Anda di halaman 1dari 98

IDENTIFIKASI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI

RUMAH SAKIT UMUM BAHTERAMAS


SULAWESI TENGGARA

KARYA TULIS ILMIAH


Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan
Diploma Tiga (III) Di Politeknik Kesehatan Kendari
Jurusan Keperawatan

OLEH :

IIS HASMAWA K
P00320013011

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2016
MOTTO

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, dan


sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyu
Meraih kesuksesan perlu kesabaran dan keuletan
Orang yang sukses bukan tidak pernah jatuh,
orang sukses adalah orang yang tidak pernah berpikir dIrinya
kalah, ketika ia terpukul jatuh (gagal) ia bangkit kembali,
belajar dari kesalahannya dan bergerak maju
menuju kearah yang lebih baik.
Berpegan teguhlah pada prinsip
karena pendirian yang kuat akan membawa
keberhasilan dan kebanggaan pada diri sendiri.

Persembahkan karya Tulis Ini Untuk Kedua Orang Tuaku, Saudaraku,


dan Sahabat-sahabatku Dan Almamaterku
RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS

a. Nama : IIS HASMAWA K

b. Tempat, tanggal lahir : Bombana, 08 Desember 1994

c. Jeniskelamin : Perempuan

d. Suku / Bangasa : Moronene / Indonesia

e. Agama : Islam

f. Alamat : Jln. Ahmad Dahlan.

Kelurahan Bonggoea

Kecamatan Wua-wua Kota Kendari

II. JENJANG PENDIDIKAN

a. SD Negeri 03 Kasipute, tamat tahun 2006

b. SMP Negeri 01 Rumbia, tamat tahun 2009

c. SMA Negeri 01 Bombana, tamat tahun 2012

d. Sejak tahun 2013 melanjutkan pendidikan di Politeknik Kesehatan

Kemenkes Kendari jurusan keperawatan sampai sekarang


ABSTRAK

Iis Hasmawa K (NIM. P00320013011).” Identifikasi Tingkat kecemasan pada


pasien pre operasi apendisitis di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi
Tenggara”. Pembimbing I : Hj. Nurjannah dan pembimbing II: Hj.Siti
Nurhayani. (xiii + 68 halaman + 10 tabel + 10 lampiran. Kecemasan hal yang
selalu dirasakan bagi mereka yang akan menjalani suatu pemeriksaan kesehatan,
tindakan pembedahan/operasi, termasuk pasien pre operasi Appendictomy.
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
(apendiks), yang dapat mengakibatkan pernanahan dan bila infeksi bertambah parah,
apendiks itu bisa pecah. Oleh karena itu harus ditangani dengan membuang apendiks
(operasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan pada
pasien pre operasi Apendisitis di Rumah Sakit Umm Bahteramas Sulawesi Tenggara
Tahun 2016. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Bahteramas mulai
tanggal 24 Februari sampai 19 Juni 2016. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan observasi langsung dan
wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien Apendisitis
berjumlah 119 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang akan
melakukan operasi Apendisitis berjumlah 30 responden dengan tekhnik sampling
adalah accidental sampling yaitu pengambilan sampel dengan berdasarkan secara
kebetulan ada/tersedia selama penelitian berlangsung. Data diperoleh dengan cara
mengambil lembar Check List pada pasien pre operasi apendisitis.Hasil penelitian ini
tingkat kecemasan ringan pada pasien pre operasi apendisitis 11 responden (36,6%),
tingkat kecemasan sedang pada pasien pre operasi apendisitis 16 responden (53,3%)
dan tingkat kecemasan berat pada pasien pre operasi apendisitis 3 responden
(10,00%). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah menunjukkan bahwa frekuansi
tertinggi tingkat kecemasan sedang (53,3%), dan terendah tingkat kecemasn berat
(10,00%). Diharapkan Pihak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara agar
dapat menentukan dan merencanakan metode untuk dapat mengurangi tingkat
kecemasan yang dihadapi oleh pasien sebelum dan setelah dilakukan tindakan operas

Kata Kunci : Tingkat Kecemasan Pasien Apendisitis, Pre Operasi


Daftar Pustaka : 20 literatur (2002-2010)
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur atas kegadirat Allah SWT karena

atas limpahan rahmad dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya

Tulis Ilmiah ini, yang merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan

Diploma III di Politeknik Kesehatan Kendari Jurusan Keperawatan dengan judul :

“Identifikasi Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Sulawesi Tenggara“.

Penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari bimbingan, arahan dan

petunjuk dari berbagai pihak, sehingga segala bentuk kesulitan dan kendala yang

ditemui dapat d atasi. Oleh pada kesempatan ini, pertama- tama penulis berterima

kasih kepada ibu Hj. Nurjanah, B.Sc,.S.Pd,.M.Kes selaku pembimbing satu dan ibu

Hj.Sitti nurhayani, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku pembimbing II dengan penuh kesabaran

dan keikhlasan membimbing penulis sehingga karya tulis ilmiah ini dapat

terselesaikan. Terima kasih pula kepada bapak ibu selaku penguji.

Ucapan terimakasih sedalam dalamnya terkhusus penulis persembahkan

kepada ayah Kasman Masiri dan ibu Sitti hasmawati serta kakak Estika milawati dan

seluruh keluarga besar penulis yang telah memberikan motivasi,dukungan baik


moral,materi serta do’a restu selama penulis mengkuti pendidkan dan menyelesaikan

karya tulis ilmiah.

Pada kesempatan ini tak lupa juga ucapan banyak terimakasih dan

penghargaan yang tulus kepada yang terhormat kepada:

1. Bapak Petrus,SKM M.Kes selaku Direktur Poltekes Kemenkes Kendari

2. Bapak kepala Badan Riset Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah mengizinkan

peniliti untuk melakukan penelitian

3. Bapak Direktur Rumah Sakit Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara yang

telah mengizinkan peniliti untk melakkan penelitian.

4. Bapak Muslimin L.,A.Kep.,S.pd.,M.Si selaku Ketua Jurusan Keperawatan.

5. Ibu Ruth Mongan B,Sc.,S.Pd.,M,Pd, Ibu Sitti Rachmi Misbah,S.Kep, M.Kes dan

Bapak Indriono Hadi, S.Kep, Ns,M.Kes selaku penguji I, II dan III.

6. Seluruh Dosen dan Staff pengajar Politeknik Kementerian Kesehatan Kendari

khususnya Program Studi DIII Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.

7. Sahabat dan teman- teman saya Sofiana, Harianti, Elsya Juniarti, Iin Lasaima,

Vina dwi lestari, Karmini, Linawati Samen, Isma Yuli, Nita Sriana Muhammad

Nur Rahmad dan Hujrianto yang selalu mensuport, menemani dan memberikan

motivasi dalam penulisan proposal ini.

8. Rekan-rakan angakatan mahasiswa-mahasiswi 2013 kelas IIIA dan kelas IIIB

yang telah berjuang bersama-sama selama 3 tahun, merasakan suka dan duka

dalam meraih mimpi dan gelar perawat D3.


9. Semua pihak yang ikut membantu menyelesaikan karya tulis ini.

Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat berguna bagi yang membutuhkan dan

akhir kata penlis berharap ALLAH SWT senantiasa memberikan pahala yang

setimpal kepada pihak – pihak yang telah membantu,Amin

Kendari, Juni 2016

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i


HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................................iii
MOTTO......................................................................................................................iv
RIWAYAT HIDUP.....................................................................................................v
ABSTRAK..................................................................................................................vi
KATA PENGANTAR ............................................................................................. vii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ................................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 4
D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A.. Tinjauan Tentang Kecemasan ................................................................ 7
B. Tinjauan Tentang Appendisitis ............................................................. 27
C. Tinjauan Tentang Kecemasan Pasien Tentang Preoperasi .................... 31

BAB III KERANGKA KONSEP


A. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian ................................................... 43
B. Gambaran Kerangka Konsep ................................................................ 43
C. Variabel Peneliti .................................................................................... 44
D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif ........................................... 44

BAB IV METODE PENELITAN


A. Jenis dan rancangangan penelitian ........................................................ 46
B. Waktu dan tempat penelitian ................................................................. 46
C. Populasi dan Sampel ............................................................................. 46
D. Pengumpulan data ................................................................................. 48
E. Instrumen Penelitian .............................................................................. 48
F. Pengolahan Data .................................................................................... 49
G. Analisa Data .......................................................................................... 49
H. Penyajian Data ...................................................................................... 50
I. Etika Penelitan ...................................................................................... 51

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN


A. Hasil Penelitian 53
B. Pembahasan 61

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan 68
B. Saran 69

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel Teks Hal


Tabel 2.1. Respons Fisiologis Kecemasan Terhadap Sistem Tubuh.................20
Tabel 2.2. Respons Perilaku, Kognitif Dan Afektif terhadap Kecemasan........21
Tabel 5.1. Jumlah Tempat Tidur RSU, Prov Bahteramas Tahun 2012
Sampai Dengan Tahun 2016............................................................56
Tabel 5.2. Jenis Dan Jumlah Ketenagaan RSU Bahteramas Tahun 2012
Sampai Denga Tahun 2016..............................................................57
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Pasien
Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas
Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016.........................................58
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Pasien Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016....................59
Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Pasien Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit
Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016.........59
Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pasien Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016.....................60
Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Agama
Pasien Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016.....................60
Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi
Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara Tahun 2016.......................................................61
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 2 Suratr Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 3 Instrumen Penelitian

Lampiran 4 Surat Izin Pengambilan Data Awal Di Politeknik Kesehatan kendari

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian dari Badan Penelitian Dan Pengembangan


Provinsi Sulawesi Tenggara

Lampiran 6 Surat Izin melakukan penelitian Di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi


Tenggara

Lampiran 7 Surat Izin Telah Melakukan Penelitian Di RSU Bahteramas

Lampiran 8 Surat Keterangan Bebas Pustaka

Lampiran 9 Tabulasi Data Hasil Penelitian

Lampiran 10 Master Tabel Hasil Penelitian


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut World Health Organization (WHO), sehat adalah memperbaiki

kondisi manusia baik jasmani, rohani ataupun akal, sosial dan bukan semata-

mata memberantas penyakit. Dalam memperbaiki kondisi manusia diakukan

upaya peningkatan kesehatan yang optimal mencakup upaya peningkatan

kesehatan (promotif), pencegahan dari penyakit (preventif), penyembuhan

penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan atau rehabilitasi.(Anonim, 2006)

Upaya peningkatan kesehatan yang optimal tersebut menjadi tanggung jawab

semua petugas kesehatan termasuk perawat. Petugas kesehatan dalam

memberikan pelayanan kesehatan terkadang kurang memperhatikan aspek

psikologis dan sosial yang juga berperan dalam penyembuhan pasien, sehingga

umumnya keluhan pasien hanya ditanggapi medis tanpa memperhitungkan

konsekuensi psikologis dan sosial yang dihadapi oleh pasien (Anonim, 2006) .

Trauma bedah yang direncanakan menimbulkan rentang respon fisiologis dan

psikologis pada klien, tergantung pada individu dan pengalaman masa lalu yang

unik, pola koping, kekuatan, dan keterbatasan kebanyakan klien dan keluarganya

memandang setiap tindakan bedah tanpa menghiraukan kompleksitasnya, sebagai

peristiwa besar dan mereka bereaksi dan kecemasan pada tingkat tertentu.

(Carpenito, 2000)
Tindakan bedah atau disebut operasi merupakan tindakan medis yang dapat

mendatangkan kecemasan. Salah satu tindakan untuk mengurangi tingkat

kecemasan adalah dengan cara mempersiapkan mental diri dari pasien dan

komunikasi yang diberikan oleh perawat (potter & Perry, 2005). Tetapi

fenomena yang ada sekarang bahwa komunikasi yang dilakukan perawat sebagai

orang yang terdekat dan yang paling lama berada didekat pasien cenderung

mengaruh pada tugas perawat dari pada mengenali kecemasan dan persepsi

pasien tentang ketidaknyaman menyebabkan kecemasan (Asmadi, 2010).

