Anda di halaman 1dari 22

Rekayasa Ide

MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL


ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI
PENDIDIKAN SENI TARI

Nama Mahasiswa : RAMADANI SYAHFITRI


NIM : 1193311044
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah
Dasar
Kelas : H Ekstensi
Dosen Pengampu : Dra. Sorta Simanjuntak, M.S
Mata Kuliah : Keterampilan Dasar
Pendidikan SD

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH


DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
OKTOBER 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkat dan
rahmatnya, penulis dapat menyelesaikan rekayasa ide ini yang berjudul
“Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Sekolah Dasar Melalui Pendidikan
Seni Tari ” dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Penulis juga
mengucapkan terimakasih atas bimbingan yang diberikan oleh dosen mata kuliah
Evaluasi Hasil Belajar yaitu Dra. Sorta Simanjuntak, M.S
sehingga rekayasa ide ini dapat terselesaikan dengan baik. Tak lupa pula
penulis mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah memberikan
kritik dan saran dalam penulisan rekayasa ide ini.
Rekayasa ide ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas Evaluasi Hasil
Belajar. Selain itu, penulis berharap rekayasa ide ini dapat dipergunakan sebagai
petunjuk, acuan atau pun pedoman dalam mempelajari di lapangan serta dapat
menambah pengetahuan dari pembaca sekalian.
Penulis menyadari bahwa rekayasa ide ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan sekalian guna
memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam rekayasa ide ini.

Medan, Oktober 2019

Ramadani Syahfitri

1193311044

i
Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian ................................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 4
A. Pengertian Emosi ..................................................................................... 4
B. Perkembangann Emosi Anak ................................................................... 4
C. Macam Ekspresi Emosi Anak .................................................................. 5
D. Tingkat Perkembangan Emosi Anak ......................................................... 5
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emosi Anak ..................................... 6
F. Kecerdaaan Emosional Anak .................................................................... 8
G. Pemaparan Ide ......................................................................................... 10
BAB III REKAYASA IDE ............................................................................... 12
BAB IV PENERAPAN IDE ............................................................................. 15
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 18
A. Kesimpulan ............................................................................................. 18
B. Saran ........................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dunia pendidikan saat ini begitu mudah terpengaruh, oleh monolitisme/rasio
modern kapitalistik, yang menempatkanmateri sebagai justifikasi dan kaukus
orientasinya, sehingga wajah dunia pendidikan telah sedemikian jauh tereduksi
maknanya dari konsep pendidikan sebagai proses humanisasi (Freire 1973)
menjadi semata-mata persoalan teknis dan administrative yang tersubordinasikan
ke dalam kapitalisme maupun jargon.
Bidang kajian yang menjanjikan muatan makna yang mendekatkan pada
segmentasi pasar, kemudian menjadi primadona dan seolah-olah segala-galanya,
dan sebaliknya pendidikan yang berdimensikan kekentalan pada nuansa nilai-
nilaimenjadi. Dari sinilah huluperihal konsep penomor satuan IQyang kemudian
menjadi jargon segala-galanya dalam ekspansi sistem dan kinerja pendidikan
menjadi “kegilaan” pada dan pendidik. Pada sisi lain, konsep pendidikan pada
dimensi EQ (Emotional Quotions) atau kecerdasan emosional “diketepikan” dan
bahkan nyaris dipersepsi tanpa adanya ikon, kebermaknaan.
Pendidikan dengan dimensi EQ (Emotional Quotions ) dapat ditemukan
dalam konsep pendidikan seni, termasukdidalamnya seni tari. Pendidikan seni
dapat mengolah kecerdasan emosi seorang anak, karena di dalam pendidikan seni
mengolah semua bentuk kegiatan tentang aktivitas fisik dan cita rasa keindahan,
yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan
berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran. Pendidikan seni dapat
mengembangkan kemampuan dasar manusia seperti fisik, perseptual, intelektual,
emosional, sosial, kreativitas dan estetik (V. Lownfeld dalam Kamaril 2001:2-3).
Pendidikan seni lebih efektif apabila diberikan sejak anak usia dini, sejalan
dengan proses perkembangan intelektual dan emosional anak.
Fenomena tersebut di atas, menarik bagi peneliti untuk melakukan pengkajian
lebih mendalam lagi dan menemukan jawaban bagaimana proses peningkatan
kecerdasan emosional anak usia dini melalui pendidikan seni tari.

