Anda di halaman 1dari 47

‫العلماة المجاهد‬

‫الشيخ الحاج ماحمد هاشم أشعري‬

KIYAI PEJUANG

K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI


PERINTIS KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

OLEH :

Muhammad Asad Syihab

SERI TOKOH-TOKOH MUSLIM


DI INDONESIA

PENERBIT
DAAR EL SHODIQ
BEIRUT
Cetakan Pertama
1391 H. / 1971 M.
‫بسم ا الرحمن الرحيم‬

‫ل اوُّانلاينوُّرم انلارخرر يياوُّاددوُّان ام نن احااَاد ا ا‬


‫اا‬ ‫ال اترجيد اقنوُّمماَ يينؤرمينوُّان رباَ ا ر‬
ُّ‫ساااوُّلايه اوُّالااانوُّ اكااااَينوُّا آاابااااَاءيهنم أانوُّ أانبانااااَاءيهنم أانوُّ إرنخااااوُّاانيهنم أانو‬
‫اوُّار ي‬
‫ا‬ ‫اعرشياراتيهنم يأوُّالرئاك اكات ا‬
‫ح رمنناايه‬ ‫ب رفيِ قييلوُّربرهيم ا ن رلياماَان اوُّأاياااديهنم رباايروُّ ح‬
ِ‫ضاااي‬ ‫ت اتنجرريِ رمنن اتنحرتاهاَ انلانناهاَير اخاَلررديان رفياهاااَ ار ر‬ ‫اوُّييندرخلييهنم اجاناَ ح‬
‫ب ار‬
‫ااا يهاايم‬ ‫ب ار‬
‫ا أاال إران رحاانز ا‬ ‫ضوُّا اعننيه يأوُّلارئاك رحنز ي‬
‫اي اعننيهنم اوُّار ي‬ ‫ا‬
[22 /‫ ]المجاَدلة‬.‫ن‬ ‫انليمنفلريحوُّ ا‬
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu
bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan
mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya.
Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah
ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap
(limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan
yang beruntung".

‫سااوُّلرره يثااام الاانم اينراتاااَيبوُّا‬ ‫إراناماااَ انليمنؤرمينااوُّان االاارذيان آاامينااوُّا رباااَ ا ر‬


‫ل اوُّار ي‬
‫ااا يأوُّلارئاااك يهاايم‬ ‫سااربيرل ا ر‬ ‫اوُّاجاَاهاايدوُّا ربااأ انماوُّالررهنم اوُّأاننفيرساارهنم رفاايِ ا‬
‫صاَرديقوُّ ا‬
[15/‫ن ]الحجرات‬ ‫ال ا‬
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-
orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar".
PENDAHULUAN

Ini adalah buku seri riwayat hidup para tokoh dan


pahlawan muslimin di Indonesia yang menggambarkan
tahapan-tahapan perjuangan mereka, memuat uraian ringkas
tentang kiprah dan sejarah kehidupan mereka, dan aspek-
aspek yang mewarnai perjalanan hidup mereka, serta
peristiwa-pwristiwa penting yang berkenaan dengan usaha
perjuangan mereka.

Bagi setiap tokoh dan pahlawan, saya susun dalam satu


buku khusus dengan uraian yang tajam, dan saya tulis juga
biografinya secara ringkas. Dalam buku ini saya sengaja hanya
menulis para tokoh yang telah meninggal,semoga Allah meridlai
mereka, dan saya tidak menulis tentang mereka yang masih
hidup, karena perjuangan serta kiprah mereka yang masih
hidup ini masih sedang berlangsung, yang kemungkinan
mereka akan melakukan kiprah-kiprah yang besar di kemudian
hari.

Diantara buku seri “Riwayat hidup para tokoh dan


pahlawan muslimin di Indonesia” yang telah saya selesaikan
penulisannya sampai sekarang ada 16 belas buku, yaitu :

1- Pejuang dan pahlawan Pangeran Diponegoro.


2- Sultan Hasanuddin.
3- Pahlawan Imam Bonjol, Sayyid Muhammad bin Syihab.
4- Pahlawan Sunan Ampel.
5- Al Allamah Sulaiman Ar-Rasuli.
6- Pejuang wanita Tjut Nyak Din.
7- Sayyid Ali bin Ahmad Syihab.
8- Haji Umar Said Tjokro Aminoto.
9- Sayyid Muhammad bin Aqil.
10-Haji Ahmad Dahlan.
11- Failasuf Abdullah bin Alawi Al-Attas.
12-Al Allamah Abdul Wahid Hasyim.
13-Da’i Islam Malik Ibrahim.
14-Sayyid Aqil Al Jufri.
15-Syarif Hidayatullah, Pembangun Ibukota Indonesia, Jakarta.
16-Al Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari, yaitu tokoh yang
sedang saya tulis dalam buku ini.

Sampai sekarang saya masih melanjutkan penulisan


biografi para tokoh Islam lain di Indonesia dengan mengambil
refrensi dari sumber-sumber sejarah yang paling terpercaya,
baik yang masih tertulis dalam manuskrip atau yang sudah
dicetak. Dan saya tak tahu sampai dimana dan sampai kapan
akan selesainya buku-buku kumpulan biografi ini.
Buku-buku ini bukan merupakan penelitian sejarah atau
kajian ilmiah, melainkan hanya penuturan peristiwa-peristiwa
secara sederhana, yang menguraikan beberapa sisi penting
yang dialami oleh tokoh tersebut, dan terkadang saya juga
memaparkan sisi lingkungan hidup dan masa yang dialaminya.
sehingga pembaca diharapkan dapat tersentuh dengan
peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh tersebut, dan dapat
melihat hakekat yang terjadi dengan sesungguhnya
sebagaimana yang yang dialami sejarah di di daerah tersebut.
Dan saya berusaha meneliti secara detail dengan
mencantumkan data-data, dan menuliskan peristiwa-peristiwa
dan kejadian-kejadian yang sebenarnya, dan saya berusaha
menghindari dari uraian yang berlebihan yang tidak masuk
akal, atau yang tidak memenuhi persyaratan penulisan sejarah,
dan tidak seperti apa yang dirasakan perasaan. Agar buku
biografi ini bersih, semata-mata menampilkan kebenaran, dan
kejujuran dalam hidup tokoh yang diriwayatkan, serta sebagai
khidmah terhadap sejarah.

Penulis,

Muhammad Asad Syihab

1971

AL’ALLAMAH AL MUJAHID,
K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI
1287 – 1366 H

Mungkin tidak pernah terlintas di benak kita, bahwa pemimpin islam


yang agung ini, - peletak batu pembangunan kemerdekaan Indonesia, dan
berani mengibarkan bendera perjuangan dengan ucapan dan perbuatan,
dengan senjata yang sangat sederhana, namun mampu mengguncang pilar-
pilar penjajahan Belanda -. Beliau adalah salah seorang diantara mereka yang
pernah menuntut ilmu di tanah suci Makkah Al Mukarramah pada tahun 1308
H dan bermukim di sana selama beberapa tahun. Beliau menerima ilmu dari
para guru yang alim, dan para tokoh kiyai yang terkemuka di masa itu.
Kemudian beliau sempat mengajar beberapa saat di tanah suci Makkah ketika
itu, dan pengajarannya diikuti oleh banyak pelajar yang datang dari Asia
selatan : dari Burma, Siam, Malaysia, Indonesia dan lain-lainnya.
Guru agung Muhammad Hasyim Asy’ari pulang dari Haramain Asy
Syarifain ( Makkah dan Madinah ) ke tanah air, tidak membawa title-titel
pendidikan besar yang kosong, tidak pula membawa harta yang melimpah,
karena harta merupakan sampah dunia, akan tetapi beliau pulang dengan
membawa di dadanya ilmu yang bermanfaat untuk diajarkan kepada putera-
putera tanah airnya, dan untuk membangun bangsanya, membimbingnya,
mendidiknya,, dan mengisi jiwa mereka dengan ruh Islam.
Al Ustadz Muhammad Hasyim Asy’ari kembali dari pusat Islam
membawa ajaran-ajaran Islam ke tanah airnya, dan setelah sampai di tanah
air, beliau mengembangkan pengajaran,pendidikan, dan kebudayaan, dan
mendirikan pondok-Pondok Pesantren dan madrasah-madrasah, disamping
membentuk organisasi pemuda untuk memanggul senjata dalam rangka
berjuang melawan penjajah Belanda dan merebut kemerdekaan. Al ‘Allamah
Muhammad Hasyim Asy’ari berkata :”Tidak ada kebaikan bagi suatu bangsa
jika generasinya bodoh, dan tidak akan bisa mereformasi suatu bangsa
kecuali dengan ilmu pengetahuan”.
Pada tahun 1314 H, yaitu tahun kembalinya Al ‘Allamah
K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari dari tanah suci, beliau langsung menuju
medan pengajaran dan pendidikan di ditempat beliau diididik dan dibesarkan.
Lalu beliau memegang kantor “Al Ma’had Al Ilmi/pondok keilmuan” yang
didirikan oleh ayahmy, kemudian beliau membuat organisasi-organisasi dan
meluaskan pondoknya.
Pondok Pesantren ini terletak di sekitar desa Tebu Ireng, dekat kota
Jombang Jawa Timur.
Pada tahun 1317 H, pada tanggal pendiriannya, kaum muslimin
merayakan Pesantren baru, yaitu pesantren Tebu Ireng yang menjadi batu
pertama untuk mencetak kiyai-kiyai besar dan merupakan salah satu menara
ilmu pengetahuan dan perjuangan.
Ketika Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari melakukan kegiatan
Pondok Pesantren ini, banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Namun
beliau tetap gigih dalam menghadapi segala kesulitan dan hambatan yang
datang dari pemerintah penjajah Belanda yang hanya ingin melihat kaum
muslimin dalam posisi terbelakang, sehingga tidak ada perlawanan
terhadapnya pemerintahan penjajah. Namun ketika pemerintahan Belanda ini
gagal dalam menghalangi usaha-usaha Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim
Asy’ari ,pemerintah Belanda mulai menggunakan kekuatan militernya dan
melakukan kekerasan. Mereka mulai mengirim pasukan angkatan bersenjata
mereka untuk menguasai pesantren Tebu Ireng, dan berusaha
menghancurkan serta merusak apa saja yang ada di dalamnya untuk
menciptakan kerugian-kerugian material terhadap Pondok, dan pasukan
penyerangan saat itu juga berusaha untuk membunuh atau menculik Al
‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari. Oleh karena itu, maka terjadilah
perlawanan berdarah antara militer Belanda dengan para santeri dan guru
yang mempertahankan pesantren dan menjaga keselamatan Al ‘Allamah
K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari. Dan pasukan belanda yang menyerang
Pondok Pesantren Tebu Ireng ini berusaha menyebarkan berbagai dalih dan
tuduhan untuk membenarkan perbuatan mereka. Mereka menuduh bahwa,
Pesantren ini merupakan pusat para perusuh, pemberontak, dan orang-orang
Islam bergaris keras.