Kecemasan merupakan hal yang selalu dirasakan begi mereka yang akan

menjalani suatu pemeriksaan kesehatan, tindakan pembedahan/operasi, termasuk

pasien pre operasi Appendictomy. Kecemasan merupakan kondisi kejiwaan yang

penuh dengan kekhawatiran dan ketegangan akan apa yang mungkin terjadi, baik

berkaitan dengan permasalahan yang terbatas maupun hal-hal yang aneh.

Deskripsi umum akan kecemasan yaitu “perasaan tertekan dan tidak tenang serta

berpikiran kacau dengan disertai banyak penyesalan”. Hal ini sangat berpengaruh

pada tubuh, hingga tubuh dirasa menggigil, menimbulkan banyak keringat,

jantung berdegup cepat, lambung terasa mual, tubuh terasa lemas, kemampuan

berproduktivitas berkurang hingga banyak manusia yang melarikan diri ke alam

imajinasi sebagai bentuk terapi sementara ( Musfir, 2005: 512).Dari berbagai

pengertian kecemasan dapat dikatakan kecemasan adalah reaksi yang menjadi

nyata atau bayangan ancaman,merupakan perasaan umum dari tidak aman atau

rasa takut (Pietra&Haryanto, 2009)


Gejala kecemasan meliputi fisik,emosi dan kognitif. Kecemasan yang sering

muncul pada pasien merupakan salah satu respon individu terhadap situasi yang

mengancam atau mengganggu integritas diri. Berbagai dampak psikologis yang

terekspresi dalam berbagai bentuk seperti marah, menolak atau apatis terhadap

kegiatan keperawatan yang disebabkan ketidaktahuan akan pengalaman

pembedahan,.anastesi, pendarahan, masa depan, keuangan dan tanggung jawab

keluarga,kecemasan dan ketakutan akan nyeri atau kematian atau ketakutan akan

perubahan citra diri dan konsep dir serta perubahan fisik terutama tanda-tanda

vital, gangguan tidur, dan sering buang air kecil, sehingga ada kalanya terjadi

pembatalan operasi. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi tingkat

kecemasan yang dialami pasien. (Arif Muttaqin & Kumala Sari,2009).

Berdasarkan penelitian oleh Wijayanti (2010), RSUD Dr.Soeajitirtonegoro

Klaten Jawa Tengah ditemukan bahwa 20 (64,5%) pasien mengalami cemas

ringan dan 11 (35,5%) mengatakan cemas berat. Pada studi pendahuluan yang

dilakukan oleh Pratwi (2008) di RSPKU Yogyakarta menyebutkan bahwa 60%

pasien mengalami kecemasan dari tingkat ringan hingga berat dimana jika

diperinci 30% pasien mengalami cemas ringan,30% mengalami cemas berat,

dan 10% lagi dilakukan pembatalan operasi karena pasien mengalami cemas atau

stres berat .Pada penelitian Ni Putu Mega Pratiwi juga dilaporkan bahwa 70%

perawat jarang menanyakan dan mengurusi masalah psikis dan spiritual pasien

dan hanya berfokus pada kondisi fisik saja.


Berdasarkan data dunia WHO (2011), data dari 35.539 pasien bedah

dirawat di unit perawatan intensif antara 1 Oktober 2007 dan 30 September 2011,

di antaranya 8.622 pasien (25,1%) mengalami masalah kejiwaan dan 2,473

pasien (7%) mengalami kecemasan..

Menurut (Chang, 2011) Appendisitis penyebab paling umum inflamasi

akut pada kuadran kanan dan rongga abdomen, adalah penyebab paling umum

untuk bedah abdomen darurat. Angka kejadian apendisitis di dunia pada tahun

2010 mencapai 321 juta kasus tiap tahun..

Menurut Departemen Kesehatan RI, apendisitis menempati urutan keempat

penyakit terbanyak di Indonesia setelah dispepsia, gastritis dan duodenitis.

Statistik menunjukan bahwa setiap tahun apendisitis menyerang 10 juta

penduduk Indonesia(Surya, 2012).

Berdasarkan observasi awal di ruang Bedah Rumah Sakit Umum

Bahteramas Sulawesi Tenggara berkaitan dengan perawat belum pernah

mengukur tingkat kecemasan pada pasien preoperasi, perawat masih belum

menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan diberikan sesuai keadaan

yang mungkin dapat terjadi setelah operasi, sehingga pasien dapat merasa cemas

dan kurang siap dalam menjalaninya.

Berkaitan dengan pengambilan data awal jenis pelayanan operasi di RSU

Bahteramas jumlah kasus bedah yang diperoleh dari Medical Record,pada tahun

2013 didapatkan pasien operasi bedah sebanyak 1834 pasien, tahun 2014 pasien
bedahsebanyak 1010 pasien, tahun 2015 sebanyak 1640 pasien dan pada tahun

2016 bulan januari sebanyak 245 pasien.Jumlah tersebut merupakan total dari

seluruh jenis operasi bedah yang dilakukan di RSU Bahteramas. Sedangkan

Angka kejadian penyakit Apendisitis pada tahun 2013 sebanyak 367 penderita,

tahun 2014 sebanyak 314 penderita, dan tahun 2015 sebanyak 389 penderita dan

data untuk 2016 bulan januari sebanyak 50 penderita. Dimana dari data diatas

pasien yang melakukan operasi bedah dengan angka kejadian appendisitis

meningkat dari tahun 2014 sampai tahun 2015.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Identifikasi Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre

Operasi Appendesitis RSU Bahteramas Sulawesi Tenggara 2016”.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, penulis mencoba

merumuskan masalah yaitu “Bagaimana tingkat kecemasan pada pasien

preoperasi Appendisitis di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara

2016?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi tingkat

kecemasan pada pasien pre operasi Apendisitis di Rumah Sakit Umm

Bahteramas Sulawesi Tenggara Tahun 2016


2. Tujuan Khusus

Mengidentifikasi tingkat kecemasan ringan, sedang dan berat pada pasien pre

operasi Apendisitis operasi di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi

Tenggara Tahun 2016.

D. Manfaat penelitian

1. Bagi Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara

Hasil penelitian ini merupakan informasi tentang tingkat kecemasan pada

pasien preoperasi yang bermanfaat bagi peningkatan dalam mendukung

pelaksanaan praktek keperawatan.

2. Bagi Perawat

Hasil penelitian ini sebagai informasi pentingnya mengetahui tingkat

kecemasan pasien dan dapat memberikan komunikasi terapeutik pada

pasien preoperasi sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien

3. Bagi institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini sebagai salah satu sumber informasi referesi dan

kajian ilmiah atau bahan acuan dan sumber data bagi calon peneliti

selanjutnya.

4. Bagi peniliti

Hasil penelitian ini merupakan suatu pengalaman berharga sebagai

aplikasi dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama pendidikan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Kecemasan

1. Pengertian Cemas

Kecemasan merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan

sesuatu diluar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi

permasalahan. Perasaan tidak tenang yang sumbernya tidak jelas akan dapat

mengancam kepribadian seseorang baik secara fisik maupun secara psikologis.

Reaksi fisiologis dapat berupa palpitasi, keringat dingin pada telapak tangan,

tekanan darah meningkat, respirasi meningkat, sedangkan reaksi psikologis

dapat berupa gugup, tegang,rasa tidak enak dan lekas terkejut. (Asmadi, 2010).

kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan

merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan,

pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan

identitas diri dan arti hidup. Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami

siapapun. Namun cemas yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi

gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya. (Stuart,

2010)

Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan

mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan

mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak
menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan

menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis (Sumiati 2009).

2. Teori-Teori Penyebab Kecemasan

DirektoratKesehatan jiwa Depkes RI (1994)mengembangkan teori-teori

kecemasan sebagai berikut

a. Faktor Predisposisi

1) Teori Psikoanalisis

Menurut pandangan psikoanalisis, kecemasan adalah konflik

emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, yaitu id dan

superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang,

sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan

oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan

dari dua elemen tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego

bahwa ada bahaya yang perlu diatasi.

2) Teori Interpersonal

Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap penolakan saat

berhubungan dengan orang lain. Kecemasan ini juga dihubungkan dengan

trauma pada masa pertumbuhan, seperti kehilangan dan perpisahan dengan

orang yang dicintai. Penolakan terhadap eksistensi diri oleh orang lain atau

masyarakat akan menyebabkan individu yang bersangkutan menjadi cemas.

Namun, bila keberadaannya diterima oleh orang lain, maka ia akan merasa
tenang dan tidak cemas. Kecemasan berkaitan dengan hubungan antara

manusia.

3) Teori Perilaku

Kecemasan merupakan hasil frustasi segala sesatu yang menggangu

kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli perilaku

menggangap kecemasan merupakan suatu dorongan, yang mempelajari

berdasarkan keinginan untuk menghindari rasa sakit.

Pakar teori menyakini bahwa bila pada awal kehidupan dihadapkan

pada rasa takut yang berlebihan maka akan mnunjukan kecemasan yang

berat pada masa dewasanya. Sementara para ahli teori konflik mengatakan

bahwa kecemasan sebagai benturan-benturan keinginan yang bertentangan.

Mereka percaya bahwa hubungan timbal balik antara konflik dan daya

kecemasan yang kemudian menimbulkan konflik.

4) Teori Keluarga

Kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dan timbul dalam suatu

keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan kecemasan dan antara

gangguan kecemasan dengan depresi.

5) Kajian Biologis

Menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzo

diaz epindes. Reseptor ini, mungkin membantu mengatur kecemasan.

Penghambat asam aminobutirik-gamma neroregulator (GABA) juga

mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan


dengan kecemasan, sebagaimana halnya endorphin. Selain itu, telah

dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata

sebagai predisposisi; terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai

gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk

mengatasi stesor.

b. Faktor Presipitasi

Menurut Stuart & Sundeen (1998) faktor pencetus (presipitasi) yang

menyebabkan terjadinya kecemasan antara lain

1). Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan

fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan

aktivitas hidup sehari-hari.

2). Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan indentitas,

harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan

setiap individu memiliki respon yang berbeda dan spesifik saat kecemasan

terjadi. Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan adalah

1) Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi kemampuan

berfikir, semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir

rasional dan menangkap informasi termasuk dalam menguraikan masalah

yang baru. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang telah
dijalani oleh seseorang yaitu belum sekolah, tidak sekolah, tamat SD, tamat

SLTP, dan tamat perguruan tinggi/Akademik.

2) Status sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi atau pendapatan yang kurang/ rendah pada

seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami

kecemasan. Status sosial ekonomi digambarkan dan diukur dengan

besarnya pendapatan, yang dimaksud dengan pendapatan adalah

penghasilan yang diperoleh kepala keluarga yang bersumber dari sektor

formal dan informal dalam waktu satu bulan. Sector formal berupa

gaji, pah yang diperoleh secara tetap. Sedangkan sektor informal seperti

dagang, tukang dan buruh merupakan sector informal

3) Umur

Umur seseorang ternyata lebih mudah mengalami gangguan akibat

kecemasan daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang

berpendapat sebaliknya. Umur adalah variable yang selalu diperhatikan

didalam penyeledikan epidemiologi angka-angka kesakitan maupun

kematian dalam hampir semua keadaan menunjukan hubungan dengan

umur. Angka-angka kesakitan ditunjukan pada pengelompokkan umur,

berdasarkan perbandingan umur WHO menganjurkan pembagian umur 9-

16 tahun masa kanak dan remaja awal, 17-25 tahun masa remaja akhir,

26-32 tahun masa dewasa awal dan seterusnya.

