benar tanpa
ragu-ragu. Sebagai contoh, klien dapat menyuntikkan insulin secara mandiri pada
berbagai tempat penyuntikkan.
f. Adaptasi, terjadi bila seseorang mampu mengubah respon motorik ketika muncul
masalah yang tidak diduga. Sebagai contoh, ketika perawat menyuntik, munculnya
darah dalam alat suntikan karena diaspirasi mengakibatkan perubahan cara
memegang alat suntik.
g. Keaslian, merupakan aktivitas motorik yang paling kompleks yang mencakup
penciptaan pola gerakan yang baru. Seseorang bertindak berdasarkan kemampuan
dan Keaslian ketrampilan psikomotor yang ada. Sebagai contoh, seorang perawat
menggunakan metode yang lain untuk penusukan vena pada klien yang mengalami
pembengkakan tangan.
Semua domain belajar merupakan aspek yang harus berjalan secara terintegrasi.
Ada kalanya seseorang hanya mahir atau sanggup menjalani salah satu dari
ketiganya. Akan tetapi, berusaha untuk seimbang adalah pilihan yang jauh lebih
baik.
5
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara maju dapat diukur dengan berbagai indikator. Salah satu indikator
yang dapat digunakan adalah tingkat kesehatan. Tingkat kesehatan yang baik
mengindikasikan bahwa negara tersebut memiliki tingkat kesejahteraan dan
tingkat pendidikan yang baik.
Pendidikan merupakan aspek utama yang harus dikembangkan untuk
mencapai segala indikator kemajuan suatu negara. Pendidikan meliputi
aktivitas belajar dan mengajar. Segala macam ilmu ditransfer melalui proses
pendidikan. Sistem pendidikan juga dikenal dalam dunia kesehatan. fungsi
pendidikan dalam bidang kesehatan adalah untuk pencegahan,
mempertahankan dan meningkatkan kualitas kesehatan.
Fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik jika direalisasikan. Salah
satu tindakan konkretnya adalah melalui promosi kesehatan. segala bentuk
promosi kesehatan dapat dilakukan oleh semua profesi bidang kesehatan,
termasuk perawat untuk mengantarkan masyarakat pada standar kesehatan yang
tinggi.
1.2 Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan/edukasi pasien?
2. Bagaimanakah pendidikan pasien/ klien sebagai salah satu dimensi
caring perawat?
3. Bagaimanakah peran pendidikan/ edukasi pasien dalam pelayanan
kesehatan?
4. Bagaimanakah hubungan pendidikan/ edukasi klien dan discharge
planning?
5. Bagaimanakah proses pengintegrasian pendidikan kesehatan ke dalam
praktik keperawatan?
6. Bagaimanakah model proses pendidikan kesehatan klien?
6
7. Apakah yang dimaksud dengan belajar dan mengajar?
8. Bagaimanakah teori dan konsep belajar dan mengajar?
9. Apa saja yang termasuk dalam domain belajar?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pendidikan/edukasi pasien
2. Memahami bagaimana pendidikan pasien/ klien sebagai salah satu
dimensi caring perawat
3. Mengerti peran pendidikan/ edukasi pasien dalam pelayanan kesehatan
4. Mengetahui hubungan pendidikan/ edukasi klien dan discharge
planning
5. Memahami bagaimana proses pengintegrasian pendidikan kesehatan ke
dalam praktik keperawatan
6. Mengetahui model proses pendidikan kesehatan klien
7. Mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar
8. Memahami teori dan konsep belajar dan mengajar
9. Mengetahui apa saja yang termasuk da
 Sign In
 Register

 Most Popular
 Art & Photos
 Automotive
 Business
 Career
 Data & Analytics
 Design
 Education
 Hi-Tech

+ Browse for More

 Home
 Documents
 Makalah Promkes Edukasi Klien dan Teori Belajar Mengajar

19
DAFTAR PUSTAKA
- Nursalam, Fery, Efendi. (2007). PendidikanDalamKeperawatan. Jakarta:
SalembaMedika
- Alberto, P. & Troutman, A.c. (2009). Applied behavioral analysis for
teacher 6
th
ed. Upper Saddler River: Merill Prentice Hall
- Bandono, A. (2011). Perdebatan sekitar teori belajar dalam praktek
pembelajaran. Jurnal.
- Bastable, Susan B.. (2002). Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-Prinsip
Pengajaran dan Pemebelajaran. Jakarta: EGC.
- Budiningsih, A, C. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Penerbit Rinika Cipta
- Chowdbury, M.S & college M. (2006). Human behavior in the context of
training: an overview of the role of learningtheories as applied to training
and development. Journal of knowledge management practice, volume 1.
June.
- Craven & Hirnle. (2007). Fundamental of Nursing : Human Health and
Function 5th Edition. Philadelphia : Mosby, Inc
- Fatta, Hanif Al. (2007). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi untuk
Keunggulan Bersaing Perusahaan dan Organisasi Modern. Yogyakarta:
Andi.
- Harkreader, H., Hogan, M.A., Thobaben, M. (2007). Fundamental of
Nursing : Caring and clinical judgment 3rd Edition. Philadelphia :
Saunders
- Hergenhahn, B.R dan Olson, Matthew H. (2008). Teori Belajar Edisi
Ketujuh. Jakarta: Kencana.
- Joos, Irene, dkk. (2003). Belajar Cepat Komputer: Panduan Untuk Profesi
Kesehatan. Ed 3. Jakarta: EGC.
- Kozier, B. (2010). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik. Jakarta: EGC
- Kozier, Barbara, Erb, Glenora, Berman, Audrey, dan Snyder, Shirlee J.
(2004.) Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice Seventh
Edition. USA: Pearson Education.
20
- Maulana, H.D.J. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC
- Nursalam, F.E. (2007). Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
- Potter, P.A. dan Perry, A.G. (2010). Fundamental Keperawatan. (terj. dr.
Adrina Ferderika Nggie dan dr. Marina Albar). Buku 1 Edisi 7. Jakarta:
EGC.
- Rankin, H.S. (2001). Patient Education: Principles & Practices.
Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
- Redman, K.B. (2007). The Practice of Patient Education: A Case Study
Approach. New York: Elsevier
- Rooijakkers, A. (1991). Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Grasindo.
- Simamora, Roymond. H. (2009). Buku Ajar Pendidikan Keperawatan.
Jakarta: EGC.
- Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
- Syah, Muhibbin. (2010). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers
- Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, FIP-UPI. (2007). Ilmu dan Aplikasi
Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
- Wahyono, Teguh. (2010). Membuat Sendiri Aplikasi dengan Memanfaatkan
Barcode. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
- Wuryani, Sri Esti. (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
- http://www.thefreedictionary.com/teaching (diakses pada 6 September
2013 pukul 10.30)
- http://ugcnetonline.svtuition.org/2009/03/definition-of-teaching-and-
its.html (diakses pada 6 September 2013 pukul 10.50)
- http://www.pendidikanekonomi.com/2013/01/inti-teori-belajar-
behavioristik.html (diakses pada 6 September 2013 pukull 11.00)
- http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/163/jiptiain--herionosus-8148-
5-4.babii!.pdf (diakses pada 8 September 2013 pukul 15.11)
prev
next
1