1
Studi terhadap dunia anak yang secara gencar dilakukan pada penghujung
abad ke 19 (Mac Donald 1970: 38) menyadarkan orang bahwa anak merupakan
pribadi yang unik yang memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda
dengan orangdewasa. Salah satu bentuk dan kemampuan anak yang khas tersebut
adalah dalam hal mengekspresikan diri.
Disadarinya kebutuhan anak untuk mengekspresikan rasa keindahan,
mendorong pendidik untuk menyediakan fasilitas berupa kegiatan yang
memungkinkan anak untuk secara lancar dapat mengungkapkan rasa keindahan
serta juga dapat mengapresiasikan gejala keindahan yang ada disekelilingnya.
Kegiatan untuk memfasilitasi anak dalam diri inilah yang ditawarkan oleh
pendidikan seni, khususnya di sekolah. Jelaslah, pendidikan seni dalam konteks
ini, hadir untuk memenuhi kebutuhan anak yang azasi yang tidak mampu diemban
oleh kegiatan lain.
Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara,
gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional
dan multikultural. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan manusia
dalam berkomunikasi secara visual atau rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya
(Goldberg 1997: 8).
Selain itu, pendidikan seni juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan
kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai
pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun
dalam masyarakat dan budaya majemuk (Kamaril 2001: 4).
Pendidikan seni sangat penting diberikan sejak anak usia dini. Perkembangan
anak usia dini dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu fase orok, fase bayi, fase
prasekolah (usia Taman Kanak-Kanak), fase anak sekolah (usia anak Sekolah
Dasar) dan fase remaja (Yusuf 2001: 149). Salah satu fase perkembangan yang
berlangsung dalam kehidupan anak adalah tahap prasekolah yang berlangsung
sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai
pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air dan mengenal beberapa hal
yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Yusuf 2001: 162-163). Pada
masa usia prasekolah ini, berbagai aspek perkembangan anak sedang berada pada

2
keadaan perubahan yang sangat cepat, baik dalam kemampuan fisik, bahasa,
kecerdasan, emosi, sosial dan kepribadian.
Perkembangan motorik anak pada usia ini, ditandai dengan bertambah
matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otot, sehingga
memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Dalam masa ini tampak
adanya perubahan dalam gerakan yang semula kasar menjadi lebih halus yang
memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang lebih halus serta terkoordinir.
Untuk melatih ketrampilan dan koordinasi gerakan, dapat dilakukan dengan
beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, kubus-
kubus, bola, balok titian, dan tongkat.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari rekayasa ide ini adalah:
1. Bagaimanakah meningkatkan kecerdasan emosional anak sekolah dasar
melalui pendidikan seni tari?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah pendidikan seni tari dapat meningkatkan
kecerdasan emosional anak sekolah dasar (SD), dan
2. Untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi calon guru PGSD
ketika kelak berada di lapangan.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini yaitu :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Hasil Penelitian,
2. Sebagai bahan masukan bagi penulis dalam meningkatkan mutu pembelajaran
di kelas, dan
3. Untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi mahasiswa PGSD.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak
menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan
hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk
pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis
dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah
dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan
dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong
perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi
sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosiberkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi
merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi
dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat
mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995).

B. Perkembangan Emosi Anak


Tahun-tahun awal kehidupan seorang anak ditandai dengan peristiwa-
peristiwa yang bersifat fisik, misalnya kehausan dan kelaparan serta peristiwa-
peristiwa yang bersifat interpersonal, seperti ditinggalkan di rumah dengan
pengasuh atau babysitter, yang dapat menyebabkan timbulnya emosi negatif.
Kemampuan dalam mengelola emosi negatif ini sangat penting bagi pencapaian
tugas-tugas perkembangan dan berkaitan dengan kemampuan kognitif dan
kompetensi sosial (Garner dan Landry, 1994; Lewis, Alessandri dan Sullivan,
1994 dalam Pamela W., 1995:417).
Emosi memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik
pada usia prasekolah maupun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, karena
memiliki pengaruh terhadap perilaku anak. Woolfson, 2005:8 menyebutkan
bahwa anak memiliki kebutuhan emosional, yaitu : dicintai, dihargai, merasa
aman, merasa kompeten, danmengoptimalkan kompetensi.