4) Jenis kelamin
Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh

kecemasan yang spontan dan episodic. Gangguan ini lebih sering dialami

wanita daripada pria, karena wanita lebih berprasaan dibandingkan laki-

laki (Bustam 2004).

5) Potensi stressor

Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang

menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu

terpaksa mengadakan adaptasi.

6) Malnutrisi

Individu yang memiliki kematangan kepribadian yang lebih sukar

mengalami gangguan akibat kecemasan, karena individu yang maturasi

mempunyai adaptasi yang lebih besar terhadap kecemasan.

Tingkat meturasi individu akan mempengaruhi tingkat

kecemasan.Pada bayi kecemasan lebih disebabkan oleh perpisahan,

lingkungan atau orang yang tidak dikenal dan perubahan hubungan dalam

kelompok sebaya.

Kecemasan pada remaja lebih banyak disebabkan oleh perkembangan

seksual. Pada dewasa kecemasan berhubungan dengan ancaman konsep

diri, sedangkan pada lansia kecemasan berhubungan dengan kehilangan

fungsi (Yosep,2010)

7) Keadaan fisik
Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cedera operasi akan

mudah mengalami kemasan, disamping itu orang yang mengalami

kelelahan fisik lebih mudah mengalami kecemasan.

8) Tipe kepribadian

Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan

akibat kecemasan daripada orang dengan kepribadian B, adapun ciri-ciri

orang dengan kepribadian tipe A adalah mereka yang mempunyai sifat

agresif dan kompetitip, menetapkan standar-standar tinggi dan meletakan

diri mereka dibawah tekanan waktu yang konstan. Mereka bahkan masih

giat dalam kegiatan-kegiatan olahraga yang bersifat rekreasi dan kegiatan

sosial kemasyarakatan, mereka sering tidak menyadari bahwa banyak

tekanan yang mereka rasakan salah, lebih disebabkan oleh perbuatan

sendiri daripada lingkngan mereka. Sedangkan orang-orang dengan tipe B

adalah orang yang mempunyai sifat rileks dan tidak suka menghadapi

“masalah” atau orang yang “easy going”, mereka menerima situasi yang

ada dan menerima ia berada didalamnya, serta tidak suka bersaing.

Umumnya mereka rileks dalam tekanan waktu, sehingga mereka lebih kecil

kemungkinan untuk menghadapi masalah-masalah stress (Rasmun, 2009)

Pengembangan kepribadian seseorang dimulai sejak usia bayi hingga

18 tahun dan tergantung dari pendidikan orang tua (psikoedukatif)

dirumah, pendidikan disekolah dan pengaruh sosial serta pengalaman-

pengalaman dalam kehidupan. Seseorang menjadi pencemas terutama


akibat proses imitasi dan indentifikasi dirinya terhadap kedua orang tuanya

daripada pengaruh keturunan (genitalia). Atau kata lain “parental example”

daripada “parental genes” (Yosep, 2010).

4. Faktor-faktor yang dapat mengurangi tingkat kecemasan antara lain

Tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait meliputi

hal berikut:

a. Represi, yaitu tindakan untuk mengalihkan atau melupakan hal atau

keinginan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Represi juga bisa diartikan

sebagai usaha untuk menenangkan atau meredam diri agar tidak timbul

dorongan yang tidak sesuai dengan hatinya

b. Relaksasi, yaitu dengan mengatur posisi tidur dan tidak memikirkan masalah

dan rekreasi bisa menurunkan kecemasan dengan cara tidur yang cukup,

mendengarkan musik, tertawa dan memperdalam ilmu agama.

c. Komunikasi perawat, yaitu komunikasi yang disampaikan perawat pada

pasien dengan cara memberi informasi yang lengkap mulai pertama kali

pasien masuk dengan menetapkan kontrak untuk hubungan profesional

mulai dari fase orientasi sampai dengan terminasi atau yang disebut dengan

komunikasi teraupetik (Yosep I,2010).

d. Psikofarmaka, yaitu pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-obatan

seperti diazepam, bromazepam dan alprazolam yang berkhasiat memulihkan

fungsi gangguan neurotransmiter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf

pusat otak.
e. Psikoterapi, merupakan terapi kejiwaan dengan memberi motivasi, semangat

dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan

diberi keyakinan serta kepercayaan diri.

f. Psikoreligius, yaitu dengan doa dan dzikir. Doa adalah mengosongkan batin

dan memohon kepada Tuhan untuk mengisinya dengan segala hal yang kita

butuhkan. Dalam doa umat mencari kekuatan yang dapat melipatgandakan

energi yang hanya terbatas dalam diri sendiri dan melalui hubungan dengan

doa tercipta hubungan yang dalam antara manusia dan Tuhan. Terapi medis

tanpa disertai dengan doa dan dzikir tidaklah lengkap, sebaliknya doa dan

dzikir saja tanpa terapi medis tidaklah efektif.

5. Tingkat Kecemasan Dan Karakteristik

Ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara

interpersonal sehinggga kemampuan individu untuk merespon terhadap suatu

ancaman berbeda satu sama lain. Perbedaan kemampuan ini berimplikasi

terhadap perbedaan kecemasan yang dialaminya. Respon individu terhadap

kecemasan beragam dari kecemasan ringan sampai panik. Tiap tingkat

kecemasan mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain tergantung

dari kemampuan pribadi, pemahaman dalam menghadapi ketegangan, harga

diri dan mekanisme koping yang digunakannya.

Rentang Respon Kecemasan

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik


(sumber Gail W Stuart, 2010)

a. Karekteristik atau Ciri-ciri Kecemasan

1) Kecemasan ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda

dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan

membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar,

menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan

melindungi diri sendiri.Kecemasan ringan dengan ciri-ciri

meningkatkan kesadaran, terangsang untuk melakukan tindakan,

termotivasi secara positif dan sedikit mengalami peningkatan tanda-

tanda vital dalam melakukan kehidupan sehari-hari. Cemas ringan

berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari

sehingga dan menyebabkan seseorang individu menjadi waspada dan

meningkatkan lapang persepsinya. Menifestasi yang muncul pada

tingkat ini adalah kelelahan, lapang persepsi meningkat, kesadaran

tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku

sesuai dengan situasi.

2) Kecemasan sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada

sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau

agitasi.Kecemasan sedang dengan ciri-ciri lebih tegang, menurunnya

konsentrasi dan persepsi, sadar tapi fokusnya sempit, sedikit

mengalami peningkatan tanda-tanda vital. Ansietas (kecemasan)

memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan


mengesampingkan yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang

persepsi individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak

perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area

jika diarahkan untuk melakukannya. Menifestasi yang terjadi pada

tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, ketegangan otot meningkat.

3) Kecemasan berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman,

memperlihatkan respons takut dan distress. Kecemasan berat dengan

ciri-ciri persepsi menjadi terganngu, perasaan tentang terganggu atau

takut meningkat, komunikasi menjadi terganggu dan mengalami

peningkatan tanda-tanda vital. Kecemasan berat sangat mengurangi

lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus pada sesuatu

yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal yang lain.

Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu

tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.

4) Panik, individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena

hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun

dengan perintah. Panik dengan ciri-ciri perasaan terancam, ganggan

realitas, tidak mudah berkomunikasi, kombinasi dari gejala-gejal fisik

yang disebutkan diatas dengan peningkatan tanda-tanda vital lebih

awal dari tanda panik, Tetapi akan lebih buruk jika intervensi yang

dilakukan gagal dapat membahayakan diri sendri dan orang lain.


b. Tanda dan gejala kecemasan

1) Tanda dan gejala kecemasan ringan

a) Respon Fisiologis yaitu sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah

meningkat, gangguan mental pada lambung

b) Respon Kognitif yaitu lapang persepsi meluas, mampu menerima

rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah dan

menyelesaikan masalah secara efektif

c) Respon Perilaku dan emosi yaitu tidak dapat duduk atau baring

dengan tenang, tremor kedua pada tangan dan suara kadang-kadang

meninggi.

2) Karakteristik Kecemasan Sedang

a) Respon Fisiologis yaitu sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah

meningkat, mulut kering, anoreksia, diare/ Konstipasi

b) Respon Kognitif yaitu Lapang persepsi menyempit, tidak mampu

menerima rangsangan dari luar, dan berfokus pada apa yang menjadi

perhatiannya

c) Respon perilaku dan Emosi yaitu Gerakan tersentak /meremas

tangan, bicara banyak dan lebih cepat, insomnia, perasaan tidak aman

dan gelisah
3) Karakteristik Kecemasan berat

a) Respon Fisiologis yaitu Nafas pendek, nadi dan tekanan darah

meningkat, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur dan

ketegangan

b) Respon Kognitif yaitu Lapang persepsi sangat sempit, tidak mampu

menyelesaikan masalah

c) Respon Perilaku dan emosi yaitu Perasaan adanya ancaman

meningkat,verbalisasi cepat dan blocking.

4) Karakteristik Kecemasan Panik

a) Respon Fisiologis yaitu Nafas Sering pendek, nadi dan tekanan darah

meningkat, dan aktivitas motorik meningkat

b) Respon Kognitif yaitu Lapang persepsi sangat sempit, Kehilangan

pemikiran, dan tidak dapat melakukan apa-apa

c) Respon Kognitif yaitu Lapang persepsi sangat sempit, Kehilangan

pemikiran, dan tidak dapat melakukan apa-ap

Respon Fisiologis, Perilaku, Kognitif dan Afektif Terhadap

KecemasanMenurut Stuart (1998 : 177-179), kecemasan dapat diekspresikan

secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak

langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya

untuk melawan kecemasan. Intensitas perilaku akan meningkat sejalan dengan

tingkat kecemasan.
Tabel 2.1
Respons Fisiologis Kecemasan terhadap Sistem Tubuh
Sistem Tubuh Respons
Kardiovaskular Palpitasi
Jantung berdebar
Tekanan darah meninggi
Rasa mau pingsan
Pingsan
Tekanan darah menurun
Denyut nadi menurun
Pernapasan Napas cepat
Napas pendek
Tekanan pada dada
Napas dangkal
Pembengakakan pada tenggorok
Sensasi tercekik
Terengah-engah
Neuromuskular Refleks meningkat
Reaksi kejutan
Mata berkedip-kedip
Insomnia
Tremor
Rigiditas
Gelisah
Wajah tegang
Kelemahan umum
Kaki goyah
Gerakan yang janggal.
Gastrointestinal Kehilangan nafsu makan
Menolak makanan
Rasa tidak nyaman pada abdomen
Mual
Rasa terbakar pada jantung
Diare
Perkemihan Tidak dapat menahan kencing
Sering berkemih
Kulit Wajah kemerahan
Berkeringat setempat (telapak tangan)
GatalRasa panas dan dingin pada kulitWajah
pucat
Berkeringat seluruh tubuh
Sumber : Stuart W Gail (2010). Keperawatan Jiwa, Jakarta : Erlangga

Tabel 2.2
Respons Perilaku, Kognitif dan Afektif terhadap Kecemasan
Sistem Respons

Perilaku Gelisah
Ketegangan fisik
Tremor
Gugup
Bicara cepat
Kurang koordinasi
Cenderung mendapat cedera
Menarik diri dari hubungan interpersonal.
Menghalangi
Melarikan diri dari masalah
Menghindari
Hiperventilasi
Kognitif Perhatian terganggu
Konsentrasi buruk
Pelupa
Salah dalam memberikan penilaian
Preokupasi
Hambatan berpikir
Bidang persepsi menurun
Kreativitas menurun
Bingung
Sangat waspada
Kesadaran diri meningkat
Kehilangan objektivitas
Takut kehilangan kontrol
Takut pada gambaran visual
Takut cedera atau kematian
Afektif Mudah terganggu
Tidak sabar
Gelisah
Tegang
Ketakutan
Teror
Gugup
Waspada
Kengerian
Kekhwatiran
Kecemasan
Mati rasa
Rasa bersalah
Malu
Sumber : Stuart W Gail (2010). Keperawatan Jiwa, Jakarta : Erlangga

6. Intervensi Keperawatan Pasien Dengan Kecemasan

Pada pasien dengan kecemasan ringan, tidak ada intervensi khusus sebab

pada kecemasan ringan ini pasien masih mampu mengontrol dirinya dan

mampu membat keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah.