out of 20
Makalah Promkes Edukasi Klien dan Teori
Belajar Mengajar
DownloadReport

 Published on
01-Jan-2016
 View
795
 Download
82

AddThis Sharing Buttons


Share to FacebookFacebook1Share to TwitterTwitterShare to EmailEmailShare to Lagi...Lagi...1

DESCRIPTION

Makalah promkes tentang pendidikan/edukasi kesehatan klien dalam praktik keperawatan dan
Teori Belajar Mengajar

Transcript

 1PROMOSI KESEHATANPendidikan/edukasi Kesehatan Klien dalam Praktik


Keperawatan

Dan

Teori Belajar-Mengajar serta Domainnya

OlehHome Group IV

Anggota :

Puput Puspitasari NPM 1206238886Thatiana Dwi A NPM 1206244346Ummi Hamidah


NPM 1206219003Yosephine Melati NPM 1206218972Wilujeng NPM 1206248445

UNIVERSITAS INDONESIAFAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

PROGRAM STRATA 1 REGULER ILMU KEPERAWATAN

 2KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang atasrahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudulPromosi Kesehatan :
Pendidikan/edukasi Kesehatan Klien dalam PraktikKeperawatan dan Teori Belajar-
Mengajar serta Domainnya.

Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas untuk Mata Kuliah

Promosi Kesehatan pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang

tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalahini,


khususnya kepada :

1. Bu Enie Novieastari, MSN selaku dosen pembimbing Mata Kuliah PromosiKesehatan


Kelas D.

2. Rekan-rekan kelas D Promosi Kesehatan.

Tiada gading yang tak retak, begitu pula kami dalam penyusunan makalahini yang masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mohon kritik dansaran yang membangun
untuk kamiagar dapat lebih baik kedepannya nanti. Semogamakalah ini dapat memberi
manfaat kepada kami selaku mahasiswa Fakultas IlmuKeperawatan Univesitas Indonesia
dan pembaca.

Depok, 14 September 2013

Home Group IV

 3DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2

DAFTAR ISI.................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.................................................................................. 5

1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 5

1.3 Tujuan ............................................................................................... 61.4 Sistematika


Penulisan ...................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan/edukasi kesehatan klien dalam praktek keperawatan .... 7


2.1.1 Definisi Pendidikan/Edukasi Pasien/Klien.................................. 7

2.1.2 Pendidikan/Edukasi Pasien/Klien sebagai Salah Satu DimensiCaring Perawat


........................................................................... 8

2.1.3 Peran Pendidikan/Edukasi Pasien dalam Pelayanan Kesehatan . 8

2.1.4 Hubungan Edukasi Pasien dengan Rencana Pemulangan........... 9

2.1.5 Menguraikan proses pengintegrasian pendidikan kesehatan kedalam praktek


keperawatan ........................................................ 9

2.1.6 Model Proses dalam Pendidikan Kesehatan Pasien .................... 10

2.2 Belajar dan Mengajar........................................................................ 112.2.1 Pengertian


Belajar ....................................................................... 112.2.2
Mengajar...................................................................................... 112.2.3 Teori-teori
belajar........................................................................ 122.2.4 Domain Belajar
........................................................................... 132.2.5 Pengertian Konsep Mengajar
...................................................... 162.2.6 Teori mengajar
............................................................................ 17

 4BAB III PENUTUP .........................................................................................


18DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 19
 5BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangNegara maju dapat diukur dengan berbagai indikator. Salah satu
indikator

yang dapat digunakan adalah tingkat kesehatan. Tingkat kesehatan yang


baikmengindikasikan bahwa negara tersebut memiliki tingkat kesejahteraan dantingkat
pendidikan yang baik.

Pendidikan merupakan aspek utama yang harus dikembangkan untukmencapai segala


indikator kemajuan suatu negara. Pendidikan meliputiaktivitas belajar dan mengajar.
Segala macam ilmu ditransfer melalui prosespendidikan. Sistem pendidikan juga dikenal
dalam dunia kesehatan. fungsipendidikan dalam bidang kesehatan adalah untuk
pencegahan,mempertahankan dan meningkatkan kualitas kesehatan.

Fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik jika direalisasikan. Salahsatu tindakan
konkretnya adalah melalui promosi kesehatan. segala bentukpromosi kesehatan dapat
dilakukan oleh semua profesi bidang kesehatan,termasuk perawat untuk mengantarkan
masyarakat pada standar kesehatan yangtinggi.
1.2 Rumusan masalah1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan/edukasi pasien?2.
Bagaimanakah pendidikan pasien/ klien sebagai salah satu dimensi

caring perawat?

3. Bagaimanakah peran pendidikan/ edukasi pasien dalam pelayanankesehatan?

4. Bagaimanakah hubungan pendidikan/ edukasi klien dan dischargeplanning?

5. Bagaimanakah proses pengintegrasian pendidikan kesehatan ke dalampraktik


keperawatan?

6. Bagaimanakah model proses pendidikan kesehatan klien?

 67. Apakah yang dimaksud dengan belajar dan mengajar?8. Bagaimanakah teori dan
konsep belajar dan mengajar?9. Apa saja yang termasuk dalam domain belajar?

1.3 Tujuan1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pendidikan/edukasi pasien2.


Memahami bagaimana pendidikan pasien/ klien sebagai salah satu

dimensi caring perawat3. Mengerti peran pendidikan/ edukasi pasien dalam pelayanan
kesehatan4. Mengetahui hubungan pendidikan/ edukasi klien dan discharge

planning5. Memahami bagaimana proses pengintegrasian pendidikan kesehatan ke

dalam praktik keperawatan6. Mengetahui model proses pendidikan kesehatan klien7.


Mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar8. Memahami teori dan
konsep belajar dan mengajar9. Mengetahui apa saja yang termasuk dalam domain belajar

1.4 Sistematika PenulisanHALAMAN COVER

KATA PENGANTARDAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

b. Rumusan Masalahc. Tujuand. Sistematika Penulisan

BAB II ISI

BAB III PENUTUP

a. Simpulan

b. SaranDAFTAR PUSTAKA
 7BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan/edukasi kesehatan klien dalam praktek keperawatan

2.1.1 Definisi Pendidikan/Edukasi Pasien/Klien

Craven and Himle (1996) dalam Suliha (2002) mendefinisikan bahwapendidikan atau
edukasi merupakan penambahan pengetahuan dan kemampuanseseorang melalui teknik
praktik belajar atau instruksi dengan tujuan untukmengangkat fakta dan kondisi nyata
dengan cara memberi dorongan terhadappengarahan diri (self-direction), aktif dalam
memberikan informasi atau ide baru.Pendidikan dapat menyebabkan perubahan
kemampuan intelektual danmemperbaiki keterampilan seseorang dalam menggunakan
dan mengevaluasiinformasi. Sementara itu, Wingroot (2005) menyesuaikan edukasi
dengan bidangkesehatan sehingga ia mengatakan bahwa edukasi kesehatan dapat
meningkatkankemampuan seseorang untuk mengatur kesehatan mereka hingga
mengubahperilaku klien dengan tujuan agar klien dapat mempertahankan atau
memperbaikikesehatannya. Dalam usaha pendidikan/edukasi pasien, perawat harus
menyertakannilai-nilai psikososial, spiritual, dan budaya yang dimiliki pasien serta
keinginanuntuk berpartisipasi aktif. Pendidikan atau edukasi untuk klien dapat dibagi
menjadidua yaitu:

a. pendidikan pasien klinisPendidikan pasien klinis merupakan proses belajar-mengajar


yang

terencana, sistematis, dan logis yang dapat digunakan dalam segala situasiklinis.
Pendidikan pasien klinis pada umumnya berlangsung secaraberkesinambungan.

b. pendidikan kesehatanPendidikan kesehatan merupakan proses belajar-mengajar yang


lebih

berkonsentrasi pada promosi kesehatan.

 82.1.2 Pendidikan/Edukasi Pasien/Klien sebagai Salah Satu Dimensi CaringPerawat

Keperawatan adalah aplikasi kiat dan ilmu tentang manusia melaluitransaksi caring
transpersonal untuk membantu seseorang mencapai keselarasanpikiran-tubuh-jiwa yang
menimbulkan pengetahuan diri, pengendalian diri,perawatan diri, dan penyembuhan diri
(Watson, 1990). Dalam memberikanpendidikan/edukasi kepada pasien/klien sebagai
salah satu bentuk intervensikeperawatan, diperlukan suatu esensi teori sebagai landasan
untuk melakukan tatalaksana proses pendidikan/edukasi tersebut. Hal ini diterangkan
Watson (1979)dalam Theory of Human Caring bahwa caring adalah sejenis hubungan
dantransaksi yang diperlukan untuk meningkatkan rasa aman pada pasien/klien
danmelindungi klien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi
kesanggupanklien untuk dapat sembuh. Caring yang efektif akan meningkatkan status
kesehatandan perkembangan individu dan keluarga, caring environment
menyediakanperkembangan potensi dan memberukan keleluasaan memilih kegiatan yang
terbaikbagi diri seseorang dalam waktu yang telah ditentukan.