SETELAH PERISTIWA PENYERANGAN

Pada hari berikutnya, setelah terjadi peristiwa penyerangan, Al ‘Allamah


K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari keluar rumah dan menyaksikan apa yang
telah terjadi, dan beliau menjumpai bahwa, sebagian besar bangunan-
bangunan Pondok Pesantren mengalami kerusakan. Perabotan-perabotan
dan peralatan- peralatan pondok hancur berantakan. Barang-barang penting
yang sangat berharga, seperti buku-buku dan lain-lainnya telah dirampas. Lalu
Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari mengumpulkan para guru dan
santri serta para pejabat pemerintahan kota setempat dilapangan Pondok
Pesantren untuk menyaksikan apa yang telah terjadi. Maka mereka semua
merasa sangat sedih menyaksikan kejadian itu.

Dalam kesempatan ini, Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari


menyampaikan sambutan yang sangat berapi-api dan bernilai, yang mampu
memberikan semangat dan membesarkan hati mereka. Beliau menyerukan
kepada seluruh masyarakat agar tetap sabar dan tabah untuk meneruskan
usaha-usaha perjuangan. Beliau mengatakan :”Sesungguhnya Peristiwa-
peristiwa yang datang secara mendadak seperti ini, tidak boleh
menghancurkan cita-cita kita dan tidak boleh mematahkan semangat
perjuangan”.

Kejadian seperti ini, merupakan motivasi pertama dan pendorong untuk


melipat gandakan semangat dalam perjuangan. Kemudian beliau mengirim
para utusan ke berbagai pulau-pulau di Indonesia dank e Negara-negara lain..
sehingga ketika para utusan itu telah sampai di berbagai Negara dan pulau-
pulau, kaum berdatanganlah kaum muslimin dari berbagai pulau dan negara
memenuhi undangan dengan memberikan dukungan moral dan material.
Bantuanpun berdatangan dari berbagai penjuru, dan banyak para pemuda
bersedia dengan suka rela menjaga keselamatan pesantren dan siap
melindungi Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari dari setiap ancaman
yang dating.

Kaum muslimin menganggap serangan terhadap Pesantren ini, bukan


merupakan serangan terhadap pesantren saja, akan tapi merupakan
penghinaan dan pelecehan terhadap kaum muslimin secara umum.

CITA-CITA
AL ‘ALLAMAH K.H.MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari bercita-cita ingin


membentuk masyarakat Islami di Indonesia, yang menerapkan hukum-hukum
dan ajaran Islam. Oleh karena itu, beliau berusaha membangun pesantren-
pesantren dan madrasah-madrasah. Dan beliau berusaha memperluas
usaha-usaha pendidikan dengan usaha yang besar. Kemudian beliau
mempunyai ide untuk menyatukan potensi dan semangat para kiyai. Lalu
beliau mengumpulkan para kiyai dan mendirikan sebuah perkumpulan dengan
nama “JAM’IYAH NAHDLATUL ULAMA’ ”. Dan sebagai penghargaan terhadap
perjuangan beliau, maka Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari dipilih
sebagai pemimpin tertinggi Jam’iyah dengan julukan “Asy-Syeikh Al
Akbar/Rais Akbar ”. ( Yaitu sebuah gelar yang hanya diberikan kepada Al
‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari, Pent.)

Disini, Belanda mulai khawatir terhadap kegiatan-kegiatan dan


gerakan-gerakan JAM’IYAH NAHDLATUL ULAMA’ ini. Karena para kiyai telah
berkumpul dan terhimpun dalam dalam sebuah organisasi yang mengikat
mereka dengan aturan yang ditetapkan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1924
M. ( Menurut catatan resmi, Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ ini berdiri pada tahun
1926 M, Pent. )

Belanda mulai lagi mengganggu sang pemimpin, dan mengawasi


gerakan-gerakan para kiyai dengan pengawasan yang sangat ketat, baik
secara sembunyi atau terang-terangan. Sehingga para kiyai yang menjadi
pengurus Jam’iyah seringkali mengalami pemeriksaan, penggeledahan, dan
gangguan-gangguan yang lain. Bahkan, diantara mereka ada yang ditahan
dengan tuduhan melawan pemerintahan Belanda yang sah, dan dianggap
menciptakan keresahan, dan menghasut kaum muslimin agar menentang
para kiyai karena dianggap menyebarkan faham-faham Islam yang ekstrem.
Dan masih banyak lagi tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada para kiyai
yang tergabung dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Namun para kiyai terus
melakukan usaha-usaha perjuangan mereka tanpa menghiraukan hambatan-
hambatan dan gangguan-gangguan tersebut.

PERIODE BARU

Hanya dalam waktu 8 bulan saja setelah peristiwa penyerangan yang


menyedihkan itu, bangunan-bangunan pesantren Tebu Ireng mulai berdiri lagi
dengan bentuk yang lebih besar, lebih luas, lebih megah, dan lebih kokoh.
Dan dengan peristiwa itu pesantren Tebu Ireng menjadi terkenal dan
merupakan suatu model pesantren besar di tengah-tengah masyarakat, dan
kedudukan terhormat dalam kehidupan bangsa Indonesia , di samping
memberikan penilaian sebagai “Pesantren Jihad”.

Dari pengaruh ini, maka berdatanganlah para santri dari berbagai


penjuru untuk menimba ilmu di pesantren ini, sehingga jumlah para santri
mencapai puluhan ribu. Kemudian pesantren ini menjadi berkembang pesat
dan dilakukan perluasan besar-besaran. Di samping kelebihan yang dimiliki
pesantren ini, adalah letaknya yang istimewa, berada disalah satu daerah
Jombang yang hijau, yang melimpah air dan sungai-sungai, dan gemercik air
sungai-sungai kecil yang mengalir sampai ke rumah-rumah tempat tinggal,
dan dikelilingi oleh bukit-bukit yang penuh dengan pepohonan,bunga-bunga,
udara yang tenang, dan jauh dari kebisingan dan kegaduhan kota. Semua itu
yang membuat para santri betah dan semangat dalam belajarnya.

Dan model pembelajaran di pesantren ini terdiri dari dua arah :

1- Pendidikan agama murni, yang meliputi pelajaran hukum Islam,


ushuluddin, pengadilan Islam, dan lain-lainnya.
2- Pendidikan keilmuan umum, yang meliputi ilmu-ilmu kearsitekan,
matematika, dan lain-lainnya.

KELUARGA
AL ‘ALLAMAH K.H.MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Dari sisi keturunan ayah, nasab Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim


Asy’ari, bersambung pada keluarga Aalu Syaiban yang berasal dari
keturunan para da’i Arab muslim yang datang ke selatan Asia 1 pada abad ke 4
hijriyah untuk menyebarkan agama Islam, dan telah mendirikan banyak
pusat-pusat Islam dan kesultanan-kesultanan Islam yang dikenal dengan
kesultanan Alu ‘Adhamah Khan. Mereka ini keturunan Imam Jakfar Shadiq
bin Imam Muhammad Baqir, alaihim minallahir ridlwan. adapun dari sisi ibu,
masih keturunan dari Raja Brawijaya, seorang raja di pulau Jawa. Adapun
pertalian nasab beliau yang tersambung pada Aalu Baitin Nabi, hal ini sudah
populer. Nasab beliau telah tercatat dalam buku-buku catatan nasab Aalul
Bait, dan tersimpan di perpustakaan silsilah nasab di kantor Nuqaba’ As
Saadah Wal Asyraf2 ( Tempat catatan para tokoh keturunan nabi saw ).

KEHIDUPAN
AL ‘ALLAMAH K.H.MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Para tamu setiap hari berdatangan dari berbagai pulau di Indonesia,


beliau meluangkan waktu khusus untuk menerima mereka setelah shalat
1 Lihat buku saya “Islam di selatan Benua Asia”, telah dicetak.
2 Yang dimaksud istilah “Saadah wal Asyraaf” adalah keturunan dari saiyidina Hasan dan Saiyidina
Husein, putera Al Imam Ali, alaihim salamullah, dari ibu Sayyidah Fatimah Az Zahrah, alaihassalam,
puteri Rasulullah, saw.
Ashar dan Maghrib atau Isya’. Para tamu itu ingin meminta petunjuk dalam
menyelesaikan berbagai masalah yang sulit. Dan beliau memberikan
jawaban-jawaban dan penyelesaian yang memuaskan mereka, atau
terkadang memberikan fatwanya tentang problem-problem yang mereka
hadapi.

Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari bisa berbicara dalam


bahasa Arab dengan sangat lancar. Beliau adalah seorang khatib yang fasih
dan termasuk sastrawan yang menonjol dan terkenal. Dalam berbagai
kesempatan beliau sering menyampaikan syair-syair, dan beliau memiliki
kumpulan puisi-puisi panjang yang beliau baca sendiri dalam berbagai forum.
Beliau juga memiliki banyak karangan dalam bidang sastra, fiqih, dan ilmu
sosial; disamping memiliki juga pandangan-pandangan politik dan perjuangan,
dan beliau juga memiliki kumpulan fatwa yang sebagian besar belum dicetak.

Sejarah hidup beliau penuh dengan perjuangan demi tanah airnya.


Perlawanannya melawan penjajah Belanda baik dengan ucapan maupun
perbuatan sudah sangat populer. Beliau telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang
menentang kolonial Belanda; diantaranya, fatwa yang mengharamkan kaum
muslimin bekerja sama dengan Belanda dalam bentuk apapun. Dan
mengharamkan menerima bantuan apapun dan untuk kepentingan apapun
yang datangnya dari Belanda. Beliau juga mengeluarkan fatwa tentang
wajibnya menentang Belanda. Dan fatwa beliau mempunyai gaung yang
besar di seluruh nusantara.