Sedangkan pada kecemasan sedang intervensi intervensi yang dapat dilakukan

dengan mengembangkan pola mekanisme koping yang positif. Pada

kecemasan berat dan panik, terdapat strategi khusus yang perlu derhatikan

oleh perawat dalam pemberian asuhan keperawatan (Asmadi, 2010)

Setelah tingkat kecemasan pasien menurn sampai tingat sedang atau

ringan, prinsip intervensi keperawatan yang diberikan adalah re-edukatif atau

beriorentasi pada kognitif. Tjuannya adalah menolong pasien dalam

mengembangkan kemampuan menoleransi kecemasan dengan mekanisme

koping dan strategi pemecahan masalah yang konstruktif. Intervensi utama

yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien

kecemasan adalah menyadari untuk mengenali perasaannya dan juga mampu

mengendalikannya. Prinsip intervensi keperawatan pada pasien tersebut

adalah melindungi pasien dari bahaya fisik dan memberikan rasa aman pada

pasien karena pasien tidak dapat mengendalikan perilakunya. (Asmadi, 2010).


7. Mekanisme Koping

Ketika mengalami ansietas individu menggunakan berbagai mekanisme

koping untuk mencoba mengatasinya. Ketidakmampuan mengatasi ansietas

secara konstrktif merupakan penyebab utama terjadinya perilaku patologis.

Pola yang biasa digunakan individ untuk mengatasi ansietas ringan cenderng

tetap dominan ketika kecemasan menjadi lebih intens. Kecemasan ringan

sering ditanggulangi tanpa pemikiran yang sadar. Kecemasan sedang dan

berat menimbulkan da jenis mekanisme koping. (Nursalam, 2009)

8. Pengukuran tingkat kecemasan

Pengukuran kecemasan dapat dilakukan secara langsung atau tidak

langsung yang dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan

reponden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan

pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian dinyatakan dengan pendapat

responden.

Skala Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A) Menurut (Saryono,

2010) Tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan Hamilton

Rating Scale for Anxiety (HRS-A) yang sudah dikembangkan oleh kelompok

Psikiatri Biologi Jakarta (KPBJ) dalam bentuk Anxiety Analog Scale (AAS).

Skala HRS-A merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada

munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut

skala HRS-A terdapat 14 syptoms yang nampak pada individu yang


mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor

antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe).

Skala HRS-A pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang

diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam

pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic. Skala HARS

telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk

melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian. Kondisi ini menunjukkan

bahwa pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HRS-A akan

diperoleh hasil yang valid dan reliable.

Pengukuran berdasarkan gejala yang timbul pada seseorang yaitu :

1) Perasaan cemas yaitu adanya firasat buruk, takut akan pikiran sendiri dan

mudah tersinggung dan lesu

2) Ketegangan merasa tegang,, tidak bisa istrahat tenang, mudah terkejut,

mudah menangis dan gemetar

3) Ketakutan misalnya ketakutan pada gelap, pada orang asing, ditinggal

sendiri, dan saat akan mendapatkan suatu tindakan.

4) Gangguan tidur seperti sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari,

tidak pulas dan merasakan mimpi buruk dan menakutkan.

5) Gangguan kecerdasan seperti sukar berkonsentrasi, daya ingat

menurun,.dan sering binggung

6) Perasaan depresi atau murung seperti hilangnya minat, perasaan berubah-

ubah, bangun dini hari dan merasakan kesedihan.


7) Gejala somatic fisik pada otot seperti sakit dan nyeri otot, kaku, kedutaan

otot dan suara tidak stabil dan daya ingat buruk

8) Gejala pada sensorik seperti telinga berdenging, penglihatan kabur, muka

merah atau pucat, dan merasa lemas

9) Gejala kardiovaskuler seperti denyut jantung cepat, berdebar-debar, nyeri

didada, dan rasa lesu/lemas seperti mau pingsan.

10) Gejala respiratori atau pernapasan seperti rasa tertekan didada, rasa

tercekik, nafas menjadi pendek atau sesak dan sering menarik napas.

11) Gejala gastrointestinal dan pencernaan seperti perut melilit, mual muntah

dan nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, dan sulit buang air besar

atau konstipasi

12) Gejala perkemihan seperti sering buang air kecil, tidak dapat menahan air

seni, Amenorrhoe/menstruasi yang tidak teratur dan frigiditas

13) Gejala autonom seperti mulut kering, muka merah, mudah berkeringat,

kepala pusing atau sakit kepala

14) Tingkah laku sikap pada saat wawancara seperti gelisah, Mengerutkan

dahi muka tegang ,nafas pendek dan cepat dan muka merah. (Suryono,

2010)

Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan

kategori:

1. Skor 0 = tidak ada gejala sama sekali

2. Skor 1 = satu dari gejala yang ada


3. Skor 2 = separuh dari gejala yanga ada

4. Skor 3 = lebih gejala yang ada

5. Skor 4 = semua gejala yang ada

Penilaian hasil yaitu dengan menjumlahkan nilai skor 1 item sampai

dengan 14 dengan ketentuan sebagai berikut :

Jumlah nilai Angka (Total Score)

<14 : tidak ada kecemasan

14-20 : kecemasan ringan

21-27 : kecemasan sedang

28-41 : kecemasan berat

42-56 : kecemasan sangat besar (panik)

B. Tinjauan Tentang Apendisitis

1. Pengertian Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan pada apendik dan merupakan penyebab

abdomen akut yang paling sering (Arif Mansjoer, dkk 2000). Apendisitis

adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan

dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan apendiktomi

atau laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak

terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock

ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Price, Grace dan Wilson, 2006)

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai

cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi


bertambah parah, apendiks itu bisa pecah. Apendiks merupakan saluran usus

yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum.

(Price, Grace dan Wilson, 2006)

2. Anatomi dan Fisiologi Apendiks

Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10

cm (kisaran 3-15), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di

bagianproksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi,

apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah

ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens apendisitis

pada usia itu (Price, Grace dan Wilson, 2006).

3. Etiologi Apendisitis

Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan

sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang

diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit,

tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan.

Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi

mukosa apendiks karena parasit seperti E. histolytica (Sjamsuhidajat, 2008).

Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan

rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.

Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya

sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora


kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut

(Sjamsuhidajat, 2008).

4. Klasifikasi Appendisitis

a. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis,

yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis purulenta

difusi yaitu sudah bertumpuk nanah (Sabiston, 2010).

b. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial,

setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva

yaitu apendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua (Sabiston, 2010).

5. Patofisiologi

Patofisiologi Apendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen

yang disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekalit. Penjelasan ini sesuai

dengan pengamatan epidemiologi bahwa apendisitis berhubungan dengan

asupan serat dalam makanan yang

Pada stadium awal dari apendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi

mukosa. Inflamasi ini kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan

lapisan muskular dan serosa (peritoneal). Cairan eksudat fibrinopurulenta

terbentuk pada permukaan serosa dan berlanjut ke beberapa permukaan

peritoneal yang bersebelahan, seperti usus atau dinding abdomen,

menyebabkan peritonitis lokal. (Sabiston, 2010)

Dalam stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke dalam

lumen, yang menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri yang menyuplai
apendiks menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah

menjadi nekrosis atau gangren. Perforasi akan segera terjadi dan menyebar ke

rongga peritoneal. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses

lokal akan terjadi.

6. Pembedahan Appendisitis

Appendisitis umumnya ditangani dengan membuang apendiks (operasi),

jika ditemukan apendisitis biasanya dokter menyarankan untuk melakukan

pembedahan. Pembedahan yang dilakukan segera dapat menurunkan

kemungkinan apendiks lebih parah.

Appendiktomi adalah operasi pemotongan apendik yang mengalami

radang atau infeksi.Tata laksana pada kasus apendisitis tanpa komplikasi

adalah apendiktomi. Apendiktomi dibagi menjadi dua yaitu secara laparatomi

(metode konvesional) atau menggunakan apendiktomi laparaskopi. (Sabiston,

2010).

Tekhnik apendiktomi menurut (Sabiston, 2010).

a. Insisi menurut Mc Burney (grid incision atau muscle spitting

incision).sayatan dilakukan pada garis tegak lurus pada garis yang

menghubungkan spina iliaka anterior superior (SIAS) dengan umbilikus

pada batas sepertiga lateral (titik Mc. Burney). Sayatan ini mengenai kutis,

subkutis dan fasia.


b. Insisi menurut Roux (Muscle Cutting Incision). Lokasi dan arah sayatan

sama dengan Mc. Burney hanya sayatannya langsung menembus otot

dinding perut tanpa melihat arah serabut sampai tampak peritonium.

c. Insisi pararektal, dilakukan sayatan pada garis batas lateral M. Rektus

abdominalis dekstra secara vertikal dari kranial kekaudal sepanjang 10

cm.

C. Tinjauan Tentang Kecemasan Pada Pasien Preoperasi

1. Pengertian Operasi

Keperawatan pembedahan adalah tindakan keperawatan dikamar operasi.

Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh.

Pembedahan dibagi atas tiga fase ata tahap, yaitu praoperasi, intraoperasi dan

pascaoperasi. Ketiga tahap tersebut ini disebut periode perioperatif. (

Baradero,Dayrit & Siswadi, 2010).

a. Fase Preoperasi

Keberhasilan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat

tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase preoperatif merupakan

tahap awal yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan selanjutnya.

Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap

berikutnya. Pengakajian secara integral meliputi fungsi fisik biologis dan

psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan tindakan

operasi.

Persiapaan pre operasidi unit perawatan, meliputi :


1. Persiapan fisik

Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum

operasi antara lain:

a) Status kesehatan fisik secara umum

Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan

pemeriksaan status kesehatan secara umum, meliputi identitas klien,

riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan

keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status

hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi

ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain- lain.

Selain itu pasien harus istirahat yang cukup karena dengan istirahat

yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik

b) Status nutrisi

Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum

pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk

perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien

mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan

pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang

paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi

(terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam dan

penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien

dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.


c) Keseimbangan cairan dan elektrolit

Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan

input dan output cairan. Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait

erat dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur

mekanisme asam basa dan ekskresi metabolik obat- obatan anastesi.

Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik.

Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri/ anuria,

insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda

menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus- kasus yang

mengancam jiwa.

d) Kebersihan lambung dan kolon

Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu.

Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah

pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung

dan kolon dengan tindakan enema/ lavement. Lamanya puasa

berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai

pukul 24.00 WIB). Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon

adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke

paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan

sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan).

e) Pencukuran daerah operasi


Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari

terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena

rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi

kuman dan juga mengganggu/ menghambat proses penyembuhan

dan perawatan luka.Daerah yang dilakukan pencukuran tergantung

pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi. Biasanya daerah

sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang

dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. Misalnya :

apendiktomi, herniotomi.

f) Personal hygiene

Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan

operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman

dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang di operasi.

g) Pengosongan kandung kemih

Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan

pemasangan kateter. Selain untuk pengosongan isi bladder

tindakan kateterisasi juga diperlukan untuk mengobservasi balance

cairan.

2. Persiapan penunjang

Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat

dipisahkan dari tindakan pembedahan. Tanpa adanya hasil

pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak mungkin bisa


menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien.

Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan

radiologi, laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG, dan

lain-lain.