Pada tahun 1997, Watson dan Lea menyusun instrumen yang dikembangkanuntuk
meneliti perilaku caring perawat yang disebut dengan Caring DimensionsInventory
(CDI). Terdapat 25 daftar dimensi caring tersebut, salah satunya yaitumemberikan
pengetahuan kepada klien sebagai individu yang berhubungan denganpendidikan klien.
Proses keperawatan identik dengan caring. Dalam CaringDimensions Inventory (CDI)
terdapat pendidikan klien sebagai salah satu halterpenting untuk mencapai sehat pada
klien. Dalam proses pendidikan klien,perawat harus memastikan bahwa klien, keluarga,
dan masyarakat menerimainformasi yang dibutuhkan untuk memulihkan dan
mempertahankan kesehatanyang optimal.

2.1.3 Peran Pendidikan/Edukasi Pasien dalam Pelayanan Kesehatan

Kesehatan bernilai penting sehingga kesehatan menjadi indikator pengukurkesejahteraan


seseorang. Tetapi, di Indonesia, pengetahuan masyarakat akankesehatan masih sangat
minim. Hal ini ditandai dengan masih rendahnya angkaharapan hidup Indonesia dari
standar angka harapan hidup yaitu 85 tahun. Karena

 9itulah, pemerintah mengeluarkan UU RI No.23 Tahun 1992 tentang


pembangunansebagai salah satu pembangunan nasional dengan tujuan pembangunan
kesehatanuntuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiaporang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Pembangunan kesehatan berfokus pada peningkatan kesehatan (promotif),pengobatan


(kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Meningkatnya fokuspada pencegahan
(preventif) menuntut sistem pelayanan kesehatan untukmemberikan pendidikan (edukasi)
kepada klien secara lebih luas. Keberhasilanmencapai tujuan edukasi klien membutuhkan
kolaborasi yang baik antar tenagakesehatan serta keinginan klien untuk berpartisipasi
aktif.

2.1.4 Hubungan Edukasi Pasien dengan Rencana Pemulangan

Salah satu tujuan edukasi adalah untuk memberikan informasi pada klienyang
membutuhkan perawatan diri untuk memastikan kontinutas pelayanan darirumah sakit ke
rumah (Falvo, 2004). Perencanaan pulang adalah suatu proses yangsistematis untuk
menilai, menyiapkan, dan melakukan koordinasi dengan fasilitaskesehatan yang ada atau
telah ditentukan serta bekerjasama dengan pelayanansosial yang ada di komunitas,
sebelum dan sesudah pasien pindah atau pulang,bertujuan untuk meminimalkan dampak
dari suatu keadaan kesehatan misalnyapenyakit dengan perawatan yang kontinu (terus
menerus). Perencanaan pulangdisusun agar pasien mampu menjaga kontinutas
kesehatannya secara mandiri,namun tujuan itu tidak akan tercapai dengan baik jika
edukasi klien tidakdilaksanakan.
2.1.5 Menguraikan proses pengintegrasian pendidikan kesehatan ke dalam

praktek keperawatan.

Dalam menjalankan proses pengintegrasian pendidikan kesehatan,


perawatmengidentifiksikan kesediaan dan rumit belajar klien (Redman, 2007). Klien
yangsedang menjalani pemulihan dan beradaptasi terhadap perubahan akibat
penyakitbiasanya, klien mencari informasi tentang kondisinya, kemudian pula perawat
tidaklupa untuk mengikutsertakan keluarga, karena disini keluarga merupakan
bagianpenting dalam pemulihan kesehatan dan membutukan informasi dengan jumlah

 10

yang sama seperti klien. Jika perawat tidak menyertakan keluarga, maka
dapatmenimbulkan konflik pada keluarga.

2.1.6 Model Proses dalam Pendidikan Kesehatan PasienMenurut Susan B. Bastable


(1999), terdapat beberapa model proses dalampendidikan kesehatan, antara lain:

1. Health Belief Model adalah model yang dimodifikasi oleh Becker (1974)untuk
menangani permasalahan kepatuhan pada program pengobatanteraupetik. Terdapat dua
alasan utama yang menjadi dasar dibentuknyamodel ini yaitu keberhasilan terhadap
pencegahan penyakit dan programpenyembuhan yang memerlukan kepatuhan klien untuk
berpartisipasi dankeyakinan bahwa kesehatan memang sangat dihargai.

2. Health Promotion Model, adalah model yang dikembangkan oleh Pender(1987) dan
digunakan dalam disiplin keperawatan. Model inimenggambarkan komponen dan
mekanisme yang menjadi faktor penentupada gaya hidup yang mempromosikan
kesehatan.

3. Self-Efficacy Theory adalah model yang dikembangkan dari perspektifsosial-kognitif


dan didasarkan pada harapan seseorang yang berkaitandengan rangkaian tindakan
tertentu (Bandura, 1977a, 1977b, 1986). Teoriini merupakan teori prediktif perihal suatu
keyakinan bahwa seseorangdapat mengerjakan perilaku tertentu dalam mencapai hasil
yang diharapkansesuatu dengan kompetensi dan kapabilitasnya.

4. Theory of Reasoned Action adalah model yang berkaitan dengan prediksidan


pemahaman semua bentuk perilaku manusia dalam konteks sosial.Teori ini didasarkan
pada alasan bahwa manusia merupakan pembuatkeputusan yang rasional yang
memanfaatkan informasi apapun yang

tersedia bagi mereka.

5. Model PRECEDE (Predisposing, Reinforcing, and Enabling Constructsin Educational


Diagnosis and Evaluation)-PROCEED (Policy,Regulatory, and Organizational Constructs
in Educational andEnvirinment Development) adalah model yang memiliki harapan
untukmengurangi tingkat kematian. Inti dari model ini adalah pendidikan

 11

kesehatan, yang didefinisikan sebagai partisipasi sikap rela peserta didikdalam


menentukan praktik kesehatan mereka sendiri.