Panglima Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Jendral


Sudirman dan tokoh pejuang Bung Tomo dan lain-lainnya, mereka
mempunyai hubungan langsung dengan beliau. Mereka meminta nasihat-
nasihat dan sumbangan-sumbangan pemikran beliau.

Diantara fatwa-fatwa beliau yang mampu menghidupkan api revolusi


dan menggoncang pilar-pilar imperialisme Belanda adalah pernyataan beliau
tentang wajibnya jihad dengan kekuatan yang ada untuk merebut
kemerdekaan dari kaum penjajah.
Para pemuda menyambut seruan beliau dan ribuan pemuda berlomba-
lomba bergabung secara sukarela dengan barisan para pejuang. Diantara
mereka ribuan yang gugur sebagai syuhada di jalan Allah dank arena Allah.
Namun sejarah membisu dan tidak menguraikan tentang mereka sedikit pun,
akan tetapi kenyataan tak bisa dipungkiri bahwa, kemerdekaan tak akan
terwujud tanpa perjuangan mereka, kemerdekaan tak akan diabadikan tanpa
nyawa-nyawa para pejuang muslim.

Ketika Belanda mengalami kesulitan dalam Perang Dunia kedua,


mereka meminta bangsa Indonesia untuk masuk militer Belanda dengan dalih
untuk mempertahankan Indonesia dengan melawan penjajah Jepang yang
merampas Indonesia. Ketika itu tampillah Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim
Asy’ari dengan perlawanannya dan seketika itu pula mengeluarkan fatwanya
yang terkenal, yang mengharamkan masuk tentara belanda atau bekerja
sama dengan Belanda dalam bentuk apapun.

Demikianlah Belanda gagal lagi dalam usahanya, dan tak lama


kemudian menyerah kepada pasukan Jepang yangmenyerbu pada bulan
Maret 1942 M.

DI MASA PENJAJAHAN JEPANG

Nasib Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari di masa penjajahan


Jepang tidak lebih baik dari pada masa penjajahan Belanda. Beliau ditangkap
dan dimasukkan penjara. Karena Jepang takut melihat pengaruh besar beliau
terhadap bangsa Indonesia. Maka sebelum beliau melakukan perlawanan
terhadap pemerintahan Jepang. maka Jepang segera menghentikan gerakan
beliau dan menangkapnya.Namun setelah Jepang melihat sikap kaum mslimin
yang gusar dan menentang tindakannya menangkap beliau, serta tuntutan
mereka untuk melepaskannya. Padahal Jepang sangat mengharapkan
dukungan kaum muslimin. Terutama setelah mengetahui sikap beliau yang
sangat keras dalam melawan kolonial Belanda, maka Jepang terpaksa
membebaskan beliau pada tanggal 18-8-1942 setelah beliau menghabiskan
waktunya di penjara sekitar 6 bulan. Kemudian Jepang menawarkan berbagai
jabatan penting dan mencalonkannya untuk menduduki jabatan tinggi urusan
agama di Indonesia, namun beliau menolaknya.

PERLAWANAN BERSENJATA

Al ‘Allamah K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari mendirikan kelompok-


kelompok pemuda untuk diberikan latihan militer dan memanggul senjata
dengan sistem yang baru. Mereka dididik menjadi tentara untuk merebut
kemerdekaan. Maka beliau membentuk kelompok pemuda “Hizbullah”
dengan semboyan : “Ala Inna Hizballahi humul ghaalibun / ingatlah bahwa
hizbullah, mereka itulah yang bisa mengalahkan”. Dan membentuk laskar
“Sabilillah” yaitu laskar untuk umum, orang-orang tua, kaum lelaki, dan kaum
wanita dengan semboyan “Waman yujaahid fie sabilillah / dan mereka yang
berjuang fi sabilillah ”.

Dan masih ada lagi kelompok lain dengan nama “Mujahidin”, sebuah
kelompok pasukan penyerang berani mati, dengan semboyan “Walladziina
jaahadu fiina lanahdiyanahum subulana / dan mereka yang berjuang di jalan-
Ku, sungguh Aku pasti akan tunjukkan mereka kepada jalan-jalan-Ku”.

Jumlah mereka yang bergabung di dalam laskar-laskar ini mencapai


puluhan ribu orang yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Kelompok-
kelompok laskar inilah yang telah melakukan tugas-tugas besar dalam perang
merebut kemerdekaan melawan penjajah Belanda 3.

PRIBADI
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari adalah pribadi yang besar.


beliau adalah pemimpin besar, panutan, pendidik, pejuang, dan seorang yang

3 Lihat buku saya “Shofahaat min taariikhi Indonesia Al Mu’ashir/ lembaran-lembaran sejarah Indonesia
masa kini”.
rendah hati, penuh toleran, lemah lembut dalam pergaulan, murah senyum di
dalam menyambut para tamu yang datang kepada beliau, tidak menutup diri
atau memisahkan diri. Ini semua yang membuat beliau memperoleh
kedudukan yang tinggi di hati masyarakatnya dan bangsanya, sehingga
kecintaan dan penghormatan bangsa terhadap beliau benar-benar tertanam di
dalam jiwa mereka. Sehingga beliau menjadi contoh dan suri tauladan bagi
mereka, karena ketinggian perangainya, kelapangan hatinya, dan wajahnya
yang selalu murah senyum.

Rumah beliau merupakan tempat tujuan para tamu pemimpin dunia


Islam yang datang ke Indonesia. Dan tidak ada seorang pemimpin penting
yang datang kecuali tujuan pertamanya adalah bertemu dengan Al ‘Allamah
K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari; untuk berbincang-bincang, bertukar pikiran
dan bermusyawarah dengan beliau. Semua para tamu sangat kagum dengan
pemikiran beliau yang jitu.

Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, Al ‘Allamah K.H. Muhammad


Hasyim Asy’ari telah berhasil dengan gemilang. Sungguh telah lahir tokoh-
tokoh dan pemimpin-pemimpin besar yang merupakan pelopor para pejuang
Indonesia yang ikut serta dalam meletakkan batu pembangunan kemerdekaan
Indonesia. Beliau termasuk pemimpin mujahidin periode pertama yang
perjuangan dengan ucapannya, perbuatannya, hartanya dan dirinya, dan tak
mengenal mundur.sangat kuat keinginannya, sangat kokoh azamnya, bekerja
dengan ikhlas, dan hidup sederhana. Beliau tidak suka bermewah-mewah,
tidak tertarik dengan gaya hidup yang tinggi, dan tidak suka berlebihan,
bahkan beliau sangat dermawan dalam urusan sosial. Dan beliau tidak
menginginkan jabatan, tidak mencari pangkat atau kedudukan.

Telah ditawarkan kepada beliau beberapa posisi penting, dan jabatan-


jabatan tinggi dalam pemerintahan, namun beliau benar-benar menolaknya
tanpa basa basi. Beliau adalah salah satu dari sepuluh pemimpin besar
Indonesia terkemuka, kemudian dipilih empat pemimpin terbaik dari sepuluh
itu, ternyata beliau adalah termasuk dari yang empat tersebut. Bahkan
pendapat mayoritas lebih mengedepankan beliau diatas yang lain.
Pernah ditawarkan kepada beliau jabatan kepala Negara, namun
beliau menolaknya, beliau mengatakan, bahwa dia berjuang tidak berharap
untuk menjadi pemimpin atau menduduki suatu jabatan, akan tetapi semata-
mata untuk berkhidmah untuk agama, tanah air, dan bangsanya ikhlas karena
Allah dan untuk mencari ridla Allah Ta’ala.

Sebagai penghargaan kepada Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim


Asy’ari, banyak organisasi-organisasi tinggi memilih beliau untuk menjadi
pemimpin kehormatan bagi mereka. Diantaranya adalah organisasi-organisasi
dan perkumpulan-perkumpulan yang diberi penghargaan oleh organisasi
Syubbanul Muslimin (Organisasi Pemuda Muslim) di Kairo.

Saya telah menyaksikan para peziarah, para tamu, dan para utusan
berdatangan kepada beliau secara berombongan tanpa ada putusnya. Dan
saya lihat diantara mereka ada yang tinggal beberapa hari bahkan beberapa
minggu. Majlis ta’lim beliau bisanya diadakan pada waktu dhuha dan
berlangsung hingga waktu dhuhur. Di waktu sore, beliau menerima para tamu
yang datang dari daerah-daerah jauh untuk bertemu secara pribadi, atau
meminta nasihat dan pendapat.

Saya kagum dengan seorang pemuda yang datang sebagai ketua


rombongan dari pedalaman daerah Sulawesi, lalu beliau menyampaikan
pembicaraan dengan panjang lebar, dengan sebuah pembicaraan yang keluar
dari lubuk hati beliau yang paling dalam, di hadapan anak muda tersebut.
Kata-kata yang beliau sampaikan bukanlah kata-kata yang berapi-api dan
tidak pula emosional, tapi kata-kata yang seimbang dan sangat bernilai yang
diperkuat dengan keterangan-keterangan, argumentasi, refrensi, dan dalil-dalil
yang menunjukkan jauhnya pandangan orang yang berbicara.

Di sore hari Jum’at, saya melihat ada rombongan tamu lain juga, tapi
kali ini terdiri kaum muslimat dari ujung daerah Jawa Timur. Setelah diterima
dan berbincang-bincang, ketua rombongan muslimat itu menyerahkan
sejumlah yang cukup besar dari kumpulan dana amal shaleh yang mereka
mengumpulkan selama bulan Ramadhan yang yang telah silam.
Beliau menerimanya dengan rasa syukur dan penuh penghargaan,
kemudian beliau mengatakan :”Sekarang giliran saya menyerahkan sejumlah
uang ini kepada kamu sekalian agar kalian membangun madrasah untuk
mendidik puteri-puteri muslimah agar mereka menjadi wanita-wanita teladan
yang baik, yang bermanfaat bagi Negara, bangsa dan agama. Setelah
menyampaikan pengarahan dan nasehatnya, beliau meminta para tamu
muslimat agar memperhatikan pendidikan keilmuan kepada puteri-puteri umat
Islam. karena tanpa ilmu mereka tak akan mampu melakukan apa-apa yang
bermanfaat bagi Negara. Karena ilmu itu sendiri adalah senjata”.

Rombongan tamu para ibu tersebut sangat mengagung Al ‘Allamah


K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, dan semakin menghormati dan memuliakan
beliau. Dan ketika mereka kembali ke daerahnya, mereka segera membeli
sebidang tanah yang cukup luas dan membangun sebuah madrasah khusus
untuk puteri. Sekolah ini masih tetap berdiri hingga sekarang dan dipenuhi
dengan para siswi-siswi. Sudah banyak sekali lulusan yang keluar dari
madrasah ini, dan jadilah madrasah ini sebagai contoh yang baik.