3. Pemeriksaan status anestesi

Pemeriksaaan status fisik untuk pembiusan perlu dilakukan

untuk keselamatan selama pembedahan. Sebelum dilakukan anastesi

demi kepentingan pembedahan, pasien akan mengalami pemeriksaan

status fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh mana resiko

pembiusan terhadap diri pasien. Pemeriksaan yang biasa digunakan

adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American

Society of Anasthesiologist). Pemeriksaan ini dilakukan karena obat

dan teknik anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi

pernafasan, peredaran darah dan sistem saraf.

4. Inform consent

Hal lain yang sangat penting terkait dengan aspek hukum dan

tanggung jawab dan tanggung gugat, yaitu Inform Consent. Baik

pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan medis,

operasi sekecil apapun mempunyai resiko. Oleh karena itu setiap

pasien yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat

pernyataan persetujuan dilakukan tindakan medis (pembedahan dan

anastesi).
5. Persiapan mental/ psikis

Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya

dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap

atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Tindakan

pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada

integeritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis

maupun psikologis (Barbara C. Long, 2008).

kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi

dengan adanya perubahan- perubahan fisik seperti: meningkatnya

frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan- gerakan tangan yang tidak

terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menayakan

pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, dan sering berkemih.

Perawat perlu mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh

pasien dalam menghadapi stres. Disamping itu perawat perlu mengkaji

hal- hal yang bisa digunakan untuk membantu pasien dalam

menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini, seperti adanya

orang terdekat, tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung/

support system.

Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat

dilakukan dengan berbagai cara:

a) Membantu pasien mengetahui tentang tindakan- tindakan yang

dialami pasien sebelum operasi, memberikan informasi pada pasien


tentang waktu operasi, hal- hal yang akan dialami oleh pasien

selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll.

b) Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka

diharapkan pasien menjadi lebih siap menghadapi operasi,

meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien

mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang

akan dialami pasien.

c) Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan

persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan. Gunakan

bahasa yang sederhana dan jelas. Diharapkan dengan pemberian

informasi yang lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan

dapat diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik.

d) Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk

menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dan memberi

kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama- sama

sebelum pasien di antar ke kamar operasi.

e) Mengoreksi pengertian yang salah tentang tindakan pembedahan

dan hal- hal lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan

kecemasan pada pasien.

f) Kolaborasikan dengan dokter terkait pemberian obat pre

medikasi, seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien tidur


untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga

kebutuhan istirahatnya terpenuhi.

b. Fase Intra operatif

Fase Intraoperatif dimulai dengan pemindahan pasien ketempat tidur

kamar operasi, sampai pasien dipindahkan ke unit pascaanestesia

(PACU). Pembedahan umum adalah dasar dari spesialisasi pembedahan.

Spesialisasi pembedahan muncul sebagai hasil dari penggunaan tindakan

yang spesifik untuk berbagai bagian tubuh. Seperti, bedah umum

menyangkut organ-organ pada sistem pencernaan, dinding abdomen,

tiroid, dada (misalnya, Mastektomi, Appendiktomi, reseksi usus dan

herniorafi). (Marry Badero, SPC, MN & Yakobus Siswandi MSN, 2009).

Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini adalah segala macam

aktivitas yang dilakukan oleh tenaga paramedis di ruang operasi.

Aktivitas di ruang operasi oleh paramedic difokuskan pada pasien yang

menjalani prosedur pembedahan untuk perbaikan, koreksi atau

menghilangkan masalah-masalah fisik yang mengganggu pasien. (Marry

Badero, SPC, MN & Yakobus Siswandi MSN, 2009).

Menurut Luas atau Tingkat Resiko :

1) Bedah mayor merupakan Operasi yang melibatkan organ tubuh secara

luas dan mempunyai tingkat resiko yang tinggi terhadap kelangsungan

hidup klien.
2) Bedah minor merupakan Operasi pada sebagian kecil atau sedang dari

tubuh yang mempunyai resiko komplikasi lebih kecil dibandingkan

dengan operasi mayor.

c. Pasca Operasi

Tahap pascaoperatif dimulai dengan memindahkan pasien dari kamar

bedah ke unit pascaoperasi dan berakhir dengan pulangnya pasien. Fokus

intervensi keperawatan pada tahap pascaoperasi adalah memulihkan fungsi

pasien seoptimal mungkin dan secepat mungkin. (Marry Badero, SPC, MN

& Yakobus Siswandi MSN, 2009)

2. Tindakan Keperawatan preoperasi

Preoperasi adalah fase dimulai ketika keputusan untuk menjalani operasi

atau pembedahan dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja

operasi (Smeltzer and Bare, 2009). Keperawatan pre operasi adalah hasil dari

perkembangan keperawatan kamar operasi. Fokus keperawatan preoperasi

sekarang adalah pasien, bukan prosedur atau teknik ( pattient-oriented, bukan

task-oriented).

Fase preoperasi dimulai ketika keputusan diambil untuk melaksanakan

intervensi pembedahan. Termasuk dalam kegiatan perawatan dalam tahap ini

adalah pengkajian praoperasi mengenai status fisik, psikologis, dan sosial

pasien, rencana keperawatan mengenai persiapan pasien ntuk

pembedahannya, dan implementasi intervensi keperawatan yang telah


direncanakan. Tahap ini berakhir ketika pasien diantar ke kamar operasi dan

diserahkan keperawat bedah untuk perawatan selanjutnya.

Tanda cemas pre operasi mungkin tidak sama untuk setiap individu. Ada

yang menunjukan kecemasan dengan bicara terlalu cepat, banyak bertanya,

tetapi tidak menunggu jawaban pertanyaannya, mengulang pertanyaan yang

sama atau mengubah pembicaraan. Ada yang mengatakan tidak merasa

cemas, tetapi tinglahnya tidak menunjukkan kecemasan atau ketakutan. Ada

juga pasien yang tidak ma membicarakan pembedahannya, menjawab

pertanyaan dengan satu atau dengan dua kata pasien-pasien yang

mengekspresikan kecemasan dengan menangis atau marah. Termasuk tanda-

tanda fisiologis karena stress meliputi peningkatan kecepatan pola pernafasan,

peningkatan tekanan darah, telapak tangan berkeringat, perubahan pola tidur,

dan sebagainya. Stress yang berlangsung lama bisa mengakibatkan

peningkatan pemecahan protein, risiko infeksi, penyembuhan luka lambat,

respon imun berubah, dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Pengaruh

keluarga terhadap kecemasan pasien perlu diperhatiakan.Keluarga yang

mampu menangani kecemasan dan bersikap tenang dapat juga membantu

pasien menangani kecemasannya.(Baradero,Dayrit & Siswadi, 2010).

Intervensi keperawatan penyuluhan pada pasien praoperasi. Adapun tujuan

penyuluhan preoperasi adalah :

c. Memahami kebutuhan individu tentang pengetahuan praoperasi

d. Meningkatkan keamanan pasien


e. Meningkatkan kenyamanan psikologis dan fisiologis

f. Meningkatkan keikutsertaan pasien dan keluarga dalam perawatannya.

g. Meningkatkan kepatuhan terhadap instruksi yang telah dijelaskan

Sebelum meleksanakan aktivitas penyuluhan, perawat harus terlebih dahulu

mengkaji kesiapan dan kemampuan pasien. Perlu di ingat bahwa pasien yang

mengalami stres akan sulit menangkap apa yang di jelaskan oleh perawat.

Juga tidak semua pasien Tertarik untuk membaca instruksi yang dicetak dalam

bentuk pamflet atau brosur. Perawat perlu memilih metode yang tepat untuk

pasien. Brosur dapat diberikan kepada pasien, tetapi akan lebih efektif jika

setelah dibaca brosur dijelaskan atau didiskusikan dengan pasien dan

keluarganya.

Penyuluhan preoperasi dahulu dilakukan dalam satu atau dua hari

sebelum pembedahan. Perubahan baru dalam perawatan menantang perawat

perioperasi untuk mengimplementasikan program penyuluhan pasien

praoperatifdalam waktu yang singkat dan dilingkungan yang lain. Lingkungan

yang lain bisa diklinik dokter, dirumah pasien, di unit rawat jalan rmah sakit.

Riset menunjukkan bahwa penyuluhan praoperasi dikaitkan dengan

penurunan tingkat kecemasan, ambulasi yang cepat, dan keikutsertaan dalam

aktivitas perawatan diri. Informasi penting yang perlu dijelaskan kepada

pasien adalah prosedur praoperasi, pembedahan itu sendiri, dan apa yang

diharapkan dari pembedahan. Kebanyakan pasien merasa kecemasannya

menjadi lebih ringan apabila ia mengetahui apa tujuan pemeriksaan dan


posedur praoperasi yang akan dilaksanakan.(Baradero,Dayrit & Siswadi,

2010).

Pembedahan mengakibatkan rasa cemas karena dikaitkan dengan takut

akan sesuatu yang belum diketahui, nyeri, perubahan citra tubuh, perubahan

fungsi tubuh, kehilangan kendali, dan kematian. Perawat profesional

mempunyai tanggung jawab membantu pasien dengan keluarganya atau orang

yang penting baginya untuk mengidentifikasi sumber rasa cemas dan

membantu mereka memakai mekanisme koping yang efektif. Tingkat cemas

yang dialami pasien akan mempengaruhi kemampuannya untuk mengerti

instruksi preoperasi. Cemas ringan bisa mempertajam penangkapan

penjelasan, tetapi cemas berat bisa membuat pasien tidak mampu menangkap,

instruksi yang diberikan. (Baradero,Dayrit & Siswadi, 2010).

Pasien preoperasi mengalami kecemasan karena mereka sering berfikir,

seperti takut nyeri setelah pembedahan, takut keganasan, takut menghadapi

ruangan operasi dan takut operasi gagal. Pemberdayaan pasien dengan

memulihkan kemampuannya dalam mengendalikan situasi dapat mengurangi

rasa cemas. Dengan melibatkan pasien untuk mengambil keputusan atau

berpartisipasi dalam perawatannya akan membuat pasien merasa bisa

mengendalikan situasi. Pasien juga bisa dibantu dalam memilih kegiatan ata

latihan yang bisa mengurangi rasa cemas. Misalnya memilih dan

mendengarkan lagu-lagu (terapi musik), relaksasi progresif, imajinasi,

terbimbing, dan sebagainya. (Baradero, Dayrit & Siswadi, 2010).


BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Landasan Teori

Tindakan operasi di Rumah Sakit sering menyebabkan kecemasan pada

pasien. Menanggulangi atau menurunkan kecemasan pasien merupakan salah

satu tugas perawat. Terlihat jelas bahwa ini mempunyai dampak terhadap

kehidupan seseorang, baik dampak positig maupun dampak negatif. Berbagai

situasi maupun kondisi akan membuatnya semakin cemas, oleh karenanya

perawat sebagai tenaga perawat profesesional tidak boleh mengabaikan aspek

emosi ini dalam memberikan asuhan keperawatan. Tingkat kecemasan terbagi

menjadi cemas ringan, cemas sedang, cemas berat dan panik (Asmadi,2010).

B. Kerangka Konsep

Berdasarkan teori, maka dapat digunakan skema tentang identifikasi tingkat

kecemasan pada pasien pre operasi

Tingkat Kecemasan
Tingkat Kecemasan
- Ringan
- Sedang Pasien Pre Operasi
- Berat

Keterangan

: Variabel yang diteliti


C. Variabel Penelitian

(Arikunto, 2006) mengemukakan bahwa variabel penelitian adalah objek

penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, dalam

penelitian ini variabel yang digunakan adalah kecemasan pasien pre operasi

di Rumah Sakit Umum Bahteramas.

D. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif

1. Kecemasan dalam penelitian ini adalah: tingkat kecemasan pada pasien

pre operasi Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara terdiri

dari tingkat kecemasan ringan, sedang dan berat.