6. Therapeutic Alliance Model merupakan model yang membahas tentangperalihan


kekuasaan dari penyelenggara kepada kemitraan pembelajarandimana kerjasama dan
negosiasi dengan konsumen merupakan kuncinya.

2.2 Belajar dan Mengajar2.2.1 Pengertian Belajar

Menurut Kozier (200) belajar merupakan berubahnya kemampuanseseorang yang terus


berlanjut dalam suatu waktu. Sementara itu, menurut PatriciaPotter dan Anne Perry
(2005), belajar adalah proses memperoleh ilmu, sikap, dankemampuan baru melalui
latihan dan pengalaman. Berdasarkan beberapa arti daribelajar di atas, belajar dapat
disimpulkan sebagai kegiatan dalam memperoleh hal-hal baru terutama ilmu yang
didapat melalui latihan atau menempa diri sertapengalaman.

2.2.2 Mengajar

Mengajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai artimemberi pelajaran


atau pelatihan. Sementara itu, menurut The Free Dictionary,mengajar merupakan suatu
aktivitas untuk mendidik atau melatih dan di dalamaktivitas mengajar, pengajar berusaha
memberi atau menanamkan pengetahuanatau keterampilan kepada para pelajar. Selain
definisi definisi di atas, mengajarjuga memiliki beberapa definisi yang berasal dari
berbagai tokoh yaitu:

a. Mengajar tak hanya menyampaikan pengetahuan tetapi juga merangsangterjadinya


proses berpikir, tumbuhnya sikap kritis, atau hingga mengubahpandangan para pelajar
(Rooijakkers, 1991).

b. Mengajar atau pembelajaran merupakan perolehan pengetahuan, perilaku,dan


keterampilan baru. (Bastable, 2003 dalam Potter dan Perry, 2010)

Dari beberapa definisi di atas, mengajar dapat disimpulkan sebagai suatukegiatan yang
bertujuan untuk menularkan ilmu pengetahuan yang dimiliki kepadaorang yang belajar
sehingga dapat menumbuhkan sikap kritis dari para pelajarhingga mengubah sikap
pelajar dan juga agar dapat diaplikasikan dalam kehidupansehari hari.

 12

2.2.3 Teori-teori belajar:1. Teori Behavior


Teori belajar behavior berpandangan bahwa belajar adalah prosesperubahan perilaku. J.B.
Watson yang dikenal sebagai Bapak Teori Behaviormempelajari studi yang dilakukan
oleh Ivan Pavlov tentang eksperimennyaterhadap respon seekor anjing yang dikondisikan
pada kondisi berulang. Watsonmenyimpulkan bahwa belajar adalah proses penerimaan
respon dari stimulus yangdapat diukur dan dapat diobservasi. Belajar dapat dicapai
melalui perilaku yangtepat dari sejumlah respon dan melalui pendekatan penguatan.

2. Teori Kognitif

Teori kognitif melihat kegiatan belajar sebagai sesuatu yang aktif. Merekaberinisiatif
mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untukmenyelesaikan masalah,
mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telahmereka ketahui untuk mencapai
pelajaran baru. Teori belajar kognitif juga seringdisebut sebagai teori perseptual karena
menurut teori ini, kegiatan belajar adalahperubahan persepsi yang terkadang tidak dapat
diamati dan / atau diikuti. Menurutteori ini pula, proses belajar akan berjalan dengan baik
jika materi pelajaran atauinformasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki seseorang.Teori belajar kognitif dikemukakan oleh Ausubel, Bruner, Jean Piaget,
dan RobertM. Gagne

3. Teori HumanistikMenurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan

manusia. Hal itu dikarenakan menurut teori ini, kepribadian individu tidak hanyaberasal
dari pembelajaran lingkungan tetapi juga hasil pembelajaran dan motivasidari dalam diri
individu tersebut. Contoh pembelajaran dari dalam diri individutersebut adalah kebebasan
utnuk memilih, dan motivasi untuk mencapai aktualisasidiri atau memenuhi keunikan
mereka sebagai manusia. Menurut teori ini pula,terdapat dua tipe belajar yaitu tipe belajar
kognitif atau tipe belajar berdasarkanmakna dan tipe belajar eksperiensial atau tipe
belajar berdasarkan pengalaman.Tetapi, secara umum teori ini bersifat elektif sehingga
teknik belajar apapun dapat

 13

dialakukan oleh seorang individu agar tujuan belajar dapat tercapai. Hingga saatini,
terdapat tiga tokoh pelopor teori humanistik yaitu Arthur Combs, AbrahamMaslow, dan
Carl Rogers.4. Teori Sibernetik

Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi (Nursalam dan FerryEfendi,
2008). Teori ini lebih mementingkan sistem informasi daripada proses.Sistem informasi
adalah suatu cara tertentu untuk menyediakan informasi yangdibutuhkan oleh organisasi
agar dapat beroperasi secara benar dan menguntungkan(Teguh Wahyono, 2010). Tokoh
yang mengembangkan teori sibernetik adalahLanda yang berpendapat bahwa ada dua
macam proses berpikir, algoritmik (prosesberpikir linier, konvergen, dan lurus menuju ke
satu target tertentu), dan heuristik(cara berpikir divergen, menuju ke beberapa target
sekaligus), dan Pask dan Scottyang mengemukakan cara berpikir menyeluruh dan
sebagian (Nursalam dan FerryEfendi, 2008).
2.2.4 Domain Belajar2.2.4.1 Domain Belajar Kognitif

Pembelajaran kognitif meliputi semua perilaku intelektual (Potter danPerry, 2005).