4
Apabila kebutuhan emosi ini dapat dipenuhi akan meningkatkan kemampuan
anak dalam mengelola emosi, terutama yang bersifat negatif. (Hurlock, 1978:211)
menyebutkan bahwa emosi mempengaruhi penyesuaian pribadi sosial dan anak.
Anak mengkomunikasikan emosi melalui verbal, gerakan dan bahasa tubuh.
Bahasa tubuh ini perlu kita cermati karena bersifat spontan dan seringkali
dilakukan tanpa sadar. Dengan memahami bahasa tubuh inilah kita dapat
memahami pikiran, ide, tingkah laku serta perasaan anak. Bahasa tubuh yang
dapat diamati antara lain : ekspresi wajah, napas, ruang gerak, dan pergerakan
tangan dan lengan.

C. Macam Ekspresi Emosi Anak


Emosi dan perasaan yang umum pada peserta didik usia SD/MI adalah rasa
takut, khawatir/cemas, marah, cemburu, merasa bersalah dan sedih, ingin tahu,
gembira/senang, cinta dan kasih sayang. Pola Emosi pada Anak menurut Syamsu
(2008), terdiri dari:
1. Rasa takut
2. Rasa malu
3. Rasa canggung
4. Rasa khawatir
5. Rasa cemas
6. Rasa marah
7. Rasa cemburu
8. Duka cita
9. Keingintahuan
10. Kegembiraan

D. Tingkat Perkembangan Emosi


Tiga reaksi emosi yang paling kuat adalah rasa marah, kaku, dan takut, yang
terjadi akibat dari peristiwa-peristiwa eksternal maupun proses tak langsung.
Reaksi tersebut dapat tercermin dalam individu yang meningkatkan aktivitas
kelenjar tertentu dan mengubah temperature tubuh. Reaksi umumnya berkurang
sesuai proporsi kematangan individu. Hal ini disebabkan oleh pebedaan jenis

5
reaksi emosi, misalnya dengan penyebab ketakutan pada diri seseorang anak
mungkin disebabkan oleh jenis emosi yang berbeda sesuai dengan tingkat
perkembangannya.

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Aanak


Berberapa faktor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi anak adlah
sebagai berikut.
1. Keadaan anak
Keadaan individu pada anak, misalnya cacat tubuh ataupun kekurangan pada
diri anak akan sangat mempengaruhi perkembangan emosional, bahkan akan
berdampak lebih jauh pada kepribadian anak. Misalnya: rendah diri, mudah
tersinggung, atau menarik diri dari lingkunganya.
2. Faktor belajar
Pengalaman belajar anak akan menentukan reaksi potensial mana yang
mereka gunakan untuk marah. Pengalaman belajar yang menunjang
perkembangan emosi antara lain:
a. Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam
bentuk perilaku yang memberi pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberi
kepuasan.
b. Belajar dengan meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi
orang lain, anak bereaksi dengan emosi dan metode yang sama dengan orang-
orang yang diamati.
c. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak meniru reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan
yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang
ditiru. Disini anak hanya meniru orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan
emosional yang kuat dengannya.
d. Belajar melalui pengondisian
Dengan metode ini objek, situasi yang mulanya gagal memancing reaksi
emosional kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengondisian terjadi dengan

6
mudah dan cepat pada awal kehidupan karena anak kecil kurang menalar,
mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka.
e. Belajar dengan bimbingan dan pengawasan
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi
terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap
rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan
dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang
membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan (Fatimah, 2006).
3. Konflik-konflik dalam proses perkembangan
Setiap anak melalui berbagai konflik dalam menjalani fase-fase
perkembangan yang pada umumnya dapat dilalui dengan sukses. Namun jika anak
tidak dapat mengamati konflik-konflik tersebut, biasanya mengalami gangguan-
gangguan emosi.
4. Lingkungan keluarga
Salah satu fungsi keluarga adalah sosialisasi nilai keluarga mengenai
bagaimana anak bersikap dan berperilaku. Keluarga adalah lembaga yang pertama
kali mengajarkan individu (melalui contoh yang diberikan orang tua) bagaimana
individu mengeksplorasi emosinya. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan
utama bagi perkembangan anak. Keluarga sangat berfungsi dalam menanamkan
dasar-dasar pengalaman emosi, karena disanalah pengalaman pertama didapatkan
oleh anak. Keluarga merupakan lembaga pertumbuhan dan belajar awal (learning
and growing) yang dapat mengantarkan anak menuju pertumbuhan dan belajar
selanjutnya.
Gaya pengasuhan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan
emosi anak. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang
emosinya positif, maka perkembangan emosi anak akan menjadi positif. Akan
tetapi, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya negatif
seperti, melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah marah, kecewa
dan pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi anak akan
menjadi negatif (Syamsu, 2008).