Untuk mengukur tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendisitis

dilakukan sehari sebelum pasien operasi. Dengan menggunakan skala

HRS-A (Halminton Rating Scale For Anxiety)

2. Untuk melihat tingkat kecemasan ringan pada pasien pre operasi yaitu

terdapat sejumlah gejala yang diamati dengan ditentukan oleh skor

kriteria: apabila skor 14-20 gejala.

3. Tingkat kecemasan sedang pada pasien pre operasi terdapat sejumlah yang

diamati dengan ditentukan oleh skor kriteria: apabila skor 21-27 gejala

4. Tingkat kecemasan berat pada pasien pre operasi terdapat sejumlah yang

diamati dengan ditentukan oleh skor kreteria: apabila skor 28- 42 gejala
Cara penilaian

Lembar ceklist terdiri dari 14 pertanyaan dengan 1 pertanyaan terdiri dari

4 kolom dan setiap kolom bernilai 1 dengan dicontreng. Penilaian hasil

yaitu dengan menjumlahkan nilai skor 1 item sampai dengan 14 dengan

ketentuan sebagai berikut

14-20 : kecemasan ringan

21-27 : kecemasan sedang

28- 42 : kecemasan berat


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan

pendekatan observasi langsung dan wawancara, yaitu suatu metode penelitian

yang dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi tentang suatu keadaan

secara objektif. (Notoatmojo, 2010).

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 30 Mei sampai dengan

19 Juni 2016

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Bahteramas

Sulawesi Tenggara

C. Populasi dan Sampling

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti

tersebut (Notoatmodjo, 2010). populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh pasien Apendisitis di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi

Tenggara berjumlah 119 orang (Data jumlah pasien Apendisitis dari

tahun 2015 bulan November sebanyak 37 , Desember sebanyak 32 sampai


bulan Januari 2016 sebanyak 50, sehimgga jumlah populasi sebanyak 119

orang )

2. Sampel

Sampel menurut (Nursalam, 2009) menyatakan bahwa sampel adalah

bagian atau wakil dari populasi yang diteliti.

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang akan melakukan

operasi Apendisitis di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi

Tenggara. Tekhnik sampling yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah accidental sampling yaitu pengambilan sampel dengan berdasarkan

secara kebetulan ada/tersedia selama penelitian berlangsung, sebagai

contoh dalam menentukan sampel apabila dijumpai, maka sampel diambil

dan langsung dijadikan sebagai sampel utam dalam penelitian ini.

Untuk menentukan besarnya sampel peneliti menentukan berdasarkan

teori yang dikemukakan Arikunto (2008) apabila jumlah populasi > 100

maka sampel dapat diambil 10% - 15%, atau 20% - 25% dan apabila

jumlah populasi < 100 maka sampel dapat diambil 40% - 100%.

Peneliti mengambil besar sampel 25% dari seluruh populasi yang ada

jumlah sampel adalah berikut

Sampel = 25 % x jumlah populasi

x 119
= 30 orang

Kriteria sampel

a. Kriteria Inklusi

1) Bersedia menjadi responden

2) Pasien yang dinyatakan akan menjalani operasi Appendisitis,

setelah secara fisik dinyatakan boleh dilakukan operasi

b. Kriteria Ekslusi

1) Pasien yang cacat fisik seperti tuli dan buta

2) Pasien yang sebelumnya telah diambil sebagai responden oleh

peneliti (pasien ulangan)

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan peneliti adalah lembar check list mengacu

pada pernyataan peneliti karena disesuaikan dengan kondisi penelitian yang

dilakukan. Instrumen penelitian terdiri atas data identitas responden dan

beberapa pertanyaan tentang kecemasan sebanyak empat belas item

pertanyaan.

E. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

1. Jenis Data

a. Data Primer

Data primer adalah pengumpulan data yang diperoleh langsung

dari responden tentang tingkat kecemasan, diperoleh dengan cara

observasi dan mengisi lembar check list.


b. Data Sekunder

Data yang didapat dari medical record dengan pasien yang akan

melakukan operasi apendisitis diruang Anggrek, Mawar dan Asoka

Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara yang digunakan

sebagai bahan studi pendahuluan.

2. Cara Pengumpulan Data

Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi

menggunakan lembar check list yang berisi tanda dan gejala yang diisi

oleh responden.Lembar check list dibagikan 8-12 jam sebelum operasi.

F. Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan diolah dengan

menggunakan uji statistik secara manual, dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

1. Editing

Editing atau penyuntingan data dilakukan pada saat peneliti yakni

memeriksa semua observasi yang telah diisi yaitu kelengkapan data,

kesinambungan data, dan memeriksa keseragaman data.

2. Koding

Koding atau pengkodean pada lembaran observasi, pada tahap ini

kegiatan yang dilakukan ialah mengisi daftar kode yang disediakan pada

lembaran observasi,sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan.

3. Processing
Data entry atau processing data yang berbentuk angka dimasukkan

kedalam program atau “software” computer.

4. Tabulating

Tabulasi yaitu kelanjutan dari proses pengolahan dalam hal ini

setelah data tersebut dikoding dan kemudian ditabulasi agar dapat

mempermudah penyajian data dalam bentuk distribusi frekuensi.

G. Analisa Data

Data yang diperoleh melalui hasil pengolahan data, selanjutnya dianalisis.

Tekhnik analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu dengan

mempersentasekan hasil observasi dari setiap variabel penelitian denngan

menggunakan rumus :

1. Rumus persentase

X=

Keterangan

X : Presentasi hasil yang dicapai

f : Frekuensi variabel yang diteliti

n : Jumlah sampel

K : Konstanta 100%

2. Skala Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) yang terlihat pada

lembaran checklist.
Ukuran tingkat kecemasan

14-20 : kecemasan ringan

21-27 : kecemasan sedang

28-42 : kecemasan berat

H. Penyajian Data

Data yang diperoleh selanjutnya di sajikan dalam bentuk tabel distribusi

frekuensi di sertai dengan penjelasan secara deskriptif

I. Etika Penelitian

1. Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Lembar persetujuan diberiakan kepada subjek sebelum riset

dilaksanakan. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset dilakukan.

Bila subjek bersedia diteliti maka lembar persetujuan ditanda tangani dan

bila menolak peneliti tidak akan memaksa dan menghormati hak-hak

responden.

2. Tanpa Nama (anonymity)

Untuk menjaga kerahasiaan subjek peneliti tidak akan

mencamtumkan nama subjek pada lembar check list yang di isi oleh

subjek tetapi hanya memberi inisial

3. Kerahasiaan (confidentiality)

Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang di peroleh dari subjek.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Letak Geografis BLUD RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara

Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sejak tanggal 21

November 2012 pindah lokasi dari jalan Dr. Ratulangi No. 151

Kelurahan Kemaraya Kecamatan Mandonga ke jalan Kapt. Piere Tendea No.

40 Baruga. Lokasi ini sangat stategis karena mudah dijangkau dengan

kendaraan umum dengan batas sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Jalan Kapt. Piere Tendean

b. Sebelah Timur : Perumahan Penduduk

c. Sebelah Selatan : Perumahan Penduduk

d. Sebelah Barat : Balai Pertanian Provinsi

2. Lingkungan Fisik Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSU

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara

RSU Bahteramas berdiri di atas tanah seluas 17,5 Ha. Luas seluruh

bangunan adalah 53,269 m2. Pengelompokkan ruangan berdasarkan

fungsinya sehingga menjadi empat kelompok, yaitu kelompok kegiatan

pelayanan rumah sakit, kelompok kegiatan penunjang medis, kelompok

kegiatan penunjang non medis, dan kelompok kegiatan administrasi.


3. Status Rumah Sakit

Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang di bangun

secara bertahap pada tahun anggaran 1969/1970 dengan se]butan “Perluasan

Rumah Sakit Kendari” adalah milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara

dengan klasifikasi tipe C berdasarkan SK Menkes No.51/Menkes/II/1979.

Susunan struktur organisasi adalah berdasarkan SK Gubernur Provinsi

Sulawesi Tenggara No.77 tahun 1983 tanggal 28 maret 1983.

Pada tanggal 21 Desember 1998, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara

meningkat menjadi Type B (Non Pendidikan) sesuai dengan SK Menkes No.

1482/Menkes/SK/XII/1998, dan ditetapkan dengan Perda No.3 tahun 1999.

Kedudukan Rumah Sakit secara teknis berada dibawah Dinas Kesehatan

Provinsi Sulawesi Tenggara, dan secara taktis operasional berada dibawah

dan bertanggung jawab kepada Gubernur.

Sejak tanggal 18 Januari 2005, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara

telah terakreditasi untuk 5 pelayanan yaitu Administrasi Manajemen,

Pelayanan Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan dan

Rekam Medis sesuai dengan SK Dirjen Yanmed No. HK.00.06.3.5.139.

Akreditasi 12 pelayanan, yaitu Administrasi dan Menejeman, Pelayanan

Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Pelayanan

Rekam Medis, Pelayanan Radiologi, Pelayanan Farmasi, Pelayanan

Laboratorium, Pelayanan Peristi, Pelayanan Kamar Operasi, Pelayanan

Pencegahan Infeksi, Pelayanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sesuai


dengan SK Dirjen Yanmed No. HK.00.06.3.5.139.tanggal 31 Desember

2010.

Sesuai dengan Undang-Undang Rumah Sakit No. 44 Tahun 2009 dan

untuk meningkatkan mutu pelayanan, maka RSU Prov Sultra telah menjadi

Badan Layanan Umum Daerah yang ditetapkan melalui Surat Keputusan

Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor: 653 Tahun 2010 tanggal 15 Oktober

2010.

Di akhir tahun 2012, tepatnya tanggal 21 November 2012 RSU. Prov.

Sultra pindah lokasi dan berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara (RSU Bahteramas Prov. Sultra),

yang diresmikan pengunaannya oleh Menteri Kordinator Bidang Ekonomi

dan Keuangan RI, Ir. H.Hata Rajasa dan Gubernur Sulawesi Tenggara H.Nur

Alam SE.

4. Sarana dan Prasarana

a. Bangunan Fisik

RSU Bahteramas memiliki saraba dan prasarana yang terdiri dari

bangunan fisik seluas 34.410 m2.

b. Prasarana

1) Listrik dari PLN tersedia 1 400 KVA dibantu dengan dua unit genset

(2 x 250 KVA)

2) Air yang dugunakan di RSU Bahteramas berasal sumur dalam, sumur

bor dan PDAM.


3) Sarana komunikasi berupa jaringan PABX dan jaringan internet.

4) Sentral Instalasi Oksigen cair untuk ruangan yang membutuhkan

5) Sistem Alarm Kebakaran, Hidrant, dan Tabung Pemadam Kebakaran

di semua gedung.

6) Pembuangan Limbah

5. Luas Lahan Dan Bangunan

RSU Bahteramas berdiri di atas tanah seluas 69,000 m2. Luas seluruh

bangunan adalah 22.577,38 m2. Halaman parkir seluas ± 1.500 m2. Semua

bangunan mempunyai timgkat aktivitas yang sangat tinggi. Disamping

kegiatan pelayanan kesehatan kepada pasien, kegiatan yang tidak kalah

pentingnya adalah kegiatan administrasi, pengelolahan makanan,

pemeliharaan atau perbaikan instalasi listrik dan air, kebersihan dan lain-

lain.

6. Fasilitas Tempat Tidur

Tabel 5.1
Jumlah Tempat Tidur RSU, Prov Bahteramas
Tahun 2012 Sampai dengan Tahun 2016

Kelas Perawatan Tahun


2012 2013 2014 2015 2016
VIP 17 17 17 17 17
KELAS I 41 41 43 43 43
KELAS II 37 49 48 48 48
KELAS III 113 120 116 116 116
NON KELAS 39 41 43 43 43
JUMLAH 247 260 267 267 267
Sumber : Profil Rumah Sakit Umum Bahteramas Tahun 2016
7. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) di RSU Provinsi Sultra hingga 31

Desember 2012 berjumlah 703 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) terdiri atas

tenaga medis, paramedis dan non medis. Tenaga kontrak berjumlah 80

orang.