Bloom (1956) menglasifikasikan perilaku kognitif dalam urutanhierarki. Urutan pertama
dalam hierarki adalah pengetahuan. Denganmenggunakan pengetahuan seseorang akan
mendapatkan fakta atau informasibaru dan dapat diingat kembali. Sebagai contoh, klien
belajar tentang obat-obatan yang diberikan dan dapat menjelaskan tujuan dan
kemungkinan efeksampingnya (Potter dan Perry, 2005).

Urutan kedua dalam hierarki adalah pemahaman. Pemahaman adalahkemampuan untuk


memahami materi yang dipelajari. Contoh, klien mampumenguraikan secara spesifik
bagaimana obat-obat yang baru diberikan untuknyaakan dapat meningkatkan kesehatan
fisiknya (Potter dan Perry, 2005). Urutanketiga dalam hierarki adalah aplikasi atau
penerapan mencakup penggunaan ide-ide abstrak yang baru dipelajarinya untuk
diterapkan dalam situasi yang nyata.Contoh, klien belajar cara pemberian obat sendiri
sesuai dengan jadwal untukmeminimalkan efek samping (Potter dan Perry, 2005).

 14

Urutan keempat dalam hierarki adalah analisis yang berarti mengaitkan ideyang satu
dengan yang lain dengan cara yang benar. Contoh, klien mampumengidentifikasi efek
samping yang paling sering dialaminya karena obattertentu dan membandingkannya
dengan efek samping yang dialami oleh oranglain (Potter dan Perry, 2005). Urutan
kelima dalam hierarki adalah membuatsintesis yang merupakan kemampuan memahami
dari semua informasi yangditerimanya. Contoh, klien mengalami efek samping dari suatu
obat dan dalammelakukan cara untuk mencegahnya (Potter dan Perry, 2005). Urutan
terakhirdalam hierarki tersebut adalah evaluasi. Evaluasi adalah berupa penilaian
olehklien terhadap efek yang diterima saat dan setelah melakukan perawatan(Harkreader,
Hogan, dan Thobaben, 2004). Contoh, klien mampu memahamikebutuhan terhadap
informasi lebih lanjut tentang insulin sehubungan denganrencananya mengikuti program
latihan (Potter dan Perry, 2005).

2.2.4.2Domain afektif

Menurut perry dan potter (2005) pembelajaran afektif berkaitan denganekspresi perasaan
dan penerimaan berupa tingkah laku, pendapat dan nilai.Afektif meujuk pada emosi atau
perasaan, pembelajaran ini mengubahkepercayaan, sikap atau nilai. Menurut Potter dan
Perry (2005) Terdapat limahierarki dalam domain afektif, yaitu sebagai berikut :

1. Urutan pertama adalah penerimaan yaitu bersedia menerima perkataan oranglain,


menyadari adanya suatu fenomena di lingkungan. Contoh seorangwanita mendengarkan
penjelasan mengenai prosedur operasi payudaradengan penuh perhatian dan kontak mata.

2. Urutan kedua adalah merespon yaitu memberikan tanggapan melaluikegiatan


mendengarkan dengan bereaksi secara verbal dan non verbal.Contoh : pasien bertanya
mengenai proses terapi yang harus dijalani untukmempercepat kesembuhan/ pemulihan.
3. Urutan ketiga adalah penghargaan yaitu memberikan nilai pada suatu objek,fenomena
atau tingkah laku. Contoh: seorang pasien yang sangat

memperhatikan rupa/ tampilan luka operasi sebelum pengangkatan payudara

 15

menolak untuk melihat luka irisan dan memakai pakaian dengan kerahtertutup.

4. Urutan keempat dalah pengorganisasian yaitu membangun sistem nilaidengan


mengidentifikasi dan mengorganisasi nilai dan mampumenyelesaikan konflik. Contohnya
: pasien amputasi berniat menerimaperubahan yang ada pada dirinya dan berkeinginan
untuk tetap berpartisipasidalam kehidupan bermasyarakat.

5. Urutan kelima atau terakhir adalah karakterisasi yaitu memiliki nilai yangkonsisten dan
menjadi dasar dalam tingkah laku yang menjadi gaya hidup.Contoh : seorang pasien
amputasi tetap menjalani kehidupan normalnya dimasyarakat.

2.2.4.3 Domain psikomotor

Pembelajaran psikomotorik melibatkan penguasaan ketrampilan yangmemerlukan


integrasi antara aktivitas mental dan muskular, seperti kemampuanberjalan atau
menggunakan peralatan makan (Potter & Perry, 2005).Psikomotorik domain (Simpson,
1972) mencakup gerakan fisik, koordinasi, danpenggunaan keterampilan area motorik.
Domain ini memiliki hierarki sebagaiberikut :

1. Urutan pertama persepsi yaitu Kemampuan untuk menggunakan isyarat

sensoris untuk memandu aktivitas motorik. Contoh : memperkirakan dimanabola akan


mendarat setelah dilemparkan dan pindah ke lokasi menangkapbola.

2. Urutan kedua adalah pengaturan yaitu kesiapan untuk bertindak. Mencakuppengaturan


mental, fisik, dan emosional. Contoh: tahu dan bertindak atasurutan langkah dalam proses
manufaktur/produksi, menunjukkan keinginanuntuk mempelajari proses baru (motivasi).

3. Urutan ketiga adalah respon terkendali tahap awal dalam mempelajariketerampilan


yang kompleks yang mencakup peniruan, trial dan error.Contoh : merespon sinyal-tangan
dari instruktur saat belajar mengoperasikanforklift.