7
F. Kecerdasan Emosional Anak
Menurut Harmoko (2005), kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan
untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk
memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan
dengan orang lain. Jelas bila seorang individu mempunyai kecerdasan emosi
tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu
menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.
Faktor kematangan dan pengalaman belajar, juga kondisi lainnya
mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Pada perkembangan emosi
peserta didik, pengaruh faktor belajar lebih penting karena belajar merupakan
faktor yang lebih dapat dikendalikan. Terdapat berbagai cara untuk
mengendalikan lingkungan dan pengalaman belajar emosi, baik untuk
memperkuat pola reaksi emosi yang diinginkan, atau menghilangkan pola reaksi
yang tidak diinginkan.
Perkembangan emosi dapat dipelajari antara lain dengan cara atau metode
berikut. (Kurnia, 2008 : 2.29)
1. Belajar emosi dengan cara coba dan ralat (trial and error), terutama
melibatkan aspek reaksi. Anak mencoba-coba dalam mengekspresikan
emosinya dalam bentuk perilaku yang dapat diterima.
2. Belajar dengan cara meniru (imitasi) dilakukan melalui pengamatan yang
membangkitkan emosi tertentu pada orang lain. Anak belajar bereaksi dengan
cara yang sama dengan ekspresi dari orang yang diamati dan ditiru
perilakunya.
3. Belajar dengan cara mempersamakan diri (identifikasi) dengan orang lain
yang dikagumi atau mempunyai ikatan emosional dengan anak lebih kuat
dibandingkan dengan motivasi untuk meniru sembarang orang.
4. Belajar melalui pengkondisian berarti belajar perkembangan emosi dengan
cara asoiasi atau menghubungkan antara stimulus (rangsangan) dengan
respon (reaksi). Pengkondisian lebih cepat terjadi pada anak kecilyang
mempelajari perkembangan perilaku karrena anak kurang mampu menalar,
dan kurang pengalaman.

8
5. Belajar melalui pelatihan (training) dibawah bimbingan dan pengawasan guru
atau orang tua. Dengan pelatihan, anak dirangsang untuk bereaksi terhadap
hal-hal tertentu dan belajar mengendalikan lingkungan atau emosi dirinya.
Pada diri setiap individu, termasuk peserta didik usia sekolah dasar, ada
emosi dominan yaitu satu atau beberapa emosi yang menimbulkan pengaruh
terkuat terhadap perilaku seseorang dan mempengaruhi kepribadian anak,
khususnya dalam penyesuaian pribadi dan sosial. Emosi dominan ini biasanya
terbentuk dan bergantung pada lingkungan tempat anak hidup dan menjalin
hubungan dengan orang-orang yang berarti atau berpengaruh dalam
kehidupannya, seperti kondisi kesehatan, suasana rumah, hubungan dengan
anggota keluarga, hubungan dengan teman sebaya, perlindungan aspirasi orang
tua, serta cara mendidik dan bimbingan orang tua.
Emosi dominan ini akan mewarnai temperamen anak dan bersifat menetap.
Anak yang bertemperamen periang akan memandang ringan rintangan yang
menghalangi langkahnya. Demikian juga, besarnya pengaruh emosi yang
menyenangkan seperti kasih sayang dan kebahagiaan menyebabkan timbulnya
perasaan aman yang akan membantu anak dalam menghadapi masalah dengan
penuh ketenangan, kepercayaan dan keyakinan dapat mengatasinya, bereaksi
terhadap rintangan denga ketegangan emosi yang minimal, dan dapat
mempertahankan keseimbangan emosi.
Kesimbangan emosi dapat diperoleh melalui cara: pengendalian lingkungan
dengan tujuan agar emosi yang tidak/kurang menyenangkan dapat cepat
diimbangi dengan emosi yang menyenangkan; mengembangkan toleransi terhadap
emosi yaitu kemampuan untuk menghambat pengaruh emosi yang tidak
menyenangkan (marah, kecemasan, dan frustrasi) dan belajar menerima
kegembiraan dan kasih sayang. Terjadinya ketidakseimbangan antara emosi yang
menyenangkan dan tidak menyenagkan akan membuat anak menjadi murung,
cepat marah, dan watak negatif lainnya. Untuk itu diperlukan “katarsis emosi”
yaitu keluarnya energi emosional yang dapat mengakngkat sebab terpendam, dan
sekaligus membersihkan tubuh dan jiwa dari gangguan emosional. Kondisi emosi
yang meninggi antara lain disebabkan oleh kondisi fisik (kesehatan buruk,
gangguan kronis, perubahan dalam tubuh), kondisi psikologis (kecerdasan rendah,