GURU-GURU DAN TEMAN-TEMAN


AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI
SEMASA BELAJAR

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari belajar di tanah suci


Makkah al Mukarramah di bawah asuhan tokoh-tokoh ulama besar Hijaz pada
masa itu. Seperti Syeikh Ahmad Amin al-Atthar, Sayyid Sulthan bin Hasyim,
Sayyid Ahmad Zawawi, Syeikh Ibrahim ‘Arab, Sayyid Ahmad bin Hasan al-
Atthas, Syeikh Sa’id Yamany, Sayyid Husein al-Habsy, yang menjabat mufti
hingga wafatnya, Sayyid Bakar Syatha, Syeikh Rahmatullah, Sayyid Alawi bin
Ahmad as-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliky, Sayyid Abdullah az-Zawawy, Syekh
Shaleh Bafadlol, dan Syeikh Sulthan Hasyim Daghistani.

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari termasuk orang yang


istiqamah menghadiri pengajian di Al-Haram asy-Syarif. Beliau selalu
mengikuti pengajian Al-‘Allamah Sayyid Alawi bin Ahmad As-Saqqaf dan
Sayyid Husein Al-Habsy Al- Mufti. Beliau sering mengunjungi kedua gurunya
ini di rumahnya. Dan Sayyid As-Saqqaf sendiri sangat kagum dengan K.H.
Muhammad Hasyim Asy’ari karena kecerdasannya dan ketekunannya dalam
menuntut ilmu.

Adapun teman-teman beliau -semasa menuntut ilmu- sangat banyak


sekali, di antara mereka adalah Sayyid Shaleh Syatha, Syeikh Thayyib as-
Saasi, Syeikh Bakar Shabbagh, Sayyid Saleh bin Alawi bin ‘Aqil, Syeikh Abdul
Hamid Quds, Syeikh Muhammad Nur Fathani, Syeikh Muhammad Sa’id Abul
Khair, Syeikh Abdullah Hamduh, Sayyid ‘Aidrus Al-Bar, Sayyid Muhammad Ali
Al-Maliky dan Sayyid Muhammad Thahir Ad-Dabbagh. Ketika Sayyid
Muhammad Thahir ad-Dabbagh datang ke Indonesia, hubungan beliau
kembali terjalin. Maka Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari sangat
menghormatinya dan melayaninya.

Dengan para guru dan kawan-kawan beliau yang telah menjadi kiyai
dan pemimpin, beliau terus berhubungan melalui surat-menyurat hingga akhir
hayatnya.

IKRAR JANJI
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI
Kaum muslimin DI masa itu kondisi mereka sangat lemah dan terjajah,
terbelenggu di bawah perbudakan. India, Malaysia, Burma, Borneo utara,
semuanya dijajah Inggris. Indonesia dijajah Belanda. Kepulauan Timor dijajah
Portugal. Negara-negara Afrika terkoyak-koyak dan terbagi-bagi menjadi milik
beberapa Negara. Negeri-negeri Asia Tengah : Bukhara, Turkistan, Kaukasus,
al-Karim dan lain-lainnya menghadapi perang berat dari kekaisaran Rusia
yang ingin menaklukkan dan menjajahnya. Sedangkan bangsa-bangsa Islam
yang lain secara umum lemah. Sementara dinasti Utsmaniyah di Turki kondisi
semakin lemah dan merosot sampai pada batas terendah karena
pengepungan dan tekanan dari Negara-negara Eropa. Sedemikian lemahnya
hingga dinasti Utsmaniyah tak mampu melawan pemberontakan-
pemberontakan dari negera-negera yang berada di bawah kekuasannya.
Negera-negera ini satu persatu terlepas. Kemudian beramai-ramai melawan
Turki dengan bantuan Negara-negara Barat yang memasoknya dengan
senjata, perlengkapan dan personel.

Semua masalah umat Islam ini memberikan kesan yang sangat


mendalam di dalam perasaan diri K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari. Dan
kebanyakan apa yang beliau bicarakan dengan teman-temannya setelah
pelajaran adalah masalah umat Islam dan keadaan kaum muslimin yang
buruk dan sangat menderita.

Akhirnya, beliau mengadakan pertemuan dengan beberapa teman


belajar beliau untuk saling berjanji akan melakukan tindakan untuk
menyelesaikan masalah umat Islam ini..

Pada suatu malam di malam-malam bulan Ramadlan yang mulia,


palajar-pelajar yang terdiri dari berbagai bangsa ini, - dari Afrika, Negara-
negara Asia Selatan, Asia Tengah, dan Negara-negara arab- berkumpul
mengadakan pertemuan. Dan K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari termasuk
salah seorang diantara mereka. Mereka semua berdiri di depan Multazam di
Ka’bah Al Musyarrafah berikrar janji kepada Allah dan bersumpah akan
berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Islam, mempersatukan umat
Islam dengan menyebarkan ilmu dan kesadaran, dan dengan memperdalam
agama demi mendapatkan ridla Allah Ta’ala tanpa mengharapkan harta,
kedudukan, ataupun jabatan bagi diri sendiri.
MENEPATI IKRAR JANJI

Ketika K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air, tempat


kelahirannya, beliau menepati janji yang telah beliau ikrarkan. Beliau
berdakwah mengajak kepada Allah dan menebarkan kesadaran Islam. Lalu
beliau mendirikan pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, dan tidak
melupakan sahabat-sahabat serta teman-teman yang pernah bersam-sama
menuntut ilmu di tanah suci Makkah yang pernah bersumpah dan berjanji
kepada Allah untuk berjihad di jalan Allah, dan menyebarkan dakwah Islam.
Maka beliau mengundang mereka ke Indonesia untuk membantunya.

Akan tetapi keadaan pada masa itu tidak memungkinkan mereka untuk
meninggalkan tugas-tugas menyebarkan dakwah islam di tanah suci. Jika
mereka harus meninggalkannya, maka akan terjadi kekosongan yang besar;
lagi pula perhimpunan besar para pelajar yang datang dari India, Bukhara,
Turki, dan Negara-negara Asia Selatan ini akan terceai-berai dan berantakan.
Masalah yang kedua adalah, bahwa dakwah ini harus merata di seluruh
wilayah di Asia, Afrika, dan lain-lainnya dan tidak terbatas hanya disatu
wilayah seperti Indonesia misalnya.

Atas dasar ini mengharuskan mereka harus tetap di markas-markas


mereka untuk melanjutkan pendidikan dan pengajaran. Dan bagi mereka yang
telah berhasil agar kembali ke tanah airnya untuk menyebarkan dakwah Islam.

Ketika K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari melaksanakan tugas


pengajaran atau berada dalam ceramahnya, beliau selalu menekankan
temanya tentang persatuan umat Islam secara umum sebagai umat yang satu
yang tidak boleh terkotak-kotak. Dan Setiap orang Islam harus memperhatikan
saudara-saudaranya sesama muslim, meskipun saling berjauhan tempat
tinggalnya dan membela kaum muslimin secara umum dimanapun mereka
berada, dan berani menyerang para penjajah dan orang-orang kafir yang
menyerangnya.

Setelah beliau, tugas ini dipikul oleh puteranya, Abdul Wahid Hasyim,
yang mengikuti jejak ayahnya dan melanjutkan perjuangannya. Dan dalam
setiap kesempatan, putera beliau ini selalu mengingatkan kondisi kaum
muslimin yang tertindas di Afrika, Asia, Turkistan, Kaukasus, Bukhara, dan
negeri-negeri Asia tengah lainnya.
HUBUNGAN
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Al ‘Allamah K.H. Muhammad hasyim asy’ari mempunyai hubungan


yang sangat luas, dan koresponden dengan banyak para pemimpin dunia
Islam pada masa itu. Diantaranya dengan Syeikh Abdul Aziz Tsa’alibi, Sayyid
Dliya-ud-Dien Asy Syairazi, - musuh besar Inggris -, Pangeran Syakib Arselan,
Pangeran Muhammad Abdul Karim Al Khaththabi, Sayyid Alawi bin Thahir Al-
Haddad, mufti kesultanan Johor; Muhammad Ali dan Syaukat Ali dari India;
Muhammad Ali Janah, Muhammad Iqbal, Sayyid Hibatud-Dien Asy
Syahrastani, - mantan menteri pendidikan Iraq dan ketua majlis pertimbangan;
Al-Allamah Sayyid Muhammad Aqil, Syeikh Muhammad Jad Al Maula, Syeikh
Muhammad Surur Az Zankaluni, Syeikh Yusuf Ad Dajwi, Sayyid Muhammad
Ghanimi At Taftazany, Al-Allamah Sayyid Mahdi Asy Syairazi –sumber refrensi
yang agung - , Sayyid Ali bin Husein al-Atthas, Syeikh Muhammad Husein
Aali Kasyif al-Ghatta’; pejuang besar Syeikh Ahmad Arif az-Zein, pemilik dan
pendiri majalah “Al Irfan” dan Koran “Jabal Amil”, Sayyid Abdullah bin Alawi al-
Atthas dan Sayyid Muhammad Al Muhdlar.

Ketika Pangeran Abdul Karim al-Khaththabi mengadakan revolusi


kemerdekaan yang amat dahsyat dan popular pada tahun 1924 melawan
perancis dan spanyol di Maghrib ( Maroko ), dan pada tahun yang sama
Sultan Pasya Athrasy di Siria melawan Peancis, bangkitlah K.H. Muhammad
Hasyim Asy’ari dengan perannya yang aktif dan melakukan usaha-usaha yang
positif dengan menunjukkan solidaritas umat Islam Indonesia untuk
mendukung revolusi Pangeran Abdul Karim dan Sultan Pasya Athrasy. Lalu
beliau melakukan beberapa demonstrasi besar dan longmarch, dan
mengadakan beberapa pertemuan umum, dan mengadakan rapat berkali-kali
yang mewajibkan untuk memberikan dukungan penuh kepada setiap
perlawanan kepada penjajah. Beliau berpidato di depan public yang sangat
banyak, dan pidato beliau yang menggunakan bahasa yang indah mampu
mengguncang perasaan para pendengarnya, lalu beliau mendo’akan semoga
Allah menolong perjuangan kaum muslimin.
Pawai-pawai besar Islam dan pertemuan-pertemuan umum yang sering
beliau adakan untuk memperlihat solidaritas dan dukungan kepada pejuang-
pejuang Arab Maroko, Siria dan Palestina, juga sebagai unjuk rasa
kesetiakawanan terhadap saudara-saudara mereka para pejuang di negeri-
negeri itu, ketika Indonesia sendiri pada saat itu masih terpuruk di bawah
penjajahan Belanda.