 16

4. Urutan keempat mekanisme adalah respon belajar telah menjadi kebiasaandan gerakan
dapat dilakukan dengan sedikit keyakinan dan kemampuan.Contoh : mengendarai mobil
pribadi.
5. Urutan kelima adalah respon jelas yang rumit adalah kinerja terampil daritindakan
motorik yang melibatkan pola gerakan yang kompleks tanpa ragudan otomatis. Contoh :
menampilkan kompetensi saat bermain piano.

6. Urutan keenam adalah adaptasi adalah keterampilan yang dikembangkandengan baik


dan individu dapat memodifikasi pola pergerakan sesuaipersyaratan tertentu. Contoh :
memodifikasi instruksi untuk memenuhikebutuhan peserta didik.

7. Urutan ketujuh atau terakhir adalah originasi yaitu membuat pola gerakanbaru agar
sesuai dengan situasi atau masalah tertentu. Contoh:mengembangkan program pelatihan
baru dan komprehensi

2.2.5 Pengertian Konsep Mengajarkonsep mengajar ialah ide atau pengertian yang
berhubungan dengan

mengajar. Konsep tersebut dapat dipandang dari tiga dimensi, yaitu1. Konsep mengajar
sebagai mitos dibangun atas dasar keyakinan awal, namun

dalam perkembangannya tidak senantiasa sejalan dan seirama dengansemangat yang


dibangun oleh mitos mengajar yang bersangkutan. Cole danChan (1994)
mengklasifikasikan sejumlah mitos mengajar, yaitu mengajarsangat tergantung pada
derajat personalia orang yang mengajarnya,penerapan kontrol perilaku siswa, pada
dasarnya merupakan ikhtiar kegiatanbelajar mengenai sejumlah keterampilan.

2. Konsep mengajar sebagai subsistem/sistem artinya aktivitas mengajarmerupakan


subsistem dari sistem pendidikan dan mengajar tidak bisadilepaskan dari sistem
pengajaran (instructional system) ataupun sistembelajar (learning system). Sebagai
subsistem pengajaran, mengajar sangatbergantung pada unsur lain dalam pendidikan,
seperti manajemenpendidikan. Sebagai sistem, mengajar mempunyai komponen-
komponenseperti pengajar, peserta ajar, fasilitas, dan lain-lain.

 17

3. Konsep mengajar sebagai substansi keilmuan merupakan salah satu carauntuk


menyampaikan ilmu (informasi yang bermanfaat) kepada orang lain.

2.2.6 Teori mengajarSecara umum, ada empat aliran pendidikan (Sukmadinata, 1997).
Keempat

aliran itu antara lain;

1. Pada teori pendidikan klasik pendidik berperan sangat dominan menentukanisi,


metode, dan evaluasi. Sedangkan klien berperan secara pasif. Contohpada penyuluhan
kesehatan dalam jumlah yang besar, promotor cenderungmendominasi. Teori mengajar
pendidikan pribadi lebih menekankan bahwapendidik harus memahami peserta didik.
Contoh : bimbingan konseling.
2. Teori mengajar teknologi pendidikan berarti bahwa pengembanganpendidikan dengan
memanfaatkan teknologi. Contoh : pemutaran video padapenyuluhan kesehatan.

3. Teori mengajar interaksional yaitu ada hubungan dua pihak atau lebihsehingga terjadi
interaksi. Contoh : seminar kesehatan interaktif. Teorimengajar membedakan yaitu
pendidik mengajarkan dua fakta atau konsepyang berbeda. Contoh : perbedaan mencuci
tangan dengan sabun dan handsanitizer.

4. Teori Mengajar Kognitif mengajarkan klien untuk dapat mengingat,menerima dan


memahami informasi pembelajaran. Contoh : pada promosikesehatan, pendidik akan
mengajarkan peserta didik untuk mengingat,menerima dan memahami materi kesehatan
yang akan diberikan.

 18

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pendidikan atau edukasi dapat disimpulkan sebagai penambahanpengetahuan dan


kemampuan seseorang melalui proses belajar atauinstruksi dengan tujuan untuk
mengangkat fakta dan kondisi nyata dengancara memberi dorongan terhadap pengarahan
diri (self-direction), aktifdalam memberikan informasi atau ide baru. Edukas i kesehatan
untuk klienmerupakan edukasi kesehatayang diberikan oleh seorang petugas
kesehatankepada klien. Secara lebih lengkap, Wingroot (2005) mengatakan
bahwaedukasi kesehatan dapat meningkatkan kemampuan seseorang untukmengatur
kesehatan mereka dan mengubah perilaku klien.

Edukasi tak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar. Belajar,menurut Kozier
(2010) merupakan berubahnya kemampuan seseorangyang terus berlanjut dalam suatu
waktu sementara mengajar dapatdisimpulkan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan
untuk menularkan ilmupengetahuan yang dimiliki kepada orang yang belajar sehingga
dapatmenumbuhkan sikap kritis dari para pelajar hingga mengubah sikap pelajardan juga
agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari.

 19

DAFTAR PUSTAKA

- Nursalam, Fery, Efendi. (2007). PendidikanDalamKeperawatan.


Jakarta:SalembaMedika

- Alberto, P. & Troutman, A.c. (2009). Applied behavioral analysis forteacher 6th ed.
Upper Saddler River: Merill Prentice Hall
- Bandono, A. (2011). Perdebatan sekitar teori belajar dalam praktekpembelajaran.
Jurnal.