9
kecemasan, kegagalan mencapai aspirasi), dan kondisi lingkungan (ketegangan
karena pertengkaran, sikap orang tua/guru yang otoriter, dll).

G. Pemaparan Ide
Seni tari sebagai proses peningkatan kecerdasan emosional anak
Seorang anak dalam perkembangannya memiliki banyak keunikan yang
terkadang mengejutkan. Keunikan dalam perkembangan tersebut sulit dimengerti
oleh orang dewasa khususnya orang tua, sehingga banyak kejadian orang tua
bersikap kasar kepada anaknya ketika anak memunculkan beberapa sifat khasnya.
Hal yang sama tidak jarang hal itu terjadi pada dewan pendidik di sekolah.
Perkembangan anak terdiri dari beberapa aspek. Salah satu aspek
perkembangan yang sering sekali menjadi masalah adalah perkembangan
emosional anak. Hal yang sangat sering dipermasalahkan orang tua pada
umumnya adalah anak begitu nakal. Mungkin saja hal itu bersifat normal tetapi
ada kemungkinan merupakan gangguan yang terjadi dari perkembangan
emosionalnya.
Dalam meningkatkan kecerdasan emosional anak dapat diterapkan dengan
pendidikan seni tari, dimana pendidikan seni tari dapat mengolah kecerdasan
emosi seorang anak, karena di dalam pendidikan seni mengolah semua bentuk
kegiatan tentang aktivitas fisik dan cita rasa keindahan, yang tertuang dalam
kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa
rupa, bunyi, gerak dan peran.
Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara,
gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional
dan multikultural.
Pendidikan seni yang pada hakekatnya merupakan pembelajaran yang
menekankan pada pemberian pengalaman apresiasi estetik, disamping mampu
memberikan dorongan ber-ekstasi lewat seni, juga memberi alternatif
pengembangan potensi psikis diri serta dapat berperan sebagai katarsis jiwa yang
membebaskan. Ross mengungkapkan bahwa kurikulum pendidikan seni termasuk
kurikulum yang mengutamakan pembinaan kemanusiaan, bukan kurikulum sosial
yang mengutamakan hasil praktis (Ross 1983).

10
Sedangkan menurut Read (1970) pendidikan seni lebih berdimensikan
sebagai “media pendidikan” yang memberikan serangkaian pengalaman estetik
yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa individu. Sebab melalui
pendidikan ini akan diperoleh internalisasi pengalaman estetik yang berfungsi
melatih kepekaan rasa yang tinggi. Dengan kepekaan rasa yang tinggi inilah,
nantinya mental anak mudah untuk diisi dengan nilai-nilai budi pekerti atau jenis
yang lain. Semua nilai-nilai itu terkandung dengan sarat dalam dimensi
pendidikan seni, karena berorientasipada penekanan proses pengalaman olah rasa
dan estetis.

11
BAB III
REKAYASA IDE

A. Proses Pelaksanaan Pendidikan Seni TariPadaAnak Usia Dini


Proses pelaksanaan pendidikan senitari pada anak usia dini tidak terlepas dari
proses belajar mengajarnya, yang meliputi:tujuan, materi pembelajaran, metode
kegiatan belajar mengajar, sarana danprasarana, evaluasi, kondisi sosial,
danbudaya.