Katika melihat gerakan-gerakan kaum muslimin Indonesia ini, tentu


saja Belanda merasa khawatir jika gerakan ini akan meluas, dan khawatir
demonstrasi-demontrasi menentang Italia, Perancis dan Spanyol – yang
mempunyai hubungan dengan Belanda sebagai sesama bangsa dari benua
Eropa dan mempunyai kepentingan bersama- itu akan berkembang menjadi
demonstrasi-demonstrasi melawan Belanda. Karena itu Belanda mengambil
tindakan-tindakan keras terhadap gerakan-gerakan yang mendukung
kemerdekaan dan akan dapat membangkitkan kemarahan kaum muslimin,
sehingga mereka akan melakukan demonstrasi menentang penjajah secara
umum. Sedangkan Belanda tidak ingin demonstrasi-demonstrasi itu
berkembang secara khusus menentang kepadanya, dikarenakan kebencian
terhadap penjajahan itu telah masuk di dalam hati mereka.
PERPUSTAKAAN
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Perpustakaanadalah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari termasuk


perpustakaan yang paling kaya, karena berisi buku-buku pengetahuan
keislaman yang paling berharga berupa buku-buku cetakan dan manuskrip
(naskah tulisan tangan) dari peninggalan lama. Perpustakaan ini memuat
sejumlah besar buku-buku dalam bahasa Arab, Indonesia, Jawa, Melayu, dan
beberapa bahasa asing lainnya. Perpustakaan ini setaraf dengan
perpustakaan Lembaga Penelitian Islam di Jakarta.

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari sangat peduli dengan


koleksi buku-buku pengetahuan dan beliau membelanjakan uang yang banyak
untuk mendapatkan dan membeli buku-buku. Bahkan kadang-kadang harus
mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar nilainya hanya untuk
mendapatkan satu buku peninggalan lama. Oleh karena itu beliaumemiliki
sejumlah besar buku-buku jenis itu, disamping buku-buku cetakan dari dunia
Islam dan Eropa.

Dan banyak sekali para peneliti dan para pelajar yang berkunjung ke
perpustakaan beliau mencari rujukan suatu tema penelitian untuk menulis
menulis penelitian ilmiahnya.4

4 Kami tidak tahu apa yang terjadi terhadap buku-buku ini sekarang, setelah melewati waktu lebih dari
seperempat abad dari wafatnya putera beliau, al marhum K.H. Abdul Wahid Hasyim. Dikatakan, bahwa
sebagian besar dari buku-buku yang sangat berharga ini telah hilang.
AKHLAK
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Tidak seorang pun yang berhubungan dengan Al ‘Allamah K.H.


Muhammad Hasyim Asy’ari melain dia menuturkan bahwa, beliau adalah
seorang yang mulia, terhormat, diagungkan dan dikagumi, karena
keistimewaan beliau yang memiliki akhlak mulia, kerendahan hati, sabar, dan
ketinggian nilai perangai beliau.

Saya pernah bertanya kepada Syeikh Rabah Hasunah, seorang


ulama Al-Azhar yang pernah datang ke Indonesia dan sangat erat sekali
hubungannya dengan Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari. Dia
adalah salah seorang yang kenal beliau dengan baik dan sering bertemu
dengan beliau. Maka Syeikh Rabah Hasunah mengatakan kepada saya :
”Sepanjang pengetahuan saya, dan selama saya duduk bersama beliau, dan
menetap bersama beliau, Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari,
persahabatan saya dengan beliau semakin erat, lebih dari 12 (dua belas)
tahun, saya belum pernah melihat beliau berkata keras, atau marah-marah,
atau terbawa oleh emosional. Saya selalu melihat beliau tersenyum ramah
dan wajah yang berseri-seri kepada setiap orang, sampaipun pada saat - saat
yang paling krisis atau saat-saat sulit”.

“Beliau adalah orang yang tenang, sangat sabar, dan tidak keburu-
buru, menghadapi segala permasalahan dengan dada yang lapang, tidak
pernah terbawa perasaan. Oleh karena itu beliau mampu memecahkan
masalah-masalah yang berat, sekalipun dalam situasi yang sulit, dengan
pemecahan yang sukses. Beliau banyak bekerja, tetapi beliau melakukan
pekerjaanya dengan penuh sabar dan tenang. Saya sendiri sangat heran
bagaimana beliau mampu menguasai perasaannya dalam situasi yang sangat
sulit. Apabila seseorang sedang berbicara kepada beliau, beliau
mendengarkannya dengan seksama, tidak menentangnya. Setelah orang
tersebut selesai bicara, baru beliau menjawabnya. Permasalahan demi
permasalahan, beliau menanggapinya dengan jawaban yang sesuai. Dan
setiap ada pertanyaan beliau selalu menjawabnya. Dan beliau tidak pernah
mengumbar pembicaraan sampai keluar dari masalah yang sedang
dibicarakan, atau tidak mencabang-cabangkan pembicaraan, atau keluar dari
pokok bahasan, akan tetapi cukup menyampaikan secara rinci dengan
penjelasan yang memuaskan dan menenangkan pendengarnya.

K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari tidak pernah merasa tidak enak


berdiskusi dengan pendengarnya atau orang yang mengajaknya bicara,
bahkan beliau menyambutnya dengan senang hati dan merasa menemukan
sesuatu yang dapat memuaskan bagi pembicara dan pendengarnya dalam
diskusi tersebut. Oleh karena itu, orang-orang berdiskusi dengan beliau
merasa dapat menemukan pandangan yang luas yang bisa menghantarkan
kepada kesimpulan yang membuat hati tenang dan puas. Tidak sekedar
mendengar atau taat yang buta. K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari tak pernah
sama sekali berkeinginan memaksakan kehendaknya kapada seseorang atau
mengharuskan orang mengikuti pendapatnya. Akan tetapi beliau selalu
membangun segala hal atas dasar musyawarah, saling pengertian, dan
menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian, K.H. Muhammad Hasyim
Asy’ari mampu menyatukan para tokoh kiyai. Beliau adalah contoh yang baik
dan teladan bagi lainnya. Inilah rahasia kebesarannya”. Demikianlah yang
disampaikan oleh Al ‘Allamah Syekh Rabah Hasunah dalam pembicaraannya
dengan saya tentang K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari hidup pada masa yang


penuh dengan kesulitan hidup dan pertentangan, masa perang dunia, dan
masa pembantaian yang dilakukan oleh bangsa Barbar. Masa kudeta dan
revolusi. Namun di masa yang penuh krisis ini, K.H. Muhammad Hasyim
Asy’ari tampil sebagai pemimpin bangsa yang agung. Beliau meletakkan
pondasi-pondasi yang beliau sendiri sangat memegangnya dan menghalau
bangsanya menuju pondosa-pondasi tersebut. Dan menghalau bangsanya
menuju pondasi-pondasi tersebut. Dan beliau berjuang demi tanah air dan
agamanya. Beliau adalah pemimpin gerakan “Nahdlatul Ulama”, yaitu suatu
partai besar di Indonesia.

Pribadi K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari mempunyai kedudukan yang


tinggi di hati jutaan ummatnya. Beliau tidak memiliki pasukan besar. Dan tidak
menguasai posisi penting dalam pemerintahan sehingga dapat memaksakan
kehendaknya terhadap orang lain, atau ditakuti oleh orang-orang karena
kekuatannya. Di tangannya hanya ada niat yang tulus, tidak memiliki apa-apa
selain keikhlasannya untuk agamanya, tanah airnya, dan bangsanya, dan
karena itulah beliau berjuang.

Di masa penjajahan Belanda, seharipun beliau tidak pernah bekerja


sama dengan para penjajah, bahkan beliau selalu menentangnya. Adapun di
masa penjajahan Jepang beliau tidak pernah mencari muka kepada
pemerintah Jepang. Dan di masa kemerdekaan beliau menolak segala
jabatan dan kedudukan. Posisi beliau sangat popular dan jelas, dan
demikianlah beliau mendapatkan keridhaan bangsanya dan memperoleh
penghargaan mereka.
AWAL PERKENALAN SAYA
DENGAN
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Saya mengunjungi Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari di


kediamannya di desa Tebu Ireng dekat kota Jombang, Jawa Timur.
Sebelumnya saya belum pernah mengenal atau bertemu dengan beliau selain
hanya sering mendengar tentang diri beliau dari orang lain.

Untuk yang pertama kali saya bertemu, ketika saya mengunjungi beliau
di kediaman beliau tanpa di dahulu dengan perjanjian sebelumnya. Ketika
beliau melihat kedatangan saya, beliau langsung berdiri menyambut dengan
wajah berseri-seri dan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kelapangan
dada dan keluhuran perangai beliau. Pada saat itulah saya mengenalnya
untuk yang pertama kali.

Di dalam pembicaraan saya dengan beliau, saya sengaja


memperbanyak bicara dan menentang ucapan-ucapannya, agar saya bisa
mengetahui tingkat kesabaran beliau, ketenangan beliau, sejauh mana
pandangan beliau, dan kedalaman pemikiran beliau. Dan saya
memperlihatkan keseriusan saya dalam diskusi dan perdebatan saya dengan
beliau.

Saya sungguh sangat tertarik dengan beliau, sungguh beliau adalah


seorang yang tenang dan selalu stabil dan tidak terpengaruh sedikitpun
dengan bantahan saya. Beliau sangat mendengarkan pebicaraan saya
sampai selesai, kemudian beliau menjawabnya, terutama dalam menjawab
pembicaraan dan bantahan saya. Beliau menjawab bantahan saya dengan
argumentasi-argumentasi dari ucapan dan pembicaraan saya sendiri. Tidak
lama kemudian beliau memaksakan kehendaknya atau pendapatnya kepada
saya, namun beliau senantiasa berusaha membuat saya menerima secara
akal, bukan dengan dalil naqli yang sekiranya saya bisa menerimanya. Beliau
tidak menolak saya di dalam jawaban-jawaban beliau yang bertentangan
dengan bantahan saya kepada beliau. Dan beliau bisa memberikan kepuasan
kepada saya dengan cara-cara yang bijaksana.
Saya seringkali bertemu dengan para tokoh dan saya sengaja
membantah mereka, ternyata saya jumpai mereka seketika menjadi emosi
dan bersemangat di dalam pembicaraannya; sampai-sampai ada diantara
mereka yang kehilangan keseimbangan karena terbawa oleh perasaannya,
sehingga tidak mampu menguasai dirinya.