Jumlah keseluruhan tenaga masih belum memenuhi standar jumlah

tenaga minimal untuk Rumah Sakit Umum kelas B. Beberapa tenaga dengan

keterampilam tertentu masih sangat diperlukan pada saat ini, sehingga

disamping permintaan tambahan tenaga, perlu juga pelatihan dan pendidikan

formal lanjutan untuk staf RSU Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tabel 5.2
Jenis dan Jumlah Ketenagaan RSU Bahteramas
Tahun 2012 sampai denga Tahun 2016

No Jenis Tenaga Tahun


2012 2013 2014 2015 2016
1 Tenaga Medis 50 71 70 68 68
Dokter Spesialis (S-2) 26 32 30 28 28
Dokter Umum (S-1) 20 35 37 37 37
Dokter Gigi (S-1) 4 4 3 3 3
2 Paramedis Keperawatan 286 315 378 330 330
Sarjana (S-1 dan D-IV) 13 17 27 26 26
Akademi (D-III) 180 212 276 278 278
Diploma I (D-I) 16 16 3 3 3
SLTA 77 81 72 71 71
3 Paramedis Non Perawatan 158 183 207 207 207
Pasca Sarjana (S-II) 16 18 20 22 22
Sarjana (S-1 dan D-IV) 62 72 83 78 78
Akademi (D-III) 43 61 76 81 81
Diploma I (D-I) 17 11 11 10 10
SLTA 19 21 17 16 16
4 Non Medis 111 111 116 98 98
Sarjana (S-1) 21 22 27 27 27
Akademi (D-III) 3 15 6 4 4
SLTA 76 76 83 67 67
SLTP 7 7 0 1 1
SD 3 3 0 0 0
Total 617 700 771 703 703
Sumber : Profil Rumah Sakit Umum Bahteramas Tahun 2016

B. Karakteristik Responden

a. Umur Responden

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Pasien Pre
Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas
Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016

No Umur (Tahun) F (n) Persentase %


1 9 – 16 5 16,66
2 17 – 24 10 33,33
3 25 – 32 8 26,77
4 33 – 40 6 20
5 41 – 48 1 3,33
Total 30 100%
Sumber : Data primer tahun 2016

Tabel 5.3 di atas menunjukkan bahwa dari 30 responden frekuensi

tertinggi adalah kelompok umur 17-24 tahun sebanyak 10 responden

(33,3%), dan terendah kelompok umur 41-48 tahun sebanyak 1 responden

(3,33%).
b. Jenis Kelamin Responden

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelami Pasien
Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas
Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016

No Jenis Kelamin F (n) Persentase %


1 Laki-laki 14 46,66
2 Perempuan 16 53,33
Total 30 100
Sumber : Data Primer tahun 2016

Tabel 5.4 di atas, menunjukkan bahwa dari 30 responden frekuensi

tertinggi adalah berjenis kelamin perempuan sebanyak 16 responden

(46,6%) dan terendah berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 responden

(53,3%)

c. Pendidikan Responden

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pasien Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas
Provinsi Sulawesi Tenggara
Tahun 2016

Tingkat
No F (n) Persentase %
Pendidikan
1 SD 7 23,33
2 SMP 8 26,66
3 SMA 13 43,33
4 SARJANA 2 6,66
Total 30 100
Sumber : Data Primer tahun 2016
Tabel 5.5 diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden frekuensi tertinggi

adalah tingkat pendidikan SMA 13 responden (43,3%), SMP sebanyak 8

responden (26,6 %), SD sebanyak 7 responden (23,3) dan terendah

sebanyak 2 responden berpendidikan Sarjana (6,66 %).

d. Pekerjaan Responden

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Pasien Pre
Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara Tahun 2016

No Pekerjaan F (n) Persentase %


1 PNS 3 10
2 Petani 4 13,33
3 IRT 7 23,33
4 Tidak Bekerja 14 46,66
5 Wiraswasta 2 6,66
Total 30 100
Sumber : Data Primer tahun 2016

Tabel 5.6 diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden frekuensi

tertinggi adalah Tidak bekerja sebanyak 14 responden (46,66%) dan

terendah sebagai Wiraswasta sebanyak 2 responden (6,66%).


e. Agama Responden

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Pasien Pre
Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara Tahun 2016

No Pekerjaan F (n) Persentase %


1 Islam 26 86,66
2 Kristen 3 10
3 Hindu 1 3,33
Total 30 100
Sumber : Data Primer tahun 2016

Tabel 5.7 diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden frekuensi

tertinggi adalah beragama islam sebanyak 26 responden (86,66%) dan

terendah sebagai beragama Hindu sebanyak 1 responden (3,33%).

C. Variabel yang diteliti

a. Tingkat Kecemasan

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi
Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas
Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016

No Kecemasan F (n) Persentase %


1 Ringan 11 36,66
2 Sedang 16 53,33
3 Berat 3 10
Total 30 100
Sumber : Data Primer tahun 2016
Berdasarkan tabel 5.7 diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden

frekuensi tertinggi adalah tingkat kecemasan sedang sebanyak 16

responden (53,3%), tingkat kecemasan ringan sebanyak 11 responden

(36,6), dan terendah tingkat berat sebanyak 3 responden (10%).

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 30 Mei – 19

Juni 2016 dengan identifikasi tingkat kecemasan pada pasien Pre Operasi

Apendisitis Di Rumah Sak it Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara Tahun 2016

sebagai berikut :

1. Tingkat Kecemasan pada pasien Pre Operasi Apendisitis

Berdasarkan hasil penelitian terhitung mulai dari pengambilan data awal

pada tanggal 24 Februari sampai dengan 19 Juni 2016, penelitian ini

dilaksanakan selama 3 minggu diketahui bahwa dari 30 responden frekuensi

tertinggi adalah tingkat kecemasan sedang sebanyak 16 responden (53,3%),

hal ini pengukuran diperoleh dengan 21-27 gejala. Tingkat kecemasan ringan

sebanyak 11 responden (36,6%), hal ini pengukuran diperoleh 14-20 gejala,

dan terendah tingkat kecemasan berat sebanyak 3 responden (10%), hal ini

pengukuran diperoleh 28-42 gejala.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang

memiliki kecemasan sedang lebih tinggi bila dibandingkan dengan responden


yang memiliki kecemasan ringan dan berat. Tanda-tanda yang sering muncul

pada responden diantaranya susah tidur, gemetar, merasa takut ketika

menghadapi operasi, dan takut operasi yang dilakukannya gagal.

Hal ini karena prosedur pembedahan selalu didahului dengan suatu

reaksi emosional tertentu oleh pasien, apakah reaksi itu jelas atau

tersembunyi, normal atau abnormal. Sebagai contoh, kecemasan pre operatif

kemungkinan merupakan suatu respon antisipasi terhadap suatu pengalaman

yang dapat dianggap pasien sebagai suatu ancaman terhadap perannya dalam

hidup, integritas tubuh, atau bahkan kehidupannya itu sendiri (Smeltzer 2002).

Menjelang operasi orang akan merasakan kecemasan. Kecemasan itu muncul

seiring dengan pandangan dan pemahaman seseorang terhadap operasi itu

sendiri. Kebanyakan seseorang akan merasa cemas menjelang operasi seperti :

kecacatan, nyeri atau rasa sakit saat operasi, kegagalan operasi, kematian dan

lain-lain.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Yunastilia (2011), tentang analisa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

kecemasan pasien pre operasi apendititis di Ruang Melati III RSUP Dr.

Soaradji Tirtonegoro Klaten didapatkan hasil tingkat cemas dalam kategori

cemas ringan sebanyak 17 orang (34%), cemas sedang sebanyak 24 orang

(48%), dan berat sebanyak 9 orang (18%).

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama

penelitian,didapatkan kecemasan ringan 11 responden 36,66%, ini tenaga


kesehatan melakukan komunikasi teraupetik kepada pasien yang berencana

akan melakukan operasi. Intervensi pada gangguan kecemasan ringan dapat

dilakukan dengan komunikasi teraupetik pada pasien oleh perawat, dengan

dibantu dalam memilih kegiatan atau latihan yang bisa mengurangi rasa

cemas. Penyuluhan preoperasi dilakukan dalam satu atau dua hari sebelum

operasi. Riset menunjukan bahwa penyuluhan preoperasi dikaitkan dengan

penurunan tingkat kecemasan, ambulasi yang cepat dan keikut sertaan dalam

aktivitas perawatan diri. Informasi penting yang perlu dijelaskan kepada

pasien adalah prosedur preoperasi, pembedahan itu sendiri, dan apa yang

diharapkan dari pembedahan. Hal ini juga senada dengan penelitian terbaru

dari Larasati (2009), Ketut (2009), dan Sawitri (2008) yang menyatakan

bahwa setelah dilakukan pendidikan kesehatan preoperatif terjadi penurunan

tingkat kecemasan dari pasien prabedahan. Kebanyakan pasien merasa

kecemasannya menjadi lebih ringan apabila ia mengetahui apa tujuan

pemeriksaan, dan prosedur preoperasi yang akan dilaksanakan. (Baradero,

Dayrit & Siswandi, 2009).

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada pasien selama

penelitian berlangsung, didapatkan tingkat kecemasan sedang 16 responden

53,33%, tenaga kesehatan kurang memperhatikan tingkat kecemasan pasien,

tenaga perawat tidak pernah mengukur tingkat kecemasan pasien yang akan

melakukan operasi. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain :

ketidakmampuan pasien dalam kontrol kognitif, mengalaman operasi


sebelunya belum ada, mekanisme koping pasien masih kurang, sehingga

walaupun diberikan pendidikan kesehatan oleh perawat, pasien masih

mengalami kecemasan sedang. Intervensi terhadap kecemasan tingkat sedang

merupakan tindakan suportif. Implementasi ditujukan untuk membantu klien

memahami penyebab kecemasan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pasien, didapatkan tingkat

kecemasan berat 3 responden 10%, tenaga kerja kurang memperhatikan klien

terutama kecemasan pasien yang akan menjalani operasi. Pada pasien dengan

pasien tingkat kecemasa berat atau pasien preoperasi yang cemas sesuai teori

perlu dibantu dengan obat yang dapat mengurangi rasa cemas seperti

Diazepam dan Midazolam (Baradero,Dayrit & Siswandi, 2009)

Berdasarkan tabel 5.3 diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden

frekuensi tertinggi adalah kelompok umur 17-24 tahun sebanyak 10 responden

(33,3%), dan terendah kelompok umur 41-48 tahun sebanyak 1 responden

(3,33). Hal tersebut mendukug pendapat yang dikemukakan oleh Stuart

(2007), seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebih mudah

mengalami gangguan kecemasan dari pada seseorang yang lebih tua, tetapi

ada juga yang berpendapat sebaliknya.

Berdasarkan hasil penelitian ini usia mudah lebih banyak mengalami

kecemasan karena pada usia muda masih berpengaruh dengan citra diri (image

body), dimana mereka beranggapan bila terjadi pembedahan maka diri mereka

sudah tidak bagus lagi seperti perut mereka sudah tidak mulus lagi, ada bekas
luka, tidak percaya diri lagi dan sebagainya sehingga menyebabkan

mengalami kecemasan.

Menurut Azwar A (2006) bahwa umur seseorang yang lebih mudah

ternyata lebih muda mengalami gangguan kecemasan daripada seseorang yang

berusia tua. Hal lainnya berpengaruh oleh kepribadian individu seseorang,

pada usia muda seseorang cenderung memiliki sifat yang labil sehingga dalam

mengelola cemas atau stress masih kurang, tetapi tidak menutup kemungkinan

juga usia muda dapat mengelola kecemasan dengan baik, hal ini sehingga

perlunya peranan perawat dalam membantu pasien preoperasi agar tidak

mengalami kecemasan atau menurunkan kecemasannya.