Tujuan
Tujuan pembelajaran seni tari adalah pendidikan seni tariuntuk memenuhi
kebutuhan yang mendasarbagi anak dalam rangka mengaktualisasikandiri. Tujuan
tersebut menunjukkan bahwapendidikan seni tari yang diselenggarakan tersebut
berorientasipada anak. Di sini terlihat, bahwa anakmerupakan faktor yang utama,
sedangkanseni tari tidak lebih sebagai alat. Dengantujuan pembelajaran seni tari
tersebut,mengharuskan guru tari agar berhati-hatimemperlakukan anak untuk
berekspresi,sehingga perlu mengenal anak dengan baikdalam mengembangkan
potensi minatbakatnya. Perlakuan guru tersebut nantinyaakan membentuk
perilaku kecerdasanemosional anak.

Materi Pembelajaran
Menentukan materi pembelajaran senitari bagi anak usia dini tidaklah
mudah.Dibutuhkan pengetahuan dan kecermatandari guru dalam pemilihan materi
pembelajaranseni tari bagi anak usia dini, yangsesuai dengan karakter anak, yang
dapatmemberikan rangsangan, motivasi, bimbingan,dan kreativitas anak.
MenurutAminudin (wawancara 15 September 2008)pembelajaran seni tari untuk
anak yangdianggap tepat adalah materi tari yangbersifat gembira dan ekspresif
sesuai denganjiwa anak. Bentuk tarian ini tergolong padamateri tari kreatif/kreasi
dan materi tariekspresif. Penetapan kedua bentuk materitarian tersebut untuk
menghindari tingkatkesulitan, kebosanan pada anak, sertamenumbuhkan rasa
percaya diri pada anak.Bentuk materi yang menggembirakan danmenarik

12
perhatian anak adalah materi tarianyang tidak menyusahkan dan dapat diikutianak
dengan penuh penjiwaan, karena anakmampumelakukannya.
Materi tari kreatif/kreasi adalah bentuktarian bergembira yang di
dalamnyamengandung bentuk-bentuk gerakan yangindah dan lucu, diikuti oleh
irama musik yangsesuai. Bentuk materi tarian ini seperti: gerakpinggul bergoyang,
kaki berjalan, kaki jinjit,tangan diputar dan sebagainya. Materi tariekspresif
adalah bentuk materi bergembirayang mengandung permainan tertentu.Biasanya
tari yang bersifat ekspresif inimemunculkan kebebasan ekspresi anak,sehingga
dijadikan pedoman guru tari dalammembuat sebuah tarian. Penciptaan
tariekspresif ditentukan oleh kondisi dan situasianak dalam mengikuti kegiatan
belajar danbermain. Ekspresi anak benar-benardituangkan melalui gerakan tarian.
Bentukekspresi ini dapat terlihat dari gerakan anakmenirukan aktivitas anak dalam
kehidupansehari-hari.
Bentuk pengajaran yang diberikanpada anak tidak lepas dari pemberian
contohkepada anak dalam setiap gerakan. Materikepada anak secara keseluruhan
melainkandengan cara bertahap. Agar materi tarianlebih mudah dihafalkan oleh
anak, guru tarisengaja memilihkan irama tarian sesuaidengan lagu kegemaran
anak-anak, misalkanlagu Bolo-bolo, Ini Indonesiaku, Naik KeretaApi. Irama dan
syair lagu yang dikenal anakakan lebih mudah disenangi dan dihafalkan.Dalam
proses pemberian gerak, guru jugamengajarkan syair lagunya, sehingga anakanak
menari sambil menyanyi. Selain itu,materi tari juga bisa merupakan
penggambarandari syair lagu. Ini akan sangatmemudahkan anak untuk melakukan
gerakdengan penuh ekspresi.

Metode Kegiatan Belajar Mengajar


Metode yang digunakan guru dalamproses pembelajaran seni tari adalah:
metode imitasi atau meniru,bercerita, dan demonstrasi.

13
B. Proses Perubahan Perilaku KecerdasanEmosional Anak Usia Dini
melaluiPembelajaran SeniTari
Peningkatan kecerdasan emosionalanak usia dini melalui pembelajaran seni
taridapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaanbangga, (2) memiliki sifat
pemberani, (3)mampu mengendalikan emosi, (4) mampumengasah kehalusan
budi, (5) mampumenumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu
menumbuhkan rasa mandiri, (7)mudah berinteraksi dengan orang lain,
(8)memiliki prestasi yang baik, (9) mampumengembangkan imajinasi, dan (10)
menjadianak yang kreatif.