Sifat-sifat seperti ini tidak ada pada diri Al ‘Allamah K.H. Muhammad
Hasyim Asy’ari. Beliau bisa menerima bantahan dan sangkalan dengan dada
lapang. Bahkan menurut pendapat beliau, justru diskusi dan perdebatan
seperti ini dapat mengantarkan kepada titik temu dan saling memahami.
Beliau menjawab setiap percakapan dan setiap alinea pembicaraan sesuai
dengan ukuran dan kemampuan pemahaman orang yang bertanya, yang
berbicara, yang mendebat atau lawan diskusinya. Beliau misalnya tidak
pernah memberikan jawaban misalnya dengan hal-hal yang diluar
kemampuan dan pemahaman orang yang berbicara.

Seorang non muslim yang tidak percaya dengan ajaran Islam dan tidak
percaya dengan argument-argumen orang Islam, jika ia mendebat dan
mengajak diskusi, beliaupun , tidak akan berdalil dengan sesuatu yang tidak
dipercayai oleh si penanya dan si penentang, tapi beliau menyampaikan
pendapat-pendapat, bukti-bukti, dan hujjah-hujjah yang tidak dipercayai
penanya. Sehingga ketika beliau berbicara dengan orang nasrani,
mengajaknya bicara dengan ucapan-ucapan orang-orang nasrani itu sendiri.
Dan jika Berbicara dengan orang atheis (yang tak percaya agama), beliaupun
mengajaknya bicara dengan argument-argumen kaum atheis. Dengan
demikian tema pembicaraan bisa dibatasi dan lawan diskusipun merasa puas.
Kalau bukan karena keluasan pengetahuan beliau, kesabaran dan
kelapangan hati beliau, tak mungkin beliau mampu melakukan pekerjaan yang
agung ini dan memikul beban yang sangat berat.

Banyak sekali orang nasrani, orang budha, dan orang-orang yang tak
beragama, telah masuk islam di tangan beliau dan menjadi orang-orang islam
yang baik sehingga mereka memperkuat barisan kaum muslimin. Dan mereka
yang memeluk agama islam itu bukan saja banyak jumlahnya, namun mereka
adalah para tokoh pilihan yang terpelajar dan orang-orang yang memiiliki
posisi keilmuan yang tinggi di tengah-tengan masyarakat.

Suatu saat saya pernah berada di majlisnya Al ‘Allamah K.H.


Muhammad Hasyim Asy’ari, tiba-tiba datang seorang lelaki asing yang
menurut perkiraan saya, seorang laki-laki sekitar umur 35 tahun dengan kulit
dan rambut pirang, menunjukkan bahwa dia adalah orang Eropa. Saya heran
bagaimana mungkin seorang penjajah Belanda datang kepada beliau.
Kekhawatiran dan rasa was-was mulai mengganggu perasaan tentang
keselamatan Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari dan posisinya,
dengan keberadaan orang Eropa ini.

Setelah itu saya baru tahu, bahwa lelaki itu adalah berkebangsaan
Belanda asal Jerman. Dia seorang arsitek bangunan terkenal yang bekerja di
perusahaan pembangunan Belanda yang terkenal dengan nama “Nedam”,
dan nama lelaki itu adalah Karl Von Smith.

Saya sempat berbincang-bincang dengan tamu asing ini dan


menanyakan sebab keislamannya dan mengapa memilih agama islam. Dia
menjawab yang ringkasnya, bahwa ketika dia sedang bekerja mengawasi
pelaksanaan kerja bangunan-bangunan dia melihat beberapa kuli bangunan
yang ketika berada di tengah siang hari dan telah tiba saat itirahat, mereka
pergi mencuci muka dan tangan mereka, kemudian pergi untuk menunaikan
shalat dengan bersujud di dalam shalatnya. Pemandangan ini menarik
perhatiannya dan dia telah memperhatikan hal itu berhari-berhari bahkan
berbulan-bulan. Kemudian dia bertanya kepada mereka apa yang mereka
lakukan dan mereka ucapkan itu. Pekerja yang sederhana tentu saja tidak
bisa menjelaskannya dengan penjelasan yang dapat memuaskannya. Hanya
saja salah seorang pekerja mengusulkan kepadanya untuk pergi menemui
Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Demikianlah lantaran hal itu, dia berkenalan dengan beliau dan


menghadiri majlis-majlis beliau beliau sampai dia puas, sehingga akhirnya dia
masuk islam.
BERSAMA INSINYUR
KARL VON SMITH

Sungguh benar-benar merupakan peristiwa kebetulan yang baik,


kunjungan saya kepada Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari pada
tanggal 07 Juli 1936 di kediaman beliau, di Tebu Ireng, dimana saya bertemu
dengan Ir. Karl Von Smith. Saya sempat berbicara lama dengannya. Ketika
pembicaraan diatara kami mulai asyik, saya pun menanyakan hal-hal yang
menyangkut dirinya, faktor-faktor apa yang mendorongnya masuk islam. Saya
katakana padanya : “Mengapa kamu tidak menulis atau menyusun sebuah
buku tentang sebab dan motivasi yang mendorong kamu memeluk agama
Islam?”

Dia menjawab dengan kata-kata yang tenang, bahwa dia sangat


menyesal, banyak sebab yang membuatnya tidak menulis hal itu. Yaitu masih
banyak kaum muslimin yang terkena trauma dan trauma ini hampir-hampir
menjadi keyakinan, yakni “trauma terhadap orang-orang orientalis”. Sehingga
segala sesuatu yang datangnya dari orang-orang Barat atau orang-orang
Eropa, dan Eropa itu sendiri menganggap hal itu adalah rendah, tjuan yang
buruk dan merusak. Dia takut jika menulis tentang keislamannya itu, dia tidak
akan selamat dari tuduhan itu. Meskipun tulisannya itu dianggap baik
umpamanya. Akan dikatakan bahwa di belakang tulisannya itu pasti ada
maksud tertentu. Kalau tidak beruntung, malah tuduhan itu menjadi meluas,
bahwa dia itu musuh islam, dan memerangi islam dengan pakaian islam.
Kemudian insinyur tersebut melanjutkan pembicaraannya : “Tidaklah masuk
akal bahwa ratusan juta orang barat, semuanya orientalis dan semuanya
mempunyai tujuan buruk terhadap islam. Dan tidak ada satu orang pun yang
baik. Saya sendiri tidak mengingkari adanya kaum orientalis. Kalaupun ada
orang yang melakukan pekerjaan orientalis. Maka hanyalah beberapa orang
yang dapat dihitung dan tidak mungkin kesalahan mereka ditimpakan kepada
semua orang Eropa. Jika tidak bagaimana kaum muslimin dapat menyiarkan
agama islam di Eropa diantara orang-orang barat, selagi pikiran orang islam
terhadap orang-orang barat masih trauma seperti itu ? Di Eropa ada ratusan
bahkan ribuan orang barat yang beragama islam. Diantara mereka dan kaum
muslimin dari asia dan afrika tidak terjalin hubungan sedikit pun. Hal itu
disebabkan bahwa, kebanyakan orang islam menganggap bahwa setiap
muslim Eropa adalah orientalis, mata-mata terhadap kaum muslimin. Oleh
karena itu kaum muslimin dari Asia dan Afrika tidak mau memanfaatkan
saudara-saudara muslimin dari Eropa. Rasa persaudaraan islam yang tidak
menyeluruh dan belum benar-benar terwujud, disebabkan oleh semacam
trauma yang akut ini. Oleh karena itu saya mempertimbangkannya untuk
menghindari segala sesuatu yang bisa menimbulkan keraguan, dan cukuplah
dengan satu hal yang ingin saya lakukan. Setelah saya kembali nanti ke
negeri saya dan bermukim di salah satu kota di Eropa dan setelah saya dan
keluarga saya menunaikan ibadah haji, saya akan melakukan dakwah islam
dan mengajak bangsa saya kepada islam tanpa ribut-ribut, sebagai khidmah
saya kepada agama Islam. Dakwah ini akan saya lakukan di daerah-daerah
non Islam dengan segala usaha yang dapat saya lakukan. Dengan harapan
semoga Allah dan Rasul-Nya meridlainya. Itu saja.”

Saya bertanya kepadanya tentang para orientalis, dia menjawab : “Para


orientalis itu ada beberapa macam. Diantara mereka ada yang menjadi
penelitiannya, dan ada yang tidak berhasil. Diantara mereka juga ada yang
melakukan penelitian dengan tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk
mengetahui masalah-masalah perbedaan pendapat dalam furu’iyah antara
kaum muslimin, sehingga bisa mencari tempat-tempat kelemahan kaum
muslimin “.

“Di sana ada hal penting yang ingin saya sampaikan untuk menarik
perhatian kamu dan perhatian umat Islam, bahwa buku-buku yang dijadikan
pedoman kaum orientalis jumlahnya sangat sedikit. jika mereka harus
berpegangan pada buku-buku berbahasa Arab, mereka tidak mungkin
menyerap seluruhnya. Mungkin mereka menemukan beberapa buku murahan
dan tidak bernilai, lalu mereka jadikan pegangan. Kadang-kadang seorang
orientalis menulis berdasarkan kepentingannya, dan sesuai dengan
pemahaman-pemahamannya yang bisa mendukung kepentingannya, dan
buku-buku pedoman yang mereka pelajari. Oleh sebab itu kebanyakan
peneliti itu tidak berhasil dalam penelitian mereka. Adapun para orientalis yang
mempunyai maksud-maksud tertentu, mereka ini bekerja dalam kerangka
yang sudah dikenal berdasarkan rencana-rencana yang telah dipelajari.
Mereka ini tidak ada urusan dengan kita, masalah mereka sudah jelas, telah
terbuka aibnya, dan sudah tidak ada apa-apanya lagi. Dan mereka ini orang-
orang yang sekedar melaksanakan tugas untuk melayani kepentingan negara-
negara penjajah yang memiliki wilayah-wilayah jajahan, seperti Belanda,
Inggris, Rusia, dan Perancis. Dalam hal ini, saya berpendapat, bahwa
seharusnya kaum muslimin dan pihak-pihak yang bertanggung jawab diantara
mereka, terutama mereka yang mahir dan lancer berbahasa asing, hendakah
menerjemahkan buku-buku pustaka Islam dan buku-buku islam yang penting
lainnya ke dalam berbagai bahasa, sehingga dapat mempermudah bagi
mahasiswa atau peneliti atau orientalis yang tidak menguasai bahasa Arab
bisa mendapatkan buku-buku yang bisa difahami dengan bahasa mereka,
sehingga di saat itu tidak ada alasan bagi mereka. Maka yang paling
bertanggung di dalam keteledoran ini adalah kita sendiri umat Islam. Karena
kita menganggap remeh dan tidak melakukan kewajiban kita terhadap agama
dan penyiarannya kepada mereka yang tidak memahami bahasa Arab,
sebagaimana kita dituntut oleh dakwah Islam agar kita lebih bijaksana dalam
berdakwah dan menyampaikan nasehat yang baik”.