- Bastable, Susan B.. (2002). Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-PrinsipPengajaran dan


Pemebelajaran. Jakarta: EGC.

- Budiningsih, A, C. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta:Penerbit Rinika Cipta

- Chowdbury, M.S & college M. (2006). Human behavior in the context oftraining: an
overview of the role of learningtheories as applied to trainingand development. Journal of
knowledge management practice, volume 1.June.

- Craven & Hirnle. (2007). Fundamental of Nursing : Human Health andFunction 5th
Edition. Philadelphia : Mosby, Inc

- Fatta, Hanif Al. (2007). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi untukKeunggulan
Bersaing Perusahaan dan Organisasi Modern. Yogyakarta:Andi.

- Harkreader, H., Hogan, M.A., Thobaben, M. (2007). Fundamental ofNursing : Caring


and clinical judgment 3rd Edition. Philadelphia :Saunders

- Hergenhahn, B.R dan Olson, Matthew H. (2008). Teori Belajar EdisiKetujuh. Jakarta:
Kencana.

- Joos, Irene, dkk. (2003). Belajar Cepat Komputer: Panduan Untuk ProfesiKesehatan. Ed
3. Jakarta: EGC.

- Kozier, B. (2010). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, danPraktik. Jakarta:


EGC

- Kozier, Barbara, Erb, Glenora, Berman, Audrey, dan Snyder, Shirlee J.(2004.)
Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice SeventhEdition. USA: Pearson
Education.

 20

- Maulana, H.D.J. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC- Nursalam, F.E. (2007).
Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba

Medika

- Potter, P.A. dan Perry, A.G. (2010). Fundamental Keperawatan. (terj. dr.Adrina
Ferderika Nggie dan dr. Marina Albar). Buku 1 Edisi 7. Jakarta:EGC.

- Rankin, H.S. (2001). Patient Education: Principles & Practices.Philadelphia: Lippincott


Williams and Wilkins.
- Redman, K.B. (2007). The Practice of Patient Education: A Case StudyApproach. New
York: Elsevier

- Rooijakkers, A. (1991). Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Grasindo.- Simamora,


Roymond. H. (2009). Buku Ajar Pendidikan Keperawatan.

Jakarta: EGC.

- Sunaryo. (2002). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.- Syah, Muhibbin.


(2010). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers- Tim Pengembang Ilmu Pendidikan,
FIP-UPI. (2007). Ilmu dan Aplikasi

Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

- Wahyono, Teguh. (2010). Membuat Sendiri Aplikasi dengan MemanfaatkanBarcode.


Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

- Wuryani, Sri Esti. (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

- http://www.thefreedictionary.com/teaching (diakses pada 6 September2013 pukul


10.30)

- http://ugcnetonline.svtuition.org/2009/03/definition-of-teaching-and-its.html (diakses
pada 6 September 2013 pukul 10.50)

- http://www.pendidikanekonomi.com/2013/01/inti-teori-belajar-behavioristik.html
(diakses pada 6 September 2013 pukull 11.00)

- http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/163/jiptiain--herionosus-8148-5-4.babii!.pdf
(diakses pada 8 September 2013 pukul 15.11)

Recommended

Konsep Teori Dan Prinsip Belajar MengajarDocuments

Makalah Hakikat Belajar Dan Mengajar 2Documents


Makalah Teori Belajar Dan PembelajaranDocuments

Makalah Belajar Dan Pembelajaran Teori EvolusionerDocuments

Makalah Strategi Belajar MengajarDocuments

Makalah Psikologi Sosial Teori Psikoanalisa Dan Teori Belajar SosialDocuments

Makalah Interaksi Belajar MengajarDocuments

Makalah Promosi Kesehatan Edukasi Kesehatan Klien(Kognitif,AfektifDocuments

Makalah Teori Belajar (Menurut Gagne Dan Berliner)Documents


3. Teori Belajar Behavioristik - Afid Burhanuddin ? Hakikat dan Teori Belajar Afid Burhanuddin
1 Teori-teoriBelajar AfidBurhanuddin Belajar Mengajar Teori Behavioristik Kompetensi Dasar
Memahami hakikat teori ...Documents

Teori Belajar Dalam Proses Belajar Mengajar MatematikaDocuments

Makalah konsep dasar strategi pembelajaran dan teori belajarEducation

Makalah Kelompok - Teori Belajar Dan Implikasinya Dalam PembelajaranDocuments

Makalah Teori Belajar Sibernetik dan Penerapannya dalam PembelajaranDocuments

DESKRIPSI DAN SILABUS MATA KULIAH viewMata kuliah ini mempelajari konsep belajar
dan pembelajaran, teori belajar dan proses belajar, gaya belajar dan kesulitan belajar, metode
mengajar, keterampilan mengajar, kompetensi guru, pembelajaran dengan modul, dan
...Documents

KKKOOONNNSSSEEEPPP ? Intelektual, Keterampilan Mengajar, Bakat dan Seni.


Keterampilan ... teori tentang Prinsip prinsip Belajar dan Pembelajaran, Strategi Mengajar,
...Documents

Makalah Psikologi Pendidikan Teori Belajar dan Pembelajarn KognitifEducation

Penerapan Teori Belajar Vygotsky Dalam Interaksi Belajar MengajarDocuments


Konsep Al-quran tentang Fitrah dan Kaitannya denga teori Belajar MengajarDocuments

99891336 Makalah Kelompok Teori Belajar Dan Implikasinya Dalam PembelajaranDocuments


View more >

 About Us
 Contact
 Term
 DMCA
 Cookie Policy

STARTUP - SHARE TO SUCCESS