14
BAB IV
PENERAPAN IDE

Adapun tahap-tahap dalam pelaksanaan pendidikan seni tari ini yaitu :


1. Menentukan tujuan pembelajaran
2. Menjelaskan materi pembelajaran
Menentukan materi pembelajaran seni tari bagi anak usia dini tidaklah mudah,
adapun materi tari kreatif/kreasi adalah bentuk tarian bergembira yang di
dalamnya mengandung bentuk-bentuk gerakan yang indah dan lucu, diikuti oleh
irama musik yang sesuai. Bentuk materi tarian ini seperti: gerak pinggul
bergoyang, kaki berjalan, kaki jinjit, tangan diputar dan sebagainya.
Materi tari ekspresif adalah bentuk materi bergembira yang mengandung
permainan tertentu. Biasanya tari yang bersifat ekspresif ini memunculkan
kebebasan ekspresi anak, sehingga dijadikan pedoman guru tari dalam membuat
sebuah tarian. Penciptaan tari ekspresif ditentukan oleh kondisi dan situasi anak
dalam mengikuti kegiatan belajar dan bermain. Ekspresi anak benar-benar
dituangkan melalui gerakan tarian. Bentuk ekspresi ini dapat terlihat dari gerakan
anak menirukan aktivitas anak dalam kehidupan sehari-hari.

3. Metode Kegiatan Belajar Mengajar


a. Metode imitasi atau meniru
b. Bercerita
c. Demonstrasi

15
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses pelaksanaan pendidikan senitari pada anak usia dini tidak terlepas dari
proses belajar mengajarnya, yang meliputi: tujuan, materi pembelajaran, metode
kegiatan belajar mengajar, sarana dan prasarana, evaluasi, kondisi sosial dan
budaya.
Peningkatan kecerdasan emosionalanak usia dini melalui pembelajaran seni
tari dapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaan bangga, (2) memiliki sifat
pemberani, (3) mampu mengendalikan emosi, (4) mampu mengasah kehalusan
budi, (5) mampu menumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu
menumbuhkan rasa mandiri, (7) mudah berinteraksi dengan orang lain, (8)
memiliki prestasi yang baik, (9) mampu mengembangkan imajinasi, dan (10)
menjadi anak yang kreatif.

B. Saran
Hendaknya sekolah lebih memperhatikan dan mendukung proses
pembelajaran seni tari pada anak sekolah dasar, bagi guru hendaknya lebih
meningkatkan kemampuannya di bidang tari, bagi anak hendaknya lebih rajin
mengikuti pembelajaran seni tari sehingga kecerdasan emosionalnya semakin
meningkat, dan bagi orang tua anak hendaknya lebih mendukung proses
pembelajaran seni tari dengan cara mengikut sertakan anak dalam kegiatan
menari.

16
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku
Hamdani, Asep Saepul. 2002 Pengembangan Kreativitas, Jakarta: Pustaka As-
Syifa.
Jazuli, M. 2005. Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak dengan Pendidikan
Seni. Semarang:Harmonia jurnal pengetahuan dan pemikiran seni,2005.
Munandar, Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak
Sekolah , Jakarta : Gramedia Pustaka.
Munandar, Utami.2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat,Jakarta: Asdi
Mahasatya
Semiawan, Conny R. 1999. Perkembangan Emosional dan Belajar Peserta
Didik, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana.
Syafaruddin & Herdianto, Pendidikan Seni Tari, Medan: Perdana Publishing.

Sumber Internet
Enny, Kusumasturi. 2014. Meningkatkan Kecerdasan Emosional (Emotional
Quotions)Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Seni Tari.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu/article/viewFile/3500/2913.
Diakses pada tanggal 20 April 2017.
Susilo, Lucky. 2014. Perkembangan Emosional Anak.
https://www.google.co.id/search?q=makalah+tentang+meningkatkan+kecer
dasan+emosional+anak+sd&oq=makalah+tentang+meningkatkan+kecerdas
an+emosional+anak+sd&aqs=chrome..69i57j0l3.26230j0j1&sourceid=chro
me&ie=UTF-8. Diakses pada tanggal 16 Desember 2014.
http://aniandate.blogspot.co.id/2014/03/makalah-meningkatkan-kreativitas peserta
didik.html
https://www.rizkizaskiaa.com/2014/08/28/56343/cara-meningkatkan-kreativitas-
siswa-di-sekolah/#ixzz4yVaZisX5.

17