Saya pernah meminta pendapatnya tentang Al ‘Allamah K.H.


Muhammad Hasyim Asy’ari, ketika dia tertarik untuk memeluk agama Islam.
Bagaimana dia memandang beliau dan apa yang ditemukannya dalam diri
beliau. Dia menjawab :

“Kalau bukan karena hubungan saya dengan Al ‘Allamah K.H.


Muhammad Hasyim Asy’ari saya tidak akan mendapatkan taufiq untuk
memeluk agama islam. Beliau sangat berjasa kepada saya dalam hal ini. Dan
saya melihat dalam diri beliau keistimewaan khusus yang jarang saya jumpai
pada orang lain. Beliau mempunyai kemampuan naluri yang bisa
memahamkan kepada orang, dan mempunyai kemampuan untuk
menerangkan hal-hal yang sulit difahami, tanpa harus menjelaskan panjang
lebar sehingga membosankan. Beliau mampu membuat mudah bagi orang
yang mendengarkan untuk memahami dan menerima apa yang dikeluarkan
dari fikirannya. Seandainya di dunia ini ada sepuluh orang saja seperti beliau
yang menkhususkan diri untuk dakwah islam di Eropa umpamanya, dengan
gaya bahasa beliau yang halus dan menarik itu, maka tak diragukan lagi kita
akan melihat hampir semua orang Eropa beragama Islam “.

Kemudian insinyur berkebangsaan Belanda ini melanjutkan


pembicaraanya : “Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari telah
memahamkan kepada saya tentang Islam dari buku-buku yang pernah saya
baca dan dari agama nasrani yang pernah saya peluk. Beliau sama sekali
tidak pernah menyampaikan kepada saya nash-nash Al-Qur’an atau sabda-
sabda Rasulullah –saw- atau dari buku-buku kaum muslimin. Karena beliau
tahu, bahwa saya ketika itu belum beriman dan tidak percaya kecuali kepada
apa yang saya imani, sehingga beliau tidak mengemukakan kepada saya
sesuatu yang tidak saya percayai. Akan tetapi ketika saya sudah merasa puas
dan dapat menerima Islam setelah berkomunikasi yang cukup lama dengan
beliau, berlangsung selama 10 bulan, beliau baru mulai menyampaikan sedikit
dari ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang penuh dengan
mutiara hikmah dan nasehat-nasehat. Sungguh benar-benar tertarik
mendengar ayat-ayat Al Qur’an, dan kagum dengan ketinggian makna-
maknanya, sehingga saya sangat merindukan untuk mengetahui lebih banyak
lagi tentang ayat-ayat Al Qur’an.”

“Beliau juga menerangkan kepada saya sedikit dari ucapan-ucapan


para kiyai dan para waliyullah. Semua itu bisa membuka hati dan pikiran saya
serta mendorong saya untuk lebih banyak lagi mengenal Islam. sehingga saya
memutuskan memilih agama ini, memeluknya, dan mengimaninya”.

“Ketika saya meminta pendapat beliau tentang niat dan keinginan saya
untuk memeluk Islam, beliau menjawab : “Kamu bebas untuk memilih agama
yang kamu suka dan kamu ridhai untuk dirimu. Kamu telah memahami Islam,
maka pilihlah untuk dirimu keyakinan ( akidah ) dan agama yang kamu
percayai dengan syarat keimanan dan akidah ini berdasarkan atas ilmu,
pengertian dan kesadaran dan keyakinan setelah mempelajarinya.

Ketika itulah saya berniat memeluk agama Islam dan saya


menyatakannya di hadapan beliau. Beliupun menyambut saya dengan
sambutan yang hangat dan menyampaikan kabar gembira ini kepada semua
yang hadir. Maka dilakukanlah sebuah acara untuk mensyiarkan keislaman
saya sesuai tradisi yang berlaku bagi orang yang baru masuk Islam. Dan saya
mengucapkan syahadat di depan sekumpulan kaum muslimin yang menjadi
saksi yang telah menyambut saya, dan setelah itu memeluk saya dengan
pelukan seorang saudara yang telah lama hilang. Mereka katakana kepada
saya : “Mulai sekarang kamu telah menjadi saudara dekat kami “.

“Demikianlah saya telah menemukan masyarakat baru. Setelah dua


tahun kemudian istri saya pun memeluk Islam, lalu beberapa bulan kemudian
anak laki-laki saya masuk Islam tanpa tekanan ataupun paksaan. Bahkan
dengan kerelaan hati dan akidah yang kokoh serta iman yang kuat setelah
memlakukan. Sampai sekarang saya masih terus bekerja dengan baik dan
terus datang ke majlis Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari setiap kali
ada kesempatan, untuk menambah pengetahuan Islam sebagaimana yang
kamu lihat sekarang ini.”

“Inilah pembicaraan antara saya dengan insinyur Karl Von Smith. Dia
dilahirkan di kota Hannover, Jerman tahun 1902, dia belajar di sekolah dasar
di Jerman, kemudian ayahnya pindah ke Belanda karena kondisi pekerjaan
dan mata pencaharian dan tinggal di kota Delf di Holland. Dia belajar teknik
pembangunan di Universitas Leiden dan lulus dengan predikat baik sekali
pada tahun 1925. Kemudian setelah ayahnya wafat, dia merintis jalan
kehidupannya dan masuk kerja di Kementrian Dalam Negeri Belanda.
Kemudian bergabung dengan perusahaan konstruksi bangunan Belanda yang
terkenal dengan bnama “Nedam”, dan dia tunjukkan kemampuan kerjanya
sehingga namanya menjadi sangat populer. Kemudian perusahaan
mengirimnya ke Indonesia pada tahun 1929 dan berpindah-pindah ke
berbagai kota sampai akhirnya menetap di Surabaya, Jawa Timur. Dari sinilah
bermulanya hidayah dan taufiq menuntunnya kepada kebaikan, ketika terjadi
peristiwa yang bermula dari kuli bangunan yang menggunakan waktu
istirahatnya untuk bersuci dan melakukan shalat, dan yang menyebabkan
pertemuannya dengan Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, pekerja
kuli itu tidak mampu menjelaskan kepada insinyur ini tentang apa yang dia
lakukan dalam melaksanakan kewajiban agamanya, lalu menyarankannya
untuk menemui Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, tahun 1931.
Saya bertanya kepadanya, bagaimana perasaannya setelah memeluk
agama Islam ? Dia menjawab, bahwa dia memeluk agama Islam tidak lebih
dari kebanyakan orang awam. Dia sekarang menemukan ketenangan hati dan
merasa kemantan jiwa, dan merasakan kedamaian yang sempurna, dan
mengetahui bagaimana cara menyembah Allah yang benar, serta bagaimana
cara bersyukur kepada Tuhan atas segala anugerah-Nya yang tak pernah
berakhir.

Di saat kami sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah ustadz


Abdul Wahid Hasyim kepada kami. Pembicaraan pun terhenti sebentar, tidak
lama kemudian keluar Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari keluar dari
kamarnya menuju ruangan tempat kami berada. Pembicaraan beralih ke
masalah lain yang lebih penting yang berkaitan dengan kaum muslimin
seluruhnya dan dunia Islam secara umum. Dan Al ‘Allamah K.H. Muhammad
Hasyim Asy’ari adalah pusat putaran dialoq majlis.

Insinyur Karl Von Smith menetap di Indonesia sampai berakhirnya


perang dunia ke dua. Ketika bangsa Indonesia mengadakan perlawanan
terhadap pemerintah Belanda dalam perang kemerdekaan, tahun 1945;,
insinyur Karl memilih berada pada barisan bangsa Indonesia. Islamnya telah
mendorongnya untuk ikut serta memperkokoh Islam, dan berjuang demi Islam
dengan harta dan tenaganya.

Ketika pemerintah Belanda mengetahui hal itu, diapun dianggap


pengkhianat, dan pemerintah Belanda berusaha menangkapnya, dan
mengumumkan, barangsiapa bisa menangkapnya dan membawanya dengan
hidup atau mati, maka akan diberi hadiah 1000 dollar.

Setelah Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan dan


kebebasannya, insinyur dan keluarganya berangkat menuju Jerman dan
menetap di kota Hamburg, Jerman Barat, dan dia memnuhi janjinya, bahwa
dia akan melakukan dakwah Islam.

Dalam perjalanan saya ke Jerman bulan Juli tahun 1965, saya mencari-
cari dia dan menanyakan dirinya sampai akhirnya saya bisa bertemu
dengannya. Ternyata dia tinggal di kawasan yang indah dan tetap menekuni
profesinyanya sebagai insinyur, disamping sibuk dengan kegiatan dakwahnya
mengajak kaumnya kepada Islam. Dia tetap menjaga kewajiban menunaikan
shalat pada waktunya, dan sering belajar dengan da’i islam Sayyid Husein al-
Bahasyti dan direktur Islamic Centre di Hamburg.