Penyakit Apendisitis dapat terjadi pada semua umur, tetapi umumnya

terjadi pada dewasa dan remaja muda, yaitu pada umur 10-30 tahun (Agrawal,

2008) dan insiden tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun (Sjamsuhidajat,

2010).

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Putrikasari di RSU Dokter Soedarso Pontianak Tahun 2011 yang menyatakan

bahwa penderita apendisitis terbanyak terdapat pada kelompok usia 20 tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh Pasaribu Medan juga menunjukkan bahwa

jumlah pasien apendisitis terbanyak pada kelompok usia 11-30 tahun adalah

sebanyak 21 orang (35%). Hal ini dipengaruhi oleh pola makan yang kurang

baik dan banyak melakukan kegiatan. Hal ini menyebabkan orang tersebut

mengabaikan nutrisi makanan yang dikonsumsinya. Kebanyakan orang


memakan makanan cepat saji agar tidak mengganggu waktunya, padahal

makan makanan cepat saji itu tidak mengandung serat yang cukup. Akibatnya

terjadi kesulitan buang air besar yang akan menyebabkan peningkatan tekanan

pada rongga usus dan pada akhinya menyebabkan sumbatan pada saluran

apendiks.

Berdasarkan tabel 5.4 diatas, dari 30 responden frekuensi tertinggi

berjenis kelamin perempuan sebanyak 16 responden (53,3%) dan terendah

berjenis kelamin laki-laki sebanyak 14 responden (46,6%). Hal ini

menunjukkan yang mengalami kecemasan kebanyakan perempuan.

Menurut Bustom (2004) bahwa gangguan kecemasan yang ditandai oleh

kecemasan yang spontan dan eposodic lebih sering dialami wanita daripada

pria, karena wanita lebih berperasaan dan lebih sensitive dibandingkan laki-

laki. laki-laki lebih aktif, dan eksploratif. Menurut penelitian Trismiati (2006)

menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan.

Penyakit Apendisitis dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan,

tetapi insidensi pada perempuan umumnya lebih banyak dari laki-laki

terutama pada usia 20-30 tahun (Sjamsuhidajat, 2010), hal ini juga bisa dilihat

pada penelitian dari Anggi Patranita Nasution di RSU Dokter Soedarso

Pontianak menunjukkan bahwa dari 100 penderita apendisitis paling banyak

ditemukan pada perempuan yaitu sebanyak 54 orang ( 54%) dan laki-laki

sebanyak 46 orang (46%). Selain itu, penelitian dari Marisa di RSUD


Tugurejo Semarang menunjukkan bahwa apendisitis akut lebih banyak pada

perempuan yaitu 64,2%.

Berdasarkan tabel 5.5 dari 30 responden frekuensi tertinggi adalah

tingkat pendidikan SMA 13 dan terendah sebanyak 2 responden

berpendidikan Sarjana (6,66 %)

Berdasarkan pendapat Nursalam (2001) bahwa pendidikan dapat

berpengaruh terhadap seseorang dalam menyikapi situasi atau penyakitnya

pada dirinya dalam mengatasi kecemasan yang dialami. Pengetahuan

merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan

terhadap objek tertentu. Terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Faktor pendidikan

seseorang sangat menentukan kecemasan, klien dengan pendidikan tinggi

akan lebih mampu mengatasi menggunakan koping yang efektif dan

kontruktif dari pada seseorang maka orang tersebut akan lebih siap

menghadapi sesuatu dan dapat mengatasi kecemasan.Tetapi dari hasil

penelitian ini karakteristik tingkat pendidikan SMA lebih banyak mengalami

kecemasan karena dipengaruhi oleh umur. Dimana kita ketahui penyakit

Apendisitis dewasa dan remaja muda. (Sjamsuhidajat, 2010).

Berdasarkan Tabel 5.6 dari 30 responden frekuensi tertinggi adalah

Tidak bekerja sebanyak 14 responden (46,66%) dan terendah Wiraswasta

sebanyak 2 responden (6,66%).


Tingkat sosial ekonomi atau pendapatan yang kurang/ rendah pada

seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.

(Azwar, 2005). Tetapi dari hasil penelitian ini menunjukkan responden yang

tidak bekerja adalah mereka yang masih status mahasiswa dan pelajar.
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 30 Mei – 16 Juni

2016, Identifikasi tingkat kecemasan pada pasien Pre Operasi Apendisitis di

Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara, sebanyak 30 responden

dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden mempunyai tingkat

kecemasan sebagai berikut :

1. Tingkat kecemasan ringan pada pasien pre operasi Apendisitis 11 responden

(36,6%)

2. Tingkat kecemasan sedang pada pasien pre operasi Apendisitis 16 responden

(53,3%)

3. Tingkat kecemasan berat pada pasien pre operasi Apendisitis 3 responden

(10%).

B. Saran

1. Pihak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara agar dapat melakukan

dan merencanakan metode untuk dapat mengurangi tingkat kecemasan yang

dihadapi oleh pasien sebelum dan sesudah dilakukan tindakan operasi

2. Pihak RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara agar dapat menjadikan

hasil penelitian sebagai bahan tambahan informasi terkait perawatan pre

operasi tentang tingkat kecemasan.


3. Pihak Perawat RSU Bahteramas agar dapat lebih memperhatikan kecemasan

dari pasien yang akan melakukan operasi dan lebih meningkatkan

komunikasi teraupetik serta tindakan keperawatan seperti mengevaluasi TTV

sebelum dan sesudah operasi

4. Peneliti penelitian ini dapat memberikan pengetahuan sehingga dapat

diaplikasikan kelak saat bertugas di Rumah dalam ruang lingkup keperawatan

denga selalu mengukur tingkat kecemasan pada pasien pre operasi .


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Mutu Pelayanan Kesehatan.(online). (http://id.wikipedia.org/wiki/


(mutu pelayanan kesehatan) diakses tanggal 15 maret 2016.
Arikonto,Suharsimi.2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta;
PT Rineka Cipta
Asmadi, Defa. 2008. Teknik Prosedur Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan
Dasar Klien. Salemba Medika. Jakarta.
Azwar. 2005. Epidemiologi. Renika Cipta. Jakarta
Baradero M, Dayrit MW & Siswadi Y, 2009. Prinsip dan Praktik Keperawatan
Preoperatif. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatan Medical Bedah Volume 2. Jakarta: EGC.
Bustam. 2004. Epidemiologi. Renika Cipta. Jakarta
Carpenito, Lynda Juall. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan dan Dokumentasian
Keperawatan Pasien. Jakarta; EGsC.
Chandra, B, 2002. Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta; EGC Kedokteran.
Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam, 2009. Manajemen Keperawatan. Salemba Medika.
Price, Grace dan Wilson. 2006. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Erlangga
Rasmun. 2009. Stress, koping dan Adaptadi Teori dan Pohon Masalah Keperawatan.
Jakarta: CV.
Sabiston, David C. 2010. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC.
Stuart, Gail W. Keperawatan Jiwa. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Saryono, 2010. Kumpulan instrumen Penelitian Kesehatan. Mitra Cendekia Presa.
Jogyakarta.
Sjamsuhidayat, R. De Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC
Sumiati, S.Kp, M.Si.2009. Kesehatan Jiwa Remaja Dan Konseling. Penerbit TIM.
Yosep I. 2010. keperawatan Jiwa. Refika Aditama. Bandung.
Zuld Headry. 2009.Kecemasan pada Pasien Preoperasi Di RSUD Mataram.
http://zulmataram.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15 maret 2016
Lampiran 1

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada
Yth. Bapak/Ibu/Saudara(i)
di -
Tempat
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan, maka saya :
Nama : IIS HASMAWA K
Nim : P00320013011
Sebagai mahasiswa Politeknik Kesehatan Kendari Jurusan Keperawatan,

bermaksud akan melaksanakan penelitian dengan judul “Identifikasi Tingkat

kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Appendisitis Di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Sulawesi Tenggara”.

Sehubungan dengan hal itu, maka saya mohon Bpk/Ibu/Saudara(i)

meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner (pertanyaan berikut ini dengan jujur dan

benar). Bapak/Ibu/Saudara(i) responden berhak untuk menyetujui atau menolak

pengisian kuesioner. Namun apabila setuju, Bapak/Ibu/Saudara(i) responden

dipersilahkan untuk menandatangani surat persetujuan pengisian kuesioner berikut

ini. Atas pertisipasi kebijakan Bapak/Ibu/Saudara(i), saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

IIS HASMAWA K
Lampiran 2
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(INFORMED CONCENT)

Saya bertanda tangan di bawah ini tidak keberatan untuk menjadi responden

dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Politeknik Kesehatan Kendari

Jurusan Keperawatan yang berjudul “Identifikasi Tingkat Kecemasan Pada Pasien

Pre Operasi Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi

Tenggara”.

Saya memahami bahwa data ini bersifat rahasia. Demikian pernyataan ini

dengan suka rela tanpa paksaan dari pihak manapun, semoga dapat dipergunakan

sebagai mana mestinya.

Kendari, Maret 2016

Responden
LEMBAR OBSERVASI / LEMBAR CHECK LIST

IDENTIFIKASI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE


OPERASI APENDISITIS DI RUMAH SAKIT UMUM
BAHTERAMAS SULAWESI TENGGARA
TAHIUN 2016

I. BIODATA RESPONDEN
Nama (inisial) :
Umur :
Jenis Kelamin :
Pendidikan Terakhir :
Pekerjaan :
Agama :
Lama Hari Rawat :

II. VARIABEL PENELITIAN


TINGKAT KECEMASAN (SKALA HRS-A)
Adakah tanda dan gejala yang saudara rasakan ketika akan menghadap tindakan
Operasi?
1. Perasaan Cemas

Firasat Buruk

Takut akan pikiran sendiri

Mudah tersinggung

Lesu
2. Ketegangan

Merasa Tegang

Mudah Terkejut

Tidak dapat istrahat dengan tenang

Gemetar

3. Ketakutan

Pada Gelap

Ditinggal Sendiri

Pada Orang Asing

saat akan mendapatkan suatu tindakan.

4. Gangguan Tidur

Sukar memulai tidur

Terbangun malam hari

Tidak pulas

Mimpi buruk dan menakutkan

5. Gangguan kecerdasan

Daya ingat menurun

Sulit berkonsentrasi
Sering bingung

Daya ingat buruk

6. Perasaan Depresi

Kehilangan minat

Sedih

Bangun dini hari

Perasaan berubah-ubah sepanjang hari

7. Gejala Somatik/fisik (otot)

Nyeri otot

Kaku

Kedutan otot

Suara tak stabil

8. Gejala sensorik

Telinga berdenging

Penglihatan kabur

Muka merah atau pucat

Merasa Lemas
9. Gejala Cardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah)

Denyut nadi cepat

Berdebar-debar

Nyeri dada

Rasa lemah seperti mau pingsan

10. Gejala pernapasan

Rasa tertekan di dada

Perasaan tercekik

Merasa nafas pendek/sesak

Sering menarik napas

11. Gejala Gastrointestinal (pencernaan)

Mual muntah

Konstipasi / sulit buang air besar

Perut melilit

Nyeri lambung sebelum / sesudah makan

12. Gejala Urogenital (perkemihan)

Sering kencing
Tidak dapat menahan kencing

Amenorrhoe/menstruasi yang tidak teratur

Frigiditas

13. Gejala outonom

Mulut kering

Muka kering

Mudah berkeringat

Pusing atau sakit kepala

14. Gejala motorik/ Perilaku sewaktu wawancara

Gelisah

Mengerutkan dahi muka tegang

Napas pendek dan cepat

Muka merah

Jumlah Score : ................................................

Kesimpulan : Cemas Ringan

Cemas Sedang

Cemas Berat
DOKUMENTASI PENELITIAN