Karl Von Smith adalah salah seorang da’i Islam yang mampu
mendekatkan jama’ahnya yang banyak dan kaumnya kepada pemahaman
Islam dan lingkungan Islam. Sebagian dari mereka telah mendapat hidayah
dan memeluk Islam setelah meyakini secara benar bahwa Islam adalah
agama yang lurus.
UKHUWAH ISLAMIYAH
( PERSAUDARAAN ISLAM )

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari sangat tidak menyukai


fanatisme yang buruk yang dapat memecah belah umat Islam. Beliau selalu
mengajak ukhuwah Islamiah dan mengajak bersatu secara menyeluruh serta
meninggalkan fanatisme buta. Beliau sepakat dengan Al-Allamah Syeikh
Muhammad Husein Abi Kasyif as-Shatha tentang ajakannya untuk
mempersatukan dan menyatukan umat Islam; meninggalkan fanatisme buta
dan perselisihan antar kaum muslimin, dan berusaha menjauhkan segala
sesuata yang dapat memperlebar jurang pertentangan antara sesama umat
Islam.

Beliau berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan pendekatan


pemahaman-pemahaman kaum muslimin untuk memperkokoh kesatuan umat
Islam. Seringkali beliau berkata : “ Bagaimana bisa kaum muslimin berpecah
belah, selama kitab suci mereka satu, Al; Qur’an, nabi mereka satu, Nabi
Muhammad saw, kiblat mereka satu, Al Ka’bah Al Musyarrafah. Tidak ada da’I
yang mengajak berpecah belah, apalagi mengkafirkan satu sama lain.
Perpecahan ini hanyalah menguntungkan musuh-musuh kaum muslimin”.

Dengan motivasi agama ini, ketika beliau melihat perpecahan umat


Islam menjadi banyak organisasi dan perkumpulan, dan tidak ada pemersatu
yang menyatukan mereka, beliau berpikir untuk menyatukan organisasi-
organisasi dan perkumpulan itu kedalam satu wadah, agar menjadi satu front
pembela Islam. Dan atas dasar ini beliau terus berusaha merealisasikan
tujuannya sampai beliau berhasil.

Maka pada tanggal 21 September 1937 beliau mendirikan “Al Majlis Al


Islami Al A’la Lil Indonesiyyin / majlis islam tertinggi Indonesia” yang
menghimpun partai-partai, organisasi-organisasi masyarakat, dan
perkumpulan Islam dengan beraneka ragam madzhabnya, tujuannya, dan
keyakinan agamanya. Inilah kali organisasi Islam pertama yang menghimpun
umat Islam dalam satu lembaga.
Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari selalu mengatakan :
”Selama kaum muslimin konsisten dengan keislamannya, maka masalah
khilafiah madzhabiah dan masalah-masalah furu’iyah yang tidak prinsip, tidak
boleh dijadikan alasan untuk memecah belah persatuan umat Islam dalam
keadaan apapun. Sesungguhnya masalah yang diperselisihkan itu adalah
masalah yang sepele “.
WAFATNYA
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 7 buan


Ramadhan tahun 1366 H, dalam usia mendekati 79 tahun, di desanya yang
terkenal dengan na Al ‘Allamah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari nama Tebu
Ireng, dekat kota Jombang. Kewafatan beliau telah menggoncang Indonesia
dari ujung ke ujung , pada saat bangsa Indonesia sedang melakukan
perlawanan terhadap penjajah Belanda, dan laskar-laskar yang beliau bentuk,
yaitu laskar Hizbullah, laskar Mujahidin, dan laskar Sabilillah, sedang berada
dalam pertempuran.

Meskipun demikian, masyarakat dalam jumlah yang sangat besar tetap


ikut mengantar jenazah beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir. dan
pemerintah Indonesia secara resmi juga ikut dalam upacara mengantar
jenazah beliau, - dimana Indonesia belum penah melakukan upacara seperti -,
sebagai penghormatan, dan pengakuannya terhadap jasa beliau, dan
keagungan kiprah yang beliau lakukan.

Dan untuk mengabadikan nama beliau, pemerintah telah memakai


nama beliau untuk nama-nama banyak jalan di kota-kaota di Indonesia. Maka
kita tidak menemukan sebuah daerah kecuali di sana ada jalan dengan nama
K.H.M. Hasyim Asy’ar.
PUTRA-PUTRA
AL ‘ALLAMAH K.H. MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

Beliau mempunyai putra puteri yang jumlahnya 16 orang semuanya


merupakan putra-putri kebanggaan. Karena beliau telah mendidik mereka
dengan sebaik-baik pendidikan. Diantara putra-putri beliau adalah Abdullah,
Kholiq, dan Yusuf. Kesemuanya mempunyai kedudukan yang tinggi di
masyarakatnya.

Dan putra beliau, Abdul Wahid, dia adalah salah satu dari Sembilan
orang yang menanda tangani piagam Jakarta untuk kemerdekaan yang
sangat populer. Dia memimpin partai Nahdatul Ulama dan menduduki
beberapa jabatan kementrian di dalam pemerintahan Republik Indonesia,
diantaranya adalah kementerian urusan agama. Dan dia juga penulis, penyair,
sastrawan, dan orator ulung. Di antara pidato-pidatonya yang disampaikan
tanpa teks di suatu pertemuan besar, adalah pidato yang panjang yang isinya
antara lain :

“Sesungguhnya kita umat Islam Indonesia, selama bertahun-tahun


hidup tertatih-tatih dalam belenggu penjajahan dan perbudakan, lalu kita
berjuang dengan segala kekuatan yang ada pada kita melawan para penjajah
sesuai dengan ajaran agama Islam kita yang menyatakan bahwa, penjajahan
merupakan kezhaliman dan kejahatan yang harus diperangi dan harus
diruntuhkan pilar-pilarnya”.

“Kita telah berjuang selama beberapa tahun, terutama dalam


lima tahun terakhir ini, kita telah memerangi kaum penjajah dalam perang
yang banyak memakan korban para tokoh dan putera-putera bangsa. Kita
telah mengorbankan segala yang kita miliki, dan kita mengalami berbagai
macam kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan karena perang”.

“Kita melakukan itu sebagai langkah untuk meninggikan kalimah


Islam dan kejayaan umat mat Islam. kebebasan berpolitik kaum muslimin
merupakan syarat yang tak bisa ditawar-tawar bagi kehidupan kaum muslimin
itu sendiri dan syari’atnya. Dan segala usaha yang mempersempit kegiatan
politik kaum muslimin pada hakikatnya merupakan upaya menghilangkan
syari’at Islam”.

“Atas dasar ini, perang yang kita proklamirkan melawan kaum penjajah
merupakan perang agama. Perang di jalan Islam dan agama Islam. Betapa
pun besarnya perbedaan dan selisih antara persenjataan yang kita miliki
dengan persenjataan yang dimiliki angkatan perang penjajah, baik dari segi
jumlahnya maupun perbekalannya.

Meskipun demikian, kita menang dan berhasil mangalahkan mereka


lantara fadhal ( anugerah ) Allah. Maka sudah seharusnya kita bersyukur
kepada Allah dan senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah,
meskipun ada beberapa orang sombong yang menentang dan menganggap
bahwa kemenangan yang kita peroleh ini sama sekali tak ada hubungannya
dengan pertolngan Allah”.

Ketakaburan mereka yang ingkar ini tak hanya pada penafian mereka
terhadap pertolongan Allah dan pengaruhnya yang aktif dalam keberhasilan
dan kemenangan kita atas kaum penjajah, tapi juga pada sikap kemunafikan
mereka di saat-saat agresi militer pertama dan kedua.

Inilah cuplikan dari pidato Ustadz Abdul Wahid Hasyim. Dia memang
banyak mirip dengan ayahnya dalam keluhuran budinya; terutama dalam
semangat pidatonya, kefasihannya dan kemampuannya dalam
mengungkapkan isi pidatonya. Dia memiliki keistimewaan sebagaimana
ayahnya yang tenang dan sabar.

Ustadz Abdul Wahid Hasyim wafat akibat kecelakaan tabrakan


mobilnya yang terjadi pada tanggal 09 April 1953 M. dalam perjalanannya
menuju Jawa TImur untuk memimpin suatu pertemuan umum partai Nahdlatul
Ulama. Dia saat itu sedang menjabat sebagai menteri agama.

- SELESAI -
DAFTAR ISI

Halaman

1. PENDAHULUAN ……………………………………………… 4
2. Al ‘Allamah Al Mujahid, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari … 6
3. Setelah peristiwa penyerangan ………………………………. 8
4. Cita-cita Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari ……. 9
5. Periode baru …………………………………………………….. 10
6. Keluarga Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari …… 11
7. Kehidupan Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari … 12
8. Di masa penjajahan Jepang …………………………………… 14
9. Perlawanan bersenjata ………………………………………… 15
10. Pribadi Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari ……… 16
11. Guru-guru dan teman-teman Al ‘Allamah, K.H. Muhammad
Hasyim Asy’ari …………………………………………………… 19
12. Ikrar janji Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari …… 20
13. Menepati Ikrar janji ……………………………………………… 22
14. Hubungan Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari …. 24
15. Perpustakaan Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari.. 26
16. Akhlak Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari ……… 27
17. Awal perkenalan saya dengan Al ‘Allamah, K.H. Muhammad
Hasyim Asy’ari …………………………………………………… 30
18. Bersama Insinyur Karl Von Smith …………………………….. 33
19. Al Ukhuwah Al Islamiyah ( persaudaraan Islam ) …………… 40
20. Wafatnya Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari …… 42
21. Putera-putera Al ‘Allamah, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari .. 43
22. Buku ini …………………………………………………………… 47
PERCETAKAN

SYIARCO

MENCETAK SEGALA MACAM CETAKAN

AIN AL RAMANAH

TELPON : 286832

BUKU INI

 Buku ini merupakan seri pertama dan dicetak dalam


bentuk tersendiri dari sejumlah seri tokoh-tokoh muslim
Indonesia, karena pemilik biografi dalam buku ini
termasuk orang yang memiliki posisi yang abadi di
dalam alam pemikiran, tanah air, dan perjuangan…
Dan sesungguhnya : buku ini, walaupun ditulis dalam
uraian yang ringkas, merupakan kajian yang cukup dan
mencakup kehidupan pribadi pemilik biografi ini…
Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana
dan enak dibaca, yang bisa membuat pembacanya rindu
untuk membaca seri-seri berikutnya.
 Penyusun buku ini : Seorang penulis terkenal Al Ustadz
Muhammad Syihab, penulis buku “Kifaah Turkistan /
Perjuangan Turkistan”. Dan penulis buku “Taarikh
Indonesia Al Mu’aashir / Sejarah Indonesia masa kini”,
dan buku-buku lainnya seperti buku-buku kajian politik
dan kebudayaan.

DAAR AL SHAADIQ – BEIRUT HARGA 1 LIRE LIBANON

Anda mungkin juga menyukai